You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan zaman,
maka diperlukan suatu produk dengan ketelitian dan akurasi tinggi, dan
waktu pengerjaan yang singkat. Begitu juga dengan permasalahan dalam
bidang ilmu pengetahuan fisika murni maupun terapan, bidang rekayasa
teknik metalurgi, mesin, elektro, sipil dan lain-lain dituntut hal yang sama,
dimana dalam suatu perhitungan dengan data numerik membutuhkan
ketelitian dan akurasi yang cukup baik. Pada saat teknologi informasi
belum ada atau boleh dikatakan belum maju pesat, para praktisi dan
profesional di bidang rekayasa teknik dan sain menganalisa dengan
perhitungan manual. Simplifikasi digunakan dimana struktur yang sangat
kompleks disederhanakan menjadi struktur yang lebih sederhana. Artinya
akan terjadi perbedaan dari suatu permodelan dengan kondisi aktual. Hal
ini dilakukan untuk menghindari kesulitan dalam analisa.
Adanya perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat pada
saat ini mendorong para praktisi untuk mengembangkan cara baru agar
pekerjaan analisa dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih efektif.
Metode kalkulasi dengan matriks dapat dilakukan dengan mudah
menggunakan teknologi informasi. Sudah banyak persoalan di bidang
teknik maupun sain yang dapat diselesaikan dengan menggunakan
permodelan matematika. Sering kali permodelan matematika tersebut
muncul dalam bentuk yang tidak ideal, sehingga tidak dapat diselesaikan
dengan menggunakan metode analitik untuk mendapatkan solusi sejatinya
(exact solution).

1
Jika persoalan-persoalan yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan
dengan metode permodelan matematika metode analitik menggunakan
dalil-dalil kalkulus, maka solusinya dapat diperoleh dengan metode
numerik. Metode numerik secara harfiah berarti suatu cara berhitung
dengan menggunakan angka-angka, sedangkan secara istilah metode
numerik adalah teknik yang digunakan untuk memformulasikan persoalan
matematik sehingga dapat diselesaikan dengan operasi aritmatika biasa.
Dengan menggunakan metode numerik, solusi exact dari persoalan
yang dihadapi tidak akan diperoleh. Metode numerik hanya bisa
memberikan solusi yang mendekati atau menghampiri solusi sejati
sehingga solusi numerik dinamakan juga solusi hampiran ( approximation
solution). Pendekatan solusi ini tentu saja tidak tepat sama dengan solusi
sejati, sehingga ada selisih antara keduanya. Solusi tersebut disebut solusi
galat (error). Semakin kecil galat yang diperoleh berarti semakin dekat
solusi hampiran yang diperoleh dengan solusi sejatinya.

1.2 Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mempermudah
pemahaman prinsip dasar mengenai integrasi numerik khususnya dengan
menggunakan Aturan Simpson sehingga dalam pengaplikasiannya di
lapangan menjadi lebih mudah dan akurat.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Integrasi Numerik

Gambar 1 Integral Suatu Fungsi

Integral suatu fungsi adalah operator matematik yang
dipresentasikan dalam bentuk:

b
I = ∫ f ( x ) dx
a

dan merupakan integral suatu fungsi f (x) terhadap variabel x dengan
batas-batas integrasi adalah dari x = a sampai x = b. Seperti pada Gambar
1 dan persamaan di atas yang dimaksud dengan integral adalah nilai total
atau luasan yang dibatasi oleh fungsi f (x) dan sumbu-x, serta antara batas
x = a dan x = b. Dalam integral analitis, persamaan (7.1) dapat diselesaikan
menjadi:

3
b

∫ f ( x) dx = [ F ( x)] a = F (b) − F (a )
b

a

dengan F (x) adalah integral dari f (x) sedemikian sehingga F ' (x) = f (x).

Sebagai contoh:

3
3
1 3  1 1 3
∫ x dx =  x  =  (3) − (0)  = 9.
2 3

0 3  0 3 3 

Integral numerik dilakukan apabila:

1) Integral tidak dapat (sukar) diselesaikan secara analisis.
2) Fungsi yang diintegralkan tidak diberikan dalam bentuk analitis,
tetapi secara numerik dalam bentuk angka (tabel).

