P. 1
TIK Dibutuhkan Masyarakat Di Masa Depan

TIK Dibutuhkan Masyarakat Di Masa Depan

|Views: 1,016|Likes:
Published by maswig

More info:

Published by: maswig on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2010

pdf

text

original

”Teknologi Informasi Dan Komunikasi Yang Dibutuhkan Masyarakat Di Masa Depan”1

Oeh: Mas Wigrantoro Roes Setiyadi Direktur, Institute for Technology and Policy Studies <<INSTEPS>>

1. Informasi Masa Depan
Hidup manusia tidak dapat lepas dari fungsi ruang dan waktu. Waktu yang telah dilewati disebut masa lalu, yang sedang dialami dinamai masa kini, dan yang akan datang dikatakan sebagai masa depan. Untuk memudahkan dalam membangun persepsi durasi, dibuatlah satuan waktu: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Satu satuan waktu – hari misalnya – dapat dipersepsikan sebagai lama oleh satu pihak, sementara pihak lain dapat memersepsikannya sebagai sebentar. Relativitas dan persepsi individu sangat dominan dalam menentukan lama/singkatnya fungsi waktu. Teknologi yang ada pada saat ini belum dapat mempercepat detik menjadi – misalnya – “super detik”, teknologi yang ada baru mampu membuat alat ukur waktu dan membuat alat transportasi yang dapat menyingkat waktu perjalanan. Berkaitan dengan masa – masa yang telah, sedang dan akan dilalui, tidak ada pula kesepakatan universal yang menyatakan bahwa masa depan adalah sekian kali fungsi waktu lagi ke depan. Sedetikpun di depan kita sudah dapat disebut masa depan. Tetapi apakah sesingkat itu? Pertanyaan ini diajukan oleh mereka yang mengangap bahwa wakti sedetik sangat singkat, sementara mungkin dari pengalamannya waktu sedetik bisa dirasakan sangat lama. Jika demikian, kapan sebaiknya masa depan kita tetapkan? Menjawab secara presisi pertanyaan inipun perlu memerhatikan kelaziman yang berlaku.Sebagian orang membagi masa (depan) ke dalam tiga tingkatan: jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sejatinya pembagian ini dimaksudkan untuk membedakan suatu siklus aktivitas manusia, yang ketika berakhir akan berulang lagi dengan siklus baru hingga mencapai keadaan puncak (peak of the cycle). Kaitan teknologi dengan dengan waktu sama seperti hubungan antara manusia dengan masa. Semakin lama menjalani fungsinya, mengabdi pada kodratnya, tidak selalu berarti semakin berguna, karena selalu muncul teknologi baru yang lebih canggih dan sekaligus dapat menggantikan teknologi sebelumnya. Tidak demikian halnya dengan informasi, sebagian informasi memiliki sifat keusangan (obsolence) namun ada sebagian lain yang mampu bertahan dan bahkan dibutuhkan sepanjang masa. Bertolak dari pemahaman ini, dalam memroyeksikan informasi yang akan dibutuhkan masyarakat di masa depan membutuhkan pemahaman bagi penyedia informasi untuk menentukan jenis informasi apa yang siklus hidup dan masfaatnya berusia singkat, sedang dan jangka panjang. Sebagai contoh, informasi harga komoditas pertanian sebagaimana sering disiarkan oleh
1

Disajikan sebagai makalah dalam Seminar Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional di Masa Depan, diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan SDM – Depkominfo, Jakarta 14 Desember 2005.

1

Radio Republik Indonesia (RRI) memiliki dampak dan manfaat yang masanya relatif singkat, baik bagi petani maupun pedagang sayur mayur tersebut, siklusnya harian atau paling lama mingguan. Sementara itu, informasi tentang rencana pemerintah untuk melakukan registrasi nomor telepon selular prabayar, merupakan informasi yang bersiklus sedang, karena informasi tersebut akan terus bergulir di tengah masyarakat hingga pelaksanaan registrasi berlangsung dan – secara ekstrem – semua pelanggan prabayar sudah terdaftar. Jenis informasi yang dapat dikelompokkan memiliki usia jangka panjang antara lain seperti informasi pendidikan dan ketrampilan, informasi layanan publik, informasi tentang ilmu pengetahuan (sains), dan lain sebagainya.

2. Permasalahan Umum
Informasi dapat dipandang sebagai sarana (means) dan sebagai tujuan (ends). Pada pengertian pertama, informasi dipercaya memiliki kekuatan dan peran yang bila didaya – gunakan dapat memberi manfaat bagi penggunanya untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dari teori inilah kemudian muncul berbagai upaya menyediakan informasi: baik isi informasinya, cara menyampaikannya, media untuk menyajikan informasi, hingga bagaimana mengolah dan memanfaatkannya bagi pembuatan keputusan. Dengan asumsi variabel lain dalam pengambilan keputusan diabaikan, nilai informasi yang dihasilkan dari sebuah sistem informasi ditentukan dari perbedaan dampak dari keputusan yang ditetapkan menggunakan input informasi dari sistem informasi dibandingkan dengan tanpa input informasi. Permasalahan umum yang sering dihadapi para eksekutif di organisasi privat dan publik, adalah seringkali mereka tidak dapat membedakan apakah informasi yang digunakan untuk membuat keputusan tersebut berasal dari output sistem informasi yang ada di organisasinya, atau diperolehnya dari sumber lain. Selain itu, masih kuatnya anggapan di antara eksekutif, bahwa investasi teknologi informasi dan komunikasi yang dikelolanya dalam suatu sistem informasi lebih merupakan alat kerja pada level operasional, bukan sebagai management supporting-tools. Paradoks pertama, di satu sisi banyak yang percaya bahwa informasi merupakan sarana terbaik untuk mencapai sasaran organisasi, namun di sisi lain, masih banyak eksekutif yang tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan kemampuan sistem informasi yang dimilikinya. Persoalannya bisa saja terletak pada ketidak - mampuan organisasi sistem informasi menyajikan informasi yang dibutuhkan eksekutif dan atau masyarakat. Mengacu pada teori ekonomi, jika sisi penawaran tidak dapat memenuhi sisi permintaan, maka solusi yang dapat diambil berupa mencari subsitusi. Artinya, investasi teknologi informasi dan komunikasi yang dibangun dalam suatu sistem informasi menjadi kurang bermanfaat, karena pengguna sasaran lebih menyukai alternatif lain dalam memperoleh informasi. Paradoks kedua, jika semua orang memiliki perilaku positif, maka dapat diperkirakan tidak akan ada penyalah-gunaan informasi. Atau jika semua orang dapat menggunakan informasi dengan baik, maka semua orang memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya. Persoalannya, tidak semua orang berkarakter positif dan tidak semua orang mampu menggunakan informasi. Paradoks ini berkenaan dengan substansi atau isi informasi dan dampak yang ditunjukkan oleh manusia penyedia atau pengguna informasi.

