You are on page 1of 25

MAKALAH KIMIA ORGANIK BAHAN ALAM

“ SENYAWA TERPENOID ”
(TRITERPEN)





OLEH : KELOMPOK 3
1. RESTI TANJUNG (F1C111036)
2. NOVITA SARI SIMAMORA (F1C111049)
3. JUMAIDA PANGGABEAN (F1C111028)
4. METHA VISANTI. N (F1C111029)
5. ANNISAA ( F1C111024)
6. UCHROWYA (F1C111051)
7. GEMALA LESTARI (F1C111019)
8. YELSI MAYESTI (F1C111022)
9. GUNAWAN (F1C111035)
10. PUTRI AJENG (F1C111034)
11. DEBBY MUTIARA (F1C111006)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI (FST)
UNIVERSITAS JAMBI
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah Sintesis Anorganik ini, yaitu
tentang “SENYAWA TERPENOID” khususnya senyawa triterpen dengan sebaik-baiknya
dan tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini didasarkan pada hasil literatur-literatur
yang ada baik dari buku,internet, maupun sumber lainnya.
Dengan ini, Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Dosen yang mengampu
mata kuliah kimia organik bahan alam (KOBA) yaitu Ibu DHIGNA LUTHFIYANI
CITRA PRADANA yang telah memberikan Tugas ini, sehingga memotivasi penulis untuk
mencari tahu dan memahami materi kuliah ini yaitu tentang “SENYAWA TERPENOID”
khususnya senyawa triterpen.
Makalah ini merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan hasil yang telah dicari.
Tentu ada kelemahan dalam teknik penyajian maupun dalam tata penulisan makalah ini.
Maka Kami sebagai penulis sangat mengharapkan masukan maupun kritik yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Akhir kata,
penulis mengucapkan Terima kasih & semoga bermanfaat.





Jambi, Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………….………………………………….
DAFTAR ISI…………………………………………………………………
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG ................................................................
1.2. RUMUSAN MASALAH ...........................................................
1.3. TUJUAN .....................................................................................
1.4. METODE PENULISAN ............................................................
BAB II : PEMBAHASAN
2.1. TERPENOID ..............................................................................
2.2. TRITERPENOID .......................................................................
2.3. BIOAKTIVITAS LIMONOID, SUATU JENIS TRITERPEN DALAM BIJI
DUKU ........................................................................................
2.4. ISOLASI TRITERPENOID DAN UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT
BATANG SIRSAK (Annona muricata Linn) ............................

BAB III : PENUTUP

3.1. KESIMPULAN…………………………………………………
3.2. SARAN…………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam perkembangannya, tumbuhan menghasilkan metabolit sekunder yang
merupakan senyawa hasil metabolisme. Seiring dengan berkembangnya gaya hidup
penggunaan tanaman sebagai obat, maka berkembang pula pengetahuan untuk
menganalisis kandungan biokimia tumbuhan, sebab penggunaan tanaman sebagai obat erat
kaitannya dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman tersebut terutama zat
bioaktif. Tanpa adanya senyawa bioaktif dalam tumbuhan, secara umum tumbuhan
tersebut tidak dapat digunakan sebagai obat. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam
tumbuhan biasanya diantaranya adalah terpenoid.
Dalam tumbuhan biasanya terdapat senyawa hidrokarbon dan hidrokarbon
teroksigenasi yang merupakan senyawa terpenoid. Kata terpenoid mencakup sejumlah
besar senyawa tumbuhan, dan istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa secara
biosintesis semua senyawa tumbuhan itu berasal dari senyawa yang sama. Jadi, semua
terpenoid berasal dari molekul isopren CH
2
==C(CH
3
)─CH==CH
2
dan kerangka karbonnya
dibangun oleh penyambungan 2 atau lebih satuan C
5
ini. Kemudian senyawa itu dipilah-
pilah menjadi beberapa golongan berdasarkan jumlah satuan yang terdapat dalam senyawa
tersebut, 2 (C
10
), 3 (C
15
), 4 (C
20
), 6 (C
30
) atau 8 (C
40
).

Secara umum terpenoid terdiri dari unsur-unsur C dan H dengan rumus molekul umum
(C
5
H
8
)
n
.
Klasifikasi biasanya tergantung pada nilai n.
Nama Rumus Sumber
Monoterpen C
10
H
16
Minyak Atsiri
Seskuiterpen C
15
H
24
Minyak Atsiri
Diterpen C
20
H
32
Resin Pinus
Triterpen C
30
H
48
Saponin, Damar
Tetraterpen C
40
H
64
Pigmen, Karoten
Politerpen (C
5
H
8
)
n
n 8 Karet Alam

Dari rumus di atas sebagian besar terpenoid mengandung atom karbon yang
jumlahnya merupakan kelipatan lima. Penyelidikan selanjutnya menunjukan pula bahwa
sebagian besar terpenoid mempunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua atau lebih
unit C
5
yang disebut unit isopren. Unit C
5
ini dinamakan demikian karena kerangka
karbonnya seperti senyawa isopren. Wallach (1887) mengatakan bahwa struktur rangka
terpenoid dibangun oleh dua atau lebih molekul isopren. Pendapat ini dikenal dengan
“hukum isopren”.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Terpenoid?
2. Apa yang dimaksud dengan Triterpenoid?
3. Bagaimana biosintesis jenis triterpenoid dalam buah duku?
4. Bagaimana cara isolasi triterpenoid dan uji antioksidan ekstrak kulit batang sirsak?

