You are on page 1of 13

MAKALAH

BISNIS INTERNASIONAL
KARAKTERISTIK BISNIS
INTERNASIONAL
Dosen Pembimbing : Ervan Arif, SE.










Oleh : Kelompok 1

ISNAN WIDODO 201110160311320
SATRIO BAGUS 201110160311336
WEMY WILDA 201110160311342



JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
TAHUN AJARAN 2013 / 2014
2


BAB I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Studi bisnis internasional mulai berkembang sejak akhir PD II dan memberi dimensi baru
bagi studi ekonomi dan manajemen. Salah satu disiplin ilmu yang dianggap dekat dengan
studi bisnis internasional, adalah ekonomi internasional dan perdagangan internasional.
Adapun yang membedakan antara ekonomi internasional/ perdagangan internasional dengan
bisnis internasional adalah sebagai berikut: “Ekonomi internasional (perdagangan
internasional), menitikberatkan perhatiannya kepada hubungan ekonomi antar Negara.
Sedangkan bisnis internasional, fokus perhatiannya adalah pelaku (perusahaan)yang
memainkan peran dalam bisnis internasional”
Alasan yang melatarbelakangi pengembangan bisnis internasional, adalah:
Dari segi pertumbuhan ekspor, produsen nasional menghadapi peluang pasar dalam negeri
yang semakin terbatas. Terobosan melalui ekspor memperluas kemungkinan peluang bagi
produk-produk mereka di negara lain.
Untuk memasok kebutuhan pasar-pasar luar negeri dapat dilakukan dengan mengekspor
ke dan memproduksi barang di pasar-pasar itu. Peningkatan ekspor dunia dalam kurun waktu
31 tahun menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan penjualan melalui ekspor adalah
strategi pertumbuhan yang dapat dijalankan.
Arah perdagangan internasional antara lain, ekspor dari negara industri ke negara
berkembang dengan imbalan bahan mentah, ekspor dari negara berkembang ke negara maju,
dan ekspor dari perekonomian maju mengarah ke negara industri. Arah perdagangan dapat
berubah sewaktu-waktu di antara negara-negara atau kawasan-kawasan di dunia.
Perkembangan persetujuan perdagangan regional yang meluas/menyusut dapat mengubah
tingkat dan proporsi aliran perdagangan di dalam dan antarkawasan secara cukup besar
1.2 Tujuan Makalah

1. Memahami karakteristik bisnis di dunia international
2. Memahami kekuatan-kekuatan globalisasi
3. Memahami daya tarik perdagangan internasional dan bagaimana pertumbuhannya.
4. Mengidentifikasi arah perdagangan internasional, atau siapa berdagang dengan siapa.
5. Menjelaskan ukuran, pertumbuhan dan arah investasi langsung luar negeri Amerika
Serikat

1.3 Rumusan Masalah

1. Apa saja karakteristik bisnis di dunia international ?
2. Apa saja kekuatan-kekuatan dari globalisasi ?
3. Bagaimana daya tarik perdagangan internasional dan pertumbuhannya ?
4. Bagaimana mengidentifikasi arah perdagangan internasional ?



3


BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Bisnis Internasional
Secara singkat bisnis internasional dapat didefinisikan sebagai bisnis yang kegiatan-
kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini tidak hanya termasuk perdagangan
perdagangan internasional dan perusahaan manufaktur di luar negeri tetapi juga industri jasa
yang berkembang di bidang-bidang seperti transportasi, pariwisata, periklanan, konstruksi,
perdagangan eceran, perdagangan besar, dan komunikasi massa.
Sebagaimana dinyatakan oleh Moyer, bidang bisnis internasional meminjam beberapa
disiplin akademis termasuk ekonomi internasional, antropologi budaya dan ilmu politik. Oleh
karena itu, studi bisnis internasional biasanya meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Operasi perusahaan dalam negeri di luar negeri (investasi).
Perdagangan ekspor dan impor. Bidang studi ini telah sejak lama menarik para
ekonom, karena arus perdaangan internasional memiliki dampak besar bagi
pembangunan dan kegiatan ekonomin local.
2. Manajemen perbandingan.
Membandingkan perusahaan dalam dan luar negeri. Perbandingan sistem ekonomi.
3. Analisis bisnis fungsional, yang meliputi permasalahan international, keuangan
internasional dan manajemen internasional
2.2 Kekuatan-kekuatan Globalisasi
Ada lima jenis kekuatan pendorong globalisasi yang membawa perusahaan-perusahaan
internasonal kepada operasi globalisasi mereka, yaitu :
1. Politik
Ada kecenderungan terhadap penyatuan dan sosialisasi komunitas global.
Kesepakatan perdagangan kawasan, seperti Persetujuan Perdagangan Bebas Amerika
Utara (North American Free Trade Agreement-NAFTA) dan Uni Eropa, yang
mengelompokkan beberapa negara menjadi sebuah pasar tunggal, telah menyajikan
kepada perusahaan-perusahaan berbagai peluang pemasaran yang signifikan. Banyak
yang telah bergerak dengan cepat menerobos baik melalui ekspor maupun produksi di
wilayah itu.
2. Teknologi
Kemajuan-kemajuan dalam teknologi komputer dan komunikasi memungkinkan
peningkatan aliran gagasan dan informasi yang melewati batas-batas negara, dan
memungkinkan para pelanggan mengetahui barang-barang luar negeri. Sistem TV
kabel di Eropa dan Asia, misalnya, memungkinkan seorang pemasang iklan mencapai
banyak negara sekaligus, dengan demikian menciptakan permintaan regional dan
kadang-kadang global. Jaringan komunikasi global memungkinkan personel
manufaktur untuk mengkooordinasikan fungsi-fungsi produksi dan desain ke seluruh
dunia sehingga pabrik-pabrik itu di banyak bagian dunia bisa mengerjakan produk
yang sama.
3. Pasar
Mengetahui bahwa pasar dalam negeri telah jenuh juga membuat perusahaan-
perusahaan mulai merambah pasar-pasar di luar negeri, terutama ketika para pemasar
4

