Diterbitkan oleh

:
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial
- EMPIRIS -


Alamat:
Pondok Amani,
Jalan Ahmad Tohir Rt. 001 Rw. 04
Beji Pondokcina Kota-Depok
Email: empiris49@yahoo.com

Mardhatillah, 12 Rabi Thani 1428 H




















































“Pancasila sebagai filsafat negara itu bagi kami adalah kabur dan tak bisa berkata apa-apa kepada
jiwa Ummat Islam yang sudah mempunyai dan sudah memiliki satu ideologi yang tegas, terang,
dan lengkap, dan hidup dalam kalbu rakyat Indonesia sebagai tuntutan hidup dan sumber
kekuatan lahir dan bathin, yakni Islam. Dari ideologi Islam ke Pancasila bagi Ummat Islam adalah
iBarat melompat dari bumi tempat berpijak ke ruang hampa, Vacuum, tak berhawa”.
Dr. Muhammad Natsir
1



I. PENDAHULUAN

Islam sebagai ideologi universal telah menempatkan dirinya pada kedudukan teratas dari
ideologi-ideologi lainnya di dunia ini. Ini disebabkan karena konsepsi Islam yang fitri (sesuai
dengan fitrah manusia) dan tetap up to date sepanjang zaman, tidak pernah mengalami
perubahan-perubahan dalam konsepsinya. Tidak seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme
ataupun liberalisme dan semua isme-isme manusiawi lainnya yang telah gagal dalam misinya,
karena ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan
2
. Kehancuran dan
kerusakan di muka bumi yang sudah meluas, tidak lain disebabkan oleh kegagalan sistem
manusiawi tersebut dalam menjalankan misinya. Dengan mengatasnamakan kemajuan, mereka
telah mengembangkan pengetahuan tanpa tujuan yang jelas dan akhirnya akan mendatangkan
malapetaka bagi manusia dan lingkungannya. Dengan gagalnya isme-isme ini dengan segala
krisis dan pfroblematika yang ditimbulkannya kepada manyarakat moderen, maka hanya Islam-lah
sistem, ideologi, falsafah maupun way of live yang dapat mengatasi nestapa manusia abad
moderen ini. Karena dalam sejarahnya Islam telah terbukti melahirkan manusia-manusia unggul
dan agung yang belum tertandingi sampai saat ini
3
.
Tapi sangat disayangkan, pada saat ini justru ummat Islam di penjuru dunia mengalami
berbagai bentuk krisis yang sangat kronis, dan krisis yang paling utama adalah krisis aqidah
(keyakinan). Aqidah adalah salah satu ajaran Islam yang paling mendasar, karena aqidah inilah
seseorang dikatakan Muslim atau kafir, di terima atau di tolak amalannya oleh Allah Azza wa Jalla.
Hal ini terjadi akibat kesalahan ummat Islam yang telah jauh meninggalkan konsepsi-konsepsi Al
Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Mereka lebih bangga mengulas filsafat-filsafat jahiliyah dari Barat,
daripada ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah Saw.. Generasi muda Islam didikan Barat sangat
memprihatinkan, mereka tidak segan-segan mengkrompomikan konsepsi-konsepsi Islam yang
diturunkan Allah dengan konsepsi-konsepsi jahiliyah ciptaan orang-orang kafir dari Barat maupun
Timur, hal ini dilakukan hanya untuk menguatkan dan mempertahankan ide-ide sesat mereka.
Dikompromikannya konsepsi Islam dengan konsepsi jahiliyah bukannya berakibat baik, namun hal
ini adalah kehancuran total bagi Islam dan ummatnya, karena Islam adalah Dien yang sempurna,
tidak membutuhkan tambahan-tambahan konsep-konsep jahiliyah sesat. Para didikan Barat ini,
seorang Muslim namun berfikiran kafir, menjadi corong yang menjajakan ide-ide kafir di negeri
asal mereka kepada masyarakat awam yang terbiasa dengan sistem Islam
4
.
Satu-satunya yang dapat menyelamatkan ummat Islam dewasa ini dari kesesatannya adalah
kembali kepada Al Qur’an dan sunah Rasulullah, menyeleksi semua konsep dengannya.
Rasulullah Saw. bersabda: “Aku tinggalkan kamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada
keduanya,maka kamu tidak akan sesat untuk selama-lamanya,yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan
sunah Rasulullah”. (HR. Bukhori Muslim).
Khususnya di Indonesia, pada saat ini Islam sedang mengalami suatu cobaan yang
demikian berat dan hebatnya, antara kepentingan Allah dan Rasul-Nya dengan penguasa
Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup rakyat
Nusantara. Hal ini menyangkut masalah aqidah ummat Islam. Banyak pertentangan yang terjadi
dikalangan Ulama, karena keinginan penguasa. Ulama yang menjadi figur dan ikutan dalam
tatanan masyarakat Indonesia, ada yang pro dan ada yang kontra. Islam melarang keras
ummatnya untuk bertaqlid buta pada seorang Ulama yang belum tentu benar, karena Rasulullah
mengatakan ada pula Ulama yang syu’ (brengsek). Hanya kepada Al Qur’an dan Sunahlah
seseorang Muslim harus tunduk.
Untuk itulah dalam rangka meluruskan aqidah ummat Islam khususnya yang berada di
Nusantara, apakah Pancasila bertentangan atau tidak dengan Islam, maka perlu suatu analisa
mendalam berdasarkan pada Al Qur’an dan Al-Sunnah, seandainya tidak bertentangan, ummat
Islam menerimanya dengan tulus dan ikhlas, jika ternyata bertentangan, harus dibuang jauh-jauh
dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan Islam sampai titik darah
penghabisan.
$κš‰'≈ƒ βθϑ=`¡•Β ΝFΡ &´ρ ω) ⎦∫θÿC ⎯μ?$)? ,m #θ)?# #θ`ΨΒ#´™ ⎦⎪%!# ∩⊇⊃⊄∪ Ÿω´ρ ´!#
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102)

Mempertahankan eksestensi Islam adalah kewajiban seluruh ummat manusia yang telah
berikrar sebagai seorang Muslim, dimanapun ia berada. Ummat Islam wajib bangkit
mempertahankan agamanya dan bangun untuk menyingkap kabut jahiliyah yang berada di depan
mereka.


II. Islam dan Pancasila: Sebuah Analisa

1. Pendahuluan
Islam adalah suatu aturan hidup yang mengatur segala aspek kehidupan, baik secara
individual maupun collective (masyarakat). Untuk menyatakan suatu benar ataupun salah, seorang
yang telah menyatakan dirinya sebagai Muslim, tidak sewajarnyalah meninggalkan konsep yang
telah tesirat dalam Al Qur’an dan sunah, karena inilah dasar obyektif untuk menyatakan kesalahan

1
Tentang Dasar Negara Republik Indonesia Dalam Konstituante, Jilid I, Bandung: Tanpa Nama Penerbit, 1958, h. 129
2
Murthada Muttahari, Manusia dan Agama, (Bandung : Mizan, 1981) halaman 45
3
Lihat surat Ali Imron ayat 19. Dan pengertian ad-dien oleh Abul A’la Maududy dalam Ketuhanan, Ibadah dan Agama.
4
Lihat, Amier Syakieb Arselan, Kenapa Ummat Islam Mundur dan selain Mereka maju. Jakarta, Bulan Bintang


2


3
dan kebenaran suatu konsepsi. Al Qur’an diturunkan Allah adalah untuk membedakan antara yang
haq dan yang bathil. Allah berfirman:
`¯κ− β$ŸÒΒ´‘ “%!# Α“Ρ& μŠù `β#´™¯)9# ”‰δ ¨$Ψ=9 M≈Ψ/´ ρ ´⎯Β “‰γ9# β$%¯9#´ρ ⎯ϑù ‰κ −
`Ν3ΨΒ ¯κ¶9# μϑ´Á´Š=ù ⎯Β´ρ β$Ÿ2 $´ÒƒΔ ρ& ’?ã ™ ο´‰èù ⎯Β Θ$−ƒ& z& ‰ƒ`ƒ ´!#
`Ν6/ `¡`Š9# Ÿω´ρ ‰ƒ`ƒ `Ν6/ ´£`è9# #θ=ϑ6G9´ρ ο´‰è9# #ρ96G9´ρ ´!# †? ã $Β ¯Ν31 ‰δ
¯Ν6=è9´ρ šχρ`3±@ ∩⊇∇∈∪
“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (Al Baqarah: 185)

Seorang yang telah menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim, dia wajib tunduk dan
patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak diizinkan sama sekali mencampur adukan antara yang
haq dengan yang bathil. Allah berfirman:
Ÿω´ρ #θ´¡6= ? Y s9# ≅Ü≈79$/ #θ`ΚG3?´ ρ ,s9# ¯ΝFΡ&´ρ βθΗ >è? ∩⊆⊄∪
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (Al Baqarah: 42)

Seorang Muslim harus mengakui secara mutlaq, bahwa kebenaran itu datangnya hanya dari
sisi Allah Yang Maha Perkasa saja dan tidak ragu-ragu dalam hal ini. Allah berfirman:
‘,s9# ⎯Β 7/¯‘ Ÿξù ⎦ðθ3 ? ´⎯Β ⎦⎪Iϑϑ9# ∩⊇⊆∠∪
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang
yang ragu”. (Al Baqarah: 147)

Untuk menguji keyakinan hamba-Nya, Allah memberikan kebebasan untuk memilih jalan
yang dikehendakinya, apakah ia memilih golongan iman atau golongan kafir. Kedua golongan ini
tidak pernah bertemu selamanya, karena berbeda awal dan tujuannya, kedua golongan ini akan
bertemu di medan laga untuk mempertahankan masing-masing ideologi yang dianutnya. Allah
berfirman :
ω ν#.) ’û ⎦⎪$!# ‰% ⎦⎫6? ‰©”9# ´⎯Β ¯© ö9# ⎯ϑù ¯3 ƒ Nθó≈Ü9$/ ∅Βσ`ƒ´ρ ´!$/ ‰)ù
7 ¡ϑ G`™# ο´ρ``è9$/ ’+O'θ9# Ÿω Π$ÁΡ# $λ; ´!#´ρ ì‹ÿ œ Λ⎧=æ ∩⊄∈∉∪ ´!# ¯’<´ρ š⎥⎪%!# #θ`ΖΒ#´™
Ογ`_‚`ƒ ´ ⎯Β M≈ϑ=—à9# ’<) ‘θ–Ψ9# š⎥⎪%!#´ρ #ρ` . `Νδτ$´ Š9ρ& Nθó≈Ü9# Νγ Ρθ`_‚`ƒ š∅Β ‘θ–Ψ9#
’<) M≈ϑ=—à9# š×≈9`ρ& ´=≈s¹& ‘$Ψ9# ¯Νδ $κù šχρ$#≈ z ∩⊄∈∠∪
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman
kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang
tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al Baqarah: 256) “Allah
pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran)
kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang
mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Al Baqarah: 257)
Œ´θ`sG`™# `ΟγŠ =æ ⎯≈Ü‹±9# ¯Νγ9 ¡Σ'ù .Œ ´!# 7×≈9`ρ& ´>“m ⎯≈Ü‹±9# ω& β) ´>“m ⎯≈Ü‹±9# 'Λε
βρ£≈ƒ:# ∩⊇®∪
“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah
golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang
merugi”. (Al Mujadilah: 19)
ω ‰gB $´Β¯θ% šχθ`ΖΒσ`ƒ ´!$/ Θ¯θ´‹9#´ρ zψ# šχρ–Š#´θ`ƒ ⎯Β Š$m ´!# …`&!θ™´‘´ρ ¯θ9´ ρ #θΡ%Ÿ2 ¯Νδ´™$/#´™
ρ& ¯Νδ´™$Ψ¯/& ρ& `ΟγΡ≡´θz) ρ& ¯Ν·κ E´± ã 7×≈9`ρ& =FŸ2 ’û `Νκ5θ=% ´⎯≈ϑƒ}# Νδ ‰−ƒ&´ ρ yρ`/ μΨΒ
`Ογ=z‰`ƒ´ρ M≈Ζ_ “gB ⎯Β $κJtB `≈γΡ{# ⎦⎪$#≈ z $γ‹ù š_Ì´‘ ´!# ¯Ν·κ]ã #θÊ´‘´ ρ μΨã 7×≈9`ρ&
´>“m ´!# ω& β) ´>“m ´!# `Νδ βθs=RQ# ∩⊄⊄∪ ω ‰gB $´Β¯θ% šχθ`ΖΒσ`ƒ ´!$/ Θ¯θ´‹9#´ρ zψ#
šχρ–Š#´θ`ƒ ⎯Β Š$m ´!# …`&!θ™´‘´ρ ¯θ9´ρ #θΡ%Ÿ2 ¯Νδ´™$/#´™ ρ& ¯Νδ´™$Ψ¯/& ρ& `Ογ Ρ≡´θz) ρ& ¯Ν·κE´±ã
7×≈9`ρ& =FŸ2 ’û `Νκ5θ=% ´⎯≈ϑƒ}# Νδ ‰−ƒ&´ρ yρ`/ μΨΒ `Ογ=z‰`ƒ´ρ M≈Ζ_ “gB ⎯Β $κJtB `≈γΡ{#
⎦⎪$#≈z $γ‹ù š_Ì´‘ ´!# ¯Ν·κ] ã #θÊ´‘´ρ μΨã 7×≈9`ρ& ´>“m ´!# ω& β) ´>“m ´!# `Νδ
βθs=RQ# ∩⊄⊄∪
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-
sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka Itulah
orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka
dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (Al Mujadilah: 22)

Setelah memperhatikan ketiga ayat diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa di dunia ini ada
dua golongan yang tidak pernah bersatu selamanya, yaitu golongan Allah dan golongan Syaiton.
Di dalam kitabnya yang masyhur Ibn Thaymiyah membaginya menjadi Auliya’ Allah dan Auliya’
Syaithan (Al-Farq Baina Auliya Allah wa Auliya al-Syaithon).
Golongan Allah yang disebut sebagai orang-orang beriman, berwali hanya kepada Allah
semata, menyerahkan semua hidup dan matinya untuk Dia, mentaati semua perintah-Nya dengan
tulus dan ikhlas. Bentuk sistemnya adalah tunggal, yaitu Islam dengan segala aspeknya yang telah
sempurna, bersumber pada wahyu Illahi yaitu Al Qur’an dan sunah Rasulullah. Sistem yang dianut
kelompok iman ini bersifat universal dan mutlak kebenarannya, sesuai dengan segala
perkembangan zaman dan waktu, tidak pernah menjadi perubahan-perubahan mendasar dalam
ajarannya, karena ajaran Islam ini sesuai dengan fitrah dan kebutuhan manusia dulu dan
sekarang, ini akan melahirkan suatu keseimbangan, kebaikan didunia ini. Tujuan akhir dari
golongan ini adalah ridho Allah dengan mendapatkan Jannah dengan segala macam
kenikmatannya, itulah janji Allah kepada hamba-Nya yang taat dan patuh kepada-Nya.
Sedangkan golongan Syaiton (kafir) adalah sebaliknya, ia berwali kepada Thaghut
5
yang
terdiri dari jin dan manusia, ia taat dan patuh kepada semua yang diperintahkannya, tidak
terkecuali perintah itu salah atau benar, ia mengharapkan sesuatu darinya, padahal thaghut ini
tidak mempunyai kekuatan sedikitpun untuk berbuat mudharat dan manfaat kepada manusia,
tanpa seizin Allah Yang Maha Perkasa. Bentuk sistemnya beraneka ragam, terutama yang telah
memisahkan peranan Allah SWT. dalam kehidupan dunia (sekuler) seperti Komunisme,
kapitalisme, marxisme
6
, nasionalisme, liberalisme dan macam-macam isme-isme sejenis lainnya.
Dasar daripada sistem-sistem ini adalah ro’yu atawa filsafat hasil berfikir orang-orang yang ingkar
kepada Allah yang berasal dari Barat maupun dari Timur, semua fikiran yang dihasilkannya adalah
jahiliyah, karena tidak berdasarkan pada wahyu dan petunjuk Illahi, diotak atik oleh akal yang
sangat terbatas kemampuannya, sistem ini tidak konstan, selalu berubah-ubah sesuai dengan
kebutuhan zaman (relatif). Teori yang didukung hari ini mungkin besok akan dijungkir balikkan oleh
pendukungnya sendiri, kebenarannya masih diragukan dikalangan penganut-penganutnya. Karena
berdasarkan persangkaan semata, sistem ini mengakibatkan kerusakan dimuka bumi ini, satu
sistem dengan sistem yang lainnya saling serang menyerang dengan ganasnya. Tujuan akhir dari
golongan ini adalah An-nar (neraka), inilah ancaman Allah kepada golongan yang ingkar kepada
perintah-perintah-Nya, dan selalu mengikuti hawa nafsunya yang rendah.


Al Qur’an

Golongan Beriman Golongan kafir



Walinya hanya Allah Walinya Thaghut/Syaiton
terdiri dari jin dan manusia


Sistemnya tunggal : Islam Sistemnya banyak: kapitalisme,
komunisme, marxisme, liberalisme
nasionalisme, dsb



Bersumber pada Wahyu Bersumber pada Ro’yu, filsafat-
Al-Quran dan Sunah filsafat jahiliyah Barat dan Timur


Bersifat Universal dan Mutlaq Bersifat lokal dan relatif


Melahirkan masyarakat Islam, Melahirkan masyarakat
yang membagun alam jahiliyah merusak &berbuat keji
(Masyarakat Ma’ruf) (Masyarakat Mungkar)


Tujuan akhirnya Jannah (surga) Tujuan akhirnya Annar (neraka)



GARIS FURQON
(pembeda antara haq dengan bathil)



2. Kedudukan Pancasila Dalam Pandangan Islam
Sehubungan dengan kedudukan Pancasila dalam Islam, banyak terjadi perbedaan pendapat
dikalangan kaum Muslimin. Ada yang berpendapat bahwa Pancasila adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari Islam karena ajaran-ajarannya mencerminkan ajaran Islam. Pendapat ini
utamanya dianut oleh kalangan neo-moderenis Islam seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman
Wahid, Ulil Abshar Abdala, dan lainnya yang menyamakan Pancasila dengan Piagam Madinah.
Namun disatu fihak ada yang menyatakan bahwa Pancasila yang dijadikan sebagai dasar
berbangsa dan bernegara di Indonesia bertentangan dengan ajaran Islam sehingga tidak dapat

5
Thaghut berasal dari pangkal kata thagha-yathghu-thagwan yang berarti mengingkari atau melampaui batas. Thaghut dapat
didefinisikan sebagai segala sesuatu yang telah melampaui batas ketentuan Allah Azza wa Jalla, dalam artian mengingkari dan
menandingi apa yang telah diturunkan Allah Azza wa Jalla dan diajarkan Rasulullah Saw.. Thaghut dapat berarti meng-ilaah-kan
sesuatu selain Allah Azza wa Jalla atau pemujaan terhadap berhalaisme. Penjelmaan Thaghut dapat berupa; manusia munafiq-
musyrik-kafir, nafsu syahwat, sistem, undang-undang, atau ideologi—pandangan hidup yang bertolak belakang kepada kehendak
dan ketentuan Allah Azza wa Jalla.
6
Marxisme-Komunisme adalah produk pemikiran Karl Marx. Karl Marx lahir 5 Mei 1818 di Trier Jerman. Marx merupakan keturunan
dan seorang Yahudi. Marx muda, ketika ia masih menjadi seorang Hegelian yang membenci agama Kristen, ia bersama Freud-
Ludwig Feuerbach—seorang atheis, menyatakan bahwasanya agama adalah candu masyarakat—candu yang membuat seseorang
rela diperas dan ditindas. Serangan dan perlawanan kaum Marxis-Komunis tidak saja tertuju kepada mereka kaum gereja-rahib-
bourjuis-kapitalis, tetapi Islam pun dihantamnya secara brutal dan irasional. Sikap formal Marxisme dan Komunisme terhadap Islam
antara lain didalam Bolshaya Sovyetskaya Encyclopedia, jilid XVIII, 1953, hal. 616-619: [1] Agama Islam, sebagaimana agama-
agama lainnya selalu memainkan peranan yang reaksioner, yang dilakukan oleh kelas-kelas pemeras, sebagai satu senjata untuk
menindas secara rohani kaum-kaum yang membanting tulang dan dilakukan oleh penjajah asing untuk memperbudak bangsa-
bangsa timur [2] Agama Islam membenarkan ketidakadilan sosial, ekonomi dan sistem pemerasan yang sedang ditegakkan [3] Al
Qur’an yang dengan teguh dan tetap mempertahankan perbudakan. Untuk Marxisme-Komunisme, sangat dianjurkan membaca;
Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1966, hal. 2-3; Dr. Ali Syari’ati, Kritik Islam
atas Marxisme, Mizan, Bandung, 1983; Roger Garaudy, Mencari Agama pada Abad XX, Bulan Bintang, Jakarta, 1986.



4
diterima kaum Muslimin. Bahkan Pancasila telah menimbulkan krisis keyakinan dan dapat
menghantarkan kepada perbuatan syirik dan murtad sebagaimana dikemukakan kalangan
fundamentalis Islam. Bertolak dari kontraversi di atas, diperlukan sebuah analisa yang jujur dan
adil tentang Pancasila menurut ajaran Islam, baik landasan filsafatnya maupun materi-materi yang
terkandung serta pelaksanaanya di Indonesia.
Berangkat dari paradigma terdahulu, terutama uraian dan skema diatas, dimanakah
kedudukan Pancasila, apakah dikelompok iman ataukah dikelompok kafir? Dan untuk menyatakan
benar dan salahnya Pancasila, diperlukan sebuah analisa mendalam tidak cukup hanya dari satu
segi saja, melainkan harus dari beberapa segi, diantaranya adalah:
1. Segi Historis (Kronologis)
2. Segi Yuridis
3. Segi Materil
4. Segi Fungsional.

1. Segi Historis (Kronologis)
Sejarah, salah satu bukti autentik yang tidak bisa dikelabui oleh siapapun, karena ia
merupakan peristiwa yang telah tejadi pada masa lalu yang dicatat oleh para ahli. Sementara
waktu sejarah boleh ditutup-tutupi, namun suatu saat pasti akan terlihat mana yang benar dan
mana yang salah.
Pada permulaan pembentukan Pancasila tersebutlah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bertugas untuk mengkoordinir kemerdekaan
Indonesia yang dibuat oleh pemerintah Jepang dengan ketuanya DR. Rajiman. Disana dibahas
dasar negara Indonesia, apakah negara berdasarkan Islam, Komunisme, nasionalisme, atau
lainnya untuk tidak menyulitkan dibentuklah tim yang disebut panitia sembilan bertugas untuk
merumuskan dasar negara. Saat itu terkenallah Abi Kusno Cokrosuyoso cs dari kelompok Islam
dan Soekarno cs dari kelompok nasionalis serta A. Maramis dari kelompok Kristen. Terjadilah adu
argumentasi yang cukup tegang, terutama dari pihak Islam dengan pihak nasionalis yang hendak
menjadikan ideologinya masing-masing sebagai dasar negara
7
.
Setelah bersidang beberapa lama, panitia sembilan telah berhasil merumuskan dasar
negara Indonesia, dan pada tanggal 22 Juni 1945 BPUPKI mengesahkannya dengan nama
Piagam Jakarta yang mencantumkan kewajiban bagi ummat Islam untuk menjalankan syariatnya.
Tetapi Soekarno berargumentasi lain, di berujar bahwa pihak Islam menerima dengan ragu-ragu
rumusan Piagam Jakarta yang dikatakan sebagai dasar negara sementara, sambil memberikan
catatan: Nanti setelah merdeka akan dibahas lagi dalam Konstituante. Pada tanggal 18 Agustus
1945, sehari setelah kemerdekaan, dengan alasan yang dicari-cari, Piagam Jakarta diganti
dengan dihapuskannya kewajiban menjalankan syariat Islam. Dengan kesabaran sekali lagi, kaum
Muslimin memberikan toleransi demi keutuhan dan kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru
berumur sehari. Setelah merdeka dan diadakan pemilihan umum yang bebas pada tahun 1955,
dan terbentuknya konstituante yang membahas kembali dasar negara, namun secara sepihak
kelompok nasionalis yang diwakili Soekarno membubarkan Konstituante ketika dasar negara yang
sesuai dengan Islam hampir disepakati dan diganti dengan Pancasila dan UUD 45
8
.
Setelah melihatnya jalan terbentuknya Pancasila, dapat kita ambil suatu kesimpulan, bahwa
diterimanya Pancasila sebagai dasar negara oleh wakil-wakil Islam karena keterpaksaan, hanya
untuk sementara waktu saja, yang penting Indonesia merdeka dari cengkraman penjajah kafir
berkat kelihaian kelompok nasionalis dengan semua janji-janji muluknya. Mereka (wakil-wakil
Islam) lebih kecewa lagi setelah tujuh kata dalam Pancasila yang berbunyi: “dengan kewajiban
menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya” dihapuskan, maka sesuai pasal yang berbau
Islam pun dihapuskan, seperti Presiden beragama Islam dan lain sebagainya, dengan demikian
hilanglah warna Islam dalam Pancasila dan berbeda dengan Piagam Jakarta yang telah disepakati
kelompok Islam dalam BPUPKI. Karena para perumus Pancasila yang terkandung dalam Piagam
Jakarta sudah dibatalkan secara sepihak oleh kalangan nasionalis, maka secara otomatis semua
perjanjian yang terkandung batal demi hukum.
Penghianatan dari kelompok nasionalis sekuler belum berakhir sampai disana, dengan
angkuh dan sombongnya Soekarno mencela dan mencaci dasar Islam, yang katanya kolot, tidak
sesuai dengan negara moderen, hal ini disampaikannya ketika mengadakan kunjungan ke daerah,
sehingga saat itu Soekarno mendapat kritikan dari para Ulama
9
. Wakil-wakil Islam yang terlibat
dalam pembentukan Pancasila merasa menyesal atas keputusan yang diambilnya, karena hal ini
mengakibatkan tertindasnya ummat Islam
10
.
Sebagai seorang Muslim yang hidup di Indonesia, dapatkah kita menerima suatu perjanjian
terpaksa, bahkan menimbulkan suatu penyesalan yang besar ???
Seorang Muslim diperbolehkan mengadakan suatu konsensus dengan kaum kafir apabila itu
tidak bertentangan dengan firman Allah dan ajaran Rasul-Nya, dan tidak menimbulkan
kemudhorotan bagi masyarakat Islam, jika sebaliknya maka diperintahkan untuk memutuskan
perjanjian itu bahkan diperintahkan untuk memerangi mereka beserta pemimpin-pemimpinnya,
sebagaimana Allah berfirman:
´⎯≈ϑƒ& ¯ΝγΡ) 69# π´ϑ← & #θ=G≈)ù Μ6ΖƒŠ ’û #θ`ΖèÛ´ρ ¯Νδ‰γ ã ‰è/ ⎯Β Νγ´Ζ≈ϑƒ& #θW3Ρ β)´ρ ω
šχθγ G⊥ƒ ¯Νγ=è9 `Ογ9 ∩⊇⊄∪
“Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca
agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya
mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka
berhenti”. (At Taubah: 12)

Dalam pembentukan Pancasila, disana terdapat wakil-wakil dari Islam yang membawakan
missi Islam dan wakil-wakil nasionalis yang membawakan missinya juga. Mereka bersama-sama
berkumpul untuk meciptakan suatu collective ideologi (ideologi bersama) bagi bangsa Indonesia.
Apakah diizinkan dalam Islam, seorang Islam dan non Islam membuat suatu ideologi
bersama dengan meninggalkan konsepsi yang telah ditetapkan Islam, meninggalkan hukum Islam,
ekonomi Islam dan pendidikan Islam. Meninggalkan sistem Islam Kaffah, menggantikannya
dengan sistem kafir non Islam, seperti hukum warisan Belanda, ekonomi ala kapitalis, pendidikan
sekuler memisahkan Dinul Islam dengan negara dan lain sebagainya. Bagaimana menurut Islam,
dapatkah dibenarkan cara-cara seperti ini (mengadakan kompromi dengan meninggalkan konsep
yang ada). Allah berfirman:

7
Lihat Moh. Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, jilid I.
8
Lihat lebih mendetil : Endang Syaifuddin Anshary, Piagam Jakarta, Bandung, Pustaka Salman
9
ibid
10
Lihat : Ummat Islam Wajib Merobek-robek Pancasila, Buletin DRII, edisi I, halaman 3.


5
Ùè7/ ⎯ΒσΡ šχθ9θ) ƒ´ ρ ⎯&#™'‘´ρ ⎦⎫/ #θ%¯`ƒ šχρ‰ƒ`ƒ´ρ ⎯&#™'‘´ρ ´!$/ βρ`3ƒ š⎥⎪%!# β) ´!# β&
$Ρ‰Fã&´ρ $)m βρ`≈39# `Νδ 7×≈9`ρ& ξ‹6™ 79≡Œ ⎦⎫/ #ρ‹‚−G ƒ βρ‰ƒ`ƒ´ρ Ùè7/ `6Ρ´ρ ∩⊇∈⊃∪ β&
$´ΨŠγ•Β $/#‹ã ⎦⎪≈3=9 ∩⊇∈⊇∪
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud
memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:
"Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta
bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau
kafir)”. (An Nisa: 150) “Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah
menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (An Nisa: 151)
¯ΝO ΝO}$/ ΝγŠ=æ βρ`γ≈ à ? ¯Νδ≈ƒŠ ⎯Β Ν3ΖΒ $)ƒù βθ`_ƒB´ρ ¯Ν3¡Ρ& šχθ=G) ? ™ωσ≈δ ¯ΝFΡ&
=≈G39# Ùè7/ βθ`ΨΒσGù& ¯Νγ`_# z) ¯Ν6‹= ã Π¯tΧ ´θδ´ρ ¯Νδρ‰≈? “≈™& ¯Ν.θ?' ƒ β)´ρ β≡´ρ‰`è9#´ρ
šχρ`3?´ρ Π¯θƒ´ρ $´‹Ρ‘‰9# οθ´Š s9# ’û ““z ω) ¯Ν6ΨΒ š9≡Œ `≅èƒ '™#“_ Ùè7/ ⎯Β $ϑù
βθ=ϑè ? $´ϑã ≅≈ó/ >#‹è9# ´‰© & ´’<) βρ–Š`ƒ πϑ≈´Š)9# ∩∇∈∪ ´!# $Β´ρ
“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan
daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan
membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu
tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman
kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan
bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari
apa yang kamu perbuat
11
”. (Al-Baqarah: 85)

Dalam konsepsi Islam tidak ada istilah yang membolehkan seorang kafir (ingkar) kepada
yang sebagaian dan iman (percaya) pada sebagian, kalau sudah berikrar sebagai Muslim, maka
konsekuensinya harus menjalankan semua perintah yang telah diperintahkan Allah dengan tanpa
reserve, ikrar kepada yang sebagian berarti ikrar yang secara keseluruhan, Islam adalah suatu
sistem kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Maka cara-cara yang
ditempuh oleh wakil-wakil Islam dalam pembentukan Pancasila tidak diperkenankan sama sekali
oleh Islam, hal ini karena menerima kompromi dan meninggalkan konsep-konsep Islam yang ada.
Jelaslah sudah, dari segi historis (kronologis) ini Pancasila tidak dapat diterima sama sekali
oleh kaum Muslimin di Indonesia, karena sepanjang sejarahnya, sejak pertama kali dibentuk
sudah ada niat jahat terhadap ummat Islam. Kejahatan pertama adalah penghapusan tujuh kata
yang mengandung intipati kehidupan Islami, kejahatan kedua ketika Soekarno secara sepihak
mengembalikan Pancasila dan UUD ‘45 sebagai dasar negara dengan dektritnya yang akhirnya
menjadikan Soekarno sebagai tiran. Kejahatan selanjutnya di zaman pemerintahan Soeharto
dilarang membicarakan dasar negara, Pancasila disakralkan dan siapapun yang mengutak-atiknya
akan dicap sebagai subversi. Puncaknya Pancasila dijadikan sebagai Asas Tunggal yang
mengatur seluruh sistem hidup bernegara dan berbangsa. Sampai kapankah ummat Islam yang
memiliki keagungan dan kebesaran agama ini ditipu dan dikhianati terus. Bukankah kini sudah
berpuluh-puluh tahun ummat Islam mengalami penderitaan dan kesengsaraan serta kehinaan di
Indonesia akibat Pancasila yang selalu ditotelirnya. Maka sudah saatnya kini, kaum Muslimin
dipermainkan, mereka harus bersikap, penipuan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam harus
disambut dengan tegas, non koperatif. Allah berfirman:
Áϑ9# ´§♥/´ρ `ΟΨ γ_ ¯Νγ1´ρ'Β´ρ ¯Νκ¯=ã á=ñ#´ρ ⎦⎫)≈ Ψϑ9#´ρ ´‘$69# ‰γ≈_ ¯©<Ζ9# $κš‰'≈ƒ ∩∠⊂∪
“Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap
keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam, dan itu adalah tempat kembali yang
seburuk-buruknya.” (At Taubah: 73)

Untuk menguatkan argumen-argumen ini, dapat ditelaah dalam: Piagam Jakarta, Endang
Syaefuddin A. 7 bahan pokok Indoktrinisasi, Deppen RI (Orla). Dibawah bendera Revolusi,
Soekarno. Riwayat hidup Agus Salim dan riwayat hidup Wahid Hasyim, masing-masing oleh
Depag RI (Orla).

2. Segi Yuridis
Pancasila adalah salah satu konsensus bersama antara ummat Islam dengan
lainnya di Indonesia, satu sama lainnya harus konsekuen, menepatinya dan tidak boleh dilanggar.
Pada zaman Rasulullah hal ini ada contohnya, seperti Piagam Madinah (Deklarasi Madinah)
ataupun Perjanjian Hudaibiyah (perjanjian Rasulullah dengan kaum kafir di Makkah). Itulah yang
dijadikan argumen oleh pendukung-pendukung Pancasila untuk tetap mempertahankan eksistensi
Pancasila di Indonesia, yang akan menina-bobokan ummat Islam agar tidak mengganti Pancasila
dengan ideologi Islam.
Apakah dapat disamakan Pancasila dengan Piagam Madinah? Marilah kita analisa melalui
Islam. Al Qur’an al-Karim telah memberikan statemen pada ummat Islam tentang syarat-syarat
perjanjian dalam Islam harus memenuhi kriteria dibawah ini: (buka surat At Taubah ayat 1-15).
1. Perjanjian tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an dan sunah Rasulullah.
2. Perjanjian punya jangka waktu, kapan berlaku dan berakhir.
3. Kedua belah pihak yang berjanji harus menepati semua isi perjanjian dengan
konsekuen.
4. Tidak menimbulkan kemudhorotan bagi keduanya.
5. Perjanjian batal jika salah satu yang berjanji menyeleweng (tidak menepati janjinya).
6. Yang mengadakan perjanjian dengan ummat Islam tidak boleh memihak pada musuh
Islam lainnya.
7. Jika salah satu menyalahi perjanjian, harus diperangi.

Marilah kita analisa poin-poin diatas dengan Pancasila yang dikatakan sebagai perjanjian


11
Ayat ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku
Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. atara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu
terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-
orang Khazraj sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, krena membantu sekutunya. Tpi
jika kmudian ada orang-orang Yahudi tertawan, mka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya kendatipun mereka
tadinya berperang-perangan.


6
1. Materi-materi dalam Pancasila banyak sekali bertentangan dengan prinsip-
prinsip Islam. (Pembahasan akan lebih sempurna pada analisa dari segi materil).
2. Perjanjian Pancasila tidak mempunyai jangka waktu berakhirnya, abadi, bahkan
dipertahankan sedemikian rupa oleh para pengawal setia Pancasila, yang mau
mengganti Pancasila dicap subversi diancam hukum mati.
12

3. Penyelewengan-penyelewengan sangat banyak dilakukan oleh pihak nasionalis, dari
penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang baru disepakati, disusupi ideologi
komunis pada zaman Soekarno (Nasakom), dibubarkannya konstituante ketika
Masyumi memegang kendali politik dan akan membahas dasar Islam yang hampir
tercipta dibantu oleh Militer
13
, merubah sistem demokrasi Pancasila menjadi demokrasi
terpimpin dibawah kekuasaan Diktator Soekarno
14
, akan membubarkan partai Islam
yang ada
15
, menjadikan TNI sebagai tulang punggung pembela Pancasila dengan
Sapta Marganya
16
, dalam pemerintahan orde baru, fungsi Pancasila jauh telah
menyimpang dari relnya semula dengan adanya Pancasila sebagai Azas Tunggal
17
,
dan masih banyak lagi penyelewengan yang dilakukan pihak nasionalis/penguasa
terhadap ummat Islam
18
.
4. Pancasila menimbulkan banyak mudhorat bagi ummat Islam, karena tidak dapat
menjalankan Islam Kaffah (Al Baqarah: 208), Islam Kaffah adalah penerapan sistem
Islam disegala bidang, ipoleksosbudhankam yang berlandaskan pada Islam. Dengan
tidak menggunakan sistem Islam ini, ummat Islam menderita kerugian besar, sebab
semua amalannya adalah sia-sia dihadapan Allah.
5. Karena pihak nasionalis menyeleweng, maka ummat Islam harus memutuskan
perjanjian itu, tidak terikat lagi dengannya, ummat Islam harus menggantikannya
(Pancasila) dengan sistem Islam.
6. Ternyata pihak-pihak nasionalis dengan hebatnya membantu musuh-musuh Islam,
terutama militan kristen yang menjalankan missinya untuk mengkristenkan ummat
Islam yang masih awam dipelosok-pelosok desa, dengan memberikan bantuan
ekonomi lalu mengajak masuk keagama kristen, hal ini tidak pernah digubris oleh
penguasa karena ada hubungan dengan negeri-negeri kristen diBarat. Dengan
wewenangnya, pejabat-pejabat kristen selalu memojokan ummat Islam dengan alasan
sebagai kelompok fundamentalis, radikalis dan teroris yang akan mendirikan negara
Islam.
7. Pengikut-pengikut dan pendukung harus diperangi oleh ummat Islam, Allah sangat
menghina orang-orang yang tak mau memerangi orang yang memutuskan perjanjian,
(At Taubah: 13).

Setelah menganalisa poin-poin diatas, perjanjian ummat Islam dengan lainnya di Indonesia
ini adalah batal dan tak dapat dibenarkan sama sekali oleh Islam, karena tidak memenuhi kriteria
yang telah digariskan oleh Al Qur’an dan Sunnah.

Pancasila dan Piagam Madinah

Setelah Rasulullah Saw. tiba di Madinah ketika hijrah dari Makkah, pertama kali yang
dilakukannya setelah mengkoordinir kekuatan Islam di Madinah adalah mengadakan perjanjian
dengan suku-suku Yahudi maupun Nashrani yang tinggal di Madinah, hal inilah yang dipakai
argumentasi oleh kelompok pendukung Pancasila untuk menipu ummat Islam di Indonesia.
Kalau kita telaah lebih jauh isi perjanjian itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain:
1. Ummat Islam dan lainnya berjanji untuk hidup rukun dan damai (koeksistensi)
2. Jika terjadi perselisihan diantara kedua golongan yang berjanji, maka yang akan
menjadi hakim adalah Rasulullah.
3. Pemegang pimpinan tertinggi berada pada ummat Islam dibawah pimpinan Rasulullah.
4. Saling tolong menolong jika ada yang menyerbu Madinah.
5. Jika ada yang berkhianat, maka harus diusir dan diperangi.
6. Pihak yang berjanji tidak boleh membantu musuh golongan lain.
7. Dan seterusnya.

Perjanjian Madinah adalah salah satu perjanjian gemilang yang berakhir dengan
kemenangan mutlak berada pada pihak Islam, terbukti dengan pengusiran suku-suku Yahudi dari
Madinah akibat penghianatan mereka kepada kaum Muslimin
19
.

Bagaimana dengan Pancasila, samakah dengan Piagam Madinah?

Piagam Madinah adalah perjanjian ummat Islam dengan kaum kafir, dimana yang
memegang kekuasaan tertinggi berada pada ummat Islam, dalam artian ummat Islam bebas
menjalankan semua ajaran agamanya, baik dalam bidang hukum, undang-undang, ekonomi,
pendidikan, politik, militer, budaya dan lainnya. Namun bagaimana dengan Pancasila, sangat
bertentangan, karena ummat Islam bukan pengendali (pengontrol), tapi yang dikendalikan oleh
pihak nasionalis penguasa, sehingga ummat Islam tidak bebas menjalankan semua ajarannya,
lebih menyedihkan lagi melihat situasi pada masa Orba dibawah pimpinan Soeharto dimana fungsi
Islam tidak lebih hanya sebagai stempel untuk mengelabui ummat Islam dan masih dipertahankan
oleh rezim-rezim sesudahnya.
Dalam Piagam Madinah tercantum pasal yang berisi pemegang perjanjian tidak boleh
membantu musuh masing-masing, tapi bagaimana dengan pengikut Pancasila? Dizaman Orla
mereka membantu Komunis yang hendak menghancurkan Islam, sedangkan dizaman Orba
mereka membantu Kristen dan kelompok-kelompok anti Islam, bahkan Pemerintahan Orba sendiri
adalah pemerintah yang anti Islam dan membela musuh-musuh Islam. Bahkan mereka yang akan
menegakkan syari’at Islam yang telah diputuskan dalam BPUPKI dalam Piagam Jakarta yang
menjiwai Pancasila di cap sebagai penghianat dan pemberontak. Dan hari ini di Pemerintahan
Susilo Bambang Yudoyono (SBY) pun lagi-lagi ummat Islam terkena fitnah dari musuh-musuh
Islam, fitnah sebagai teroris.
Menurut Piagam Madinah, kalau musuh Islam telah membantu golongan lain yang juga
musuh Islam, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, sudah sewajarnyalah
mereka diperangi dan diusir dari bumi Indonesia, sebagaimana pengusiran terhadap suku-suku
Yahudi di Madinah ketika melanggar Piagam Madinah untuk membantu musuh Islam.

12
Lihat UU Anti Subversi no 11/PNPS/1963
13
Lihat, AH. Nasution, Kepemimpinan di Negara-negara berkembang, halaman 171
14
SU. Bayasut, Alam Fikiran dan Jejak Langkah Prawoto Mangunsasmito, Surabaya, Dokumenta, hal.221
15
Yusuf Abdullah Puar, M.Natsir 70 Tahun, Pustaka Antara, halaman 95-97. Lihat juga : Moh. Hatta, Demokrasi Kita, Pustaka Antara,
halaman 17
16
TB. Simatupang, Menelaah Kembali Peranan TNI, Prisma 11 halaman 20
17
M. Natsir, Indonesia di Persimpangan Jalan, Terbitan sendiri
18
Lihat: AM. Fatwa, Nasib Ummat Islam dan Rakyat Indonesia di Bawah Orde Baru dan Pos-pos Soeharto.
19
H.Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Tinta Mas, halaman 221-225


7

Perjanjian Hudaibiyah dan Pancasila

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Rasulullah Saw. dengan kafir Quraisy.
Perjanjian ini adalah perjanjian antara dua negara yang sama-sama berdaulat, Madinah dibawah
pimpinan Muhammad Rasulullah dan Makkah dibawah pimpinan Abu Sofyan cs. Kaum Muslimin
dinegara Madinah bebas menjalankan segala ajaran Islam dengan tidak ada gangguan sedikitpun
dari pihak musuh, memiliki tentara yang siap membela dan mempertahankan negara Madinah dari
serangan musuh dibawah Panglima gagah perkasa Muhammad Rasulullah
20
.
Adanya perjanjian ini disebabkan karena kafir Quraisy tidak sanggup lagi menahan serangan
tentara Islam yang gagah perkasa lagi berani untuk menyatakan kekalahan mereka, kafir Quraisy
dengan utusannya Suhail bin Amr mengadakan perjanjian dengan Rasulullah yang isinya antara
lain:
1. Tidak mengangkat senjata selama 10 tahun.
2. Saling membela kepentingan bersama.
3. Orang Madinah yang ke Makkah tidak boleh kembali lagi ke Madinah, sedangkan orang
Makkah yang ke Madinah boleh kembali ke Mekkah lagi.
4. Orang-orang Arab lainnya bebas bersekutu dengan Rasulullah.
5. Dan seterusnya.

Sepintas kelihatannya memang merugikan Islam, ternyata dengan adanya perjanjian ini,
ummat Islam Madinah dapat melaksanakan da’wah Islammiyah dengan bebas dan leluasa di
Makkah dan negeri-negeri sekitarnya, inilah kemenangan besar bagi ummat Islam saat itu, Allah
mengabadikannya dalam surat Al Fath
21
.

Bagaimana dengan Pancasila?

Pancasila bukan perjanjian antara dua negara, tapi masyarakat dalam satu negara.
Penandatanganan Pancasila bukan pemimpin yang diakui oleh ummat Islam, sebagaimana
kedudukan Rasulullah saat perjanjian Hudaibiyah. Setelah adanya perjanjian Pancasila, ummat
Islam Indonesia tidak bebas menjalankan da’wah Islamiyah, penangkapan-penangkapan dari dulu
hingga sekarang masih dijalankan oleh pihak nasionalis yang berkuasa terhadap Ulama-Ulama
Islam yang konsekuen terhadap Al Qur’an dan Sunnah, seperti Asy Syahid Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo, KH. Isa Anshori, M. Natsir, HAMKA dan lainnya pada masa Orla (Soekarno). Pada
masa Orba (Soeharto) penangkapan juga terjadi terhadap mereka (aktivis Islam) yang berani
memberi peringatan kepada pemerintah, seperti A. Qadir Djailani, Toni Ardhi, Abdullah Sungkar,
AM. Fatwa, Syarifuddin Parawiranegara dan lainnya. Dan pada pemerintahan SBY juga tidak
berbeda, aktivis da’wah seperti Abu Bakar Ba’asyir, Agus Dwikarna, Habib Riziq dan lainnya di
tuding teroris. Padahal pada waktu terjadinya perjanjian Hudaibiyah, ummat Islam di Madinah
lancar mengadakan aktifitas da’wah Islamiyah, tanpa ada yang berani menghalanginya.
Ummat Islam di Indonesia, tidak memiliki tentara dan panglima yang siap membela
eksistensi Islam, sebagaimana ummat Islam di Madinah. Pancasila adalah perjanjian ummat Islam
dengan lainnya dalam hal dasar (ideologi) negara Indonesia, sedangkan Hudaibiyah adalah
perjanjian keamanan bersama.
Setelah kita menganalisa perbandingan antara perjanjian Hudaibiyah dengan Pancasila
terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok, maka Pancasila tidak dapat disamakan
sama sekali dengan perjanjian Hudaibiyah yang telah dilakukan Rasulullah, seandainya ada yang
mengatakan sama, jelas ia bohong belaka.
Secara Yuridis, Pancasila tidak dapat diterima sama sekali oleh pihak Islam, karena jelas
sangat bertentangan dengan konsepsi-konsepsi dalam Al Qur’an maupun dalam Sunnah
Rasulullah. Ummat Islam yang konsekuen pada Al Qur’an dan Sunnah, tidak sepatutnya mencari
alasan yang bertentangan untuk mempertahankan Pancasila, apalagi hal ini menyangkut Sunnah
Rasulullah Saw., barang siapa berdusta, mencari-cari alasan, atas nama Rasulullah, maka
bersiaplah menghadapi keganasan neraka kelak.
Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang berdusta atas namaku (Sunnahku) maka
bersiap-siaplah untuk mendapatkan tempat duduk dineraka (Al Hadist).

3. Segi Materil
Pancasila yang dikatakan sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah bersumber pada
filsafat-filsafat Barat maupun filsafat-filsafat Timur. M. Yamin berkata tentang ini: “Pancasila
sebagai hasil penggalian Bung Karno ini sesuai pula dengan pandangan tinjauan hidup Neo
Hegelian”
22
.
Serta perhatikan pidato Bung Karno dihadapan BPUPKI, antara lain mengatakan, inspirasi-
inspirasi tentang Pancasila ia peroleh dari pemikir-pemikir Sosialis Cina
23
.
Jadi kandungan Pancasila adalah sebagian besar diambil dari filsafat-filsafat Barat maupun
filsafat-filsafat Timur (sosialis komunis) serta dimasukkan beberapa ajaran Islam, kemudian jadilah
ia sebagai collective ideologi (ideologi bersama) bagi bangsa Indonesia
24
.
Itulah sebabnya, seorang Muslim perlu menganalisa secara mendalam kandungan
Pancasila, apakah bertentangan atau tidak dengan Islam, agar aqidah ummat Islam tidak
tercampur baur yang mengakibatkannya musyrik kepada Allah Azza wa Jalla.
Sebagaimana kita ketahui Pancasila terdiri dari lima sila yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusian yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa

Konsep ketuhanan dalam Pancasila tidak jelas maknanya, karena ditafsirkan menurut
agama dan kepercayaan masing-masing individu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai
macam ragam agama dan kepercayaannya itu. Penafsiran Ketuhanan Yang Maha Esa menurut
Islam sangat berbeda dengan penafsiran menurut Kristen ataupun lainnya. Dalam Pancasila
terdapat banyak Tuhan, yaitu Tuhannya orang-orang Islam, Tuhannya orang Kristen, Tuhannya
orang Hindu, Tuhannya orang Budha dan lainnya, jadi Tuhan-Tuhan manusia Indonesia
berkumpul dalam Pancasila sebagai wadah tunggal, sebagai collective ideologi (aqidah bersama).

20
Lihat : A. Hasjmy, Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang, Jakarta, Mutiara.
21
H. Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas, halaman 441-444
22
M. Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, jilid I
23
Soekarno, 7 Bahan Pokok Indoktrinisasi, DPA RI (Orla).
24
Roeslan Abdul Ghani, Resapkan dan Amalkan Pancasila.


8

Bagaimana konsep Ketuhanan dalam Islam samakah dengan Pancasila?

Allah berfirman:
’û N≡´ θ≈ϑ´¡9# ’û …μ9 Π¯θΡ π´Ζ™ …ν‹{'? `Πθ•‹)9# ¯©∏9# ´θδ ω) μ≈9) ´!# $Β´ρ $Β Ÿω´ρ Ÿω ω
¯Νγ=z `Οドƒ& š⎥⎫/ `Ν=èƒ ⎯μΡŒ*/ ω) …ν ‰Ψã ì±„ “%!# Ú¯‘{# Ÿω´ρ $Β´ρ $Β #Œ ⎯Β
…νŠθ↔ƒ ´Ú¯‘{#´ρ N≡´θ≈ϑ´¡9# μ•‹™¯. ì™´ρ $ϑ/ ω) ⎯μϑ=ã ⎯Β ™`©´/ βθÜŠs`ƒ Ÿω´ρ ´™$©
`ΟŠàè9# ¯’?è9# ´θδ´ρ $´Κγ´àm ∩⊄∈∈∪
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus
menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di
langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi
25
Allah meliputi
langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi
Maha besar”. (Al Baqarah: 255)
¯≅% ‰m& ´θδ ∩⊇∪ ´!#
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa”. (Al Ikhlas : 1)

Sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 255, missi Islam adalah untuk
menegakkan kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH, tidak ada Illah kecuali hanya Allah saja. Jadi
konsepsi dalam Islam hanya ada satu Illah saja, yaitu Allah Azza wa Jalla. Selainnya tidak!!! Tidak
ada tuhan Yesus, tidak ada Sang Yhang Whidi, tidak ada Tao, tidak ada tuhan-tuhan lainnya.
Yang ada hanya Allah Azza wa Jalla.

Bagaimana konsep Pancasila dengan Islam tentang Tuhan ini, sama atau tidak?

Pancasila mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah, sedangkan Islam melarangnya
(Musyrik/Kafir). Allah berfirman:
‰)9 #θγ G⊥ƒ `Ο9 β)´ρ ‰n≡´ρ μ≈ 9) ω) μ≈9) ⎯Β πW≈=O ]9$O ´χ) #θ9$% ⎦⎪%!# $Β´ρ ´!#  Ÿ2
$´ϑã 'ΟŠ9& ´U#‹ ã `ΟγΨΒ #ρ`. š⎥⎪%!# ´⎯´¡ϑ´‹9 šχθ9θ) ƒ ∩∠⊂∪
“Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari
yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak
berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan
ditimpa siksaan yang pedih”. (Al Maidah: 73)

Jadi disini jelaslah bertentangan konsep Islam dengan Pancasila. Akibat adanya kesatuan
Tuhan dalam Pancasila dianggapnya semua agama adalah baik dan benar, inilah kemusyrikan
yang nyata, jelas-jelas melanggar konsep Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:
`Νδ´™% ` ‰è/ ⎯Β ω) =≈G39# #θ?ρ& š⎥⎪%!# #=Fz# `Ο≈=`™}# ‰Ψã š⎥⎪$!# β) $Β $Β´ρ ´!#
>$¡t:# ìƒ χ*ù M≈ƒ$↔/ ¯3 ƒ `Ογ Ψ/ $‹ó/ `Ο=è9# ∩⊇®∪ ´!# ´!# ⎯Β´ρ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang
yang telah diberi Al Kitab
26
kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Ali Imran: 19)

Jadi jelaslah sila pertama dari Pancasila ini sangat bertentangan dengan Islam, karena dapat
membuat seorang Muslim menjadi musyrik kepada Allah.

Sila ke 2: Kemanusian yang adil dan beradab

Dalam kontek Pancasila, sesuatu perbuatan dianggap adil dan beradab apabila sesuai
dengan sifat manusiawi (kemanusian).
“Jadi kemanusian yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia
yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma
dan kebudayaan umumnya baik terhadap diri pribadi, sesama manusia maupun terhadap alam
dan hewan”
27
.
Jelaslah menurut Pancasila, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kodrat manusiawi
(nafsu) tidak dapat diterima dan dibenarkan sama sekali, padahal manusia yang tidak dilandasi
dengan keimanan yang kuat maka cenderung mengikuti hawa nafsu yang sesat. Dalam Pancasila
banyak hal-hal yang mengikuti hawa nafsu manusia bukan yang diturunkan Allah, misalnya:
- Hukum potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi penzina adalah tidak manusiawi, jadi hal ini
tidak dapat diterima oleh Pancasila, sedangkan hal ini adalah wahyu Allah yang harus
dilaksanakan oleh setiap Muslim, jika ia tidak melaksanakannya maka ia telah KAFIR (Al
Maidah: 44).
Dalam kontek Pancasila penzina adalah orang yang mempunyai suami dan istri lalu
melakukan hubungan dengan orang lain, dikatakan berzina apabila mendapat tuntutan dari
salah satunya, sedangkan muda mudi yang berhubungan tidak dianggap berzina, asalkan
suka sama suka, tidak dihukum sama sekali. Sedangkan menurut Islam mereka adalah
penzina semua yang harus dihukum. Bertolak belakang betul konsep adil dan beradab
menurut Islam dan Pancasila.
- Presiden sebagai kepala negara dan pemegang kekuasaan tertinggi negara dapat
membebaskan seseorang dari tuntutan hukuman (hak Grasi, Rehabilitasi dsbnya), ini adalah
adil menurut harkat kemanusiaan, sedangkan menurut Islam siapapun tidak berhak
membebaskan seseorang dari hukuman yang telah ditentukan, walau Nabi sekalipun, sebab
ini adalah hak tunggal yang hanya dimiliki oleh Allah saja.
- Ekonomi Pancasila ala kapitalis, hak perorangan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin
miskin, tanpa mempunyai kewajiban sedikitpun untuk mengeluarkan hartanya, yang dalam
Islam dikenal dengan Zakat, inikah kemanusian yang adil?

25
Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.
26
Maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.


9


10
- Dan seterusnya.

Sila kedua ini sudah jelas sangat bertentangan dengan konsep Islam, karena sifat manusia
tidaklah terlepas dengan nafsu yang selalu condong kearah maksiat, itulah sebabnya Islam tidak
mengizinkan seseorang untuk mengikuti harkat kemanusiaan yang berdasarkan pada hawa nafsu
belaka, seorang manusia harus tunduk dibawah kehenda wahyu yang diturunkan Allah. Allah
berfirman:
$ϑΡ) β%. Α¯θ% ⎦⎫ΖΒσϑ9# #Œ) #θ`㊠’<) ´!# ⎯&!θ™´‘´ρ ´/3`s´‹9 ¯Νγ Ψ/ β& #θ9θ)ƒ $´Ζèϑ™ $´ΖèÛ&´ ρ
7×≈9`ρ&´ρ `Νδ βθs=ϑ9# ∩∈⊇∪
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)
$Β´ρ β%. ⎯Βσϑ9 Ÿω´ρ π´ΖΒσ`Β #Œ) © Ó% ´!# …`&!θ™´‘´ρ #´Β& β& βθ3 ƒ `Νγ9 ο´´ƒ:# ⎯Β ¯ΝδΒ& ⎯Β´ρ
Èèƒ ´!# …`&!θ™´‘´ ρ ‰)ù ≅Ê ξ≈=Ê $´Ζ7•Β ∩⊂∉∪
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Itulah konsep Islam, otak/fikir, hawa nafsu harus tunduk dibawah ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Sila ke 3: Persatuan Indonesia
Pancasila menyebutkan, seorang warga negara Indonesia harus bersatu padu dalam segala
hal, mengutamakan kepentingan negara dan bangsa dari pada kepentingan pribadi ataupun
golongan (termasuk kepentingan agama sekalipun).

Bolehkah ummat Islam bersatu padu dengan orang-orang kafir dalam segala hal?

Allah berfirman:
‰´ϑt’Χ `Αθ™¯‘ ´!# ⎦⎪%!#´ρ …μèΒ '™#´‰©& ’?ã ‘$39# '™$´Ηq'‘ ¯Ν'η´Ζ/ ¯Νγ1? $´è.'‘ #´‰´∨™ βθóG¯6 ƒ
ξÒù ´⎯Β ´!# $Ρ≡´ θÊ‘´ ρ ¯Νδ$ ϑ‹™ ’û Ογδθ`_`ρ ⎯Β O & Šθf´¡9# 79≡Œ ¯Νγ=V Β ’û π1´‘¯θ−G9#
¯/S=VΒ´ρ ’û ≅ŠgΥ}# í¯‘“. lz& …μ↔Ü © …ν´‘—$↔ ù á=óG`™$ù “´θF`™$ù ’?ã ⎯μ%θ™ ´=fè`ƒ í#¯‘–“9#
áŠó´‹9 `Νκ5 ´‘$39# ‰ ã´ρ ´!# ⎦⎪%!# #θ`ΖΒ#´™ #θ=ϑã´ρ M≈s=≈¯Á9# Ν·κ]Β ο óΒ #´_&´ρ $ϑ‹àã ∩⊄®∪
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan
sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat
lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath :29)
$κš‰'≈ƒ š⎥⎪%!# #θ`ΖΒ#´™ Ÿω #ρ‹‚−F ? ¯Ν.´™$/#´™ ¯Ν3 Ρ≡´ θz)´ρ ´™$´Š9ρ& β) #θ™6 sG`™# 69# ’?ã ⎯≈ϑƒ}#
⎯Β´ρ Ογ9´θG ƒ ¯Ν3ΖΒ 7×≈9`ρ'ù `Νδ šχθϑ=≈à9# ∩⊄⊂∪
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi
wali (mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu
yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (At Taubah: 23)
ω ‰gB $´Β¯θ% šχθ`ΖΒσ`ƒ ´!$/ Θ¯θ´‹9#´ρ zψ# šχρ–Š#´θ`ƒ ⎯Β Š$m ´!# …`&!θ™´‘´ρ ¯θ9´ ρ #θΡ%Ÿ2 ¯Νδ´™$/#´™
ρ& ¯Νδ´™$Ψ¯/& ρ& `ΟγΡ≡´θz) ρ& ¯Ν·κ E´± ã 7×≈9`ρ& =FŸ2 ’û `Νκ5θ=% ´⎯≈ϑƒ}# Νδ ‰−ƒ&´ ρ yρ`/ μΨΒ
`Ογ=z‰`ƒ´ρ M≈Ζ_ “gB ⎯Β $κJtB `≈γΡ{# ⎦⎪$#≈ z $γ‹ù š_Ì´‘ ´!# ¯Ν·κ]ã #θÊ´‘´ ρ μΨã 7×≈9`ρ&
´>“m ´!# ω& β) ´>“m ´!# `Νδ βθs=RQ# ∩⊄⊄∪
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-
sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah
orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka
dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al Mujadilah:
22)
$κš‰'≈ƒ ¯©<Ζ9# ‰γ≈_ ´‘$69# ⎦⎫)≈ Ψϑ9#´ρ á=ñ#´ρ ¯Νκ¯=ã ¯Νγ1´ρ'Β´ρ `ΟΨ γ_ ´§♥/´ρ Áϑ9# ∩∠⊂∪
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap
keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang
seburuk-buruknya.“ (At Taubah: 73)

Jihad, Mazhab Hanafi mengartikannya:
Lughoh: Menggunakan sesuatu secara maksimal baik berupa perkataan maupun
perbuatan.
Syari’ah: Membunuh orang-orang kafir, memancung kepala mereka, mengambil harta mereka
dan meruntuhkan rumah-rumah berhala (ibadah) mereka guna menegakkan Islam
28
.


27
IKIP, Pengertian Pancasila atas Dasar UUD 1945 dan Ketetapan-Ketetapan MPR, Laboratorium Pancasila IKIP Malang
28
Hasan Al-Banna, Risalah Jihad, Kuala Lumpur, IIFSO, halaman 29
Buka Al Qur’an lagi: Al Maidah: 54, An Nisa: 144, Ali Imran: 28, Al Maidah: 51 dan 57.

Dengan tegas dan jelas Allah Azza wa Jalla melarang kaum Muslimin untuk bersatu dengan
orang-orang kafir, apabila dalam menjalankan ibadah kepada Allah, Islam tidak mengenal toleransi
beragama (beribadah bersama-sama), ummat Islam hanya diperintahkan bersatu, hanya
berdasarkan taqwa kepada Allah, yaitu dengan sesama Muslim bukan sama orang kafir yang
membenci Islam.

Pancasila dapat menimbulkan sifat nasionalisme, dan demikianlah tujuan Pancasila

“Dengan Persatuan Indonesia harus pula dikembangkan semangat cinta tanah air dan
bangsa (nasionalisme) serta semangat pengabdian dan pengorbanan kepada tanah air dan
bangsa (Patriotisme), yang hakekatnya bersumber pada kesadaran senasib dan seperjuangan
dalam menghadapi tantangan hidup”
29
.
Dengan tegas dan jelas dikatakan Pancasila bertujuan untuk menciptakan sikap
nasionalisme ini dapat menimbulkan kebanggaan raas, merasa lebih tinggi dan baik dari bangsa
lain, serta memandang rendah mereka, Islam memandang mulia dan tidaknya seseorang bukan
tergantung dari ras, melainkan taqwanya kepada Allah semata.
Islam diturunkan untuk menghapuskan nasionalisme dan mempersatukan ummat manusia
seluruh dunia dibawah naungan Al Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman:
š⎥⎫ϑ=≈è=9 πΗq‘ ω) š≈Ψ=™¯‘ & $Β´ρ ∩⊇⊃∠∪
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al
Anbiya: 107)
Œ)´ρ $κù ‰¡`ƒ $κù `≅ègB& #θ9$% π‹= z Ú¯‘{# ’û ≅ã%` ’Τ) π3×≈=ϑ=9 š•/´‘ ⎯Β Α$%
βθϑ=è ? `Ν=ã& ’Τ) '¨´‰)Ρ´ρ 8‰ϑt2 x7¡Ρ ⎯tΥ´ρ ´™$Β$!# 7`¡„´ρ ∩⊂⊃∪ Ÿω $Β Α$% 7 9
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi."Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al
Baqarah: 30)

Khilafah adalah sistem pemerintahan dalam Islam, manusia sebagai wakil Allah untuk
menjalankan semua yang diturunkan-Nya, semua peraturan-peraturan dan perundang-undangan
tidak boleh keluar/menyimpang dari wahyu Allah, daerah kekuasaannya meliputi seluruh Alam
ini
30
.
Sayyid Quthub mengatakan: Masyarakat Islam ialah suatu masyarakat yang Universal, yakni
tidak Rasial, tidak nasional dan tidak pula terbatas didalam lingkungan batas-batas geografis. Dia
terbuka untuk seluruh anak manusia tanpa memandang jenis, warna kulit atau bahasa, bahkan
juga tidak memandang agama dan keyakinan atau Aqidah
31
.
Menyerukan sikap Nasionalime adalah hal yang dilarang dalam Islam, Rasulullah bersabda:
Bukan tergolong ummatku yang menyerukan Ashobiyyah, bukan tergolong ummatku yang
berperang atas dasar Ashobiyyah, bukan tergolong ummatku yang mati atas dasar ashobiyyah.
(HR. Abu Dawud)
32
Selanjutnya Sayyid Quthub berkata: Sebagai tindak lanjut dari penghapusan dinding-dinding
raas, bahasa dan warna kulit, maka Islam meniadakan pula batas geografi antara berbagai
bangsa, yang menciptakan perasaan Nasional sempit dan yang menjadi sumber bagi persaingan
sengit antara nation-nation yang berbeda –beda. Persaingan inilah yang melahirkan sistem
penjajahan yang intipatinya ialah eksploitasi bangsa atas bangsa, jenis atas jenis dan tanah air
atas tanah air.
Persatuan Indonesia ini juga akan melahirkn sikap patriotisme, mengabdi dan rela
mengorbankan diri demi untuk kepentingan negara dan bangsa. Inilah perbuatan musyrik yang
dianjurkan Pancasila. Seorang Muslim diperintahkan beribadah (mengabdi) dan berkorban
semata-mata karena Allah saja. Allah berfirman:
N¯Β& 79≡‹/´ρ …μ9 7ƒŸ° ⎦⎫Η>≈è9# >´‘ †A$ϑΒ´ρ “$´‹tΧ´ρ ’5´¡Σ´ρ ’AŸξ¹ β) ¯≅% Ÿω ∩⊇∉⊄∪ ´!
⎦⎫Η>`¡RQ# `Αρ& ∩⊇∉⊂∪ $Ρ&´ρ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam.” (Al An’am: 162) “Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al An’am:
163)

Sa’id Hawa mengatakan, salah satu yang mengakibatkan batalnya syahadat adalah terlalu cinta
pada tanah air, berjuang karenanya semata
33
.

