You are on page 1of 19

1

REFERAT DAN LAPORAN KASUS


MIOMA UTERI









DISUSUN OLEH:
LISNA PUTRIANI
NPM: 08310176

PEMBIMBING:
dr. TAUFIK MAHDI, Sp.OG


SMF ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RUMAH SAKIT HAJI MEDAN
2014

2

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr. Wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul MIOMA UTERI.
Paper ini adalah salah satu syarat dalam mengikuti Kepanitraan Klinik Senior di Bagian
Ilmu Kebidanan dan Kandungan di Rumah Sakit Haji Medan.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu, saran dan
kritik penulis harapkan dari dosen pembimbing dan teman-teman co-ass lainnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Taufik Mahdi, Sp.OG atas
bimbingannya sehingga paper ini dapat penulis selesaikan.



Medan, Maret 2014

Penulis


3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab IPendahuluan .....................................................................................................................1
Bab II Tinjauan Pustaka
A. Definisi...........................................................................................................................2
B. Epidemiologi..................................................................................................................2
C. Etiologi...........................................................................................................................3
D. Patofisiologi...................................................................................................................4
E. Histopatogenesis.............................................................................................................5
F. Klasifikasi.......................................................................................................................6
G. Gejala klinis....................................................................................................................8
H. Diagnosa........................................................................................................................9
I. Penatalaksanaan............................................................................................................10
Bab III Kesimpulan ................................................................................................................ 15
Daftar Pustaka




4

BAB I
PENDAHULUAN

Mioma uteri merupakan suatu pertumbuhan jinak dari sel-sel otot polosrahim.Neoplasma
jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam
kepustakaan dikenal dengan istilah fibromioma, leiomioma, ataupun fibroid
1
.
Mioma banyak menimbulkan gangguan tapi ada juga yang tidakmenimbulkan keluhan
dan bahkan akan mengecil pada usia menopause. Tetapi beberapa mioma akan menimbulkan
gejala nyeri, gejala penekanan pada organ visera yang lain, perdarahan dan anemia atau
menyebabkan permasalahan kehamilan
2
.
Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20-25%), dimanaprevalensi mioma uteri
meningkat lebih dari 70 % dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus, membuktikan banyak
wanita yang menderita mioma uteri asimptomatik. Gejala mioma uteri secara medis dan sosial
cukup meningkatkan morbiditas, termasuk menoragia, ketidaknyamanan daerah pelvis, dan
disfungsi reproduksi
3
.








5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan otot polos,
jaringan fibroid dan kolagen. Beberapa istilah untuk mioma uteri antara lain fibromioma,
miofibroma, leiomiofibroma, fibroleiomioma, fibroma dan fibroid
2
.
Mioma uteri terdiri dari serabut-serabut otot polos yang diselingi dengan untaian jaringan
ikat, dikelilingi kapsul yang tipis.Tumor ini dapat berasal dari setiap bagian duktus Muller, tetapi
paling sering terjadi pada miometrium.Disini beberapa tumor dapat timbul secara
serentak.Ukuran tumor dapat bervariasi dari sebesar kacang polong sampai sebesar bola kaki.

B. Epidemiologi
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belom
pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10%
mioma yang masih bertumbuh.Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20% - 30% dari seluruh
wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39% - 11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat.
1

Prevalensi tertinggi untuk terkena mioma adalah pada decade ke lima dalam hidup
seorang wanita yang mana kejadiannya adalah 1 dari 4 wanita ras Caucasian dan 1 dari 2 wanita
ras kulit hitam. Leiomyoma uteri secara klinis dikatakan muncul pada 25-50% wanita walaupun
6

pada satu studi dengan pemeriksaan patologis yang teliti menyatakan bahwa angka prevalensi
boleh mencapai 80%.
Insiden pada wanita berkisar sekitar 20% - 25% tetapi dalam studi-studi penelitian
menggunakan histologi dan pemeriksaan sonografi menunjukkan angka insidens meningkat
hingga 70% - 80%.
3
Tumor jinak ini sering didapatkan pada 20% - 25% pada wanita usia subur. Myoma tidak
dapat dideteksi sebelum pubertas dan bersifat hormonal responsive yang mana akan membesar
pada usia subur saja. Myoma ini bias muncul tunggal tetapi lebih sering ganda. Ukurannya sering
kurang dari 15 cm tetapi pada kasus kasus tertentu bias mencapai berat 45 kg
4
.

C. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan didugamerupakan
penyakit multifaktorial.Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuahtumor monoklonal yang
dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastiktunggal.Sel-sel tumor mempunyai
abnormalitas kromosom lengan 12q13-15. Adabeberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor
predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
1
1) Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada
wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara
3545 tahun.



7

2) Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini
belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
3) Faktor ras dan genetik
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri
tinggi.Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga
ada yang menderita mioma.
4) Fungsi ovarium
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana
mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi
setelah menopause.

