You are on page 1of 11

Isolasi dan Identifikasi Streptococcus

I. Pendahuluan
Bakteri (dari kata Latin bacterium jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam
domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar
dalam kehidupan di bumi. Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya
dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain.
Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada
tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang
merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang
lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki
klorofil dan berukuran renik (mikroskopis).
Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu
dari lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni atau biakkan murni. Kultur murni
ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal.
Beberapa cara yang dilakukan untuk mengisolasi mikrooraganisme antara cara goresan
(streak plate), cara taburan/tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), cara
pengenceran ( dilution plate) serta micromanipulator (Pleczar, 1986).
Oleh karena itu yang melatar belakangi percobaan isolasi dan morfologi koloni mikroba
ialah untuk memelihara suatu mikroorganisme yaitu bakteri dan jamur dari media yang
ada serta membedakan bahwa setiap mikroorganisme memiliki bentuk, tepi serta
permukaan koloni yang berbeda – beda. (Lay w. Bibiana.1994)
II. Prinsip kerja
Untuk memisahkan satu jenis mikroorganisme dengan mikroorgabisme lainnya yang
berasal dari campuran bermacam-mcam mikroorganisme tersebut.


III. Tujuan praktikum
Untuk mengisolasi Streptococcus sp sehingga dapat mengidentifikasi jenis spesies
dari Streptococcus sp ( mengidentifikasi S. pyogenes, S. viridian, S. gamma hemoliticus
).
IV. Tinjauan pustaka
Streptococcus merupakan bakteri Gram positif, berbentuk coccus, susunan seperti
rantai , memerlukan pengaya seperti darah untuk pertumbuhannya. Streptococcus
diklasifikasikan berdasarkan tipe hemolitik pada agar darah (menurut schot Mueller
dan Brown). (Taringan,Jeneng 1988 )
Streptococcus merupakan flora normal pada kulit dan membran mukosa serta
Streptococcus juga bersifat pathogen. Streptococcus terdiri dari banyak spesies
diklasifikasikan berdasarkan : (Taringan,Jeneng 1988 )
1. Karakteristik pertumbuhan koloni
2. Pola hemolisis pada agar darah (α, β, atau non hemolitik)
3. Komposisi antigenic substansi dinding sel
Tipe tipe reaksi hemolisis yaitu :
1 Alfa/α-hemolisis Hemolisis tidak sempurna (hemolisis
sebagian), mampu melisiskan eritrosit sebagian
atau mendestruksi sebagian eritrosit sehingga
menghasilkan zona kehijauan disekitar koloni.
2
Beta/β-hemolisis Hemolisis sempurna, merupakan pemecahan
sempurna dari sel darah merah sehingga
menghasilkan zona jernih disekitar koloni.
3
Gamma/γ-hemolisis Tidak hemolisis (anhemolisis), tidak menun
jukkan terjadinya pemecahan eritrosit di sekitar
koloni sehingga tidak terdapat zona disekitar
koloni.
Streptococcus beta hemolitik group A (S.pyogenes ) merupakan bakteri penyebab
utama infeksi saluran pernafasan, sedangkan group B merupakan flora normal mukosa
vagina dan telah terbukti sebagai penyebab demam purpularis. Kadang-kadang
menyebabkan meningitis neonatal dan endokarditis. Streptococcus beta kelompok C
menyebabkan radang tenggorok. (modul praktikum)
Streptococcus dapat tumbuh pada :
1. pH : 7,4 - 7,6
2. Suhu pertumbuhan : 37oC
3. Media isolasi primer adalah agar darah dengan oksigen yang rendah karena
oksidasi intraseluler dapat menghasilkan hidrogen peroksida yang bersifat toksik
bagi bakteri
Berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi Streptococcus port d’entrée jenis
hewan dan spesies Streptococcu. 3 macam penyakit yang memperlihatkan gejala yang
berbeda ialah “strangles” pada kuda dan “jowl abcesses” pada babi dan anthritis. Infeksi
streptococcus biasanya setempat, namun demikian dapat terjadi kematian septicaemia
atau bakteriaemia. (Volk, Swisley A & Margareth F Whceler 1988)
Adapun produk metabolisme Streptococcus : (Volk, Swisley A & Margareth F
Whceler 1988)
1. Asam hialuronat
Factor virulensi yang memberikan perlindunganterhadap fagositosis
2. Protein-M
Penyebab sifat virelen “type specific immunity”
3. Hemolisin
Streptolisin O dan S merupakan penyebab beta hemolisis
4. Streptokinase
Meneybabkan lisis dari gumpalan fibrin
5. Hialuronidase
Keterkaitan antara produksi enzim ini dengan virulensi terlihat pada infeksi pada
S.cellulitis
6. Toksin eritrogenik
Menyebabkan “rash” pada scarlet fever hanya dihasilkan oleh galur yang
bersifat lisogenik
Dalam genus streptococcus terdapat 3 macam spesies yaitu :
1. Streptococcus pyogenes
Streptococcus pyogenes adalah bakteri Gram-positif yang merupakan penyebab
dari grup A infeksi Streptococcus. S.pyogenes menampilkan kelompok Streptococcus A
antigen pada dinding selnya. S.pyogenes biasanya menghasilkan zona besar beta-
hemolisis (gangguan lengkap eritrosit dan pelepasan hemoglobin) pada medium agar
darah, dan karena itu juga disebut Grup A (beta-hemolitik). (atterson MJ 1996)