Sila ke 4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan

Pancasila menyebutkan, seluruh rakyat Indonesia harus tunduk dan patuh kepada semua
peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh dewan perwakilan yang berdasarkan pada rasio
sehat. Jadi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan berarti, bahwa rakyat dalam menjalankan kekuasaannya memakai sistem perwakilan
sedang putusan-putusan harus berdasarkan kepentingan rakyat, yang diambil melalui
musyawarah yang dipimpin oleh rasio yang sehat serta dijalankan dengan penuh rasa tanggung
jawab
34
.
Dalam sistem Pancasila, pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat yang
diatur/diwakilkan melalui perwakilan (MPR/DPR). Hal ini sangat bertentangan dengan sistem
dalam Islam, ketaatan harus hanya kepada Allah semata dan wajib mengikuti undang-undang-Nya
serta haram meninggalkan peraturan ini dan mengikuti undang-undang buatan manusia-manusia
lainnya. Allah berfirman:

29
IKIP, Pengertian Pancasila…. Lihat juga Darji Darmodiharjo, Pancasila Suatu Orientasi Singkat.
30
Abul A’la Maududi, Khilafah dan Kerajaan, Mizan, halaman 64-67
31
Sayyid Qutb, Masyarakat Islam, Ma’arif, halaman 72
32
Ashobiyah artinya terlalu fanatik golongan, suku dan kebangsaan (nasionalisme) atau chauvinisme.
33
Said Hawwa, Jundullah, Bab Noda hitam yang membatalkan syahadat, diterjemah Majalah al-Muslimun Bangil
34
IKIP, Pengertian Pancasila..


11
νρ–Š`ù ™`©« ’û Λ⎢ã“≈´Ζ? β*ù `Ο3ΖΒ ¯Δ{# ’<`ρ&´ρ Αθ™¯9# #θ`è‹Û&´ρ #θ`è‹Û& #θ`ΨΒ#´™ ⎦⎪%!# $κš‰'≈ƒ ´!#
ξƒρ' ? ⎯¡m&´ ρ ¯z 79≡ Œ zψ# Θ¯θ´‹9#´ρ ´!$/ βθ`ΖΒσ? Λ⎢Ψ. β) Αθ™¯9#´ρ ’<) ∩∈®∪ ´!#
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara
kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa: 59)
βθ`è.≡´‘ ¯Νδ´ρ οθ .“9# βθ?σ`ƒ´ρ οθ=¯Á9# βθϑ‹)`ƒ ⎦⎪%!# #θ`ΖΒ#´™ ⎦⎪%!#´ρ …`&!θ™´‘´ρ `Ν3–Š9´ρ $´ΚΡ) ∩∈∈∪ ´!#
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al Maidah: 55)
#θ`è7?# βρ`. ‹? $Β ξ‹=% ´™$´‹9ρ& ⎯μΡρŠ ⎯Β #θ`è7−F? `Ο3/¯‘ ⎯Β Ν3Š9) Α“Ρ& ∩⊂∪ Ÿω´ρ $Β
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-
pemimpin selain-Nya
35
. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al A’raf: 3)
¯ΟO βθϑ=èƒ ⎦⎪%!# ´™#´θδ& ì7K? $γè7?$ù Β{# ´⎯Β πèƒŸ° 7≈ Ψ=è_ ∩⊇∇∪ Ÿω Ÿω´ρ ’?ã
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu),
maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(Al Jaatsiyah: 18 )

Pemimpin tertinggi ummat Islam adalah Allah, Rasul-Nya kemudian orang-orang yang
beriman yang tunduk dan patuh kepada wahyu yang diturunkan Allah, bukan orang yang mengikuti
rasio sehat yang tak terlepas dengan kemauan nafsu. Seorang Muslim harus tunduk dan patuh
hanya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, diperkenankan taat kepada manusia asalkan ia
beriman dan tidak mengajak kepada maksiat terhadap Allah.
Konsep demokrasi dalam Pancasila bersumber dari kebiasaan nenek moyang bangsa
Indonesia yang animisme, Hindu maupun Budha. “Demokrasi Pancasila demokrasi yang telah
dipraktekkan oleh bangsa Indonesia sejak dahulu kala (oleh nenek moyang) dan masih dijumpai
sampai sekarang”
36
.
Demokrasi Pancasila berdasarkan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat yang
dilaksanakan sepenuhnya oleh dewan perwakilan. Sistem demokrasi Pancasila ini terlihat dalam
MPR maupun DPR yang terdiri dari beberapa golongan agama dan kepercayaan, ada wakil Islam,
Kristen, Hindu, Budha, Komunis, Kejawen dan lain sebagainya, menjadi satu dalam MPR/DPR
yang membuat peraturan-peraturan maupun hukum. Sedangkan Islam menghendaki Syuro (Ali
Imran: 159) yang terdiri hanya dari wakil Islam, Islam yang taat saja, bukan dari berbagai
golongan.
Rasulullah berkata: Kumpulkanlah para ahli ibadat yang bijaksana diantara ummatku dan
musyawaratkanlah urusanmu itu diantara kamu, dan janganlah membuat keputusan dengan satu
pendapat saja
37
. Demikianlah dalam Islam, semua keputusan yang diambil tidak boleh sama
sekali bertentangan dengan Al Qur’an maupun As Sunnah.
Demokrasi Pancasila, MPR/DPR, banyak menelurkan keputusan-keputusan yang
bertentangan dengan Islam, seperti UU tentang perkawinan dan lainnya. Seorang Muslim tidak
diizinkan sama sekali menjadi anggota parlemen yang selalu memojokan Islam. Allah berfirman:
‰%´ρ `ΟγèΒ #ρ‰`è)? $κ5 &“¯κJ`¡„´ρ $κ5 ` 3`ƒ M≈ƒ#´™ Λ⎢èÿœ #Œ) β& =≈G39# ’û ¯Ν6‹=æ Α“Ρ Ÿξù ´!#
’û ⎦⎪≈39#´ρ ⎦⎫)≈´Ζϑ9# ìΒ%` β) `Ογ=VΒ #Œ) ¯/3Ρ) ⎯ν¯î ]ƒ‰ n ’û #θÊ胆 ©L m ´!#
$´èŠΗd Λ⎝ γ _ ∩⊇⊆⊃∪
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila
kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka
janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.
Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.
Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di
dalam jahannam.” (An Nisa: 140)

Demikianlah ketentuan Islam, ini adalah sistem politik dalam Islam, politik non cooperatif.
Apalagi kalau kita melihat MPR/DPR sekarang di Indonesia ini, wakil-wakil Islam hanya mencari
kursi saja, tidak membawa ideologi Islam sejati, padahal ketika berkampaye selalu menggunakan
ayat-ayat Al Qur’an, namun setelah menarik simpati ummat Islam, dan dipilih, mereka lupa sama
sekali dengan ayat Allah yang dibacakannya. MPR/DPR sekarang tidak lebih sebagai
parlemen/Majelis untuk memojokan ummat Islam, kaki tangan penguasa. Padahal jika ummat
Islam menelaah perjuangan Rasulullah Saw., Beliau (Rasulullah Saw.) tidak pernah mau duduk
bersama Abu Jahal (di darut nadwah), sekalipun Abu Jahal menawarkan kepada Rasulullah Saw.
untuk bergantian memerintah Makkah.
Jadi jelaslah sudah, Musyawarah menurut Pancasila dan Islam adalah bertentangan, Islam
bersumber pada wahyu Allah Yang Maha Sempurna, sedangkan Pancasila bersumber dari filsafat,
hasil pemikiran otak manusia yang lemah, apalagi digali dari sumber-sumber kafir Barat dan
ditambah lagi dengan sumber-sumber Indonesia tempo doeloe, animisme.

Sila ke 5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sila kelima dari Pancasila ini pada hakekatnya adalah manifestasi daripada rasa
nasionalisme, yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. (lihat pembahasan sila ke III). Konsep
keadilan sosial dalam Islam sangat berbeda dengan konsep dalam Pancasila. Konsep keadilan
sosial dalam Islam sepenuhnya bersumber dari rasa Taqwa kepada Allah semata, semua bentuk
keadilan sosial tidak boleh menyimpang dari konsep Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, tujuan
keadilan dalam Islam untuk menciptakan kebahagian bagi seluruh ummat manusia didunia ini,
tidak terbatas pada teritorial suatu daerah ataupun bangsa saja.
Sedangkan konsep keadilan sosial dalam Pancasila bersumber dari sifat-sifat manusiawi,
segala sesuatu dipandang baik dan buruk diukur dengan karsa dan rasa manusia, bukan pada
wahyu yang diturunkan Allah. Seperti perzinaan (pelacuran) hal ini diizinkan oleh manusia
Pancasila (terbukti dengan dilokallisasikannya komplek-komplek WTS oleh Pemerintah), demi
untuk tersalurnya kebutuhan nafsu manusia, hal ini dipandang sebagai kebutuhan pokok manusia.

35
Maksudnya: pemimpin-pemimpin yang membawamu kepada kesesatan.
36
Prof. Dr. Hazairin, Demokrasi Pancasila, Jakarta, Prapanca
37
Abul A’la Maududi, Khilafah dan Kerajaan, halaman 100


12
Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi penzina, poligami dan lainnya
ditinggalkan dengan naluri kemanusiaan (biadab).
Keadilan sosial dalam Pancasila terbatas untuk rakyat yang berdomisili di Indonesia,
diprioritaskan terutama untuk bangsa Indonesia, walaupun orang itu kafir. Sedangkan Islam selalu
memberikan perioritas pertama pada pemeluknya walau dimanapun tempatnya, Islam tidak
terbatas pada teritorial.
Jelaslah pertentangan sila kelima ini dengan Islam, perbedaannya dari tujuan maupun
awalnya, Islam menghendaki terciptanya keadilan sosial bagi seluruh dunia, sedangkan Pancasila
terbatas pada wilayah Indonesia.
Setelah kita menganalisa isi (kandungan) dari Pancasila secara menyeluruh, kesimpulan
terakhir yang kita peroleh adalah; Semua kandungan Pancasila adalah bertentangan dengan
Islam. Demikian pula secara fundamental sistem Pancasila berdasarkan sistem jahil, maka secara
otomatis semua produknya adalah jahili. Ummat Islam selama ini ditipu oleh Ulama-Ulama (syu’)
Pancasilais, dengan menempelkan ayat-ayat Allah pada butir-butir Pancasila, padahal semua itu
adalah taktik untuk menenangkan ummat Islam, agar dikatakan Pancasila tidak bertentangan
dengan Islam, mereka inilah yang disitir oleh Allah sebagai anjing, karena dia tahu ayat namun
dijualnya dengan murah. Allah berfirman:
¯≅ϑtB β) == 69# ≅Vϑ. …`&#V ϑ ù μ1´θ δ ì7?#´ρ Ú¯‘{# †<) $#z& …μΖ3≈9´ρ $κ5 μ≈´ Ζèù9 $Ψ⁄© ¯θ9´ρ
´È Á)9# È´Á%$ù $´ΖG≈ƒ$↔/ #θ/‹. š⎥⎪%!# Θ¯θ)9# `≅VΒ 79≡Œ ]γ=ƒ μ2I? ρ& ] γ=ƒ μ‹=ã
βρ`3F ƒ ¯Νγ=è9 ∩⊇∠∉∪
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar
mereka berfikir.” (Al Araf: 176)

Ummat Islam harus waspada dan hati-hati dengan perbuatan semacam ini, walau
bagaimanapun yang haq itu tak akan tercampur dengan yang bathil, yang haq pasti haq karena
bersumber dari yang haq pula, dan sebaliknya. Seandainya yang bathil ada persamaan dengan
yang haq, maka hal itu adalah bathil, walau kelihatannya haq. Demikian juga dengan Pancasila,
walaupun disusupi ayat-ayat Al -Qur’an, pasti dia akan tetap bathil, karena dasarnya adalah sudah
bathil.