2

Paradoks ketiga terkait dengan peran informasi sebagai sarana meningkat kesejahteraan adalah munculnya kesenjangan informasi (information gaps). Jika semua orang dapat mengakses dan memperoleh informasi yang diinginkan, maka semakin besar peluang meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Persoalannya, tidak semua informasi dapat diperoleh secara gratis. Sama seperti manusia menghirup udara untuk memperoleh oksigen, jika menghirup udara bebas, tidak perlu membayar, tetapi jika menginginkan udara dengan kandungan oksigen lebih tinggi tentunya harus membeli oksigen dalam tabung. Informasi sejatinya juga demikian, banyak informasi yang lalu lalang di hadapan kita, di radio, di televisi, media cetak dan lain sebagainya yang kita tidak haru smembayar untuk memperolehnya, paling banter harus punya pesawat penerima radio atau televisi sendiri. Kesenjangan informasi muncul karena tidak semua orang mampu membeli radio, televisi, komputer, melanggan Internet, membeli buku, dan lain sebagainya. Sementara, mereka yang mampu menyediakan informasi, berpeluang untuk lebih mudah dalam mencapai tujuan hidupnya. Semakin besar kesenjangan informasi, semakin besar pula ketidak- efisienan dalam pemanfaatan tersedianya informasi publik. Melihat strategisnya posisi informasi bagi peningkatan kesejahteraan dan keharmonisan dalam tatanan kehidupan masyarakat, banyak pihak pada berbagai tingkatan dari individu, organisasi hingga negara, yang kemudian menjadikan ketersediaan informasi sebagai tujuan (ends). Konsep pemikiran yang mendasarinya adalah bahwa bila informasi sudah dimiliki maka informasi bagaikan senjata yang dapat disasarkan ke mana saja. Banyak permasalahan sosial yang muncul: informasi menjadi luar biasa banyaknya (abundant), sementara tidak semua orang mampu memilah dan memilih informasi yang sesuai di antara jutaan informasi yang dapat diraihnya. Selain itu, adanya anggapan bahwa jika sudah memiliki informasi maka kemudahan akan diperoleh, ternyata tidak selalu benar, dalam banyak kasus, orang tidak mampu memanfaatkan informasi yang sudah dimilikinya. Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan akses dan pemanfaatan informasi merupakan syarat pertama sebelum membangun sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi. Kesalahan yang banyak dilakukan pemerintah di berbagai negara, dalam membangun sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi lebih berorientasi penewaran (supply side). Pendekatan ini beranggapan bahwa apa saja yang disediakan pemerintah pasti akan bermanfaat bagi masyarakat. Perkembangan jaman dan perubahan tata sosial masayarakat menunjukkan bahwa pemerintah tidak selalu benar dalam menyediakan layanan publik.

3. Masyarakat yang mana?
Paradigma baru kebijakan publik mengatakan bahwa sebelum membuat suatu kebijakan, sebaiknya pemerintah juga memperhatikan kelompok masyarakat yang akan menjadi sasaran dari kebijakan tersebut. Memperhatikan dalam konteks ini adalah apakah kelompok sasaran kebijakan ini: membutuhkan kebijakan tersebut? mampu melaksanakan kebijakan? dirugikan atau diuntungkan? Kemungkina menerima atau

3

menolak? dan hingga kapan kebijakan yang akan ditetapkan masih sesuai untuk kelompok masyarakat tersebut? Dalam paper ini, ada dua muatan yang ingin diketengahkan, memperkirakan kebutuhan teknologi informasi dan komunikasi masa depan untuk dapat menyediakannya, dan mempersiapkan kebijakan publik agar masyarakat dapat secara optimal menyediakan dan sekaligus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Konsep pemikiran untuk muatan yang pertama dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia bukan merupakan pemain dominan dalam menghasilkan teknologi informasi dan komnukasi, melainkan lebih sebagai pengguna. Sehingga tantangannya adalah kemampuan untuk melihat apa saja yang sedang dikerjakan oleh penghasil teknologi, membandingkan apakah bakal teknologi baru ini akan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia dan memberi dampak positif ketika digunakan. Selain itu, yang juga menjadi tantangan adalah: bagaimana menyediakan, berapa banyak yang harus disediakan, siapa saja yang perlu dibantu untuk memperoleh dan dapat menggunakan sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi. Informasi atau In-for-nasi? Dengan cakupan wilayah geografis sepanjang lebih dari 4000 km dan dengan lebih dari sepuluh ribu pulau dan ratusan kelompok etnik, Indonesia memiliki masyarakat yang modern hingga yang masih hidup dalam suasana primitif. Karakterisitik sosial semacam ini, berdampak pula terhadap pola kebutuhan informasi. Pada ekstrem atas, bagi mereka yang tinggal di daerah urban, dengan latar belakang pendidikan tinggi dan kondisi ekonomi yang cukup atau tergolong mampu, informasi menjadi kebutuhan primer yang harus terpenuhi. Kebutuhan informasi dapat dipenuhi melalui media radio, televisi (nasional dan internasional), cetak, elektronik (Internet), komunikasi telepon, dan lain sebagainya. Tidak demikian halnya pada ekstrem terbawah, mereka yang tergolong masih primitif, informasi sebagaimana format yang dibutuhkan oleh kelompok pertama besar kemungkinan tidak terlalu dibutuhkan oleh kelompok ini. Informasi yang dibutuhkan bersifat lokal, tradisional, tidak perlu ada sentuhan teknologi informasi berbasis komputer, dan lebih banyak berorientasi pada mempertahankan kelangsungan hidup. Informasi dalam pengertian masyarakat modern tidak relevan pada kelompok ekstrem bawah ini, bagi mereka yang lebih penting – barangkali – adalah in-for-nasi. Di antara dua ekstrim ini, terdapat kelas – kelas sosial atau kelompok masyarakat yang adaptasi terhadap teknologi informasi dan komunikasi serta tingkat kebutuhan terhadap informasi sangat beragam. Persoalannya, bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan informasi secara mandiri, sementara kemampuan pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana teknologi informasi masih relatif kecil. Kemandirian, fasilitasi pemerintah, penggunaan bersama sumber daya informasi, kemitraan publik-privat, pembagian kelompok masyarakat berdasarkan pada kesamaan kebutuhan terhadap jenis informasi tertentu, akan menjadi warna pengembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di masa depan. Profile Pengguna Informasi

