LAPORAN PRAKTIKUM

TAKSONOMI HEWAN VERTEBRATA
MORFOLOGI DAN KUNCI DETERMINASI AVES

OLEH :


NAMA : FAUZIAH
NO BP : 1010421012
KELOMPOK : I (SATU)
ANGGOTA : 1. LEO DARMI (1010423010)
2. INTAN PRAMITA (1010423014)
3. SHYNTIA HARSARI (1010423036)
4. EMIL SAPUTRA YARTA (1010423044)

ASISTEN PENDAMPING : NADIA BUDIANA
INDA DWI SOLINA













LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2012
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman jenis hayati di Indonesia yang terhimpun dalam ekosistem hutan tropika mulai
dari ekosistem pantai hingga ekosistem pegunungan, jumlahnya mencapai 47 tipe ekosistem.
Dengan berbagai keanekaragaman hayati yang berbeda dan latar belakang demikian, dunia
menetapkan Indonesia sebagai Negara Megabiodiversiti (Heriyanto dkk, 2008). Berdasarkan
keragaman ekosistem dan jenis satwa endemik, Indonesia memiliki 515 jenis mamalia besar
(39% endemik), 511 jenis reptil (29% endemik),1531 jenis aves (26% endemik), 270 jenis
ampibi (37% endemik), 35 jenis primate (18% endemik), dan 121 jenis kupu- kupu (44%
endemik) (BAPPENAS, 2003).
Sumatera merupakan pulau dengan tingkat keendemikan aves paling rendah di antara
pulau-pulau di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan sejarah geologis pemisahannya dari dataran
Asia. MacKinnon et. al (1998) menyatakan bahwa Sumatera memiliki 306 jenis aves (77%) yang
juga terdapat di Kalimantan, 345 jenis (87%) yang juga terdapat di Semenanjung Malaya dan
211 jenis (53%) yang terdapat di Jawa. Sebanyak 583 jenis tercatat mendiami Pulau Sumatera,
dengan 438 jenis (75%) merupakan jenis yang berbiak di Sumatera (Andrew, 1992). Jumlah ini
meningkat menjadi 626 dan 450 jika digabungkan dengan jenis-jenis lain yang mendiami pulau-
pulau kecil di sepanjang pantai Sumatera. Dua belas jenis dari jenis aves di atas merupakan jenis
aves yang endemik di dataran Sumatera (Marle & Voous, 1988).
Tercatat sekitar 300 jenis aves dari 53 suku ditemukan di agroforest Sumatera selama 9
tahun terakhir (2002-2011). Jumlah tersebut mencakup 167 jenis ditemukan pada agroforest
karet di Bungo, Jambi (Josi dkk., 2002 cit. Ayat, 2011), 103 jenis ditemukan pada agroforest
kopi di Sumberjaya, Lampung (O’Connor dkk., 2005 cit. Ayat, 2011), 146 jenis di kawasan
Sibulanbulan, Batang Toru, Sumatera Utara (Jihad, 2009 cit. Ayat, 2011) serta 142 jenis di
kawasan agroforest Simalungun, Sumatera Utara dan sekitarnya (Ayat, 2011). Bila dibandingkan
dengan kekayaan jenis aves di Pulau Sumatera dan Indonesia, kawasan agroforest di Sumatera
memiliki 49,8% dari jenis aves Sumatera dan 18,8% dari jenis aves di Indonesia.
Kehidupan burung sangat mudah terpengaruh keberadaannya oleh alih guna lahan yang
sangat banyak terjadi akhir- akhir ini. Banyak hutan ditebang terutama untuk lahan- lahan
monokultur seperti perkebunan kelapa sawit dan karet. Hilangnya pohon hutan dan tumbuhan
semak, menyebabkan hilangnya tempat bersarang, berlindung dan mencari makan berbagai jenis
burung. Padahal, burung memiliki peran penting dalam ekosistem antara lain sebagai penyerbuk,
pemencar biji, dan pengendali hama. Burung juga seringkali digemari oleh sebagian orang dari
suara dan keindahan bulunya (Ayat, 2011).
