Kerangka Pikir

Teori dan Konsep
Penganggaran Sektor Publik
Perkembangan Anggaran
Sektor Publik
Sejarah dan Perkembangan
Penganggaran di Pemerintahan
Indonesia
APBN, APBD, dan APBDes
Pengertian Anggaran Sektor Publik
Mardiasmo (2009): anggaran merupakan
pernyataan mengenai estimasi kinerja yang
hendak dicapai selama periode waktu tertentu
yang dinyatakan dalam ukuran finansial
Anggaran sektor publik merupakan suatu
rencana finansial yang menyatakan: 1) berapa
biaya atas rencana yang dibuat (pengeluaran/
belanja), dan 2) berapa banyak dan bagaimana
caranya memperoleh uang untuk mendanai
rencana tersebut (penerimaan/pendapatan)
Halim (2008), Bastian (2006), Sugijanto, Robert, dan
Sonny (1995): anggaran sebagai paket pernyataan
perkiraan penerimaan dan pengeluaran yang
diharapkan akan terjadi dalam satu atau beberapa
periode mendatang
Pentingnya Anggaran Sektor Publik
1
•Alat untuk mengarahkan pembangunan
sosial ekonomi, menjamin kesinambungan,
dan meningkatkan kualitas hidup
masyarakat.
2
•Karena kebutuhan masyarakat yang tak
terbatas sedangkan sumber daya terbatas.
3
•Pertanggung jawaban pemerintah
terhadap rakyat.
Fungsi Anggaran Sektor Publik
•Alat perencanaan
1
•Alat pengendalian
2
•Alat kebijakan fiskal
3
•Alat politik
4
•Alat koordinasi dan komunikasi
5
•Alat penilaian kinerja
6
•Alat motivasi
7
•Alat menciptakan ruang publik
8
Aspek yang Harus Tercakup dalam
Anggaran Sektor Publik
 Aspek Perencanaan
 Aspek Pengendalian
 Aspek Akuntabilitas Publik
Karakteristik Anggaran Sektor
Publik
1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan.
2. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu
tertentu.
3. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan
manajemen untuk mencapai sasaran yang
ditetapkan.
4. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh
pihak berwenang yang lebih tinggi dari
penyusun anggaran.
5. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah
dalam kondisi tertentu.
Jenis – jenis Anggaran Sektor Publik
Anggaran Sektor Publik
Anggaran Operasional Anggaran Modal
Perencanaan kebutuhan
sehari-hari
Rencana jangka panjang dan
pembelanjaan atas asset tetap
Prinsip - prinsip Anggaran Sektor Publik
1.
Otorisasi oleh
legislatif
Anggaran
publik harus
mendapatkan
otorisasi dari
legislatif
terlebih
dahulu
sebelum
eksekutif
dapat
membelanja-
kan anggaran
tersebut.
2.
Komprehensif
Anggaran
harus
menunjukkan
semua
penerimaan
dan
pengeluaran
pemerintah.
Oleh karena
itu, adanya
dana non
budgetair
pada dasarnya
menyalahi
prinsip
anggaran
yang bersifat
komprehensif.
3.
Keutuhan
anggaran
Semua
penerimaan
dan belanja
pemerintah
harus
terhimpun
dalam dana
umum.
4.
Nondiscretio-
nary
Appropriation
Jumlah yang
disetujui oleh
dewan
legislatif
harus
termanfaat-
kan secara
ekonomis,
efisien dan
efektif.
5.
Periodik
Anggaran
merupakan
suatu proses
yang
periodik, bisa
bersifat
tahunan
maupun multi
tahunan.
6.
Akurat
Estimasi
anggaran
hendaknya
tidak
memasukkan
cadangan
yang
tersembunyi,
yang dapat
inefisiensi
anggaran
serta dapat
mengakibatk
an munculnya
understimate
pendapatan
dan over
estimate
pengeluaran.
7.
Jelas
Anggaran
hendaknya
sederhana,
dapat
difahami
masyarakat
dan tidak
membingungk
an.
8.
Diketahui
publik
Anggaran
harus
diinformasika
n kepada
masyarakat
luas.
Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik
 Proses mempersiapkan anggaran atau penyusunan
penganggaran disebut “Penganggaran”.
 Tujuan proses penyusunan anggaran :
1. Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal
dan meningkatkan koordinasi antarbagian
dalam lingkungan pemerintah.
2. Menciptakan efisiensi dan keadilan dalam
menyediakan barang dan jasa publik melalui
proses pemrioritasan.
3. Memugkinkan pemerintah untuk memenuhi
prioritas belanja.
4. Meningkatkan transparansi dan
pertanggungjawaban pemerintah kepada
DPR/DPRD dan masyarakat luas.
Tahap persiapan anggaran (preparation)
Tahap ratifikasi (approval/ratification)
Tahap implementasi (implementation)
Tahap Pelaporan dan Evaluasi (Reporting
dan Evaluation)
Tahapan dalam Siklus Anggaran
Sektor Publik
Perkembangan Anggaran Sektor Publik
Perencanaan anggaran sektor pulik telah mengalami
banyak perkembangan. Sistem perencanaan anggaran
berkembang dan berubah sesuai dengan dinamika
perkembangan manajemen sektor publik dan
perkembangan tuntutan yang muncul dalam masyarakat.