4

Sudah saatnya bagi kita untuk memilah – milah pengguna informasi. Hal ini peting mengingat terdapat banyak sekali perbedaan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan informasi, mendefinisikan kebutuhan informasi, dan memenuhi kebutuhan informasi. Perbedaan ini sebagian besar disebabkan antara lain oleh lokasi geografis tempat tinggal, wilayah mobilitas, bidang profesi, tingkat kemakmuran ekonomi, tingkat pendidikan, dan ketersediaan sarana akses informasi. Memahami perbedaan tingkat adaptasi masyarakat terhadap teknologi informasi akan membantu pembuat kebijakan dalam merencanakan dan membuat kebijakan publik, sehingga setiap kebijakan yang dihasilkan akan tepat sasaran dan tepat guna. Dari segi keakraban pengguna terhadap Teknologi Informasi pengguna informasi dapat dibedakan ke dalam empat kelompok: Mahir (Advance), Biasa (Ordinary), Pemula (Novice), dan belum menjadi pengguna (Not Yet). Kelompok Mahir adalah mereka yang aktivitas ekonominya sangat tergantung kepada tersedianya teknologi informasi, sehingga ketersediaan TIK dan akses informasi menjadi sangat penting. Untuk menunjang kebutuhannya, kelompok Mahir dapat menggunakan sebagian besar perangkat elektronik (electronic gadgets) yang tergolong mutakhir, ditandai dengan kemampuan untuk menggunakan secara intensif semua kelengkapan (features) yang ada pada perangkat elektronik tersebut. Dalam beberapa hal, kelompok mahir dapat lahir dari bidang pendidikan dan para profesional. Profile Pengguna Internet Indonesia Internet Research Center (IIRC) membuat klasifikasi pengguna Internet menjadi tiga golongan. Pertama, kelompok existing users, yakni mereka yang saat ini sudah menjadi pemakai aktif beberapa layanan internet seperti e-mail, web surfing, ecommerce, dan lain - lain. Kedua, kelompok perspective users, yakni mereka yang saat ini masih belum menjadi pemaka Internet tapi yang, karena beberapa alasan, memiliki potensi besar untuk menjadi pemakai di masa depan. Ke dalam kelompok ini termasuk para mahasiswa, karyawan perkantoran, tenaga edukatif di lembaga-lembaga pendidikan serta kelompok-kelompok masyarakat lain yang secara keseluruhan bisa diasumsikan sebagai orang-orang yang telah memiliki pengetahuan minimal tentang komputer atau, paling tidak, sedikit banyak telah memperoleh cukup informasi tentang manfaat internet bagi kehidupan mereka. Di luar dua kelompok tersebut, tentu saja adalah kelompok sosial lain yang menjadi bagian terbesar dari populasi masyarakat. Ada banyak sebab mengapa mereka tidak bisa digolongkan ke dalam kelompok perspective users seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, taraf hidup ekonomi, dan variabel-variabel sosial lain yang hubungannya sangat signifikan dengan preferensi pilihan mereka terhadap salah satu produk teknologi seperti Internet. Secara skematik, proses-proses sosial yang berlangsung antara masyarakat dan internet itu adalah seperti dalam Gambar 1 berikut:

5

Gambar 1

Sumber: Indonesia Internet Research Center

4. Karakter Informasi
Para ahli informasi mengajukan persyaratan agar informasi dapat dikatakan berkualitas. Pertama, informasi harus akurat, substansi informasi disampaikan sama dengan fakta sebenarnya. Akurasi sangat penting, perbedaan antara fakta dan informasi yang disajikan dapat membawa petaka bagi pengguna informasi. Hambatan yang dapat ditunjuk sebagai penyebab ketidak-akuratan dalam menyaikan informasi antara lain: tidak tersedia alat ukur yang layak digunakan, atau tersedia alat ukur tetapi pelapor fakta (pembuat informasi) tidak dapat menggunakan sarana ukur tersebut dengan baik, atau ada interest tertentu dari penyaji informasi sehingga informasi sengaja dibuat tdak akurat, atau ada kelalaian atau kesalahan dalam pemrosesan fakta/data menjadi informasi sehingga informasi menjadi tidak akurat. Kedua, informasi yang tersedia hendaknya sesuai (relevance) dengan penyajinya atau kelompok sasaran yang diharapkan akan menggunakan informasi tersebut. Semakin sesuai informasi terhadap sasaran penggunanya semakin efektif dan efisien. Dalam kasus website Internet, sering dijumpai sajian informasi yang tidak sesuai dengan tujuan dari dibuatnya website itu sendiri atau kelompok pengguna yang ingin disasar. Website suatu pemda yang dalam pernyataan misinya dimaksudkan untuk mengundang investor asing ternyata ditulis dalam bahasa Indonesia.

6

Ketiga, informasi yang disajikan hendaknya selalu terbarukan (updated), sementara informasi lama masih dapat diakses oleh mereka yang memerlukan. Aktivitas manusia tidak ernah berhenti, ketika di belahan dunia bagian timur sedang terlelap tidur mereka yang tinggal di belahan barat sedang berkativitas menikmati masa siang hari. Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan setiap kejadian di manapun di muka bumi dalam waktu relatif singkat dapat diketahui oleh orang – orang di seantero dunia. Dalam disiplin jurnalistik, setiap peristiwa adalah informasi, semain cepat publik mengetahui telah terjadi suatu peristiwa, semakin bermanfaat informasi yang dilaporkan. Penyajian informasi perlu mempertimbangkan siklus hidup informasi dan golongan – golongan informasi. Suatu informasi yang siklus hidupnya cepat namun terpampang dalam waktu cukup lama di suatu situs berita, menjadi berkurang maknanya dan malah mencerminkan pengelolanya tidak memahami bagaimana mengelola informasi. Keempat, informasi harus relatif murah sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu memperolehnya. Murah tidak berarti gratis. Informasi yang terdapat di situs www.detik.com misalnya, meski untuk membacanya kitatidak harus membayar langganan atau membeli sebagaimana berlaku pada koran cetak, namun tetap saja pembaca harus mengeluarkan biaya akses Internet. Murah dalam pengertian ini adalah total biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh informasi (total cost of information acquisition). Karakteristik kelima dari informasi yang dibutuhkan di masa depan adalah mudah dimengerti baik arti, maksud dan tujuannya. Sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi pada umumnya neutral terhadap karateristik kelima ini. Artinya, tercapainya persyaratan ini sepenuhnya tergantung pada penyaji informasi. Paradigma yang harus dipegang, bukan hanya menyajikan apa yang ingin disajikan, tetapi menyajikan apa yang ingin dibaca, dinikmati, dipelajari oleh publik kelompok sasaran. Ketersediaan dan kemudahan akses informasi dari mana saja, oleh siapa saja, kapan saja, dengan alat apa saja menjadi ciri keenam dari informasi yang akan dibutuhkan di masa depan. Mobilitas manusia yang semakin tinggi, menuntut penyedia informasi untuk melayani kelompok sosial seperti ini. Keterbatasan sarana komunikasi tetap, mendorong dapatnya tersaji informasi melalui media telepon selular, atau perangkat lain yang mobile. Karakter ketujuh, manfaat informasi secara agregat akan dilihat dari seberapa besar informasi yang tersedia di domain publik dapat menambah kecerdasan serta kearifan penggunanya. Informasi dapat tersedia banyak sekali, bisa diakses dari mana saja oleh siapa saja, akurat, murah, dan terbarukan, namun bila isinya buruk, penggunanya gagal menggunakan informasi untuk hal – hal yang baik, atau tidak menjadi tambah pintar dari mengonsumsi informasi tersebut, diduga ada yang salah dalam sistem masyarakat dan atau pengelolaan sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi.