5. Segi Fungsionil
Pada awal terbentuknya Pancasila, disepakati fungsi dari Pancasila adalah sebagai dasar
negara Indonesia merdeka, atau istilah Soekarno weltanschauung
38
. Akhir-akhir ini fungsi
Pancasila telah jauh menyimpang dari rel semula, apalagi setelah disusupi oleh kepercayaan-
kepercayaan mistik jawa kuno (kejawen). Fungsi Pancasila pada masa orde lama dengan masa
orde baru jauh berbeda, dengan demikian dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Pancasila dapat
diubah-ubah sesuai kemauan penguasa, hal ini terbukti baik dalam pemerintahan Soekarno
maupun Soeharto. Untuk membuktikan penyimpangan-penyimpangan ini, maka kita perlu
mengadakan suatu analisa mendalam.
Fungsi Pancasila zaman orde baru:
1. Sebagai Azas Tunggal dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.
2. Sebagai falsafah, ideologi dan Pandangan Hidup (way of life).
3. Sebagai sumber dari segala sumber hukum.
4. Sebagai ukuran baik dan buruknya perbuatan seseorang (moral/etika).
5. Dan seterusnya.

“MARILAH KITA ANALISA FUNGSI-FUNGSI PANCASILA DIATAS MENURUT ISLAM !!!”

1. Sebagai Azas Tunggal
Dijadikannya Pancasila sebagai azas tunggal bagai rakyat Indonesia, berarti semua langkah
dan geraknya harus sesuai dengan Pancasila, baik itu kehidupan berpolitik, bermasyarakat
(pergaulan), berekonomi, berpendidikan dan lainnya, bahkan dalam tata cara menjalankan ajaran
agamanya, sedikitpun tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, dialah pengatur.
Islam adalah Dien yang supra lengkap, ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari
tata cara hidup sebagai individu sampai tata cara hidup bermasyarakat, kalau Pancasila dijadikan
Azas Tunggal, lalu Islam sebagai apa? Apakah hanya sebagai stempel saja, ataukah hanya
sebagai teori-teori ideal tanpa adanya suatu pengamalan? Dengan dijadikannya Pancasila sebagai
Azas Tunggal, maka ia telah menyingkirkan Islam dari Indonesia, menggantikan semua fungsi-
fungsinya. Ummat Islam tidak bisa menjalankan hukumnya, ekonominya, pendidikannya, politiknya
dan lainnya yang sesuai dengan Islam, berarti ini adalah suatu kekalahhan total buat ummat Islam
Indonesia, karena selalu mendapatkan julukan fasik, zholim, kafir (QS. Al Maaidah: 44, 45, 47) dan
lain sebagainya dari Allah. Disebabkan ia tidak menjalankan syari’ah yang diturunkan Allah.
Dijadikannya Pancasila sebagai Azas Tunggal, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-
prinsip dalam Aqidah Islam, dalam Islam semua aktifitas seorang Muslim adalah semata-mata
berdasarkan Allah (keridhoan-Nya, Dia telah mengatur, memberikan Syari’ah, peraturan-peraturan
dalam kehidupan ini). Allah berfirman:
N¯Β& 79≡‹/´ρ …μ9 7ƒŸ° ⎦⎫Η>≈è9# >´‘ †A$ϑΒ´ρ “$´‹tΧ´ρ ’5´¡Σ´ρ ’AŸξ¹ β) ¯≅% Ÿω ∩⊇∉⊄∪ ´!
⎦⎫Η>`¡RQ# `Αρ& ∩⊇∉⊂∪ $Ρ&´ρ
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
Semesta Alam.” (Al An’am: 162) “Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al An’am:
163)

Kalau ada orang Muslim, mengerjakan sesuatu bukan karena Allah semata, maka ia telah
syirik, menyekutukan Allah. Karena ketika ia shalat selalu mengucapkan seluruh aspek
kehidupannya hanya untuk Allah, namun dilain waktu, ia berbuat bukan semata-mata karena Allah.
Demikian juga halnya, jika seorang Muslim melakukan suatu pekerjaan semata-mata berdasarkan
Pancasila bukan karena Allah, maka ia dikatagorikan telah musyrik kepada Allah.
Dijadikannya Pancasila sebagai satu-satunya azas oleh penguasa Orde Baru sungguh
sangat bertentangan dengan maksud diciptakan Pancasila itu sendiri. Soekarno melarang salah


13
satu kekuatan Orpol ataupun Ormas untuk berazaskan Pancasila, karena ia mengatakan
selanjutnya Pancasila milik kita bersama, PNI yang beraliran nasionalis/memperjuangkan
tegaknya Pancasila tetap berdasarkan/berazaskan Marhaen bukan pada Pancasila
39
.
Jelaslah, dijadikannya Pancasila sebagai satu-satunya azas oleh penguasa Orde Baru
dibawah rezim Soeharto adalah sangat bertentangan, baik dengan Islam sebagai Dien yang supra
lengkap maupun dengan maksud diciptakannya Pancasila.

2. Sebagai falsafah, ideologi dan Pandangan Hidup (way of live)
Pancasila sebagai falsafah, ideologi dan pandangan hidup (way of live) bangsa Indonesia,
berarti semua langkah dan dasar perbuatan orang-orang Indonesia harus sesuai dengan
Pancasila. Kedudukan Pancasila yang demikian ini dapat menempatkan dirinya sebagai agama
baru dalam masyarakat Indonesia, karena agama sendiri adalah sesuatu yang mengatur
kehidupan manusia, bahkan Pancasila mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari semua agama
di Indonesia.
Seorang Muslim, harus mengakui tanpa adanya keraguan sedikitpun, bahwa Islam adalah
Dien mereka satu-satunya, dan inilah yang paling benar. Allah berfirman:
`Νδ´™% ` ‰è/ ⎯Β ω) =≈G39# #θ?ρ& š⎥⎪%!# #=Fz# `Ο≈=`™}# ‰Ψã š⎥⎪$!# β) $Β $Β´ρ ´!#
>$¡t:# ìƒ χ*ù M≈ƒ$↔/ ¯3 ƒ `Ογ Ψ/ $‹ó/ `Ο=è9# ∩⊇®∪ ´!# ´!# ⎯Β´ρ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang
yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Ali Imran: 19)
šχθ`è _¯`ƒ μ‹9)´ρ $δ¯Ÿ2´ ρ $´ã¯θÛ ⇓¯‘{#´ρ N≡´θ≈ϑ´¡9# ’û ´Ν=`™& …`&!´ρ šχθó¯7 ƒ ⎯ƒŠ ´¯óù& ⎯Β ´!#
∩∇⊂∪
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah
menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan
hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan”. (Ali Imran: 83)
´⎯ƒ¡≈ ‚9# ´⎯Β οzψ# ’û ´θδ´ρ μΨΒ Ÿ≅6)`ƒ $´ΨƒŠ Ν≈=`™}# ´¯î G¯;ƒ ∩∇∈∪ ⎯=ù ⎯Β´ρ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama
itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali Imran: 85)
`Ο%'ù š9≡ Œ ,=⇐9 Ÿ≅ƒ‰¯7? $κ¯=æ ´¨$Ζ9# ©L9# NÜù $‹Ζ m ⎦⎪$#9 7γ_´ρ ´!# Ÿω  Üù ´!#
⎥⎪$!# βθϑ=è ƒ ¨$Ζ9# ´Y2& ∅3≈9´ρ `Ο¯Š )9# ∩⊂⊃∪ Ÿω
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dien Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Dien
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar Rum: 30)

Maududi berkata tentang Dien ini: Dien dapat diartikan sebagai: hukum, undang-undang,
peraturan, batas-batas ajaran, syari’ah dan jalan fikiran, ideologi atau teori dan praktek yang
mengikat hidup manusia (way of live). Selanjutnya ia berkata: Dienullah (Islam) mencakup semua
peraturan hidup yang sempurna dan multi komplek, baik dari aspek I’tikad, Syari’at, Akhlaq,
Muamalah maupun aspek kehidupan lainnya
40
.
Jadi Dien (falsafah, ideologi dan Pandangan Hidup) yang benar adalah hanya Islam, lainnya
adalah bathil. Dienul Islam adalah merupakan suatu sistem menyeluruh yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lainnya, Dienul Islam adalah Dien yang datangnya dari Allah sebagai aturan
dalam kehidupan manusia dibumi ini, seorang yang telah menyatakan dirinya sebagai seorang
Muslim sudah seharusnyalah tidak mencari Dien (falsafah, ideologi, dan Pandangan Hidup) diluar
Islam, karena hanya Islamlah satu-satunya Dien yang dapat menyelamatkan kehidupan ummat
manusia dipermukaan bumi ini. Adapun jika seorang Muslim mencari Dien selain dari Islam, maka
ia tidak berhak lagi disebut sebagai seorang Muslim.
Pancasila adalah kecil dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan Islam sebagai Dien,
karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan manusia, sedangkan Pancasila tidak !!!
Cendikiawan terkemuka didunia ini tidak pernah mengatakan Pancasila adalah falsafah apalagi
pandangan hidup (way of live), karena ketidakjelasan ajaran yang dibawakannya, bermakna
kosong, mereka hanya mengakui Islam, marxisme, Materialisme, Komunisme, liberalisme beserta
aliran-alirannya. Sebagai ideologi, falsafah, maupun pandangan hidup
41
.
Seorang Muslim di Indonesia, sudah seharusnyalah tidak mengakui Pancasila yang kerdil
dan bermakna kosong itu sebagai falsafah, ideologi maupun pandangan hidup baginya, tapi harus
meyakini, Islamlah satu-satunya yang benar. Islam telah membuktikan hal ini, hampir 15 abad
diturunkan namun ia tetap sesuai dengan zaman dan tempat maupun didunia ini, tidak pernah
mengalami perubahan sejak diturunkannya hingga kini, tidak seperti lainnya, selalu mengalami
perubahan-perubahan. Itulah ketinggian Islam yang fitri
42
.

3. Sebagai Sumber dari Segala sumber Hukum
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, berarti seluruh hukum
dan perundang-undangan di Indonesia tidak boleh menyimpang dari Pancasila, semua hukum dan
perundang-undangan harus digali bersumber pada Pancasila.
Dengan adanya fungsi Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, ini berarti
seseorang dapat membuat hukum selain dari hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, menurut
Islam ini adalah syirik, kerena satu-satunya yang berhak membuat hukum hanyalah Allah semata.
Allah berfirman:
©´ó`ƒ ¸`ê9# “´ θG`™# ¯ΝO Θ$−ƒ& π−G™ ’û ´Ú¯‘{#´ρ N≡´θ≈ϑ´¡9# “%!# `Ν3−/´‘ ´χ) ’?ã ,={ ´!#
'¯Δ{#´ ρ ,=ƒ:# `&! ⎯ν¯Δ'/ N≡‚¡`Β Πθf‘Ζ9#´ρ ϑ )9#´ρ ´§ϑ±9#´ρ $WWm …μ7=܃ ´‘$κ]9# Ÿ≅‹9# Ÿω&
⎦⎫Η >≈è9# ´>´‘ ∩∈⊆∪ ´!# 8´‘$6?
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang

38
Soekarno, Lahirnya Pancasila, 7 Bahan Pokok Indoktrinisasi, DPA RI.
39
Lihat, Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, Panitia, jilid I.
40
Maududi, Ketuhanan, Ibadah dan Agama, Surabaya, Bina Ilmu, halaman 109-111
41
Lihat : Ali Syari’aty, Kritik Islam atas marxisme, Bandung, Mizan
42
Murtadha Muttahari, Manusia dan Agama, Bandung Mizan


14


15
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah
hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al A’raf: 54)
¯≅% ’Τ) ’?ã π´Ζ/ ⎯Β ’1¯‘ ΟF¯/‹Ÿ2´ ρ ⎯μ/ $Β ”‰Ζã $Β šχθ=∨èG`¡@ ⎯μ/ β) `Ν3⇔9# ω)
´! ´È)ƒ ,s9# ´θδ´ρ ¯z ⎦,#Á≈9# ∩∈∠∪
“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku,
sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya
disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang
sebenarnya dan dia pemberi keputusan yang paling baik”. (Al An’am: 57)
$Β βρ‰7è ? ⎯Β ⎯μΡρŠ ω) ´™$ϑ`™& $δθϑGŠ´ϑ™ `ΟFΡ& Ν2τ$/#´™´ρ $Β Α“Ρ& ´!# $κ5 ⎯Β ⎯≈Ü=™ β)
`Ν3⇔9# ω) ´! Β& ω& #ρ‰7è? ω) ν$−ƒ) 79≡Œ ⎦⎪$!# `Ν¯‹ )9# ´⎯3≈9´ρ ´Y2& ¨$Ζ9# Ÿω
šχθϑ=è ƒ ∩⊆⊃∪
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu
dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang
nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu
tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. (Yusuf: 40)