D. Patofisiologi
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari penggandaan
satu sel otot.Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya perkembangan dari sel otot uterus atau
arteri pada uterus, dari transformasi metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel embrionik sisa
yang persisten. Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang mengalami
mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian menunjukkan bahwa
pada 40% penderita ditemukan aberasi kromosom yaitu t(12;14)(q15;q24).Meyer dan De Snoo
mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast.Percobaan Lipschultz yang memberikan
estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada
permukaan maupun pada tempat laindalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan
8

pemberian preparat progesteron atau testosteron.Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama
sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada
pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap
reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron,
faktor pertumbuhan epidermal dan insulin like growth factor 1 yang distimulasi oleh
estrogen.Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen
lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada
perkembangan mioma.Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak
mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih
daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah
ooforektomi bilateral pada usia dini.

E. Histopatogenesis
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium
normal.Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosa, intramural, dan
subserosum.Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nullipara, faktor keturunan juga
berperan.Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde diliputi
pseudokapsul. Perubahan sekuder pada mioma uteri sebagian besar bersifat degenerative karena
berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. Perubahan sekunder meliputi atrofi, degenerasi hialin,
degenerasi kistik, degenerasi membatu, degenerasi merah, dan degenerasi lemak
2
.


9

F. Klasifikasi mioma uteri
Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri
dibagi 4 jenis antara lain:
4

1. Mioma Submukosa

Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai
6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma
submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya
benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat
diketahui posisi tangkai tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata.
Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor
ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan namamioma geburt atau mioma
yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada beberapa kasus,
penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
2. Mioma Intramural

Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,
jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di
dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang
berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus,
dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat
menimbulkan keluhan miksi.
10

3. Mioma Subserosa

Apabila mioma tumbuh keluar dari dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan
uterus dan diliputi oleh serosa.Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma Intraligamenter

Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum
atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wondering parasitis
fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus.Mioma pada servik
dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan
sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like pattern) dengan pseudokapsul yang
terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan.


Gambar 1 : jenis-jenis mioma uteri

11

G. Gejala klinis
Tanda dan gejala dari mioma uteri hanya terjadi pada 35% - 50% pasien. Gejala yang
disebabkan oleh mioma uteri tergantung pada lokasi, ukuran dan jumlah mioma. Gejala dan
tanda yang paling sering adalah :
1. Perdarahan uterus yang abnormal
Perdarahan uterus yang abnormal merupakan gejala klinis yang paling sering terjadi dan
paling penting.Gejala ini terjadi pada 30% pasien dengan mioma uteri. Wanita dengan
mioma uteri mungkin akan mengalami siklus perdarahan haid yang teratur dan tidak
teratur. Menorrhagia dan atau metrorrhagia sering terjadi pada penderita mioma
uteri.Perdarahan abnormal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
2. Nyeri panggul
Mioma uteri dapat minimbulkan nyeri panggul yang disebabkan oleh karena degenerasi
akibat oklusi vaskuler, infeksi, torsi dari mioma yang bertangkai maupun akibat kontraksi
myometrium yang disebabkan mioma subserosum.Tumor yang besar dapat mengisi
rongga pelvik dan menekan bagian tulang pelvik yang dapat menekan saraf sehingga
menyebabkan rasa nyeri yang menyebar ke bagian punggung dan ekstremitas posterior
2
.
3. Penekanan
Pada mioma uteri yang besar dapat menimbulkan penekanan terhadap organ
sekitar.Penekanan mioma uteri dapat menyebabkan gangguan berkemih, defekasi
maupun dyspareunia.Tumor yang besar juga dapat menekan pembuluh darah vena pada
pelvik sehingga menyebabkan kongesti dan menimbulkan edema pada ekstremitas
posterior
2
.

12


4. Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan parsintertisialis
tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinyaabortus oleh karena
distorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabilapenyebab lain infertilitas
sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebabinfertilitas tersebut, maka
merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi.

H. Diagnosis
Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, factorresiko
serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.

Pemeriksaan fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemeriksaan bimanual rutin uterus Pemeriksaan
status lokalis dengan palpasi abdomen.Mioma uteri dapat diduga dengan pemeriksaan luar
sebagai tumor yang keras, bentuk yang tidak teratur, gerakan bebas,tidak sakit.

Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat perdarahanuterus yang berlebihan
dan kekurangan zat besi. Pemeriksaaan laboratoriumyang perlu dilakukan adalah Darah
Lengkap (DL) terutama untuk mencari kadarHb. Pemeriksaaan lab lain disesuaikan dengan
keluhan pasien.

13


b) Imaging
- Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen padauterus. Mioma
uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomenbawah dan pelvis dan kadang
terlihat tumor dengan kalsifikasi.
- Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke arah kavum
uteri pada pasien infertil.
- MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri namun biaya
pemeriksaan lebih mahal.

I. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan mioma uteri dibagi atas 2 metode :
1. Terapi medisinal (hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis memberikan hasil
untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan oleh mioma uteri.Pemberian
GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi
ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium.Dari suatu
penelitian multisenter didapati data pada pemberian GnRH agonis selama 6 bulan pada
pasien dengan mioma uteri didapati adanya pengurangan volume mioma sebesar
44%.Efek maksimal pemberian GnRH agonis baru terlihat setelah 3 bulan.Pada 3 bulan
berikutnya tidak terjadi pengurangan volume mioma secara bermakna.
Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan pembedahan akan mengurangi vaskularisasi
pada tumor sehingga akan memudahkan tindakan pembedahan. Terapi hormonal lainnya
14

seperti kontrasepsi oral dan preparat estrogen akan mengurangi gejala perdarahan
uterusnya yang abnormal namun tidak mengurangi ukuran dari mioma.
2. Terapi pembedahan
Terapi pembedahan pada mioma uteri dilakukan terhadap mioma yang menimbulkan
gejala. Menurut American College of Obstetricians and gynecologists (ACOG) dan
American Society for Reproductive Medicine (ASRM) indikasi pembedahan pada pasien
mioma uteri adalah :
1. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif.
2. Sangkaan adanya keganasan.
3. Pertumbuhan mioma pada masa menopause.
4. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena aklusi tuba.
5. Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu.
6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
7. Anemia akibat perdarahan
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi maupun histerektomi.
a. Miomektomi
Miomektomi sering dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan
fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi.Dewasa ini ada beberapa
pilihan tindakan untuk melakukan miomektomi, berdasarkan ukuran dan lokasi dari
mioma.Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi
maupun dengan laparoskopi.Pada laparotomy dilakukan insisi pada dinding abdomen
untuk mengangkat mioma dari uterus.
15

Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang operasi yang
lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang mungkin timbul pada
pembedahan miomektomi dapat ditangani segera. Namun pada miomektomi secara
laparotomy resiko terjadi perlengketan lebih besar, sehingga akan mempengaruhi
factor fertilitas pada pasien. Disamping itu masa penyembuhan paska operasi juga
lebih lama, sekitar 4-6 minggu.
Pada miomektomi secara histeroskopi dilakukan terhadap mioma
submukosum yang terletak pada kavum uteri.Pada prosedur pembedahan ini ahli
bedah memasukkan alat histeroskop melalui servik dan mengisi kavum uteri dengan
cairan untuk memperluas dinding uterus.Alat bedah dimasukkan melalui lubang yang
terdapat pada histeroskop untuk mengangkat mioma submukosum yang terdapat pada
kavum uteri.Keunggulan teknik ini adalah masa penyembuhan paska operasi (2
hari).Komplikasi operasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul perlukaan
pada dinding uterus, ketidak seimbangan elektrolit dan perdarahan.
Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan
laparoskopi.Mioma yang bertangkai diluar kavum uteri dan mioma subserosum yang
terletak didaerah permukaan uterus dapat diangkat secara laparoskopi.Tindakan
laparoskopi dilakukan dengan ahli bedah memasukkan alat laparoskop kedalam
abdomen melalui insisi yang kecil pada dinding abdomen.Keunggulan laparoskopi
adalah masa penyembuhan paska operasi yang lebih cepat antara 2-7 hari.
Resiko yang terjadi pada pembedahan laparoskopi termasuk perlengketan,
trauma terhadap organ sekitar seperti usus, ovarium, rectum serta perdarahan.Sampai
16

saat ini miomektomi dengan laparoskopi merupakan prosedur standar bagi wanita
dengan mioma uteri yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya.
b. Histerektomi
Tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan dengan 3
cara yaitu dengan pendekatan abdominal (laparotomy), vaginal dan pada beberapa
kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari
seluruh kasus. Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan
indikasi bila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada
traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12 14 minggu.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Subtotal abdominal histerektomi dilakukan untuk menghindari resiko operasi yang
lebih besar seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung
kemih, rectum.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada tungkul vagina dapat
menjadi sumber timbulnya secret vagina dan perdarahan paska operasi dimana
keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH
3
.
Histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan dari vagina, dimana
tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Secara umum histerektomi
vaginal hamper seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana
peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul pada
usu dapat diminimalisasi. Oleh karena pendekatan operasi tidak melalui dinding
abdomen, maka pada histerektomi vaginal tidak terlihat parut bekas operasi sehingga
17

memuaskan pasien dari segi kosmetik.Masa penyembuhan pada pasien ini lebih cepat
dibandingkan yang menjalani histerektomi abdominal.





















18

BAB III
KESIMPULAN

1. Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus danjaringan ikat
sekitarnya
2. Beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu

Umur
Paritas
Faktor ras dan genetic
Fungsi ovarium
3. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4
jenis antara lain:

Mioma submukosa
Mioma intramural
Mioma subserosa
Mioma intraligamenter
4. Gejalatersebut dapat digolongkan sebagai berikut:

Perdarahan abnormal
Nyeri panggul
Penekanan
Infertilitas dan abortus


19

DAFTAR PUSTAKA

1) Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2005.
2) Derek liewollyn & Jones. Dasardasar Obstetri & Ginekologi. Jakarta : Hipokrates, 2002
3) Norwitz, Errol. Et al. 2007. At a Glance: Obstetri & Ginekologi Edisi Kedua. Erlangga
Medical Series: Jakarta
4) Prawiroharjo, S., mioma uteri. Dalam: Wiknjosastro, Saifuddin AB., eds. Ilmu Kebidanan
edisi ketiga. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007