5. Teknologi, Informasi, dan Organisasi
Kajian tentang hubungan teknologi dan kinerja organisasi sudah lama dan banyak dilakukan. Dalam literatur organisasi, teknologi didefinisikan sebagai sarana (means), aktivitas, dan pengetahuan (knowledge) yang digunakan untuk mengubah material dan input menjadi output (Scott, 1987:18 dalam Jaffe, 2001: 185). Hampir semua organisasi

7

menggunakan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi dan karakter bisnisnya. Teknologi proses pada indusri kimia misalnya, terus mengalami perubahan sama seperti teknologi cetak pada industri percetakan. Joan Woodward (1958) membagi hubungan teknologi dengan pekerja dalam proses produksi ke dalam tiga kelompok: small batch and unit production, large batch and mass production, dan continuous process production. Kajian Woodward ini sesuai dengan kondisi pada waktu itu, yang ditandai dengan penggunaan teknologi dalam industri manufaktur. Ketika faktor produksi tidak lagi bertumpu pada tanah (land), orang (men) dan uang (money), dan bertambah dengan informasi, maka kajian Woodward menjadi kurang relevan lagi untuk suasana sekarang. Shoshana Zuboff dalam In the Age of Smart Machine (1984) mengawali kajian tentang peran informasi dalam pengaruhnya terhadap perilaku organisasi. Visi positif yang diajukan Zuboff dalam pengaruh teknologi terhadap organisasi antara lain berkenaan dengan perbaikan dalam metoda koordinasi. Teknologi menjadi sumber yang dapat memberikan dukungan bagi munculnya inovasi, penggunaan bersama informasi, kerja sama antar dan intra organisasi. Terbukanya akses informasi membantu mewujudkan iklim tanggung jawab bersama, rasa memiliki kebersamaan (mutual ownership), dan penyelesaian persoalan secara bersama (team problem solving). Sebaliknya, teknologi juga dapat dipersepsikan negatif jika digunakan sebagai metoda untuk mengendalikan atau memonitor pekerja, sehingga manajemen menjadi “jauh” (remote) dari para pelaksana di lapangan, iklim ketidak – percayaan di antara manajemen dan pekerja dapat tumbuh jika teknologi digunakan untuk memata – matai perilaku anggota organisasi. Persoalan yang berkembang sejalan dengan makin meluasnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di organisasi adalah seberapa jauh TIK berpengaruh terhadap perubahan struktur dan bentuk organisasi, dan seberapa jauh manajemen organisasi mampu menggunakan TI untuk mengubah kinerja organisasi menjadi lebih baik. Jaffe (2001) mengutip pernyataan Manuel Castells (1996:62) bahwa paradigma TIK berbasis pada fleksibilitas. Tidak hanya proses yang dapat diubah (reversible), namun juga organisasi dan institusi dapat dimodifikasi, dan bahkan secara mendasar diganti, dengan cara melakukan konfigurasi baru terhadap semua komponen organisasi. Mengubah aturan tanpa merusak organisasi menjadi suatu kemungkinan yang dapat dilakukan. Kuncinya, dengan TIK basis organisasi dapat diprogram ulang dan diperlangkapi dengan sarana manajemen baru. Berangkat dari kajian – kajian di atas dan dikaitkan dengan proyeksi kebutuhan informasi di masa mendatang, pelajaran yang dapat ditarik antara lain: pertama, individu atau organisasi hendaknya dapat menentukan apakah sudah waktunya memiliki sarana akses informasi dan layak mengonsumsi konten informasi tertentu. Meski ketersediaan TI dan informasi dapat mendorong inovasi untuk menghasilkan produk atau proses produksi yang baru, namun ketidak – siapan secara ekonomi dan manajemen dalam mengonsumsi informasi, alih – alih meningkatkan kesejahteraan justru sebaliknya menjadikan tambah miskin dan tidak produktif. Kedua, ketika sudah mampu memiliki akses informasi dan sudah mulai menikmati informasi yang dibutuhkan, perlu disadari bahwa efisiensi melekat pada kemampuan untuk mengotomatisasikan kegiatan rutin dan prosedur standar sementara pada saat bersamaan menuntut pengguna informasi untuk melakukan analisis,

8

pembuatan keputusan, melakukan program ulang dan memberikan umpan balik yang semuanya hanya dapat dicerna dan dilakukan oleh manusia bukan oleh mesin. Artinya, ketersediaan informasi merupakan hal penting, namun yang juga tak kalah pentingnya adalah bagaimana membangun kemampuan untuk menggunakan informasi secara efisien dan berdaya guna. Hal ini sejalan dengan pendapat Castells bahwa aplikasi TI dalam bentuk penyajian informasi, pada gilirannya menuntut peningkatan secara dramatis kemampuan otak manusia untuk memberikan input dalam proses kerja sistem informasi, serta menstimulasikan kebutuhan yang lebih besar terhadap pekerja terdidik yang otonom dan mampu merencanakan serta mengeksekusi serangkaian program kerja. Pelajaran ketiga, kemampuan memilih dan mengunakan informasi secara efektif dan efisien, perlu dilanjutkan dengan proses keterbukaan dalam tata kelola organisasi yang berorientasi pada mengurangi kompleksitas. Semakin besar proses tata kelola suatu organisai menjadi terbuka (transparan) semakin besar pula peluang hilangnya kendala birokrasi. Dalam keadaan seperti ini akan terbuka lebar gairah inovasi, penyelesaian persoalan secara kreatif, dan keterhubungan (engagement) yang bertanggung jawab. Pada tahap ini, untuk menjaga agar sajian informasi tetap memiliki dampak positif terhadap organisasi, manajemen perlu mempersiapkan diri untuk melakukan transformasi struktur, budaya dan kepemimpinan. Perubahan struktur dapat berupa pengelompokan ulang unit – unit kerja atau penambahan/pengurangan bagian – bagian yang diperlukan atau tidak dibutuhkan lagi sejalan dengan dinamika organisasi. Budaya keterbukaan menjadi ciri dari organisasi yang bekerja berbasis informasi, sementara dalam kondisi seperti itu, gaya kepemimpinan perlu disesuaikan dengan perubahan lingkungan, bukan lingkungan yang harus menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan. Keempat, dengan kemampuan individu atau organisasi untuk memilah dan memilih informasi, ketersediaan basis informasi yang mencukupi, dan keterbukaan terhadap perubahan mengikuti dinamika lingkungan, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk melayani stakeholders yang memiliki perbedaan kepentingan. Organisasi yang berhasil masuk pada tahap ini dapat membangun tata kelola pengetahuan (knowledge management), yang pada masanya akan dapat memfasilitasi kemenanagan dalam persaingan. Organisasi Maya Bentuk organisasi yang diperkirakan akan mewabah dalam tahun – tahun mendatang sejalan dengan perkembangan Internet adalah organisasi maya (Virtual Organization / VO). Davidow dan Malone dalam The Virtual Corporations (1993) mendefinisikan VO sebagai suatu organisasi yang telah mengadopsi setiap tren manajemen dan lontaran desas – desus (buzzword). VO memanfaatkan komputer dalam proses produksi; mengumpulkan, menganalisa informasi dan membagi informasi tersebut dengan pelanggan, distributor, dan pemasok; memanfaatkan proses produksi yang ramping, menghasilkan produk/jasa yang berkualitas, orientasi kerja kelompok, dan fleksibel; mengijinkan pegawai untuk bekerja secara otonom, bertanggung jawab, dan belajar secara berkelanjutan. VO memiliki kapasitas operasional yang tidak dapat direpresentasikan dalam cara – cara yang lazim digunakan oleh perusahaan konvensional.

9

Jika dibandingkan dengan organisasi konvensional, VO tidak memiliki lokasi kantor secara fisik, demikian juga tidak ada bagian – bagian atau departemen sebagaimana organisasi konvensional. VO mudah berkembang dengan fasilitasi Internet. Implikasi positif dari fenomena VO antara lain, menjadi organisasi alternatif yang dapat didirikan oleh pemula bisnis yang masih memiliki keterbasan aset dan akses pasar, namun memiliki kemampuan teknologi informasi yang cukup tinggi. Sementara itu, implikasi negatif VO antara lain, kesulitan bagi aparat pajak untuk melakukan penarikan pajak, sebagaian besar VO tidak berbadan hukum, karena orientasi pasarnya luar negeri, seringkali kemajuan VO tidak dapat diikuti oleh instansi pemerintah yang berwenang membina bisnis TI. Fenomena VO juga terjadi di Indonesia, bahkan sebagian besar pemain dotcom Indonesia berawal sebagai VO, ada wujudnya di dunia maya, tetapi tidak ada badan hukum, atau organisasinya dalam pengertian konvensional. VO di Indonesia banyak didirikan oleh mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi di bidang komputer dan bisnis. Jika dilihat dari model kelas –kelas pengguna TI dan informasi maka pelaku VO tergolong pengguna mahir (advance) yang relatif sedikit memerlukan bantuan pemerintah dalam akses kepada informasi. Yang dapat dilakukan pemerintah untuk kelompok ini adalah fasilitasi dan bimbingan sehingga mereka tidak menjadi kehilangan semangat ketika bisnis VO-nya tidak suskes, atau beralih menjadi kriminal karena kemampuannya dalam mengelola TI sementara kehidupan dalam dunia nyata semakin susah.

6. Informasi, Inovasi dan Teknologi Informasi
Inovasi dapat menghasilkan sukses luar biasa bagi perusahaan. Inovasi pada dasarnya berkenaan dengan perubahan, selain itu juga berkaitan dengan resiko karena seringkali inovasi merupakan luaran aktivitas penelitian dan pengembangan yang hasilnya tidak dapat dipastikan (Barney, 2002). Diperkirakan hanya 12 – 20% dari proyek – proyek penelitian dan pengembangan (R&D) menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Oleh karena itu, meski inovasi dapat memfasilitasi perubahan yang diinginkan organisasi – berupa penggunaan teknologi dan produk baru yang memberikan keuntungan – ia dapat pula menimbulkan hasil lain yang tidak diharapkan – seperti misalnya teknologi yang tidak efisien atau produk yang tidak disukai pelanggan (Khalil, 2000). Inovasi pada umumnya dilakukan dengan kesengajaan. Persoalannya, ada organisasi yang melakukannya secara terencana dan tersusun rapi sebagai strategi inovasi (SI) yang bersifat proaktif, sementara ada sebagian lain yang melakukannya sebagai reaksi atas terjadinya perubahan lingkungan bisnis (reaktif). Berkaitan dengan pilihan menjadi proaktif atau reaktif, peran kepemimpinan manajemen puncak sangat besar dalam menentukan apakah suatu organisasi menjadi organisasi yang inovatif atau sekedar reaktif terhadap perubahan dalam lingkungan bisnisnya. Pengelolaan inovasi dengan demikian menjadi sangat penting. Jika tidak dikelola dengan baik, walaupun maksud dan sasaran yang ingin dicapai melalui inovasi terpapar dengan baik dan jelas, dapat diduga

10

upaya inovasi tidak banyak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Pada sisi lain, Teknologi Informasi dan Komnunikasi (TIK) mengalami perubahan peran dan perlakuan. Jika semula TIK diperlakukan sebagai alat manajemen (McLeod, 1998; Laudon & Laudon, 2004; Turban et all, 1996; Martin et all, 2002) pada perkembangan akhir – akhir ini mengalami perubahan peran dan perlakuan. TIK tidak lagi hanya diperlakukan sebagai alat manajemen untuk menyajikan informasi bagi pengambilan keputusan. Dengan munculnya Internet, TIK berubah menjadi tulang punggung bisnis yang menentukan daya saing dan atau hidup matinya organisasi (Callon, 1996; Applegate et all, 1999). Lebih jauh dikatakan, TIK memfasilitasi upaya inovasi (Jones, 2004; Khalil, 2000). Organisasi perlu mengelola TIK dengan menyusun strategi sesuai dengan kedudukan TIK dalam organisasi (Ward & Peppard, 2003). Strategi Teknologi Informasi dan Komunikasi (STIK) sebagaimana dimaksud, mensyaratkan adanya manajemen perubahan yang dikelola dengan baik (Bertoli & Hermel 2004). Inovasi merupakan proses di dalam organisasi untuk memanfaatkan ketrampilan dan sumber daya untuk mengembangkan produk dan atau jasa baru atau untuk membangun sistem produksi dan operasional baru sehingga mampu menjawab kebutuhan pelanggan (Jones, 2004). Inovasi diawali dengan ide kreatif. Ide kreatif ini tidak selalu harus berupa upaya penemuan atau atau pencapaian sesuatu yang “besar” namun dapat juga berwujud upaya perubahan kecil untuk memperbaiki praktek yang sedang berlaku Pengaruh inovasi terhadap indikator kinerja perusahaan (kepuasan pelanggan, produktivitas dan daya saing teknologi) telah dibuktikan oleh Terziovski (2002). Lebih jauh Terziovski membedakan strategi inovasi ke dalam tiga kelompok: radikal, incremental, dan integrated. Di lihat dari proses pembentukan strategi inovasi, strategi berkelanjutan dari bawah – atas (bottom – up) lebih disukai untuk peningkatan kepuasan pelanggan dan produktivitas, sementara strategi top-down lebih cocok untuk peningkatan daya saing teknologi (Light, 1998, p3). Studi Terziovski lebih lanjut menunjukkan bahwa strategi terintegrasi tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap kinerja, hal ini disebabkan karena perusahaan pada umumnya belum mencapai tahap integrasi sistem dan kemampuan beroperasi dalam jaringan (networking). Kesimpulan yang dapat diambil dari studi Terziovski, strategi incremental lebih tepat digunakan sebagai pendorong bagi inovasi yang berkelanjutan, sedangkan strategi radikal lebih tepat digunakan untuk melakukan inovasi yang menghasilkan perubahan produk dan proses secara cepat. Pengetahuan dan informasi yang dimiliki tidak menjamin terjadinya inovasi, kemampuan untuk secara kreatif memanfaatkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki merupakan kunci menuju inovasi dan penciptaan keunggulan bersaing (Jones, 2004). Diperlukan faktor internal dan eksternal pendukung munculnya inovasi dalam organisasi. Beberapa faktor internal yang berpengaruh terhadap inovasi seperti: struktur, ukuran, usia organisasi, budaya, personalia (people), prosedur, dan teknologi. Di antara faktor tersebut dapat berperan menghambat atau mendukung langkah inovasi. Hambatan alamiah yang seringkali dihadapi dalam upaya inovasi antara lain: struktur organisasi yang padat