Sumber dari segala sumber hukum menurut Islam adalah Allah semata, Dia-lah yang berhak
menciptakan dan mengambil keputusan tentang sesuatu hukum, selainnya tidak berhak sama
sekali. Allah memerintahkan kepada mereka yang mengakui dirinya beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya agar memutuskan semua perkara dengan hukum yang telah diturunkan Allah, jika
mereka tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah, maka jelas ia kafir, zholim dan fasiq. Allah
berfirman:
β&´ρ Ν3m# Ν'η´Ζ/ $ϑ/ Α“Ρ& ´!# Ÿω´ρ ì7K? ¯Νδ´™#´θδ& ¯Νδ¯‘ ‹n#´ρ β& š‚θ`ΖFƒ ⎯ã Ùè/ $Β Α“Ρ&
´!# 7‹9) β*ù #¯θ9´θ ? ¯Ν=æ$ù $´ΚΡ& ‰ƒ`ƒ ´!# β& Ν·κ´:Á`ƒ Ùè7/ ¯Νκ5θΡŒ β)´ρ #W. ´⎯Β ¨$Ζ9#
βθ)¡≈9 ∩⊆®∪
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah,
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka,
supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan
sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang
yang fasik”. (Al Maidah: 49)
$Β´ρ Λ⎢= Gz# μŠù ⎯Β ™`©« …μϑ3sù ’<) ´!# `Ν39≡ Œ ´!# ’1´‘ μ‹=ã M=2´θ ? μ‹9)´ρ ´=ŠΡ& ∩⊇⊃∪
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang
mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan
kepada-Nyalah aku kembali”. (Asy Syura: 10)
$Ρ) $´Ζ9“Ρ& π1´‘¯θ−G9# $κù “‰δ "‘θΡ´ρ `Ν3t† $κ5 šχθ–Š;Ψ9# ⎦⎪%!# #θϑ=`™& ⎦⎪%#9 #ρŠ$δ βθ–ŠΨ≈−/¯9#´ρ
'‘$6m{#´ρ $ϑ/ #θ´à`sG`™# ⎯Β =≈F. ´!# #θΡ%Ÿ2´ρ μ‹=ã ´™#‰κ− Ÿξù #'豂 ? ´¨$Ψ9# β¯θ±z#´ρ Ÿω´ρ
#ρI±@ ©L≈ƒ$↔/ $´ΨϑO ξŠ=% ⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ' ù `Νδ βρ`≈39# ∩⊆⊆∪ $Ψ¯;F.´ρ
¯Νκ¯=ã $κù β& ´§Ζ9# §Ζ9$/ š⎥⎫è9#´ρ ⎦⎫ è9$/ #Ρ{#´ρ #Ρ{$/ šχŒ{#´ρ βŒ{$/ ´⎯¡9#´ρ ´⎯¡9$/
yρ`f9#´ρ 'É$Á% ⎯ϑù šX´‰Á ? ⎯μ/ ´θγù ο´‘$Ÿ2 …`&! ⎯Β´ρ `Ο9 Ν6t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!#
7×≈9`ρ'ù `Νδ βθϑ=≈à9# ∩⊆∈∪
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya
(yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi
yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka,
disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi
terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan
janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
(Al Maidah: 44) “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya
jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi
dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya,
maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (Al
Maidah: 45)
¯/3`s´‹9´ρ `≅δ & ≅ŠgΥ}# $ϑ/ Α“Ρ& ´!# μŠù ⎯Β´ρ `Ο9 Ν6t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ
šχθ)¡≈9# ∩⊆∠∪
“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan
Allah didalamnya
43
. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik
44
”. (Al Maidah: 47)

Segala sumber dari segala sumber hukum dipermukaan bumi ini hanya wahyu yang
diturunkan Allah, inilah konsepsi Islam, seseorang diperbolehkan membuat hukum, keputusan dan
peraturan apabila tidak menyimpang dari hukum yang telah ditetapkan Allah namun jika
berdasarkan pada rasio dan nafsu belaka jelas hal ini tidak dapat diterima sama sekali oleh Islam.

43
Pengikut pengikut Injil itu diharuskan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalam Injil itu, sampai pada masa
diturunkan Al Quran.
44
Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam: a. Karena benci dan ingkarnya kepada hukum
Allah, orang yang semacam Ini kafir (surat Al Maa-idah ayat 44). b. Karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain
dinamakan zalim (surat Al Maa-idah ayat 45). c. Karena fasik sebagaimana ditunjuk oleh ayat 47 surat ini.
Menyatakan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah musyrik, benar-
benar musyrik yang nyata!!! Jika seorang Muslim Indonesia mengakuinya, janganlah sebut dirinya
lagi sebagai orang Islam lagi, karena jika ia menyatakannya dengan penuh kesadaran dan
pengetahuan, maka jelas akan mengeluarkannya dari aqidah Islam.

4. Sebagai moral/etika, ukuran baik dan buruknya perbuatan
Pancasila dipandang sebagai ukuran suatu perbuatan, apakah perbuatan itu baik atau
buruk. Dalam Pancasila sudah tersusun mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang
buruk, seperti mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan golongan (agama) ini
dianggap baik. Sedangkan membela kepentingan Islam dianggap ekstrim atawa melakukan tindak
kan terorisme.
Dengan adanya fungsi Pancasila sebagai pembeda, berarti ia sudah menyabot tugas Islam
pada ummatnya. Ukuran baik dan buruk menurut Pancasila adalah tergantung dengan
(berdasarkan pada) akal manusia (rasio), karena pada hakekatnya Pancasila adalah merupakan
perenungan jiwa yang sangat dalam
45
.
Sedangkan Islam mengukur sesuatu perbuatan, baik dan buruknya berdasarkan pada
wahyu Allah, Al Qur’an dan Sunah. Allah berfirman:
´⎯Š)−Fϑ=9 “‰δ μ‹ù =ƒ´‘ ´=≈G69# 79≡Œ ∩⊄∪ Ÿω
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
46
”.
(Al Baqarah: 2)
‰κ − β$%¯9#´ρ “‰γ9# ´⎯Β M≈Ψ/´ ρ ¨$Ψ=9 ”‰δ `β#´™¯)9# μŠù Α“Ρ& “%!# `¯κ− ⎯ϑù β$ŸÒΒ´‘
‰ƒ`ƒ z& Θ$−ƒ& ⎯Β ο´‰èù ™ ρ& $´ÒƒΔ μϑ´Á´Š=ù ¯κ¶9# `Ν3ΨΒ ´!# ’?ã β$Ÿ2 ⎯Β´ρ
¯Ν31 ‰δ #ρ96G9´ρ ο´‰è9# #θ=ϑ6G9´ρ ´£`è9# `Ν6/ ‰ƒ`ƒ `¡`Š9# `Ν6/ $Β †? ã ´!# Ÿω´ρ
šχρ`3±@ ¯Ν6=è9´ρ ∩⊇∇∈∪
“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (Al Baqarah: 185)
#´ƒ‹ Ρ š⎥⎫ϑ=≈è=9 βθ3´‹9 ⎯ν‰¯6 ã β$%¯9# Α“Ρ “%!# ∩⊇∪ ’?ã 8´‘$6?
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (Al Furqon: 1)
šχθ`Ψ%θ`ƒ Θ¯θ)9 πϑm´‘´ρ “´‰δ´ρ ¨$Ψ=9 ∝≈Á/ #‹≈δ ∩⊄⊃∪
“Al Quran Ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini”. (Al
Jaatsiyah: 20)
Suatu ketika Aisyah ra. ditanyakan tentang akhlaq Rasulullah Saw., maka ia mejawab: Akhlaq
Rasulullah adalah Al Qur’an (Al Hadist). Al Qur’an diturunkan sebagai pembeda antara perbuatan
yang baik dan perbuatan yang buruk, dan contoh akhlaq/moral yang paling baik adalah pribadi
Nabi Muhammad Saw. yang didasarkan pada wahyu Allah ini. Allah berfirman:
ΟŠàã ,=z 7Ρ)´ρ ∩⊆∪ ’?è9
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al Qalam: 4)
‰)9 #V. zψ# Π¯θ´‹9#´ ρ #θ`_¯ ƒ ⎯ϑ9 π´Ζ ¡ m ο´θ`™& Αθ™´ ‘ ’û ¯Ν39 ´!# . Œ´ρ ´!# β%. ´!# β%.
∩⊄⊇∪
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah”. (Al Ahzab: 21)

Konsep Islam tentang akhlaq ini sepenuhnya bersumber pada Al Qur’an dan Sunah,
sedangkan moral Pancasila bersumber dari hawa nafsu yang selalu condong kepada
keburukan/maksiat. Allah berfirman:
¤ Λ⎧m¯‘ "‘θ î ’1´‘ β) ’1´‘ ´Οm´‘ ω) ™θ´¡9$/ ο´‘$Β{ ´§Ζ9# β) ©¤Ρ —¯/& ∩∈⊂∪ $Β $Β´ρ
“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”. (Yusuf: 53)

Akhir-akhir ini banyak terjadi kerusakan moral pada bangsa Indonesia akibat Pendidikan
moral Pancasila yang merusak, moral Pancasila mengajak manusia Indonesia menjadi binatang.
Pendidikan moral Pancasila telah merusak dan mengajak ummat Islam Indonesia untuk musyrik
kepada Allah, dengan ajaran-ajaran sesatnya, menyatakan semua agama baik dan benar,
beribadah bersama-sama (toleransi beragama) dan lainnya.
Banyaknya kerusakan moral pada bangsa Indonesia akibat moral Pancasila yang hanya
menggunakan sangsi hukum (pengadilan) bagi pelanggarnya, sedangkan hukum yang digunakan
dan diadopsi merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dapat diputar balikan. Diberi uang,
habis perkara. Di Indonesia ini seseorang takut melaksanakan perbuatan tercela (jelek) karena
terdorong oleh rasa takut pada hukum (KUHP) dunia saja. Sedangkan Islam hukum dunia dan
akherat kelak. Itulah perbedaan menyolok pada kedua sistem diatas, Islam dan Pancasila.






45
Soeharto, Pancasila Menurut Presiden Soeharto, Yayasan Proklamasi
46
Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-
larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.


16



III. KESIMPULAN

Setelah kita menganalisa Pancasila secara panjang lebar dari berbagai aspek dari segi
Historis, Yuridis, Materil dan Fungsinya, menurut pandangan ajaran Islam yang bersumber dari Al
Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, maka kesimpulan akhir yang diperoleh adalah: PANCASILA
BERTENTANGAN DENGAN ISLAM, BAIK SECARA TEORITIS MAUPUN PELAKSNAAN
SEPANJANG SEJARAHNYA.
Pertentangan ini terutama disebabkan karena Pancasila adalah kumpulan dari berbagai
ajaran, baik dari Islam, agama-agama (selain Islam), filsafat, doktrin, isme-isme dan sejenisnya
yang dijadikan sebagai ideologi kompromistis yang diharamkan Islam. Karena Islam adalah ajaran
supra lengkap, yang tidak perlu mendapat tambahan dari sistem selainnya dalam membangun
pengikutnya sebagai masyarakat utama. Pancasila sendiri diterima wakil-wakil Islam dengan
pertimbangan sementara dan sangat terburu-buru dengan berprasangka baik. Namun dalam
perjalanannya setelah beberapa puluh tahun lahirnya Pancasila, ajaran-ajaran yang terkandung di
dalamnya telah mengakibatkan kerugian dan penderitaan ummat Islam yang menjadi mayoritas
bangsa Indonesia.
Seorang yang mengaku dirinya Islam dan beriman, belum tentu dianggap Islam maupun
beriman seratus persen sebelum menjalankan atau mengamalkan ajaran Islam secara kaffah,
secara keseluruhan. Pengikut dan pendukung Pancasila, apalagi menerimanya sebagai ideologi,
falsafah, way of life, maka ia telah ingkar dengan ajaran Islam. Kalau secara sadar, ia mengetahui
itu bertentangan dengan ajaran Islam namun mengikuti dan mendukungnya (Pancasila) maka ia
adalah DZOLIM, sedangkan kalau secara tidak sadar, karena ketidak tahuannya, ia adalah JAHIL.
Maka dengan demikian seorang yang telah bersyahadat, menyatakan dirinya Muslim, haram
mengikuti dan mendukung Pancasila. Karena Pancasila jelas bertentangan dengan Islam. Muslim
Indonesia wajib mengatakan Pancasila adalah sistem yang harus diganti dengan sistem Islam.
Sistem yang jauh lebih baik dan sempurna dari sistem manapun didunia ini, dari dulu hingga
sekarang dan sampai hari qiamat. Hanya Islam-lah yang akan menghantarkan bangsa Indonesia
menuju bangsa yang adil, makmur dan penuh kedamaian. Dan mereka yang bukan Islam, hanya
Islamlah yang dapat menjaga kehormatan dan keamanan mereka. Karena Islam adalah rahmat
untuk seluruh alam.

Inna fatahna laka fathan mubina…
Yuqtalu au yaghlib !


Wa ‘l-Lahu A’lamu bi ‘sh-Shawwabi









17

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful