You are on page 1of 364

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional

Dilindungi Undang-undang





MATEMATIKA
Untuk Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Kelas XII


Tim Penyusun

Penulis : To’ali

Ukuran Buku : 21 x 29,7
















Cetakan I Tahun 2008















Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2007-03-30

Duiperbanyak oleh ………………………………………………………
510.07
TOA TO’ALI
M Matematika : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk kelas XII/
Oleh To’ali – Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional, 2007
vii, 206 hlm.: 29,7 cm.


Bibliografi
ISBN 979-462-816-6

1. Matematika-Studi dan Pengajaran I. Judul
iii
SAMBUTAN

Buku teks pelajaran ini merupakan salah satu dari buku teks pelajaran yang
telah dilakukan penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan telah
ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk
digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 46 Tahun 2007.

Buku teks pelajaran ini telah dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan
Nasional pada tahun 2007. saya menyampaikan penghargaan tinggi kepada
para penulis buku teks pelajaran ini, yang telah berkenan mengalihkan hak
cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan
secara luas oleh para pendidik dan peserta didik di seluruh Indonesia.

Buku-buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini dapat diunduh (down load), digandakan,
dicetak, dialih mediakan, atau di fotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial, harus memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh Pemerintah antara lain dengan harga eceran tertinggi.
Diharapkan buku teks pelajaran ini akan lebih mudah dijangkau masyarakat
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia dapat memperoleh
sumber belajar yang bermutu.

Program pengalihan/pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini merupakan
satu program terobosan yang ditempuh pemerintah melalui Departemen
Pendidikan Nasional.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini agar anak didik
memperoleh kesempatan belajar dengan baik. Kepada para siswa, kami
menyampaikan selamat belajar, manfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kepada
para guru, kami menghimbau agar dapat memberdayakan buku ini seluas-
luasnya bagi keperluan pembelajaran di sekolah.

Akhir kata, saya menyampaikan Selamat Mereguk Ilmu Pengetahuan Melalui
Buku Teks Pelajaran Bermutu.


Jakarta, 25 Pebruari 2008

Kepala Pusat Perbukuan




Sugijanto
v
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur pada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
begitu besar pada kita semua, sehingga Alhamdulillah, buku matematika
SMK untuk kelas XII Kelompok Penjualan dan Akuntansi Sekolah Menengah
Kejuruan dapat terselesaikan dengan baik.
Buku ini disusun berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK/MAK
yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
No. 22 dan 23 Tahun 2006 Tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dengan
pengembangannya yang mudah-mudahan dapat melengkapi pemahaman
konsep-konsep dasar matematika dan dapat menggunakannya baik dalam
mempelajari pelajaran yang berkaitan dengan matematika, pelajaran lain
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Tiap bab berisi ringkasan teori yang melandasi kompetensi yang harus
dipahami secara benar oleh siswa-siswi peserta didik dan disertai contoh-
contoh soal yang relevan dengan teori tersebut. Soal-soal dibuat didasarkan
pada teori dan sebagai latihan untuk dapat menyelesaikan uji kemampuan
yang digunakan sebagai parameter atau indikator bahwa peserta diklat sudah
kompeten atau belum pada materi yang dipelajarinnya.
Kami menyadari bahwa tersediannya buku-buku referensi atau sumber bacaan
dari berbagai penulis dan penerbit sangat membantu penulis dalam menyajikan
konsep-konsep dasar yang sesuai dengan kaidah-kaidah matematika. Dan
mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat secara khusus untuk anak-anak
didik di Sekolah Menengah Kejuruan dan bagi siapapun yang berkenan
menggunakan buku ini.
Akhir kata “Tidak Ada Gading yang Tak Retak”, tidak ada karya manusia yang
sempurna selain dari karya-Nya. Demikian pula dengan buku ini masih jauh
dari apa yang kita harapkan bersama. Oleh karena itu segala kritik dan saran
demi kebaikan bersama sangat diharapkan sebagai bahan evaluasi atau revisi
dari buku ini.
Jakarta, September 2007
Penulis




















vi
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………………… ii
Daftar Isi ………………………………………………………………………………… iii
Petunjuk Penggunaan Buku………………………………………………………… iv

BAB 1 Teori Peluang…………………………………………………………..…
A. Pendahuluan.…………………………………………………………………….....
B. Kompetensi Dasar...................................................….……….....
B.1 Kaidah Pencacahan, Permutasi, dan Kombinasi.……………..…
B.2 Peluang Suatu Kejadian..………………………………………….......
Uji Kemampuan ……………………………………………………………………...….

1
2
2
2
19
36

BAB 2 Statistika.......................................……………….……………...….
A. Pendahuluan............................................................................
B. Kompetensi Dasar....................................................….……….....
B.1 Pengertian Statistik, Statistika, Populasi dan Sampel...........
B.2 Penyajian Data …………………………………………………………....
B.3 Ukuran Pemusatan (Tendensi Sentral) ………………………...…
B.4 Ukuran Penyebaran (Dispersi) …………………………………...…
Uji Kemampuan ………………………………………………………………………....

41
42
42
42
50
63
75
91
BAB 3




Matematika Keuangan......................…………………………….....
A. Pendahuluan......................................................………………...... .
B. Kompetensi Dasar...................................................….………...... .
B.1 Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk..………………………….....
B.2 Rente..............................................................................
B.3 Anuitas............................................................................ ...
B.3 Penyusutan Nilai Barang...................................................
Uji Kemampuan ………………………………………………………………………....
Daftar Bunga.................................................................................

95
96
96
96
125
141
161
178
185
Kunci Jawaban..........................................................................................
Glosarium..................................................................................................
Indeks.......................................................................................................
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………...... ..
195
200
203
206

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
MUDAH BELAJAR MATEMATIKA 3
Untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
Tim Penyusun
Penulis : Nuniek Avianti Agus
Ukuran Buku : 21 x 28
Cetakan I Tahun 2008
Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2007
Diperbanyak oleh ………………………………………………………
510.07
AGU AGUS, Nuniek Avianti
M Mudah Belajar Matematika 3: untuk kelas IX Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Oleh Nuniek Avianti Agus. -- Jakarta:
Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2007

vi, 138 hlm.: ilus.; 30 cm.
Bibliografi : hlm. 138
Indeks. Hlm. 136-137
ISBN 979-462-818-2
1. Matematika-Studi dan Pengajaran I. Judul
iii
SAMBUTAN SAMBUTAN
Buku teks pelajaran ini merupakan salah satu dari buku teks pelajaran yang telah
dilakukan penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan telah ditetapkan
sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan
dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 46 Tahun 2007.

Buku teks pelajaran ini telah dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan
Nasional pada tahun 2007. saya menyampaikan penghargaan tinggi kepada para
penulis buku teks pelajaran ini, yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh
para pendidik dan peserta didik di seluruh Indonesia.

Buku-buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional ini dapat diunduh (down load), digandakan, dicetak,
dialih mediakan, atau di fotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan
yang bersifat komersial, harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh
Pemerintah antara lain dengan harga eceran tertinggi. Diharapkan buku teks
pelajaran ini akan lebih mudah dijangkau masyarakat sehingga peserta didik dan
pendidik di seluruh Indonesia dapat memperoleh sumber belajar yang bermutu.

Program pengalihan/pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini merupakan satu
program terobosan yang ditempuh pemerintah melalui Departemen Pendidikan
Nasional.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini agar anak didik
memperoleh kesempatan belajar dengan baik. Kepada para siswa, kami
menyampaikan selamat belajar, manfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kepada para
guru, kami menghimbau agar dapat memberdayakan buku ini seluas-luasnya bagi
keperluan pembelajaran di sekolah.

Akhir kata, saya menyampaikan Selamat Mereguk Ilmu Pengetahuan Melalui Buku
Teks Pelajaran Bermutu.


Jakarta, 25 Pebruari 2008
Kepala Pusat Perbukuan




Sugijanto
v
Buku Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
ini merupakan buku penuntun untukmu dalam mempelajari matematika. Untuk membantumu
mempelajarinya, kenalilah terlebih dahulu bagian-bagian buku ini, yaitu sebagai berikut.
Gambar Pembuka Bab
Judul Bab
Judul-Judul Subbab
Materi Pengantar
Cerdas Berpikir
Rangkuman
Sudut Tekno
Peta Konsep
Situs Matematika
Problematika
Uji Kompetensi Bab
Kunci Jawaban
Solusi Matematika
Uji Kompetensi Awal
Materi Pembelajaran
Contoh Soal
Plus +
Kegiatan
Tugas
Gambar, Foto, atau Ilustrasi
Uji Kompetensi Semester
Uji Kompetensi Akhir Tahun
Berisi gambaran penggunaan
materi yang akan dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari.
Materi dalam buku ini
disertai dengan gambar,
foto, atau ilustrasi yang akan
membantumu dalam memahami
materi.
Setiap bab diawali
oleh sebuah foto yang
mengilustrasikan materi
pengantar.
Berisi soal-soal yang memiliki
lebih dari satu jawaban.
Berisi ringkasan materi yang
telah dipelajari.
Berisi pertanyaan-
pertanyaan untuk mengukur
pemahamanmu tentang materi
yang telah dipelajari.
Disajikan sebagai sarana
evaluasi untukmu setelah selesai
mempelajari bab tertentu.
Berisi soal-soal untukmu
sebagai persiapan menghadapi
Ujian Akhir Semester.
Berisi soal-soal dari semua
materi yang telah kamu pelajari
selama satu tahun.
Berisi soal-soal
materi prasyarat untuk
memudahkanmu memahami
konsep pada bab tertentu.
Berisi materi pokok yang
disajikan secara sistematis
dan menggunakan bahasa
yang sederhana.
Berisi soal-soal yang disertai
langkah-langkah cara
menjawabnya.
Berisi kegiatan untuk
menemukan sifat atau
rumus.
Berisi tugas untuk mencari
informasi, berdiskusi, dan
melaporkan.
Berisi soal-soal terpilih
EBTANAS, UAN, dan UN
beserta pambahasannya.
Berisi soal-soal untuk
mengukur pemahamanmu
terhadap materi yang telah
kamu pelajari pada subbab
tertentu.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
1
2
3
4
5
6
7
9
10
Uji Kompetensi Subbab
13
11
8
12
14
16
15
17
20
19
18
21
22
23
24
Panduan Menggunakan Buku
vi
Prakata
Puji syukur penulis panjatkankepada TuhanYangMaha Esa karena bukuini akhirnya dapat diselesaikan.
Buku ini penulis hadirkan sebagai panduan bagi siswa dalam mempelajari matematika.
Saat ini, masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan
membosankan. Biasanya, anggapan ini muncul karena cara penyampaian materi yang berbelit-belit dan
menggunakan bahasa yang sulit dipahami.
Setelah mempelajari materi pada buku ini, siswa diharapkan memahami materi yang disajikan.
Oleh karena itu, konsep yang disajikan pada buku Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah ini disampaikan secara logis, sistematis, dan menggunakan
bahasa yang sederhana. Selain itu, buku ini juga memiliki tampilan yang menarik sehingga siswa tidak
merasa bosan.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu terwujudnya
buku ini. Semoga buku ini berguna dan dapat dijadikan panduan dalam mempelajari matematika.
Percayalah, matematika itu mudah dan menyenangkan. Selamat belajar.
Penulis
vii
Daftar Isi
Panduan Menggunakan Buku .............................................................................................. v
Prakata ..................................................................................................................................... vi
Bab 1 Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar ........................ ................................................. 1
A. Kesebangunan Bangun Datar ........................................................................................... 2
B. Kekongruenan Bangun Datar ........................................................................................... 8
Uji Kompetensi Bab 1 ............................................................................................................. 14
Bab 2 Bangun Ruang Sisi Lengkung ................................................................................... 17
A. Tabung ............................................................................................................................... 18
B. Kerucut .............................................................................................................................. 23
C. Bola ................................................................................................................................... 28
Uji Kompetensi Bab 2 ............................................................................................................. 35
Bab 3 Statistika ...................................................................................................................... 37
A. Penyajian Data................................................................................................................... 38
B. Ukuran Pemusatan Data .................................................................................................... 44
C. Ukuran Penyebaran Data................................................................................................... 48
Uji Kompetensi Bab 3 ............................................................................................................. 52
Bab 4 Peluang ........................................................................................................................ 55
A. Dasar-Dasar Peluang.......................................................................................................... 56
B. Perhitungan Peluang ......................................................................................................... 59
C. Frekuensi Harapan (Pengayaan)........................................................................................ 63
Uji Kompetensi Bab 4 ............................................................................................................. 67
Uji Kompetensi Semester 1 ..................................................................................................... 70
viii
Bab 5 Pangkat Tak Sebenarnya............................................................................................ 73
A. Bilangan Berpangkat Bulat................................................................................................ 74
B. Bentuk Akar dan Pangkat Pecahan.................................................................................... 85
Uji Kompetensi Bab 5 ............................................................................................................. 97
Bab 6 Pola Bilangan, Barisan, dan Deret............................................................................. 99
A. Pola Bilangan..................................................................................................................... 100
B. Barisan Bilangan................................................................................................................ 107
C. Deret Bilangan .................................................................................................................. 114
Uji Kompetensi Bab 6 ............................................................................................................. 124
Uji Kompetensi Semester 2 ..................................................................................................... 126
Uji Kompetensi Akhir Tahun ................................................................................................... 128
Kunci Jawaban ........................................................................................................................ 131
Daftar Pustaka ......................................................................................................................... 138
1
Kesebangunan dan
Kekongruenan Bangun
Datar
Di Kelas VII, kamu telah mempelajari bangun datar segitiga dan
segiempat, seperti persegipanjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat,
layang-layang, dan trapesium. Pada bagian ini, kamu akan mempelajari
kesebangunan dan kekongruenan bangun-bangun datar tersebut.
Pernahkah kamu memperhatikan papan catur? Setiap petak satuan
pada papan catur, baik yang berwarna hitam maupun yang berwarna
putih, memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Tahukah kamu, disebut
apakah bangun-bangun yang sama bentuk dan ukurannya? Untuk
menjawabnya, pelajarilah bab ini dengan baik.
A. Kesebangunan
Bangun Datar
B. Kekongruenan
Bangun Datar
1
Bab
Kesebangunan dan
1
Bab
S
u
m
ber: CD Image
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
2
5. Perhatikan gambar berikut.
Jika ? P
1
= 50°, tentukan besar ? Q
2
, ? R
3
, dan
? S
4
.
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
A. Kesebangunan Bangun Datar
1. Kesebangunan Bangun Datar
Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kamu pernah mendengar istilah
memperbesar atau memperkecil foto. Ketika kamu memperbesar (atau
memperkecil) foto, berubahkah bentuk gambarnya? Bentuk benda pada foto
mula-mula dengan foto yang telah diperbesar adalah sama, tetapi ukurannya
berlainan dengan perbandingan yang sama. Gambar benda pada foto mula-
mula dengan foto yang telah diperbesar merupakan contoh dua bangun yang
sebangun.
Sekarang, coba kamu perhatikan Gambar 1.1 . Sebangunkah persegi-
panjang ABCD dengan persegipanjang EFGH? Pada persegipanjang ABCD
dan persegipanjang EFGH, perbandingan panjangnya adalah 4 : 8 = 1 : 2.
Adapun perbandingan lebarnya adalah 2 : 4 = 1 : 2. Dengan demikian,
perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian pada kedua persegipanjang tersebut
dapat dinyatakan sebagai berikut.
AB
EF
BC
FG
CD
GH
DA
HE
= = = =
1
2
1
2
1
2
1
2
; ; ;
Kemudian, perhatikan sudut-sudut yang bersesuaian pada persegipanjang
ABCD dan persegipanjang EFGH. Oleh karena keduanya berbentuk
persegipanjang, setiap sudut besarnya 90° sehingga sudut-sudut yang
bersesuaian pada kedua bangun tersebut sama besar. Artinya kedua persegi -
panjang tersebut memiliki sisi-sisi yang bersesuaian dan sebanding sedang-
kan sudut-sudut yang bersesuaian sama besar. Oleh karena itu, persegipanjang
ABCD dan persegipanjang EFGH dikatakan sebangun. .
Jadi, dua atau lebih bangun dikatakan sebangun jika memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut.
H
E
G
F 8 cm
4 cm
D
A
C
B 4 cm
2 cm
Kesebangunan
dilambangkan dengan“ ~ “.
Keseban Keseba
Plus +
1. Jelaskan cara mengukur sudut menggunakan busur
derajat.
2. Jelaskansifat-sifat persegipanjang, persegi, layang-
layang, trapesium, belah ketupat, dan segitiga.
3. Jelaskan cara membuat segitiga sama sisi.
4. Tentukan nilai a .
α
3
3
3
3
R
2
Q
2
P
2
S
2
4
4
4
4
1 1
1 1
(a)
(b)
Panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada bangun-bangun tersebut •
memiliki perbandingan yang senilai.
Sudut- • sudut yang bersesuaian pada bangun-bangun tersebut
sama besar.
Uji Kompetensi Awal
Gambar 1.1
Dua persegipanjang yang sebangun.
Buatlah tiga
persegipanjang yang
sebangun dengan kedua
persegipanjang pada
Gambar 1.1 .
Cerdas Berpikir
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
3
Di antara gambar-gambar berikut, manakah yang sebangun?

Jawab:
a. Perhatikan persegipanjang IJKL dan persegi MNOP.
(i) Perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian adalah
IJ
MN
JK
NO
KL
OP
LI
PM
= = = =
6
2
2
2
6
2
2
2
; ; ;
Jadi, sisi-sisi yang bersesuaian pada persegipanjang IJKL dan persegi
MNOP tidak sebanding.
(ii) Besar setiap sudut pada persegipanjang dan persegi adalah 90° sehingga
sudut-sudut yang bersesuaian pada persegipanjang IJKL dan persegi MNOP
sama besar.
Dari (i) dan (ii) dapat disimpulkan bahwa persegipanjang IJKL dan persegi MNOP
tidak sebangun.
b. Perhatikan persegi MNOP dan persegi QRST.
(i) Perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian adalah
MN
QR
NO
RS
OP
ST
PM
TQ
= = = =
2
6
2
6
2
6
2
6
; ; ;
Jadi, sisi-sisi yang bersesuaian pada persegi MNOP dan persegi QRST
sebanding.
(ii) Oleh karena bangun MNOP dan QRST berbentuk persegi, besar setiap
sudutnya 90˚ sehingga sudut-sudut yang bersesuaian pada kedua bangun
tersebut sama besar.
Dari (i) dan (ii) dapat disimpulkan bahwa persegi MNOP dan persegi QRST sebangun.
c. Dari jawaban a telah diketahui bahwa persegipanjang IJKL tidak sebangun
dengan persegi MNOP. Dengan demikian, persegipanjang IJKL juga tidak
sebangun dengan persegi QRST. Coba kamu jelaskan alasannya
L
P
M
O
T
Q
S
R
N
I
K
J 6 cm
6 cm
2 cm
2 cm
Perhatikan gambar berikut.
Jika kedua bangun pada gambar tersebut sebangun, tentukan panjang QR.
Jawab:
Oleh karena persegipanjang ABCD dan persegipanjang PQRS sebangun, perbandingan
sisi-sisi yang bersesuaiannya sebanding.
AB
QR
BC
RS QR
QR = = =
X
=
9 6
2
9 2
6
3
Jadi, panjang QR adalah 3 cm.
D
A
C
B
S
P
R
Q
2 cm
6 cm
9 cm
ra gambar b
Contoh
Soal 1.1
kan gamb kan gamb
Contoh
Soal 1.2
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
4
Perhatikan pasangan-pasangan segitiga berikut ini, kemudian jawab pertanyaannya.
a.
Pada kedua pasangan segitiga tersebut, perbandingan sisi-sisi yang bersesuaiannya
sama. Ukurlah besar sudut-sudut yang bersesuaiannya, apakah sama besar?
b.
Pasangan-pasangan segitiga tersebut memiliki sudut-sudut yang bersesuaian
sama besar. Coba kamu ukur panjang sisi-sisinya. Apakah sisi-sisi yang
bersesuaiannya memiliki perbandingan yang sama?
c.
Kegiatan
Diketahui dua jajargenjang yang sebangun seperti gambar berikut.
Tentukan nilai x.
Jawab:
Perhatikan jajargenjang ABCD.
1B = D = 120°
A = C = 180° − 120° = 60°
Oleh karena jajargenjang ABCD sebangun dengan jajargenjang EFGH, besar sudut-
sudut yang bersesuaiannya sama besar. Dengan demikian, 1E =1 A = 60°.
Jadi, nilai x = 60˚
D
A
C
B
H
E
G
F
6 dm
2 dm
6 cm
9 cm
120°
x
i d j j
Contoh
Soal 1.3
2. Kesebangunan pada Segitiga
Berbeda dengan bangun datar yang lain, syarat-syarat untuk membuktikan
kesebangunan pada segitiga memiliki keistimewaan tersendiri. Untuk
mengetahuinya, lakukan kegiatan berikut dengan kelompok belajarmu.
2 cm
4 cm
3 cm
5 cm
6 cm
10 cm
8 cm
3 cm
(a)
2,5 cm 37,5 cm
2 cm
3 cm
2 cm
3 cm
4,5 cm
3 cm
75°
25°
25°
75°
(a) (b)
60°
60°
60°
60°
60°
60°
90°
90°
40°
40°
50° 50°
(a) (b)
(b)
Thales adalah seorang ahli
mempelajari matematika,
ilmu pengetahuan lain.
Dalam matematika,
ia terkenal dengan
caranya mengukur tinggi
piramida di Mesir dengan
menggunakan prinsip
kesebangunan pada
segitiga.
Sumber: Matematika, Khazanah
Pengetahuan Bagi Anak-anak,
1979.
Thales
624 SM–546 SM
Sekilas
Matematika
1
1
1
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
5
Di antara gambar-gambar berikut, manakah yang sebangun?
Jawab:
Oleh karena pada setiap segitiga diketahui panjang dua sisi dan besar sudut yang
diapitnya, gunakan syarat kesebangunan ke-(iii), yaitu sisi-sudut-sisi.
a. Besar sudut yang diapit oleh kedua sisi sama besar, yaitu 50°.
b. Perbandingan dua sisi yang bersesuaian sebagai berikut.
Untuk segitiga (a) dan (b).
3
10
= 0,3 dan
6
13
= 0,46
Untuk segitiga (a) dan (c).
3
5
6
10
0 6 = = ,
Untuk segitiga (b) dan (c).
10
5
2
13
10
1 3 = = , dan
Jadi, segitiga yang sebangun adalah segitiga (a) dan (c)
50°
50°
6
3
13
10
50°
5
10
bb
Contoh
Soal 1.4
Pasangan-pasangan segitiga tersebut memiliki 2 sisi bersesuaian yang sama
panjang dan sudut yang diapitnya sama besar. Coba kamu ukur panjang sisi-sisi
yang belum diketahui. Apakah sisi-sisi tersebut memiliki perbandingan yang
sama dengan sisi-sisi yang lainnya? Kemudian, ukur pula sudut-sudut yang
bersesuaiannya, apakah hasilnya sama besar?
Ketiga syarat kesebangunan pada segitiga dapat digunakan untuk mencari
panjang salah satu sisi segitiga yang belum diketahui dari dua buah segitiga
yang sebangun.
Jika kamu mengerjakan kegiatan tersebut dengan benar, akan diperoleh
kesimpulan bahwa untuk memeriksa kesebangunan pada segitiga, cukup lakukan
tes pada kedua segitiga tersebut sesuai dengan unsur-unsur yang diketahui.
Unsur-Unsur yang Diketahui
Pada Segitiga
Syarat Kesebangunan
(i) Sisi-sisi-sisi (s.s.s)
(ii) Sudut-sudut-sudut (sd.sd.sd)
(iii) Sisi-sudut-sisi (s.sd.s)
Perbandingan sisi-sisi yang
bersesuaian sama.
Sudut-sudut yang bersesuaian sama
besar.
Dua sisi yang bersesuaian memiliki
perbandingan yang sama dan sudut
bersesuaian yang diapit sama besar.
(a) (c) (b)
Dari gambar berikut, ada
berapa buah segitiga yang
sebangun? Sebutkan dan
jelaskan jawabanmu.
D E
C
A B
F
Problematika
Tabel 1.1 Syarat kesebangunan pada segitiga
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
6
Gambar berikut menunjukkan ∆ABC dengan DE sejajar BC. Jika panjang AD = 8 cm,
BD = 2 cm, dan DE = 4 cm, tentukan panjang BC.
Jawab:
Oleh karena ∆ABC sebangun dengan ∆ADE,
AD
AD DB
DE
BC BC +
=
+
= maka
8
8 2
4
8
10
4
=
BC
BC =
X
=
4 10
8
5
Jadi, panjang BC adalah 5 cm
A
C
B
D
E
b ik
Contoh
Soal 1.6
Contoh
Soal 1.5
Perhatikan gambar berikut.
Jika kedua segitiga pada gambar tersebut sebangun, tentukan panjang PR.
Jawab:
PQ = 3 KL = 21 cm
QR = 3 LM = 30 cm
PR = 3 MK = 3 × 6 = 18
Jadi, panjang PR adalah 18 cm
P
R
Q
30 cm
21 cm
K
M
L
10 cm
6 cm
7 cm
Perhatikan gambar berikut.
Panjang QT adalah ....
a. 4 cm
b. 5 cm
c. 6 cm
d. 8 cm
Jawab:
∆QST sebangun dengan
∆QRP.
SSTT
RP
QQTT
QP
QT
QT
=
=
+
8
12 3
8(QT + 3) = 12QT
8 QT + 24 = 12 QT
4QT = 24
QT = 6
Jadi, panjang QT adalah 6 cm.
Jawaban: c
Soal UN, 2007
R
S
Q
T
8 cm
12 cm
3 cm
P
Sebuah tongkat yang tingginya 1,5 m mempunyai bayangan 1 m. Jika pada saat
yang sama, bayangan sebuah tiang bendera adalah 2,5 m, tentukan tinggi tiang
bendera tersebut.
Jawab :
Misalkan, DE = tinggi tongkat
BD = bayangan tongkat
AB = bayangan tiang bendera
AC = tinggi tiang bendera
k
Contoh
Soal 1.7
C
E
B
D
A
?
1,5 m
2,5 m
1 m
Solusi
Matematika
R
S
Q
T
8 cm
12 cm
3 cm
P
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
7
BD
AB
DE
AC AC
= =
,
,
maka
1
2 5
1 5
, ,
AC =
× 2 5 1 5
1
, = 3 75
Jadi, panjang tiang bendera tersebut adalah 3,75 m
5. Tentukan nilai x dan y pada pasangan bangun-
bangun yang sebangun berikut.
a.

b.
6. Di antara gambar-gambar berikut, manakah yang
sebangun?
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Manakah di antara bangun-bangun berikut yang
pasti sebangun?
a. Dua jajargenjang
b. Dua trapesium
c. Dua persegi
d. Dua lingkaran
e. Dua persegipanjang
2. Perhatikan gambar berikut.
Sebangunkah persegipanjang ABCD dan persegi-
panjang EFGH? Jelaskan jawabanmu.
3. Gambar-gambar berikut merupakan dua bangun
yang sebangun. Tentukanlah nilai x dan y.
a.
b.
4. Deni membuat sebuah jajargenjang seperti gambar
berikut.

Buatlah tiga jajargenjang yang sebangun dengan
jajargenjang yang dibuat Deni.
10
4
2
x
10
5
4
10
20
y
10
6
35°
Uji Kompetensi 1.1
D
A
C
H
E
G
F
15
6
2
5
B
E
H
F
G
70°

70°
A C
D
B
70°
65°
S
R
Q
P
103°
S
R
Q
P
x
y
15
9
5
12
6 3
30°
30° 30°
(a) (b) (c)
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
8
B. Kekongruenan Bangun Datar
1. Kekongruenan Bangun Datar
Pernahkah kamu memperhatikan ubin-ubin yang dipasang di lantai kelasmu?
Ubin-ubin tersebut bentuk dan ukurannya sama. Di dalam matematika, dua
atau lebih benda yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama disebut benda-
benda yang kongruen. Coba kamu sebutkan benda-benda lain di sekitarmu yang
kongruen.
Perhatikan Gambar 1.3
Gambar 1.3: Dua bangun kongruen
A
D
B
C P
Q
S
R
Dua bangun atau lebih dikatakan kongruen jika bangun-bangun tersebut
memiliki bentuk dan ukuran yang sama serta sudut-sudut yang bersesuaian
sama besar.
Kongruen disebut juga
sama dan sebangun,
dilambangkan dengan “≅”.
Kongrue Kongru
Plus+
Gambar 1.3 menunjukkan dua bangun datar, yaitu layang-layang
ABCD dan layang-layang PQRS. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada
kedua layang-layang tersebut sama besar, yaitu AB = QR = AD = RS dan
BC = PQ = CD = SP. Sudut-sudut yang bersesuaian pada kedua layang-
layang tersebut juga sama besar, yaitu A = R, C = P, B = Q, dan
D = S. Oleh karena itu, layang-layang ABCD dan layang-layang PQRS
kongruen, ditulis layang-layang ABCD ≅ layang-layang PQRS.
C
D
A B
E
Pada gambar di samping, DE // AB.
Jika AB = 12 cm, DE = 8 cm, dan
DC = 10 cm, tentukan panjang AC.
8. Buktikan bahwa ∆DEF sebangun dengan ∆GHF.
D E
7
5
12
4
F
G H
D
E B
A
12 m
aliran sungai
9. Sebuah tongkat yang tingginya 2 m mempunyai
bayangan 1,5 m. Jika pada saat yang sama, sebuah
pohon mempunyai bayangan 30 m, tentukan tinggi
pohon tersebut.
10. Seorang pemuda menghitung lebar sungai dengan
menancapkan tongkat di titik B, C, D, dan E
(seperti pada gambar) sehingga DCA terletak pada
satu garis. Tentukan lebar sungai tersebut.
Gambar 1.2
Sumber: Dokumentasi Penulis
7.
1 1
1 1 1 1 1 1
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
9
Perhatikan gambar berikut.
Tunjukkan bahwa kedua bangun tersebut kongruen.
Jawab :
a. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada trapesium ABCD dan trapesium PQRS
sama besar, yaitu AB = PQ, BC = QR, CD = RS, dan AD = PS.
b. Sudut-sudut yang bersesuaian pada kedua trapesium tersebut sama besar, yaitu
A = P = E = Q dan C = R = D = S.
Dari jawaban a dan b terbukti bahwa trapesium ABCD ≅ trapesium PQRS.
Perhatikan gambar berikut.
Contoh
Soal 1.9
Contoh
Soal 1.8
A
E
H
D
C
G
F
B
Tentukan sisi-sisi yang kongruen pada
bangun tersebut.
Jawab :
Syarat kekongruenan pada bangun datar adalah sama bentuk dan ukurannya.
Pada balok ABCD. EFGH, sisi-sisi yang kongruen adalah
sisi • ABCD ≅ sisi EFGH
sisi • ABFE ≅ sisi CDHG
sisi • BCGF ≅ sisi ADHE
Perhatikan dua bangun datar yang kongruen berikut.
Tentukan besar E.
120°
45°
x
60°
A
D
C H
G
E
F
B
k d b
Contoh
Soal 1.10
Manakah pernyataan yang
benar?
a. Bangun-bangun yang
sebangun pasti kongruen.
b. Bangun-bangun yang
kongruen pasti sebangun.
Jelaskan jawabanmu.
Tugas
D
R
S
Q
P
A
C
B
1 1 1 1 1 1 1 1
1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
10
2. Kekongruenan Segitiga
Pada bagian ini, pembahasan bangun-bangun yang kongruen difokuskan
pada bangun segitiga. Untuk menunjukkan apakah dua segitiga kongruen
atau tidak, cukup ukur setiap sisi dan sudut pada segitiga. Kemudian,
bandingkan sisi-sisi dan sudut-sudut yang bersesuaian. Perhatikan tabel
syarat kekongruenan dua segitiga berikut.
Unsur-Unsur yang Diketahui
Pada Segitiga
Syarat Kekongruenan
(i) Sisi-sisi-sisi (s.s.s)
(ii) Sisi-sudut-sisi (s.sd.s)
(iii) Sudut-sisi-sudut (sd.s.sd) atau
Sudut-sudut-sisi (sd.sd.s)
Sisi-sisi yang bersesuaian sama
panjang.
Dua sisi yang bersesuaian sama
panjang dan satu sudut yang
diapit oleh kedua sisi tersebut
sama besar.
Dua sudut yang bersesuaian
sama besar dan satu sisi yang
bersesuaian sama panjang.

Gambar di samping merupakan gambar segitiga samasisi
STU. Jika SO tegak lurus TU dan panjang sisi-sisinya
3 cm, buktikan bahwa ∆STO ≅ ∆SUO.
U
O
T
S
Jawab :
Oleh karena kedua bangun datar tersebut kongruen, sudut-sudut yang bersesuaian
sudah pasti sama besar.
A = F = 45˚
C = H = 60˚
D = G = 120˚
B = E = ?
Jumlah sudut pada bangun datar ABCD = jumlah sudut pada bangun datar
EFGH = 360°.
E = 360° − ( – F +– G + – H )
= 360° − (45° +120° + 60° )
= 360° − 225° = 35°
Jadi, E = 35°
Contoh
Soal 1.11
www.deking. wordpress.com
www.gemari.or.id
Situs Matematika
Tabel 1.2 Syarat kekongruenan pada segitiga
1
1 1
1 1
1 1
1 1
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
11
Perhatikan dua segitiga yang kongruen berikut.
Tentukan nilai w, x, y, dan z.
Jawab:
Oleh karena ∆ABC @∆PQR, sudut-sudut yang bersesuaian sama besar, yaitu
1A = Q = z = 35°
C = R = w = 65°
B = P = x = y = 180° − (35° + 65°)
= 180° − 100° = 80°
Jadi, w = 65°, x = y = 80°, dan z = 35°.
35°
z
w 65°
x y
A
C R
P
Q
B
Contoh
Soal 1.12
Jawab:
• ∆STO merupakan segitiga samasisi sehingga ST = TU = US = 3 cm dan – STU =
– TUS = – UST = 60°.
• SO tegak lurus TU maka – SOT = – SOU = 90° dan TO = OU sehingga
– OST = 180˚ − ( – STO + – TOS)
= 180˚ − (60°+ 90°) = 30°
– USO = 180˚ − ( – SOU + – OUS)
= 180˚ − (90° + 60°) = 30°
Oleh karena (i) – T = – U = 60°
(ii) ST = US = 3 cm
(iii) – OST = – USO = 30°
terbukti bahwa ∆STO ≅ ∆SUO
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Dari gambar-gambar berikut, manakah yang
kongruen?
D
A B
C
x
40°
75°
C
A
5 cm
12 cm
B
F
D
13 cm
5 cm
E
Uji Kompetensi 1.2
C
A
B
D
E
G
I
H
4 cm
4 cm
4 cm
13 cm
13 cm
13 cm
13 cm
4 cm
4 cm
L
K
N
Q
R
P
M
O
J
F
75°
65°
40°
4 cm
2.
Pada gambar di atas, tentukan nilai x.
3. Perhatikan gambar berikut.
Buktikan bahwa ∆ABC≅∆DEF.
Diketahui segitiga ABC
dengan siku-siku di B;
kongruen dengan segitiga
PQR dengan siku-siku di P.
Jika panjang BC = 8 cm dan
QR = 10 cm maka luas
segitiga PQR

adalah ....
a. 24 cm

c. 48 cm
b. 40 cm

d.

80 cm
Jawab:
Oleh karena ∆ABC @∆PQR
maka BC = PR = 8 cm.
Menurut Teorema Pythagoras,
PQ QR PR = –
= 10 – 8
= 100 – 64 = 36 =6
2 2
2 2
Luas
1
2
=
1
2
PQR PR PQ × × RR
×× × 8×× 6=24
Jadi, luas ∆PQR adalah 24 cm
2
.
Jawaban: a
Soal UN, 2007
A
B C
8 cm
Q
P R
10 cm
Solusi
Matematika
1
1
1
1 1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
12
• Dua atau lebih bangun dikatakan sebangun
jika memenuhi syarat-syarat berikut.
- Panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada
bangun-bangun tersebut mempunyai per-
bandingan yang senilai.
- Sudut-sudut yang bersesuaian pada bangun-
bangun tersebut sama besar.
• Syarat kesebangunan pada dua atau lebih
segitiga adalah
- perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian
senilai (s.s.s),
- sudut-sudut yang bersesuaian sama besar
(sd.sd.sd), atau
- dua sisi yang bersesuaian memiliki per-
bandingan yang sama dan sudut yang
diapit oleh kedua sisi tersebut sama besar.
Rangkuman
4.
Jika – PSR = 140° dan – SPR = 30° , tentukan
besar – PRQ.
P
Q
R S
T
140°
60°
P
S
Q
R
140°
5. Perhatikan gambar berikut.
Pada gambar tersebut, panjang PR = (5x + 3) cm
dan PS = (2x + 21) cm. Tentukan panjang PS.
• Dua atau lebih bangun dikatakan kongruen
jika memenuhi syarat-syarat berikut.
- Bentuk dan ukurannya sama.
- Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar.
• Syarat kekongruenan dua atau lebih segitiga
adalah
- sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang,
- dua sisi yang bersesuaian sama panjang
dan satu sudut yang diapit oleh kedua
sisi tersebut sama besar , atau
- dua sudut yang bersesuaian sama besar dan
satu sisi yang bersesuaian sama panjang.
Setelah mempelajari bab Kesebangunan dan Kekongruenan ini, menurutmu bagian mana yang •
paling menarik untuk dipelajari? Mengapa?
Pada bab ini, materi-materi apa saja yang belum kamu pahami dan telah kamu pahami dengan •
baik?
Kesan apa yang kamu dapat setelah mempelajari bab ini? •
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
13
Peta Konsep
Kesebangunan
dan
Kekongruenan
Bangun Datar
Kesebangunan
Bangun Datar
Bangun Datar
Segitiga
Segitiga
Perbandingan sisi-sisi
yang bersesuaian memiliki
perbandingan yang senilai
Sudut- sudut yang bersesuaian
sama besar
Perbandingan sisi-sisi yang
bersesuaian senilai (s.s.s)
Sudut- sudut yang bersesuaian
sama besar (sd.sd.sd)
Dua sisi yang bersesuaian
memiliki perbandingan yang
sama dan sudut bersesuaian
yang diapit sama besar (s.sd.s)
Bentuk dan ukurannya sama
Sudut- sudut yang bersesuaian
sama besar (sd.sd.sd)
Sisi-sisi yang bersesuaian sama
panjang (s.s.s)
Dua sisi yang bersesuaian sama
panjang dan satu sudut yang
diapit sama besar (s.sd.s)
Dua sudut yang bersesuaian
sama besar dan satu sisi yang
bersesuaian sama panjang
(sd.sd.s)
Kekongruenan
meliputi
untuk
untuk
syarat
syarat
syarat
syarat
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
14
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Berikut adalah syarat kesebangunan pada bangun
datar, kecuali ....
a. perbandingan sisi-sisi yang bersesuaiannya
senilai
b. sudut-sudut yang bersesuaiannya sama besar
c. sudut-sudut yang bersesuaiannya memiliki
perbandingan yang senilai
d. pernyataan (a) dan (b)
2. Perhatikan gambar dua trapesium yang sebangun
berikut.
Nilai n yang memenuhi adalah ....
a. 12
b. 14
c. 16
d. 18
3. Ukuran persegipanjang yang sebangun dengan
persegipanjang berukuran 4 cm × 12 cm adalah
....
a. 4 cm × 2 cm
b. 18 cm × 6 cm
c. 8 cm × 3 cm
d. 20 cm × 5 cm
4. Bangun-bangun di bawah ini pasti sebangun,
kecuali ....
a. dua persegi
b. dua persegipanjang
c. dua lingkaran
d. dua segitiga samasisi
5. Perhatikan gambar berikut.
Jika ∆ABC dan ∆DEF sebangun, per nyataan yang
benar adalah ....
a. AC = DF
b. AB : DE = BC : EF
c. AB × AC = FD × ED
d. AC : AB = DE : DF
6. Pernyataan yang benar mengenai gambar berikut
adalah ....
a.
e
f
a b
b
=
+

b.
e
f
d c
d
=
+

c.
e
f
b
a
=
d.
e
f
c
d
=
7. Perhatikan gambar berikut.
Nilai x sama dengan ....
a. 6,7 cm
b. 5,0 cm
c. 4,1 cm
d. 3,8 cm
8. Diketahui ∆PQR dengan ST sejajar PQ, PS = 6 cm,
ST = 10 cm, dan RP = 15 cm. Panjang BS adalah
... cm.
a. 9 cm
b. 10 cm
c. 12 cm
d. 15 cm
9. Jika ∆DEF kongruen dengan ∆KLM, pernyataan
yang benar adalah ....
a. –D = –L
b. –E = –K
c. DF = LM
d. DE = KL
B E
A D C F
e
a
d
f
c
b
10 cm
6 cm
9 cm
x
6
9
12
A
B
16
8
n
C D
H
E F
G
Uji Kompetensi Bab 1
Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar
15
10. Pernyataan di bawah ini yang benar adalah ....
a. jika sudut-sudut dua segitiga sama besar, sisi-
sisi yang bersesuaian sama panjang
b. jika sisi-sisi dua segitiga sama panjang sudut-
sudut, kedua segitiga itu sama besar
c. jika dua segitiga sebangun, kedua segitiga itu
kongruen
d. jika dua segitiga sebangun, sisi-sisinya sama
panjang
11. Perhatikan gambar berikut.
Pasangan segitiga yang kongruen adalah ....
a. ∆DAB dan ∆CAD
b. ∆CDA dan ∆CBA
c. ∆ABC dan ∆ADC
d. ∆BAD dan ∆CAD
12. Perhatikan gambar berikut.
Nilai x + y = ....
a. 260°
b. 130°
c. 50°
d. 25°
13. Pada gambar berikut, ∆PQR @ ∆STU.
Pernyataan yang benar adalah ....
a. –S = 50°
b. –T = 70°
c. –S = 60°
d. –U = 60°
A
C
B
D
14.
Pada gambar di atas, besar –RSP adalah ....
a. 45°
b. 40°
c. 35°
d. 30°
15. Perhatikan gambar berikut.
Jika panjang AB = (6x − 31) cm, CD = (3x − 1) cm,
dan BC = (2x + 3) cm, panjang AD = ....
a. 29 cm
b. 26 cm
c. 23 cm
d. 20 cm
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Buatlah tiga pasang bangun datar yang sebangun.
Kemudian, berikan alasan jawabannya.
2. Perhatikan gambar berikut.

Tunjukkan bahwa ∆ABC sebangun dengan ∆CDE.
70°
R U
S P Q
T
50°
R
S
P
Q
100°
45°
D
A
C
B
D
A B
x
C S
50°
50°
R
Q P
y
A B
C
E D
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
16
3. Pada gambar berikut, tentukan panjang PQ. 4. Jelaskan cara menguji kekongruenan dua segitiga
dengan kata-katamu sendiri.
5. Perhatikan gambar berikut.
Tentukan nilai x, y, dan z.

85°
x
z
y
R
Q P
T
S
8 cm
10 cm
12 cm
vii
PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU
A. Deskripsi Umum
Matematika SMK Kelompok Penjualan dan Akuntansi kelas XII terdiri atas 3 standar
kompetensi, yaitu:
1. Standar kompetensi Teori Peluang
2. Standar kompetensi Statistika
3. Standar kompetensi Matematika Keuangan
Setelah mempelajari buku ini, kompetensi yang diharapkan adalah peserta didik dapat
menerapkan konsep Teori Peluang, Konsep Statistika, dan Matematika Keuangan dalam
menunjang program keahlian, yaitu program keahlian pada kelompok Penjualan dan
Akuntansi.
Pendekatan yang digunakan dalam menyelesaikan buku ini menggunakan pendekatan
siswa aktif melalui metode: Pemberian tugas, diskusi pemecahan masalah serta
presentasi. Guru merancang pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada peserta didik untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara mandiri
ataupun bersama-sama.
B. Prasyarat Umum
Dalam mempelajari buku ini, setiap standar kompetensi yang satu dengan standar
kompetensi yang lain saling berkaitan dan anda boleh mempelajari kompetensi ini tidak
harus berurutan sesuai dengan daftar isi. Jadi untuk dapat mempelajari kompetensi
berikutnya harus menguasai secara mendasar kompetensi sebelumnya. Standar
kompetensi yang paling mendasar dan harus benar-benar dikuasai adalah standar
kompetensi sistem bilangan real.
C. Petunjuk Penggunaan Buku
1. Penjelasan Bagi Peserta Didik
a. Bacalah buku ini secara berurutan dari kata pengantar sampai cek kemampuan,
lalu pahami benar isi dari setiap babnya.
b. Laksanakan semua tugas-tugas yang ada dalam buku ini agar kompetensi anda
berkembang sesuai standar.
c. Buatlah rencana belajar anda dalam mempelajari buku ini, dan konsultasikan
rencana anda dengan guru.
d. Lakukan kegiatan belajar untuk memdapatkan kompetensi sesuai dengan rencana
kegiatan belajar yang telah anda susun.
viii
e. Setiap mempelajari satu sub kompetensi, anda harus mulai dari menguasai
pengetahuan pendukung (uraian materi), membaca rangkumannya dan
mengerjakan soal latihan baik melalui bimbingan guru ataupun tugas di rumah.
f. Dalam mengerjakan soal-soal latihan, anda jangan melihat kunci jawaban terlebih
dahulu, sebelum anda menyelesaikannya.
g. Diakhir kompetensi, selesaikan Uji Kemampuan untuk menghadapi tes evaluasi
yang diberikan oleh guru.
2. Peranan Guru
a. Membantu peserta didik dalam merencanakan proses belajar.
b. Membimbing peserta didik melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam
tahap belajar.
c. Membantu peserta didik dalam memahami konsep dan menjawab pertanyaan
mengenai proses belajar peserta didik.
d. Membantu peserta didik dalam menentukan dan mengakses sumber tambahan lain
yang diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
f. Melaksanakan penilaian.
g. Menjelaskan kepada peserta didik mengenai bagian yang perlu untuk dibenahi dan
merundingkan rencana pemelajaran selanjutnya.
h. Mencatat pencapaian kemajuan peserta didik dengan memberikan evaluasi.
Pemberian evaluasi kepada siswa diharapkan diambil dari soal-soal Uji Kemampuan
yang tersedia.
D. Cek Kemampuan
Untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi.
Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Tingkat Penguasaan =
______________________ ___________
x 100 %
Jumlah soal
Arti tingkat penguasaan yang anda capai :
90% - 100% = baik sekali
76% - 89% = baik
60% - 75% = sedang
< 60% = kurang
Jika anda mencapai tingkat penguasaan 60% ke atas, anda dapat meneruskan dengan
kompetensi dasar berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 60%, anda harus mengulangi
ateri tersebut terutama yang belum dikuasai. m
Sumber: Art and Gallery
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memecahkan masalah
dengan konsep teori
peluang
9. 1 Mendeskripsikan kaidah pencacahan, permutasi,
dan kombinasi
9. 2 Menghitung peluang suatu kejadian

2 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
A. PENDAHULUAN
Standar Kompetensi Teori Peluang terdiri dari dua (2) Kompetensi Dasar. Pada
penyajian dalam buku ini, setiap Kompetensi Dasar memuat Tujuan, Uraian materi,
Rangkuman dan Latihan. Kompetensi Dasar dalam Standar Kompetensi ini adalah
Kaidah Pencacahan, Permutasi dan Kombinasi, dan Peluang Suatu Kejadian
Standar Kompetensi ini digunakan untuk menyelesaikan masalah–masalah peluang
suatu kejadian pada kehidupan sehari-hari dalam rangka untuk menunjang program
keahliannya.
Sebelum mempelajari kompetensi ini diharapkan anda telah menguasai standar
kompetensi Sistem Bilangan Real terutama tentang perkalian, pembagian,
penjumlahan dan pengurangan bilangan real.
Pada setiap akhir Kompetensi dasar tercantum soal-soal latihan yang disusun dari soal-
soal yang mudah sampai soal-soal yang sukar. Latihan soal ini digunakan untuk
mengukur kemampuan anda terhadap kompetensi dasar ini, artinya setelah
mempelajari kompetensi dasar ini secara mandiri dengan bimbingan guru sebagai
fasilitator, ukur sendiri kemampuan anda dengan mengerjakan soal-soal latihan
tersebut.
Untuk melancarkan kemampuan anda supaya lebih baik dalam mengerjakan soal,
disarankan semua soal dalam latihan ini dikerjakan baik di sekolah dengan bimbingan
guru maupun di rumah.
Untuk mengukur standar kompetensi lulusan tiap peserta didik, di setiap akhir
kompetensi dasar, guru akan memberikan evaluasi apakah anda layak atau belum
layak mempelajari standar Kompetensi berikutnya. Anda dinyatakan layak jika anda
dapat mengerjakan soal 60% atau lebih soal-soal evaluasi yang akan diberikan guru.
B. KOMPETENSI DASAR
B.1. Kaidah Pencacahan, Permutasi, dan Kombinasi
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menjelaskan pengertian kaidah pencacahan, faktorial, permutasi, dan kombinasi
¾ Menentukan banyaknya cara meyelesaikan masalah dengan kaidah pencacahan,
permutasi, dan kombinasi
¾ Menyelesaikan masalah dengan menggunakan kaidah pencacahan, permutasi, dan
kombinasi
b. Uraian Materi
Perhitungan peluang yang sering dipopulerkan dengan istilah Probabilitas pertama
kali dikenalkan oleh Blaise Pascal dan Pierre de Fermat pada abad ke-17 melalui
permainan dadu. Dari permainan dadu inilah akhirnya berkembang permainan-

3 BAB I Peluang
permainan yang lain seperti pelemparan koin, permainan kartu bridge (remi) dan
permainan lainnya. Oleh karena itu, konsep peluang lahir melalui suatu permainan.
Dalam perkembangannya, perhitungan peluang mendapatkan perhatian yang serius
dari para ilmuwan karena mempunyai peran yang sangat penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan lainnya, seperti Ilmu fisika modern, Statistika, dan
lain-lain.
1). Pengertian Kaidah Pencacahan (Caunting Slots)
Kaidah pencacahan atau Caunting Slots adalah suatu kaidah yang digunakan untuk
menentukan atau menghitung berapa banyak cara yang terjadi dari suatu peristiwa.
Kaidah pencacahan terdiri atas :
a. Pengisian tempat yang tersedia (Filling Slots),
b. Permutasi, dan
c. Kombinasi.
2). Pengisian Tempat yang Tersedia (Filling Slots)
Apabila suatu peristiwa pertama dapat dikerjakan dengan k
1
cara yang berbeda,
peristiwa kedua dapat dikerjakan dengan k
2
yang berbeda dan seterusnya sampai
peristiwa ke-n, maka banyaknya cara yang berbeda dari semua peristiwa tersebut
adalah K, di mana :
K = k
1
x k
2
x . . . x k
n
K sering disebut dengan istilah banyaknya tempat yang tersedia dengan aturan
perkalian atau Kaidah perkalian. Untuk menentukan banyaknya tempat yang tersedia
selain menggunakan aturan perkalian, juga menggunakan diagram pohon, tabel silang,
dan pasangan berurutan
Contoh 1
Misalkan ada dua celana berwarna hitam dan biru serta empat baju berwarna kuning,
merah, putih, dan ungu. Ada berapa banyak pasangan warna celana dan baju yang
dapat dibentuk?
Jawab:
Dari masalah di atas dapat diselesaikan dengan kaidah pencacahan, banyak cara yang
mungkin terjadi dari peristiwa tersebut dapat ditentukan dengan menggunakan
metode berikut ini:
™ Dengan tabel silang
Warna baju
Warna celana
Kuning (k) Merah (m) Putih (p) Ungu (u)
Hitam (h)
( h, k ) ( h, m ) ( h, p ) ( h, u )
Biru (b)
( b, k ) ( b, m ) ( b, p ) ( b, u )

4 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
™ Dengan Diagram Pohon

Warna celana
Hitam (h)
Biru (b)
Warna baju
Kuning (k)
Merah (m)
Putih (p)
Ungu (u)
Kuning (k)
Merah (m)
Putih (p)
Ungu (u)
( h, k )
( h, m )
( h, p )
( h, u )
( b, k )
( b, m )
( b, p )
( b, u )
Dari tabel silang dan diagram pohon di atas tampak ada 8 macam pasangan warna
celana dan baju yang dapat dibentuk, yaitu : (h,k,), (h,m), (h,p), (h,u), (b,k), (b,m),
(b,p), dan (b,u),
™ Dengan Pasangan Terurut
Misalkan himpunan warna celana dinyatakan dengan A = {h,b} dan himpunan warna
baju dinyatakan B = {k,m,p,u}. Himpunan pasangan terurut dari himpunan A dan
himpunan B dapat ditulis {(h,k), (h,m), (h,p), (h,u), (b,k), (b,m), (b,p), (b,u)}. Banyak
unsur dalam himpunan pasangan terurut ada 8 macam warna.
Contoh 2
Misalkan dari Semarang ke Bandung ada dua jalan dan dari Bandung ke Jakarta ada 3
jalan. Berapa banyak jalan yang dapat ditempuh untuk bepergian dari Semarang ke
Jakarta melalui Bandung?
Jawab:
Dari Semarang ke Bandung ada 2 jalan dan dari Bandung ke Jakarta ada 3 jalan. Jadi,
seluruhnya ada 2 x 3 = 6 jalan yang dapat ditempuh.
Contoh 3
Dari lima buah angka 0, 1, 2, 3, dan 4 hendak disusun suatu bilangan yang terdiri atas
4 angka. Berapa banyak bilangan yang dapat disusun apabila angka-angka itu tidak
boleh berulang?
Jawab:
Angka pertama (sebagai ribuan) dapat dipilih dari 4 angka yaitu 1, 2, 3, dan 4.
Misalnya terpilih angka 1. Karena angka-angka itu tidak boleh berulang, maka angka
kedua (sebagai ratusan) dapat dipilih dari 4 angka, yaitu 0, 2, 3 dan 4. Misalnya
terpilih angka 0. Angka ketiga (sebagai puluhan) dapat dipilih dari 3 angka, yaitu 2, 3,

5 BAB I Peluang
dan 4. Misalkan yang terpilih angka 2. Angka keempat (sebagai satuan) dapat dipilih
dari 2 angka, yaitu 3, dan 4. Jadi, seluruhnya ada 4 x 4 x 3 x 2 = 96 bilangan yang
dapat disusun dengan angka-angka yang tidak boleh berulang.
Contoh 4
Dari angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 7 akan dibentuk bilangan dengan 4 angka dan
tidak boleh ada angka yang diulang.
a. Berapa banyak bilangan dapat dibentuk?
b. Berapa banyak bilangan ganjil yang dapat dibentuk?
c. Berapa banyak bilangan yang nilainya kurang dari 5.000 yang dapat dibentuk?
d. Berapa banyak bilangan genap dan lebih besar dari 2.000 yang dapat dibentuk?
Jawab:
a. Angka ribuan ada 6 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, dan 7. Misalkan
terpilih angka 1. Angka ratusan ada 6 angka yang mungkin, yaitu 0, 2, 3, 4, 5, dan
7. Misal terpilih angka 2. Angka puluhan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 0, 3, 4,
5, dan 7. Misalkan terpilih angka 3. Angka satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu
0, 4, 5, dan 7. Jadi, banyak bilangan yang dapat dibentuk = 6 x 6 x 5 x 4 = 720
angka.
b. Bilangan ganjil apabila angka satuannya merupakan angka ganjil.
Angka satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 3, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 1. Angka ribuan ada 5 angka yang mungkin yaitu 2, 3, 4, 5, dan 7. Misalkan
terpilih angka 2. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 0, 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 3. Angka puluhan ada 4 angka yang mungkin yaitu 0, 4, 5,
dan 7. Jadi, banyak bilangan ganjil yang dapat dibentuk = 4 x 5 x 5 x 4 = 400
angka.
c. Bilangan yang kurang dari 5.000, maka:
Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 3, dan 4. Misalkan terpilih
angka 1. Angka ratusan ada 6 angka yang mungkin yaitu 0, 2, 3, 4, 5, dan 7. Misal
terpilih angka 2. Angka puluhan ada 5 angka yang mungkin yaitu 0, 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 3. Angka satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 0, 4, 5,
dan 7. Jadi, banyak bilangan dapat dibentuk = 4 x 6 x 5 x 4 = 480 angka.
d. Bilangan genap apabila satuannya merupakan angka genap, yaitu 0, 2 atau 4.
Bilangan lebih besar dari 2.000 dan angka satuannya 0, maka:
Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 3, 4, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 3. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 4, 5, dan 7. Misal
terpilih angka 2. Angka puluhan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 4, 5, dan 7.
Bilangan lebih besar dari 2.000 dan angka satuannya 2, maka:
Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 3, 4, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 3. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 0, 1, 4, 5, dan 7. Misal
terpilih angka 0. Angka puluhan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 4, 5, dan 7.
Bilangan lebih besar dari 2.000 dan angka satuannya 4, maka:
Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 2, 3, 5, dan 7. Misal terpilih angka
3.

6 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 0, 1, 2, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 0. Angka puluhan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 5, dan 7.
Jadi, banyak bilangan genap dan lebih besar dari 2.000 yang dapat dibentuk adalah
= (4 x 5 x 4) + (4 x 5 x 4) + (4 x 5 x 4) = 240 angka.
3). Pengertian dan Notasi Faktorial
n faktorial adalah hasil kali bilangan bulat positif dari 1 sampai dengan n.
Notasi dari n faktorial dilambangkan dengan n ! (dibaca : “n faktorial”)
n ! = 1 . 2 . 3 . . . (n – 2) . (n – 1) . n
Contoh 5
Tentukanlah nilai dari 0!
Jawab:
Dari definisi faktorial : n ! = 1 . 2 . 3 .…. (n – 2) . (n – 1) . n . . . 1),
(n – 1) ! = 1 . 2 . 3 .…. (n – 2) . (n – 1) . . . 2).
Jika persamaan 2) kita substitusikan ke persamaan 1), maka akan diperoleh:
n ! = (n – 1) ! . n atau n =
! ) 1 n (
! n

. Jika n = 1 maka akan diperoleh kesamaan:
1 =
! ) 1 1 (
! 1

atau 1 =
! 0
! 1
, Jadi, 0! = 1! = 1
Contoh 6
Hitunglah nilai dari:
a. 5! b.
! 4
! 7
c .
! 4 . ! 6
! 10

Jawab:
a. 5! = 1 . 2 . 3 . 4 . 5 = 120
b.
! 4
! 7
=
4 . 3 . 2 . 1
7 . 6 . 5 . 4 . 3 . 2 . 1
= 5 . 6 . 7 = 210.
c.
! 4 . ! 6
! 10
=
4 . 3 . 2 . 1 . ! 6
10 . 9 . 8 . 7 . ! 6
= 210.
Contoh 7
Tulislah dengan notasi faktorial:
a.
12 . 11 . 10 . 9
1
b. n.(n – 1).(n – 2) … (n – 8) c.
4 3 2 1
) 3 n ).( 2 n ).( 1 n .( n
⋅ ⋅ ⋅
− − −
Jawab:
a.
12 . 11 . 10 . 9
1
=
12 . 11 . 10 . 9 . 8 ... 3 . 2 . 1
8 ... 3 . 2 . 1
=
! 12
! 8
b. n.(n – 1).(n – 2) … (n – 8) =
1 2. . 9)...3 (n
1 . 2 . 9)...3 (n 8). (n 2) (n . ) 1 n .( n

− − … − −
=
! 9) (n
! n


7 BAB I Peluang
c.
4 3 2 1
) 3 n ).( 2 n ).( 1 n .( n
⋅ ⋅ ⋅
− − −
=
1 . 2 . 3 )... 5 n ).( 4 n .( 4 3 2 1
1 . 2 . 3 )... 5 n ).( 4 n ).( 3 n ).( 2 n ).( 1 n .( n
− − ⋅ ⋅ ⋅
− − − − −
=
! 4) !.(n 4
! n

Contoh 8
Sederhanakanlah bentuk :
)! 1 n (
)! 1 n (

+
, untuk n ≥ 1
Jawab:
)! 1 n (
)! 1 n (

+
=
)! 1 n (
)! 1 n .( n ). 1 n (

− +
= (n + 1) . n = n
2
+ n
Contoh 9
Hitunglah n dari:
)! 3 n (
)! 1 n (


= 30.
Jawab:

)! 3 n (
)! 1 n (


= 30
)! 3 n (
)! 3 n ).( 2 n ).( 1 n (

− − −
= 30
(n – 1).(n – 2) = 30
n
2
– 3n + 2 – 30 = 0
n
2
– 3n – 28 = 0
(n – 7)(n + 4) = 0
n = 7 atau n = -4 (tidak memenuhi)
1. Dalam suatu penelitian akan ditanam 4 jenis padi (p
1
, p
2
, p
3
, p
4
) pada 5 petak
sawah yang berbeda (s
1
, s
2
, s
3
, s
4
, s
5
)
a. Buatlah diagram pohon dan tabel silang pada penelitian itu!
b. Berapa macam cara penanaman 4 jenis padi di 5 petak sawah yang berbeda?


2. Dari kota A ke Kota B ada 5 jalan yang dapat dilalui. Dari Kota B ke Kota C ada 7
jalan yang dapat dilalui. Dengan berapa cara seseorang dapat pergi:
a. Dari Kota A ke C melalui B?
b. Dari Kota A ke C melalui B dan kembali lagi ke A melalui B?
c. Dari Kota A ke C melalui B dan kembali lagi ke A melalui B tetapi jalan yang
ditempuh pada waktu kembali tidak boleh sama dengan jalan yang dilalui ketika
berangkat?


3. Berapa banyak lambang bilangan dapat dibentuk dari angka-angka 1, 2, 3, 4, 5,
dan 6:
a. Jika bilangan tersebut terdiri dari 3 angka dan ada angka yang sama?
b. Jika bilangan tersebut terdiri dari 4 angka yang berlainan dan genap?


8 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
4. Berapa banyak pasang pakaian yang dapat dipakai seorang siswa apabila ia
mempunyai 6 celana dan 8 kemeja?


5. Dari angka 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 dibuat bilangan yang terdiri atas 4 angka yang
berbeda. Berapakah banyaknya bilangan yang dapat disusun apabila bilangan itu
kurang dari 5000 dan tanpa pengulangan?


6. Pengurus suatu organisasi terdiri dari 4 orang, yaitu seorang ketua, seorang
sekretaris, seorang bendahara, dan seorang pembantu umum. Untuk jabatan
ketua ada 5 calon, untuk sekretaris ada 7 calon, untuk bendahara ada 4 calon, dan
untuk pembantu umum ada 3 calon. Jika dalam susunan pengurus itu tidak boleh
seorang pun yang dicalonkan pada 2 jabatan atau lebih. Dengan berapa cara
susunan pengurus itu dapat dibentuk?


7. Untuk mengikuti lomba KEMAMPUAN MIPA di tingkat Kabupaten, akan dipilih wakil
untuk pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi. Masing-masing untuk 1
pelajaran ditempatkan seorang wakil. Bila untuk matematika tersedia 8 calon,
Fisika 5 calon, Kimia 6 calon, dan Biologi 4 calon. Ada berapa cara pemilihan
pasangan dapat dilakukan?


8. Berapa banyaknya huruf dapat dibentuk dari kata SHOLAT, apabila :
a. Huruf terakhir adalah konsonan?
b. Huruf terakhir adalah huruf A?


9. Berapakah banyaknya bilangan antara 500 dan 900 yang dapat disusun dari angka
2, 3, 4, 5, dan 6, jika pada penyusunan bilangan itu tidak boleh ada pengulangan
angka?


10. Delapan orang terdiri atas 2 pria dan 6 wanita. Mereka mendapatkan 8 kursi
sebaris ketika menonton pertunjukan. Jika pria harus menempati di ujung-ujung
kursi, ada berapa cara mereka duduk?

11. Dari kotak A, B, dan C berturut turut berisi 5 bola merah, 6 bola kuning, dan 4
bola hijau. Seorang mengambil sebuah bola dari masing masing kotak sehingga
mendapat 3 bola yang berlainan warna. Berapa cara agar mendapatkan 3 bola
yang berlainan warna tersebut?

12. Seorang karyawan dalam bertugas setiap harinya melewati 4 gedung. Dari gedung
1 ke gedung 2 ada 5 jalan, dari gedung 2 ke gedung 4 ada 6 jalan, dari gedung 1
ke gedung 3 ada 5 jalan, dari gedung 3 ke gedung 4 ada 2 jalan, namun dari
gedung 2 ke gedung 3 tidak ada jalan. Setelah sampai dari gedung 4 orang
tersebut kembali ke gedung 1 melalui gedung 3 atau gedung 2. Ada berapa cara
orang tersebut untuk keluar dari gedung tempat dia bekerja?
a. Jika waktu pulang boleh melalui jalan yang sama.
b. Ketika pulang tidak boleh melalui jalan yang sudah dilewati.
13. Dari angka-angka 0, 1, 2, 4, 5, 6, 7, dan 9 akan disusun suatu bilangan puluhan
ribu. Berapa banyaknya bilangan yang dapat disusun apabila bilangan tersebut:
a. Merupakan bilangan yang habis dibagi 10 dan angka tidak berulang?
b. Merupakan bilangan genap dan kurang dari 60.000?

9 BAB I Peluang
14. Nyatakan dengan notasi faktorial:
a. 10 . 9 . 8 c.
4 . 3 . 2 . 1
6 . 7 . 8

b. p.(p – 1).(p – 2).(p – 3) d. (k+2).(k + 1).k.(k – 1).(k – 2)
15. Seseorang akan pergi dari kota A ke kota F seperti gambar di bawah ini:
Ada berapa jalan yang mungkin di lalui dari kota A ke kota F tersebut?
16. Hitunglah:
a. 7! d.
! 2 !. 15
! 17
g.
)! 3 20 (
! 20


b. 10! e.
! 3 !. 2
! 5 !. 4
h.
! 98
! 100
c.
! 5
! 8
f.
! 2 !. 2
! 5 . ! 4 . ! 3
i.
)! 2 10 (
! 10

17. Sederhanakan:
a.
)! 3 n (
)! 1 n (
+

c.
)! 2 n (
)! 1 n (
+

b.
)! 2 n (
)! 1 n (
+

=
)! 1 n (
)! 3 n ( 3
+

d.
)! 4 n (
)! 2 n (


=
! 3
! 5
18. Hitunglah n dari:
a.
! n
! ) 2 n ( +
= 42 d.
! ) 1 n !.( 2
! ) 1 n (

+
=
! ) 2 n (
! n

b.
! ) 2 n (
! n

=
! ) 3 n (
! ) 1 n .( 2


; n≥3 e.
! ) 2 n (
! n
= 6


10 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
4). Pengertian Permutasi
a). Permutasi dari unsur-unsur yang berbeda
Misalkan dari empat huruf yang berbeda A, B, C, dan D akan disusun :
a. Satu huruf, maka diperoleh susunan huruf A, B, C, dan D.
Jumlahnya susunan ada 4 kemungkinan =
1 . 2 . 3
1 . 2 . 3 . 4
=
! 3
! 4
=
! ) 1 4 (
! 4

b. Dua huruf yang berbeda, maka diperoleh susunan: AB, BA, AC, CA, AD, DA, BC,
CB, BD, DB, CD, dan DC. Jumlah susunan ada 12 = 4.3 =
1 . 2
1 . 2 . 3 . 4
=
! 2
! 4
=
! ) 2 4 (
! 4

c. Tiga huruf yang berbeda, maka dengan menggunakan aturan perkalian, yaitu
huruf pertama dapat ditempati 4 huruf yang tersedia, huruf kedua dapat ditempati
3 huruf sisa yang tersedia, dan huruf ketiga dapat ditempati dua 2 huruf sisa yang
tersedia. Jumlah susunan ada 24 = 4 . 3 . 2 =
! 1
! 4
=
! ) 3 4 (
! 4

d. Empat huruf yang berbeda, maka dengan menggunakan aturan perkalian
diperoleh jumlah susunan sebanyak 24 = 4 . 3 . 2 . 1 =
! ) 4 4 (
! 4
! 0
! 4

=
Dari ilustrasi di atas, maka jika jumlah objek ada n, akan disusun k objek yang berbeda
dengan k < n diperoleh jumlah susunan:
n.(n – 1).(n – 2) . . . (n – k + 1) =
1 . 2 . 3 . . . ) 1 k n ).( k n (
1 . 2 . 3 . . . ) 1 k n ).( k n ).( 1 k n ( . . . ) 2 n ).( 1 n .( n
− − −
− − − + − − −
=
! ) k n (
! n

Susunan k objek yang berbeda dari n objek yang tersedia di mana k < n sering di
dipopulerkan dengan istilah Permutasi k objek yang berbeda dari n objek yang
tersedia.
Banyak permutasi k objek dari n objek di tulis
n
P
k
, atau dapat dirumuskan :
n
k
P

)! k n (
! n
P
k n

=
Contoh 9
Berapa banyak permutasi 2 huruf yang diambil dari huruf-huruf A, B, C, D, dan E.

Jawab:
• Sebagai huruf pertama dalam susunan itu dapat dipilih dari 5 huruf yang tersedia,
yaitu A, B, C, D, atau E. Misalkan terpilih huruf A.
• Setelah huruf pertama dipilih, ada 4 huruf untuk memilih huruf ke dua, yaitu B, C,
D, dan E. Berdasarkan kaidah perkalian, banyak susunan seluruhnya adalah = 5 x 4
= 20.
Dengan menggunakan permutasi, berarti permutasi 2 objek dari 5 objek yang tersedia:

)! 2 5 (
! 5
P
2 5

= =
1 . 2 . 3
1 . 2 . 3 . 4 . 5
= 5 . 4 = 20.


11 BAB I Peluang
Contoh 10
Berapa banyak susunan yang terdiri atas 4 huruf yang di ambil dari huruf-huruf T, O,
S, E, R, B, dan A?
Jawab:
Banyaknya susunan huruf-huruf itu adalah permutasi 4 huruf berbeda yang diambil
dari 7 huruf yang tersedia adalah:

)! 4 7 (
! 7
P
4 7

= =
1 . 2 . 3
1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7
= 7 . 6 . 5 . 4 = 840.
Contoh 11
Hitunglah nilai dari
6
P
6
!

Jawab:

! 0
! 6
)! 6 6 (
! 6
P
6 6
=

= = 6! = 6 . 5 . 4 . 3 . 2 . 1 = 720.
b). Permutasi yang memuat beberapa unsur yang sama
Banyaknya permutasi
n
P
n
di mana ada a objek yang sama, b objek yang sama,
dan seterusnya adalah P, maka nilai P:
. . . ! b . ! a
! n
P =

Contoh 12
Carilah banyak permutasi berikut ini:
a. 5 objek yang memuat 3 objek yang sama
b. 10 objek memuat 2 objek yang sama, 4 objek lainnya sama dan 3 objek lainnya
lagi sama.
Jawab:
a.
! 3
! 5
P = =
3 . 2 . 1
5 . 4 . 3 . 2 . 1
= 20.
b.
! 3 !. 4 . ! 2
! 10
P = =
3 . 2 . 1 !. 4 . 2 . 1
10 . 9 . 8 . 7 . 6 . 5 !. 4
= 12.600.
Contoh 13
Berapa banyak susunan huruf yang berbeda yang dibentuk dari huruf-huruf
MATEMATIKA ?
Jawab:
Pada kata “ MATEMATIKA “ terdapat 10 huruf dengan 2 huruf M, 3 huruf A, dan 2
huruf T. Jika banyak susunan yang diminta adalah P, maka:

! 2 . ! 3 . ! 2
! 10
P = =
2 . 1 . 2 . 1 . ! 3
10 . 9 . 8 . 7 . 6 . 5 . 4 . ! 3
= 151.200.

12 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Contoh 14
Dari 10 kelereng, 5 berwarna merah, 3 berwarna hitam dan 2 berwarna putih. Berapa
banyak cara untuk menyusun kelereng tersebut berdampingan?
Jawab:
! 2 !. 3 . ! 5
! 10
P = =
2 . 1 . 3 . 2 . 1 !. 5
10 . 9 . 8 . 7 . 6 !. 5
= 2.520.
c). Permutasi Siklik
Jika ada 2 objek duduk melingkar, maka banyak susunan ada 1 = (2 – 1)!, yaitu:
Jika ada 3 objek duduk melingkar, maka banyak susunan ada 2 = (3 – 1)!, yaitu:
Jika ada 4 objek duduk melingkar, maka banyak susunan ada 6 = (4 – 1)!, yaitu:
Dari ilustrasi di atas, maka:
Jika ada n objek duduk melingkar, maka banyak susunan yang terjadi ada (n – 1)!
Sehingga diperoleh definisi:
Jika ada n objek yang berbeda dan disusun dalam bentuk siklik, maka banyaknya
susunan yang terjadi (permutasi siklik atau P siklik) adalah:
P siklik = (n – 1)!
Contoh 15
Dari 8 peserta konferensi akan menempati kursi pada meja bundar, berapa macam
susunan posisi duduk yang dapat terjadi?
Jawab:
Banyak objek n = 8, maka banyak permutasi sikliknya:
P siklik = (8 –1)! = 7! = 5.040.

Contoh 16
Dari 8 anggota Karang Taruna dimana Hanif, Nisa, dan Azzam ada di dalamnya, akan
duduk mengelilingi meja bundar. Ada berapa susunan yang terjadi, jika:
a. Semua anggota Karang Taruna bebas untuk memilih tempat duduk
b. Hanif, Nisa, dan Azzam harus duduk berdampingan
c. Hanif, Nisa, dan Azzam tidak boleh ketiganya duduk berdampingan

13 BAB I Peluang
Jawab:
a. Jika semua anggota Karang Taruna bebas untuk memilih, maka banyak susunan
siklik = (8 – 1)! = 5.040.
b. Jika Hanif, Nisa, dan Azzam harus duduk berdampingan, maka mereka bertiga
dianggap satu objek dalam susunan siklik. Jumlah objek dalam susunan siklik
tinggal 6 objek, maka banyak susunan siklik = (6 – 1)! = 120. Namun Hanif, Nisa,
dan Azzam dapat bertukar tempat sebanyak 3! = 6.
Jadi, susunan siklik dimana Hanif, Nisa, dan Azzam duduk berdampingan adalah
= 120 x 6 = 720.
c. Hanif, Nisa, dan Azzam tidak boleh bertiganya duduk berdampingan = 5.040 – 720
= 4.320.
5). Pengertian Kombinasi
Misalkan dari empat huruf yang berbeda A, B, C, dan D akan disusun:
a. Satu huruf, maka diperoleh huruf A, B, C, dan D. Jumlahnya ada 4 =
! 1 !. ) 1 4 (
! 4

b. Dua huruf dengan urutan tidak diperhatikan, maka diperoleh susunan: AB = BA,
AC = CA, AD = DA, BC = CB, BD = DB, dan CD = DC. Jumlah susunan ada 6
=
! 2 !. ) 2 4 (
! 4

c. Tiga huruf dengan urutan tidak diperhatikan, maka diperoleh susunan: ABC, ABD,
BCD, dan ACD. Jumlah susunan ada 4 =
! 3 !. ) 3 4 (
! 4

d. Empat huruf dengan urutan tidak diperhatikan, maka diperoleh susunan hanya 1,
yaitu ABCD, 1 =
! 4 !. ) 4 4 (
! 4

Dari ilustrasi di atas, maka jika jumlah objek ada n, akan disusun k objek dengan
urutan tidak diperhatikan, dan k < n diperoleh jumlah susunan =
! k !. ) k n (
! n

.
Susunan k objek dengan urutan tidak diperhatikan dari n objek yang tersedia di mana
k < n sering dipopulerkan dengan istilah Kombinasi k objek dari n objek yang tersedia.
Banyaknya kombinasi k objek dari n objek di tulis
n
C
k
, atau dan dapat di
rumuskan:
n
k
C

! k )!. k n (
! n
C
k n

=

14 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Contoh 17
Tentukanlah nilai kombinasi di bawah ini:
a.
4
C
2
b
. 12
C
7
c.
2 12
2 7 2 5
C
C . C
Jawab:
a.
4
C
2
=
! 2 )!. 2 4 (
! 4

=
2 . 1 . 2 . 1
4 . 3 . 2 . 1
= 6 .
b.
12
C
7
=
5 . 4 . 3 . 2 . 1 !. 7
12 . 11 . 10 . 9 . 8 !. 7
! 7 !. 5
! 12
! 7 )!. 7 12 (
! 12
= =

= 792.
c.
4 12
2 7 2 5
C
C . C
=
33
14
495
210
4 . 3 . 2 . 1
12 . 11 . 10 . 9
2 . 1 . 2 . 1
7 . 6 . 5 . 4
4 . 3 . 2 . 1 !. 8
12 . 11 . 10 . 9 !. 8
2 . 1 !. 5 . 2 . 1 !. 3
7 . 6 !. 5 . 5 . 4 . ! 3
! 4 !. 8
! 12
! 2 !. 5
! 7
.
! 2 !. 3
! 5
= = = = .
Contoh 18
Carilah nilai n dari persamaan
(n + 1)
C
3
= 4 .
n
C
2
Jawab:
(n + 1)
C
3
= 4 .
n
C
2
! 2 . ! ) 2 n (
! n
. 4
! 3 )!. 3 1 n (
! ) 1 n (

=
− +
+
2
! n . 4
6
! n . ) 1 n (
=
+
! 2 . ! ) 2 n (
! n . 4
6 )!. 2 n (
! ) 1 n (

=

+
2
6
) 1 n (
=
+

2
! n . 4
6
! ) 1 n (
=
+
n + 1 = 12 ⇔ n = 11.

Catatan:
Perbedaan permutasi dan kombinasi dalam menyelesaikan soal-soal verbal:
• Soal verbal diselesaikan dengan permutasi, jika urutan unsur dibalik bernilai
berbeda atau unsur dalam soal tersebut memiliki status.
• Soal verbal diselesaikan dengan kombinasi, jika urutan unsur dibalik bernilai sama
atau unsur dalam soal tersebut tidak memiliki status.



Contoh 19
a. Dari 12 orang anggota Karang Taruna akan dipilih 3 orang sebagai petugas ronda.
Ada berapa susunan petugas ronda yang dapat dibentuk?
b. Dari 35 siswa akan dipilih 3 siswa sebagai ketua kelas, bendahara, dan sekretaris.
Ada berapa susunan pengurus kelas yang dapat dibentuk?
c. Suatu rapat dihadiri oleh 10 orang anggota. Pada kesempatan ini dipilih 3 orang
untuk berbicara. Berapa banyak cara untuk memilih ketiga orang tersebut?
d. Pada sebuah tes seorang peserta hanya diwajibkan mengerjakan 6 dari 10 soal
yang diberikan. Berapa jenis pilihan soal yang mungkin untuk dikerjakan?
e. Berapa banyak bilangan yang terdiri dari 3 angka dapat disusun dari angka 4, 5,
6, 7, dan 8 tanpa pengulangan?
f. Berapa macam susunan pengurus RT yang terdiri atas ketua, sekretaris, dan
bendahara dari 8 calon pengurus?

15 BAB I Peluang
Jawab:
a. Objek tidak punya status atau urutan objek dibalik sama, maka menyelesaikannya
dengan menggunakan kombinasi:
12
C
3
=
3 . 2 . 1 !. 9
12 . 11 . 10 !. 9
! 3 !. 9
! 12
! 3 )!. 3 12 (
! 12
= =

= 220.
b. Objek memiliki status yaitu sebagai ketua, sekretaris dan bendahara.
Penyelesaiannya dengan menggunakan permutasi:
35
P
3
=
! 32
35 . 34 . 33 !. 32
! 32
! 35
)! 3 35 (
! 35
= =

= 39.270.
c. Objek tidak punya status atau urutan objek dibalik sama, maka menyelesaikannya
dengan menggunakan kombinasi:
10
C
3
=
3 . 2 . 1 !. 7
10 . 9 . 8 !. 7
! 3 !. 7
! 10
! 3 )!. 3 10 (
! 10
= =

= 120.
d. Urutan objek dibalik sama, maka menyelesaikannya dengan menggunakan
kombinasi:
10
C
6
=
4 . 3 . 2 . 1 !. 6
10 . 9 . 8 . 7 !. 6
! 6 !. 4
! 10
! 6 )!. 6 10 (
! 10
= =

= 210.
e. Urutan objek dibalik tidak sama, maka menyelesaikannya dengan menggunakan
permutasi:
5
P
3
=
2 . 1
5 . 4 . 3 . 2 . 1
! 2
! 5
)! 3 5 (
! 5
= =

= 60.
f. Objek memiliki status, yaitu sebagai ketua, sekretaris, dan bendahara.
Penyelesaiannya dengan menggunakan permutasi:
8
P
3
=
! 5
8 . 7 . 6 !. 5
! 5
! 8
)! 3 8 (
! 8
= =

= 336.
Contoh 20
Dari suatu kotak terdapat 20 bola dimana 8 warnanya merah, 7 warnanya putih, dan
sisanya berwarna hitam. Jika diambil 4 bola dari kotak tersebut, berapa banyak cara
untuk mendapatkan warna:
a. Dua merah dan dua putih?
b. Semuanya hitam?
c. Paling sedikit dua merah?
Jawab:
a. Mengambil 2 merah dari 8 merah sebanyak
8
C
2
cara dan mengambil 2 putih dari 7
putih sebanyak
7
C
2
cara. Banyaknya cara untuk mendapatkan 2 merah, dan dua
putih adalah :
8
C
2
x
7
C
2
= = =
2
7 . 6
x
2
8 . 7
! 2 !. 5
! 7
x
! 2 !. 6
! 8
588.
b. Mengambil 4 hitam dari 5 hitam sebanyak
5
C
4
cara = =
! 1 . ! 4
! 5
5.

16 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
c. Mengambil paling sedikit 2 merah memiliki beberapa kemungkinan, yaitu:
2 merah dan 2 hitam =
8
C
2
x
5
C
2
= = =
2
5 . 4
x
2
8 . 7
! 2 !. 3
! 5
x
! 2 !. 6
! 8
280.
2 merah dan 2 putih =
8
C
2
x
7
C
2
= = =
2
7 . 6
x
2
8 . 7
! 2 !. 5
! 7
x
! 2 !. 6
! 8
588.
2 merah, 1 putih, dan 1 hitam =
8
C
2
x
7
C
1
x
5
C
1
= =
! 1 !. 4
! 5
x
! 1 !. 6
! 7
x
! 2 !. 6
! 8
980.
3 merah dan 1 putih =
8
C
3
x
7
C
1
= = = 7 x
6
8 . 7 . 6
! 1 !. 6
! 7
x
! 3 !. 5
! 8
392.
3 merah dan 1 hitam =
8
C
3
x
5
C
1
= = = 5 x
6
8 . 7 . 6
! 1 !. 4
! 5
x
! 3 !. 5
! 8
290.
4 merah =
8
C
4
= = =
4 . 3 . 2 . 1
8 . 7 . 6 . 5
! 4 !. 4
! 8
70.
Jadi, banyaknya cara paling sedikit 2 merah adalah :
= 280 + 588 + 980 + 392 + 290 + 70 = 2.600 cara.

c. Rangkuman
1. Apabila suatu peristiwa pertama dapat dikerjakan dengan k
1
cara yang berbeda,
peristiwa kedua dapat dikerjakan dengan k
2
yang berbeda dan seterusnya sampai
peristiwa ke-n, maka banyaknya cara yang berbeda dari semua peristiwa tersebut
adalah K di mana:
K = k
1
x k
2
x . . . x k
n
2. n faktorial adalah hasil kali bilangan bulat positif dari 1 sampai dengan n.
n ! = 1 . 2 . 3 . . . (n – 2) . (n – 1) . n
3. Permutasi k dari n unsur:
)! k n (
! n
P
k n

=
4. Banyaknya permutasi
n
P
n
di mana ada a objek yang sama, b objek yang sama
dan seterusnya adalah P, maka
. . . ! b . ! a
! n
P =
5. Permutasi siklik atau P siklik = (n – 1)!
6. Kombinasi k dari n unsur:
! k )!. k n (
! n
C
k n

=
7. Perbedaan permutasi dan kombinasi dalam menyelesaikan soal-soal verbal:
• Soal verbal diselesaikan dengan permutasi, jika urutan unsur dibalik bernilai
berbeda atau unsur dalam soal tersebut memiliki status.
• Soal verbal diselesaikan dengan kombinasi, jika urutan unsur dibalik bernilai
sama atau unsur dalam soal tersebut tidak memiliki status.



17 BAB I Peluang


1. Hitunglah:
a.
6
P
1
d
. 5
P
5
g
. 15
P
2
b.
5
C
4
e
. 7
C
5
h
. 11
C
6
c.
2 12
2 5
C
f.
P . 4
2 11
2 5 2 6
C
C . C
i.
18 20
20 20 2 20
C
C . C
i n jik
pat duduk pada:
huruf yang dapat disusun dari tiap huruf berikut ini:
kursi, sedangkan salah seorang dari mereka harus selalu duduk di kursi tertentu?
an. Dengan berapa cara mereka dapat duduk, jika
?
tik yang tidak segaris
rta, Jabar, Jateng, dan Yogyakarta. Berapa cara
mbil 4 bola dari kotak tersebut, berapa banyak
tu putih
e. Tidak ada yang merah?
akan duduk mengelilingi meja bundar. Ada berapa susunan yang
uduk?
Yusuf, dan Azzam tidak boleh keempatnya duduk
berdampingan?
2. Tentukanlah nila a:
a.
n
C
3
=
20
C
17
c.
n
C
5
= 2.
n
C
2
b.
n
P
2
=2.
n – 1
P
3
d.
(n + 1)
P
3
=
n
P
4
3. Dengan berapa cara 5 orang da
a. Lima kursi berdampingan
b. Lima kursi yang terletak di sekeliling meja bundar?
4. Berapa banyak susunan
a. P, A, L, A, P, dan A
b. M, O, N, O, T, O, dan N
c. A, M, B, U, R, A, D, U, dan L?


5. Berapa banyak cara duduk yang dapat terjadi jika 9 orang disediakan hanya 4


6. Ada 3 orang Belanda, 4 orang Jerman, 3 orang Inggris dan 2 orang Jepang.
Disediakan 12 kursi berdamping
yang sebangsa berdampingan

7. Tentukanlah berapa banyak:
a. Garis lurus yang dapat dibuat dari 20 ti
b. Diagonal segi-10 yang dapat dibentuk
c. Segitiga yang dapat di tarik dari 15 titik yang tidak segaris?
8. Dari 12 orang Jenderal akan dipilih 4 orang sebagai Kapolda untuk ditempatkan di
4 provinsi, yaitu DKI Jaka
pemilihan dapat dilakukan?

9. Dari suatu kotak terdapat 25 bola, 10 warnanya merah, 9 warnanya putih, dan
sisanya berwarna hitam. Jika dia
cara untuk mendapatkan warna:
a. Tiga merah dan sa d. Paling banyak dua hitam
b. Semuanya hitam
c. Paling sedikit dua putih
10. Dari 10 anggota Karang Taruna di mana Tutik, Susan, Yusuf, dan Azzam ada
didalamnya,
terjadi jika:
a. Semua anggota Karang Taruna bebas untuk memilih tempat d
b. Tutik, Susan, Yusuf, dan Azzam harus duduk berdampingan?
c. Tutik, Susan,

18 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
11. Suatu pertemuan diikuti oleh 10 orang peserta yang akan duduk mengelilingi meja
bundar. Jika dalam peserta tersebut ada Ani, Badu, dan Cecep. Tentukan banyak
susunan yang terjadi:
a. Jika semua peserta bebas memilih tempat duduk
b. Ani dan badu duduk berdampingan
c. Ani, Badu, dan Cecep duduk berdampingan
12. Berapa banyak warna campuran yang terdiri atas 4 warna yang dapat dipilih dari 8
warna dasar yang berbeda?
13. Dari 40 siswa suatu sekolah, ditunjuk 3 siswa untuk mengikuti penyuluhan
NARKOBA di Kelurahan. Ada berapa susunan siswa yang terpilih?
14. Dari 45 anggota DPRD akan ditunjuk 3 orang untuk mengunjungi 3 daerah
bencana, yaitu Tanah longsor di Jember, Tanah longsor di Banjarnegara, dan
banjir di Kendal. Ada berapa susunan utusan yang dapat dibentuk yang terjadi?
15. Dari 100 orang peserta demo di PT X ditunjuk 5 orang sebagai wakil untuk
berbicara dengan Direktur. Ada beberapa susunan yang terjadi apabila Badu, dan
Dodi sebagai penggerak demo sudah pasti terpilih sebagai wakil?
16. Dari 30 peserta kontes akan dipilih 3 kontestan sebagai juara 1, juara 2, juara 3,
dan juara harapan. Ada berapa susunan yang terjadi jika:
a. Ada peserta yang mengundurkan diri, dan Ani sebagai peserta kontes sudah
pasti juara 1?
b. Tidak ada peserta yang mau dijadikan juara harapan?


17. Berapa banyak permutasi berikut ini:
a. 3 unsur diambil dari 20 unsur yang tersedia?
b. 4 unsur diambil dari 50 unsur yang tersedia?
18. Carilah banyaknya kombinasi berikut ini:
a. 4 unsur diambil dari 15 unsur yang tersedia?
b. 3 unsur diambil dari 100 unsur yang tersedia?
19. Dari 16 orang pengurus sebuah organisasi akan dipilih seorang Ketua, Wakil ketua,
Sekretaris, dan Bendahara. Tentukan banyaknya cara pemilihan pengurus sebuah
organisasi tersebut?
20. Dari 10 orang anggota Karang taruna di mana Hanif, Aldi, dan Muslim ada di
dalamnya akan dipilih untuk satu team bola voli. Tentukan banyaknya susunan
team yang dapat dibentuk apabila:
a. Semua anggota bebas untuk dipilih?
b. Hanif sebagai Kapten harus dipilih?
c. Hanif sebagai kapten harus dipilih dan Muslim tidak masuk untuk dipilih?
d. Hanif dan Aldi harus dipilih?
e. Aldi harus dipilih, Hanif dan Muslim tidak ikut untuk dipilih?


19 BAB I Peluang
B.2 Peluang Suatu Kejadian
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menjelaskan pengertian kejadian dan ruang sampel
¾ Menghitung frekuensi harapan suatu kejadian
¾ Menghitung peluang suatu kejadian
¾ Menghitung peluang kejadian saling lepas
¾ Menghitung peluang kejadian saling bebas
¾ Menerapkan konsep peluang dalam menyelesaikan masalah program keahlian.
b. Uraian Materi
1). Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian
Pada percobaan melempar sekeping mata uang logam, hasil yang muncul dapat
dituliskan dengan memakai notasi himpunan. Misalkan “G” dimaksudkan munculnya
gambar dan “A” munculnya angka. Himpunan dari semua hasil di atas yang mungkin
muncul pada percobaan ditulis S = {G , A}, S disebut ruang sampel atau ruang.
Misalkan pada percobaan melempar sebuah dadu bersisi enam, himpunan dari semua
hasil yang mungkin muncul pada percobaan ditulis S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}. S disebut
ruang sampel atau ruang contoh.
Jadi, ruang sampel adalah Himpunan S dari semua kejadian atau peristiwa yang
mungkin muncul dari suatu percobaan. Ruang sampel biasanya dilambangkan dengan
huruf “S” yang disebut sebagai himpunan semesta. Anggota-anggota ruang contoh
disebut titik sampel atau titik contoh. Misalnya ruang contoh S = {G, A} mempunyai 2
titik contoh, yaitu G dan A yang disebut sebagai anggota-anggota dari himpunan
semesta. Banyaknya anggota ruang sampel biasanya dilambangkan dengan n(S).
Setiap kali melakukan percobaan akan diperoleh hasil kejadian atau peristiwa.
Misalnya, kegiatan melempar sekeping uang logam akan muncul sisi gambar (G) atau
munculnya sisi angka (A). Kegiatan melempar sebuah dadu bersisi enam, akan
diperoleh hasil kejadian yang mungkin muncul salah satu dari enam sisi mata dadu 1,
2, 3, 4, 5, atau 6.
Jadi, hasil kejadian adalah himpunan bagian dari ruang sampel. Suatu kejadian A
adalah suatu himpunan dari titik sampel atau merupakan himpunan bagian dari ruang
sampel S. Himpunan kosong atau { } dan S sendiri adalah himpunan bagian dari S,
sehingga merupakan kejadian-kejadian.
φ
φ disebut kejadian yang tak mungkin
(mustahil), sedangkan S disebut kejadian yang pasti.
Contoh 21
Dua uang logam dilempar bersamaan, tentukan:
a. Ruang Sampel dan banyaknya ruang sampel?
b. Titik sample?

20 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
a. Ruang sampel diperlihatkan pada tabel di bawah ini:
A G
A (A, A) (A, G)
G (G, A) (G, G)
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {(A,A), (A,G), (G,A), (G,G)} dan n(S) = 4
b. Titik sampelnya ada 4, yaitu: (A,A), (A,G), (G,A), (G,G).
Contoh 22
Pada percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus 1 kali, jika P adalah
kejadian muncul 2 angka, tentukanlah ruang sampel S, banyaknya ruang sampel, dan
himpunan kejadian P
.
Jawab:
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, GAG, AGG, GGA, GGG} dan n(S) = 8
P = {AAG, AGA, GAA}


2). Pengertian Peluang Suatu Kejadian
Sebelum mengetahui definisi dari peluang suatu kejadian, sebaiknya diketahui dahulu
pengertian frekuensi relatif.
Frekuensi relatif adalah perbandingan antara banyaknya hasil yang muncul dengan
banyaknya percobaan yang dilakukan.
Misalnya percobaan melempar sekeping uang logam sebanyak 12 kali. Jika muncul “G”
7 kali dan muncul “A” 5 kali, maka frekuensi relatif (Fr) dari G =
12
7
dan frekuensi
relatif (Fr) dari A =
12
5
atau dapat ditulis: Fr(G) =
12
7
dan Fr(A) =
12
5
. Dengan
demikian nilai frekuensi relatif sekeping mata uang dari G atau A akan mendekati
2
1
.
Peluang munculnya G atau A adalah
2
1
ditulis P(G) = P(A) =
2
1
.
Jadi, suatu percobaan yang mempunyai beberapa hasil, masing-masing mempunyai
peluang yang sama, dapat dirumuskan sebagai berikut :

) S ( n
) A ( n
) A ( P =
Keterangan:
P(A) = Peluang munculnya suatu kejadian A
n(A) = Banyaknya anggota dalam kejadian A
n(S) = Banyaknya anggota dalam himpunan ruang sampel.

