You are on page 1of 3

A.

Pewarnaan atau Pengecatan
Pengenalan bentuk (morfologi) mikroba kecuali untuk kelompok mikroalge,
harus dilakukan melalui pewarnaan terlebih dahulu. Karena tanpa melalui
pewarnaan, maka bentuk tersebut tidak akan dapat diamati secara jelas.
Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba, banyak dilakukan baik secara
langsung bersama (bahan yang ada) ataupun secara tidak langsung (melalui
biakan murni) (Suriawiria, 2005).
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam
yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan
pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad-jasad renik
lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis,
atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur
pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe atau
bagian-bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan
pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat
membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah
pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul (Waluyo,2010).
Tujuan dari pewarnaan tersebut adalah untuk :
1. Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi ataupun jamur.
2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad.
3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam.
4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat
fisik dan kimia yang ada akan dapat diketahui. (Suriawiria, 2005)
Sesuai dengan jenisnya, pewarnaan terhadap mikroba ada dua kelompok
besar, yaitu :
Yang dimaksud dengan pewarnaan tunggal atau pewarnaan sederhana, yaitu
cara pewarnaan yang hanya menggunakan satu jenis pewarna saja, misal
dengan metilin biru, gentian violet, fuchsin basa, safranin dan sebagainya
(Suriawiria, 2005).
Sedang yang dimaksud pewarnaan bertingkat yaitu cara pewarnaan dengan
menggunakan beberapa jenis pewarna secara bertahap. Ini mengingat bentuk
dan sifat sel mikroba yang berbeda penerimaannya terhadap pewarna,
sehingga pada akhirnya cara pewarnaan bertingkat ini dapat pula dipergunakan
sebagai salah satu cara untuk membedakan kelompok mikroba (Suriawiria,
2005).
Contoh-contoh pewarnaan preparat (Agnes, 2012)
Jenis pewarnaan Jenis sampel Jenis etiologi
Gram Semua jenis sampel Bakteri
Ziehl-Neelsen Sputum, jaringan, kulit Mycobacterium sp.,
Nocardia sp.
Giemsa Darah Bakteri, protozoa, jamur
Oxylin dan eosin) Jaringan, darah Bakteri, protozoa, jamur
Trichome Feces Cacing, protozoa
Periodic Acid-Schiff (PAS) Sputum, jaringan, kulit Jamur
Lactofenol cotton blue Semua jenis sampel Jamur
Tabel 2.1. Jenis Pewarnaan
Salah satu pewarna bertingkat yang paling banyak dipergunakan dan sangat
popular ialah pewarnaan Gram yang dikembangkan oleh Christian Gram (1884),
yang kemudian lebih disempurnakan secara bertahap. Tahapan pewarnaan
Gram dapat menghasilkan dua kelompok besar bakteri yaitu Gram positif dan
Gram negatif. Hasil Gram positif dan Gram negatif ini disebabkan oleh
perbedaan kandungan dinding sel bakteria, yaitu bahwa kandungan senyawa
peptidoglikan pada dinding sel Gram negatif. (Suriawiria, 2005).
Pengecatan Ziehl Neelsen adalah salah satu teknik pengecatan bakteri yang
paling tua dalam prosedur pengecatan atau pewarnaan tahan asam. Pada
pengecatan ini mensyaratkan bahwa pewarna primer fuksin-karbol dipanasi
sampai beruap selama proses pewarnaan atau pengecatan. Zat dekolorisasi
adalah campuran asam hidroklorida pekat dan alkohol 95 %, dan zat warna
tandingannya biasanya biru metilen. Dalam pengecatan Ziehl Neelsen
sampelnya paling banyak berupa sputum. Biasanya pengecatan ini digunakan
untuk mengamati Bakteri Tahan Asam seperti bakteri penyebab penyakit TBC.
Pewarnaan Ziehl-Neelsen akan menampakkan bakteri tahan asam yang
berwarna merah dengan latar berwarna biru. Bakteri tahan asam akan
mempertahankan warna pertama yang diberikan. Hasil yang didapat adalah
terdapatnya bakteri tahan asam. (Ronald dan Richard, 2004)
Kapas biru lactophenol (LPCB) adalah metode yang paling banyak digunakan
pewarnaan dan mengamati jamur. Sediaan memiliki tiga komponen: fenol, yang
akan membunuh organisme hidup; asam laktat yang memelihara struktur jamur, dan
biru kapas yang noda chitin pada dinding sel jamur. Phenol berfungsi untuk
mematikan jamur. Glycerol mengawetkan preparat dan mencegah presipitasi dari
cat dan Cotton Blue berfungsi untuk mewarnai jamur menjadi biru. (Waluyo, 2007).

Dapus
Waluyo,lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. UMM. Malang
Suriawiria, Unus. 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Penerbit Papas Sinar Sinanti.
Sri Harti, Agnes. 2012. Dasar-dasar Mikrobiologi Kesehatan. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Ronald dan Richard. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Laboratorium Edisi 11. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC