TUGAS MATA KULIAH

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN


PENCEMARAN UDARA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI KOTA DENPASAR,
BALI





Dosen : Ipung Fitri Purwanti


Anggota Kelompok :
Clara Puspita 3313201006
Maria Carolina Lopulalan 3313201014
Afry Rakhmadany 3313201016
Yonnet Hellian Kresna 3313201018






Program Magister Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
2013
PENCEMARAN UDARA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI KOTA DENPASAR, BALI

1. Pendahuluan
Udara merupakan salah satu komponen lingkungan penting yang paling mendasar untuk
mendukung kehidupan makhluk hidup termasuk manusia. Kondisi kualitas udara akhir-akhir ini
semakin mengalami penurunan. Isu lingkungan tersebut telah melanda banyak kota di dunia
terutama kota-kota besar. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai aktivitas seperti
transportasi, industri, perkantoran serta perumahan. Aktivitas-aktivitas tersebut memberikan
kontribusi yang sangat besar terdadap pencemaran udara di suatu wilayah. Selain aktivitas
manusia seperti yang telah disebutkan tadi, akivitas alam juga berkontribusi dalam pencemaran
udara, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun dan lain-lain. Pencemaran
udara tersebut menyebabkan penurunan kualitas udara yang berdampak negatif pada kesehatan
manusia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kasus pencemaran udara merupakan
suatu isu lingkungan yang banyak melanda kota besar. Salah satu contoh kota besar yang
mengalami pencemaran udara adalah Kota Denpasar.
Denpasar merupakan ibu kota Pulau Bali yang selalu ramai dikunjungi oleh para
wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Denpasar memiliki pemandangan alam yang
sangat indah yang dapat menarik banyak wisatawan dari berbagai negara untuk berwisata ke
tempat ini. Selain menyajikan pemandangan alam yang sangat indah, Denpasar juga memiliki
daya tarik wisata lain yaitu kebudayaan yang sangat unik dank khas. Potensi/daya tarik wisata
yang terdapat di kota tersebut menjadikan Denpasar sangat rentan terhadap isu-isu lingkungan
seperti sanitasi lingkungan, pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan yang
mengganggu keindahan serta kelestarian alam lingkungan Kota Denpasar (Sugiarta, 2008).
Berdasarkan laporan SLH Kota Denpasar tahun 2008 menunjukkan bahwa Kota
Denpasar telah mengalami penurunan kualitas udara. Hal ini antara lain disebabkan oleh
kegiatan transportasi dan industri seperti industri pembangkit listrik, kimia, bahan bangunan
umum, serta kerajinan dan logam. Namun pencemaran udara yang ditimbulkan dari sumber
industri ini tidaklah signifikan. Penyebab utama pencemaran udara di Kota Denpasar adalah
kegiatan transportasi. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan volume kendaraan yang naik secara
signifikan dalam kurun waktu enam tahun terakhir dengan peningkatan sebesar 7% untuk tiap
tahunnya.
Hal tersebut sudah menjadi risiko bagi kota-kota wisata seperti Denpasar. Namun hal ini
tidak dapat dibiarkan begitu saja, diperlukan suatu strategi atau regulasi mengenai upaya-upaya
pencegahan, pengendalian serta penanggulangan pencemaran udara di Kota Denpasar. Upaya-
upaya tersebut perlu dilakukan karena udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam
kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya agar dapat memberikan daya dukungan
bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai
kondisi kualitas udara, dampak pencemarannya dan respon masyarakat serta program
pengendalian udara di Kota Denpasar.

2. Pencemaran udara di denpasar
2.1. Kondisi kualitas udara di denpasar
Udara terdiri dari campuran bermacam-macam gas yang perbandingannya adalah tetap,
tergantung pada suhu, tekanan udara dan lingkungan sekitarnya. Lapisan udara terdapatnya
unsur-unsur gas (CO
2
, O
2
, O
3
dll) yang menyelimuti bumi biasa disebut atmosfir. Dimana lapisan
atmosfir terdiri dari :
 Nitrogen (78.08 %)
 Oksigen (20.95%)
 Argon (0.93%)
 Carbon Dioksida (0.031%) dan
 Unsur-unsur lainnya yang komposisinya sangat kecil

