You are on page 1of 8

ISSN 2337-3776

1
THE INFLUENCE OF GIVING 95% ETHANOLIC EXTRACT OF LONG
PEPPER TO THE THICKNESS ARTERY CORONARIA WALL OF THE
MALE WHITE RATS FROM SPRAGUE DAWLEY STRAIN THAT
INDUCED BY HIGH FAT DIET
Putri AA, Mustofa S, Susantiningsih T
Medical Faculty of Lampung University
ABSTRACT
The mortality rate of coronary heart disease (CHD) in Indonesia is 15% and the largest
cause of death. Atherosclerosis is a major risk factor of this disease. Prevention of
atherosclerosis has not been satisfactory and cause many side effects. Long pepper has
potency to prevent atherosclerosis.This is an experimental research with Post Test Only
Control Group Design. The subjects are 21 Sprague Dawley rats. There are group A
(standart diet), group B (high fat diet), group C (high fat diet plus long pepper extract).
This experiment is given for 8 weeks.From the result, the thickness of artery coronaria
wall of group A (22,16 ± 3,80), group B (47,06 ± 6,63), and group C (33,39 ± 2,02). The
datas are analyzed by oneway ANOVA test with p<0,001. This test then continued with
Bonferroni posthoc test, it result a difference between all groups with p<0,001.
Based on these results we can conclude that there is an effect of giving 95% ethanolic
extract of long pepper to the thickness of artery coronaria wall of the white male rats from
Sprague-Dawley strain that induced by high fat diet.
Key words: high fat diet, long pepper, thickness of artery
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL 95% CABE JAWA
TERHADAP KETEBALAN DINDING ARTERI KORONARIA TIKUS
PUTIH JANTAN GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG DIBERI DIET
TINGGI LEMAK.
ABSTRAK
Presentase kematian penyakit jantung koroner (PJK) di Indonesia sebesar 15% dan
penyebab kematian terbanyak. Aterosklerosis merupakan faktor risiko utama dari
penyakit ini. Pencegahan aterosklerosis saat ini belum memuaskan serta menimbulkan
banyak efek samping. Cabe Jawa memiliki potensi untuk mencegah aterosklerosis.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Post Test Only Control Group
Design. Subjek penelitian adalah tikus galur Sprague Dawley sebanyak 21 ekor.
Kelompok A (diet standar), kelompok B (diet tinggi lemak), kelompok C (diet tinggi
lemak ditambah ekstrak cabe jawa). Perlakuan ini diberikan selama 8 minggu. Dari hasil
penelitian didapatkan ketebalan dinding arteri kelompok A (22,16 ± 3,80), kelompok B
(47,06 ± 6,63), kelompok C (33,39 ± 2,02). Analisis data dilakukan dengan oneway
ANOVA dengan nilai p<0,001. Uji ini kemudian dilanjutkan dengan uji posthoc
Benferroni yang bermakna pada perbandingan tiap kelompok dengan nilai p<0,001.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh ekstrak etanol 95%
cabe jawa terhadap ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih galur Sprague-Dawley
yang diberi diet tinggi lemak.
Kata kunci: Cabe jawa, diet tinggi lemak, ketebalan dinding arteri
ISSN 2337-3776
2
Pendahuluan
Menurut sebuah laporan dalam Journal of American Medical Association,
penyakit jantung koroner (PJK) menyebabkan 300.000 kematian per tahun,
sedangkan di Indonesia presentase kematian sebesar 15% dan merupakan
penyebab kematian terbanyak (CDC, 2012). PJK terutama disebabkan oleh
keadaan hyperlipidemia dimana terjadinya peningkatan fraksi lipid dalam plasma
yaitu kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol low density lipoprotein (LDL),
kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar high density lipoprotein (HDL).
Kadar kolesterol, trigliserid serta LDL tinggi di dalam darah menjadi penjejas
utama aterosklerosis di pembuluh darah arteri (MIA, 2013).