1.3 TUJUAN
1. Dapat mengetahui pengertian dari Terpenoid.
2. Dapat mengetahui pengertian Triterpenoid.
3. Dapat menjelaskan biosintesis jenis terpenoid dalam buah duku.
4. Dapat menjelaskan cara isolasi triterpenoid dan uji antioksidan ekstrak kulit batang
sirsak.

1.4 METODE PENULISAN
Dalam menulis makalah ini, Kami memperoleh kajian materi dari beberapa sumber,
yaitu studi literatur dari buku-buku yang terkait dengan topik dan berbagai artikel dari
internet.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TERPENOID
Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen.
Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan
sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C
5
H
8
)n. Terpenoid disebut juga
dengan isoprenoid. Hal ini disebabkan karena kerangka karbonnya sama seperti senyawa
isopren. Secara struktur kimia terpenoid merupakan penggabungan dari unit isoprena,
dapat berupa rantai terbuka atau siklik, dapat mengandung ikatan rangkap, gugus hidroksil,
karbonil atau gugus fungsi lainnya.
Usaha untuk menemukan senyawa isopren biologis yang sesungguhnya digunakan
oleh organisme untuk sintesa terpenoid dilakukan oleh banyak peneliti selama bertahun-
tahun. Masalah ini akhirnya dapat diselesaikan oleh J.W. Cornforth pada tahun 1959 dari
penyelidikan-penyelidikannya dibidang steroid. Conforth menemukan dua bentuk isoprene
yang aktif, yakni isopentenil pirofosfat (IPP) dan dimetilalil pirofosfat (DMAPP). Kedua
isopren aktif ini harus ada untuk keperluan sintesa terpenoid oleh organisme.
Penyelidikan-penyelidikan selanjutnya oleh para ahli menunjukan bahwa IPP dan
DMAPP berasal dari asam mevanolat. Selanjutnya diketahui pula bahwa satu-satunya
sumber karbon bagi asam mevanolat, begitu pula IPP dan DMAPP ialah asam asetat atau
turunannya yang aktif, yakni asetil pirofosfat. Mekanisme dari tahap-tahap reaksi
biosintesa terpenoid, pada waktu ini sudah diketahui dengan baik dan tercantum pada
Gambar dibawah ini.


Mekanisme dari tahap-tahap reaksi biosintesis terpenoid adalah asam asetat setelah
diaktifkan oleh koenzim A lalu melakukan kondensasi jenis Claisen menghasilkan asam
asetoasetat. Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi
jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam
mevalinat, reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforialsi,eliminasi asam fosfat dan
dekarboksilasi menghasilkan isopentenil (IPP) yang selanjutnya berisomerisasi menjadi
dimetil alil piropospat (DMAPP) oleh enzim isomeriasi. IPP sebagai inti isoprene aktif
bergabung dari kepala ke ekor dengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan langkah
pertama dari polimerisasi isoprene untuk menghasilkan terpenoid. Penggabungan ini
terjadi karena serangan elektron dari ikatan rangkap IPP terhadap atom karbon dari
DMAPP yang kekurangan elektron di ikuti oleh penyingkiran ion pirofosfat yang
menghasilkan geranil. Pirofosfat (GPP) yaitu senyawa antara bagi semua senyawa mono
terpenoid.Penggabungan selanjutnya antara satu unti IPP dan GPP dengan menaismeyang
sama menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara bagi semua
senyawa seskuiterpenoid. Senyawa diterpenoid diturunkan dari Geranil-Geranil Pirofosfat
(GGPP) yang berasal dari kondensasi antara satu inti IPP dan GPP dengan mekanisme
yang sama.
Secara umum biosintesa dari terpenoid terjadi 3 reaksi dasar yaitu:
1. Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat.
2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprene akan membentuk mono-,seskui-,
di-. sester-dan poli-terpenoid.
3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid
dan steroid.
Sifat Umum Terpenoid
Sifat fisika dari terpenoid adalah :
1. Dalam keadaan segar merupakan cairan tidak berwarna, tetapi jika teroksidasi
warna akan berubah menjadi gelap.
2. Mempunyai bau yang khas
3. Indeks bias tinggi
4. Kebanyakan optik aktif
5. Kerapatan lebih kecil dari air
6. Larut dalam pelarut organik: eter dan alkohol

Sifat Kimia
1. Senyawa tidak jenuh (rantai terbuka ataupun siklik).
2. Isoprenoid kebanyakan bentuknya khiral dan terjadi dalam dua bentuk enantiomer.

Kegunaan Terpenoid
Kegunaan terpenoid bagi tumbuhan antara lain :
1. Fitoaleksin
Fitoaleksin adalah suatu senyawa anti-mikrobial yang dibiosintesis (dibuat) dan
diakumulasikan oleh tanaman setelah terjadi infeksi dari mikroorganisme patogen
atau terpapar senyawa kimia tertentu dan radiasi dengan sinar UV.
2. Insect antifectan, repellant
3. Pertahanan tubuh dari herbivore
4. Pengatur pertumbuhan (seskuiterpenoid absisin dan diterpenoid giberellin).
5. Sebagai antiseptic, ekspektoran, spasmolitik, anestetik dan sedative, sebagai bahan
pemberi aroma makan dan parfum (monoterpenoid).
6. Sebagai tumbuhan obat untuk penyakit diabetes,gangguan menstruasi, patukan ular,
gangguan kulit, kerusakan hati dan malaria (triterpenoid).
7. Sebagai hormon pertumbuhan tanaman, podolakton inhibitor pertumbuhan
tanaman, antifeedant serangga, inhibitor tumor, senyawa pemanis, anti fouling dan
anti karsinogen (diterpenoid).
8. Sebagai anti feedant, hormon, antimikroba, antibiotik dan toksin serta regulator
pertumbuhan tanaman dan pemanis (seskuiterpenoid)
9. Penghasil karet (politerpenoid).
10. Karotenoid memberikan sumbangan terhadap warna tumbuhan dan juga diketahui
sebagai pigmen dalam fotosintesis.
11. Monoterpen dan seskuiterpen juga memberikan bau tertentu pada tumbuhan.
12. Terpenoid memegang peranan dalam interaksi tumbuhan dan hewan, misalnya
sebagai alat komunikasi dan pertahanan pada serangga.
13. Beberapa terpenoid tertentu yang tidak menguap juga diduga berperan sebagai
hormon seks pada fungus.