Metode integral numerik merupakan integral tertentu yang
didasarkan pada hitungan perkiraan. Hitungan perkiraan tersebut
dilakukan dengan fungsi polinomial yang diperoleh berdasar data tersedia.
Bentuk paling sederhana adalah apabila tersedia dua titik data yang dapat
dibentuk fungsi polinomial order satu yang merupakan garis lurus (linier).
Seperti pada Gambar 2a, akan dihitung:

b
I = ∫ f ( x ) dx
a

yang merupakan luasan antara kurva f (x) dan sumbu-x serta antara x = a
dan x = b, bila nilai f (a) dan f (b) diketahui maka dapat dibentuk fungsi
polinomial order satu f1(x).

Dalam gambar tersebut fungsi f (x) didekati oleh f1(x), sehingga
integralnya dalam luasan antara garis f1(x) dan sumbu-x serta antara x = a
dan x = b. Bidang tersebut merupakan bentuk trapesium yang luasannya
dapat dihitung dengan rumus geometri, yaitu:

4
f (a ) + f (b)
I = ( b −a)
2

Dalam integral numerik, pendekatan tersebut dikenal dengan
metode trapesium. Dengan pendekatan ini integral suatu fungsi adalah
sama dengan luasan bidang yang diarsir (Gambar 2), sedang kesalahannya
adalah sama dengan luas bidang yang tidak diarsir.

Apabila hanya terdapat dua data f (a) dan f (b), maka hanya bisa
dibentuk satu trapesium dan cara ini dikenal dengan metode trapesium satu
pias. Jika tersedia lebih dari dua data, maka dapat dilakukan pendekatan
dengan lebih dari satu trapesium, dan luas total adalah jumlah dari
trapesium-trapesium yang terbentuk. Cara ini dikenal dengan metode
trapesium banyak pias. Seperti pada Gambar 2b, dengan tiga data dapat
dibentuk dua trapesium, dan luas kedua trapesium (bidang yang diarsir)
adalah pendekatan dari integral fungsi. Hasil pendekatan ini lebih baik dari
pada pendekatan dengan satu pias. Apabila digunakan lebih banyak
trapesium hasilnya akan lebih baik.

Fungsi yang diintegralkan dapat pula didekati oleh fungsi
polinomial dengan order lebih tinggi, sehingga kurva yang terbentuk tidak
lagi linier, seperti dalam metode trapesium, tetapi kurva lengkung. Seperti
pada Gambar 2c, tiga data yang ada dapat digunakan untuk membentuk
polinomial order tiga. Metode Simpson merupakan metode integral
numerik yang menggunakan fungsi polinomial dengan order lebih tinggi.

5
Metode Simpson 1/3 menggunakan tiga titik data (polinomial order dua)
dan Simpson 3/8 menggunakan empat titik data (polinomial order tiga).
Jarak antara titik data tersebut adalah sama.

Gambar 2 Metode Integral Numerik

Metode numerik merupakan teknik yang digunakan untuk
memformulasikan persoalan matematik sehingga dapat dipecahkan dengan
operasi hitungan/aritmatika biasa. Solusi angka yang didapatkan dari
metode numeric adalah solusi yang mendekati nilai sebenarnya/solusi
pendekatan (approximation) dengan tingkat ketelitian yang kita inginkan.
Karena tidak tepat sama dengan solusi sebenarnya, ada selisih diantara
keduanya yang kemudian disebut galat/error. Metode numeric dapat
menyelesaikan persoalan didunia nyata yang seringkali non linier, dalam
bentuk dan proses yang sulit diselesaikan dengan metode analitik.
Metode numerik juga merupakan piranti utama yang dipakai
ilmuwan dalam mencari pendekatan jawaban untuk integral tentu yang
tidak bisa diselesaikan secara analitik. Pada bidang statistika termodinamik,
model Debye untuk menghitung kapasitas panas dari benda memenuhi
fungsi:

saat tidak ada pernyataan analitik untuk Ô(x) , integrasi numerik harus
digunakan untuk mencari nilai pendekatannya. Sebagai contoh, nilai Ô(5)
adalah area dibawah kurva y=f(t)=t3/(et-1) untuk 0 t 5.