menyadari adanya suatu kesamaan selera dan gaya hidup pelanggan yang diakibatkan
oleh meningkatnya perjalanan wisatawan, TV satelit, dan pemakaian merek global.

4. Biaya
Mengurangi biaya per unit merupakan tujuan manajemen. Salah satu alat untuk
mencapainya adalah mengglobalkan lini-lini produk untuk mengurangi biaya
pengembangan produksi dan persediaan. Perusahaan juga dapat menempatkan
produksi di negara-negara dimana biaya faktor produksi lebih rendah.
5. Kompetisi
Persaingan terus meningkat secara intensif. Perusahaan-perusahaan baru yang banyak
berasal dari negara-negara berkembang dan industri baru, telah memasuki pasar-pasar
dunia di sektor otomotif dan elektronik misalnya. Kekuatan pendorong persaingan
yang lain untuk globalisasi adalah kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan
mempertahankan pasasr-pasar dalam negeri para pesaing mereka dari para pesaing
dengan memasuki pasar-pasar dalam negeri para pesaing itu untuk menganggunya.
Kegiatan perusahaan multinasional di Negara-negara lain, tidak berbeda jauh dari kegiatan
pemasaran internasional sebagai sub fungsi dari bisnis internasional. Phillips kotler,
membedakan strategi-strategi perusahaan dalam pemasaran internasional sebagai berikut:
1. Kegiatan ekspor yang terdiri atas ekspor langsung dan tidak langsung
2. Kegiatan usaha patungan yang terdiri atas:
Lisensi, hak untuk menggubakan proses manufacturing yang mengandung royalti
pembayaran, Kontrak pabrik local untuk menghasilkan produksi Kontrak manajerial.
Dalam kegiatan dan perumusan strategi bisnis, perusahaan internasionalbiasanya
mempertimbangkan berbagai faktor eksternal, tidak hanya ekonomi tetapi juga sosial-budaya
politik dan kedaulatan hukum. Unsur-unsur tersebut turut menentukan tingkat penawaran dan
pemasaran dalam kegiatan bisnis internasional.
Konsep kepentingan nasional dan pandangan hidup masyarakat setiap Negara berbeda
karena itu perusahaan multinasional tidak bisa secara bebas mengendalkikan seluruh
kegiatannya di negara tuan rumah. Perbedaan kepentingan nasional tidak menutup
kemungkinan terjadinya konflik perusahaan internasional dengan mitra usahanya, masyarakat,
konsumen, tenaga kerja lokal tuan rumah.
2.3 Arah Perdagangan Internasional
Arah perdagangan internasional antara lain :
1. Ekspor dari negara industri ke negara berkembang dengan imbalan bahan mentah,
2. Ekspor dari negara berkembang ke negara maju,
3. Ekspor dari perekonomian maju mengarah ke negara industri.
Arah perdagangan dapat berubah sewaktu-waktu di antara negara-negara atau
kawasan-kawasan di dunia. Perkembangan persetujuan perdagangan regional yang
meluas/menyusut dapat mengubah tingkat dan proporsi aliran perdagangan di dalam dan
antarkawasan secara cukup besar.
Perlu adanya pemusatan perhatian pada mitra-mitra dagang utama karena dengan
melakukan kegiatan itu kita dapat memperoleh keuntungan antara lain:
1. Iklim bisnis di negara pengimpor relative menguntungkan,
5

2. Peraturan-peraturan ekspor dan impor bukanlah sesuatu yang sukar diatasi,
3. Tidak akan ada penolakan budaya untuk membeli barang-barang dari negara itu,
4. Fasilitas transportasi yang memuaskan telah ada,
5. Pihak-pihak saluarn impor (pedagang, bank, pialang pabean) telah berpengalaman
dalam menangani pengiriman impor dari kawasan eksportir,
6. Devisa untuk membayar ekspor tersedia,
7. Pemerintah dari mitra dagang mungkin menekan importer untuk membeli dari negara-
negara yang merupakan pelanggan utama ekspor negara itu.