2.2 TRITERPENOID
Lebih dari 4000 jenis triterpenoid telah diisolasi dengan lebih 40 jenis kerangka
dasar yang sudah dikenal dan pada prinsipnya merupakan proses siklisasi dari skualen.
Triterpenoid terdiri dari kerangka dengan 3 siklik 6 yang bergabung dengan siklik 5 atau
berupa 4 siklik 6 yang mempunyai gugus fungsi pada siklik tertentu. Sedangkan penamaan
lebih disederhanakan dengan memberikan penomoran pada tiap atom karbon, sehingga
memudahkan dalam penentuan substituen pada masing-masing atom karbon.
Triterpenoid biasanya terdapat pada minyak hati ikan hiu, minyak nabati (minyak
zaitun) dan ada juga ditemukan dalam tumbuhan seprimitif sphagnum tetapi yang paling
umum adalah pada tumbuhan berbiji, bebas dan glikosida. Triterpenoid telah digunakan
sebagai tumbuhan obat untuk penyakit diabetes, gangguan menstruasi, patukan ular,
gangguan kulit, kerusakan hati dan malaria. Struktur terpenoid yang bermacam ragam
timbul sebagai akibat dari reaksi-reaksi sekunder berikutnya seperti hidrolisa, isomerisasi,
oksidasi, reduksi dan siklisasi atas geranil-, farnesil-, dan geranil-geranil pirofosfat.
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena,
senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif.

Menurut Harborne (1987) senyawa triterpenoid dapat dibagi menjadi empat
golongan,yaitu: triterpen sebenarnya, saponin, steroid, dan glikosida jantung. Triterpenoid
tersebar luas dalam damar, gabus dan kutin tumbuhan. Damar adalah asam triterpenoid
yang sering bersama-sama dengan gom polisakarida dalam damar gom. Triterpenoid
alkohol juga terdapat bebas dan sebagai glikosida.
Triterpenoid asiklik yang penting hanya hidrokarbon skualena yang diisolasi untuk
pertama kali dari minyak hati ikan hiu tetapi juga ditemukan dalam beberapa malam
epikutikula dan minyak nabati (minyak zaitun). Senyawa triterpenoid yang paling dikenal
seperti lanosterol yang terdapat dalam lemak wol, khamir dan beberapa senyawa tumbuhan
tinggi. Triterpenoid tetrasiklik seperti alkohol eufol dari euphorbia sp dan asam elemi dari
canarium commune.
Triterpenoid yang terpenting ialah triterpenoid pentasiklik. Senyawa ini ditemukan
dalam tumbuhan seprimitif sphagnum tetapi yang paling umum adalah pada tumbuhan
berbiji, bebas dan glikosida. Triterpenoid nonglikosida sering ditemukan sebagai ekskresi
dan dalam kutikula bekerja sebagai pelindung atau menimbulkan ketahanan terhadap air.
Beberapa macam aktivitas fisiologi dari triterpenoid yang merupakan komponen
aktif dari tumbuhan telah digunakan sebagai tumbuhan obat untk penyakit diabetes,
gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati dan malaria.
Berdasarkan jumlah cincin yang terdapat dalam struktur molekulnya triterpen sebenarnya
dapat dibagi atas:
1. Triterpen asiklik yaitu triterpen yang tidak mempunyai cincin tertutup, misalnya
skualena.
2. Triterpen trisiklik adalah triterpen yang mempunyai tiga cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya: ambrein.
3. Triterpen tetrasiklik adalah triterpen yang mempunyai empat cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya:lanosterol.
4. Triterpen pentasiklik adalah triterpen yang mempunyai lima cincin tertutup pada
struktur molekulnya, misalnya α-amirin.

2.3 BIOAKTIVITAS LIMONOID, SUATU JENIS TRITERPEN DALAM BIJI
DUKU

Buah duku
Bijinya yang hijau sangat pahit biasanya digerus dengan air dan diberikan kepada
anak-anak sebagai obat cacing. Biji juga dapat sebagai obat disentri dan demam malaria.
Boorsma (1913) dalam Heyne (1987) menunjukkan adanya zat pahit dan sedikit alkaloid di
dalam biji duku.
Morton (1987) menyatakan bahwa biji duku mengandung senyawa alkaloid yang
belum diketahui jenisnya, 1% resin yang larut dalam alkohol, dan dua senyawa pahit
(bitter) yang bersifat toksik. Nishizawa et al. (1988) berhasil mengisolasi salah satu
struktur dari senyawa pahit ini yang diberi nama dukunolid A, B, C, D, E dan F. Semua
senyawa dukunolid tersebut termasuk ke dalam kelompok bitter tetranortriterpenoid
(limonoid atau meliacin). Biji buah duku sangat pahit; ekstraknya dapat digunakan sebagai
obat cacing bagi anak-anak, penolak demam, dan obat diare.


Senyawa Limonoid
Limonoid adalah suatu triterpenoid dengan atau turunan dari prekursor kerangka
4,4,8-trimetil-17-furanilsteroid (Gambar 3.1). Limonoid termasuk ke dalam metabolit
sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan yang termasuk kedalam golongan Rutales,
khususnya Famili Meliaceae. Pada tahun 1992 telah diisolasi lebih dari 300 limonoid.
Limonoid merupakan karakter jenis tumbuhan dari Famili Meliaceae yang melimpah dan
bervariasi. Golongan senyawa ini dapat ditemukan pada bagian biji dari duku dan kokosan
(Nishizawa et al, 1985, 1988; Saewan et al., 2006; Mayanti et al., 2009). Struktur limonoid
juga ditemukan pada Famili Rutaceae dan Cneoraceae. Akhir-akhir ini limonoid sangat
menarik perhatian karena menjadi penanda bagi aktivitas antifeedant dan pengendali
pertumbuhan serangga (Insect Growth Regulator = IGR). Yang dimaksud adalah senyawa
azadirachtin dan limonoid-limonoid C-seco teroksidasi tinggi yang diperoleh dari tanaman
nimba (Azadirachta indica A. Juss) dan Melia azedarach L.

Biosintesis dan Evolusi Limonoid
Senyawa limonoid diperkirakan berasal dari ∆
7
-tirukallol \[H-20, C-20(R)] atau

7
- euphol \[H-20, C-20(S)]. Bentuk stereokimia dari prekursor senyawa limonoid tidak
diketahui. Kebanyakan quassinoid dan C
30
triterpen pada Rutales mempunyai konfigurasi
C-20(R), seperti tirukallol sebagai precursor,tetapi pada daun A.indica, euphol yang
berkonfigurasi C-20(S) diubah lebih banyak menjadi senyawa limonoid nimb tirukallol .

Gbr 3.1 Kerangka dasar senyawa limonoid, 4,4,8 trimetil-17-furanilsteroid

Menurut aturan yang disepakati bahwa ikatan ∆
7
mengalami epoksidasi menjadi suatu
7-epoksida, yang kemudian epoksida tersebut terbuka dan menyebabkan terjadinya pergeseran
Wagner-Meerwein dari metil pada karbon ke-14 ke karbon ke-8, sehingga dihasilkan gugus OH
pada karbon ke-7 dan ikatan rangkap dua antara karbon ke-14 dan karbon ke-15. Rantai
sampingnya membentuk siklik dengan kehlangan empat atom karbon dan membentuk
cincin 17-furan. Tahap  biosintesis ini selesai setelah terbentuknya kerangka 4,4,8
trimetilsteroid dengan sebuah rantai samping C-8 yang lengkap, sebagaimana meliantriol (1)
dan melianon (2) dari A. indica (Gambar 3.2).
Pembentukan rangka limonoid berikutnya, suatu variasi oksidasi dan penataan ulang
rangka dapat terjadi (Gambar 3.3). Umumnya cincin D dioksidasi menjadi sebuah lakton (D-
seco limonoids). Kelompok azadiron (3) azadiradion (4) 14-epoksiazadiradion (5) gedunin (23)
yang diisolasi dari A. indica menggambarkan proses yang terjadi, dimulai fungsi karbonil pada
C-16 diikuti oleh oksidasi Baeyer-Villager untuk menghasilkan lakton (Gambar 3.4).
Kelmpok ini juga menunjukkan bagaimana awal terentuknya 14,15- epoksida. Cincin A
mungkin dikosidasi melalui mekanisme yang serupa. Limonoid A,D-seco ditemukan dalam
keempat famili dari Rutales. Dalam subfamili Swieteniodeae, limonoid D-seco selanjutnya
dioksidasi menjadi struktur B,D-seco yang mungkin mengalami penataan ulang lebih luas
untuk menghasilkan struktur yang lebh kompleks seperti ientandrophragmin (36) atau bussein
(37).


Gambar 3.3 Jalur biosintesis utama limonoid dalam Rutales (Champagne et al., 1992).

Biosintesis original kelompok C-seco dari limonoid kurang begitu jelas. Ekong et al.
menemukan bahwa isomer-isomer ∆
8
dari 3H-eufol, tirucallol dan butirospermol lebih
banyak bergabung dalam biosintesis limonoid C-seconimbolid daripada isomer-isomer ∆
7
.
Oleh karenanya limonoid C-seco berbeda dengan limonoid lain, dimana limonoid tersebut
dihasilkan dari ∆
7
sebagai prekursor. Kontroversi mengenai mekanisme ikatan C-12/C-13
pada cincin C terjadi. Mitra dan Siddiqui mendukung bahwa ikatan C-12/C-13 terputus untuk
membentuk ion 12-asilium, diikuti oleh serangan pada OH-7 pada C-15. Taylor
mengusulkan bahwa pemutusan ikatan 12-13 diikuti oleh pembukaan 14,15 epoksida secara
simultan untuk menghasilkan CHO-12 dan OH-15, rotasi ikatan 8-14 untuk membentuk
cincin C laktol, seperti pada volkensin.
Senyawa limonoid terdiri atas sepuluh kelompok senyawa yang terbentuk akibat
adanya proses oksidasi dan penataan ulang pada kerangka dasarnya. Sepuluh kelompok
senyawa limonoid (Gambar 3.3, halaman 43) tersebut adalah:
-Kelompok 1 : Protolimonoid
-Kelompok 2 : Limonoid kerangka Intact apoephol
-Kelompok 3 : Limonoid cincin -D seco
-Kelompok 4 dan 5 : Limonoid B, cincin -D seco
-Kelompok 6 : Limonoid cincin-A seco
-Kelompok 7 : Limonoid A, cincin-B seco
-Kelompok 8 : Limonoid cincin-C seco
-Kelompok 9 : Limonoid A, cincin-D seco
-Kelompok 10 : Limonoid cincin-B seco.
Limonoid dapat ditemukan dalam seluruh jaringan tumbuhan, organ yang berbeda
dalam satu individu dapat memproduksi jenis limonoid yang berbeda. Seluruh jalur
biosintesis limonoid dikarakterisasi melalui jalur evolusi perluasan oksidasi dan penataan
ulang pada rangka limonid asal. Senyawa-senyawa tersebut memiliki efek fisiologis terhadap
serangga, didukung bahwa keuntungan selektif primer dalam produksi limonoid adalah
proteksi terhadap serangga herbifora. Jika memang demikian, suatu harapan bahwa
kecenderungan evolusioner pada meningkatnya oksidasi dan penataan ulang berhubungan
dengan peningkatan aktivitas terhadap serangga dan musuh tanaman lain.
Limonoid Sebagai Substansi Pahit Pada sejumlah jenis jeruk, jus memberikan rasa
pahit berangsur-angsur setelah dibuat, berlawanan dengan “kepahitan segera” yang
disebabkan neohesperidosida flavanon seperti naringin. Faktor sebab akibat dijumpai pada
limonin. Keberartian ekonomis memberikan dorongan untuk elusidasi struktur senyawa
limonin. Jalur yang bervariasi mendukung bahwa prekursor tak pahit diubah menjadi
limonin diikuti gangguan pada jaringan buah. Prekursor yang terlibat pada reaksi tersebut
adalah asam lakton cincin-A limonat. Prekursor tersebut terdapat alam kapiler membran
dan jaringan albedo buah, tetapi dilepas dengan cepat kedalam jus yang kemudian diikuti
kerusakan pada jaringan buah. Prekursor diubah menjadi limonin oleh enzim limonin
lakton cincin-D hidrolase.
Terhadap pengecap manusia, limonin memberikan rasa sangat pahit yang
terdeteksi mulai dari konsentrasi 0,0075 hingga 5,0 ppm. Sejumlah kecil limonoid jeruk
termasuk nomilin, asam nomilat, ichangin, fotolimo nin I dan asam obacunoat juga
memiliki rasa pahit. Sebaliknya, obacunon, deoksilimonin, asam deoksilimonat, asam
limonat, deasetilnomilin, asam lakton cincin-D limonat, asam limoneksat, asam limonilat,
limonol dan fotolimonin II tidak pahit.

2.4 ISOLASI TRITERPENOID DAN UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT
BATANG SIRSAK (Annona muricata Linn.)

I. Pendahuluan
Indonesia termasuk dalam kawasan tropis yang memiliki kekayaan alam yang
melimpah, terutama sumber daya alam hayatinya. Kekayaan ini telah dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk berbagai keperluan, antara lain untuk bahan pangan, pakaian, kosmetik,
bahan baku industri dan sebagai obat. Banyak jenis tumbuhan yang sudah sejak lama
dimanfaatkan sebagai obat-obatan seperti antitoksik, antibakteri, antimalaria, antioksidan, dll.
Namun belum diketahui senyawa kimia yang terkandung di dalamnya.
Antioksidan merupakan senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih
elektron kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas dapat diredam. Contohnya, antioksidan
dapat juga menghambat oksigen reaktif atau nitrogen reaktif (ROS/RON). Sehingga
antioksidan dapat mencegah penyakit-penyakit yang dihubungkan dengan radikal bebas,
seperti karsinogenik, kardiovaskular dan penuaan.
Satu diantara ribuan famili tumbuhan tropis yang menarik adalah familiAnnonaceae.
Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya telah dilaporkan memiliki
aktifitas sitotoksik, antimalaria, antibakteri, menghambat pertumbuhan tumor hati,
antioksidan, melawan beberapa turunan parasit, menghambat perkembangbiakan sel HLC
SMMC-7721. [4-10] Salah satu spesies fari famili Annonaceae adalah Annona muricata
Linn. yang biasa dikenal dengan tumbuhan sirsak oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini
banyak digunakan sebagai obat-obatan tradisional oleh masyarakat, diantaranya sebagai
antijamur, efektif melawan Jurnal Kimia Unand (ISSN No. 2303-3401), Volume 2 Nomor 1,
Maret 2013 88 berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress
dan menormalkan kembali sistem syaraf yang kurang baik.
Walaupun memiliki aktivitas yang besar bagi kesehatan, namunbelum banyak
masyarakat yang mengetahui kandungan senyawa yang terdapat pada tanaman ini. Belum
banyak pelaporan mengenai isolasi senyawa maupun uji bioaktifitas dari tumbuhan ini. Dari
penelusuran literatur, sedikit sekali yang telah melakukan isolasi dan uji antioksidan terhadap
kulit batang dari tumbuhan sirsak ini.