6
Tujuan dari pembahasan materi ini adalah untuk memahami prinsip
–prinsip dasar integrasi numerik. Sasaran dasarnya adalah pendekatan
integral tentu f(x) pada selang a_ x_b dengan sejumlah titik-titik sampel
(sample nodes), (x0,f0), (x1,f1), (x2,f2),…., (xM,fM) dengan f k=f(xk).
Rumus pendekatan berbentuk:

Nilai-nilai ù0, ù 1,…, ùM berupa konstanta atau bobot. Tergantung
pada penerapan yang diinginkan, simpul-simpul xk dipilih dalam berbagai
cara. Untuk aturan Trapesium, Simpson, dan aturan Boole, simpul-simpul
xk=a+hk dipilih berjarak sama. Untuk integrasi Gauss-Legendre simpul-
simpul dipilih berupa titik-titik nol dari polinom-polinom Legendre
tertentu. Bilamana formula integrasi dipakai menurunkan suatu algoritma
eksplisit untuk memecahkan persamaan diferensial, simpul-simpul
semuanya dipilih lebih kecil dari b. Beberapa formula umum yang
berdasarkan pada interpolasi polinom disebut formula integrasi Newton
Cotes. Ketika titik sample x0=0 dan xM=b digunakan dalam formula,
formula tersebut dinamakan formula Newton Cotes tertutup.

7
Berikut ini adalah beberapa metode integrasi numerik yang popular
digunakan:
a. Trapezoidal Rule (Aturan Trapesium)
Simplicity, Optimal for improrer integrals, Needs a large
number of sub intervals for good accuracy.

b. Simpson’s 1/3 Rule
Simplicity. Higher accuracy than trapezoidal rule, Even
number of interval only.

c. Multiple -application Simpson’s 1/3 Rule.
d. Simpson’s 3/8 Rule.
e. Newton Cotes.
f. Romberg Integration.
g. Gauss Quadrature.

2.2 Metode Integrasi Simpson
Di samping menggunakan rumus trapesium dengan interval yang
lebih kecil, cara lain untuk mendapatkan perkiraan yang lebih teliti adalah
menggunakan polinomial order lebih tinggi untuk menghubungkan titik-
titik data. Misalnya, apabila terdapat satu titik tambahan di antara f (a) dan
f (b), maka ketiga titik dapat dihubungkan dengan fungsi parabola
(Gambar 3a). Apabila terdapat dua titik tambahan dengan jarak yang sama
antara f (a) dan f (b), maka keempat titik tersebut dapat dihubungkan
dengan polinomial order tiga (Gambar 3b). Rumus yang dihasilkan oleh

8
integral di bawah polinomial tersebut dikenal dengan metode (aturan)
Simpson.

Gambar 3 Aturan Simpson

2.2.1 Aturan-Aturan Simpson
2.2.1.1 Aturan Simpson 1/3

Gambar 4 Penurunan metode Simpson

9
Di dalam aturan Simpson 1/3 digunakan
polinomial order dua (persamaan parabola) yang
melalui titik f (xi – 1 ), f (xi) dan f (xi ) untuk
+ 1

mendekati fungsi. Rumus Simpson dapat
diturunkan berdasarkan deret Taylor. Untuk itu,
dipandang bentuk integral berikut ini.

x
I ( x) = ∫ f ( x) dx
a

(persamaan 1)

Apabila bentuk tersebut didiferensialkan
terhadap x, akan menjadi:

dI ( x )
I ' ( x) = = f ( x)
dx
(persamaan 2)

Dengan memperhatikan Gambar 4 dan persamaan
(2) maka persamaan deret Taylor adalah:

Δx2 Δ x3
I ( xi +1 ) = I ( xi +Δ x ) =I ( xi ) +Δ x f ( xi ) + f ' ( xi ) + f ' ' ( xi
2! 3!

Δ x4
+ f ' ' ' ( xi ) + O ( Δ x 5 )
4!

(persamaan 3)
Δx2 Δ x3
I ( xi −1 ) = I ( xi −Δ x ) =I ( xi ) −Δ x f ( xi ) + f ' ( xi ) − f ' ' ( xi )
2! 3!

Δx 4
+ f ' ' ' ( xi ) − O ( Δ x 5 )
4!

(persamaan 4)

10
Pada Gambar 4, nilai I (xi + 1 ) adalah luasan
dibawah fungsi f (x) antara batas a dan xi + 1.
Sedangkan nilai I (xi − 1) adalah luasan antara batas
a dan I (xi − 1). Dengan demikian luasan di bawah
fungsi antara batas xi − 1 dan xi + 1 yaitu (Ai), adalah
luasan I (xi + 1) dikurangi I (xi − 1) atau persamaan
(3) dikurangi persamaan (4).

Ai = I (xi + 1) – I (xi −1)

Atau

Δx3
Ai = 2 Δ x f ( xi ) + f ' ' ( xi ) + O (Δ x 5 )
3

(persamaan 5)

Nilai f ''(xi) ditulis dalam bentuk diferensial
terpusat:

f ( xi −1 ) − 2 f ( xi ) + f ( xi +1 )
f ' ' ( xi ) = 2
+ O ( Δx 2 )
Δx

Kemudian bentuk diatas disubstitusikan ke dalam
persamaan 5. Untuk memudahkan penulisan,
selanjutnya notasi f (xi) ditulis dalam bentuk fi,
sehingga persamaan 5 menjadi:

Δx Δ x3
Ai = 2 Δ x f i + ( f i −1 − 2 f i + f i +1 ) + O ( Δ x 2 ) +O ( Δ x 5 )
3 3

atau

11
Δx
Ai = ( f i −1 + 4 f i + f i +1 ) +O (Δx 5 )
3
(persamaan 6)

Persamaan 6 dikenal dengan metode Simpson 1/3.
Diberi tambahan nama 1/3 karena ∆ x dibagi

b −a
dengan 3. Pada pemakaian satu pias, ∆x = ,
2
sehingga persamaan 6 dapat ditulis dalam bentuk:

b −a
Ai = [ f ( a ) + 4 f (c ) + f ( b) ]
6
(persamaan 7)

dengan titik c adalah titik tengah antara a dan b.

Kesalahan pemotongan yang terjadi dari metode
Simpson 1/3 untuk satu pias adalah:

1
εt = − Δ x 5 f ' ' ' ' (ξ )
90

b −a
Oleh karena ∆x = , maka:
2

(b − a ) 5
εt = − f ' ' ' ' (ξ )
2880

Contoh soal:

4
Hitung I = ∫ e dx , dengan aturan Simpson 1/3.
x

0

Penyelesaian:

12
Dengan menggunakan persamaan 7 maka luas
bidang adalah:
b −a
Ai = [ f (a) + 4 f (c) + f (b)] = 4 − 0 (e 0 + 4e 2 + e 4 ) = 56 ,769
6 6

Kesalahan terhadap nilai eksak:

53,598150 − 56 ,7696
εt= × 100 % = − 5,917 %.
53,598150

2.2.1.2 Aturan Simpson 1/3 dengan banyak pias
Seperti dalam metode trapesium, metode
Simpson dapat diperbaiki dengan membagi luasan
dalam sejumlah pias dengan panjang interval yang
sama (Gambar 5):
b −a
∆x =
n

dengan n adalah jumlah pias.

Gambar 5 Metode Simpson dengan banyak
pias

13
Luas total diperoleh dengan menjumlahkan semua
pias, seperti pada Gambar 5.
b

∫ f ( x) dx = A1 + A3 + ... + An − 1
a

(persamaan 8)

Dalam metode Simpson ini jumlah interval adalah
genap. Apabila persamaan 6 disubstitusikan ke
dalam persamaan 8 akan diperoleh:

b
Δx Δx Δx
∫ f ( x) dx = ( f 0 + 4 f1 + f 2 ) + ( f1 + 4 f 2 + f 3 ) + ... + ( fn − 2 + 4 fn −1 +
a 3 3 3

atau

b
Δx  n −1 n −2

∫ f ( x) dx =  f ( a ) + f (b ) + 4 ∑ f ( xi ) + 2 ∑ f ( xi )
a 3  i =1 i=2 

(persamaan 9)

Seperti pada Gambar 5, dalam penggunaan
metode Simpson dengan banyak pias ini jumlah
interval adalah genap. Perkiraan kesalahan yang
terjadi pada aturan Simpson untuk banyak pias
adalah:

(b − a ) 5
ε a =− f ''''
180 n 4

dengan f '''' adalah rerata dari turunan keempat
untuk setiap interval.

Contoh soal:

14
4
Hitung I = ∫ e x dx , dengan metode Simpson
0

dengan ∆ x = 1.

Penyelesaian:

Dengan menggunakan persamaan 9 maka luas
bidang adalah:

1
I = [ e 0 + e 4 + 4(e1 + e 3 ) + 2 e 2 ] = 53 ,863846 .
3

Kesalahan terhadap nilai eksak:

53 ,598150 − 53 ,863846
εt = ×100 % = 0,5 % .
53 ,598150

2.2.1.3 Metode Simpson 3/8
Metode Simpson 3/8 diturunkan dengan
menggunakan persamaan polinomial order tiga
yang melalui empat titik.

b b
I = ∫ f ( x) dx ≈ ∫ f 3 ( x) dx
a a

Dengan cara yang sama pada penurunan
aturan Simpson 1/3, akhirnya diperoleh:

3Δ x
I= [ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 )]
8

(persamaan 10)

15
dengan:
b −a
∆x =
3

Persamaan 10 disebut dengan metode
Simpson 3/8 karena ∆ x dikalikan dengan 3/8.
Metode Simpson 3/8 dapat juga ditulis dalam
bentuk:

I = (b − a)
[ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 ) ]
8
(persamaan 11)

Metode Simpson 3/8 mempunyai kesalahan
pemotongan sebesar:
3
εt =− Δ x 3 f ' ' ' ' (ξ )
80

(persamaan 12a)

b −a
Mengingat ∆x = , maka:
3

(b − a ) 5
ε t =− f ' ' ' ' (ξ )
6480

(persamaan 12b)

Metode Simpson 1/3 biasanya lebih
disukai karena mencapai ketelitian order tiga dan
hanya memerlukan tiga titik, dibandingkan
metode Simpson 3/8 yang membutuhkan empat
titik. Dalam pemakaian banyak pias, metode
Simpson 1/3 hanya berlaku untuk jumlah pias
genap. Apabila dikehendaki jumlah pias ganjil,
maka dapat digunakan metode trapesium. Tetapi
metode ini tidak begitu baik karena adanya

16
kesalahan yang cukup besar. Untuk itu kedua
metode dapat digabung, yaitu sejumlah genap pias
digunakan metode Simpson 1/3 sedang 3 pias
sisanya digunakan metode Simpson 3/8.

Contoh soal:

4
Dengan aturan Simpson 3/8 hitung I = ∫ e dx .
x

0

Hitung pula integral tersebut dengan
menggunakan gabungan dari metode Simpson 1/3
dan 3/8, apabila digunakan 5 pias dengan ∆ x =
0,8.

Penyelesaian:

a) Metode Simpson 3/8 dengan satu pias
Integral dihitung dengan menggunakan
persamaan (11):

I = (b − a )
[ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 ) ]
8

(e 0 + 3e1,3333 + 3e 2 ,6667 + e 4 )
I = ( 4 − 0) = 55 ,07798 .
8

Besar kesalahan adalah:

53 ,598150 − 55 ,07798
εt = ×100 % = − 2,761 % .
53 ,59815

17
b) Apabila digunakan 5 pias, maka data untuk
kelima pias tersebut adalah:
f (0) = e0 = 1 f (2,4) = e2,4 =
11,02318.

f (0,8) = e0,8 = 2,22554 f (3,2) = e3,2 =
24,53253.

f (1,6) = e1,6 = 4,9530 f (4) = e4 =
54,59815.