Secara teori, keanekaragaman jenis burung dapat mencerminkan tingginya
keanekaragaman hayati hidupan liar lainnya, artinya burung dapat dijadikan sebagai indikator
kualitas hutan. Berbagai jenis burung dapat kita jumpai di berbagai tipe habitat, diantaranya
hutan (primer/sekunder), agroforest, perkebunan (sawit/karet/kopi) dan tempat terbuka
(pekarangan, sawah, lahan terlantar) (Ayat, 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari morfologi dan identifikasi dari
kelas aves, serta mengetahui klasifikasi dan pembuatan kunci determinasi dari masing-masing
spesiesnya.
1.3 Tinjauan Pustaka
Aves berkembang dari reptilia, dan seperti reptilia, aves memiliki telur dengan kulit keras
(Burnie, 2005). Nenek moyang aves adalah Archeopteriyx yang merupakan kombinasi sifat
reptilia dan aves dan merupakan mata rantai perkembangan evolusi reptil dan aves yang
tergambar melalui temuan fosil zaman Jurasic di daerah bavaria. Beberapa ahli menilai
Archeopteryx adalah aves purba dan ada pula yang berpendapat sebagai Dinosaurus berbulu,
sebagai thermoinsulator yang diperlukan pada waktu terbang (Hickman, 2008).
Aves adalah vertebrata yang hampir seluruhnya ditutupi bulu dan kakinya bersisik yang
merupakan ciri mirip reptilia (Burnie, 2005). Bulu ini berguna untuk menghangatkan tubuh.
Suhu badan aves tetap, umumnya lebih tinggi dari pada mamalia yaitu diatas 40
0
C, sehingga
memungkinkan aves tetap aktif bahkan di lingkungan yang dingin (Astuti, 2007). Paruh aves
terbuat dari keratin (Abdurrahman, 2008). Suara dihasilkan oleh syrinx yang terdapat pada dasar
trachea, sebab aves tidak memiliki pita suara. Aves tidak memiliki gigi untuk mengunyah
makanannya, tetapi memiliki tembolok (Abdurrahman, 2008). Tungkai muka pada aves
bermodifikasi menjadi sayap, sehingga aves dapat terbang. Bagian “lengan” bermodifikasi
menjadi panjang, jari tengah memanjang untuk menyokong bulu terbang. Sebuah jari anterior
terpisah untuk menyokong bulu alula yaitu bulu kecil yang merupakan bulu penting untuk
gerakan aerodinamika. Jari posterior yang tereduksi menyokong jari tengah. Tungkai belakang
pada aves dimodifikasi untuk berjalan dengan dua kaki di tanah, atau untuk berenang pada aves
yang berenang (hidup di air), atau kedua-duanya. Umumnya mempunyai mempunyai cakar, satu
cakar mengarah ke belakang (hallux), dan tiga mengarah ke depan, sehingga bisa
mencengkeram. Gelang bahu dan gelang panggul terspesialisasi dengan baik menunjang berat
tubuh baik ketika berjalan,maupun terbang (Soesilawaty, 2012). Aves memiliki jantung beruang
empat, tidak mempunyai diafragma. Aves bernapas dengan paru- paru dan kantung hawa (Astuti,
2007). Sistem kantung hawa yang berkembang dengan baik sangat membantu paru-paru untuk
mengedarkan udara ke seluruh tubuh. Aves melakukan fertilisasi di dalam tubuh betinanya.
Setelah difertilisasi, aves akan bertelur dan mengerami telurnya hingga menetas (Abdurrahman,
2008). Telur besar dengan kuning telur yang banyak dan dilindungi oleh cangkang kapur,
amnion dan alantois yang terbentuk selama masa perkembangan. Pengeraman dilakukan oleh
salah satu induk atau kedua induknya di dalam sarang. Setelah menetas anak-anaknya dipelihara
oleh induknya (Soesilawaty, 2012).
Aves adalah salah satu jenis satwa yang sangat terpengaruh keberadaannya akibat alih
guna lahan hutan, terutama pada lahan- lahan monokultur seperti perkebunan kelapa sawit dan
karet. Hilangnya pohon hutan dan tumbuhan semak, menyebabkan hilangnya tempat bersarang,
berlindung dan mencari makan berbagai jenis aves. Aves memiliki peran penting dalam
ekosistem antara lain sebagai penyerbuk, pemencar biji, pengendali hama. Sebab, ada beberapa
jenis aves yang menghisap nektar, memakan biji, dan ada pula jenis aves yang memakan
serangga (Anonimous a, 2012).