Terdapat dua pendekatan penganggaran sektor publik:
 Pendekatan anggaran tradisional
 Pendekatan new public management
Pendekatan Anggaran Tradisional
 Anggaran tradisional merupakan pendekatan
penganggaran yang banyak digunakan di negara
berkembang.

 Ciri-ciri pendekatan anggaran ini:
1. Penyusunan anggaran berdasarkan pendekatan
incrementalism
2. Struktur dan susunan anggaran bersifat line –item
3. Cenderung spesifikasi
4. Tahunan
5. Mengunakan prinsip anggaran bruto

Incrementalism
 Anggaran tradisional bersifat incrementalism yaitu jumlah
anggaran tahun tertentu dihitung berdasarkan jumlah tahun
sebelumnya dengan tingkat kenaikan tertentu tanpa
melakukan kajian yang mendalam.
Keunggulan Kelemahan
1. Mengatasi rumitnya penyusunan anggaran.
2. Tidak memerlukan pengetahuan yang
terlalu rumit untuk memahami program-
program baru
3. Dapat mengurangi konflik
1. Perhatian terhadap laporan pelaksanaan
anggaran penerimaan dan pengeluaran
sangat sedikit.
2. Pencapaian prestasi realisasi penerimaan
dan pengeluaran yang dianggarkan,
diabaikan.
3. Para penyusun anggaran tidak memiliki
alasan rasional dalam menetapkan target
penerimaan dan pengeluaran perusahaan


Line-item
 Anggaran tradisional bersifat line-item yaitu penyusunan
yang didasarkan atas dasar sifat (nature) dari penerimaan
dan pengeluaran.
Keunggulan Kelemahan
1. Relatif mudah menelusurnya.
2. Titik berat perhatian pada segi pelaksanaan
dan pengawasan
3. Penekanan pada segi administrasi
1. Perhatian terhadap laporan pelaksanaan
anggaran penerimaan dan pengeluaran
sangat sedikit.
2. Pencapaian prestasi realisasi penerimaan
dan pengeluaran yang dianggarkan,
diabaikan.
3. Para penyusun anggaran tidak memiliki
alasan rasional dalam menetapkan target
penerimaan dan pengeluaran perusahaan

