You are on page 1of 37

dr. HAMDANAH, Sp.

M
Bagian Ilmu Penyakit Mata
FK-UNLAM/ RSUD ULIN BANJARMASIN
TRAUMA MATA
Kegawatdarutatan
Blok 22
1
RUDA PAKSA MATA
Dengan adanya kemajuan tekhnologi ruda paksa mata
merupakan salah satu penyebab yang tersering dari kelainan
mata
Permukaan mata merupakan 0,75% dari tubuh atau 4 % dari
wajah, sedangan ruda paksa mata merupakan 10% dari
kecelakaan tubuh, penyebabnya mungkin hanya suatu hal
yang kecil, sedangkan pada kulit tidak berpengaruh.
Kelompok usia 18 tahun (50%) yang sering terkena ruda paksa
(di USA).
Bola mata mendapat perlindungan melalui :
1. Kelopak mata
2. Tulang-tulang orbita
3. Rima-rima orbita
4. Jaringan orbita
5. Kedipan kelopak mata
6. Gerakan menghindar dari kepala
7. Alis mata
8. Gerakan dari bola mata ke atas

Pemeriksaan pemeriksaan yang diperlukan :
1. Anamnesa :
a. Kapan dan dimana terjadi kecelakaan, disaat bekerja
apakah memakai kaca mata pelindung atau tidak ?
Adakah saksi
b. Benda penyebab kecelakaan
Pada kecelakaan dengan benda asing apakah oleh benda besi atau
bukan, arah dari benda asing.
2. Bagaimana penglihatan penderita sebelum terkena ruda paksa. Bila
palpebra sangat edem dan kemosis maka pemeriksaan visus sukar
dilakukan.
3. Kemudian dilakukan pemeriksaan bagian-bagian dari bola mata secara
teliti dan berurutan serta keadaan sekiktar bola mata.
Ruda paksa mata berdasarkan penyebabnya :
1. Mekanis : - Tumpul
- Tajam
2. Bahan Kimia : - Asam
- Basa
3. Fisik.
TRAUMA MATA TRAUMA MATA
Ruda paksa mata mekanisme tumpul:Tingkatan ruda paksa mata tumpul
tergantung dari besar, berat

Mekanisme :

Gelombang tekanan akibat ruda paksa menyebabkan :

1. Tekanan yang sangat tinggi dan jelas dalam waktu yang singkat di dalam bola
mata

2. Perubahan yang menyolok dalam bola mata

3. Tekanan di dalam bola mata akan meyebar antara cairan vitreus yang kental dan
jaringan sclera yang elastis

4. Akibatnya terjadi peregangan dan robeknya jaringan pada tempat dimana
adanya perbedaan elastisitas, daerah limbus, sudut iridokorneal.
TRAUMA MATA
TRAUMA MATA
Respon dari jaringan terhadap ruda paksa tumpul :

1.Vasokontriksi pembuluh darah perifer, sehingga terjadi iskemia
dan nekrosis local.
2.Diikuti dengan vasodilatasi, hipermeabilitas, aliran darah yang
menurun
3.Bila dinding pembuluh darah robek maka cairan jaringan da
nisi sel akan menyebar menuju jaringan sekitarnya sehingga
terjadi edema dan perdarhan.
Setiap jaringan mempunyai sifat dan respons yang berbeda :
A. Palpebrae
Laserasi dan hematoma
Pada pemeriksaan didapatkan luka memar, edema dan ekskoriasi, pengobatan dengan jalan
pembersihan luka dan kompres dingin

B. Konjunctiva
Perdarahan di bawah konjunctiva
Tampak bercak merah terbatas jelas.
Biasanya tanpa terapi dapat sembuh sendiri, tetapi untuk mempercepat dapat dibantu
dengan vasokonstriksi.

Edema
Bila masih dan terletak sentral dapat mengganggu visus kondisi ini dapat diatasi dengan jalan
reposisi konjunctiva atau menusuk konjunctiva sehingga terjadi jalan untuk mengurangi edema
tersebut.
Dapat juga dibantu dengan cairan saline yang hipertonik untuk mempercepat penyerapan.