21 BAB I Peluang
Nilai P(A) berkisar antara 0 sampai 1, P(A) = 1 adalah suatu kepastian dan P(A) = 0
adalah suatu mustahil.
Contoh 23
Pada pelemparan sebuah dadu, tentukanlah peluang kejadian muncul:
a. Bilangan 2?
b. Bilangan prima?
Jawab:
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6
a. Misalkan A adalah kejadian muncul bilangan 2, maka A ={2}, dan n(A) = 1
Jadi, P(A) =
) S ( n
) A ( n
=
6
1
.
b. Misalkan B adalah kejadian muncul bilangan prima, maka B = {2, 3, 5}, n(B) =3
Jadi, P(B) =
) S ( n
) B ( n
=
6
3
=
2
1
.
Contoh 24
Pada pelemparan suatu uang logam dan sebuah dadu, berapakah peluang munculnya:
a. Gambar pada uang logam dan bilangan genap pada dadu?
b. Angka pada uang logam dan bilangan komposit pada dadu?
Jawab:
dadu
Uang logam
1 2 3 4 5 6
A (Angka)
G (Gambar)
(A, 1)
(G, 1)
(A, 2)
(G, 2)
(A, 3)
(G, 3)
(A, 4)
(G, 4)
(A, 5)
(G, 5)
(A, 6)
(G, 6)
Dari tabel di atas:
S = {(A, 1), (A, 2), . . . , (G, 6) }, maka n(S) = 12
a. Misalkan A kejadian muncul gambar pada uang logam dan bilangan genap pada
dadu, maka A = {(G, 2), (G, 4), (G, 6)}, dan n(A) = 3. Jadi, P(A)=
) S ( n
) A ( n
=
12
3
=
4
1
.
b. Misalkan B kejadian muncul Angka pada uang logam dan bilangan komposit pada
dadu, maka B = {(A, 4), (A, 6)}, n(B) = 2. Jadi, P(B) =
) S ( n
) B ( n
=
12
2
=
6
1
.
Contoh 25
Suatu kotak berisi 6 bola putih dan 4 bola merah. Dari kotak itu diambil sebuah bola
secara acak. Berapa peluang yang terambil itu:
a. Sebuah bola putih?
b. Sebuah bola merah?
Jawab:
Bola putih dan bola merah seluruhnya ada 10 buah, jadi, n(S) = 10
a. Bola putih ada 6, jadi, n(bola putih) = 6
jadi, peluang terambilnya sebuah bola putih adalah:

22 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
P (1 bola putih) =
) S ( n
) putih bola ( n
=
10
6
=
5
3
.
b. Bola merah ada 4, jadi, n(bola merah) = 4
jadi, peluang yang terambil sebuah bola merah adalah :
P (1 bola merah) =
) S ( n
) merah bola ( n
=
10
4
=
5
2
.
Contoh 26
Di dalam sebuah kotak ada 9 bola yang diberi nomor 1 sampai 9. Apabila 2 bola
diambil secara acak (random), tentukan peluang terambilnya:
a. Kedua bola bernomor ganjil
b. Kedua bola bernomor genap
c. Satu bola bernomor ganjil dan satu bola bernomor genap?
Jawab:
Banyaknya ruang sampel: memilih 2 bola dari 9 bola adalah
9
C
2
=
! 2 . ! 7
! 9
=
2
9 . 8
= 36
a. Misalkan A kejadian muncul bola bernomor ganjil, maka A memilih 2 bola dari 5
bola yang bernomor ganjil, n(A) =
5
C
2
=
! 2 . ! 3
! 5
= 10
P(A) =
) S ( n
) A ( n
=
36
10
=
18
5
b. Misalkan B kejadian muncul bola bernomor genap, maka B memilih 2 bola dari 4
bola yang bernomor genap, n(B) =
4
C
2
=
! 2 . ! 2
! 4
= 6 dan P(B) =
) S ( n
) B ( n
=
36
6
=
6
1
c. Misalkan C kejadian muncul 1 bola bernomor ganjil dan 1 bola bernomor genap,
n(C) =
5
C
1
x
4
C
1
= 4 x 5 = 20
P(B) =
) S ( n
) C ( n
=
36
20
=
9
5


Contoh 27
Pasangan suami istri berencana memiliki 3 orang anak. Tentukan peluang 3 anak
tersebut:
a. Laki-laki semua b. Dua laki-laki c. Paling sedikit 1 perempuan?
Jawab:
Misalkan laki-laki dilambangkan dengan L, dan perempuan dengan P, maka:
S = {LLL, LLP, LPL, PLL, LPP, PLP, PPL, PPP}, sehingga n(S) = 8
a. Jika A = semua laki-laki, maka A = {LLL} , n(A) =1 jadi, P(A) =
) S ( n
) A ( n
=
8
1
b. Jika B kejadian dua anak laki-laki, maka B = {LLP, LPL, PLL} , n(B) = 3
P(B) =
) S ( n
) B ( n
=
8
3
c. Jika C kejadian paling sedikit 1 perempuan, maka C = { LLP, LPL, PLL, LPP, PLP,
PPL, PPP} , n(C) = 7, sehingga P(C) =
) S ( n
) C ( n
=
8
7

23 BAB I Peluang
Catatan:
Pola segitiga Pascal dapat juga digunakan untuk menyelesaikan berbagai soal peluang
dimana kejadian sederhananya memiliki titik sampel 2.
Jumlah ruang sampel n(S) dari n objek yang mempunyai dua sisi apabila ditos
bersama-sama adalah 2
n
, atau n(S) = 2
n
.
Contoh 28
Sepuluh uang logam yang bersisi G dan A dilempar bersama, tentukanlah :
a. Banyaknya ruang sampel
b. Peluang munculnya 3 gambar
c. Peluang munculnya 7 angka
d. Peluang munculnya paling sedikit 8 gambar!
Jawab:
a. Jumlah n(S) dari 10 keping uang logam jika dilempar bersama = 2
10
= 1.024
b. n(3 gambar) dari pola segitiga Pascal =
10
C
3
=
! 3 . ! 7
! 10
=
3 . 2 . 1
10 . 9 . 8
= 120,
jadi, P(3 gambar) =
) S ( n
) gambar 3 ( n
=
128
15
024 . 1
120
=
c. n(7 angka) dari pola segitiga Pascal =
10
C
7
=
! 3 . ! 7
! 10
=
3 . 2 . 1
10 . 9 . 8
= 120,
jadi, P(7 angka) =
) S ( n
) angka 7 ( n
=
128
15
024 . 1
120
=
d. Paling sedikit 8 gambar( > 8 gambar), berarti yang memungkinkan:
n(8 gambar) =
10
C
8
=
! 2 . ! 8
! 10
= 45, n(9 gambar) =
10
C
9
=
! 1 . ! 9
! 10
= 10, dan
n(10 gambar) =
10
C
10
=
! 0 . ! 10
! 10
=1.
Sehingga n(> 8 gambar) = 45 + 10 + 1 = 56.
Jadi, P(> 8 gambar) =
) S ( n
) gambar 8 ( n ≥
=
128
7
024 . 1
56
= .
Contoh 29
Dari seperangkat kartu bridge, jika diambil 1 kartu secara acak, tentukanlah peluang
munculnya:
a. Kartu As c. Kartu hati
b. Kartu merah d. Kartu King wajik!
Jawab:
Kartu Bridge terdiri dari 52 kartu dengan perincian:
Sesuai warnanya : 26 merah dan 26 hitam
Sesuai motifnya : 13 kartu daun, 13 kriting, 13 hati, dan 13 wajik
♠ ♣ ♥ ♦
Sesuai jenisnya: Masing-masing 4 kartu dari: King, Jack, Queen, As, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8, 9, dan 10.

24 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jika diambil 1 kartu secara acak, maka n(S) = 52
a. P(As) =
13
1
52
4
) S ( n
) As ( n
= =
b. P(Merah) =
2
1
52
26
) S ( n
) Merah ( n
= =
c. P(Hati) =
4
1
52
13
) S ( n
) Hati ( n
= =
d. P(King Wajik) =
52
1
) S ( n
) wajik King ( n
=
3). Frekuensi Harapan Suatu Kejadian

Frekuensi harapan suatu kejadian Fh dari suatu percobaan adalah hasil kali peluang
P(A) dengan banyaknya percobaan n :
Fh = P(A) x n

Contoh 30
Tiga buah uang logam yang bersisi gambar (G) dan angka (A) dilempar bersama-sama
sebanyak 80 kali, tentukan harapan munculnya :
a. Tiga-tiganya angka? b. 2 gambar? c. Tidak ada angka?
Jawab:
S = {GGG, GGA, GAG, AGG, AAG, AGA, GAA, AAA}, sehingga n(S) = 8
a. Tiga-tiganya angka A = {AAA}, n(A) = 1 sehingga P(A) =
8
1
Fh (tiga-tiganya angka) = n x P(A) = 80 x
8
1
= 10
b. 2 gambar, B = {GGA, GAG, AGG} , n(B) = 3 sehingga P(B) =
8
3

Fh (2 gambar ) = n x P(B) = 80 x
8
3
= 30
c. Tidak ada angka C = {GGG}, n(C) = 1 jadi, P(C) =
8
1
Fh (tidak ada angka) = n x P(C) = 80 x
8
1
= 10
Contoh 31
Tiga dadu dilempar bersama-sama sebanyak 432 kali, tentukan harapan munculnya
jumlah mata ketiga dadu adalah 7?
Jawab:
Tiga dadu dilempar bersama-sama memiliki n(s) = 6
3
= 216
Tiga mata dadu yang berjumlah 7 terdiri dari mata-mata dadu :
1, 2, dan 4. Banyaknya permutasi dari angka-angka tersebut = 3 ! = 6
1, 3, dan 3. Banyaknya permutasi dari angka-angka tersebut = 3
1, 1, dan 5. Banyaknya permutasi dari angka-angka tersebut = 3
2, 2, dan 3. Banyaknya permutasi dari angka-angka tersebut = 3

25 BAB I Peluang
Jadi, n(berjumlah 7) = 6 + 3 + 3 + 3 = 15
Fh jumlah 7 = P(berjumlah 7) x n = 432 x
216
15
= 30
4). Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Misalkan banyaknya ruang sampel adalah n(S), banyaknya suatu kejadian A adalah
n(A). Banyaknya kejadian yang bukan A atau komplemen A dilambangkan A
c
adalah:
n(A
c
) = n(S) – n(A), jika ruas kiri dan kanan dibagi n(S), maka akan diperoleh
persamaan:
) S ( n
) A ( n ) S ( n
) S ( n
) A ( n
c

= ⇔
) S ( n
) A ( n
) S ( n
) S ( n
) S ( n
) A ( n
c
− = ⇔ P(A
c
) = 1 – P(A)
Contoh 32
Peluang bahwa esok hari akan hujan adalah 0,26. Tentukanlah peluang bahwa esok
hari tidak hujan!
Jawab:
P(esok hari tidak hujan) = 1 – P(esok hari hujan)
= 1 – 0,26 = 0,74
Contoh 33
Dari suatu kotak terdapat 7 bola hijau, 3 bola merah, dan 5 bola kuning. Jika diambil 2
bola sekaligus, tentukanlah peluang yang muncul bukan keduanya bola hijau !
Jawab:
Untuk menentukan peluang keduanya bukan bola hijau, tentukan terlebih dahulu
peluang kedua-duanya hijau.
n(S) = memilih 2 bola dari 15 bola =
15
C
2
=
! 2 . ! 13
! 15
= 105
n(2 bukan hijau) = memilih 2 bola dari 8 bola bukan hijau =
8
C
2
=
! 2 . ! 6
! 8
= 28
P(keduanya bukan hijau) =
) S ( n
) hijau bukan 2 ( n
=
105
28
=
15
4
Contoh 34
Dari hasil penelitian pada suatu rumah sakit di Jakarta diperoleh bahwa dari tiap 150
pasien yang diteliti ternyata terdapat 6 orang terkena virus HIV. Jika di rumah sakit A
terdapat 200 pasien, berapa pasien yang terbebas dari virus HIV?
Jawab:
P(terbebas virus HIV) = 1 – P(terkena virus HIV)
= 1 –
) S ( n
) HIV virus terkena ( n
= 1 –
150
6
=
25
24
Fh terbebas virus HIV = P(terbebas virus HIV) x n
=
25
24
x 200 = 192 pasien

26 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
1. Tentukanlah banyaknya ruang sampel dari pernyataan berikut:
a. Dua dadu dilempar sekali?
b. Mata uang logam dilempar 4 kali?
c. Suami istri yang mempunyai rencana memiliki 8 orang anak?
d. Dadu dan koin dilempar bersama-sama?
e. Tiga dadu yang dilempar bersama-sama?
2. Sebuah dadu di lempar sekali. Berapa peluang:
a. Munculnya jumlah mata dadu kurang dari 3?
b. Munculnya jumlah mata dadu lebih dari 4?
3. Dari seperangkat kartu bridge (Remi) di ambil satu kartu secara acak, tentukan
peluang terambilnya:
a. Kartu berwarna hitam? c. Kartu Wajik?
b. Kartu Jack merah? d. Kartu As hati?
4. Dari huruf-huruf pembentuk “PRACIMANTORO” akan diambil sebuah huruf secara
acak. Berapa peluang yang terambilnya:
a. Huruf hidup (vokal)?
b. Huruf mati (konsonan)?
5. Dalam sebuah kantong terdapat 4 kelereng putih, 10 kelereng merah dan 6
kelereng kuning. Dari kantong diambil sebuah kelereng secara acak. Berapa
peluang yang terambil sebuah kelereng :
a. Berwarna putih? c. Berwarna kuning?
b. Berwarna merah? d. Bukan putih?

6. Sebuah kotak berisi 6 bola merah, 5 bola biru, dan 4 bola putih. Dari kotak itu
diambil 3 bola sekaligus secara acak. Berapa peluang terambilnya.
a. Semua merah ? c. putih dan 1 merah?
b. Semua putih? d. Paling sedikit 2 merah?

7. Dua dadu dilempar secara bersamaan sebanyak satu kali. Berapa peluang
munculnya jumlah kedua mata dadu sama dengan:
a. 5 b. 10 c. 14 d. kurang dari 8
8. Tiga buah dadu di lempar secara bersamaan sebanyak satu kali. Berapa peluang
munculnya tiga mata dadu berjumlah :
a. 4 b. 5 c. 16 d. lebih dari 12?
9. Delapan uang logam yang bersisi G dan A dilempar bersama-sama, tentukanlah:
a. Banyaknya ruang sampel c. Peluang munculnya 4 angka
b. Peluang munculnya 3 gambar d. Peluang munculnya < 4 gambar?
10. Sepasang suami istri berencana memiliki 7 orang anak, tentukanlah peluang anak-
anaknya:
a. Semuanya laki-laki c. Paling sedikit 2 laki-laki
b. Tiga perempuan d. Paling banyak 3 perempuan?

27 BAB I Peluang
11. Di dalam sebuah kotak ada 9 tiket yang diberi nomor 1 sampai 9. Apabila 2 tiket
diambil secara acak (random), tentukan peluang terambilnya:
a. Kedua duanya bernomor ganjil c. Satu ganjil satu genap
b. Kedua duanya adalah genap d. Keduanya bukan ganjil?
12. Tiga kartu diambil secara acak dari 1 set kartu bridge. Tentukan peluang yang
terambil :
a. Tiga-tiganya kartu berwarna hitam c. As, King, dan kartu 9
b. Dua kartu wajik dan 1 As d. Dua kartu king dan 1 kartu 10?
13. Sebuah dadu di lempar sebanyak 60 kali. Berapa frekuensi harapan muncul:
a. Bilangan prima c. Bilangan yang habis dibagi 3
b. Bilangan yang habis dibagi 2 d. Bilangan komposit?

14. Dua keping mata uang logam dilempar sebanyak 800 kali. Berapa frekuensi
harapan muncul semuanya sisi angka?

15. Suatu bibit tanaman memiliki peluang tumbuh 0,78. Bibit tanaman itu ditanam
pada suatu lahan sebanyak 2.000 bibit. Berapa perkiraan tanaman yang tidak
tumbuh?

16. Dua buah dadu dilempar secara bersamaan sebanyak 180 kali. Berapa frekuensi
harapan munculnya mata dadu:
a. Kedua-duanya bilangan prima c. Berjumlah kurang dari 5
b. Berselisih 3 d. Bermata sama?

17. Dalam sebuah kotak terdapat 10 buah bola, 7 bola diantaranya berwarna putih
dan 3 bola yang lainnya berwarna hitam. Dari kotak itu diambil 2 bola secara acak.
Tiap kali kedua bola itu diambil, dikembalikan lagi kedalam kotak. Jika
pengambilan seperti itu dilakukan sebanyak 180 kali. Berapa frekuensi harapan
yang terambil itu:
a. Keduanya bola putih c. Satu bola putih dan satu hitam
b. Keduanya bola hitam d. Bukan kedua-duanya hitam?
18. Dua buah dadu besisi enam dilempar sekali. berapa peluang munculnya bilangan
dadu pertama tidak sama dengan bilangan dadu kedua?
19. Dari hasil diagnosa suatu rumah sakit di Jakarta, 2,5% pasiennya terinveksi virus
Flu Burung. Jika di RS X terdapat 350 pasien, berapa pasien yang terbebas dari
virus Flu burung?
20. Hasil survey yang dilakukan pada suatu wilayah terhadap kepemilikan mobil dan
sepeda diperoleh data sebagai berikut: 15% penduduk tidak memiliki mobil, 40%
penduduk memiliki sepeda. Kalau dari wilayah itu diambil satu orang secara acak,
berapa peluang ia memiliki mobil tetapi tidak memiliki sepeda?

28 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
5). Peluang Kejadian Majemuk
Kejadian majemuk adalah kejadian yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua
atau lebih kejadian sederhana. Dengan memanfaatkan operasi antar himpunan, kita
akan menentukan peluang kejadian majemuk. Operasi antar himpunan tersebut adalah
gabungan dua himpunan dan irisan dua himpunan.
a). Aturan Penjumlahan dalam Peluang Kejadian Majemuk
Misalkan pada percobaan melempar dadu bersisi enam sebanyak satu kali. Kejadian A
muncul bilangan prima, yaitu A = {2, 3, 5} dan kejadian B muncul bilangan genap,
yaitu B = {2, 4, 6}. Dalam diagram Venn, dua kejadian di atas dapat dilukiskan
sebagai berikut:






Tampak bahwa kejadian A dan B tidak saling lepas
(memiliki irisan A ∩ B = { 2})
Dari operasi gabungan dua himpunan diperoleh :
n(A U B) = n(A) + n(B) – n(A ∩ B)
P(A U B) =
) S ( n
) B U A ( n
=
) S ( n
) B A ( n ) B ( n ) A n +

( I −
=
) S ( n
) B A ( n
) S ( n
) B ( n A n
+
) S ( n
) ( I



P(A U B) = P(A) + P(B) – P(A ∩ B)
Misalkan kejadian A muncul bilangan 1 atau 3, ditulis A ={1, 3} sedangkan kejadian B
muncul bilangan 2 atau 4, ditulis B ={2, 4}. Dalam diagram Venn, himpunan A dan B
digambarkan:
Gambar: 1.1
Gambar: 1.2
Dari diagram Venn tampak bahwa A dan B adalah dua himpunan saling lepas atau
saling asing, karena A ∩ B = Ø atau n(A ∩ B) = 0
Dari operasi gabungan dua himpunan yang saling lepas diperoleh:
n(A U B) = n(A) + n(B) ( karena n(A ∩ B) = 0),
P(A U B) =
) S ( n
) B U A ( n

29 BAB I Peluang
=
) S ( n
) B ( n ) A ( n +
=
) S ( n
) B ( n
) S ( n
) A ( n
+

P(A U B) = P(A) + P(B)
Contoh 35
Sebuah dadu dilempar sekali. Berapa peluang munculnya bilangan < 2 atau > 5?
Jawab:
Misal A kejadian munculnya bilangan < 2 maka A = {1, 2} , P(A) =
3
1
6
2
=
dan B kejadian munculnya bilangan > 5 maka B = {5, 6}, P(B) =
3
1
6
2
=
Karena n(A ∩ B)= 0, maka A dan B adalah kejadian yang saling lepas, sehingga
P(A U B) = P(A) + P(B) =
3
2
3
1
3
1
= +
Contoh 36
Dua dadu dilempar bersama-sama, tentukan peluang munculnya:
a. Dua dadu berjumlah 6 atau berjumlah 10
b. Dua dadu berjumlah 6 atau muncul mata dadu bernomor lima!
Jawab:
Dadu 1
Dadu 2
1 2 3 4 5 6
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5) (1,6)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5) (2,6)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5) (3,6)
4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5) (4,6)
5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5) (5,6)
6 (6,1) (6,2) (6,3) (6,4) (6,5) (6,6)
a. Misalkan A kejadian munculnya dua dadu berjumlah 6, maka A = {(1, 5), (2, 4),
(3, 3), (4, 2), (5, 1)}, n(A) = 5 dan B kejadian munculnya dua dadu berjumlah
10, maka B = {(4, 6), (5, 5), (6, 4)}, n(B) = 3. Karena A dan B adalah kejadian
yang saling lepas, maka: P(A U B) = P(A) + P(B) =
4
1
36
9
36
3
36
6
= = +
b. Misalkan A kejadian munculnya dua dadu berjumlah 6, maka n(A) = 5 dan B
kejadian munculnya dadu bermata lima, maka B = {(1, 5), (2, 5), (3, 5) (4, 5),
(5, 5) (6, 5) (5, 1) (5, 2) (5, 3), (5, 4) (5, 6)}, n(B) = 11. A dan B bukan
kejadian yang saling lepas karena A ∩ B ada, yaitu {(1, 5), (5, 1)}, n(A∩ B) = 2,
maka:

30 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
P(A U B) = P(A) + P(B) – P(A ∩ B) =
) S ( n
) B A ( n
) S ( n
) B ( n
) S ( n
) A ( n I
− +
=
18
7
36
14
36
2
36
11
36
5
= = − +
Contoh 37
Jika A dan B dua kejadian yang tidak saling lepas, tentukanlah P(A), jika P(B) =
3
2
,
P(A U B) =
4
3
dan P(A∩ B) =
12
5
?
Jawab:
P(A U B) = P(A) + P(B) – P(A∩ B)

4
3
= P(A) +
3
2

12
5
⇔ P(A) =
4
3

3
2
+
12
5
=
2
1


b). Aturan Perkalian dalam Peluang Kejadian Majemuk
1. Kejadian saling bebas
Misalkan A dan B adalah kejadian-kejadian pada ruang sampel S. A dan B disebut dua
kejadian saling bebas apabila kemunculan kejadian yang satu tidak dipengaruhi oleh
kemunculan kejadian lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
Kejadian A dan B saling bebas jika dan hanya jika P(A ∩ B) = P(A) x P(B)
Jika P(A ∩ B) ≠ P(A) x P(B), maka kejadian A dan B tidak saling bebas.
Contoh 38
Dua dadu berwarna biru dan putih dilempar bersama-sama. A adalah kejadian muncul
bilangan 4 pada dadu biru dan B adalah kejadian muncul bilangan 4 pada dadu putih.
Apakah kejadian A dan B merupakan dua kejadian saling bebas?
Jawab:
Dadu biru
Dadu putih
1 2 3 4 5 6
1 (1,1) (1,2) (1,3) (1,4) (1,5) (1,6)
2 (2,1) (2,2) (2,3) (2,4) (2,5) (2,6)
3 (3,1) (3,2) (3,3) (3,4) (3,5) (3,6)
4 (4,1) (4,2) (4,3) (4,4) (4,5) (4,6)
5 (5,1) (5,2) (5,3) (5,4) (5,5) (5,6)
6 (6,1) (6,2) (6,3) (6,4) (6,5) (6,6)
Pada ruang contoh S, diperoleh:
P(A) = P(4 biru) =
6
1
36
6
= (Perhatikan pada baris ke-4)

31 BAB I Peluang
P(B) = P(4 putih) =
6
1
36
6
= (Perhatikan pada kolom ke-4)
P(A ∩ B) = P(4 biru dan 4 putih) = P(4,4) =
36
1
(baris dan kolom ke-4)
Dari rumus: P(A ∩ B) = P(A) x P(B) =
36
1
6
1
x
6
1
=
Oleh karena P(A ∩ B) = P(A) x P(B), maka A dan B merupakan dua kejadian yang
saling bebas.
Contoh 39
Dua keping mata uang logam dilempar secara serentak sebanyak sekali. Kejadian A
munculnya sisi angka pada mata uang pertama dan kejadian B munculnya sisi yang
sama untuk kedua mata uang logam itu. Periksalah apakah kejadian A dan B
merupakan kejadian yang saling bebas!
Jawab:
Keping1
Keping2
A G
A (A,A) (A,G)
G (G,A) (G,G)
Ruang sampel S = {(A,A), (A,G), (G,A), (G,G)} ⇒ n(S) = 4
Kejadian A = {(A,A);(A,G)} ⇒ P(A) =
2
1
4
2
=
Kejadian B = {(A,A);(G,G)} ⇒ P(B) =
2
1
4
2
=
Kejadian A ∩ B ={(A, A)} ⇒ P(A ∩ B) =
4
1
= P(A) x P(B)
Karena P(A ∩ B) = P(A) x P(B), maka A dan B merupakan dua kejadian yang saling
bebas.
Contoh 40
A dan B kejadian yang saling bebas, P(A) = 0,3 dan P(B) = 0,4. Carilah P(A ∩ B)!
Jawab:
P(A∩ B) = P(A) x P(B) = 0,3 x 0,4 = 0,12
Contoh 41
Jika kejadian A mempunyai peluang P(A)=
3
1
, kejadian B mempunyai peluang P(B) =
3
2
, dan kejadian A atau B mempunyai peluang P(A B) = U
9
7
, tunjukkan bahwa
kejadian A dan B adalah kejadian saling bebas!
Jawab:
P(A U B) = P(A) + P(B) – P(A ∩ B)

32 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
5
3
=
3
1
+
3
2
– P(A ∩ B) ⇔ P(A ∩ B)=
3
1
+
3
2

9
7
=
9
2

P(A) x P(B) =
3
1
x
3
2
=
9
2
.
Ternyata P(A∩ B) = P(A) x P(B), sehingga kejadian A dan B saling bebas.
2. Kejadian Bersyarat
Dua kejadian dimana kejadian yang satu saling mempengaruhi kejadian yang lain,
maka dikatakan bahwa dua kejadian itu tidak saling bebas atau kejadian bersyarat.

Peluang munculnya kejadian A dengan syarat kejadian B telah muncul adalah :
P(A/B) =
) B ( P
) B A ( P I
atau P(A ∩ B) = P(B) . P(A/B)
Peluang munculnya kejadian B dengan syarat kejadian A telah muncul adalah :
P(B/A) =
) A ( P
) B A ( P I
atau P(A ∩ B) = P(A) . P(B/A)
Contoh 42
Dari seperangkat kartu Bridge, diambil satu per satu dua kali tanpa pengembalian,
tentukan peluang munculnya:
a. Dua-duanya kartu merah
b. Kartu pertama As dan kartu kedua wajik?
Jawab:
Apabila A kejadian mendapatkan kartu merah pada pengambilan pertama, maka
kejadian B pada pengambilan kedua tidak saling bebas terhadap kejadian A, sebab
tanpa pengembalian. Jadi, kejadian B terjadi dengan syarat kejadian A, sehingga :
a. P(A) =
) S ( n
) merah ( n
=
2
1
52
26
= , dan P(B/A) =
1 ) S ( n
) 1 merah ( n


=
51
25
P(A ∩ B) = P(A) . P(B/A) =
102
25
51
25
x
2
1
=
b. P(A) =
) S ( n
) As ( n
=
13
1
52
4
= , dan P(B/A) =
1 ) S ( n
) wajik ( n

=
51
13
P(A ∩ B) = P(A) . P(B/A) =
51
1
51
13
x
13
1
=
Contoh 43
Dua buah dadu bersisi enam dilempar sekali. misalkan:
A adalah kejadian munculnya jumlah kedua mata dadu sama dengan 7,
B adalah kejadian munculnya selisih kedua mata dadu sama dengan 3,
C adalah kejadian munculnya perkalian kedua mata dadu sama dengan 12.
Carilah !
a. P(A/B) c. P(A/C)
b. P(B/A) d. P(C/B)

33 BAB I Peluang
Jawab:
n(S) = 36
A = {(1, 6), (2, 5), (3, 4), (4, 3), (5, 2), (6, 1)}, n(A) = 6, P(A) =
6
1
36
6
=
B = {(1, 4), (2, 5), (3, 6), (4, 1), (5, 2), (6, 3)}, n(A) = 6, P(A) =
6
1
36
6
=
C = {(2, 6), (3, 4), (4, 3), (6, 2)}, n(A) = 4, P(A) =
9
1
36
4
=
A ∩ B = {(2, 5), (5, 2)}, n(A ∩ B) = 2, P(A ∩ B) =
18
1
36
2
=
A ∩ C = {(3, 4), (4, 3)}, n(A ∩ C) = 2, P(A ∩ C) =
18
1
36
2
=
B ∩ C = { }, n(B ∩ C) = 0, P(B ∩ C) = 0
a. P(A/B) =
) B ( P
) B A ( P I
=
3
1
1
6
x
18
1
= c. P(A/C) =
) C ( P
) C A ( P I
=
2
1
1
9
x
18
1
=
b. P(B/A) =
) A ( P
) B A ( P I
=
3
1
1
6
x
18
1
= d. P(C/B) =
) B ( P
) C B ( P I
= 0
1
6
x 0 =
c. Rangkuman
1. Ruang sampel adalah Himpunan S dari semua kejadian atau peristiwa yang
mungkin muncul dari suatu percobaan. Hasil kejadian adalah himpunan bagian
dari ruang sampel.
2. Suatu percobaan yang mempunyai beberapa hasil, masing-masing mempunyai
peluang yang sama, yaitu:
) S ( n
) A ( n
) A ( P =
3. Jumlah ruang sampel n(S) dari n objek yang mempunyai dua sisi apabila ditos
bersama-sama adalah 2
n
atau n(S) = 2
n

4. Frekuensi harapan suatu kejadian Fh dari suatu percobaan adalah hasil kali
peluang P(A) dengan banyaknya percobaan n :
Fh = P(A) x n

5. Jika A suatu kejadian, maka peluang bukan A: P(A
c
) = 1 – P(A)
6. Jika A dan B suatu kejadian, maka berlaku: P(A U B) = P(A) + P(B) – P(A ∩ B)
dan jika A dan B dua kejadian saling lepas, berlaku :P(A U B) = P(A) + P(B)
7. Kejadian A dan B saling bebas jika dan hanya jika P(A ∩ B) = P(A) x P(B)
Jika P(A ∩ B) ≠ P(A) x P(B), maka kejadian A dan B tidak saling bebas.

34 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
1. Tiga mata uang logam dilemparkan sekali. Kejadian A adalah kejadian munculnya
2 sisi angka dan B adalah kejadian munculnya 2 sisi gambar. Apakah kejadian A
dan B merupakan dua kejadian yang saling lepas?

2. Sekeping mata uang logam dan sebuah dadu dilempar sekali. A adalah kejadian
munculnya gambar pada mata uang logam, B adalah munculnya angka pada
mata uang logam, C adalah munculnya bilangan prima pada dadu, D adalah
munculnya bilangan kelipatan 3 pada dadu, serta E adalah munculnya bilangan 2
atau 4 pada dadu. Tunjukanlah bahwa pasangan kejadian berikut ini merupakan
kejadian yang saling bebas:
a. A dan C
b. B dan D
c. A dan E?
3. Dua dadu berwarna putih dan merah dilempar sekali. A adalah kejadian
munculnya bilangan 5 pada dadu putih, B adalah kejadian munculnya bilangan
genap pada dadu merah, C adalah kejadian munculnya jumlah kedua mata dadu
7 serta D adalah kejadian munculnya jumlah kedua mata dadu 10. Diantara
pasangan kejadian berikut ini, manakah yang merupakan kejadian yang saling
bebas?
a. A dan B d. B dan C
b. A dan C e. C dan D?
c. A dan D
4. Sebuah dadu di lempar sekali. Berapa peluang munculnya bilangan ≤ 3 atau ≥ 3?
5. Lima belas kartu ditandai dengan nomor dari 1 sampai dengan 15. Diambil sebuah
kartu secara acak, berapa peluang yang terambil itu:
a. Kartu bernomor bilangan ganjil atau kartu bernomor bilangan genap.
b. Kartu bernomor bilangan prima atau kartu bernomor bilangan ganjil.
c. Kartu bernomor bilangan komposit atau kartu bernomor bilangan ganjil < 6?
6. Sebuah kartu diambil secara acak dari satu set kartu bridge. Berapa peluang yang
terambil:
a. Kartu king atau kartu berwarna hitam
b. Kartu wajik dan kartu As
c. Kartu bernomor 6 atau kartu As
d. Kartu merah dan kartu As
e. Kartu bernomor bilangan komposit atau kartu bernomor bilangan prima
f. Kartu bernomor bilangan komposit dan kartu As?
7. Dua buah dadu berwarna putih dan hitam dilempar secara bersamaan sekali.
Berapa peluang kejadian munculnya mata dadu bernomor < 4 untuk dadu putih
atau bilangan < 3 untuk dadu hitam?

35 BAB I Peluang
8. Dua buah dadu berisi enam dilempar secara bersamaan sebanyak satu kali.
Berapa peluang kejadian munculnya jumlah angka kedua dadu itu sama dengan:
a. 4 atau 8? d. 2 atau 3 atau 9?
b. 3 atau 5? e. 2 atau 3 atau 5?
c. 6 atau 12? f. 8 atau 10 atau 12?
9. Pada kotak A terdapat 4 bola merah dan 6 bola putih, sedangkan pada kotak B
terdapat 7 bola merah dan 3 bola hitam. Dari tiap kotak itu diambil sebuah bola.
Berapa peluang yang terambil itu:
a. Bola merah dari kotak A maupun dari kotak B?
b. Bola merah dari kotak A dan bola hitam dari kotak B?
c. Bola putih dari kotak A dan bola merah dari kotak B?
d. Bola putih dari kotak A dan bola merah dari kotak B?
10. Kejadian A mempunyai peluang P(A) =
3
1
, kejadian B mempunyai peluang P(B) =
4
3
, dan kejadian A atau B mempunyai peluang P(AUB) =
12
7
, tunjukkan bahwa
kejadian A dan B tidak lepas, dan juga tidak bebas!
11. Tiga keping mata uang logam dilempar sekali. Misalkan: A adalah kejadian
munculnya sekurang-kurangnya dua sisi gambar dan B adalah kejadian munculnya
mata uang pertama sisi gambar. Carilah:
a. P(AB) b. P(A/B)

12. Kejadian A dan B adalah kejadian yang saling bebas. Carilah P(AUB), jika:
a. P(A) = 0,5 dan P(B) = 0,25 b. P(A) = 0,4 dan P(B) = 0,6

13. Kejadian A dan B adalah kejadian yang saling bebas. Apabila P(A) = 0,3 dan P(B)
= 0,6 carilah:
a. P(A ∩ B) c. P(A
c
∩B
c
)
b. P(AUB) d. P(A
c
UB
c
)

14. Dua dadu merah dan biru dilempar bersama-sama sekali. Jika A adalah kejadian
munculnya jumlah kedua mata dadu 9, B adalah kejadian munculnya mata dadu
3, dan C adalah kejadian munculnya selisih kedua mata dadu 1. Carilah :
a. P(A/B) d. P(C/A)
b. P(B/A) e. P(B/C)
c. P(A/C) f. P(C/B)

15. Misalkan A dan B adalah dua kejadian dengan P(A) = 0,4, P(B) = 0,5 dan
P(AUB) = 0,8. Carilah:
a. P(A∩B) d. P(A
c
∩B
c
)
b. P(A/B) e. P(A
c
/B
c
)
c. P(B/A) f. P(B
c
/A
c
)
Petunjuk : P(A
c
∩B
c
) = P[(AUB)
c
]



36 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
A. Soal Pilihan Ganda
1. Ada 8 jalan dari P ke Q dan ada 4 jalan dari Q ke R. Banyaknya cara Tutik
berjalan dari P ke R melewati Q pergi pulang dengan tidak melewati jalan yang
sama adalah ….
a. 32 c. 128 e. 1.024
b. 64 d. 672
2. Mona dan Nisa mengikuti suatu tes. Peluang Mona dan Nisa lulus dalam ujian
berturut-turut adalah adalah 0,8 dan 0,75. Peluang Nisa lulus tetapi Mona tidak
lulus adalah ….
a. 0,15 c. 0,25 e. 0,65
b. 0,20 d. 0,45
3. Dari 10 siswa akan dipilih seorang ketua, seorang wakil ketua, dan seorang
sekretaris. Banyaknya pilihan terjadi ada ….
a. 640 c. 800 e. 880
b. 720 d. 820
4. Suatu himpunan A memiliki 8 anggota. Banyaknya himpunan bagian A yang
memiliki paling banyak 4 anggota adalah ….
a. 163 c. 220 e. 250
b. 219 d. 247
5. Dari 20 siswa akan dibentuk satu tim bola basket, banyaknya cara pembentukan
ada ….
a. 4.845 c. 15.504 e. 38.760
b. 14.400 d. 16.504
6. Dari angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 6, 7, dan 9 akan dibentuk angka ribuan yang
kurang dari 5.000 dan angka tidak boleh ada yang berulang. Banyaknya angka
yang terjadi adalah ….
a. 480 c. 810 e. 1.050
b. 560 d. 840
7. Banyaknya kata yang dapat disusun dari kata “BERSERI” adalah ….
a. 820 c. 1.160 e. 1.260
b. 840 d. 1.230
8. Enam orang termasuk A, B dan C duduk mengelilingi meja. Jika A, B, dan C tidak
boleh tiga-tiganya duduk berdampingan, maka banyaknya susunan yang terjadi
ada ….
a. 36 c. 108 e. 720
b. 84 d. 120
9. Dari 40 siswa akan diberi tugas, seorang untuk membersihkan ruang bengkel.
Seorang membersihkan kamar mandi, dan seorang membersihkan taman.
Banyaknya pilihan ada ….
a. 9.800 c. 58.980 e. 59.280
b. 9.880 d. 59.080

37 BAB I Peluang
10. Tiga dadu dilempar sebanyak 648 kali. Frekuensi harapan muncul mata dadu
berjumlah 6 adalah ….
a. 9 c. 30 e. 56
b. 21 d. 36
11. Dua dadu dilempar bersama. Peluang muncul mata dadu yang berjumlah
bilangan genap lebih dari 8 adalah ….
a.
9
1
c.
36
7
e.
4
1
b.
36
5
d.
9
2
12. Sebuah kantong berisi 10 kelereng biru, 8 kuning, dan 2 merah. Jika diambil dua
kelereng sekaligus. Peluang terambil dua-duanya kelereng biru atau kuning
adalah ….
a.
95
36
c.
190
71
e.
153
77
b.
190
73
d.
153
73
13. Jika A dan B kejadian tidak saling lepas dengan P(A U B) =
4
3
, P(A) =0,6 dan
P(A ∩ B) = 0,25 , maka P(B)= ….
a.
5
1
c.
2
1
e. 0,8
b.
5
2
d.
3
2
14. Percobaan pelemparan dadu putih dan biru, peluang muncul bilangan prima pada
dadu putih dan bilangan genap pada dadu biru adalah ….
a.
4
1
c.
2
1
e. 0,65
b. 0,3 d. 0,55
15. Sekeping uang logam dilemparkan 4 kali. Peluang muncul angka 3 kali adalah ….
a.
5
1
c.
4
1
e. 0,5
b. 0,24 d. 0,3
16. Sebuah kotak berisi 8 bola merah dan 5 bola biru diambil 2 bola sekaligus.
Peluang terambil dua bola biru adalah ….
a.
78
5
c.
39
14
e.
13
10
b.
39
5
d.
13
5

38 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
17. Banyaknya bilangan yang terdiri atas 3 angka yang berbeda yang dapat dibentuk
dari angka-angka: 0, 1, 2, 3 ,4, dan 5 yang ganjil adalah ….
a. 24 c. 48 e. 80
b. 36 d. 60
18. Jika
n
C
2
= 2n, maka nilai dari
(3n – 1)
C
3
adalah ….
a. 20 c. 364 e. 463
b. 346 d. 455
19. Banyaknya permutasi dari kata “PRAHARA” adalah ….
a. 120 c. 320 e. 450
b. 240 d. 420
20. Tiga buah mata uang logam dilempar bersama-sama. Nilai kemungkinan muncul
bukan dua gambar adalah ….
a.
8
1
c.
8
5
e.
8
7
b.
8
3
d.
4
3
21. Dari lemparan 2 buah mata uang logam dan sebuah dadu, frekuensi harapan
muncul kejadian 2 gambar dan mata dadu ganjil jika dilempar bersama-sama 80
kali adalah ….
a. 10 c. 20 e. 30
b. 15 d. 25
22. Sebuah dadu dilempar sekali, maka peluang muncul bilangan prima atau bilangan
genap adalah ….
a.
3
1
c.
3
2
e. 1
b.
2
1
d.
6
5
23. Jika pasangan pengantin baru ingin memiliki 5 anak, banyaknya ruang sampel
dari kejadian tersebut adalah ….
a. 10 c. 20 e. 64
b. 16 d. 32
24. Dalam suatu kelas ada 8 murid laki-laki dan 6 murid wanita. Secara acak diambil
3 orang diantara mereka. Peluang terpilih dua laki-laki dan satu wanita adalah ….
a.
13
5
c.
13
7
e.
13
10
b.
13
6
d.
13
8
25. Jika
n
P
5
= 10 x
n
P
4
, maka nilai
n
P
2
adalah ….
a. 132 c. 182 e. 240
b. 156 d. 210

39 BAB I Peluang
26. Koefisien suku x
11
dari (x
2
+
x
1
)
10
adalah ….
a. 120 c. 210 e. 245
b. 150 d. 230
27. Sebuah panitia yang beranggotakan 4 orang akan dipilih dari kumpulan 5 pria
dan 6 wanita. Bila dalam panitia tersebut diharuskan ada paling sedikit 2 orang
wanita, maka banyaknya cara memilih ada ….
a. 190 c. 250 e. 280
b. 205 d. 265
28. Dari sebuah kantong terdapat 8 kartu merah dan 7 kartu kuning. Jika diambil
satu-satu sampai tiga kali, dimana setiap pengambilan tidak dikembalikan.
Peluang bahwa pengambilan pertama dan kedua merah dan pengambilan ketiga
kuning adalah ….
a.
225
28
c.
195
28
e.
105
16
b.
375 . 3
448
d.
195
32
29. Seratus orang akan mengadakan salam-salaman, banyaknya salaman yang
terjadi adalah ….
a. 445 c. 910 e. 4.950
b. 455 d. 1.820
30. Seorang pengamat transportasi telah mengadakan beberapa kali pengamatan di
jalan Pantura. Diperoleh data bahwa 65 % pengguna jalan adalah berkendaraan
motor, 8 % pengguna jalan mengalami kecelakaan dan 6% nya berkendaraan
motor. Banyaknya orang yang mengalami kecelakaan atau berkendaraan motor
adalah …%
a. 8 c. 67 e. 79
b. 65 d. 73
31. Banyaknya diagonal segi-10 adalah ….
a. 30 c. 40 e. 90
b. 35 d. 45
32. Seorang marketing memperediksi barangnya akan laku 0,8888…, Jika banyaknya
barang yang dijual 90.000 unit, maka kemungkinan barang yang tidak laku
adalah …. unit
a. 8.800 c. 60.000 e. 88.000
b. 10.000 d. 80.000
33. Sebuah kantong berisi 6 bola merah dan 4 bola putih. Jika diambil 3 bola
sekaligus, maka peluang yang terambil ketiganya bukan putih adalah ….
a.
30
1
c.
5
1
e.
30
29
b.
30
5
d.
30
17
40 Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
34. Dari seperangkat kartu Bridge, diambil satu kartu secara acak. Peluang terambil
kartu As atau kartu berwarna merah adalah ….
a.
52
17
c.
13
7
. e
13
8
b.
2
1
. d
26
15
35. Misalkan A dan B adalah dua kejadian dengan P(A) =
15
8
, P(AIB) =
3
1
, dan
P(A/B) =
7
4
. Nilai P(B/A) adalah ….
a.
8
1
c.
8
3
. e
8
5
b.
8
2
. d
8
4
B. Soal Essay
1. Terdapat 4 bendera merah, 5 bendera biru, dan 6 bendera kuning. Berapa macam
komposisi warna bendera apabila dipasang berjejer di sepanjang jalan?
2. Parlemen suatu negara mempunyai 30 anggota dari partai Republik dan 15
anggota dari partai Demokrat. Jika akan dibentuk suatu komisi yang terdiri dari 3
orang dari partai Republik dan 2 orang dari partai Demokrat. Berapa jenis
komposisi komisi yang dapat dibentuk?
3. Dari 9 buku yang berbeda terdiri dari 5 buku cerita dan 4 buku politik tersusun
dalam sebuah rak. Jika diambil secara acak 4 buah buku, tentukan peluang
mendapatkan dua buku cerita dan dua buku politik?
4. Dua dadu dilempar sebanyak 360 kali. Berapa frekuensi harapan muncul mata
dadu kembar?
5. Dua dadu dilemparkan bersama-sama. Berapa peluang muncul mata dadu:
a. Berjumlah 7 atau 11
b. Berjumlah 9 atau kembar
c. Berjumlah 10 atau kembar
d. Berjumlah 7 atau prima?
6. Empat keping mata uang logam dilempar secara bersamaan sebanyak 160 kali.
Berapa frekuensi harapan munculnya:
a. Semuanya sisi gambar
b. Paling sedikit 2 sisi angka
c. Paling banyak 3 sisi gambar?
7. Arman dan Budi mengikuti SPMB di UGM dengan berpeluang lulus masing-masing
0,85 dan 0,75. Tentukanlah peluangnya bahwa:
a. Arman tidak lulus
b. Arman lulus tetapi Budi
a. P(A ∩ B)
= 0,7 carilah :
8. Kejadian A dan B adalah kejadian yang saling bebas. Kalau P(A) = 0,25 dan P(B)
c. Budi lulus tetapi Arman tidak lulus?
b. P(A ∪ B)
c. P(A
c
∩ B
c
)
d. P(A
c
∪ B
c
)
17
Bangun Ruang Sisi
Lengkung
Di Sekolah Dasar, kamu telah mengenal bangun-bangun ruang seperti
tabung, kerucut, dan bola. Bangun-bangun ruang tersebut akan kamu
pelajari kembali pada bab ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, kamu mungkin sering melihat benda-
benda yang berbentuk tabung, kerucut, dan bola. Misalnya, sebuah
tangki berbentuk tabung memiliki jari-jari 15 m dan tingginya 50 m.
Jika tangki tersebut akan diisi minyak tanah sampai penuh, berapa liter
minyak tanah yang diperlukan? Untuk menjawabnya, pelajarilah bab
ini dengan baik.
A. Tabung
B. Kerucut
C. Bola
2
Bab
S
u
m
ber: www.contain.ca
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
18
Gambar 2.3 : Tabung
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
D
r
r
P
2
P
1
A
C
B
1.
x
12 cm
9 cm
Tentukan nilai x.
2.
7 cm Tentukan luas bangun di samping.
3. Gambarlah jaring-jaring prisma segiempat ber-
aturan.
4. Tentukan luas permukaan kubus yang memiliki
panjang rusuk 5 cm.
5. Sebuah limas segiempat memiliki panjang alas
15 cmdan lebarnya 12 cm. Tentukan volume limas
tersebut.
Uji Kompetensi Awal
Di Kelas VIII, kamu telah mempelajari bangun ruang sisi tegak seperti kubus,
balok, prisma, dan limas. Pada bab ini, bangun ruang tersebut akan diperluas
dengan mempelajari bangun ruang sisi lengkung, yaitu tabung, kerucut, dan
bola.
Di dalam kehidupan sehari-hari, kamu pasti pernah menemukan benda-
benda seperti kaleng susu, nasi tumpeng, dan bola sepak.
Perhatikan Gambar 2.1 . Gambar (a), (b), dan (c) merupakan contoh-
contoh bangun ruang sisi lengkung. Sekarang, coba kamu sebutkan nama-
nama bangun ruang yang diwakili oleh gambar-gambar tersebut.
A. Tabung
Perhatikan Gambar 2.2 . Amatilah bentuk geometri bangun tersebut. Tabung
(silinder) merupakan bangun sisi lengkung yang memiliki bidang alas dan
bidang atas berbentuk lingkaran yang sejajar dan kongruen.
1. Unsur-Unsur Tabung
Perhatikan Gambar 2.3 . Tabung memiliki unsur-unsur sebagai berikut.
a. Sisi alas, yaitu sisi yang berbentuk lingkaran dengan pusat P
1
, dan sisi
atas, yaitu sisi yang berbentuk lingkaran dengan pusat P
2
.
b. Selimut tabung, yaitu sisi lengkung tabung (sisi yang tidak diraster).
c. Diameter lingkaran alas, yaitu ruas garis AB, dan diameter lingkaran atas,
yaitu ruas garis CD.
d. Jari-jari lingkaran alas (r), yaitu garis P
1
Adan P
1
B, serta jari-jari lingkaran
atas (r), yaitu ruas garis P
2
C dan P
2
D.
e. Tinggi tabung, yaitu panjang ruas garis P
2
P
1
, DA, dan CB.
Gambar 2.1 : Contoh bangun ruang sisi lengkung
Gambar 2.2 Tabung atau silinder.
(a)
(b)
(c)
Sumber: Dokumentasi Penulis
Bangun Ruang Sisi Lengkung
19
2. Luas Permukaan Tabung
Perhatikan kembali Gambar 2.3 . Jika tabung pada gambar tersebut dipotong
sepanjang garis AD, keliling sisi alas, dan keliling sisi atasnya, akan diperoleh
jaring-jaring tabung seperti pada Gambar 2.4 .
Selimut tabung pada Gambar 2.4 berbentuk persegipanjang dengan
panjang AA DD ' ' = = keliling alas tabung = 2πr dan
lebar AD A D = = ' ' tinggi tabung = t.
Jadi, luas selimut tabung = luas persegipanjang = p × l = 2πrt.
Luas permukaan tabung merupakan gabungan luas selimut tabung, luas sisi alas,
dan luas sisi atas tabung.
Luas permukaan tabung = luas selimut + luas sisi alas + luas sisi atas
= 2πrt + πr
2
+πr
2
= 2πrt + 2πr
2
= 2πr (r + t)
Dengan demikian, untuk tabung yang tertutup, berlaku rumus sebagai berikut.
Luas selimut tabung = 22rt
Luas permukaan tabung = 22r (r + t)
D D'
A A'
P
2
r
P
2
Diketahui suatu tabung jari-jari alasnya 7 cm dan tingginya 10 cm. Tentukan luas
selimut tabung dan luas permukaan tabung tersebut.
Jawab:
Diketahui : r = 7 cm
t = 10 cm
Ditanyakan : • luas selimut tabung
• luas permukaan tabung
Penyelesaian:
• Luas selimut tabung = 2πrt
= 2
22
7
7 10 440
2
. . = cm
• Luas permukaan tabung = 2πr (r + t)

= . . . + = 2
22
7
7 7 10 748
2
( ) cm
Jadi, luas selimut tabungnya adalah 440 cm
2
dan luas permukaan tabungnya adalah
748 cm
2
i t t
Contoh
Soal 2.1
Jika pada bangun
ruang terdapat unsur
yang nilainya kelipatan
7, gunakan nilai
π=
22
7
.
Jika pada bangun
ruang tidak terdapat
unsur yang nilainya
kelipatan 7, gunakan
nilai π= 3,14.
Jika Jika
Plus+
Gambar 2.4 : Jaring-jaring tabung.
Diskusikan dengan teman
sebangkumu tentang rumus
luas permukaan tabung tanpa
tutup. Laporkan hasilnya di
depan kelas.
Tugas 2.1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
20
Diketahui luas selimut suatu tabung adalah 1.408 cm
2
. Jika jari-jari alasnya 14 cm,
tentukan luas permukaan tabung tersebut.
Jawab :
Diketahui : luas selimut tabung = 1.408 cm
2
r = 14 cm
Ditanyakan : luas permukaan tabung
Penyelesaian:
Luas selimut tabung = 2πrt
1 408 2
22
7
14 . = . . . t
t = =
1 408
88
16
.
cm
Luas permukaan tabung = 2πr (r + t)
= . . . + 2
22
7
14 14 16 ( )
= 2.640 cm
2
Jadi, luas permukaan tabung tersebut adalah 1.640 cm
2
Jika luas permukaan tabung di samping adalah 1.406,72 cm
2
,
tentukan tinggi tabung tersebut.
3. Volume Tabung
Masih ingatkah kamu pelajaran mengenai prisma di Kelas VIII? Pada
dasarnya, tabung juga merupakan prisma karena bidang alas dan bidang
atas tabung sejajar dan kongruen. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar
2.5. Dengan demikian, volume tabung sama dengan volume prisma, yaitu
luas alas dikali tinggi. Oleh karena alas tabung berbentuk lingkaran, volume
tabung dinyatakan sebagai berikut.
Volume tabung = luas alas × tinggi
= πr
2
t
(a) (b)
i l
Contoh
Soal 2.2
Contoh
Soal 2.3
Gambar 2.5 : Prisma dan Tabung
Jawab:
Diketahui: luas permukaan tabung = 1.406,72 cm
2
r = 8 cm.
Ditanyakan: tinggi (t)
Penyelesaian:
Luas permukaan tabung = 2pr (r + t)
1.406,72 = 2 · 3,14 · 8 · (8 + t)
= 50,24 (8 + t)
= 401,92 + 50,24 · t
50,24 · t = 1.004,8
t =
1 004 8
50 24
. ,
,
= 20
Jadi, tinggi tabung tersebut adalah 20 cm
8 cm
Bangun Ruang Sisi Lengkung
21
Diketahui jari-jari suatu tabung adalah 7,5 cm. Tentukan tinggi tabung tersebut jika
volumenya 3.532,5 cm
3
.
Jawab :
Diketahui: r = 7,5 cm
V = 3.532,5 cm
3
Ditanyakan: tinggi (t)
Penyelesaian:
Volume = πr
2
t
3.532,5 = 3,14 (7,5)
2
· t
= 176,625 · t

t = =
3 532 5
176 625
20
. ,
,
Jadi, tinggi tabung tersebut adalah 20 cm
Contoh
Soal 2.5
Diketahui jari-jari alas suatu tabung adalah 12 cm. Jika tinggi tabung tersebut 10 cm,
tentukan volume tabung tersebut.
Jawab :
Diketahui : r = 12 cm
t = 10 cm
Ditanyakan : volume tabung
Penyelesaian:
Volume tabung = πr
2
t
= 3,14 · (12)
2
· 10 = 4.521,6 cm
3
Jadi, volume tabung tersebut adalah 4.521,6 cm
3
i j i j
Contoh
Soal 2.4
Volume digunakan untuk
menyatakan ukuran besar
suatu ruang.
Volume Volume
Plus+
Volume sebuah tabung adalah 20.790 cm
3
. Jika tinggi tabung tersebut 15 cm, tentukan
panjang jari-jari dan luas selimut tabung tersebut.
Jawab :
Diketahui : t = 15 cm
V = 20.790 cm
3
Ditanyakan : panjang jari-jari (r) dan luas selimut tabung.
Penyelesaian:
• Volume = πr
2
t

20 790
22
7
15
20 790 7
330
441
2
2
.

.

= . .
=
x
=
r
r
r = = 441 21 cm
b h
Contoh
Soal 2.6
Diketahui suatu tabung
memiliki jari-jari r dan
tinggi t. Jika jari-jarinya
diperbesar menjadi
3
2
r dan
tingginya diperkecil menjadi
1
3
t, tentukan perbandingan
volume tabung sebelum
dan sesudah mengalami
perubahan.
Problematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
22
5. Perhatikan gambar berikut.

Tentukan perbandingan luas permukaan tabung (a)
dan tabung (b).
6. Sebuah tabung tanpa tutup memiliki jari-jari 6,5 cm
dan tinggi 18 cm. Tentukan luas permukaan tabung
tersebut.
7. Diketahui jari-jari alas sebuah tabung 28 cm. Jika
tingginya 20 cm, tentukan volume tabung
tersebut.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Hitunglah luas selimut tabung-tabung berikut.

2. Diketahui suatu tabung memiliki jari-jari 4 cm. Jika
tinggi tabung tersebut 16,5 cm, tentukan luas
selimut tabung tersebut.
3. Luas selimut suatu tabung 628 cm
2
. Tentukan
tinggi tabung tersebut jika diketahui jari-jari alasnya
10 cm.
4. Hitunglah luas permukaan suatu tabung yang
memiliki jari-jari 7 cm dan tinggi 12 cm.
Uji Kompetensi 2.1
16 cm
8 cm
12 cm
5 cm
7 cm
14 cm
(b) (a)
20 dm
16 dm
6 dm
8 dm
(a) (b)
(c)
• Luas selimut tabung = 2πrt
=
2
22
7
21 15 1 980 . . . = . cm
2
Jadi, jari-jari tabung tersebut adalah 21 cm dan luas selimutnya 1.980 cm
2
.
Jari-jari alas suatu tabung adalah 14 cm. Jika luas permukaannya 3.432 cm
2
, tentukan
volume tabung tersebut.
Jawab :
Diketahui: r = 14 cm
Luas permukaan = 3.432 cm
2
Ditanyakan : volume (V)
Penyelesaian:
Luas permukaan = 2πr (r + t)
3.432 = 2
22
7
14 (14 + ) . . . t
= 1.232 + 88 · t
88 · t = 2.200
t =
2 200
88
25
.
=
Volume = πr
2
t
=
22
7
14 25
2
. . ( )
= 15.400
Jadi, volume tabung tersebut adalah 15.400 cm
3
Contoh
Soal 2.7
Bangun Ruang Sisi Lengkung
23
8. Hitunglah volume tabung-tabung berikut.
(a) (b) (c)
3,5 m
17 cm
2,1 dm
30 mm
4,5 mm
70 dm
C
B A
D
t
r
O
s
T
B
P Q
A
O
B. Kerucut
Kerucut merupakan bangun ruang sisi lengkung yang menyerupai limas
segi-n beraturan yang bidang alasnya berbentuk lingkaran. Kerucut dapat
dibentuk dari sebuah segitiga siku-siku yang diputar sejauh 360°, di mana
sisi siku-sikunya sebagai pusat putaran. Perhatikan Gambar 2.6 . Kerucut
pada Gambar 2.6 dapat dibentuk dari segitiga siku-siku TOA yang diputar,
di mana sisi TO sebagai pusat putaran.
1. Unsur-Unsur Kerucut
Amatilah Gambar 2.7 . Kerucut memiliki unsur-unsur sebagai berikut.
a. Bidang alas, yaitu sisi yang berbentuk lingkaran (daerah yang diraster).
b. Diameter bidang alas (d), yaitu ruas garis AB.
c. Jari-jari bidang alas (r), yaitu garis OA dan ruas garis OB.
d. Tinggi kerucut (t), yaitu jarak dari titik puncak kerucut ke pusat bidang
alas (ruas garis CO).
e. Selimut kerucut, yaitu sisi kerucut yang tidak diraster.
f. Garis pelukis (s), yaitu garis-garis pada selimut kerucut yang ditarik dari
titik puncak C ke titik pada lingkaran.
Hubungan antara r, s, dan t pada kerucut dinyatakan dengan persamaan-
persamaan berikut.
s
2
= r
2
+ t
2
r
2
= s
2
− t
2
t
2
= s
2
− r
2
2. Luas Permukaan Kerucut
Perhatikan kembali Gambar 2.7 . Jika kerucut tersebut dibelah sepanjang garis CD
dan keliling alasnya, akan diperoleh jaring-jaring kerucut seperti pada Gambar
2.8. Jaring-jaring kerucut pada Gambar 2.8 terdiri atas:
• juring lingkaran CDD' yang merupakan selimut kerucut.
• lingkaran dengan jari-jari r yang merupakan sisi alas kerucut.
Pada Gambar 2.8 , terlihat bahwa panjang jari-jari juring lingkaran sama
dengan s (garis pelukis kerucut). Adapun panjang busur DD' sama dengan
keliling alas kerucut, yaitu 2πr. Jadi, luas selimut kerucut sama dengan luas
juring CDD'.
Luas juring
Luas lingkaran
Panjang busu CDD'
=
rr
Keliling lingkaran
Luas juring '
DD
CDD
s
'
π
2
==
2
2
π
π
r
s
Gambar 2.6 Kerucut.
Gambar 2.7
9. Sebuah tabung memiliki volume 192,5 cm
3
. Jika
tinggi tabung tersebut adalah 0,5 dm, tentukan
panjang jari-jari alasnya.
10. Diketahui sebuah tabung memiliki luas selimut
7.536 cm
2
. Tentukan volume tabung tersebut jika
tingginya 40 cm.
C
D' D
s s
r
Gambar 2.8 : Jaring-jaring kerucut.
Kerucut.
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
24
Diketahui jari-jari alas sebuah kerucut adalah 7 cm dan panjang garis pelukisnya 15 cm.
Hitunglah luas permukaan kerucut tersebut.
Jawab :
Diketahui: r = 7 cm
s = 15 cm
Ditanyakan: luas permukaan kerucut
Penyelesaian:
Luas permukaan kerucut = πr (s + r)
=
22
7
7 15 7 484
3
. + = . ( ) cm
Jadi, luas permukaan kerucut tersebut adalah 484 cm
3
ui jar aa i jar aa i i j i j i
Contoh
Soal 2.8
Jika diameter sebuah kerucut adalah 10 cm dan tingginya 12 cm, tentukan:
a. panjang garis pelukis (s),
b. luas selimut kerucut,
c. luas permukaan kerucut.
Jawab:
Diketahui : d = 10 maka r = 5 cm
t = 12 cm
Ditanyakan : a. panjang garis pelukis (s)
b. luas selimut kerucut
c. luas permukaan kerucut
Penyelesaian:
a. s
2
= t
2
+ r
2
= 12
2
+ 5
2
= 144 + 25 = 169
s =
169 13 =
Jadi, panjang garis pelukis kerucut tersebut adalah 13 cm.
b. Luas selimut kerucut = πrs
= 3,14 · 5 · 13 = 204,1
Jadi, luas selimut kerucut tersebut adalah 204,1 cm
2
.
c. Luas permukaan kerucut = πr (s + r)
= 3,14 · 5 · (13 + 5) = 282,6
Jadi, luas permukaan kerucut tersebut adalah 282,6 cm
2
t b b
Contoh
Soal 2.9
Luas juring CDD
r
s
s '

= .
2
2
2
π
π
π
= πrs
Jadi, luas selimut kerucut = πrs.
Luas permukaan kerucut = luas selimut + luas alas
= πrs + πr
2
= πr (s + r)
Dengan demikian, pada kerucut berlaku rumus sebagai berikut.
Luas selimut kerucut = πrs
Luas permukaan kerucut = πr (s + r)
Diketahui jari-jari alas
sebuah kerucut 3,5 cm
dan tingginya 12 cm. Jika
digunakan π=
22
7
, luas sisi
kerucut tersebut adalah ....
a. 132 cm
b. 154 cm
c. 176 cm
d. 198 cm
Jawab:
r = 3,5 cm
t = 12 cm
s = t
2 2
+ r
= 12
2 2
+ 5
= 12,5
Luas sisi kerucut = πr (s + r)
=
22
7
· 3,5 · (12,5 + 3,5)
= 176 cm
2
Jadi, luas sisi kerucut
tersebut adalah 176 cm
2
.
Jawaban: c
Soal UAN, 2003
t
r
s
Solusi
Matematika
Bangun Ruang Sisi Lengkung
25
Diketahui luas permukaan suatu kerucut adalah 376,8 dm
2
. Jika jari-jari alasnya
6 dm, tentukan panjang garis pelukis kerucut tersebut.
Jawab:
Diketahui: luas permukaan kerucut = 376,8 dm
2
r = 6 dm
Ditanyakan: panjang garis pelukis (s)
Penyelesaian:
Luas permukaan kerucut = πr (s + r)
376,8 = 3,14 · 6 · (s + 6)
376,8 = 18,84s + 113,04

s =
-
=
376 8 113 04
18 84
14
, ,
,
Jadi, panjang garis pelukis kerucut tersebut adalah 14 dm
Jika luas selimut suatu kerucut adalah 113,04 cm
2
dan jari-jarinya 4 cm,
tentukan luas permukaan kerucut tersebut.
Jawab :
Diketahui: luas selimut kerucut = 113, 04 cm
2
r = 4 cm
Ditanyakan: luas permukaan kerucut
Penyelesaian:
Luas selimut = πrs
113,04 = 3,14 · 4 · s
= 12,56s
s =
113 04
12 56
9
,
,
=
Luas permukaan = πr (s + r)
= 3,14 · 4 · (9 + 4)
= 12,56 · 13
= 163,28
Jadi, luas permukaan kerucut tersebut adalah 163,28 cm
2
3. Volume Kerucut
Perhatikan Gambar 2.9 . Dapatkah kamu menemukan persamaan antara gambar
(a) dan gambar (b)? Pada dasarnya, kerucut merupakan limas karena memiliki
titik puncak sehingga volume kerucut sama dengan volume limas, yaitu
1
3
kali
luas alas kali tinggi. Oleh karena alas kerucut berbentuk lingkaran, volume kerucut
dinyatakan oleh rumus sebagai berikut.
Volume kerucut =
1
3
x luas alas x tinggi
=
1
3
πr
2
t
(a)
(b)
Contoh
Soal 2.10
li
Contoh
Soal 2.11
Gambar 2.9 : Limas dan Kerucut
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
26
Jawab:
t
2
= s
2
− r
2
= 5
2
− 3
2
= 25 − 9 = 16
t =
16 4 =
.
.
. Tinggi kerucut = 4 cm.
Volume kerucut =
1
3
2
πr t
=
1
3
· 3,14 · (3)
2
· 4 = 37,68
Jadi, volume kerucut tersebut adalah 37,68 cm
3
Diketahui volume kerucut adalah 254,34 cm
3
. Jika jari-jarinya 4,5 cm, tentukan
tinggi kerucut tersebut.
Jawab :
Diketahui: V = 254,34 cm
3

r = 4,5 cm
Ditanyakan: tinggi kerucut (t)
Penyelesaian:
Volume =
1
3
2
πr t
Hitunglah volume suatu kerucut yang memiliki jari-jari 2,5 dm dan tinggi 9 dm.
Jawab :
Diketahui: r = 2,5 dm
t = 9 dm
Ditanyakan: volume kerucut
Penyelesaian:
Volume kerucut =
1
3
2
πr t

= [ ]
1
3
· 3,14 · (2,5)
2
· 9 = 58,875 dm
3
Jadi, volume kerucut tersebut adalah 58,875 dm
3
Jika panjang OA = 30 mm dan TA = 5 cm, hitunglah volume
kerucut di samping.
Jawab :
Diketahui : OA = r = 30 mm = 3 cm
TA = s = 5 cm
Ditanyakan : volume kerucut
T
A O
h l
Contoh
Soal 2.12
Contoh
Soal 2.13
Contoh
Soal 2.14
www.mate–mati–kaku.com
www.krenllinst.org
com
Situs Matematika
Bangun Ruang Sisi Lengkung
27
Diketahui jari-jari suatu kerucut adalah 9 dm. Tentukan volume kerucut tersebut jika
luas permukaannya 678,24 dm
2
.
Jawab :
Diketahui: r = 9 dm
luas permukaan = 678,24 dm
2
Ditanyakan: volume kerucut
Penyelesaian:
Luas permukaan = 2r (s + t)
678,24 = 3,14 · 9 · (s + 9)
= 28,26 · (s + 9)
= 28,26 · s + 254,34
28,26 · s = 423,9
s =
423 9
28 26
15
,
,
=
Oleh karena garis pelukisnya 15 dm,
t
2
= s
2
– r
2
= 152 – 9
2
= 144
t =
144 12 =
Dengan tinggi 12 dm maka
Volume
=
= . .
=
1
3
1
3
3 14 9 12
1 017 36
2
2
2r t
, ( )
. ,
Jadi, volume kerucut tersebut adalah 1.017,36 dm
3
4. Diketahui luas permukaan suatu kerucut
438,815 dm
2
. Jika jari-jarinya 6,5 dm, tentukan
luas selimut kerucut tersebut.
5. Tentukan luas selimut dan luas permukaan suatu
kerucut yang memiliki jari-jari 5 cm dan tinggi
13 cm.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Hitunglah luas selimut kerucut yang memiliki jari-
jari 10 cm dan panjang garis pelukis 17 cm.
2. Diketahui luas selimut suatu kerucut adalah 220 dm
2
.
Jika panjang garis pelukisnya 14 dm, tentukan
panjang jari-jari kerucut tersebut.
3. Jika jari-jari alas sebuah kerucut 6 dm dan tingginya
80 cm, hitunglah luas selimut dan luas permukaan
kerucut tersebut.
254,34 =
1
3
3 14 4 5
2
. . ( ) . , , t
254,34 =
1
3
63 585 . . , t
t =
254 34 3
63 585
12
,
,

x
=
Jadi, tinggi kerucut tersebut adalah 12 cm
Contoh
Soal 2.15
Uji Kompetensi 2.2
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
28
8. Hitunglah volume kerucut yang memiliki:
a. r = 8 cm dan t = 15 cm
b. r = 7 cm dan s = 25 cm
c. r = 10 cm dan t = 21 cm
9. Diketahui suatu kerucut memiliki jari-jari 5 cm
dan tinggi 12 cm. Tentukan:
a. luas selimut kerucut,
b. luas permukaan kerucut,
c. volume kerucut.
10. Suatu kerucut memilki volume 1.884 dm
3
. Jika
tingginya 8 dm, tentukan:
a. panjang jari-jari alas kerucut,
b. panjang garis pelukis,
c. luas selimut kerucut,
d. luas permukaan kerucut.
C. Bola
Bola merupakan bangun ruang sisi lengkung yang dibatasi oleh satu bidang
lengkung. Bola dapat dibentuk dari bangun setengah lingkaran yang diputar
sejauh 360° pada garis tengahnya. Perhatikan Gambar 2.10 . Gambar (a)
merupakan gambar setengah lingkaran. Jika bangun tersebut diputar 360°
pada garis tengah AB,diperoleh bangun seperti pada gambar (b).
1. Luas Permukaan Bola
Untuk mengetahui luas permukaan bola, lakukanlah kegiatan berikut dengan
kelompok belajarmu.
A B
O
A B
O
(a)
(b)
6. Hitunglah luas permukaan kerucut-kerucut berikut.
11 dm
7 dm
15 cm
20 cm
160 mm
8,5 cm
(a) (b)
(c)
7. Suatu kerucut memiliki jari-jari 70 mm dan luas
selimut 308 cm
2
. Tentukan luas permukaan kerucut
tersebut
1. Sediakan sebuah bola berukuran sedang, misalnya bola sepak, benang kasur,
karton, penggaris, dan pulpen.
2. Ukurlah keliling bola tersebut menggunakan benang kasur.
3. Lilitkan benang kasur pada permukaan setengah bola sampai penuh, seperti
pada gambar (i).
Kegiatan 2.1
benang kasur yang dililitkan pada permukaan setengah
bola sampai penuh.
bola sepak
Gambar 2.10
Bangun setengah lingkaran
dan Bola
(i)
Bangun Ruang Sisi Lengkung
29
Diketahui sebuah bola dengan jari-jari 7 dm. Tentukan luas permukaan bola
tersebut.
Jawab:
Diketahui: r = 7 dm
Ditanyakan: luas permukaan bola
Penyelesaian:
Luas permukaan bola = 4 r
2
= . . = 4
22
7
7 616
2
( )
Jadi, luas permukaan bola tersebut adalah 616 dm
2
4. Buatlah persegipanjang dari kertas karton dengan ukuran panjang sama dengan
keliling bola dan lebar sama dengan diameter bola seperti pada gambar (ii).
5. Lilitkan benang yang tadi digunakan untuk melilit permukaan setengah bola
pada persegipanjang yang kamu buat tadi. Lilitkan sampai habis.
6. Jika kamu melakukannya dengan benar, tampak bahwa benang dapat menutupi
persegipanjang selebar jari-jari bola (r).
7. Hitunglah luas persegipanjang yang telah ditutupi benang. Dapatkah kamu
menemukan hubungannya dengan luas permukaan setengah bola?
Dari Kegiatan 2.1 , jelaslah bahwa luas permukaan setengah bola sama
dengan luas persegipanjang.
Luas permukaan setengah bola =luas persegipanjang
= p × l
= 2πr × r
= 2π r
2
sehingga
luas permukaan bola = 2 ×luas permukaan setengah bola
= 2 × 2πr
2
= 4πr
2
Jadi, luas permukaan bola dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
Luas permukaan bola = 4πr
2
i b h i b h
Contoh
Soal 2.16
(ii)
benang kasur yang dililitkan
persegipanjang dari karton
7 dm
Amatilah Gambar 2.10 (b) .
Coba tuliskan unsur-unsur
yang dimiliki bola pada buku
latihanmu. Bacakan hasilnya
di depan kelasmu.
Tugas 2.2
π
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
30
Jika luas permukaan suatu bola 154 cm
2
, tentukan panjang jari-jari bola
tersebut.
Jawab:
Diketahui : luas permukaan bola = 154 cm
2
Ditanyakan : panjang jari-jari (r)
Penyelesaian:
Luas permukaan bola = 4πr
2
154 = . . 4
22
7
2
r
r
2
=
x
=
154 7
88
12 25 ,
r =
12 25 3 5 , , =
Jadi, panjang jari-jari bola tersebut adalah 3,5 cm
Tentukan luas permukaan sebuah bola yang berdiameter 56 mm.
Jawab :
Diketahui: d = 56 mm
r =
56
2
mm = 28 mm
Ditanyakan: luas permukaan bola
Penyelesaian:
Luas permukaan bola = 4πr
2
= 4 · 3,14 · (28)
2
= 9.807,04
Jadi, luas permukaan bola tersebut adalah 9.807,04 cm
2
Sebuah bangun berbentuk belahan bola padat memiliki jari-jari 10 cm. Tentukan luas
permukaan bangun tersebut.
Jawab :
Diketahui: belahan bola padat berbentuk
1
2
bola dengan r = 10 cm.
Ditanyakan: luas permukaan belahan bola padat
Penyelesaian:
Luas permukaan belahan bola padat = luas permukaan
1
2
bola + luas lingkaran
=
1
2
(4πr
2
) + ? r
2
= 2πr
2
+ ? r
2
= 3πr
2
= 3 · 3,14 · (10)
2
= 942
Jadi, luas permukaan bangun tersebut adalah 942 cm
2
n luas per n luas per
Contoh
Soal 2.18
bangun be bangun be
Contoh
Soal 2.19
s permuk s perm k
Contoh
Soal 2.17
[ ]
Bangun Ruang Sisi Lengkung
31
1. Siapkan sebuah wadah yang berbentuk setengah bola berjari-jari r (wadah (i))
dan sebuah wadah yang berbentuk kerucut berjari-jari r dan tingginya 2r (wadah
(ii)).
2. Isikan pasir ke wadah (ii) sampai penuh.
3. Pindahkan pasir di dalam wadah (ii) ke wadah (i). Apakah yang terjadi?
2. Volume Bola
Untuk mengetahui rumus volume bola, lakukan kegiatan berikut.
r
2r
r
Kegiatan 2.2
Dari kegiatan di atas, dapat dilihat bahwa volume pasir yang dituangkan
ke dalamwadah setengah bola tidak berubah. Ini berarti, untuk bangun
setengah bola, dan kerucut yang berjari-jari sama, dan tinggi kerucut sama
dengan dua kali jari-jarinya maka :
volume setengah bola = volume kerucut
1
2
volume bola =
1
3
2
πr t
volume bola =
2
3
2
2
πr r ( ) =
4
3
3
πr
Jadi, volume bola dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
Volume bola =
4
3
3
πr
Hitunglah volume bola yang memiliki jari-jari 9 cm.
Jawab:
Diketahui: r = 9 cm
Ditanyakan: volume bola
Penyelesaian:
Volume bola =
4
3
3
pr
=
4
3
3 14 9 3.052,08
3
. . = , ( )
Jadi, volume bola tersebut adalah 3.052,08 cm
3
h l
Contoh
Soal 2.20
(ii) (i)
9 cm
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
32
Hitunglah volume bangun di samping.
3 dm
Jawab:
Diketahui : r = 3 dm
Ditanyakan : Volume setengah bola
Penyelesaian:
Volume setengah bola =
1
2
4
3
3
. πr
=
2
3
3 14 3 56 52
3
. . = , ( ) ,
Jadi, volume bangun tersebut adalah 56,52 dm
3
Diketahui volume udara yang dimasukkan ke dalamsebuah bola sepak plastik adalah
4.846,59 cm
3
. Tentukan panjang jari-jari bola sepak tersebut.
Jawab:
Diketahui: volume udara = volume bola = 4.846,59 cm
3
.
Ditanyakan: panjang jari-jari bola (r)
Penyelesaian:
Volume bola =
4
3
3
πr
4.846,59 =
3
4
3 14
3
. . , r
Contoh
Soal 2.21
Contoh
Soal 2.23
Diketahui volume sebuah bola adalah 38.808 cm
3
. Tentukan diameter bola tersebut.
Jawab :
Diketahui: volume = 38.808 cm
3
Ditanyakan: diameter (d)
Penyelesaian:
Volume =
4
3
πr
3
38.808 =
4
3
22
7
. · r
3
=
88
21
· r
3
r
3
= 38.808 ×
21
88
= 9.261
r =
9 261 21
3
. =
Oleh karena panjang diameter adalah dua kali panjang jari-jarinya, d = 2r = 2 · 21 = 42.
Jadi, diameter bola tersebut adalah 42 cm
Contoh
Soal 2.22
Gunung es adalah suatu
bongkahan es air tawar
yang telah terpecah dari
gletser dan mengambang
di perairan terbuka. Pada
umumnya, sekitar 90%
volume gunung es berada
di bawah permukaan laut.
Sumber: www.id.wikipedia.org
Sekilas
Matematika
Sumber:
Bangun Ruang Sisi Lengkung
33
6. Tentukan volume bola yang memiliki:
a. r = 5 cm
b. r = 4,2 dm
c. d = 12 cm
7. Hitunglah volume sebuah bola yang memiliki jari-
jari 3 dm.
8. Diketahui volume sebuah bola adalah 381,51 cm
3
.
Tentukan panjang jari-jari bola tersebut.
9. Diketahui volume sebuah kerucut sama dengan
volume sebuah bola. Jika jari-jari alas kerucut
sama dengan jari-jari bola, yaitu r, nyatakan tinggi
kerucut dalam r.
10. Sebuah bola dimasukkan ke dalam tabung. Jika
diameter bola sama dengan diameter tabung, yaitu
12 cm, dan tinggi tabung sama dengan 20 cm,
tentukan volume tabung di luar bola.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Diketahui sebuah bola memiliki panjang jari-jari
5 cm. Hitunglah luas permukaan bola tersebut.
2. Hitunglah luas permukaan setengah bola padat yang
berjari-jari 14 mm.
3. Suatu bola memiliki luas permukaan 803,84 cm
2
.
Tentukan panjang jari-jari bola tersebut.
4. Dua bola jari-jarinya masing-masing adalah r
1
dan
r
2
. Adapun luas permukaannya masing-masing L
1

dan L
2
. Jika r
2
= 3r
1
, tentukan perbandingan L
1
: L
2
.
5. Perhatikan gambar berikut.
Uji Kompetensi 2.3
Hitunglah luas permukaan
bangun tersebut.
• Yang termasuk bangun ruang sisi lengkung
adalah tabung, kerucut, dan bola.
• Pada sebuah tabung, berlaku rumus-rumus:
Rangkuman
t
r
s
18 cm
4 cm
t
r
r
Luas selimut = 22rt
Luas permukaan = 22r (r + t)
Volume = 2r
2
t
• Pada sebuah kerucut, berlaku rumus-rumus:
Luas selimut = 2rs
Luas permukaan = 2r (r + s)
Volume =
1
3
2r
2
t
• Pada sebuah bola, berlaku rumus-rumus:
Luas permukaan = 42r
2
Volume =
4
3
3
2r

r
3
4 846 59 3
4 3 14
1 157 625 =
x
x
=
. ,
,
. ,

r = = 1 157 625 10 5
3
. , ,
Jadi, panjang jari-jari bola sepak tersebut adalah 10,5 cm
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
34
Peta Konsep
Bangun Ruang
Sisi Lengkung
Tabung Kerucut Bola
Luas selimut tabung = 22rt
Luas permukaan tabung = 22r (r + t)
Volume = 2r
2
t
Luas selimut kerucut = 2rs
Luas permukaan kerucut = 2r (r + s)
Volume =
1
3
2
2r t
Luas permukaan bola = 42r
2

Volume =
4
3
3
2r
rumus rumus rumus
meliputi
Pada bab Bangun Ruang Sisi Lengkung ini, materi apa sajakah yang belum kamu pahami dan sudah
kamu pahami dengan baik?
Pada bab ini, menurutmu bagian mana yang paling menarik untuk dipelajari? Mengapa?
Kesan apa yang kamu dapat setelah mempelajari bab ini?
Bangun Ruang Sisi Lengkung
35
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Yang tidak termasuk bangun ruang sisi lengkung
adalah ....
a. kerucut c. balok
b. tabung d. bola
2. Selimut tabung berbentuk ....
a. juring lingkaran
b. persegipanjang
c. segitiga
d. lingkaran
3. Sebuah tabung jari-jarinya 3,5 cm dan tingginya
10 cm. Luas selimut tabung tersebut adalah ....
a. 2.200 cm
2
c. 219,8 cm
2
b. 220 cm
2
d. 2.198 cm
2
4. Diketahui diameter sebuah tabung 8 cm. Jika
tingginya 16 cm, luas permukaan tabung
tersebut adalah ....
a. 251,2 cm
2
b. 160 cm
2
c. 125,6 cm
2
d. 502,4 cm
2
5.
16 dm
7 dm
8. Sebuah tangki minyak berbentuk tabung berisi
minyak sebanyak 183,69 liter. Jika jari-jari tangki
tersebut adalah 30 cm, tingginya adalah ....
a. 3,5 dm c. 5,5 dm
b. 4,5 dm d. 6,5 dm
9. Luas selimut suatu kerucut 353,25 cm. Jika
jari-jari alas kerucut tersebut 7,5 cm, luas
permukaan kerucut tersebut adalah ....
a. 529,875 cm
2
b. 451,777 cm
2
c. 397,256 cm
2
d. 354,106 cm
2
10. Jika d adalah diameter alas kerucut dan t adalah
tinggi kerucut, luas permukaan kerucut dinyatakan
dengan rumus ....
a. πd (d + s)
b.
1
2
1
2
πd d s +






c.
1
4
1
4
πd d s +
d.
1
2
1
4
πd d s +
11. Sebuah kerucut memiliki jari-jari alas 4 cm dan
tinggi 12 cm. Volume kerucut tersebut adalah ....
a. 200,96 cm
3
c. 301,44 cm
3
b. 150,75 cm
3
d. 602,88 cm
3
12. Volume sebuah kerucut adalah 588,75 mm
3
. Jika
jari-jarinya 7,5 mm, tingginya adalah ....
a. 6 mm c. 10 mm
b. 8 mm d. 12 mm
13. Perbandingan volume dua kerucut yang jari-jarinya
3 cm dan 9 cm adalah ....
a. 3 : 4 c. 1 : 7
b. 2 : 5 d. 1 : 9
14. Sebuah tempat es krim yang berbentuk kerucut
memiliki diameter 5 cm dan tinggi 12 cm. Banyak
es krim yang diperlukan untuk mengisi tempat
tersebut sampai penuh adalah ....
a. 60 cm
3
c. 471 cm
3
b. 314 cm
3
d. 942 cm
3
Gambar di samping menunjukkan
sebuah tabung tanpa tutup. Luas
permukaan tabung tersebut adalah
....
a. 154 dm
2
b. 704 dm
2
c. 858 dm
2
d. 975 dm
2
6. Diketahui luas permukaan tabung 2.992 dm
2
.
jari-jari alasnya 14 dm, tinggi tabung tersebut
adalah ....
a. 7 dm c. 20 dm
b. 14 dm d. 22 dm
7. Volume tabung yang jari-jarinya 6,5 cm dan
tingginya 15 cm adalah ....
a. 1.897,691 cm
3
b. 1.835,433 cm
3
c. 1.995,866 cm
3
d. 1.899,975 cm
3
Uji Kompetensi Bab 2
Jika












Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
36
16. Luas permukaan bola yang berjari-jari 4 cm adalah
....
a. 96,375 cm
2
c. 200,96 cm
2
b. 100,43 cm
2
d. 213,01 cm
2
17. Perhatikan gambar berikut.
Luas permukaan bangun tersebut adalah ....
a. 47,1 dm
2
c. 169,56 dm
2
b. 56,52 dm
2
d. 273,18 dm
2
18. Diketahui bangun setengah bola padat memiliki
jari-jari 10 cm. Luas permukaan bangun tersebut
adalah ...
a. 942 cm
2
c. 628 cm
2
b. 853 cm
2
d. 314 cm
2
15. Perhatikan gambar berikut.
s
t
19. Diketahui volume sebuah bola adalah 36π m
3
.
Luas permukaan bola tersebut adalah ...
a. 9π m
2
c. 36π m
2
b. 18π m
2
d. 72π m
2
20. Volume bola terbesar yang dapat dimasukkan ke
dalam kubus dengan panjang rusuk 12 cm adalah
...
a. 904,32 cm
3
c. 673,11 cm
3
b. 343,89 cm
3
d. 510,88 cm
3
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Diketahui volume sebuah tabung 196,25 cm
3
. Jika
tingginya 10 cm, tentukan:
a. panjang jari-jari kerucut,
b. luas selimut kerucut,
c. luas permukaan kerucut.
2. Sebuah bak air yang berbentuk tabung dengan jari-
jari lingkaran alas 1 m dan tinggi 1 m akan diisi
penuh dengan air. Jika setiap
1
2
menit air yang
diisikan adalah
1
2
liter, tentukan:
a. volume bak air dalam liter,
b. waktu yang diperlukan untuk mengisi bak air
itu sampai penuh (dalam jam).
3. Luas selimut suatu kerucut 1.177,5 cm
2
dan jari-
jarinya 15 cm. Tentukan:
a. panjang garis pelukis,
b. luas permukaan kerucut.
4. Diketahui jari-jari alas kerucut 7 cm dan tinggi-
nya 9 cm.
a. Sketsalah gambar kerucut dengan ukurannya.
b. Hitunglah volume kerucut tersebut dengan
langkah langkahnya.
5. Sebuah bola berdiameter 7 dm. Tentukan:
a. luas permukaan bola,
b. volume bola.
9 dm
3 dm
5 dm
Luas permukaan benda tersebut
adalah ....
a. πrs + 4πr + πr
2
b. πr (s + 2t + r)
c. πr (s + 4t + r)
d. πrs + 2πrt + πr
2
Sumber : Art and Gallery
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
8. Menerapkan aturan
konsep statistik dalam
pemecahan masalah
8. 1 Mengidentifikasi pengertian statistik,
statistika, populasi, dan sampel
8. 2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan
diagram
8. 3 Menentukan ukuran pemusatan data
8. 4 Menentukan ukuran penyebaran data


42 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
A. PENDAHULUAN
Standar Kompetensi Statistika terdiri dari empat (4) Kompetensi Dasar. Dalam
penyajian pada buku ini setiap Kompetensi Dasar memuat Tujuan, Uraian materi,
Rangkuman dan Latihan. Kompetensi Dasar dalam Standar Kompetensi ini adalah
Pengertian Statistik, Statistika, Populasi dan Sampel; Penyajian Data;
Ukuran Pemusatan Data dan Ukuran Penyebaran Data. Standar Kompetensi ini
digunakan untuk menyelesaikan masalah –masalah Statistika pada kehidupan sehari-
hari dalam rangka untuk menunjang program keahliannya.
Sebelum mempelajari kompetensi ini diharapkan anda telah menguasai standar
kompetensi Sistem Bilangan Real terutama tentang perkalian, pembagian,
penjumlahan dan pengurangan bilangan real dan fungsi.
Pada setiap akhir Kompetensi dasar tercantum soal-soal latihan yang disusun dari soal-
soal yang mudah sampai soal-soal yang sukar. Latihan soal ini digunakan untuk
mengukur kemampuan anda terhadap kompetensi dasar ini, artinya setelah
mempelajari kompetensi dasar ini secara mandiri dengan bimbingan guru sebagai
fasilitator, ukur sendiri kemampuan anda dengan mengerjakan soal-soal latihan
tersebut.
Untuk melancarkan kemampuan anda supaya lebih baik dalam mengerjakan soal,
disarankan semua soal dalam latihan ini dikerjakan baik di sekolah dengan bimbingan
guru maupun di rumah.
Untuk mengukur standar kompetensi lulusan tiap siswa, di setiap akhir kompetensi
dasar, guru akan memberikan evaluasi apakah anda layak atau belum layak
mempelajari standar Kompetensi berikutnya. Anda dinyatakan layak jika anda dapat
mengerjakan soal 60% atau lebih soal-soal evaluasi yang akan diberikan guru.
B. KOMPETENSI DASAR
B.1. Pengertian Statistik, Statistika, Populasi dan Sampel
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menjelaskan pengertian dan kegunaan statistika
¾ Membedakan pengertian populasi dan sampel
¾ Menyebutkan macam-macam data dan memberi contohnya
b. Uraian Materi
1). Pengertian dan Kegunaan Statistika
Statistika banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan-pernyataan
seperti: pada bulan maret tahun 2006 terjadi kecelakaan di jalan tol Jagorawi
sebanyak 15 kali, dengan korban meninggal dunia sebanyak 6 orang dan lainnya luka-
43 BAB II Statistika
luka. Ada sekitar 20 % usia produktif penduduk Indonesia menganggur, setiap 20 detik
sebuah perusahaan sepeda motor menghasilkan satu produk dan sebagainya, yang
sering kita dengar, baik dari media elektronik maupun dari media cetak. Instansi
terkait menggunakan statistika untuk menilai progress dari perusahaannya dimasa lalu
dan juga dapat membuat rencana untuk masa yang akan datang.
Demikian pentingnya peranan statistika dalam kehidupan ini, baik dalam kegiatan
pemerintahan, perusahaan maupun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita juga
perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan statistika tersebut.
Untuk keperluan praktis statistika dapat diartikan sebagai berikut:
a. Dalam arti sempit, statistika berarti statistik yang berarti sekumpulan data.
Misalnya statistik tentang penduduk, yang dimaksudkan adalah data atau
keterangan berbentuk angka ringkasan mengenai penduduk (jumlahnya, rata-rata
umur, distribusinya, jumlah balita, jumlah angkatan kerja, jumlah usia sekolah,
distribusi pekerjaan dan sebagainya).
b. Dalam arti luas, statistika berarti pengetahuan yang berhubungan dengan
pengumpulan data , penyajian data , pengolahan data, penarikan kesimpulan dan
pengambilan keputusan secara logis dan rasional tentang data tersebut.
Karena begitu panjang kegiatan dalam ilmu statistika tersebut, maka dalam
pembahasannya Statistika dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Statistika Deskriptif/Deduktif adalah statistika yang kegiatannya dimulai dari
pengumpulan sampai pada analisis data yang paling sederhana, bersifat memberi
gambaran suatu data apa adanya dan meringkas data agar mudah dibaca.
b. Statistika Inferensial/Induktif adalah statistika yang kegiatannya dimulai dari
pengumpulan data sampai pada pengambilan kesimpulan secara logis dan
rasional. Statistika ini dilakukan untuk menentukan kebijakan atau penelitian.
Kegunaan Statistika secara umum antara lain sebagai berikut:
• Memberikan cara mencatat data secara sistematis.
• Memberi petunjuk pada penelitian supaya berpola pikir dan bekerja secara pasti
dan mantap.
• Dapat meringkas data dalam bentuk yang mudah dianalisis.
• Alat untuk memprediksi secara ilmiah dari suatu kejadian yang akan datang.
• Dapat menyelesaikan suatu gejala sebab akibat yang rumit.
Seorang pemimpin perusahaan mengambil manfaat dari statistika untuk melakukan
tindakan-tindakan yang perlu dalam menjalankan tugasnya, diantaranya: perlukah
mengangkat pegawai baru, sudah waktunyakah untuk merevitalisasi mesin-mesin yang
ada, bermanfaatkah jika pegawai yang ada ditraining, berapa banyak produk yang
diproduksi dan yang dapat diserap oleh pasar, berapa barang harus diproduksi pada
tahun yang akan datang guna memenuhi kebutuhan konsumennya dan sebagainya.
Jika dikaitkan dengan masalah manajemen, statistika dapat dipergunakan sebagai
berikut:
a. Dasar suatu perencanaan, agar perencanaan sesuai dengan kemampuan yang
ada, sehingga dapat menghindari perencanaan yang ambisius yang menyebabkan
tidak mudah untuk dilaksanakan.


44 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
b. Alat pengendali terhadap pelaksanaan atau implementasi perencanaan sehingga
dapat diketahui sesegera mungkin terhadap kesalahan atau penyimpangan yang
terjadi dan dapat segera diperbaiki atau dikoreksi.
c. Dasar evaluasi hasil kerja akhir. Apakah hasil kerja yang telah ditargetkan dapat
tercapai sesuai dengan rencana? Berapa persenkah ketercapaiannya? Hambatan-
hambatan apa yang muncul dalam pelaksanaan rencana tersebut?
2). Data Statistika
Data adalah sekumpulan keterangan yang dapat menjelaskan sesuatu hal. Tidak
mungkin ada kegiatan statistika tanpa adanya data. Data tidak memiliki arti yang
signifikan tanpa adanya kegiatan statistika. Oleh karena itu pada kegiatan statistika
mulai dari pengumpulan data sampai pada pengambilan kesimpulan secara logis dan
rasional membutuhkan data yang baik.
Syarat-syarat data yang baik, yang dapat menganalisis untuk mendapatkan kesimpulan
yang valid, adalah sebagai berikut:
• Data harus objektif, yaitu data harus apa adanya dan tidak adanya rekayasa.
• Data harus representatif, yaitu data harus dapat mewakili dari keseluruhan objek
pengamatan.
• Data harus reliabel, yaitu data yang memiliki kesalahan baku relatif kecil, sehingga
jika membuat suatu perkiraan selisih antara perkiraan dengan sebenarnya sangat
kecil.
• Data harus relevan, yaitu data harus sesuai dengan penelitian yang dikehendaki.
• Data harus uptodate, yaitu data yang digunakan harus data terbaru/terkini.
Sebelum pengumpulan data, seorang peneliti harus menentukan dahulu apakah data
dalam bentuk populasi, yaitu keseluruhan data yang akan diteliti, atau data dalam
bentuk sampel. Hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dari penelitian tersebut.
Untuk keperluan praktis, pengumpulan data biasanya dilakukan dengan cara
pengambilan sebagian dari populasi yang dikenal dengan sampel. Sampling adalah
cara pengumpulan data. Data yang diperoleh hasil sampling merupakan data perkiraan
(estimate value). Jadi, misalnya dari 200 SMK di DKI Jakarta akan diteliti hanya 20
sekolah yang sama, maka hasil penelitian terhadap 20 sekolah tersebut merupakan
suatu perkiraan.
Untuk keperluan penelitian yang variatif, dibutuhkan juga data yang variatif sehingga
dapat menunjang dari hasil penelitian tersebut. Untuk itu data dibedakan beberapa
macam antara lain:
• Data menurut penyajiannya, terbagi menjadi:
o Data tunggal, yaitu data yang disajikan satu per satu.
o Data kelompok, yaitu data yang disajikan berdasarkan interval tertentu
(dikelompok-kelompokkan)
• Data berdasarkan pengukurannya, terbagi menjadi:
o Data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung, misalkan
jumlah rata-rata guru setiap SMK di Pulau Jawa ada 30 orang.
o data kontinu, yaitu data yang diperoleh dari hasil mengukur, misalkan rata-
rata tinggi siswa SMK di DKI Jakarta adalah 160 cm.
45 BAB II Statistika
• Data berdasarkan sifatnya:
o Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka atau bilangan.
o Data kualitatif, yaitu data yang bukan berbentuk angka, melainkan hanya
keterangan, misalkan data tentang jenis kelamin, hobi, agama, dan lain-lain.
• Data berdasarkan sumbernya:
o Data internal, yaitu data yang diperoleh dari instansinya sendiri, misalkan untuk
keperluan identitas pegawai suatu perusahaan, diambil data tentang personalia.
o Data eksternal, yaitu data yang diperoleh dari luar instansinya sendiri, misalkan
untuk keperluan tentang perkembangan harga produk suatu perusahaan, data
yang diambil diluar perusahaan dengan tujuan untuk membandingkan harga
produknya.
• Data berdasarkan cara memperolehnya:
o Data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung dari objeknya kemudian di
olah sendiri, misalkan ingin mengetahui rata-rata produk sabun yang terpakai
tiap bulan, langsung memberikan wawancara atau memberi kuesioner kepada
masyarakat tertentu.
o Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari data yang sudah dikelola pihak
lain yang sudah dipublikasikan, misalkan dari majalah, Biro Pusat Statistik, dan
lain-lain.
3) Pengumpulan Data
Yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah terlebih dahulu harus
mengetahui untuk apa data tersebut dikumpulkan. Apakah data tersebut sekadar
untuk mendapatkan gambaran mengenai suatu keadaan/permasalahan atau untuk
memecahkan suatu permasalahan. Apapun tujuan pengumpulan data, terlebih dahulu
harus diketahui jenis elemen atau objek yang akan diselidiki.
Tujuan pengumpulan data selain untuk mengetahui jumlah/banyaknya elemen juga
untuk mengetahui karakteristik dari elemen-elemen tersebut. Karakteristik adalah sifat-
sifat, ciri-ciri atau hal-hal yang dimiliki oleh elemen tersebut, yaitu keterangan
mengenai elemen. Misalnya, elemen itu pegawai suatu perusahaan, maka karakteristik
yang perlu diketahui antara lain jenis kelamin, pendidikan, usia masa kerja, gaji,
golongan dan sebagainya. Seringkali data yang dikumpulkan menyebar pada wilayah
yang luas dan sangat variatif, misalnya data tentang penduduk dan biasa disebut
dengan populasi, yakni kumpulan data yang sejenis akan tetapi dapat dibedakan satu
sama lain. Misalnya, seluruh siswa di DKI Jakarta merupakan suatu populasi. Elemen
dari data adalah orang, yaitu siswa di DKI Jakarta. Walaupun jenisnya sama tetapi
karakteristik secara keseluruhan akan berlainan, misalnya siswa sekolah dasar (SD),
SMP, SMA, dan SMK, usia, tempat tinggal, dan sebagainya.
Ada beberapa cara pengumpulan data, antara lain:
a. Penelitian langsung di lapangan atau laboratorium
Penelitian di lapangan biasanya disebut dengan observasi atau pengamatan
merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan terhadap objek,
baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya penelitian terhadap situs-


46 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
situs purbakala dan penelitian di dalam laboratorium. Pelaksanaan pengamatan
dapat dilakukan dengan:
• Pengamatan langsung, yaitu pengamatan yang dilakukan tanpa perantara
(secara langsung) terhadap objek yang diteliti.
• Pengamatan tak langsung, yaitu pengamatan yang dilakukan terhadap objek
melalui perantaraan suatu alat atau cara.
• Pengamatan partisipasif, yaitu pengamatan yang dilakukan dengan cara ikut
ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi yang dialami oleh responden.
Cara ini banyak dilakukan terutama dalam penelitian psikologi, sosiologi
maupun antropologi.
b. Interview (wawancara)
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab,
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan responden. Pada wawancara
langsung, peneliti mengadakan tatap muka langsung dengan responden,
sedangkan pada wawancara tidak langsung, peneliti mewawancarai perantara yang
tahu persis tentang objek yang diteliti.
c. Kuesioner (Angket)
Angket dapat dipandang sebagai teknik pengumpulan data yang banyak
kesamaannya dengan wawancara. Perbedaannya adalah wawancara dilakukan
secara lisan, sedangkan angket dilakukan secara tertulis. Bentuk penyusunan
angket ada dua macam, yaitu:
• Angket berstruktur, yaitu angket yang menyediakan kemungkinan jawaban.
• Angket tak berstruktur, yaitu angket yang tidak menyediakan kemungkinan
jawaban.
Contoh 1
Data hasil penelitian tingkat atau kualifikasi pendidikan dari karyawan/pegawai
perusahaan asing di Jakarta. Setelah data terkumpul dan disajikan seperti tampak
pada gambar berikut.
Dari diagram di samping dapat diambil suatu
kesimpulan secara kasar bahwa rata-rata
tingkat pendidikan pegawai atau karyawan
per us ahaan as i ng di J akar t a adal ah
berpendidikan setingkat SMA.
Lebih lanjut dimungkinkan pihak manajemen
perusahaan-perusahan akan mengambi l
kebijakan tertentu untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia di perusahaannya.
Gambar 2-1
Contoh 2
Data tentang pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang
disajikan sebagai berikut:
47 BAB II Statistika
Y
-
A
x
i
s
Grafik pada gambar di samping
menunjukkan pergerakan nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika Serikat
selama 5 hari pengamatan dari tanggal 9
sampai 13 Oktober tahun 2006 (Kompas,
14 Oktober 2006). Nilai tukar pada kurs
tengah dari lembaga keuangan Bank
Indonesia dan Bloomberg.
Dari grafik dapat kita simpulkan bahwa
pergerakan nilai tukar rupiah selama lima
hari berkisar antara Rp9.205 hingga Rp
9.230 atau fluktuasi nilai tukar rupiah
tidak terlalu besar. Pada tanggal 13
mengalami penguatan tertinggi selama
l i ma har i pengamat an, yai t u
Rp9.205/dollar. Gambar 2-2
Contoh 3
Beberapa pernyataan dapat dibuat dari
gambar grafik hasil pengumpulan data
selama 6 tahun di samping, antara lain
yaitu volume ekspor tertinggi selama
enam tahun adalah pada tahun 2002,
tetapi nilai ekspornya terendah. Nilai
ekspor tertinggi pada tahun 2000, yakni
sebesar 66,3 ribuan dollar AS. Padahal
volumenya hanya merupakan sekitar rata-
rata ekspor selama kurun waktu tersebut.
Gambar 2-3
c. Rangkuman
1. Statistika adalah pengetahuan mengenai pengumpulan data, penyajian data,
analisis data, penarikan kesimpulan secara logis dan rasional.
2. Statistika dibagi menjadi dua, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial.
3. Populasi adalah keseluruhan data yang akan diteliti.
4. Sampel adalah sebagian dari data yang akan dileliti.
5. Data adalah sekumpulan keterangan yang dapat menjelaskan suatu hal.
6. Data terbagi menjadi data: tunggal, kelompok, diskrit, kontinu, kualitatif,
kuantitatif, internal, eksternal, primer, dan sekunder.
7. Syarat-syarat data yang baik adalah: objektif, representatif, reliabel, relevan, dan
up to date.
8. Beberapa cara mengumpulkan data, yaitu: observasi, angket, dan wawancara.