Di lapisan atmosfir ini zat-zat pencemar yang dihasilkan dari berbagai macam aktivitas
manusia disimpan dan diencerkan atau mungkin disebarkan ke wilayah lain. Oleh karena itu
pengelolaan terhadap perisai udara (atmosfir) ini sangat penting dilakukan.
Ditinjau dari sumbernya, pencemaran udara yang terjadi di Kota Denpasar sebagian besar
bersumber dari sarana transportasi darat, antara lain:
a) Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dari hari ke hari tidak seimbang dengan
pertambahan panjang jalan dan perbaikan kondisi jalan, sehingga jumlah dan kepadatan
total kendaraan bermotor di jalan suatu areal tertentu (di Kawasan Kuta).
b) Meningkatnya laju emisi pencemar dari setiap kendaraan bermotor untuk setiap kilometer
jalan yang ditempuh karena macetnya jalan.
c) Tingginya biaya pemeliharaan/perawatan kendaraan bermotor sehingga kendaraan tidak
dirawat secara teratur.
d) Pembakaran bahan bakar minyak yang tidak sempurna karena mesin-mesin kendaraan
bermotor sudah tua.
e) Kurangnya jalur hijau dengan tanaman yang dapat mengabsorpsi bahan pencemar.
f) Terbatasnya dana untuk melakukan upaya pengawasan, pemantauan, pengujian kualitas
udara dan sosialisasi kepada masyarakat.
g) Pengaturan parkir kendaraan yang kurang optimal.
h) Jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat dimana tahun
2003 jumlah kendaraan bermotor di Kota Denpasar berjumlah 345.332 unit terus
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sampai tahun 2007 sebesar 481.086 unit
dengan kenaikan rata-ata 7% tiap tahunnya (Gambar 1).


Gambar 1. Peningkatan Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Denpasar tahun 2003-2008
(Sumber: SLH Kota Denpasar, 2008)

Selain dari sektor transportasi pencemaran udara juga dapat dihasilkan dari industri yang
antara lain adalah industri pembangkit listrik, kimia, bahan bangunan umum, serta kerajinan dan
logam. Kota Denpasar dengan luas wilayah 127.78 km
2
tidak memiliki sumber bahan baku yang
potensial untuk pembangunan industri besar, sehingga sumber pencemaran udara yang
diakibatkan dari sektor industri tidak signifikan bila dibandingkan dengan sektor transportasi.
Hasil pengukuran kualitas udara di empat lokasi di Kota Denpasar dengan berbagai parameter
yaitu NO
2
, SO
2
,CO dan Hidrokarbon ditunjukkan pada Gambar 2, Gambar 3, Gambar 4 dan
Gambar 5.


Gambar 2. Konsentrasi Gas NO
2
di Kota Denpasar Tahun 2008
(Sumber: SLH Kota Denpasar, 2008)


Gambar 3. Konsentrasi Gas SO
2
di Kota Denpasar Tahun 2008
(Sumber: SLH Kota Denpasar, 2008)


Gambar 4. Konsentrasi Gas CO di Kota Denpasar Tahun 2008
(Sumber: SLH Kota Denpasar, 2008)


Gambar 5. Konsentrasi Gas HC di Kota Denpasar Tahun 2008
(Sumber: SLH Kota Denpasar, 2008)

Dari data datas terlihat bahwa unsur pencemar udara yang berupa gas Nitrogen Dioksida
(NO
2
), Sulfur Dioksida (SO
2
), Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC) masih dibawah
baku mutu lingkungan yang diperbolehkan (Lampiran XVII Peraturan Gubernur Bali No 8
Tahun 2007 tentang Baku Mutu Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor) untuk keempat
lokasi pengukuran (Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar Tahun 2008).
Dari literatur lain (Polusi Udara Akibat Aktivitas Kendaraan Bermotor di Jalan Perkotaan
Jawa dan Bali), diperoleh data tentang tingkat pencemaran di ruas jalan kota-kota besar di
Indonesia salah satunya Denpasar (Tabel 1).




Tabel 1. Interval Tigkat Pencemaran Udara di Ruas Jalan Kota-Kota Besar

Sumber: Kusminingrum dan Gunawan, 2008.



Gambar 6. Tingkat Polusi Udara Ambien Rata-Rata di Beberapa Kota Besar
(Sumber: Kusminingrum dan Gunawan, 2008)


Tabel 2. Standar Baku Mutu Udara Ambien

Sumber: Peraturan Pemerintah RI No.41 Tahun 1999
tentang standar kualitas udara ambien.