Kelebihan:
1. Bentuknya sederhana
2. Mudah dipersiapkan
3. Mudah dimengerti
oleh pihak-pihak yang
berkepentingan
4. Pendekatan ini cocok
dengan pola akuntansi
pertanggungjawaban
Kekurangan:
1. Tidak ada informasi yang
memadai bagi pembuat
keputusan
2. Berorientasi pada
pengendalian dan kurang
memperhatikan proses
perencanaan dan evaluasi
3. Lebih fokus pada input
4. Lebih mendorong
pengeluaran dari pada
penghematan
5. Tidak adanya tolok ukur yang
dapat digunakan untuk
mengukur kinerja dalam
pencapaian tujuan dan
sasaran pelayanan publik
Anggaran Tradisional
PENDEKATAN NEW PUBLIC
MANAGEMENT
New Public
Management
Anggaran Berbasis Kinerja
Penganggaran Program
Zero Based Budgeting (ZBB)
Planning, Programming, and
Budgeting System (PBBS)
Medium Term Budgeting
Framework (MTBF)
Pendekatan New Public
Management
Karakteristik umum:
1. Komprehensif /Komparatif
2. Terintegrasi dan lintas departemen
3. Proses pengambilan keputusan yang rasional
4. Berjangka panjang
5. Spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas
6. Analisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost)
7. Berorientasi input, output, dan outcome
8. Adanya pengawasan kinerja

Anggaran Berbasis Kinerja
(Performance Budgeting)
 Sistem anggaran kinerja merupakan sistem yang mencakup penyusunan
program dan tolak ukur kinerja sebagai instrumen untuk mencapai tujuan
dan sasaran.
 Penekanan pada konsep value for money dan pengawasan atas kinerja
output. Pendekatan ini mengutamakan mekasnisme penetuan dan
pembuatan prioritas tujuan serta pendekatan yang sistematis dan rasional
dalam proses pengambilan keputusan.
 Dominasi pemerintah dapat diawasi dan dikendalikan melalui internal cost
awareness, audit keuangan dan audit kinerja, serta evaluasi kinerja
eksternal.
 Karakteristik pendekatan ini:
1. Mengkasifikasi akun-akun dalam anggaran berdasarkan fungsi dan
aktivitas serta unit organisasi dan rincian belanja.
2. Menyelidiki dan mengukur aktivitas guna mendapatkan efisien
maksimum dan standar biaya.
3. Mendasarkan anggaran untuk periode yang akan datang pada biaya
per unit standar dikalikan dengan jumlah unit aktivitas yang
diperkirakan harus dilakukan pada periode tertentu.
Keunggulan Kelemahan
1. Adanya pendelegasian wewenang
dalam pengambilan keputusan
2. Merangsang partisipasi dan
memotivasi unit kerja
3. Pengalokasian dana secara optimal
dengan berdasarkan pada unit kerja
4. Menghindari pemborosan

1. Kurangnya kemampuan yang
memadai untuk mengidentifikasi unit
pengukuran dan melaksanakan
analisis biaya
2. Banyak jasa dan aktivitas
pemerintah yang ridak dapat
langsung diukur dalam satuan unit
output
3. Pengumpulan data untuk keperluan
pengukuran kinerja sangat sulit
karena akun dibuat berdasarkan
cash basis
4. Aktivitas langsung diukur biayanya
tanpa adanya pertimbangan yang
memadai apakah aktivitas tersbut
perlu atau tidak
Anggaran Berbasis Kinerja
(Performance Budgeting)
Anggaran Program (Program Budgeting)
 Pendekatan ini menekankan pada efektivitas
penyusunan anggaran.

 Anggaran disusun berdasarkan tugas yang akan
dijalankan. Selain itu, metode pendekatan ini
menekankan bahwa keputusan penganggaran
harus didasarkan pada tujuan-tujuan atau output
dari aktivitas pemerintahan.

 Teknologi penganggaran ini bergantung pada
metodologi dari program peramalan dan analsis
sistem.
Zero Based Budgeting (ZBS)
Mengatasi kelemahan yang ada pada sistem anggaran
tradisional
Menghilangkan incrementalism dan line item  anggaran
di asumsikan mulai dari nol
Penyusunan anggaran bersifat incremental  besarnya
realisasi tahun ini untuk tahun depan
Tidak berpatokan dengan tahun lalu



Keunggulan Kelemahan
1. Jika dilaksanakan dengan baik maka
dapat menghasilkan alokasi sumber
daya secara lebih efisien
2. Berfokus pada value for money
3. Memudahkan untuk mengidentifikasi
terjadintya inefisiensi dan
ketidakefektifan biaya
4. Meningkatan pengetahuan dan
motivasi staf dan manajer
5. Meningkatkan partisipasi manajemen
level bawah
6. Cara sistematik untuk menggeser
status quo dan mendorong organisasi
untuk selalu menguji alternatif
aktivitas dan pola perilaku biaya