48 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
1. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan :
a. Statistik c. Sampel
b. Statistika d. Populasi
2. Jelaskan tentang pembagian statistika!
3. Sebutkan kegunaan statistika secara umum dan berikan contohnya!
4. Sebutkan kegunaan statistika dalam bidang manajemen!
5. Sebutkan jenis-jenis data dan berikan contohnya!
6. Sebutkan beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengumpulan data dan
jelaskan masing-masing cara tersebut!
7. Buatlah contoh angket terstruktur dan tidak terstruktur pada pengumpulan data
dalam kegiatan sensus penduduk!
8. Data kecelakaan lalu lintas di kota ”Baru” pada tahun 2001 sampai dengan 2005
adalah sebagai berikut:
Tahun 2001 2002 2003 2004 2005
Banyaknya
kecelakaan
400 351 404 320 260
a. Tahun berapakah angka kecelakaan tertinggi?
b. Berapa persenkah kenaikan angka kecelakaan tertinggi?
c. Berapakah penurunan terbesar angka kecelakaan selama 5 tahun tersebut?
9. Jumlah kendaraan roda empat di suatu ”kota Indah” pada tahun 2006 berjumlah
15.545, yang terdiri atas jenis sedan, bus, pick up, dan Jip. Data kendaraan
disajikan dalam bentuk diagram lingkaran seperti pada gambar di bawah ini:

10%
34%
16%
40%
Bus
Pick up
Jip
Sedan
Tentukanlah:
a. Banyaknya mobil jenis sedan
b. Jenis mobil yang paling banyak
ditemui di kota tersebut dan berapa
banyaknya!
c. Jenis mobil yang jarang ditemui
serta berapakah banyaknya!
10. Laba penjualan bersih PT Asahimas Flat Glass Tbk selama lima tahun yang dimuat
dalam laporan tahunan pada tahun 2007 berturut-turut disajikan dalam diagram
batang berikut:
49 BAB II Statistika
2001 2005 2004 2003 2002
0
1500
1000
500
Penjualan Bersih
PT Asahimas Flat Glass Tbk
(dalam milliar rupiah)
1.719
1.457
1.357
1.227
1.294
Cobalah buatkan pernyataan atau uraian
menurut kata-katamu sendiri tentang
laporan penjualan yang disajikan pada
gambar di samping, kemudian kesim-
pulan kasar tentang perusahaan yang
didasarkan pada data tersebut!
11.
Di agr am di s ampi ng
menunj uk k an angk a
kelahiran dan kematian di
kota A dalam pengamatan
selama 10 tahun.
a. Pada tahun berapakah
angka kelahiran paling
besar dan berapakah
banyaknya kelahiran
tersebut?
b. Pada tahun berapakah
angka kematian paling
kecil dan berapakah
orang yang meninggal
pada tahun itu?
c. Pada tahun berapakah penduduk pada kota tidak bertambah apabila dilihat
dari angka kematian dan kelahirannya?
12. Nilai aktiva bersih dan unit penyertaan modal reksa dana di bursa efek selama
sebelas tahun disajikan dalam gambar berikut (Kompas, 5 Desember 2006):
a. Kapankah lonjakan nilai
akt i va ber s i h dan
be r a pa k a h v o l ume
sahamnya?
b. Taksirlah berapakah pe-
nurunan volume saham
tertinggi selama kurun
waktu tersebut!
c. Pada t ahun ber apa
penyertaan reksa dana
paling rendah dan tak-
sirlah berapa nilai aktiva
bersihnya ?


50 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
B.2 Penyajian Data
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menjelaskan jenis-jenis tabel
¾ Menjelaskan macam-macam diagram (batang, lingkaran, garis, gambar),
histogram, poligon frekuensi, kurva ogive
¾ Mengumpulkan dan mengolah data serta menyajikannya dalam bentuk tabel dan
diagram
b. Uraian Materi
Data yang telah dikumpulkan, baik dari populasi maupun sampel untuk keperluan
laporan dan atau analisis selanjutnya, perlu diatur, disusun, disajikan dalam bentuk
yang jelas dan baik. Secara garis besar penyajian data dibagi menjadi dua cara, yaitu
dalam bentuk tabel atau daftar dan grafik atau diagram. Buku ini hanya akan
menguraikan: diagram garis, diagram batang, diagram lingkaran, piktogram,
histogram, poligon frekuensi atau tabel distribusi frekuensi.
1). Diagram Garis
Untuk menggambarkan keadaan yang berkesinambungan atau kontinu, misalnya
produksi minyak tiap tahun, jumlah penduduk dalam suatu negara, keadaan
temperatur tiap jam di suatu daerah, dibuat diagram garis. Untuk meggambar diagram
garis diperlukan sumbu mendatar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal). Sumbu
mendatar menyatakan waktu, sedang sumbu tegak menyatakan kuantum data tiap
waktu.
Contoh 4
Berikut menyatakan gambaran perkiraan produksi tenaga listrik yang menggunakan
bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan bakar utama untuk pembangkit tenaga
listrik di Indonesia dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 (Kompas, 14 Oktober
2006).
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010
Produksi (GWh) 28.009 9.104 5.978 4.350 4.950
Data tersebut dapat disajikan dalam bentuk diagram garis dengan sumbu vertikal
menyatakan banyaknya produksi dan sumbu horisontal menyatakan tahun, seperti
tampak pada gambar 2-4.
51 BAB II Statistika
Gambar 2-4
Dari diagram terlihat bahwa perkiraan produksi tenaga listrik dengan menggunakan
bahan bakar minyak (BBM) sampai dengan tahun 2010 mengalami penurunan.
Penurunan produksi paling besar terjadi pada tahun 2007. Ada kemungkinan
pengalihan bahan bakar untuk memproduksi listrik guna mencukupi kebutuhan listrik
secara nasional. Bahan bakar lain yang banyak digunakan antara lain batubara dan gas
pada pembangkit tenaga listrik tenaga uap dan gas.
Contoh 5
Berikut merupakan data perkembangan tenaga kerja dan kegiatan ekonomi sektor
pertambangan dan penggalian non migas Indonesia selama kurun waktu delapan
tahun (1997 – 2003).
Perkembangan Tenaga Kerja dan Kegiatan Ekonomi
Sektor Pertambangan dan Penggalian Non Migas
(Kompas 14 Oktober 2006)
Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Nilai Ekonomi
(Rp. milliar)
22.650,7 45.444,8 37.500,4 45.560,4 66.672,7 67.931,8 74.755,2
Tenaga Kerja
(orang)
42.276 45.728 45.594 38.331 40.651 44.958 40.628
Berdasarkan data tersebut dapat dibuat diagramnya. Untuk membuat diagram garis,
nilai pada sumbu vertikal dapat langsung ditulis pada titik yang bersesuaian seperti
tampak pada Gambar 2-5.
Dari diagram terlihat nilai kegiatan ekonomi sektor pertambangan nonmigas (emas,
batubara, timah dsb) mengalami kenaikan kecuali pada tahun 1999.
Sejak tahun 1997 hingga tahun 2003 telah mengalami kenaikan sebesar Rp52.104,5
milliar, sedangkan jumlah tenaga kerja pada sektor ini mengalami fluktuasi dan adanya
kecenderungan penurunan.


52 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
1997 2001 2000 1999 1998
22.650,7
Perkembangan Tenaga Kerja dan Kegiatan Ekonomi
Sektor Pertambangan dan Penggalian Nonmigas
2002 2003
40.651
40.651
45.594
45.728
42.276
74.755,2
74.755,2
66.672,7
45.560,4
37.500,4
45.444,8
44.958
40.628
Nilai kegiatan ekonomi sektor
pertambangan nonmigas (Rp. milliar)
Tenaga kerja sektor pertambangan
nonmigas (orang)
Gambar 2-5
2). Diagram Batang
Seperti halnya pada diagram garis, untuk data yang variabelnya berbentuk kategori
atau atribut (mempunyai ciri-ciri khusus) dapat disajikan dalam bentuk diagram
batang.

Contoh 6
Berikut merupakan contoh keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan dan jenis
kelamin di suatu daerah tertentu.
Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin
Tahun 2006
Komposisi Tingkat
Pendidikan Laki-laki Perempuan
Jumlah
TK 35 40 75
SD 55 67 122
SMP 46 53 99
SMA 34 40 74
PT 20 25 45
Jumlah 190 225 415
Diagram batang yang menunjukkan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
tanpa merinci komposisi dari jenis kelaminnya ditunjukkan pada diagram berikut.
53 BAB II Statistika
Gambar 2-6
Jelas terlihat dari diagram bahwa tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) merupakan
kualifikasi pendidikan yang terbanyak yang dimiliki oleh penduduk daerah tersebut,
sedangkan jumlah penduduk yang pernah mengikuti kuliah di perguruan tinggi
menduduki jumlah yang paling sedikit.
Jika jenis kelamin diperhatikan dan digambarkan diagramnya, maka didapat diagram
batang dua komponen seperti tampak pada diagram berikut.
SD TK
50
40
30
20
10
PT SMA SMP
70
60
Laki-laki
Perempuan
B
a
n
y
a
k
n
y
a
Gambar 2-7
Komposisi penduduk pada semua tingkatan pendidikan selalu lebih banyak perempuan
dibandingkan dengan jumlah laki-laki.
3). Diagram Lingkaran
Pada penyajian data dalam bentuk diagram lingkaran, lingkaran dibagi dalam bentuk
juring-juring lingkaran sesuai dengan data yang bersangkutan. Luas masing-masing
juring sebanding dengan prosentase data yang bersangkutan.


54 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Contoh 7
Penelusuran tamatan sebuah sekolah menengah yang berjumlah 1000 orang, diperoleh
data sebagai berikut:
Data 1000 Tamatan SMA “Nasional” Tahun 2005
Pekerjaan PNS ABRI Peg. Swasta Wiraswasta Belum Kerja
Banyaknya 225 125 400 150 100
Untuk membuat diagram lingkaran, ditentukan sudut pusat sektor lingkaran sebagai
berikut:
PNS = % 100 x
1000
225
= 22,5 % (dalam derajat = 22,5% x 360
o
= 81
o
)
ABRI = % 100 x
1000
125
= 12,5 % (dalam derajat = 12,5% x 360
o
= 45
o
)
Peg. Swasta = % 100 x
1000
400
= 40 % (dalam derajat = 40% x 360
o
= 144
o
)
Wiraswasta = % 100 x
1000
150
= 15 % (dalam derajat = 15% x 360
o
= 54
o
)
Belum Kerja = % 100 x
1000
100
= 10 % (dalam derajat = 10% x 360
o
= 36
o
)
Diagram lingkaran yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Gambar 2-8
4). Piktogram (Diagram Gambar)
Diagram gambar menunjukkan keterangan secara kasar sesuatu hal dan sebagai alat
visual dengan menggunakan gambar-gambar. Sangat menarik dilihat, terlebih jika
simbol yang digunakan cukup baik dan menarik. Setiap gambar atau lambang
digunakan sebagai ukuran satuan, misalnya untuk data mengenai jiwa, penduduk, dan
pegawai dibuat gambar orang, misalnya 1 orang mewakili 5000 jiwa. Kesulitan yang
dihadapi adalah ketika menggambar simbol untuk satuan yang tidak penuh. Diagram
gambar disebut juga piktogram.
Contoh 8
Pertumbuhan kendaraan bermotor roda empat jenis sedan di suatu negara selama
empat tahun (2000 – 2003) ditunjukkan pada tabel berikut:
55 BAB II Statistika
Produksi Kendaraan Jenis Sedan tahun 2000 – 2003 (ribuan unit)
Tahun 2000 2001 2002 2003
Produksi (ribuan unit) 600 800 1000 1200
Hasil tersebut dapat digambarkan dalam bentuk piktogram sebagai berikut:
Produksi Kendaraan Jenis Sedan tahun 2000 – 2003
(ribuan unit)
Tahun Produksi
2000
2001
2002
2003
= 200.000 unit
Cara penyajian data berbentuk simbol ini sangat terbatas dan lebih cocok untuk
menunjukkan perbandingan dan kurang baik apabila digunakan untuk menunjukkan
ukuran satuan.
5). Tabel distribusi Frekuensi
Biasanya data yang terkumpul belumlah terurut, untuk itu data diurutkan terlebih
dahulu menurut besarnya dalam urutan naik atau turun, sehingga didapat sebuah
jajaran dalam suatu tabel.
Sebagai contoh, nilai ujian matematika dari 30 siswa diperoleh data sebagai berikut:
5, 7, 6, 6, 8, 4, 5, 6, 7, 5
6, 9, 3, 6, 6, 7, 9, 7, 7, 8
5, 5, 8, 8, 9, 5, 6, 7, 8, 7
Dari catatan itu tidak tampak adanya pola tertentu dari data tersebut, oleh karena itu
penyusunan atau pengelompokan data dalam bentuk tabel akan dapat memberikan
informasi yang jelas dari data tersebut.
Tabel Nilai Ujian Matematika
Nilai Tally (turus) Frekuensi
3
4
5
6
7
8
9
|
|
|||| |
|||| ||
|||| ||
||||
|||
1
1
6
7
7
5
3
Jumlah 30


56 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Dari tabel dapat dibaca dengan mudah, misalnya banyaknya siswa yang mendapat nilai
6 pada ujian sebanyak 7 orang, yang mendapatkan nilai 8 sebanyak 5 orang. Daftar
tersebut sering disebut sebagai distribusi frekuensi. Karena datanya tunggal maka
disebut tabel distribusi frekuensi tunggal.
Untuk data yang sangat banyak, rentangannya tinggi dan tidak memungkinkan
disajikan dalam daftar distribusi tunggal, maka dibuat tabel distribusi data yang
berkelompok atau bergolong, data dikumpulkan dalam kelompok-kelompok yang
disebut interval.
a). Membuat Daftar Distribusi Frekuensi
Perhatikan nilai ujian matematika untuk 80 siswa berikut:
80 80 70 68 90 92 80 70 63 76
49 84 71 72 35 93 91 74 60 63
48 90 92 85 83 76 61 99 83 88
74 70 38 51 73 71 72 95 82 70
81 91 56 65 74 90 97 80 60 66
98 93 81 93 43 72 91 59 67 88
87 82 74 83 86 67 88 71 89 79
82 78 73 86 68 75 81 77 63 75

Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama dilakukan
langkah-langkah berikut:
• Tentukan Rentangan (R) atau jangkauan, yaitu data terbesar dikurangi data
terkecil. Data terbesar dari data di atas adalah 99, sedangkan data terkecil = 35,
maka Rentangan (R) = 99 – 35 = 64
• Tentukan banyaknya kelas yang diperlukan, misalnya 5 kelas atau 10 kelas sesuai
dengan keperluan. Cara lain dengan menggunakan aturan Sturges:
Banyaknya kelas (k) = 1 + 3,3 log n , dimana n = banyaknya data
Pada data di atas: k = 1 + 3,3 log 80
= 1 + (3,3)(1,9031) = 7,2802
Kita dapat membuat daftar dengan banyaknya kelas 7 atau 8.
• Tentukan panjang kelas interval (p) secara perkiraan ditentukan dengan aturan
berikut:
p =
7
64
=
kelas banyak
rentangan
= 9,14
Panjang kelas dapat diambil 9 atau 10
• Pilih batas bawah kelas interval pertama
Batas bawah interval kelas pertama dapat diambil dari data yang terkecil atau data
yang lebih kecil dari data terkecil tetapi selisihnya kurang dari panjang kelas dan
kelas pertama tidak boleh mempunyai frekuensi sama dengan nol.
Dengan mengambil banyak kelas 7, panjang kelas 10 dan dimulai dengan batas
bawah interval pertama sama dengan 31 diperoleh tabel distribusi frekuensi
berikut:
57 BAB II Statistika
Nilai ujian Tally(Turus) Frekuensi
31 – 40 || 2
41 – 50 ||| 3
51 – 60
||||
5
61 – 70
|||| |||| ||||
14
71 – 80
|||| |||| |||| |||| ||||
24
81 – 90
|||| |||| |||| ||||
20
91 – 100
|||| |||| ||
12
Beberapa istilah yang digunakan dalam tabel distribusi frekuensi antara lain:
• Interval kelas
Tiap-tiap kelompok disebut dengan interval kelas. Pada tabel di atas terdiri atas 7
interval atau kelas.
• Batas atas dan bawah
• Bilangan paling kiri pada tiap kelas disebut batas bawah, sedangkan bilangan yang
paling kanan pada tiap interval disebut batas atas kelas. Bilangan-bilangan 31, 41,
51, . . . dan 91 merupakan batas bawah. 41 merupakan batas bawah interval
kedua sedangkan 81 merupakan batas bawah interval keenam. Bilangan-bilangan
40, 50, 60, . . . dan 100 merupakan batas atas. 50 merupakan batas atas interval
kedua, sedangkan 100 merupakan batas atas interval ketujuh.
• Tepi kelas (Tepi atas dan tepi bawah)
Tepi atas dan tepi bawah dihitung berdasarkan ketelitian data yang digunakan.
Jika data dicatat teliti hingga satuan, maka tepi bawah diperoleh dengan cara
mengurangi batas bawah dengan 0,5 (tepi bawah = batas bawah – 0,5) untuk
kelas yang bersangkutan, sedangkan untuk tepi atas, batas atas ditambah dengan
0,5 (tepi atas = batas atas + 0,5).
b). Tabel Distribusi Relatif dan Kumulatif
Jika banyaknya frekuensi pada tiap interval dibandingkan dengan jumlah data
keseluruhan dan dinyatakan dalam bentuk persen, maka akan didapat frekuensi relatif
(f
rel.
). Frekuensi relatif interval pertama pada tabel di atas adalah % 5 , 2 % 100 .
80
2
= .
Distribusi Frekuensi Relatif Ujian Matematika
Nilai ujian Frekuensi F
rel
. (%)
31 – 40 2 2,5
41 – 50 3 3,75
51 – 60 5 6,25
61 – 70 14 17,50
71 – 80 24 30,00
81 – 90 20 25,00
91 – 100 12 15,00
Jumlah 80 100


58 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Daftar distribusi kumulatif dapat dibentuk dari daftar distribusi frekuensi dengan cara
menjumlahkan frekuensi demi frekuensi. Ada dua macam frekuensi kumulatif, yaitu
frekuensi kumulatif kurang dari dan frekuensi kumulatif lebih dari. Frekuensi kumulatif
kurang dari adalah frekuensi yang diperoleh dari jumlah frekuensi yang kurang dari
atau sama dengan tepi atas kelas yang bersangkutan, sedangkan frekuensi kumulatif
lebih dari diperoleh dari jumlah frekuensi yang lebih dari atau sama dengan tepi
bawah kelas yang bersangkutan.
Perhatikan tabel sebelumnya, kemudian dibuat tabel frekuensi kumulatif (f
kum
) kurang
dari dan lebih dari seperti pada tabel di bawah ini.
Daftar Frekuensi Kumulatif Kurang Dari Daftar Frekuensi Kumulatif Lebih Dari
Nilai ujian f
kum
kurang dari Nilai ujian f
kum
lebih dari
< 40,5 2 > 30,5 80
< 50,5 5 > 40,5 78
< 60,5 10 > 50,5 75
< 70,5 24 > 60,5 70
< 80,5 48 > 70,5 56
< 90,5 68 > 80,5 32
< 100,5 80 > 90,5 12
Grafik yang menggambarkan frekuensi kumulatif disebut ogive .
Gambar 2-9
59 BAB II Statistika
Gambar 2-10
6). Histogram dan Poligon Frekuensi
Histogram merupakan diagram untuk menyajikan data dalam bentuk distribusi
frekuensi. Sumbu tegak untuk menyatakan frekuensi dan sumbu mendatar untuk
menyatakan batas interval kelas. Batas yang digunakan merupakan tepi atas dan tepi
bawah pada setiap intervalnya.
Contoh 9
Dengan menggunakan data dari tabel pada halaman 57 dapat dibuat histogram seperti
yang tertera pada diagram di bawah ini.
Gambar 2-11


60 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Poligon frekuensi diperoleh dari histogram dengan cara menghubungkan titik tengah
dari masing-masing puncak batang histogram. Poligon frekuensi dapat juga digambar
tepisah dengan poligon, dimana letak titik-titik merupakan koordinat antara titik tengah
dengan frekuensi yang bersesuaian, seperti tampak pada grafik berikut.
Gambar 2-12
Untuk mendapatkan kesimpulan sederhana dapat dilakukan dengan mencari
ukuran pemusatan (tendensi sentral), distribusi frekuensi, dan ukuran
penyebarannya (dispersi).
c. Rangkuman
1. Setelah data diperoleh, maka data dikelola dan disajikan dalam bentuk:
• Daftar/tabel terdiri dari: Daftar distribusi frekuensi tunggal dan daftar distribusi
frekuensi kelompok
• Diagram, terdiri atas:
o Diagram Batang
o Diagram Lambang (Piktogram)
o Diagram Garis
o Diagram Lingkaran
• Grafik terdiri atas:
o Histogram, yaitu diagram batang yang saling berimpit sumbu vertikalnya
dengan nilai frekuensi data dan sumbu horizontalnya merupakan tepi
bawah kelas.
o Poligon Frekuensi, yaitu diagram garis yang ujungnya tertutup sehingga
membentuk bangun poligon, sumbu horizontalnya merupakan nilai tengah
data dan sumbu vertikalnya adalah nilai frekuensi
o Ogive, yaitu diagram garis yang diperoleh dari daftar distribusi frekuensi
kumulatif, terdiri atas:
ƒ Ogive positif dari f <
ƒ Ogive negatif dari f >
61 BAB II Statistika
2. Langkah-langkah untuk membuat daftar distribusi frekuensi kelompok, yaitu dengan
menentukan rentangan data, banyaknya kelas dengan menggunakan aturan
Sturgess, panjang interval kelas, nilai tengah data dan banyaknya frekuensi masing-
masing kelas.
1. Data kecelakaan lalu lintas di suatu daerah selama lima tahun (2000 – 2004)
sebagai berikut:

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004
Banyaknya kecelakaan 400 325 450 300 250
a. Gambarlah diagram batang dari data di atas!
b. Pada tahun berapakah terjadi kenaikan angka kecelakaan tertinggi?
c. Berapa persenkah penurunan terbesar yang terjadi?
d. Berapakah jumlah angka kecelakaan dari tahun 2002 sampai dengan 2004?
2. Banyaknya murid sekolah dan mahasiswa di kabupaten “Taruna Tiga” menurut
tingkat sekolah dan jenis kelaminnya pada tahun 2005 sebagai berikut:

Tingkat Pendidikan
Jenis Kelamin
SD SMP SMA SMK PT
Jumlah
Laki-laki 4.758 2.795 1.459 955 468 10.435
Perempuan 4.032 2.116 1.256 1.005 575 8.984
Jumlah 8.790 4.911 2.715 1.960 1.043 19.419

a. Buatlah diagram garis dari data tersebut!
b. Berapa persenkah jumlah murid sekolah dasar di kabupaten tersebut?
c. Buatlah komentar tentang kemungkinan siswa sekolah menengah yang
melanjutkan ke perguruan tinggi!
3. Hasil tangkapan ikan nelayan selama enam bulan adalah sebagai berikut:
Januari sebanyak 300 ton
Pebruari sebanyak 250 ton
Maret sebanyak 350 ton
April sebanyak 200 ton
Mei sebanyak 400 ton
Juni sebanyak 300 ton
Buatlah diagram lingkaran dan piktogram dari data tersebut!
4. Hasil pengujian kadar lumpur dari macam-macam jenis pasir dibedakan oleh kadar
lumpur yang bercampur pada pasir yang dinyatakan dalam bentuk persen sebagai
berikut :
3% 1% 11% 1% 6% 8%
5% 2% 9% 2% 7% 10%
8% 7% 5% 4% 7% 5%
4% 4% 3% 5% 8% 6%
2% 5% 12% 6% 4% 6%


62 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
a. Buatlah tabel distribusi frekuensi dengan ketentuan berikut ini:
1) Banyaknya interval kelas = 6
2) Panjang interval kelas = 2
b. Buatlah kurva ogive kurang dari dan lebih dari.
c. Apabila pasir yang baik adalah pasir yang mempunyai kadar lumpur tidak
lebih dari 4,5 %. Berapa persenkah sampel yang diuji dikategorikan sebagai
pasir yang baik atau mempunyai kadar lumpur yang rendah?
5. Suatu penelitian modal usaha kecil terhadap 100 perusahaan di wilayah tertentu
disajikan dalam tabel berikut:
Interval Modal
(Jutaan rupiah)
Banyaknya
Perusahaan
30 – 39
40 – 49
50 – 59
60 – 69
70 – 79
80 – 89
90 – 99
2
3
11
20
32
25
7
Jumlah 100
Dari tabel di samping, tentukanlah!
a. Banyaknya interval
b. Panjang interval kelas
c. Batas bawah tiap interval
d. Batas atas tiap interval
e. Titik tengah tiap interval
f. Tepi bawah
g. Tepi atas!
h. Buatlah frekuensi kumulatif kurang dari
dan lebih dari beserta grafiknya!
i. Buatlah daftar frekuensi relatifnya!
6. Dari tabel pada soal nomor 5, tentukanlah!
a. Interval modal usaha yang paling banyak dimiliki perusahaan
b. Banyaknya perusahaan yang memiliki modal lebih dari 59,5 juta
c. Banyaknya perusahaan yang memilik modal kurang dari 89,5 juta
d. Buatlah histogran dan poligon frekuensinya!
7. Nilai ujian matematika kelas XI untuk 80 siswa sebagai berikut:
79 80 70 68 90 92 80 70 63 76
49 84 71 72 35 93 91 74 60 63
48 90 92 85 83 76 61 99 83 88
74 70 38 51 73 71 72 95 82 70
81 91 56 65 74 90 97 80 60 66
98 93 81 93 43 72 91 59 67 88
87 82 74 83 86 67 88 71 89 79
80 78 73 86 68 75 81 77 63 75
Buatlah tabel distribusi dengan ketentuan berikut:
a. Tentukanlah rentang/jangkauan dari data tersebut
b. Gunakan aturan Sturges untuk menentukan banyaknya kelas/interval (bulatkan
ke bawah)
c. Menentukan panjang kelas (bulatkan ke atas)
d. Pilihlah batas bawah interval pertama sama dengan 31.
Dari tabel yang telah dibuat, kemudian buatlah histogram, poligon frekuensi, dan
ogive nya!
Dari ogive kurang dari yang telah dibuat, tentukanlah:
63 BAB II Statistika
i. Banyaknya siswa yang mendapat nilai kurang dari 60,5!
ii. Banyaknya siswa yang mendapat nilai lebih dari 80,5!
iii. Jika batas kelulusan yang disyaratkan minimum mendapat nilai 70,5,
berapa persenkah jumlah siswa yang lulus pada ujian tersebut?
8. Buatlah daftar distribusi frekuensi kelompok lengkap (nilai tengah data, frekuensi
relatif, frekuensi kumulatif, tepi atas, dan tepi bawah) data di bawah ini, kemudian
tentukan pula histogram, poligon frekuensi, dan ogivenya.
Data berikut menunjukkan nilai ujian mata pelajaran Statistika 60 siswa SMK X
36 44 53 58 63 67 69 74 83 89
40 50 55 60 64 68 70 78 95 89
90 83 75 69 67 63 59 53 45 37
39 49 55 60 63 68 70 77 86 95
95 85 76 69 68 63 59 53 45 37
39 48 55 60 63 68 70 78 88 95
B.3 Ukuran Pemusatan ( Tendensi Sentral )
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menghitung mean data tunggal dan data kelompok
¾ Menghitung median data tunggal dan data kelompok
¾ Menghitung modus data tunggal dan data kelompok
b. Uraian Materi
Untuk mendapatkan informasi yang jelas dari sekumpulan data baik dalam sampel
maupun populasi selain data tersebut disajikan dalam bentuk tabel maupun diagram,
masih diperlukan ukuran-ukuran yang menunjukkan sifat atau ciri dari kumpulan data
tersebut. Ukuran-ukuran tersebut meliputi: rata-rata (mean), data yang sering muncul
(modus), dan data yang berada ditengah-tengah sekumpulan data yang terurut
(median). Ukuran-ukuran tersebut disebut ukuran pemusatan (Tendensi Sentral)
Ukuran pemusatan memberikan gambaran bagaimana suatu data itu cenderung
memusat ke suatu ukuran atau nilai tertentu. Misalkan sekumpulan data dari hasil
ujian matematika dalam satu kelas mempunyai rata-rata 7, maka data hasil ujian
tersebut berkecenderungan berada di sekitar 7, untuk itu rata-rata merupakan salah
satu ukuran pemusatan.


64 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
1). Rata-Rata
Dalam kehidupan sehari-hari, rata-rata lebih banyak dikenal, misalnya rata-rata gaji
pegawai suatu perusahaan tiap bulan, rata-rata pendapatan perkapita masyarakat
Indonesia, rata-rata usia siswa SMA kelas XI, dan sebagainya.
Nilai rata-rata yang akan dibahas dalam buku in meliputi rata-rata hitung, rata-rata
ukur (rata-rata geometrik), dan rata-rata harmonik.
a). Rata-Rata hitung (Mean)
Dari sekumpulan data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . , x
n
, maka rata-rata hitung dari data tersebut
adalah:
n
x
n
x ... x x x
x
i
n 3 2 1

=
+ + + +
=
Contoh 10
Tentukan nilai rata-rata hitung dari data 6, 4, 8, 10, 11, 10, 7
Jawab:
Rata-rata hitung = 8
7
7 10 11 10 8 4 6
x =
+ + + + + +
=
Contoh 11
Nilai rata-rata ujian matematika dari 34 siswa adalah 49. Jika nilai dari seorang siswa
lainnya yang bernama Dodo digabung dengan kelompok ini, maka nilai rata-ratanya
menjadi 50. Berapakah nilai ujian dari Dodo tersebut?
Jawab:
1666 49 . 34
49
34 n
xi
x
i
x
i
x
= =

= = =
∑ ∑
Misalkan nilai ujian Dodo adalah x. Setelah nilai tersebut digabungkan nilai rata-
ratanya menjadi 50, sehingga
84 1666 1760
x 1760 x
1760 50 . 35 x
x
i
50
35
x
x
i
i
x
= − =
∑ − =
= = ∑ +
=
+ ∑
=
Contoh 12
Terdapat dua kelompok siswa, laki-laki dan perempuan dalam suatu ujian matematika.
Kelompok laki-laki yang berjumlah 20 anak mempunyai rata-rata 6, sedangkan
kelompok perempuan mempunyai rata-rata ujian 8 dan banyaknya anak 30. Andaikan
kedua kelompok tersebut digabung, berapakah rata-ratanya yang baru?
65 BAB II Statistika
Jawab:
Untuk kelompok laki-laki (i)
i
x = 6 dan n
i
= 20, sehingga = 6 . 20 = 120

i
x
Untuk kelompok perempuan (p)
p
x = 8 dan n
p
= 30, sehingga = 8 . 30 = 240

p x
Setelah digabung
n = n
i
+ n
p
= 20 + 30 = 50

x =

+ = 120 + 240 = 360,
i
x

p
x
maka:
2 , 7
50
360
n
x
x = = =

Jadi, rata-rata yang baru (data gabungan) adalah 7,2.
Untuk data yang berfrekuensi, maka rata-rata dihitung dengan menggunakan rumus
berikut.


=
+ + + +
=
i
i i
n n 3 3 2 2 1 1
f
x . f
n
x . f ... x . f x . f x . f
x

Contoh 13
Tentukan nilai rata-rata dari data di bawah ini:
x 2 3 4 5
f 1 4 3 2
Jawab:
6 , 3
10
10 12 12 2

2 3 4 1
5 . 2 4 . 3 3 . 4 2 . 1
n
x . f x . f x . f x . f
4 4 3 3 2 2 1 1
x
=
+ + +
=
+ + +
+ + +
=
+ + +
=
Contoh 14
Nilai ujian dari 40 siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Nilai frekuensi
3 – 5
6 – 8
9 – 11
12 – 14
15 – 17
18 – 20
21 – 23
3
4
11
4
8
5
5
Tentukan rata-ratanya!
Jawab:
Untuk menghitung rata-rata dari data yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi,
terlebih dahulu dicari nilai tengah dari tiap intervalnya (x
i
). Nilai tengah interval adalah


66 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
setengah dari jumah batas bawah dan batas atas pada tiap kelas yang bersangkutan.
Misalnya nilai tengah interval pertama adalah 0,5(3 + 5) = 4 dan seterusnya.
Nilai
Nilai tengah
(x
i
)
Frekuensi
(f
i
)
x
i
f
i
3 – 5
6 – 8
9 – 11
12 – 14
15 – 17
18 – 20
21 – 23
4
7
10
13
16
19
22
3
4
11
4
8
5
5
12
28
110
52
128
95
110
Jumlah 40 535
Nilai rata-rata adalah 38 , 13
40
535
f
x . f
x
i
i i
= =


= .
Selain menggunakan rumus seperti di atas dapat juga menghitung rata-rata dengan
terlebih dahulu menetapkan rata-rata sementara, kemudian rata-rata dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Untuk menghitung rata-rata dari data yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi
dapat juga dilakukan dengan menggunakan rata-rata sementara, yaitu dengan rumus


+ =
i
i i
s
f
d . f
x x
Keterangan:
• d
i
= simpangan yang ke-i (selisih antara nilai tengah dengan rata-rata
sementara), yaitu d
i
= x
i

s
x

s
x = Rata-rata sementara.

Contoh 15
Tentukan rata-rata dari data yang disajikan dalam tabel berikut dengan menggunakan
rata-rata sementara.
Interval Frekuensi (fi)
119 – 127 3
128 – 136 6
137 – 145 10
146 – 154 11
155 – 163 5
164 – 172 3
173 – 181 2
40
Jawab:
Ditentukan terlebih dahulu nilai rata-rata sementaranya, misalkan
s
x = 150. Untuk
mempermudah
s
x diusahakan diambil dari salah satu nilai tengah interval (x
i
).
67 BAB II Statistika
Interval Frekuensi (fi) Nilai tengah (x
i
) Simpangan (d
i
) f
i
.d
i
119 – 127 3 123 -27 -81
128 – 136 6 132 -18 -108
137 – 145 10 141 -9 -90
146 – 154 11 150 0 0
155 – 163 5 159 9 45
164 – 172 3 168 18 54
173 – 181 2 177 27 54
40 -126
Jadi, rata-rata sesungguhnya adalah:

85 , 146
40
126
150
f
d . f
x x
i
i i
s
=

+ =


+ =
Untuk menyederhanakan penghitungan, rata-rata dapat dihitung dengan
menggunakan cara pengkodean (coding). Kode (u) untuk setiap interval dicari dengan
rumus u =








c
d
i
dengan d
i
merupakan simpangan dan c panjang kelas. Rata-rata
sesungguhnya dihitung dengan menggunakan rumus
c
f
u . f
x x
i
i i
s


+ =
Keterangan:

s
x = rata-rata sementara
• d
i
= simpangan ke i
• u
i
= kode ke i
• c = panjang kelas
Contoh 16
Dari data pada tabel contoh 15 , hitunglah rata-ratanya dengan menggunakan cara
coding.
Jawab:
Seperti dengan menggunakan cara rata-rata sementara, cara coding juga terlebih
dahulu menentukan rata-rata sementaranya, dalam hal ini
s
x = 150.
Interval
Frekuensi
(fi)
Nilai tengah
(x
i
)
Simpangan
(d
i
)
Kode
(u
i
)
f
i
.u
i
119 – 127 3 123 -27 -3 -9
128 – 136 6 132 -18 -2 -12
137 – 145 10 141 -9 -1 -10
146 – 154 11 150 0 0 0
155 – 163 5 159 9 1 5
164 – 172 3 168 18 2 6
173 – 181 2 177 27 3 6
40 -14


68 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Rata-rata sesungguhnya adalah:

85 , 146
9 .
40
14
150
c
f
u . f
x x
i
i i
s
=

+ =


+ =
b). Rata-rata Ukur (Rata-rata Geometrik)
Jika perbandingan tiap dua data berurutan tetap atau hampir tetap, rata-rata ukur
lebih baik digunakan dari pada rata-rata hitung, apabila dikehendaki rata-ratanya.
Untuk data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . , x
n
maka rata-rata ukur (U) didefinisikan sebagai berikut:

n
n 3 2 1
x .. . x . x . x U =
Contoh 17
Hitunglah rata-rata ukur data berikut: 2, 4, 8, 16!
Jawab:

2 4
16 . 8 . 4 . 2
x . x . x . x U
4
n
4 3 2 1
=
=
=
c). Rata-rata Harmonik
Untuk data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . ,x
n
, maka rata-rata harmonik (H) didefinisikan sebagai
berikut:


=
i
x
1
n
H
Contoh 18
Hitunglah rata-rata harmonik dari data berikut: 3, 5, 6, 6, 7, 10, 12!
Jawab:
Banyaknya data (n) = 7, sehingga
87 , 5
7
12
1
10
1
7
1
6
1
6
1
5
1
3
1 1
= = =
+ + + + + +

i
x
n
H
2). Modus ( Mo)
Modus dari suatu data adalah data yang sering muncul atau data yang mempunyai
frekuensi tertinggi.
a). Modus Data Tunggal
Contoh 19
Tentukan modus dari data di bawah ini:
69 BAB II Statistika
a. 3, 4, 4, 5, 5, 5, 6, 7
b. 5, 6, 6, 6, 7, 7, 7, 8
c. 5, 5, 5, 6, 6, 6, 7, 7, 7
Jawab:
a. modus data adalah 5
b. modus data adalah 6 dan 7
c. tidak mempunyai modus
b). Modus Data Berkelompok
Untuk menentukan modus dari data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi digunakan rumus yang dapat dicari dengan menggunakan histogram
berikut:

Pada gambar di samping Mo = Tb + TU
TU dapat dicari dengan cara berikut:
∆ PUS ~ ∆ RUQ, dan berluku hubungan
TU : UV = PS : RQ
TU =
fa f
) fb f )( TU SR (
RQ
PS . UV
Mo
Mo

− −
=
=
fa f
) fb f )( TU c (
Mo
Mo

− −

fa f TU c
TU
Mo
Mo

=

fb f −
Gambar 2-13

fb f
fa f
1
TU
c
fb f
fa f
TU
TU c
Mo
Mo
Mo
Mo


= −


=

c
) fb f ( ) fa f (
fb f
TU
) fb f ( ) fa f (
fb f
c
TU

fb f
) fb f ( ) fa f (

fb f
fb f
fb f
fa f
1
fb f
fa f
TU
c
Mo Mo
Mo
Mo Mo
Mo
Mo
Mo Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
− + −

=
− + −

=

− + −
=


+


= +


=
Mo = Tb + TU = Tb + c
) fb f ( ) fa f (
fb f
Mo Mo
Mo
− + −

,
untuk mempermudah mengingat, rumus disederhanakan sebagai berikut:
c
d d
d
Tb Mo
2 1
1
+
+ =


70 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Keterangan:
Mo = Modus
Tb = Tepi bawah kelas modus (Kelas dengan frekuensi tertinggi)
d
1
= Selisih antara frekuensi modus dengan frekuensi sebelumnya (f
Mo
– fb)
d
2
= Selisih antara frekuensi modus dengan frekuensi sesudahnya (f
Mo
– fa)
c = Panjang kelas
Contoh 20
Interval
frekuensi
(fi)
30 – 34 8
35 – 39 10
40 – 44 13
45 – 49 17
50 – 54 14
55 – 59 11
60 – 64 7
Dari data pada tabel di samping, tentukan modus
data tersebut!
Jawab:
Dari tabel, frekuensi yang tertinggi adalah 17 dan
terletak pada interval 45 – 49,
sehingga diperoleh,
Tb = 45 – 0,5 = 44,5
d
1
= 17 – 13 = 4
d
2
= 17 – 14 = 3
c = 35 – 30 = 5
64 , 46
7
15
5 , 44
5 .
4 3
3
5 , 44
c
d d
d
Tb Mo
2 1
1
=
+ =
+
+ =
+
+ =
3). Median
a). Median Data Tunggal
Median (Me) adalah nilai pertengahan dari sekelompok data yang telah diurutkan
menurut besarnya. Untuk sekumpulan data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . , x
n
dimana data x
1
< x
2
< x
3
< x
4
< . . . < x
n
Jika banyaknya data ganjil, maka median sama dengan data yang ditengah atau data
yang ke





 +
2
1 n
. Jika banyaknya data genap, maka median adalah nilai rata-rata dari
data yang ke






2
n
dan data ke






+1
2
n
.
2
1 n
x Me
+
= untuk n ganjil
2
x x
Me
2
1 n
2
n +
+
= , untuk n genap.
Contoh 21
Tentukan median dari data:
a. 3, 10, 9, 4, 5, 8, 8, 4, 6 b. 3, 8, 5, 4, 10, 8, 4, 6, 9, 5
71 BAB II Statistika
Jawab:
a. Data harus diurutkan terlebih dahulu, sehingga didapat:
3 4 4 5 6 8 8 9 10
Banyaknya data atau n = 9 (ganjil), maka median (Me)
5
2
1 9
2
1 n
x x x = = =
+ +
= 6
(letak median pada data ke lima, dihitung dari kiri, yaitu 6).
b. 3 4 4 5 5 6 8 8 9 10
Banyaknya data atau n = 10 (genap), maka median (Me)
5 , 5
2
6 5
2
x x
2
x x
Me
6 5
1
2
10
2
10
=
+
=
+
=
+
=
+
(letak median pada data ke lima dan ke enam, dihitung dari kiri, yaitu 5 dan 6)
b). Median Data Berkelompok
Untuk data yang berkelompok, median dicari dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
c
f
F n
Tb Me
2
1

+ =
Keterangan:
Me = Median
Tb = Tepi bawah kelas median
n = Jumlah frekuensi
f = frekuensi median (frekuensi pada kelas median)
F = Jumlah frekuensi sebelum frekuensi median
Contoh 22
Tentukan median dari data pada tabel di bawah ini:
Jawab:
Untuk mencari median, terlebih dahulu
me n c a r i l e t a k me d i a n , y a i t u
40 80 .
2
1
n
2
1
= = . Hal ini berarti median
terletak pada data yang ke 40 dan dicari
dari frekuensi, ternyata data yang ke 40
ada pada frekuensi 17 yang terletak pada
interval ke 4 yaitu 45 – 49, sehingga
f = 17 F = 8 + 10 + 13 = 31
Tb = 44,5 c = 5
Interval Frekuensi (fi)
30 – 34 8
35 – 39 10
40 – 44 13
45 – 49 17
50 – 54 14
55 – 59 11
60 – 64 7
80
c
f
F n
Tb Me
2
1

+ =
= 5 .
17
31 80
5 , 44
.
2
1

+
= 5 .
17
9
5 , 44 + = 47,15


72 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
c. Rangkuman
1. Dari sekumpulan data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . , x
n
, maka rata-rata hitung (mean) dari
data tersebut adalah
n
x
n
x ... x x x
x
i
n 3 2 1

=
+ + + +
=
2. Untuk data yang berfrekuensi, mean:
n
x . f ... x . f x . f x . f
x
n n 3 3 2 2 1 1 + + + +
=
3. Untuk data berkelompok, mean:
a.
n
i
f .
i
x
x

=
b.


+ =
i
i i
s
f
d . f
x x
c. c
f
u . f
x x
i
i i
s


+ =
Keterangan:
• d
i
= simpangan yang ke-i (selisih antara nilai tengah dengan rata-rata
sementara), yaitu d
i
= x
t

s
x

s
x = Rata-rata sementara.
• u
i
= kode ke i ( bilangan bulat . . . -2, -1, 0, 1, 2, . . . )
• c = panjang kelas
4. Untuk data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . , x
n
, maka rata-rata ukur (U) didefinisikan sebagai
berikut
n
n 3 2 1
x .. . x . x . x U =
5. Untuk data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . ,x
n
, maka rata-rata harmonik (H) didefinisikan
sebagai berikut

=
i
x
1
n
H
6. Modus dari suatu data adalah data yang sering muncul atau data yang mempunyai
frekuensi tertinggi.
7. Modus data kelompok: c
d d
d
Tb Mo
2 1
1
+
+ =
Tb = Tepi bawah kelas modus
d
1
= Selisih antara frekuensi modus dengan frekuensi sebelumnya
d
2
= Selisih antara frekuensi modus dengan frekuensi sesudahnya
8. Median (Me) adalah nilai pertengahan dari sekelompok data yang telah diurutkan
menurut besarnya
9. Untuk data yang berkelompok: c
f
F n
Tb Me
2
1

+ =
f = frekuensi median (frekuensi pada kelas median)
F = Jumlah frekuensi sebelum frekuensi median
73 BAB II Statistika
1. Rata-rata nilai ujian matematika 39 siswa adalah 45. Apabila nilai ujian Ahmad
yang ikut susulan ditambahkan, maka rata-ratanya sekarang menjadi 45,875.
Berapakan nilai ujian yang diperoleh Ahmad?
2. Nilai ujian dari 10 orang mempunyai rata-rata 6,9. Dengan masuknya seorang
anak, rata-ratanya menjadi 7. Berapakah nilai ujian anak yang baru masuk?
3. Rata-rata gaji 10 karyawan PT Sejahtera adalah Rp2.500.000,00. Jika gaji seorang
manajer digabungkan rata-ratanya menjadi Rp2.800.000,00. Berapakah gaji
manajer tersebut?
4. Karyawan bagian administrasi sebanyak 5 orang mempunyai rata-rata gaji sebesar
Rp1.500.000,00, sedangkan bagian produksi yang berjumlah 20 orang rata-
ratanya Rp900.000,00. Berapakan rata-rata seluruh pegawai perusahaan tersebut
5 Nilai rata-rata ulangan matematika kelas I, II, dan II masing-masing 6, 7, dan 8.
Jumlah murid masing-masing kelas adalah 25, 30, dan 45. Hitunglah nilai rata-
rata ulangan matematika dari ketiga kelas tersebut!
6 Nilai rata-rata ujian dalam suatu kelas adalah 5. Jika ditambah nilai siswa baru
yang nilainya 7, maka rata-ratanya menjadi 5,1. Tentukan banyaknya siswa
semula!
7 Tinggi rata-rata 10 orang siswa adalah 162, jika digabung dengan 5 murid lagi
maka rata-ratanya menjadi 160. Berapakah rata-rata tinggi kelima siswa tersebut?
8. Tentukan rata-rata hitung, rata-rata ukur, dan rata-rata harmonik dari data
berikut:
a. 1, 3, 5, 7, 9, 11 c. 1, 3, 9, 27, 81
b. 2, 4, 6, 8, 10 d. 4, 1, 16, 64, 128
9. Tentukan rata-rata hitung, median, dan modus dari data berikut:
a. 8, 9, 12, 14, 5, 12, 9, 3, 9, 10, 5, 3
b. 4, 4, 7, 8, 5, 10, 5, 3, 6, 9, 5, 11, 7
c. 75, 82, 66, 57, 64, 56, 92, 94, 86, 52, 60, 70
d. 2, 3, 3, 4, 4, 5, 5, 7, 4, 4, 2, 3, 3, 2, 5, 5, 5, 5, 7
10. Hitunglah rata-rata hitung, median, dan modus dari data berikut:
a. b. c.
x f x f x f
2 5 4 6 10 4
3 8 5 10 20 8
4 6 6 7 30 7
5 3 7 4 40 8
8 2 50 3


74 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
11. Tentukan mean, rata-rata harmonis , median dan modus data di bawah ini!
a x 4 5 6 7 8 9
f 4 3 3 2 2 1
b. x 2 3 4 5
f 1 4 3 2
c. x 5 6 7 8 9 10
f 1 2 3 3 2 2
12. Carilah rata-rata hitung, median, dan modus dari data berikut:
a. b. c.
Interval f Interval f Interval f
1 – 20 3 1 – 5 4 141 – 144 2
21 – 40 12 6 – 10 7 145 – 149 7
41 – 60 25 11 – 15 15 150 – 154 8
61 – 80 16 16 – 20 3 155 – 159 12
81 – 100 4 21 – 25 1 160 – 164 6
165 – 169 3
170 – 174 2
13. Hasil ujian akhir untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa
Inggris, yaitu 3 orang mendapatkan nilai 8,2 untuk matematika, 5 orang
mendapatkan nilai 8,6 untuk bahasa Inggris, dan 7 orang mendapatkan nilai 9
untuk bahasa Indonesia. Hitunglah rata-rata nilai ujian tersebut?
14. Sekelompok data disajikan seperti gambar berikut. Hitunglah rata-rata, median,
dan modus data tersebut!
a. b. Data gaji 200 pegawai perbulan

75 BAB II Statistika
B.4 Ukuran Penyebaran (Dispersi)
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menentukan: Jangkauan, simpangan rata-rata, simpangan baku, kuartil,
jangkauan semi interkuartil, desil, persentil, dan jangkauan persentil dari data
yang disajikan.
¾ Menentukan nilai standar (Z-score) dari suatu data yang diberikan.
¾ Menentukan koefisien variasi dari suatu data yang diberikan.
b. Uraian Materi
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar orang atau dari media cetak atau
elektronik menyebut data statistik, misalnya pendapatan rata-rata pegawai suatu
perusahaan Rp1.350.000,00, rata-rata nilai tukar rupiah dalam satu minggu terakhir
Rp9.035 per dollar Amerika, rata-rata ujian nasional provinsi DKI Jakarta untuk mata
pelajaran matematika sebesar 7,4, dan sebagainya.
Apabila kita mendengar rata-rata maka secara otomatis pikiran kita membayangkan
sederetan data disekitar rata-rata tersebut. Ada yang sama dengan rata-rata, ada yang
kurang dari dan ada yang lebih dari rata-rata. Dengan perkataan lain ada variasi dari
nilai-nilai tersebut, baik terhadap rata-rata maupun terhadap nilai lainnya.
Apabila sederetan data itu sama satu dengan yang lainnya, maka data tersebut disebut
data yang homogen (tidak bervariasi). Apabila perbedaaan satu dengan lainnya
sangat besar, maka dikatakan data tersebut sangat heterogen (sangat bervariasi)
atau dikatakan penyebaran data tersebut sangat besar atau sangat variatif.
Ada beberapa ukuran penyebaran (dispersi), yaitu jangkauan (range), simpangan
kuartil, simpangan rata-rata, simpangan baku, dan variansi.
1). Jangkauan/Range (R)
Ukuran penyebaran yang paling sederhana adalah jangkauan atau range. Apabila
sekumpulan data sudah terurut dari yang terkecil sampai yang terbesar, maka range
dari data adalah selisih data terbesar (x
max
) dengan data yang terkecil (x
min
).
Range = data terbesar – data terkecil = x
max
– x
min
Contoh 23
Tentukan range dari data: 20, 30, 35, 40, 50, 56, 60!
Jawab:
x
max
= 60 x
min
= 20 maka R = 60 – 20 = 40
Untuk data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, range dapat dicari
dengan cara sebagai berikut:
a. R = Nilai tengah kelas terakhir – Nilai tengah kelas pertama
b. R = Tepi atas kelas terakhir – tepi bawah kelas pertama


76 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Contoh 24
Tentukan range dari data pada contoh 22
Jawab:
Nilai tengah kelas pertama =
2
34 30 +
= 32
Nilai tengah kelas terakhir =
2
64 60 +
= 62
Range = 62 – 32 = 30
Dapat juga menggunakan cara yang kedua, yaitu:
Tepi bawah kelas pertama = 30 – 0,5 = 29,5
Tepi atas kelas terakhir = 64 + 0,5 = 64,5
Range = tepi atas kelas terakhir – tepi bawah kelas pertama = 64,5 – 29,5 = 35.
Untuk data dalam bentuk distribusi frekuensi, data tertinggi dan terendah tidaklah
pasti, sehingga dalam range dengan dua cara tersebut (walaupun hasilnya berbeda)
diharapkan dapat memberikan gambaran perkiraan tentang rentang dari sekumpulan
data tersebut.
2). Rata-Rata Simpangan (RS)
Untuk sekumpulan data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . ,x
n
yang mempunyai rata-rata x dan nilai
mutlak simpangan tiap data |x
1
– x |, |x
2
– x |, |x
3
– x |, . . . , | x
n
– x | di jumlahkan
kemudian dibagi dengan banyaknya data maka diperoleh rata-rata simpangan yang
dirumuskan sebagai berikut:
∑ − = | x x |
n
1
RS
i
Keterangan:
x
i
= data yang ke i
x = rata-rata
n = banyaknya data

Contoh 25
Tentukan rata-rata simpangan data 6, 4, 8, 10, 11, 10, 7!

Jawab:
8
7
7 10 11 10 8 4 6
x =
+ + + + + +
=
Simpangan rata-ratanya adalah:
( )
2
) 1 2 3 2 0 4 2 (
7
1
| 8 7 | | 8 10 | | 8 11 | | 8 10 | | 8 8 | | 8 4 | | 8 6 |
7
1
SR
=
+ + + + + + =
− + − + − + − + − + − + − =
77 BAB II Statistika
Untuk data yang berbobot atau data berkelompok, simpangan rata-rata dihitung
dengan menggunakan rumus berikut:
∑ − = | x x | f
n
1
RS
i i
Keterangan:
x
i
= data yang ke i
x = rata-rata
fi = frekuensi data yang ke i
n = banyaknya data (Σ f)

Contoh 26
Hitunglah simpangan rata-rata data berikut:

x 4 5 6 7
f 3 8 10 4

Jawab:
x
f
10
x
i
f
i |x
i
– x | f
i
|x
i
- x |
4
5
6
7
3
8
10
4
12
40
60
28
1,6
0,6
0,4
1,4
4,8
4,8
4,0
5,6
Σ 25 Σ 140 Σ 19,2
6 , 5
25
140
x = =
∑ − = | x x | f
n
1
RS
i i
= 77 , 0 ) 2 , 19 (
25
1
=

3). Simpangan Baku (Deviasi Standar)
Barangkali ukuran simpangan yang paling banyak digunakan adalah simpangan baku
atau deviasi standar, karena mempunyai sifat-sifat matematik (mathematical property)
yang sangat penting dan berguna untuk pembahasan teori dan analisis statistik
selanjutnya.
Untuk sekumpulan data x
1
, x
2
, x
3
, x
4
, . . . ,x
n
yang mempunyai rata-rata x dan nilai
kuadrat simpangan tiap data (x
1
– x )
2
, (x
2
– x )
2
, (x
3
– x )
2
, . . . , (x
n
– x )
2
,
simpangan baku atau deviasi standar (s) dirumuskan sebagai berikut:
∑ − =
2
i
) x x (
n
1
s atau










− =
n
) x (
x
n
1
s
2
i 2
i
Keterangan:
s = simpangan baku
x
i
= data yang ke i
x = rata-rata
n = banyaknya data
Contoh 27
Tentukan simpangan baku dari data: 6, 4, 8, 10, 11, 10, 7!
Jawab:
8
7
7 10 11 10 8 4 6
x =
+ + + + + +
=


78 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Simpangan bakunya adalah:

− =
2
i
) x x (
n
1
s
( )
33 , 2
7
38
) 1 4 9 4 0 16 4 (
7
1
) 8 7 ( ) 8 10 ( ) 8 11 ( ) 8 10 ( ) 8 8 ( ) 8 4 ( ) 8 6 (
7
1
s
2 2 2 2 2 2 2
=
=
+ + + + + + =
− + − + − + − + − + − + − =
Contoh 28
Nilai ujian matematika dari tiga kelompok siswa sebagai berikut:
a. Kelompok I : 50, 50, 50, 50, 50
b. Kelompok II : 50, 40, 30, 60, 70
c. Kelompok III: 100, 40, 80, 20, 10
Hitunglah simpangan baku dari data-data tersebut !
Jawab:
Kelompok I Kelompok II Kelompok III
x x
2
x x
2
x x
2
50
50
50
50
50
2.500
2.500
2.500
2.500
2.500
50
40
30
60
70
2.500
1.600
900
3.600
4.900
100
40
80
20
10
10.000
1.600
6.400
400
100
Σ 250 Σ 12 .500 Σ 250 Σ 13.500 Σ 250 Σ 18.500
Kelompok I,










− =
n
) x (
x
n
1
2
i
2
i
s = 0
5
250
500 . 12
5
1
2
= 






Kelompok II, s = 14 , 14
) (
5
1
5
250
500 . 13
2
= −








Kelompok III, s = 64 , 34
) (
5
1
5
250
500 . 19
2
= −








Perhatikan nilai simpangan baku untuk tiap kelompok data. Semakin heterogen
(bervariasi) akan mempunyai nilai simpangan baku yang relatif tinggi. Untuk data
homogen (sama) mempunyai simpangan baku 0.
Untuk data yang berbobot atau berkelompok, simpangan baku dihitung dengan
menggunakan rumus:
∑ − =
2
i i
) x x ( f
n
1
s
79 BAB II Statistika
Keterangan:
s = simpangan baku
x
i
= data yang ke i
x = rata-rata
n = banyaknya data (Σ f)
f
i
= frekuensi data/interval ke-i
Contoh 29
Hitunglah deviasi standar dari data berikut !
x 4 5 6 7
f 3 8 10 4
Jawab:
x
f
10
x
i
f
i (x
i
– x )
2
f
i
(x
i
- x )
2
4
5
6
7
3
8
10
4
12
40
60
28
2,56
0,36
0,16
1,96
3,78
2,88
1,60
7,84
Σ 25 Σ 140 Σ 16,1
Deviasi Standar
∑ − =
2
i i
) x x ( f
n
1
s

0,80
1 , 16
25
1
=
=
Rata-rata data: 6 , 5
25
140
x = =
Apabila simpangan baku dikuadratkan, maka akan diperoleh:
∑ − =
2
i
2
) x x (
n
1
s atau ∑

− =
n
) x (
x
2
i 2
i
2
s
Untuk data tunggal berbobot atau data berkelompok:

∑ − =
2
i i
2
) x x ( f
n
1
s
Rumus ini dikenal dengan variansi.
Contoh 30
Tentukan variansi dari data: 6, 4, 8, 10, 11, 10, 7!
Jawab:
Simpangan baku data tersebut adalah s = 2,33, sehingga variansi dari data adalah s
2
= 2,33
2
= 5,43

1. Tentukan range, rata-rata simpangan, simpangan baku, dan variansi dari data di
bawah ini!
a. 4, 6, 8, 5, 5, 15, 9, 8, 10, 12, 14, 17, 16, 11
b. 6, 6, 7, 8, 9, 9, 10, 11, 11, 12, 7, 7, 12, 10, 10, 13, 14, 15
c. 2, 2, 4, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 8, 5, 6, 9, 4, 4, 9, 10, 7, 6
d. 10, 11, 12, 13, 14, 18, 18, 20, 15, 15, 18, 13, 12


80 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
2. Tentukan range, rata-rata simpangan, dan simpangan baku dari data di bawah:
a. x f b. x f c. x f
2 3 4 6 10 15
3 7 5 10 20 28
4 6 6 14 30 37
5 4 7 16 40 12
8 4 50 8
3. Tentukan range, rata-rata simpangan, dan simpangan baku dari data di bawah:
Interval f Interval f Interval f
1 – 20 9 2 – 5 8 31 – 40 10
21 – 40 16 5 – 9 12 41 – 50 12
41 – 60 25 10 – 13 10 51 – 60 25
61 – 80 7 14 – 17 6 61 – 70 22
81 - 100 3
b.
18 – 21 4
c.
71 – 80 20
81 – 90 6
91 – 100 5
4. Tinggi badan yang tertinggi dari 25 orang siswa adalah 190 cm. Apabila range dari
data tersebut 26 cm. Berapakah tinggi badan siswa yang terpendek?
5. Kelompok belajar terdiri atas 5 orang siswa. Siswa yang termuda umurnya x tahun
dan yang tertua berumur 2x. Jika tiga anak yang lain berturut-turut berumur x+1,
x+5, dan 2x – 3 tahun. Rata-rata hitung umur mereka adalah 16 tahun.
a. Berapakah umur yang termuda dan tertua?
b. Berapakah varian dari umur mereka?
6. Tiga kelompok siswa masing-masing terdiri atas 5 orang mengikuti ujian
matematika dengan nilai berikut:
Kelompok I : 5, 5, 5, 5, 5,
Kelompok II : 5, 6, 6, 5, 6
Kelompok III : 4, 5, 7, 9, 2
a. Tentukanlah simpangan baku tiap kelompok data.
b. Buatlah kesimpulan dari ketiga kelompok data tersebut.
7. Sekelompok data sebanyak n, mempunyai simpangan baku s. Tiap data sekarang:
a. ditambah dengan 10
b. Dikurangi dengan 10
c. Dikalikan 10
Apakah yang terjadi tehadap simpangan baku untuk data yang baru dalam
keadaan masing-masing di atas?
8. Sekelompok data mempunyai rata-rata x dan simpangan baku s. Tiap data
dikurangi x lalu dibagi s. Berapakah rata-rata dan simpangan data baru?
Bagaimana jadinya jika tiap data dibagi s kemudian dikurangi s?
9. Dari data pada soal nomor 2 dan 3, hitunglah variansi pada masing-masing data
tersebut!
a.
81 BAB II Statistika
4). Kuartil (Q)
a). Kuartil Data Tunggal
Kuartil membagi data menjadi empat bagian yang sama banyak dari data yang telah
terurut yang masing-masing 25% . Kuartil (Q) ada tiga yaitu Q
1
(kuartil bawah), Q
2
(kuartil tengah atau median) dan Q
3
(kuartil atas), yang apabila digambarkan dalam
garis bilangan akan tampak seperti berikut:
Beberapa langkah yang ditempuh untuk mencari kuartil adalah sebagai berikut:
• Susunlah data menurut urutannya
• Tentukan letak kuartil dan
• Tentukan nilai kuartilnya
Letak kuartil ke i dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut:
Letak Q
i
= data ke
4
) 1 n ( i +
dengan i = 1, 2, dan 3
Contoh 31
Tentukan nilai kuartil dari data di bawah ini:
a. 1, 6, 9, 3, 5, 8, 10 b. 3, 4, 7, 8, 9, 11, 13, 14, 15
Jawab:
Untuk menentukan nilai kuartil, maka data harus diurutkan terlebih dahulu.
a. 1 3 5 6 8 9 10
Letak Q
1
= data ke =
+
4
) 1 7 ( 1
data ke-2, sehingga Q
1
= 3
Letak Q
2
= data ke =
+
4
) 1 7 ( 2
data ke-4, sehingga Q
2
= 6
Letak Q
3
= data ke =
+
4
) 1 7 ( 3
data ke-6, sehingga Q
3
= 9
b. 3 4 7 8 9 11 13 14 15
Letak Q
1
= data ke =
+
4
) 1 9 ( 1
data ke 2,5
Q
1
= data ke 2 + ) 2 ke data 3 ke data (
2
1
− = 4 + ) 4 7 (
2
1
− = 5 , 5
Letak Q
2
= data ke =
+
4
) 1 9 ( 2
data ke-5, sehingga Q
2
= 9.
Letak Q
3
= data ke =
+
4
) 1 9 ( 3
data ke-7,5
Q
3
= data ke 7 + ) 7 ke data 8 ke data (
2
1
− = 13 + ) 13 14 (
2
1
− = 5 , 13


82 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
b). Kuartil Data Berkelompok
Untuk data bekelompok yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi,
digunakan rumus sebagai berikut:
c
f
F n
Tb Q
i
i 4
i
i i

+ =

Keterangan:
Tb
i
= Tepi bawah kuartil ke-i.
F
i
= Jumlah frekuensi sebelum frekuensi kuartil ke-i.
f
i
= Frekuensi kuartil ke-i. i = 1, 2, 3
n = Jumlah seluruh frekuensi.
C = panjang interval kelas.
Contoh 32
Tentukan Q
1
, Q
2,
dan Q
3
dari data pada tabel:
Jawab:
Interval
frekuensi
(fi)
30 – 34 8
35 – 39 10
40 – 44 13
45 – 49 17
50 – 54 14
55 – 59 11
60 – 64 7
Untuk Q
1
, maka i = 1
n = Jumlah seluruh frekuensi = 80
Letak Q
1
= n
4
1
= 80
4
1
= 20
(data yang ke 20), sehingga letak Q
1
pada
interval ke 3, yaitu 40 – 44, maka
Tb
1
= 40 – 0,5 = 39,5
f
1
= 13
F
1
= 8 + 10 = 18
c = 35 – 30 = 5
80
27 , 40 5 .
13
2
5 , 39 5
13
18 80
5 , 39 c
f
F n
Tb Q .
4
1
4
1
1
1
1 1
= +

=

= + + =
Untuk Q
2
, maka i = 2
n = Jumlah seluruh frekuensi = 40
Letak Q
2
= n
4
2
= 80
4
2
= 40 , (data yang ke 40), sehingga letak Q
2
pada interval ke
4, yaitu interval 45 – 49, maka
Tb
2
= 45 – 0,5 = 44,5 F
2
= 8 + 10 + 13 = 31
f
2
= 17 c = 5
15 , 47 5 .
17
9
5 , 44 5 .
17
31 80
5 , 44 c
f
F n
Tb Q
4
2
4
2
2
2
2 2
= + =
− −
+ = + =
Untuk Q
3
, maka i = 3
n = Jumlah seluruh frekuensi = 40
83 BAB II Statistika
Letak Q
3
= n
4
3
= 80
4
3
= 60 , (data yang ke 60), sehingga letak Q
3
pada interval ke
5 interval 50 – 54, maka
Tb
3
= 50 – 0,5 = 49,5 F
3
= 8 + 10 + 13 + 17 = 48
f
3
= 14 c = 5
79 , 53 5 .
14
12
5 , 49 5 .
14
48 60
5 , 49 c
f
F n
Tb Q
3
3
3 3
4
3
= + =

+

= + =
c). Jangkauan Kuartil dan Simpangan Kuartil atau Jangkauan Semi Inter Kuartil
Dari sekumpulan data yang mempunyai kuartil bawah Q
1
dan kuartil atas Q
3
,
Jangkauan kuartil dan simpangan kuartil atau Jangkauan semi Inter kuartil dari data
adalah sebagai berikut:
JQ = Q
3
– Q
1
dan ) Q Q (
2
1
Qd
1 3
− =
Keterangan:
JQ = Simpangan kuartil
Qd = Jangkauan semi inter kuartil atau simpangan kuartil.
Q
1
= Kuartil ke-1 (Kuartil bawah)
Q
3
= Kuartil ke-3 (Kuartil atas)

Contoh 33
Dari data pada contoh 32 didapat
JQ = Q3 – Q1 76 , 6 ) 27 , 40 79 , 53 (
2
1
) Q Q (
2
1
Qd
1 3
= − = − =
= 53,79 – 40,27 = 13,52 = 6,76
5). Desil (D)
a). Desil Data Tunggal
Kumpulan data yang dibagi menjadi sepuluh bagian yang sama, maka diperoleh
sembilan pembagi dan tiap pembagi dinamakan desil. Desil1, desil 2, . . . desil 9 dan
untuk menyederhanakan disingkat dengan D
1
, D
2
, . . . D
9
. Untuk mendapatkan desil-
desil digunakan langkah sebagai berikut:
i) Susunlah data menurut urutan nilainya
ii) Tentukan letak desilnya
iii) Hitung nilai desilnya
Letak desil ke i dapat ditentukan dengan rumus berikut:
Letak D
i
= data ke
10
) 1 n ( i +
dengan i = 1, 2, . . . ,9
Contoh 34
Tentukan nilai D
3
dan D
7
dari data berikut:
10, 8, 15, 12, 12, 8, 13, 14, 16, 17, 12, 8, 10, 11, 14


84 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
8, 8, 8, 10, 10, 11, 12, 12, 12, 13, 14, 14, 15, 16, 17
Letak D
3
= data ke =
+
10
) 1 15 ( 3
data ke 4
5
4
D
3
= data ke 4 + ) 4 ke data 5 ke data (
5
4
− = 10 + ) 10 10 (
5
4
− =10
Letak D
7
= data ke
5
1
11 ke data
10
) 1 15 ( 7
=
+
D
7
= data ke 11 + ) 11 ke data 12 ke data (
5
1
− = 14 + ) 14 14 (
5
1
− =14
b). Desil Data Berkelompok
Data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dihitung dengan rumus
berikut:
c
i
f
i
F n
10
i
i
Tb
i
D

+ =
Contoh 35
Tentukan nilai desil ke 4 (D
4
) dan desil ke 9 (D
9
) dari data pada contoh 32
Jawab:
Interval frekuensi (fi)
30 – 34 8
35 – 39 10
40 – 44 13
45 – 49 17
50 – 54 14
55 – 59 11
60 – 64 7
Untuk D
4
, maka i = 4
n = Jumlah seluruh frekuensi = 80
Letak D
4
= data ke- n
10
4
= data ke-32
sehingga letak D
4
pada interval ke-4,
yaitu 45 – 49, maka
Tb
4
= 45 – 0,5 = 44,5
f
4
= 17
F
4
= 8 + 10 + 13 = 31
c = 35 – 30 = 5
80
79 , 44 5 .
17
1
5 , 44 5 .
17
31 32
5 , 44 c
f
F n
Tb D
4
4
4 4
10
4
= + =

+ =

+ =
Untuk D
9
, maka i = 9
n = Jumlah seluruh frekuensi = 80
Letak D
9
= data ke n
10
9
= data ke 72
sehingga letak D
9
pada interval ke 6, yaitu 55 – 59, maka
Tb
1
= 55 – 0,5 = 54,5
f
9
= 11
F
9
= 8 + 10 + 13 + 17 + 14 = 62
05 , 59 5 .
11
10
5 , 54 5 .
11
62 72
5 , 54 c
f
F n
Tb D
9
9
9 9
10
9
= + =

+ =

+ =
85 BAB II Statistika
6). Persentil (P)
Kumpulan data yang dibagi menjadi seratus bagian yang sama, maka diperoleh
sembilan puluh sembilan pembagi dan tiap pembagi dinamakan persentil, yaitu
persentil 1, persentil 2, . . . persentil 99 dan untuk menyederhanakan disingkat dengan
P
1
, P
2
, . . . P
99
. Untuk mendapatkan persentil digunakan langkah sebagai berikut:
a. Susunlah data menurut urutan nilainya.
b. Tentukan letak persentilnya.
c. Hitung nilai persentilnya.
Letak persentil ke i dapat ditentukan dengan rumus berikut:
Letak P
i
= data ke
100
) 1 n ( i +
dengan i = 1, 2, . . . ,99
Persentil dari data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dihitung
dengan rumus berikut:
c
i
f
i
F n
100
i
Tb
i
P

+ =
Contoh 36
Tentukan persentil ke 30 (P
30
) dari data berikut:
Interval f
140 – 144 5
145 – 149 15
150 – 154 20
155 – 159 30
160 – 164 16
165 – 169 8
170 – 174 6
Jawab:
Untuk P
30
, maka i = 30
n = Jumlah seluruh frekuensi = 100
Letak P
30
= data ke n
100
30
= data ke 30, sehingga letak P
30
pada interval ke 3, yaitu
150 – 154, maka
Tb = 150 – 0,5 = 149,5
f
30
= 20
F
30
= 5 +15 = 20
152 5 .
20
10
5 , 149
5 .
20
20 30
5 , 149
c
30
f
30
F n
100
30
Tb
30
P
= + =

+ =

+ =


86 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Jangkauan persentil dari sekumpulan data yang mempunyai persentil ke-10 (P
10
) dan
Persentil ke-90 (P
90
) adalah sebagai berikut:
JP = P
90
– P
10
Keterangan:
JP = Jangkauan Persentil
P
10
= Persentil ke-10
P
90
= persentil ke-90

Contoh 37
Dari data pada contoh 36, tentukan jangkauan persentilnya:
Jawab:
Interval f
140 – 144 5
145 – 149 15
150 – 154 20
155 – 159 30
160 – 164 16
165 – 169 8
170 – 174 6
Untuk P
10
, maka i = 10 Untuk P
90
, maka i = 90
n = Jumlah seluruh frekuensi = 100
Letak P
90
= data ke n
100
90
= data ke-90,
sehingga letak P
90
pada interval ke 6,
yaitu 165 – 169, maka
Tb = 165 – 0,5 = 164,5
f
90
= 8
F
90
= 5 + 15 + 20 + 30 + 16 = 86
n = Jumlah seluruh frekuensi = 100
Letak P
10
= data ke n
100
10
= data ke-10,
sehingga letak P
10
pada interval ke 2,
yaitu 145 – 149, maka
Tb = 145 – 0,5 = 144,5
f
10
= 15
F
10
= 5
17 , 146 67 , 1 5 , 144
5 .
15
5 10
5 , 144
c
10
f
10
F n
100
10
Tb
10
P
= + =

+ =

+ =
0 , 167 5 , 2 5 , 144
5 .
8
86 90
5 , 144
c
90
f
90
F n
100
90
Tb
90
P
= + =

+ =

+ =
Jadi, JP = P90 – P10
= 167,0 – 146,17 = 20,83
7). Angka Baku
Angka baku adalah nilai yang menyatakan perbandingan antara selisih data dengan
rata-ratanya berbanding simpangan baku data tersebut. Angka baku disebut juga Z
score, oleh karena itu angka baku dilambangkan dengan huruf Z.
87 BAB II Statistika
Kegunaan angka baku ini adalah untuk mengetahui perbedaan suatu kejadian
dibanding dengan kebiasaannya. Semakin besar angka bakunya semakin baik nilai
tersebut dibandingkan dengan nilai lain yang memiliki angka baku lebih kecil.
Angka baku dirumuskan sebagai berikut:
Z =
S
x x
i

Dengan Z = angka baku
x
i
= nilai suatu data
x = rata-rata hitung
S = Simpangan baku
Contoh 38
Diketahui data: 2, 7, 8, 10, 4, dan 5. Tentukan Angka baku dari data 2 dan 7!
Jawab:
Untuk menentukan angka baku suatu data, ditentukan dahulu rata-rata dan simpangan
bakunya.
6
6
5 4 10 8 7 2
x =
+ + + + +
=
Simpangan bakunya adalah:

− =
2
i
) x x (
n
1
s
( )
65 , 2 7
) 1 4 16 4 1 16 (
6
1
) 6 5 ( ) 6 4 ( ) 6 10 ( ) 6 8 ( ) 6 7 ( ) 6 2 (
6
1
s
2 2 2 2 2 2
= =
+ + + + + =
− + − + − + − + − + − =
Angka baku dari data 2 : Z =
S
x x
i

=
7
4
7
6 2
− =

= 7
7
4
− =
Angka baku dari data 7 : Z =
S
x x
i

=
7
1
7
6 7
− =

= 7
7
1
=
Contoh 39
Rata-rata dan standar deviasi nilai ujian matematika suatu kelas masing-masing adalah
6,5 dan 1,5. Jika Ani adalah siswa kelas tersebut dan mendapat nilai 6,0 tentukan
angka baku dari nilai matematika Ani.
Jawab:
Z =
S
x x
i

=
3
1
5 , 1
5 , 0
5 , 1
5 , 6 0 , 6
− = − =

Contoh 40
Seorang siswa mendapat nilai 81 dalam Agama dan 53 dalam Matematika. Jika nilai
rata-rata dan simpangan baku Agama adalah 78 dan 12. Nilai rata-rata dan simpangan
baku Matematika 51 dan 6. Mana yang lebih baik, nilai Agama atau nilai matematika
siswa tersebut?


88 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
Angka baku nilai Agama: Z =
S
x x
i

= 25 , 0
12
3
12
78 81
= =

Angka baku nilai Matematika: Z =
S
x x
i

= 33 , 0
6
2
6
51 53
= =

Dari angka baku kedua nilai di atas, angka baku nilai Matematika lebih besar dari
angka baku nilai Agama, sehingga nilai Matematika 53 lebih baik dari nilai Agama 81
8). Koefisien variasi
Koefisien variasi adalah perbandingan antara simpangan baku dengan rata-rata suatu
data dan dinyatakan dalam %.
Koefisien variasi dirumuskan sebagai berikut:
% 100 .
x
S
KV =
Keterangan: KV = koefisien variasi
Semakin kecil nilai KV semakin seragam (homogen) data, dan semakin baik data
tersebut. Semakin besar nilai KV semakin tidak seragam (heterogen) data, dan
semakin kurang baik data tersebut.
Contoh 41
Lampu neon rata-rata dapat dipakai selama 2.800 jam dengan simpangan baku 700
jam, sedang lampu pijar dapat dipakai rata-rata selama 3.500 jam dengan simpangan
baku 1.050 jam. Dari data di atas lampu manakah yang lebih baik.
Jawab:
Koefisien variasi pemakaian lampu neon: % 100 .
x
S
KV =
= % 25 % 100 .
800 . 2
700
=
Koefisien variasi pemakaian lampu pijar: % 100 .
x
S
KV =
= % 30 % 100 .
500 . 3
050 . 1
=
Dari perhitungan koefisien variasi, lampu neon lebih baik dari lampu pijar, karena KV
neon < KV lampu pijar
c. Rangkuman
1. Range = data terbesar – data terkecil = x
max
– x
min
2. Rata-Rata Simpangan dirumuskan: ∑ − = | x x |
n
1
RS
i
Untuk data yang berbobot atau data berkelompok: ∑ − = | x x | f
n
1
RS
i i
89 BAB II Statistika
3. Simpangan baku atau deviasi standar (S) dirumuskan :
∑ − =
2
i
) x x (
n
1
S atau










− =
n
) x (
x
n
1
S
2
i 2
i
Untuk data yang berbobot atau berkelompok, menggunakan rumus
∑ − =
2
i i
) x x ( f
n
1
S , sedangkan varians = S
2
4. Kuartil data berkelompok dirumuskan: c
f
F n
Tb Q
i
i
4
i
i i

+ =
Tb
i
= Tepi bawah kuartil ke-i.
F
i
= Jumlah frekuensi sebelum frekuensi kuartil ke-i.
f
i
= Frekuensi kuartil ke-i. i = 1, 2, 3
n = Jumlah seluruh frekuensi.
C = Panjang interval kelas.
5. Jangkauan kuartil dan simpangan kuartil dirumuskan:
JQ = Q
3
– Q
1
dan ) Q Q (
2
1
Qd
1 3
− =
6. Desil data kelompok dirumuskan: c
i
f
i
F n
10
i
i
Tb
i
D

+ =
7. Kuartil data kelompok dirumuskan: c
i
f
i
F n
100
i
Tb
i
P

+ =
Jangkauan persentil dirumuskan: JP = P
90
– P
10

8. Angka baku dirumuskan: Z =
S
x x
i

9. Koefisien variasi dirumuskan: % 100 .
x
S
KV =
1. Tentukan Kuartil bawah, kuartil atas, jangkauan kuartil, simpangan kuartil, , desil
ke-4, desil ke-8, dan jangkauan persentil dari data di bawah ini !
a. 4, 6, 8, 5, 5, 15, 9, 8, 10, 12, 14, 17, 16
b. 6, 6, 7, 8, 9, 9, 10, 11, 11, 12, 7, 7, 12, 10, 10, 13, 14, 15
c. 2, 2, 4, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 8, 5, 6, 9, 4, 4, 9, 10
d. 10, 11, 12, 13, 14, 18, 18, 20, 15, 15, 18, 13, 12
2. Tentukan simpangan kuartil, desil ke 3, desil ke 6, persentil ke 45, persentil ke 65,
persentil ke 90, dan jangkauan persentil (persentil hanya data pada 2c) dari data
di bawah ini:


90 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
a. b. c.
x F x f x f
2 3 4 6 10 15
3 7 5 10 20 28
4 6 6 24 30 37
5 4 7 16 40 12
8 4 50 8
3. Tentukan, simpangan kuartil, desil ke 3, desil ke 6, persentil ke 45, persentil ke 65,
dan jangkauan persentil dari data di bawah ini:
a. b. c.
Interval f Interval f Interval f
1 – 20 9 2 – 5 8 31 – 40 10
21 – 40 16 6 – 9 12 41 – 50 12
41 – 60 25 10 – 13 10 51 – 60 25
61 – 80 7 14 – 17 6 61 – 70 22
81 - 100 3 18 – 21 4 71 – 80 20
81 – 90 6
91 – 100 5
4. Lampu A rata-rata dapat dipakai selama 2.900 jam dengan simpangan baku 650
jam, sedang lampu B dapat dipakai rata-rata selama 3.200 jam dengan simpangan
baku 950 jam, dan lampu C dapat dipakai rata-rata 3.700 dengan simpangan baku
1.175 jam. Dari data tersebut lampu manakah yang lebih baik?
5. Dari soal no.3, tentukan masing-masing koefisien variasinya dan simpulkan dari
koefisien variasi tersebut!
6. Dari data: 6, 10, 2, 12, 4, 7, dan 8
a. Rata-rata dan simpangan baku
b. Angka baku dari data 2 dan 8
c. Koefisien variasi
7. Lakukan hal yang sama seperti nomor 6 dari data:
x 2 4 6 8 10 12
f 2 3 5 6 3 1
8. Hasil tes seorang siswa dari 5 bidang studi diperoleh data sebagai berikut:
Matematika Agama PKn Kewirausahaan B. Indo
Nilai 52 74 67 82 81
Rata-rata 45 69 61 76 85
Simpangan baku 5 8 7,5 12 4,5
Dari data di atas, tentukan:
a. Angka baku dan koefisien variasi masing-masing bidang studi
b. Bidang studi manakah yang paling homogen dan bidang studi manakah yang
lebih baik?
91 BAB II Statistika
1. Simpangan baku dari data : 2, 3, 5, 8, 7 adalah ....
a. 2 , 5 c. 6 e. 7
b. 25 , 5 d. 5 , 6
2. Dibawah ini adalah tabel tinggi badan 20 anak balita:
Tinggi (cm) 60 65 70 75 80
f 1 2 8 6 3
Rata-rata tinggi anak balita tersebut adalah ....
a. 68 cm c. 70 cm e. 72 cm
b. 69 cm d. 71 cm
3. Rata-rata geometrik dari data : 2, 4, 1, 8, 1, 1 adalah ....
a. 1 c. 4 e. 16
b. 2 d. 8
4. Dari hasil pengukuran tinggi badan siswa pada sebuah kelas diperoleh tinggi
badan rata-rata siswa laki-laki 160 cm dan siswa wanita 150 cm. Jika jumlah
siswa laki-laki adalah 25 orang dan wanita 15 orang, maka tinggi rata-rata
gabungan siswa kelas tersebut adalah ....
a. 153,75 cm c. 156,00 cm e. 156,50 cm
b. 155,00 cm d. 156,25 cm
5. Diagram berikut menunjukkan frekuensi produksi suatu barang yang dihasilkan
oleh sebuah pabrik selama 12 bulan. Rata-rata produksi barang tiap bulan
adalah:
a. 35,00 ton
b. 35,63 ton
c. 37,50 ton
d. 38,33 ton
e. 50,00 ton

6. Tinggi badan 34 siswa suatu kelas tercatat seperti dalam tabel berikut:
Tinggi (cm ) frekuensi
145 – 149 3
150 – 154 5
155 – 159 12
160 – 164 7
165 – 169 5
170 – 174 2
Setelah data diurutkan, tinggi badan yang
membagi data di atas menjadi 2 kelompok sama
banyak adalah ....
a. 155,25 cm
b. 155,68 cm
c. 155,74 cm
d. 157,63 cm
e. 158,25 cm
Jumlah 34
7. Hasil pendataan usia dari 12 balita (dalam tahun ) diketahui sebagai berikut:
4, 3, 4, 4, 2, 1, 1, 2, 1, 3, 3, 4 . Kuartil atas dari data di samping adalah ....
a. 1,0 c. 2,0 e. 4,0
b. 1,5 d. 3,5


92 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
8. Banyaknya sepeda motor yang terjual dalam 5 minggu terakhir pada suatu
dealer dalam unit adalah 3, 4, 6, 7, 5. Rata-rata simpangan data tersebut
adalah ....
a. 1,2 c. 1,5 e. 2,3
b. 1,4 d. 1,8
9. Berat badan 50 siswa tercatat seperti pada tabel berikut:
Berat (kg) F
35 – 39 3
40 – 44 14
45 – 49 17
50 – 54 10
Jumlah siswa paling banyak mempunyai
Berat badan ....
a. 43,5 kg
b. 46,0 kg
c. 47,0 kg
d. 47,4 kg
e. 51,0 kg
55 – 59 6
10. Diagram disamping menunjukkan cara yang ditempuh oleh 180 siswa SMA
untuk berangkat sekolah. Jumlah siswa yang tidak naik mobil ke sekolah
adalah ....
a. 18 siswa
b. 36 siswa
c. 45 siswa
d. 72 siswa
e. 171 siswa
Nilai Frekuensi
41 – 45 1
46 – 50 6
51 – 55 12
56 – 60 8
61 – 65 3
11.Tabel di samping merupakan hasil tes calon karyawan
PT X. Jika yang tidak lulus 60 %, batas tertinggi nilai
yang tidak lulus adalah ....
a. 52,5
b. 53,7
c. 54,4
d. 55,1
e. 56,0
jumlah 30
12. Nilai hasil ulangan matematika dari 12 siswa adalah sebagai berikut:
6, 8, 5, 7, 6, 8, 5, 9, 6, 6, 8, 7. Median dari data tersebut adalah ....
a. 6 c. 7 e. 8,5
b. 6,5 d. 8
13. Rataan harmonik dari data : 3, 2, 12, 6, 1 adalah ....
a.
12
5
c.
12
7
e.
5
12
b.
25
12
d.
7
12
Nilai f x d f .d
55 – 59 4 -10
60 – 64 10 -5
65 – 69 17 67 0
70 – 74 14 5
75 – 79 5 10
14.Jika rata-rata sementara data pada tabel
di samping adalah 67, maka nilai rata-rata
kelompok tersebut adalah ....
a. 66,7 d. 70,0
b. 67,3 e. 71,2
c. 67,6
50
93 BAB II Statistika
15. Diagram batang di samping
menggambarkan lulusan SMA dari
tahun 1992 sampai 1996. Banyaknya
lulusan yang tidak menganggur
selama 1992 sampai 1995 adalah ....
a. 1.525 orang d. 1.600 orang
b. 1.550 orang e. 1.675 orang
c. 1.575 orang
Nilai 5 6 7 8 9
f 6 8 10 x 4
16. Nilai rata-rata pada tabel di samping
sama dengan 7, maka nilai x adalah ....
a. 18 d. 10
b. 16 e. 7
c. 12
Panjang (cm) Frekuensi
101 – 105 2
106 – 110 8
111 – 115 22
116 – 120 40
121 – 125 18
126 – 130 7
17.Hasil pengukuran panjang potongan besi
disajikan pada tabel di samping. Desil ke 8 dari
data tersebut adalah ....
a. 121,50
b. 121,72
c. 122,72
d. 123,12
e. 123,72
131 – 135 3
18.Hasil tes pelajaran matematika 15 orang siswa adalah sebagai berikut:
30, 45, 55, 60, 60, 65, 85, 75, 75, 55, 60, 35, 30, 50. Jangkauan semi inter kuartil
(Qd) data tersebut adalah ....
a. 10,5 c. 11,5 e. 13,0
b. 11,0 d. 12,5
19.Nilai ulangan mata pelajaran matematika 15 siswa adalah 5, 6, 7, 9, 7, 4, 7, 6, 8,
8, 9, 7, 4, 6, 5. Median dari data tersebut adalah ....
a. 5,0 c. 7,0 e. 8,0
b. 6,5 b. 7,5
Nilai 4 5 6 7 8 9
20.Perhatikan nilai ulangan pada tabel
di samping. Rata-rata hitung dari ulangan
tersebut adalah ....
a. 6.00 c. 6,59 e. 7,37
b. 6,27 d. 7,27
f 3 6 8 8 3 2
Nilai frekuensi
40 – 49 2
50 – 59 4
60 – 69 5
70 – 79 7
80 – 89 4
21. Nilai ulangan mata pelajaran matematika
pada suatu kelas seperti tampak pada tabel
di samping. Modus data tersebut adalah ....
a. 73,5 c. 74,5 e. 75,9
b. 74,0 d. 75,0

90 – 99 3


94 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
22. Keadaan siswa suatu sekolah seperti
terlihat pada gambar di samping.
Jumlah siswa perempuan sekolah
tersebut adalah ....
a. 155 orang d. 220 orang
b. 175 orang e. 250 orang
c. 200 orang
23. Umur rata-rata dari sekelompok data terdiri dari guru dan karyawan adalah 40
tahun. Jika umur rata-rata para guru adalah 35 tahun dan umur rata-rata
karyawan adalah 50 tahun, perbandingan banyaknya guru dan karyawan
adalah....
a. 3 : 2 c. 2 : 3 e. 1 : 2
b. 3 : 1 d. 2 : 1
24. Gaji rata-rata karyawan di sebuah perusahaan sebesar Rp2.000.000,00 dan gaji
Pak karta Rp1.400.000,00 perbulan. Jika nilai Z score Pak Karta = -15, maka
simpangan bakunya adalah ....
a. Rp40.000,00 c. Rp100.000,00 e. Rp600.000,00
b. Rp50.000,00 d. Rp150.000,00
25. Gaji rata-rata karyawan di sebuah perusahaan sebesar Rp2.500.000,00 dan
koefisien variasi 3,2% , maka simpangan baku adalah ....
a. Rp2.000,00 c. Rp25.000,00 e. Rp200.000,00
b. Rp20.000,00 d. Rp80.000,00
B. Essay
1. Nilai ujian matematika dari 10 orang siswa disajikan pada tabel berikut:
Interval f
31 – 40 10
41 – 50 12
51 – 60 25
61 – 70 22
71 – 80 20
81 – 90 6
Tentukanlah!
a. Banyaknya siswa yang mendapat nilai lebih dari 70,5
b. Banyaknya siswa yang mendapat nilai kurang dari 80,5
c. Jika batas lulus yang disyaratkan adalah 65, berapakah
jumlah siswa yang lulus pada ujian tersebut?
d. Jika 25 % siswa dinyatakan mendapat nilai terbaik,
berapakah nilai minimum yang harus diperoleh siswa agar
mendapat predikat terbaik?
91 – 100 5