Mengingat sangat bervariasinya makanan yang dikonsumsi oleh burung dalam studi ini
maka keanekaragaman habitat sebagai sumber pakan burung menjadi sangat penting. Oleh sebab
itu, maka konservasi dengan arah mempertahankan diversitas habitat yang ada sangat diperlukan.
Demikian juga ketersediaan invertebrate serta buah sangat penting di dalam kaitan dengan
kelestarian aves, karena sebagian besar burung di wilayah ini merupakan pemakan invertebrate
dan buah ( Wirasiti dkk, 2004).
Aves juga seringkali digemari oleh sebagian orang dari suara dan keindahan bulunya,
serta cara perkawinan yang menarik. Beberapa aspek pada aves seperti pola terbang,makanan
dan kegiatan kawin tidak terlalu sulit untuk diamati. Aspek lain yang menarik adalah tingkahlaku
aves, suara, siulan dan nyanyian yang indah yang sangat spesifik bagi tiap- tiap aves
(Nurtikasari, 2009).
Untuk membedakan spesies aves, ada istilah konvergensi. Konvergensi adalah kesamaan
umum, tetapi memiliki kekhususan. Pertama, struktur dan warna paruh. Kedua, perbedaan kaki.
Secara umum perbedaan kaki lebih konservatif daripada paruh karena itu lebih reliabel. Ketiga,
filogeni. Umumnya filogeni aves yang didasarkan pada sifat alur bulu-bulu, bentuk tendon otot
tungkai, protein pada albumin telur. Pembedaan melalui filogeni ini tidak dapat diandalkan untuk
identifikasi sehari-hari di museum maupun untuk identifikasi di lapangan (Soesilawaty, 2012).
Secara ekologi, Aves terbagi menjadi beberapa ordo. Burung- burung yang hidup di tanah
antara lain ordo Casuariformes, Gruiformes, dan Galliformes. Burung- burung yang hidup di air
tawar antara lain ordo Anseriformes dan Ciconiiformes. Burung- burung yang hidup di pantai
termasuk ordo Charadriiformes. Burung- burung yang hidup di laut lepas, contoh ordo
Pelecaniformes. Burung- burung yang hidup di pohon antara lain ordo Coulmbiformes,
Psitaciformes, Cuculiformes, Coraciiformes, dan Piciformes. Burung- burung yang mencari
makan di udara, contohnya antara lain ordo Apodiformes dan Caprimulgiformes. Burung-
burung penyayi termasuk ordo Passeriformes. Dan burung- burung yang berperan sebagai
pemangsa terdiri dari dua ordo, yaitu Strigiformes dan Falconiformes (Saefudin, 2012).
Streptopelia chinensis memiliki nama daerah burung tekukur berada dalam jumlah yang
melimpah di Indonesia. Spesie yang terdistribusi luas antara Asia Tenggara dan Sunda Kecil,
serta Australia ini memakan biji- biji rumput terutama padi. Lonchura punctulata terdistribusi di
wilayah India, Cina, Filipina, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan
Australia. Spesies ini memakan padi dan biji rumput, umumnya disebut bondol dada sisik.
Pycnonotus aurigaster, disebut juga burung kutilang terdistribusi di wilayah China Selatan, Asia
Tenggara, Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Spesies ini biasanya memakan buah- buahan
kecil dan beberapa jenis serangga (Wirasiti dkk, 2004). Columba livia atau lebih dikenal sebagai
burung merpati merupakan salah satu spesies dari famili Columbidae yang berasal dari Eropa,
Afrika, dan Asia Tenggara dan terdistribusi secara luas di seluruh dunia (TN1, 2008 cit.
Nurtikasari, 2009). Spesies ini merupakan pemakan biji- bijian dan bersifat monomorfik. Gallus
domesticus merupakan ayam lokal Indonesia turunan jenis Gallus gallus atau ayam hitam.
