2.

1 Pengertian, Tujuan Dan Jenis Surveilans Epidemiologi
2.1.1 Pengertian Surveilans
Surveilans adalah upaya/ sistem/ mekanisme yang dilakukan secara terus menerus
dari suatu kegiatan pengumpulan, analisi, interpretasi,dari suatu data spesifik yang digunakan
untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program ( Manajemen program kesehatan)
Istilah surveilans digunakan untuk dua hal yang berbeda.
Pertama, surveilans dapat diartikan sebagai pengawasan secara terus-menerus terhadap
faktor penyebab kejadian dan sebaran penyakit, dan yang berkaitan dengan keadaan sehat
atau sakit. Surveilans ini meliputi pengumpulan, analisis, penafsiran, dan penyebaran data
yang terkait, dan dianggap sangat berguna untuk penanggulangan dan pencegahan secara
efektif. Definisi yang demikian luas itu mirip dengan surveilans pada sistem informasi
kesehatan rutin, dan karena itu keduanya dapat dianggap berperan bersama-sama.
Kedua yaitu menyangkut sistem pelaporan khusus yang diadakan untuk menanggulangi
masalah kesehatan utama atau penyakit, misalnya penyebaran penyakit menahun suatu
bencana alam. Sistem surveilans ini sering dikelola dalam jangka waktu yang terbatas dan
terintegrasi secara erat dengan pengelolaan program intervensi kesehatan. Bila informasi
tentang insidens sangat dibutuhkan dengan segera, sedangkan sistem informasi rutin tidak
dapat diandalkan maka sistem ini dapat digunakan. (Vaughan, 1993).
Menurut WHO :
Surveilans adalah : Pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara sistematis dan
terus menerus, serta desiminasi informasi tepat waktu kepada pihak – pihak yang perlu
mengetahui sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.(Last, 2001 dalam Bhisma Murti,
2003 )
b. Menurut Centers for Disease Control ( CDC ), 1996.
Surveilans adalah : Pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis
dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya
kesehatan masyarakat, dipadukan dengan desiminasi data secara tepat waktu kepada pihak –
pihak yang perlu mengetahuinya.
Defenisi Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara
sistematik berkesinambungan, analisa dan interprestasi data kesehatan dalam proses
menjelaskan dan memonitoring kesehatan dengan kata lain surveilans epidemiologi
merupakan kegiatan pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek
kejadian penyakit dan kematian akibat penyakit tertentu, baik keadaan maupun
penyebarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangan. (Noor,1997). Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus
menerus atas distribusi, dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data yang
sistematis agar dapat ditentukan penanggulangannya yang secepat-cepatnya (Gunawan,
2000).
Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang
mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar
dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.
Ada beberapa definisi surveilans, diantaranya adalah :
Menurut The Centers for Disease Control, surveilans kesehatan masyarakat adalah :
The ongoing systematic collection, analysis and interpretation of health data essential to the
planning, implementation, and evaluation of public health practice, closely integrated with
the timely dissemination of these data to those who need to know. The final link of the
surveillance chain is the application of these data to prevention and control
Menurut Karyadi (1994), surveilans epidemiologi adalah : “Pengumpulan data
epidemiologi yang akan digunakan sebagai dasar dari kegiatan-kegiatan dalam bidang
penanggulangan penyakit, yaitu :
1. Perencanaan program pemberantasan penyakit. Mengenal epidemiologi penyakit berarti
mengenal masalah yang kita hadapi. Dengan demikian suatu perencanaan program
dapat diharapkan akan berhasil dengan baik.
2. Evaluasi program pemberantasan penyakit. Bila kita tahu keadaan penyakit sebelum ada
program pemberantasannya dan kita menentukan keadaan penyakit setelah program ini,
maka kita dapat mengukur dengan angka-angka keberhasilan dari program
pemberantasan penyakit tersebut.
3. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah. Suatu sistem surveilans yang
efektif harus peka terhadap perubahan-perubahan pola penyakit di suatu daerah
tertentu. Setiap kecenderungan peningkatan insidens, perlu secepatnya dapat
diperkirakan dan setiap KLB secepatnya dapat diketahui. Dengan demikian suatu
peningkatan insidens atau perluasan wilayah suatu KLB dapat dicegah”.