2. Tentukan Simpangan kuartil, jangkauan persentil, desil ke-7, rata-rata hitung,
median dan modusnya dari data:
Berat badan
(kg)
frekuensi
41-45
46-50
51-55
56-60
61-65
66-70
5
8
12
7
6
2
37
Statistika
Di Sekolah Dasar, kamu telah mempelajari Statistika, di antaranya cara
menyajikan data dalam bentuk diagram dan menghitung rata-rata dari
sekelompok data. Pada bagian ini, materi tersebut akan dikembangkan
sampai dengan ukuran pemusatan dan ukuran penyebaran data.
Lima orang siswa ditanya mengenai waktu belajar di rumah setiap
harinya, hasilnya ditampilkan pada tabel berikut.
Dari tabel tersebut, dapatkah kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut?
a. Siapakah yang waktu belajarnya paling lama?
b. Berapa menit rata-rata kelima siswa tersebut belajar di rumah
setiap harinya?
c. Berapa menit jangkauannya?
Untuk menjawabnya, pelajari bab ini dengan baik.
A. Penyajian Data
B. Ukuran
Pemusatan Data
C. Ukuran
Penyebaran
Data
3
Bab
S
u
m
b
er: Dokumentasi Penulis
Nama Waktu (menit)
Hanif
Erika
Maria
Cucu
Yadi
30
60
60
75
30
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
38
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
A. Penyajian Data
1. Pengertian Data dan Statistika
Statistika sangat erat kaitannya dengan data. Oleh karena itu, sebelum
membahas mengenai statistika, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai data.
Data merupakan kumpulan datum, di mana datummerupakan fakta
tunggal. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.
Ibu guru meminta Ratna untuk mengukur tinggi badan lima siswa Kelas
XI A secara acak. Hasilnya adalah sebagai berikut.
Perhatikan Tabel 3.1 . Bilangan 155 cm merupakan tinggi badan seorang
siswa. Fakta tunggal ini dinamakan datum. Adapun hasil seluruh pengukuran
terhadap lima orang siswa disebut data.
Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 3.1 , Ratna menyimpulkan
bahwa dari kelima siswa tersebut,
(i) siswa yang paling tinggi badannya adalah Dani,
(ii) siswa yang paling pendek badannya adalah Dwi, dan
(iii) tinggi badan Willi dan Wulan sama.
Ketika Ratna menarik kesimpulan di atas, sebenarnya ia telah menggunakan
statistika. Statistika adalah ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan data,
perhitungan atau pengolahan data, serta penarikan kesimpulan berdasarkan
data yang diperoleh.
Berdasarkan jenisnya, data dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
a. Data Kuantitatif, yaitu data yang berupa bilangan dan nilainya bisa
berubah-ubah.
Contoh: Jumlah siswa Kelas IX SMP Tunas Harapan sebanyak 650 siswa.
Tuliskan olehmu, langkah-
langkah kegiatan yang
dilakukan Ratna ketika
melakukan
a. pengumpulan data,
b. pengolahan data, dan
c. penarikan kesimpulan.
Bacakan hasilnya di depan
kelasmu.
Tugas 3.1
Nama Dwi Willi Nita Wulan Dani
Tinggi (cm) 155 160 158 160 165
1. Tentukan nilai terkecil dan nilai terbesar dari
bilangan-bilangan berikut.
a. 3, 2, 5, 2, 1, 6, 7, 9, 8, 5, 5
b. 23, 30, 35, 36, 25, 27, 35, 28, 27
2. Urutkan mulai dari yang terbesar.
a. 8, 9, 3, 5, 4, 7, 8, 8, 9, 9, 5
b. 53, 25, 29, 43, 20, 11, 49, 38
3. Hitunglah:
a.
1
8
× 360°
b.
2
3
× 360°
4. Hitunglah:
a.
5 8 7 9 7 7 6
7
+ + + + + +
b.
( ) ( ) ( ) 2 3 6 4 2 5
8
× + × + ×
5.
20°
75°
90°
65°
x
Tentukan nilai x.
Uji Kompetensi Awal
Tabel 3.1 Daftar tinggi badan lima siswa Kelas IX A
Statistika
39
b. Data Kualitatif, yaitu data yang menggambarkan keadaan objek yang
dimaksud.
Contoh : Selain ramah, Andri juga pintar.
2. Populasi dan Sampel
Untuk menarik kesimpulan, kadang-kadang tidak diambil berdasarkan
keseluruhan data. Misalnya, seorang peneliti ingin menguji kandungan air
di sebuah sungai sehingga air tersebut layak diminum atau tidak. Untuk
mengetahuinya, tentu tidak praktis untuk menguji semua air yang ada di
sungai tersebut. Peneliti tersebut cukup mengambil satu gelas air sungai untuk
diuji. Pada kasus ini, seluruh air tersebut dinamakan populasi, sedangkan
satu gelas air untuk diuji dinamakan sampel.
Tentukan populasi dan i u h a t e g n e m n i g n i g n a r o e s e s a k i j n i k g n u m g n a y l e p m a s
tingkat penghasilan setiap kepala keluarga di suatu kelurahan.
Jawab:
Seluruh kepala keluarga yang ada di kelurahan tersebut merupakan populasi. Adapun
beberapa kepala keluarga yang ditanya di kelurahan tersebut merupakan sampel
an popula an popula
Contoh
Soal 3.1
3. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Untuk memudahkan membaca data, biasanya data disajikan dalam bentuk
tabel atau diagram. Pada bagian ini, akan dibahas penyajian data dalam
bentuk tabel.
Diketahui data nilai ulangan Matematika 30 siswa Kelas IX A sebagai
berikut.
6 8 7 6 6 5 7 8 8 5
9 9 8 6 7 7 7 6 8 7
10 8 8 6 6 5 9 9 7 6
Dapatkah kamu membaca data tersebut? Tentu saja dapat, meskipun
untuk membacanya memerlukan waktu yang cukup lama. Jika data tersebut
disajikan dalam tabel distribusi frekuensi, hasilnya akan tampak sebagai
berikut.
Sekarang, coba kamu baca data yang telah disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi, kemudian bandingkan, manakah yang lebih mudah untuk
dibaca?
Statistika telah digunakan
ribuan tahun yang lalu.
Statistika awal, seperti
sensus bangsa Babilonia
kuno, Mesir kuno, dan
Cina kuno, digunakan
untuk menghitung jumlah
populasi untuk tujuan
pemungutan pajak.
Sejak awal abad ke-15
sampai sekarang, ahli-ahli
statistika mulai menyadari
bahwa statistika bisa
digunakan dalam bidang
yang lebih luas, seperti
industri, kedokteran,
genetika, dan lain-lain.
Sumber: Ensiklopedi Matematika
dan Peradaban Manusia, 2002
Sekilas
Matematika
Nilai Turus Jumlah Siswa
5
6
7
8
9
10
3
8
7
7
4
1
Jumlah 30
Tabel 3.2 Tabel distribusi frekuensi nilai ulangan Matematika 30 siswa Kelas IX A
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
40
Diketahui data berat badan (dalam kg) 30 balita di sebuah kelurahan adalah sebagai
berikut.
30 30 28 27 25 29 30 25 28 30
27 25 30 26 29 29 27 25 27 26
26 25 28 30 27 27 30 30 26 26
Sajikan data tersebut dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Jawab:
Jumlah penduduk di suatu kecamatan adalah sebagai berikut.
Kelurahan A sebanyak 800 orang.
Kelurahan B sebanyak 650 orang.
Kelurahan C sebanyak 700 orang.
Sajikan data tersebut dalam bentuk piktogram.
Jawab:
i d t b i d b
Contoh
Soal 3.2
d d k d d
Contoh
Soal 3.3
Kelurahan
Jumlah Penduduk ( = 100 orang)
A
B
C
4. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
a. Diagram Gambar
Diagramgambar atau piktogramadalah bagan yang menampilkan data dalam
bentuk gambar. Menyajikan data dalam bentuk piktogram merupakan cara
yang paling sederhana.
Pada dasarnya, penyajian data dalam bentuk piktogram memang
menarik. Akan tetapi, penggunaan piktogram sangatlah terbatas. Misalnya
pada Contoh Soal 3.3 , bagaimanakah cara menggambarkan piktogram
kelurahan D yang memiliki penduduk sebanyak 627 orang? Dapatkah kamu
menggambarkannya?
Berat Badan (kg) Turus Frekuensi
25
26
27
28
29
30
5
5
6
3
3
8
Jumlah 30
www.library. gunadarma.ac.id
www. mathworld.wolfram.
com
aa aacc iidd a ac id
Situs Matematika
Statistika
41
Diketahui data suhu minimum dan suhu maksimum di kota A, B, C, D, dan E sebagai
berikut.
Kota A B C D E
Suhu Minimum (°C) 10 15 15 12 20
Suhu Maksimum (°C) 25 30 32 27 35
Sajikan data suhu minimum dalam diagram batang vertikal dan suhu maksimum
dalam diagram batang horizontal.
Jawab:
a. Diagram Batang Vertikal b. Diagram Batang Horizontal
i d t i d
Contoh
Soal 3.4
b. Diagram Batang
Diagram batang biasanya digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk
kategori. Untuk menggambar diagram batang, diperlukan sumbu datar dan
sumbu tegak yang saling berpotongan. Terdapat dua macam diagram batang,
yaitu diagram batang vertikal dan diagram batang horizontal.
A
5
10
15
20
B C D E
S
u
h
u

m
i
n
i
m
u
m

(
°
C
)
Kota
5
A
B
C
D
E
10 15 20
Suhu maksimum (°C)
K
o
t
a
25 30 35
c. Diagram Garis
Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data yang berkesi-
nambungan dan berkala. Seperti pada diagram batang, untuk menggambar
diagram garis, diperlukan sumbu datar dan sumbu tegak yang saling
berpotongan.
Diketahui data jumlah TV berwarna yang terjual di toko elektronik Maju Bersama
setiap bulannya pada tahun 2006 adalah sebagai berikut.
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des
Jumlah
TV
20 15 12 10 15 17 10 10 15 20 15 25
Sajikan data tersebut dalam bentuk diagram garis.
ui data ju ui data ju
Contoh
Soal 3.5
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
42
Jawab:
d. Diagram Lingkaran
Diagram lingkaran biasanya digunakan untuk menunjukkan perbandingan
suatu data terhadap keseluruhan. Biasanya, besar daerah pada lingkaran
dinyatakan dalam persen (%) atau derajat (° ). Untuk diagram lingkaran
yang dinyatakan dalam derajat, kamu harus membagi lingkaran menjadi
juring-juring atau sektor-sektor. Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh
soal berikut.
Diketahui data warna yang disukai 40 anak usia 12 sampai dengan 15 tahun sebagai
berikut.
Warna Frekuensi
Putih
Merah muda
Merah
Biru
Kuning
Hijau
10
4
8
8
5
5
Sajikan data tersebut dalam bentuk diagram lingkaran.
Jawab:
Sebelum menyajikan data tersebut dalam bentuk diagram lingkaran, tentukan besar
sudut pusat juring untuk setiap warna.
Putih =
10
40
× 360° = 90° Biru =
8
40
× 360° = 72°
Merah muda =
4
40
× 360° = 36° Kuning =
5
40
× 360° = 45°
Merah =
8
40
× 360° = 72° Hijau =
5
40
× 360° = 45°
ui data w ui data w
Contoh
Soal 3.6
Carilah informasi bagaimana
menyajikan diagram
lingkaran dalam persen (%).
Kemudian, sajikan data pada
Contoh Soal 3.6 dalam
bentuk diagramlingkaran
dalam persen (%)
Tugas 3.2
Jan
5
10
15
20
25
Feb Mar Apr
Bulan
J
u
m
l
a
h
T
V
Mei Jun Jul Agt Okt Sep Nov Des
Diagram di bawah ini
menggambarkan hobi 40
siswa di suatu sekolah.
Banyak siswa yang hobi
sepakbola adalah ....
a. 4 orang
b. 6 orang
c. 8 orang
d. 14 orang
Jawab:
Jumlah siswa = 40 siswa.
Besar sudut untuk siswa
yang gemar sepakbola
adalah
360˚– (36˚+ 72˚+ 126 ˚+ 72˚) = 54°.
Jadi, banyaknya siswa yang
hobi sepakbola adalah
54
360
˚
˚
x 40 siswa = 6 siswa.
Jawaban: b
Soal UN, 2007
Menyanyi
(musik)
126˚
Menari
Voli
Sepak
bola
Melukis
72˚
72˚
36˚
Solusi
Matematika
Statistika
43
Putih Hijau
Kuning
Merah Muda
Merah
Biru
72°
72°
36°
90°
45°
Diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
7. Banyaknya buku yang terjual di toko buku Gemar
Membaca selama satu minggu adalah sebagai
berikut.
Hari Jumlah Buku
Senin 40
Selasa 25
Rabu 35
Kamis 40
Jumat 30
Sabtu 50
Minggu 55
Buatlah diagram garis dari data tersebut.
8. Perhatikan diagram batang berikut.
50
100
2001 2002 2003 2004 2005 2006
150
200
250
300
a. Buatlah judul yang sesuai dengan diagram
batang tersebut.
b. Pada tahun berapa terjadi kenaikan jumlah
perempuan dan laki-laki terbesar ?
c. Pada tahun berapa terjadi penurunan jumlah
perempuan dan laki-laki terbesar ?
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Tentukan populasi dan sampel yang mungkin dari
pernyataan-pernyataan berikut ini.
a. Petugas puskesmas ingin mengetahui tingkat
kesehatan balita di suatu kelurahan.
b. Ibu mencicipi sayur sop untuk mengetahui
rasanya.
2. Buatlah masing-masing tiga contoh populasi dan
sampelnya.
3. Diketahui nilai tes IPA 20 siswa sebagai berikut.
78 53 60 65 88 78 60 50 77 53
55 80 85 85 85 70 70 65 53 78
Tentukan datum terkecil dan datum terbesar dari
data tersebut.
4. Berikut adalah tabel jenis olahraga yang disukai
oleh siswa Kelas IXA.
Jenis Olahraga Jumlah Siswa
Sepakbola
Bulutangkis
Kasti
Basket
Voli
30
25
10
20
15
Sajikan data tersebut dalam bentuk piktogram.
5. Banyak anak yang dimiliki setiap keluarga di suatu
daerah adalah sebagai berikut.
4, 3, 4, 0, 0, 1, 2, 4, 5, 3 , 2, 3, 5, 2, 2, 2, 1, 0, 0
Sajikan data tersebut dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi, kemudian tentukan:
a. banyak keluarga yang disurvei.
b. banyak keluarga yang tidak memiliki anak.
6. Misalkan, data mengenai jumlah siswa SD, SMP,
SMA, dan Perguruan Tinggi di suatu kota pada
tahun 2006 berturut-turut adalah 14.600 orang,
12.800 orang, 9.500 orang, dan 6.700 orang.
Buatlah diagram batang dari data tersebut.
Bersama kelompok belajarmu,
carilah contoh lain
penggunaan diagram batang,
garis, dan lingkaran dalam
kehidupan sehari-hari. Kamu
dapat mencarinya di koran
atau majalah. Kemudian,
ceritakan data yang diwakili
diagram-diagramtersebut di
depan kelas
Perempuan
Laki-laki
Tugas 3.3
Uji Kompetensi 3.1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
44
9. Diketahui data cara 100 siswa Kelas IX pergi ke
sekolah.
Jenis Kendaraan Jumlah Siswa
Jalan kaki
Bis
Angkutan umum
Sepeda
Jemputan
20
15
25
30
10
Buatlah diagram lingkaran dari data tersebut.
10. Perhatikan diagram lingkaran berikut.
Ketela
Padi
Gandum
Jagung
72°
90°
180°
Diagramlingkarantersebut menunjukanbanyaknya
hasil pertanian (dalam ton) di suatu daerah. Jika
hasil pertanian di daerah tersebut 40 ton, tentukan
jumlah hasil panen padi, jagung, gandum, dan
ketela.
B. Ukuran Pemusatan Data
1. Mean
Salah satu ukuran pemusatan data adalah mean atau rata-rata. Mean suatu
data adalah jumlah seluruh datum dibagi oleh banyaknya datum. Mean
dilambangkan dengan huruf kecil dengan garis diatasnya. Misalnya n , x , atau
y . Akan tetapi, biasanya mean dilambangkan dengan x (dibaca eks bar).
Jika suatu data terdiri atas n datum, yaitu x
1
, x
2
, ... x
n
, mean dari data
tersebut dirumuskan sebagai berikut.
Mean ( x ) =
Jumlahdatum
Banyak datum
=
+ + + x x x
n
n 1 2
...
Nilai delapan kali ulangan Matematika Dina adalah sebagai berikut.
8, 8, 6, 7, 6, 7, 9, 9
Tentukan mean dari data tersebut.
Jawab:
x
=
jumlahdatum
banyak datum
=
8 8 6 7 6 7 9
8
+ + + + + +
=
60
8
7 5 = ,
Jadi, mean dari data tersebut adalah 7,5
Rata-rata nilai ulangan Geografi 10 orang siswa adalah 7,0. Jika nilai Rino
dimasukkan, nilai rata-rata tersebut berubah menjadi 6,8. Tentukan nilai ulangan
Geografi Rino.
Jawab:
x =
x x x
n
n 1 2
+ + + ...
7,0 =
x x x
x x x
1 2 10
1 2 10
10
70
+ + +
+ + + =
...
... maka
lapan kal lapan ka
Contoh
Soal 3.7
il i il i
Contoh
Soal 3.8
Perhitungan mean dapat
dilakukan dengan kalkulator
Misalnya, diketahui data
sebagai berikut.
6, 7, 6, 8, 5, 7
Untuk menghitung
mean dari data tersebut,
sebelumnya kamu harus
menset kalkulator tersebut
pada fungsi statistika, yaitu
dengan menekan tombol dengan m
MODE
ene n m
E 3 . Kemudian,
tekan tombol
Kemud . K
ol SHIFT
ian, ian,
T KAC
tteekan
6
nn tttombo om ol SH eekkan an
6 DATA
mbo mbo m
A 7
HIFT T K SH oool ol S
7 DATA
KAC FTT K
A 6 66 DAT A A TTA
DATA
DAT A A TT
A 8
A 77 D AA 77 D A
8 DATA
DAT A A TT DAT A A TT DAT A A TT
A
5
A 6 A 6 AAA
5 DATA
DAT A A T
7
AA 88 D DAT A A TT
7 DATA . Kemudian, untuk
menentukan meannya, tekan
tombol
nntu tukkan mea an
ol SHIFT
anny mea
T x . Hasilnya
pada layar adalah 6,5.
n dapat n dapat
p y
Sudut Tekno
+
Statistika
45
Jika nilai Rino (x
n + 1
= x
11
) dimasukkan,
6,8 =
x x x x
1 2 10 11
11
+ + + + ...
maka 6 8
70
11
11
, =
+ x

74,8 = 70 + x
11
x
11
= 74,8 – 70
= 4,8
Jadi, nilai ulangan Geografi Rino adalah 4,8
Misalkan suatu data terdiri atas n datum, yaitu x
1
, x
2
, ... x
i
, dan memiliki
frekuensi f
1
, f
2
, ..., f
i
seperti yang disajikan pada Tabel 3.2 .
Mean dari data tersebut dinyatakan oleh rumus sebagai berikut.
x
f x f x f x
f f f
i i
i
=
+ + +
+ + +
1 1 2 2
1 2
...
...
Nilai
(x
i
)
Frekuensi
(f
i
)
x
1

x
2

.
.
.
x
n
f
1
f
2
.
.
.
f
n
Hasil pengukuran berat badan 10 siswa SMP disajikan di dalam tabel distribusi
frekuensi seperti pada gambar tersebut.
Berat Badan (kg)
(x
i
)
Frekuensi
(f
i
)
f
i
·x
i
42
43
44
45
2
3
1
4
84
129
44
80
Jumlah 10 437
Tentukan mean dari data tersebut.
Jawab:
x
f x f x f x f x
f f f f
=
+ + +
+ + +
1 1 2 2 3 3 4 4
1 2 3 4
=
2 42 3 43 1 44 4 45
2 3 1 4
x ( ) + x ( ) + x ( ) + x ( )
+ + +

=
+ + +
= =
84 129 44 80
10
437
10
43 7 ,
Jadi, mean dari data tersebut adalah 43,7 kg
Berikut adalah data penjualan berbagai merek TV berwarna di toko elektronik
Maju selama satu bulan.
Merek A B C D E F
Jumlah 5 3 7 4 5 6
engukuran engukura
Contoh
Soal 3.9
d l h d d l h d
Contoh
Soal 3.10
2. Modus
Dalam 12 kali ulangan Bahasa Indonesia, Ucok memperoleh tujuh kali nilai 8.
Artinya, nilai yang paling sering diperoleh Ucok adalah 8. Dalam statistika,
nilai yang paling sering muncul di dalam suatu data disebut modus. Modus
suatu data bisa satu, dua, tiga, atau lebih, bahkan tidak ada.
Perhatikan tabel di bawah
ini.
Nilai 4 5 6 7 8
Frekuensi 2 4 7 5 2
Tabel tersebut menunjukkan
data nilai ulangan
matematika sekelompok
siswa. Nilai rata-rata dari
data tersebut adalah ....
a. 6,50 c. 6,00
b. 6,05 d. 5,00
Jawab:
Rata-rata =
jumlah datum
banyak datum
=
+ + + + 8 20 42 35 16
20
= =
121
20
6 05 ,
Jadi, rata-ratanya adalah
6,05.
Jawaban: b
Soal UN, 2006
Solusi
Matematika
Tabel 3.3 Tabel distribusi
frekuensi
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
46
TV berwarna merek apakah yang paling banyak terjual selama satu bulan tersebut?
Jawab:
Modus = nilai yang paling sering muncul
= 7
Jadi, TV berwarna yang paling banyak terjual adalah TV merek C
Diberikan sekumpulan data sebagai berikut.
1, 4, 3, 5, 2, 3, 2, 2 , 5, 4, 3, 1
Tentukan modus dari data tersebut.
Jawab:
Perhatikan data tersebut dan beri tanda pada datum/nilai yang paling sering muncul.
1, 4, 3, 5, 2 , 3, 2 , 2 , 5, 4, 3, 1
Datum yang paling sering muncul adalah 2.
Jadi, modus dari data tersebut adalah 2
Tentukan median dari data berikut.
6, 7, 6, 6, 5, 8, 7
Jawab:
Urutkan data terlebih dahulu.
5, 6, 6, 6 , 7, 7, 8 (banyaknya datum = 7 (ganjil)).
Median
Jadi, median dari data tersebut adalah 6
Setelah delapan kali ulangan Fisika, Budhi memperoleh nilai sebagai berikut.
7, 7, 10, 8, 6, 6, 7, 8. Tentukan median dari data tersebut.
Jawab:
Setelah diurutkan, data nilai Fisika Budhi akan tampak seperti berikut.
6, 6, 7, 7, 7, 8 8, 10 (banyaknya datum = 8 (genap)).

Median =
7 7
2
+
= 7
Jadi, median dari data tersebut adalah 7
3. Median
Median adalah nilai tengah suatu data yang telah diurutkan. Dengan demikian,
median membagi data menjadi dua bagian sama banyak. Cara penentuan
median tergantung pada banyaknya datum.
an sek mp k
Contoh
Soal 3.11
di di
Contoh
Soal 3.12
d l k
Contoh
Soal 3.13
Jika pada suatu data jumlah datumnya ganjil, mediannya adalah nilai
tengah data yang telah diurutkan. Jika pada suatu data jumlah datumnya
genap, mediannya adalah mean dari dua datum yang di tengah setelah
data diurutkan.
v
v
Statistika
47
Tentukan mean, modus, dan median data pada tabel-tabel berikut.
a. b.
4. Data nilai ulangan Bahasa Indonesia 15 siswa
Kelas XI adalah sebagai berikut.
7, 5, 4, 6, 5, 7, 8, 6, 4, 4, 5, 9, 5, 6, 4
Jika siswa yang dianggap lulus adalah yang nilainya
di atas rata-rata, tentukan banyak siswa yang lulus.
5. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan pakaian selama satu bulan, diperoleh
data nomor celana yang terjual selama satu bulan,
yaitu sebagai berikut.
27 35 32 30 30 32 32 28
29 30 32 27 27 30 28 29
29 29 27 28 28 30 32 27
Tentukan modus dari data tersebut.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Tentukan mean dari data-data berikut.
a. 3, 2, 4, 3, 3, 5, 4
b. 12, 14, 14, 13, 10, 12
c. 27, 30, 29, 28, 27, 30, 28, 27
d. 7,5; 6,5; 4,5; 6,5; 4,5; 5,5; 5,5; 6,5; 7,5; 7,5
2. Mean dari 10 data adalah 5,8. Tentukan jumlah
seluruh data tersebut.
3. Rata-rata tinggi badan 15 anak adalah 152 cm.
Jika tinggi badan Indra dimasukkan ke dalam
perhitungan tersebut, rata-ratanya menjadi 152,5 cm.
Tentukan tinggi badan Indra.
Contoh
Soal 3.14
Nilai (x
i
) Frekuensi (f
i
)
5
6
7
8
9
10
4
5
5
8
2
1
Nilai (x
i
) Frekuensi (f
i
)
5
6
7
8
9
10
3
5
8
8
5
3
Jawab:
a. (i) Mean = x
x f x f x f x f x f x f
f f f f
=
+ + + + +
+ + + +
1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6
1 2 3 4
ff f
5 6
5 4 6 5 7 5 8 8 9 2 10
+
=
× + × + × + × + × +

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ××
+ + + + +
= =
1
4 5 5 8 2 1
177
25
7 08
)
,
Jadi, mean dari data tersebut adalah 7,08.
(ii) Modus adalah nilai yang paling sering muncul. Pada tabel (a), nilai yang
paling sering muncul adalah 8. Jadi, modus data tersebut adalah 8.
(iii) Oleh karena banyak datum pada tabel (a) adalah 25 (ganjil), mediannya
adalah datum ke-
n+ 1
2
= datum ke-
25 1
2
+
= datum ke-
16
2
= datum ke-13.
Dari tabel (a) diketahui:
• datum ke-1 sampai dengan datum ke-4 adalah 5.
• datum ke-5 sampai dengan datum ke-9 adalah 6.
• datum ke-10 sampai dengan datum ke-14 adalah 7.
Oleh karena datum ke-13 terletak pada interval ke-3, mediannya adalah 7.
b. Coba kamu tentukan mean, modus, dan median pada tabel (b). bandingkan
hasilnya dengan teman sebangkumu
Uji Kompetensi 3.2
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
48
C. Ukuran Penyebaran Data
1. Jangkauan
Jangkauan suatu data adalah selisih datum terbesar dengan datum terkecil.
Biasanya, jangkauan dilambangkan dengan J. Untuk mengetahui jangkauan
suatu data, kamu harus mengurutkan datum-datum pada data tersebut terlebih
dahulu. Misalnya, diketahui data tinggi badan 8 siswa sebagai berikut.
150 155 160 157 158 160 155 150
Jika data tersebut diurutkan akan tampak seperti berikut.
150 150 155 155 157 158 160 160

v


Datum terkecil Datum terbesar
Jangkauan data tersebut adalah 160 – 150 = 10.
Jangkauan diperlukan untuk mengetahui tersebar atau terkumpulnya
suatu data.
Tentukan jangkauan dari data berikut.
a. 26, 40, 18, 25, 16, 45, 30
b. 15, 15, 15, 15, 15
j k j k
Contoh
Soal 3.14
6. Diagram garis berikut menunjukkan banyak pasien
Puskesmas Jayasehat selama 6 hari.
a. Berapakah jumlah seluruh pasien Puskemas
Jayasehat selama 6 hari itu?
b. Pada hari apakah jumlah pasien yang paling
banyak?
7. Tentukan median dari data-data berikut.
a. 15, 17, 10, 15, 18, 14, 15
b. 25, 37, 28, 30, 38, 25
c. 750, 853, 743, 750, 800, 841, 800, 853
d. 8,1; 7,8; 9,9; 4,5; 6,3; 5,4
8. Tentukan mean, modus, dan median dari data
berikut.
8, 9, 3, 4, 8, 7, 6, 5, 7, 4, 6, 6, 8
9. Diketahui hasil ulangan Matematika 30 orang
siswa adalah sebagai berikut.
5 6 7 6 7 8 8 5 9 10
9 9 5 7 7 8 7 6 6 6
5 8 8 7 6 9 10 10 8 7
a. Buatlah tabel distribusi frekuensinya
b. Tentukan mean, modus, dan mediannya.
10. Sebuah perusahaan sepatu ingin mengetahui ukuran
sepatu yang harus diproduksi paling banyak.
Setelah survei selama tiga bulan, diperoleh data
nomor sepatu yang banyak dijual, yaitu sebagai
berikut.
40 42 39 38 40 39 42 40 37 36
39 39 40 38 37 37 40 39 39 36
39 36 37 38 40 40 37 40 37 39
a. Tentukan mean, modus, dan median dari data
tersebut.
b. Nilai apakah yang tepat untuk menentukan
nomor sepatu yang harus diproduksi paling
banyak? Mean, modus, atau median? Jelaskan
jawabanmu.
5
Senin Selasa
J
u
m
l
a
h

P
a
s
i
e
n
Hari
Rabu Kamis Jumat Sabtu
10
15
20
25
30
35

v
Statistika
49
2. Kuartil
Kuartil suatu data diperoleh dengan membagi suatu data terurut menjadi
empat bagian sama besar. Kuartil terdiri atas tiga macam, yaitu:
a. kuartil bawah (Q
1
)
b. kuartil tengah/median (Q
2
)
c. kuartil atas (Q
3
)
Jika suatu data dilambangkan dengan garis lurus, letak kuartil bawah,
kuartil tengah, dan kuartil atasnya adalah sebagai berikut.
Q
1
Q
2
Data di bawah Q
2
Data di atas Q
2
Median
1
4
data
1
4
data
1
4
data
1
4
data
Q
3
Cara menentukan kuartil sebagai berikut.
Tentukan kuartil bawah (Q
1
), kuartil tengah (Q
2
), dan kuartil atas (Q
3
) dari data-data
berikut.
a. 20 35 50 45 30 30 25 40 45 30 35
b. 11 13 10 10 12 15 14 12
Jawab:
a. Urutkan data terlebih dahulu.
Jadi, Q
1
= 30, Q
2
= 35, dan Q
3
= 45.
20 25 30 30 30 35 35 40 45 45 50
Q
1
5 data di bawah Q
2
5 data di atas Q
2
Q
2
Q
3
k til b
Contoh
Soal 3.15
Urutkan data dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar. •
Tentukan • Q
2
atau median.
Tentukan • Q
1
dengan membagi data di bawah Q
2
menjadi dua bagian
yang sama besar.
Tentukan • Q
3
dengan membagi data di atas Q
2
menjadi dua bagian
sama besar.
Untuk lebih jelasnya, pelajarilah contoh soal berikut.
Jawab:
a. Urutkan data terlebih dahulu.
16, 18, 25, 26, 30, 40, 45
Datum terkecil Datum terbesar
J = datum terbesar – datum terkecil
= 45 – 16 = 29
Jadi, jangkauan data tersebut adalah 29.
b. Data ini jangkauannya nol. Mengapa? Coba kamu jelaskan alasannya
Gambar 3.1
Letak kuartil bawah (Q
1
),
kuartil tengah (Q
2
), dan kuartil
atas (Q
3
) pada suatu data.
v v
vvv
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
50
• Datum adalah fakta tunggal. Adapun data
adalah kumpulan datum.
• Statistika adalah ilmu yang berhubungan
dengan pengumpulan data, perhitungan atau
pengolahan data, serta penarikan kesimpulan
berdasarkan data yang diperoleh.
• Data biasanya disajikan dalam bentuk tabel
dan diagram (diagram gambar, batang, garis,
dan lingkaran).
Rangkuman
• Mean suatu data adalah jumlah seluruh datum
dibagi oleh banyaknya datum. Mean dirumuskan
sebagai berikut.

x =
Jumlah datum
Banyak datum
• Modus adalah nilai yang paling sering muncul.
• Median adalah nilai tengah suatu data.
b. Urutkan data terlebih dahulu.
10 10 11 12 12 13 14 15

Q
1
Q
2
Q
3
=
10 11
2
+
=
12 12
2
+
=
13 14
2
+
= 10,5 = 12 = 13,5
Jadi, Q
1
= 10,5; Q
2
= 12; dan Q
3
= 13,5
a. Tentukan nilai Q
1
, Q
2
, dan Q
3
.
b. Berapa banyak siswa yang nilainya di bawah Q
2
?
c. Berapa banyak siswa yang nilainya di atas Q
2
?
d. Apa yang dapat kamu simpulkan dari data
tersebut ?
5. Seorang guru mengukur tinggi badan (dalam cm)
10 orang siswa, hasilnya adalah sebagai berikut.
150 155 153 154 160
150 155 155 150 153
Tentukan:
a. jangkauan,
b. mean, modus, dan median,
c. Q
1
, Q
2
, dan Q
3
.
6. Jelaskan pengertian jangkauan dan kuartil serta
cara menentukannya dengan kata-katamu sendiri.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Tentukan jangkauan dari data-data berikut.
a. 13, 11, 14 ,11, 13, 15, 12, 11
b. 27, 30, 45, 60, 11, 37, 41, 45
c. 209, 317, 211, 453, 194, 317
d. 16,8; 25,3; 17,7; 26,1; 38,4; 17,7
2. Diketahui dua data sebagai berikut.
a. 273, 840, 728, 963, 543, 189
b. 110, 231, 601, 335, 815, 588
Manakah yang jangkauannya lebih besar?
3. Tentukan kuartil bawah, kuartil tengah, dan kuartil
atas data-data berikut.
a. 8, 9, 7, 5, 3, 4, 6, 3, 5
b. 23, 23, 37, 40, 38, 37
c. 119, 203, 483, 423, 119, 200
d. 50,9; 35,8; 40,1; 35,8; 49,7
4. Diketahui data nilai ulangan Bahasa Indonesia
15 siswa sebagai berikut.
8 6 7 8 7 5 9 6
5 8 8 10 10 7 6
Uji Kompetensi 3.3

v

v

v
Statistika
51
• Jangkauan suatu data adalah selisih datum
terbesar dengan datum terkecil. Jangkauan
dirumuskan sebagai berikut.
J = datum terbesar – datum terkecil
• Kuartil terdiri atas tiga macam, yaitu kuartil
bawah (Q
1
), kuartil tengah (Q
2
), dan kuartil
atas (Q
3
).
Pada bab Statistika ini, adakah materi yang menurutmu sulit untuk kamu pahami? Mengapa?
Pada bab ini, bagian mana yang paling menarik untuk dipelajari? Mengapa?
Kesan apa yang kamu dapat setelah mempelajari bab ini?
Peta Konsep
Statistika
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Tabel
Diagram
Mean
Modus
Median
Jangkauan
Kuartil
Kuartil Atas Kuartil Tengah Kuartil Bawah
Diagram Batang
Diagram Lingkaran
Diagram Gambar
Diagram Garis
Pengolahan Data
Ukuran Pemusatan
Ukuran Penyebaran
Penarikan Kesimpulan
mempelajari
menggunakan
terdiri atas
terdiri atas
terdiri atas
terdiri atas
tentang
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
52
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Yang bukan termasuk data kuantitatif adalah ....
a. nomor sepatu siswa
b. warna kesukaan siswa
c. olahraga kesukaan siswa
d. cara siswa pergi ke sekolah
2. Petugas Departemen Kesehatan melakukan penelitian
mengenai kesehatan balita di kota Solo. Sampel untuk
penelitian tersebut adalah ....
a. balita di kota Solo
b. balita di luar kota Solo
c. beberapa balita di kota Solo
d. seluruh balita di kota Solo
3. Pernyataan yang benar mengenai diagram batang
adalah ....
a. memerlukan sumbu datar dan sumbu tegak
yang saling berpotongan
b. terbagi menjadi beberapa sektor/juring
c. dapat disajikan secara vertikal maupun horizontal
d. terbagi menjadi 2 kategori
4. Perhatikan diagram garis berikut.

Diagram tersebut menunjukkan jumlah buku yang
terjual selama satu minggu di toko buku Baca-
Baca. Kenaikan penjualan terbesar terjadi pada
hari ....
a. Senin dan Kamis
b. Kamis dan Sabtu
c. Kamis
d. Senin
5. Diagram berikut menunjukkan jenis pekerjaan
penduduk di kota A.
Jika banyak penduduk yang menjadi pegawai
negeri sebanyak 28 orang, perbandingan jumlah
penduduk pekerja swasta dengan buruh adalah ....
a. 6 : 5 c. 4 : 3
b. 5 : 4 d. 3 : 2
6. Mean data 8, 8, 7, 4, 5, 4, 5, 6, 7, 10, 9, 5 adalah ....
a. 6,5 c. 6,3
b. 6,4 d. 6,2
7. Nilai rata-rata dari tabel berikut adalah ....
Nilai (x
i
) Frekuensi ( f
i
)
4
5
6
7
8
9
2
7
13
6
1
1
a. 6 c. 7
b. 6,5 d. 7,5
8. Diketahui data nilai ulangan matematika 15 orang
siswa sebagai berikut.
7, 5, 4, 6, 5, 7, 8, 6, 4, 4, 5, 9, 5, 6, 4
Banyak siswa yang nilainya di atas rata-rata adalah
... orang.
a. 4 c. 8
b. 7 d. 11
9. Mean dari data 7, 8, 5, 7, 5, n, 6, 5, 9, 8 adalah 6,3
Nilai n sama dengan ....
a. 5
b. 4
c. 3
d. 2
Pedagang
Petani
Swata
Pegawai
Negeri
B
u
r
u
h
135°
60°
45°
50
Senin Selasa
J
u
m
l
a
h

B
u
k
u
Rabu Kamis Jumat Sabtu
100
150
200
250
300
Hari
Uji Kompetensi Bab 3
Statistika
53
10. Rata-rata pendapatan per hari seorang pedagang
koran di sebuah terminal bus adalah Rp 7.000,00.
Oleh karena ada pedagang koran yang baru, rata-
rata pendapatannya menjadi Rp 6.800,00. Besar
pendapatan pedagang koran yang baru tersebut
adalah ....
a. Rp 2.800,00
b. Rp 3.000,00
c. Rp 4.000,00
d. Rp 6.800,00
11. Diketahui data sebagai berikut.
53 55 40 45 30 30 53 55
54 53 45 53 45 55 53 54
56 57 43 63 65 40 54 55
Modus data tersebut adalah ....
a. 53 c. 55
b. 54 d 56
12. Dari hasil ulangan Sejarah selama semester satu,
Winda memperoleh nilai sebagai berikut.
7,8; 8,1; 6,5; 8,3; 8,1; 7,6; 6,9; 8,1
Modus dari data tersebut adalah ....
a. 6,1
b. 6,9
c. 7,6
d. 8,1
13. Diketahui data pengeluaran harian dari beberapa
keluarga di sebuah Rukun Warga (dalam ribuan)
sebagai berikut.
30 20 25 20 25 37 26
18 20 26 20 24 30 19
Modus pengeluaran harian dari beberapa keluarga
tersebut (dalam ribuan) adalah ....
a. 30 c. 24
b. 25 d. 20
14. Diketahui data sebagai berikut.
25, 26, 22, 24, 26, 28, 21, 24, 26, 27, 28, 28, 30, 25,
29, 22, 21, 23, 25, 26, 23
Median dari data tersebut adalah ....
a. 25 c. 27
b. 26 d. 28
15. Nilai tengah dari data
153 155 203 153 158 211 190 155 adalah ....
a. 155
b. 156,5
c. 157
d. 158,5
16. Perhatikan tabel distribusi frekuensi berikut.
Nilai Matematika Frekuensi
5
6
7
8
9
5
7
6
3
5
Median dari data tersebut adalah ....
a. 5 c. 7
b. 6 d. 8
17. Diketahui data tinggi badan 24 siswa Kelas IX
SMP Bina Bangsa sebagai berikut (dalam cm).
150 153 160 147 150 155 155 148
148 155 150 158 147 160 160 150
155 162 150 155 147 153 153 160
Jangkauan data tersebut adalah ....
a. 12 c. 13
b. 14 d. 15
18. Kuartil bawah dari data
6, 9, 3, 7, 5, 3, 6 7, 8, 5 adalah ....
a. 5 c. 7
b. 6 d. 8
19. Diketahui data kuantitatif sebagai berikut.
6, 7
1
2
, 5, 8, 5, 7
1
2
, 6, 6, 7, 5, 8
Pernyataan yang benar mengenai data tersebut
adalah ....
a. mean = 5
b. modus = 6
c. median = 7
1
2
d. Q
2
= 6
20. Diagram batang berikut menunjukan nilai ulangan
matematika beberapa siswa Kelas IX.
Dari data tersebut, mean + median + modus = ....
a. 4 c. 6
4
5
b.
5
7
9
d. 8
1
5 6 7 8
J
u
m
l
a
h

S
i
s
w
a
Nilai
2
3
4
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
54
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Perhatikan diagram lingkaran berikut.
Diagram tersebut menggambarkan jenis olahraga
yang disukai 1.200 siswa SMP. Tentukan banyak
siswa yang menyukai olahraga basket.
2. Diketahui data tinggi badan (dalam cm) 20 siswa
Kelas IX SMP Tunas Bangsa sebagai berikut.
150, 152, 152, 150, 151, 154, 154, 155, 155, 155
152, 153, 153, 153, 154, 154, 150, 150, 152, 153
a. Sajikan data tersebut dalam tabel distribusi
frekuensi.
b. Tentukan mean, modus, dan median dari data
tersebut.
3. Diketahui rata-rata dua datum adalah 92. Jika
selisih dua data tersebut adalah 72, tentukan nilai
kedua datum tersebut.
4. Rata-rata lima bilangan bulat yang berurutan
adalah 10. Tentukan selisih bilangan terbesar dan
terkecilnya.
5. Diketahui data sebagai berikut.
1, 3, 5, 8, 3, 3, 2, 5, 8, 10, 4, 6, 7
Tentukan:
a. datum terkecil dan datum terbesarnya,
b. jangkauannya,
c. kuartil bawah (Q
1
), kuartil tengah (Q
2
), dan
kuartil atasnya (Q
3
).
Voli
Basket
Silat
Bulu
tangkis
180°
45°
45°
60° Sepak-
bola
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
11. Memecahkan masalah
keuangan
menggunakan konsep
matematika
11. 1 Menyelesaikan masalah bunga tunggal dan
bunga majemuk dalam keuangan
11. 2 Menyelesaikan masalah rente dalam
keuangan
11. 3 Menyelesaikan masalah anuitas dalam
sistem pinjaman
11. 4 Menyelesaikan masalah penyusutan nilai
barang


96
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
A. PENDAHULUAN

Standar Kompetensi Matematika Keuangan terdiri atas empat (4) Kompetensi
Dasar. Dalam penyajian pada buku ini setiap Kompetensi Dasar memuat Tujuan,
Uraian materi, Rangkuman dan Latihan. Kompetensi Dasar dalam Standar Kompetensi
ini adalah Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk, Rente, Anuitas, dan
Penyusutan Nilai Barang. Standar Kompetensi ini digunakan sebagai penunjang
dalam mempelajari standar kompetensi produktif maupun diaplikasikan pada
kehidupan sehari-hari terutama pada masalah bunga pinjaman dan simpanan di Bank,
cicilan kredit rumah, dan masalah keuangan lainnya.

Pada setiap akhir Kompetensi dasar tercantum soal-soal latihan yang disusun dari soal-
soal yang mudah sampai soal-soal yang sukar. Latihan soal ini digunakan untuk
mengukur kemampuan anda terhadap kompetensi dasar ini, artinya setelah
mempelajari kompetensi dasar ini secara mandiri dengan bimbingan guru sebagai
fasilitator, ukur sendiri kemampuan anda dengan mengerjakan soal-soal latihan
tersebut.

Untuk melancarkan kemampuan anda supaya lebih baik dalam mengerjakan soal,
disarankan semua soal dalam latihan ini dikerjakan baik di sekolah dengan bimbingan
guru maupun di rumah.

Untuk mengukur standar kompetensi lulusan tiap siswa, di setiap akhir kompetensi
dasar, guru akan memberikan evaluasi apakah anda layak atau belum layak
mempelajari standar Kompetensi berikutnya. Anda dinyatakan layak jika anda dapat
mengerjakan soal 65% atau lebih soal-soal evaluasi yang akan diberikan guru.

B. KOMPETENSI DASAR
B.1 Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk
a. Tujuan

Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menyelesaikan soal persen di atas seratus dan persen dibawah seratus
¾ Menghitung bunga tunggal harian, bulanan maupun tahunan
¾ Menyelesaikan soal-soal diskonto
¾ Menghitung bunga tunggal dengan metode:
o angka bunga dan pembagi tetap
o persen sebanding
o persen seukuran
¾ Menghitung Nilai Akhir Modal bunga majemuk
¾ Menghitung Nilai Akhir Modal dengan masa bunga majemuk pecahan
¾ Menghitung Nilai Tunai Modal bunga majemuk
¾ Menghitung Nilai Tunai modal dengan masa bunga majemuk pecahan


97 BAB III Matematika Keuangan
b. Uraian materi
1). Pengertian Bunga

Mengapa banyak orang yang berbondong-bondong menyimpan atau mendepositokan
uangnya di Bank. Di samping karena masalah keamanan, juga karena mendapatkan
jasa dari simpanan tersebut, yang dinamakan bunga.
Mengapa banyak dealer mobil maupun motor menawarkan kredit kepada konsumen.
Karena dengan kredit, dealer akan mendapatkan tambahan modal dari sejumlah modal
yang telah ditanamkan. Tambahan modal tersebut dinamakan bunga. Jadi, Bunga
adalah jasa dari pinjaman atau simpanan yang dibayarkan pada akhir jangka waktu
yang telah disepakati bersama.
Jika besarnya bunga suatu pinjaman atau simpanan dinyatakan dengan persen (%),
maka persen tersebut dinamakan suku bunga.

Suku bunga = % 100 x
mula mula pinjaman
bunga



Contoh 1
Wulan meminjam uang dari Koperasi sebesar Rp1.000.000,00. Setelah satu bulan,
maka Wulan harus mengembalikan modal beserta bunganya sebesar
Rp1.020.000,00. Tentukan besarnya bunga dan suku bunganya?

Jawab:
Bunga = Rp1.020.000,00 – Rp1.000.000,00 = Rp20.000,00
Suku bunga = % 100 x
mula mula pinjaman
bunga


= % 100 x
00 , 000 . 000 . 1
00 , 000 . 20
= 2%

Contoh 2
Fulan menyimpan uangnya di Bank ABC sebesar Rp500.000,00. Bank memberikan
bunga 1.5% tiap bulan. Jika bank membebankan biaya administrasi Rp1.000,00 setiap
bulan, tentukan jumlah simpanan Fulan setelah satu bulan!

Jawab:
Jumlah simpanan Fulan setelah satu bulan
= simpanan mula-mula + bunga – biaya administrasi
= Rp500.000,00 + 1.5% x Rp500.000,00 – Rp1.000,00 = ....


2). Persen di atas seratus dan Persen di bawah seratus

Untuk menentukan nilai persentase dari suatu bilangan jika diketahui bilangan dan
persennya, hanya mengalikan bilangan tersebut dengan persen yang diketahui.
Misalkan:
Untuk menentukan besarnya laba jika persentase laba dan harga beli diketahui, maka
laba = persen laba x harga beli.
Untuk menentukan besarnya diskon jika persentase diskon dan harga sebelum diskon
diketahui, maka besarnya diskon = persen diskon x harga sebelum diskon.


98
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Bagaimana menentukan laba jika persentase laba dan harga jual yang diketahui. Juga
bagaimana menentukan besarnya diskon jika persentase diskon dan harga setelah
diskon diketahui. Ternyata besarnya laba dan diskon tidak dapat langsung dikalikan
persentase masing-masing dengan nilai yang diketahui. Dari ilustrasi di atas, maka
dibutuhkan persen yang lain, yaitu persen di atas seratus maupun persen di bawah
seratus.

Persen di atas seratus adalah bentuk pecahan yang selisih antara penyebut dan
pembilangnya sama dengan seratus. Secara umum ditulis:
p% di atas seratus =
p 100
p
+

Persen di bawah seratus adalah bentuk pecahan yang jumlah antara penyebut dan
pembilangnya sama dengan seratus. Secara umum ditulis:
p% di bawah seratus =
p 100
p



Contoh 3
Ubahlah dalam bentuk pecahan!
a. 25%
b. 10% di bawah 100
c. 15% di atas 100

Jawab:
a. 25% =
100
25
=
4
1

b. 10% di bawah 100 =
10 100
10

=
90
10
=
9
1

c. 15% di atas 100 =
15 100
15
+
=
115
15
=
23
3


Contoh 4
Tentukan Nilainya!
a. 7% di atas 100 dari Rp428.000,00
b. 12% di bawah 100 dari Rp4.400.000,00

Jawab:
a. 7% di atas 100 dari Rp428.000,00 =
7 100
7
+
x 428.000,00
=
107
7
x Rp428.000,00
= Rp28.000,00
b. 12% di bawah 100 dari Rp4.400.000,00 =
12 100
12

x Rp4.400.000,00
=
88
12
x Rp4.400.000,00
= Rp600.000,00
99 BAB III Matematika Keuangan
Contoh 5
Ubahlah 10% di atas 100 ke dalam:
a. Persen
b. Persen di bawah 100

Jawab:
a.
10 100
10
+
=
100
P



110
10
=
100
P


11P = 100
P =
11
100
= 9.09,
Jadi, 10% di atas 100 = 9.09%

b.
10 100
10
+
=
P 100
P



110
10
=
P 100
P



11
1
=
P 100
P


100 – P = 11P
100 = 11P + P
100 = 12P
P =
12
100
= 8.33,
Jadi, 10% di atas 100 = 8.33% di bawah 100

Contoh 6
Ubahlah 20% di bawah 100 menjadi persen di atas 100

Jawab:
20 100
20

=
P 100
P
+



80
20
=
P 100
P
+


2(100 + P) = 8P
200 + 2P = 8P
200 = 8P – 2P
P =
6
200
= 33.33
Jadi, 10% di atas 100 = 8.33% di bawah 100



100
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
3). Aplikasi Persen di atas seratus dan di bawah seratus

Persen di atas seratus digunakan jika nilai yang diketahui lebih besar dari nilai mula-
mula. Misalkan % laba dengan harga jual, % bonus dengan harga setelah bonus. %
bunga dengan modal setelah bunga dan lain-lain.
Persen di bawah seratus digunakan jika nilai yang diketahui lebih kecil dari nilai mula-
mula. Misalkan % rugi dengan harga jual, % diskon dengan harga setelah diskon, dan
lain-lain.
Contoh 7
Harga jual suatu barang adalah Rp5.980.000,00. Jika barang dijual dengan untung
15%. Tentukan untung dan harga belinya!

Jawab:
Besarnya untung = 15% di atas 100 x harga jual
=
15 100
15
+
x Rp5.980.000,00
=
115
15
x Rp5.980.000,00
= Rp780.000,00

Harga Beli = Harga Jual – Untung
= Rp5.980.000,00 – Rp780.000,00
= Rp5.200.000,00

Contoh 8
Gaji seorang karyawan Rp1.500.000,00. Karena prestasinya baik, maka ia
mendapatkan bonus 17% dari gajinya. Tentukan besarnya bonus dan gaji karyawan
setelah dapat bonus!


Jawab:
Besar bonus = persen bonus x gaji mula-mula
( bukan persen di bawah atau di atas 100 )
=
100
17
x Rp1.500.000,00
= Rp255.000,00


Gaji setelah bonus = Gaji sebelum bonus + bonus
= Rp1500000,00 + Rp255.000,00
= Rp1.755.000,00
Contoh 9
harga barang setelah dikenai pajak adalah Rp2.800.000,00. Jika besarnya pajak 12%,
tentukan besar pajak dan harga sebelum pajak!


Jawab:
Pajak =
12 100
12
+
x Rp2.800.000,00
101 BAB III Matematika Keuangan
=
112
12
x Rp2.800.000,00
= 12 x 25.000,00
= Rp300.000,00

Harga sebelum pajak = Harga setelah pajak – pajak
= Rp2.800.000,00 – Rp300.000,00
= Rp2.500.000,00

Contoh 10
Harga barang setelah rabat adalah Rp492.800,00. Jika besarnya rabat 23%, tentukan
rabat dan harga sebelum rabat!
Jawab:
Rabat =
23 100
23

x Rp492.800,00
=
73
23
x Rp492.800,00
= Rp147.200,00

Harga sebelum rabat = Harga setelah rabat – rabat
= Rp492.800,00 – Rp147.200,00
= Rp640.000,00
Contoh 11
Harga beras tiap kilogram setelah mendapatkan subsidi dari pemerintah adalah
Rp1.575,00. Jika pemerintah memberikan subsidi sebesar 37%, tentukan subsidi yang
ditentukan pemerintah dan harga beras sebelum subsidi!

Jawab:
Subsidi =
37 100
37

x Rp1.575,00

=
63
37
x Rp1575,00
= 37 x 25
= Rp925,00

Harga sebelum subsidi = Harga stelah subsidi + subsidi
= Rp1.575,00 + Rp925,00
= Rp2.500,00


4). Bunga Tunggal

Bunga tunggal adalah bunga yang diperoleh pada setiap akhir jangka waktu tertentu
yang tidak mempengaruhi besarnya modal yang dipinjam. Perhitungan bunga setiap
periode selalu dihitung berdasarkan besarnya modal yang tetap, yaitu:

Bunga = suku bunga tiap periode x banyaknya periode x modal


102
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Contoh 12
Suatu modal sebesar Rp1.000.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal
2%/bulan. Tentukan bunga setelah 1 bulan, 2 bulan, dan 5 bulan!

Jawab:
Setelah 1 bulan besar bunga = 2% x 1 x Rp1.000.000,00 = Rp20.000,00
Setelah 2 bulan besar bunga = 2% x 2 x Rp1.000.000,00 = Rp40.000,00
Setelah 5 bulan besar bunga = 2% x 5 x Rp1.000.000,00 = Rp100.000,00


Jika suatu modal M dibungakan dengan suku bunga tunggal i% tiap tahun, maka
berlaku:

Setelah t tahun besarnya bunga: B =
100
t x i x M

Setelah t bulan besarnya bunga: B =
200 . 1
t x i x M

Setelah t hari besarnya bunga: B =
000 . 36
t x i x M
. untuk 1 tahun = 360 hari
Setelah t hari besarnya bunga: B =
500 . 36
t x i x M
. untuk 1 tahun = 365 hari
Setelah t hari besarnya bunga: B =
600 . 36
t x i x M
. untuk 1 tahun = 366 hari

Modal akhir = Modal awal + bunga

Ma = M + B

Contoh 13
Suatu modal sebesar Rp1.000.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 3
tahun dengan suku bunga 18%/tahun. Tentukan bunga yang diperoleh dan modal
setelah dibungakan!

Jawab:
M = Rp1.000.000,00
i = 18%/tahun
t = 3 tahun

Bunga: B =
100
t x i x M

=
100
3 x 18 x 000 . 000 . 1

= Rp540.000,00

Modal akhir : Ma = M + B
= Rp1.000.000,00 + Rp540.000,00 = Rp1.540.000,00

Contoh 14
Modal sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal 3%/cawu selama 1
tahun 7 bulan. Tentukan:
103 BAB III Matematika Keuangan
a. Bunga yang diperoleh
b. Modal akhir

Jawab:
M = Rp2.500.000,00
i = 3%/cawu = 3 x 3%/tahun = 9%/tahun
t = 1 tahun 7 bulan
a. Setelah 1 tahun bunga =
100
1 x 9 x 000 . 500 . 2
= Rp225.000,00
Setelah 7 bulan bunga =
1200
7 x 9 x 000 . 500 . 2
= Rp131.250,00


Bunga Total = Bunga tahunan + bunga bulanan
= Rp225.000,00 + Rp131.250,00
= Rp356.250,00

Dapat juga diselesaikan dengan mengubah tahun menjadi bulan, yaitu: 1 tahun 7
bulan = 19 bulan. Setelah itu, bunga diselesaikan dengan menggunakan rumus bunga
bulanan. Silakan dicoba!!!

b. Modal akhir = Modal + Bunga
= Rp2.500.000,00 + Rp356.250,00
= Rp2.856.250,00

Contoh 15
Pinjaman sebesar Rp1.250.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal 0.5%/bulan
selama 2 tahun 5 bulan dan 18 hari (jika dianggap 1 tahun =360 hari). Tentukan:
a. Bunga yang diperoleh
b. Modal akhir!

Jawab:
M = Rp1.250.000,00
i = 0.5%/bulan = 0.5% x 12/tahun = 6%/tahun
t = 2 tahun 5 bulan 18 hari (1 tahun = 360 hari) = 29 bulan 18 hari

a. Setelah 29 bulan, bunga =
200 . 1
29 x 6 x 000 . 250 . 1
= Rp181.250,00
Setelah 18 hari, bunga =
000 . 36
18 x 6 x 000 . 250 . 1
= Rp3.750,00

Bunga total = Rp181.250,00 + Rp3.750,00 = Rp185.000,00

Dapat juga diselesaikan dengan mengubah tahun dan bulan menjadi hari, yaitu:
2 tahun 5 bulan 18 hari = (720 + 150 + 18) hari = 888 hari. Setelah itu bunga
diselesaikan dengan menggunakan rumus bunga harian B =
000 . 36
t x i x M
. Silakan
dicoba!




104
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
b. Modal akhir = Modal + Bunga
= Rp1.250.000,00 + Rp185.000,00
= Rp1.435.000,00

Contoh 16
Suatu pinjaman sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 2
tahun 3 bulan. Ternyata bunga yang diperoleh Rp450.000,00. Tentukan suku
bunganya tiap tahun dan tiap triwulan!

Jawab:
M = Rp2.500.000.00
t = 2 tahun 3 bulan = 27 bulan
B = Rp450.000,00


Setelah t bulan, besar bunga:
B =
200 . 1
t . i . M

450.000 =
200 . 1
27 x i x 000 . 500 . 2

45 x 1.200 = 6.750 i
i =
750 . 6
200 . 1 x 45

i = 8%/tahun
i =
4
% 8
/triwulan = 2%/triwulan

Contoh 17
Suatu pinjaman sebesar Rp1.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal
7.5%/semester. Ternyata modal tersebut menjadi Rp1.800.000,00. Setelah berapa
bulan bunga tersebut dibungakan?

Jawab:
M = Rp1.500.000,00
i = 7.5%/semester = 7.5% x 2/tahun = 15%/tahun
Ma = Rp1.800.000,00
Bunga = Modal akhir – Modal awal
= Rp1.800.000,00 – Rp 1.500.000,00
= Rp300.000,00

Setelah t tahun, besarnya bunga:
B =
200 . 1
t x i x M

300.000 =
200 . 1
t x 15 x 000 . 500 . 1
(di bagi 100.000)
3 x 1.200 = 225 t
t =
225
3600
=16 bulan
105 BAB III Matematika Keuangan
Contoh 18
Suatu modal setelah dibungakan dengan bunga tunggal 15%/tahun selama 2 tahun
modal tersebut menjadi Rp6.110.000,00. Tentukan:
a. Bunga yang diperoleh
b. Modal mula-mula!

Jawab:
Contoh di atas diselesaikan dengan cepat menggunakan persen di atas 100.
(baca lagi tentang penggunaan persen di bawah 100 dan persen di atas 100)
Ma = Rp6.110.000,00
i = 15%/tahun = 30% selama 2 tahun

a. Bunga = 30% di atas 100 x Rp6.110.000,00
=
30 100
30
+
x Rp6.110.000,00
=
130
30
x Rp6.110.000,00
= Rp1.410.000,00

b. Modal mula-mula = Modal akhir – bunga
= Rp6.110.000,00 – Rp1.410.000,00
= Rp4.700.000,00

5). Diskonto

Diskonto adalah bunga yang dibayarkan oleh peminjam pada saat menerima pinjaman.
Proses perhitungan diskonto menggunakan sistem bunga tunggal, sehingga untuk
menghitung besarnya diskonto hampir sama dengan perhitungan besarnya bunga
tunggal jika besarnya pinjaman dan % diskonto diketahui. Besarnya nilai pinjaman
pada sistem diskonto nilainya sama dengan jumlah modal yang harus dibayar saat
jatuh tempo. Misalkan seorang meminjam Rp100.000,00 dengan diskonto 2% tiap
bulan, maka diskontonya = 2% x Rp100.000,00 tiap bulan = Rp2.000,00.
Jika pinjaman akan dikembalikan 1 bulan yang akan datang, maka di awal pinjaman
orang tersebut hanya menerima = Rp100.000,00 – Rp2.000,00 = Rp98.000,00 dan 1
ulan yang akan datang ia harus membayar Rp100.000,00. b

Jika pinjaman akan dikembalikan 3 bulan yang akan datang, maka di awal pinjaman
orang tersebut hanya menerima = Rp100.000,00 – 3 x Rp2.000,00 = Rp94.000,00 dan
3 bulan yang akan datang ia harus membayar Rp100.000,00.
Dalam kasus di atas, bagaimanakah jika pinjaman akan dikembalikan 50 bulan yang
akan datang, apa yang terjadi?

Jika pinjaman M dengan diskonto i%/bulan dan akan dikembalikan setelah t bulan.
maka:

Diskonto : D = M x i x t

besarnya modal yang diterima di awal pinjaman : Mt = M – M x i x t


106
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Rumus di atas berlaku juga untuk diskonto i%/tahun dan akan dikembalikan setelah t
tahun. Bagaimanakah jika diskonto i%/bulan dan akan dikembalikan dalam t tahun
atau diskonto i%/tahun akan dikembalikan dalam t bulan ...?

Nilai diskonto untuk besarnya pinjaman M dengan suku bunga i%/tahun.
akan di bayar t tahun yang akan datang: D =
100
t x i x M


akan di bayar t bulan yang akan datang : D =
200 . 1
t x i x M

akan di bayar t hari yang akan datang: D =
000 . 36
t x i x M
. (1 tahun = 360 hari)
Bagaimanakah menentukan nilai diskontonya jika yang diketahui besarnya modal yang
diterima peminjam (Mt) dan i% diskonto? Jika hal itu terjadi, maka nilai diskontonya
adalah:
D = i % di bawah 100 x Modal yang diterima
Contoh 19
Pinjaman sebesar Rp2.000.000,00 dengan sistem diskonto 3%/bulan dan akan
dikembalikan setelah 5 bulan. Tentukan:
a. Nilai diskonto
b. Modal yang diterima peminjam!

Jawab:
M = Rp2.000.000,00
i = 3 % / bulan
t = 5 bulan
a. Diskonto: D = M x i x t
= 2.000.000 x 3% x 5 = Rp300.000,00

b. Modal yang diterima = M – D
= Rp2.000.000,00 – Rp300.000,00
= Rp1.700.000,00
Contoh 20
Pinjaman sebesar Rp5.000.000,00 dengan sistem diskonto 18%/tahun dan akan
dikembalikan setelah 9 bulan. Tentukan:
a. Nilai diskonto
b. Modal yang diterima peminjam!


Jawab:
M = Rp5.000.000,00
i = 18 %/tahun
t = 9 bulan
a. Diskonto: D =
200 . 1
t x i x M

=
200 . 1
9 x 18 x 000 . 000 . 5
= Rp675.000,00

107 BAB III Matematika Keuangan
b. Modal yang diterima = M – D
= Rp5.000.000,00 – Rp675.000,00
= Rp4.325.000,00
Contoh 21
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 dengan sistem diskonto 30%/tahun dan akan
dikembalikan setelah 45 hari. Tentukan modal yang diterima peminjam jika dianggap
1 tahun 360 hari?

Jawab:
M = Rp10.000.000.00
i = 30%/tahun
t = 9 bulan
Diskonto: D =
000 . 36
t x i x M

=
000 . 36
45 x 30 x 000 . 000 . 10
= Rp375.000,00
Modal yang diterima = M – D
= Rp10.000.000,00 – Rp375.000,00
= Rp9.625.000,00
Contoh 22
Suatu pinjaman akan dilunasi dengan sistem diskonto 14%/tahun dan akan
dikembalikan dalam waktu 1.5 tahun. Jika modal yang diterima peminjam di awal
periode sebesar Rp5.135.000,00. Tentukan:
a. Nilai diskonto
b. Besarnya pinjaman yang harus dikembalikan saat jatuh tempo!

Jawab:
Mt = Rp 5.135.000,00
i = 14 %/tahun
t = 1.5 tahun. Jadi, i total = 14% x 1.5 = 21%
a. Diskonto: D = i% di bawah 100 x Mt
=
21 100
21

x Rp5.135.000,00
=
79
21
x Rp5.135.000,00= Rp1.365.000,00

b. Modal yang dibayar = Mt + D
= Rp5.135.000,00 + Rp1.365.000,00
= Rp6.500.000,00
Contoh 23
Suatu pinjaman akan dilunasi dengan sistem diskonto 6%/cawu dan akan dikembalikan
dalam waktu 10 bulan. Jika Modal yang diterima peminjam di awal periode sebesar
Rp5.312.500,00. Tentukan:
a. Nilai diskonto?
b. Besarnya pinjaman yang harus dikembalikan saat jatuh tempo!



108
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
Mt = Rp 5.312.500,00
i = 6 % / cawu = 1.5 %/bulan
t = 10 bulan. Jadi, i total = 1.5% x 10 = 15%
a. Diskonto: D = i% di bawah 100 x Mt
=
15 100
15

x Rp 5.312.500,00
=
85
15
x Rp 5.312.500,00 = Rp937.500,00

b. Modal yang dibayar = Mt + D
= Rp 5.312.500,00 + Rp937.500,00
= Rp6.250.000,00


6). Metode Perhitungan Bunga Tunggal

Pada dasarnya perhitungan bunga tunggal dapat diselesaikan dengan menggunakan
rumus yang sudah dipelajari. Namun, bagaimanakah caranya andaikan ada suatu
koperasi simpan pinjam yang memiliki banyak nasabah dimana perhitungannya
menggunakan sistem bunga tunggal. Tentunya tidak efisien jika bunga yang diperoleh
koperasi dari masing-masing nasabah dihitung satu persatu dengan menggunakan
rumus di atas. Oleh karena itu perlu kiranya metode yang lebih efisien dalam
perhitungan multi bunga tersebut.

a). Metode pembagi tetap

Metode ini digunakan jika suku bunga tunggal merupakan pembagi dari 360, 1 tahun
dianggap 360 hari, suku bunga i%/tahun dan jangka waktu pengembalian t hari.
Bunga yang diperoleh setelah t hari:
B =
000 . 36
t x i x M
=
360
i
.
100
t x M
=
i
360
:
100
t x M

Jika
100
t x M
= angka bunga dan
i
360
= pembagi tetap, maka:
B =
tetap pembagi
bunga angka
dan Jumlah bunga =
tetap pembagi
bunga angka jumlah



Contoh 24
Di bawah ini adalah tabel dari nasabah Koperasi Simpan Pinjam “ X “ dengan suku
bunga tunggal i = 9%/tahun dan 1 tahun dianggap 360 hari:

No
Nama
Nasabah
Jumlah pinjaman (M) Jangka waktu pengembalian (t)
1 A Rp5.000.000,00 45 hari
2 B Rp4.000.000,00 100 hari
3 C Rp2.500.000,00 80 hari
4 D Rp6.000.000,00 120 hari
5 E Rp7.500.000,00 25 hari
Tentukanlah:
a. Pembagi tetapnya
109 BAB III Matematika Keuangan
b. Jumlah angka bunganya
c. Bunga total yang diperoleh koperasi!


Jawab:
a. Pembagi tetap =
9
360
i
360
= = 40
b. Untuk menentukan jumlah angka bunga, perhatikan tabel di bawah ini:

No M t
100
t x M

1 Rp 5.000.000,00 45 hari 2.250.000
2 Rp 4.000.000,00 100 hari 4.000.000
3 Rp 2.500.000,00 80 hari 2.000.000
4 Rp 6.000.000,00 120 hari 7.200.000
5 Rp 7.500.000,00 25 hari 1.875.000
jumlah 17.325.000

Jumlah angka bunga = 17.325.000

c. Jumlah bunga =
tetap pembagi
bunga angka jumlah

=
40
000 . 325 . 17
= Rp433.125,00
Silakan anda coba jika suku bunga tunggalnya 1.5%/bulan ...!


b. Metode Persen yang Sebanding

Metode ini digunakan jika suku bunga tunggal bukan merupakan pembagi dari 360,
1 tahun dianggap 360 hari, suku bunga i%/tahun dan waktu pengembalian t hari.


Contoh 25
Di bawah ini adalah tabel dari nasabah Koperasi Simpan Pinjam “ Z “ dengan suku
bunga tunggal i = 11%/tahun dan 1 tahun diangap 360 hari:

No
Nama
Nasabah
Jumlah pinjaman (M) Jangka waktu pengembalian (t)
1 P Rp1.000.000,00 50 hari
2 Q Rp8.000.000,00 100 hari
3 R Rp4.500.000,00 60 hari
4 S Rp2.000.000,00 120 hari
5 T Rp2.500.000,00 90 hari

Tentukanlah bunga total yang diperoleh koperasi
Jawab:
Suku bunga i = 11% diuraikan menjadi = 10% + 1% atau 9% + 2%
Ditentukan dahulu jumlah angka bunga untuk i = 10%.


110
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
No M t
100
t x M

1 Rp1.000.000,00 50 hari 500.000
2 Rp8.000.000,00 100 hari 8.000.000
3 Rp4.500.000,00 60 hari 2.700.000
4 Rp2.000.000,00 120 hari 2.400.000
5 Rp2.500.000,00 90 hari 2.250.000
jumlah 15.850.000
Pembagi tetap =
10
360
i
360
= = 36
Jumlah angka bunga = 15.850.000
Jumlah bunga =
tetap pembagi
bunga angka jumlah
=
36
000 . 850 . 15
= Rp440.277,78
Bunga yang sebanding dengan 1% =
% 10
% 1
x Rp440.277,78 = Rp44.027,78
Jadi, bunga total dari suku bunga 11% = Rp440.277,78 + Rp44.027,78
= Rp484.305,56

Silakan anda coba jika suku bunga tunggalnya 7.5% ...!
(petunjuk: uraikan 7.5% menjadi 6% dan 0.5% atau 5% dan 2.5%)

c). Metode Persen yang Seukuran

Metode ini digunakan jika 1 tahun dianggap 365 hari, sehingga tidak banyak suku
bunga yang memberikan hasil bagi bulat terhadap 365, maka biasanya diambil suku
bunga 5% sehingga pembagi tetapnya = 73
5
365
= .
Bunga yang diperoleh setelah t hari:
B =
500 . 36
t x i x M
=
365
5
.
100
t x M
=
73
1
x
100
t x M

B =
73
bunga angka
dan Jumlah bunga =
73
bunga angka jumlah
Untuk menghitung suku bunga sisanya digunakan metode persen yang sebanding.
Contoh 26
Di bawah ini adalah tabel dari nasabah Koperasi Simpan Pinjam “ T “ dengan suku
bunga tunggal i = 6.5%/tahun dan 1 tahun dianggap 365 hari.

No
Nama
Nasabah
Jumlah pinjaman (M) Jangka waktu pengembalian (t)
1 P Rp5.000.000,00 40 hari
2 Q Rp6.000.000,00 80 hari
3 R Rp7.500.000,00 60 hari
4 S Rp3.000.000,00 100 hari
5 T Rp4.500.000,00 20 hari

Tentukanlah bunga total yang diperoleh koperasi
111 BAB III Matematika Keuangan
Jawab:
Suku bunga i = 6.5% diuraikan menjadi = 5% + 1.5%
Ditentukan dahulu jumlah angka bunga untuk i = 5%
No M t
100
t x M

1 Rp 5.000.000,00 40 hari 2.000.000
2 Rp 6.000.000,00 80 hari 4.800.000
3 Rp 7.500.000,00 60 hari 4.500.000
4 Rp 3.000.000,00 100 hari 3.000.000
5 Rp 4.500.000,00 20 hari 900.000
jumlah 15.200.000
Pembagi tetap =
5
365
i
365
= = 73
Jumlah angka bunga = 15.200.000
Jumlah bunga =
tetap pembagi
bunga angka jumlah
=
73
000 . 200 . 15
= Rp208.219,18
Bunga yang sebanding dengan 1.5% =
% 5
% 5 , 1
x Rp208.219,18
=
10
3
x Rp208.219,18 = Rp62.465,75
Jadi, bunga total dari suku bunga 11% = Rp208.219,18 + Rp62.465,75
= Rp270.684,93

Silakan anda coba jika suku bunga tunggalnya 7.5% ....!
7). Bunga Majemuk

Jika X menyimpan uang di bank kemudian setiap akhir periode, bunga yang diperoleh
tersebut tidak diambil, maka bunga itu akan bersama-sama modal menjadi modal baru
yang akan berbunga pada periode berikutnya. Bunga yang diperoleh nilainya menjadi
lebih besar dari bunga pada periode sebelumnya. Proses bunga berbunga pada
ilustrasi ini dinamakan Bunga Majemuk.
Contoh 27
Hanif menyimpan uang di bank sebesar Rp1.000.000.00 dan bank memberikan bunga
10%/tahun. Jika bunga tidak pernah diambil dan dianggap tidak ada biaya administrasi
bank. Tentukan jumlah bunga yang diperoleh Hanif setelah modal mengendap selama
3 tahun.
Jawab:
Akhir tahun pertama, bunga yang diperoleh: B = suku bunga x modal
= 10% x Rp1.000.000,00
= Rp100.000,00
Awal tahun ke dua, modal menjadi: M
2
= M + B
= Rp1.000.000,00 + Rp100.000,00
= Rp1.100.000,00



112
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Akhir tahun kedua, bunga yang diperoleh: B
2
= i x M
2

= 10% x Rp1.100.000,00
= Rp110.000,00
Awal tahun ketiga, modal menjadi: M
3
= M
2
+ B
2

= Rp1.100.000,00 + Rp110.000,00
= Rp1.210.000,00
Akhir tahun ketiga, bunga yang diperoleh: B
3
= i x M
3

= 10% x Rp1.210.000,00
= Rp121.000,00
Jumlah bunga yang diperoleh setelah mengendap tiga tahun:
= Rp100.000,00 + Rp110.000,00 + Rp121.000,00 = Rp331.000,00.

8). Nilai Akhir Bunga Majemuk

Suatu modal M dengan bunga i%/bulan, maka setelah:
1 bulan modal menjadi = M

+ bunga
M
1
= M + M.i
= M(1 + i)
2 bulan modal menjadi = M
1
+ bunga
M
2
= M(1 + i) + M(1 + i).i
= M(1 + i)(1 + i) = M(1 + i)
2

3 bulan modal menjadi = M
2
+ bunga
M
3
= M(1 + i)
2
+ M(1 + i)
2
i
= M(1 + i)
2
(1 + i) = M(1 + i)
3


Dari pola uraian di atas, maka pada n bulan modal menjadi: M
n
= M(1 + i)
n
.

Jadi, dapat disimpulkan jika suatu modal M dibungakan dengan bunga majemuk
i%/periode selama n periode, maka modal akhir M
n
:

M
n
= M(1 + i)
n

Contoh 28
Modal sebesar Rp5.000.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk 10%/tahun.
Tentukan modal akhir dan bunga yang diperoleh setelah 6 tahun!

Jawab:
M = Rp5.000.000,00
i = 10%/tahun = 0.1/tahun
n = 6 tahun
M
n
= M (1 + i )
n
= 5.000.000,00 (1 + 0.1)
6

= 5.000.000,00 (1.1)
6

Menentukan nilai (1.1)
6
dengan kalkulator scientific sebagai berikut:
diperoleh 1,771561
= 5.000.000 x 1,771561
= Rp8.857.805,00

Bunga = Rp885.780,50 – Rp5.000.000,00 = Rp385.780,50
113 BAB III Matematika Keuangan
Contoh 29
Modal sebesar Rp2.000.000,00 di bungakan dengan suku bunga majemuk
5%/semester selama 5 tahun. Tentukan modal akhir!


Jawab:
M = Rp2.000.000,00
i = 5%/semester = 0.05/semester
n = 5 tahun = 10 semester

M
n
= M(1 + i)
n

= 2.000.000,00 (1 + 0.05)
10

= 2.000.000,00 x 1.05
10
dengan Daftar II maupun kalkulator diperoleh:
= 2.000.000 x 1,628894627
= Rp3.257.789,25

(Menentukan nilai 1,05
10
dari daftar II pada lampiran buku ini diperoleh dengan cara
melihat nilai pada daftar baris 10 dan kolom 5%).
Contoh 30
Modal sebesar Rp1.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk 4%/triwulan
selama 3 tahun 9 bulan. Tentukan modal akhir!


Jawab:
M = Rp1.500.000,00
i = 4% / triwulan = 0.04/triwulan
n = 3 tahun 9 bulan = 15 triwulan

M
n
= M(1 + i)
n

= 1.500.000,00 (1+0.04)
15

= 1.500.000,00 x 1.04
15
dengan tabel maupun kalkulator diperoleh:
= 1.500.000,00 x 1,800943506
= Rp2.701.415,26
Contoh 31
Modal sebesar Rp3.000.000,00 di bungakan dengan suku bunga maj emuk
4%/semester, setelah berapa tahun modal akhir menjadi = Rp4.440.732,87?

Jawab:
M = Rp3.000.000.00
i = 4%/semester = 0.04/semester
M
n
= Rp4.440.732,87

M
n
= M(1 + i)
n

4.440.732,87 = 3.000.000,00 x (1+ 0.04)
n

000 . 000 . 3
87 , 732 . 440 . 4
= 1.04
n

1.48024429 = 1.04
n
di logaritmakan dengan bilangan pokok 10
log 1.48024429 = n. log 1.04
n =
04 , 1 log
48024429 , 1 log
= 10 semester = 5 tahun


114
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Contoh 32
Pinjaman sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk tiap bulan.
Setelah 2 tahun modal menjadi Rp4.021.093,12. Tentukan suku bunganya!

Jawab:
M = Rp2.500.000,00
n = 2 tahun = 24 bulan
M
n
= Rp4.021.093,12

M
n
= M (1 + i)
n

4.021.093,12 = 2.500.000,00 x (1 + i)
24


000 . 500 . 2
12 4.021.093,
= (1 + i)
24

1,608437249 = (1 + i)
24
(1 + i ) =
24
9 1,60843724
Untuk menentukan (1 + i) gunakan kalkulator Scientific dengan langkah:
Klik:
Jika kalkulator yang menggunakan kursor. Tapi jika tidak menggunakan kursor.
langkahnya sebagai berikut: klik:

(1 + i ) = 1.02
i = 1.02 – 1
= 0.02 = 2 %
Jadi, suku bunganya = 2 %/bulan.
9). Nilai Akhir Bunga Majemuk Dengan Masa Bunga Pecahan

Jangka waktu proses berbunganya suatu modal tidak hanya merupakan bilangan bulat.
Jika jangka waktu bukan merupakan bilangan bulat, maka cara menentukan nilai
(1 + i)
n
dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
• Dengan menggunakan kalkulator yang dilengkapi dengan tombol x
y
• Sisa masa bunga yang belum dihitung, digunakan untuk menghitung bunga
berdasarkan bunga tunggal dari nilai akhir masa bunga yang bulat. Jika
disederhanakan dalam rumus adalah sebagai berikut:

M
n
= M(1 + i)
n
(1 + p.i) Dengan p masa bunga pecahan
Terdapat perbedaan sedikit modal akhir yang diperoleh dari dua cara di atas.
Contoh 33
Modal sebesar Rp4.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk 3%/bulan.
Tentukanlah modal akhir setelah berbunga selama 5.75 bulan!

Jawab:
M = Rp4.500.000,00
i = 3%/bulan = 0.03/bulan
n = 5.75 bulan
115 BAB III Matematika Keuangan
Dengan menggunakan kalkulator:
M
n
= M(1 + i)
n
M
n
= 4.500.000,00 ( 1 + 0.03)
5.75

M
n

=4.500.000,00(1.03)
5.75
Menentukan nilai (1.03)
5.75

M
n

= 4.500.000,00 x ........................ = ...............................

Dengan menggunakan cara kedua untuk n = 5 dan p = 0,75:
Dihitung dahulu untuk n = 5. yaitu:
M
n
= M(1 + i)
n
M
n
= 4.500.000,00 ( 1 + 0,03)
5

M
n

= 4.500.000,00 (1,03)
5

M
n

= 4.500.000,00 x ........................ = ...............................

Untuk menghitung bunga p = 0,75. yaitu:
B
pecahan
= 0,75 x 0,03 x M
n
= ........................

M
akhir
= M
n
+ B
pecahan

M
akhir
= ................ + .........................
M
akhir
= .............................................

Dapat juga diselesaikan dengan menggunakan rumus langsung, yaitu:

M
n
= M(1 + i)
n
(1 + p.i)
M
n
= 4.500.000,00(1 + 0,03)
5
(1 + 0,75 x 0,03)
M
n
= 4.500.000,00 (1,03)
5
(1,0225)
M
n
= 4.500.000,00 x ...............................x 1,0225
M
n
= ..............................................

Cara 2 dan 3 menghasilkan nilai yang sama, namun berbeda dengan cara 1.
Contoh 34
Modal sebesar Rp5.000.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk 10%/tahun.
Tentukanlah modal akhir setelah berbunga selama 6 tahun 3 bulan.


Jawab:
M = Rp5.000.000,00
i = 12%/tahun = 0.12/ tahun
n = 6 tahun 3 bulan = 6
12
3
tahun = 6.25 tahun

Diselesaikan dengan menggunakan rumus langsung, yaitu:
M
n
= M(1 + i)
n
(1 + p.i)
M
n
= 5.000.000,00 (1 + 0,12)
6
(1 + 0,25 x 0,12)
M
n
= 5.000.000,00 (1,12)
6
(1,03)
M
n
= 5.000.000 x ............. x ...................
M
n
= ......................................................


116
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
10). Nilai Tunai Bunga Majemuk
si hutangnya sekarang, maka dikatakan orang tersebut membayar dengan
nilai ak
n

M =

Apabila n periode seseorang harus melunasi pinjamannya sebesar M dengan
perhitungan suku bunga i%/periode dan ternyata orang tersebut mampu untuk
meluna
tunai.
Dari rumus hir bunga majemuk: M
n
= M(1 + i) dapat di ubah menjadi:
n
) i 1 ( +
n
modal se
n
M
, dengan M = modal mula-mula atau sering disebut nilai tunai dan M =
telah n jangka waktu selanjutnya ditulis dengan M. Jadi, rumus nilai tunai
adalah:
Nt =
n
) i 1 (
M
+
atau Nt = M(1 + i)
–n
nga
tahun selama 12 tahun modal menjadi Rp13.375.625,26!
n = 0,15/tahun
12 tahun
M =

Contoh 35
Tentukan modal mula-mula jika suatu modal setelah dibungakan dengan bu
majemuk sebesar 15%/

Jawab:
M
n
= Rp13375625.26
i = 15%/tahu
n =

n
n
) i 1 (
M
+

12
) 15 , 0 1 (
26 , 625 . 375 . 13
+
=
=
12
15 , 1
26 , 625 . 375 . 13

350250105 , 5
26 , 625 . 375 . 13
= = Rp2.500.000,00
dibungakan selama 4 tahun 9 bulan dengan suku
%/kwartal!

u = 19 kwartal (1 tahun = 4 kwartal)
Nt =


Contoh 36
Tentukan modal mula-mula (Nilai Tunai dari suatu modal) jika nilai akhir modal
sebesar Rp17.262.804.24 setelah
bunga 8
Jawab:
M = Rp17.262.804.24
i = 8%/kwartal = 0.08/kwartal
n = 4 tahun 9 b lan
n
) i 1 (
M
+

=
19
) 08 , 0 1 (
24 , 804 . 262 17.
+

117 BAB III Matematika Keuangan
=
19
) 08 , 1 (
24 , 804 . 262 . 17

=
315701059 , 4

Contoh 37
24 ,
= Rp4.000.000,00
Tentukan nilai tunai dari suatu modal Rp5.000.000,00 yang dibungakan dengan bunga
elama 2 tahun!
= 0,02 bulan
t
= 5.000.000,00 (1+0.02)
-24

nggunakan kalkulator Scientifi
gkah
17262804
majemuk 2%/bulan s


Jawab:
M = Rp5.000.000,00
i = 2%/ bulan
n = 2 tahun = 24 bulan

N = M(1 + i)
-n

= 5.000.000,00 x 1.02
-24
c dengan me
lan diperoleh:
0,621721487
08.607,44
Atau dengan rumus:
= 5.000.000,00 x
= Rp3.1

Nt =
n
) i 1 (
M
+

=
24
) 02 , 0 1 (
000 . 000 . 5
+

=
608437249 , 1
000 . 000 . 5

= Rp3.108.607,44

D ngan menggunakan daftar:
N = M(1 + i)
-n

e
%)
-24
dengan daftar III, kolom 2% baris 24 diperoleh:
= 5.000.000,00 x 0,621721487

han
cara nentukan nilai
berapa
• Menggunakan kalkulator yang dilengkapi dengan tombol x
t
= 5.000.000,00 (1 + 2

= Rp3.108.607,44


11). Nilai Tunai Bunga Majemuk Dengan Masa Bunga Peca

Jika jangka waktu (n) bukan merupakan bilangan bulat, maka me
(1 + i)
–n
dapat dilakukan dengan be cara. antara lain:
y
Menggunakan rumus : Nt =
) i . p 1 ( ) i 1 (
M
dengan p = suku bunga peca
n
+ +
han.
perbedaan sedikit modal akhir yang diperoleh dari dua cara di atas.

Terdapat



118
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Contoh 38
Tentukanlah nilai tuna
Rp3.500.000,00 jika dibu
i setelah berbunga selama 6.5 bulan. Modal menjadi
n dengan suku bunga majemuk 3%/bulan!
= 3 ulan
enga ientific:
6,5

Nt = 3.500.000,00 x ..................... = .....................................
ngaka

Jawab:
M = Rp3.500.000,00
i %/bulan = 0,03/b
n = 6,5 bulan
D n menggunakan kalkulator Sc
Nt = M(1 + i)
–n

Nt = 3.500.000,00 (1 + 0,03)
Nt = 3.500.000,00 (1,03)
6,5

) i . p 1 ( ) i 1 (
M
n
+ +
Dengan menggunakan rumus: Nt = dengan = 6 da n n p = 0,5
Nt =
) 03 , 0 x 5 , 0 1 ( ) 03 , 0 1 (
00 , 000 . 500 . 3

6
+ +
Nt =
) 015 , 1 ( ) 03 , 1 (
00 , 000 . 500 . 3
6

Nt =
015 , 1 x 7 1,19405229
00 , 000 . 500 . 3

Nt =
. .......... ..........
00 , 000 . 500 . 3
= ...................
Conto 39
kan selama 4 tahun 9 bulan dengan suku bunga majemuk
00,00. Tentukanlah nilai tunai modal!
4
h
Modal setelah dibunga
10%/tahun menjadi Rp6.500.0

Jawab:
M = Rp6.500.000.00
i = 10%/tahun = 0.1/tahun
n = 4 Tahun 9 bulan =
12
9
tahun = 4,75 tahun
enga r scientific:
4,75
Nt = 6.500.000 x ..................... = ......................
Dengan m
D n menggunakan kalkulato
Nt = M(1 + i)
–n

Nt = 6.500.000 (1 + 0.1)
Nt = 6.500.000 (1.1)
4,75

M
enggunakan rumus: Nt =
) i . p 1 ( ) i 1 (
n
+ +
dengan n = 4 dan p = 0,75
Nt =
00 , 000 . 500 .
) 1 , 0 x 75 , 0 1 ( ) 1 , 0 1 (
6
4
+ +

Nt =
) 075 , 1 ( ) 1 , 1 (
00 , 000 . 500 . 6
4

Nt =
075 , 1 x . ..........
00 , 000 . 500 . 6
= ..................................
119 BAB III Matematika Keuangan
c. Rangkuman

1. Suku bunga = % 100 x
bunga

2. Persen ra penyebut dan
pembilangnya sama deng um ditulis:
mula mula pinjaman −

di atas seratus adalah bentuk pecahan yang selisih anta
an seratus. Secara um
p% di atas seratus =
p 100 +

Persen di bawah seratus adalah bentuk pecahan yang jumlah antara penyebut dan
p
3.
pembilangnya sama den
p% di bawah seratus =
gan seratus. Secara umum ditulis:
p 100 −
Persen di atas seratus digunakan jika nilai yang diketahui lebih besar dari nilai
p

4.

rugi dengan harga jual. % diskon dengan harga setelah
6. Jika sua dibungakan dengan suku bunga tunggal i% tiap tahun, maka
mula-mula. Misalkan % laba dengan harga jual. % bonus dengan harga setelah
bonus. % bunga dengan modal setelah bunga dan lain-lain.
Persen di bawah seratus digunakan jika nilai yang diketahui lebih kecil dari nilai
mula-mula. Misalkan %
diskon dan lain-lain.

5. Bunga = suku bunga tiap periode x banyaknya periode x modal
tu modal M
berlaku:
¾ Setelah t tahun besarnya bunga: B =
100

t x i x M
¾ Setelah t bulan besarnya bunga: B =
200 . 1

t x i x M
¾ Setelah t hari besarnya bunga: B =
000 . 36
. untuk 1 tahun = 360 hari
t x i x M
¾ Setelah t hari besarnya bunga: B =
500 . 36
. untuk 1 tahun = 365 hari
t x i x M
¾ Setelah t hari besarnya bunga: B =
600 . 36

t x i x M
. untuk 1 tahun = 366 hari
nto i%/bulan dan akan dikembalikan setelah t bulan,

n.
i%/tahun.
7. Jika pinjaman M dengan disko
maka:
¾ Diskonto : D = M x i x t
¾ besarnya modal yang diterima di awal pinjaman : Mt = M – M x i x t
Rumus di atas berlaku juga untuk diskonto i%/tahun dan akan dikembalikan
setelah t tahun. Bagaimanakah jika diskonto i%/bulan dan akan dikembalika

8. Nilai diskonto untuk besarnya pinjaman M dengan suku bunga
¾ Akan di bayar t tahun yang akan datang: D =
100
t x i x M



120
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
¾ Akan di bayar t bulan yang akan datang : D =
200 . 1
t x i x M


000 . 36
t x i x M
¾ Akan di bayar t hari yang akan datang: D = . (1 tahun = 360 hari)
9. Diskonto juga dap

x Modal yang diterima
10. M
a.
jika suku bunga tunggal merupakan pembagi dari 360,
1 tahun dianggap 360 hari, suku bunga i%/tahun dan jangka waktu

at dicari dengan rumus:
D = i % di bawah 100
etode menentukan bunga tunggal:
Metode pembagi tetap
Metode ini digunakan
pengembalian t hari.
Jika
100
t x M
= angka bunga dan
i
360
= pe mbagi tetap, maka:
= B
tetap pembagi
dan Jumlah
bunga angka
bunga =
tetap pembagi
bunga angka jumlah

b.
jika suku bunga tunggal bukan merupakan pembagi dari
ari. Suku bunga i%/tahun dan jangka waktu
c. yang

Metode persen yang sebanding
Metode ini digunakan
360. 1 tahun dianggap 360 h
pengembalian t hari.

Metode persen seukuran
= 365 hari. Pembagi tetapnya = 73 Metode ini digunakan jika 1 tahun
B =
73
bunga angka
dan Jumlah bunga =
73
bunga angka jumlah


11. Jika suatu modal M dibungakan uk i%/periode selama n
periode, maka modal akhir M
n
:
12. Rumus

gan p masa bunga pecahan
13. Rumus nilai tunai
n bunga majem denga

M
n
= M(1 + i)
n

nilai akhir bunga majemuk dengan masa bunga pecahan:

M
n
= M(1 + i)
n
(1 + p.i) Den
adalah: bunga majemuk
Nt =
n
) i 1 (
M
atau Nt = M(1 + i)
–n
+
14. Ru unai bunga m n
Nt =
mus nilai t ajemuk dengan masa bunga pecaha
) i . p 1 ( ) i 1 (
M
n
+ +
dengan p = suku bunga pecahan

121 BAB III Matematika Keuangan
0
an persen di bawah 100:
awah 100
4.
00 c. 12,5%
5. Tentuk
atas 100 dari Rp51.250,00 c. 12,5% dari Rp300.000,00

nsin disubsidi oleh pemerintah sebesar 9% dan harganya per liter
. Rp2.000.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 5
8. 0,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 2 tahun
s /cawu. Tentukan:

9. dengan bunga tunggal 0,75%/bulan selama
n 24 hari (jika dianggap 1 tahun =360 hari). Tentukan:
1. Ubahlah menjadi persen dan persen di atas 100:
a. 5% di bawah 100 b. 18% di bawah 10

2. Ubahlah menjadi persen d
a. 27% di atas 100 b. 16% di atas 100

3. Ubahlah menjadi persen:
a. 2,5% di atas 100 b. 25% di b

Ubahlah menjadi pecahan yang paling sederhana:
a. 2,5% di atas 1
b. 30% di bawah 100 d. 25 % di bawah 100

an nilainya:
a. 2,5% di
b. 3% di bawah 100 dari Rp630.500,00 d. 33% di bawah 100 dari 201

6. Selesaikan :
a. Harga barang setelah diskon 17% adalah Rp43.990,00. Tentukanlah besar
diskon dan harga sebelum diskon!
b. Harga jual suatu barang setelah untung sebesar 13% adalah Rp706.250,00.
Tentukanlah besarnya untung dan harga belinya!
c. Harga barang setelah dikenai pajak 28% adalah Rp806.400,00. Tentukanlah
besar pajak dan harga sebelum pajak!
d. Harga jual suatu barang setelah rugi sebesar 24% adalah Rp638.400,00
Tentukanlah besarnya rugi dan harga belinya!
e. Harga barang setelah dikenai pajak 23% adalah Rp553.500,00. Tentukanlah
besar pajak dan harga sebelum pajak!
f. arga be H
menjadi Rp4.550,00. Tentukanlah besarnya subsidi perliter dan harga sebelum
subsidi!

Suatu modal sebesar 7
tahun dengan suku bunga 15%/tahun. Tentukan bunga yang diperoleh dan modal
setelah dibungakan!
Modal sebesar R
5 bulan, dengan
p4.600.00
uku bunga 4,5%
a. Bunga yang diperoleh!
b. Modal akhir!
0.000,00 dibungakan Pinjaman Rp6.75
tahun 2 bulan da 1
a. Bunga yg diperoleh!
b. Modal akhir!

10. Modal sebesar Rp360.000 dibungakan dengan suku bunga tunggal 1.5%/bulan.
ternyata modal menjadi Rp516.600. Setelah berapa bulan modal itu dibungakan?



122
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
11. Pinjaman sebesar Rp2.800.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal 2 tahun, 5
12. ar Rp4.600.000,00 setelah dibungakan dengan bunga tunggal selama

4. Pinjaman sebesar Rp4.200.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal 3 tahun. 1
Modal sebesar Rp2.400.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal 5 %/
7. Pinjaman sebesar Rp3.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 8
a tiap semester?
.000,00. Tentukan bunga yang diperoleh
a!
bul an dan 10 hari (1 tahun = 360 hari ), dengan suku bunga 2%/bul an.
Tentukanlah bunga yang diperoleh!


Modal sebes
1 tahun 10 bulan menjadi Rp5.106.000,00. Tentukanlah suku bunganya tiap
semester!

13. Pinjaman sebesar Rp3.000.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 1
tahun 7 bulan dengan suku bunga 3%/triwulan . Tentukan bunga yang diperoleh!


1
bulan dan 20 hari (1 tahun = 360 hari), dengan suku bunga 1%/bulan. tentukanlah
bunga yang diperoleh!

15. Modal sebesar Rp800.000,00 setelah dibungakan dengan bunga tunggal selama 1
tahun 8 bulan menjadi Rp1.120.000,00. Tentukanlah suku bunganya tiap triwulan?


16.
semester, ternyata modal menjadi Rp3.060.000,00. Setelah berapa bulan modal itu
dibungakan!


1
bulan 10 hari (1 tahun = 360 hari) dengan suku bunga 6%/cawu. Tentukan bunga
yang diperoleh!

18. Pinjaman sebesar Rp2.000.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 3
tahun 2 bulan dengan suku bunga 6%/semester. Tentukan bunga yang diperoleh!


19. Pinjaman sebesar Rp1.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal 1 tahun, 2
bulan dan 18 hari (1 tahun = 360 hari) dengan suku bunga 6%/cawu. Tentukanlah
bunga yang diperoleh?

20. Modal Rp 4.000.000.00 setelah dibungakan dengan bunga tunggal selama 2 tahun
7 bulan menjadi Rp 4.930.000,00. Tentukan suku bungany


21. Modal Rp2.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal 0.5 %/bulan.
Setelah berapa bulan modal itu menjadi Rp2.762.500,00?

22. Suatu pinjaman sebesar Rp4.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama
1 tahun 7 bulan. Ternyata bunga yang diperoleh Rp570.000,00. Tentukan suku
bunganya tiap tahun dan tiap triwulan!
23. Suatu pinjaman sebesar Rp2.400.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal
4.5%/semester. ternyata modal tersebut menjadi Rp2.634.000,00. Setelah berapa
bulan bunga tersebut dibungakan?
24. Suatu modal setelah dibungakan dengan bunga tunggal 11%/tahun selama 2
tahun modal tersebut menjadi Rp6.832
dan modal mula-mul
123 BAB III Matematika Keuangan
25. dengan sistem diskonto 1,5%/bulan dan akan

26. dengan sistem diskonto 15%/tahun dan akan


28 stem diskonto 6.5%/tahun dan akan

29. dengan sistem diskonto 4,5%/kwartal dan akan
30. Di bawah ini adalah Ko ra “
de a u bunga tung n dan 1 tahun di 360 hari:
No
abah
Ju ) Jangka wak balian (t)
Pinjaman sebesar Rp4.500.000,00
dikembalikan setelah 7 bulan. Tentukan:
a. Nilai diskontonya
a peminjam! b. Modal yang diterim
Pinjaman sebesar Rp1.250.000,00
dikembalikan setelah 7 bulan. Tentukan:
a. Nilai diskontonya
b. Modal yang diterima peminjam!
27. Pinjaman sebesar Rp8.000.000,00 dengan sistem diskonto 18 %/tahun dan akan
dikembalikan setelah 2 bulan 10 hari. Tentukan modal yang diterima peminjam jika
dianggap 1 tahun = 360 hari!
. Suatu pinjaman akan dilunasi dengan si
dikembalikan dalam waktu 3 tahun. Jika Modal yang diterima peminjam di awal
periode sebesar Rp4.182.500,00. Tentukan nilai diskonto dan besarnya pinjaman
yang harus dikembalikan saat jatuh tempo!
Suatu pinjaman akan dilunasi
dikembalikan dalam waktu 14 bulan. Jika Modal yang diterima peminjam di awal
periode sebesar Rp734.700,00. Tentukan besarnya pinjaman yang harus
dikembalikan saat jatuh tempo!
tabel dari nasabah perasi Simpan Pinjam “ Sejahte
ng n suk gal i = 12%/tahu anggap
Nama
Nas
mlah pinjaman (M tu pengem
1 Arif Rp7.000.000,00 50 hari
2 Budiman Rp4.500.000,00 120 hari
Rp8.500.000,00 40 hari 3 Cecep
150 hari 4 Dwi Rp2.500.000,00
5 Endang Rp5.500.000,00 70 hari
Tentukanlah:
a. Pembagi tetap dan jumlah angka bunganya
b. Bunga total yang diperoleh koperasi!

31. Di bawah ini adalah o nga
tu g % / tahun gap 360 hari:
No
a
abah
Ju ) Jangka wakt mbalian (t)
tabel dari nasabah K perasi Mutiara dengan suku bu
ng al i = 13 dan 1 tahun dian
Nam
Nas
mlah pinjaman (M u penge
1 Puput Rp2.800.000,00 45 hari
2 Qalam Rp1.750.000,00 90 hari
3 Risma Rp4.500.000,00 60 hari
4 Syukur Rp3.600.000,00 80 hari
5 Titin Rp2.500.000,00 90 hari
6 Upik Rp1.500.000,00 150 hari
Dengan menggunakan persen yang sebanding. Tentukan bunga total yang
diperoleh koperasi!


124
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
32. Di bawah h tabel dari nasabah Koperasi ”Maju Bersama” dengan suku
bu a al i = 7.5% n dianggap 365
No
ama
asabah
Ju ) Jangka wakt mbalian (t)
ini adala
ng tungg /tahun dan 1 tahu hari.
N
N
mlah pinjaman (M u penge
1 Kunti Rp2.400.000,00 40 hari
2 Lina Rp4.800.000,00 75 hari
3 Mira Rp3.500.000,00 50 hari
4 Nunik Rp2.500.000,00 90 hari
5 Ophi Rp1.800.000,00 80 hari
6 Puspita Rp7.000.000,00 150 hari
Tentukan bunga total yang diperoleh koperasi dengan mengunakan persen yang
seukuran!

33. Modal Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk 12%/tahun. Tentukan
modal akhir dan bunga yang diperoleh setelah 8 tahun!
9?

lan!
2. Tentukan modal mula-mula (Nilai Tunai dari suatu modal) jika nilai akhir modal
34. Modal sebesar Rp4.800.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
6%/triwulan selama 3.5 tahun. Tentukan modal akhir!
35. Modal sebesar Rp4.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk
4%/caturwulan selama 5 tahun 4 bulan. Tentukan modal akhir!
36. Modal sebesar Rp3.250.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
5%/semester, setelah berapa tahun modal akhir menjadi = Rp7.094.342.41?

37. Modal sebesar Rp5.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
2,5%/triwulan, setelah berapa triwulan modal akhir menjadi = Rp7.040.464,9
38. Pinjaman Rp2.800.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk tiap semester.
Setelah 4,5 tahun modal menjadi Rp3.985.273,08. Tentukan suku bunganya!

39. Modal sebesar Rp5.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
2,5%/bulan. Tentukanlah modal akhir setelah berbunga selama 6,25 bulan!

40. Modal sebesar Rp7.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
12%/tahun. Tentukanlah modal akhir setelah berbunga selama 5 tahun 8 bu

41. Tentukan modal mula-mula jika suatu modal setelah dibungakan dengan bunga
majemuk 11.5%/tahun selama 12 tahun modal menjadi Rp5.538.468,22!

4
sebesar Rp8.959.233,86, setelah dibungakan selama 2 tahun 8 bulan dengan suku
bunga 4,5%/caturwulan!

43. Tentukan nilai tunai dari suatu modal Rp800.000,00 yang dibungakan dengan
bunga majemuk 2,5%/bulan selama 10 bulan!
44. Tentukanlah nilai tunai dari modal sebesar Rp8.500.000,00 dibungakan dengan
suku bunga majemuk 1,75%/bulan selama 8.5 bulan!

45. Tentukan nilai tunai dari modal sebesar Rp1.650.000,00 dibungakan dengan suku
bunga majemuk 7%/tahun setelah berbunga selama 3 tahun 8 bulan!
125 BAB III Matematika Keuangan
B.2. Rente
nda dapat:
nte
merando
Menghitung Nilai Tunai Rente Pra numerando
Tunai Rente Post Numerando
Menghitung Nilai Tunai Rente Kekal
mlah tabungan yang telah tersimpan. Andaikan
ente adalah sederatan modal atau angsuran yang dibayarkan atau diterima pada
a numerando adalah rente yang dibayarkan atau diterima di awal
yarkan atau diterima di akhir
b. Rente berdasarkan banyaknya angsuran terdiri dari:
ng pembayaran pertamanya langsung sesuai
perjanjian.
¾ Rente yang ditangguhkan adalah rente yang pembayaran pertamanya
riode, sehingga
angsuran terakhir sudah mengalami pembungaan satu periode.
Misalkan modal yang dibayarkan adalah M dengan bunga i%/periode selama n
periode, maka proses pembungannya perhatikan skema di bawah ini:
a. Tujuan

Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, a
¾ Menjelaskan pengertian dan macam-macam Re
¾ Menghitung Nilai Akhir Rente Pra numerando
¾ Menghitung Nilai Akhir Rente Post Nu
¾
¾ Menghitung Nilai
¾

b. Uraian Materi
1). Pengertian dan macam-macam Rente

Andaikan anda menyimpan sejumlah uangnya setiap awal bulan di bank dengan
jumlah yang sama, dan bank memberikan bunga terhadap simpanan anda. Setelah
sekian bulan anda akan menghitung ju
bank tidak membebani biaya administrasi, dapatkah anda menghitung jumlah
keseluruhan simpanan uang anda? Untuk menghitung jumlah tabungan dari ilustrasi di
atas. dibutuhkan ilmu tentang Rente.

R
setiap jangka waktu tertentu yang tetap besarnya.
Pada hakikatnya ada tiga macam rente, yaitu:

a. Rente berdasarkan saat pembayaran angsuran terdiri dari:
¾ Rente Pr
periode.
¾ Rente Post Numerando adalah rente yang diba
periode.


¾ Rente terbatas adalah rente yang jumlah angsurannya terbatas.
¾ Rente kekal adalah rente yang jumlah angsurannya tidak terbatas.


c. Rente berdasarkan langsung tidaknya pembayaran pertama terdiri dari:
¾ Rente langsung adalah rente ya
ditangguhkan beberapa periode.


2). Nilai Akhir Rente Pra numerando

Rente Pra numerando adalah rente yang dibayarkan di awal pe


126
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi

Jika Nilai akhir Rente Pra numerando dilambangkan dengan Na, dari skema di atas
diperoleh suatu deret, yaitu:

Na = M(1 + i) + M(1 + i)
2
+ . . . + M(1 + i)
n – 2
+ M(1 + i)
n – 1
+ M(1 + i)
n

Ternyata deret di atas adalah deret geometri dengan suku pertama a = M(1 + i) dan
rasio r =
) i 1 ( M
) i 1 ( M
2
+
+
= (1 + i), sehingga:
Na =
1 r
) 1 r ( a
n



=
1 ) i 1 (
) 1 ) i 1 )(( i 1 ( M
n
− +
− + +
=
i
) 1 ) i 1 )(( i 1 ( M
n
− + +

Nilai akhir rente Pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%
Selama n periode adalah:
Na =
i
) 1 ) i 1 )(( i 1 ( M
n
− + +


Dengan menggunakan tabel:

Na = M(1 + i) + M(1 + i)
2
+ . . . + M(1 + i)
n – 2
+ M(1 + i)
n – 1
+ M(1 + i)
n

Na = M[(1 + i) + (1 + i)
2
+ . . . + (1 + i)
n – 2
+ (1 + i)
n – 1
+ (1 + i)
n
]
Na = M.

=
+
n
1 k
k
) i 1 (


Na = M x Daftar Nilai akhir rente
Keterangan:
¾ Daftar nilai akhir rente adalah daftar V dan VI pada lampiran buku ini
¾ Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-n
127 BAB III Matematika Keuangan
Contoh 40
Setiap awal tahun Nisa menyimpan uang di Bank ABC sebesar Rp1.000.000,00. Jika
bank memberikan bunga 6%/tahun, tentukan uang Nisa setelah menabung 20 tahun!


Jawab:
M = Rp1.000.000.00
i = 6% / tahun = 0.06/tahun
n = 20 tahun

Na =
i
] 1 ) i 1 )[( i 1 ( M
n
− + +

=
06 , 0
] 1 ) 06 , 0 1 )[( 06 , 0 1 ( 000 . 000 . 1
20
− + +

=
06 , 0
) 1 06 , 1 ( x 000 . 060 . 1
20


=
06 , 0
207135472 , 2 x 000 . 060 . 1
= Rp38.992.726,68

Dengan Daftar :
Na = Modal x Tabel VI kolom 6% dan baris 20
= Rp1.000.000 x 38,99272668
= Rp38.992.726,68

Contoh 41
Seorang karyawan setiap awal bulan menyimpan uang di bank sebesar Rp500.000,00.
Bank memberikan bunga 1,5%/bulan selama 2 tahun. Tentukan simpanan karyawan
selama 2 tahun!

Jawab:
M = Rp 500.000,00
i =1,5%/bulan = 0,015/bulan
n = 2 tahun = 24 bulan

Na =
i
] 1 ) i 1 )[( i 1 ( M
n
− + +

=
015 , 0
] 1 ) 015 , 0 1 )[( 015 , 0 1 ( x 00 , 000 . 500
24
− + +

=
015 , 0
) 1 015 , 1 ( x 00 , 500 . 507
24


=
015 , 0
429502811 , 0 x 00 , 500 . 507
= Rp14.531.511,80
Dengan daftar :

Na = Modal x daftar V baris 24 dan kolom 1.5%
= Rp500.000.00 x ...................
= Rp14.531.511,80



128
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
3). Nilai Akhir Rente Post Numerando

Rente Post Numerando adalah rente yang dibayarkan di akhir periode, sehingga
angsuran terakhirnya tidak mengalami pembungaan.
Misalkan modal yang dibayarkan adalah M dengan bunga i%/periode selama n
periode, maka proses pembungaannya perhatikan skema di bawah ini:

Jika Nilai akhir Rente Post Numerando dilambangkan dengan Na, dari skema di atas
diperoleh suatu deret, yaitu:
Na = M + M(1 + i) + M(1 + i)
2
. . . + M(1 + i)
n – 3
+ M(1 + i)
n – 2
+ M(1 + i)
n – 1


Ternyata deret di atas adalah deret geometri dengan suku pertama a = M dan rasio r
=
M
) i 1 ( M +
= (1 + i), sehingga:
Na =
1 r
) 1 r ( a
n



=
1 ) i 1 (
) 1 ) i 1 (( M
n
− +
− +
=
i
) 1 ) i 1 (( M
n
− +

Nilai akhir rente Post Numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%
Selama n periode adalah:
Na =
i
) 1 ) i 1 (( M
n
− +


Dengan menggunakan tabel:
Na = M + M(1 + i) + M(1 + i)
2
. . . + M(1 + i)
n – 3
+ M(1 + i)
n – 2
+ M(1 + i)
n – 1

Na = M + M[(1 + i) + (1 + i)
2
. . . + (1 + i)
n – 3
+ (1 + i)
n – 2
+ (1 + i)
n – 1
]
Na = M + M.


=
+
1 n
1 k
k
) i 1 (
Na = M + M x Daftar Nilai akhir rente

129 BAB III Matematika Keuangan
Keterangan:
¾ Daftar nilai akhir rente adalah daftar V dan VI pada lampiran buku ini.
¾ Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-(n – 1).
Contoh 42
Setiap akhir tahun Ayah menyimpan uangnya di bank ABC sebesar Rp800.000,00
selama 25 tahun. Jika bank memberikan bunga 5%/tahun, tentukan jumlah simpanan
total Ayah!


Jawab:
M = Rp800.000,00
i = 5%/tahun = 0,05/tahun
n = 25 tahun

Na =
i
) 1 ) i 1 (( M
n
− +

=
05 , 0
) 1 ) 05 , 0 1 ( x 00 , 000 . 800
25
− +

=
05 , 0
) 1 05 , 1 ( x 00 , 000 . 800
25


=
05 , 0
386354941 , 2 x 00 , 000 . 800
= Rp38.181.678,05

Dengan daftar:
Na = M + M x Daftar V kolom 5% dan baris ke-(25 – 1) = baris ke-24
= 800.000.00 + 800.000,00 x 46,72709882
= 800.000.00 + 37.381.679,06
= Rp38.181.679,06

Contoh 43
Setiap akhir bulan Yenny menyimpan uang di bank Rp500.000,00 selam 2 tahun. Jika
bank memberikan suku bunga 1.5%/bulan, tentukan simpanan total Yenny di bank
tersebut!


Jawab:
M = Rp500.000,00
i = 1,5% / bulan = 0,015 bulan
n = 2 tahun = 24 bulan
Na =
i
) 1 ) i 1 (( M
n
− +

=
015 , 0
) 1 ) 015 , 0 1 (( x 00 , 000 . 500
24
− +

=
015 , 0
) 1 ) 015 , 1 (( x 00 , 000 . 500
24


=
015 , 0
429502811 , 0 x 00 , 000 . 500
= Rp14.316.760,40


130
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi

Dengan daftar:
Na = M + M x Daftar V kolom 1.5% dan baris ke-(24 – 1) = baris ke-23
= 500.000,00 + 500.000,00 x 27,63352080
= Rp 14.316.760,40


4). Nilai Tunai Rente Pra Numerando

Nilai tunai rente Pra numerando adalah jumlah semua nilai tunai angsuran yang
dihitung pada awal masa bunga yang pertama. Nilai tunai angsuran pertama adalah
nilai angsuran itu sendiri, yaitu M:

Jika Nilai tunai Rente Pra numerando dilambangkan dengan Nt, dari skema di atas.
diperoleh suatu deret, yaitu:

Nt = M + M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–3
+ M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1


Deret di atas adalah deret geometri dengan suku pertama a = M dan rasio
r =
M
) i 1 ( M
1 −
+
= (1 + i)
–1
< 1, sehingga:
Nt =
r 1
) r 1 ( a
n



=
1
n
) i 1 ( 1
) ) i 1 ( 1 ( M


+ −
+ −
x
) i 1 (
) i 1 (
+
+

=
1 ) i 1 (
) ) i 1 ( 1 )( i 1 ( M
n
− +
+ − +

=
i
) ) i 1 ( 1 )( i 1 ( M
n −
+ − +

Nilai tunai rente Pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% selama n
periode adalah:
Nt =
i
) ) i 1 ( 1 )( i 1 ( M
n −
+ − +

131 BAB III Matematika Keuangan

Dengan menggunakan daftar:
Nt = M + M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–3
+ M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1

Nt = M + M[(1 + i)
–1
+ (1 + i)
–2
. . . + (1 + i)
n–3
+ (1 + i)
n–2
+ (1 + i)
n–1
]
Nt = M + M.


=

+
1 n
1 k
k
) i 1 (
Nt = M + M x Daftar Nilai tunai rente

Keterangan:
¾ Daftar nilai tunai rente adalah daftar VII dan VIII pada lampiran buku ini.
¾ Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-(n – 1).
Contoh 44
Seorang siswa akan mendapat beasiswa pada setiap awal bulan dari PT UNILEVER
sebesar Rp250.000,00 selama 3 tahun. Jika pemberian itu akan diberikan sekaligus di
awal bulan pertama dengan dikenai bunga 2%/bulan, tentukan besarnya beasiswa
total yang diterima siswa!

Jawab:
M = Rp250.000,00
i = 2%/bulan = 0,02/bulan
n = 3 tahun = 36 bulan

Nt =
i
] ) i 1 ( 1 )[ i 1 ( M
n −
+ − +

=
02 , 0
] ) 02 , 0 1 ( 1 )[ 02 , 0 1 ( x 00 , 000 . 250
36 −
+ − +

=
02 , 0
] ) 02 , 1 ( 1 )[ 02 , 1 ( x 00 , 000 . 250
36 −


=
02 , 0
] 49022315 , 0 1 )[ 02 , 1 ( x 00 , 000 . 250 −

=
02 , 0
50977685 , 0 x 00 , 000 . 255
= Rp6.499.654,83

Dengan daftar:
Nt = M + M x daftar VII kolom 2% dan baris (36 – 1) = baris 35
= 250.000,00 + 250.000,00 x 24,99861933
= 250.000,00 + 6249654,83
= Rp6.499.654,83

Contoh 45
Tentukan nilai tunai rente Pra numerando dari suatu angsuran Rp4.000.000,00 selama
20 tahun dengan suku bunga 9%/tahun!
Jawab:
M = Rp4.000.000,00
i = 9%/tahun = 0.09/tahun


132
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
n = 20 tahun

Nt =
i
] ) i 1 ( 1 )[ i 1 ( M
n −
+ − +

=
09 , 0
] ) 09 , 0 1 ( 1 )[ 09 , 0 1 ( x 00 , 000 . 000 . 4
20 −
+ − +

=
09 , 0
] ) 09 , 1 ( 1 )[ 09 , 1 ( x 00 , 000 . 000 . 4
20 −


=
09 , 0
] 178430889 , 0 1 )[ 09 , 1 ( x 00 , 000 . 000 . 4 −

=
09 , 0
82156911 , 0 x 00 , 000 . 360 . 4
= Rp39.800.459,11
5). Nilai Tunai Rente Post numerando

Perhatikan skema jumlah semua nilai tunai total di bawah ini:

Jika nilai tunai Rente Post Numerando dilambangkan dengan Nt, dari skema di atas
diperoleh suatu deret, yaitu:
Nt = M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1
+ M(1 + i)
n


Deret di atas adalah deret geometri dengan suku pertama a = M(1 + i)
–1
dan rasio
r =
1
2
) i 1 ( M
) i 1 ( M


+
+
= (1 + i)
–1
< 1. sehingga:
Nt =
r 1
) r 1 ( a
n



=
1
n 1
) i 1 ( 1
] ) i 1 ( 1 [ ) i 1 ( M

− −
+ −
+ − +
x
) i 1 (
) i 1 (
+
+

133 BAB III Matematika Keuangan
=
1 ) i 1 (
) ) i 1 ( 1 ( M
n
− +
+ −

=
i
) ) i 1 ( 1 ( M
n −
+ −

Nilai tunai rente Post Numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% selama n
periode adalah:
Nt =
i
) ) i 1 ( 1 ( M
n −
+ −



Dengan menggunakan tabel:
Nt = M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1
+ M(1 + i)
n

Nt = M[(1 + i)
–1
+(1 + i)
–2
. . . + (1 + i)
n–2
+ (1 + i)
n–1
+ (1 + i)
n
]
Nt = M.

=

+
n
1 k
k
) i 1 (

Nt = M x Daftar Nilai tunai rente
Keterangan:
¾ Daftar nilai tunai rente adalah daftar VII dan VIII pada lampiran buku ini.
¾ Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-n.
Contoh 46
Tentukan nilai tunai rente Post Numerando dari suatu modal Rp300.000/bulan selama
2.5 tahun dengan suku bunga 1.75%/bulan!

Jawab:
M = Rp300.000.00
i = 1.75%/bulan = 0.0175/bulan
n = 2 tahun 6 bulan = 30 bulan

Nt =
i
] ) i 1 ( 1 [ M
n −
+ −

=
0175 , 0
] ) 0175 , 0 1 ( 1 [ x 00 , 000 . 300
30 −
+ −

=
0175 , 0
405752363 , 0 x 00 , 000 . 300
= Rp6.955.754,79

Contoh 47
Tiap akhir bulan Yayasan Cinta Damai mendapatkan sumbangan dari Badan
Perdamaian Dunia sebesar Rp5.000.000,00 selama 3 tahun berturut-turut. Jika
sumbangan akan diberikan sekaligus dan dikenai bunga sebesar 2%/bulan, tentukan
sumbangan total yg diterima yayasan!

Jawab:
M = Rp5.000.000,00
i = 2% / bulan = 0.02 / bulan
n = 3 tahun = 36 bulan
Nt =
i
] ) I 1 ( 1 [ M
n −
+ −



134
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
=
02 , 0
] ) 02 , 0 1 ( 1 [ x 00 , 000 . 000 . 5
30 −
+ −

=
02 , 0
] 02 , 1 1 [ x 00 , 000 . 000 . 5
30 −


=
02 , 0
) 552070889 , 0 1 ( x 00 , 000 . 000 . 5 −

=
02 , 0
447929111 , 0 x 00 , 000 . 000 . 5
= Rp111.982.277,80

Dengan daftar:
Nt = M x daftar VII kolom 2% dan baris 30
= 5.000.000.00 x 22 96455551 ,3
= Rp111.982.277,80
6). Nilai Tunai Rente Kekal

Rente kekal adalah rente yang jumlah angsurannya tidak terbatas. Nilai akhir rente
merupakan deret geometri naik. Oleh karena itu rente kekal tidak ada nilai akhirnya.
Nilai tunai rente merupakan deret geometri turun, sehingga nilai tunai rente kekal
memiliki nilai.
a). Nilai Tunai Rente Kekal Pra numerando

Deret nilai tunai modal rente Pra numerando yang sudah dipelajari adalah:
Nt = M + M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–3
+ M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1

Jika jumlah angsurannya tidak terbatas, maka deret di atas menjadi deret geometri tak
berhingga, yaitu:
Nt = M + M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . . . .
dengan suku pertama a = M dan rasio r =
M
) i 1 ( M
1 −
+
= (1 + i)
–1
< 1. sehingga:
Nt =
r 1
a


=
1
) i 1 ( 1
M

+ −
x
) i 1 (
) i 1 (
+
+

=
1 ) i 1 (
) i 1 ( M
− +
+
=
i
) i 1 ( M +

Nilai tunai rente Pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%:
Nt =
i
) i 1 ( M +
atau Nt = M
i
M
+
Contoh 48
Tentukan nilai tunai Rente kekal Pra numerando dari suatu modal Rp500.000,00/bulan
dengan suku bunga 2.5%/bulan!

Jawab:
M = Rp500.000,00
i = 2.5%/bulan = 0.025/bulan
135 BAB III Matematika Keuangan
Nt = M +
i
M

= 500.000,00 +
025 , 0
00 , 000 . 500

= 500.000,00 + 20.000.000,00
= Rp20.500.000,00


Contoh 49
Setiap awal bulan, Fulan akan mendapatkan beasiswa dari PT UNILEVER sebesar
Rp175.000,00 dalam jangka waktu yang tak terbatas. PT.UNILEVER tak mau repot.
Oleh karena itu, beasiswa akan diberikan sekaligus namun harus dikenai bunga
sebesar 1%/ bulan. Tentukan beasiswa total yg diterima Fulan!


Jawab:
Soal di atas merupakan rente kekal pra numerando karena memuat kata ” setiap awal
bulan “ dan “ jangka waktu yang tak terbatas”.
M = Rp175.000,00
i = 1%/bulan = 0,01/bulan
Nt = M +
i
M

= 175.000,00 +
01 , 0
00 , 000 . 175

= 175.000,00 + 17.500.000,00
= Rp17.675.000,00
Contoh 50
Nilai tunai dari rente kekal Pra numerando adalah Rp15.300.000,00. Jika suku bunga
2%/bulan, tentukan besarnya angsuran!


Jawab:
Nt = Rp15.300.000,00
i = 2%/bulan = 0,02/bulan

Nt =
i
) i 1 ( M +

15.300.000,00 =
02 , 0
) 02 , 0 1 ( M +

15.300.000,00 x 0,02 = M x1.02
306.000,00 = M x 1.02
M =
02 , 1
00 , 000 . 306

= Rp300.000,00
Jadi, besarnya angsuran adalah Rp300.000,00.
Contoh 51
Chandra mendapatkan tunjangan dari orang tua asuh Rp175.000.00 tiap awal bulan
sampai jangka waktu yang tidak terbatas. Namun, tunjangan akan diberikan sekaligus


136
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
sebesar Rp10.175.000.00 dengan dikenai bunga. Berapakah besar suku bunganya
setiap bulan?

Jawab:
Nt = Rp10.175.000,00
M = Rp175.000,00

Nt = M +
i
M

10.175.000,00 = 175.000.00 +
i
00 , 000 . 175

10.175.000,00 – 175.000,00 =
i
00 , 000 . 175

10.000.000,00 =
i
00 , 000 . 175

i =
00 , 000 . 000 . 10
00 , 000 . 175

i = 0,0175 = 1.75%
Jadi, suku bunga tiap bulan = 1.75%.


b). Nilai Tunai Rente Kekal Post Numerando

Deret nilai tunai modal rente Post numerando yang sudah dipelajari adalah:
Nt = M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
. . . + M(1 + i)
n–3
+ M(1 + i)
n–2
+ M(1 + i)
n–1

Jika jumlah angsurannya tidak terbatas, maka deret di atas menjadi deret geometri tak
berhingga, yaitu:

Nt = M(1 + i)
–1
+ M(1 + i)
–2
+ M(1 + i)
–3
. . . . . .
dengan suku pertama a = M(1 + i)
–1
dan rasio r =
M
) i 1 ( M
1 −
+
= (1 + i)
–1
, sehingga:
Nt =
r 1
a


=
1
1
) i 1 ( 1
) i 1 ( M


+ −
+
x
) i 1 (
) i 1 (
+
+

=
1 ) i 1 (
M
− +
=
i
M

Nilai tunai rente Post numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%:
Nt =
i
M

Contoh 52
Tentukan nilai tunai rente post numerando dari suatu modal Rp40.000.00 dengan suku
bunga 0.75% / bulan!

Jawab:
M = Rp40.000,00
i = 0.75% / bulan = 0,075 / bulan
137 BAB III Matematika Keuangan
Nt =
i
M

=
075 , 0
00 , 000 . 40
= Rp533.333,33
Contoh 53
Setiap akhir tahun yayasan X akan mendapatkan sumbangan dari Bank Dunia Sebesar
Rp3.500.000,00 dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Jika Bank Dunia akan
memberikan sumbangan sekaligus dengan bunga 17,5%/tahun, tentukan jumlah
sumbangan total yg diterima yayasan X tersebut!

Jawab:
M = Rp3.500.000,00
i = 17,5%/tahun = 0,175/tahun
Nt =
i
M

=
175 , 0
00 , 000 . 500 . 3

= Rp20.000.000,00


Contoh 54
Nilai tunai dari rente kekal post numerando adalah Rp5.000.000,00. Jika besar
angsurannya Rp200.000.00 tiap bulan, tentukan suku bunganya!

Jawab:
Nt = Rp5.000.000,00
M = Rp200.000,00
Nt =
i
M

5.000.000,00 =
i
00 , 000 . 200

i = % 100 x
00 , 000 . 000 . 5
00 , 000 . 200
= 4 %
Jadi, suku bunganya 4% / bulan.
c. Rangkuman

1. Nilai akhir rente pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% selama n
periode adalah:
Na =
i
) 1 ) i 1 )(( i 1 ( M
n
− + +


Dengan menggunakan tabel:

Na = M x Daftar Nilai akhir rente
Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-n


138
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
2. Nilai akhir rente post numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% Selama n
periode adalah:
Na =
i
) 1 ) i 1 (( M
n
− +


Dengan menggunakan daftar:

Na = M + M x Daftar Nilai akhir rente
Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-(n – 1).

3. Nilai tunai rente pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% Selama n
periode adalah:
Nt =
i
) ) i 1 ( 1 )( i 1 ( M
n −
+ − +


Dengan menggunakan daftar:
Nt = M + M x Daftar Nilai tunai rente

Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-(n – 1).
4. Nilai tunai rente post numerando dengan angsuran M dan suku bunga i% Selama
n periode adalah:
Nt =
i
) ) i 1 ( 1 ( M
n −
+ −


Dengan menggunakan daftar:

Nt = M x Daftar Nilai tunai rente
Nilai dari daftar adalah kolom ke-i % dan baris ke-n.

5. Nilai tunai rente kekal Pra numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%
adalah:
Nt =
i
) i 1 ( M +
atau Nt = M
i
M
+
6. Nilai tunai rente Post numerando dengan angsuran M dan suku bunga i%:
Nt =
i
M

7. Kata-kata yang dapat membantu untuk membedakan masing-masing rente dalam
soal-soal verbal antara lain:
¾ Rente pra numerando: di awal bulan, di awal tahun, dan lain-lain.
¾ Rente post numerando: di akhir bulan, di akhir tahun, dan lain-lain.
¾ Nilai akhir rente: menyimpan, menabung, dan lain-lain.
¾ Nilai tunai rente: menerima, mendapat, dan lain-lain.
¾ Rente kekal: selama-lamanya, abadi, jangka waktu yang tidak terbatas, dan
lain-lain.

139 BAB III Matematika Keuangan



1. Tentukanlah nilai akhir dari rente pra numerando dengan angsuran Rp125.000,00
tiap semester selama 10 tahun dengan suku bunga 4,75%/semester!

2. Tentukanlah nilai akhir dari rente pra numerando dengan angsuran Rp300.000,00
tiap bulan selama 4 tahun dengan suku bunga 2%/bulan!

3. Tentukanlah nilai akhir dari rente post numerando dengan angsuran
Rp4.000.000,00 tiap tahun selama 15 tahun dengan suku bunga 11%/tahun!

4. Tentukan nilai tunai post numerando dari modal Rp150.000.00 selama 1,5 tahun
dengan suku bunga 3,5%/bulan!

5. Tentukanlah nilai akhir dari rente post numerando dengan angsuran
Rp600.000,00 tiap semester selama 8 tahun dengan suku bunga 4,6%/semester!

6. Tentukanlah nilai tunai rente kekal pra numerando dari suatu modal
Rp125.000,00 tiap bulan dengan suku bunga 1,25%/bulan!

7. Tentukan nilai tunai post numerando dari modal Rp150.000,00 tiap bulan selama
2,5 tahun dengan suku bunga 2,5%/bulan!

8. Nilai tunai rente kekal post numerando adalah Rp10.000.000,00. Jika
angsurannya tiap bulan Rp200.000,00, tentukanlah suku bunganya!

9. Nilai tunai dari rente kekal pra numerando adalah Rp20.350.000,00. Jika suku
bunganya 1,75%/bulan, tentukanlah angsuran tiap bulannya!

10. Seorang siswa akan mendapat beasiswa pada setiap awal bulan dari Yayasan
Super Semar sebesar Rp350.000,00 selama 3 tahun 7 bulan. Jika beasiswa akan
diberikan sekaligus di awal bulan pertama dengan dikenai bunga 3,25%/bulan,
tentukan besarnya beasiswa total yang diterima siswa!

11. Tutik mendapatkan tunjangan dari orang tua asuh dengan besarnya tetap tiap
awal bulan sampai meninggal dunia. Namun, tunjangan akan diberikan sekaligus
sebesar Rp20.450.000,00 dengan suku bunga 2,25%. Berapakah besar
tunjangan setiap bulannya?

12. Setiap awal tahun Azzam menyimpan uang di Bank BRI sebesar Rp1.500.000,00.
Jika bank memberikan bunga 8,5%/tahun, tentukan jumlah simpanan Azzam
setelah menabung 20 tahun!

13. Tiap akhir bulan Yayasan Cinta Damai mendapatkan sumbangan dari Badan
Perdamaian Dunia sebesar Rp5.500.000,00 selama 4,5 tahun. Jika sumbangan
akan diberikan sekaligus dan dikenai bunga sebesar 2%/bulan, tentukan
sumbangan total yg diterima yayasan!

14. Setiap akhir tahun Yayasan ABC akan mendapatkan sumbangan dari Bank Dunia
sebesar Rp3.250.000,00 dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Jika Bank
Dunia akan memberikan sumbangan sekaligus dengan bunga 10%/tahun,
tentukan jumlah sumbangan total yang diterima yayasan ABC tersebut!


140
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
15. Setiap akhir bulan Susan menyimpan uangnya di bank Rp225.000,00 selam 5
tahun. Jika Bank memberikan suku bunga 0,75%/bulan, tentukan simpanan total
Susan di Bank tersebut!

16. Seorang karyawan setiap awal bulan menyimpan uang di bank sebesar
Rp650.000,00 bank memberikan bunga 1,8%/bulan selama 2 tahun. Tentukan
simpanan total karyawan tersebut!

17. Nilai tunai rente kekal post numerando adalah Rp5.000.000,00. Jika angsurannya
tiap bulan Rp300.000,00, tentukanlah suku bunganya.
18. Setiap awal tahun Yayasan Khartika akan mendapatkan sumbangan dari luar
negeri sebesar Rp2.250.000,00 dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Jika
Bank Dunia akan memberikan sumbangan sekaligus dengan bunga 5%/tahun,
tentukan jumlah sumbangan total yang diterima yayasan tersebut!

19. Seorang siswa akan mendapat beasiswa pada setiap akhir bulan dari Yayasan
Super Semar sebesar Rp50.000,00 selam 2 tahun 3 bulan. Jika beasiswa akan
diberikan sekaligus di awal bulan pertama dengan dikenai bunga 1,25%/bulan,
tentukan besarnya beasiswa total yang diterima siswa!

20. Tiap awal bulan Yayasan Keadilan Sejahtera mendapatkan sumbangan dari
negara Saudi Arabia sebesar Rp7.500.000,00 selama 5 tahun. Jika sumbangan
akan diberikan sekaligus dan dikenai bunga sebesar 1,75%/bulan, tentukan
sumbangan total yg diterima yayasan!

21. Setiap awal bulan Sisca menyimpan uangnya di bank Rp 75.000,00 selama 4,5
tahun. Jika bank memberikan suku bunga 0,75%/bulan, tentukan simpanan total
Sisca di bank tersebut!

22. Tutik mendapatkan tunjangan dari orang tua asuh dengan besarnya tetap tiap
awal bulan sampai meninggal dunia. Namun, tunjangan akan diberikan sekaligus
sebesar Rp18.450.000,00 dengan suku bunga 2,5%/bulan. Berapakah besar
tunjangan setiap bulannya?

23. Seorang karyawan setiap awal bulan menyimpan uang di bank sebesar
Rp650.000,00 bank memberikan bunga 1.8 %/ bulan selama 2 tahun. Tentukan
simpanan total karyawan tersebut!

24. Setiap awal tahun Nissa menyimpan uang di Bank BRI sebesar Rp 475.000,00
Jika bank memberikan bunga 7,5%/tahun, tentukan jumlah simpanan Nissa
setelah menabung 25 tahun!

25. Nilai akhir rente pra numerando dari suatu modal yang diberikan setiap bulan
selama 3 tahun dengan suku bunga 2,5% adalah Rp21.144.221,26. Tentukan
besarnya modal yang diberikan tiap bulannya!
141 BAB III Matematika Keuangan
B.3. Anuitas
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Menjelaskan pengertian anuitas.
¾ Menghitung anuitas.
¾ Menghitung besar sisa pinjaman.
¾ Menghitung anuitas yang dibulatkan.
¾ Menghitung rencana angsuran dengan sistem pembulatan.
¾ Menghitung anuitas pinjaman obligasi.
b. Uraian Materi
1). Pengertian Anuitas

Pernahkah anda menghitung sendiri cicilan yang harus dibayar setiap bulan jika akan
membeli rumah dengan cara angsuran? Dapatkah anda menghitung sisa pinjaman
anda, jika sudah mencicil selama n tahun dari pembayaran rumah yang anda cicil? Itu
semua akan di bahas dalam kompetensi dasar Anuitas.
Anuitas adalah sejumlah pembayaran pinjaman yang sama besarnya yang dibayarkan
setiap jangka waktu tertentu, dan terdiri atas bagian bunga dan bagian angsuran.

Anuitas = Angsuran + Bunga
A = a
n
+ b
n


Untuk n = bilangan asli: 1. 2. 3. . . .
Jika suatu pinjaman sebesar M dilunasi dengan sistem anuitas tahunan selama n tahun
dengan suku bunga i%/tahun, dan setiap anuitas sama besarnya, maka berlaku:
A
n + 1
= A
n

a
n + 1
+ b
n + 1
= a
n
+ b
n

a
n + 1
= a
n
+ b
n
– b
n + 1

a
n + 1
= a
n
+ a
n.
i
a
n + 1
= a
n
(1 +

i), sehingga:

a
2
= a
1
(1 +

i).

a
3
= a
2
(1 +

i).
a
3
= a
1
(1 +

i)(1 +

i).
a
3
= a
1
(1 +

i)
2
.
a
4
= a
3
(1 +

i).
a
4
= a
1
(1 +

i)
2
(1 +

i).
a
4
= a
1
(1 +

i)
3
, dan seterusnya. Sehingga diperoleh rumus:

a
n
= a
1
(1 +

i)
n – 1
atau a
n
= a
k
(1 +

i)
n – k



Contoh 55
Suatu pinjaman akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan. Jika besarnya Anuitas
Rp400.000.00, tentukan:
a. Besarnya angsuran pertama jika bunga pertama = Rp250.000,00!
b. Besarnya bunga ke-5 jika angsuran ke-5 adalah Rp315.000,00!


142
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
A = Rp400.000,00
a. A = a
1
+ b
1

a
1
= A – b
1
a
1
= Rp400.000,00 – Rp250.000,00
a
1
= Rp150.000,00

b. A = a
5
+ b
5

b
5
= A – a
5
a
1
= Rp400.000,00 – Rp315.000,00
a
1
= Rp85.000,00
Contoh 56
Suatu pinjaman akan dilunasi dengan anuitas tahunan. Tentukan besarnya anuitas jika
besarnya angsuran ke-6 dan bunga ke-6 masing-masing adalah Rp215.000,00 dan
Rp85.000,00!

Jawab:
a
6
= Rp215.000,00
b
6
= Rp85.000,00

A = a
6
+ b
6

A = Rp215.000,00 + Rp85.000,00 = Rp400.000,00
Contoh 57
Suatu pinjaman Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan Rp500.000,00.
Jika suku bunga 3%/ bulan, tentukan:
a. Besarnya bunga pertama dan angsuran pertama
b. Besarnya angsuran ke-7
c. Besarnya bunga ke-9!

Jawab:
M = Rp10.000.000,00
A = Rp500.000,00
i = 3%/ bulan = 0,03 / bulan
a. bunga pertama: b
1
= M . i
b
1
= 10.000.000,00 x 0,03
b
1
= Rp300.000,00
angsuran pertama: a
1
= A – b
1

a
1
= 500.000,00 – 300.000,00
a
1
= Rp200.000,00

b. angsuran ke-7: a
7
= a
1
( 1 + i )
7–1

a
7
= 200.000,00 x (1 + 0,03)
6

a
7
= 200.000,00 x 1,03
6
a
7
= 200.000,00 x 1,194052297

a
7
= Rp238.810,46


c. angsuran ke-9: a
9
= a
1
( 1 + i )
9–1

a
9
= 200.000,00 x (1 + 0,03)
8

a
9
= 200.000,00 x 1,03
8
143 BAB III Matematika Keuangan
a
9
= 200.000,00 x 1,266770081

a
7
= Rp253.354,02

bunga ke-9: b
9
= A – a
9

b
9
= 500.000,00 – 253.354,02
b
9
= Rp246.645,98


2). Nilai anuitas

Besarnya pinjaman = jumlah semua angsuran
M = a
1
+ a
2
+ a
3
+ a
4
+ . . . + a
n

M = a
1
+ a
1
(1 +

i) + a
1
(1 +

i)
2
+ a
1
(1 +

i)
3
+ . . . + a
1
(1 +

i)
n – 1

M = Jumlah barisan geometri dengan suku pertama = a
1
dan rasio = (1 + i)
M =
1 ) i 1 (
) 1 ) i 1 (( a
n
1
− +
− +

M =
i
) 1 ) i 1 (( a
n
1
− +

a
1
=
) 1 ) i 1 ((
i . M
n
− +

A = a
1
+ b
1

A = a
1
+ M . i
a
1
= A – M . i
A – M. i =
) 1 ) i 1 ((
i . M
n
− +

A = M . i +
) 1 ) i 1 ((
i . M
n
− +
=
) 1 ) i 1 ((
i . M ) 1 ) i 1 .(( i . M
n
n
− +
+ − +

A =
) 1 ) i 1 ((
) i 1 .( i . M
n
n
− +
+
x
n
n
) i 1 (
1
) i 1 (
1
+
+

A =
)
) i 1 (
1
1 (
i . M
n
+

atau A =
) ) i 1 ( 1 (
i . M
n −
+ −

Besarnya anuitas dari suatu pinjaman M dengan suku bunga i%/periode selama n
periode adalah:
A =
) ) i 1 ( 1 (
i . M
n −
+ −
Dengan menggunakan daftar anuitas:
A =
) ) i 1 ( 1 (
i . M
n −
+ −
A = M .
) ) i 1 ( 1 (
i
n −
+ −

A = M x daftar anuitas baris ke-n dan kolom i %

Bagaimanakah hubungan antara anuitas dan angsuran pertama?
Dari pembuktian di atas diperoleh: a
1
=
) 1 ) i 1 ((
i . M
n
− +
dan A =
) 1 ) i 1 ((
) i 1 .( i . M
n
n
− +
+



144
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
1
a
A
=
) 1 ) i 1 ((
) i 1 .( i . M
n
n
− +
+
:
) 1 ) i 1 ((
i . M
n
− +

1
a
A
= (1 + i)
n
. sehingga diperoleh:
A = a
1
x (1 + i)
n

Contoh 58
Tentukan nilai anuitas dari suatu pinjaman sebesar Rp5.000.000,00 selama 2 tahun
dengan suku bunga 2%/bulan!

Jawab:
M = Rp5.000.000,00
n = 2 tahun = 24 bulan
i = 2% / bulan = 0.02 / bulan

A =
n
) i 1 ( 1
i x M

+ −



=
24
) 02 , 0 1 ( 1
02 , 0 x 00 , 000 . 000 . 5

+ −


=
24
02 , 1 1
00 , 000 . 100



=
378278512 , 0
00 , 000 . 100

= Rp 264.355,49

Dengan daftar anuitas:

A = M x Tabel anuitas baris ke-24 kolom 2%
= 5.000.000,00 x 0,052871097
= Rp264.355,49

Contoh 59
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 dilunasi dengan anuitas bulanan selama 3 tahun
dengan suku bunga 2,5%/bulan. Tentukan:
a. Anuitasnya
b. Bunga dan angsuran pertama
c. Bunga dan angsuran ke-24!

Jawab:
M = Rp10.000.000,00
n = 3 tahun = 36 bulan
i = 2,5% / bulan = 0,025/bulan

a. A =
n
) i 1 ( 1
i x M

+ −



=
36
) 025 , 0 1 ( 1
025 , 0 x 00 , 000 . 000 . 10

+ −

145 BAB III Matematika Keuangan

=
36
025 , 1 1
00 , 000 . 250



=
411093723 , 0 1
00 , 000 . 250

= Rp 424.515,77

Dengan daftar anuitas:

A = M x Tabel anuitas baris ke-36 kolom 2,5%
= 10.000.000,00 x 0,042451577
= Rp 424.515,77

b. Bunga pertama: b
1
= M . i
b
1
= 10.000.000,00 x 0,025
b
1
= Rp250.000,00
angsuran pertama: a
1
= A – b
1

a
1
= 424.515,77 – 250.000,00
a
1
= Rp174.515,77

c. Angsuran ke-24: a
24
= a
1
( 1 + i )
24–1

a
24
= 174.515,77 (1 + 0,025)
23

a
24
= 174.515,77 x 1,025
23
a
24
= 174.515,77 x 1,764610683

a
24
= Rp 307.952,39

bunga ke-24: b
24
= A – a
24

b
24
= 424.515,77 – 307.952,39
b
24
= Rp116.563,38
Contoh 60
Hafsah bersama suaminya berencana mengambil rumah di VILLA INDAH dengan harga
Rp250.000.000,00. Hafsah hanya memiliki uang muka Rp 100.000.000,00. Sisanya
akan dicicil dengan sistem anuitas tahunan selama 10 tahun dengan suku bunga
18%/tahun. Tentukan:
a. Nilai anuitasnya
b. Cicilan setiap bulan
c. Sisa pinjaman setelah mengangsur 1 tahun dan 2 tahun!

Jawab:
M = Rp250.000.000,00 – Rp100.000.000,00 = Rp150.000.000,00
n = 10 tahun
i = 18%/tahun = 0,18/tahun

a. A =
n
) i 1 ( 1
i . M

+ −

=
10
) 18 , 0 1 ( 1
18 , 0 x 00 , 000 . 000 . 150

+ −

=
10
18 , 1 1
00 , 000 . 000 . 27



=
808935533 , 0
00 , 000 . 000 . 27
= Rp 33.377.196,20


146
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi

b. Cicilan setiap bulannya =
12
20 , 196 . 377 . 33 . Rp
= Rp2.781.433,02


c. Setelah pembayaran anuitas pertama atau setelah mengangsur 1 tahun:
b
1
= M x i
= 150.000.000,00 x 18%
= Rp27.000.000,00
a
1
= A – b
1

= 33.377.196,20 – 27.000.000,00
= Rp6.377.196,80
Sisa pinjaman setelah mengangsur 1 tahun:
S
1
= 150.000.000,00 – 6.377.196,80
= Rp143.622.803,20

Setelah pembayaran anuitas kedua atau setelah mengangsur 2 tahun:
b
2
= M x i
b
2
=

143.622.803,20 x 18%
= Rp25.852.104,58

a
2
= A – b
2

a
2
= 33.377.196,20 – 25.852.104,58
= Rp7.525.091,62
Sisa pinjaman setelah mengangsur 2 tahun:
S
2
= 143.622.803,20 – 7.525.091,62
= Rp136.097.711,58

3). Sisa pinjaman anuitas
Jika S
1,
S
2,
S
3
. . . . S
m
berturut-turut merupakan sisa pinjaman setelah pembayaran
anuitas pertama, kedua, ketiga . . . ke-m, maka ada beberapa cara untuk menentukan
sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-m.

Cara 1:
Sisa pinjaman dapat dihitung sebagai berikut:
b
1
= i . M
b
2
= i . S
1

b
3
= i . S
2

. .
. .
. .
b
m + 1
= i . S
m
. sehingga: S
m
=
i
b
1 m+


Contoh 61
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan
dengan suku bunga 3%/bulan selama 2,5 tahun. Tentukan:
a. Besarnya anuitas!
b. Sisa pinjaman setelah mengangsur 10 bulan!

147 BAB III Matematika Keuangan
Jawab:
M = Rp10.000.000,00
i = 3 % / bulan = 0,03/bulan
n = 2,5 tahun = 30 bulan

a. A =
n
) i 1 ( 1
i . M

+ −

=
30
) 03 , 0 1 ( 1
03 , 0 x 00 , 000 . 000 . 10

+ −

=
30
03 , 1 1
00 , 000 . 300



=
411986759 , 0 1
00 , 000 . 300

= Rp 510.192,59

dengan menggunakan daftar anuitas:
A = M x daftar anuitas baris ke-30 kolom 3%
A = 10.000.000,00 x 0,051019259 = Rp 510.192,59

b. Langkah-langkah menentukan sisa pinjaman setelah angsuran ke-10 (S
10
):
¾ Tentukan bunga pertama:
b
1
= M x i
= Rp10.000.000,00 x 0.03 = Rp300.000,00

¾ Tentukan angsuran pertama:
a
1
= A – b
1

= Rp510.192,59 – Rp300.000,00 = Rp210.192,59

¾ Tentukan angsuran ke-(10 + 1) atau angsuran ke-11 :
a
11
= a
1
(1 + i)
11 – 1

a
11
= 210.192,59 (1 + 0,03)
10

a
11
= 210.192,59 (1,03)
10

a
11
= 210.192,59 x 1,343916379
a
11
= Rp282.481,26

¾ Tentukan bunga ke-11:
b
11
= A – a
11

b
11
= Rp 510.192,59 – Rp282.481,26 = Rp227.711,33
S
m
=
i
b
1 m+

S
10
=
i
b
11

=
03 , 0
33 , 711 . 227
= Rp7.590.377,67
Silakan di coba setelah pembayaran anuitas ke-15 ...!


Cara 2:
Sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-k = pokok pinjaman dikurangi jumlah k
angsuran yang sudah dibayar.


148
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
S
m
= M – (a
1
+ a
2
+ a
3
+ . . . + a
k
)
S
m
= M – (a
1
+ a
1
(1 + i) + a
1
(1 + i)
2
+ a
1
(1 + i)
3
+ . . . + a
1
(1 + i)
k–1
)
S
m
= M – (a
1
+ a
1
[(1 + i) + (1 + i)
2
+ (1 + i)
3
+ . . . + (1 + i)
k–1
])
S
m
= M – (a
1
+ a
1
[ ])


=
+
1 m
1 k
k
) i 1 (
S
m
= M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (m–1))

Contoh 62
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan
dengan suku bunga 3%/bulan selama 2,5 tahun. Tentukan sisa pinjaman setelah
mengangsur 10 bulan!

Jawab:
Dari contoh 61. diperoleh a
1
= Rp210.192,59, sehingga:
S
m
= M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom 3% baris(10–1))
S
m
= 10.000.000,00 – (210.192,59 + 210.192,59 x 10,463879311)
S
m
= 10.000.000,00 – (210.192,59 + 2.199.429,89)
S
m
= Rp 7.590.377,52 (hampir sama dengan cara 1)

Silahkan di coba untuk M = Rp15.000.000,00, suku bunga 2,5%/bulan selama 3 tahun
dan sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-20 ...!

Cara 3:
Sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-m = jumlah semua angsuran yang
masih harus dibayar.
S
m
= a
k+1
+ a
k+2
+ a
k+3
+ . . . + a
n
)
S
m
= [a
1
+ a
2
+ a
3
+. . .+a
k
+ a
k+1
+a
k+2
+ a
k+3
+. . .+a
n
] – [a
1
+ a
2
+ a
3
+ … + a
k
]
S
m
= [a
1
+ a
1
(1+ i) + a
1
(1+ i)
2
+. . .+ a
1
(1 + i)
n–1
] – [a
1
+ a
1
(1+ i) + a
1
(1+ i)
2
+. . .+
a
1
(1 + i)
k–1
]
S
m
= [a
1
+ a
1
[ ] – [a
1
+ a
1
[




=
+
1 n
1 k
k
) i 1 (

=
+
1 m
1 k
k
) i 1 ( ]
S
m
= a
1
x – a
1
x


=
+
1 n
1 k
k
) i 1 (


=
+
1 m
1 k
k
) i 1 (

S
m
= a
1
x [daftar nilai akhir rente kolom i% baris(n –1) – daftar nilai akhir rente kolom
i % baris (m –1)]

Contoh 63
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan
dengan suku bunga 3%/bulan selama 2,5 tahun. Tentukan sisa pinjaman setelah
mengangsur 10 bulan!

Jawab:
n = 30, m = 10, dan i = 3%
Dari contoh 61, diperoleh a
1
= Rp210.192,59, sehingga:
149 BAB III Matematika Keuangan
S
10
= a
1
x [daftar nilai akhir rente kolom 3% baris 29 – daftar nilai akhir rente kolom
3% baris 9]
S
10
= 210.192,59 x [46,575415706 – 10,463879311]
S
10
= 210.192,59 x 36,111536395
S
10
= Rp 7.590.377,36 ( hampir sama dengan cara 1)

Silahkan di coba untuk M = Rp12.000.000,00, suku bunga 1,5%/ bulan selama 4 tahun
dan sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-25 ...!

Cara 4:
Sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-m = nilai dari semua anuitas yang belum
dibayar dihitung pada akhir tahun ke-m:
S
m
=
) i 1 (
A
+
+
2
) i 1 (
A
+
+
3
) i 1 (
A
+
+
4
) i 1 (
A
+
+ . . . +
n m
) i 1 (
A

+

S
m
= A[(1+ i)
–1
+ (1+ i)
–2
+ (1+ i)
–3
+ . . . + (1 + i)
n–m
]
S
m
= A x


=

+
m n
1 k
k
) i 1 (

S
m
= A x [daftar nilai tunai rente kolom i % baris(n – m) ]
Contoh 64
Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan
dengan suku bunga 3%/bulan selama 2,5 tahun. Tentukan sisa pinjaman setelah
mengangsur 10 bulan!
Jawab:
n = 30, m = 10 dan i = 3%
Dari contoh 61, diperoleh A = Rp510.192,59, sehingga:
S
10
= A x [daftar nilai tunai rente kolom 3% baris (30 – 10)]
S
10
= 510.192,59 x 14,877474860
S
10
= Rp 7.590.377,43 (hampir sama dengan cara 1)

Silakan dicoba untuk M = Rp20.000.000,00, suku bunga 4%/bulan, selama 3,5 tahun
dan sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-18 ...!


Contoh 65
Pinjaman Rp15.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan selama 3 tahun 4
bulan dengan suku bunga 3,5%/bulan. Tentukan sisa pinjaman setelah pembayaran
anuitas ke-15!

Jawab:
Keempat cara untuk menentukan sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-m
membutuhkan nilai anuitas. Jadi, nilai anuitas harus dicari dahulu.
M = Rp15.000.000,00
n = 3 tahun 4 bulan = 40 bulan
i = 3,5% / bulan

A = M x Daftar anuitas baris ke-40 kolom 3,5%
A = 15.000.000,00 x 0,046827282 = Rp702.409,23



150
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Cara 3
A = a
1
(1 + i )
n

a
1
= A (1 + i )
– n

a
1
= 702.409,23 (1 + 0,035 )
– 40

a
1
= 702.409,23 x 0,252572468 = Rp177.409,23

S
m
= a
1
x [daftar nilai akhir rente kolom i% baris(n –1) – daftar nilai akhir rente
kolom i % baris (m –1)]
S
15
= 177.409,23 x [daftar nilai akhir rente baris ke-39 kolom 3,5% – daftar nilai
akhir rente baris ke-14 kolom 3.5 % ]
S
15
= 177.409,23 x (83,550277748 – 18,295680879)
S
15
= 177.409,23 x 65,25459687
S
15
= Rp11.576.767,78

Cara 4
n = 30, m = 10 dan i = 3%
S
15
= A x [daftar nilai tunai rente baris (40 – 15) kolom 3,5 %]
S
15
= 702.409,23 x 16,481514592
S
10
= Rp 11.576.767,79 ( hampir sama dengan cara 3)

4). Anuitas yang dibulatkan

Dalam transaksi perbankan, pembayaran pinjaman baik menggunakan sistem anuitas
maupun lainnya nilainya bulat. Oleh karena itu, besarnya anuitas dibulatkan ke atas
atau ke bawah dengan kelipatan berdasarkan persetujuan penerima hutang dengan
pihak perbankan, dengan tujuan agar pembayaran mudah untuk dilaksanakan.
Misalkan anuitas dibulatkan ke bawah atau ke atas dengan kelipatan Rp1.000,00 atau
Rp100,00 dan lain-lain.
Jika anuitas di bulatkan ke atas, maka akan terjadi kelebihan pembayaran. Sebaliknya
jika anuitas dibulatkan ke bawah, maka akan terjadi kekurangan pembayaran.
Kelebihan atau kekurangan pembayaran tersebut akan diperhitungkan pada
pembayaran anuitas terakhir.


a). Anuitas dibulatkan ke atas

Setiap bilangan yang akan dibulatkan ke atas dalam puluhan, ratusan, ribuan, puluhan
ribu atau yang lainnya selalu ditambah satu dari nilai sebelumnya.
Lambang untuk pembulatan anuitas ke atas adalah: A
+

Contoh 66
Hasil perhitungan nilai anuitas diperoleh A = Rp2.351.405,78.
Bulatkan anuitas di atas dalam:
a. Puluhan ke atas c. Ribuan ke atas
b. Ratusan ke atas d. Puluhan ribu ke atas

Jawab:
a. Dibulatkan puluhan ke atas: A
+
= Rp2.351.410,00
b. Dibulatkan ratusan ke atas: A
+
= Rp2.351.500,00
c. Dibulatkan ribuan ke atas: A
+
= Rp2.352.000,00
d. Dibulatkan puluhan ribu ke atas: A
+
= Rp2.360.000,00

151 BAB III Matematika Keuangan
Jika a
1
= A
+
- b
1
= A
+
- M . i, maka kelebihan pembayaran dari semua angsuran
adalah:

NL = (a
1
+ a
2
+ a
3
+ . . . + a
n
) – M. lihat halaman . . .
= (a
1
+ a
1
(1 + i) + a
1
(1 + i)
2
+ a
1
(1 + i)
3
+ . . . + a
1
(1 + i)
k–1
) – M
= (a
1
+ a
1
[ ]) – M


=
+
1 n
1 k
k
) i 1 (

NL = (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (n –1)) – M

Keterangan: NL = Nilai Lebih.
Dengan cara lain, jika L = A
+
– A, maka nilai akhir kelebihan dari anuitas pertama
sampai anuitas terakhir = nilai akhir rente post numerando, yaitu:
NL = L + L(1 + i) + L(1 + i)
2
. . . + L(1 + i)
n – 3
+ L(1 + i)
n – 2
+ L(1 + i)
n – 1

NL = L + L[(1 + i) + (1 + i)
2
. . . + (1 + i)
n – 3
+ (1 + i)
n – 2
+ (1 + i)
n – 1
]
NL = L + L.


=
+
1 n
1 k
k
) i 1 (
NL = L + L x Daftar Nilai akhir rente kolom i% baris (n – 1)
Besarnya anuitas terakhir: At = A – NL

Contoh 67
Suatu pinjaman Rp20.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan suku
bunga 6%/tahun selama 20 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke atas dalam
puluhan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan
b. Total kelebihan pembayaran anuitas
c. Pembayaran anuitas terakhir!

Jawab:
M = Rp20.000.000,00
i = 6 %/tahun
n = 20 tahun
a. A = M x tabel anuitas kolom 6% baris 20
A = 20.000.000,00 x 0,087184557
A = Rp1.743.691,14
Dibulatkan puluhan ribu ke atas: A
+
= Rp1.750.000,00

b. Kelebihan tiap anuitas : L = A
+
– A
= Rp 1.750.000,00 – Rp1.743.691,14
= Rp6.308,86

Total kelebihan pembayaran anuitas:
NL = L + L x Daftar Nilai akhir rente kolom i % baris (n – 1)
NL = 6.308,86 + 6.308,86 x Daftar Nilai akhir rente kolom 6 % baris 19
NL = 6.308,86 + 6.308,86 x 35,785591204
NL = Rp232.075,14


152
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Dengan menggunakan cara lain:
Jika a
1
= A
+
– M . i.
= 1.750.000,00 – 20.000.000,00 x 6%
= 1.750.000,00 – 1.200.000,00 = Rp550.000,00
NL = (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom 6% baris (20 –1)) – M
NL = 550.000,00 (1 + 35,785591204) – 20.000.000,00
NL = 20.232.075,16 – 20.000.000,00 = Rp232.075,14

c. Pembayaran anuitas terakhir:
Besarnya anuitas terakhir: At = A – NL
= 1.743.691.14 – 232.075.14
= Rp 1.511.616.00

b). Anuitas dibulatkan ke bawah

Setiap bilangan yang akan dibulatkan ke bawah dalam puluhan, ratusan, ribuan,
puluhan ribu atau yang lainnya selalu tetap dari nilai sebelumnya.
Lambang untuk pembulatan anuitas ke bawah adalah: A

Contoh 68
Hasil perhitungan nilai anuitas diperoleh A = Rp4.357.895,78
Bulatkan anuitas di atas dalam:
a. Puluhan ke bawah c. Ribuan ke bawah
b. Ratusan ke bawah d. Puluhan ribu ke bawah

Jawab:
a. Dibulatkan puluhan ke bawah: A

= Rp4.357.890,00
b. Dibulatkan ratusan ke bawah: A

= Rp4.357.800,00
c. Dibulatkan ribuan ke bawah: A

= Rp4.357.000,00
d. Dibulatkan puluhan ribu ke bawah : A

= Rp4.350.000,00

Jika a
1
= A

– b
1
= A

– M . i, maka kekurangan pembayaran dari semua angsuran
adalah:
NK = M – (a
1
+ a
2
+ a
3
+ . . . + a
n
). ( lihat cara 2 sisa pinjaman)
= M – (a
1
+ a
1
(1 + i) + a
1
(1 + i)
2
+ a
1
(1 + i)
3
+ . . . + a
1
(1 + i)
k–1
)
= M – (a
1
+ a
1
[ ])


=
+
1
1
) 1 (
n
k
k
i

NK = M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (n –1))

Keterangan : NK = Total nilai kurang.
Dengan cara lain. jika L = A

– A

, maka nilai akhir kekurangan dari anuitas pertama
sampai anuitas terakhir = nilai akhir rente post numerando, yaitu:
NK = K + K(1 + i) + K(1 + i)
2
. . . + K(1 + i)
n – 3
+ K(1 + i)
n – 2
+ K(1 + i)
n – 1

NK = K + K [(1 + i) + (1 + i)
2
. . . + (1 + i)
n – 3
+ (1 + i)
n – 2
+ (1 + i)
n – 1
]
NK = K + K.


=
+
1 n
1 p
p
) i 1 (
NK = K + K x Daftar Nilai akhir rente kolom i% baris (n – 1)
153 BAB III Matematika Keuangan
Besarnya anuitas terakhir: At = A + NK

Contoh 69
Suatu pinjaman Rp12.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan suku
bunga 5%/tahun selama 15 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke bawah
dalam ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan
b. Total kekurangan pembayaran anuitas
c. Pembayaran anuitas terakhir!

Jawab:
M = Rp12.000.000,00
i = 5 %/tahun
n = 15 tahun
a. A = M x tabel anuitas kolom 5% baris 15
A = 12.000.000,00 x 0,096342288 = Rp1.156.107.46

Dibulatkan ratusan ribu ke bawah: A

= Rp 1.100.000,00

b. Kekurangan tiap anuitas : K = A – A


= Rp1.156.107,46 – Rp 1.100.000,00
= Rp56.107,46

Total kekurangan pembayaran anuitas:
NK = K + K x Daftar Nilai akhir rente kolom i% baris (n – 1)
NK = 56.107.46 + 56.107.46 x Daftar Nilai akhir rente kolom 5% baris 14
NK = 56.107.46 + 56.107.46 x 20.578563588 = Rp1.210.718.39

Dengan menggunakan cara lain:
Jika a
1
= A

– M . i.
= 1.100.000,00 – 12.000.000,00 x 5%
= 1.100.000,00 – 600.000,00 = Rp500.000,00

NK = M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom 5% baris (15 –1))
NK = 12.000.000,00 – 500.000,00 (1 + 20,578563588)
NK = 12.000.000,00 – 10.789.281,79 = Rp1.210.718,21
c. Pembayaran anuitas terakhir:
Besarnya anuitas terakhir: At = A + NK
= Rp1.156.107,46 + 232.075,14= Rp 1.511.616,00


5). Tabel Pelunasan Anuitas

Untuk memberi gambaran bagi peminjam terhadap rencana pelunasannya, biasanya
digunakan tabel pelunasan anuitas dan biasanya anuitas yang dicantumkan dalam
tabel merupakan anuitas pembulatan.
Contoh 70
Suatu pinjaman Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan suku
bunga 12%/tahun selama 8 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke atas dalam
ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan


154
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
b. Tabel rencana pelunasan anuitas
c. Pembayaran anuitas terakhir!

Jawab:
M = Rp10.000.000,00
i = 12 %/tahun = 0.12/tahun
n = 8 tahun

a. A =
n
) i 1 ( 1
i . M

+ −

=
8
) 12 , 0 1 ( 1
12 , 0 x 00 , 000 . 000 . 10

+ −

=
8
12 , 1 1
00 , 000 . 200 . 1



=
8 0.40388322 1
00 , 000 . 200 . 1

= Rp2.013.028,41
Jika dibulatkan ke atas dalam ratusan ribu. maka A
+
= Rp2.100.000,00

b. Tabel rencana pelunasan anuitas:
Anuitas A
+
= Rp2.100.000.00 Tahun
ke
Pinjaman awal
tahun
Bunga (12%) angsuran
Sisa pinjaman
akhir tahun
1
Rp10.000.000.00 Rp1.200.000.00 Rp 900.000.00
Rp9.100.000.00
2
Rp 9.100.000.00 Rp1.092.000.00 Rp1.008.000.00
Rp8.092.000.00
3
Rp 8.092.000.00 Rp 971.040.00 Rp1.128.960.00
Rp6.963.040.00
4
Rp 6.963.040.00 Rp 835.564.80 Rp1.264.435.20
Rp5.698.604.80
5
Rp 5.698.604.80 Rp 683.832.58 Rp1.416.167.42
Rp4.282.437.38
6
Rp 4.282.437.38 Rp 513.892.49 Rp1.586.107.51
Rp2.696.329.86
7
Rp 2.696.329.86 Rp 323.559.58 Rp1.776.440.42
Rp 919.889.44
8
Rp919.889.44 Rp 110.386.73 Rp919.889.44
0

Keterangan Tabel:

• Pinjaman awal tahun ke-2 = sisa pinjaman akhir tahun ke-1.
Pinjaman awal tahun ke-3 = sisa pinjaman akhir tahun ke-2, dan seterusnya.
• Bunga + angsuran masing-masing kelas = anuitas hasil pembulatan (A
+
), kecuali
pada baris terakhir (baris ke-8).
• Sisa pinjaman akhir tahun ke-1 = pinjaman awal tahun ke-1 – angsuran ke-1.
Sisa pinjaman akhir tahun ke-2 = pinjaman awal tahun ke-2 – angsuran ke-2.
• Angsuran terakhir = pinjaman awal tahun terakhir.

c. Pembayaran anuitas terakhir = 110.386.73 + 919.889.44 = Rp 1.030.276.17 .

Pembayaran anuitas terakhir tidak sama dengan anuitas hasil pembulatan, mengapa?
Contoh 71
Suatu pinjaman Rp12.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan suku
bunga 15%/tahun selama 7 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke bawah
dalam ratusan ribu. Tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan
155 BAB III Matematika Keuangan
b. Tabel rencana pelunasan anuitas
c. Pembayaran anuitas terakhir!

Jawab:
M = Rp12.000.000.00
/tahun
=
i = 15 %/tahun = 0,15
n = 7 tahun

n
) i 1 ( 1
i . M

+ −
a. A
=
7
) 15 , 0 1 ( 1
15 , 0 x 00 , 000 . 000 . 12

+ −

=
7
15 , 1 1
00 , 000 . 800 . 1



=
0 0.37593704 1 −
Jika di ah dalam ratusan ribu
00 , 000 . 800 . 1
= Rp2.884.324.36
bulatkan ke baw . maka A

= Rp2.800.000.00
.
as A

= Rp2.800.000,00

Tabel rencana pelunasan anuitas: b
Anuit Tahun Pinjaman awal
ke tahun
b
Sisa pinjaman
unga (15%) angsuran
akhir tahun
1 Rp12 ,00 Rp 0 Rp 0 .000.000 Rp1.800.000,00 1.000.000,0 11.000.000,0
2 Rp11.000.000,00 Rp1.650.000,00 Rp1.150.000,00 Rp .9.850.000,00
3 Rp .9.850.000,00 Rp1.477.500,00 Rp1.322.500,00 Rp .8.527.500,00
4 Rp .8.527.500,00 Rp1.279.125,00 Rp1.520.875,00 Rp .7.006.625,00
5 Rp .7.006.625,00 Rp1.050.993,75 Rp1.749.006,25 Rp .5.257.618,75
6 Rp .5.257.618,75 Rp 788.642,81 Rp2.011.357,19 Rp .3.246.261,56
7 Rp .3.246.261,56 Rp 486.939,23 Rp3.246.261,56 0

embayaran anuitas terakhir = 486.939,23+3.246.261,56 = Rp3.733.200,79
ngapa?
uitas Pinjaman Obligasi

yang merupakan perjanjian pinjaman tertulis. Obligasi
c. P

anuitas terakhir tidak sama dengan anuitas hasil pembulatan, me Pembayaran
dan silakan dicoba untuk pinjaman Rp15.000.000,00 dengan waktu 8 tahun dan
anuitas dibulatkan ke bawah dalam puluhan ribu dengan suku bunga 15%/tahun.


6). An
Obligasi adalah surat berharga
ini biasanya digunakan untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang besar. Pada surat
obligasi terdapat tanggal pengeluaran, nilai nominal, tingkat bunga, tanggal
pembebasan dan nilai emisi. Jika pinjaman obligasi ini akan dilunasi dengan sistem
anuitas atau suatu pinjaman anuitas akan dilunasi dengan obligasi, maka biasanya
nilai nominal obligasi akan dipecah menjadi nilai nominal yang lebih kecil, misalkan
pinjaman obligasi Rp10.000.000,00 dipecah menjadi Rp10.000,00 sehingga banyaknya
obligasi adalah 1.000.


156
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jika jumlah yang dicicil bukan merupakan kelipatan dari pecahan nominal obligasi,
maka sisa yang bukan merupakan kelipatan obligasi akan dibayarkan pada anuitas
berikutnya. Menentukan besarnya angsuran dapat dihitung sebagai berikut:

Angsuran ke-n : Anuitas . . .
sisa pembayaran ke-(n – 1) . . .
sisa x suku bunga . . . +
Jumlah . . .
sisa pinjaman x suku bunga . . . –
Angsuran . . .
Jumlah obligasi terpakai = . . . x nilai nominal = . . . –
Sisa pemayaran ke-n . . .
Contoh 72
Pinjaman obligasi Rp12.000.000,00 yang terpecah menjadi 1.200 lembar obligasi yang
masing-masing sebesar Rp10.000,00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 10%/tahun selama 5 tahun. Tentukan tabel rencana pelunasannya!

Jawab:
M = Rp12.000.000.00
i = 10 %/tahun = 0,1/tahun
n = 5 tahun

A =
n
) i 1 ( 1
i . M

+ −

=
5
) 1 , 0 1 ( 1
1 , 0 x 00 , 000 . 000 . 12

+ −

=
5
1 , 1 1
00 , 000 . 200 . 1



=
3 0.62092132 1
00 , 000 . 200 . 1

= Rp 3.165.569,77
Rencana pelunasannya sebagai berikut:

Angsuran ke-1 : Anuitas = Rp 3.165.569,77
sisa pembayaran belum ada = 0 +
Jumlah = Rp 3.165.569,77
Bunga = Rp12.000.000,00 x 10% = Rp 1.200.000,00 –
Angsuran = Rp 1.965.569,77
Jumlah obligasi terpakai = 196 x Rp10.000,00 = Rp 1.960.000,00 –
Sisa pembayaran ke-1 = Rp 5.569,77

Angsuran ke-2 : Anuitas = Rp 3.165.569,77
sisa pembayaran ke-1 = Rp 5.569,77
sisa x 10% = Rp 556,98 +
Jumlah = Rp3.171.696,52


Sisa pinjaman setelah angsuran ke-1
= 12.000.000,00 – 1.960.000,00 = Rp 10.040.000,00

157 BAB III Matematika Keuangan
Bunga = Rp 10.040.000,00 x 10% = Rp 1.004.000,00 –
Angsuran = Rp 2.167.696,52
Jumlah obligasi terpakai = 216 x Rp10.000,00 = Rp 2.160.000,00 –
sisa pembayaran ke-2 = Rp 7.696,52

Angsuran ke-3 : Anuitas = Rp 3.165.569,77
sisa pembayaran ke-2 = Rp 7.696,52
sisa x 10% = Rp 769,65 +
Jumlah = Rp 3.174.035,94

Sisa pinjaman setelah angsuran ke-2
= 10.040.000,00 – 2.160.000,00 = Rp 7.880.000,00
Bunga = Rp 7.880.000,00 x 10% = Rp 788.000,00 –
Angsuran = Rp 2.386.035,94
Jumlah obligasi terpakai = 238 x Rp10.000,00 = Rp 2.380.000,00 –
sisa pembayaran ke-3 = Rp 6.035,94

Angsuran ke-4 : Anuitas = Rp 3.165.569,77
sisa pembayaran ke-3 = Rp 6.035,94
sisa x 10% = Rp 603,59 +
Jumlah = Rp3.172.209,30

Sisa pinjaman setelah angsuran ke-3
= 7.880.000,00 – 2.380.000,00 = Rp 5.500.000,00
Bunga = Rp 5.500.000,00 x 10% = Rp 550.000,00 –
Angsuran = Rp 2.622.209,30
Jumlah obligasi terpakai = 262 x Rp10.000,00 = Rp 2.620.000,00 –
sisa pembayaran ke-4 = Rp 2.209,30

Angsuran ke-5 : Anuitas = Rp 3.165.569,77
sisa pembayaran ke-4 = Rp 2.209,30
sisa x 10% = Rp 220,93 +
Jumlah = Rp 3.168.000,00

Sisa pinjaman setelah angsuran ke-3
= 5.500.000,00 – 2.620.000,00 = Rp 2.880.000,00
Bunga = Rp 2.880.000,00 x 10% = Rp 288.000,00 –
Angsuran = Rp 2.880.000,00
Jumlah obligasi terpakai = 288 x Rp10.000,00 = Rp 2.880.000,00 –
sisa pembayaran ke-5 = Rp 0

Tabel angsurannya sebagai berikut:
th
ke
Pinjaman Awal
tahun
Jumlah obligasi
yang diangsur
Besar angsuran
Sisa pinjaman
Akhir tahun
1 Rp12.000.000,00 196 lembar Rp1.960.000,00 Rp10.040.000,00
2 Rp10.040.000,00 216 lembar Rp2.160.000,00 Rp 7.880.000,00
3 Rp 7.880.000,00 238 lembar Rp2.380.000,00 Rp 5.500.000,00
4 Rp 5.500.000,00 262 lembar Rp2.620.000,00 Rp 2.880.000,00
5 Rp 2.880.000,00 288 lembar Rp2.880.000,00 0
Jumlah 1. 200 lembar Rp12.000.000,00
Silahkan dicoba untuk pinjaman obligasi Rp20.000.000,00 dipecah dalam 10.000
lembar dan akan dilunasi dengan anuitas 5 tahun dengan suku bunga 12%/tahun ...!


158
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
c. Rangkuman

1. Anuitas adalah sejumlah pembayaran pinjaman yang sama besarnya yang
dibayarkan setiap jangka waktu tertentu, dan terdiri atas bagian bunga dan bagian
angsuran.

2. Hubungan antara angsuran yang satu dengan angsuran yang lainnya:

a
n
= a
1
(1 +

i)
n – 1
atau a
n
= a
k
(1 +

i)
n – k


3. Nilai anuitas dari pinjaman M, suku bunga i%/periode selama n periode:
A =
) ) i 1 ( 1 (
i . M
n −
+ −

Dengan menggunakan daftar anuitas:

A = M x daftar anuitas baris ke-n dan kolom i %

4. Hubungan antara anuitas dan angsuran pertama

A = a
1
x (1 + i)
n

3. Sisa pinjaman anuitas
Jika S
1
. S
2
. S
3
. . . . S
m
berturut-turut merupakan sisa pinjaman setelah pembayaran
anuitas pertama, kedua, ketiga . . . ke-m, maka ada beberapa cara untuk
menentukan sisa pinjaman setelah pembayaran anuitas ke-m.

Cara 1: S
m
=
i
b
1 m+


Cara 2: S
m
= M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (m–1))


Cara 3: S
m
= a
1
x [daftar nilai akhir rente kolom i% baris(n –1) – daftar
nilai akhir rente kolom i% baris (m–1)]

Cara 4: S
m
= A x [daftar nilai tunai rente kolom i % baris(n – m) ]


6. Kelebihan pembayaran karena anuitas dibulatkan ke atas adalah:

NL = (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (n –1)) – M

atau
NL = L + L x Daftar Nilai akhir rente kolom i % baris (n – 1)
Besarnya anuitas terakhir: At = A – NL

7. Kekurangan pembayaran karena anuitas dibulatkan ke bawah adalah:

NK = M – (a
1
+ a
1
x daftar nilai akhir rente kolom i% baris (n –1))
atau
NK = K + K x Daftar Nilai akhir rente kolom i % baris (n – 1)
159 BAB III Matematika Keuangan


1. Suatu pinjaman akan dilunasi dengan sistem anuitas Rp550.000,00. Tentukan:
a. Besarnya angsuran pertama jika bunga pertama = Rp450.000,00!
b. Besarnya bunga ke-8 jika angsuran ke-8 adalah Rp412.000,00!
2. Suatu pinjaman akan dilunasi dengan anuitas tahunan. Tentukan besarnya anuitas
jika besarnya angsuran ke-10 dan bunga ke-10 masing-masing adalah
Rp318.000,00 dan Rp27.000,00!

3. Suatu pinjaman Rp2.600.000,00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan
Rp 250.000,00. Jika suku bunga 4%/bulan, tentukan:
a. Besarnya bunga pertama dan angsuran pertama!
b. Besarnya angsuran ke-5!
c. Besarnya bunga ke-8!

4. Angsuran ke-5 suatu anuitas Rp300.000,00 dan bunga pertamanya Rp320.000,00.
Jika suku bunganya 2,5%, tentukan:
a. Besarnya pinjaman!
b. Besarnya angsuran pertama!
c. Besarnya anuitas!
d. Besarnya angsuran ke-8!
5. Tentukan nilai anuitas bulanan dari suatu pinjaman sebesar Rp 8.000.000.00 selama
2 tahun dengan suku bunga 2,5%/bulan!

6. Pinjaman sebesar Rp 2.800.000.00 dilunasi dengan anuitas bulanan selama 1 tahun
7 bulan dengan suku bunga 2,25%/bulan. Tentukan:
a. Anuitasnya!
b. Bunga dan angsuran pertama!
c. Bunga dan angsuran ke-24!
7. Nissa bersama suaminya berencana membeli rumah di VILLA IMPIAN dengan harga
Rp300.000.000.00 dan Nissa hanya memiliki uang muka Rp 50.000.000.00. Sisanya
akan dicicil dengan sistem anuitas tahunan selama 15 tahun dengan suku bunga
14%/tahun. Tentukan:
a. Nilai anuitasnya!
b. Cicilan setiap bulan!
c. Sisa pinjaman setelah mengangsur 10 tahun!

8. Pinjaman sebesar Rp12.500.000.00 akan dilunasi dengan sistem anuitas bulanan
dengan suku bunga 3%/bulan selama 3,25 tahun. Tentukan:
a. Besarnya anuitas!
b. Sisa pinjaman setelah mengangsur 20 bulan!
9. Pinjaman sebesar Rp10.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan dengan
suku bunga 3,5%/bulan selama 3 tahun. Tentukan sisa pinjaman setelah
mengangsur 25 bulan!



160
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
10. Pinjaman sebesar Rp15.000.000.00 akan dilunasi dengan sistem anuitas tiap
bulan dengan suku bunga 1.5%/bulan selama 2.75 tahun. Tentukan sisa
pinjaman setelah mengangsur 2 tahun.
11. Pinjaman sebesar Rp4.000.000.00 akan dilunasi dengan sistem anuitas tiap
semester dengan suku bunga 7.5%/semester selama 7.5 tahun. Tentukan sisa
pinjaman setelah mengangsur 10 semester!
12. Pinjaman Rp18.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan selama 3.25
tahun dengan suku bunga 2.5%/bulan. Tentukan sisa pinjaman setelah
pembayaran anuitas ke-12!
13. Pinjaman Rp25.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan selama 4.25
tahun dengan suku bunga 3.25%/bulan. Tentukan sisa pinjaman setelah
pembayaran anuitas ke-25!

14. Suatu pinjaman dilunasi dengan anuitas bulanan sebesar Rp500.000 dengan
suku bunga 2.5%/bulan selama 2.5 tahun. Tentukan besar pinjaman tersebut!
15. Pinjaman Rp12.500.000.00 akan dilunasi dengan sistem anuitas tahunan selama
8 tahun dengan suku bunga 12.5%/tahun. Tentukan nilai anuitasnya dan
bulatkan anuitas di atas dalam:
a. Puluhan ke atas c. Ribuan ke atas
b. Ratusan ke atas d. Puluhan ribu ke atas
16. Suatu pinjaman Rp25.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 5.5%/tahun selama 18 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke
atas dalam ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Total kelebihan pembayaran anuitas!
c. Pembayaran anuitas terakhir!
17. Suatu pinjaman Rp22.500.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 12%/tahun selama 15 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke
atas dalam ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Total kelebihan pembayaran anuitas!
c. Pembayaran anuitas terakhir!

18. Pinjaman sebesar Rp14.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan selama
8 tahun dengan suku bunga 15%/tahun. Tentukan nilai anuitasnya dan bulatkan
anuitas di atas dalam:
a. Ratusan ke bawah c. Ribuan ke bawah
b. Ratusan ribu ke bawah d. Puluhan ribu ke bawah

19. Suatu pinjaman Rp15.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 4.5% / tahun selama 25 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan
ke bawah dalam puluhan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Total kekurangan pembayaran anuitas!
c. Pembayaran anuitas terakhir!

161 BAB III Matematika Keuangan
20. Suatu pinjaman Rp25.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 10%/tahun selama 12 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke
bawah dalam ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Total kekurangan pembayaran anuitas!
c. Pembayaran anuitas terakhir!

21. Suatu pinjaman obligasi Rp20.000.000.00 terpecah dalam nilai nominal
Rp10.000,00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan suku bunga
12%/tahun selama 5 tahun. Susunlah rencana dan tabel pelunasannya!


22. Suatu pinjaman Rp25.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 20%/tahun selama 8 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke
bawah dalam ratusan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Tabel rencana pelunasanya!
c. Pembayaran anuitas terakhir!


23. Suatu pinjaman Rp50.000.000,00 dalam bentuk obligasi. Karena akan dilunasi
dengan anuitas dengan suku bunga 15%, maka obligasi tersebut dipecah
menjadi 1.000 lembar. Buatlah rencana pelunasannya!


24. Suatu pinjaman Rp5.000.000.00 akan dilunasi dengan anuitas tahunan dengan
suku bunga 8% / tahun selama 7 tahun. Jika pembayaran anuitas dibulatkan ke
atas dalam puluhan ribu, tentukan:
a. Besarnya nilai anuitas sebelum dan sesudah dibulatkan!
b. Tabel rencana pelunasanya!
c. Pembayaran anuitas terakhir!
25. Suatu pinjaman dilunasi dengan anuitas sebesar Rp725.000,00 tiap bulan selama
3,75 tahun dengan suku bunga 2,75%/bulan. Tentukan:
a. Besarnya pinjaman!
b. Angsuran ke-10!
c. Sisa pinjaman setelah anuitas ke-15!
B. 4. Penyusutan Nilai Barang
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
¾ Mengidentifikasikan pengertian penyusutan, aktiva, nilai sisa, dan umur manfaat
¾ Menghitung besar penyusutan dengan metode:
• Metode garis lurus atau metode persentase tetap dari harga pembelian.
• Metode persentase tetap dari nilai buku atau metode saldo menurun.
• Metode satuan hasil produksi atau metode unit produksi.
• Metode satuan jasa kerja aktiva.
• Metode jumlah bilangan tahun.


162
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
b. Uraian Materi
1). pengertian penyusutan, aktiva, nilai sisa dan umur manfaat

Penyusutan atau Depresi adalah berkurangnya nilai ekonomi suatu aktiva.
Berkurangnya nilai tersebut biasanya disebabkan karena aus dipakai atau umur
manfaatnya.

Aktiva adalah segala sumber daya ekonomi dari suatu perusahaan yang berupa harta
maupun hak-hak yang di miliki berdasarkan kekuatan hukum. Aktiva perusahan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap.

Aktiva lancar adalah suatu aktiva perusahaan yang digunakan untuk membantu
kelancaran proses kegiatan oprasional perusahaan. Misalnya uang tunai dan aktiva lain
yang secara layak dapat diubah menjadi uang tunai dengan cara dijual atau dipakai
habis dalam satu siklus operasi perusahaan yang normal.

Aktiva tetap adalah suatu aktiva perusahaan yang sifatnya relatif permanan yang
digunakan dalan meyelenggarakan operasi perusahaan. Aktiva tetap ini dibedakan
menjadi dua, yaitu: aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud.

Aktiva tetap berwujud contohnya tanah, gedung bangunan, peralatan, mesin
kendaraan, dan lain-lain. Aktiva tetap tidak berwujud adalah suatu aktiva tetap tidak
memiliki sifat-sifat, tetapi memiliki nilai uang karena hak secara hukum. Contohnya hak
paten, hak cipta, copyright, goodwiil, dan merek dagang.

Biaya perolehan suatu aktiva adalah besarnya biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh aktiva tersebut. Nilai sisa atau residu adalah taksiran nilai aktiva setelah
masa manfaat dari aktiva tersebut. Umur manfaat suatu aktiva adalah perkiraan
lamanya suatu aktiva dapat dimanfaatkan.

Agar perusahaan dapat tumbuh berkembang secara seimbang, maka salah satunya
perusahaan tersebut perlu mengetahui atau memperkirakan penyusutan-penyusutan
aktivanya secara baik dan tepat hingga pada gilirannya perusahaan dapat mengunakan
hasil-hasil prakiraan ini sebagai dasar tidak lanjut operasional.


2). Menghitung Besar Penyusutan

Pada kompetensi dasar ini, objek peyusutan aktiva perusahaan hanyalah pada aktiva
tetap berwujud. Contohnya penyusutan pada mesin produksi, penyusutan pada
kendaraan operasional dan penyusutan aktiva tetap berwujud lainnya.
Untuk menentukan besarnya beban penyusutan dalam tiap-tiap periode, ada beberapa
metode yang dapat digunakan, antara lain:
• Metode garis lurus atau metode persentase tetap dari harga pembelian.
• Metode persentase tetap dari nilai buku atau metode saldo menurun.
• Metode satuan hasil produksi atau metode unit produksi.
• Metode satuan jasa kerja aktiva.
• Metode jumlah bilangan tahun.

Ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan untuk mempermudah penulisan di
dalam menentukan besarnya penyusutan, yaitu:

163 BAB III Matematika Keuangan
A = Biaya perolehan aktiva yaitu besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk
memperoleh aktiva sampai aktiva itu siap di operasikan.
S = Perkiraan nilai sisa aktiva yaitu nilai taksir yang mungkin dapat di peroleh melalui
aktiva yang sudah lewat masa pemakaiannya.
r = Tingkat peyusutan atau presentase peyusutan.
n = umur manfaat /umur ekonomis aktiva dalam tahun.
D = Beban peyusutan tiap periode.

a). Metode Garis Lurus (straight line method).

Metode garis lurus disebut juga metode presentase tetap dari harga pembelian aktiva.
Berdasarkan metode garis lurus besarnya beban peyusutan tiap tahun adalah tetap
yang didefinisikan oleh rumus:
D =
n
S A −


Besarnya tingkat peyusutan r di definisikan oleh rumus:

r =
A
D
x 100%

Contoh 73
Sebuah aktiva dengan biaya perolehan sebesar Rp5.000.000,00. Diperkirakan aktiva itu
dapat dimanfaatkan selama 6 tahun dengan perkiraan nilai sisa Rp 2.000.000,00.
Dengan mengunakan metode garis lurus, tentukan:
a. Besarnya beban penyusutan tiap tahun!
b. Tingkat peyusutan atau persentase peyusutan per tahun!
c. Nilai buku atau harga aktiva pada akhir tahun ke-3!
d. Buatlah daftar peyusutan lengkap dengan akumulasi penyusutannya!

Jawab:
A = Rp5.000.000,00
S = Rp2.000.000,00 dan n = 6 tahun
a. Beban penyusutan tiap tahun:
D =
n
S A −

=
5
00 , 000 . 000 . 2 00 , 000 . 000 . 5 −
= Rp600.000,00
jadi, besarnya penyusutan tiap tahun adalah Rp 600.000,00.

b. Persentase penyusutan (r)
r =
A
D
x 100%
r =
00 , 000 . 000 . 5
00 , 000 . 600
x 100% = 12 %
Jadi, tingkat penyusutan tiap tahun sebesar 12% dari harga pembelian

c. Nilai buku atau harga aktiva pada akhir tahun ke-3 misalkan S
3
, maka:
S
3
= A – 3D
S
3
= 5.000.000,00 – 3 x 600.000,00


164
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
S
3
= Rp3.200.000,00
Jadi, harga aktiva pada akhir tahun ke-3 adalah Rp3.200.000,00.

d. Daftar penyusutan aktiva menurut metode garis lurus:

Tahun
ke
Biaya
perolehan
Beban
peyusutan
Akumulasi
peyusutan
Nilai buku
akhir tahun
1 5.000.000,00 600.000,00 600.000,00 4.400.000,00
2 4.400.000,00 600.000,00 1.200.000,00 3.800.000,00
3 3.800.000,00 600.000,00 1.800.000,00 3.200.000,00
4 3.200.000,00 600.000,00 2.400.000,00 2.600.000,00
5 2.600.000,00 600.000,00 3.000.000,00 2.000.000,00

Contoh 74
Pada awal tahun 2005 PT Adil dan Sejahtera membeli sebuah aktiva seharga
Rp15.000.000,00. Aktiva tersebut menyusut 12,5% tiap tahun dari harga beli.
Tentukan:
a. Nilai aktiva pada akhir awal tahun 2010!
b. Akumulasi penyusutan selama 6 tahun!
c. Umur aktiva jika aktiva tidak bernilai lagi!

Jawab:
A = Rp15.000.000,00
r = 12,5% (metode garis lurus) = 0,125

a. Dari awal tahun 2005 sampai awal tahun 2010 = 5 tahun (n = 5)
Nilai buku atau harga aktiva untuk n = 5, misalkan S
5
, maka:
S
5
= A – 5D
S
5
= A – 5 x (r . A)
S
5
= 15.000.000,00 – 5 x (0,125 x 15.000.000,00)
S
5
= 15.000.000,00 – 9.375.000,00 = Rp5.625.000,00

Jadi, harga aktiva pada awal tahun 2010 adalah Rp5.625.000,00.
b. Total persentase akumulasi penyusutan ™r = n. r
= 6 x 12,5% = 75%
Total akumulasi penyusutan = ™r . A
= 75% x Rp15.000.000,00 = Rp11.250.000,00.

c. Umur aktiva pada saat S = 0, atau ™r = 100%
n =
r
r ∑
=
% 5 , 12
% 100
= 8
b). Metode persentase tetap dari nilai buku (Metode Saldo Menurun)

Metode saldo menurun dinamakan juga dengan declining balance method. Di dalam
metode ini besarnya beban penyusutan tiap-tiap tahun diperoleh dari perkalian tingkat
penyusutan (r) dengan nilai buku awal tahun pada tahun yang bersangkutan. Nilai
buku dari tiap-tiap tahun dapat dicari sebagai berikut:
Nilai buku pada akhir tahun ke-1
S
1
=A – r.A =A (1 – r)

165 BAB III Matematika Keuangan
Nilai buku pada akhir tahun ke-2
S
2
= S
1
– r. S
1

= S
1
(1 – r)
= A (1 – r) ( 1 – r)
S
2
= A (1 – r)
2


NIlai buku pada akhir tahun ke-3
S
3
= S
2
– r.S
2

= S
2
(1 – r)
= A (1 – r)
2
(1 – r)

S
3
= A(1 – r )
3
, sehingga pada tahun ke-n nilai aktiva diperoleh:

S
n
= A (1 – r)
n


Jika S
n
=A(1 – r)
n
, maka (1 – r)
n
=
A
S
n

(1 – r) =
n
n
A
S

r = 1 –
n
n
A
S

Jika dinyatakan dalam %, maka tingkat penyusutan atau persentase penyusutan
berdasarkan persentase tetap dari nilai buku atau metode saldo menurun adalah:
r = (1 –
n
A
S
) x 100%


Contoh 75
Sebuah aktiva dengan biaya perolehan Rp20.000.000,00. Setelah beroperasi selama 6
tahun ditaksir nilai sisanya Rp5.000.000,00. Dengan mengunakan metode persentase
tetap dari nilai buku, tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap tahun!
b. Nilai buku atau harga aktiva pada akhir tahun ke-4!
c. Daftar penyusutannya!

Jawab:
A = Rp20.000.000,00
S = Rp5.000.000,00
n = 6 tahun
a. r = (1 –
n
A
S
) x 100%
r = (1 –
6
00 , 000 . 000 . 20
00 , 000 . 000 . 5
) x 100%
r = (1 –
6
25 , 0 ) x 100% dengan menggunakan kalkulator scientiffic, diperoleh:
r = (1 – 0,7937) x 100% = 20,63%

Jadi, besar penyusutan tiap tahun adalah 20,63% dari nilai buku.



166
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
b. Nilai buku pada akhir tahun ke-4:
S
n
= A (1 – r)
n

S
n
= 20.000.000,00 x (1 – 20,63%)
4
S
n
= 20.000.000,00 x 0,7937
4
S
n
= 20.000.000,00 x 0,396849211
S
n
= Rp 7.936.984,22

Jadi, nilai buku pada akhir tahun ke-4 adalah Rp7.936.984,22.

c. Daftar penyusutan aktiva menurut metode persentase tetap dari nilai buku.

Tahun
ke
Biaya
perolehan
Persentase
penyusutan
Beban
penyusutan
Akumulasi
penyusutan
Nilai buku
akhir tahun
1 20.000.000,00 20,63% 4.126.000,00 4.126.000,00 15.874.000,00
2 15.874.000,00 20,63% 3.274.806,20 7.400.806,20 12.599.193,80
3 12.599.193,80 20,63% 2.599.213,68 10.000.019,88 9.999.980,12
4 9.999.980,12 20,63% 2.062.995,90 12.063.015,78 7.936.984,22
5 7.936.984,22 20,63% 1.637.399,84 13.700.415,62 6.299.584,38
6 6.299.584,38 20,63% 1.299.604,26 15.000.019,88 4.999.980,12

Contoh 76
Pada awal tahun 2005 PT Adil dan Sejahtera membeli sebuah aktiva seharga
Rp15.000.000,00. Aktiva tersebut menyusut 7,5% tiap tahun dari nilai buku. Tentukan:
a. Nilai aktiva setelah menyusut selama 5 tahun!
b. Setelah berapa tahun nilai aktiva menjadi Rp 11.871.796,88?

Jawab:
A = Rp15.000.000,00
r = 5,5%

a. S
n
= A (1 – r)
n

S
n
= 15.000.000,00 x (1 – 7,5%)
5
S
n
= 15.000.000,00 x 0,925
5
S
n
= 15.000.000,00 x 0,677187080
S
n
= Rp 10.157.806,20.

b. Untuk S
n
= Rp 11.871.796,88, maka:

S
n
= A (1 – r)
n

11.871.796,88 = 15.000.000,00 x (1 – 7,5%)
n

00 , 000 . 000 . 15
88 , 796 . 871 . 11
= 0,925
n

0,791453125 = 0,925
n

di logaritmakan dengan bilangan pokok 10
log 0,791453125 = n. log 0,925
n =
925 , 0 log
791453125 , 0 log
= 3 tahun.


167 BAB III Matematika Keuangan
c). Metode satuan hasil produksi (production output method)

Besarnya tingkat penyusutan mengunakan metode satuan hasil produksi dihitung
berdasarkan tiap satuan hasil produksi (shp). Jika suatu aktiva dengan biaya perolehan
sebesar A, masa manfaat selama n tahun, memproduksi sebanyak Q unit produksi (Q
= q
1
+ q
2
+ q
3
+ . . .+ q
n
dengan q
1
+ q
2
+ q
3
+ . . . + q
n
berturut-turut merupakan
jumlah satuan hasil produksi dari tahun pertama sampai dengan tahun ke-n) dan nilai
residu sebesar S, maka besarnya tingkat penyusutan r tiap satuan hasil produksi
adalah:
r =
Q
S A −

Jika D
1
, D
2
, D
3
, . . . D
k
merupakan beban penyusutan tahun pertama, ke-2, ke-3 . . .
ke-k, maka jumlah kumulatif beban peyusutan pada akhir tahun ke-k adalah:
∑D= D
1
+ D
2
+ D
3
+ . . . + D
k

∑D= r. q
1
+ r . q
2
+ r . q
3
+ . . . + r q
k

∑D= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ . . . + q
k
)

Dan nilai buku pada akhir tahun ke-k adalah: Sk = A – ∑D
Contoh 77
Suatu aktiva dengan biaya perolehan Rp25.000.000,00. Diperkirakan umur manfaat
aktiva selama 6 tahun dengan jumlah produksinya 10.000 unit dan memiliki nilai sisa
Rp5.000.000,00. Jika jumlah produksi tiap tahun berturut-turut adalah 2.500 unit,
2.250 unit, 2.000 unit, 1.750 unit, 1.000 unit, dan 500 unit. Tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap satuan unit produksi!
b. Beban penyusutan pada tahun ke-3!
c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-4 !
d. Nilai buku pada akhir tahun ke-5!
e. Susunan daftar penyusutannya!