2.4 Investasi Luar Negeri
Investasi Luar Negeri dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1. Investasi portofolio,
Ialah pembelian saham-saham dan obligasi semata-mata dengan tujuan memperoleh
laba atas dana yang ditanamkan. Meskipun para investor portofolio tidak berkaitan
langsung dengan pengendalian perusahaan, mereka menanamkan jumlah yang sangat
besar dalam saham obligasi dari negara-negara lain. Investasi luar negeri besar
jumlahnya dan akan terus tumbuh dengan semakin banyak perusahaan-perusahaan
internasional mengeluarkan obligasi dan kekayaan mereka di bursa luar negeri.
2. Investasi langsung luar negeri,
Ialah investasi dimana investor berpartisipasi dalam manajemen perusahaan selain
mendapatkan laba atas uang mereka. Untuk mengetahui tingkat investasi kita dapat
mencari informasi langsung dari tempat-tempat yang melakukannya. Informasi ini
digunakan oleh manajer dan pemerintah untuk dianalogikan dengan apa yang
seharusnya dicari dalam analisis perdagangan internasional. Apabila suatu negara
terus menerus menerima investasi asing yang cukup besar, iklim investasinya pasti
menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan politis lingkungan
luar negeri relatif menarik dan peluang untuk memperoleh laba lebih besar.
Perbedaan antara investasi portofolio dan investasi langsung luar negeri mulai kabur
dengan semakin besarnya ukuran dan jumlah merger akuisisi dan aliansi internasional.
2.5 Alasan Mengapa Memasuki Pasar-pasar Luar Negeri
1. Meningkatkan Laba Dan Penjualan

a. Memasuki Pasar-pasar Baru
Para manajer senantias aberada di bawah tekanan untuk meningkatkan penjualan dan
laba perusahaan, dan ketika mereka menghadapi pasar yang matang dan jenuh di
negaranya sendiri, mereka mulai mencari pasar-pasar baru di luar negara mereka.
Mereka menemukan bahwa asar dengan PDB per kapita dan pertumbuhan penduduk
yang meningkat tampaknya merupakan kandidat potensial untuk operasi mereka.
b. Pengaturan Perdagangan Preferensial
Persetujuan oleh sekelompok kecil negara-negara untuk membentuk perdagangan
bebas diantara mereka sendiri sementara mempertahankan restriksi perdagangan
dengan sejumlah negara lainnya.
c. Pasar-pasar yang Tumbuh Lebih Cepat
6

Tidak hanya pasar luar negeri yang baru sedang muncul, tetapi banyak diantaranya
yang tumbuh dengan tingkat yang lebih cepat daripada pasar dalam negeri AS. Contoh
yang istimewa adalah pertumbuhan Singapura, yang memiliki 4,5 kali rata-rata
pertumbuhan tahunan Jepang, dengan PDB/kapita yang sama.
d. Komunikasi yang Lebih Baik
Faktor ini dapat dianggap suatu alasan pendukung bagi pembukaan pasar-pasar baru di
luar negeri, karena jelas kemampuan berkomunikasi secara cepat dan lebih murah
dengan para pelanggan dan bawahan melalui surat elektronik dan konferensi video,
seperti yang dibahas dalam Bab 1, tentunya memberikan kepada para manajer
kepercayaan akan kemampuan mengontrol operasi-operasi di luar negeri.
e. Memperoleh Laba yang Lebih Besar
Seperti Anda ketahui, laba yang lebih besar dapat diperoleh dengan meningkatkan
penerimaan total atau menurunkan harga pokok penjualan. Dan seringkali kondisinya
adalah sedemikian rupa sehingga perusahaan dapat melakukan keduanya.
f. Penerimaan yang Lebih Besar
Jarang seluruh pesaing domestik suatu perusahaan dapat berada di setiap pasar luar
negeri dimana perusahaan berada.Jika terdapat lebih sedikit persaingan, perusahaan
mungkin dapat memperoleh harga yang lebih baik untuk barang-barang atau jasa-
jasanya.Misalnya, Goodrich hanya mempunyai sebuah pesaing di pasar Meksiko
ketika mulai memproduksi V belt secara lokal, sementara di Amerika Serikat memiliki
lusinan pesaing.
g. Laba di Luar Negeri yang Lebih Tinggi sebagai Motif Investasi
Tidak ada keraguan bahwa laba yang lebih besar pada investasi di luar negeri
merupakan dorongan yang kuat untuk membuka pasar luar negeri pada awal 1870-an
dan 1980-an. Business International melaporkan bahwa 90 persen dari 140 perusahaan
dalam Fortune 500 yang disurvei telah mencapai keuntungan yang lebih besar atas
asset luar negeri tahun 1974.
h. Mencoba Suatu Pasar
Kadang-kadang sebuah perusahaan internasional akan melakukan percobaan, pasar
atas suatu produk di lokasi luar negeri yang bagi perusahaan kurang penting bila
dibandin gkan dengan pasar dalam negeri dan pasar-pasar luar negeri utamanya. Hal
ini memberikan peluang untuk melakukan perubahan-perubahan, bila perlu, terhadap
bagian mana saja dari bauran pemasaran (produk, promosi, harga, saluran distribusi)
atau menghentikan seluruh usaha apabila percobaan itu menunjukkan hal itu harus
dilakukan.