Variasi warna spesiesnya sangat beragam dan banyak dipelihara oleh masyarakat. Anas
domesticus merupakan itik lokal Indonesia turunan itik liar, Anas platyrhynchos. Spesies ini
bersifat monomorfik antara jantan dan betinanya, banyak dipelihara untuk dibiakkan dan
memiliki nilai ekonomi yang tinggi (BALITNAK, 2012).

















II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum diadakan pada hari Kamis, 5 dan 12 April 2012, di Museum Zoologi, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah penggaris untuk mengukur spesimen.
Bahan yang dipakai yaitu Lonchura striata, Lonchura punctulata, Chloropsis cochinchinensis,
Streptopelia chinensis, Pycnonotus aurigaster, Columba livia, Gallus domesticus dan Anas
domesticus.
2.3 Cara Kerja
Objek diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala disebelah kiri. Objek yang akan diamati
dipegang dengan cara menjepit lehernya di antara jari telunjuk dan jari tengah, kepalanya dijepit
dengan jari manis dan kelingking, dan jari yang lain menggenggam tubuhnya, jangan terlalu
keras karena bisa menyakiti burung. Perlakuan ini untuk mencegah agar burung tidak banyak
bergerak, tidak mudah terbang dan memberi kenyamanan pada burung tersebut. Kemudian
dilakukan pengukuran serta perhitungan terhadap karakteristik, yaitu sebagai berikut: panjang
sayap, panjang tarsus, panjang paruh, panjang ekor, panjang total, warna tubuh, warna paruh,
bentuk paruh, bentuk cakar, warna bulu ekor dan tipe ekor. Setelah itu digambar dan difoto
masing- masing objek.





III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Columba livia Gmelin, 1789
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Genus : Columba
Species : Columba livia Gmelin, 1789 (Heriyanto dkk, 2008)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Columba livia betina di peroleh hasil sebagai
berikut, panjang total (PT) 277 mm, panjang paruh (PP) 20 mm, Panjang tarsus (PT) 27 mm,
Panjang sayap (PS) 203 mm, Panjang ekor 99 mm, warna tubuh abu-abu coklat, warna paruh
coklat pekat, bentuk paruh alpine swift, bentuk cakar bertengger, bulu ekor abu-abu, dan tipe
ekor baji.
Rata-rata ukuran panjang paruh yaitu 2,2 cm. Panjang ini tidak jauh berbeda dengan
panjang paruh pada Columba livia yang praktikan amati yaitu 2,0 cm. Panjang total tubuh 34,1
cm. Panjang ini cukup berbeda dengan Columbia livia yang praktikan amati. Pada spesimen
yang praktikan amati, didapati panjang ekor 9,9 mm. Sementara panjang ekor (caudal vertebrae)
pada literatur yaitu 12,9 cm. Panjang sayap kanan + kiri yaitu 26,9 cm. Pada Columba livia yang
praktikan amati didapatkan panjang salah satu sayapnya 20,3 cm. Juga tidak jauh berbeda
dengan literatur (Nurtikasari, 2009).
Ada dua jenis merpati, yaitu merpati liar dan merpati domestik. Merpati liar biasa hidup
di daerah pantai atau hutan, sedangkan merpati domestik hidup di area urban. Panjang individu
dewasa antara 29-36 cm dengan berat 265-380 gram dan panjang sayap 50-67 cm (Robbins et
al., 1966 cit. Nurtikasari, 2009). Berdasarkan data ini, bisa disimpulkan bahwa merpati yang
praktikan amati sudah dewasa. Merpati hanya memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya. Baik
merpati jantan maupun betina aktif dalam proses reproduksi dan membesarkan keturunannya.
Merpati termasuk burung pemakan biji- bijian dan bersifat monomorfik.
3.2 Lonchura punctulata Linnaeus, 1766
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Passeriformes
Famili : Estrildidae
Genus : Lonchura
Species : Lonchura punctulata Linnaeus, 1766 (Mardiastuti, 1993)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Lonchura punctulata maka di peroleh hasil sebagai
berikut, panjang total (PT) 136 mm, panjang paruh (PP) 11 mm, Panjang tarsus (PT) 12 mm,
Panjang sayap (PS) 65 mm, Panjang ekor 30 mm, warna tubuh coklat tua, warna paruh dongker
millenium, bentuk paruh short, bentuk cakar raja udang, dan tipe ekor rounded.