Dalam kondisi ideal, S.pyogenes memiliki masa inkubasi sekitar 1-3 hari. ini
adalah bagian jarang, tetapi biasanya patogen, dari flora kulit. Diperkirakan bahwa ada
lebih dari 700 juta infeksi di seluruh dunia setiap tahun dan lebih dari 650.000 kasus,
infeksi invasif parah yang memiliki tingkat kematian 25% pengakuan dan pengobatan
dini sangat penting, kegagalan diagnostik dapat menyebabkan sepsis dan kematian.
(atterson MJ 1996)
Pada tahun 1928, Rebecca Lancefield menerbitkan sebuah metode untuk
serotipe S. pyogenes berdasarkan protein M-nya, faktor virulensi ditampilkan pada
permukaannya. Kemudian pada tahun 1946, Lancefield menjelaskan klasifikasi serologi
S. pyogenes isolat didasarkan pada mereka T antigen permukaan. Empat dari 20 T
antigen telah diturunkan menjadi pili, yang digunakan oleh bakteri untuk menempel
pada sel inang. lebih dari 100 M serotipe dan sekitar 20 serotipe T diketahui. (atterson
MJ 1996)
S.pyogenes adalah penyebab banyak penyakit manusia yang penting , mulai dari
infeksi kulit superfisial ringan sampai penyakit sistemik yang mengancam jiwa . Infeksi
biasanya dimulai pada tenggorokan atau kulit. Contoh infeksi ringan termasuk faringitis
(radang tenggorokan) dan infeksi kulit lokal (impetigo). Erisipelas dan selulitis ditandai
dengan perkalian dan penyebaran lateral S. pyogenes di lapisan dalam kulit . S.pyogenes
invasi dan multiplikasi di fasia dapat menyebabkan necrotizing fasciitis , kondisi yang
mengancam jiwa yang membutuhkan pembedahan. (atterson MJ 1996)
Infeksi akibat strain tertentu Streptococcus pyogenes bisa dikaitkan dengan
pelepasan toksin bakteri. Infeksi tenggorokan yang terkait dengan pelepasan toksin
tertentu bisa menimbulkan demam scarlet Toxigenic. (atterson MJ 1996)
S.pyogenes infeksi lain dapat menyebabkan streptokokus toxic shock syndrome
, yang dapat mengancam jiwa. S.pyogenes juga dapat menyebabkan penyakit dalam
bentuk postinfectious "nonpyogenic" (tidak terkait dengan perkalian dan pembentukan
nanah bakteri lokal) sindrom. Komplikasi autoimun - dimediasi ini mengikuti sejumlah
kecil persentase infeksi dan termasuk demam rematik dan glomerulonefritis pasca- akut
. Kedua kondisi muncul beberapa minggu setelah infeksi Streptococcus awal. Demam
rematik ditandai dengan peradangan sendi dan atau jantung menyusul dengan faringitis
streptococcus Glomerulonefritis akut, peradangan glomerulus ginjal, bisa mengikuti
faringitis Streptococcus atau infeksi kulit. (atterson MJ 1996)
2. Streptococcus viridians
Streptococcus viridians merupakan kelompok bakteri Streptococcus α hemolitik
menghasilkan warna hijau pada agar darah pelat (maka nama "viridans", dari bahasa
Latin "viridis" hijau) atau nonhemolytic. Streptococcus viridians memiliki kemampuan
unik untuk mensintesis dekstran dari glukosa, yang memungkinkan untuk melekat pada
fibrin-platelet agregat pada katup jantung yang rusak. Mekanisme ini mendasari
kemampuan mereka untuk menyebabkan penyakit subakut katup jantung setelah
dimasukkan ke dalam aliran darah (misalnya, setelah ekstraksi gigi). (Patterson MJ
1996)
3. Streptococcus hemolyticus
Streptococcus hemolyticus meragi glukosa dengan membentuk asam laktat yang
dapat menghambat pertumbuhannya. Tumbuhnya akan subur bila diberi glukosa
berlebih dan diberikan bahan yang dapat menetralkan asam laktat yang terbentuk.
(Sujudi 1993)
V. Cara kerja
Hari ke-1
1. Lakukan pemeriksaan mikroskopik pada BP denagn pewarnaan Gram. Amati
dibawah mikroskop
2. Tanam BP pada lempeng agar darah, lalu inkubasi b37°C selama 24 jam secara
aerob
Hari ke-2
1. Amati morfologi dan sifat hemolitik pada koloni agar darah. Ciri koloni
streptococcus bentuk koloni : bulat halus, ukuran kurang dari 1 mm.
2. Lakukan pewarnaan Gram pada koloni tersangka dan amati hasilnya dibawah
mikroskop.
3. Lakukan uji katalase, amati hasilnya, streptococcus memberikan hasil negatif
4. Pada koloni streptococcus beta hemolitik, untuk mengetahui grup A lakukan uji
resistensi terhadap basitrasin.
5. Untuk mengetahui grup B , lakukan CAMP test.
6. Untuk mengetahui grup C, lakukan uji resitensi terhadap SXT
Uji katalase
Ambil koloni bakteri dan oleskan pada objek glass, kemudian di tetesi HᴤOᴤ 3%
diatas olesan tersebut dan amati adanya gelembung gas pada tetsan HᴤOᴤ menandakan
positif. Tetapi jika tidak terdapat gelembung maka hasilnya negatif (Staphylococcus
memberikan hasil positif dan sebaliknya Streptococcus negatif)
Uji biokimia
Ambil 1 ose dari tersangka Streptococcus dan tanam pada media glukosa
Uji resitensi Basitrasin
1. Sediakan lempeng Agar Darah. Buat suspensi kuman pada NaCl fisiologi sampai di
dapat kekeruuhan 1 Mc Farland
2. Tanamkan suspensi kuman tersebut pada lempeng Agar Darah dengan
menggunakan lidi kapas
3. Letakkan cakram antibiotic Basitrasin diatas permukaan biakan tersebut
4. Inkubasikan selama 37°C selama 24 jam. Amati hasilnya
Hari ke-3
Amati hasil uji resistensi terhadap basitrasin
VI. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil
Hari ke-1
1. Hasil direct preparat dengan pewarnaan gram
Sampel 1 : sp