II. Metodologi Penelitian
 Bahan kimia, peralatan dan instrumentasi
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit batang sirsak
(Annona muricata Linn.). Kemudian, bahan kimia yang digunakan selama penelitian
diantaranya heksan (C
6
H
12
), etil asetat (CH
3
CH
2
OC(O)CH
3
), metanol (CH
3
OH), (yang
ketiganya merupakan pelarut teknis yang telah didistilasi). Heksan, etil asetat dan metanol
digunakan sebagai pelarut saat maserasi, sedangkan eluen yang digunakan untuk
kromatografi kolom adalah heksan dan etil asetat. Absorben yang digunakan pada
kromatografi kolom adalah silika gel 60 (0,063-0,200 mm), pereaksi Meyer dipakai untuk
identifikasi alkaloid, pereaksi Liebermann-Burchard untuk identifikasi triterpenoid dan
steroid, HCl pekat dan bubuk Mg untuk identifikasi flavonoid dan FeCl
3
untuk identifikasi
fenolik. DPPH digunakan saat uji bioaktifitas antioksidan.
Alat yang digunakan adalah seperangkat alat distilasi, rotary evaporator Heidolph WB
2000, oven, kertas saring Whatman No.42, kolom kromatografi, peralatan gelas yang umum
digunakan dalam laboratorium (gelas ukur, erlenmeyer, labu destilasi,dll), chamber,plat KLT,
pembakar spritus, lampu Ultraviolet (UV; = 254 dan 356 nm), Fisher melting point
apparatus, spektrofotometer ultraviolet (UV; Secoman S1000 PC) dan Fourier Transform
Infra Red ( FTIR Perkin Elmer 1600 series)

 Prosedur penelitian
Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam penelitian ini, diantara adalah:
1. Pengambilan dan Persiapan Sampel
Sampel yang diperlukan untuk penelitian diperoleh di daerah Pekonina, Kecamatan
Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan yang diambil pada tahun 2012. Bagian yang akan
diteliti adalah kulit batang yang telah dikering anginkan pada udara terbuka selama ± 2 bulan
dan tidak terkena cahaya matahari secara langsung sampai kering. Untuk persiapan sampel,
sampel kering tersebut kemudian digiling halus sampai berbentuk serbuk lalu ditimbang.
Dan didapatkan sampel bubuk sebanyak 616 gram yang kemudian diekstrak dengan metoda
maserasi. Sampel ini juga dilakukan uji fitokimia.

2. Metode ekstraksi
Metoda ekstraksi senyawa metabolit sekunder yang digunakan adalah maserasi.
Pelarut yang digunakan pada maserasi ini adalah heksan, etil asetat dan metanol. Ekstrak
heksan kemudian dikromatografi kolom dengan menggunakan sistem SGP (Step Gradient
Polarity) dengan eluen yang digunakan dimulai dari heksana : etil asetat = 8 : 2 hingga
heksan : etil asetat = 5 : 5. Hasil dari kromatografi kolom ini didapatkan sebanyak 63 vial.
Hasil ini kemudian dimonitori dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) hingga
didapatkan fraksi lebih kecil. Fraksi yang paling sederhana kemudian Dimurnikan dengan
cara pencucian dan rekristalisasi.

3. Karakterisasi
Senyawa murni hasil isolasi kemudian diuji triterpenoid menggunakan pereaksi
Liebermann-Burchard. Selain itu juga dilakukan uji titik leleh dengan cara mengambil sedikit
kristal murni dan dimasukan kedalam pipa kapiler kecil. Titik leleh diukur ketika kristal
mulai meleleh hingga meleleh sempurna. Senyawa murni hasil isolasi dikarakterisasi dengan
diukur spektrumnya menggunakan spektroskopi UV dan IR.

III. Hasil dan Pembahasan

 Hasil uji fitokimia
Hasil pengujian kandungansenyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kulit
batang tanaman sirsakdapat dilihat pada Tabel 1









Profil Fitokimia Kulit Batang Sirsak (Annona muricata Linn.)

No Kandungan kimia Pereaksi Pengamatan Hasil uji
1 Alkaloid Meyer Kabut putih √
2 Fenolik Fecl Warna biru √

3. Flavonoid Sianidin
(Hcl+Mg)
Warna orange √

4. Kumarin (NaOH 1%) NaOH 1%,
fluorisensi UV

Berfluorisen
si terang



5 Saponin Air Tidak ada busa x

6. Steroid Liebermann
Burchard
Warna hijau √

7. Triterpenoid Liebermann-
burchard
Wrna merah √


Keterangan : √ = mengandung senyawa
x = tidak mengandung senyawa
Dari Table 1 di atas, dapat disimpulkan bahwa kulit batang sirsak yang akan diteliti
mengandung senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah flavonoid, fenolik, triterpenoid,
steroid, alkaloid dan kumarin. Namun tidak mengandung saponin.