Nama punctulata berarti berbintik-bintik, menunjuk kepada warna bulu-bulu di dadanya.
Memang, pada Lonchura punctulata yang telah praktikan amati, terdapat bulu dada yang biasa
disebut dengan istilah kurik. Lonchura punctulata berukuran kecil, dari paruh hingga ujung ekor
sekitar 11 cm (Ayat, 2011). Lonchura punctulata yang praktikan amati berukuran lebih besar
dengan panjang total 13,6 cm. Pada Lonchura punctulata yang praktikan amati didapati warna
bulu tubuhnya coklat tua. Menurut Ayat (2011) tubuh Lonchura punctulata bagian atas berwarna
coklat, bercoretan, dengan tangkai bulu putih, tenggorokan coklat kemerahan. Tubuh bagian
bawah putih, bersisik coklat pada dada dan sisi tubuh. Praktikan tidak mengamati dan mecatat
secara detail tentang hal ini. Praktikan mengamati warna paruhnya yang donker millenium atau
disebut juga kelabu kebiruan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh Ayat (2011),
Lonchura punctulata yang memiliki paruh kelabu kebiruan masih tergolong remaja.

3.3 Streptopelia chinensis Linnaeus, 1776
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Genus : Sterptopelia
Spesies : Streptopelia chinensis Linnaeus, 1776 (Ayat, 2011)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Streptopelia chinensis maka di peroleh hasil sebagai
berikut, panjang total (PT) 280 mm, panjang paruh (PP) 15 mm, Panjang tarsus (PT) 20 mm,
Panjang sayap (PS) 190 mm, Panjang ekor 120 mm, warna tubuh putih, hitam, coklat, warna
paruh hitam, bentuk paruh at short, bentuk cakar senegal parrot, dan tipe ekor bertakik.
Robbins et. al. (1996), telah melakukan penelitian tentang Streptopelia chinensis atau
yang lebih sering dikenal dengan burung tekukur. Bulu di bagian ventral berwarna coklat,
sedangkan di daerah dorsal dan sayap berwarna kehitaman. Bulu di kepala berwarna abu dan
bagian leher abu kecoklatan. Pada data praktikan, diketahui bahwa warna tubuh Streptopelia
chinensis ini ada tiga, yaitu putih, hitam, dan coklat. Robbins et. al. (1996 cit. Nurtikasari 2009)
mengatakan ciri khusus burung tekukur yaitu bulu dengan pola hitam-putih di bagian punggung
lehernya. Warna inilah yang praktikan kenali karena letaknya tepat pada bagian dorsal, sehingga
mudah dikenali.
Panjang individu dewasa antara 27,5-31,0 cm dengan berat 128 gram. Burung tekukur
berbiak beberapa kali sepanjang tahun (Robbins et. al., 1966 cit. Nurtikasari, 2009). Sementara,
menurut Ayat (2011), Streptopelia chinensis berukuran + 30 cm dan berwarna coklat kemerah-
jambuan. Praktikan mendapati Streptopelia chinensis yang telah praktikan amati berukuran
panjang total 28 cm. Streptopelia chinensis memiliki ekor tampak panjang dengan tepi putih
tebal dan memiliki paruh hitam (Ayat, 2011). Pada data yang praktikan catat, panjang ekor
Streptopelia chinensis hampir mencapai setengah panjang total tubuhnya dan juga memiliki
prauh berwarna hitam.
3.4 Chloropsis cochinchinensis Gmelin, 1789
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Passeriformes
Family : Chloropsidae
Genus : Chloropsis
Spesies : Chloropsis cochinchinensis Gmelin, 1789 (Heriyanto dkk, 2008)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Cloropsis cochinchinensis maka di peroleh hasil
sebagai berikut, panjang total (PT) 180 mm, panjang paruh (PP) 20 mm, Panjang tarsus (PT) 20
mm, Panjang sayap (PS) 80 mm, Panjang ekor 60 mm, warna tubuh hijau kebiruan, warna paruh
hitam, bentuk paruh compressed, bentuk cakar bertengger, bulu ekor biru dan tipe ekor rounded.