1. Proses memakan waktu lama (time
consuming), terlalu teoritis dan tidak
praktis, membutuhkan biaya besar,
serta menghasilkan kertas kerja
2. ZBB cenderung menekan manfaat
jangka pendek
3. Implementasi ZBB membutuhkan
teknologi maju
4. Masalah besar yang dihadapi ZBB
adalah proses merangking dan
meriview paket keputusan
5. Untuk melakukan perangkingan paket
keputusan dibutuhkan staf yang
memiliki keahlian yang mungkin tidak
dimiliki organisasi
6. Memungkinkan munculnya kesan
yang keliru
7. Impementasi ZBB menimbulkan
masalah keperilakuan
Zero Based Budgeting (ZBS)
Planning, Programming,
and Budgeting Systems (PBBS)
 Teknik penganggaran  teori sistem  orientasi pada output
dan tujuan
 Tidak mendasarkan pada struktur organisasi tradisional
(divisi- divisi), namun berdasarkan program
 Salah satu model pengganggaran  membantu manajemen
pemerintah  buat keputusan alokasi sumber daya
 Karakteristik:
1. Fokus pada tujuan dan aktivitas
2. Menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang
akan datang (eksplisit)
3. Pertimbangkan semua biaya yg terjadi
4. Analisis sistematik atas berbagai program



Keunggulan Kelemahan
1. Memudahkan dalam pendelegasian
tanggungjawab
2. Mengurangi beban kerja (jangka
panjang)
3. Perbaiki kualitas pelayanan 
pendekatan sadar biaya
4. Lintas departemen  komunikasi,
koordinasi, kerja sama antar
departemen
5. Menghilangkan program yg
overlapping
6. PBBS  teori marginal
1. Membutuhkan sistem yg canggih,
ketersedian data,adanya sistem
pengukuran, dan staf berkapabilitas
tinggi
2. Butuh biaya besar dalam
pengimplementasiannya
3. Bagus secara teori  sulit
diimplementasikan
4. Mengabaikan realitas politik dan
organisasi
5. PBBS  statically oriented
6. Pengaplikasi PBBS menghadapi
masalah teknis
Planning, Programming,
and Budgeting Systems (PBBS)
Permasalahan Utama Penggunaan
Pendekatan ZBB dan PBBS
• Bounded rationality
• Kurangnya data untuk membandingkan semua alternatif
• Masalah ketidakpastian sumber daya
• Pelaksanaan teknik  beban pekerjaan yg sangat berat
• Kesulitan dalam menentukan tujuan dan perangkingan
program
• Tidak ada perubahan program anggaran secara cepat dan
tepat
• Terdapat hambatan birokrasi dan politik
• Pelaksanaan tersebut tidak sesuai dengan pengambilan
keputusan politik
• Pemerintah beroperasi dalam dunia yg tidak rasional
Medium Term Budgeting Framework
(MTBF)
 MTBF adalah suatu kerangka strategi kebijakan
pemerintah tentang anggaran belanja untk
departemen dan lembaga pemerintah non
departemen.
 Komponen anggaran yang ditetapkan (up-down),
perkiraan biaya yang diusulkan (bottom up) dan
penyesuaian perkiraan anggaran biaya, disesuaikan
menurut sumber daya yang ada
Medium Term Budgeting Framework
(MTBF)
Keunggulan Kelemahan
Banyak peluang yang tidak bisa
dipergunakan karena pendekatan yang
menyeluruh. Di dalam pendekatan
sektoral, kebijakan penggunaan sumber
daya dan sistem anggaran secara
keseluruhan. Akibatnya pendekatan
MTBF yang bersifat sektoral akan
menyeimbangkan pelaksanaan
kebijakan dan sumber daya di level
sektor dan lintas sektor.