Dengan membandingkan pada Peraturan Pemerintah RI No 41 tahun 1999 tentang
standar kualitas udara ambien, untuk parameter pencemaran udara HC (methan dan nonmethan),
NO
x
dan CO konsentrasi tertinggi terjadi di kota Denpasar yaitu berturut-turut 8,30 ppm (HC);
0,189 ppm (NO
x
); 11,53 ppm (CO) dan melewati standar kualitas udara ambien.
Dari penelitian yang dilakukan fluktuasi ozon terlihat mengalami peningkatan ozon
dimulai pada pagi hari jam 06.00 sampai dengan jam 07.00 dan puncaknya terjadi pada siang
hari dan menurun sampai dengan sore hari, serta kemudian relatif konstan pada malam hari.
Fenomena ini dapat dijelaskan bahwa pada pagi hari bersamaan dengan radiasi matahari mulai
terjadi, yang diakibatkan oleh reaksi-reaksi zat primer diantara NOx, HC, udara, dan energi
matahari. Konsentrasi ozon tertinggi relatif terjadi pada siang hari berkisar jam 12.00 dimana
energi matahari yang dipancarkan memiliki intensitas yang paling besar.
Fluktuasi SOx dan CO terjadi mulai jam 07.00 sampai jam 22.00, keadaan ini
dimungkinkan karena emisi SOx dan CO di ruas jalan perkotaan terjadi akibat faktor emisi dari
kendaraan. Faktor lain yang mempengaruhi fluktuasi tingkat pencemaran CO dan SOx adalah
faktor meteorologi yaitu kestabilan udara dipermukaan bumi.
Adapun untuk fluktuasi Hidrokarbon karakteristiknya relatif konstan pada setiap saat, hal
ini dapat dijelaskan bahwa kondisi konsentrasi HC di udara relatif tidak berfluktuasi
dimungkinkan karena kestabilan unsur HC di udara.
Sementara itu fluktuasi dari SPM
10
terlihat bahwa tingkat pencemaran udara SPM10
cukup tinggi terjadi pada selang waktu pagi dan sore hari hingga malam hari, hal ini salah
satunya disebabkan pencemaran partikel (SPM
10
) memiliki berat jenis yang cukup besar
dibanding dengan pencemar gas lain. Sementara itu pada pagi hari dan sore hari hingga malam
hari kecepatan angin relatif besar sehingga mampu untuk membawa partikel melayang di udara.
(Kusminingrum dan Gunawan, 2008).
Selain itu pada Tahun 2006, Sugiarta melakukan penelitian terhadap kualitas pada 4
lokasi di kota denpasar. Empat lokasi tersebut antara lain :
 SMAN 2 Denpasar (Jalan Sudirman Denpasar)
 Di depan Kantor Camat Denpasar Barat (Jalan Gunung Agung)
 Di depan Kantor Walikota Denpasar ( Jalan Gadjah Mada)
 Di Depan GOR Ngurah Rai Denpasar (Jalan Melati-Jalan Mawar)
Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kebisingan, debu, timbal (Pb), Carbon
Monokisda(CO) , Sulfur Dioksida (SO
2
) , Nitrogen Dioksida (NO
2
) dan Ozon (O
3
) dan hasilnya
ditunjukkan pada Tabel 3 dan Tabel 4 dibawah ini.

Tabel 3. Hasil Analisis Parameter Fisika

Tabel 4. Hasil Analisis Parameter Kimia

Semua parameter diatas dibandingkan dengan Keputusan Gubernur Bali No 515 Tahun
2000 tentang Standar Baku mutu Lingkungan pada Lamiran VII : Baku Mutu Udara Ambien.
Dan dari semua parameter hanya debu yang melampaui baku mutu yang dipergunakan untuk
semua tempat atau lokasi pengambilan sampel kualitas udara (Sugiarta,2006).