11

(dense), keterbatasan sumber daya, keengganan untuk mendelegasikan kewenangan, dan tingkat pemeriksaan internal yang tinggi (Aiken dan Hage, 1971; Pierce dan Delbecq, 1977). Dalam menghadapi potensi hambatan tersebut, manajer dituntut memahami karakter organisasi. Karakteristik organisasi yang inovatif ditandai adanya: komitment untuk mengendalikan lingkungan; struktur organisasi yang memberikan kebebasan untuk berkreasi; kepemimpinan yang mendorong organisasi untuk berinovasi; dan sistem manajemen yang melayani misi organisasi (Light, 1998). Pola hubungan antara TIK dan Inovasi TIK memfasilitasi peningkatan efisiensi, kemudahan bekerja dan produktivitas, membantu proses inovasi dan komunikasi seluruh personalia di dalam organisasi, guna membagi pengetahuan dan menciptakan lingkungan pembelajar. Persepsi manajemen senior terhadap Strategi Teknologi Informasi dan Komunikasi (STIK) berpengaruh kuat terhadap proses penyelarasan STIK dengan Strategi Bisnis (Callon, 1996). Disisi lain manajemen juga perlu waspada karena inovasi seringkali menimbulkan jebakan yang harus diwaspadai (Glor, 2002). Difusi dan asimilasi STIK dan inovasi diduga berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi sepanjang pimpinan mampu mengelola faktor – faktor internal (Fichman, 1999; Terziovski, 2002; Barney, 2002; Robson, 1997; Ward&Peppard, 2003; Willcocks dalam Galliers&Leidner, 2003; Jones, 2004). Meski demikian, Habermas mengingatkan pentingnya pertimbangan etika dalam inovasi karena seringkali menimbulan konflik. Sedangkan Greene (1992) dan Glor (1991) memberikan panduan etika dalam aktivitas inovasi. Dimasa mendatang, perusahaan–perusahaan modern semakin menghadapi tantangan tantangan yang sulit. Era perdagangan bebas, marjin yang tipis, persaingan yang ketat dan konsumen yang makin “peka” terhadap mutu produk dan layanan, menuntut bisnis untuk memiliki kelincahan, kemampuan menangani peluang bisnis baru, mengembangkan dan meluncurkan produk dan ide-ide baru dan pola interaksi baru yang cepat. Teknologi informasi, baik infrastruktur maupun aplikasi, sudah lama dimanfaatkan sebagai inovasi untuk mencapai tuntutan itu”.(ebizzasia, 2005)

7. Relasi Informasi dan Daya Saing
Kemajuan negara merupakan resultan interaksi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Jika dilihat dari daya saing, kemampuan bersaing di arena global tidak dimiliki oleh pemerintah, melainkan melekat pada industri (Porter, 1992). Pertanyaannya, apa yang layak dilakukan pemerintah agar industri mampu memiliki daya saing? Contoh Finlandia, keakraban dengan teknologi menjadikan Finlandia menjadi negara dengan pertumbuhan daya saing tertinggi pada tahun 2003 (World Economic Forum, 2003). Kunci keberhasilan Finlandia ditandai dengan pemanfaatan Internet secara luas di kalangan Pemerintahs sejak pertangahan 1990-an. Setiap instansi pemerintah di pusat maupun daerah menggunakan website Internet untuk menyediakan layanan bagi publik, meski pada tahap awal hanya berupa web presence saja. Diawali dengan penggunaan

12

bahwa Finlandia, lambat laun mengalami perubahan menyajikan bahasa Inggris seiring dengan kebutuhan agar lebih banyak investor, turis dan pihak asing bersedia berkunjung dan menlain bisnis dengan industri Finlandia. Lebih jauh, pemerintah juga menyediakan sarana akses Internet bagi sekolah, perpustakaan umum, dan berbagai sarana publik lainnya. Akhir tahun 2002, Finlandia menempati posisi tertinggi di dunia dalam tingkat koneksi kepada Internet: 230 sambungan per 1000 orang. Kebijakan yang dilakukan pemerintah Finlandia menunjukkan bagaimana sebaiknya pemerintah memfasilitasi dan menyediakan saran akses informasi sekaligus juga memfasilitasi tersedianya konten informasi yang dapat membantu industri untuk berkembang. Global Economy Bukan (lagi) New Economy Akhir 1990-an muncul istilah New Economy (NE) yang menandai kehadiran bisnis Internet (baca: dotcom). Gaungnya sempat melambungkan harga saham perusahaan dotcom di Amerika dan beberapa negara maju lainnya. Di Indonesia, pengaruh NE juga sempat terasa di periode tahun 2001, ditandai dengan munculnya hampir seribu perusahaan dotcom2. Harapan tinggi yang dipertaruhkan pada bisnis dotcom ternyata tidak mudah diwujdukan, banyak perusahaan dotcom yang harus ditutup karena laba yang dijanjikan tidak kunjung mewujud. Sebagian pihak masih percaya bahwa NE dengan aktor dotcom akan kembali menjadi fenomena bisnis yang memberi keuntungan besar bagi investor. Persoalannya, dinamika masyarakat terus bergulir, meski banyak dotcom hancur namun Teknologi Informasi dan Internet sebagai salah satu wujudnya masih tetap menjadi penentu pola bisnis global. Kenichi Ohmae dalam The Next Global Stage (2005, halaman 18) menyebutkan ekonomi global yang ditandai dengan hilangnya batas (borderless) bukan lagi impian atau opsi melainkan sudah menjadi kenyataan. Kondisi ini tercapai berkat adanya revolusi cyber, tetapi tidak sama dengan ihwal mengenai revolusi cyber itu sendiri. Artinya, pergulatan cyber menjadikan borderless sebagai suatu realita. Borderless dalam kajian Kenichi Ohmae tidak menyangkut batas wilayah atau kedaulatan negara secar fisik, karena negara masih mengawasi lalu lintas barang dan orang pada wilayah perbatasannya untuk alasan kemanan dan keselamatan publik. Jika dikaitkan dengan aktivitas bisnis, maka borderless yang dimaskud berlaku untuk komunikasi (communications), modal (capital), perusahaan (corporations) dan konsumen (consumers). Yang menarik ke-empat elemen ini dapat dikonversikan menjadi informasi digital dan mengalir melalui jaringan telekomunikasi atau komunikasi data yang sudah ada sejak puluhan tahu lalu. Setiap negara yang terhubung ke dalam jaringan telekomunikasi global memliki peluang untuk menjadi borderless terhadap ke empat elemen tersebut. Persoalan yang perlu dicermati dalam melihat informasi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia di masa depan berkaitan dengan meningkatnya dorongan ekonomi global antara lain, bagaimana pelaku bisnis pada setiap tingkatan dapat secara resiprokal
2

Sumber Majalah Warta Ekonomi, Bulan Maret 2001. Perusahaan dotcom dibedakan ke dalam dua kelompok: click and mortar, dan brick and mortar. Yang pertama merupakan perusahaan yang berbasis Internet (contoh: Detik.com), sedangkan yang kedua merupakan perusahaan konvensional yang menambah lini layanan melalui Internet (contoh: www.klikbca.com ).

13

menghasilkan dan memperoleh informasi yang sesuai dengan dinamika pasar global dengan memperhatikan kondisi domestik. Ketersediaan sarana akses informais menjadi suatu keniscayaan yang harus dimiliki. Demikian juga dengan konten, orientasi penyediaan materi konten tidak hanya pemenuhan bagi pasar domestik, namun juga diproyeksikan untuk pasar global. Penyajian informasi pada front-desk, perlu didukung dengan peningkatan efisiensi dan kualitas produksi sehingga jika tayangan informasi yang dipasang di website-nya mendapat sambutan internasional, dapat ditindak-lanjuti dengan layanan profesional berstandar internasional pula. Di sisi lain, pelaku usaha juga seyogyanya mulai terbiasa dengan memanfaatkan Internet untuk memperoleh informasi guna meningkatkan pengetahuan, jaringan, ketrampilan dan akses pasar. Internet sebagai hutan informasi menyediakan informasi hampir tak terbatas (untuk mengatakan sulitnya dikuantifikasi). Mencari informasi yang dibutuhkan dari Internet bagaikan mencari sebuah pohon di tengah belantara. Diperlukan ketrampilan teknis agar pengguna Internet dengan cepat dapat memperoleh informasi yang dinginkannya. Jika tidak memiliki ketrampilan semacam ini, dapat diperkirakan utilisasi sarana akses informasi menjadi kurang efisien atau bahkan tidak produktif.

8. Konten Informasi
Menteri Ristek Dr. Kusmayanto Kadiman dalam Sambutan pada Hari Teknologi Nasional 9 Agustus 2005 yang lalu menyatakan bahwa Pengembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkan pada perluasan infrastruktur mencakup telekomunikasi, internet dan komputer agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemanfaatan TIK diharapkan dapat menjadi “enabler” dalam pertumbuhan ekonomi, pemicu tumbuhnya “Good corporate governance” dan sekaligus menjadi alat untuk mengembangkan kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Saat ini telah dikembangkan inisiatif Indonesia Go Open Source (IGOS) yang dipeloponi oleh 5 (lima) kementerian; Kominfo, Hukum dan HAM, MenPAN, Diknas dan Ristek. Pada tahun 2005 ini telah diluncurkan aplikasi perangkat lunak berbasis Open Source produksi anak bangsa antara lain: Software IGOS untuk Warnet, Desktop IGOS, dan Pustaka Digital (Digital Library). Sudah cukupkah ini semua bagi Indonesia di masa depan? Jawabnya tentu belum cukup. Volume Penggunaan TIK di organisasi bisnis diperkirakan akan terus meningkat. Ketergantungan manajemen organisasi bisnis terhadap alat manajemen berbasis TI (ITbased management tools) akan semakin meningkat seiring dengan makin besarnya porsi operasional bisnis yang dapat diotomatisasikan dengan menggunakan TIK. Penggunaan dan penyempurnaan aplikasi untuk mendukung Customer Relationship Management (CRM), Supply Chain Management (SCM) atau Entreprise Resource Planning (ERP) diperkirakan akan terus mewarnai kegiatan bisnis setahun dua tahun mendatang. Aplikasi – apliasi semacam ini dapat dikatakan sudah menjadi keharusan untuk dimiliki oleh perusahaan menegah dan besar bila mereka menginginkan untuk meningkatkan kinerja investasi TIK-nya. Konten informasi yang dihasilkan dari aplikasi – aplikasi tersebut pada umumnya merupakan informasi terstruktur, yang labih cocok digunakan bila organisasi bisnis telah memliki prosedur operasi baku. Kelemahan dari aplikasi

14

semacam ini adalah tidak mampu menyajikan informasi yang tidak terstruktur dan informasi yang bahan bakunya tidak terdapat pada data base yang tersedia. Pengembangan ke depan, diperkirakan berkisar untuk mengatasi kelemahan yang ada pada saat ini. Sistem informasi korporat yang dapat menampilkan berbagai jenis kebutuhan informasi pada semua lini menjadi tantangan bagi para pengembang. Di lingkungan usaha kecil menengah, kebutuhan informasi masa depan diperkirakan kurang lebih akan sama dengan kebutuhan informasi di organisasi bisnis skala besar. Perbedaan terletak pada skala dan konfigurasi sistem informasi. Dari segi lain, usaha kecil menengah di bidang penyedia layanan konten informasi memiliki peluang besar untuk tumbuh mengingat kebutuhan masyarakat terhadap konten informasi semakin meningkat. Salah satu pemicunya adalah akan diluncurkannya layanan telekomunikasi selular generasi tiga (3G) pertengahan tahun depan. Kesuksesan layanan 3G akan sangat ditentukan oleh tersedianya aplikasi konten informasi. Selain 3G, dengan dibukanya layanan komunikasi data pita lebar (broadband) berbasis teknologi WIMAX diperkirakan juga akan membutuhkan penawaran jasa aplikasi konten informasi. Aplikasi konten informasi apa saja yang kiranya akan menjadi primadona di setahun dua tahun mendatang? Meski belum dapat dipastikan, proyeksi kebutuhan dengan melihat fakta meningkatnya mobilitas masyarakat, bertambahnya layanan akses telekomunikasi, makin banyak dan murahnya perangkat telepon selular yang memiliki fitur menyajikan voice, image dan data, tidak diberlakukannya lagi persyaratan ijin ISP, dibebaskannya penggunaan spektrum frekuensi 2.4GHz, beberapa aplikasi konten diperkirakan akan muncul. Peta Digital Peta digital digunakan bagi layanan Global Positioning System (GPS), guna mendukung laju mobilitas masyarakat yang membutuhkan informasi tentang posisi suatu objek. Lebih jauh, peta digital dapat digunakan oleh polisi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di perkotaan, mencari kendaraan yang dicuri, menentukan wilayah perbatasan, mencari lokasi atau alamat rumah/gedung (Location-Based Service - LBS), dan lain sebagainya. Di beberapa kota besar layanan LBS sudah banyak dipakai oleh restaurant pesan –antar, jasa ekspedisi untuk mengetahui lokasi pelanggan, jasa perbankan untuk memberikan informasi kantor/ATM terdekat, dan lain – lain. Dengan makin luasnya wilayah perkotaan, bertambahnya jumlah penduduk, makin banyaknya jalan baru, bertambah banyaknya gedung – gedung baru, dan adana tuntutan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan, peta digital merupakan salah satu sarana yang cukup penting untuk tidak digunakan di masa depan. Distance Learning Aktivitas belajar jarak jauh di Indonesia sudah lama berlangsung. Eksistensi Universitas Terbuka (UT) sudah lebih dari 20 tahun. Demikian pula, pada masa pemerintahan Soeharto pernah ada program Kelompok Pendengar, Pembaca Pemirsa (Kelompencapir).