Chloropsis cochinchinensis berukuran sedang, kira- kira 17 cm (MacKinnon et. al.,
1993). Panjang total Chloropsis cochinchinensis yang praktikan amati lebih panjang, yaitu 18
cm. Menurut MacKinnon et. al. (1998), Chloropsis cochinchinensis berwarna hijau terang
dengan sayap biru dan tenggorokan hitam pada jantan. Praktikan juga menemukan warna bulu
yang sama pada Chloropsis cochinchinensis yang telah praktikan amati. Perbedaannya dengan
burung cica daun lainnya yaitu sayap dan sisi ekornya berwarna biru. Karena inilah Chloropsis
cochinchinensis disebut cica daun sayap biru. Chloropsis cochinchinensis betina tidak
mempunyai lingkar mata kuning. Jantan mempunyai lingkaran kekuningan di sekitar bercak
tenggorokan yang hitam. Kedua jenis kelamin mempunyai setrip malat biru. Jadi burung ini
termasuk golongan monorphisme jika dilihat sekilas saja. Chloropsis cochinchinensis memiliki
paruh berwarna hitam, kaki abu- abu kebiruan. ( MacKinnon et. al., 1998). Pada Chloropsis
cochinchinensis yang praktikan amati juga berparuh hitam, tetapi praktikan tidak memerhatikan
warna kakinya.
3.5 Pycnonotus aurigaster Vieillot, 1818
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Passeriformes
Family : Pycnonotidae
Genus : Pycnonotus
Spesies : Pycnonotus aurigaster Vieillot, 1818 (Dahlan dkk, 2008)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Pycnonotus aurigaster maka di peroleh hasil
sebagai berikut, panjang total (PT) 167 mm, panjang paruh (PP) 22 mm, Panjang tarsus (PT) 20
mm, Panjang sayap (PS) 125 mm, Panjang ekor 30 mm, warna tubuh abu-abu coklat, warna
paruh hitam, bentuk paruh short, bentuk cakar bertengger, dan tipe ekor baji.
Pycnonotus aurigaster yang praktikan amati memiliki panjang total 16,7 cm. Ukuran ini
berbeda dengan hasil pengamatan oleh Ayat (2011). Menurut Ayat (2011), Pycnonotus
aurigaster berukuran ± 20 cm, bertopi hitam dengan tunggir keputih-putihan dan tungging jingga
kuning. Praktikan juga menemukan bentuk yang sama pada Pycnonotus aurigaster yang
praktikan amati. Praktikan juga mengamati sayap Pycnonotus aurigaster yang berwarna abu- abu
coklat dan paruhnya berwarna hitam. Sedangkan Ayat (2011) menemukan Pycnonotus
aurigaster memiliki sayap hitam dengan ekor coklat. Praktikan tidak mengetahui dengan pasti
apakah praktikan memang salah mengenali warna atau memang terdapat perbedaan karena jenis
kelamin antara Pycnonotus aurigaster yang praktikan amati dengan yang Ayat amati. Akan
tetapi, data yang diperoleh Ayat berkenaan dengan warna paruh Pycnonotus aurigaster hitam
sama dengan data yang praktikan dapatkan.

3.6 Gallus domesticus
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Family : Phassianidae
Genus : Gallus
Spesies : Gallus domesticus Linnaeus, 1758 (Ubio, 2012)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Gallus domesticus jantan maka di peroleh hasil
sebagai berikut, panjang total (PT) 760 mm, panjang paruh (PP) 25 mm, Panjang tarsus (PT) 95
mm, Panjang sayap (PS) 230 mm, Panjang ekor (PE) 365 mm, warna tubuh hitam hijau biru
keunguan, warna paruh kuning kecoklatan, bentuk paruh short, bentuk cakar pejalan, warna ekor
hitam kehijauan, dan tipe ekor pointed.
Sedangkan dari pengukuran dan pengamatan pada Gallus domesticus betina di peroleh
hasil sebagai berikut, panjang total (PT) 480 mm, panjang paruh (PP) 20 mm, Panjang tarsus
(PT) 70 mm, Panjang sayap (PS) 200 mm, Panjang ekor (PE) 145 mm, warna tubuh coklat
dengan garis- garis hitam, warna paruh kuning kecoklatan, bentuk paruh short, bentuk cakar
pejalan, warna ekor coklat kehitaman, dan tipe ekor forked.