Jawab:
A = Rp25.000.000,00
n = 6 tahun
Q = 10.000 unit (q
1
= 2.500, q
2
= 2.250, q
3
= 2.000, q
4
= 1.750, q
5
= 1.000 dan
q
6
= 500)
S = Rp5.000.000,00
a. r =
Q
S A −

r =
000 . 10
00 , 000 . 000 . 5 00 , 000 . 000 . 25 −
= Rp2.000,00
b. D
3
= r . q
3

= 2.000,00 x 2.000 = Rp2.000.000,00

c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-4:
= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ q
4
) ∑D
= 2.000,00 x (2.500 + 2.250 + 2.000 + 1.750) ∑D
= 2.000,00 x 8.500 = Rp17.000.000,00 ∑D



168
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
d. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-5:
= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ q
4
+ q
5
) ∑D
= 2.000,00 x (2.500 + 2.250 + 2.000 + 1.750 + 1.000) ∑D
= 2.000,00 x 9.500 = Rp19.000.000,00 ∑D

Nilai buku pada akhir tahun ke-5:
Sk = A – ∑D
Sk = 25.000.000,00 – 19.000.000,00 = Rp6.000.000,00

e. Susunan daftar penyusutannya sebagai berikut:

r = Rp2.000,00
Tahun
ke
Nilai buku
awal tahun
Jumlah
Produksi
Beban
Penyusutan
Akumulasi
penyusutan
Nilai Buku
Akhir tahun
1 25.000.000,00 2.500 5.000.000,00 5.000.000,00 20.000.000,00
2 20.000.000,00 2.250 4.500.000,00 9.500.000,00 15.500.000,00
3 15.500.000,00 2.000 4.000.000,00 13.500.000,00 11.500.000,00
4 11.500.000,00 1.750 3.500.000,00 17.000.000,00 8.000.000,00
5 8.000.000,00 1.000 2.000.000,00 19.000.000,00 6.000.000,00
6 6.000.000,00 500 1.000.000,00 20.000.000,00 5.000.000,00
Jumlah 10.000 20.000.000,00

Contoh 78
Sebuah mesin foto copy dibeli dengan harga Rp 6.500.000,00. Mesin itu diperkirakan
mempunyai tingkat penyusutan Rp900 tiap 1000 lembar foto copy yang dihasilkan.
a. Jika tahun tertentu mesin foto copy itu dapat menghasilkan 565.500 lembar foto
copy, berapakah beban penyusutan pada tahun tersebut?
b. Berapakah harga mesin foto copy itu setelah mesin tersebut memproduksi 950.000
lembar foto copy?

Jawab:
A = Rp6.500.000,00
r = Rp900/1.000 lembar

a. D

= r . q


=
1000
900
x 565.500 = Rp508.950,00

b.

= r .

∑D ∑q
=
1000
900
x 950.000 = Rp855.000,00
Nilai buku setelah memproduksi 950.000 lembar:
Sk = A – ∑D
Sk = 6.500.000,00 – 855.000,00 = Rp5.645.000,00
169 BAB III Matematika Keuangan
Contoh 79
Suatu mesin dapat berproduksi sebagai berikut:
Tahun ke-1 = 3.000 satuan hasil produksi
Tahun ke-2 = 2.500 satuan hasil produksi
Tahun ke-3 = 1.500 satuan hasil produksi
Tahun ke-4 = 2.000 satuan hasil produksi
Tahun ke-5 = 1.000 satuan hasil produksi
Setelah 5 tahun, mesin tersebut ditaksir mempunyai nilai Rp 2.500.000,00. Jika dengan
metode satuan hasil produksi besarnya penyusutan adalah Rp75,00 per unit.
Tentukan:
a. Biaya perolehan mesin!
b. Besarnya nilai buku pada akhir tahun ke-3!

Jawab:
S = Rp2.500.000,00
n = 5 tahun
Q = 10.000 unit (q
1
= 3.000, q
2
= 2.500, q
3
= 1.500, q
4
= 2.000 dan q
5
= 1.000)
r = Rp75,00

a. r =
Q
S A −

75 =
000 . 10
00 , 000 . 500 . 2 A −

750.000,00 = A – 2.500.000,00
A = 750.000,00 + 2.500.000,00 = Rp 3.250.000,00


d. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-3:
= r(q
1
+ q
2
+ q
3
) ∑D
= 75,00 x (3.000 + 2.500 + 1.500) ∑D
= 75,00 x 7.000 = Rp 525.000,00 ∑D

Nilai buku pada akhir tahun ke-5:
Sk = A – ∑D
Sk = 3.250.000,00 – 525.000,00 = Rp 2.725.000,00

d) . Metode satuan jam kerja aktiva (service hours method)
Besarnya tingkat penyusutan mengunakan metode satuan jam kerja aktiva dihitung
berdasarkan tiap satuan jam kerja aktiva. Jika suatu aktiva dengan biaya perolehan
sebesar A, masa manfaat selama n tahun, berproduksi sebanyak Q jam kerja (Q = q
1

+ q
2
+ q
3
+ . . .+ q
n
dengan q
1
+ q
2
+ q
3
+ . . . + q
n
berturut-turut merupakan jumlah
jam kerja aktiva dari tahun pertama sampai dengan tahun ke-n) dan nilai residu
sebesar S, maka besarnya tingkat penyusutan r tiap jam kerja aktiva adalah:

r =
Q
S A −


Jika D
1
, D
2
, D
3
, . . . D
k
merupakan beban penyusutan tahun pertama, ke-2, ke-3 . . .
ke-k, maka jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-k adalah:


170
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
∑D= D
1
+ D
2
+ D
3
+ . . . + D
k

∑D= r. q
1
+ r . q
2
+ r . q
3
+ . . . + r q
k

∑D= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ . . . + q
k
)

Nilai buku pada akhir tahun ke-k adalah: S
k
= A – ∑ D
Contoh 80
Suatu aktiva dengan biaya perolehan Rp30.000.000,00. Diperkirakan umur manfaat
aktiva selama 7 tahun dengan pengoperasian mesin selama 40.000 jam dan memiliki
nilai sisa Rp6.000.000,00. Jika jumlah jam kerja aktiva tiap tahun berturut-turut adalah
10.000 jam, 8.500 jam, 6.000 jam, 5.500 jam, 5.000 jam, 3.000 jam, dan 2.000 jam.
Tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap jam kerja aktiva!
b. Beban penyusutan pada tahun ke-4!
c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-5!
d. Nilai buku pada akhir tahun ke-6!
e. Susunan daftar penyusutannya!

Jawab:
A = Rp30.000.000,00
n = 7 tahun
Q = 40.000 jam (q
1
= 10.000, q
2
= 8.500, q
3
= 6.000, q
4
= 5.500, q
5
= 5.000 dan
q
6
= 3.000 dan q
6
= 2.000 )
S = Rp6.000.000,00

a. r =
Q
S A −

r =
000 . 40
00 , 000 . 000 . 6 00 , 000 . 000 . 30
= Rp600,00


b. D
4
= r . q
4

= 600,00 x 5.500 = Rp 3.300.000,00


c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-5:
= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ q
4
+ q
5
) ∑D
= 600,00 x (10.000 + 8.500 + 6.000 + 5.500 + 5.000) ∑D
= 600,00 x 35.000 = Rp21.000.000,00 ∑D


d. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-6:
= r(q
1
+ q
2
+ q
3
+ q
4
+ q
5
+ q
6
) ∑D
= 600,00 x (10.000 + 8.500 + 6.000 + 5.500 + 5.000 + 3.000) ∑D
= 600,00 x 38.000 = Rp 22.800.000,00 ∑D

Nilai buku pada akhir tahun ke-6:
Sk = A – ∑D
Sk = 30.000.000,00 – 22.800.000,00 = Rp7.200.000,00


171 BAB III Matematika Keuangan
e. Susunan daftar penyusutannya sebagai berikut:

r = Rp600,00
Tahun
ke
Nilai Buku
Awal Tahun
Jumlah
Jam
Kerja
Beban
Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan
Nilai Buku
Akhir tahun
1 30.000.000,00 10.000 6.000.000,00 6.000.000,00 24.000.000,00
2 24.000.000,00 8.500 5.100.000,00 11.100.000,00 18.900.000,00
3 18.900.000,00 6.000 3.600.000,00 14.700.000,00 15.300.000,00
4 15.300.000,00 5.500 3.300.000,00 18.000.000,00 12.000.000,00
5 12.000.000,00 5.000 3.000.000,00 21.000.000,00 9.000.000,00
6 9.000.000,00 3.000 1.800.000,00 22.800.000,00 7.200.000,00
7 7.200.000,00 2.000 1.200.000,00 24.000.000,00 6.000.000,00
Jumlah 40.000 24.000.000,00

e). Metode Jumlah Bilangan Tahun (sum of the year’s digits method)

Jika suatu aktiva mempuyai umur manfaat n tahun, maka tingkat penyusutan r
merupakan bilangan pecahan dari tahun ke tahun semakin menurun dengan penyebut
pecahan merupakan jumlah n bilangan asli.

Jumlah bilangan tahun dari n tahun adalah: JBT= 1 + 2 + 3 + … + n
Beban penyusutan akhir tiap-tiap tahun adalah:
D
1
=
JBT
n
( A – S),
D
2
=
JBT
1 n −
( A – S ),
D
3
=
JBT
2 n −
( A – S),
.
.
.
D
k
=
JBT
1 k n + −
( A – S)

Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-k adalah:
∑D= D
1
+ D
2
+ D
3
+ . . . + D
k


Nilai buku pada akhir tahun ke-k adalah: S
k
= A – ∑D

Contoh 81
Sebuah aktiva dengan biaya perolehan sebesar Rp5.000.000,00 diperkirakan
mempunyai umur manfaat selama 6 tahun dengan nilai sisa Rp800.000,00 dengan
menggunakan metode jumlah bilangan tahun:
a. Tentukan beban penyusutan tiap-tiap tahun!
b. Tentukan akumulasi beban penyusutan pada 3 tahun pertama!
c. Tentukan nilai buku pada akhir tahun ke-5!
d. Buatlah daftar penyusutannya!


172
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Jawab:
A = 5.000.000,00
S = Rp800.000,00
n = 6 tahun
JBT = 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 21
a. D
1
=
JBT
6
(A – S)
=
21
6
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
6
x 4.200.000,00 = Rp1.200.000,00
D
2
=
JBT
1 6 −
(A – S)
=
21
5
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
5
x 4.200.000,00 = Rp1.000.000,00
D
3
=
JBT
2 6 −
(A – S)
=
21
4
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
4
x 4.200.000,00 = Rp800.000,00
D
4
=
JBT
3 6 −
(A – S)
=
21
3
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
3
x 4.200.000,00 = Rp600.000,00
D
5
=
JBT
4 6 −
(A – S)
=
21
2
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
2
x 4.200.000,00 = Rp400.000,00
D
6
=
JBT
5 6 −
(A – S)
=
21
1
(5.000.000,00 – 800.000,00)
=
21
1
x 4.200.000,00 = Rp200.000,00

b. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-3 adalah:
= D
1
+ D
2
+ D
3
∑D
= 1.200.000,00 + 1.000.00,00 + 800.000,00 = Rp3.000.000,00

173 BAB III Matematika Keuangan
atau:
= D
1
+ D
2
+ D
3
∑D
= ∑D
JBT
4 5 6 + +
(A – S)
= ∑D
21
15
(5.000.000,00 – 800.000,00)
= ∑D
21
15
x 4.200.000,00 = Rp3.000.000,00


c. Nilai buku pada akhir tahun ke-5 adalah:
S
5
= A – ∑D
S
5
= 5.000.000,00 –
JBT
2 3 4 5 6 + + + +
(5.000.000,00 – 800.000,00)
S
5
= 5.000.000,00 –
21
20
x 4.200.000,00
S
5
= 5.000.000,00 – 4.000.000,00 = Rp1.000.000,00

d. Daftar Penyusutannya:
Tahun
ke
Nilai Buku
Awal Tahun
Beban
Penyusutan

Akumulasi
Penyusutan
Nilai Buku Akhir
Tahun
1 5.000.000,00 1.200.000,00 1.200.000,00 3.800.000,00
2 24.000.000,00 1.000.000,00 2.200.000,00 2.800.000,00
3 18.900.000,00 800.000,00 3.000.000,00 2.000.000,00
4 15.300.000,00 600.000,00 3.600.000,00 1.400.000,00
5 12.000.000,00 400.000,00 4.000.000,00 1.000.000,00
6 9.000.000,00 200.000,00 4.200.000,00 800.000,00
Jumlah 4.200.000,00


Contoh 82
Sebuah aktiva mempunyai umur manfaat selama 8 tahun. Menurut metode jumlah
tahun beban penyusutan tahun keempat adalah Rp3.000.000,00 dan nilai buku pada
akhir tahun ke-6 adalah Rp5.200.000,00. Tentukan biaya perolehan dan residu aktiva!

Jawab:
n = 8 tahun, maka JBT = 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 = 1 = 36
D
4
= Rp3.000.000,00
S
6
= Rp 5.200.000,00

D
4
=
JBT
1 4 8 + −
(A – S)
3.000.000,00 =
36
5
(A – S)
A – S = 3.000.000,00 x
5
36

A – S = 21.600.000,00 . . . . . . . . . .1)


174
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
S
6
= A – ∑D
5.200.000,00 = A –
36
3 4 5 6 7 8 + + + + +
(S – A)
5.200.000,00 = A –
36
33
x 21.600.000,00 ( dari persamaan 1)
5.200.000,00 = A –19.800.000,00
A = 5.200.000,00 + 19.800.000,00 = Rp25.000.000,00

A – S = 21.600.000,00 (dari persamaan 1)
S = 25.000.000,00 – 21.600.000,00 = Rp3.400.000,00


3). Penyusutan Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Aktiva tidak berwujud adalah suatu aktiva tetap yang tidak memiliki sifat fisik. Contoh:
hak paten, hak cipta (copy right), merek dagang, dan nama baik (goodwill). Semua
biaya yang dikeluarkan untuk mendapatka aktiva sehingga aktiva itu dapat digunakan
di dalam operasional perusahaan, maka biaya-biaya itu dimasukan ke dalam biaya
perolehan aktiva itu.
Proses penyusutan pada aktiva tetap tak terwujud disebut amortisasi. Umur manfaat
aktiva tak terwujud, sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang telah ditetapkan.
Jika aktiva tak berwujud dikeluarkan oleh pemerintah maka masa berlaku aktiva itu
ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan peraturan pemerintah. Misalnya hak paten
masa berlaku dalam jangka waktu 15 tahun.
Perhitungan amortisasi biasanya dilakukan dengan metode garis lurus. Dalam hal ini
nilai sisa setelah masa manfaat dari aktiva itu habis adalah nol (S=0). Jadi, beban
penyusutan tiap tahun:
D =
n
S A −
=
n
0 A −
=
n
A

A = biaya perolehan aktiva tak berwujud.
n = masa berlakunya aktiva tak berwujud.

Contoh 83
Perusahaan pertambangan Batu bara mendapat hak paten menambang batu bara
selama 15 tahun dengan biaya perizinan sebesar Rp150.000.000,00. Tentukan:
a. Beban penyusutan tiap tahun dari hak paten tersebut
b. Nilai buku pada akhir tahun ke-8!

Jawab:
A = Rp150.000.000,00
n = 15 tahun
a. D =
n
A
=
15
00 , 000 . 000 . 150
= Rp10.000.000,00
b. Nilai buku pada akhir tahun ke-8:
S
8
= A – ™D
S
8
= 15.000.000,00 – 8 x 10.000.000,00 = Rp70.000.000,00


175 BAB III Matematika Keuangan



1. Sebuah aktiva dengan biaya perolehan sebesar Rp15.000.000,00. Diperkirakan
aktiva itu dapat dimanfaatkan selama 8 tahun dengan perkiraan nilai sisa
Rp 3.000.000,00. Dengan mengunakan metode garis lurus, tentukan:
a. Besarnya beban penyusutan tiap tahun
b. Persentase penyusutan per tahun
c. Harga aktiva pada akhir tahun ke-5
d. Buatlah daftar penyusutan lengkap dengan akumulasi penyusutannya!

2. Pada awal tahun 2006 CV Sejahtera membeli sebuah aktiva seharga
Rp12.000.000,00. Aktiva tersebut menyusut 10% tiap tahun dari harga beli.
Tentukan:
a. Nilai aktiva pada akhir tahun 2010
b. Akumulasi penyusutan sampai akhir tahun 2012
c. Umur aktiva jika aktiva tidak bernilai lagi!

3. Sebuah aktiva dengan biaya perolehan Rp25.000.000,00. Setelah beroperasi selama
7 tahun ditaksir nilai sisanya Rp7.000.000,00. Dengan mengunakan metode
persentase tetap dari nilai buku, tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap tahun
b. Harga aktiva pada akhir tahun ke-5
c. Buatlah daftar penyusutanya!

4. Pada awal tahun 2005 PT Adil dan Sejahtera membeli sebuah aktiva seharga
Rp20.000.000,00. Aktiva tersebut menyusut 10% tiap tahun dari nilai buku.
Tentukan:
a. Nilai aktiva pada akhir tahun 2010
b. Setelah berapa tahun nilai aktiva menjadi Rp9.565.938,00!

5. Suatu aktiva dengan biaya perolehan Rp35.000.000,00. Diperkirakan umur manfaat
aktiva selama 8 tahun dengan jumlah produksinya 165.000 unit dan memiliki nilai
sisa Rp2.000.000,00. Jika jumlah produksi tiap tahun berturut-turut adalah 30.500
unit, 25.250 unit, 23.000 unit, 20.750 unit, 19.000 unit, 18.500 unit, 18.000 unit
dan 10.000 unit. Tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap satuan unit produksi!
b. Beban penyusutan pada tahun ke-6!
c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-5!
d. Nilai buku pada akhir tahun ke-4!
e. Susunan daftar penyusutannya.

6. Sebuah mesin foto copy dibeli dengan harga Rp8.500.000,00. Mesin itu
diperkirakan mempunyai tingkat penyusutan Rp85 tiap 100 lembar foto copy yang
di hasilkan.
a. Jika tahun tertentu mesin foto copy itu dapat menghasilkan 250.000 lembar
foto copy, berapakah beban penyusutan pada tahun tersebut?
b. Berapakah harga mesin foto copy itu setelah mesin tersebut memproduksi
600.000 lembar foto copy?


176
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
7. Suatu mesin dapat berproduksi sebagai berikut:
Tahun ke-1 = 5.000 unit
Tahun ke-2 = 4.500 unit
Tahun ke-3 = 3.500 unit
Tahun ke-4 = 3.000 unit
Tahun ke-5 = 2.000 unit
Setelah 5 tahun, mesin tersebut ditaksir mempunyai nilai Rp 2.500.000,00. Jika
dengan metode satuan hasil produksi besarnya penyusutan adalah Rp105,00 per
unit. Tentukan:
a. Biaya perolehan mesin!
b. Besarnya nilai buku pada akhir tahun ke-4!

8. Suatu aktiva dengan biaya perolehan Rp45.000.000,00. Diperkirakan umur
manfaat aktiva selama 6 tahun dengan pengoperasian mesin selama 42.000
jam dan memiliki nilai sisa Rp3.000.000,00. Jika jumlah jam kerja aktiva tiap
tahun berturut-turut adalah 11.000 jam, 8.500 jam, 7.000 jam, 5.500 jam,
5.000 jam, 3.000 jam dan sisanya tahun ke-6. Tentukan:
a. Tingkat penyusutan tiap jam kerja aktiva!
b. Beban penyusutan pada tahun ke-3!
c. Jumlah kumulatif beban penyusutan pada akhir tahun ke-6!
d. Nilai buku pada akhir tahun ke-2!
e. Susunan daftar penyusutannya!

10. Sebuah aktiva mempunyai umur manfaat selama 6 tahun menurut metode
jumlah bilangan tahun, beban penyusutan tahun kedua adalah Rp2.200.000,00
dan nilai buku pada akhir tahun ke-3 adalah Rp 6.000.000,00
a. Tentukan biaya perolehan dan residu!
b. Buat daftar penyusutan!

11. Perusahaan pertambangan timah mendapat hak paten menambang timah
selama 12 tahun dengan biaya perizinan sebesar Rp180.000.000,00. Tentukan:
a. Beban penyusutan tiap tahun dari hak paten tersebut!
b. Nilai buku pada akhir tahun ke-8!

12. Sebuah mobil dibeli dengan harga Rp100.000.000,00. Dengan perkiraan umur
manfaat selama 15 tahun. Berdasarkan metode jumlah bilangan tahun, beban
penyusutan pada tahun ke-6 adalah Rp6.750.000,00. Tentukan:
a. Besar residunya!
b. Nilai buku pada akhir tahun ke-10!

13. Suatu aktiva dengan metode saldo menurun, nilai buku akhir tahun ke-2 adalah
Rp2.250.000,00 dan masa manfaat selama 8 tahun. Hitunglah:
a. Persentase penyusutannya!
b. Harga beli aktiva!

14. Suatu aktiva dengan harga Rp12.000.000,00. Tiap tahun harganya tinggal
4
3
nya dari nilai buku, tentukan harga aktiva pada akhir tahun ke-5!
177 BAB III Matematika Keuangan
15. Suatu aktiva setiap tahun nilainya menyusut hanya tinggal 0,85 nya dari nilai
buku. Jika nilai aktiva pada akhir tahun ke-5 adalah Rp2.218.526,56. Tentukan
nilai aktiva pada akhir tahun ke-3!

16. Selama jangka waktu 10 tahun PT Hasil Alam menghasilkan batu bara
sebanyak 50.000 ton dengan hasil tahun pertama sampai dengan tahun ke-10
berturut-turut adalah 5.000 ton, 5.000 ton, 3.000 ton, 4.000 ton, 5.000 ton
7000 ton, 7000 ton, 5000 ton dan 4000 ton. Dengan metode satuan hasil
produksi:
a. Tentukan tingkat penyusutan setiap satu ton batu bara yang dihasilkan!
b. Tentukan nilai buku pada akhir tahun ke-8!

17. Sebuah mesin pabrik dibeli dengan harga Rp60.000.000,00. Nilai sisa jika mesin
tersebut habis masa manfaatnya adalah Rp4.000.000,00 dan ditaksir akan
dapat digunakan selama 56.000 jam dengan taksiran sebagai berikut:
Tahun I = 12.000 jam
Tahun II = 10.500 jam
Tahun III = 9.500 jam
Tahun IV = 8.000 jam
Tahun V = 6.500 jam
Tahun VI = 5.500 jam
Tahun VII = 4.000 jam
Dengan metode satuan jam kerja, tentukan:
a. Tingkat penyusutan setiap jam kerja
b. Akumulasi penyusutan selama 3 tahun pertama
c. Harga mesin setelah beroperasi selama 5 tahun
d. Susunan daftar penyusutan!

18. Suatu aktiva dengan harga Rp6.500.000,00. Dengan metode persentase tetap
dari harga beli besarnya persentase penyusutan 6,25% per tahun. Hitunglah:
a. Beban penyusutan aktiva tiap tahun
b. Jumlah akumulasi nilai penyusutan 10 tahun pertama
c. Harga aktiva setelah beroperasi selama 8 tahun
d. Masa manfaat aktiva sehingga aktiva tidak bernilai lagi!

19. Sebuah aktiva dengan biaya perolehan Rp500.000.000,00 diperkirakan selama 5
tahun dapat memproduksi dengan rincian sebagai berikut:
Tahun pertama dapat memproduksi 1.200 unit.
Tahun kedua dapat memproduksi 800 unit.
Tahun ketiga dapat memproduksi 600 unit.
Tahun keempat dapat memproduksi 400 unit.
Selanjutnya aktiva itu tidak dapat dimanfaatkan lagi kemudian dijual dan laku
sebesar Rp5.000.000,00.
a. Hitunglah tingkat penyusutan tiap satu unit produksi!
b. Berapa harga aktiva seandainya pada akhir tahun ke-2 dijual?
c. Buat daftar penyusutan!




178
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
20. Data suatu aktiva sebagai berikut:
Biaya perolehan …………………………… Rp20.000.000,00
Perkiraan aktiva:
Masa manfaat aktiva……………………... 8
Jumlah jam kerja…………………………… 50.000 jam
Jumlah produksi yang dihasilkan……... 1.600 unit
Nilai residu………………………………….... Rp 4.000.000,00
a. Hitunglah beban penyusutan dan persentase penyusutan tiap tahun dengan
menggunakan metode garis lurus!
b. Hitunglah tingkat penyusutan tiap jam kerja!
c. Hitunglah tingkat penyusutan tiap unit produksi!
d. Dengan metode satuan hasil produksi dan satuan jam kerja, hitunglah
beban penyusutan untuk tahun kedua (tahun kedua dihasilkan 7.600 unit
dan bekerja selama 8.500 jam kerja)!





A. Pilihan Ganda

1. 15% di atas 100 senilai dengan ….
a.
23
3
c.
20
3
e.
17
3

b.
22
3
d.
18
3


2. 12% dibawah 100 dari Rp 4.400.000,00 adalah ….
a. Rp682.000,00 c. Rp600.000,00 e. Rp471.428,00
b. Rp628.000,00 d. Rp528.000,00

3. 10% diatas 100 senilai dengan …. persen di bawah 100
a. 9.09 % c. 8.53 % e. 8.33 %
b. 8.83 % d. 8.43 %

4. Harga jual suatu barang adalah Rp5.980.000,00. Jika barang dijual dengan
untung 15%, maka untungnya adalah ….
a. Rp760.000,00 c. Rp880.000,00 e. Rp5.200.000,00
b. Rp780.000,00 d. Rp5.100.000,00

5. Suatu modal sebesar Rp1.000.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama
3 tahun dengan suku bunga tunggal 18%/tahun, maka modal setelah dibungakan
adalah ….
a. Rp1.240.000,00 c. Rp1.450.000,00 e. Rp1.550.000,00
b. Rp1.440.000,00 d. Rp1.540.000,00

179 BAB III Matematika Keuangan
6. Modal sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal selama 1
tahun 7 bulan dengan suku bunga 3%/cawu. Bunga yang diperoleh adalah ….
a. Rp356.250,00 c. Rp536.250,00 e. Rp635.350,00
b. Rp366.250,00 d. Rp563.350,00

7. Suatu pinjaman sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal
selama 2 tahun 3 bulan dan bunga yang diperoleh Rp450.000,00, maka suku
bunganya tiap tahun adalah ….
a. 6% c. 7% e. 8%
b. 6,5% d. 7,5%

8. Suatu pinjaman sebesar Rp1.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga tunggal
7,5%/semester dan modal tersebut menjadi Rp1.800.000,00. Setelah dibungakan
selama t bulan, nilai t adalah ….
a. 14 bulan c. 18 bulan e. 21 bulan
b. 16 bulan d. 20 bulan

9. Suatu pinjaman setelah dibungakan dengan bunga tunggal 15%/tahun selama 2
tahun modal tersebut menjadi Rp6.110.000,00, maka modal mula-mulanya
adalah ….
a. Rp 4.400.000,00 c. Rp 4.600.000,00 e. Rp 7.400.000,00
b. Rp 4.500.000,00 d. Rp 4.700.000,00

10. Modal sebesar Rp2.000.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
5%/semester selama 5

tahun, maka modal akhirnya adalah ….
a. Rp4.257.789,25 c. Rp3.527.789,25 e. Rp3.257.897,25
b. Rp3.752.789,25 d. Rp3.257.789,25

11. Modal sebesar Rp1.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk 4%/triwulan
selama 3 tahun 9 bulan, maka modal akhirnya adalah ….
a. Rp3.711.415,26 c. Rp2.711.415,26 e. Rp2.701.415,26
b. Rp3.701.415,26 d. Rp2.710.415,26

12. Pinjaman sebesar Rp2.500.000,00 dibungakan dengan bunga majemuk tiap bulan
selama 2 tahun ternyata modal menjadi Rp3.575.757,03, maka suku bunganya
adalah ….
a. 1,2%/bulan c. 1,5%/bulan e. 1,8%/bulan
b. 1,4%/bulan d. 1,6%/bulan

13. Suatu modal setelah dibungakan dengan bunga majemuk sebesar 15%/tahun
selama 12 tahun modal menjadi Rp13.375.625,26, maka modal mula-mulanya
adalah ….
a. Rp2.500.000,00 c. Rp2.600.000,00 e. Rp2.800.000,00
b. Rp2.550.000,00 d. Rp2.700.000,00

14. Nilai tunai dari suatu modal Rp5.000.000,00 yang dibungakan dengan bunga
majemuk 2%/bulan selama 2 tahun adalah ….
a. Rp3.008.706,44 c. Rp3.108.607,44 e. Rp3.810.607,44
b. Rp3.018.607,44 d. Rp3.180.607,44


180
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
15. Seorang karyawan setiap awal bulan menyimpan uang di bank sebesar
Rp 500.000,00. Jika bank memberikan bunga 1,5%/bulan, maka simpanan
karyawan selama 2 tahun adalah ….
a. Rp14.135.511,80 c. Rp14.531.521,80 e. Rp15.631.511,80
b. Rp14.531.511,80 d. Rp15.531.511,80

16. Setiap akhir tahun Susan menyimpan uangnya di bank sebesar Rp800.000,00
selama 25 tahun di Bank ABC. Jika bank memberikan bunga 5%/tahun, maka
jumlah simpanan total Susan di bank tersebut adalah ….
a. Rp38.181.679,06 c. Rp39.181.679,06 e. Rp39.881.979,06
b. Rp38.811.679,06 d. Rp39.811.679,06

17. Seorang siswa akan mendapat beasiswa pada setiap awal bulannya dari
PT.UNILEVER sebesar Rp250.000,00 selama 3 tahun. Jika beasiswa akan
diberikan sekaligus diawal bulan pertama dengan dikenai bunga 2%/bulan, maka
beasiswa total yang diterima siswa tersebut adalah ….
a. Rp6.349.654,83 c. Rp6.994.654,83 e. Rp7.949.654,83
b. Rp6.499.654,83 d. Rp7.499.654,83
18. Setiap akhir tahun Yayasan Kasih Ibu akan mendapatkan sumbangan dari Bank
Dunia sebesar Rp3.500.000,00 dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Jika
Bank dunia akan memberikan sumbangan sekaligus dengan bunga 17,5%/tahun,
maka jumlah sumbangan total yang diterima yayasan tersebut adalah ….
a. Rp19.500.000,00 c. Rp23.500.000,00 e. Rp24.000.000,00
b. Rp23.000.000,00 d. Rp20.000.000,00

19. Nilai tunai Rente kekal pra numerando dari suatu modal Rp500.000,00 tiap bulan
dengan suku bunga 2,5%/bulan adalah ….
a. Rp19.500.000,00 c. Rp20.500.000,00 e. Rp22.500.000,00
b. Rp20.000.000,00 d. Rp21.500.000,00

20. Setiap awal bulan Azzam akan mendapatkan beasiswa dari Yayasan Supersemar
sebesar Rp175.000,00 dalam jangka waktu yang tak terbatas. Yayasan tak mau
repot, oleh karena itu beasiswa akan diberikan sekaligus namun harus dikenai
bunga sebesar 1%/bulan, maka beasiswa total yang diterima Azzam adalah ….
a. Rp16.275.000,00 c. Rp16.765.000,00 e. Rp17.675.000,00
b. Rp16.500.000,00 d. Rp17.500.000,00

21. Nilai tunai dari rente kekal Post Numerando adalah Rp5.000.000,00, jika
angsurannya sebesar Rp200.000,00 tiap bulan, maka suku bunganya tiap bulan
adalah ….
a. 3,5% c. 4,5% e. 6%
b. 4% d. 5%

22. Mia bersama suaminya berencana mengambil rumah di VILLA BANDARA INDAH
dengan harga Rp250.000.000,00, ternyata Mia hanya memiliki uang muka
Rp100.000.000,00 sisanya akan dicicil dengan sistem anuitas tahunan selama 10
tahun dengan suku bunga 18%/tahun . Nilai anuitasnya adalah ….
a. Rp33.377.196,2 c. Rp34.337.196,2 e. Rp34.773.196,2
b. Rp33.773.196,2 d. Rp34.377.196,2
181 BAB III Matematika Keuangan
23. Nilai anuitas dari suatu pinjaman sebesar Rp5.000.000,00 selama 2 tahun dengan
suku bunga 2%/bulan adalah ….
a. Rp 262.335,49 c. Rp 264.355,49 e. Rp 265.355,49
b. Rp 263.355,49 d. Rp 264.553,49

24. Suatu aktiva dibeli dengan harga Rp1.500.000,00 dengan menggunakan metode
persentase tetap dari harga beli. Besarnya penyusutan tiap 6 bulan adalah
Rp100.000,00 dan aktiva tersebut sekarang berharga Rp300.000,00. maka umur
manfaat aktiva tersebut adalah ….
a. 6 tahun c. 8 tahun e. 10 tahun
b. 7 tahun d. 9 tahun

25. Suatu mesin dapat berproduksi sebagai berikut:
Tahun ke-1=3.000 satuan hasil produksi
Tahun ke-2=2.500 satuan hasil produksi
Tahun ke-3=1.500 satuan hasil produksi
Tahun ke-4=2.000 satuan hasil produksi
Tahun ke-5=1.000 satuan hasil produksi
Mesin itu ditaksir mempunyai nilai Rp150.000,00. Jika dengan metode satuan
hasil produksi besarnya penyusutan adalah Rp55.00 per unit, maka harga beli
mesin tersebut adalah ….
a.Rp580.000,00 d. Rp700.000,00 e. Rp800.000,00
b.Rp600.000,00 e. Rp750.000,00

26. Biaya perolehan aktiva sebesar Rp3.000.000,00 mempunyai taksiran masa
manfaat selama 10 tahun dengan nilai residu Rp500.000,00. Persentase
penyusutan aktiva tersebut menurut straight line method adalah ….
a. %
2
1
6 c. %
2
1
8 e. %
3
1
8
b. %
2
1
7 d.8%

27. Seorang anggota meminjam uang dari koperasi sebesar Rp5.000.000,00 dengan
suku bunga tunggal 1,5% setiap bulan. Besar bunga selama setengah tahun
adalah ….
a. Rp225.000,00 c. Rp500.000,00 e. Rp 750.000,00
b. Rp450.000,00 d. Rp550.000,00

28. Marina meminjam uang dengan sistem diskonto 5% setahun. Jika pada saat
meminjam ia menerima uang sebesar Rp532.000,00, maka besar uang yang
harus dikembalikan Sabrina setelah satu tahun adalah ….
a. Rp26.600,00 c. Rp558.600,00 e. Rp600.000,00
b. Rp28.000,00 d. Rp560.000,00







182
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
29. Setiap awal semester Umi menabungkan uangnya sebesar Rp200.000,00 pada
sebuah bank yang memberikan suku bunga majemuk 5,5% setiap semester.
Dengan bantuan tabel di bawah, jumlah tabungan Umi pada akhir tahun ke-4
adalah ….
n 5,5 %
2
4
8

2,1680
4,5811
10,2563
a. Rp888.000,00
b. Rp916.220,00
c. Rp1.644.000,00
d. Rp1.688.000,00
e. Rp2.051.260,00

30. Perhatikan tabel rencana pelunasan dengan sebagian data berikut
Anuitas =Rp…… Bulan
ke
Pinjaman
Awal
Bunga = 2 % Angsuran
Sisa
Pinjaman
1
2
-
-
Rp60.000,00 -
-
Rp2.960.000,00
-
Berdasarkan data di atas, besar angsuran pada bulan ke-2 adalah . . .
a. Rp40.000,00 c. Rp58.384,00 e. Rp400.000,00
b. Rp40.800,00 d. Rp59.200,00

31. Tabel rencana pelunasan hutang:

Anuitas Bulan
ke-
Pinjaman
Awal Bunga 2 ½% Angsuran

Sisa Hutang
1
2
Rp6.000.000,00
-
-
Rp121.250,00
-
-
Rp4.850.000,00
Rp3.671.250,00

Besar anuitas pada tabel di atas adalah . . . .
a. Rp1.125.000,00 c. Rp1.300.000,00 e. Rp1.600.000,00
b. Rp1.205.000,00 d. Rp1.475.000,00

32. Nilai beli suatu aktiva sebesar Rp8.400.000,00. Setelah dipakai 5 tahun
diperkirakan mempunyai nilai sisa Rp4.150.000,00. Jika dihitung dengan metode
garis lurus, maka beban penyusutan setiap tahunnya adalah ….
a. Rp168.000,00 c. Rp830.000,00 e. Rp1.050.000,00
b. Rp320.000,00 d. Rp850.000,00

33. Pada setiap awal tahun, seorang menabung sebesar Rp100.000,00 pada sebuah
bank yang memberikan bunga majemuk 20% setiap tahun. Jumlah tabungan
tersebut pada akhir tahun ke-2 adalah ….
a. Rp220.000,00 c. Rp260.000,00 e. Rp336.000,00
b. Rp240.000,00 d. Rp264.000,00
34. Seorang pedagang meminjam uang dengan sistem diskonto 20%/tahun. Ia
menerima pinjaman tersebut sebesar Rp960.000,00. Besar uang yang harus
dikembalikan setelah satu tahun adalah ….
a. Rp1.000.000,00 c. Rp1.152.000,00 e. Rp1.250.000,00
b. Rp1.250.000,00 d. Rp1.200.000,00

183 BAB III Matematika Keuangan
35. Berikut ini adalah tabel rencana pelunasan suatu pinjaman dengan sebagian data:

Pinjaman Awal Anuitas Bulan
ke Bunga 5 % Angsuran
Sisa Pinjaman
1
2
3
4

Rp. 200.000,00
Rp. 170.000,00
Rp. 138.500,00
dst
-
Rp. 8.500,00
-

-
-
Rp. 33.075,00

Rp. 170.000,00
Rp. 138.000,00
Rp. 105.425,00


Besarnya Anuitas adalah . . . .
a. Rp40.000,00 c. Rp30.000,00 e. Rp6.925,00
b. Rp31.500,00 d. Rp10.000,00
C.2. Soal Essay
1. Harga barang setelah dikenai pajak adalah Rp2.800.000,00 jika besarnya pajak
12%. Tentukanlah besarnya pajak dan harga sebelum pajak!

2. Pinjaman sebesar Rp1.250.000,00 dibungakan dengan bunga tunggal
0.5%/bulan selama 2 tahun 5 bulan dan 18 hari (1 tahun = 360 hari).
Tentukanlah bunga yang diperoleh!

3. Modal sebesar Rp3.000.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk
4%/semester. Tentukanlah setelah berapa tahun modal menjadi Rp
4.440.732,87!

4. Setiap awal tahun Tutik menyimpan uangnya di Bank Asia sebesar
Rp1.000.000,00, jika Bank memberikan bunga 9%/tahun. Tentukanlah uang
Tutik setelah menabung 20 tahun!

5. Pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 akan dilunasi dengan anuitas bulanan selama
3 tahun dengan suku bunga 2.5%/bulan. Tentukan:
a. Anuitasnya
b. Bunga dan angsuran pertama!

6. Pada awal tahun 2004 PT TEKNIK JAYA membeli sebuah aktiva termasuk biaya-
biaya lain sehingga aktiva itu siap dioperasikan sebesar Rp15.0000.000,00 aktiva
itu setiap tahun disusutkan 40% dari nilai buku dan diperkirakan mempunyai
umur manfaat selama 6 tahun.
a. Tentukan beban penyusutan pada tahun 2008!
b. Tentukan nilai buku pada akhir tahun 2007!
c. Tentukan nilai residu!



184
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
7. Suatu mesin yang dibeli dengan harga Rp600.000.000,00 ditaksir mempinyai nilai
sisa Rp40.000.000,00. Mesin ini selama umur manfaatnya akan memberi hasil
sebagai berikut:
Tahun I =10.000 jam
Tahun II = 8.000 jam
Tahun III = 6.000 jam
Tahun IV = 4.000 jam

Dengan metode satuan hasil produksi, tentukan:
a. beban penyusutan tiap-tiap unit, dan
b. beban penyusutan pada tahun ke-2!

8. Suatu aktiva dengan harga Rp6.500.000,00 dan ditaksir nilai sisanya
Rp1.300.000,00. Dengan metode persentase tetap dari harga beli jika besarnya
persentase penyusutan 20% per tahun, maka hitunglah:
a. masa manfaat aktiva,
b. beban penyusutan aktiva, dan
c. nilai buku setelah tahun ke-2!
9. Hitunglah angsuran ke-5 dari suatu pinjaman Rp2.000.000,00 dengan anuitas
Rp800.000,00 dan bunga 4% per tahun!

10. Utang Rp10.000.000,00 diangsur dengan 10 anuitas dengan bunga 3% setahun.
Tentukan sisa pinjaman setelah anuitas ke-6!



55
Peluang
Konsep peluang sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya,
dalam bidang meteorologi, astronomi, asuransi, olahraga, dan lain-
lain. Salah satu manfaat materi peluang dapat kamu lihat dalam uraian
berikut.
Komet adalah benda langit yang menyerupai bintang dengan
semburan ekornya. Komet yang terkenal adalah komet Halley yang
melintas mendekati matahari setiap 76 tahun sekali. Jika peluang
komet tersebut melintas setiap 76 tahun sekali adalah 0,937, berapakah
peluang komet tersebut tidak melintas setiap 76 tahun sekali? Untuk
menjawabnya, pelajari bab ini dengan baik.
4
Bab
S
u
m
ber: www.open-site.org
A. Dasar-Dasar
Peluang
B. Perhitungan
Peluang
C. Frekuensi
Harapan
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
56
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
A. Dasar-Dasar Peluang
Dalam kehidupan sehari-sehari, kamu pasti sering mendengar pernyataan-
pernyataan berikut.
• Nanti sore mungkin akan turun hujan.
• Berdasarkan hasil perolehan suara, Joni berpeluang besar untuk menjadi
ketua kelas.
• Peluang Indonesia untuk mengalahkan Brazil dalam pertandingan
sepakbola sangat kecil.
Besar peluang ketiga pernyataan di atas dinyatakan dengan mungkin,
berpeluang besar , dan berpeluang kecil. Di dalam Matematika, besar
peluang suatu kejadian/pernyataan dapat ditentukan secara eksak. Untuk
lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.
1. Kejadian Acak
Coba kamu lemparkan sekeping uang logam. Dapatkah kamu memastikan sisi
mana yang akan muncul? Tentu saja tidak, bukan? Kamu hanya mengetahui
sisi yang mungkin muncul adalah salah satu dari sisi angka atau gambar.
Pelemparan sekeping uang logam merupakan salah satu contoh kejadian acak.
Untuk lebih memahami pengertian kejadian acak, lakukanlah kegiatan berikut.
1. Siapkan sebuah dadu, sebuah wadah, lima bola merah, dan lima bola kuning.
2. Lemparkan dadu tersebut. Dapatkah kamu menentukan muka dadu yang akan
muncul?
3. Masukan lima bola merah dan lima bola kuning ke dalam wadah. Aduklah
bola-bola tersebut. Kemudian, tutup matamu dan ambillah satu bola. Dapatkah
kamu menentukan warna bola yang terambil?
4. Ulangi percobaan nomor 3. Kali ini, lakukan tanpa menutup mata. Dapatkah
kamu menentukan warna bola yang terambil?
Kegiatan 4.1
Pada percobaan nomor 1, kamu tentu tidak tahu muka dadu mana yang
akan muncul. Kamu hanya mengetahui bahwa muka dadu yang akan muncul
adalah yang bertitik satu, dua, tiga, empat, lima, atau enam. Kejadian muka
dadu mana yang akan muncul tidak dapat ditentukan sebelumnya. Inilah
yang disebut kejadian acak. Sekarang, tentukan olehmu kejadian acak atau
bukankah percobaan nomor 3 dan nomor 4?
1. Sederhanakanlah pecahan-pecahan berikut.
a.
8
12
c.
15
50
b.
26
52
d.
23
37
2. Tentukan jumlah anggota himpunan-himpunan
berikut ini.
a. A = {a, b, c, d, e, f, g}
b. P = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19}
c. T = {1, a, 2, b, 3}
d. Z = {2, 4, 6, 8}
3. Tentukan himpunan bagian dari himpunan-him-
punan berikut ini.
a. R = {1, 2, 3}
b. D = {0, 9}
Uji Kompetensi Awal
Peluang
57
Percobaan yang dilakukan pada Kegiatan 4.1 disebut percobaan
statistika. Percobaan statistika adalah percobaan yang dilakukan untuk
mengamati suatu kejadian.
2. Titik Sampel dan Ruang Sampel
Pada pelemparan sekeping uang logam, sisi yang mungkin muncul adalah
sisi angka (A) atau sisi gambar (G). Jika sisi yang mungkin muncul ini
dinyatakan dengan himpunan, misalnya S, menjadi S = {A,G}. Kumpulan
atau himpunan semua hasil yang mungkin muncul pada suatu percobaan
disebut ruang sampel, dilambangkan dengan S. Adapun anggota-anggota
dari S disebut titik sampel. Banyakanggota(titik sampel ) suatu ruangsampel
dinyatakan dengan n(S).
Cara menentukan ruang sampel dari titik sampel ada tiga, yaitu dengan
mendaftar, tabel, dan diagram pohon.
a. Menentukan Ruang Sampel dengan Mendaftar
Misalkan, pada pelemparan dua keping uang logam sekaligus, sisi yang
muncul adalah angka (A) pada uang logam pertama dan gambar (G) pada
uang logam kedua, ditulis AG. Kejadian lain yang mungkin muncul pada
pelemparan kedua uang logam tersebut adalah AA, GA, dan GG. Jika ruang
sampelnya dituliskan dengan cara mendaftar, hasilnya adalah S = {AA, AG,
GA, GG} dengan n (S) = 4.
b. Menentukan Ruang Sampel dengan Tabel
Selain dengan cara mendaftar, ruang sampel dapat ditentukan dengan cara
membuat tabel. Perhatikan kembali pelemparan dua keping uang logampada
bagian a. Untuk menentukan ruang sampel dengan tabel, buatlah tabel dengan
jumlah baris dan kolom yang diperlukan. Untuk percobaan pelemparan dua
uang logam sekaligus, diperlukan tabel yang terdiri atas tiga kolom dan tiga
baris. Isi kolompertama dengan hasil yang mungkin muncul dari uang logam
ke-1 dan isi baris kedua dengan hasil yang mungkin dari uang logam ke-2.
Kemudian, lengkapi tabel yang kosong.
Tabel ruang sampel pelemparan dua logam adalah sebagai berikut.
A AA
A
AG
G
G GA GG
Baris pertama
Kolom pertama
U
a
n
g

l
o
g
a
m

k
e
-
1
Uang logam ke-2
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {AA, AG, GA, GG} dengan n(S) = 4.
c. Menentukan Ruang Sampel dengan Diagram Pohon
Cara lain yang digunakan untuk menentukan ruang sampel adalah dengan
diagrampohon. Cara ini merupakan cara yang paling mudah. Berikut adalah
diagram pohon untuk pelemparan dua uang logam sekaligus.
(a) (b)
Gambar 4.2 : Uang Logam
(a) Sisi angka uang logam
(b) Sisi gambar uang logam.
Sumber: www.bi.go.id
www. free.vism.org
www.myscienceblogs.com
Situs Matematika
Gambar 4.2 Memperlihatkan :
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
58
A
A
A
G
A
A
Uang logam
ke-1
Uang logam
ke-2
Uang logam
ke-3
Hasil yang
mungkin
AAA
GAA
AGA
GGA
AAG
GAG
AGG
GGG
A
A
G
G
G
G
G
G
Tentukan ruang sampel dari percobaan-percobaan berikut.
a. Melempar sebuah dadu.
b. Melempar tiga keping uang logam sekaligus.
c. Melempar dua buah dadu sekaligus.
Jawab:
a. Hasil yang mungkin muncul dari pelemparan sebuah dadu adalah muka dadu
bertitik 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Jadi, ruang sampelnya adalah S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}.
b. Untuk mempermudah penentuan ruang sampel pelemparan tiga keping uang
logam sekaligus, digunakan diagram pohon.
Contoh
Soal 4.1
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {AAA, AAG, AGA, AGG, GAA, GAG, GGA,
GGG}.
c. Untuk mempermudah penentuan ruang sampel pelemparan dua buah dadu
sekaligus, digunakan tabel.
1 2 3 4 5 6
(1, 1)
(2, 1)
(3, 1)
(4, 1)
(5, 1)
(6, 1)
1
2
3
4
5
6
(1, 2)
(2, 2)
(3, 2)
(4, 2)
(5, 2)
(6, 2)
(1, 3)
(2, 3)
(3, 3)
(4, 3)
(5, 3)
(6, 3)
(1, 4)
(2, 4)
(3, 4)
(4, 4)
(5, 4)
(6, 4)
(1, 5)
(2, 5)
(3, 5)
(4, 5)
(5, 5)
(6, 5)
(1, 6)
(2, 6)
(3, 6)
(4, 6)
(5, 6)
(6, 6)
Baris ke-1
Dadu ke-2
Kolom ke-1
D
a
d
u

k
e
-
1
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), ... (6, 6)}
Gambar 4.3 Dua buah dadu.
Sumber: www.kingofchicago.info
Uang logam
ke-1
Uang logam
ke-2
Hasil yang
mungkin
A
A AA
GA
AG
GG
A
G
G
G
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {AA, AG, GA, GG} dengan n(S) = 4.
Peluang
59
5. Firdaus melemparkan sebuah dadu dan sekeping
uang logam sekaligus. Tentukan ruang sampelnya
dengan tabel.
6. Tentukan ruang sampel dari percobaan berikut
dengan cara yang kamu anggap paling mudah.
a. Pemilihan sebuah bilangan kelipatan 3 dari 10
bilangan positif pertama.
b. Sebuah bola diambil dari kotak yang berisi
3 bola merah, 4 bola kuning, dan 5 bola biru.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan kejadian acak? Berikan
contohnya paling sedikit tiga.
2. Tuliskan perbedaan ruang sampel dan titik sampel.
Berikan contohnya.
3. Sebuah kartu diambil dari setumpuk kartu bilangan
bernomor 1 sampai dengan nomor 15. Tentukan
ruang sampelnya dengan mendaftar.
4. Andri melempar 4 keping uang logam sekaligus.
Tentukan ruang sampelnya dengan diagram pohon.
B. Perhitungan Peluang
1. Pengertian Kejadian
Pada percobaan pelemparan sebuah dadu, ruang sampelnya adalah S = {1, 2,
3, 4, 5, 6}, sedangkan titik-titik sampel percobaan tersebut adalah 1, 2, 3, 4,
5, 6. Adapun sebarang himpunan bagian dari ruang sampel disebut kejadian,
biasanya dilambangkan dengan K. Misalnya, K = {2, 4, 6} adalah kejadian
munculnya muka dadu bertitik genap dengan n(K) = 3.
2. Perhitungan Peluang Suatu Kejadian dengan Frekuensi
Relatif
Frekuensi relatif adalah perbandingan banyaknya kejadian yang diamati
dengan banyaknya percobaan. Frekuensi relatif dinyatakan dengan rumus
sebagai berikut.
Frekuensi relatif =
Banyak kejadian
Banyak percobaan
K
Ambillah sekeping uang logam, kemudian lemparkan sebanyak 30
kali. Misalkan, hasil yang diperoleh adalah muncul sisi gambar sebanyak
13 kali. Perbandingan banyak kejadian muncul sisi gambar dengan banyak
pelemparan adalah
13
30
. Nilai inilah yang disebut frekuensi relatif.
Rino melempar dadu sebanyak 200 kali. Hasilnya adalah muncul muka dadu sebagai
berikut.
a. Bertitik 1 sebanyak 25 kali.
b. Bertitik 3 sebanyak 17 kali.
c. Bertitik 6 sebanyak 56 kali.
Tentukan frekuensi relatif kejadian munculnya mata dadu bertitik 1, 3, dan 6.
Jawab:
Banyaknya percobaan adalah 200
a. Kejadian munculnya muka dadu bertitik 1 sebanyak 25 kali.
Frekuensi relatif =
banyak kejadian
banyak percobaan
= =
25
200
1
8
= 0,125
Jadi, frekuensi relatif munculnya muka dadu bertitik 1 adalah 0,125.
elempar d elempar d
Contoh
Soal 4.2
Buatlah sebanyak-
banyaknya kejadian
dari pengambilan kartu
bilangan bernomor 1
sampai dengan 10.
Cerdas Berpikir
Uji Kompetensi 4.1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
60
b. Kejadian munculnya muka dadu bertitik 3 sebanyak 17 kali.
Frekuensi telatif =
17
200
0 085 = ,
Jadi, frekuensi relatif munculnya muka dadu bertitik 3 adalah 0,085.
c. Kejadian munculnya muka dadu bertitik 6 sebanyak 56 kali.
Frekuensi relatif =
56
200
0 28 = ,
Jadi, frekuensi relatif munculnya muka dadu bertitik 6 adalah 0,28
Setelah mengetahui cara menentukan frekuensi relatif suatu kejadian,
dapatkah kamu menentukan hubungan frekuensi relatif dengan peluang?
Untuk menjawabnya, lakukanlah kegiatan berikut dengan kelompok belajarmu.
1. Siapkan sekeping uang logam, kemudian lemparkan sebanyak 5 kali.
Catat hasil yang muncul pada tabel berikut. Hitung frekuensi relatifnya.
Kegiatan 4.2
Sisi yang
Muncul
Angka ( A)
5
16
22
35
Gambar ( G)
Banyak
Pelemparan
Pada Kegiatan 4.2 , semakin banyak lemparan yang kamu lakukan maka
frekuensi relatif kejadian munculnya sisi angka semakin mendekati angka
1
2
.
Nilai ini disebut peluang kejadian muncul sisi angka, dilambangkan dengan
P. Jadi, peluang suatu kejadian dapat dihitung dengan frekuensi relatif.
3. Perhitungan Peluang Suatu Kejadian dengan Rumus
Peluang
Perhatikan kembali percobaan pelemparan sebuah dadu. Ruang sampelnya
adalah S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} sehingga n (S) = 6. Misalkan, kejadian munculnya
muka dadu yang bertitik prima dinyatakan dengan K = {2, 3, 5} sehingga
n(K) = 3.
Peluang munculnya setiap titik sampel di dalam ruang sampel adalah
sama, yaitu
1
6
. Jadi, peluang munculnya muka dadu bertitik prima adalah
P(K) =
1
6
1
6
1
6
3
6
1
2
+ + = = .
Jika peluang dari kejadian
mucul sisi angka pada
Kegiatan 4.2 adalah
1
2
,
bagaimana dengan kejadian
muncul sisi gambar? Apakah
peluangnya sama? Diskusikan
dengan kelompok belajarmu,
kemudian laporkan hasilnya
di depan kelas.
Tugas
2. Ulangi langkah pada nomor 1 dengan jumlah pelemparan yang berbeda,
misalnya 16 kali, 22 kali, 35 kali, dan seterusnya.
3. Amatilah tabel yang telah kamu isi. Apa yang dapat kamu simpulkan?
Peluang
61
Selain dengan cara tersebut, nilai P(K) juga dapat ditentukan dengan
cara sebagai berikut.
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} maka n(S) = 6.
K = {2, 3, 5} maka n(K) = 3.
P(K) =
n K
n S
( )
( )
= =
3
6
1
2
Uraian tersebut menjelaskan bahwa jika setiap titik sampel anggota
ruang sampel S memiliki peluang yang sama maka peluang kejadian Kyang
memiliki anggota sebanyak n(K) dinyatakan sebagai berikut.
P K
n K
n S
K S ( )
( )
( )
= c dengan
Siti melemparkan sebuah dadu. Tentukanlah peluang munculnya mata dadu
a. bertitik 3,
b. bertitik lebih dari tiga,
c. bertitik 1, 2, 3, 4, 5, 6,
d. bertitik lebih dari 6.
Jawab:
Oleh karena ruang sampelnya adalah S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} maka n(S) = 6.
a. Misalkan, A adalah himpunan kejadian munculnya dadu bertitik 3 maka
A = {3} sehingga n(A) = 1.
P A
n A
n S
( )
( )
( )
= =
1
6
Jadi, peluang munculnya mata dadu bertitik 3 adalah
1
6
.
b. Misalkan, B adalah himpunan kejadian munculnya dadu bertitik lebih dari 3
maka B = {4, 5, 6} sehingga n(B) = 3.
P B
n B
n S
( )
( )
( )
= = =
3
6
1
2
Jadi, peluang munculnya mata dadu bertitik lebih dari 3 adalah
1
2
.
c. Misalkan, C adalah himpunan kejadian munculnya mata dadu bertitik 1, 2, 3,
4, 5 dan 6 maka C = {1, 2, 3, 4, 5, 6} sehingga n(C) = 6.
P C
n C
n S
( )
( )
( )
= = =
6
6
1
Jadi, peluang munculnya mata dadu bertitik 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 adalah 1.
d. Misalkan, D adalah himpunan kejadian munculnya mata dadu bertitik lebih dari 6
maka D= { } sehingga n(D) = 0.
Jadi, peluang munculnya mata dadu bertitik lebih dari 6 adalah 0
kk
Contoh
Soal 4.3
Dua buah dadu dilempar
bersamaan. Tentukan
peluang munculnya muka
dadu yang merupakan
kelipatan dari muka dadu
yang lain
Problematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
62
4. Nilai Peluang
Perhatikan nilai-nilai yang diperoleh pada Contoh Soal 4.3 . Nilai-nilai
peluang yang diperoleh berkisar antara 0 sampai dengan 1. Secara matematis,
ditulis
0 ≤ P(K) ≤ 1
dengan P(K) adalah peluang suatu kejadian K.
Jika nilai peluang suatu kejadian sama dengan nol, berarti kejadian
tersebut mustahil atau tidak mungkin terjadi, misalnya peluang matahari
terbit dari arah barat. Jika peluang suatu kejadian sama dengan 1, berarti
kejadian tersebut pasti terjadi, misalnya peluang setiap manusia akan
meninggal. Adapun jika peluang suatu kejadian bernilai antara 0 dan 1,
berarti kejadian tersebut mungkin terjadi, misalnya peluang kamu untuk
menjadi juara kelas.
Jika L merupakan kejadian komplemen dari kejadian K maka peluang
kejadian L adalah satu dikurangi peluang kejadian K. Secara matematis, ditulis
P(L) = 1 − P(K) atau P(L) + P(K) = 1
Misalnya, peluang Romi lulus ujian adalah 0,9 maka peluang Romi tidak
lulus ujian adalah 1 − 0,9 = 0,1.
Lima belas kartu diberi nomor 1 sampai dengan 15. Kartu-kartu tersebut dikocok,
kemudian diambil satu kartu secara acak (kartu yang telah diambil kemudian
dikembalikan lagi). Tentukan peluang terambil kartu berangka
a. genap,
b. bukan genap.
Jawab:
Ruang sampelnya adalah S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15}
a. Misalkan, A adalah himpunan kejadian terambil kartu berangka genap maka
A = {2, 4, 6, 8, 10, 12, 14} sehingga n(A) = 7.

P A
n A
n S
( )
( )
( )
= =
7
15
Jadi, peluang terambil kartu berangka genap adalah
7
15
.
b. Oleh karena kartu yang sudah diambil dikembalikan lagi, ruang sampelnya
tetap, yaitu S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15}.
Misalkan, B adalah himpunan kejadian terambil kartu berangka bukan genap
maka B = {1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15) sehingga n(B) = 8.

P B
n B
n S
( )
( )
( )
= =
8
15
Jadi, peluang terambil kartu berangka genap adalah
8
15
.
Selain dengan cara tersebut, peluang terambil kartu berangka bukan bilangan
genap dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut.
Misalkan, B adalah himpunan kejadian terambil kartu berangka bukan genap.
B merupakan kejadian komplemen dari kejadian A sehingga
P(B) = 1 − P(A)
= 1 −
7
15
=
8
15
elas kartu elas kartu
Contoh
Soal 4.4
Kejadian komplemen dari
kejadian K adalah kejadian
bukan K.
Kejadian K j di
Plus+
Peluang
63
c. bertitik ganjil,
d. bertitik kelipatan 2.
5. Sebuah kantong berisi 3 bola kuning (K), 5 bola
hijau (H), dan 7 bola biru (B). Jika satu bola
diambil secara acak dengan pengembalian, tentukan
peluang terambilnya bola dengan warna
a. kuning,
b. hijau,
c. biru,
d. bukan kuning,
e. bukan biru.
6. Tiga keping uang logam dilemparkan bersamaan.
Tentukanlah peluang yang muncul adalah
a. dua angka dan satu gambar,
b. satu angka dan dua gambar.
7. Tentukanapakahkejadian-kejadianberikut mustahil,
mungkin terjadi, atau pasti terjadi.
a. Satu minggu terdiri atas 7 hari.
b. Pengeraman telur ayam memerlukan waktu
selama 21 hari.
c. Sebelum bulan Maret adalah bulan April.
d. Kamu menjadi juara lomba puisi.
e. Bulan Februari berjumlah 29 hari.
8. Tulislah masing-masing dua contoh kejadian yang
mustahil terjadi, mungkin terjadi, dan pasti terjadi.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1 Di dalam sebuah kotak, terdapat kartu bilangan
yang bernomor 1 sampai dengan nomor 20. Sebuah
kartu diambil dengan pengembalian. Tentukan:
a. kejadian terambil kartu berangka genap,
b. kejadian terambil kartu berkelipatan 3,
c. kejadian terambil kartu berangka lebih dari
20.
2. Heri melempar sekeping uang logam sebanyak
100 kali. Tentukan frekuensi relatifnya jika hasil
yang diperoleh adalah
a. muncul gambar sebanyak 51 kali,
b. muncul angka sebanyak 49 kali.
3. 30orangsiswa ditanya tentangwarna kesukaannya.
Hasilnya adalah sebagai berikut.
P, P, H, M, P, B, H, P, M, M,
M, B, B, H, P, M, H, B, B, P,
P, P, B, M, B, H, H, B, B, B
dengan P = putih, H = hijau, M = merah, dan B =
biru.
a. Sajikan data tersebut dalam tabel distribusi
frekuensi.
b. Tentukan frekuensi relatif setiap warna yang
disukai.
c. Tentukan jumlah seluruh frekuensi relatif.
d. Tentukan warna yang paling banyak disukai.
4. Sebuah dadu dilemparkan ke atas. Tentukanlah
peluang muka dadu yang muncul adalah
a. bertitik 4,
b. bertitik lebih dari 3.
C. Frekuensi Harapan (Pengayaan)
Pernahkah kamu mengirimkan kupon undian? Dalam suatu undian, semakin
banyakkuponundianyangkamukirimkan, harapankamuuntukmemenangkan
undian tersebut semakin besar. Harapan kamu untuk memenangkan undian
di dalam matematika disebut frekuensi harapan. Frekuensi harapan suatu
kejadian adalah harapan banyaknya muncul suatu kejadian dari sejumlah
percobaan yang dilakukan (n). Frekuensi harapan biasanya dilambangkan
dengan F
h
. Secara matematis ditulis
F
h
=P(K) ×n
dengan P(K) adalah peluang kejadian K dan n adalah banyaknya percobaan.
Uji Kompetensi 4.2
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
64
Sekeping uang logam dilemparkan sebanyak 30 kali. Tentukan frekuensi harapan
munculnya sisi angka.
Jawab :
Misalkan, K adalah himpunan kejadian munculnya sisi angka sehingga P(K) =
1
2
.
Banyaknya pelemparan (n) adalah 30 kali.
Jadi, frekuensi harapan munculnya sisi angka adalah
F
h
=P(K) ×n
=
1
2
× 30 kali = 15 kali
Sebuah dadu dilempar sebanyak 100 kali. Tentukan frekuensi harapan munculnya
a. muka dadu bertitik prima,
b. muka dadu bertitik kurang dari 3.
Jawab :
a. Misalkan, Aadalah himpunan kejadian munculnya muka dadu bertitik prima maka
A = {2, 3, 5} sehingga P(A) =
3
6
1
2
=
.
Banyaknya pelemparan (n) adalah 100 kali.
Jadi, frekuensi harapan munculnya muka dadu bertitik prima adalah
F
h
=P(A) ×n
=
1
2
× 100 kali = 50 kali.
b. Misalkan, Badalah himpunan kejadian munculnya muka dadu bertitik kurang dari
3 maka B = {1, 2} sehingga P(B) =
2
6
1
3
= .
Banyaknya pelemparan (n) adalah 100 kali.
Jadi, frekuensi harapan munculnya muka dadu bertitik kurang dari 3 adalah
F
h
=P(B) ×n
=
1
3
100
100
3
= kali kali
Di sebuah daerah, kemungkinan seorang anak terjangkit suatu penyakit adalah 0,05.
Tentukan banyak anak yang terjangkit penyakit tersebut jika diambil sampel sebanyak
1.000 anak.
Jawab :
Misalkan, K adalah kejadian seorang anak terjangkit suatu penyakit maka P(K) = 0,05,
dan n adalah banyak sampel anak maka n = 3.000.
Jadi, banyak anak yang terjangkit penyakit tersebut adalah
F
h
= P(K) × n
= 0,05 × 3.000 anak = 150 anak
ll
Contoh
Soal 4.5
d d dil d d dil
Contoh
Soal 4.6
h d h h d h
Contoh
Soal 4.7
Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh soal berikut.
×
Peluang
65
2. Dalampercobaanpengambilankartudari seperangkat
kartu bridge sebanyak 50 kali, tentukan frekuensi
harapan terambil kartu bergambar hati.
3. Suatu daerah berpenduduk 2.500 orang. Peluang
seorangpendudukdi daerahtersebut menjadi seorang
sarjana adalah 0,2. Tentukan banyak penduduk
yang diperkirakan akan menjadi sarjana di daerah
tersebut.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Insan melemparkan sebuah dadu sebanyak 150
kali. Tentukan frekuensi harapan munculnya muka
dadu bertitik:
a. ganjil,
b. genap,
c. lebih dari 3.
• Kumpulan atau himpunan semua hasil yang
mungkin muncul pada suatu percobaan disebut
ruang sampel. Adapun anggota-anggota ruang
sampel disebut titik sampel.
• Kejadian adalah himpunan bagian dari ruang
sampel.
• frekuensi adalah perbandingan banyaknya
kejadian yang diamati dengan banyaknya
percobaan. Frekuensi relatif suatu kejadian
dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
Frekuensi relatif = f
Banyak kejadian
Banyak peercobaan
• Jika setiap titik sampel anggota ruang sampel
S memiliki peluang yang sama maka peluang
kejadian K yang memiliki anggota sebanyak
n(K) dinyatakan sebagai berikut.
P K
n K
n S
K C ( )
( )
( )
dengan = c KK
Rangkuman
• Kisaran nilai peluang munculnya kejadian K
adalah sebagai berikut.
0 ≤ P(K) ≤ 1
Jika P(K) bernilai 1 maka kejadian K pasti
terjadi.
Jika P(K) bernilai 0 maka kejadian Kmustahil
terjadi.
• Misalkan, L merupakan kejadian komplemen
dari K. Besar peluang kejadian L adalah
sebagai berikut.
P(L) = 1 – P(K) atau P(L) + P(K) = 1
Setelah mempelajari bab Peluang ini, materi apa sajakah yang belum kamu pahami dengan baik? •
Faktor-faktor apa saja yang menghambat pemahamanmu?
Pada bab ini, bagian manakah menurutmu yang paling menarik untuk dipelajari? Mengapa? •
Uji Kompetensi 4.3
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
66
Peta Konsep
Peluang
Dasar-Dasar
Peluang
Perhitungan
Peluang
Nilai Peluang
Ruang Sampel
Cara Mendaftar
Cara Tabel
Cara Diagram Pohon
P(K) =
n K
n S
( )
(SS)
Frekuensi Relatif
=
Banyak kej e adian
Banyak percobaan
Pendekatan
Frekuensi Relatif
1 ≤ P(K) ≤ 0
Titik Sampel
Rumus
Jika L kejadian komplemen dari K,
P(L) = 1 – P(K) atau P(L) + P(K) = 1
mempelajari
dengan
dengan
ditentukan
Peluang
67
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Munculnya gambar atau angka pada pelemparan
sekeping uang logam adalah ....
a. kejadian mustahil
b. kejadian pasti
c. kejadian sampel
d. kejadian biasa
2. Setiap anggota ruang sampel disebut ....
a. kejadian
b. peluang
c. titik sampel
d. sampel coba
3. Berikut ini pernyataan-pernyataan yang memiliki
nilai peluang nol, kecuali ....
a. ayam melahirkan
b. bumi berbentuk datar
c. setiap siswa mendapat peringkat 1 di kelasnya
d. bilangan genap yang habis dibagi 2
4. Pada pelemparan dua buah dadu, kejadian muka
dadu berjumlah 5 adalah ....
a. {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (1, 4), (1, 5)}
b. {(1, 4), (2, 3), (3, 2), (4, 1)}
c. {(1, 4), (2, 3)}
d. {(0, 5), (1, 4), (3, 2)}
5. Pada 100 kali pelemparan sekeping uang logam,
muncul sisi angka sebanyak 67 kali. Frekuensi
relatif muncul sisi angka adalah ....
a.
67
100
c.
100
67
b.
23
100
d.
100
23
6. Dalam sebuah kantong, terdapat 2 kelereng merah,
5 kelereng biru, 4 kelereng hijau, dan 1 kelereng
kuning. Peluang terambil kelereng biru adalah ....
a.
5
12
c.
1
2

b.
2
3
d.
1
6
7. Seorang pedagang di suatu pasar mendapat
kiriman telur sebanyak 500 butir. Oleh karena
kurang hati-hati, 40 telur pecah. Jika sebutir telur
diambil secara acak, peluang terambilnya telur
pecah adalah ....
a.
12
23


b.
20
23
c.
2
23

d.
2
12
8. Dari soal nomor 7, peluang terambilnya telur yang
tidak pecah adalah ....
a.
20
23

b.
21
23
c.
12
23
d.
2
23
9. Peluang munculnya gambar dan gambar pada
pelemparan dua keping uang logam adalah ....
a. 1

b.
1
3
c.
1
2
d.
1
4
10. Tiga belas kartu diberi nomor 1 sampai dengan 13.
Kartu-kartu tersebut dikocok, kemudian diambil
1 kartu secara acak. Peluang terambilnya kartu
bernomor genap adalah ....
Uji Kompetensi Bab 4
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
68
a. 1
b. 5
c.
7
13
d.
6
13
11. Dari satu set kartu bridge diambil sebuah kartu
secara acak. Peluang terambil kartu As adalah ....
a.
1
52

b.
4
13
c.
4
13
d.
1
13
12. Dita melemparkan sebuah dadu sebanyak 50 kali
Hasilnya adalah sebagai berikut.
- Muncul muka dadu bertitik 1 sebanyak 8 kali.
- Muncul muka dadu bertitik 2 sebanyak 6 kali.
- Muncul muka dadu bertitik 3 sebanyak 6 kali.
- Muncul muka dadu bertitik 4 sebanyak 10 kali.
- Muncul muka dadu bertitik 5 sebanyak 12 kali.
- Muncul muka dadu bertitik 6 sebanyak 8 kali.
Pernyataan berikut yang benar adalah ....
a. Frekuensi relatif muka dadu bertitik 1 adalah
4
25
b. Frekuensi relatif muka dadu bertitik 3 adalah
4
25
c. Frekuensi relatif muka dadu bertitik 4 adalah
4
25
d. Frekuensi relatif muka dadu bertitik 6 adalah
1
5
13. Sebuah wadah berisi 15 kancing merah, 12 kancing
hijau, dan 13 kancing putih. Jika satu kancing akan
diambil secara acak, peluang terambil kancing
yang bukan berwarna putih adalah ....
a.
3
8

b.
3
10
c.
27
40
d.
5
8
14. Peluang Deva untuk menjadi juara kelas adalah
0,73. Peluang Deva tidak menjadi juara kelas
adalah ....
a. 0,27
b. 0,43
c. 0,13
d. 0,4
15. Ade melemparkan dua buah dadu secara bersamaan.
Peluang muncul muka dadu bertitik genap pada
dadu pertama dan muka dadu bertitik ganjil pada
dadu kedua adalah ....
a.
1
2

b.
1
3

c.
1
4
d.
1
5
16. Sebuah dadu dilemparkan sebanyak 180 kali.
Frekuensi harapan munculnya mata dadu kurang
dari 6 adalah ....
a. 60
b. 90
c. 120
d. 150
17. Tiga keping uang logam yang sama dilemparkan
secara bersamaan sebanyak 80 kali. Frekuensi
harapan ketiganya muncul sisi angka adalah ....
a. 5
b. 10
c. 20
d. 40
Peluang
69
18. Dari seperangkat kartu dilakukan pengambilan
secara acak sebanyak 260 kali. Jika setiap kartu
yang diambil kemudian dikembalikan, frekuensi
harapan terambil kartu As adalah ....
a. 5 kali
b. 20 kali
c. 40 kali
d. 60 kali
19. Frekuensi harapan munculnya mata dadu bilangan
ganjil pada percobaan pelemparan sebuah dadu
sebanyak 300 kali adalah ....
a. 75 kali
b. 100 kali
c. 150 kali
d. 200 kali
20. Dari 62 kali pelemparan dadu, frekuensi harapan
munculnya mata dadu faktor dari 6 adalah ... kali.
a. 10
b. 20
c. 30
d. 40
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Dari 1 pak kartu bridge, diambil satu kartu secara
acak. Tentukan peluang terambilnya
a. kartu king,
b. kartu berwarna hitam.
2. Dalam sebuah kantong terdapat 15 kaleng merah,
12 kelereng putih, 17 kelereng biru, dan 10
kelereng kuning. Jika satu bola diambil secara
acak, kemudian dikembalikan lagi, tentukan
peluang terambilnya bola berwarna
a. merah,
b. biru,
c. kuning,
d. bukan putih,
e. bukan merah.
3. Pada pelemparan dua buah dadu, tentukan peluang
munculnya muka dadu
a. berjumlah 8,
b. berjumlah lebih dari 7.
4. Sekeping uang logam dilemparkan sebanyak 80
kali. Hasilnya adalah muncul sisi angka sebanyak
35 kali dan muncul sisi gambar sebanyak 45 kali.
Tentukan frekuensi harapan muncul sisi gambar
dan sisi angka.
5. Diketahui bahwa peluang seorang anak lulus ujian
adalah 0,85. Berapa orangkah di antara 500 anak
yang diperkirakan akan lulus ujian?
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
70
Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Berikut adalah ukuran panjang sisi-sisi segitiga
yang sebangun dengan segitiga berisi 3 cm, 4 cm,
dan 5 cm, kecuali ....
a. 9 cm, 12 cm, dan 15 cm
b. 1,5 cm, 2 cm, dan 2,5 cm
c. 6 cm, 12 cm dan 10 cm
d. 4,5 cm, 6 cm, dan 7,5 cm
2. Perhatikan gambar berikut.
Nilai x sama dengan ....
a. 9 cm c. 15 cm
b. 12 cm d. 16 cm
3.
5. Jika ∆ABC
@
∆PQR, hubungan yang benar adalah
....
a. –A = –R, –B = –P, –C = –Q
b. –A = –P, –B = –Q, –C = –R
c. –A = –Q, –C = –P, –B = –R
d. –A = –Q, –B = –P, –C = –B
6.
18 cm
x
12 cm
6 cm
12 cm
8 cm
D
D
C
E
B A
Pada gambar di samping, AB
= 20 cm, DE = 15 cm, dan
CD = 24 cm. Panjang CA
adalah ... cm.
a. 32 c. 56
b. 42 d. 60
4. Perhatikan gambar berikut.

Panjang ST adalah ... cm.
a. 12
b. 6
c. 4
d. 3
A
B
D
C
Pada gambar di atas, ∆ABC siku-siku di A dan
AD^ CD, Jika AC = 12 cm dan BC = 16 cm,
panjang sisi CD adalah ....
a. 9 cm c. 6 cm
b. 8 cm d. 4 cm
7. Pasangan segitiga yang kongruen pada jajar genjang
ABCD adalah ....
a. ∆ADS dan ∆SDC
b. ∆ADS dan ∆ABS
c. ∆ABD dan ∆CDB
d. ∆ABD dan ∆ABC
8.
D C
S
A
B
A
40˚
20˚
120˚
z
x
y
B
Pada gambar di samping,
nilai 2x – 3y + z = ....
a. 60˚
b. 80˚
c. 140˚
d. 180˚
P
x
R
3 cm
4 cm
14 cm
T
Q
S
Uji Kompetensi Semester 1
Uji Kompetensi Semester 1
71
9. Pernyataan yang benar mengenai tabung adalah
....
a. mempunyai 2 buah sisi
b. mempunayai 3 titik sudut
c. jari-jari lingkaran alas sama dengan jari-jari
lingkaran atas
d. merupakan prisma segibanyak beraturan yang
sisi alasnya berbentuk segiempat
10. Diketahui sebuah tabung memiliki tinggi 15 cm
dan jari-jari alasnya 7 cm. Luas permukaan tabung
tersebut adalah ....
a. 968 cm
2
b. 1.452 cm
2
c. 1.936 cm
2
d. 1.980 cm
2
11. Tinggi suatu kaleng yang berbentuk tabung yang
berisi minyak sebanyak 314 dm
3
dan berdiameter
10 dm adalah ....
a. 25 cm
b. 30 cm
c. 35 cm
d. 40 cm
12. Luas selimut kerucut pada gambar berikut adalah
....
a. prs c. 2prs
b. pr
2
s d. 2pr
2
s
13. Ditahui sebuah kerucut dengan tinggi 8 cm dan
jari-jari alasnya 6 cm. Luas seluruh permukaan
kerucut tersebut adalah ....
a. 301,44 cm
2
b. 188,40 cm
2
c. 113, 04 cm
2
d. 100,48 cm
2
14. Volume kerucut yang jari-jarinya 8 cm dan garis
pelukisnya 17 cm adalah ... cm.

a. 2.009,6 c. 912,03
b. 1.004,8 d. 669,87
15. Luas permukaan bola yang berdiameter 21 cm
adalah ....
a. 264 cm
2
b. 462 cm
2
c. 1.386 cm
2
d. 4.851 cm
2

16. Sebuah bola volumenya 904,32 dam
3
. Jari-jari bola
tersebut adalah ....
a. 9 cm
b. 8 cm
c. 7 cm
d. 6 cm
17. Diketahui panjang jari-jari sebuah bola sama
dengan panjang jari-jari sebuah tabung yaitu
5 cm. Jika tinggi tabung adalah 8 cm, perbandingan
volume bola dan volume tabung adalah ....
a. 2 : 3
b. 3 : 4
c. 4 : 5
d. 5 : 6
18. Yang termasuk data kuantitatif adalah sebagai
berikut, kecuali ....
a. ukuran lingkar pinggang seorang siswa
b. rasa manisan kolang kaling
c. komet Halley muncul setiap 76 tahun sekali
d. jarak bumi-bulan adalah 3,82 × 10
8
m
19. Petugas Departemen Pendidikan Nasional melakukan
penelitan mengenai tingkat kelulusan siswa kelas
IX di Bali. Sampel untuk penelitian tersebut adalah
....
a. siswa SMP negeri di Bali
b. siswa SMP swasta di Bali
c. siswa beberapa SMP negeri dan swasta di Bali
d. seluruh siswa SMP di Bali
20. Perhatikan diagram batang berikut.
Diagram batang tersebut menunjukkan jumlah
penerimaan siswa baru di SMP Nusantara dari
tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Kenaikan
jumlah siswa terbesar terjadi pada tahun ....
a. 2004 c. 2006
b. 2005 d. 2007
r
s
50
J
u
m
l
a
h

S
i
s
w
a
Tahun
100
2003 2004 2005 2006 2007
150
200
250
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
72
21. Nilai ulangan Matematika 14 siswa adalah sebagai
berikut.
4, 5, 5, 6, 7, 8, 7, 6, 9, 7, 5, 9, 8, 7
Banyak siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata
adalah ....
a. 4 orang
b. 5 orang
c. 6 orang
d. 7 orang
22. Diberikan sekumpulan data sebagai berikut.
1 4 3 5 2 4 3 5 2 6
2 4 1 3 4 3 5 4 1 6
Modus data tersebut adalah ....
a. 2,5 c. 4,0
b. 3,5 d. 5,0
23. Perhatikan tabel distribusi frekuensi berikut.

Median data tersebut adalah ....
a. 6,5 c. 5,5
b. 6 d. 5
24. Nilai rata-rata ujian Bahasa Indonesia 26 siswa
Kelas IX adalah 55. Jika seorang siswa yang
mendapat nilai 80 tidak dimasukkan ke dalam
perhitungan tersebut, nilai rata-rata ujian yang
baru adalah ....
a. 54 c. 52
b. 53 d. 51
25. Diketahui sekumpulan data sebagai berikut.
10 18 32 14 20 18 30 32 25 28
Pernyataan yang benar adalah ....
a. jangkauan = 20
b. Q
1
= 16
c. Q
2
= 25
d. Q
3
= 30
26. Jika tiga keping uang logam dilemparkan sekaligus,
jumlah kejadian yang mungkin terjadi seluruhnya
sebanyak ....
a. 5 kejadian c. 7 kejadian
b. 6 kejadian d. 8 kejadian
27. Sekeping uang logam dilemparkan 200 kali.
Ternyata, muncul sisi gambar sebanyak 155 kali.
Frekuensi relatifnya adalah ....
a.
31
60
c.
29
30
b.
37
60
d.
23
30
28. Dari satu set kartu bridge diambil sebuah kartu
secara acak. Peluang terambil kartu keriting adalah
....
a.
1
52
c.
1
13
b.
13
52
d.
4
13
29. Sebuah kantong berisi 14 kelereng hitam, 12
kelereng putih, dan 22 kelereng biru. Jika sebuah
kelereng diambil secara acak, peluang terambil
kelereng putih adalah ....
a.
7
24

b.
11
24
c.
1
4
d.
3
4
30. Dari 50 siswa, terdapat 30 orang yang gemar
lagu pop, 25 orang gemar lagu-lagu dangdut, 10
orang gemar keduanya, dan 5 orang tidak gemar
keduanya. Jika dipanggil satu orang secara acak
sebanyak 100 kali, harapan terpanggil kelompok
siswa yang hanya gemar lagu-lagu dangdut adalah
....
a. 15 kali
b. 25 kali
c. 30 kali
d. 50 kali
Nilai
4
5
6
7
8
9
10
2
2
6
10
5
4
1
Frekuensi
73
Pangkat Tak Sebenarnya
Di Kelas VII, kamu telahmempelajari bilanganberpangkat positif. Pada
bab ini, materi tersebut akan dibahas lebih dalam dan dikembangkan
sampai dengan bilangan berpangkat negatif, nol, dan pecahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perhitungan bilangan berpangkat
banyak digunakan. Contohnya sebagai berikut. Frekuensi gelombang
televisi 10
56
putaran per detik. Jika besar frekuensi sinar X 10.000
kali frekuensi gelombang televisi, berapa besar frekuensi sinar X?
Untuk menjawabnya, kamu dapat menggunakan alat pengukur
besar frekuensi suatu gelombang, yaitu osiloskop. Secara matematis,
besar frekuensi sinar Xdapat ditentukan menggunakan sifat perkalian
bilangan berpangkat yang akan dibahas pada bab ini. Oleh karena itu,
pelajarilah bab ini dengan baik.
A. Bilangan
Berpangkat
Bulat
B. Bentuk Akar
dan Pangkat
Pecahan
5
Bab
angkat Tak TT Sebenarnya
5
Bab
S
u
m
b
er: www.h5.dion.ne.jp
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
74
5.1
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
A. Bilangan Berpangkat Bulat
Di Kelas VII, kamu telah mempelajari bilangan berpangkat bulat positif.
Sekarang, materi tersebut akan dikembangkan sampai bilangan berpangkat bulat
negatif dan nol.
1. Bilangan Berpangkat Bulat Positif
Ketika mempelajari operasi perkalian, kamu pasti pernah menemukan bentuk-
bentuk perkalian seperti berikut.
7 × 7,
5 × 5 × 5,
(–4) × (–4) × (–4) × (–4),
(0,5) × (0,5) × (0,5) × (0,5) × (0,5), dan lain-lain.
Bentuk-bentuk perkalian berulang tersebut dapat dinyatakan dalam
bentuk bilangan berpangkat.
7 × 7 ditulis 7
2
dibaca tujuh pangkat dua atau tujuh kuadrat.
5 × 5 × 5 ditulis 5
3
dibaca lima pangkat tiga.
(–4) × (–4) × (–4) × (–4) ditulis (–4)
4
dibaca negatif empat pangkat empat.
(0,5) × (0,5) × (0,5) × (0,5) × (0,5) ditulis (0,5)
5
dibaca nol koma lima pangkat lima.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bilangan berpangkat
merupakan bentuk sederhana dari perkalian berulang dan memperjelas definisi
bilangan berpangkat berikut.
Jika
a R

(bilangan real) dan n adalah bilangan bulat maka bilangan a
n
(dibaca a
pangkat n) didefinisikan sebagai perkalian berulang a sebanyak n kali (faktor).
a a a a
n
n
= × × × ...
faktor
a
n
disebut bilangan berpangkat, a disebut bilangan pokok, dan n disebut pangkat
(eksponen).
1. Tentukan nilai p.
a. 2 + (–5) = p
b. –4 – p = –2
c. p + 8 = 10
2. Tuliskan dalam bentuk pangkat.
a. 2 × 2 × 2
b. (–5) × (–5)
c. q × q × q × q
3. Tentukan nilai dari:
a. 3
2
b. 4
3
c. (–2)
4
4. Tentukan nilai dari:
a. 2
2
+ 2
3
b. 3
2
– (–2)
2
c. 5
2
+ 4
3
5. Tentukan nilai dari:
a.
36
b.
100
c.
64
3

Uji Kompetensi Awal
Pangkat Tak Sebenarnya
75
Nyatakan bilangan-bilangan berpangkat berikut dalam perkalian berulang, kemudian
hitunglah.
a. 2
5
d. (0,5)
4
b. (–3)
2
e. (–4)
3
Jawab:
a. 2
5
= 2 × 2 × 2 × 2 × 2 = 32
b. (–3)
2
= (–3) × (–3) = 9
c. (0,5)
4
= (0,5) × (0,5) × (0,5) × (0,5) = 0,0625
d. (–4)
3
= (–4) × (–4) × (–4) = –64
Sebuah kubus panjang rusuknya 8 cm. Tentukan volume kubus tersebut.
Jawab :
Diketahui : sebuah kubus dengan panjang rusuk (r) = 8 cm.
Ditanyakan: volume kubus
Penyelesaian:
V = r
3
= (8 cm)
3
= 8 cm × 8 cm × 8 cm = 512 cm
3
Jadi, volume kubus 512 cm
3
an bilanga an bilanga
Contoh
Soal 5.1
k b
Contoh
Soal 5.2
2. Sifat-Sifat Operasi Bilangan Berpangkat
a. Sifat Perkalian Bilangan Berpangkat
Sifat perkalian bilangan berpangkat telah kamu pelajari di Kelas VII. Masih
ingatkah kamu mengenai materi tersebut? Coba kamu jelaskan dengan kata-
katamu sendiri.
Misalnya, 4 4 4 4 4 4 4
2 3
× = × × × × ( ) (
2 faktor 3 faktor
)

( )
= × × × ×
+
4 4 4 4 4
2 3 faktor


=
=
+
4
4
2 3
5

Jadi , 4
2
× 4
3
= 4
2

+ 3
= 4
5
.
Untuk perkalian bilangan berpangkat yang bilangan pokoknya sama,
berlaku sifat berikut
a
m
x a
n
= a
m + n

dengan a bilangan real dan m, n bilangan bulat positif.
Sifat 5.1
Perhitungan bilangan
berpangkat dapat dilakukan
dengan menggunakan
Misalnya, kamu diminta
untuk menghitung 2
4
.
Untuk menjawabnya, tekan
tombol 2 x
y

wabnya wabnya
y
4
a, te nya
= pada
kalkulator. Hasil yang akan
kamu peroleh pada layar
adalah 16.
gan
Sudut Tekno
{ {
{
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
76
Sederhanakan bentuk-bentuk perkalian berikut.
a. 6
3
× 6
4
c. 5
2
× 3
3
× 2
b. (–4) × (–4)
2
d. 7a
3
× b
4
× 3a
2
× b
Jawab:
a. 6
3
× 6
4
= 6
3 + 4
= 6
7
b. (–4) × (–4)
2
= (–4)
1 + 2
= (–4)
3
c. Oleh karena bilangan pokoknya tidak sama, perkalian 5
2
× 3
3
× 2 tidak dapat
disederhanakan.
d. 7a
3
× b
4
× 3a
2
× b = 7a
3
× 3a
2
× b
4
× b
= 21a
3 + 2
b
4 + 1
= 21a
5
b
5
Sebuah persegipanjang memiliki ukuran panjang dan
lebar berturut-turut 10a
3
dan 4a
3
. Tentukan luas persegi-
panjang tersebut.
Jawab:
Diketahui: sebuah persegipanjang dengan p = 10a
3
dan
l = 4a
3
Ditanyakan: luas persegipanjang
Penyelesaian:
L = p × l
= 10a
3
× 4a
3
= 40a
3 + 3
= 40a
6
Jadi, luas persegipanjang tersebut adalah 40a
6
k b
Contoh
Soal 5.3
i
Contoh
Soal 5.4
b. Sifat Pembagian Bilangan Berpangkat
Selain sifat perkalian bilangan berpangkat, sifat pembagian bilangan berpangkat
juga telah kamu pelajari. Coba ingat kembali materi tersebut dan jelaskan dengan
kata-katamu sendiri.
Misalnya,
5
5
5 5 5 5 5 5
5
6
4
=
× × × × ×
×
6 faktor
55 5 5 × ×
4 fakto
r
= 5 5 ×
2 faktor
= 5
6 – 4
= 5
2
Jadi,
5
5
5 5
4
6 4 2
6
= =

.
4a
3
10a
3
Agar kamu lebih memahami Sifat 5.1, pelajarilah contoh soal berikut.
Jika a
m
× a
n
= a
m + n
, tentukan
nilai a
m
× a
n
yang mungkin
dari:
a. a
m + n
= 4
10
b. a
m + n
= (–12)
7
Cerdas Berpikir
{
{
{
Pangkat Tak Sebenarnya
77
a
a
a
m
n
m n
=

dengan a bilangan real yang tidak nol dan m, n bilangan bulat positif yang memenuhi
m > n.
Sifat 5.2
C. Sifat Perpangkatan Bilangan Berpangkat
Masih ingatkah sifat perpangkatan bilangan berpangkat yang telah kamu pelajari?
Coba jelaskan kembali olehmu.
Misalnya, (2
2
)
3
= 2 2 2
2 2
2 2 2
( )
×
( )
×
( )
×
( )
3faktor
2faaktor 2faktor 2fak
× ×
( )
× ×
( )
2 2 2 2
ttor
(3 2) faktor
2 2 2 2 2 2 × × × × ×
×


=

=
Jadi, (2
2
)
3
= 2
2 × 3
= 2
3 × 2
.
Sederhanakan pembagian-pembagian berikut.
a.
6
6
12
10
c.
9
6
3
2
e. 24a
8
: 12a
3
b.

( )

( )
7
7
8
3
d.

( )
× −
( )

( )
3 3
3
4 3
2
f.
30 4
5 4
8 4
7 3
p q
p q
×
×
Jawab:
a.
6
6
6 6
12
10
12 10 2
= =

b.

( )

( )
= −
( )
= −
( )

7
7
7 7
8
3
8 3 5
c. Oleh karena bilangan pokoknya tidak sama, pembagian
9
6
3
2
tidak dapat
disederhanakan.
d.

( )
× −
( )

( )
=

( )

( )
=

( )

( )
= −
+
3 3
3
3
3
3
3
3
4 3
2
4 3
2
7
2
(( )
= −
( )
− 7 2 5
3
e. 24a
8
: 12a
3
=
24
12
8
3
a
a
= 2a
8 – 3
= 2a
5
f.
30 4
5 4
120
20
8 4
7 3
8 4
7 3
p q
p q
p q
p q
×
×
=
= 6p
8 – 7
q
4 – 3
= 6pq
nakan pem nakan pe
Contoh
Soal 5.5
{
{{{
{
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
78
(a
m
)
n
= a
m ×n
= a
n × m
dengan a bilangan real dan m, n bilangan bulat positif.
Sifat 5.3
Sederhanakan perpangkatan-perpangkatan berikut.
a. (5
4
)
2
b.
( ) −
( )
6
3
5
c.
2 2
2
5 3
2
4
×
( )
d.

( )
× −
( )

( )
× −
( )
3 3
3 3
8
2
7
3
4
( )
( )
Jawab:
a. (5
4
)
2
= 5
4 × 2
= 5
8
b.
( ) −
( )
= −
( )
= −
( )
×
6 6 6
3
5 3 5 15
c.
2 2
2
2 2
2
2
2
2
2
2
2
5 3
2
4
5 6
4
5 6
4
11
4
11 4
×
( )
=
×
=
=
=
=
+





77
d.

( )
× −
( )

( )
× −
( )
=

( )
× −
( )

×
3 3
3 3
3 3
3
8
2
7
3
4
8 2 7
( )
( ) (( )
× −
( )
=

( )
× −
( )

( )
× −
( )
=

( )
× 3 4
8 14
12
8
3
3 3
3 3
3


++
+


( )
=

( )

( )
= −
( )
= −
( )
14
12 1
22
13
22 13 9
3
3
3
3 3
anakan pe anakan pe
Contoh
Soal 5.6
d. Sifat Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Berpangkat
Pelajari penjumlahan bilangan berpangkat berikut.
1. 2
4
+ 2
6
= 2
4
+ 2
4 + 2
= 2
4
+ 2
4
· 2
2
(menggunakan Sifat 5.1)
= 2
4
(1 + 2
2
) (menggunakan sifat distributif)
Coba kamu pelajari contoh soal berikut.
Pangkat Tak Sebenarnya
79
a
n
+ a
m
= a
n
(1 + a
m – n
)
dengan a bilangan real dan m, n bilangan bulat positif yang memenuhi m ≥ n.
Sifat 5.4
a
n
– a
m
= a
n
(1 – a
m – n
) ataua
m
– a
n
= a
n
(a
m – n
– 1)
dengan a bilangan bulat dan m, n bilangan bulat positif yang memenuhi m ≥ n.
Sifat 5.5
2. (–5)
6
+ (–5)
9
= (–5)
6
+ (–5)
6+3
= (–5)
6
+ (–5)
6
· (–5)
3
(menggunakan Sifat 5.1)
= (–5)
6
(1 + (–5)
3
) (menggunakan sifat distributif)
Kedua contoh tersebut memperjelas sifat penjumlahan bilangan berpang-
kat dengan bilangan pokok yang sama, yaitu sebagai berikut.
Diskusikan dengan teman
sebangkumu, bagaimana
sifat pengurangan bilangan
berpangkat yang memiliki
bilangan pokok yang sama.
Laporkan hasilnya di depan
kelas.
Jika Tugas 5.1 kamu kerjakan dengan benar, diperoleh sifat pengurangan
bilangan berpangkat dengan bilangan pokok yang sama, yaitu sebagai
berikut.
Sederhanakanlah penjumlahan dan pengurangan berikut.
a. (–8)
3
+ (–8)
5
c. a
4
+ a
8
b. 7
7
– 7
3
d. b
10
– b
7
Jawab:
a. (–8)
3
+ (–8)
5
= (–8)
3
+ (–8)
3+2

= (–8)
3
+ (–8)
3
· (–8)
2

= (–8)
3
(1+ (–8)
2
)
b. 7
7
– 7
3
= 7
4 + 3
– 7
3
= 7
4
· 7
3
– 7
3
= 7
3
(7
4
– 1)
c. a
5
+ a
6
= a
5
+ a
5 + 1

= a
5
+ a
5
· a

= a
5
(1 + a)
d. b
12
– b
8
= b
8 + 4
– b
8

= b
8
·

b
4
– b
8

= b
8
(b
4
– 1)
k l h
Contoh
Soal 5.7
2. Bilangan Berpangkat Bulat Negatif dan Nol
Pada bagian A.1, kamu telah mempelajari bahwa bilangan berpangkat
merupakan bentuk sederhana dari perkalian berulang. Misalnya, 2
3
merupakan
bentuk sederhana dari 2 × 2 × 2. Sekarang, bagaimana cara menguraikan 2
–3

dan 2
0
? Untuk menjawabnya, pelajarilah uraian berikut dengan baik.
Agar kamu lebih memahami Sifat 5.4 dan 5.5, pelajarilah contoh soal berikut.
Tugas 5.1
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
80
a. Bilangan Berpangkat Bulat Negatif
Amatilah Sifat 5.2. Untuk a bilangan real dan m, n bilangan bulat positif yang
memenuhi m> n, berlaku
a
a
a
m
n
m n
=

Apa yang terjadi jika m < n? Jika m < n maka m – n merupakan bilangan
bulat negatif. Pelajari pembagian bilangan berpangkat berikut.
2
2
2 2
2 2 2 2
1
2 2
1
2
2
2 4
=
×
× × ×
=
×
=
... (i)
2
2
2 2
2
4
2 4 2
= =
− −
... (ii)
Dari (i) dan (ii) diperoleh bahwa
1
2
2
2
2
=

. Sekarang, coba kamu selesaikan
pembagian bilangan berpangkat berikut dengan kedua cara di atas.
3
3
7
7
3
8
11
12
=
=
...
...
Jika kamu dapat menyelesaikan kedua soal tersebut dengan benar, akan
memperjelas definisi bilangan berpangkat bulat negatif, yaitu sebagai berikut.
Dengan menggunakan Definisi 5.2, kamu dapat mengubah bilangan
berpangkat bulat negatif ke dalam bilangan bulat positif dan sebaliknya.
1. Tuliskan dalam bentuk pangkat positif.
a. 3
–5
b. (–8)
–4
c. a
–2
2. Tuliskan dalam bentuk pangkat negatif.
a.
1
7
2
b.
1
2
6
c.
1
9
a
Jawab:
1. a.
3
1
3
5
5

=
b.