 Hasil isolasi senyawa metabolit sekunder
Hasil maserasi dan pemekatan dari kulit batang sirsak didapatkan ekstrak heksan
berwarna kuning sebanyak 2,996 g, ekstrak etil asetat berwarna coklat tua sebanyak 7,817g
dan ekstrak metanol berwarna coklat sebanyak 11,090 g. Ekstrak heksan dikromatografi
kolom menggunakan sistem Step Gradient Polarity (SGP) dikarenakan pada hasil uji KLT
sebelumnya didapatkan pemisahan noda yang kurang baik. Eluen yang digunakan selama
kromatografi kolom adalah heksan dan etil asetat, sedangkan fasa diam yang digunakan
adalah silika gel 60 (0,063 –0,200 mm). Dari kromatografi kolom ini didapatkan sebanyak 63
vial. Kemudian senyawa yang terdapat dalam vial-vial ini dimonitori dengan menggunakan
KLT, sehingga diperoleh fraksi-fraksi yang lebih sederhana sebanyak 14 fraksi (I –XIV).
Selanjutnya pengerjaan difokuskan pada fraksi V karena fraksi ini memperlihatkan
adanya kristal dalam jumlah yang relatif banyak setelah pelarutnya diuapkan dibandingkan
fraksi-fraksi yang lain. Selain itu juga dikarenakan pola nodanya yang sederhana. Kemudian,
fraksi V ini dimurnikan dengan pencucian dan rekristalisasi.
Pada fraksi V ini ditambahkan etil asetat dan dilakukan pengadukan. Penambahan etil
asetat ini menghasilkan larutan hijau dan kristal. Penambahan etil asetat dilakukan hingga
tidak ada lagi yang bisa larut dalam etil asetat yang mengindikasikan bahwa pengotor yang
larut pada etil asetat telah habis. Selanjutnya pencucian dilakukan dengan menggunakan
pelarut heksan. Pencucian ini juga dilakukan hingga larutan hijau tidak dihasilkan lagi
(artinya pengotor yang larut dalam heksan telah habis). Setelah itu, Kristal ini kemudian
dilakukan uji kemurniannya.
Kristal diuji kemurniannya dengan menggunakan KLT pada berbagai perbandingan
eluen. Hasil dari uji kemurnian ini berupa noda tunggal yang nilai Retention factor (RF-nya)
dapat dilihat pada Tabel 2. Noda hasil elusi tidak tampak pada lampu Ultraviolet (UV)
sehingga digunakan penampak noda H2SO4 2N dan dipanaskan di atas hotplate. Hasil yang
didapatkan menggunakan metode ini adalah berupa noda yang berwarna kemerahan.

Tabel 2. Hasil uji kemurnian senyawa menggunakan KLT dengan berbagai perbandingan
eluen

No Eluen Rf
1 DCM 100% 0,375
2. Heksan :EtOAc (5:5) 0,325
3. Heksan :EtOAC (7:3) 0,5
4. Heksan EtOAc (8:2) 0,39

Dari hasil KLT ini terlihat bahwa senyawa hasil isolasi telah murni. Senyawa hasil isolasi
berupa kristal putih berbentuk jarum dan memiliki berat 68,1 g.

 Karakterisasi senyawa hasil isolasi
Untuk memastikan senyawa hasil isolasi yang didapatkan telah murni maka
dilanjutkan dengan pengujian titik leleh. Dari hasil pengujiannya didapatkan titik leleh dari
kristal ini berada pada rentang 129,2 - 130,1
O
C. berdasarkan rentang titik leleh yang cukup
pendek dimana titik leleh senyawa murni berada pada rentang ± 2
o
C, dapat diindikasikan
bahwa senyawa hasil isolasi telah murni. Kemudian, pengujian menggunakan pereaksi
Liebermann-Burchard memberikan warna merah kecoklatan yang menunjukkan bahwa
senyawa hasil isolasi termasuk golongan Triterpenoid.
Kristal hasil isolasi dikarakerisasi menggunakan spektrometer Ultraviolet (UV-1700
series). Spektrum UV yang dihasilkan memberikan panjang gelombang maksimal pada 201,8
nm. Spektrum UV dapat terlihat pada Gambar 1.
Serapan maksimum pada spektrum UV ini, yaitu 201,8 nm menandakan adanya
eksitasi elektron dari π ke π*. Eksitasi elektron ini menandakan adanya ikatan rangkap pada
senyawa. Pada serapan ini juga terlihat bahwa pada senyawa hasil isolasi tidak ada ikatan
rangkap berkonjugasi walaupun memiliki ikatan rangkap.


Gambar 1. Spektrum UV senyawa hasil isolasi dengan pelarut methanol

Karakterisasi senyawa hasil isolasi dilakukan dengan menggunakan FTIR Perkin
Elmer 1600 Series yang memperlihatkan beberapa serapan penting pada bilangan gelombang
3431,71 cm
-1
, 2928,38 cm
-1
, 1644,02 cm
-1
, 1461,78 cm
-1
dan 1375 cm
-1
, 1111,76 cm
-1
,
1050,05 cm
-1
yang dapat terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Spektrum IR senyawa hasil isolasi

Spektrum inframerah senyawa hasil isolasi memberikan indikasi beberapa pita
serapan penting yaitu pita serapan ulur CH
3
berada pada daerah 2928.38 cm
-1
yang didukung
oleh adanya serapan pada 1461.78 cm
-1
. Daerah 1644.02 cm
-1
menunjukkan adanya gugus
karbonil (C=O). Geminal dimetil yang merupakan serapan khas senyawa golongan
triterpenoid ditunjukkan pada daerah 1375 cm
-1
. Serapan C–O eter ditunjukkan pada angka
gelombang 1300–1000 cm
-1
yaitu 1111.76 cm
-1
. Kemudian pada daerah 3431.71 cm
-1

menunjukkan pita serapan –OH untuk gugus alkohol yang diperkuat oleh adanya vibrasi ulur
C–O pada daerah 1050.05 cm
-1
. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari spektrum IR,
dapat diindikasikan bahwa senyawa hasil isolasi merupakan senyawa golongan triterpenoid.