Pendekatan MTBF tergantung pada
kondisi suatu negara. Kebijakan fiskal
yang tidak stabil dan kondisi sosial politik
merupakan contoh yang melemahkan
penerapan MTBF
Perbandingan Anggaran Tradisioal dengan
Anggaran Berbasis Pendekatan NPM
Anggaran Tradisional New Public Management
Sentralistis Desentralisasi & devolved management
Berorientasi pada input Berorientasi pada input, output, dan
outcome (value for money)
Tidak terkait dengan rencana jangka panjang Utuh dan komprehensif
Line-item dan incrementalism Berdasarkan sasaran kinerja
Batasan departemen yang kaku Lintas departemen
Menggunakan aturan klasik :
Vote accounting
Zero-Based Budgeting, Planning
Programming Budgeting System
Prinsip anggaran bruto Sistematik dan rasional
Bersifat tahunan Bottom-up budgeting
Spesifik
Sejarah dan Perkembangan
Penganggaran di Pemerintah Indonesia
Era Prareformasi
(Sebelum otonomi
daerah)
Era (Pasca) – reformasi
(Era otonomi daerah,
periode 1999-2004)
Era Pasca-reformasi
Lanjutan (periode 2004-
sekarang)
Penganggaran di era pra-reformasi
Pengelolaan keuangan
daerah
UU Perbendaharaan
Indonesia
UU No.5 Tahun 1974 tentang
pokok-pokok pemerintahan
di daerah
PP No. 5 Tahun 1975, PP No. 6 Tahun 1975,
Kepmendagri No. 900-099 Tahun 1980,
Permendagri No. 2 Tahun 1994, UU no. 18
Tahun 1997, dan Kepmendagri No. 3
Tahun 1999
Penganggaran di era reformasi
Reformasi sistem pemerintahan
sentralistik
Desentralisasi
Otonomi Daerah
UU No. 22 Tahun 1999 & UU
No. 25 Tahun 1999
PP No. 104 Tahun 2000, PP No. 105 Tahun 2000, PP No.
107 Tahun 2000, PP No. 108 Tahun 2000, Surat Menteri
Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 17
November 2000 No. 903/2735/SJ, Kepmendagri No. 29
Tahun 2002, UU No. 17 Tahun 2003, UU No. 1 Tahun 2004
Penganggaran di era pasca-reformasi
Diterbitkan paket UU tentang Keuangan Negara
UU No. 17 Tahun 2003
UU No. 1 Tahun 2004
UU No. 15 Tahun 2004
Revolusi Sistem Perencanaan
Penganggaran di Indonesia
1. Pendekatan Penggaran Terpadu
2. Penganggaran berbasis Kinerja
3. Pendekatan Kerangka Pengeluaran
Jangka Menengah
ANGGARAN SEBAGAI OBJEK
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
 Kedudukan APBN dan APBD dalam keuangan (akuntansi)
pemerintahan menjadi penting. (Halim, 2008)
 Keterkaitan keuangan negara dengan anggaran negara
(pemerintah) memang sangat erat karena bertambah atau
berkurangnya keuangan negara berdasarkan pelaksanaan
anggaran negara (pemerintah). Anggaran publik yang
dimaksud disini adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),
dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
 APBN, APBD, APBDes merupakan inti dari keuangan (akuntansi)
pemerintahan karena anggaran merupakan informasi
keuangan yang paling penting yang dihasilkan oleh
pemerintah.
Pelaksanaan APBN danAPBD
• Ditetapkan dalam Undang Undang yang mengatur
perbendaharaan negara, karena lebih menyangkut hubungan
adminstratif antar kementerian negara atau lembaga di
lingkungan pemerintah
• Dalam UU Nomor 17 tahun 2003 ditetapkan bahwa laporan
APBN/APBD disampaikan berupa laporan keuangan yang
dibagi menjadi:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
3. Laporan finansial
Pertanggungjawaban
Pengelolaan Keuangan Negara
Fungsi dan Peran APBN
38
APBN sebagai alat
mobilisasi dana
investasi
APBN sebagai alat
stabilisasi ekonomi
Dampak APBN
terhadap
Perekonomian
Komponen APBN
39
Pendapatan Negara & HIbah
Belanja Negara
Keseimbangan Primer
Surplus/ defisit anggaran
Pembiayaan
Mekanisme Pengesahan APBN
 Perencanaan atau Tahap Penyusunan RAPBN oleh
pemerintah
 Pengesahan RAPBN oleh DPR atau TAhap
Pembahasan dan Penetapan RAPBN menjadi APBN
oleh DPR
 Tahap Pelaksanaan APBN oleh Pemerintah
 Tahap Pengawasan Pelaksanaan APBN oleh
instansi yang Berwenang antara lain Badan
Pemeriksaan Keuangan
 Tahap Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN
oleh Pemerintah Kepada DPR