Pencegahan aterosklerosis saat ini belum memuaskan. Beberapa obat yang
memegang peran penting dalam pencegahan aterosklerosis memiliki efek
samping yang tidak menguntungkan (Adam, 2009). Cabe Jawa (Piper
retrofractum Vahl.) merupakan tanaman asli Indonesia yang diketahui memiliki
kandungan kimia yang beragam, salah satunya senyawa alkaloid yaitu piperin dan
diduga memiliki potensi mencegah aterosklerosis (BPOM RI, 2009). Kandungan
piperin yang tinggi di dalam cabe jawa memiliki efek farmakologi sebagai
antioksidan, antiinflamasi, dan antihipertensi. Studi sebelumnya juga menunjukan
bahwa kandungan piperin dapat menurunkan obestitas dan hiperlipidemia yang
merupakan faktor resiko utama dari penyakit aterosklerosis (Maneesai dkk, 2012)
Pemberian piperin pada tikus putih jantan mampu menurunkan kadar
kolesterol total, trigliserid, LDL, serta meningkatkan kadar HDL secara signifikan
(Vijayakumar, 2006; Shah dkk, 2011). Penurunan kadar kolesterol total,
trigliserid, LDL, serta peningkatan HDL diharapkan mampu menurunkan
ketebalan dinding arteri koronaria. Oleh karena itu, pada penelitian ini dipilih
buah cabe jawa untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 95% cabe
jawa terhadap ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih (Rattus novergicus)
jantan galur Sprague Dawley yang diberi diet tinggi lemak.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Post Test Only
With Control Group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah Tikus putih
ISSN 2337-3776
3
jantan galur Sprague Dawley yang didapat dari IPB (Institut Pertanian Bogor)
dengan berat 200-300 berumur 2-3 bulan. Jumlah sampel adalah 21 ekor
ditentukan menggunakan rumus Federer 1967 yang diacak kedalam 3 kelompok
perlakuan. Waktu penelitian adalah 8 minggu. Satu minggu pertama masing-
masing kelompok diberikan diet standar berupa pelet ayam pedaging, 7 minggu
berikutnya, Kelompok A (kontrol negatif) diberikan diet standar; Kelompok B
(kontrol positif) diberikan diet tinggi lemak berupa pemberian kuning telur
sebanyak 10 gram secara intermittten melalui sonde lambung; Kelompok C
(perlakuan) diberikan diet tinggi lemak selama 4 minggu kemudian 3 minggu
berikutnya diberikan diet tinggi lemak ditambah dengan ekstrak etanol 95% cabe
jawa dengan dosis 160 mg/kgbb melalui sonde lambung.
Setelah minggu ke-8, hewan coba tikus dianestesi dengan Ketamine-
xylazine 75-100 mg/kg + 5-10 mg/kg secara IP kemudian tikus di euthanasia
berdasarkan Institusional Animal Care and Use Committee (IACUC)
menggunakan metode cervical dislocation. Setelah tikus dipastikan mati, tikus
dibedah kemudian diambil organ jantung (AVMA, 2013). Sampel lalu dimasukan
ke wadah yang sudah berisi formalin dan pastikan organ terendam seluruhnya.
Penelitian ini akan dilakukan pengamatan terhadap ketebalan arteri koronaria
jantung. Proses pengambilan bagian arteri koroner dilakukan dengan mengambil
potongan longitudinal dibawah 3 mm dari perbatasan atrium dan ventrikel
(Ekman dkk, 2013; Ekawati dkk, 2013). Kemudian dilakukan pembuatan preparat
arteri koronaria dengan pewarnaan HE dibuat di Bagian Patologi Anatomi Laboratorium
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Data hasil pengamatan
diuji analisis menggunakan software statistik. Uji yang pertama dilakukan adalah
uji normalitas (uji Shapiro-Wilk). Apabila sebaran data normal, dilakukan uji
ANOVA satu arah. Tetapi bila sebaran data tidak normal atau varians data tidak
sama, dilakukan uji alternatif yaitu uji Kruskal-Wallis. Uji ini bertujuan untuk
mengetahui paling tidak terdapat perbedaan antara dua kelompok perlakuan.
Apabila pada uji tersebut didapatkan hasil bermakna (p<0,05) maka dilakukan uji
post-hoc. Uji post-hoc untuk ANOVA satu arah adalah Bonferroni sedangkan
untuk uji Kruskal-Wallis adalah Mann Whitney.
ISSN 2337-3776
4
Hasil
Ketebalan dinding arteri koronaria kelompok A (diet standar) adalah 22,16 ±
3,80 µm, pada kelompok B (diet kuning telur) didapatkan ketebalan dinding arteri
koronaria 47,06 ± 6,63 µm, dan pada kelompok C (diet kuning telur + cabe jawa),
diperoleh ketebalan dinding arteri koronaria 33,39 ± 2,02 µm.
Gambar 1. Grafik perbandingan rerata ketebalan dinding arteri antar kelompok.
Data ini kemudian diolah dengan menggunakan program komputer.
Pertama, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji normalitas
Shapiro-Wilk, uji ini dipilih karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50
(Dahlan, 2009). Setelah dilakukan uji normalitas, didapatkan hasil bahwa seluruh
data memiliki distribusi normal dengan p>0,05 sehingga uji analisis yang
digunakan untuk data penelitian ini adalah uji oneway ANOVA.
Berdasarkan hasil uji oneway ANOVA, diketahui bahwa varians data pada
penelitian ini homogen, sehingga tidak perlu dilakukan transformasi data (Dahlan,
2009). Setelah dilakukan uji oneway ANOVA diperoleh tingkat siginifikansi atau
p pada ketiga kelompok perlakuan adalah <0.05. Apabila terdapat nilai p<0,05
pada uji oneway ANOVA, hal ini mengartikan bahwa paling tidak terdapat dua
pengukuran yang berbeda. Untuk mengetahui pengukuran mana yang berbeda,
analisis data kemudian dilanjutkan dengan uji post-hoc. Hasil uji oneway
ISSN 2337-3776
5
ANOVA dijelaskan pada tabel 1 sedangkan hasil uji post-hoc dijelaskan pada
tabel 2.
Tabel 1. Hasil uji oneway ANOVA
Kelompok N Mean±SD (µm) P
A
B
C
7
7
7
22,16 ± 3,80
47,06 ± 6,63
33,39 ± 2,02
<0,001
Tabel 2. Uji beda kadar kolesterol HDL antar kelompok
No. Kelompok P
1 A dengan B
<0,001
2 A dengan C
<0,001
3 B dengan C
<0,001
Berdasarkan tabel 2 hasil uji post-hoc, diperoleh data bahwa perbedaan yang
bermakna terjadi pada semua pengukuran. Terdapat perbedaan yang bemakna
antara kadar HDL kelompok A (diet standar) dengan kadar HDL pada kelompok
B (diet kuning telur). Perbedaan yang bermakna juga terdapat antara kadar HDL
kelompok A (diet standar) dengan kadar HDL pada kelompok C (diet kuning telur
ditambah ekstrak cabe jawa). Selain itu, perbedaan yang bermakna juga terjadi
antara kadar HDL kelompok B (diet kuning telur) dengan kadar HDL pada
kelompok C (diet kuning telur ditambah ekstrak cabe jawa). Besarnya perbedaan
pada setiap kelompok menghasilkan nilai yang sama yaitu p<0,001.
Pembahasan
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma yaitu kenaikan kadar
kolesterol total, kolesterol low density lipoprotein (LDL), kenaikan kadar
ISSN 2337-3776
6
trigliserida serta penurunan kadar high density lipoprotein (HDL). Dalam proses
terjadinya aterosklerosis ketiganya mempunyai peran yang penting (MIA, 2013).
Keadaan dislipidemia inilah yang merupakan faktor resiko utama terjadinya
aterosklerosis. Proses ini menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah yang
apabila terjadi di arteri koronaria maka akan menyebabkan gangguan metabolisme
jantung dan dapat menyebabkan sudden death (Libby, 2013).
Berdasarkan hasil uji dengan program komputer, diketahui bahwa terdapat
perbedaan yang bermakna pada ketebalan dinding arteri koronaria ketiga
kelompok percobaan. Uji yang digunakan untuk mengetahui perbedaan ini adalah
dengan uji oneway ANOVA. Hasil uji ini memiliki nilai p yang <0,05. Setelah uji
oneway ANOVA, uji ini dilanjutkan dengan uji post-hoc untuk mengetahui
perbedaan antar kelompok. Berdasarkan hasil uji post-hoc nilai p pada semua
kelompok ini juga <0,05. Artinya perbedaan bermakna terdapat pada kadar HDL
kelompok A dengan kelompok B, kadar HDL kelompok A dengan kelompok C,
dan kadar HDL kelompok B dan kelompok C. Masing-masing perbandingan ini
nilai p nya adalah <0,001.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya. Diet kuning telur
akan mempengaruhi proses metabolisme kolesterol dalam darah. Diet kuning telur
ini memiliki kandungan kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Kadar kolesterol
pada kuning telur mencapai 17,11 sampai 19,80 mg/g, sementara itu kadar
trigliserida nya mencapai 31% (Mufti, 2008; Husbands, 1970). Berdasarkan
penelitian sebelumnya, terlah terbukti bahwa pemberian diet kuning telur secara
intermitten dapat menaikkan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, dan
penurunan HDL, meningkatnya trias lipid tersebut merupakan penyebab
menebalnya dinding arteri koronaria pada kelompok B (Prasetyo, 2002).
Sementara itu pada kelompok C meskipun diberi diet kuning telur, ketebalan
dinding arteri koronaria pada kelompok ini lebih tipis dibanding kelompok B, hal
ini karena selain diberikan diet kuning telur, kelompok percobaan ini juga
diberikan ekstrak cabe jawa.
Cabe jawa mengandung senyawa piperin (BPOM RI, 2009; Usia, 2012;
Indrapraja, 2009). Dalam ekstrak etanol 95% cabe jawa terdapat 25% piperine
ISSN 2337-3776
7
(Usia, 2012). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Shah dkk pada tahun 2011, pada penelitian tersebut pemberian 40 mg/kgbb
piperin pada tikus jantan Sprague Dawley yang diberi diet tinggi lemak selama 8
minggu dapat meningkatkan kadar HDL, menurnkan kadar LDL, trigliserida dan
kolesterol total (Shah dkk, 2011). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan
penelitian Vijayakumar pada tahun 2006, pada penelitian tersebut tikus Wistar
jantan yang diberikan ekstrak piperin dan diet tinggi lemak selama 10 minggu
memiliki kadar ApoA-I, suatu apoliporotein pembentuk HDL yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan tikus Wistar jantan yang hanya diberikan diet tinggi
lemak. Pemberian diet tinggi lemak ini juga merupakan penyebab terjadinya
penurunan aktivitas LPL (Lipoprotein Lipase) dan meningkatnya aktivitas HMG
CoA Reductase sehingga menyebabkan peningkatan kadar kolesterol total,
trigliserida, dan LDL (Vijayakumar, 2006).
Piperin terbukti meningkatkan kadar HDL serum dengan mekanisme yang
sebenarnya masih belum jelas. Namun, hipotesis yang mungkin adalah piperin
bekerja sebagai agonis reseptor MC-4. Piperin juga menghambat akumulasi lipid
dan lipoprotein secara signifikan dengan memodulasi enzim yang berperan pada
metabolisme lipid, seperti Lecithin-cholesterol acyltransferase (LCAT) dan
lipoprotein lipase (LPL) (Shah et al, 2011). Piperin juga mampu meningkatkan
kadar HDL dengan cara meningkatkan Apo A-1, yaitu apolipoprotein terbanyak
pembentuk HDL, sehingga kadar Apo A-1 berbanding lurus dengan kadar HDL
(Vijayakumar, 2006).
Simpulan
Pemberian ekstrak etanol 95% cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.)
mempengaruhi ketebalan dinding a.koronaria tikus putih (Rattus novergicus)
jantan galur Sprague Dawley yang diberi diet tinggi lemak. Ketebalan a.koronaria
yang diberi diet tinggi lemak saja lebih tebal dibandingkan dengan ketebalan
dinding a.koronaria tikus yang diberi diet tinggi lemak yang ditambahkan ekstrak
etanol 95% cabe jawa.
ISSN 2337-3776
8
Daftar Pustaka
Adam JMF, 2009. Dislipidemia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia.
Hlm:1926-28.
American Veterinary Medical Association, 2013. Guidelines for Euthanasia of Animals. P:30, 38,
48. https://www.avma.org/KB/Policies/Documents/euthanasia.pdf. (15 Desember 2013).
Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2009. Sediaan Aprodiaksaka. Jakarta: Direktorat Obat Asli
Indonesia. Hlm:10-12.
Centers for Disease Control and Prevention, 2012. CDC in Indonesia.
http://www.cdc.gov/heartdisease/coronary_ad.htm.
Dahlan S, 2009. Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan.
Salemba Medika. Jakarta. Hlm: 83-87
--------------, 2009. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika. Jakarta
Eckman DM, Stacey RB, Rowe R, D’Agostino R, Kock ND, Sane DC, Torti FM, Yeboah J,
Workman S, Lane KS, and Hundley WG, 2013.Weekly doxorubicin increases coronary
arteriola wall and adventitia thickness. PLOS one. 2(8):2-5
Ekawati A, Andriani DD, Rukmini IS, Indriani L, 2013. Pengaruh the hitam (Camellia sinensis
(L.).O.K.) terhadap ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih (Rattus novergicus) yang
diberi diet tinggi lemak. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
Hlm:20-55.
Federer WT, 1967. Experimental design, theory and application. Oxford and IBH Publ. Co. New
Delhi, Ramsey SC, Galeano. p:30-33
Husbands D, 1970. The composition of triglycerides from liver, egg yolk and adipose tissue of the
laying hen. Biochem j. 120(2) p:365-367.
Indrapraja O, 2009. Efek minyak atsiri bawang putih (Allium sativum) dan cabe jawa ( Piper
retrofractum Vahl.) terhadap jumlah eritrosit pada tikus yang diberi diet kuning telur.
(Skripsi). Univerita Diponegoro. Semarang. Hlm: 31-44
Libby P, 2013. Mechanisms of acute coronary syndromes and their implications for therapy. New
Englands Jounal of Medicine. 27(1):15-26
Maneesai P, Norman S, Krongkarn C. 2012. Piperine is Anti-hyperlipidemic and Improves
Endothelium-Dependent Vasorelaxation in Rats on a High Cholesterol Diet. Journal of
Physiological and Biomedical Sciences. Thailand. 25(1):27-30
Metabolic Insitute of America, 2013. Dyslipidemia
http://www.themetaboliccenter.com/dyslipidemia.php, diakses 20 Mei 2013
Mufti M, Iriyanti N, 2008. Sifat Fisikokimiawi Telur, Kandungan Trigliserida Dan Kolesterol
Serum Darah Ayam Petelur Yang Mendapat Probiotik Dalam Ransum. Jurnal Unsoed.
Purwokerto. Hlm: 3-7
Prasetyo A, Udadi S, Ika PM, 2002. Profil Lipid dan Ketebalan Dinding Aorta Abdominalis Tikus
Wistar pada Injeksi Inisial Adrenalin Bitatras Intravena dan Diet Kuning Telur
Intermitten. (Tesis). Universitas Diponegoro. Semarang. Hlm: 28-37
Shah SS, Shah GB, Singh SD, Gohil PV, Gohil, Chauhan K, Shah KA, and Chorawala M, 2011.
Effect of Piperine in The Regulation of Obesity-Induced Dyslipidemia in High-Fat Diet
Rats. Indian Journal of Pharmacology. India. 43(3):296–299.
Usia T, 2012. Info POM. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta.
Vijayakumar RS, Namasivayam N, 2006. Lipid-Lowering Efficacy of Piperine from Piper
Ningrum L. In High-Fat Diet and Antithyroid Drug-Induced Hypercholesterolemic Rats.
Journal of Food Biochemistry. India. 30(4):405–421.