You are on page 1of 3

Respirasi merupakan proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi.

Respirasi dilakukan oleh semua makhluk hidup dengan semua penyusun tubuh, baik sel
tumbuhan maupun sel hewan, dan manusia. Respirasi ini dilakukan baik siang maupun
malam (syamsuri, 1980).
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea, yang terbuat dari pipa yang
becabang di seluruh tubuh, merupakan salah satu variasi dari permukaan respirasi internal yang
melipat-lipat dan pipa yang terbesar itulah yang disebut trakea. Bagi seekor serangga kecil, proses
difusi saja dapat membawa cukup O2 dari udara ke sistem trakea dan membuang cukup CO2 untuk
mendukung sistem respirasi seluler. Serangga yang lebih besar dengan kebutuhan energi yang
lebih tinggi memventilasi sistem trakeanya dengan pergerakan tubuh berirama (ritmik) yang
memampatkan dan mengembungkan pipa udara seperti alat penghembus (Campbell, 2005).
Kandungan katalis disebut juga enzim, sangat penting untuk siklus reaksi respirasi (sebaik-
baiknya proses respirasi ). Beberapa reaksi kimia membolehkan mencampur dengan fungsi
dari enzim dengan mengkombinasi dengan sisi aktifnya (mertens, 1966).
Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam tubuh
serta membuang CO
2
dari dalam tubuh. Respirasi ekternal sama dengan bernafas,
sedangkan respirasi internal seluler ialah proses penggunaan oksigen oleh sel tubuh dan
pembuangan zat sisa metabolisme sel yang berupa CO
2
, penyelenggaraan respirasi harus
didukung oleh alat pernafasan yang sesuai yaitu, alat yang dapat digunakan oleh hewan
untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya, alat yang dimaksud dapat berupa
alat pernafasan khusus ataupun tidak. (Wiwi isnaeni, 2006).
Proses respirasi pada umumnya meliputi empat bagian yaitu keluar masuknya udara
antara dua organ pernapasan (alveole paru-paru) yang disebut ventilasi polmonum, difusi
O2 dan CO2 antara udara dan alveole dan dalam darah, dan Transport O2 dan CO2 dalam
darah / cairan tubuh ke dan dari sel serta pengaturan ventilasi dan segi-segui respirasi
lainnya (Robby Primadani,2006)
Konsumsi oksigen dapat dipengaruhi oleh beberapa factor sepertiintensitas dari
metabolisme oksidatif dalam sel, kecepatan pertukaran yang mengkontrol perpindahan air
disekitar insang yang berdifusi melewatinya, kecepatan sirkulasi darah dan volume darah
yang dibawa menuju insang dan afinitas oksigen dari haemoglobin ( Longer dalam Aeni ,
2009)
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh
tubuh per satuan waktu. Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi
merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya
oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat
dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen
yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi
dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk
menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme
biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang
mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan,
dan aktivitas (Tobin, 2005). Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara,
antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun
respirometer Scholander.
KOH befungsi untuk mengikat karbon dioksida. Respirometer sederhana adalah
alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan beberapa
macam organismehidup seperti serangga.Respirometer ini terdiri atas dua bagian yang
dapat dipisahkan, yaitu tabung spesimen (tempat hewan atau bagian tumbuhan yang
diselidiki) dan pipa kapiler berskala yang dikaliberasikan teliti hingga 0,01 ml. Kedua
bagian ini dapat disatukan amat rapat hingga kedap udara dan didudukkan pada penumpu
(landasan) kayu atau logam. Alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa
dalam pernapasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme dan ada karbon
dioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organisme yang bernapas itu disimpan dalam
ruang tertutup dan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup
itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang
itu dapat dicatat (diamati) pada pipa kapiler berskala.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Respirometer/sabtu/171009/19.00)
Masukkan hewan yang telah ditimbang ke dalam botol respirometer kemudian
tutup botol respirometer dengan pipa respirometer yang berskala. Olesi bagian sambungan
botol dan pipa dengan vaselin. Fungsi dari vaselin disini adalah agar tidak terjadi
pertukaran udara. Pastikan menutup sambungannya benar-benar rapat. Letakkan
respirometer tadi dengan meja, dan pasangkan pada statifnya.
Tetesi eosin pada ujung pipa respirometer yang terbuka Dan tempat eosin harus
sejajar dengan angka nol. Apabila tidak sejajar dengan angka nol maka dalam
perhitungannya nanti harus dikurangi dengan angka awal. Di angka berapa eosin diam
selama waktu 5 menit lalu kurangi hail tersebut dengan angka ketika pertama kali eosin
dimulai. Amati pergerakan eosin tersebut lalu catatlah jarak yang ditempuh eosin selama 5
menit dan hasil yang di dapat adalah 0,87 lalu teteskan eosin sejajar dengan angka nol dan
catat jarak yang di tempuh selama 5 menit dan hasil yang di dapat adalah 0,46 dan lakukan
hal yang sama dan hasil yang di dapat adalah 0,37.
Analisis!!!!!!
Pernapasan pada serangga dengan menggunakan trakea dimana udara yang ada masuk
secara difusi, penyebab terjadinya difusi pada belalang karena dalam proses respirasi
khususnya pada belalang, O
2
agar dapat dipindahkan dari lingkungan ke dalam tubuh
melintasi membran respirasi yang permukaannya pada tiap serangga tidak sama dan juga
membran ini mengandung kapiler, sehingga agar masuk ke dalam tubuh serangga harus
melalui mekanisme difusi secara pasif. Sistem pernapasan trakea pada serangga yaitu udara
masuk melalui stigma, dan masuk ke dalam trakea, terlebih dahulu udara ini disaring oleh
rambut-rambut halus yang terdapat pada stigma sehingga udara dan debu dapat dipisahkan.
Karena adanya kontraksi tubuh yang menjadikan tubuh serangga kembang kempis
sehingga pembuluh trakea ikut kembang kempis. Akibatnya udara dapat beredar keseluruh
bagian sel tubuh dan diedarkan oleh trakeolus yaitu cabang-cabang kecil trakea yang
menembus jaringan kecil.


A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut,
1. Oksigen diperlukan dalam proses pernapasan
2. Tingkat kebutuhan oksigen pada setiap hewan berbeda tergantung dari jenis hewan
dan habitat
hewan tersebut.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi diantaranya seperti ketersediaan oksigen,
aktivitas,
berat tubuh, suhu dan jenis hewan
4. Dari data yang dihasilkan maka dapat disimpulkan hewan kecil memerlukan lebih
banyak oksigen
dalam pernapasan, daripada hewan besar. Hal ini, dikarenakan ukuran tubuh dan aktivitas
hewan
merupakan faktor yang mempengaruhi dalam proses respirasi.



Campbell,dkk. 2005. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Mertens, Thomas R, dkk.1966. Laboratory Exercises In The Principles Of Biology. India:
Burgesspublishing Company.
Robby Primadani. 2006. Laporan Praktikum Fisiologi Hewan : Respirasi . Banjarmasin :
Prodi Pendidikan Biologi Jurusan MIPA FKIP Uuniversitas Lambung Mangkurat .
Syamsuri, Istamar.1980. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Canada: Thomson Brooks/Cole.

Wiwi Isnaeni. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Kanisius