Laserasi
Bila laserasi sedikit dapat diberi antibiotika untuk membatasi kerusakan. Daya regenerasi
epitel konjunctiva yang tinggi sehingga akan tumbuh dalam beberapa hari.
Laserasi dan konjunctiva nekrotik maka inflamasi akan lebih menonjol daripada traumanya.
Dalam hal ini daerah nekrosis harus di eksisi.
C. Kornea :
1. Erosi kornea = hilangnya sebagian epitel.
Penderita mengeluh nyeri, fotopobia, epifora dan blefarospasme
pemeriksaan pengecatan flouresensi. Flouresensi kornea
sebagian hijau da nada suatu laserasi/ erosi kornea terapi
bebat mata 1-2 hari.Erosi meluas antibiotika.
2. Edema kornea
Dapat berupa edema datar atau edema melipat dan menekuk ke
dalam masuk ke membran Bowman dan Descement.
Terapi antibiotika, bebat mata, dan lensa kontak sebagai
pelindung kornea pada fase penyembuhan.
D. Bilik Mata Depan
Hifema
Perdarahan di dalam bilik mata depan yang berasal dari iris, korpus
siliare.
Respons vascular yang terkena adalah arteri siliaris anterior, perdarahan
vena di Schlemm kanal dan adanya hipotoni, seperti pada siklodialisis.
Pada umumnya 70% kasus penyerapan terjadi dalam waktu 5-6 hari.
Bila perdarahan luas maka koagulasi di bilik mata depan akan luas
dimana terjadi gumpalan fibrin dan darah merah. Hal ini akan
memperlambat penyerapan ditambah lagi dengan hambatan mekanis
terhadap outflow humor akuos di sudut iridocorneal.
Pada beberapa produk darah menepel pada bagian anterior pigmen
membrane dan iris di daerah pupil dan sudut iridocorneal. Walaupun
sepintas bilik mata depan jernih, tetapi iritis cukup kuat untuk
membentuk sinekia anterior dan posterior. Hifema sekunder pada
umumnya Nampak antara hari ke-2 dan ke-5.Biasanya diikuti dengan
ancaman iritis.
Pada hifema ringan dapat terjadi penyulit glaucoma sekunder dengan
meningkatnya tekanan intra okuler.Hal ini akibat dari adanya edema di
trabecular meshwork, sehingga terjadi gangguan outflow humor akuos.
Tekanan intraokuler kadang-kadang baru terjadi beberapa hari setelah
trauma.Ini adalah akibat adanya perdarahan sekunder.
Frekuensi perdarahan sekunder tanpa kenaikan TIO 30%
Frekuensi perdarahan sekunder dengan kenaikan TIO 50 %
Pengobatan hifema
Bila tanpa penyulit :
1.Tirah baring sempurna dengan posisi kepala lebih tinggi 40o .
Larangan gerakan fisik dan mengangkat kepala.
2. Pemakaian bebat mata
Masih kontroversi memakai bebat atau tidak.Bila ke-2 mata dibebat diharapkan
mengistirahatkan mata.
Tetapi ini pada anak-anak menyebabkan mereka gelisah, dan pada orang dewasa terjadi
disorientasi.
Tetapi bila 1 mata dibebat maka paling tidak penderita atau keluarga sadar terhadap
penyakitnya yang serius dan mereka perlu lebih hati-hati dan membatasi gerak.
3. Pada umumnya setelah 5-6 hari hifema hilang
4. Simptomatis diberikan bila perlu.
Misalnya penenang, anti fibrinolitik
Bila penyerapan berjalan lambat lebih dari 7 hari maka dapat dibantu dengan pemberian
miotikum dengan tujuan memperluas permukaan iris sehingga penyerapan darah lebih cepat
Bila ada kecenderungan pembentukn sinekia dapat diberi midriatikum
Bila ada tanda-tanda glaukoma sekunder dapat diberi antikoagulan
5. Dilakukan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah dari bilik mata depan.
Hal ini dilakukan pada kasus-kasus:
Hifema yang tidak kurang selama lima hari dan darah lebih dari bilik mata depan
Tanda-tanda glaukoma sekunder
Tanda-tanda hemosiderosis
Biasanya hemosiderosis yang ringan hilangnya agak lama yaitu setelah beberapa bulan. Hal
ini disebabkan karena proses fagositosis dari produk hemoglobin ini berjalan lambat dari tepi
kesentral
E. Iris :
Iridosialisis.
Iris lepas dari insersi yang kadang-kadang diikuti dengan hifema.
Pupil miosis
Anamesa : penderita merasa melihat dobel satu mata (diplopia unilateral)
Pemeriksaan : tampak sebagian iris lepas
Terapi: pasif, tetapi bila ada keluhan operatif