Menurut Nur Nasry Noor (1997), surveilans epidemiologi adalah : “Pengamatan
secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu, baik keadaan
maupun penyabarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangannya”.
Jadi, surveilans epidemiologi.
 Merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta faktor
determinannya. Penyakit dapat dilihat dari perubahan sifat penyakit atau perubahan
jumlah orang yang menderita sakit. Sakit dapat berarti kondisi tanpa gejala tetapi telah
terpapar oleh kuman atau agen lain, misalnya orang terpapar HIV, terpapar logam berat,
radiasi dsb. Sementara masalah kesehatan adalah masalah yang berhubungan dengan
program kesehatan lain, misalnya Kesehatan Ibu dan Anak, status gizi, dsb. Faktor
determinan adalah kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah
kesehatan.
 Merupakan kegiatannya yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus. Sistematis
melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi
sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu, sementara terus menerus menunjukkan bahwa
kegiatan surveilans epidemiologi dilakukan setiap saat sehingga program atau unit yang
mendapat dukungan surveilans epidemiologi mendapat informasi epidemiologi secara
terus menerus juga.
2.1.2 Tujuan Surveilans
Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan
populasi, sehingga penyakit dan factor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons
pelayanan kesehatan dengan lebih efektif.
Tujuan khusus surveilans:
a. Memonitor kecenderungan (trends) penyakit;
b. Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak;
c. Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden)
pada populasi;
d. Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi,
monitoring, dan evaluasi program kesehatan;
e. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;
f. Mengidentifikasi kebutuhan riset. (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002)
Gambar dibawah ini menyajikan contoh penggunaan surveilans untuk mendeteksi outbreak di
sentri. Grafik yang menghubungkan periode waktu pada sumbu X dengan insidensi kasus pen
yakit pada sumbu Y dapat digunakan untuk memonitor dan mendeteksi outbreak. Kecurigaan
outbreak terjadi pada kuartal ke 4 tahun 2008, ketika insidensi mencapai 3 kali rata-
rata per kuartal.

Surveilans dapat juga digunakan untuk memantau efektivitas program kesehatan. Gambar
5.3. menyajikan contoh penggunaan surveilans untuk memonitor performa dan efektivitas pro
gram pengendalian TB. Perhatikan, dengan statistik deskriptif sederhana surveilans mampu m
emberikan informasi tentang kinerja program TB yang meningkat dari tahun ke tahun, baik ju
mlah kasus TB yang dideteksi, ketuntasan pengobatan kasus, maupun kesembuhan kasus. Per
hatikan pula peran penting data time-
series dalam analisis data surveilans yang dikumpulkan dari waktu ke waktu dengan interval
sama.

2.1.3 Jenis Surveilans
Dikenal beberapa jenis surveilans:
1. Surveilans Individu
Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu
yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus,
demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional
segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai
contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang –
orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular
selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa
inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).
Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan
SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total
membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa
inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial
membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan
dan tingkat bahaya transmis penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah
penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan
tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja.
Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal,
politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-
langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan
Upshur, 2007).
2. Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus
terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis,
konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan
lainnya. Jadi focus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu. Di banyak
negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertical (pusat-
daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari
sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara
dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program
surveilans penyakit vertical yang berlangsung parallel antara satu penyakit dengan penyakit
lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk
sumberdaya masing-masing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan
inefisiensi.
3. Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-
menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit.
Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun
populasi yang bias diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik
mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau
temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi
laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun
nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan
kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip
influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam
surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan
definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan
mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis
kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor
aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat
memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrument untuk memonitor krisis
yang tengah berlangsung. (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006)
Suatu system yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas
kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans
sentinel. Pelaporan sampel melalui system surveilans sentinel merupakan cara yang baik
untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.
(DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010)
4. Surveilans Berbasis Laboratorium
Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor
penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti
salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri
tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada
system yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik. (DCP2, 2008)
5. Surveilans Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan
surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah
pelayanan public bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia
yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan
pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan
perbedaan kebutuhan data khusus penyakit-penyakit tertentu. (WHO, 2001, 2002; Sloan et
al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:
a. Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services);
b. Menggunakan pendekatan solusi majemuk;
c. Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural;
d. Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan,
pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan
dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya);
e. Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun
menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang
berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda. (WHO, 2002)

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global
Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan
binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.
Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan Negara
maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemic global (pandemi) khususnya
menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para
praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit
menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-
emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases),
seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif
melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan
ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008)
2.2 Prinsip, Fungsi, Dan Langkah Surveilans Epidemiologi
2.2.1 Prinsip
Prinsip Surveilans Epidemiologi
a. Pengumpulan data Pencatatan insidensi terhadap population at risk.
Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit, puskesmas, dan sarana
pelayanan kesehatan lain, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan masyarakat, dan
petugas kesehatan lain; Survei khusus; dan pencatatan jumlah populasi berisiko terhadap
penyakit yang sedang diamati. Tehnik pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara
dan pemeriksaan. Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk;
Menentukan jenis dan karakteristik (penyebabnya); Menentukan reservoir; Transmisi;
Pencatatan kejadian penyakit; dan KLB.
b. Pengelolaan data
Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah (row data) yang masih
perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Data yang terkumpul dapat diolah
dalam bentuk tabel, bentuk grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data
tersebut harus dapat memberikan keterangan yang berarti.
c. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan
Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan
interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi yang ada dalam
masyarakat.
d. Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik
Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan yang cukup jelas
dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan, selanjutnya dapat disebarluaskan kepada
semua pihak yang berkepentingan, agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana
mestinya.
e. Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat digunakan untuk
perencanaan, penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak
lanjut (follow up), untuk melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan
pelaksanaan program, serta untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan.
2.2.2 Fungsi
Kegunaan surveilans epidemiologi
1. Mendeteksi perubahan masalah kesehatan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan
tindakan kontrol atau preventif terhadap perubahan tersebut.
2. Deteksi perubahan lingkungan/vector yang dianggap dapat menimbulkan penyakit pada
populasi.
3. Mutlak digunakan pada program-program pemberantasan penyakit menular sebagai
dasar perencanaan, monitoring dan evaluasi program.
4. Menilai kejadian penyakit pada populasi seperti insidensi atau prevalensi.
5. Data surveilans dapat digunakan untuk perencanaa dan pelaksanaan program kesehatan.
Manfaat surveilans epidemiologi
Pada awalnya surveilans epidemiologi banyak dimanfaatkan pada upaya
pemberantasan penyakit menular, tetapi pada saat ini surveilans mutlak diperlukan
pada setiap upaya kesehatan masyarakat baik upaya pencegahan maupun pemberantasan
penyakit menular. Secara garis besar, tujuan surveilans epidemiologi yaitu:
1. Mengetahui distribusi geografis penyakit endemis dan penyakit yang dapat menimbulkan
epidemic.
2. Mengetahui perioditas suatu penyakit.
3. Menentukan apakah terjadi peningkatan insidensi yang disebabkan oleh kejadian luar
biasa atau karena perioditas penyakit.
4. Mengetahui situasi suatu penyakit tertentu.
5. Memperoleh gambaran epidemiologi tentang penyakit tertentu.
6. Melakukan pengendalian penyakit.
7. Mengetahui adanya pengulangan outbreak yang pernah menimbulkan endemic.
8. Pengamatan epidemiologi terhadap influenza untuk mengetahui adanya tipe baru dari
virus influenza.
2.2.3 Langkah
Langah-langkah dalam surveilans sangat di butuhkan agar kita mendapatkan hasil
yang diinginkan dan tepat penggunaannya. Terdapat beberapa langkah-langkah dalam
suerveilans epidemiologi, antara lain yaitu:
1. Perencanaan surveilans
Perencanaan kegiatan surveilans dimulai membuat kerangka kegiatan surveilans
yaitu dengan penetapan tujuan surveilans, dilanjutkan dengan penentuan definisi kasus,
perencanaan perolehan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis dan mekanisme
penyebarluasan informasi.
2. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan awal dari rangkaian kegiatan untuk memproses data
selanjutnya. Data yang dikumpulkan memuat informasi epidemiologi yang dilaksanakan
secara teratur dan terus-menerus dan dikumpulkan tepat waktu. Pengumpulan data dapat
bersifat pasif yang bersumber dari Rumah sakit, Puskesmas dan lain-lain, maupun aktif yang
diperoleh dari kegiatan survey.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi terhadap
orang-orang yang dianggap penderita malaria atau population at risk melalui kunjungan
rumah (active surveillance) atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan sarana pelayanan
kesehatan yaitu dari laporan rutin poli umum setiap hari, laporan bulanan Puskesmas desa
dan Puskesmas pembantu, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan harian dari
laboratorium dan laporan dari masyarakat serta petugas kesehatan lain (passive surveillance).
Atau dengan kata lain, data dikumpulkan dari unit kesehatan sendiri dan dari unit kesehatan
yang paling rendah, misalnya laporan dari Pustu, Posyandu, Barkesra, Poskesdes.
Proses pengumpulan data diperlukan system pencatatan dan pelaporan yang baik.
Secara umum pencatatan di Puskesmas adalah hasil kegiatan kunjungan pasien dan kegiatan
luar gedung. Sedangkan pelaporan dibuat dengan merekapitulasi data hasil pencatatan dengan
menggunakan formulir tertentu, misalnya form W1 Kejadian Luar Biasa (KLB) , form W2
(laporan mingguan) dan lain-lain.
3. Pengolahan dan penyajian data
Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel,
grafik (histogram, polygon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan computer
sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data diantaranya dengan
menggunakan program (software).
4. Analisis data
Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena akan
dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan pencegahan dan
penanggulangan penyakit. Kegiatan ini menghasilkan ukuran-ukuran epidemiologi seperti
rate, proporsi, rasio dan lain-lain untuk mengetahui situasi, estimasi dan prediksi penyakit.
Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data bulanan
atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan atau penurunan, dan
mencari hubungan penyebab penyakit malaria dengan factor resiko yang berhubungan
dengan kejadian malaria.
5. Penyebarluasan informasi
Penyebarluasan informasi dapat dilakukan ketingkat atas maupun ke bawah. Dalam
rangka kerja sama lintas sektoral instansi-instansi lain yang terkait dan masyarakat juga
menjadi sasaran kegiatan ini. Untuk diperlukan informasi yang informative agar mudah
dipahami terutama bagi instansi diluar bidang kesehatan.
Penyebarluasan informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah
dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya
pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Cara penyebarluasan informasi yang
dilakukan yaitu membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan kepada atasan,
membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu tulisan di majalah
rutin, memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses dengan mudah.
6. Umpan balik
Kegiatan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat menerima
laporan setelah diolah dan dianalisa melakukan umpan balik kepada unit kesehatan yang
melakukan laporan dengan tujuan agar yang mengirim laporan mengetahui bahwa laporannya
telah diterima dan sekaligus mengoreksi dan member petunjuk tentang laporan yang
diterima. Kemudian mengadakan umpan balik laporan berikutnya akan tepat waktu dan benar
pengisiannya. Cara pemberian umpan balik dapat melalui surat umpan balik, penjelasan pada
saat pertemuan serta pada saat melakukan pembinaan/suvervisi.
Bentuk dari umpan balik bias berupa ringkasan dari informasi yang dimuat dalam
bulletin (news letter) atau surat yang berisi pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan yang
dilaporkan atau berupa kunjungan ke tempat asal laporan untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya. Laporan perlu diperhatikan waktunya agar terbitnya selalu tepat pada waktunya,
selain itu bila mencantumkan laporan yang diterima dari eselon bawahan, sebaliknya yang
dicantumkan adalah tanggal penerimaan laporan.
7. Investigasi penyakit
Setelah pengambilan keputusan perlunya mengambil tindakan maka terlebih dahulu
dilakukan investigasi/penyelidikan epidemiologi penyakit malaria. Dengan investigator
membawa ceklis/format pengisian tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam hal ini
adalah penyakit malaria dan bahan untuk pengambilan sampel di laboratorium. Setelah
melakukan investigasi penyelidikan kemudian disimpulkan bahwa benar-benar telah terjadi
Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria yang perlu mengambil tindakan atau sebaliknya.
8. Tindakan penanggulangan
Tindakan penanggulangan yang dilakukan melalui pengobatan segera pada penderita
yang sakit, melakukan rujukan penderita yang tergolong berat, melakukan penyuluhan
mengenai penyakit malaria kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran agar tidak
tertular penyakit atau menghindari penyakit tersebut, melakukan gerakan kebersihan
lingkungan untuk memutuskan rantai penularan.
9. Evaluasi data sistem surveilans
Program surveilans sebaiknya dinilai secara periodic untuk dapat dilakukan evaluasi
manfaat kegiatan surveilans. Sistem dapat berguna apabila memenuhi salah satu dari
pernyataan berikut:
a. Apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan dan mengidentifikasi
perubahan dalam kejadian kasus.
b. Apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemic kejadian kasus di wilayah
tersebut.
c. Apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya morbiditas
dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di wilayah tersebut.
d. Apakah program surveilans dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang
berhubungan dengan kasus atau penyakit.
e. Indikator surveilans
Indikator surveilans meliputi:
- Kelengkapan laporan.
- Jumlah dan kualitas kajian epidemiologi dan rekomendasi yang dapat dihasilkan.
- Terdistribusinya berita epidemiologi lokal dan nasional.
- Pemanfaatan informasi epidemiologi dalam manajemen program kesehatan.
- Meningkatnya kajian Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) penyakit.
2.3 Hambatan yang terjadi dalam surveilans epidemiologi
Ada beberapa hambatan surveillans epidemiologi, dintaranya:
1) Kerjasama lintas sektoral
Surveillens epidemiologi harus bekerjasama dengan berbagai sektor yang berkaitan
dengan kesehatan, kerjasama tersebut membutuhkan partisipasi yang penuh untuk tecapainya
pemecahan masalah kesehatan, kadang kala sektor yang lain mempunyai pertisipasi yang
rendah dalam kerjasama lintas sektoral tersebut.
2) Partisipasi masyarkat rendah
Surveillens epidemiologi yang memang menangani masalah kesehatan masyrakat
eharusnya benar-benar menggali informasi dari masyarakat dan penanganannyapun hasrus
dengan masyarakat, sering dijumpai partsipasi masyarakat dalam pengambilan informasi dari
petugas kesehatan berbelitbelit dan cenderung enutup-nutupi.
3) Sumber daya
Hambatan yang paling menonjol dari hasil penelitian ini adalah sumber daya
manusia. Hambatan yang berhasil di identifikasi berdasarkan persepsi renponden adlah
sebagai berikut ;
- Jumlah tenaga yang kurang untuk mengcover kegiatan PE
- Banyaknya tugas rangkap.
- Sarana Komputer, biasanya komputer bergantian untuk menyelesaikan tugas lain.

4) Ilmu pengetahuan dan teknologi
Surveillans epidemiologi membutuhkan teknologi teknologi untuk mempercepat
deteksi din, analisis penanggulangan dan penanggulangan masalah kesehaatan, kondisi di
lapangan seringkali tenologi di laboratorium sering lambat sehingga mengganggu tahap
deteksi dini dan penanganan kasus akan terlambat.
5) Kebijakan
Seringkali kebijakan dari pemerintah dirasa masih menghambat dalam pelaksanaan
surveilans. Contohnya saja baru ditangani apabila memang sudah menjadi KLB. Birokrasi
pemerintahan yang rumit sering menjadi kendala dalam melakukan surveilans. Kebijakan
yang belum dipahami petugas juga menjadi kendala dalam pelaksanaan surveilans.
6) Dana
Kegiatan surveilans ini tidak membutuhkan dana yang sedikit juga. Sering kali
permasalahan dana menjadi penghambat dalam melakukan surveilans.
7) Jarak dan Transportasi
Lokasi yang jauh dari perkotaan dan minimnya transportasi membuat kegiatan
surveilans terhambat. Sering kali jarak membuat kegiatan surveilans berlangsung berhari-hari
karena transportasi yang minim dan jarak yang jauh. Kondisi jalan juga mempengaruhi.

2.4 Ruang Lingkup Surveilans Epidemiologi
1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan
factor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular.
Ruang lingkupnya antara lain :
- Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
- AFP
- Penyakit potensial wabah atau klb penyakit menular dan keracunan
- Penyakit DBD/DSS
- Malaria
- Penyakit zoonosis, antraks, rabies, leptospirosis, dsb.
- Penyakit filariasis
- Penyakit tuberkulosis
- Penyakit diare, tifus perut, kecacingan, dan penyakit perut lainnya
- Penyakit kusta
- Penyakit HIV/AIDS
- Penyakit Menular Seksual
- Penyakit pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (termasuk SARS)

2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan factor
risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
Ruang lingkupnya antara lain :
- Hipertensi, Stroke dan Penyakit Jantung Koroner (PJK)
- Diabetes Mellitus
- Neoplasma
- Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)
- Gangguan mental
- Masalah kesehatan akibat kecelakaan

3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan factor risiko untuk
mendukung program penyehatan lingkungan.
Ruang lingkupnya antara lain :
- Sarana Air Bersih
- Tempat-tempat umum
- Pemukiman dan Lingkungan Perumahan
- Limbah industri, RS dan kegiatan lainnya
- Vektor penyakit
- Kesehatan dan Keselamatan Kerja
- RS dan sarana yankes lain, termasuk Infeksi Nosokomial (INOS)

4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan factor
risiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
Ruang lingkupnya antara lain:
- Surveilans gizi dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
- Gizi mikro (Kekurangan yodium, anemia zat Besi KVA)
- Gizi lebih
- Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk kesehatan reproduksi (Kespro)
- Penyalahgunaan napza
- Penggunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional, bahan kosmetika serta peralatan
- Kualitas makanan dan bahan tambahan makanan

5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan factor
risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra.
Ruang lingkunya antara lain:
- Kesehatan Haji
- Kesehatan Pelabuhan dan Lintas Batas Perbatasan
- Bencana dan masalah sosial
- Kesehatan matra laut dan udara
- KLB Penyakit dan Keracunan

SCREENING
Screening atau penyaringan kasus adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang
belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat
memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin
tidak menderita.
Latar belakang sehingga screening ini dilakukan yaitu karena hal berikut ini:
1. Banyaknya kejadain penomena gunung es (Ice Berg Phenomen)
2. sebagai langkah pencegahan khususnya Early diagnosis dan prompt treatment
3. Banyaknya penyakit yang tanpa gejala klinis
4. Penderita mencari pengobatan setelah studi lanjut
5. Penderita tanpa gjl mempunyai potensi untuk menularkan penyakit
TUJUAN SCREENING :
1. Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang-
orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang
mempunyai resiko tinggi terkena penyakit (Population at risk).
2. Dengan ditemukan penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas
sehingga tidak membahayakan dirinya atau lingkungan dan tidak menjadi sumber
penularan penyakit.
SASARAN
Sasaran penyaringan adalah penyakit kronis seperti :
 Infeksi Bakteri (Lepra, TBC dll.
 Infeksi Virus (Hepatitis
 Penyakit Non-Infeksi : (Hipertensi, Diabetes mellitus, Jantung Koroner, Ca Serviks,
Ca Prostat, Glaukoma)
 HIV-AIDS
PROSES PENYARINGAN
Proses pelaksanaan sceening adalah :
Tahap 1 : melalukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai
resiko tinggi menderita penyakit.
 Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
 Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap 2
Tahap 2 : pemeriksaan diagnostik
 Hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan.
 Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit (dilakukan pemeriksaan ulang secara
periodik).
Pengolahan dan Pelaporan
Kegiatan perekaman, pengumpulan, pengolahan dan pelaporan data menjadi bagian
penting dari upaya memperoleh data yang dihimpun dari berbagai sumber data surveilans.
Misalnya surveilans campak, maka tugas besar surveilans adalah merekam semua kasus
campak yang ada di Puskesmas, Rumah Sakit dan sumber data lainnya, kemudian
menghimpun dan mengolahnya menjadi kelompok-kelompok data yang merupakan distribusi
kasus-kasus campak sesuai karakteristik epidemiologi yang diperlukan.
Sebelum menemukan dan mengimpun kasus-kasus dalam rangkaian kegiatan
surveilans, perlu jelas :
1. Apakah problem kesehatan yang mendorong perlunya surveilans suatu
2. penyakit ?
3. Apakah tujuan surveilans telah jelas menjawab kebutuhan informasi untuk
4. manajemen program ?
5. Apakah kasus-kasus yang dimaksud sesuai dengan upaya memenuhi
6. informasi untuk manajemen program ? atau SKD_-KLB ?
7. Apakah kasus-kasus yang dimaksud terdapat pada suatu sumber data
8. tertentu ? Siapa dan bagaimana menemukan kasus-kasus tersebut ?
9. Apakah kasus-kasus yang dihimpun akan memperoleh data jumlah absolut,
10. rate secara total atau menurut karekateristik tertentu ?
Kasus campak, dan juga kasus-kasus yang lain, adalah seseorang atau suatu obyek
tertentu, yang menunjukkan ciri-ciri tertentu, berada pada tempat tertentu dan pada waktu
tertentu, sehingga ia dinyatakan oleh seseorang yang mengumpulkan data surveilans sebagai
kasus campak atau kasus-kasus lainnya. Kasus satu dengan kasus lain perlu ditetapkan ciri-
ciri tertentu yang spesifik, sehingga dapat dipilah berbagai jenis kasus yang ada di unit
sumber data. Rumusan ciri kasus tersebut disebut sebagai definisi operasional kasus.
Definsi operasional kasus adalah alat pemilah antara kasus dan bukan kasus. Ketidak
tepatan “definisi operasional kasus A”, misalnya, dapat berakibat suatu obyek dinyatakan
sebagai kasus A, padahal sebenarnya bukan, sebaliknya, suatu obyek dinyatakan sebagai
bukan kasus A, padahal sebenarnya adalah kasus A. Apabila terdapat 1000 obyek dinyatakan
sebagai kasus A, maka bisa terdapat 900 obyek benar sebagai kasus A, tetapi terdapat 100
obyek yang sebenarnya bukan kasus A, sehingga pengukuran besarnya angka kesakitan
menjadi tidak tepat (validitas).
Reliabilitas
Definisi operasional kasus adalah alat untuk menentukan suatu diagnosis, baik
berdasarkan gambaran klinis, dan atau dukungan pemeriksaan lainnya. Reliabilitas adalah
konsistensi suatu definisi operasional kasus ketika digunakan untuk menetapkan kasus atau
bukan kasus, baik oleh petugas yang sama pada waktu berbeda (konsistensi intra petugas),
atau antara satu petugas dengan petugas lain (konsistensi antar petugas) Untuk menjaga
reliabilitas, maka perlu ada pedoman, prosedur operasional standar, pelatihan, dan
monitoring-evaluasi penerapan definisi operasional kasus.
Faktor yg mempengaruhi:
1. Variabilitas alat
2. Variasi subyek
3. Variasi pemeriksa
Cara mengurangi variasi:
1. Standarisasi alat
2. Latihan intensif para pemeriksa
3. Penerangan yang jelas kepada orang yang akan diperiksa
Contoh
Definisi operasional (DO) kasus campak adalah demam, bercak merah disertai dengan
salah satu gejala diare, mata merah conjunctivitis atau batuk Pada DO kasus campak tersebut,
pengertian demam bisa berbeda satu petugas dengan petugas lain. Pada saat ditemukan kasus
oleh petugas A di Puskesmas, dengan hasil perabaan dahi menunjukkan demam, ditemukan
bercak kemerahan dan batuk, maka sesuai dengan DO kasus campak tersebut dimasukkan
sebagai kasus campak. Tetapi pada saat kasus yang sama tersebut datang ke petugas B, ia
menyebut bukan kasus campak, karena pada perabaan dahi dinyatakan suhu normal, atau
tidak demam. Pengukuran suhu oleh satu petugas bisa berbeda-beda metodenya, misalnya
satu saat petugas mengukur suhu badan pada ketiak, saat lain mengukur suhu badan pada
mulut, tetapi pengukuran dengan alat yang sama bisa dihasilkan simpulan yang berbeda, baik
karena cara menggunakan alat, maupun interpretasinya.

Validitas (sensitivitas, spesifisitas)
Validitas adalah menyatakan seberapa yakin (sahih) kasus dan bukan kasus yang
ditetapkan berdasarkan definisi operasional kasus tersebut benar sebagai kasus atau bukan
kasus. Validitas terdiri dari 2 jenis, sensitivitas dan spesifisitas.
1. Sensitivitas pada suatu definisi operasional kasus adalah menunjukkan kepekaan
seberapa besar sejumlah kasus yang diperiksa dinyatakan sebagai kasus berdasarkan
definisi operasional kasus.
2. Spesifisitas pada suatu definisi operasional kasus adalah menunjukkan kepekaan
seberapa besar sejumlah bukan kasus yang diperiksa dinyatakan sebagai bukan kasus
berdasarkan definisi operasional kasus. Secara teknis, “kasus yang diperiksa” atau
“kejadian yang diperiksa ternyata bukan kasus” itu adalah kejadian-kejadian yang
ditetapkan sebagai kasus dan bukan kasus dengan alat yang lebih canggih atau disebut
“gold standard”
Validitas merupakan karakter definisi operasional kasus yang sangat penting.
Pembahasan lebih luas pada bahasan atribut surveilans Berdasarkan pembahasan tersebut
diatas, maka suatu definisi operasional kasus mengandung penjelasan mengenai kejadian apa,
kapan dan dimana kejadian tersebut, dan disusun sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
tujuan surveilans, dan terjawabnya pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. Definisi
operasional kasus disusun sedemikan rupa sesuai dengan cara menemukan obyek kasus, cara
merekamnya, cara pengolahan data, pelaporan dan desain analisis yang akan dilakukan.
Rumusan definisi operasional kasus juga perlu memperhatikan reliabilitas dan validitas serta
atribut surveilans lainnya serta kemampuan untuk memperoleh datanya.
Contoh :
Siatuasi kasus Campak
1. Seseorang yang menderita campak, maka kemungkinan berobat, sebagian tidak
berobat. Sebagian besar berobat ke Puskesmas dan sebagian yang lain ke Rumah Sakit.
2. Pencarian pengobatan terkendala jarak, dimana kasus-kasus dekat Puskesmas/Rumah
Sakit akan punya peluang berobat lebih besar dibanding kasus-kasus campak yang jauh
dari Puskesams/Rumah Sakit.
3. Program pengendalian campak dengan melaksanakan imunisasi pada anak usia 9- 11
bulan. Imunisasi juga dilakukan pada anak Sekolah Dasar kelas 1 (booster). Imunisasi
khusus juga dilaksanakan pada anak 1-4 tahun yang dilaksanakan secara massal.
4. Program memerlukan informasi, daerah manakah yang banyak kasus campak ? pada
usia berapakah paling sering terjadi kasus campak ? Apakah program imunisasi berhasil
menurunkan angka kesakitan campak ?

Berdasarkan kebutuhan program dan cara-cara penderita mencari pengobatan, maka
dirumuskan definisi operasional kasus campak Definisi operasional kasus campak adalah
seseorang yang berobat ke Puskesmas/Rumah Sakit dengan gejala demam, bercak merah
disertai dengan salah satu gejala diare, mata merah conjunctivitis atau batuk Pada kasus juga
direkam variabel yang diperlukan : nama tempat tinggal (kelurahan/desa), tanggal berobat,
umur, dan status imunisasi campak. Pada definisi operasional kasus tersebut tidak
memasukkan batasan waktu dan lokasi, tetapi untuk surveilans pada KLB, perlu menetapkan
batasan waktu dan lokasi.
Data yang diperoleh akan dianalisis dan diinformasikan pada pengelola program :
1. Distribusi kasus menurut Puskesmas pertahun dengan populasi berisiko penduduk
diperoleh dari BPS setempat
2. Perkembangan kasus menurut umur, sehingga dapat diketahui pola kurva bulanan
kejadian campak di daerah tersebut
3. Perkembangan kasus menurut umur, sehingga dapat diketahui pola kurva tahunan
kejadian campak dan hubungannya dengan cakupan imunisasi campak