Integral untuk 2 pias pertama dihitung dengan
metode Simpson 1/3 (persamaan 7):

b −a
Ai = [ f ( a ) + 4 f (c ) + f ( b) ]
6

1,6
I = ( 1 + ( 4 × 2,22554 ) + 4,95303 ) = 3,96138 .
6

Tiga pias terakhir digunakan aturan Simpson
3/8:

I = (b − a)
[ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 ) ]
8

( 4,95303 + (3 ×11,02318 ) + (3 × 24 ,53253 ) + 54 ,59815 )
I = 2,4 = 49 ,86549 .
8

Integral total adalah jumlah dari kedua hasil
diatas:

I = 3,96138 + 49 ,86549 = 53 ,826873 .

Kesalahan terhadap nilai eksak:

18
53 ,598150 − 53 ,826873
εt = ×100 % = −0,427 %.
53 ,59815

2.2.2 Algoritma Metode Integrasi Simpson
(1) Definisikan y=f(x)
(2) Tentukan batas bawah (a) dan batas atas integrasi (b)
(3) Tentukan jumlah pembagi n
(4) Hitung h=(b-a)/n

2.3 Pengaplikasian Integrasi Numerik

2.3.1 Aturan Simpson Di Lapangan

Masalah getaran sering dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari. Respons suatu struktur yang tergetar dapat diwakili oleh
percepatan, kecepatan, atau perpindahan. Masalah yang dibahas
dalam penelitian ini ialah mengenai bagaimana mengolah sinyal
percepatan struktur menjadi respons lainnya dan menganalisis pola
percobaan dari struktur tersebut.

Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahapan. Pada tahap
pertama telah dibuat program perubahan sinyal percepatan menjadi
sinyal kecepatan dan perpindahan setelah dilakukan pengembangan

19
program akuisisi data. Tahap kedua meliputi pembuatan program
analisis pola percobaan untuk struktur sederhana dan percobaan
modus getar skala laboratorium bagi struktur sederhana tersebut.
Pada kedua tahapan, struktur uji yang berupa pelat tipis dianggap
tetap berada dalam keadaan elastis. Sebagian subrutin-subrutin
program pada tahap awal maupun program akuisisi dan
pembacaannya digunakan untuk penelitian tahap kedua.

Kajian tahap pertama memperlihatkan bahwa perpindahan
dan kecepatan dapat diperhitungkan dari percepatannya yang
diperoleh dengan bantuan satu peralatan penangkap sinyal dan
percepatan. Hasil penelitian ini yang berupa program perubahan
sinyal percepatan menjadi kecepatan dan perpindahan, juga
digunakan untuk mendapatkan kecepatan dan perpindahan tanah
dari satu rekaman percepatan tanah oleh satu strong motion
accelerograph. Rekaman percepatan tanah tersebut didapat akibat
adanya pergerakan tanah sewaktu gempa bumi terjadi. Teknik
perolehan respons perpindahan dari sinyal percepatan tersebut
dilakukan dalam 2 ranah, yaitu ranah waktu dan ranah frekuensi.
Pendekatan dalam ranah waktu dilakukan dengan 2 teknik
integrasi, yaitu formulasi Newton-Cotes dan Simpson. Kedua cara
tersebut dikombinasikan dengan koreksi garis basis. Teknik
koreksi garis basis yang digunakan ialah teknik waktu akhir nol.

Ranah frekuensi didekati dengan bantuan algoritma
transformasi Fourier cepat. Penerapan pada beberapa kasus studi
memperlihatkan bahwa hasil perolehan perpindahan dalam ranah
frekuensi memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan
dengan perolehan dalam ranah waktu. Hasil perolehan dalam ranah
frekuensi juga masih memperlihatkan beberapa kelemahan namun
secara umum masih lebih baik daripada hasil dalam ranah waktu.
Selain itu proses komputasi perolehan perpindahan dalam ranah