F. Pupil
Midriasis
Akibat dari parese saraf optikus atau karena ruptur otot sfinkter

G. Lensa
Penyebab utama dari kerusakan lensa adalah kerusakan seluler dan laserasi
jaringan.
Mekanisme
Gelombang tekanan menekan humor aquos

Iris tertekan ke arah lensa

Lensa tertekan ke arah vitreus

Lensa tertekan kembali ke arah humor aquos dan diafragma iris

Tambahan tekanan pada kapsul dan epitel lensa

Terjadi kerusakan jaringan intraseluler fiber dari lensa, nekrosis kapsul dan
dislokasi sebagian material lensa

Kekeruhan lensa


1. Subluksasi atau dislokasi lensa
Dapat kedua arah yaitu anterior menuju bilik mata depan dan posterior menuju
badan kaca.
keluhan berupa penglihatan menurun dan melihat dobel pada satu mata.
Pada pemeriksaan nampak iris tremulus dan bilik mata depan yang dalam.
Pengobatan :
-Aktif dengan operatif pada dislokasi anterior
Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan endotel kornea dan glaukoma
sekunder.
-Pasif secara konservatif pada dislokasi posterior
2. Katarak
= Kekeruhan lensa
Pengobatan operatif dengan jalan mengeluarkan lensa bila telah matur. Bila ada
tanda-tanda fakoania filaktik uveitis atau glaukoma sekunder, segera dikeluarkan
tanpa menunggu matur.
H. Segmen Posterior
Kita menduga kerusakan segmen posterior bila penglihatan menurun
tanpa kerusakan segmen anterior.
1. Perdarahan badan kaca
Darah berasal dari korpus siliare.
Keluhan berupa visus yang kabur.
Pemeriksaan dengan oftalmoskop nampak kekeruha badan kaca.
2. Udem makula
Terjadi karena timbunan cairan subretina di makula. Pada
pemeriksaan dengan oftalmoskop nampak udem makula.
3. Robekan retina
Keluhan kabur,benda tampak bergelombang. Pemeriksaan
nampak ablasi retina yang terlihat dengan
oftalmoskop.Pengobatan dengan operatif.
4. Keluhan N.Opticus
TRAUMA MATA
Hal-hal yang terjadi akibat ruda paksa mekanik tajam :

A. Palpebrae
Luka terbuka palpebrae.
Anamnesa : keluhan rasa nyeri, bengkak dan berdarah
Pemeriksaan : tampak adanya luka terbuka dan perdarahan.
Pengobatan : Pembersihan luka kemudian di jahit
Teknik penjahitan dilakukan dama dengan luka pada kulit tubuh yang lain
sesuai dengan arah dari otot orbikularis.
Perhatian : luka yang persis pada tepi palpebrae harus khusus diperhatikan
oleh karena bila penjahitan tidak tepat pada kedua tepi luka akan memberi
hasil kosmetik dan fungsional yang jelek. Bila perlu ditambah dengan
antibiotika, analgetik dan anti inflamasi.

B. Konjunctiva
1. Perdarahan
Penatalaksanaan dengan ruda paksa mekanis tumpul.
2. Robekan 1 cm tidak perlu di jahit, diberikan antibiotika lokal. Bila
robekan lebih dari 1 cm denan benang cut gut atau sutera berjarak 0,5 cm
antara tiap-tiap jahitan. Beri antibiotik lokal selama 5 hari dan bebat mata
untuk 1-2 hari.
C. Kornea

1. Erosi kornea
Penatalaksanaan sama dengan ruda paksa
mekanis tumpul.

2. Luka tmebus kornea
Anamnesa : terasa nyeri, epifora,
fotofobia, blefarospasme
Pemeriksaan : bagian yang mengalami
kerusakan epitel menunjukkan flouresen
(+).
Pengobatan : tanpa mengingat jarak waktu
antara kecelakaan dan pemeriksaan tiap
luka terbuka kornea yang masih
menunjukkan tanda-tanda adanya
kebocoran harus dusahakan untuk dijahit

Jaringan intraokuler yang keluar dari luka
misalnya badan kaca, prolap iris sebaiknya
dipotong sebelum luka dijahit.Janganlah sekali-
kali memasukkan kembali ke dalam bola mata.