( )
=

( )

8
1
8
4
4
c.
1
2
a
2. a.
1
7
7
2
2
=

b.
1
2
2
6
6
=

c.
1
9
9
a
a =

iskan dal i k d l
Contoh
Soal 5.8
Panjang gelombang
sinar infra merah berkisar
antara satu milimeter
dan 750 nanometer. Satu
nanometer (1nm) adalah
satu per satu miliar meter.
Jika dilambangkan dengan
bilangan, satu nanometer
ditulis
1 nm =
1
11 000000000000000000 . . .
m
= 10
–9
m
Sumber: Ensiklopedia Iptek,
Ensiklopedia Sains untuk Pelajar dan
Umum, 2007
Sekilas
Matematika
Sumber: www.bnd.com.au
5.2
a
a
n
n

=
1
dengan a bilangan real, a ≠ 0, dan n bilangan bulat positif.
Pangkat Tak Sebenarnya
81
Sifat-sifat operasi bilangan berpangkat positif berlaku juga untuk bilangan
berpangkat negatif dengan a, b bilangan real dan m, n bilangan bulat negatif.
b. Bilangan Berpangkat Nol
Perhatikan kembali bentuk berikut.

a
a
a
m
n
m n
=

Jika pada bentuk tersebut nilai m sama dengan nilai n maka m – n = 0 dan
a
m – n
merupakan bilangan berpangkat nol.
Pelajari pembagian bilangan berpangkat berikut.
3 3
3 3
3 3
9
9
1
3 3
3
3
3 3
2 2
2 2
2
2
2 2 0
:
:
=
×
×
= =
= = =

...(i)
...(ii)
Dari (i) dan (ii) diperoleh bahwa 1 = 3
0
. Sekarang, coba kamu selesaikan
pembagian bilangan berpangkat berikut dengan kedua cara di atas.
2
2
4
4
4
4
7
7
...
...
=

( )

( )
=
Jika kamu dapat menyelesaikan kedua soal tersebut dengan benar, akan
memperjelas definisi bilangan berpangkat nol, yaitu sebagai berikut.
Hitunglah perpangkatan-perpangkatan berikut.
a. (5)
0
c. (25)
0
b. (12)
0
d. 34a
2
b
0
Jawab:
a. (5)
0
= 1 c. (25)
0
= 1
b. (12)
0
= 1 d. 34a
2
b
0
= 34a
2
· 1 = 34a
2
Contoh
Soal 5.9
Sifat-sifat bilangan berpangkat positif dan negatif berlaku juga untuk
bilangan berpangkat nol dengan a bilangan real, a ≠ 0, dan m – n = 0.
3. Bilangan Rasional Berpangkat Bulat
a. Bilangan Rasional
Di Kelas VII, kamu telah mempelajari materi bilangan bulat. Setiap bilangan
bulat dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan.
Buatlah masing-masing tiga
contoh untuk setiap sifat
bilangan berpangkat negatif
di buku latihanmu.
Bandingkan hasilnya dengan
temanmu.
Tugas 5.2
Buatlah masing-masing tiga
contoh untuk setiap sifat
bilangan berpangkat nol di
buku latihanmu. Bandingkan
hasilnya dengan temanmu.
Tugas 5.3
5.3
a
0
= 1
dengan a bilangan real dan a ≠ 0.
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
82
Misalnya, ...
...
1
1
1
2
2
5
5
7
7
2
2
1
4
2
6
3
10
5
= = = = =
= = = = =
−− =

=

=

=

= 5
5
1
10
2
15
3
25
5
...
Bilangan-bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk pecahan disebut
bilangan rasional.
Uraian tersebut memperjelas definisi bilangan rasional, yaitu sebagai berikut.
Selain bilangan rasional,
di dalam sistem bilangan
juga terdapat bilangan
irasional. Carilah informasi
mengenai bilangan irasional.
Kamu dapat mencarinya di
perpustakaan atau internet.
Laporkan hasilnya di depan
kelas
Tugas 5.4
b. Bilangan Rasional Berpangkat Bulat
Pada bagian sebelumnya, kamu telah mampelajari bilangan bulat berpangkat
bulat. Sekarang kamu akan mempelajari bilangan rasional berpangkat bulat.
Sifat-sifat yang berlaku pada bilangan bulat berpangkat bulat berlaku juga pada
bilangan rasional berpangkat bulat. Coba kamu tuliskan dan jelaskan sifat-sifat
tersebut dengan kata-katamu.
Hitunglah perpangkatan bilangan rasional berikut.
a.
2
3
3
c.
2
7
2
7
2
7
5 2
×
6
b.
4
5
4
5
3 5
+ d.
1
2
2
3
3
4
1
4
2
5 6
x
x
Jawab:
a.
2
3
2
3
2
3
2
3
2
3
8
27
3
3
3
= × × = =
b.
4
5
4
5
4
5
3 5
+ = +
= +
+ 3 3 2
3
4
5
4
5
4
5
=
3 2
4
5
4
5
.
+
3 2
1
4
5
Contoh
Soal 5.10
5.4
Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk
a
b
dengan a, b bilangan bulat dan b ≠ 0.
(
(
(
( (
( (
( (
(
( ( (
(
( (
(
(
(
(
(
(
( (
( (
( (
(
(
(
(
(
(
(
(
(
( (
(
(
(
Pangkat Tak Sebenarnya
83
c.
2
7
2
7
2
7
5 2





 ×
= =
+
6 6
5 2
2
7
2
7
2
7
=

7
6
7
2
7
2
7
66
2
7
=
d. Pembagian ini tidak dapat disederhanakan. Mengapa? Jelaskan jawabanmu.
1. Tuliskan dalam pangkat positif.
a.
1
2
3 −
b.
3
4
7 −
c.
a
b
c −
2. Tuliskan dalam pangkat negatif.
a.
1
7
9
5
b.
1
5
6
2
c.
1
p
q
Jawab:
1. a.
1
2
−3
=
1
1
2
3
b.
3
4
1
3
4
7
7
=

c.
a
b
a
b
c
c
=

1
2. a.
1
7
9
7
9
5
5
=

b.
1
5
6
5
6
2
−2
= c.
1
p
q
p
q
r
r
=

skan dala skan dala
Contoh
Soal 5.11
2. Sederhanakan perkalian berikut.
a. 2
6
× 2
7
b. 4
3
× 4
2
c. (–3)
5
× (–3) × (–3)
7
d. 3
3
× 4
4
× 5
5
e. s
6
× s
7
× s
9
f. 3a
2
× 3a
3
g. 8p
4
× p
h. 9a × a
2
× b × 3b
3
i. a
4
× b
3
× c
2
× d
j. 10p × 2q
2
× 8p
5
3. Sebuah balok memiliki panjang 12a, lebar 4a, dan
tinggi 8a. Tentukan luas permukaan dan volume
balok tersebut dalam a.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. a. Tuliskan dalam bentuk bilangan berpangkat,
kemudian tentukan bilangan pokok dan pang-
katnya.
1) 4 × 4 × 4 × 4
2) 10 × 10 × 10 × 10 × 10
3) (–7) × (–7) × (–7)
4) c × c × c × c × c × c × c
5) (–y) × (–y) × (–y) × (–y) × (–y)
b. Tuliskan perpangkatan berikut sebagai perkalian
berulang.
1) 2
3
4) 2
6
4
2
2) 5
5
5) 8
3
a
5
3) (–6)
4
Uji Kompetensi 5.1




























































































































































r
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
84
4. Sederhanakan pembagian berikut.
a. 2
2
4
3
f.
7 8
5
8
2 4
p q
r

b.
5
3
5
5
g. 56
11
2
a
c.
÷
( )
÷
( )
÷
( )
5 5
5
7 8
10
h.
100
25
25
17
q
q
d. 7
9
: 7
4
i.
23 24
46
8 11
13
b b
b

e.
÷
( )
÷
( )
÷
( )
÷
( )
3 3
3 3
19 23
25 7
j.
52 13
4
3 10
13
k
m

5. Sebuah trapesium memiliki luas 54a
2
. Jika panjang
sisi sejajarnya berturut-turut adalah 8a dan 10a,
tentukan tinggi trapesium tersebut dalam a.
6. Sederhanakan perpangkatan berikut.
a. (2
3
)
2
b.
( ) ÷
( )
5
4
6
c. (3
3
)
5
× (3
2
)
7
d.
( ) ( ) ÷
( )
÷
( )
÷
( )
8 8
8
4 3
4
9
e. (9
10
)
9
: (9
7
)
8
f. (m
18
)
2
: (n
6
)
4
g.
( ) : ( ) ÷
( )
÷
( )
÷
( )
4 4
4
3
6
2
4
h.
19
19
2
8
5
11
4 7
( ) ( )
( )

( )
: ( ) p
p
7. Sebuah tabung memiliki jari-jari 7b
3
. Jika tinggi
tabung tersebut 15b
3
,

nyatakan volume tabung
dalam p dan p.
8. Sederhanakan bentuk penjumlahan dan pengurangan
bilangan berpangkat berikut.
a. 3
2
+ 3
6
e. 9
9
+ 9
7
b. 5
5
+ 5
12
f. (–23)
20
– (–23)
13
c. (–11)
11
+ (–11)
25
g. 15
17
– 15
11
d. p
9
+ p
8
h. (–a)
28
– (–a)
18
9. a. Tuliskan bentuk-bentuk berikut dalam bentuk
pangkat positif, kemudian sederhanakan.
1) 7
–3
4) 8
–3
× 17
–5
2) 4
–2
5) 20p
–5
: 10p
–25
3) (–5)
–5

b. Tuliskan bentuk-bentuk berikut dalam bentuk
pangkat negatif, kemudian sederhanakan.
1)
1
8
4)
1
11
1
11
2 12

2)
1
4
2
÷
( )
5)
p p
p p
11 13
9 3

3)
1
9
6
c. Hitung nilai pangkat berikut.
1) 6
0
4) 5p
0
×12q
0
2) 13
0
5)
15
35
0
0 0
r
t
3) (–20)
0
10. a. Sederhanakan bentuk-bentuk berikut dengan
menggunakan sifat bilangan berpangkat.
1)
2
3
2
3
4 9
í
(
·
·
·
·
\
)

í
(
·
·
·
·
\
)

2) ÷
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
í
(
·
·
·
·
\
)

6
7
6
7
12 10

3)
4
5
4
5
11
8
í
(
·
·
··
\
)

í
(
·
·
··
\
)

4)
÷
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
í
(
9
13
9
13
9
13
23 12
··
·
·
·
\
)

32
5)
12
25
12
25
2
3
í
(
·
·
·
·
\
)

í
(
·
·
·
·
·
\
)

í
(
·
·
·
··
\
)

í
(
·
·
·
·
·
\
)

í
(
·
·
·
·
\
)

í
4
3
4
12
25
((
·
·
·
·
·
\
)

4
b. Tuliskan dalam bentuk pangkat positif.
1)
4
5
2
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
2)
7
19
10
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
3) ÷
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
13
23
17

c. Tuliskan dalam bentuk pangkat negatif.
1)
1
2
3
8
í
(
·
·
·
·
\
)

2)
1
17
20
6
÷
í
(
·
·
·
·
\
)

3)
1
25
26
15
í
(
·
·
·
·
\
)

Pangkat Tak Sebenarnya
85
B. Bentuk Akar dan Pangkat Pecahan
1. Pengertian Bentuk Akar
Di Kelas VII, kamu telah mempelajari akar kuadrat suatu bilangan. Sekarang,
kamu akan mempelajari bentuk akar. Sebelumnya, pelajari perhitungan akar
kuadrat bilangan-bilangan berikut.
4 2 2
9 3 3
16 4 4
2
2
2
= =
= =
= =

Coba kamu tuliskan 5 contoh akar kuadrat bilangan lain di buku latihanmu.
Perhitungan akar kuadrat bilangan-bilangan yang telah kamu pelajari
tersebut memenuhi definisi sebagai berikut.
Sekarang, coba kamu periksa 3 5 6 7 , , , , dan apakah memenuhi
Definisi 5.5 atau tidak? Jika kamu memeriksanya dengan benar maka
bentuk-bentuk tersebut tidak memenuhi Definisi 5.4. Akar pangkat suatu
bilangan yang tidak memenuhi definisi tersebut dinamakan bentuk akar. Jadi,
3 5 6 7 , , , dan merupakan bentuk akar karena tidak ada bilangan real
positif yang jika dikuadratkan hasilnya sama dengan 3, 5, 6, dan 7.
Manakah yang merupakan bentuk akar? Berikan alasannya.
a. 64 c. 49 e. 28
b. 40 d. 36 f. 55
Jawab:
a.
64
bukan akar karena 64 8 8
2
= = .
b. 40 adalah bentuk akar karena tidak ada bilangan real positif yang jika
dikuadratkan hasilnya sama dengan 40.
c. 49 bukan bentuk akar karena 49 7 7
2
= = .
d. 36 bukan bentuk akar karena
36 6 6
2
= =
.
e. 28 adalah bentuk akar karena tidak ada bilangan real positif yang jika
dikuadratkan hasilnya sama dengan 28.
f. 55 adalah bentuk akar. Mengapa? Coba tuliskan alasannya
h
Contoh
Soal 5.12
Simbol radikal (akar)
" " dikenalkan pertama
kali oleh matematikawan
di dalam bukunya Die Coss.
Simbol tersebut ia pilih
karena mirip dengan huruf
" r " yang diambil dari kata
radix, bahasa latin untuk
akar pangkat dua.
Sumber: Finite Mathematics and
Its Applications,1994
Sekilas
Matematika
5.5
a a
2
= dengan a bilangan real positif.
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
86
2. Sifat-Sifat dan Menyederhanakan Bentuk Akar
Sebuah bentuk akar dapat dituliskan sebagai perkalian dua buah akar pangkat
bilangan. Untuk lebih jelasnya, pelajari contoh berikut.
15 3 5 3 5
24 4 6 4 6 2 6
50 25 2 25 2 5 2
= × = ×
= × = × =
= × = × =
Ketiga contoh di atas memperjelas sifat berikut.
ab a b = ×
dengan a dan b bilangan real positif.
Sifat 5.6
a
b
a
b
=
dengan a ≥ 0 dan b > 0.
Sifat5.7
Sederhanakan bentuk-bentuk akar berikut.
a. 12 b. 20 c.
35
Jawab:
a. 12 4 3 4 3 2 3 = × = × =
b. 20 4 5 4 5 2 3 = × = × =
c. 35 5 7 5 7 = × = ×
Sekarang, pelajari contoh berikut.
4
6
4
6
2
6
25
36
25
36
5
6
5
9
5
9
5
3
= =
= =
= =
Contoh-contoh tersebut memperjelas sifat berikut.
k b
Contoh
Soal 5.13
Jika diketahui 2 57 1 60 , , =
dan 25 7 5 07 , , = maka nilai
2 570 . adalah ....
a. 16 c. 160
b. 50,7 d. 507
Jawab:
Diketahui 2 57 1 60 , , = dan
25 7 5 07 , , =
2.750 = 27,50 100 sehingga
2 570 25 70 100
2255 77 110000
5 07 10
50 7
. ,
,,
,
,
=
=
=
=
Jawaban: b
Soal Ebtanas, 2000
Solusi
Matematika
×
×
×
×
Pangkat Tak Sebenarnya
87
Sederhanakan bentuk-bentuk akar berikut.
a.
2
16
b.
9
10
c.
81
100
Jawab :
a.
2
16
2
16
2
4
= =
b.
9
10
9
10
3
10
= =
c.
81
100
81
100
9
10
= =
Perhatikan gambar berikut.
Jawab:
Diketahui : AB = 6 cm dan AC = 3 cm
Ditanyakan : Panjang BC
Penyelesaian:
Gunakan Teorema Pythagoras,
BC = +
= +
= +
=
= ×
= ×
=
AB AC
2 2
2 2
6 3
36 9
45
9 5
9 5
3 5





Jadi, panjang BC = 3 5 cm
Tentukan panjang BC.
C
A
B
6 cm
3 cm
nakan ben nakan ben
Contoh
Soal 5.14
Contoh
Soal 5.15
Hasil dari 0 0625 , + 0,02
2

adalah ....
a. 0,029 c. 0,2504
b. 0,065 d. 0,29
Jawab:
0 0625
625
10000
625
10000
,
.
.
= =
=
25
100
0 25 = ,

(0,02)
2
=
2
10 1000
2
100
2
2
22
Ê
Ë
ÁÁÁ
ËËËË
ˆ
¯
˜
=
=
44
10000
0 0004
.
, =
Jadi, 00 06 062255 , + (0,02)
2

= 0,25 + 0,0004
= 0,2504
Jawaban: c
Soal UN, 2006
Solusi
Matematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
88
3. Operasi Aljabar pada Bentuk Akar
a. Penjumlahan dan Pengurangan
Pelajari penjumlahan dan pengurangan bentuk akar berikut.
i
i



2 3 3 3 2 3 3
5 3
8 7 11 7
+ = + ( )
=
+ == + ( )
=
8 11 7
19 7

i
i



7 5 4 5 7 4 5
3 5
23 6 1
− = − ( )
=
− 22 6 23 12 6
11 6
= − ( )
=
Contoh-contoh tersebut menggambarkan sifat-sifat berikut.
a c b c a b c + = +
( )
dengan a, b, c bilangan real dan c ≥ 0.
Sifat 5.8
a c b c a b c − = −
( )
dengan a, b, c, bilangan real dan c ≥ 0.
Sifat 5.9
Hitunglah:
a. 4 3 8 3 + c. − + 5 2 12 8
b. 13 5 29 5 + d. 15 7 25 7 −
Jawab:
a. 4 3 8 3 4 8 3 12 3 + = +
( )
=
b. 13 5 29 5 13 29 5 42 5 + = +
( )
=
c. − + =− + ×
=− + ×
=− +
5 2 12 8 5 2 12 4 2
5 2 12 4 2
5 2 24 2




= − +
( )
=
5 24 2
19 2
d. 15 7 25 7 15 25 7
10 7
− = −
( )
=−
h
Contoh
Soal 5.16
Dapatkah kamu
menjumlahkan 5 6 6 5 + ?
Jelaskan alasannya.
Problematika
Pangkat Tak Sebenarnya
89
p a q b pq ab × =
dengan a, b, p, q bilangan real dengan a ≥ 0 dan b ≥ 0.
Sifat 5.10
p a
q b
p
q
a
b
=
dengan a, b, p, q bilangan real dengan a ≥ 0 dan b ≥ 0.
Sifat 5.11
b. Perkalian dan Pembagian
Perhatikan kembali Sifat 5.6. Jika dibalik, sifat tersebut dapat digunakan untuk
menyelesaikan perkalian bentuk akar seperti berikut.
2 3 2 3 6
5 10 5 10 50 5 2
2 3 4 7 2 4 3 7 8 21
× = × =
× = × = =
× = × × × =
Uraian tersebut menggambarkan sifat perkalian bentuk akar sebagai berikut.
Sekarang, perhatikan Sifat 5.7. Jika dibalik, sifat tersebut dapat digunakan
untuk menyelesaikan pembagian bentuk akar berikut.
3
6
3
6
1
2
5
7
5
7
8 2
12 3
8
12
2
3
2
3
2
3
= =
=
= =
Uraian tersebut menggambarkan sifat pembagian bentuk akar sebagai berikut.
Tentukan hasil perkalian dan pembagian bentuk akar berikut.
a. 11 5 × c.
7
28
b. 8 3 24 12 × d.
10 8
5 2
Jawab :
a. 11 5 11 5 55 × = × =
b. 8 3 24 12 8 3 24 4 3
8 3 48 3
8 48 3 3 1 152
× = × ×
= ×
= × × × =

.
h il h il
Contoh
Soal 5.17
www.nimasmultima.co.id
www.geocities.com
id id
Situs Matematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
90
c.
7
28
7
28
1
4
1
2
= = =
d.
10 8
5 2
10 4 2
5 2
20 2
5 2
4 =
×
= =
4. Merasionalkan Penyebut Suatu Pecahan
Pada bagian sebelumnya, kamu telah mempelajari bilangan rasional. Masih
ingatkah kamu tentang materi tersebut? Coba kamu jelaskan dengan kata-katamu
sendiri.
Di dalam matematika, selain bilangan rasional, terdapat bilangan irasional.
Bilangan irasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
a
b
dengan a, b bilangan bulat dan b ≠ 0. Contoh bilangan irasional adalah
bentuk akar, misalnya
2 3 5 , , dan
. Pecahan yang penyebutnya bentuk akar
juga termasuk bilangan irasional, misalnya
1
2
1
3
2
5 1
3
10 6
, , ,
+ −
, dan
lain-lain.
Pada bagian ini, kamu akan mempelajari cara merasionalkan penyebut
pecahan-pecahan tersebut. Caranya yaitu dengan mengalikan pembilang dan
penyebut pecahan-pecahan tersebut dengan pasangan bentuk akar sekawan
penyebutnya. Secara umum, pecahan yang penyebutnya bentuk akar yang
dapat dirasionalkan adalah
a
b
c
a b
c
a b
, ,
± ±
dan
dengan a, b, dan c
bilangan real. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian berikut.
a. Merasionalkan Bentuk
a
b
Cara merasionalkan bentuk
a
b
adalah dengan mengalikan pembilang dan
penyebut pecahan tersebut dengan bentuk sekawan dari penyebutnya, yaitu :
a
b
a
b
b
b
a b
b
a
b
b = = = .
Rasionalkan penyebut pecahan-pecahan berikut, kemudian sederhanakanlah.
a.
4
5
b.
− 6
7
c.
3
6

k
Contoh
Soal 5.18
Pangkat Tak Sebenarnya
91
Jawab:
a.
4
5
4
5
5
5
4 5
5
4
5
5 = = = .
b.

=

=

=−
6
7
6
7
7
7
6 7
7
6
7
7 .
c.
3
6
3
6
6
6
18
6
9 2
6
3 2
6
1
2
2 = = =
×
= = .
b. Merasionalkan Bentuk
c
a± b

Untuk pecahan bentuk
c
a b ±
, cara merasionalkannya adalah dengan mengalikan
pembilang dan penyebut dengan bentuk sekawan a b ± . Bentuk sekawan dari
a b + adalah a b – , sedangkan bentuk sekawan dari a b – adalah a b + .

c
a b
c
a b
a b
a b
c a b
a a b a b b
c a b
+
=
+


=

( )
− + −
( )
=

( )
.
2
2
aa b
2

Sekarang, coba kamu rasionalkan bentuk
c
a b −
dengan cara yang sama.
Bagaimanakah hasilnya ?
Rasionalkan penyebut pecahan-pecahan berikut.
a.
3
6 2 +
b.


4
5 6
Jawab :
a.
3
6 2
3
6 2
6 2
6 2
3 6 2
36 2
3 6 2
34
3
34
6 2
+
=
+


=

( )

=

( )
= − .
(( )
b.


=


+
+
=
− +
( )

=
− +
( )
=
− 4
5 6
4
5 6
5 6
5 6
4 5 6
25 6
4 5 6
19
4
.
119
5 6 +
( )
c. Merasionalkan Bentuk
c
a ± b

Sama seperti dua bentuk sebelumnya, cara merasionalkan bentuk
c
a b ±

adalah dengan mengalikan pembilang dan penyebutnya dengan bentuk sekawan
dari a b ±
. Bentuk sekawan dari
a b +
adalah
a b –
, sedangkan
bentuk sekawan dari
a b –
adalah
a b +
.
Contoh
Soal 5.19
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
92
c
a b
c
a b
a b
a b
c a b
a
+
=
+


=

( )
( )
2
−−
( )( )
+
( )( )

( )
=

( )
a b a b b
c a b
2
aa b −
Dengan cara yang sama, rasionalkan
c
a b −
. Bagaimanakah hasilnya?
Rasionalkan penyebut pecahan
8
5 2 +
.
Jawab:
8
5 2
8
5 2
5 2
5 2
8 5 2
5 2
8
3
5 2
+
=
+


=

( )

= −
( )
.
5. Bilangan Berpangkat Pecahan
Perhatikan kembali Definisi 5.1. Definisi tersebut menyatakan bahwa bilangan
berpangkat a
n
didefinisikan sebagai perkalian berulang sebanyak n faktor.
Misalnya, 2
2
= 2 × 2. Sekarang, bagaimana dengan 2
1
2
? Untuk mengetahui
definisi pangkat pecahan, pelajari uraian berikut.
(i) 9
a
= 3. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa 9 dipangkatkan a hasilnya
sama dengan 3. Berapakah nilai a?
Oleh karena 9
a
= 3 3 3
3 3
2
2 1
maka
( )
=
=
a
a
Ini berarti 2a = 1 atau a =
1
2
sehingga 9 3
1
2
= .
Oleh karena 9 3 9 9 3
1
2
= = = maka .
(ii) 9
b
=27. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa 9 dipangkatkan b hasilnya
sama dengan 27. Berapakah nilai b?
Oleh karena
9 27 3 3
3 3
2 3
2 3
b
b
b
=
( )
=
=
maka
Ini berarti 2b = 3 atau b =
3
2
sehingga 9 27
3
2
= .
Oleh karena 9 27 9 9 27
2 3 2 3
2
3
= = = maka .
Uraian (i) dan (ii) memperjelas definisi bilangan berpangkat pecahan,
yaitu sebagai berikut.
Contoh
Soal 5.20
Tentukan nilai dari
6
3 2
3
2 3 2 +
+
+
.
Problematika
Pangkat Tak Sebenarnya
93
1. Ubahlah bentuk pangkat pecahan berikut ke bentuk akar.
a. 3
1
2
b. 7
3
2
c. 6
7
2
2. Ubahkan bentuk akar berikut ke bentuk pangkat pecahan.
a. 6 b. 9
3
c. 15
2 4
Jawab :
1. a. 3 3
1
2
= b. 7 7
3
2
3
= c. 6 6
7
2
7
=
2. a. 6 6
1
2
= b. 9 9
3
1
3
= c. 15 15 15
2 4
2
4
1
2
= =
Sederhanakan bentuk-bentuk pecahan berikut.
a. 2 2
1
2
1
2
× c.
4
1
2
7
4
b.
5
5
8
3
6
3
d.
3 3
3
1
2
3
2
1
− −

×
Jawab:
a. 2 2 2 2 2 2
1
2
1
2
1
2
1
2
2
2
1
× = = = =
+
b.
5
5
5 5
8
3
6
3
8
3
6
3
2
3
= =

c.
4 4 4
1
2
7
4
1
2
7
4
7
8
= =
×
d.
3 3
3
3
3
3
3
1
2
3
2
1
1
2
3
2
1
4
2
− −

− + −


×
= =
−−


= =
− − ( )
1
4
2
1
3 3
1

Sifat-sifat yang berlaku untuk bilangan berpangkat bulat berlaku juga
untuk bilangan berpangkat pecahan. Coba kamu tuliskan sifat-sifat tersebut
dengan contoh-contohnya di buku latihanmu. Bandingkan hasilnya dengan
teman-temanmu.
Contoh
Soal 5.21
nakan ben k b
Contoh
Soal 5.22
Tentukan nilai dari
27
1
4
5
2
3
2
2
+
-
.
Problematika
5.6
a a a a
m
n
m n m n
m
n
= = atau
dengan a ≥ 0 dan m, n bilangan bulat positif.
(
(
(
(
(
(
(
(
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
94
6. Sebuah kerucut memiliki jari-jari 5 2 cm. Jika
tinggi kerucut tersebut 18 5 cm, tentukan volume
kerucut tersebut.
7. Rasionalkan penyebut pecahan-pecahan berikut.
a.
3
5
e.
10
5 2 −
b.
15
7
f.
2 5
3 5 +
c.
2 2
6 6
g.
15
11 8 −
d.
16 100
1 32 +
h.
2 5 2 3
2 5 2 3
+

8. Panj ang di agonal sebuah persegi 20 cm.
Tentukan panjang sisi persegi tersebut.
9. Ubahlah bentuk akar berikut ke bentuk pangkat
pecahan.
a. 3 e. 10
b. 5
2
f. 15
2 3
c. 16
5 3
g. 23
5
d. 12
2 4
h. 40
4 6
10. Sederhanakan bentuk pangkat pecahan berikut.
a.
27 27
1
3
2
3
×
e. 28
2
1
4
( )
b. 11 11
4
5
6
7
× f. 19
2
3
9
16
c.
2 2
2
1
3
3
1
2
×
g.
36
1
2
d. 6 6
9
11
7
11
: h. 81
1
4

Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Sederhanakan bentuk-bentuk akar berikut.
a. 32 e.
9
25

b. 27 f.
48
125
c. 75 g.
121
441
d. 245 h.
320
1 000 .
2. Sebuah persegi ABCDmemiliki panjang sisi a cm.
Tentukan panjang diagonal AC dalam a.
3. Diketahui segititiga siku-siku PQR seperti pada
gambar berikut.
4. Tentukanlah hasil penjumlahan dan pengurangan
bentuk akar berikut.
a. 11 2 10 2 + e. 28 11 10 11 −
b. 23 6 5 6 + f. 7 19 2 19 −
c. − + 15 3 7 3 g. − − 29 29
d.
5 9 5 +
h. − − 32 33 33
5. Tentukan hasil perkalian dan pembagian bentuk
akar berikut.
a.
5 2 ×
e.
18
2
b.
2 13 9 ×
f.
20
2 5
c.
6 5 12 +
( )
g.
24
45
9
2
×
d. 2 3 2 3 +
( )

( )
h.
7 32
6 28 7 27 ×
R
P
Q
Tentukan panjang PQ.
10 cm
15 cm
Uji Kompetensi 5.2
(
(
Pangkat Tak Sebenarnya
95
• Bilangan berpangkat sebenarnya adalah bilangan
berpangkat bulat positif.
• Sifat-sifat yang berlaku pada bilangan berpangkat
bulat positif adalah sebagai berikut.
- a
m
× a
n
= a
m + n
dengan a bilangan real dan m, n bilangan
bulat positif.
-
a
a
a
m
n
m n
=

dengan a bilangan real yang tidak nol dan
m, n bilangan bulat positif yang memenuhi
m > n.
- (a
m
)
n
= a
m × n
= a
n × m
dengan a bilangan real dan m, n bilangan
bulat positif yang memenuhi m ≥ n.
- a
n
+ a
m
= a
n
(1+ a
m – n
)
a
m
– a
n
= a
n
(a
m – n
– 1)
dengan a bilangan real dan m, n bilangan
bulat positif yang memenuhi m ≥ n.
Rangkuman
• Bilangan berpangkat tak sebenarnya terdiri atas
bilangan berpangkat bulat negatif, berpangkat
nol, dan berpangkat pecahan.
• Bilangan berpangkat pecahan dapat diubah
menjadi bentuk akar, yang memiliki sifat-sifat
sebagai berikut.
-
ab a b = ×
dengan a dan b bilangan real positif.
-
a
b
a
b
=
dengan a ≥ 0 dan b ≥ 0.
-
a c b c a b c ± = + ( )
dengan a, b, c bilangan real dan c ≥ 0.
-
p a q b pq ab × =
dengan a, b, p, q bilangan real dengan
a ≥ 0 dan b ≥ 0.
-
p a
q b
p
q
a
b
=
dengan a, b, p, q bilangan real dengan
a ≥ 0 dan b ≥ 0.
Pada bab Pangkat Tak Sebenarnya ini, bagian manakah menurutmu yang paling menarik untuk
dipelajari? Mengapa?
Materi apa sajakah yang belum dan telah kamu kuasai dengan baik?
Kesan apakah yang kamu dapatkan setelah mempelajari bab ini?
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
96
Peta Konsep
Bilangan Berpangkat
Pangkat Sebenarnya
Pangkat Bulat Positif
a a a
a a
a a a
a a a
m n m n
m
n
m n
m n m n n m
n m n
× =
=
= =
+ =
+
× mm × nn

( )
(1++
= −
a
a a a a
m n
m n n m n


)
( ) 1
Pangkat Bulat Negatif Pangkat Nol
a
0
= 1
a bilangan real dan a ≠ 0 a
–n
=
1
a
n
a bilangan real, a ≠ 0,
dan bilangan bulat
positif
Pangkat Pecahan
Bentuk Akar
ab a b
a
b
a
b
a c b c a b c
p a q b pq ab
p a
q b
p
q
a
b
= ×
=
± = ±
× =
=
( )
Pangkat Tak Sebenarnya
yaitu
sifat
definisi definisi
terdiri atas
terdiri atas
sifat
dapat diubah menjadi
Pangkat Tak Sebenarnya
97
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Pernyataan yang salah mengenai a
5
adalah ....
a. bilangan pokok = a
b. pangkatnya adalah 5
c. dapat ditulis a × a × a × a × a
d. eksponennya adalah a
2. Bentuk sederhana dari 4a
5
×16a adalah ....
a. 8a
2
c. 3a
5
b. 64a
6
d. 16 a
5
3. Sebuah kubus memiliki sisi 3p satuan. Perbandingan
luas permukaan dengan volumenya adalah ....
a. 3 : 6p c. 15 : 9p
b. 8p : 5 d. 22p : 18
4. Bentuk

( )
× −
( )

( )
2 2
2
8 3
9
jika disederhanakan menjadi
....
a. (–2)
2
c. (–2)
0
b. b
–3
d. (–2)
12
5. Jika a – b = –1, nilai dari (a – b)
10
dan (b – a)
13

adalah ....

a. 1 dan 1 c. 1 dan –1
b. –1 dan 1 d. –1 dan –1
6. Nilai dari
b b
b
9 5
8
:
adalah ....
a. b
–4
c. b
6
b. b
–3
d. b
7
7. Penjumlahan (16
2
)
3
+ (16
4
)
3
sama dengan ....
a. 16
6
(1 + 16
6
)
b. 16
2
(1 + 16
3
)
c. 16
6
(16
3
+ 1)
d. 16
3
(16
2
+ 1)
8. Nilai dari 80a
5
b
0
c
2
adalah ....
a. a
5
c
2
c. 80a
4
bc
2
b. a
5
d. 80a
5
c
2
9. Bentuk 5
–4
× 5
–10
jika dinyatakan dalam bentuk
pangkat positif menjadi ....
a. 5
14
c.
1
5
14
b. 15
4
d.
1
15
14
10.
2
5
3
8
2
5
1
2
×
1
4
1
2
2
5
33
16
= ...
a.
2
5
3
16
c.
2
5
1
9
b.
2
5
1
4
d.
2
5
1
8
11. Bentuk sederhana dari 80 adalah ....
a.
4 5
c. 8 10
b. 8 5 d.
4 10
12. Diketahui panjang dan lebar sebuah persegipanjang
berturut-turut adalah 9 cm dan 5 cm. Panjang
diagonal persegipanjang tersebut adalah ....
a. 5 3 cm c. 15 2 cm
b. 10 6 cm d. 20 cm
13. − − = 8 13 10 13 ...
a.
− 2 13
c.
− 12 13
b. − 8 13 d. − 18 13
14.
3 8 7 9 −
( )
= ...
a.
− 13 3
c. 3
b. − 3 d.
15 3
15.
20
27
2
3
× = ...

a.
2
3
c.
2
3
5
b.
5
9
d.
5
9
3
Uji Kompetensi Bab 5
(
(
( (
(((
(
(
(
( (
(
(
( (
(
(
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
98
16.
8 5
6 2 7 10 ×
= ...
a.
4
21
c.
1
21
b.
2
21
d.
3
21
17. Bentuk rasional dari
8
2 5 +
adalah ....
a. − −
( )
8 2 5
b.
− −
( )
8 2 5
3
c. 8 2 5 −
( )
d.
8 2 5
3

( )

18. Bentuk 64
2 4 3
p q jika dinyatakan dalam pangkat
pecahan menjadi ....
a. 8
1
3
4
3
p q c. 4
1
3
4
3
p q
b. 8
2
3
4
3
p q d. 4
2
3
4
3
p q
19. 11r
5
: 11r
4
= ...
a. 11 c. 11r
b. r d. r
2
20.
13 14
13 14
2
1
4
5
2
15
3
2
1
3
1
5
( )
×
( )
×
=
4
3
...
a. 13 14
1
2
5
6
c.
13 14
1
2
1
15
b. 14
2
5
d. 14
5
6
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Nyatakanlah dalam bentuk yang paling sederhana.
a. 8
5
× 8
4
× 8
–2
b.
( ) ( )
( )
− × −

2 2
2
9 10
17
c.
p p p
p p
5 9 16
4 10
× ×
×


d.
2 2
5 2
p q
×

2. Jika p = q + 1, tentukanlah nilai dari
( ) ( )
( )
p q q p
p q
− × −

10 7
5
.
3. Tentukan nilai x.
a. 35 =
1
3
x
b.
2
5
5
2
6
=
x
c. (14
–2
)
3
= 196
x
d.
1
25
5
2
=
x
4. Rasionalkan penyebut pecahan-pecahan berikut.
Kemudian, sederhanakanlah.
a.
2
5
b.
1
11 5 −
5. Tentukan keliling sebuah persegi yang memiliki
sisi
1
3 1 +
cm.

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
185 Daftar Bunga
Daftar I untuk (1,015)
n
; (1,02)
n
; (1,025)
n
; (1,03)
n
; (1,035)
n
n
1,5% 2% 2,5% 3% 3,5%
1 1,015 1,02 1,025 1,03 1,035
2 1,030225 1,0404 1,050625 1,0609 1,071225
3 1,045678375 1,061208000 1,076890625 1,092727000 1,108717875
4 1,061363551 1,082432160 1,103812891 1,125508810 1,147523001
5 1,077284004 1,104080803 1,131408213 1,159274074 1,187686306
6 1,093443264 1,126162419 1,159693418 1,194052297 1,229255326
7 1,109844913 1,148685668 1,188685754 1,229873865 1,272279263
8 1,126492587 1,171659381 1,218402898 1,266770081 1,316809037
9 1,143389975 1,195092569 1,248862970 1,304773184 1,362897353
10 1,160540825 1,218994420 1,280084544 1,343916379 1,410598761
11 1,177948937 1,243374308 1,312086658 1,384233871 1,459969717
12 1,195618171 1,268241795 1,344888824 1,425760887 1,511068657
13 1,213552444 1,293606630 1,378511045 1,468533713 1,563956060
14 1,231755731 1,319478763 1,412973821 1,512589725 1,618694522
15 1,250232067 1,345868338 1,448298166 1,557967417 1,675348831
16 1,268985548 1,372785705 1,484505621 1,604706439 1,733986040
17 1,288020331 1,400241419 1,521618261 1,652847632 1,794675551
18 1,307340636 1,428246248 1,559658718 1,702433061 1,857489196
19 1,326950745 1,456811173 1,598650186 1,753506053 1,922501317
20 1,346855007 1,485947396 1,638616440 1,806111235 1,989788863
21 1,367057832 1,515666344 1,679581851 1,860294572 2,059431474
22 1,387563699 1,545979671 1,721571398 1,916103409 2,131511575
23 1,408377155 1,576899264 1,764610683 1,973586511 2,206114480
24 1,429502812 1,608437249 1,808725950 2,032794106 2,283328487
25 1,450945354 1,640605994 1,853944098 2,093777930 2,363244984
26 1,472709534 1,673418114 1,900292701 2,156591268 2,445958559
27 1,494800177 1,706886477 1,947800018 2,221289006 2,531567108
28 1,517222180 1,741024206 1,996495019 2,287927676 2,620171957
29 1,539980513 1,775844690 2,046407394 2,356565506 2,711877976
30 1,563080220 1,811361584 2,097567579 2,427262471 2,806793705
31 1,586526424 1,847588816 2,150006769 2,500080345 2,905031484
32 1,610324320 1,884540592 2,203756938 2,575082756 3,006707586
33 1,634479185 1,922231404 2,258850861 2,652335238 3,111942352
34 1,658996373 1,960676032 2,315322133 2,731905296 3,220860334
35 1,683881318 1,999889553 2,373205186 2,813862454 3,333590446
36 1,709139538 2,039887344 2,432535316 2,898278328 3,450266111
37 1,734776631 2,080685091 2,493348699 2,985226678 3,571025425
38 1,760798281 2,122298792 2,555682416 3,074783478 3,696011315
39 1,787210255 2,164744768 2,619574476 3,167026983 3,825371711
40 1,814018409 2,208039664 2,685063838 3,262037792 3,959259721
41 1,841228685 2,252200457 2,752190434 3,359898926 4,097833811
42 1,868847115 2,297244466 2,820995195 3,460695894 4,241257995
43 1,896879822 2,343189355 2,891520075 3,564516770 4,389702025
44 1,925333019 2,390053142 2,963808077 3,671452273 4,543341595
45 1,954213014 2,437854205 3,037903279 3,781595842 4,702358551
46 1,983526210 2,486611289 3,113850861 3,895043717 4,866941101
47 2,013279103 2,536343515 3,191697132 4,011895028 5,037284039
48 2,043478289 2,587070385 3,271489561 4,132251879 5,213588981
49 2,074130464 2,638811793 3,353276800 4,256219436 5,396064595
50 2,105242421 2,691588029 3,437108720 4,383906019 5,584926856


186
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Daftar II untuk (1,04)
n
; (1,045)
n
; (1,05)
n
; (1,055)
n
; (1,06)
n
n
4% 4,5% 5% 5,5% 6%
1 1,04 1,045 1,05 1,055 1,06
2 1,0816 1,092025 1,1025 1,113025 1,1236
3 1,124864000 1,141166125 1,157625000 1,174241375 1,191016000
4 1,169858560 1,192518601 1,215506250 1,238824651 1,262476960
5 1,216652902 1,246181938 1,276281563 1,306960006 1,338225578
6 1,265319018 1,302260125 1,340095641 1,378842807 1,418519112
7 1,315931779 1,360861830 1,407100423 1,454679161 1,503630259
8 1,368569050 1,422100613 1,477455444 1,534686515 1,593848075
9 1,423311812 1,486095140 1,551328216 1,619094273 1,689478959
10 1,480244285 1,552969422 1,628894627 1,708144458 1,790847697
11 1,539454056 1,622853046 1,710339358 1,802092404 1,898298558
12 1,601032219 1,695881433 1,795856326 1,901207486 2,012196472
13 1,665073507 1,772196097 1,885649142 2,005773897 2,132928260
14 1,731676448 1,851944922 1,979931599 2,116091462 2,260903956
15 1,800943506 1,935282443 2,078928179 2,232476492 2,396558193
16 1,872981246 2,022370153 2,182874588 2,355262699 2,540351685
17 1,947900496 2,113376810 2,292018318 2,484802148 2,692772786
18 2,025816515 2,208478766 2,406619234 2,621466266 2,854339153
19 2,106849176 2,307860311 2,526950195 2,765646911 3,025599502
20 2,191123143 2,411714025 2,653297705 2,917757491 3,207135472
21 2,278768069 2,520241156 2,785962590 3,078234153 3,399563601
22 2,369918792 2,633652008 2,925260720 3,247537031 3,603537417
23 2,464715543 2,752166348 3,071523756 3,426151568 3,819749662
24 2,563304165 2,876013834 3,225099944 3,614589904 4,048934641
25 2,665836331 3,005434457 3,386354941 3,813392349 4,291870720
26 2,772469785 3,140679007 3,555672688 4,023128928 4,549382963
27 2,883368576 3,282009562 3,733456322 4,244401019 4,822345941
28 2,998703319 3,429699993 3,920129138 4,477843075 5,111686697
29 3,118651452 3,584036492 4,116135595 4,724124444 5,418387899
30 3,243397510 3,745318135 4,321942375 4,983951288 5,743491173
31 3,373133410 3,913857451 4,538039494 5,258068609 6,088100643
32 3,508058747 4,089981036 4,764941469 5,547262383 6,453386682
33 3,648381097 4,274030182 5,003188542 5,852361814 6,840589883
34 3,794316341 4,466361541 5,253347969 6,174241714 7,251025276
35 3,946088994 4,667347810 5,516015368 6,513825008 7,686086792
36 4,103932554 4,877378461 5,791816136 6,872085383 8,147252000
37 4,268089856 5,096860492 6,081406943 7,250050079 8,636087120
38 4,438813450 5,326219214 6,385477290 7,648802834 9,154252347
39 4,616365988 5,565899079 6,704751154 8,069486990 9,703507488
40 4,801020628 5,816364538 7,039988712 8,513308774 10,285717937
41 4,993061453 6,078100942 7,391988148 8,981540757 10,902861013
42 5,192783911 6,351615484 7,761587555 9,475525498 11,557032674
43 5,400495268 6,637438181 8,149666933 9,996679401 12,250454635
44 5,616515078 6,936122899 8,557150280 10,546496768 12,985481913
45 5,841175681 7,248248430 8,985007793 11,126554090 13,764610827
46 6,074822709 7,574419609 9,434258183 11,738514565 14,590487477
47 6,317815617 7,915268491 9,905971092 12,384132866 15,465916726
48 6,570528242 8,271455573 10,401269647 13,065260173 16,393871729
49 6,833349371 8,643671074 10,921333129 13,783849483 17,377504033
50 7,106683346 9,032636273 11,467399786 14,541961205 18,420154275
187 Daftar Bunga
Daftar III untuk (1,015)
-n
; (1,02)
-n
; (1,025)
-n
; (1,03)
-n
; (1,035)
-n
n
1,5% 2% 2,5% 3% 3,5%
1 0,985221675 0,980392157 0,975609756 0,970873786 0,966183575
2 0,970661749 0,961168781 0,951814396 0,942595909 0,933510700
3 0,956316994 0,942322335 0,928599411 0,915141659 0,901942706
4 0,942184230 0,923845426 0,905950645 0,888487048 0,871442228
5 0,928260325 0,905730810 0,883854288 0,862608784 0,841973167
6 0,914542193 0,887971382 0,862296866 0,837484257 0,813500644
7 0,901026791 0,870560179 0,841265235 0,813091511 0,785990961
8 0,887711124 0,853490371 0,820746571 0,789409234 0,759411556
9 0,874592240 0,836755266 0,800728362 0,766416732 0,733730972
10 0,861667232 0,820348300 0,781198402 0,744093915 0,708918814
11 0,848933233 0,804263039 0,762144782 0,722421277 0,684945714
12 0,836387422 0,788493176 0,743555885 0,701379880 0,661783298
13 0,824027017 0,773032525 0,725420376 0,680951340 0,639404153
14 0,811849277 0,757875025 0,707727196 0,661117806 0,617781790
15 0,799851505 0,743014730 0,690465557 0,641861947 0,596890619
16 0,788031039 0,728445814 0,673624934 0,623166939 0,576705912
17 0,776385260 0,714162562 0,657195057 0,605016446 0,557203779
18 0,764911587 0,700159375 0,641165909 0,587394608 0,538361140
19 0,753607474 0,686430760 0,625527716 0,570286027 0,520155690
20 0,742470418 0,672971333 0,610270943 0,553675754 0,502565884
21 0,731497949 0,659775817 0,595386286 0,537549276 0,485570903
22 0,720687634 0,646839036 0,580864669 0,521892501 0,469150631
23 0,710037078 0,634155918 0,566697238 0,506691748 0,453285634
24 0,699543920 0,621721488 0,552875354 0,491933736 0,437957134
25 0,689205832 0,609530871 0,539390589 0,477605569 0,423146989
26 0,679020524 0,597579285 0,526234721 0,463694727 0,408837671
27 0,668985738 0,585862044 0,513399728 0,450189056 0,395012242
28 0,659099249 0,574374553 0,500877784 0,437076753 0,381654340
29 0,649358866 0,563112307 0,488661252 0,424346362 0,368748155
30 0,639762430 0,552070889 0,476742685 0,411986760 0,356278411
31 0,630307813 0,541245970 0,465114815 0,399987145 0,344230348
32 0,620992919 0,530633304 0,453770551 0,388337034 0,332589709
33 0,611815684 0,520228729 0,442702977 0,377026247 0,321342714
34 0,602774073 0,510028166 0,431905343 0,366044900 0,310476052
35 0,593866081 0,500027613 0,421371066 0,355383398 0,299976862
36 0,585089735 0,490223150 0,411093723 0,345032425 0,289832717
37 0,576443089 0,480610932 0,401067047 0,334982937 0,280031610
38 0,567924226 0,471187188 0,391284924 0,325226152 0,270561942
39 0,559531257 0,461948223 0,381741389 0,315753546 0,261412505
40 0,551262322 0,452890415 0,372430624 0,306556841 0,252572468
41 0,543115588 0,444010211 0,363346950 0,297628001 0,244031370
42 0,535089249 0,435304128 0,354484829 0,288959224 0,235779102
43 0,527181526 0,426768753 0,345838858 0,280542936 0,227805895
44 0,519390666 0,418400739 0,337403764 0,272371782 0,220102314
45 0,511714942 0,410196803 0,329174404 0,264438624 0,212659241
46 0,504152653 0,402153728 0,321145760 0,256736528 0,205467866
47 0,496702121 0,394268361 0,313312936 0,249258765 0,198519677
48 0,489361695 0,386537609 0,305671157 0,241998801 0,191806451
49 0,482129749 0,378958440 0,298215763 0,234950292 0,185320243
50 0,475004679 0,371527882 0,290942208 0,228107080 0,179053375


188
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Daftar IV untuk (1,04)
-n
; (1,045)
-n
; (1,05)
-n
; (1,055)
-n
; (1,06)
-n
n
4% 4,5% 5% 5,5% 6%
1 0,961538462 0,956937799 0,952380952 0,947867299 0,943396226
2 0,924556213 0,915729951 0,907029478 0,898452416 0,889996440
3 0,888996359 0,876296604 0,863837599 0,851613664 0,839619283
4 0,854804191 0,838561344 0,822702475 0,807216743 0,792093663
5 0,821927107 0,802451047 0,783526166 0,765134354 0,747258173
6 0,790314526 0,767895738 0,746215397 0,725245833 0,704960540
7 0,759917813 0,734828458 0,710681330 0,687436809 0,665057114
8 0,730690205 0,703185127 0,676839362 0,651598871 0,627412371
9 0,702586736 0,672904428 0,644608916 0,617629261 0,591898464
10 0,675564169 0,643927682 0,613913254 0,585430579 0,558394777
11 0,649580932 0,616198739 0,584679289 0,554910502 0,526787525
12 0,624597050 0,589663865 0,556837418 0,525981518 0,496969364
13 0,600574086 0,564271641 0,530321351 0,498560681 0,468839022
14 0,577475083 0,539972862 0,505067953 0,472569366 0,442300964
15 0,555264503 0,516720442 0,481017098 0,447933048 0,417265061
16 0,533908176 0,494469323 0,458111522 0,424581088 0,393646284
17 0,513373246 0,473176385 0,436296688 0,402446529 0,371364419
18 0,493628121 0,452800369 0,415520655 0,381465904 0,350343791
19 0,474642424 0,433301788 0,395733957 0,361579056 0,330513010
20 0,456386946 0,414642860 0,376889483 0,342728963 0,311804727
21 0,438833602 0,396787426 0,358942365 0,324861577 0,294155403
22 0,421955387 0,379700886 0,341849871 0,307925665 0,277505097
23 0,405726333 0,363350130 0,325571306 0,291872668 0,261797261
24 0,390121474 0,347703474 0,310067910 0,276656558 0,246978548
25 0,375116802 0,332730597 0,295302772 0,262233704 0,232998631
26 0,360689233 0,318402485 0,281240735 0,248562753 0,219810029
27 0,346816570 0,304691373 0,267848319 0,235604505 0,207367952
28 0,333477471 0,291570692 0,255093637 0,223321805 0,195630143
29 0,320651415 0,279015016 0,242946321 0,211679436 0,184556739
30 0,308318668 0,267000016 0,231377449 0,200644016 0,174110131
31 0,296460258 0,255502407 0,220359475 0,190183901 0,164254840
32 0,285057940 0,244499911 0,209866167 0,180269101 0,154957397
33 0,274094173 0,233971207 0,199872540 0,170871185 0,146186223
34 0,263552090 0,223895892 0,190354800 0,161963209 0,137911531
35 0,253415471 0,214254442 0,181290285 0,153519629 0,130105218
36 0,243668722 0,205028174 0,172657415 0,145516236 0,122740772
37 0,234296848 0,196199210 0,164435633 0,137930082 0,115793181
38 0,225285431 0,187750440 0,156605365 0,130739414 0,109238850
39 0,216620606 0,179665493 0,149147966 0,123923615 0,103055519
40 0,208289045 0,171928701 0,142045682 0,117463142 0,097222188
41 0,200277928 0,164525073 0,135281602 0,111339471 0,091719045
42 0,192574930 0,157440261 0,128839621 0,105535044 0,086527401
43 0,185168202 0,150660537 0,122704401 0,100033217 0,081629624
44 0,178046348 0,144172763 0,116861334 0,094818215 0,077009079
45 0,171198412 0,137964366 0,111296509 0,089875085 0,072650074
46 0,164613858 0,132023317 0,105996675 0,085189654 0,068537806
47 0,158282555 0,126338102 0,100949214 0,080748488 0,064658308
48 0,152194765 0,120897706 0,096142109 0,076538851 0,060998403
49 0,146341120 0,115691584 0,091563913 0,072548674 0,057545664
50 0,140712615 0,110709650 0,087203727 0,068766515 0,054288362
189 Daftar Bunga
Daftar V untuk Σ (1,015)
n
; Σ (1,02)
n
; Σ (1,025)
n
; Σ (1,03)
n
; Σ (1,035)
n
n
1,5% 2% 2,5% 3% 3,5%
1 1,015000000 1,020000000 1,025000000 1,030000000 1,035000000
2 2,045225000 2,060400000 2,075625000 2,090900000 2,106225000
3 3,090903375 3,121608000 3,152515625 3,183627000 3,214942875
4 4,152266926 4,204040160 4,256328516 4,309135810 4,362465876
5 5,229550930 5,308120963 5,387736729 5,468409884 5,550152181
6 6,322994193 6,434283382 6,547430147 6,662462181 6,779407508
7 7,432839106 7,582969050 7,736115900 7,892336046 8,051686770
8 8,559331693 8,754628431 8,954518798 9,159106128 9,368495807
9 9,702721668 9,949721000 10,203381768 10,463879311 10,731393161
10 10,863262493 11,168715420 11,483466312 11,807795691 12,141991921
11 12,041211431 12,412089728 12,795552970 13,192029562 13,601961638
12 13,236829602 13,680331523 14,140441794 14,617790448 15,113030296
13 14,450382046 14,973938153 15,518952839 16,086324162 16,676986356
14 15,682137777 16,293416916 16,931926660 17,598913887 18,295680879
15 16,932369844 17,639285255 18,380224826 19,156881303 19,971029709
16 18,201355391 19,012070960 19,864730447 20,761587742 21,705015749
17 19,489375722 20,412312379 21,386348708 22,414435375 23,499691300
18 20,796716358 21,840558626 22,946007426 24,116868436 25,357180496
19 22,123667103 23,297369799 24,544657612 25,870374489 27,279681813
20 23,470522110 24,783317195 26,183274052 27,676485724 29,269470677
21 24,837579942 26,298983539 27,862855903 29,536780295 31,328902150
22 26,225143641 27,844963210 29,584427301 31,452883704 33,460413726
23 27,633520795 29,421862474 31,349037983 33,426470215 35,666528206
24 29,063023607 31,030299723 33,157763933 35,459264322 37,949856693
25 30,513968961 32,670905718 35,011708031 37,553042251 40,313101678
26 31,986678496 34,344323832 36,912000732 39,709633519 42,759060236
27 33,481478673 36,051210309 38,859800750 41,930922525 45,290627345
28 34,998700853 37,792234515 40,856295769 44,218850200 47,910799302
29 36,538681366 39,568079205 42,902703163 46,575415706 50,622677277
30 38,101761587 41,379440789 45,000270742 49,002678178 53,429470982
31 39,688288010 43,227029605 47,150277511 51,502758523 56,334502466
32 41,298612331 45,111570197 49,354034449 54,077841279 59,341210053
33 42,933091515 47,033801601 51,612885310 56,730176517 62,453152404
34 44,592087888 48,994477633 53,928207443 59,462081812 65,674012739
35 46,275969207 50,994367186 56,301412629 62,275944267 69,007603184
36 47,985108745 53,034254530 58,733947944 65,174222595 72,457869296
37 49,719885376 55,114939620 61,227296643 68,159449273 76,028894721
38 51,480683656 57,237238412 63,782979059 71,234232751 79,724906037
39 53,267893911 59,401983181 66,402553536 74,401259733 83,550277748
40 55,081912320 61,610022844 69,087617374 77,663297525 87,509537469
41 56,923141005 63,862223301 71,839807808 81,023196451 91,607371280
42 58,791988120 66,159467767 74,660803004 84,483892345 95,848629275
43 60,688867942 68,502657123 77,552323079 88,048409115 100,238331300
44 62,614200961 70,892710265 80,516131156 91,719861388 104,781672895
45 64,568413975 73,330564470 83,554034434 95,501457230 109,484031447
46 66,551940185 75,817175760 86,667885295 99,396500947 114,350972547
47 68,565219288 78,353519275 89,859582428 103,408395975 119,388256586
48 70,608697577 80,940589660 93,131071988 107,540647855 124,601845567
49 72,682828040 83,579401454 96,484348788 111,796867290 129,997910162
50 74,788070461 86,270989483 99,921457508 116,180773309 135,582837017


190
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Daftar VI untuk Σ (1,04)
n
; Σ (1,045)
n
; Σ (1,05)
n
; Σ (1,055)
n
; Σ (1,06)
n
n
4% 4,5% 5% 5,5% 6%
1 1,040000000 1,045000000 1,050000000 1,055000000 1,060000000
2 2,121600000 2,137025000 2,152500000 2,168025000 2,183600000
3 3,246464000 3,278191125 3,310125000 3,342266375 3,374616000
4 4,416322560 4,470709726 4,525631250 4,581091026 4,637092960
5 5,632975462 5,716891663 5,801912813 5,888051032 5,975318538
6 6,898294481 7,019151788 7,142008453 7,266893839 7,393837650
7 8,214226260 8,380013619 8,549108876 8,721573000 8,897467909
8 9,582795311 9,802114231 10,026564320 10,256259515 10,491315983
9 11,006107123 11,288209372 11,577892536 11,875353788 12,180794942
10 12,486351408 12,841178794 13,206787162 13,583498247 13,971642639
11 14,025805464 14,464031839 14,917126520 15,385590650 15,869941197
12 15,626837683 16,159913272 16,712982846 17,286798136 17,882137669
13 17,291911190 17,932109369 18,598631989 19,292572033 20,015065929
14 19,023587638 19,784054291 20,578563588 21,408663495 22,275969885
15 20,824531143 21,719336734 22,657491768 23,641139987 24,672528078
16 22,697512389 23,741706887 24,840366356 25,996402687 27,212879763
17 24,645412884 25,855083697 27,132384674 28,481204835 29,905652549
18 26,671229400 28,063562463 29,539003908 31,102671100 32,759991701
19 28,778078576 30,371422774 32,065954103 33,868318011 35,785591204
20 30,969201719 32,783136799 34,719251808 36,786075502 38,992726676
21 33,247969788 35,303377955 37,505214398 39,864309654 42,392290276
22 35,617888579 37,937029963 40,430475118 43,111846685 45,995827693
23 38,082604122 40,689196311 43,501998874 46,537998253 49,815577354
24 40,645908287 43,565210145 46,727098818 50,152588157 53,864511996
25 43,311744619 46,570644602 50,113453759 53,965980505 58,156382715
26 46,084214403 49,711323609 53,669126447 57,989109433 62,705765678
27 48,967582980 52,993333171 57,402582769 62,233510452 67,528111619
28 51,966286299 56,423033164 61,322711908 66,711353527 72,639798316
29 55,084937751 60,007069656 65,438847503 71,435477971 78,058186215
30 58,328335261 63,752387791 69,760789878 76,419429259 83,801677388
31 61,701468671 67,666245242 74,298829372 81,677497868 89,889778031
32 65,209527418 71,756226277 79,063770841 87,224760251 96,343164713
33 68,857908515 76,030256460 84,066959383 93,077122065 103,183754596
34 72,652224855 80,496618001 89,320307352 99,251363779 110,434779872
35 76,598313850 85,163965811 94,836322719 105,765188786 118,120866664
36 80,702246403 90,041344272 100,628138855 112,637274170 126,268118664
37 84,970336260 95,138204764 106,709545798 119,887324249 134,904205784
38 89,409149710 100,464423979 113,095023088 127,536127083 144,058458131
39 94,025515698 106,030323058 119,799774242 135,605614072 153,761965619
40 98,826536326 111,846687595 126,839762955 144,118922846 164,047683556
41 103,819597779 117,924788537 134,231751102 153,100463603 174,950544569
42 109,012381691 124,276404021 141,993338657 162,575989101 186,507577243
43 114,412876958 130,913842202 150,143005590 172,572668502 198,758031878
44 120,029392037 137,849965101 158,700155870 183,119165269 211,743513791
45 125,870567718 145,098213531 167,685163663 194,245719359 225,508124618
46 131,945390427 152,672633140 177,119421847 205,984233924 240,098612095
47 138,263206044 160,587901631 187,025392939 218,368366789 255,564528821
48 144,833734286 168,859357204 197,426662586 231,433626963 271,958400550
49 151,667083657 177,503028279 208,347995715 245,217476446 289,335904583
50 158,773767003 186,535664551 219,815395501 259,759437650 307,756058858
191 Daftar Bunga
Daftar VII untuk Σ (1,015)
-n
; Σ (1,02)
-n
; Σ (1,025)
-n
; Σ (1,03)
-n
; Σ (1,035)
-n
n
1,5% 2% 2,5% 3% 3,5%
1 0,985221675 0,980392157 0,975609756 0,970873786 0,966183575
2 1,955883424 1,941560938 1,927424152 1,913469696 1,899694275
3 2,912200417 2,883883273 2,856023563 2,828611355 2,801636981
4 3,854384648 3,807728699 3,761974208 3,717098403 3,673079209
5 4,782644973 4,713459509 4,645828496 4,579707187 4,515052375
6 5,697187165 5,601430891 5,508125362 5,417191444 5,328553020
7 6,598213956 6,471991069 6,349390597 6,230282955 6,114543980
8 7,485925080 7,325481440 7,170137167 7,019692190 6,873955537
9 8,360517320 8,162236706 7,970865529 7,786108922 7,607686509
10 9,222184552 8,982585006 8,752063931 8,530202837 8,316605323
11 10,071117785 9,786848045 9,514208713 9,252624113 9,001551036
12 10,907505207 10,575341221 10,257764598 9,954003994 9,663334335
13 11,731532224 11,348373746 10,983184974 10,634955334 10,302738488
14 12,543381501 12,106248771 11,690912170 11,296073139 10,920520278
15 13,343233006 12,849263501 12,381377726 11,937935087 11,517410896
16 14,131264045 13,577709314 13,055002660 12,561102026 12,094116808
17 14,907649306 14,291871877 13,712197717 13,166118472 12,651320588
18 15,672560892 14,992031252 14,353363626 13,753513079 13,189681727
19 16,426168367 15,678462011 14,978891343 14,323799106 13,709837418
20 17,168638785 16,351433345 15,589162286 14,877474860 14,212403302
21 17,900136734 17,011209161 16,184548571 15,415024136 14,697974205
22 18,620824369 17,658048197 16,765413240 15,936916637 15,167124836
23 19,330861447 18,292204115 17,332110478 16,443608386 15,620410469
24 20,030405366 18,913925603 17,884985833 16,935542122 16,058367603
25 20,719611198 19,523456474 18,424376422 17,413147691 16,481514592
26 21,398631723 20,121035758 18,950611143 17,876842419 16,890352263
27 22,067617461 20,706897802 19,464010872 18,327031474 17,285364505
28 22,726716710 21,281272355 19,964888655 18,764108228 17,667018846
29 23,376075576 21,844384662 20,453549908 19,188454590 18,035767001
30 24,015838006 22,396455551 20,930292593 19,600441349 18,392045411
31 24,646145819 22,937701521 21,395407408 20,000428495 18,736275760
32 25,267138738 23,468334824 21,849177959 20,388765529 19,068865468
33 25,878954422 23,988563553 22,291880935 20,765791776 19,390208182
34 26,481728494 24,498591719 22,723786278 21,131836675 19,700684234
35 27,075594576 24,998619332 23,145157345 21,487220073 20,000661095
36 27,660684311 25,488842482 23,556251068 21,832252498 20,290493812
37 28,237127400 25,969453414 23,957318115 22,167235435 20,570525422
38 28,805051625 26,440640602 24,348603039 22,492461587 20,841087365
39 29,364582882 26,902588826 24,730344428 22,808215133 21,102499869
40 29,915845204 27,355479241 25,102775052 23,114771974 21,355072337
41 30,458960792 27,799489452 25,466122002 23,412399975 21,599103708
42 30,994050042 28,234793580 25,820606831 23,701359199 21,834882809
43 31,521231568 28,661562333 26,166445689 23,981902135 22,062688705
44 32,040622235 29,079963072 26,503849453 24,254273917 22,282791019
45 32,552337177 29,490159875 26,833023856 24,518712541 22,495450260
46 33,056489830 29,892313602 27,154169616 24,775449069 22,700918125
47 33,553191950 30,286581963 27,467482552 25,024707834 22,899437802
48 34,042553646 30,673119572 27,773153709 25,266706635 23,091244253
49 34,524683395 31,052078012 28,071369473 25,501656927 23,276564496
50 34,999688074 31,423605894 28,362311681 25,729764007 23,455617871


192
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Daftar VIII untuk Σ (1,04)
-n
; Σ (1,045)
-n
; Σ (1,05)
-n
; Σ (1,055)
-n
; Σ (1,06)
–n
n
4% 4,5% 5% 5,5% 6%
1 0,961538462 0,956937799 0,952380952 0,947867299 0,943396226
2 1,886094675 1,872667750 1,859410431 1,846319714 1,833392666
3 2,775091033 2,748964354 2,723248029 2,697933378 2,673011949
4 3,629895224 3,587525698 3,545950504 3,505150122 3,465105613
5 4,451822331 4,389976744 4,329476671 4,270284476 4,212363786
6 5,242136857 5,157872483 5,075692067 4,995530309 4,917324326
7 6,002054670 5,892700940 5,786373397 5,682967117 5,582381440
8 6,732744875 6,595886067 6,463212759 6,334565988 6,209793811
9 7,435331611 7,268790495 7,107821676 6,952195249 6,801692274
10 8,110895779 7,912718177 7,721734929 7,537625829 7,360087051
11 8,760476711 8,528916916 8,306414218 8,092536330 7,886874577
12 9,385073760 9,118580781 8,863251636 8,618517849 8,383843940
13 9,985647847 9,682852422 9,393572987 9,117078530 8,852682963
14 10,563122929 10,222825284 9,898640940 9,589647895 9,294983927
15 11,118387432 10,739545726 10,379658038 10,037580943 9,712248988
16 11,652295608 11,234015049 10,837769560 10,462162032 10,105895271
17 12,165668854 11,707191435 11,274066248 10,864608561 10,477259690
18 12,659296975 12,159991803 11,689586903 11,246074465 10,827603481
19 13,133939399 12,593293592 12,085320860 11,607653522 11,158116492
20 13,590326345 13,007936451 12,462210343 11,950382485 11,469921219
21 14,029159947 13,404723877 12,821152707 12,275244062 11,764076621
22 14,451115334 13,784424763 13,163002578 12,583169727 12,041581718
23 14,856841667 14,147774893 13,488573884 12,875042395 12,303378979
24 15,246963141 14,495478366 13,798641794 13,151698952 12,550357528
25 15,622079944 14,828208963 14,093944566 13,413932656 12,783356158
26 15,982769177 15,146611448 14,375185301 13,662495409 13,003166187
27 16,329585747 15,451302821 14,643033620 13,898099914 13,210534139
28 16,663063218 15,742873513 14,898127257 14,121421719 13,406164282
29 16,983714633 16,021888529 15,141073578 14,333101156 13,590721021
30 17,292033301 16,288888544 15,372451027 14,533745171 13,764831151
31 17,588493558 16,544390951 15,592810502 14,723929072 13,929085992
32 17,873551498 16,788890863 15,802676668 14,904198173 14,084043389
33 18,147645672 17,022862070 16,002549208 15,075069358 14,230229612
34 18,411197761 17,246757961 16,192904008 15,237032567 14,368141143
35 18,664613232 17,461012403 16,374194293 15,390552196 14,498246362
36 18,908281954 17,666040577 16,546851708 15,536068432 14,620987134
37 19,142578802 17,862239787 16,711287341 15,673998514 14,736780315
38 19,367864232 18,049990227 16,867892705 15,804737928 14,846019165
39 19,584484839 18,229655719 17,017040672 15,928661543 14,949074684
40 19,792773883 18,401584420 17,159086354 16,046124685 15,046296872
41 19,993051811 18,566109493 17,294367956 16,157464157 15,138015917
42 20,185626741 18,723549754 17,423207577 16,262999201 15,224543317
43 20,370794944 18,874210291 17,545911978 16,363032418 15,306172941
44 20,548841292 19,018383054 17,662773313 16,457850633 15,383182020
45 20,720039704 19,156347420 17,774069822 16,547725718 15,455832094
46 20,884653561 19,288370737 17,880066497 16,632915373 15,524369900
47 21,042936117 19,414708839 17,981015711 16,713663861 15,589028208
48 21,195130881 19,535606544 18,077157820 16,790202711 15,650026611
49 21,341472001 19,651298129 18,168721734 16,862751385 15,707572275
50 21,482184617 19,762007779 18,255925461 16,931517901 15,761860636
193 Daftar Bunga
Daftar IX untuk
n -
(1,015)
1
Σ
,
n -
(1,02)
1
Σ
,
n -
(1,025)
1
Σ
,
n -
(1,03)
1
Σ
,
n -
(1,035)
1
Σ
n
1,5% 2% 2,5% 3% 3,5%
1 1,015000000 1,020000000 1,025000000 1,030000000 1,035000000
2 0,511277916 0,515049505 0,518827160 0,522610837 0,526400491
3 0,343382960 0,346754673 0,350137167 0,353530363 0,356934181
4 0,259444786 0,262623753 0,265817878 0,269027045 0,272251139
5 0,209089323 0,212158394 0,215246861 0,218354571 0,221481373
6 0,175525215 0,178525812 0,181549971 0,184597500 0,187668209
7 0,151556165 0,154511956 0,157495430 0,160506354 0,163544494
8 0,133584025 0,136509799 0,139467346 0,142456389 0,145476647
9 0,119609823 0,122515437 0,125456890 0,128433857 0,131446005
10 0,108434178 0,111326528 0,114258763 0,117230507 0,120241368
11 0,099293844 0,102177943 0,105105956 0,108077448 0,111091966
12 0,091679993 0,094559597 0,097487127 0,100462085 0,103483949
13 0,085240357 0,088118353 0,091048271 0,094029544 0,097061573
14 0,079723319 0,082601970 0,085536525 0,088526339 0,091570729
15 0,074944356 0,077825472 0,080766456 0,083766580 0,086825069
16 0,070765078 0,073650126 0,076598989 0,079610849 0,082684831
17 0,067079657 0,069969841 0,072927770 0,075952529 0,079043132
18 0,063805782 0,066702102 0,069670081 0,072708696 0,075816841
19 0,060878470 0,063781766 0,066760615 0,069813881 0,072940325
20 0,058245736 0,061156718 0,064147129 0,067215708 0,070361077
21 0,055865495 0,058784769 0,061787327 0,064871776 0,068036587
22 0,053703315 0,056631401 0,059646606 0,062747395 0,065932074
23 0,051730752 0,054668098 0,057696378 0,060813903 0,064018804
24 0,049924102 0,052871097 0,055912820 0,059047416 0,062272830
25 0,048263454 0,051220438 0,054275921 0,057427871 0,060674035
26 0,046731960 0,049699231 0,052768747 0,055938290 0,059205396
27 0,045315268 0,048293086 0,051376872 0,054564210 0,057852410
28 0,044001076 0,046989672 0,050087933 0,053293233 0,056602645
29 0,042778780 0,045778355 0,048891268 0,052114671 0,055445382
30 0,041639188 0,044649922 0,047777641 0,051019259 0,054371332
31 0,040574295 0,043596347 0,046739002 0,049998929 0,053372400
32 0,039577097 0,042610607 0,045768312 0,049046618 0,052441505
33 0,038641438 0,041686531 0,044859382 0,048156122 0,051572422
34 0,037761886 0,040818673 0,044006751 0,047321963 0,050759658
35 0,036933630 0,040002209 0,043205582 0,046539292 0,049998347
36 0,036152396 0,039232853 0,042451577 0,045803794 0,049284163
37 0,035414367 0,038506779 0,041740899 0,045111624 0,048613245
38 0,034716133 0,037820566 0,041070118 0,044459340 0,047982141
39 0,034054630 0,037171144 0,040436153 0,043843852 0,047387751
40 0,033427102 0,036555748 0,039836233 0,043262378 0,046827282
41 0,032831061 0,035971884 0,039267856 0,042712409 0,046298217
42 0,032264257 0,035417295 0,038728757 0,042191673 0,045798276
43 0,031724649 0,034889933 0,038216883 0,041698110 0,045325391
44 0,031210380 0,034387939 0,037730368 0,041229847 0,044877682
45 0,030719760 0,033909616 0,037267511 0,040785176 0,044453433
46 0,030251246 0,033453416 0,036826757 0,040362538 0,044051082
47 0,029803424 0,033017922 0,036406686 0,039960506 0,043669194
48 0,029375000 0,032601836 0,036005994 0,039577774 0,043306458
49 0,028964784 0,032203964 0,035623485 0,039213138 0,042961666
50 0,028571683 0,031823210 0,035258057 0,038865494 0,042633710


194
Matematika XII SMK Kelompok: Penjualan dan Akuntansi
Daftar X untuk
n -
(1,04)
1
Σ
,
n -
(1,045)
1
Σ
,
n -
(1,05)
1
Σ
,
n -
(1,055)
1
Σ
,
n -
(1,06)
1
Σ
n
4% 4,5% 5% 5,5% 6%
1 1,040000000 1,045000000 1,050000000 1,055000000 1,060000000
2 0,530196078 0,533997555 0,537804878 0,541618005 0,545436893
3 0,360348539 0,363773360 0,367208565 0,370654075 0,374109813
4 0,275490045 0,278743648 0,282011833 0,285294485 0,288591492
5 0,224627113 0,227791640 0,230974798 0,234176436 0,237396400
6 0,190761903 0,193878388 0,197017468 0,200178948 0,203362628
7 0,166609612 0,169701468 0,172819818 0,175964418 0,179135018
8 0,148527832 0,151609653 0,154721814 0,157864012 0,161035943
9 0,134492993 0,137574470 0,140690080 0,143839458 0,147022235
10 0,123290944 0,126378822 0,129504575 0,132667769 0,135867958
11 0,114149039 0,117248182 0,120388891 0,123570653 0,126792938
12 0,106552173 0,109666189 0,112825410 0,116029231 0,119277029
13 0,100143728 0,103275353 0,106455765 0,109684259 0,112960105
14 0,094668973 0,097820316 0,101023969 0,104279115 0,107584909
15 0,089941100 0,093113808 0,096342288 0,099625598 0,102962764
16 0,085819999 0,089015369 0,092269908 0,095582538 0,098952144
17 0,082198522 0,085417583 0,088699142 0,092041972 0,095444804
18 0,078993328 0,082236898 0,085546222 0,088919916 0,092356541
19 0,076138618 0,079407344 0,082745010 0,086150056 0,089620860
20 0,073581750 0,076876144 0,080242587 0,083679330 0,087184557
21 0,071280105 0,074600567 0,077996107 0,081464775 0,085004547
22 0,069198811 0,072545646 0,075970509 0,079471232 0,083045569
23 0,067309057 0,070682493 0,074136822 0,077669647 0,081278485
24 0,065586831 0,068987030 0,072470901 0,076035804 0,079679005
25 0,064011963 0,067439028 0,070952457 0,074549353 0,078226718
26 0,062567380 0,066021367 0,069564321 0,073193071 0,076904347
27 0,061238541 0,064719462 0,068291860 0,071952282 0,075697166
28 0,060012975 0,063520805 0,067122530 0,070814400 0,074592552
29 0,058879934 0,062414615 0,066045515 0,069768572 0,073579614
30 0,057830099 0,061391543 0,065051435 0,068805390 0,072648911
31 0,056855352 0,060443446 0,064132120 0,067916654 0,071792220
32 0,055948590 0,059563196 0,063280419 0,067095189 0,071002337
33 0,055103566 0,058744528 0,062490044 0,066334687 0,070272935
34 0,054314772 0,057981912 0,061755445 0,065629577 0,069598425
35 0,053577322 0,057270448 0,061071707 0,064974927 0,068973859
36 0,052886878 0,056605780 0,060434457 0,064366349 0,068394835
37 0,052239566 0,055984021 0,059839794 0,063799929 0,067857427
38 0,051631919 0,055401692 0,059284228 0,063272166 0,067358124
39 0,051060827 0,054855671 0,058764624 0,062779914 0,066893772
40 0,050523489 0,054343147 0,058278161 0,062320343 0,066461536
41 0,050017377 0,053861580 0,057822292 0,061890900 0,066058855
42 0,049540201 0,053408676 0,057394713 0,061489273 0,065683415
43 0,049089886 0,052982349 0,056993333 0,061113367 0,065333118
44 0,048664544 0,052580706 0,056616251 0,060761276 0,065006057
45 0,048262456 0,052202018 0,056261735 0,060431265 0,064700496
46 0,047882049 0,051844711 0,055928204 0,060121751 0,064414853
47 0,047521885 0,051507340 0,055614211 0,059831286 0,064147680
48 0,047180648 0,051188582 0,055318431 0,059558542 0,063897655
49 0,046857124 0,050887224 0,055039645 0,059302303 0,063663562
50 0,046550200 0,050602146 0,054776735 0,059061450 0,063444286
99
Pola Bilangan, Barisan,
dan Deret
Pola bilangan, barisan, dan deret merupakan materi baru yang akan kamu
pelajari pada bab ini. Terdapat beberapa masalah yang penyelesaiannya
memerlukan materi ini, contohnya sebagai berikut.
Jumlah bakteri dalam suatu kondisi tertentu bertambah dari
10.000 menjadi 25.000 dalam 4 hari. Jika jumlah bakteri tersebut
terus bertambah menurut deret geometri, berapa banyak pertumbuhan
bakteri tersebut per hari?
Untuk menjawabnya, pelajari bab ini dengan baik.
A. Pola Bilangan
B. Barisan
Bilangan
C. Deret Bilangan
6
Bab
Pola Bilangan, Barisan,
6
Ba
S
u
m
b
er: w
w
w.medecinepharmacie.univ-fco
m
te
.fr
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
100
Sebelum mempelajari materi pada bab ini, kerjakan soal-soal berikut.
A. Pola Bilangan
Pernahkah kamu memperhatikan dadu? Pada umumnya, dadu memiliki
bilangan-bilangan yang digambarkan dalam bentuk bulatan. Coba kamu
perhatikanGambar 6.1 . Gambar tersebut menunjukkanbahwa dadumemiliki
bulatan-bulatan kecil (disebut noktah atau titik) di setiap sisinya. Noktah-
noktah tersebut mewakili bilangan-bilangan yang ditentukan. Satu noktah
mewakili bilangan 1, dua noktah mewakili bilangan 2, dan begitu seterusnya
hingga enam noktah yang mewakili bilangan 6. Penggunaan noktah untuk
mewakili suatu bilangan tertentu sebenarnya telah digunakan manusia pada
zaman dahulu. Uniknya, penulisan noktah-noktah tersebut ternyata mengikuti
pola yang didasarkan pada bentuk bangun datar atau bangun ruang.
1. Pola Garis Lurus
Penulisan bilangan yang mengikuti pola garis lurus merupakan pola bilangan
yang paling sederhana. Suatu bilangan hanya digambarkan dengan noktah
yang mengikuti pola garis lurus. Misalnya,
a. mewakili bilangan 2.
b. mewakili bilangan 3.
c. mewakili bilangan 4.
d. mewakili bilangan 5.
Gambarkan bilangan-bilangan berikut dalam bentuk noktah yang berpola garis
lurus.
a. 8 b. 11 c. 15
Jawab:
a.
b.
c.
rkan bilan rkan bilan
Contoh
Soal 6.1
1. Tuliskan himpunan bilangan ganjil antara 1 dan 10.
2. Tuliskan himpunan genap antara 10 dan 20.
3. Tuliskan bilangan kelipatan tiga antara 50 dan 70.
4. Tuliskan bilangan kelipatan 5 antara 80 dan 95.
5. Hitunglah:
a. 5
4
c. 10(1,5)
3
b. (1,5)
3
d.
7
2
15 25 ( ) +
Semua bilangan asli dapat
digambarkan dengan
noktah-noktah yang
mengikuti pola garis lurus.
Semua b Semua
Plus+
Uji Kompetensi Awal
Gambar 6.1 : Dadu
Sumber: Dokumentasi Penulis
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
101
Dari bilangan-bilangan berikut, manakah yang dapat mengikuti pola
persegipanjang? Jelaskan dengan gambar.
a. 15 b. 16 c. 17
Jawab:
a. Bilangan 15 merupakan hasil perkalian 3 dan 5. Jadi,
mengikuti pola persegipanjang.
b. Bilangan 16 merupakan hasil perkalian 2 dan 8. Jadi,

mengikuti pola persegipanjang.
c. Bilangan 17 merupakan hasil perkalian dari 1 dan 17. Jadi,

mengikuti pola garis lurus.
angan-bil angan bi
Contoh
Soal 6.2
2. Pola Persegipanjang
Pada umumnya, penulisan bilangan yang didasarkan pada pola persegipanjang
hanya digunakan oleh bilangan bukan prima. Pada pola ini, noktah-noktah
disusun menyerupai bentuk persegipanjang. Misalnya,
a. mewakili bilangan 6, yaitu 2
x
3 = 6.
b. mewakili bilangan 8, yaitu 2 4 = 8.

c. mewakili bilangan 6, yaitu 3 2 = 6.
Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan contoh soal berikut.
3. Pola Persegi
Persegi merupakan bangun datar yang semua sisinya memiliki ukuran yang
sama panjang. Begitu pula dengan penulisan pola bilangan yang mengikuti
pola persegi. Semua noktah digambarkan dengan jumlah yang sama.
Perhatikan uraian berikut.
a. mewakili bilangan 1, yaitu 1 1 = 1.
b. mewakili bilangan 4, yaitu 2 × 2 = 4.
x
x
x
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
102
c. mewakili bilangan 9, yaitu 3 3 = 9.
d. mewakili bilangan 16, yaitu 4 4 = 16.
Jika dilanjutkan, bilangan-bilangan yang digambarkan mengikuti pola
persegi adalah : 1, 4, 9, 16, 25, 36, 49, 64, 81, 100, ...
Bilangan-bilangan tersebut merupakan bilangan kuadrat (pangkat dua).
Jika kamu perhatikan, bilangan kuadrat memiliki pola sebagai berikut.
1
+3
+2
4
+5
+2
9
+7
+2
16
+9
+2
25
+11
+2
36
+13
+2
49
+15
+2
64
+17
+2
81
+19
100
1. Dengan menggunakan ciri-ciri penulisan bilangan yang memiliki pola persegi,
tentukan bilangan manakah yang mengikuti pola persegi?
a. 60
b. 196
c. 225
2. Seorang anak menyusun persegi dari batang lidi yang mengikuti pola sebagai
berikut.
Berapa banyak lidi yang dibutuhkan untuk membuat persegi pada pola ke-5?
Jawab:
1. a. Bilangan 60 bukan merupakan bilangan kuadrat. Jadi, bilangan 60 tidak
dapat digambarkan mengikuti pola persegi.
b. Bilangan 196 merupakan bilangan kuadrat dari 14. Jadi, bilangan 196 dapat
digambarkan mengikuti pola persegi.
c. Bilangan 225 merupakan bilangan kuadrat dari 15. Jadi, bilangan 225 dapat
digambarkan mengikuti pola persegi.
Contoh
Soal 6.3
Pola 1 Pola 2 Pola 3
x
x
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
103
2. Persegi yang dibentuk pada pola ke-5 dapat digambarkan sebagai berikut.
4. Pola Segitiga
Selain mengikuti pola persegipanjang dan persegi, bilangan pun dapat
digambarkan melalui noktah yang mengikuti pola segitiga. Untuk lebih
jelasnya, coba kamu perhatikan lima bilangan yang mengikuti pola segitiga
berikut ini.
a. mewakili bilangan 1.
b. mewakili bilangan 3.
c. mewakili bilangan 6.
d. mewakili bilangan 10.
Jadi, bilangan yang mengikuti pola segitiga dapat dituliskan sebagai
berikut.
1, 3, 6, 10, 15, 21, 28, 36, 45, ...
Coba kamu perhatikan bilangan yang memiliki pola segitiga. Ternyata,
bilangan-bilangan tersebut dibentuk mengikuti pola sebagai berikut.
Dari gambar di samping, banyak lidi yang
dibutuhkan untuk membuat persegi pada
pola ke-5 adalah 60 lidi.
1
+2
+1
3
+3
+1
6
+4
+1
10
+5
+1
15
+6
+1
21
+7
+1
28
+8
36
www.free.vism
www.sgi.com
Situs Matematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
104
atau
1 = 1
3 = 1 + 2
6 = 1 + 2 + 3
10 = 1 + 2 + 3 + 4
15 = 1 + 2 + 3 + 4 + 5
dan seterusnya.
Apa yang dapat kamu simpulkan dari uraian tersebut?
1. Tentukan lima bilangan segitiga setelah bilangan 36.
2. Seorang anak membuat kerangka segitiga dari batang lidi dengan mengikuti
pola sebagai berikut.
Berapa banyak lidi yang diperlukan untuk membuat pola ke-4?
Jawab:
1. Lima bilangan segitiga setelah bilangan 36 dapat ditentukan dengan pola:
Jadi, bilangan segitiga tersebut adalah 45, 55, 66, 78 dan 91
2. Segitiga yang dibentuk pada pola keempat dapat digambarkan sebagai berikut.
t k li k li
Contoh
Soal 6.4
pola 1 pola 2
36 + 9 = 45 + 10 = 55 + 11 = 66 + 12 = 78 + 13 = 91
Dari gambar di samping, banyaknya batang lidi yang
dibutuhkan untuk membuat kerangka segitiga yang
sesuai dengan pola ke-4 adalah 30 batang lidi
5. Pola Bilangan Ganjil dan Genap
Bilangan yang memiliki pola bilangan ganjil atau genap biasanya memiliki
selisih dua angka antara bilangan yang satu dengan bilangan sebelumnya.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian berikut.
a. Pola Bilangan Ganjil
Pola bilangan ganjil memiliki aturan sebagai berikut.
(1) Bilangan 1 sebagai bilangan awal.
(2) Bilangan selanjutnya memiliki selisih 2 dengan bilangan sebelumnya.
Perhatikan pola bilangan ganjil berikut ini.
1
+2
3
+2
5
+2
7
+2
9
+2
11
+2
13
+2
15
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
105
2
+2
4
+2
6
+2
8
+2
10
+2
12
+2
14
+2
16
1. Isilah titik-titik berikut sehingga membentuk pola bilangan genap.
... ... ... ... 28 ... ... ... ... 38 ...
2. Isilah titik-titik berikut sehingga membentuk pola bilangan ganjil.
... 51 ... ... ... ... ... ... ... ... ... 69
Jawab:
1. Pola bilangan genap yang dimaksud adalah
20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40
2. Pola bilangan ganjil yang dimaksud adalah
49 51 53 55 57 59 61 63 65 67 69
ah titik tit h titik ti
Contoh
Soal 6.5
6. Pola Segitiga Pascal
Bilangan-bilangan yang disusun menggunakan pola segitiga Pascal memiliki
pola yang unik. Hal ini disebabkan karena bilangan yang berpola segitiga
Pascal selaludiawali dandiakhiri olehangka 1. Selainitu, di dalamsusunannya
selalu ada angka yang diulang. Adapun aturan-aturan untuk membuat pola
segitiga Pascal adalah sebagai berikut.
Carilah contoh lain pola
bilangan ganjil dan genap
selain contoh yang sudah ada.
Bandingkan hasilnya dengan
teman sebangkumu
Tugas 6.1
a. Angka 1 merupakan angka awal yang terdapat di puncak.
b. Simpan dua bilangan di bawahnya. Oleh karena angka awal dan akhir
selalu angka 1, kedua bilangan tersebut adalah 1.
c. Selanjutnya, jumlahkan bilangan yang berdampingan. Kemudian,
simpan hasilnya di bagian tengah bawah kedua bilangan tersebut.
d. Proses ini dilakukan terus sampai batas susunan bilangan yang diminta.
b. Pola Bilangan Genap
Pola bilangan genap memiliki aturan sebagai berikut.
(1) Bilangan 2 sebagai bilangan awal.
(2) Bilangan selanjutnya memiliki selisih 2 dengan bilangan sebelumnya.
Perhatikan pola bilangan genap berikut ini.
Agar kamu lebih memahami pola bilangan ganjil dan genap, coba kamu
perhatikan contoh soal berikut ini.
dan seterusnya.
1 1
1
1
1 1
1
4
5
3
6
10
3
4
10
1
5
1
1 2 1
Untuk lebih jelasnya, perhatikan pola segitiga Pascal berikut.
Pola bilangan segitiga
Pascal ini dapat digunakan
dalam perhitungan
matematika lainnya.
Salah satunya adalah
variabel bilangan
berpangkat
Pola bila Pola bil
Plus+
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
106
Banyaknya
Persegi
Banyaknya
Batang
Lidi
yang
Digunakan
Banyaknya
Batang
Lidi
pada
Kelilingnya
1
2
3
...
...
...
...
4
7
...
...
...
...
...
4
6
...
...
...
...
...
baris 1
baris 2
baris 3
7. Berikut ini adalah pola yang dibuat dari batang
lidi.
a. Salinlah pola tersebut dan tentukan tiga pola
berikutnya.
b. Berapa banyak batang lidi yang diperlukan
untuk membuat pola 1, 2, 3, dan 4?
8. Berdasarkan pola yang telah dibuat pada soal
nomor 7, isilah titik-titik pada tabel berikut.
9. Tentukan nilai m dan n sehingga pola bilangan
berikut mempunyai pola tertentu.
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Perhatikan pola noktah berikut.
a. Salinlah kembali pola noktah tersebut dan
lanjutnya tiga pola noktah berikutnya.
b. Tulislah pola noktah tersebut dalam bentuk
angka.
c. Jelaskan pola bilangan tersebut.
2. Isilah tabel berikut.
3. Buatlahpola noktahdari bilangan-bilanganberikut.
Kemudian, tentukan jenis pola yang digunakan.
a. 9 d. 12
b. 10 e. 13
c. 11
4. Istilah titik-titik berikut dengan memperhatikan
pola yang digunakan.
a. 1, 2, 4, 8, 32, 256, ...
b. 1, 5, 9, ..., 17, 21, 25
c. 5, 10, 15, 20, 25, ... , 35
d. 1, 4, 10, 19, 31, ... , ...
e. 1, 4, 9, 16, ... , ..., 49
5. Berikut ini adalah pola yang dibuat dari batang
lidi.
a. a l o p a g i t n a k t u j n a l n a d t u b e s r e t a l o p h a l n i l a S
berikutnya.
b. Berapa banyak batang lidi yang diperlukan
untuk membuat pola kesepuluh?
6. Tentukan pola bilangan berikut dan isilah titik-titik
yang telah disediakan.
a. 1, 8, 27, 64, ..., ..., ...
b. 13, 23, ..., ..., ..., 63, 73
c. 1 + 2, 2 + 3, 3 + 4, ..., ..., 6 + 7
d. ..., ..., 75, 100, 125, ..., 175
e. 1, 1 + 2, 1 + 2 + 3, ..., ..., ..., ...,
Pola
Bilangan
Bilangan
Pada Dadu
Bilangan
Pada Kartu Domino
Garis lurus ... ...
... ...
... ...
Persegi
Persegi
panjang
(a) (b) (c) (d)
a. 7, 10, m, 16, 19, 22, n, ...
b. 1, 2, 5, 6, 9, 10, m, n,
c. 1, 6, 16, m, 51, n, ...
d. 1, 6, m, 7, 3, n, 4
e. m, 12, 19, 26, n, 40, ...
10. Di sebuah bioskop, susunan tempat duduknya
digambarkan sebagai berikut.
a. Berdasarkanpolatersebut, berapakahbanyaknya
kursi pada baris ke-6?
b. Jika di bioskop tersebut hanya terdapat enam
baris kursi, berapa jumlah kursi di bioskop
tersebut?
Uji Kompetensi 6.1
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
107
B. Barisan Bilangan
Perhatikan pola bilangan-bilangan berikut.
a. 2, 4, 6, 8
b. 1, 3, 5, 7, ...
c. 3, 6, 9, 12, 15, ...
Jika kamu perhatikan, bilangan-bilangan pada (a), (b), dan (c) disusun
mengikuti pola tertentu. Bilangan-bilangan tersebut disebut barisan bilangan .
Adapun setiap bilangan dalam barisan bilangan disebut suku barisan . Suku
ke-n suatu barisan bilangan dilambangkan dengan U
n
.
Pada barisan bilangan 2, 4, 6, 8, diperoleh
U
1
= suku ke-1 = 2
U
2
= suku ke-2 = 4
U
3
= suku ke-3 = 6
U
4
= suku ke-4 = 8
Jadi, barisan bilangan 2, 4, 6, 8 memiliki 4 buah suku.
Tanda “ ... “ pada akhir
barisan bilangan
menunjukkan bahwa
barisan tersebut memiliki
banyak sekali suku
Tanda T “ Tanda T “
Plus+
1. Diketahui barisan bilangan 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15.
a. Tentukan banyaknya suku barisan dalam barisan bilangan tersebut.
b. Sebutkan satu per satu suku yang dimaksud.
2. Diketahui barisan bilangan 5, 10, 20, 40, 80.
Tentukan U
2
, U
4
, dan U
5
.
Jawab:
1. a. Terdapat 8 suku barisan dalam barisan bilangan tersebut.
b. U
1
= 1 U
5
= 9
U
2
= 3 U
6
= 11
U
3
= 5 U
7
= 13
U
4
= 7 U
8
= 15
2. U
2
= suku kedua = 10
U
4
= suku keempat = 40
U
5
= suku kelima = 80
ketahui ba ketahui ba
Contoh
Soal 6.6
Berdasarkan polanya, barisan bilangan dibagi menjadi dua bagian, yaitu
barisan arimetika (barisan hitung) dan barisan geometri (barisan ukur). Agar
kamu lebih memahaminya, perhatikan uraian berikut ini.
1. Barisan Aritmetika (Barisan Hitung)
Barisan aritmetika adalah barisan bilangan yang mempunyai beda atau
selisih yang tetap antara dua suku barisan yang berurutan. Perhatikan uraian
berikut.
• Diketahui barisan bilangan:
Barisan bilangan tersebut memiliki beda atau selisih 3 antara dua suku
barisan yang berurutan. Berarti, barisan bilangan tersebut merupakan barisan
aritmetika.
1
+3
4
+3
7
+3
10
+3
13
+3
16
+3
19
+3
22
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
108
Tentukan jenis barisan aritmetika berikut berdasarkan nilai bedanya.
a. 30, 32, 34, 36, 38, ...
b. 18, 15, 12, 9, 6, 3, ...
c. −10, −14, –18, −22, −26, ...
Jawab
a.
merupakan barisan aritmetika naik karena bedanya 2.
b.
merupakan barisan aritmetika turun karena bedanya −3.
c .
merupakan barisan aritmetika turun karena bedanya −4.
18
−3
15
−3
12
−3
9
−3 −3
6 3
−10 −14 −18 −22 −26
−4 −4 −4 −4
Kamu telah memahami barisan aritmetika naik dan turun. Sekarang,
bagaimana mencari salah satu suku barisan jika yang diketahui hanya suku
pertama dan bedanya saja? Bagaimana mencari beda jika yang diketahui
hanya suku pertama dan satu suku barisan yang lain? Untuk menjawabnya,
pelajarilah uraian berikut.
Diketahui barisan bilangan aritmetika sebagai berikut.
U
1
, U
2
, U
3
, U
4
, U
5
, U
6
, ..., U
n – 1
, U
n
Dari barisan tersebut diperoleh
U
1
= a (suku pertama dilambangkan dengan a)
U
2
= U
1
+ b = a + b
U
3
= U
2
+ b = (a + b) + b = a + 2b
U
4
= U
3
+ b = (a + 2b) + b = a + 3b
30
+2
32
+2
34
+2
36
+2
38
8
–4
4
–4
0
–4
−4
–4
−8
–4
−12
–4
−16
–4
−20
an jenis ba an jenis b
Contoh
Soal 6.7
• Diketahui barisan bilangan:
Barisan bilangan tersebut memiliki beda atau selisih yang tetap antara dua
suku barisan yang berurutan, yaitu –4. Berarti, barisan bilangan tersebut
merupakan barisan aritmetika.
Dari kedua uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa barisan aritmetika
memiliki beda (sering dilambangkan dengan b) yang tetap. Jika b bernilai
positif maka barisan aritmetika itu dikatakan barisan aritmetika naik.
Sebaliknya, Jika b bernilai negatif maka barisan aritmetika itu disebut barisan
arimetika turun.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut.
Fibonacci, yang nama
lengkapnya adalah
Leonardo of Pisa, adalah
putra seorang saudagar
Italia. Dalam perjalanannya
ke Eropa dan Afrika Utara,
ia mengembangkan
kegemarannya akan
bilangan. Dalam karya
terbesarnya, Liber Abaci,
ia menjelaskan sebuah
teka-teki yang sekarang
kita kenal dengan barisan
Fibonacci. Barisan tersebut
adalah 1, 1, 2, 3, 5, 8, ....
Setiap bilangan atau
angka dalam barisan ini
merupakan jumlah dari dua
bilangan sebelumnya.
(1 + 1 = 2, 1 + 2 = 3, 2 + 3 = 5, ...).
Sumber: Ensiklopedi Matematika
dan Peradaban Manusia, 2002
Fibonacci
(1180 –1250)
Sumber: www.lahabra.seniorhigh.net
Sekilas
Matematika
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
109
U
5
= U
4
+ b = (a + 3b) + b = a + 4b
U
6
= U
5
+ b = (a + 4b) + b = a + 5b
.
.
.
U
n
= U
n − 1
+ b = (a + (n − 2) b ) + b = a + (n − 1) b
Jadi, rumus ke-n barisan aritmetika dapat ditulis sebagai berikut.
U
n
= a + (n − 1) b
Untuk mencari beda dalam suatu barisan aritmetika, coba kamu perhatikan
uraian berikut.
U
2
= U
1
+ b maka b = U
2
− U
1
U
3
= U
2
+ b maka b = U
3
− U
2
U
4
= U
3
+ b maka b = U
4
− U
3
U
5
= U
4
+ b maka b = U
5
− U
4
.
.
.
U
n
= U
n − 1
+ b maka b = U
n
− U
n − 1
Jadi, beda suatu barisan aritmetika dinyatakan sebagai berikut.
b = U
n
− U
n − 1
Agar kamu lebih memahami materi ini, perhatikan contoh-contoh soal
berikut.
Diketahui barisan aritmetika sebagai berikut.
10, 13, 16, 19, 22, 25, .... Tentukan:
a. jenis barisan aritmetikanya,
b. suku kedua belas barisan tersebut.
Jawab:
a. Untuk menentukan jenis barisan aritmetika, tentukan nilai beda pada barisan
tersebut.
b = U
2
− U
1
= 13 − 10 = 3
Oleh karena b > 0, barisan aritmetika tersebut merupakan barisan aritmetika
naik.
b. Untuk mencari suku kedua belas (U
12
), dilakukan cara sebagai berikut.
U
n
= a + (n − 1)b maka U
12
= 10 + (12 − 1) 3
= 10 + 11 · 3
= 10 + 33 = 43
Jadi, suku kedua belas barisan tersebut adalah 43.
ui barisan ui barisa
Contoh
Soal 6.8
Sebuah barisan aritmetika memiliki suku pertama 6 dan suku ketujuh 24.
a. Tentukan beda pada barisan tersebut.
b. Tuliskan sepuluh suku pertama dari barisan tersebut.
barisan a barisan a
Contoh
Soal 6.9
Isilah dengan barisan
bilangan yang tepat.
1
1 1
2 1
1 2 1 1
1 1 1 2 2 1
3 1 2 2 1 1
1 3 1 1 2 2 2 1