2.2. Dampak pencemaran terhadap kesehatan
Dampak pencemaran dapat diklasifikasikan sesuai dengan parameter pencemar yang ada
diantaranya :

1. SOx
SO
2
bersifat tidak berwarna, korosi dan memiliki bau yang tajam pada konsentrasi tinggi.
Unsur Sulfur dapat ditemukan dalam hasil pembakaran batu bara. Apabila terpapar gas SO
2
menyebabkan
gejala penyakit jantung, pandangan kabur, dan gangguan pernafasan. Secara fisik, gas ini dapat merusak
bangunan akibat korosi. Hasil pembakaran kendaraan bermotor, industri pembuatan kertas dan peleburan
logam merupakan kontributor emisi SO
2
. Selain menyebabkan hujan asam, gas SO
2
mengalami
perubahan wujud menjadi aerosol sulfat di awan dan air hujan yang menyebabkan kerusakan permanen
pada paru-paru apabila terhirup oleh hewan dan manusia. Daun tumbuhan akan mengalami perubahan
warna menjadi kuning dan memiliki bercak putih. Sumber pencemar SO
2
yaitu kendaraan bermotor,
kegiatan industri dengan bahan bakar batu bara, pembakaran sampah, dan hutan (Sugiarta, 2008; Ruth,
2009).

2. NOx (Nitrogen Oksida)
Nitrogen oksida mempunyai dua sifat yang berbeda yaitu NO dan NO
2
. Gas NO tidak berwarna
dan berbau, sedangkan gas No
2
berwarna merah kecoklatan dan berbau tajam. Gaa NO
2
empat kali lebih
beracun dibanding dengan gas NO. Gas nitrogen

berada diudara akibat sisa hasil pembakaran bahan bakar
yang bergabung dengan oksigen membentuk NO
2
. Gas NO
2
terakumulasi selama tiga hari yang
dipengaruhi oleh sinar matahari, aktivitas penduduk dan pergerakan kendaraan. Gas ini bereaksi dengan
zat-zat hidrokarbon, sinar matahari dan uap bensin membentuk kabut yang berwarna coklat kemerahan.
Selain itu apabila bercampur dengan awan jenuh pembawa air hujan akan menyebabkan hujan asam
dengan pH kurang dari 5,6. Apabila terpapar gas nitrogen dapat menimbulkan iritasi pada paru-paru, mata
dan hidung. Nitrogen dioksida selain dihasilkan dari asap kendaraan bermotor juga dari pembakaran batu
bara dan pembangkit energi listrik (SLH Kota Denpasar, 2008; Sugiarta, 2008; Widyatmoko, 2013).

3. CO (Karbon Monoksida)
Gas CO merupakan gas hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar solar dan bensin
yang bersifat tidak berwarna, tidak berbau serta mampu mengikat oksigen. Apabila gas ini dihirup dalam
jumlah yang tinggi menyebabkan rasa pusing, pingsan bahkan kematian ketika terpapar secara terus-
menerus. Ketika ibu hamil terpapat gas ini maka berat janin mengecil, merusak otak dan kematian pada
janin. Selain kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembakaran sampah padat dan hutan memberikan
pasokan gas CO yang tinggi (Sugiarta, 2008; Kusminingrum dan Gunawan, 2008; Widyatmoko, 2013).

4. Pb
Timbal (Pb) merupakan anggota dari golongan VI A yang dikategorikan dalam senyawa logam
berat dan sangat beracun. Timbal terdapat dilingkungan akibat hasil pembakaran kendaraan bermotor
berbahan bakar bensin (Sugiarta, 2008; Widyatmoko, 2013). Bensin diberi tambahan timbal untuk
meningkatkan bilangan oktan sehingga efisiensi pembakaran juga ikut meningkat. Timbal ditemukan
dilingkungan dalam bentuk partikulat dan merupakan salah satu sumber pencemar udara. Sehingga,
kawasan yang padat lalu lintas memiliki kadar timbal yang tinggi (Kusminingrum dan Gunawan, 2008).
Timbal dapat dihirup oleh manusia dan mengendap ditubuh dalam jangka waktu panjang. Timbal secara
kumulatif dalam jangka waktu 10 tahun dapat menimbulkan berbagai gangguan kronis mulai dari organ
ginjal, hati, jantung dan sistem saraf (Sari, 2010). Peningkatan Pb dalam darah menyebabkan rasa mual
dan muntah serta pusing berkepanjangan. Selain itu, ibu hamil yang menghirup timbal berlebihan
menyebabkan keguguran. Apabila bayi bisa dilahirkan maka pertumbuhan fisik dan mentalnya terganggu
karena timbal mempengaruhi kecerdasan otak. serta jumlah kematian meningkat pada pekerja pembuatan
timbal. Kematian pekerja ini dikarenakan sakit ginjal akibat paparan timbal secara menyeluruh (Kawatu,
2008).

5. Debu
Debu merupakan partikel yang melayang di udara yang terdiri dari bahan organik dan
anorganik serta dapat masuk melalui sistem pernafasan. Debu di udara disebabkam adanya pencemar
partikulat dari kendaraan bermotor. Partikulat ini bersumber dari gas sulfur dan Nitrogen yang berubah
wujud menjadi partikulat padat. Debu dapat masuk dikarenakan ukuran partikel yang sangat kecil antara
1 - 10 µm, terakumulasi pada saluran pernafasan atas sehingga menyebabkan ISPA (Infeksi Saluran
Pernafasan Atas) (Sugiarta, 2008; Suma’mur, 2009; Widyatmoko, 2013). Selain itu, data kematian
bertambah 0,6% untuk pertambahan 10 g/m
3
konsentrasinya (Jung, 2012). Particulate Matter10 (PM
10
)
merupakan partikulat dengan diameter kurang dari 10 µm dan terdiri dari alumino silikat dan oksida lain
dari unsur kerak dengan sumber utama termasuk debu yang berasal dari jalan, industri, pertanian,
konstruksi, pembongkaran gedung, dan debu terbang dari pembakaran bahan bakar fosil(Mashuda, 2011).

2.3. Respon masyarakat
Salah satu respon masyarakat yang bisa dilakukan untuk ikut berpartisipasi dalam menurunkan
pencemaran diantaranya menyampaikan keluhan apabila kondisi udara di wilayahnya mengalami
pencemaran baik asap, debu dan gas tertentu. Upaya penyampaian keluhan ini dapat dilakukan dengan
melapor ke Dinas Ketenteraman, Ketertiban dan Satuan Polisi Pamong Praja (Dinas Trantib dan Satpol
PP) wilayah setempat. Respon masyarakat yang nyata yaitu pelaporan keluhan warga yang sudah
terserang ISPA kepada Dinas Tantrib dan Satpol PP kota Denpasar dan ditindaklanjuti langsung oleh
pemerintah daerah (SLH Kota Denpasar, 2008).

3. Program pengendalian pencemaran udara
Pemerintah Kota Denpasar telah melakukan beberapa program melalui lembaga/dinas
terkait, swasta maupun masayarakat. Beberapa programnya adalah:
1. Telah dicanangkan penggunaan bensin tanpa timbal di Bali (khususnya Kota Denpasar)
sejak Bulan Juli 2003.
2. Beberapa gerakan penghijauan (oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat ), seperti :
gerakan sejuta pohon, gerakan bakti penghijauan pemuda, lomba perindangan dan
kebersihan sekolah, lomba taman kantor dan rumah tinggal.
3. Pelaksanaan uji kir bagi kendaraan umum secara berkala oleh Dinas Perhubungan.
4. Lomba uji emisi kendaraan dinas/operasional di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar
pada tahun 2004.
5. Penataan tata ruang wilayah dan mempertahankan kawasan Ruang Terbuka Hijau Kota
(RTHK) atau taman kota.
6. Gerakan Jumat bebas mobil bagi pegawai pemerintah Kota Denpasar.
7. Membangun Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu (IPST) melalui empat
kabupaten/kota yaitu Denpasar, Gianyar, Badung dan Tabanan.
8. Pelaksanaan pemantauan kualitas udara ambien melalui Air Quality Mangement System
(AQMS atau ISPU) secara kontinyu dan sifatnya permanen.

Gambar 6. AQMS (Air Quality Managemet System)


Gambar 7. Uji Emisi oleh BLH Kota Denpasar
Pemkot melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Denpasar melaksanakan uji emisi
gas buang kendaraan wilayah Denpasar Timur. Uji emisi pada Kamis (19/4), pemkot berhasil
melampaui target, dengan 251 mobil yang lolos uji. Program ini akan dilakukan rutin setiap
minggunya di empat kecamatan di Denpasar, yaitu Kecamatan Dentim, Denut, Densel dan
Denbar. Dalam pemeriksaan emisi gas buang yang telah dilakukan, dari 274 total mobil yang
diperiksa, setidaknya 251 mobil diantaranya lolos uji, sedangkan untuk sepeda motor, dari 54
unit yang diuji, sebanyak 46 kendaraan lolos uji.
Untuk menjaga kualitas udara yang dicanangkan dalam program langit biru dan
mengurangi kebisingan, maka perlu dilakukan upaya – upaya pengelolaan dan pemantauan serta
penetapan kebijakan yang mendukung program tersebut, diantaranya adalah :
1. Perlu dilakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Denpasar untuk membatasi
umur kendaraan yang beroperasi di jalan sehingga dapat mengurangi emisi gas buang.
2. Melibatkan pihak swasta, sekolah – sekolah menengah atas dan perguruan tinggi negeri
dan swasta untuk ikut melaksanakan hari tanpa mobil.
3. Penyusunan inventarisasi emisi.
4. Restrukturisasi dan reformasi angkutan umum.
5. Perbaikan sarana transportasi tidak bermotor.
6. Penguatan pengujian kendaraan bermotor.
7. Penyediaan informasi publik mengenai pemantauan kualitas udara.
8. Perbaikan alat Air Quality Management System (AQMS atau ISPU) yang rusak dengan
berkordinasi dengan Kementrian Lingkungan Hidup.

4. Kesimpulan
Kondisi udara di Kota Denpasar telah mengalami penurunan kualitas, antara lain
tercemar oleh hidrokarbon, NO
x
dan CO. Pencemaran udara yang terjadi disebabkan oleh
kegiatan transportasi, hal ini berhubungan dengan potensi kota Denpasar sebagai obyek wisata
yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Dalam menganggapi isu pencemaran udara ini,
Pemerintah Kota Denpasar membuat beberapa program sebagai upaya untuk mengendalikan
pencemaran udara yang terjadi di Kota Denpasar. Program yang telah dijalankan antara lain
pengendalian emisi dari kendaraan bermotor, penghijauan serta penataan dan mempertahankan
RTH di Kota Denpasar. Program-program pemerintah tersebut tentu saja perlu dukungan serta
partisipasi aktif dari masyarakat, sehingga tujuan untuk memperbaiki kualitas udara di Kota
Denpasar dapat tercapai.


Daftar Pustaka

Jung, Mi Hyun., Kim Ha Ryung dan Park Yong joo. 2012. Genotoxic effects and oxidative stress
induced by organic extracts of particulate matter (PM10) collected from a subway tunnel in
Seoul, Korea. Mutation Research 749 (2012) 39 – 47
Kawatu PAT. 2008. Kadar Timbal Darah, Hipertensi dan Perasaan Kelelahan Kerja Pada Petugas
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Kota Manado.Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Kusminingrum, Nanny., G. Gunawan. 2008. Polusi Udara Akibat Aktivitas Kendaraan Bermotor di Jalan
Perkotaan Pulau Jawa dan Bali. Pusat Litbang Jalan dan Jembatan: Bandung.
Mashuda.2011.Simulasi Pola Penyebaran Particulate Matter 10 (PM10) di area Industri PT. Semen
Gresik Di Tuban. FMPA: ITS.
Ruth, safira. 2009. Gambaran Kejadian Sick Buliding Syndrome (SBS) dan Faktor – Faktor yang
Berhubungan pada Karyawan PT. Elnusa Tbk di Kantor PUsat Graha Elnusa Tahun 2009.
Universitas Indonesia.
Sari, Dellyani Hanggar. 2010. Pengaruh Timbal (Pb) Pada Udara Jalan Tol Terhadap Gambaran
Mikroskopis Ginjal dan Kadar Timbal (Pb) Dalam Darah Mencit BALB/C Jantan. Semarang.
Universitas Diponegoro.
SLH. 2008. Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar. Pemerintah Kota Denpasar, Provinsi Bali.
Sugiarta, Anak Agung Gede. 2008. Dampak Kebisingan dan Kualitas Udara Pada Lingkungan Kota
Denpasar. Jurnal Bumi Lestari Vol.8 No.2 Agustus 2008. Hlm 162-167.
Suma’mur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes), Sagung Seto, Jakarta,
Indonesia.
Widyatmoko, Hilarion. 2013. Emissions of NOx and Particles PM
10
from Highway. Proceeding ISEE
2013 ISBN 978-602-95595-6-9