Jahitan kornea dilakukan secara lamellar untuk
menghindari terjadinya fistel melalui bekas
jahitan.

Luka sesudah dijahit dapat ditutup dengan
lembaran konjumgtiva yang terdekat.Tindakan
ini dianggap dapat mempercepat epitelisasi.
Antibiotika local dalam bentuk salep, tetes atau
subkonjungtiva 0,3-0,5 U Garaycin tiap dua hari
sekali.
Atropine tetes 0,5-1 % tiap hari, dosis dikurangi
bila pupil sudah cukup lebar.
Bila ada tanda-tanda glaucoma sekunder dapat
diberi tablet
Analgetik, anti inflamasi, koagulasi dapat
diberikan bila perlu.
3. ulkus kornea
Sebagian besar disebabkan oleh trauma yang
mengalami infeksi sekunder.
Anamnesis: terasa nyeri, epifora, fotofobi,
blefarospasme.
Pemeriksaan : Nampak kornea yang udem
dan keruh
Bagian yang mengalami kerusakan epitel
menunjukkan pengecatan positif
Pengobatan:
Antibiotika local tetes, salep atau
konjungtiva
Atropine tetes 0,5-1% bebat mata selama
pengecatan positif
Scroping atau pembersihan jaringan
nekrotik secara hati-hati bagian dari ulkus
yang Nampak kotor.
Aplikasi panas
Kauter dilakukan dengan cara memanaskan
pasak
Cryo terapi
TRAUMA MATA
D. Sklera

Luka terbuka atau tembus
Luka ini lepas tertutup oleh konjungtiva sehingga kadang-kadang sukar diketahui.
Luka tembus sclera harus dipertimbangkan apabila dibawah konjungtiva Nampak jaringan
hitam (koroid)
Pengobatan : sama dengan luka tembus pada kornea
E. Optalmia simpatetik

Suatu uveitis yang diderita oleh mata kontra lateral apabila mata lainnya
mengalami trauma kontra lateral apabila mata lainnya mengalami trauma atau
trauma tembus yang mengenai jaringan uvea.
Frekuensi tertinggi terjadi 2-4 minggu sesudah trauma.
Proses berlangsung :
Tahap iritasi (sympathetic iritation).
Tahap radang (sympathetic inplamation).
Ad.1
Anamnesa : Keluhan epifora, fotofobi, nyeri, tanda-tanda ringan.
Pemeriksaan : tanda-tanda iritis ringan.
Biasanya bersifat reversibel atau berlangsung tahap radang.
Ad 2.
Dapat berlangsung akut atau menahun.Stadium ini bersifat irreversibel dan
kemungkinan
Besar akan memburuk bila pengobatan kurang sempurna.
Pengobatan :
- Mata traumatik
- Enukleasi bulbi dipertimbangkan bila visus 0 atau lebih jelek dari pada mata
simpatetik.
Mata traumatika yang masih mempunyai visus walaupun terbatas selalu
menjadi bahan
pertimbangan yang sangat sulit apakah akan dilakukan enukleasi atau
dipertahankan.
F. Bilik mata depan
Penatalksanaan sama dengan trauma tumpul.

G. Iris
Iritis
- Anamnesa : terasa nyeri, efipora, fotopobi,
bleforospasme.
- Pemeriksaan : pupil miosis, reflek pupil menurun
sinekia posterior.
- Pengobatan : Atropin tetes 0,5 1 %

1-2 kali perhari selama sinekia belum lepas.Antibiotika lokal.Dioamox bila ada
kompilkasi glaukoma.

H. Lensa
1. Katarak
Penatalaksanaan sama dengan trauma tumpul
2. Dislokasi lensa
Penatalaksanaan sama dengan ruda paksa tumpul