bentuk : coccuss
susunan : berantai, diplokokuc,
streptokokus
sifat : gram positif
tersangka : Streptococcus sp
Sampel 2 : sv


Bentuk : coccus
Susunan : berantai
Sifat : gram positif
Tersangka :Streptococcus sp
Sampel 3 : sg


Bentuk : coccus
Susunan : berantai, diplokokuc,
monokokus
Sifat : gram positif
Tresangka : Streptococcus sp


2. Morfologi koloni
Ciri-ciri koloni Agar Darah
S.pyogenes S.γ hemolitik S.viridans
Bentuk koloni Bulat Bulat Bulat
Diameter (mm) 0,1 mm 1 mm 0,1 mm
Warna Putih bening Putih Hijau -hitam
Elevasi Cembung Cembung Cembung
Permukaan Basah Basah Basah
Pinggiran Rata Rata Rata
Sifat hemolisis Hemolisis Tidak hemolisis Tidak hemolisis

3. Hasil uji katalase
Streptococcus (-) negatif katalase karena tidak terdapat gelembung pada saat di
tetsi dengan HᴤOᴤ
4. Hasil penanaman pada gula-gula
Glukosa (+) berubah warna dari ungu menjadi kuning
Hari ke-3
Uji resitensi terhadap basitrasin Streptococcus menghasilkan zona sensitif
b. Pembahasan
pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan isolasi bakteri streptococcus sp,
untuk mngetahui morfologi dan sifat dari streptococcus. Untuk mengetahuinya
dilakukan identifikasi terhadap tersangka bakteri streptococcus dengan cara :
1. Pemeriksaan mikroskopik (pewarnaan Gram)
2. Pembiakan (morfologi dan sifat koloni pada agar darah)
3. Uji katalase
4. Uji gula-gula (glukosa)
5. Uji resitensi terhadap basitrasin
Streptococcus ini merupakan Kuman berbentuk bulat atau bulat telur, kadang
menyerupai batang, tersusun berderet seperti rantai. Panjang rantai bervariasi dan
sebagian besar ditentukan oleh faktor lingkungan. Rantai akan lebih panjang pada media
cair dibanding pada media padat. Pada pertumbuhan tua atau kuman yang mati sifat
gram positifnya akan hilang dan menjadi gram negatif Streptokokus terdiri dari kokus
yang berdiameter 0,5-1 μm. Dalam bentuk rantai yang khas, kokus agak memanjang
pada arah sumbu rantai. Streptokokus patogen jika ditanam dalam perbenihan cair atau
padat yang cocok sering membentuk rantai panjang yang terdiri dari 8 buah kokus atau
lebih.Streptokokus yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah positif gram, tetapi
varietas tertentu yang diasingkan dari tinja manusia dan jaringan binatang ada yang
negatif gram. Pada perbenihan yang baru kuman ini positif gram, bila perbenihan telah
berumur beberapa hari dapat berubah menjadi negatif gram. Tidak membentuk spora,
kecuali beberapa strain yang hidupnya saprofitik. Geraknya negatif. Strain yang virulen
membuat selubung yang mengandung hyaluronic acid dan M type specific protein. dan
pada saat dilakukan uji pewarnaan Gram akan terlihat dibawah mikroskop dengan :
Bentuk : Bulat
Susunan : Berantai
Sifat : Gram (+)
Warna : ungu
Pada saat ditanam pada agar darah terdapat koloni yang berbentuk bulat, kecil,
dan tipis, berwarna putih, dengan elevasi convex, perm ukaan yang basah, kolonimya
halus, dan permukaannya rata.tetapi pada saat diuji katalase bakteri streptococcus ini (-)
tidak terdpat gelembung pada saat di tetesi dengan HᴤOᴤ Hal ini berarti H2O2 yang
diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif, sehingga tidak menghasilkan
oksigen. Bakteri katalase negatif tidak memiliki enzim katalase yang menguraikan
H2O2. Untuk penanaman koloni pada gula-gula, streptococcus ini memberikan hasil (+)
pada Streptococcus pyogenes. Serta pada saat diuji resitensi terhadap antibiotic
basitrasin streptococcus ini memberikan hasil yang sensitive terhadap antibiotic tersebut
Untuk mlakukan isolasi bakteri streptococcus ini dapat menggunakan sampel
Hapus tenggorok, Hapus hidung, Darah, Nanah, Sputum, Liquor , Eksudat, Urin. Infeksi
streptokokus timbulnya dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, antara lain
sifat biologik kuman, cara host memberikan respons, dan port d’entre kuman. Penyakit
yang ditimbulkan oleh kuman streptokokus dapat dibagi dalam beberapa kategori,
sebagai berikut :
a. Pemyakit yang terjadi karena invasi
Streptoccocus beta hemolyticus grup A
Port d’entree sangat mempengaruhi gambaran klinik. Pada setiap kasus
dapat terjadi selulitis yang cepat meluas secara difus ke jaringan sekitarnya dan
saluran getah bening, tetapi peradangan setempatnya sendiri hanya terjadi secara
ringan. Dari saluran getah bening infeksinya cepat meluas ke dalam peredaran
darah, sehingga terjadi bakteremia. Yaitu terdiri dari Erisipelas, Sepsis
puerpuralis, Sepsis.
b. Penyakit yang terjadi karena infeksi local
Streptococcus beta hemolitikus grup A misalnya radang tenggorok, dan
impetigo.
c. Endokarditis bakterialis misalnya Endokarditis bakterialis akuta, Endokarditis
bakterialis subakuta,
d. infeksi lainnya yaitu Berbagai macam streptokokus terutama enterokokus,
merupakan penyebab infeksi traktus urinarius. Streptokokus anaerob, normal
dapat ditemukan dalam traktus genitalis wanita, dan dalam mulut dan dalam
intestinum. Kuman ini dapat menimbulkan lesi supuratif, baik sendirian ataupun
bersama kuman anaerob lainnya, biasanya golongan bakteriodes. Infeksi yang
demikian dapat terjadi dalam luka, emdometritis postpartum, sehabis terjadi
ruptura dari suatu viscus abdominalis, atau pada peradangan paru-paru yang
kronis. Pus yang timbul biasanya berbau busuk.


VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap sampel yang telah
dilakukan terhadap sampel Sp, Sv, SγH, dengan pemeriksaan mikroskopik
(pewarnaan Gram), perbenihan pada agar darah dam media MSA, uji katalase, uji
biokimia, uji resitensi terhadap antibiotic basitrasin didaptkan bakteri
Streptococcus pyogenes, streptococcus viridians, dan streptococcus γ hemolyticus.
VIII. Daptar pustaka
Taringan.Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud
Volk, Swisley A & Margareth F Whceler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta:
Erlangga
atterson MJ (1996). Streptococcus. In: Baron's Medical Microbiology (Baron S et
al., eds.) (4th ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1
Patterson MJ (1996). "Streptococcus". Baron's Medical Microbiology (Baron S et
al., eds.)(4th ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
Sujudi. 1993.Mikrobiologi Kedokteran.112-122. Binarupa Aksara:Jakarta
IX. Lampiran gambar