Gallus domesticus menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin yang
disebut dengan dimorphisme (BALITNAK, 2012). Ketika diamati, kita bisa langsung
membedakan Gallus domesticus jantan dengan Gallus domesticus betina. Baik itu dari bentuk
tubuh, warna bulu, dan suaranya. Gallus domesticus jantan umumnya lebih atraktif, ukurannya
lebih besar dari pada Gallus domesticus betina (BALITNAK, 2012). Dari hasil yang telah
didapatkan, panjang total Gallus domesticus jantan 760 mm sedangkan betina hanya 480 mm.
Gallus domesticus jantan yang praktikan amati juga memiliki jengger lebih besar, sementara
pada betinanya hanya berupa sedikit tonjolan merah di bagian kepalanya. Perbedaan berikutnya
juga dapat dilihat pada bulu ekor. Bulu ekor Gallus domesticus jantan panjang menjuntai, lain
halnnya dengan betina yang tegak ke atas. Panjang ekor Gallus domesticus jantan adalah 365
mm, yang betina 145 mm. Sebagai hewan peliharaan, Gallus domesticus sangat adaptif dan bisa
hidup di sembarang tempat yang tersedia makanan baginya. Kebanyakan Gallus domesticus
peliharaan kehilangan kemampuan terbang yang baik, sehingga mereka lebih banyak
menghabiskan waktu di tanah atau kadang-kadang di pohon (BALITNAK, 2012).
3.7 Anas domesticus Linnaeus, 1758
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Anseriformes
Family : Anatidae
Genus : Anas
Spesies : Anas domesticus Linnaeus, 1758 (Ubio, 2012)
Dari hasil pengukuran dan pengamatan pada Anas domesticus jantan maka diperoleh hasil
sebagai berikut, panjang total (PT) 560 mm, panjang paruh (PP) 60 mm, Panjang tarsus (PT) 60
mm, Panjang sayap (PS) 350 mm, Panjang ekor (PE) 100 mm, warna tubuh hitam putih, warna
paruh hitam, bentuk paruh sieving, bentuk cakar perenang, warna ekor putih, dan tipe ekor
rounded.
Sedangkan dari pengukuran dan pengamatan pada Anas domesticus betina maka di
peroleh hasil sebagai berikut, panjang total (PT) 583 mm, panjang paruh (PP) 67 mm, Panjang
tarsus (PT) 42 mm, Panjang sayap (PS) 404 mm, Panjang ekor (PE) 111 mm, warna tubuh putih
kecoklatan, warna paruh hitam, bentuk paruh sieving, bentuk cakar perenang, warna ekor hitam,
dan tipe ekor rounded.
Anas domesticus merupakan itik lokal Indonesia. Dari warna bulunya yang didominasi
warna hitam atau putih, dapat dilihat bahwa Anas domesticus merupakan turunan dari itik liar,
Anas platyrhynchos. Sifat khas Anas domesticus adalah bentuk kakinya yang pendek, kuat
dengan jari-jari kaki dihubungkan oleh selaput renang (Wu, 2009). Bentuk kaki ini seperti dapat
dilihat dari data yang praktikan peroleh, merupakan tipe kaki perenang. Anas domesticus
memakan segala makanan (omonuvorus), mulai dari biji-bijian, rumput, umbi hingga hewan
kecil seperti keong, ikan, serangga, dan belut (Wu, 2009). Karena itu, Anas domesticus memiliki
paruh tipe sieving, untuk memudahkannya mencari makanan- makanan tersebut di dalam air.

3.2 Kunci Determinasi
1 a. Dapat terbang tinggi …………………………………………..2
b. Tidak dapat terbang tinggi…………………………………….6
2 a. Memiliki pigeon milk………………………………………….Columba livia
b. Tidak memiliki pigeon milk ………………………………….3
3 a. Bentuk paruh short …………………………………………...4
b. Bentuk paruh compressed …………………………………….Chloropsis cochinchinensis
4 a. Iris berwarna coklat…………………………………………....5
b. Iris berwarna merah……………………………………………Pycnonotus aurigaster
5 a. Tipe ekor bertakik ……………………………………………Streptopelia chinensis
b. Tipe ekor rounded ……………………………………………Lonchura punctulata
6 a. Tipe kaki pejalan ……………………………………………..Gallus domesticus
b. Tipe kaki perenang ……………………………………………Anas domesticus



IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Columba livia yang terdistribusi luas di wilayah Indonesia, dengan warna putih, abu- abu,
atau hitam.