I. Kerusakan segmen posterior
Penatalaksanaan sama dengan ruda paksa tumpul
J. korpus allenum atau benda asing
anamnesa: mengeluh ada benda asing masuk ke dalam mata
pemeriksaan : benda asing tersebut harus dicari dengan teliti mulai dari palpebra,
konjungtiva, fornikis, kornea, bilik mata depan. Bila mungkin benda tersebut berada dalam
lensa, badan kaca dimana perlu pemeriksaan tambahan berupa funduskopi dan foto
rongten.
Benda asing yang masuk ke dalam mata diobagi dalam 2 kelompok yaitu :
1. Benda logam
Misalnya emas, perak, besi dan tembaga.
Benda logam ini dapat bersifat magnet dan nonmagnet.
2. Benda non logam
Batu, kaca, porselin, plastic bulu mata, dan lain-lain.
Benda yang menimbulkan reaksi jaringan mata berupa perubahan seluler dan
membrane sehingga menggau fungsi dari mata.Misalnya besi berupa siderosi dan
tembaga berupa alkalosis.Besi biasanya merusak jaringan yang mengandung eoitel
sedangkan tembaga merusak bagian membrane seperti deasment korne, lensa, iris,
badan kaca, dll.
Pengobatan: mengeluarkan benda asing
Bila lokalisasi di konjungtiva dan palpebra, kornea, maka dengan mudah dapat dilepaskan
dengan pemberian anestesi local.Untuk mengeluarkannya perlu kapas lidi atau ujung jarum
suntik tumpul atau tajam.Bila benda bersifat magnetic dapat dikeluarkan dengan magnet
fortable atau giant magnet.Bila benda asing pada segmen posterior hendaknya dikirim
kepusat karena memerlukan tindakan yang lebih cermat dan perlengkapan yang
khusus.Pemberian antibiotika local pada korpus allenum di konjungtiva dan kornea.
Pada kornea dapat ditambahkan atropine 0,5-1% , bebat mata dan diamox bila ada tanda-
tanda glaucoma sekunder.
Otot Ekstra Okuler
I. Kelainan pergerakan mata
Hal ini pada trauma dapat disebabkan :
Kelainan pada otot mata
Kelainan pada persyarafan otot-otot mata
Kelainan pada jaringan-jaringan organ lain
Walaupun gangguan pergerakan bola mata tidak menyebabakan kebutaan atau
penurunan taja penglihatan namun kegiatan sehari-hari dapat terganggu dengan
adanya keluhan diplopia.
Anamnesa : akibat pengilhatan ganda timbul keluhan pusing, mual dan muntah.
Pemeriksaan : hambatan dalam menggerakan bola mata dapat akibat parese
atau paralyse atau ototnya sendiri terjepit.
Tes forced duction untuk membedakan gangguan karena kelumpuhan atau otot yang
terjepit.
Cara : mata ditetesi anestesi lokal, kemudia otot yang akan diperiksa dipegang
dengan pinset dan ditarik kearah gerak otot tersebut.
Bila lancar berarti parese atau paralysis
Bila sukar ada hambatan karena otot terjepit
Terapi : paralyse atau parese
Anti inflamasi diplopi satu mata
Untuk menghindari diplopi satu mata
Pada parese ringan mata sehat ditutup supaya mata parese yang terlatih
Pada parese berat atau paralyse mata parese yang ditutup
Setelah 3 6 bulan tidak ada kemajuan berarti tetap
Strabismus dan atau diplopia maka penderita perlu dirujuk untuk tindakan
operasi.
Sebab setelah 6 bulan dianggap telah mengalami penyembuhan maksimal atau sudah
timbul komplikasi kontraktur-kontraktur
II. Penatalaksaan ruda paksa mata dengan bahan kimia
Ruda paksa mata karena bahan kimia dapat disebabkan oleh bahan asam atau basa.
Berdasarkan klasifikasi Hughes dibagi :
1. Ringan
Nampak adanya :
Erosi kornea
Kekeruhan kornea yang ringan
Tidak ada nekrose dan iskemia dari konjungtiva dan sklera
2. Sedang berat
Kekeruhan kornea nampak dan detail iris sulit dilhat
Nekrosis iskemia dari konjungtiva dan sklera
3. sangat berat
kekaburan dari pupil
konjunctiva dan sclera pucat