2. Melindungi Pasar, Keuntungan Dan Penjualan
a. Melindungi Pasar Domestik
Seringkali sebuah perusahaan akan membuka pasar luar negeri untuk melindungi
pasar dalam negerinya.
b. Mengikuti Pelanggan ke Luar Negeri
Perusahaan-perusahaan jasa (akuntansi, periklanan, riset pemasaran, perbankan,
hukum) akan mendirikan operasi-operasi luar negerinya di pasar-pasar dimana
pelanggan-pelanggan utama mereka berada, untuk mencegah para pesaing
memperoleh akses kepada para pelanggan itu.
c. Menyerang Pasar dalam Negeri Pesaing
Adakalanya sebuah perusahaan akan mendirikan operasi di negara asal pesaing
utamanya dengan gagasan untuk membuat competitor sibuk untuk mempertahankan
pasarnya itu, sehingga akan lebih sedikit energi untuk bersaing di negara asal
perusahaan yang pertama.
7

d. Menggunakan Produksi Luar Negeri untuk Menekan Biaya
Sebuah perusahaan juga mungkin pergi ke luar negeri untuk melindungi pasar dalam
negeri ketika ia menghadapi persaingan dari barang-barang impor luar negeri yang
rendah harganya. Dengan memindahkan sebagian atau seluruh fasilitas produksinya ke
negara-negara dimana pesaingnya berasal, ia dapat menikmati keunggulan-keunggulan
seperti upah buruh, biaya, bahan mentah dan tenaga yang lebih murah.
e. Melindungi Pasar-Pasar Luar Negeri
Mengubah cara untuk keluar negeri dari mengekspor menjadi memproduksi di luar
negeri sering kali diperlukan untuk melindungi pasar-pasar luar negeri. Manajemen
perusahaan yang memasok pasar luar negeri yang menguntungkan dengan
mengekspor mungkin mulai mencatat beberapa tanda tidak menyenangkan bahwa
pasar ini sedang terancam.
f. Kekurangan Devisa
Salah satu tanda-tanda pertama adalah penundaan pembayaran oleh para importir. Para
importir itu mungkin memiliki alat pembayaran lokal yang cukup, tetapi mungkin
menghadapi kelambatan dalam pembelian valuta asing (mata uang asing) dari bank
sentral pemerintah. Manajer kredit dalam perusahaan ekspor, dengan mengecek
banknya dan eksportir.
g. Produksi Lokal oleh Para Pesaing
Kekurangan devisa bukanlah satu-satunya alasan kemungkinan perusahaan mengubah
dari mengekspor kepada memproduksi di sebuah pasar. Misalnya, sebuah perusahaan
masih bisa menikmati usaha ekspor yang sedang tumbuh dan pembayaran yang tepat
waktu, mungkin dipaksa untuk membangun sebuah pabrik di pasar itu.Ada
kemungkinan saja para pesaingnya juga telah memperhatikan volume ekspor mereka
yang dapat mendukung produksi lokal.
h. Memuaskan Keinginan Manajemen Untuk Melakukan Ekspansi
Pertumbuhan yang lebih cepat yang dikemukakan di atas membantu memenuhi
keinginan manajemen untuk melakukan ekspansi.Para pemegang saham dan analis
keuangan juga mengharapkan perusahaan-perusahaan terus tumbuh, dan perusahaan-
perusahaan yang beroperasi hanya di pasar domestik menemukan semakin sulit untuk
memenuhi harapan itu.Akibatnya, banyak perusahaan mengadakan perluasan ke pasar-
pasar di luar negeri.