15

Pada kedua model belajar jarak jauh ini, media komunikasi yang digunakan adalah media cetak melalui pos, radio, dan televisi. Karena sifatnya yang ada pada ketiga media tersebut, kegiatan belajar mengajar di UT maupun Kelompencapir tidak dapat dilakukan secara interactive, sehingga selalu terjadi jeda waktu antara pengiriman informasi dan penerimaannya. Kelompencapir sekarang sudah tidak ada lagi, namun keberadaan UT masih terus berlanjut. Sementara itu di negara – negara maju bejalar jarak jauh merupakan salah satu alterntif dalam proses penyebaran ilmu pengetahuan dan peningkatan kesejahteraan manusia. Munculnya Internet menjadikan layanan Open University (OU) menjadi tidak hanya dapat dilaksanakan pada wilayah negara tertentu, tetapi sekarang sudah melewati batas fisik kedaulatan negara. Sehingga, sebagai contoh: seorang mahasiswa Indonesia dapat mengikuti program OU yang diselenggarakan oleh Massachussett Institute of Technology (MIT) dari Amerika Serikat. Atau seoarng yang tinggal di pedalaman China masih bisa mengikuti kuliah yang diselenggarakan oleh Universitas Boconi Italy tanpa harus meninggalkan kediamannya. Belajar dari keberhasilan orang lain, Indonesia semestinya dapat meningkatkan pemanfaatan Internet untuk kegiatan belajar jarak jauh. Multimedia Tele-Conference Wilayah yang luas, mobilitas tinggi, jaringan bisnis tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri, keharusan untuk mengurusi banyak hal pada suatu masa sekaligus, kompleksitas bisnis yangmakin meningkat, meningkatnya kebutuhan koordinasi antar unit bisnis yang tersebar, tuntutan pembuatan keputusan dengan cepat dan akurat, ketersediaan fasilitas broadband dan layanan Internet, ini semua menjadi faktor pendorong makin besarnya layanan informasi Multimedia Tele-Conference. E-Layanan Publik Di lingkungan pemerintahan kebutuhan untuk: meningkatkan kualitas layanan publik, menjaga stabilitas keamanan, meningkatkan potensi pendapatan negara mendorong terwujudnya aplikasi informasi Single Identity Number (SIN), yang selama 3 tahun terakhir hanya sebagai wacana saja. Jika telah ada SIN, penerima manfaatnya bukan hanya pihak pemerintah saja melainkan juga kalangan pelaku usaha, dan masyarakat pada umumnya. Aplikasi SIN dapat diperluas untuk berbagai keperluan seperti misalnya, sistem identitas diri, sistem tunjangan pensiun, administrasi perpajakan, transaksi perbankan, sistem informasi partai politik, dan lain sebagainya. Yang menjadi persoalan dan perlu memperoleh jawabnya adalah integrasi data base atau sistem informasi pemerintah (pusat dan daerah) yang selama ini masih terpisah – pisah bagaikan pulau – pulau yang tidak terhubung satu dengan lainnya. Koran elektronik

16

Internet mendorong semua orang dapat menjadi sumber berita. Dominasi penerbit sebagai pusat kendali informasi tidak lagi berlaku. Jika semula sajian informasi melalui media cetak dilakukan berdasarkan periode tertentu (harian, mingguan, bulanan),maka sekaranag informasi dapat tersaji seketika (realtime). Metoda akses-nyapun berubah, jika semula pembaca harus membeli, sekarang cukup dengan tersambung ke Internet dan login. Narasumber dan pemasang iklan memiliki pilihan lebih banyak untuk dapat menyampaikan informasi yang dimilikinya. Mereka dapat juga memasang informasi yang sama di situs Internet yang dikelola sendiri. Kegairahan menghasilkan informasi terus meningkat terutama di kalangan muda dengan membuat situs Internet. Koran elektronik akan terus berkembang di masa depan.

9. Perlu Kewaspadaan
Kewaspadaan terhadap penggunaan informasi yang menyimpang dari tatanan hukum perlu ditingkatkan. Perangkat hukum yang pada tahun 2005 ini belum cukup tersedia perlu segera diundangkan mengingat makin banyak praktek pelanggaran dan kejahatan yang terjadi di atau menggunakan TIK. Beberapa contoh antara lain: a. pengiriman surat berantai, spam, iklan yang tidak sesuai dengan konteks, provokasi ke diskusi yang tidak sehat, materi yang menyinggung orang lain; b. penyisipan virus atau worm secara sengaja dalam e-mail yang dikirimkan; c. penyalahgunaan internet untuk melakukan tindakan kriminal yang meliputi percabulan (obscenity), pornografi, perusakan situs (defacing), mengikuti aktivitas seseorang (stalking), mengganti alamat IP (spoofing), Spamming, Hacking, Cracking, dan Troyan Horse yang dapat berakibat sangat fatal dan merugikan banyak orang.

10. Kesimpulan
a. Kemampuan manusia Indonesia dalam memanfaatkan TIK tidak diukur dari seberapa banyak dan atau seberapa besar informasi dapat dihasilkan, melainkan diukur dari berapa banyak orang dan siapa saja yang dapat memanfaatkan informasi dengan benar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. b. TIK jika digunakan dengan baik dapat berdampak positif, menghasilkan informasi yang berkualitas, mendorong inovasi dan meningkatkan kinerja. c. Beberapa aplikasi informasi yang sudah tersedia pada saat ini diperkirakan akan terus berkembang sementara seiring dengan dinamika sosial akan muncul layanan informasi baru yang betumpu pada kemajuan TIK. d. Ketidak-sadaran akan adanya etika tidak tertulis dalam ber-Internet dan kekurangdewasaan dalam penggunaan email, chatting, dan mailing list dapat menyeret para

17

penggunanya kepada situasi yang tidak sehat jika salah satu pihak tidak mengerti budaya yang seyogyanya di terapkan bersama-sama dalam ber-Internet e. Infrastruktur internet perlu terus diperkuat, dipermurah,dan ditingkatkan agar dapat berperan sebagai alternatif tulang punggung informasi yang berkapasitas tinggi dan aman. f. Internet akan menghubungkan dan mengintegrasikan sistem non-internet seperti pertukaran data elektronik dan pemrosesan transaksi. g. Internet akan memungkinkan pengguna mengakses informasi dan pelayanan dari mana saja pada waktu kapan saja menggunakan peralatan pilihan mereka. h. Terjadinya ledakan informasi yang tersedia melalui Internet akan menawarkan berbagai pendekatan baru untuk menemukan informasi secara efektif dan efisien. Rempoa, 13 Desember 2005.

18

Daftar Pustaka
1. Brooke, Geoffrey, M, (1992), The Economic of Information Technology: Explaining the Productivity Paradox, Center for Information Systems Research, Working Paper No. 238, Sloan School of Management, Massachusetts Institute of Technology, April. 2. Low, Linda, (2000), Economics of Information Technology and The Media, Singapore University Press. 3. Lucas, Henry, C, (1999), Information Technology And The Productivity Paradox, Assessing the Value of Investing in IT, Oxford University Press. 4. McCarty, Marilu Hurt, (2001), The Nobel Laureates, How The World’s Greatest Economic Minds Shaped Modern Thought, McGraw-Hill. 5. Ward, John & Peppard, Joe, (2003), Strategic Planning for Information Systems, John Wiley& Sons, Ltd

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->