Pasal 1 PP 58 Tahun 2005
Pengelolaan Keuangan Daerah adalah
keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan,
pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan
daerah .
Keuangan Daerah adalah Semua hak dan
kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang
dapat dilinilai dengan uang termasuk didalamnya
segala bentuk kekayaan yang berhubungan
dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
41
Omnibus
Regulation
UU 17/2003 UU 1/2004 UU 15/2004
UU 25/2004
UU 33/2004
PP PP PP
UU 32/2004
PERMENDAGRI 13/06
misal: SAP, dstnya

PP 58/2005
(Omnibus
Regulation)
PERMENDAGRI 59/07
PP 41/07
PP 38/07
LANDASAN KEBIJAKAN
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Siklus Pengelolaan Keuangan Daerah
43
Perencanaan Pelaksanaan Penatausahaan
Pertanggunjawaban
Pemeriksaan
RPJMD
RKPD
KUA/PPAS
Nota
Kesepakatan
Pedoman
Penyusunan
RKA-SKPD
RKA-SKPD
RAPBD
Evaluasi Raperda
APBD oleh
Gubernur/
Mendagri
Rancangan
DPA-SKPD
DPA-SKPD
Verifikasi
Laporan Realisasi
Semester Pertama
Perubahan APBD
Penatausahaan
Belanja
• Penerbitan SPM-UP,
SPM-GU, SPM-TU
dan SPM-LS oleh
Kepala SKPD
• Penerbitan SP2D oleh
PPKD
Penatausahaan
Pendapatan
Kekayaan dan
Kewajiban daerah





• Kas Umum
• Piutang
• Investasi
• Barang
• Dana Cadangan
• Utang
Akuntansi
Keuangan Daerah
Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah




• LRA
• Neraca
• Lap. Arus Kas
• CaLK
Laporan Keuangan
diperiksa oleh BPK
Raperda
Pertanggung-
jawaban APBD
APBD
• Bendahara
penerimaan wajib
menyetor
penerimaannya ke
rekening kas umum
daerah selambat-
lambatnya 1 hari
kerja
Penatausahaan
Pembiayaan
• Dilakukan oleh PPKD
Pelaksanaan APBD
Pendapatan
Belanja
Pembiayaan
Disusun Sesuai SAP
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD)
RPJMD
Penjabaran
dokumen perencanaan untuk periode 5 tahun
visi, misi, dan program kepala daerah
Pedoman
Memperhatikan
RPJP Daerah
RPJM Nasional & SPM yang ditetapkan
Pemerintah
Jangka Waktu
Penetapan
paling lambat 3 (tiga) bulan setelah
kepala daerah dilantik
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
MEKANISME PENYUSUNAN APBD
(UU NO.17/2003)
45
PEMDA
Kebijakan Umum
APBD dan PPAS
DPRD
Rencana Kerja
Pemerintah
Daerah
SK Penyusunan RKA-
SKPD
Satuan Kerja
Perangkat Daerah
kesepakatan
Prestasi kerja yg
akan dicapai
& prakiraan
belanja
Rencana Kerja
dan Anggaran
Rancangan Peraturan Daerah
(RPD) tentang RAPBD
Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Penyiapan Raperda APBD
46
Kepala SKPD/SKPKD
(Satuan Kerja Perangkat
Daerah)
Tim Anggaran
Pemerintah Daerah
PPKD
(Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah)
RKA-SKPD/
RKA-PPKD
Disampaikan
RKA-
SKPD/RKA-
PPKD
RKA-SKPD/
PPKD
Dibahas
● kebijakan umum APBD
● prioritas dan plafon
anggaran sementara
● prakiraan maju yang
telah disetujui tahun
anggaran sebelumnya
● dokumen perencanaan
lainnya
● capaian kinerja
● indikator kinerja
● analisis standar belanja
● standar satuan harga
● standar pelayanan
minimal
penelaahan
kesesuaian
dengan
Raperda
tentang
APBD
Nota
Keuangan
Rancangan
APBD
dokumen
pendukung
RKA-SKPD/PPKD
yang telah ditelaah
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Struktur APBD
APBD
Pendapatan Daerah Belanja Daerah Pembiayaan Daerah
• PAD
• Dana Perimbangan
• Lain-lain pendapatan
daerah yang sah
• Klasifikasi belanja
menurut organisasi
• Klasifikasi belanja
menurut fungsi
• Klasifikasi belanja
menurut program dan
kegiatan
• Klasifikasi belanja
menurut jenis belanja