2.6 Cara Untuk Memasuki Pasar-pasar Luar Negeri

Kebanyakan perusahaan memulai keterlibatannya dalam bisnis luar negeri dengan
mengekspor, yaitu menjual beberapa produksi regular mereka di luar negeri.

1. Mengekspor tidak Langsung

Mengekspor tidak langsung lebih sederhana daripada mengekspor langsung karena
mengekspor langsung memerlukan baik keahlian khusus maupun penanaman uang tunai yang
besar. Para eksportir yang berbasis di negara asal mereka akan melakukan pekerjaan itu.
Manajemen semata-mata mengikuti instruksi. Diantara para eksportir yang tersedia adalah (1)
agen ekspor pabrikan, yang menjual untuk pabrikan, (2) agen komisi ekspor, yang membeli
untuk pelanggan-pelanggan mereka di luar negeri, (3) pedagang ekspor, yang membeli dan
menjual untuk rekening mereka sendiri, dan (4) perusahaan internasional, yang
menggunakan barang-barang itu di luar negeri (contohnya, perusahaan-perusahaan per
tambangan, kontruksi dan minyak).

8

2. Mengekspor Langsung

Untuk terlibat dalam kegiatan mengekspor langsung, manajemen harus kepada
seseoang di dalam perusahaan itu menugaskan pekerjaan menangani ekspor.Pengaturan yang
paling sederhana adalah memberikan kepada seseorang biasanya manajer penjualan, tanggung
jawab atas pengembangan bisnis ekspor. Para karyawan domestik dapat menangani
penagihan, kredit dan pengiriman pada mulanya, dan apabila usaha itu berkembang, suatu
bagian ekspor terpisah bisa dibentuk. Sebuah perusahaan yang telah mengekspor ke importir-
importir perdagangan besar di kawasan itu, dan melayani mereka dengan kunjungan-
kunjungan baik oleh personel kantor pusat maupun perwakilan penjualan yang berbasis di
luar negeri, sering kali menemukan bahwa penjualan telah berkembang sampai ke titik yang
akan mendukung organisasi pemasaran yang lengkap.

3. Proses Produksi Di Luar Negeri

Ketika manjemen memutuskan untuk terlibat dalam proses manufaktur di luar negeri,
pada umumnya ada lima alternatif berbeda yang tersedia, meskipun tidak semunya layak di
negara tertentu. Alternatif-alternatif tersebut adalah :

1. Anak Perusahaan yang Dimiliki secara Keseluruhan
2. Usaha Patungan
3. Perjanjian Lisensi
4. Waralaba
5. Kontrak Manufaktur


2.7 Pihak-pihak Saluran Distribusi Internasional

A. Ekspor Tidak Langsung

Untuk mengekspor secara tidak langsung, sejumlah eksportir yang berbasis di AS (A)
menjual untuk pabrikan, (B) membeli untuk pelanggan luar negeri mereka. (C) membeli dan
menjual untuk rekening sendiri, atau (D) membeli atas nama para pemakai atau pedagang
asing. Walaupun masing-masing jenis eksportir pada umumnya beroperasi dengan ca ra yang
berikut, setiap perusahaan boleh benar-benar melaksanakan satu atau lebih fungsi-fungsi
berikut ini :

1. Eksportir yang menjual untuk pabrikan
a. Agen ekspor pabrikan bertindak sebagai wakil internasional untuk berbagai
pabrikan domestik yang tidak bersaing satu sama lain. Mereka pada umumnya
mengarahkan promosi, melaksanakan penjualan, membuat faktur, mengirim dan
menangani pembiayaan. Mereka biasanya dibayar dengan komisi untuk
menyelesaikan fungsi ini atas nama pabrikan itu.
b. Perusahaan Pengelola Ekspor (export management company – EMC), dahulu
dikenal sebagai manajer ekspor gabungan (Combination Export Manager – CEM),
bertindak sebagai departemen ekspor untuk beberap aparbikan yang tidak bersaing
satu sama lain.
c. Perusahaan dagang internasional (international trading company) adalah serupa
dengan EMC dalam hal bahwa mereka juga bertindak sebagai agen untuk
beberapa perusahaan dan sebagai pedagang besar yang lain.
9


2. Eksportir yang membeli untuk pelanggan mereka di luar negeri
Agen komisi ekspor (export commission agent) mewakili pembeli luar negeri, seperti
perusahaan impor dan para pemakai industri besar.Mereka dibayar dengan suatu komisi oleh
pembeli untuk bertindak sebagai para pembeli penduduk di negara-negara industri.

3. Eksportir yang membeli dan menjual atas tanggung jawab mereka sendiri
Pedagang ekspor (export merchant) membeli produk-produk secara langsung dari
pabrikan dan kemudian menjual, membuat faktur dan mengirimnya atas nama mereka sendiri
sehingga para pelanggan di luar negeri tidak berurusan langsung dengan pabrikan, seperti
yang mereka lakukan seperti halnya seorang agen ekspor.

4. Eksportir yang membeli untuk pedagang dan para pemakai luar negeri
Para pemakai luar negeri yang besar, seperti perusahaan pertambangan, minyak dan
konstruksi internasional, membeli untuk penggunaan mereka sendiri di luar negeri.

B. Ekspor Langsung

Jika perusahaan memilih untuk melakukan ekspornya sendiri, terdapat empat jenis
perantara luar negeri yang dapat dipilih : (1) agen pabrikan (manufacturer’s agents), (2)
distributor, (3) pengecer, dan (4) perusahaan dagang.

1. Agen pabrikan atau agen dagang (manufacturer’s agents) adalah penduduk negeri atau
daerah dimana mereka sedang melaksanakan bisnis untuk perusahaan itu.
2. Para distribuitor (distributors) atau importir perdagangan besar adalah para pedagang
mandiri yang membeli atas tanggung jab sendiri.
3. Para pengecer (retailers), khususnya produk konsumen yang memerlukan sekit
layanan purna jual, sering kali merupakan importir langsung.
4. Perusahaan-perusahaan dagang (trading companies) relatif tak dikenal di Amerika
Serikat tetapi merupakan importir yang sangat penting di bagian lain dunia. Di
sejumlah negara Afrika, trading companies tidak hanya merupakan importir utama
barang-barang yang berkisar dari produk konsumen sampai peralatan modal tetapi
juga mengekspor bahan baku seperti bijih besi, minyak sawit dan kopi.

















10



BAB III. STUDI KASUS

3.1 Studi Kasus Hubungan Perdagangan Indonesia dan China

Hubungan antara Indonesia dan China adalah satu hal yang amat penting, baik bagi
Indonesia maupun untuk China sendiri. Hubungan Bilateral Indonesia-China yang pernah
membeku sepanjang pemerintahan Orde Baru, kini makin membaik, dan bahkan China
merupakan salah satu mitra yang penting bagi Indonesia. Secara geopolitik, posisi Indonesia
sangat strategis di kawasan Asia Pasifik dan Selat Malaka. Sedangkan secara ekonomi,
Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumberdaya alam dan mineral, baik di darat
maupun di laut. Kekayaan alam Indonesia yang sangat luar biasa ini jelas sangat menggoda
negara-negara industri yang sedang maju saat ini seperti China untuk menguasainya, langsung
ataupun tidak langsung. Disamping itu, dengan jumlah penduduk lebih dari 243 juta jiwa,
Indonesia adalah pasar potensial bagi produk-produk negara-negara industri.
Sedangkan China sendiri adalah dulunya merupakan negara berkembang yang dimana
pemerintahnya masih menerapkan sistem tertutup dan belum terbuka dengan negara lainnya,
akan tetapi kini sudah berubah menjadi negara maju yang perekonomiannya terus
berkembang pesat bahkan sudah mengalahkan perkembangan negara-negara diu kawasan
Eropa, dan China sekarang adalah negara yang sangat terbuka dengan investasi asing
semenjak liberalisasi ekonomi yang dibawa pada tahun 1979 oleh Den Xioping. Dengan
menggunakan sistem open door policy atau membuka secara luas investasi asing yang akan
masuk ke China, membuat negara ini semakin disegani dalam pertumbuhan ekonominya dan
investor asing yang masuk ke China juga semakin banyak, ini dikarenakan iklim investasi di
China sangat mendukung, dan para investor pun dipermudah birokrasinya oleh pemerintah
setempat. Kemudian juga pertumbuhan ekonmi China tidak pernah lepas dari angka dua digit,
menjadi alasan utama investor asing berbondong-bondong menginvestasikan properti atau
sahamnya di China. Cadangan devisa China pada saat ini juga sudah mencapai 3 miliar USD
mengalahkan Amerika Serikat, sehingga wajar dilihat dari faktanya yang ada pada saat ini
bahwa China sekarang ini sudah menjadi superpower baru yang bisa menyaingi kekuatan dari
Amerika Serikat terutama dalam hal ekonominya.
Hubungan bilateral antara China dan Indonesia terutama dalam bidang ekonomi saat
ini terus meningkat. Hal ini tercermin dari meningkatnya nilai perdagangan kedua negara,
yang pada tahun 2008 mencapai US$ 31 miliar. Dalam lima tahun ke depan, Presiden
Republik Indonesia (RI) Bapak Susilo B. Yudhoyono memperkirakan nilai perdagangan
Indonesia-China akan mencapai US$ 50 miliar1[1]. Peningkatan hubungan bilateral tersebut,
diungkapkan oleh Dubes China, tidak terlepas dari terjalinnya Free Trade Asean-China.
Selain itu, China menganggap Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi sangat besar.
Namun untuk merealisasikan potensi itu diperlukan penghapusan beberapa hambatan, baik
dari pihak China maupun dari pihak Indonesia. Indonesia berharap lambannya realisasi dana
pinjaman China agar bisa cepat terealisasikan sehingga bisa dioptimalkan dengan baik oleh
pemerintah Indonesia. Sebaliknya, dunia usaha China yang ingin berinvestasi di Indonesia



11

juga memerlukan jaminan dari pemerintah RI untuk menghadapi risiko perubahan kebijakan
pemerintah daerah2[2].
Tampilnya Cina sebagai kekuatan besar di dunia, dianggap bisa membantu Indonesia
mengimbangi pengaruh Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang di kawasan Asia Pasifik.
Bagi Indonesia yang menginginkan kondisi stabil di kawasan, bermitra dengan China menjadi
sesuatu yang tak terelakan sekaligus langkah strategis bagi kepentingan nasional.
Salah satu cara untuk mempererat hubungan satu negara dengan negara lainnya dalah
dengan melakukan perdagangan internasional. Perdagangan internasional merupakan salah
satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Dengan perdagangan
internasional, perekonomian akan saling terjalin dan tercipta suatu hubungan ekonomi yang
saling mempengaruhi suatu negara dengan negara lain serta lalu lintas barang dan jasa akan
membentuk perdagangan antar bangsa. Perdagangan internasional pada saat ini secara tidak
langsung mendorong terjadinya globalisasi, hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya
sistem inovasi teknologi informasi, perdagangan, reformasi politik, transnasionalisasi sistem
keuangan, dan investasi. Dan ini bisa menjadi modal yang penting bagi suatu negara untuk
menarik investor masuk ke dalam negerinya untuk menanam investasi di negarnya. Apalagi
didukung dengan situasi politik yang kondusif dan lingkungan bisnis yang kompetitif di
dalam negara tersebut, maka bukan tidak mungkin perkembangan ekonomi negara tersebut
akan tumbuh semakin cepat.
Seperti halnya hubungan antara Indonesia dan China, hubungan ini sangat lekat
dengan adanya perdagangan internasional, dan salah satu perdagangan diantara kedua negara
ini yang masih baru dan juga masih berjalan sampai saat ini adalah adanya perdagangan bebas
CAFTA (China Asean Free Trade Area).
Sejak CAFTA diterapkan, jumlah perusahaan China yang menanamkan investasi di
Indonesia juga bertambah. Hingga akhir 2010 terdapat lebih dari seribu perusahaan China
yang tercatat di Indonesia, dengan investasi langsung mencapai 2,9 miliar dollar AS atau naik
31,7 persen dari tahun sebelumnya3[3]. Dan juga produk-produk China yang masuk ke China
juga menjadi sangat banyak dan bahkan membanjiri pasar lokal Indonesia. Dengan harganya
yang relatif murah dan juga dari segi kualitas juga tidak kalah berbeda dengan barang-barang
bermerek lainnya, membuat produk China diserbu oleh konsumen Indonesia yang rata-rata
dalam memilih suatu produk dilihat dari harganya yang terjangkau terlebih dahulu.
Berbagai produk nasional yang terancam akan membanjirnya produk China antara lain dalam
bidang : tekstil dan produk tekstil, alas kaki, elektronika, ban, furnitur, industri permesinan,
mainan anak-anak, serta otomotif4[4]. Dan akan masih banyak lagi produk-produk dari China
yang akan membanjiri pasar Indonesia juga pemerintah tidak segera mengantisipasinya,
dikarenakan Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial yang berada di kawasan Asia