20
frekuensi masih lebih cepat bila dibandingkan dengan proses dalam
ranah waktu. Respons mekanik dapat mewakili perilaku mekanik
dari sebuah struktur yang terkena suatu eksitasi gaya. Respons
mekanik tersebut sangat dipengaruhi oleh parameter sistem
dinamik struktur tersebut. Kajian tahun kedua meliputi penentuan
parameter tersebut, yaitu pola getar, nilai-nilai frekuensi, dan
nisbah redaman yang ada pada suatu struktur sederhana. Parameter
dinamik ini dapat ditentukan melalui analisis pola percobaan pada
struktur tersebut. Parameter tersebut ditentukan dalam 4 tahapan,
yaitu pengujian data dan akuisisi data, penentuan fungsi respons
frekuensi, penentuan parameter dinamik, dan penggambaran pola
struktur. Untuk dapat melakukan tahap kedua dan ketiga,
dikembangkan 2 program terpisah untuk setiap tahapnya. Hasil
yang didapat melalui beberapa tahapan tersebut walau cukup baik
masih memperlihatkan kelemahan sehingga masih harus dilakukan
beberapa perbaikan program sebelum dapat digunakan untuk jenis
struktur yang lebih kompleks. Program akuisisi dan osiloskop yang
digunakan pada studi di tahap pertama dapat digunakan untuk
mengukur respons lain denga bantuan jenis transducer lainnya dan
amplifier yang bersesuaian. Jenis transducer dapat berupa
transducer perpindahan, strain gauge, pressure transducer, atau
yang lainnya.

Program yang digunakan pada tahap kedua selain dapat
diterapkan pada struktur pelat juga dapat diterapkan pada jenis
struktur lainnya. Program yang digunakan pada tahap ketiga selain
dapat diterapkan pada pelat tipis yang terbuat dari baja atau beton
serat (fiber), dapat juga diterapkan pada pelat tipis dengan jenis
bahan lain seperti tripleks. Selain itu program dapat juga digunakan
untuk mengenali pengaruh ketidaksempurnaan perletakan tepat
pada parameter yang didapat. Selain itu perluasan yang lebih jauh

21
meliputi program analisis pola percobaan pada dek atau lantai
jembatan konvensional. Kerusakan atau kelainan daya dukung
fondasi dalam pembangunan suatu gedung atau struktur lainnya
biasanya terjadi akibat kelalaian operator ataupun oleh kondisi
tanah. Program pendeteksian kerusakan struktural seperti program
analisis integritas tiang pancang beton atau tiang bor yang
mencakup salah satu jenis analisis dinamika tiang pancang beton,
dapat merupakan topik perluasan penelitian ini.

BAB III

22
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam dunia statistik khususnya matematika numerik terdapat
berbagai macam teknik integrasi metode-metode numerik dalam
pengaplikasiannya di dunia nyata salah satunya aturan simpson. Di dalam
aturan simpson terdapat dua bagian yaitu aturan simpson 1/3 dan 3/8.
Hampiran nilai integrasi yang lebih baik dapat ditingkatkan dengan
menggunakan polinom interpolasi yang berderajat lebih tinggi. Misalkan
fungsi f(x) dihampiri dengan polinom interpolasi derajat 2 yang grafiknya
berbentuk parabola. Luas daerah yang dihitung sebagai hampiran nilai
integrasi adalah daerah di bawah parabola, untuk itu dibutuhkan 3 buah
titik data,misalkan (0,f(0)), (h,f(h)),(2h,f(2h)). Sedangkan untuk aturan
simpson 3/8 dibutuhkan 4 buah titik dimana tingkat nilai dari integrasi
cenderung lebih baik dari pada aturan simpson 1/3.

3.2 Saran

Dalam aturan simpson terdapat dua bagian yaitu 1/3 dan 3/8. kedua
bagian aturan simpson ini dapat digunakan untuk diaplikasikan dalam
permasalahan-permasalahn yang ada dan membutuhkan perhitungan
secara numerik. Sebaiknya dalam menggunakan aturan simpson
gunakanlah bagian yang kedua karena aturan simpson 3/8 membutuhkan 4
buah titik yang tingkat nilai dari integritasnya cenderung lebih baik dari
pada aturan simpson 1/3.

DAFTAR PUSTAKA

23
- mat.um.ac.id/eLearning/numerik/Integrasi/Simpson2.htm. Internet

- Jack.2006. Buku ajar jurusan matematika, FMIPA,UNILA.

- http://lecturer.eepis-its.edu/~amang/pdf/bab6tm.pdf. Internet

- http://alifis.files.wordpress.com/2009/09/bab-iv-diferensiasi-integrasi-
komputasi-nume.pdf. Internet

24