Rudapaksa karena bahan asam akan terjadi kerusakan dalam beberapa jam. Bahan asam akan
cepat mengadakan presipitasi dngan jaringan sekitarnya. Daya buffer dari jaringan sekitar zat
asam ini cenderung 8ntuk melokalisir kerusakan.
Tidak ada efek atau akibat lain seperti kerusakan sel atau perlunakan jaringan. Sedangkan
bahan alkali mengakibatkan hal yang lebih serius.
Bahan aalkali akan bergabung dengan lipid dari seluler membrane dan terjadi kerusakan total
dari sel perlunakan jaringan penetrasi yang cepat ke dalam bilik mata depaniris dan
kadang-kadang retina terkena dalam waktu yang singkat. Makin tinggi pH alkali makin serius
kerusakannya.
Tanda-tanda: secara umum tidak hanya kornea yang terkena tetapi kelopak mata dan kulit
sekitarnya. Kulit dan palpebra menjadi lebih putih dan nekrosis.Koagulasi pada jaringan kornea
sehingga kornea tampak keruh.Konjungtiva pucat karena iskemia.Rasa nyeri tergantung
kerusakan sel sensoris dari kornea.
Pengobatan:
1. Irigasi mata dan jaringan sekitarnya adalah pengobatan pertama yang diperlukan.
2. Irigasi dapat dengan air kurang lebih 30 menit.Sedangakan ntuk bahan basa dapat kurang
lebih 1 jam.Kalau perlu irigasi dapat diulang kembali saat penderita sudah sampai
Puskesmas.Pemakaian kertas pH untuk menentukan bahan asam atau basa kegunaannya
sedikit karena bahan yang telah berubah akibat irigasi yang lama.Forniks dan konjunctiva
harus dibersihkan dari bahan kimia dengan kapas basah.Kelopak mata dibalik dan
dibersihkan.
3. Untuk mengurangi nyeri diberikan anestesi local.
4. Antibiotika local berupa salep untuk menghindari perlekatan-perlekatan.
5. Atrofin tetes 0,5-1 %
6. Bebat mata jika perlu
7. Beri carbonic anhidrase inhibitor jika terjadi glaucoma sekunder.
III. Penatalaksanaan ruda paksa karena faktor fisik
A. Cahaya
Cahaya yang berasal dari matahari atau alat untuk las mengandung unsur ultra violet yang dapat mengakibatkan
konjungtivitis dan keratitis, sedangkan cahaya dari pembikinan kaca (glass blomers), banyak mengandung sinar
infrared.
Anamnesis : mata terasa nyeri, keluar air mata (epifora) yang timbul 6-12 jam sesudah melihat cahaya tersebut.
Pemeriksaan : hiperemi konjungtiva, flourescin tes (+)
Pengobatan : pada konjungtivitis beri antibiotic tetes atau salep. Pada keratitis diberi antibiotika local atropine
bila flouresecen luas. Biasanya dalam 1-2 hari sembuh. Penyinaran dengan unsure infrared tidak menimbulkan
kelainan akut.
B. Kebakaran
Dengan adanya reflek perlindungan menutup palpebra, sering kornea dan konjungtiva terhindar dari bahaya kebakaran
sehingga kelainan terbatas pada pelpebra.
Pengobatan : tidak berbeda dengan kelainan akibat luka bakar pada kulit bagian tubuh yang lain.
C. Ledakan
Ledakan yang cukup besar dapat menimbulkan bermacam-macam kerusakan.Terapi yang diberikan sesuai dengan
kerusakan yang diakibatkan.
D. Blow out fracture
Patahnya tulang dasar orbita tampak kerusakan dari rima orbita akibat perubahan mendadak dan ruang retrobulber
karena perubahan tekanan yang terjadi akibat hantaman yang keras pada bulbus oculi.
Anamnesa : adanya trauma, visus menurun, nyeri (+), diplopia, mual, muntah.
Pemeriksaan : udem hipoestesi daerah saraf infra orbita.
Tanda-tanda patah tulang, gerakan otot terbatas enoftalmus
Terapi : konservatif selama tiga minggu untuk mengevaluasi sambil menunggu udem dan ekimosis berkurang.
Bila enoftalmus masih tampak, keluhan diplopia sangat mengganggu operatif.
PENUTUP
Ruda paksa mata merupakan keadaan darurat mata, karena
dapat terjadi bermacam-macam,kerusakan yang bila tidak
segera mendapat pertolongan dapat mengakibatkan
penurunan fungsi mata atau bahkan berakhir dengan
kebutaan.
Oleh karena itu alangkah baiknya kelak sebagai dokter umum
juga waspada akan akibat ruda paksa ini dan segera
menanggulangi, mana yang dapat diobati sendiri dan mana
yang harus dirujuk.
TRAUMA MATA
27
FRAKTURA DINDING ORBITA
FRAKTURA DINDING DASAR
ORBITA
28
29
30
31
32
33
TRAUMA BOLA MATA
BENDA ASING DI KORNEA
34
35
36
TRAUMA BOLA MATA
TRAUMA MEKANIK TUMPUL
37