You are on page 1of 2

A.

PERANAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA
Akibat krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997, jerih payah yang telah dibangun
dalam pembangunan nasional selama lebih 30 tahun telah tersapu, sehingga memerosotkan
kehidupan ekonomi. Hal ini telah menimbulkan permasalahan ekonomi yang berlarut-larut
dan keresahan sosial yang berlanjut, seakan-akan menempatkan Indonesia ke awal
pembangunan. Harapan untuk pulihnya perekonomian nasional di masa mendatang masih
terbuka lebar, karena Indonesia masih memiliki berbagai kekuatan fundamen ekonomi
seperti sumberdaya alam, manusia, infrastruktur, kelembagaan yang ada, pengalaman
mengatasi kesulitan, akan menjadi modal awal untuk membangun kembali perekonomian
nasional. Salah satu strategi pembangunan ekonomi yang diyakini dapat diandalkan adalah
melalui pembangunan pertanian / agribisnis (Bungaran Saragih, 1999).
Pembangunan Pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pembangunan
Nasional, yang dalam pelaksanaannya perlu adanya penyempurnaan atau reorientasi demi
terwujudnya kemakmuran yang adil dan beradab. Oleh karena merupakan sektor yang
keragaannya sangat mempengaruhi peri kehidupan penduduk Indonesia secara umum dan
penduduk pedesaan secara khusus, maka reformasi di sektor pertanian harus dilakukan secara
bertahap namun berkelanjutan, sehingga dampaknya tidak terjadi secara mendadak dan
dalam skala besar yang justru dapat semakin memperburuk krisis ekonomi saat ini (Soleh
Solahuddin, 1999).
Reorientasi arah pembangunan pertanian tersebut pada dasarnya adalah keinginan
untuk dapat menjawab tantangan-tantangan masa depan, yang pada hakekatnya dilandasi
pada keinginan untuk menangkap signal-signal positif dari adanya perubahan-perubahan
dalam lingkungan strategis baik berupa globalisasi (informasi, teknologi) maupun
kondisi-kondisi sumberdaya Nusantara, terutama di sektor pertanian (Dudung Abdul Adjid,
1994).
Perekonomian Indonesia tidak terlepas dari gejolak lingkungan strategis yang terus
berkembang secara dinamis. Awal dari PJPT II ini ditandai dengan terjadinya arus
Globalisasi yang mengakibatkan Pembangunan Nasional semakin terkait dengan
perkembangnan dunia internasional antara lain dengan adanya persetujuan GATT (General
Agreement on Tarrif and Trade) pada putaran Uruguay di Marakesh, bulan April 1994 yang
bertujuan lebih meliberalisasikan perdagangan internasional dan pembentukan kawasan
perdagangan bebas seperti PTE (Pasar Tunggal Eropa), NAFTA (North American Free Trade
Area) dan AFTA (Asean Free Trade Area) dengan penerapan CEPT-nya akan melibatkan
ekonomi Indonesia pada perdagangan global yang lebih kompetitif (Dudung Abdul Adjid,
1994).
Akibat pengaruh globalisasi yang tidak mungkin dihindari ini makin lama produk
pertanian khususnya produk hortikultura yang masuk ke Indonesia akan semakin beragam
jenisnya dan volumenya akan semakin banyak. Menghadapi realitas ini mau tidak mau
produk Hortikultura harus mampu bersaing dengan produk Hortikultura dari negara lain.