 Uji Antioksidan
Pengujian aktifitas antioksidan dari masing-masing ekstrak kulit batang sirsak
menggunakan metoda DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Pembuatan larutan 2,2-difenil-1-
pikrilhidrazil dengan cara ditimbang sebanyak 1,97mg 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil dan
dilarutkan dengan metanol di dalam labu ukur sampai 100 mL sehingga diperoleh larutan
dengan konsentrasi 50 μM. Penentuan absorban dari larutan DPPH dilakukan dengan dipipet
sebanyak 3,8 mL larutan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil 50 μM dan ditambahkan dengan 0,2 mL
metanol. Setelah dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap, kemudian serapan larutan diukur
dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 515 nm dan digunakan sebagai
absorban kontrol.
Pemeriksaan aktivitas antioksidan, dilakukan dengan ditimbang ekstrak sebanyak 50
mg, kemudian dilarutkan sampai 50mL dengan metanol dalam labu ukur 50mL, maka
didapatkan konsentrasi 1mg/mL. Kemudian untuk penentuan aktivitas antioksidan dipipet
sebanyak 0,2 mL larutan sampel dengan pipet mikro dan dimasukan ke dalam vial, kemudian
ditambahkan 3,8mL larutan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil 50 μM. Campuran dihomogenkan dan
dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 515 nm dan absorban digunakan sebagai absorban sampel. Aktivitas
antioksidan sampel ditentukan oleh besarnya hambatan serapan radikal bebas melalui
perhitungan persentase inhibisi serapan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil.
Uji antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dimana
pengujian antioksidan pada ekstrak metanol, heksan, dan EtOAc. Serapan larutan diukur
dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 515 nm.
Dari data Tabel 3 dapat diketahui bahwa ekstrak metanol, EtOAc, dan heksan,
berturut-turut mempunyai persen inhibisi sebesar 90,19 %, 56,16 % dan 19,87 %. Hal ini
menunjukan bahwa ekstrak metanol dan etil asetat kulit batang sirsak (Annona muricata
Linn) mempunyai aktivitas yang besar terhadap penghambatan radikal bebas, sedangkan
untuk ekstrak heksan tidak mempunyai aktivitas tersebut.

Tabel 3. Hasil uji aktifitas antioksidan ekstrak metanol, heksan, dan EtOAc dengan metode
penangkapan radikal DPPH



BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan tentang sintesis kompleks tembaga oksinat yang disajikan
dalam makalah ini, maka dapat diambil kesimpuln sebagai berikut :
1. Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Secara
struktur kimia terpenoid merupakan penggabungan dari unit isoprena, dapat berupa rantai
terbuka atau siklik, dapat mengandung ikatan rangkap, gugus hidroksil, karbonil atau
gugus fungsi lainnya.
2. Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena
dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena, senyawa
ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif.
3. Limonoid adalah suatu triterpenoid atau turunan dari prekursor kerangka 4,4,8-trimetil-
17-furanilsteroid. Limonoid termasuk ke dalam metabolit sekunder yang dihasilkan oleh
tumbuhan yang termasuk kedalam golongan Rutales, khususnya Famili Meliaceae. Salah
satunya adalah biji buah duku.
4. Senyawa triterpenoid dapat diisolasi dari batang kulit batang sirsak (annona muricata
linn.) dengan cara ekstraksi dan dari hasil ekstraksi dapat dilakukan uji antioksidannya.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol merupakan ekstrak yang
paling aktif sebagai antioksidan, senyawa hasil isolasi merupakan golongan triterpenoid.


3.2 SARAN
Pemakalah menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kesalahan/kehilafan, dan juga Kami sebagai Pemakalah mengaku bahwa materi Triterpenoid
ini susah dicari dan dipahami, maka dari itu Pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA
Kesuma, W. 2008. Tanaman Sirsak dan Khasiatnya Terhadap Kesehatan,Jilid 1. Bumi
Aksara,
Kuncahyo, I. dan Sunardi, 2007, Uji Aktifitas Antioksidan Ekstrak Belimbing Wuluh
(averrhoa bilimbi, L.) Terhadap 1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazyl (DPPH), Seminar Nasional
Teknologi 2007, hal. 1-9
Yuslinda, E., Mukhtar, H., dan Khairunnisa. 2012, Penentuan Aktifitas Antioksidan dari
Beberapa Ekstrak Sayu-sayuran Segar dan Dikukus dengan Metoda DPPH, Scienta. Vol. 2.
No. 1, hal 1-52
Chang, R.F., dan Wu, Y.C., 2001, Novel Cytotoxic Annonaceous Acetogenins from Annona
muricata, J. Nat. Pro. 64(7) : 925-931
Jurgen, T., 2009, Antibacterial of Triterpenoid from Annona muricata seeds, J. Chem. Vol. 3,
pp. 367-370
Jhons, T., 2011, Antimalarial Alkaloid Isolated from Annona squamosa
Rieser, M.J., Gu, Z.M., Fang, X.P., Zeng, L., Wood, K.V., dan Mclaughlin, J.L., 1996, Five
Novel Mono-Tetrahydofuran Ring Acetoginins from The Seeds of Annona muricata, J. Nat.
Pro. 59(2) : 100-8
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia. Padmawinata K, Soediro I, penerjemah. Bandung :
Penerbit ITB. Terjemahan dari : Phytochemical methods.

IW.G Gunawan, dkk. 2008. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Terpenoid yang Aktif
Antibakteri pada Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn). ISSN 1907-9850

Sukadan I.M, dkk. 2008. Aktivitas Antibakteri Golongan Triterpenoid dari Biji Pepaya
(Carisa papaya L). ISSN 1907-9850.