• Penerimaan
Pembiayaan
• Pengeluaran
Pembiayaan
Penyampaian & Pembahasan Raperda APBD
Raperda
tentang
APBD
Penjelasan
Dokumen
Pendukung
Kepala
Daerah
DPRD
menyampaikan
kepada
minggu
pertama
Oktober tahun
sebelumnya
dibahas dalam rangka memperoleh
persetujuan bersama
Menitikberatkan pada kesesuaian antara KUA serta PPAS dengan
program dan kegiatan yang diusulkan dalam Raperda tentang
APBD
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Penetapan Raperda tentang APBD dan Peraturan
Kepala Daerah tentang penjabaran RAPBD
Rancangan Peraturan
Daerah tentang APBD
Rancangan
Peraturan Kepala
Daerah tentang
penjabaran RAPBD
yang telah dievaluasi
Peraturan Daerah
tentang APBD
Peraturan Kepala
Daerah tentang
penjabaran RAPBD
Kepala Daerah
menetapkan
menjadi
Provinsi Kabupaten/Kota
Mendagri Gubernur
Disampaikan
selambat-
lambatnya 7
hari kerja
setelah
ditetapkan
selambat-lambatnya 31
Desember
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
50
Gubernur / Bupati / Walikota
31 Maret
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
Laporan Keuangan
(unaudited)
Laporan Keuangan
(audited)
Raperda LPJ
(Lap. Keuangan)
Audit (2 bulan)
30 Juni
BPK
DPRD
1
2
3
4
5
6
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
51
Dilampiri:
Laporan Keuangan
Perusahaan Daerah
Bentuk dan Isi Laporan
Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBN/APBD
disusun dan disajikan sesuai
Standar Akuntansi Pemerintahan
(PP No.24/2005)

Bentuk dan Isi Laporan
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
Laporan Realisasi APBD

Neraca

Laporan Arus Kas

Catatan atas Laporan Keuangan
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
SKPD
Sebelum
31 Maret
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD-SKPD
Laporan Keuangan
SKPD
(unaudited)
Laporan Keuangan
Konsolidasian
(unaudited)
Laporan Keuangan
PEMDA
(unaudited)
Sebelum
31 Maret
31 Maret
PPKD
BPK
1
2
3
4
5
6
GUB/WALIKOTA/BUPATI
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Bentuk dan Isi Laporan Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD
disusun dan disajikan sesuai
Standar Akuntansi Pemerintahan
(PP No.24/2005)
Pertanggungjawaban Pelaksanaan
APBD - SKPD
Laporan Realisasi APBD
Neraca
Catatan atas Laporan Keuangan
Sumber:
[PPT] PROSES PENYUSUNAN DAN PERUBAHAN APBD - usdrp
www.usdrp-indonesia.org/files/.../340.ppt
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa adalah
kerangka dasar dan acuan bagi pelaksanaan
pembangunan desa pada tahun tersebut.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)
terdiri dari :
 Pendapatan
 Pengeluaran Rutin (Aparatur)
 Pengeluaran Pembangunan (Publik
TERIMA KASIH


Sumber:
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
Halim, Abdul dan Kusufi, Syam. 2012. Jakarta: Salemba Empat