12

Tenggara, masyarakat Indonesia sudah terbiasa menjadi masyarakat yang konsumtif, yang
hanya memikirkan untuk memilih barang semurah mungkin untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka.
Sedangkan bagi Indonesia sendiri, Indonesia hanya bisa mengirim bahan-bahan
mentah seperti hasil bumi untuk dijadikan komuditas ekspor ke China dalam rangka CAFTA
ini. Dimana harganya pun masih relatif murah sehingga pendapatan untuk negara juga tidak
terlaru besar. Untuk ekspor ke China sendiri yang paling dominan adalah ekspor biji kakao.
Indonesia memang dikenal sebagai penghasil biji kakao yang baik dan juga berkualitas tinggi,
tidak heran kalau sector inilah yang menjadi andalan Indonesia untuk ekspor ke China. Akan
tetapi ekspor ini bukan tanpa halangan, karena banyak negara yang menjadi pesaing dalam
ekspor produk ini, seperti misalnya Italia dan juga Malaysia. Indonesia sendiri kini berada
dalam urutan kelima dalam pemasok biji kakao ke negara China dengan nilai USD 25,12 juta
(9,63 %) pada tahun 20095[5].
Dengan banyaknya saingan yang ada maka, ini perlu dijadikan perhatian yang serius
bagi pemerintah Indonesia yang dimana Indonesia sebagai negara berkembang harus bisa
untuk mengolah atau memilih ekspor dengan pendapatan yang cukup besar, jangan hanya bisa
mengekspor barang mentah saja, atau hasil bumi saja, paling tidak Indonesia harus sudah bisa
mengekspor barang setengah jadi bahkan barang yang sudah jadi, sehingga pendapatan untuk
negara juga semakin bertambah besar. Karena selama ini, ekspor Indonesia didominasi
produk mentah dan bahan baku seperti biji kakao, kemudian minyak sawit mentah (crude
palm oil/CPO) dan minyak mentah. Sementara itu, impor dari China sudah berbentuk barang
setengah jadi dan barang yang sudah jadi terutama dalam bidang tekhnologi. Ketua Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya, A Prasetyantoko
menambahkan, ada beberapa penyelamatan jangka pendek terkait pemberlakuan CAFTA itu,
yakni perlindungan produk dalam negeri (safeguard), program antidumping maupun
kewajiban mencantumkan produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut dia,
CAFTA dalam jangka menengah memberi kesempatan untuk memacu daya saing
perekonomian domestik. Dalam jangka menengah, perlu memanfaatkan peluang dengan
mengidentifikasi sektor yang komplemen terhadap produk China, mendorong peluang non
perdagangan seperti investasi langsung untuk kapasitas produksi dan memperbaiki
logistik6[6].
Pemerintah tampaknya tidak perlu renegosiasi perjanjian perdagangan ASEAN-China,
karena lebih menyulitkan dan membutuhkan proses lama. Karena proses negosisasi ini sendiri
bukan hanya Indonesia saja yang terlibat, akan tetapi Negara-negara ASEAN juga harus ikut
terlibat, karena perdagan bebas ini melingkupi keseluruhan negara-negara Asia Tenggara.
Menurut Anggito Abimanyu seorang pengamat ekonomi Perjanjian CAFTA yang disepakati
menteri perdagangan ASEAN-China, ada tiga. Pertama, CAFTA tetap dilanjutkan dan tidak
ada rencana notifikasi karena kerugian akibat kecurangan perdagangan (unfair trade). Kedua,
bila suatu negara mengalami defisit, negara surplus harus mendorong impor. Ketiga,





13

pembentukan tim pengkajian terhadap perdagangan bilateral7[7]. Bila memang ada kerugian
akibat perdagangan bebas, maka membutuhkan biaya mahal dan proses panjang untuk
membuktikan hal tersebut. Selain itu, kesepakatan bukan hanya dengan China tapi juga
dengan negara ASEAN.








BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bisnis internasional adalah bisnis yang melibatkan penyeberangan batas-batas
Negara.Kekuatan yang mendasari bisnis internasional berorientasi pada manajemen oriented.
Orientasi adalah asumsi atau keyakinan, yang seringkali tidak disadari, mengenai sifat dunia
ini.
Dalam hal ini ada tiga orientasi yang menjadi pedoman dalam bisnis internasional
yaitu etnosentris, polisentris, geosentris yang kemudian diperluas menjadi regiosentris.
Perdagangan internasional berhubungan dengan berbagai kegiatan, seperti: Perpindahan
barang dan jasa dari satu negara ke nagara lain atau disebut dengan istilah transfer of goods
and services.Perpindahan modal melalui penanaman modal asing dari luar negeri ke dalam
negeri (transfer of capital).Perpindahan tenaga kerja yang mempengaruhi pendapatan devisa
suatu negara. Dalam proses ini pelu adanya pengawasan mekanisme yang sering disebut
transfer of labour.Perpindahan teknologi melalui cara pendirian pabrik-pabrik di negara lain.
Kegiatan ini disebut transfer of technology.Perdagangan internasional yang dilakukan dengan
penyampaian informasi tentang kepastian adanya bahan baku dan pangsa pasar atau yang
disebut dengan transfer of data
Lingkungan Domestik, termasuk sosio ekonomi, sosio cultural, politik, hokum,
pemerintahan, persaingan ,fisik, tenaga kerja, keuangan, teknologi. Lingkungan Luar Negeri,
termasuk sosio ekonomik, sosio cultural, politik, tenaga kerja, keuangan, teknologi dan
lingkungan ekonomi.