2. Lonchura striata berwarna coklat tua, ekor hitam runcing, tunggir putih, dan perut putih
kekuningan khas serta memiliki paruh kelabu.
3. Lonchura punctulata memiliki ciri khas dengan bulu dadanya yang bersisik dan warna
paruh kelabu kebiruan.
4. Streptopelia chinensis memiliki ciri khusus burung tekukur yaitu bulu dengan pola hitam-
putih di bagian punggung lehernya dan ekor yang terlihat panjang.
5. Chloropsis cochinchinensis memiliki ciri khas warna sayap dan sisi ekornya berwarna
biru, sehingga dikenal dengan nama Cica daun sayap biru.
6. Pycnonotus aurigaster memiliki ciri khas pada kepalanya berupa bulu yang tebal seperti
topi berwarna hitam.
7. Gallus domesticus merupakan tipe hewan dimorphisme, ditandai dengan jantan yang
berwarna mencolok dan lebih besar dibandingkan betinanya serta suara nyaring.
8. Anas domesticus bersifat monomorfis antara jantan dan betinanya, biasanya hanya
ditandai ukuran jantan lebih besar, memiliki ciri khas paruh tipe sieving.
4.2 Saran
Praktikan hendaknya melakukan pengamatan lebih teliti dan lebih detail lagi agar data yang
didapatkan lebih akurat.






DAFTAR PUSTAKA
Andrew, P. 1992. The Birds of Indonesia–A Checklist (Peter’s Sequence). Indonesian
Ornithological Society: Jakarta.
Anonimous a. 2012. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_bio_0700424_chapter2.1.pdf
diakses pada 9 April 2012.
Astuti, Lilis Sri. 2007. Klasifikasi Hewan Penamaan, Ciri, & Pengelompokannya. Kawan
Pustaka: Jakarta.
Ayat, A. 2011. Panduan Lapangan Burung- burung Agroforest di Sumatera. World Agroforesty
Centre: Bogor.
BALITNAK. 2012. Gallus gallus domesticus. BALITNAK: Ciawi.
BAPPENAS. 2003. National Biodiversity Action Plan. Bappenas: Jakarta.
Burnie, David. 2005. Jendela Iptek Seri 11: Kehidupan. Balai Pustaka: Jakarta.
Dahlan, Ulfah Zul Farisa, Meli Maria Ulpah, Tutia Rahmi, Lina Kristina Dewi. 2008.
Pemanfaatan Berbagai Tipe Habitat Oleh Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster
Vieillot) di Kebun Raya Bogor. IPB: Bogor.
Heriyanto, N.M., R. Garsetiasih, Pujo Setio. 2008. Status Populasi dan Habitat Burung di BKPH
Bayah, Banten. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam: Bogor.
Hickman, Cleveland P., et. al. 2008. Animal Diversity. McGraw-Hill Higher Education: New
York.
MacKinnon, et. al. 1993. Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. LIPI:
Bogor.
Mardiastuti, Ani. 1993. Penanaman Pohon untuk Habitat Burung. IPB: Bogor.
Marle, JGM, Marle Voous. 1988. The Birds of Sumatra. The British Ornithologist’s Union
Checklist No. 10: UK.
Nurtikasari, Ranti. 2009. Analisis Keragaman Genetik Burung Famili Columbidae dengan
Penanda Random Amplified Polymorphic DNA. UPI: Bandung.
Saefudin. 2012. Sistematika Vertebrata. UPI: Bandung.
Soesilawaty, Soesi Asiah. 2012. Zoologi Vertebrata. UPI: Bandung.
Ubio. 2012. Biological Names. http://ubio.org diakses pada 3 April 2012
Wirasiti, N. N., dkk. 2004. Jenis- Jenis dan Karakteristik Burung yang Ditemukan di Kawasan
Bedugul dan Sekitarnya. UNUD: Bali.
Wu, Far. 2009. Ternak Itik Intensif. KITI: Minahasa.