Problematika
127, 119, 111, 103, 95, ...
Rumus suku ke-n dari
barisan bilangan di atas
adalah ....
a. 8n + 119 c. 135 – 8n
b. 119 – 8n d. 8n + 135
Jawab:
Diketahui: U
1
= a = 127
U
2
= 119
b = –8
Rumus umum suku ke-n
adalah
U
n
= a + (n – 1) b
= 127 + (n – 1) (–8)
= 127 – 8n + 8
= 135 – 8n
Jawaban: c
Soal UAN, 2002
Solusi
Matematika
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
110
Setiap bulan, Ucok selalu menabung di bank. Pada bulan pertama, ia menabung
sebesar Rp10.000,00, bulan kedua ia menabung sebesar Rp11.000,00, bulan ketiga
ia menabung sebesar Rp12.000, 00. Demikian seterusnya, ia selalu menabung lebih
Rp1.000,00 setiap bulannya.
a. Nyatakanlah uang yang ditabung Ucok (dalam ribuan rupiah) untuk 8 bulan
pertama.
b. Tentukan jumlah uang yang ditabung Ucok pada bulan ke-12.
Jawab :
a. Dalam ribuan rupiah, uang yang ditabung Ucok untuk 8 bulan pertama adalah
sebagai berikut.
10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17
b. Diketahui : U
1
= 10
b = 1
U
12
= a + (n – 1) b
= 10 + (12 – 1) 1
= 10 + 11
= 21
Jadi, uang yang ditabung Ucok pada bulan ke-12 adalah Rp21.000,00.
Diketahui suatu barisan aritmetika :−8, −3, 2, 7, 12, 17, ...
Tentukan rumus suku ke-n yang berlaku pada barisan tersebut.
Jawab:
Diketahui: a = U
1
= −8
b = U
2
− U
1
= −3 − (−8)
= −3 + 8
= 5
Jadi, rumus umum yang berlaku pada barisan tersebut adalah
U
n
= a + (n − 1) b
= −8 + (n − 1) 5
= −8 + 5n − 5
= 5n − 13
i t b
Contoh
Soal 6.10
l U
Contoh
Soal 6.11
Jawab:
Diketahui : suku pertama = a = 6
suku ketujuh = U
7
= 36
a. Untuk menentukan beda:
U
n
= a + (n − 1) b maka U
7
= 6 + (7 − 1) b
36 = 6 + 6 b
36 − 6 = 6 b
30 = 6 b
b = 5
Jadi, beda pada barisan itu adalah 5.
b. Dengan suku pertama 6 dan beda 5 diperoleh barisan aritmetika sebagai berikut.
6, 11, 16, 21, 26, 31, 36, 41, 46, 51

Di dalam suatu gedung
pertunjukan, disusun kursi
dengan baris paling depan
terdiri atas 12 kursi, baris
kedua 14 kursi, baris ketiga
16 kursi, dan seterusnya
selalu bertambah dua.
Banyak kursi pada baris ke-
20 adalah ....
a. 28 buah
b. 50 buah
c. 58 buah
d. 60 buah
Jawab:
Misalkan, U
n
= banyak kursi
pada baris ke-n
Diketahui:
U
1
= 12, U
2
= 14, dan U
3
= 16
Ditanyakan: U
20
Penyelesaian:
Banyak kursi pada setiap
baris membentuk barisan
aritmetika dengan a = 12
dan b = 2.
Jadi, U
n
= a + (n –1)b
U
20
= 12 + (20 – 1)2
= 12 + (19)2
= 12 + 38
= 50
Jawaban: b
Soal UN, 2006
Solusi
Matematika
Buatlah tiga rumus suku
ke-n barisan aritmetika
selain contoh yang sudah
ada
Cerdas Berpikir
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
111
2. Barisan Geometri (Barisan Ukur)
Barisan geometriadalah barisan bilangan yang mempunyai rasio tetap antara
dua suku barisan yang berurutan. Berbeda dengan barisan aritmetika, selisih
antarsuku barisan disebut rasio (dilambangkan dengan r). Artinya, suku barisan
ditentukan oleh perkalian atau pembagian oleh suatu bilangan tetap dari suku
barisan sebelumnya.
Pelajari uraian berikut.
• Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
Barisan bilangan tersebut memiliki rasio yang tetap, yaitu 2 atau r = 2.
Berarti, barisan tersebut merupakan barisan geometri.
• Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
Barisan bilangan tersebut memiliki rasio yang tetap, yaitu
1
3
. Berarti,
bilangan tersebut merupakan barisan geometri.
Uraian tersebut memperjelas bahwa barisan geometri memiliki rasio
tetap. Jika r bernilai lebih besar dari 1, barisan geometri tersebut merupakan
barisan geometri naik. Adapun jika r lebih kecil dari 1, barisan geometri
tersebut merupakan barisan geometri turun.
3
×2
6
×2
12
×2
24
×2
48
×2
96
×2
192
81
×
1
3
×
1
3
×
1
3
×
1
3
×
1
3
×
1
3
27 9 3 1
1
3
1
9
Tentukan apakah barisan bilangan geometri berikut merupakan barisan geometri
naik atau turun.
a. 100, 20, 5,
5
4
,
5
16
,
5
64
, ...
b. 1, 5, 25, 125, 625, ...
c. 2, 4, 8, 16, 32, ...
Jawab :
a. 100 20 5
5
4
5
16
5
64
1
4
1
4
1
4
1
4
1
4
merupakan barisan geometri
turun karena rasionya
1
4
.
Contoh
Soal 6.12
b.
c.
1
×5 ×5 ×5 ×5
5 25 125 625
2
×2 ×2 ×2 ×2
4 8 16 32
merupakan barisan geometri
naik karena rasionya 5.
merupakan barisan geometri
naik karena rasionya 2.
× × × × ×
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
112
Sekarang, coba kamu perhatikan barisan bilangan geometri berikut.
U
1
, U
2
, U
3
, U
5
, U
6
, ..., U
n – 1
, U
n
Dari barisan tersebut diperoleh
U
1
= a
U
2
= U
1
× = a × r = ar
U
3
= U
2
× r = (a × r) × r = ar
2
U
4
= U
3
× r = (a × r
2
) × r = ar
3
U
5
= U
4
× r = (a × r
3
) × r = ar
4
U
6
= U
5
× r = (a × r
4
) × r = ar
5
.
.
.
U
n
=U
n–1
×r = (a ×r
n – 2
) ×r =ar
n – 1
Jadi, untuk mencari suku ke-n barisan geometri digunakan rumus sebagai
berikut.
U
n
=ar
n – 1
Untuk mencari rasio dalam suatu barisan geometri, perhatikan uraian
berikut.
U
2
=U
1
× r maka r =
U
U
2
1
U
3
= U
2
× r maka r =
U
U
3
2
U
4
= U
3
× r maka r =
U
U
4
3
.
.
.
U
n
= U
n – 1
× r maka r =
U
U
n
n−1
Jadi, rasio pada barisan geometri dapat dinyatakan sebagai berikut.
r
U
U
n
n
=
−1
Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
18, 6, 2,
2
3
,
2
9
,
2
27
, ...
Tentukan suku kesepuluh dari barisan tersebut.
Jawab:
r
U
U
r
U
U
n
n
= = = =
−1
2
1
6
8
1
3
maka
Dengan rasio
1
3
, suku kesepuluh barisan tersebut adalah
U
n
= ar
n–1
maka
U
10
10 1 9
18
1
3
18
1
3
18 = × = × =

×× = =
1
19 683
18
19 683
2
2 187 .
Jadi, suku kesepuluh barisan tersebut adalah
2
2 187 .
Contoh
Soal 6.13
Buatlah tiga rumus suku
ke-n barisan geometri
selain contoh yang sudah
ada
Cerdas Berpikir
( (((( (
(((
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
113
Diketahui suatu barisan geometri dengan suku ke-4 adalah 4 dan suku ke-7 adalah
32. Tentukan:
a. suku pertama dan rasio barisan geomeri tersebut,
b. suku kesembilan barisan geometri tersebut.
Jawab:
a. Diketahui U
4
= 4 dan U
7
= 32
U
n
= ar
n – 1
maka U
4
= ar
3
= 4 .... (1)
U
7
= ar
6
= 32 .... (2)
Dari persamaan (1) diperoleh
ar
3
= 4 maka a =
4
3
r
.... (3)
Subtitusikan persamaan (3) ke persamaan (2).
ar
6
= 32 maka
4
32
3
6
r
r =
4r
3
= 32
r
3
= 8
r = 2
Subtitusikan r = 2 ke persamaan (1), diperoleh
ar
3
= 4 maka a · (2)
3
= 4
a · 8 = 4
a =
1
2
Jadi, suku pertamanya adalah
1
2
dan rasionya adalah 2.
b. U
n
= ar
n – 1
maka U
9
=
1
2
· (2)
9 – 1
=
1
2
· (2)
8
=
1
2
· 256 = 128
Jadi, suku kesembilan dari barisan geometri tersebut adalah 128
ui suatu ba ui suatu b
Contoh
Soal 6.14
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
–8, –3, 2, 7, 12, 17, 22, 27, 32, 37
a. Tentukanlah banyaknya suku barisan dalam
barisan bilangan tersebut.
b. Tentkan nilai U
3
, U
5
, U
6
, U
8
, dan U
10
.
2. Tentukanlah apakah barisan aritmetika berikut ini
merupakan barisan aritmetika naik atau turun.
a. 12, 36, 108, 324, ...
b. –40, –28, –16, –4, ...
c. 7, 4, 1, –2, –5, –8, ...
d. 10, 8, 6, 4, 2, ...
e. 1, –5, –11, –17, –23, ...
3. Tentukan beda untuk setiap barisan aritmetika
berikut ini.
a. 17, 27, 37, 47, 57, ...
b. –6, –1, 4, 9, 14, 19, ...
c. 48, 32, 16, 0, –16, ...
d. 3, –1, –5, –9, –13, ...
e. 0, –2, –4, –6, –8, ...
4. Tulislah lima suku pertama dari barisan aritmetika
yang mempunyai rumus umum sebagai berikut.
a. U
n
= 2n + 1 d. U
n
=
1
2
n + 2
b. U
n
= n + 5 e. U
n
= 3n + 7
c. U
n
= 4n + 3
Uji Kompetensi 6.2
(
(
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
114
5. Diketahui suatu barisan aritmetika dengan suku
ke-5 adalah 14 dan suku ke-8 adalah 29.
a. Tentukan suku pertama dan beda barisan tersebut.
b. Tentukan suku ke-12 dari barisan tersebut.
c. Tuliskan sepuluh suku pertama barisan tersebut.
6. Diketahui suatu barisan aritmetika dengan suku
pertamanya –15 dan suku kelimanya 1.
a. Tentukan beda barisan aritmetika tersebut.
b. Tentukan suku kesepuluh barisan aritmetika
tersebut.
c. Tuliskan 10 suku pertama barisan aritmetika
tersebut.
7. Tentukan rasio setiap barisan geometri berikut ini.
a. 5, 15, 45, 135, ...
b.
1
12
,
1
4
, ,
9
4
, ...
c. 20, 10, 5, ...
d. 7,
7
2
,
7
4
,
7
8
e. 1, 2, 4, 8, ...
C. Deret Bilangan
Pada materi sebelumnya, kamu telah mempelajari barisan bilangan, baik
itu barisan aritmetika maupun barisan geometri. Sekarang, bagaimana jika
suku-suku dalam barisan bilangan tersebut dijumlahkan? Dapatkah kamu
menghitungnya?
Misalnya, diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
2, 5, 8, 11, 14, 17, ..., U
n
Barisan bilangan tersebut jika dijumlahkan akan menjadi
2 + 5 + 8 + 11 + 14 + 17 + ... + U
n
Bentuk seperti ini disebut deret bilangan . Jadi, deret bilangan adalah
jumlah suku-suku suatu barisan bilangan. Sebagaimana halnya barisan
bilangan, deret bilangan pun dibagi menjadi dua bagian, yaitu deret aritmetika
dan deret geometri.
1. Deret Aritmetika (Deret Hitung)
Coba kamu perhatikan barisan aritmetika berikut.
3, 6, 9, 12, 15, 18, ... , U
n
Jika kamu jumlahkan barisan tersebut, terbentuklah deret aritmetika sebagai
berikut.
3 + 6 + 9 + 12 + 15 + 18 + ... + U
n
Jadi, deret aritmetika adalah jumlah suku-suku barisan dari barisan aritmetika.
8. Tentukan suku yang diminta dari barisan geometri
berikut ini.
a. 2, 10, 50, 250, ..., U
7

b. 16, 8, 4, 2, ..., U
8

c. 100, 20, 4,
4
5
, ..., U
6
d. 1, 5, 25, 125, ..., U
8
e. 6, 18, 54, 162, ..., U
7
9. Tentukan rasio dan suku keempat suatu barisan
geometri jika diketahui
a. a = 2 dan U
5
= 162
b. a = 4 dan U
3
= 64
c. a =
7
2
dan U
7
= 224
d. a =
1
15
dan U
6
=
81
15
e. a = 90 dan U
5
=
10
9
10. Diketahui suatu barisan geometri dengan suku keempat
10
9
dan suku keenam
10
81
. Tentukan:
a. suku pertama dan rasio pada barisan geometri
tersebut,
b. suku kesepuluh barisan geometri tersebut.
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
115
Suatu barisan aritmetika memiliki suku pertama 5 dan beda 3. Tuliskan deret
aritmetika dari barisan tersebut.
Jawab:
• Barisan aritmetikanya adalah 5, 8, 11, 14, 17, 20, 23, ..., U
n
• Deret aritmetikanya adalah 5 + 8 + 11 + 14 + 17 + 20 + 23 + ... + U
n
Sekarang, bagaimana cara menjumlahkan deret aritmetika tersebut?
Untuk deret aritmetika yang memiliki suku-suku deret yang sedikit mungkin
masih mudah untuk menghitungnya. Sebaliknya, jika suku-suku deret tersebut
sangat banyak, tentu kamu akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk
menghitungnya.
Berikut ini akan diuraikan cara menentukan jumlah n suku pertama deret
aritmetika. Misalkan, S
n
adalah jumlah n suku pertama suatu deret aritmetika
maka
S
n
= U
1
+ U
2
+ U
3
+ U
4
+ U
5
+ ... + U
n
= a + (a + b) + (a + 2b) + (a + 3b) + (a + 4b) + ... + U
n
Kemudian,

S a a b a b a b a b U
S U
n n
n n
= + +
( )
+ +
( )
+ +
( )
+ +
( )
+ +
=
2 3 4 ...
++ −
( )
+ −
( )
+ −
( )
+ −
( )
+ +
=
U b U b U b U b a
S a
n n n n
n
2 3 4
2
...
++ ( ) + + ( ) + + ( ) + + ( ) + + + ( ) U a U a U a U a U ...
Sebany yak kali n
+
• 2 S
n
= n (a + U
n
)
• S
n
=
1
2
n(a + U
n
) =
n
a U
n
2
( ) +
Jadi, rumus untuk menghitung jumlah suku-suku deret aritmetika adalah
sebagai berikut.
S
n
=
n
2
(a + U
n
)
Oleh karena U
n
= a + (n – 1) b, rumus tersebut juga dapat ditulis sebagai
berikut.
S
n
=
n
2
(2a + (n – 1) b)
Agar kamu lebih memahami deret aritmetika, perhatikan contoh-contoh
soal berikut.
arisan ari arisan ar
Contoh
Soal 6.15
Diketahui deret aritmetika : 3 + 7 + 11 + 15 + 19 + ... + U
10
. Tentukan:
a. suku kesepuluh (U
10
) deret tersebut,
b. jumlah sepuluh suku pertama (S
10
).
i d t
Contoh
Soal 6.16
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
116
Diketahui suatu deret aritmetika dengan suku pertama 10 dan suku keenam 20.
a. Tentukan beda deret aritmetika tersebut.
b. Tuliskan deret aritmetika tersebut.
c. Tentukan jumlah enam suku pertama deret aritmetika tersebut.
Jawab :
Diketahui: U
1
= a = 10
U
6
= 20
a. U
n
= a + (n – 1) b maka U
6
= 10 + (6 – 1)b
20 = 10 + 5b
20 – 10 = 5b
10 = 5b
b = 2
Jadi, bedanya adalah 2.
b. Deret aritmetika tersebut adalah: 10 + 12 + 14 + 16 + 18 + 20 + ...
c. S
n
=
1
2
(a + U
n
) maka S
6
=
6
2
(10 + U
6
)
=
6
2
(10 + 20) = 90
Jadi, jumlah enam suku pertama deret tersebut adalah 90
ui suatu d ui suatu d
Contoh
Soal 6.17
Sebuah perusahaan permen memproduksi 2.000 permen pada tahun pertama. Oleh
karena permintaan konsumen setiap tahunnya, perusahaan tersebut memutuskan
untuk meningkatkan produksi permen sebanyak 5% dari produksi awal setiap
tahunnya.
a. Nyatakan jumlah permen yang diproduksi perusahaan tersebut pada 5 tahun
pertama dalam barisan bilangan.
b. Tentukan jumlah permen yang diproduksi pada tahun ke-7 (U
7
).
c. Tentukan jumlah permen yang telah diproduksi sampai tahun ke-7 (S
7
).
Jawab:
Diketahui: a = 2.000
b =
5
100
2 000 100 x = .
Contoh
Soal 6.18
Setiap hari, Anisa
menyimpan uang sebesar
Rp1.000,00 di kotak uang.
Uang di kotak itu pada hari
ini ada Rp15.000,00. Berapa
rupiah uang di kotak
tersebut 2 minggu yang
akan datang?
a. Rp14.000,00
b. Rp28.000,00
c. Rp29.000,00
d. Rp30.000,00
Jawab:
Setiap hari Anisa
menabung sebesar
Rp1.000,00
Oleh karena hari ini uang
Anisa Rp15.000,00, hari
ke-1 menjadi Rp16.000,00,
hari ke-2 menjadi
Rp17.000,00 dan
seterusnya (mengikuti
deret aritmetika).
16.000, 17.000, 18.000, ....
a = 16.000
b = 1.000
U
14
= a + (n –1)b
= 16.000 + (14 – 1)1.000
= 16.000 + 13 1.000
= 29.000
Jadi, uang Anisa setelah
dua minggu adalah
Rp29.000,00.
Jawaban: c
Soal UN, 2005
Jawab :
Diketahui : a = 3 dan b = 4
a. U
n
= a + (n – 1) b maka U
10
= 3 + (10 – 1) 4
= 3 + 9 · 4
= 3 + 36
= 39
Jadi, suku kesepuluh deret tersebut adalah 39.
b. S
n
=
n
2
(a + U
n
) maka S
10
=
10
2
(3 + U
10
)
=
10
2
(3 + 39)
= 210
Jadi, jumlah sepuluh suku pertama deret tersebut adalah 210
Solusi
Matematika
×
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
117
(1) Jika diketahui deret aritmetika U
1
+ U
2
+ U
3
+ ... + U
n
maka
U
2
– U
1
= U
3
– U
2
= U
4
– U
3
= ... = U
n
– U
n – 1
(2) Jika U
1
, U
2
, dan U
3
merupakan suku-suku deret aritmetika maka
2U
2
= U
1
+ U
3
(3) Jika U
m
dan U
n
adalah suku-suku deret aritmetika maka
U
m
= U
n
+ (m – n)b
a. Barisan bilangannya adalah sebagai berikut.
2.000, 2.100, 2.200, 2.300, 2.400
b. U
n
= a + (n – 1) b maka U
7
= 2.000 + (7 – 1) 100
= 2.000 + 6 · 100
= 2.000 + 600
= 2.600
Jadi, jumlah permen yang diproduksi pada tahun ke-7 adalah 2.600 permen.
c. S
n
=
n
a U
n
2
( ) + maka S
7
=

7
2
(2.000 + 2.600)
= 3,5 × 4.600
= 16.100
Jadi, jumlah permen yang telah diproduksi sampai tahun ke-7 adalah 16.100
permen
Sekarang, kamu akan mempelajari sifat-sifat deret arimetika. Suatu deret
aritmetika memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
1. Tentukan nilai x jika suku-suku barisan x – 1, 2x – 8, 5 – x merupakan suku-suku
deret geometri.
2. Dari suatu deret aritmetika diketahui bahwa suku keempatnya adalah 38 dan
suku kesepuluhnya adalah 92. Tentukan:
a. beda deret aritmatika tersebut,
b. suku ketujuh deret aritmetika tersebut.
Jawab:
1. Diketahui : U
1
= x – 1
U
2
= 2x – 8
U
3
= 5 – x
2U
2
= U
1
+ U
3
maka 2 (2x – 8) = (x – 1) + (5 – x)
4x – 16 = x – 1 + 5 – x
4x – 16 = 4
4x = 20
x = 5
Jadi, nilai x sama dengan 5.
2. Diketahui U
4
= 38 dan U
10
= 92
a. Untuk mencari beda:
U
m
= U
n
+ (m – n)b maka b =


=


=

= =
U U
m n
U U
m n
10 4
10 4
92 38
6
54
6
9
Jadi, beda deret aritmetika tersebut adalah 9.
k il
Contoh
Soal 6.19
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh-contoh soal berikut.
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
118
2. Deret Geometri (Deret Ukur)
Sama seperti deret aritmetika, deret geometri pun merupakan jumlah suku-
suku dari suatu barisan geometri. Coba kamu perhatikan barisan geometri
berikut ini.
1, 3, 9, 27, 81, 243, 729, ..., U
n
Jika kamu menjumlahkan suku-suku barisan geometri tersebut, diperoleh
1 + 3 + 9 + 27 + 81 + 243 + 729 + ... +U
n
Bentuk seperti ini disebut sebagai deret geometri.
Diketahui suatu barisan geometri memiliki suku pertama 5 dan rasio 2. Tuliskan
barisan dan deret geometrinya.
Jawab:
Barisan geometrinya adalah 5, 10, 20, 40, 80, 160, ..., U
n
Deret geometrinya adalah 5 + 10 + 20 + 40 + 80 + 160 + .... + U
n

Contoh
Soal 6.20
Selanjutnya, kamu akan mempelajari cara menentukan jumlah n suku
pertama dari deret geometri. Misalkan, S
n
adalah jumlah n suku pertama deret
geometri maka
S
n
= U
1
+ U
2
+ U
3
+ U
4
+ U
5
+ ... + U
n
= a + ar + ar
2
+ ar
3
+ ar
4
+ ... + ar
n – 1
Kemudian,
• S a ar ar ar ar ar
rS ar ar ar
n
n
n
= + + + + + +
= + +
− 2 3 4 1
2 3
...
++ + + +
− = −
− = −
( )
ar ar ar
S rS a ar
S rS a r
n
n n
n
n n
n
4 5
1
...
SS r a r
S
a r
r
n
n
n
n
1 1
1
1
− ( ) = −
( )
=

( )
− ( )

Jadi, rumus jumlah suku-suku deret geometri dapat dinyatakan sebagai
berikut.
S
a r
r
n
n
=

( )

1
1
atau
S
a r
r
n
n
=

( )

1
))
1
Agar kamu lebih memahami deret geometri, coba kamu pelajari contoh-
contoh soal berikut.
b. U
m
= U
n
+ (m – n)b maka U
7
= U
4
+ (7 – 4)b
= 38 + (3) 9
= 38 + 27 = 65
Jadi, suku ketujuh deret aritmetika tersebut adalah 65
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
119
Diketahui barisan geometri : 3, 6, 12, 24, 48, ..., U
n
. Tentukan suku ketujuh (U
7
)
dan jumlah tujuh suku pertamanya (S
7
).
Jawab:
• Menentukan suku ketujuh.
U
n
= ar
n – 1
maka U
7
= ar
6
= 3(2)
6
= 3 · 64 = 192
Jadi, suku ketujuhnya adalah 192.
• Menentukan jumlah tujuh suku pertamanya.
S
a r
r
n
n
=

( )

1
1
maka
S
7
7
3 1 2
1 2
3 1 128
1
3 127
1
381
=

( )

=
− ( )

=
− ( )

=
Jadi, jumlah tujuh suku pertamanya adalah 381
Contoh
Soal 6.21
Suatu deret geometri memiliki suku ketujuh 64 dan suku kesepuluh 512. Tentukan
rasio (r), suku kelima (U
5
), dan jumlah delapan suku pertamanya (S
8
).
Jawab:
Diketahui U
7
= 64 dan U
10
= 512.
• U
n
= ar
n – 1
maka U
7
= ar
6
64 = ar
6
a =
64
6
r
... (1)
U
10
= ar
9
maka 512 = ar
9
... (2)
Subtitusikan persamaan (1) ke persamaan (2), diperoleh
ar
9
= 512 maka
64
512
6
9
r
r =
64 r
3
= 512
r
3
=
512
64
r
3
= 8
r = 2
Jadi, rasio deret geometri tersebut adalah 2.
• Dari persamaan (1) diperoleh : a
r
=
=
( )
= =
64
64
2
64
64
1
6
6
Contoh
Soal 6.22
( )
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
120
Untuk mempermudah perhitungan deret geometri, kamu dapat meng-
gunakan sifat-sifat dasar deret geometri, sebagai berikut
(1) Jika diketahui deret geometri : U
1
+U
2
+U
3
+ ... +U
n
maka
U
U
U
U
U
U
U
U
n
n
2
1
3
2
4
3 1
= = = =

...
(2) Jika U
1
, U
2
, dan U
3
merupakan suku-suku deret geometri maka
U
2
2
= U
1
× U
3
(3) Jika U
m
dan U
n
merupakan suku dari deret geometri maka
U
m
= U
n
· r
m – n
Agar kamu lebih memahami materi ini, pelajarilah contoh-contoh soal
berikut.
Di suatu desa, jumlah penduduk pada tanggal 1 Januari 2007 adalah 10.000 jiwa.
Jika tingkat pertumbuhan penduduk di desa tersebut 5% per tahun, tentukan jumlah
penduduk di desa tersebut pada tanggal 1 Januari 2011.
Jawab:
Misalkan, jumlah penduduk pada tanggal 1 Januari 2007 (U
1
) adalah 10.000 dan
tingkat pertumbuhan penduduk (r) adalah 5 % = 0,05.
• Jumlah penduduk pada tanggal 1 Januari 2008 adalah
U
2
= 10.000 + (10.000 × 0,05) = 10.500 jiwa
• Jumlah penduduk pada tanggal 1 Januari 2009 adalah
U
3
= 10.500 + (10.500 × 0,05) = 11.025 jiwa
dan seterusnya hingga diperoleh barisan sebagai berikut: 10.000, 10.500, 11.025, ...
sehingga a = 10.000
r =
10 500
10 000
1 05
.
.
, =
Jadi, jumlah penduduk pada tanggal 1 Januari 2011 adalah
U
5
= ar
5 – 1
= 10.000 (1,05)
4
= 12.155,0625 = 12.155 jiwa.
desa jum desa jum
Contoh
Soal 6.23
Diperoleh a = 1, sehingga
U
n
= ar
n–1
maka U
5
= 1(2)
5–1
= 1(2)
4
= 1 · 16
= 16
Jadi, suku kelimanya adalah 16.
• S
n
=
a r
r
S
n
1
1
1 1 2
1 2
1 1 256
8
8

( )

=

( )

=
− ( )

maka
11
255
1
255
=


=
Jadi, jumlah delapan suku pertamanya adalah 255
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
121
Diketahui suatu barisan : x + 2, 9, x + 26. Tentukanlah nilai x agar barisan tersebut
dapat disusun menjadi sebuah deret geometri.
Jawab:
Diketahui bahwa : U
1
= x + 2
U
2
= 9
U
3
= x + 26
Dengan menggunakan sifat dasar deret geometri maka
U
2
2
= U
1
× U
3
maka (9)
2
= (x + 2) (x + 26)
81 = (x + 2) (x + 26)
81 = x
2
+ 28 x – 52
0 = x
2
+ 28x – 29
0 = (x – 1) (x + 29)
x = 1 atau x = –29
Jadi, nilai x = 1 atau x = –29
Contoh
Soal 6.24
Dari suatu geometri, diketahui suku keenamnya 32 dan suku kesembilannya 256.
Tentukan:
a. rasio dari deret tersebut,
b. suku ketiga (U
3
) dari deret tersebut.
Jawab:
Diketahui: U
6
= 32 dan U
9
= 256
a. U
m
= U
n
· r
m–n
maka U
9
= U
6
· r
9–6
U
9
= U
6
· r
3
r
3
=
U
U
9
6
=
256
32
8 =
r = 2
Jadi, rasio deret tersebut adalah 2.
b. U
m
= U
n
· r
m–n
maka U
6
= U
3
· r
6–3
U
6
= U
3
· r
3
U
3
=
U
r
6
3
=
32
2
3
( )
=
32
8
= 4
Jadi, suku ketiga deret tersebut adalah 4
Contoh
Soal 6.25
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
122
• Pola bilangan terdiri atas:
- pola garis lurus
- pola persegipanjang
- pola persegi
- pola segitiga
- pola bilangan ganjil dan genap
- pola segitiga Pascal
• Barisan bilangan terdiri atas barisan aritmetika
dan barisan geometri.
Rangkuman
• Rumus suku ke - n barisan aritmetika
sebagai berikut.
U
n
= a + (n – 1)b
• Rumus suku ke - n barisan geometri
sebagai berikut.
U
n
= ar
n – 1
• Deret bilangan terdiri atas deret aritmetika
dan deret geometri.
6. Suatu barisan geometri memiliki suku pertama 3
dan rasio 4.
a. Tuliskan barisan geometri tersebut.
b. Tuliskan deret geometri tersebut.
7. Tentukan jumlah setiap deret geometri berikut.
a. 2 + 6 + 18 + 54 + 162 + ... + U
7
b. 3 + 15 + 75 + ... + U
6

c. 1 + 4 + 16 + 64 + ... + U
7
d. 5 + 10 + 20 + 40 + 80 + ... + U
8
e.
1
4
+
1
2
+ 1 + 2 +... + U
10
8. Diketahui suatu deret geometri memiliki suku
ketiga 18 dan suku kelima 162. Tentukan:
a. rasio deret geometri tersebut,
b. suku kedelapan deret geometri tersebut,
c. jumlah delapan suku pertama deret geometri
tersebut.
9. Diketahui suatu barisan 1 + x, 10, x +16. Tentukan
nilai x agar suku barisan tersebut menjadi deret
geometri.
10. Tentukan n jika
a. 2 + 4 + 8 + 16 + 32 + ... + n = 510
b. 3 + 9 + 27 + ... + n = 120
c. 1 + 2 + 4 + 8 + ... + n = 1.023
d. 3 + 6 + 12 + ... + n = 765
e. 2 + 6 + 18 + ... + n = 242
Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Tuliskan deret aritmetika dari barisan aritmetika
berikut ini.
a. 80, 120, 160, 200, ..., U
n

b. 13, 18, 23, 28, ..., U
n
c. –16, –9, –2, 5, ..., U
n
d. 10, 12, 14, 16,..., U
n
e. 17, 24, 31, 38, ..., U
n
2. Tentukan jumlah setiap deret aritmetika berikut.
a. 1 + 5 + 9 + 13 + ... + U
10
b. 8 + 11 + 14 + 17 + ... + U
15
c. 2 + 9 + +16 + 23 + ... + U
7
d. 3 + 8 + 13 + 18 + ... + U
20
e. 14 + 18 + 22 + 26 + ... + U
n
3. Suatu deret aritmetika memiliki suku pertama 3
dan suku kedelapan 24.
a. Tentukan beda deret tersebut.
b. Tuliskan deret aritmetika tersebut.
c. Tentukan jumlah sepuluh suku pertama dari
deret tersebut.
4. Jika diketahui dalam suatu deret aritmetika dengan
suku kelima 13 dan suku kesembilan 21, tentukan:
a. beda dari deret tersebut,
b. suku kesepuluh deret tersebut,
c. jumlah sebelas suku pertama dari deret tersebut.
5. Tentukan nilai x jika suku-suku barisan x – 4, 2x + 1,
10 + x, merupakan suku-suku yang membentuk
dari aritmetika.
Uji Kompetensi 6.3
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
123
Pada bab Pola Bilangan, Barisan, dan Deret ini, menurutmu bagian mana yang paling menarik untuk •
dipelajari? Mengapa?
Setelah mempelajari bab ini, apakah kamu merasa kesulitan memahami materi tertentu? Materi •
apakah itu?
Kesan apakah yang kamu dapatkan setelah mempelajari materi pada bab ini? •
• Jumlah suku ke-n deret aritmetika dinyatakan
oleh rumus
S
n
=
n
a U
n
2
( ) +
• Jumlah suku ke-n deret geometri dinyatakan
oleh rumus
S
a r
r
r
n
n
=


π
( ) 1
1
dengan 1
Peta Konsep
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
Pola Bilangan Barisan Deret
Aritmetika Aritmetika
Suku ke-n
U
n
= a + ( n – 1)b
Jumlah suku ke-n
S
n
=
n
2
( a + U
n
)
Geometri Geometri
Suku ke-n
U
n
= a r
n – 1
Jumlah suku ke-n
S
n
=
a r
r
r
n
( )
,
1
1
1


π
Pola garis lurus •
Pola persegipanjang •
Pola persegi •
Pola segitiga •
Pola bilangan ganjil dan •
genap
pola segitiga Pascal •
jika dijumlahkan
mempelajari tentang
terdiri atas
terdiri atas
terdiri atas
rumus rumus rumus rumus
menjadi
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
124
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Perhatikan pola berikut.
Pola kelima dari gambar tersebut adalah ....
a. c.
b. d.
2. Pola noktah-noktah berikut yang menunjukkan
pola bilangan persegipanjang adalah ...
a. c.
b. d.
3. Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20.
Banyaknya suku barisan dari barisan bilangan
tersebut adalah ....
a. 10 c. 8
b. 9 d. 7
4. Diketahui barisan bilangan sebagai berikut.
28, 34, 40, 46, 52, 58, 64, 70
Nilai U
3
, U
6
, dan U
8
berturut-turut adalah ....
a. 40, 46, 64
b. 40, 52, 70
c. 40, 58, 70
d. 40, 64, 70
5. Berikut ini adalah barisan aritmetika, kecuali ....
a. 70, 82, 94, 106, 118
b. 36, 40, 44, 48, 52
c. –10, –4, 2, 8, 14
d. 1, 2, 4, 8, 16
6. Diketahui barisan bilangan aritmetika sebagai berikut.
–8, –4, 0, 4, 8, 12, n, 20, 24
Nilai n yang memenuhi adalah ....
a. 10 c. 16
b. 14 d. 18
7. Berikut ini yang merupakan barisan aritmetika
turun adalah ....
a. 30, 32, 34, 36, ...
b. 12, 8, 4, ...
c. 16, 21, 26, ...
d. 50, 60, 70, ...
8. Diketahui barisan bilangan aritmetika sebagai berikut.
36, 44, 52, 60, 68, ....
Beda pada barisan tersebut adalah ....
a. 6 c. 8
b. 7 d. 9
9. Diketahui barisan bilangan aritmetika sebagai berikut.
42, 45, 48, 51, 54, ....
Suku ke-12 barisan tersebut adalah ....
a. 75
b. 55
c. 85
d. 65
10. Beda pada barisan aritmetika yang memiliki suku
pertama 15 dan suku ketujuh 39 adalah ....
a. 3
b. 4
c. 5
d. 6
11. Suatu barisan aritmetika memiliki suku keempat
46 dan suku ketujuh 61. Suku kesepuluh barisan
tersebut adalah ....
a. 66 c. 76
b. 71 d. 81
12. Barisan aritmetika yang memenuhi rumus umum:
3n – 1 adalah ....
a. 1, 4, 7, 10, 13, ...
b. 1, 5, 9, 13, 17, ...
c. 2, 8, 14, 20, ...
d. 2, 5, 8, 11, 14, ...
(1) (2) (3) (4)
Uji Kompetensi Bab 6
Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
125
13. Perhatikan barisan bilangan berikut.
1, 3, 9, 27, 81, m, 729, ...
Agar barisan tersebut menjadi barisan geometri
maka nilai m yang memenuhi adalah ....
a. 324
b. 234
c. 243
d. 342
14. Diketahui barisan bilangan geometri sebagai berikut.
60, 30, 15,
15
2
15
4
,
Rasio pada barisan tersebut adalah ....
a. 30
b. 15
c. 3
d. 2
15. Perhatikan barisan bilangan geometri sebagai berikut.
3, 6, 12, 24, ...
Nilai suku kesepuluh dari barisan tersebut adalah
....
a. 1.356
b. 1.536
c. 1.635
d. 1.653
16. Dalam suatu barisan geometri, diketahui suku
pertamanya adalah 128 dan suku kelimanya adalah
8. Rasio dari barisan tersebut adalah ....
a. 4
b. 2
c.
6
2
d.
1
4
17. Diketahui deret bilangan aritmetika sebagai berikut.
12 + 15 + 18 + ...
Jumlah delapan suku pertama deret tersebut adalah
....
a. 160
b. 180
c. 360
d. 450
18. Suatu deret aritmetika memiliki suku ketiga 9
dan suku keenam adalah 243. Jumlah lima suku
pertama deret aritmetika tersebut adalah ....
a. 242
b. 121
c. 81
d. 72
19. Dalam sebuah deret geometri, diketahui nilai S
10
=
1.023. Jika rasio pada deret tersebut adalah 2, suku
pertama deret tersebut adalah ....
a. 1 c. 3
b. 2 d. 4
20. Diketahui suatu barisan sebagai berikut.
x + 3, 16, 27 + x
Nilai x yang memenuhi agar suku barisan tersebut
menjadi deret geometri adalah ....
a. 4 c. 6
b. 5 d. 7
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Tentukan tiga suku berikutnya dari barisan-barisan
bilangan berikut.
a. 4, 5, 9, 14, 23, ...
b. 90, 78, 66, 54, ...
c. 2, 6, 18, 54, 162, ...
2. Tentukan rumus suku ke-n dari barisan-barisan
bilangan berikut.
a. 3, 4, 6, 9, ...
b. 1, 2, 4, 8, ...
c. 10, 8, 6, 4, ...
3. Tuliskan lima suku pertama barisan aritmetika
yang memenuhi rumus umum sebagai berikut.
a. n(n + 1)
b. 2n + 5
c. n
2
(n + 1)
4. Tentukan nilai suku keseratus barisan bilangan
segitiga.
5. Diketahui barisan geometri 2, 4, 8, 16, 32, ....
Tentukan:
a. rasionya,
b. rumus suku ke-n,
c. jumlah sepuluh suku pertamanya.
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
126
Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Nilai dari (–4)
3
adalah ....
a. 64 c. 12
b. –64 d. –12
2. Bentuk a
–4
b
2
jika diubah ke dalam bentuk pangkat
bulat positif menjadi ....
a. b
a
2
4
c. b
a
2
4
b. –4ab
2
d. ab
–2
3.
1
4
2
í
(
·
·
·
·
\
)

=
÷
...
a. –8 c. 8
b. –16 d. 16
4. Jika 7
4
=
1
7
p
, nilai p sama dengan ....
a. 7 c. –4
b. 4 d. –7
5. Diketahui sebuah persegipanjang memiliki ukuran
(
1
2
× 2
–4
) cm. Luas persegipanjang tersebut adalah
... cm
2
.
a.
1
16
c. 8
b.
1
8
d. 16
6. Hasil dari
1
5
1
2
3 2
í
(
·
·
·
·
\
)

÷
í
(
·
·
·
·
\
)

÷ ÷
adalah ....
a. 125 c. 134
b. 129 d. 135
7. Bentuk sederhana dari
x
x
÷
÷
5
6
adalah ....
a.
1
x
c. x
–1
b. x
–11
d. x
8. (p + 1)
5
(p + 1)
–8
= ...
a. (p + 1)
3
c. p
5
+ 1
b. (p + 1)
–3
d. p
13
+ 1
9. Bentuk pangkat pecahan dari 27 3
3
adalah ....
a. 27
1
3
c. 3
5
3
b. 27
4
3
d.
3
10
3
10. Diketahui panjang rusuk sebuah kubus adalah
2 5 cm. Volume kubus tersebut adalah ....
a. 40 5 cm
3
c. 8 5
3
cm
3
b. 40 5
3
cm
3
d. 8 5 cm
3
11. Bentuk sederhana dari 5 5
4
4
adalah ....
a. 5 c. 2 5
b. 5
4
d. 4 5
12. Diketahui 15 = 3, 873. Nilai dari 15 15 1 ÷
( )

adalah ....
a. 2,873 c. 11,127
b. 8,619 d. 11,732
13. Diketahui
1
4
2
5
í
(
·
·
·
·
\
)

=
a
. Nilai a sama dengan ....
a. 10 c. –10
b. 5 d. –12
14. Bentuk
49
7
sama dengan ....
a. 7 7 c. 21 7
b.
14 7
d. 49 7
15. Bentuk sederhana dan rasional dari
12
6 2 ÷
adalah
....
a.
6
34
6 2 ÷
( )
b.
6
17
6 2 ÷
( )
c.
12
17
6 2 ÷
( )

d. 6 2 ÷
( )
Uji Kompetensi Semester 2
Uji Kompetensi Semester 2
127
16. Himpunan bilangan yang diurutkan dengan pola
(2
n
– 1) dengan n bilangan asli, akan membentuk
suatu barisan bilangan ....
a. ganjil c. persegi
b. genap d. segitiga
17. Gambar di bawah ini menggambarkan pola suatu
barisan yang disusun dari batang-batang korek api.
Banyak korek api pada pola berikutnya adalah ....
a. 13 c. 15
b. 14 d. 16
18. Dari himpunan bilangan berikut ini yang merupakan
barisan bilangan adalah ....
a. 2, 4, 5, 6, ...
b. 1, 2, 4, 12, ...
c. –5, –2, 1, 4, ...
d. 3, –3, 0, 3, ...
19. Diketahui barisan bilangan 1, 1, 2, 3, 5, 8, ....
Jika barisan tersebut dilanjutkan dengan suku
berikutnya maka akan menjadi ....
a. 1, 1, 2, 3, 5, 8, 8
b. 1, 1, 2, 3, 5, 8, 9
c. 1, 1, 2, 3, 5, 8, 16
d. 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13
20. Tiga suku berikutnya dari barisan bilangan prima
13, 17, 19, ... adalah ....
a. 23, 27, 29 c. 21, 23, 27
b. 23, 29, 31 d. 21, 23, 29
21. Diketahui barisan 1, 2, 0, 1, p, 0, .... Nilai p yang
memenuhi adalah ....
a. –2 c. 0
b. –1 d. 1
22. Suku kelima dan keenam barisan bilangan 2, 5, 9,
14, ... adalah ....
a. 17 dan 20 c. 19 dan 23
b. 18 dan 22 d. 20 dan 27
23. Diketahui barisan bilangan 1, 4, 16, 64. Suku
kedelapan barisan tersebut adalah ....
a. 4.096 c. 19.373
b. 16.384 d. 24.576
24. Rumus suku ke-n barisan bilangan 10, 7, 4, ...
adalah ....
a. U
n
= 13 + 3n
b. U
n
= 13 – 3n
c. U
n
= 3n + 7
d. U
n
= 3n – 7
25. Jumlah 20 suku pertama barisan bilangan 5, 3, 1,
–1, –3 ... adalah ....
a. –280 c. 380
b. 180 d. 480
26. Rumus jumlah n suku pertama deret bilangan 2 + 4 +
6 + 8 + ...+ U
n
adalah ....
a. S
n
= n
2
+ n c. S
n
= 2n + n
2
b. S
n
= n + 1 d. S
n
= n(n + 1)
27. Diketahui rumus jumlah n suku pertama sebuah
deret adalah S
n
n
n
= ÷
( )
2
3 1 . Deret yang dimaksud
adalah ....
a. 1 + 1 + 2 + 2 + ... + U
n
b. 5 + 7 + 9 + 11 + ... + U
n
c. 4 + 7 + 10 + 13 + ... + U
n
d. 2 + 6 + 10 + 14 + ... + U
n
28. Jumlah delapan suku pertama barisan bilangan
1, 3, 9, 27, ... adalah ....
a. 3.180 c. 3.080
b. 3.280 d. 3.380
29. Sebuah bambu dibagi menjadi 4 bagian dan panjang
setiap bagian membentuk suatu barisan geometri.
Jika panjang potongan bambu terpendek adalah
25 cm dan potongan bambu terpanjang adalah
200 cm, panjang bambu mula-mula adalah ....
a. 225 c. 400
b. 375 d. 425
30. Pak Joyo membeli sebuah TV berwarna seharga
Rp 5.000.000,00. Pada setiap akhir 1 tahun, TV
berwarna tersebut mengalami penurunan harga
sebesar 10%. Harga TV berwarna tersebut pada
akhir tahun ketiga adalah ....
a. Rp3.645.000,00
b. Rp3.280.500,00
c. Rp2.952.450,00
d. Rp2.657.205,00
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
128
A. Pilihlah satu jawaban yang benar.
1. Perhatikan gambar berikut.
6. Luas permukaan tabung yang memiliki diameter
10 cm dan tinggi 4 cm adalah ....
a. 125,6 cm
2
c. 244,92 cm
2
b. 138,7 cm
2
d. 251,2 cm
2
7. Suatu kaleng berbentuk tabung dapat menampung
air sampai penuh sebanyak 7.959,9 cm
3
. Jika jari-
jari kaleng tersebut 13 cm, tinggi kaleng tersebut
sama dengan ....
a. 13 cm c. 15 cm
b. 14 cm d. 16 cm
8. Diketahui jari-jari alas suatu kerucut 5 cm dan
tingginya 12 cm. Luas seluruh permukaan kerucut
tersebut adalah ....
a. 62,8 cm
2
c. 204,1 cm
2
b. 78,5 cm
2
d. 282,6 cm
2
9. Volume kerucut yang diameter alasnya 20 cm dan
tingginya 24 cm adalah ....
a. 7.536 cm
3
c. 2.512 cm
3
b. 5.024 cm
3
d. 1.105 cm
3
10. Luas permukaan bola yang memiliki diameter 21 cm
adalah ....
a. 19.404 cm
2
c. 12.005 cm
2
b. 15.783 cm
2
d. 9.702 cm
2
11. Luas dua buah bola berturut-turut adalah L
1
dan
L
2
dan volumenya V
1
dan V
2
. Jika panjang jari-
jarinya berturut turut 1 dm dan 2 dm, perbandingan
volumenya adalah ....
a. 2 : 5 c. 1 : 4
b. 1 : 5 d. 1 : 8
12. Dari 720 siswa di SMP Nusa Bangsa, diperoleh
data tentang pelajaran yang disukai siswa. Data
tersebut disajikan pada diagram berikut ini.
Banyak siswa yang menyukai matematika adalah
... orang.
a. 90 c. 270
b. 120 d. 280
P
C
Q
B
A
Jika panjang PC = 3 cm, AC = 9 cm,
dan AB = 15 cm, panjang PQ sama
dengan ....
a. 4,0 cm c. 7,5 cm
b. 5,0 cm d. 10,0 cm
2. Seorang anak yang tingginya 150 cm mempunyai
panjang bayangan 2 m. Jika pada saat yang sama
panjang bayangan tiang bendera 3,5 m, tinggi tiang
bendera tersebut adalah ....
a. 2,625 m c. 4,66 m
b. 3,625 m d. 5,66 m
3. Perhatikan gambar berikut.
Q
T
U
P
R
x
S
4
12
Nilai x adalah ....
a. 2 c. 16
b. 16 d. 22
4. Penulisan yang benar mengenai kongruensi dua
segitiga berikut adalah ....
S R
T
Q P
a. ∆TPQ @ ∆RST
b. ∆PQT @ ∆SRT
c. ∆STR @ ∆QTP
d. ∆RTS @ ∆PQT
5. Perhatikan gambar berikut.
C F
A B E
45° 70°
10 cm 10 cm
9 cm
D
Pada gambar tersebut, ∆ABC @ ∆DEF. Pernyataan
yang benar adalah ....
a. EF = 9 cm dan –F = 70°
b. EF = 9 cm dan –C = 45°
c. –C = 65° dan EF = 70 cm
d. –F = 65° dan EF = 9 cm
60°
45° 75°
45°
B. Indonesia
IPA
B. Inggris
Matematika
IPS
Uji Kompetensi Akhir Tahun
Uji Kompetensi Akhir Tahun
129
13. Diketahui data sebagai berikut.
25, 26, 22, 24, 26, 28, 21, 24, 26, 27, 21
28, 28, 30, 25, 29, 22, 21, 23, 25, 26, 23
Mean dari data tersebut adalah ....
a. 24 c. 26
b. 25 d. 27
14. Nilai rata-rata ujian PKn 10 siswa adalah 55. Jika
nilai tersebut digabung dengan 5 siswa lainnya,
nilai rata-ratanya menjadi 53. Nilai rata-rata kelima
siswa tersebut adalah ....
a. 47 c. 49
b. 48 d. 50
15. Tabel frekuensi nilai ulangan matematika 40 siswa
adalah sebagai berikut.
Nilai Frekuensi
10
9
8
7
6
5
4
3
2
2
5
6
10
7
6
2
Median dari data tersebut adalah ....
a. 6 c. 7
b. 6,5 d. 7,5
16. Diberikan sekumpulan data sebagai berikut.
153, 160, 275, 273, 154, 153, 160, 211,
160, 150, 150, 154, 154, 273, 160
Modus dari data tersebut adalah ....
a. 160 c. 153
b. 154 d. 150
17. Pada pelemparan dua keping uang logam secara
bersamaan, peluang tidak muncul sisi gambar
adalah ....
a. 0 c.
1
2
b.
1
4
d. 1
18. Dua buah dadu dilempar bersamaan. Peluang
munculnya muka dadu berjumlah kurang dari 10
adalah ....
a.
1
6
c.
1
4

b.
5
6
d.
1
3
19. Sebuah koin dilemparkan 200 kali. Hasilnya,
muncul sisi angka sebanyak 120 kali. Frekuensi
relatif muncul sisi angka adalah ....
a. 0 c.
2
5
b.
1
5
d.
3
5
20. Di suatu desa, diketahui peluang seorang balita
terjangkit penyakit asma adalah 0,38. Jika di desa
tersebut terdapat 100 balita, jumlah balita yang
diperkirakan akan terjangkit penyakit asma adalah
....
a. 23 orang c. 38 anak
b. 27 orang d. 53 anak
21. Jika
1
5
5
5 -
=
p
maka nilai p adalah ....
a. –5 c. 1
b. 5 d. 0
22. Luas sebuah persegipanjang adalah 1 dm
2
. Jika
lebarnya 4
–2
dm, panjang persegipanjang tersebut
adalah ....
a. 2 dm c. 8 dm
b. 4 dm d. 16 dm
23. Bentuk akar dari a
b
c
adalah ....
a.
a
b
c.
a
b c
b.
a
bc
d.
a
c b
24. Jika x = 3 maka nilai x
1
3
adalah ....
a. 27 c. 3
b. 9 d.
1
3
25. Bentuk rasional dari
1
5 7 +
adalah ....
a. -
1
2
2
b.
1
2
12

c.
- -
( )
1
2
5 7
d.
1
2
5 7 -
( )
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
130
26. Perhatikan gambar berikut.
Barisan bilangan yang menunjukkan banyaknya
persegipanjang pada setiap pola adalah ....
a. 2, 3, 4, 6
b. 2, 3, 5, 7
c. 2, 3, 5, 6
d. 2, 3, 4, 8
27. Dua suku berikutnya dari barisan 6, 12, 20, 30 dan
seterusnya adalah ....
a. 36 dan 44 c. 40 dan 48
b. 38 dan 50 d. 42 dan 56
28. Jumlah 8 suku pertama dari barisan bilangan 1, 3,
9, 27, ... adalah ....
a. 3.180 c. 3.080
b. 3.280 d. 3.380
29. Diketahui suku pertama barisan geometri adalah 4
dan rasionya 2. Rumus suku ke-n barisan tersebut
adalah ....
a. U
n
= 2
n + 1
c. U
n
= 2
n + 2
b. U
n
= 2
n – 1
d. U
n
= 2
n – 2
30. Dalam suatu pertandingan sepakbola, setiap pemain
dari kedua kesebelasan yang masuk lapangan harus
menjabat tangan pemain yang datang terlebih dahulu.
Jumlah jabat tangan yang terjadi adalah ....
a. 400 c. 200
b. 231 d. 40
B. Kerjakanlah soal-soal berikut.
1. Perhatikan gambar berikut.
D
C
E
B
A
Jika DE//AB, CD = 8 cm, AD =
2 cm, dan DE = 4 cm, tentukan:
a. panjang AB,
b. perbandingan BE : BC.
2. Diketahui volume sebuah tabung yang memiliki
jari-jari alas r dan tinggi t adalah 480 cm
3
. Jika jari-
jatinya diperkecil menjadi
1
2
r, tentukan volume
tabung yang baru.
3. Rata-rata nilai ulangan matematika dari 12 siswa
adalah 7,2. Jika nilai Heri dimasukkan ke dalam
perhitungan tersebut, rata-ratanya menjadi 7,3.
Tentukan nilai ulangan Heri.
4. Diketahui 3 = p dan 2 = q . Nyatakan bentuk-
bentuk berikut dalam p dan q.
a. 24
b. 54
c.
150
5. Jumlah suku kedua dan ketiga suatu barisan
aritmetika adalah 14. Adapun jumlah suku ketujuh
dan kedelapan adalah 54. Tentukan:
a. bedanya,
b. suku pertamanya,
c. rumus suku ke-n.
Kunci Jawaban
131
Bab 1 Kesebangunan dan Kekongruenan
Uji Kompetensi 1.1 halaman 7
1. c dan d
3. a. x = 5
b. y = 8
5. a. x = 160°
b. y = 77°
z = 103°
7. AC = 15 cm
9. Tinggi pohon = 40 cm
Uji Kompetensi 1.2 halaman 11
1. ∆ABC dan ∆DEF
∆GHI dan ∆MNO
3. x = 40°
5. PS = 33 cm
Uji Kompetensi Bab 1 halaman 14
A. 1. c 9. d
3. b 11. d
5. b 13. c
7. b 15. c
B. 3. PQ = 15 cm
5. x = 47, 5°
y = 58°
z = 47,5°
Bab 2 Bangun Ruang Sisi Lengkung
Uji Kompetensi 2.1 halaman 22
1. a. 376,8 cm
2
b. 401,92 cm
2
c. 616 cm
2
3. t = 10 cm
5. 33 : 56
7. V = 49.280 dm
3
9. r = 2,5
Uji Kompetensi 2.2 halaman 27
1. 533,8 cm
2
3. a. 188,4 cm
2
b. 301,44 cm
2
5. 188,4 cm
2
282,6 cm
2
7. 462 cm
2
9. a. 204,1 cm
2
b. 282, 6 cm
2
c. 314 cm
3
Uji Kompetensi 2.3 halaman 33
1. 314 cm
3. r = 8 cm
5. 577,76 dm
7. V = 113,04 dm
3
9. t = 4r
Uji Kompetensi Bab 2 halaman 35
A. 1. c 11. a
3. b 13. d
5. c 15. b
7. d 17. d
9. a 19. c
B. 1. a. r = 2,5 cm
b. 157 cm
2
c. 196,5 cm
2
3. a. s = 25 cm
b. 1.884 cm
2

5. a. 154 cm
2
b. 179,667 cm
3
Bab 3 Statistika
Uji Kompetensi 3.1 halaman 43
1. a. Populasi = seluruh balita di kelurahan tersebut
Sampel = beberapa balita di kelurahan tersebut
yang diperiksa kesehatannya
b. Populasi = seluruh sayur sop yang dibuat ibu
Sampel = sedikit/sebagian dari sayur sop yang
dicicipi ibu.
3. Datum terkecil = 50
Datum terbesar = 88
5. Tabel frekuensinya:
Jumlah Anak Turus Frekuensi
0
1
2
3
4
5
4
2
6
3
3
2
Jumlah 20
a. 20 keluarga
b. 4 keluarga
7.
10
20
30
40
50
60
Senin Selasa
J
u
m
l
a
h

B
u
k
u
Rabu
Hari
Kamis Jumat Sabtu Minggu
Kunci Jawaban
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
132
U
a
n
g

l
o
g
a
m
9.
Uji Kompetensi 3.2 halaman 47
1. a. x = 3,57
b. x = 12,5
c. x = 28,25
d. x = 6,2
3. 145 cm
5. Modus = 27
7. a. Me = 15
b. Me = 29
c. Me = 800
d. Me = 7,05
9. a.
Nilai Turus Frekuensi
5
6
7
8
9
10
4
6
7
6
4
3
Jumlah 30

b. Mean = 7,3
Median = 7
Modus = 7
Uji Kompetensi 3.3 halaman 49
1. a. J = 4
b. J = 49
c. J = 244
d. J = 21,6
3. a. Q
1
= 3,5 Q
2
= 5 Q
3
= 7,5
b. Q
1
= 23 Q
2
= 37 Q
3
= 38
c. Q
1
= 119 Q
2
= 201,5 Q
3
= 413
d. Q
1
= 35,8 Q
2
= 40,1 Q
3
= 50,3
5. a. Jangkauan = 10
b. Mean = 153,5
Modus = 150 dan 155
Median = 153,5
c. Q
1
= 150 Q
2
= 153,5 Q
3
= 155
Uji Kompetensi Bab 3 halaman 52
A. 1. a 11. a
3. b 13. d
5. d 15. b
7. a 17. d
9. c 19. d
B. 1. 360
3. 56 dan 128
5. a. Datum terkecil = 1
Datum terbesar = 10
b. J = 9
c. Q
1
= 3
Q
2
= 5
Q
3
= 7,5
Bab 4 Peluang
Uji Kompetensi 4.1 halaman 59
1. Kejadian acak adalah kejadian yang hasilnya tidak
dapat ditentukan sebelumnya.
3. S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15}
5. Dadu

1
(A, 1)
Angka
(A)
Gambar
(G)
(G, 1) (G, 2) (G, 3) (G, 4) (G, 5) (G, 6)
(A, 2) (A, 3) (A, 4) (A, 5) (A, 6)
2 3 4 5 6

S = {(A, 1), (A, 2), (A, 3), (A, 4), (A, 5), (A, 6), (G, 1),
(G, 2), (G, 3), (G, 4), (G, 5), (G, 6)}
Uji Kompetensi 4.2 halaman 63
1. a. K = {2, 4, 6, 8, 10, 12, 14}
b. K = {3, 6, 9, 12, 15}
c. K = { }
3. a.
Warna Turus Frekuensi
Putih (P)
Hijau (H)
Merah (M)
Biru (B)
8
6
6
10
Jumlah 30

b. Frekuensi relatif warna
putih =
8
30
4
15
=
hijau =
6
30
1
5
=
merah =
6
30
1
5
=
biru =
10
30
1
3
=
c. Jumlah frekuensi relatif = 1
5. a.
1
5
d.
4
5
b.
1
3
e.
2
3
c.
7
12
7. a. pasti terjadi
b. mungkin terjadi
c. mustahil
d. mungkin terjadi
54°
90°
108°
72°
36°
Bis
Sepeda
Angkot
Jalan
Kaki
Jemputan
15%
25%
30%
20%
10%
Bis
Sepeda
Angkot
Jalan
Kaki
Jemputan
Kunci Jawaban
133
e. mungkin terjadi
Uji Kompetensi 4.3 halaman 65
1. a. 75 kali
b. 75 kali
c. 75 kali
3. 500 orang
Uji Kompetensi Bab 4 halaman 67
A. 1. b 11. d
3. d 13. b
5. a 15. c
7. c 17. b
9. d 19. c
B. 1. a.
1
13
b.
1
2
3. a.
5
36
b.
5
12
5. 425 anak
Uji Kompetensi Semester 1 halaman 70
1. c 11. d 21. c
3. a 13. a 23. b
5. b 15. c 25. d
7. c 17. d 27. a
9. c 19. c 29. c
Bab 5 Pangkat Tak Sebenarnya
Uji Kompetensi 5.1 halaman 83
1. a. 1) 4
4
2) 10
5
3) (–7)
3
4) c
7
5) (–y)
5
b. 1) 2 × 2 × 2
2) 5 × 5 × 5 × 5 × 5
3) (–6) × (–6) × (–6) × (–6)
4) 2 × 2 × 2 × 2 × 2 × 2 × 4 × 4
5) 8 × 8 × 8 × a × a × a × a × a
3. L = 352 a
2
5. t = 6a
7. V = 735 p
9
p
9. a. 1)
1
7
3
4)
1
8
1
17
3 5
¥
2)
1
4
2
5) 2p
20
3)
1
5
5
( ) -
b. 1) 8
–1
4) 11
–14
2) (–4)
–2
5)
1
11
p
-
3) 9
–6
c. 1) 1 4) 60
2) 1 5) 5
3) 1
Uji Kompetensi 5.2 halaman 94
1. a. 4 2 d.
7 5
g.
11
21
b. 3 3 e.
3
5
h.
2 2
5
c.
5 3
f.
4
5

3. PQ =
5 13 cm
5. a. 10 e. 3
b. 2 117 f. 1
c. 5 6 6 2 + g.
2 3
5

d. –1 h.
2
9 21
7. a.
3
5
5
e.
10
23
5 2 ( ) +
b.
15
7
7
f. 10 15 -
c.
3
9
g. 5 11 18 ( ) +
d. -
160
31
6 32 ( – ) h. 4 1 2 15 ( ) +
9. a.
3
1
2
e. 10
1
2
b. 5 f. 15
2
3
c. 16
5
3
g.
23
1
5
d.
12
1
2
h. 40
2
3
Uji Kompetensi Bab 5 halaman 97
A. 1. d 11. a
3. c 13. d
5. a 15. a
7. a 17. a
9. c 19. b
B. 1. a. 8
7
c. p
4
b. (–2)
2
d.
2
3 2
5
q
p
3. a. x = –5 c. x = –3
b. x = –6 d. x = –4
5. ( ( – ))  2 3 1 cm
Bab 6 Pola Bilangan, Barisan, dan Deret
Uji Kompetensi 6.1 halaman 106
1. b. 1, 4, 7, 10, ...
c. pola garis lurus
3. a. pola persegi
b. pola persegipanjang
c. pola garis lurus
d. pola persegipanjang
e. pola garis lurus
5. b. 30 batang lidi
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
134
7. b. 4, 7, 10, 12 buah
9. a. m = 13 n = 25
b. m = 13 n = 14
c. m = 31 n = 76
d. m = 2 n = 8
e. m = 5 n = 33
Uji Kompetensi 6.2 halaman 113
1. a. 10 suku
b. U
3
= 2 U
8
= 27
U
5
= 12 U
10
= 37
U
6
= 17
3. a. b = 10 d. b = –4
b. b = 5 e. b = –2
c. b = –16
5. a. U
1
= –6 dan b = 5
b. U
12
= 49
c. –6, –1, 4, 9, 14, 19, 24, 29, 34, 39
7. a. r = 3 d. r =
1
2
b. r = 3 e. r = 2
c. r =
1
2

9. a. r = 3 U
4
= 54
b. r = 4 U
4
= 256
c. r = 2 U
4
= 28
d. r = 3 U
4
=
9
5
e. r =
1
3
U
4
=
10
3
Uji Kompetensi 6.3 halaman 122
1. a. 80 + 120 + 160 + 200 + ... + U
n

b. 13 + 18 + 23 + 28 + ... + U
n

c. –16 + (–9) + (–2) + 5 + ... + U
n

d. 10 + 12 + 14 + 16 + ... + U
n

e. 17 + 24 + 31 + 38 + ... + U
n
3. a. b = 3
b. 3 + 6 + 9 + 12 + 15 + 18 + 21 + 24 + ... + U
n
c. S
10
= 165
5. x = 6
7. a. S
7
= 2.186
b. S
6
= 11.718
c. S
7
= 5.461
d. S
8
= 1.275
e. S
10
= –255
3
4
9. x = –21 atau x = 4
Uji Kompetensi Bab 6 halaman 124
A. 1. c 11. c
3. a 13. c
5. d 15. b
7. b 17. b
9. a 19. a
B. 1. a. 37, 60, 97
b. 42, 30, 28
c. 486, 1.458, 4.374
3. a. 2, 6, 14, 20, 30
b. 7, 9, 11, 13, 15
c. 2, 12, 36, 80, 150
5. a. r = 2
b. U
n
= 2
n
c. S
10
= 1.024
Uji Kompetensi Semester 2 halaman 126
1. b 11. a 21. b
3. d 13. c 23. b
5. a 15. b 25. a
7. d 17. c 27. c
9. d 19. d 29. b
Uji Kompetensi Akhir Tahun halaman 128
A. 1. b 11. d 21. b
3. c 13. b 23. c
5. d 15. a 25. c
7. c 17. c 27. d
9. c 19. d 29. a
B. 1. a. AB = 5 cm
b. BE : BC = 1 : 5
3. 8,5
5. a. b = 4
b. a = 1
c. U
n
= 4n – 3
Kunci Jawaban
135
? sudut
~ sebangun
° derajat
≅ kongruen
r jari-jari
d diameter
π phi
t tinggi
L luas
s garis pelukis
% persen
x
mean atau rata-rata
x
n
data ke-n
f
n
frekuensi ke-n
J jangkauan
Q
n
kuartil ke-n
S himpunan ruang sampel
n(S) jumlah anggota himpunan S
P(A) peluang kejadian A
?
himpunan bagian
F
h
frekuensi harapan
Œ
anggota
akar kuadrat
= sama dengan
≠ tidak sama dengan
> lebih besar dari
≥ lebih besar sama dengan
< lebih kecil
≤ lebih kecil sama dengan
U
n
suku ke-n
S
n
jumlah suku ke-n
? dot
? sudut
~ sebangun
° derajat
≅ kongruen
r jari-ja - ri
d diameter
π phi
t tinggi
L luas
s garis pelukis
% persen
x
mean atau rata-rata
x
n
data ke-n
f
n
ff frekuensi ke-n
J jangkauan
Q
n
kuartil ke-n
S himpunan ruang sampel
n(S) jumlah anggota himpunan S
P(A (( ) peluang kejadian A
?
himpunan bagian
F
h
F frekuensi harapan
Œ
anggota
akar kuadrat
= sama dengan
≠ tidak sama dengan
> lebih besar dari
≥ lebih besar sama dengan
< lebih kecil
≤ lebih kecil sama dengan
U
n
suku ke-n
S
n
jumlah suku ke-n
? dot
Daftar Simbol
B
Barisan bilangan: bilangan-bilangan yang disusun
mengikuti pola tertentu
Barisan aritmetika: barisan bilangan yang mempunyai
beda atau selisih yang tetap antara dua suku barisan
yang berurutan
Barisan geometri: barisan bilangan yang mempunyai
rasio yang tetap antara dua suku barisan yang
berurutan
Beda: selisih dua suku barisan yang berurutan
Bilangan irasional: bilangan yang tidak dapat di-
nyatakan dalam bentuk pecahan
Bilangan real: bilangan yang mencakup bilangan
rasional dan bilangan irasional atau semesta bilangan
D
Data: kumpulan datum
Data kualitatif: data yang bukan berupa bilangan,
melainkan gambaran keadaan objek yang dimaksud
Data kuantitatif: data yang berupa bilangan dan
nilainya bisa berubah-ubah
Datum: fakta tunggal
Deret bilangan: Jumlah suku-suku suatu barisan
bilangan
Deret aritmetika: jumlah suku-suku barisan aritmetika
Deret geometri: jumlah suku-suku barisan geometri
Diameter: garis tengah
F
Frekuensi harapan: harapan banyaknya muncul
suatu kejadian dari sejumlah percobaan yang
dilakukan
Frekuensi relatif: perbandingan banyaknya kejadian
uang diamati dengan banyaknya percobaan
G
Garis pelukis: garis yang ditarik dari titik puncak
kerucut ke sisi alas kerucut
J
Jangkauan: selisih datum terbesar dengan terkecil
K
Kejadian: himpunan bagian dari ruang sampel
Kejadian acak: kejadian yang hasilnya tidak dapat
diprediksikan sebelumnya
Glosarium
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
136
Indeks
B
bangun datar 1, 2, 4, 8, 9, 10
bangun ruang sisi lengkung 17, 18, 23, 28, 34, 35
barisan bilangan 99, 107, 108, 109, 111, 112, 116, 122, 124,
125, 127, 130
barisan aritmetika 107, 108, 109, 110, 111, 113, 114, 115,
122, 124, 125, 130
barisan aritmetika naik 108, 109, 113
barisan aritmetika turun 108, 124
barisan geometri 107, 111, 112, 113, 114, 118, 119, 120,
125, 127
barisan geometri naik 111
barisan geometri turun 111
beda 107, 108, 109, 111, 114, 115, 117, 119, 122, 124, 130
belah ketupat 1, 2
bentuk akar 73, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 93, 94, 95, 96
bilangan berpangkat bulat 73, 74, 79, 81, 93, 95
bilangan berpangkat bulat negatif 74, 79, 80, 95
bilangan berpangkat bulat positif 74, 95
bilangan berpangkat nol 81
bilangan berpangkat pecahan 92, 93, 95
bilangan bulat positif 75, 77, 78, 79, 80, 93, 95, 96
bilangan irasional 82, 90
bilangan pokok 74, 75, 76, 77, 79, 83, 97
bilangan rasional 81, 82, 90
bilangan rasional berpangkat bulat 81, 82
bilangan real 74, 75, 77, 78, 79, 80, 81, 85, 86, 88, 89, 90,
95, 96
bilangan real positif 85, 86, 95
bola 17, 18, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 36, 70
C
Christoff Rudolff 85
D
data 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51,
52, 53, 54, 71, 72
data kualitatif 39
data kuantitatif 38, 52, 53, 71
datum 38, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 54
deret bilangan 99, 114, 122, 127, 128
deret aritmetika 114, 115, 116, 117, 118, 122, 123, 125
deret geometri 99, 114, 117, 119, 120, 121, 122, 123, 125
diagram batang 41, 43, 51, 52, 53, 71
diagram batang horizontal 41
diagram batang vertikal 41
diagram gambar 40, 50, 51
diagram garis 41, 43, 48, 51, 52
diagram lingkaran 42, 43, 44, 51, 54
diagram pohon 57, 58, 59, 66
diameter 18, 23, 24, 29, 32, 33, 35
E
eksponen 74, 97
F
Fibonacci 108
frekuensi harapan 63, 64, 68, 69
frekuensi relatif 59, 60, 63, 65, 66, 68, 72
G
garis 8, 18, 19, 23, 24, 25, 27, 28, 36
garis pelukis 23, 24, 25, 27, 28, 36
J
jajargenjang 1, 4, 7, 70
jangkauan 48, 50, 51, 53, 72
jari-jari 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30,
31, 32, 33, 36
jari-jari alas 21, 22, 24, 27, 28, 33, 35, 36
juring 42, 52
K
kejadian 56, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 72
kejadian acak 56
kekongruenan 1, 8
kekongruenan bangun datar 1, 8, 13
kekongruenan segitiga 10
kesebangunan 1, 2, 4, 5, 12, 13
kesebangunan bangun datar 1, 2
kesebangunan segitiga 4
kerucut 17, 18, 23, 24, 25, 31, 26, 28, 33, 34, 35, 36, 71
komplemen 62, 65
kongruen 8, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 70
kuartil 49, 50, 51, 53, 54
kuartil atas 49, 51, 54
kuartil bawah 49, 50, 53, 54
kuartil tengah 49, 50, 51, 54
Indeks
137
L
lingkaran 18, 20, 23, 25, 28, 30, 35, 36,
luas 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, 30, 33, 34, 35,
36, 71
luas alas 20, 24, 25
luas permukaan 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, 30,
33, 35, 36, 71
luas permukaan kerucut 23, 24, 25, 28, 34, 35, 36
luas permukaan tabung 19, 20, 21, 22, 35, 34, 71
luas selimut 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 33, 34, 35,
36, 71
luas selimut kerucut 23, 24, 27, 28, 36, 34, 71
luas selimut tabung 19, 20, 21, 22, 34, 35
M
mean 44, 45, 46, 47, 48, 50, 51, 52, 53, 54
median 46, 47, 48, 49, 50, 51, 53, 54
modus 45, 46, 47, 48, 50, 51, 53, 54, 72
N
nilai peluang 62, 65, 66
P
pangkat bulat negatif 96
pangkat bulat positif 96
pangkat nol 96
pangkat pecahan 73, 85, 92, 93, 94, 98
pangkat sebenarnya 96
pangkat tak sebenarnya 73, 95, 96
panjang 2, 4, 3, 5, 6, 8, 9, 10, 12, 14, 13, 15, 16, 18, 19, 21,
23, 24, 25, 27, 29, 26, 30, 32, 33, 36, 70, 71
peluang 55, 56, 59, 60, 61, 62, 63, 65, 66, 67, 68, 69, 72
peluang kejadian 60, 61, 62, 63, 65
peluang suatu kejadian 56, 59, 60, 62
percobaan 56, 57, 58, 59, 60, 63, 65, 69
percobaan statistika 57
persegi 1, 2, 3, 7, 15
persegipanjang 1, 2, 3, 7, 14
piktogram 40, 43
pola bilangan ganjil 104, 105
pola bilangan genap 105
pola persegi 101, 102, 122, 123
pola persegipanjang 101, 103, 122, 123
pola segitiga 103, 105, 122, 123
pola segitiga Pascal 105, 122, 123
populasi 39, 43
R
rasio 111, 112, 113, 114, 118, 119, 122, 125
ruang sampel 57, 58, 59, 60, 61, 65, 67
S
sampel 39, 43, 52, 71
sebangun 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 14, 15, 70
segitiga 1, 2, 4, 5, 6, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 70
sektor 42, 52
selimut kerucut 23, 24, 25, 27, 28, 36, 34
selimut tabung 18, 19, 20, 21, 22, 34, 35
sisi 2, 3, 5, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 17, 18, 19, 23, 28, 33, 35,
24, 34, 70
sudut 2, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
suku barisan 107, 108, 111, 113, 114, 117, 118, 122, 124,
125
suku ke-n 107, 109, 110, 112, 122, 123, 125, 127, 130
T
tabung 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 33, 34, 35, 36, 71
Thales 4
titik sampel 57, 59, 60, 61, 65, 66, 67
trapesium 1, 2, 7, 9, 14
V
volume 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 31, 32, 33, 34, 35,
36, 71
volume bola 31, 32, 33, 36, 71
volume kerucut 25, 26, 27, 28, 31, 35, 36, 71
volume tabung 20, 21, 22, 23, 33, 35, 71
Mudah Belajar Matematika untuk Kelas IX
138
Bigelow, Paul dan Graeme Stone. 1996. New Course Mathematics Year 9 Advanced. Victoria: Macmillan
Education Australia PTY LTD.
Bin, Oh Teik. 2003. The Essential Guide to Science and Mathematics in English. Selangor: Shinano
Publishing House.
BSNP. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 2006 Mata Pelajaran Matematika Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Farlow, Stanley J. 1994. Finite Mathematics and Its Applications. Singapore: McGraw-Hill Book Co.
Hong, Tay Choong, Mark Riddington and Martin Grier. 2001. New Mathematics Counts For Secondary
Normal (Academic) 4. Singapore: Times Publishing Group.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1998. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nightingale, Paul. 2001. Vic Maths 6. Australia: Nightingale Press.
O'Brien, Harry. 2001. Advanced Primary Maths 6. Australia: Horwitz Martin Education.
O'Brien, Paul. 1995. Understanding Math Year 11. NSW: Turramurra.
Daftar Pustaka
195
Kunci Jawaban Soal-soal Pilihan
KUNCI JAWABAN BAB 1
TEORI PELUANG
Latihan 1
1. b. 20
3. a. 216 b. 60
5. 20
7. 960
9. 24
11. 120
13. a. 210
15. 138
Latihan 2
1. a. 6 c.
33
40
e. 21 h. 462
3. a. 120 b. 24
5. 336
7. a. 190 c. 455
9. a. 1.080 c. 5.124
11. a. 362.880 b. 80.640 c. 30.240
13. 9.880
15. 152.096
17. a. 6.840 b. 5.527.200
19. 43.680
Latihan 3
1. a. 36 b. 16 c. 256 d. 12 e. 216
3. a.
2
1
b.
52
1
c.
4
1
d.
52
1
5. a.
5
1
b.
2
1
c.
10
3
d.
5
4
196
Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
7. a.
9
1
b.
12
1
c. 0 d.
12
7
9. a. 256 c.
128
35
11. a.
18
5
c.
9
5
13. a. 30 c. 20
15. 440
18.
6
5
Uji Kemampuan
1 D 8 B 15 C 22 D 29 E
2 A 9 E 16 B 23 D 30 C
3 B 10 C 17 C 24 B 31 B
4 A 11 A 18 C 25 C 32 A
5 C 12 B 19 D 26 C 33 E
6 D 13 B 20 C 27 D 34 C
7 E 14 A 21 A 28 C 35 E
KUNCI JAWABAN BAB 2
STATISTIKA
Latihan 3
1. 80
3. Rp5.800.000,00
5. 7,2
7. 156
9. a. Modus = 9, median = 9, mean = 8,25
c. Modus = tidak ada, median = 68, mean = 71,17
11. mean = 3,6 ; rata-rata harmonis = 3,35 ; median = 3,5 dan modus = 3
13. 8,71

197
Kunci Jawaban Soal-soal Pilihan
Latihan 4
1. a. Jangkauan = 13, simpangan rata-rata =
7
25
Simpangan baku = 4,16 dan variansi = 17,29
b. Jangkauan = 2, simpangan rata-rata = 1,7
Simpangan baku = 6 , 4 dan variansi = 4,6
3. b. Jangkauan = 4, rata-rata simpangan = 0,93 dan simpangan baku = 1,15
5. a. Tertua 22 tahun dan termudah 11 tahun
b. variansi = 17,2
9. a. s b. s c. 10s
Latihan 5
3. b. Simpangan kuartil = 3,665
Desil ke-3 = 5,83
Desil ke-6 = 11,1
Persentil ke-45 = 8,83
Persentil ke-65 = 11,9
Jangkauan persentil = 7,5
6. a. Rata-rata = 7 dan simpangan baku = 10
b. Z (2) = - 10
2
1
dan Z (8) = 10
10
1
c. KV = 45,2 %
8. b. Data paling homogen adalah hasil tes Bahasa Indonesia
Data paling baik adalah hasil tes matematika
Uji Kemampuan
1 A 6 E 11 D 16 C 21 A
2 E 7 E 12 B 17 C 22 C
3 B 8 A 13 E 18 D 23 D
4 D 9 B 14 C 19 C 24 A
5 D 10 E 15 E 20 B 25 D
198
Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
KUNCI JAWABAN BAB 3
MATEMATIKA KEUANGAN
Latihan 1
1. a. 5% di bawah 100 = 5,56 % di atas 100
b. 18% di bawah 100 = 28,125 % di atas 100
3. a. 2,5% di atas 100 = 2,56 %
b. 30% di bawah 100 = 14,29 %
6. a. diskon = Rp9.010,00 dan harga sebelum diskon Rp53.000,00
c. pajak = Rp176.400,00 dan harga sebelum pajak Rp630.000,00
7. Bunga = Rp1.500.000,00 dan modal setelah bunga Rp3.500.000,00
9. a. Rp749.250,00
b. Rp7.499.250,00
11. Rp1.642.666,67
13. Rp570.000,00
15. 2% tiap bulan
17. Rp437.500,00
21. 21 bulan
25. a. Rp472.500,00 b. Rp4.027.500,00
27. Rp7.720.000,00
29. Rp930.000,00
33. Rp6.189.907,94
35. Rp8.428.415,61
37. 10 triwulan

Latihan 2
1. Rp4.216.925,29
3. Rp1367.621.435,90
7. Rp3.139.543,89
9. Rp350.000,00
11. Rp450.000,00
13. 180.610,558,00
199
Kunci Jawaban Soal-soal Pilihan
17. 6 %
21. Rp5.007.662,57
25. Rp360.000,00
Latihan 3
1. a. Rp100.000,00
b. Rp138.000,00
3. a. bunga pertama Rp104.000,00 dan angsuran pertama Rp146.000,00
b. Rp170.799,35
5. Rp447.302,56
7. a. Rp40.702.240,74
b. Rp3.391.853,40
Uji Kemampuan
1 A 8 B 15 B 22 A 29 E
2 C 9 D 16 A 23 C 30 B
3 E 10 D 17 B 24 A 31 C
4 B 11 E 18 D 25 D 32 D
5 D 12 C 19 C 26 E 33 C
6 A 13 A 20 E 27 B 34 D
7 E 14 C 21 B 28 D 35 A
200 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Glosarium
Kaidah pencacahan : Suatu kaidah yang digunakan untuk
menentukan atau menghitung berapa banyak
cara yang terjadi dari suatu peristiwa
3
n faktorial : Hasil kali bilangan bulat positif dari 1 sampai
dengan n
6
Permutasi : Susunan k obyek yang berbeda dari n obyek
yang tersedia dimana
10
Kombinasi : Susunan k obyek dengan urutan tidak
diperhatikan dari n obyek yang tersedia
13
Ruang sampel : Peristiwa yang mungkin muncul dari suatu
percobaan
19
Hasil kejadian : Himpunan bagian dari ruang sampel 19
Frekuensi harapan : Hasil kali peluang P(A) dengan banyaknya
percobaan n
24
Komplemen A : Banyaknya kejadian yang bukan A 25
Kejadian majemuk : Kejadian yang dibentuk dengan cara
menggabungkan dua atau lebih kejadian
sederhana
28
Kejadian saling bebas : Apabila kemunculan kejadian yang satu tidak
dipengaruhi oleh kemunculan kejadian lainnya.
30
Statistika : Pengetahuan yang berhubungan dengan
pengumpulan data , penyajian data ,
pengolahan data , penarikan kesimpulan dan
pengambilan keputusan secara logis dan
rasional tentang data tersebut
43
Deskriptif : Gambaran suatu data apa adanya 43
Inferensial : Kegiatan statistika dimulai dari pengumpulan
data sampai pada pengambilan keputusan
secara logis dan rasional.
43
Data : Sekumpulan keterangan yang dapat
menjelaskan sesuatu hal.
44
Reliabel : Kesalahan baku kecil, dapat terpercaya 44
Representatif : Dapat mewakili 44
Up to date : Terkini 44
Populasi : Keseluruhan data yang akan diteliti 44
201
Glosarium
Observasi : Pengumpulan data melalui pengamatan 46
Interview : Pengumpulan data melalui wawancara 46
kuesioner : Pengumpulan data melalui angket 46
Piktogram : Nama lain diagram lambang 55
Ogive : Diagram garis yang diperolegh dari daftar
distribusi frekuensi kumulatif
58
Histogram : Diagram batang yang saling berimpit yang
diperoleh dari daftar distribusi frekuensi
59
Foligon frekuensi : Diagram garis yang tertutup yang diperoleh
dari daftar distribusi frekuensi.
59
Mean : Rata-rata hitung 64
Modus : Nilai data yang sering muncul 68
Median : Nilai data yang terletak di tengah setelah data
diurutkan
70
Rata-rata simpangan : Perbandingan harga mutlak selisih data dengan
rata-ratanya dengan banyaknya data
76
Simpangan baku : Ukuran dispersi dengan rumus
∑ − =
2
i
) x x (
n
1
s
77
Varians : Simpangan baku kuadrat 79
Kuaril : Nilai data yang membagi data menjadi 4
bagian sama besar setelah data diurutkan
81
Desil : Nilai data yang membagi data menjadi 10
bagian sama besar setelah data diurutkan
83
Persentil : Nilai data yang membagi data menjadi 100
bagian sama besar setelah data diurutkan
85
Angka baku : Nilai yang menyatakan perbandingan antara
selisih data dengan rata-ratanya dengan
simpangan baku data tersebut
86
Koefisien variasi : Perbandingan antara simpangan baku dengan
rata-rata suatu data dan dinyatakan dalam %.
88
Bunga : Jasa dari pinjaman 97
Persen di atas 100 : Bentuk pecahan yang selisih antara penyebut
dan pembilangnya sama dengan seratus
98
Persen di bawah 100 : Bentuk pecahan yang jumlah antara penyebut
dan pembilangnya sama dengan seratus
98
202 Matematika XII SMK Kelompok:Penjualan dan Akuntansi
Bunga tunggal : Bunga yang diperoleh pada setiap akhir jangka
waktu tertentu yang tidak mempengaruhi
besarnya modal yang dipinjam
101
Diskonto : Bunga yang dibayarkan oleh peminjam pada
saat menerima pinjaman
105
Bunga majemuk : Proses bunga berbunganya suatu modal 111
Rente : Sederatan modal atau angsuran yang
dibayarkan atau diterima pada setiap jangka
waktu tertentu yang tetap besarnya
125
Rente pranumerando : Rente yang dibayarkan atau diterima di awal
periode.
125
Rente postnumerando : Rente yang dibayarkan atau diterima di akhir
periode
125
Rente kekal : Rente yang jumlah angsurannya tidak terbatas 125
Anuitas : Sejumlah pembayaran pinjaman yang sama
besarnya. yang dibayarkan setiap jangka waktu
tertentu. dan terdiri atas bagian bunga dan
bagian angsuran
141
Obligasi : Surat berharga yang merupakan perjanjian
pinjaman tertulis
155
Depresi(penyusutan) : Perkurangnya nilai ekonomi suatu aktiva. 162
Aktiva : Segala sumber daya ekonomi dari suatu
perusahan yang berupa harta maupun hak-
hak yang di miliki berdasarkan kekuatan hukum
162
203
Indeks
Indeks
A
Aktiva ................................................................................................................166, 168, 171, 179, 180
Angka baku.......................................................................................................................89, 90, 92, 93
Anuitas ............................................ 96, 144, 145, 153, 154, 155, 157, 158, 159, 160, 161, 162, 187, 188
B
Bunga
majemuk 96, 97, 102, 103, 104, 105, 106, 109, 111, 112, 113, 115, 116, 118, 120, 122, 123, 124, 144,
148, 158, 160, 161, 163, 187, 188, 189
tunggal... 96, 97, 102, 103, 104, 105, 106, 109, 111, 112, 113, 115, 116, 118, 120, 122, 123, 124, 144,
148, 158, 160, 161, 163, 187, 188, 189
D
Data ............................................................ 42, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 52, 54, 57, 62, 64, 70, 72, 76
Deduktif.............................................................................................................................................43
Desil ........................................................................................................................... 77, 85, 86, 92, 96
Deskriptif ...........................................................................................................................................43
Deviasi standar............................................................................................................................. 79, 81
Diagram
batang ............................................................................................ 50, 52, 53, 54, 55, 61, 94, 95, 96
gambar ........................................................................................... 50, 52, 53, 54, 55, 61, 94, 95, 96
garis................................................................................................ 50, 52, 53, 54, 55, 61, 94, 95, 96
lingkaran ......................................................................................... 50, 52, 53, 54, 55, 61, 94, 95, 96
Diskonto .................................................................................................... 106, 107, 108, 120, 121, 187
Diskrit................................................................................................................................................45
F
Faktorial ..............................................................................................................................................6
Fermat.................................................................................................................................................3
Frekuensi ........................................................... 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 67, 68, 69, 73, 84, 91, 95, 96
Frekuensi harapan.................................................................................................................. 20, 24, 34
G
Garis lurus ....................................................................................................................................... 167
H
Hasil produksi ............................................... 111, 158, 159, 166, 167, 171, 174, 181, 182, 183, 187, 189
Histogram.................................................................................................................................... 60, 61
I
Induktif..............................................................................................................................................43
Inferensial..........................................................................................................................................43
Interval....................................................................57, 63, 68, 69, 71, 73, 76, 82, 84, 86, 87, 88, 92, 97
204 Matematika XII KelompokPenjualan dan Akuntansi
Interview...........................................................................................................................................46
J
Jam kerja......................................................................................................................................... 176
Jangkauan ............................................................................................................ 77, 85, 88, 91, 92, 96
kuartil .............................................................................................................. 77, 85, 88, 91, 92, 96
K
Kaidah pencacahan...........................................................................................................................2, 3
Kejadian
bersyarat.................................................................... 2, 19, 20, 25, 28, 29, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 42
majemuk.......................................................................... 2, 19, 20, 25, 28, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 42
saling bebas ..................................................................... 2, 19, 20, 25, 28, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 42
saling lepas ...................................................................... 2, 19, 20, 25, 28, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 42
Koefisien variasi ................................................................................................................90, 91, 92, 93
Kombinasi .......................................................................................................................2, 3, 13, 14, 17
Komplemen........................................................................................................................................25
Kontinu..............................................................................................................................................45
Kuartil..............................................................................................................77, 83, 84, 85, 91, 92, 94
Kuesioner...........................................................................................................................................46
M
Mean........................................................................................................................................... 65, 73
Median ....................................................................................................................... 72, 73, 74, 95, 96
Modus ..............................................................................................................................70, 71, 74, 96
N
Nilai
akhir96, 97, 106, 107, 108, 113, 115, 116, 117, 118, 121, 124, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133,
134, 135, 136, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 146, 149, 154, 155, 156, 157, 162, 163,
165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, 175, 176, 178, 180, 181, 182, 183, 184, 185,
186, 188
sisa .96, 97, 106, 107, 108, 113, 115, 116, 117, 118, 121, 124, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133,
134, 135, 136, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 146, 149, 154, 155, 156, 157, 162, 163,
165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, 175, 176, 178, 180, 181, 182, 183, 184, 185,
186, 188
tunai96, 97, 106, 107, 108, 113, 115, 116, 117, 118, 121, 124, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133,
134, 135, 136, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 146, 149, 154, 155, 156, 157, 162, 163,
165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, 175, 176, 178, 180, 181, 182, 183, 184, 185,
186, 188
O
Obligasi ........................................................................................................................................... 159
Ogive.................................................................................................................................................62
P
Pascal ............................................................................................................................................ 3, 23
Peluang ......................................................... 2, 19, 20, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 31, 33, 37, 38, 39, 40, 41


205
Indeks
Pembagi tetap....................................................................................................109, 110, 112, 121, 124
Penyusutan...........................................................................................96, 165, 166, 173, 176, 178, 179
Permutasi ........................................................................................................... 2, 3, 10, 11, 12, 16, 17
siklik .............................................................................................................. 2, 3, 10, 11, 12, 16, 17
Persen .................................................................................................................. 98, 99, 100, 120, 184
di atas seratus .................................................................................................. 98, 99, 100, 120, 184
di bawah seratus............................................................................................... 98, 99, 100, 120, 184
sebanding......................................................................................................... 98, 99, 100, 120, 184
seukuran .......................................................................................................... 98, 99, 100, 120, 184
Persentil ................................................................................................................................ 77, 87, 88
Populasi ....................................................................................................................................... 42, 48
R
Rente
kekal .......................................................... 96, 126, 127, 128, 130, 132, 134, 135, 137, 139, 142, 186
postnumerando........................................... 96, 126, 127, 128, 130, 132, 134, 135, 137, 139, 142, 186
pranumerando............................................ 96, 126, 127, 128, 130, 132, 134, 135, 137, 139, 142, 186
Ruang sampel ...................................................................................................................19, 20, 32, 34
S
Saldo menurun................................................................................................................................. 169
Sampel ........................................................................................................................................ 42, 48
Simpangan
baku .............................................................................. 68, 69, 77, 78, 79, 81, 82, 85, 89, 91, 93, 97
kuartil ............................................................................ 68, 69, 77, 78, 79, 81, 82, 85, 89, 91, 93, 97
Statistika.....................................................................................................................42, 43, 44, 48, 64
T
Tabel distribusi ..................................................................................................................56, 58, 84, 95
Tepi
atas ............................................................................................................58, 71, 73, 74, 78, 84, 91
bawah.........................................................................................................58, 71, 73, 74, 78, 84, 91
U
Ukuran pemusatan ...................................................................................................... 42, 64, 65, 76, 77
Umur manfaat....................................................................................................166, 168, 169, 179, 180
DAFTAR PUSTAKA
Alders, C.J. 1987. Ilmu Aljabar. Jakarta: Pradnya Paramita.
Anton, Howard. 1988. Aljabar Linear Elementer. Jakarta: Erlangga.
Ayres, Frank. Jr. 1972. Calculus 2 edition, Schum Outline Series: Mc. Graw Hill London,
Book Company.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Matematika 8. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Matematika 11. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2003. Kurikulum SMA dan MA. Jakarta.
Holiger, Siegbert. Matematika Teknik untuk Kejuruan Logam. Jakarta: Katalis.
Ilman, M. Oetjoep. Gunawan dkk. 1968. Aljabar dan Ilmu Ukur Analitik. Jakarta:
Widjaya.
Purcell, Edwin J. Varberg Dole. 1999. Kalkulus dan Geometri Analitis. Jakarta: Erlangga.
Sadler. A.J. 1999. Introductory Calculus Second Edition. Australia: Sadler Family
Trust.
Sadler, A.J. 1999. Geometry and Trigonometry. Australia: Sadler Family Trust.
Spiegel, Murray R. 1993. Matematika Dasar. Jakarta: Erlangga.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Alders, C.J. 1987. Ilmu Aljabar. Jakarta: Pradnya Paramita.
Anton, Howard. 1988. Aljabar Linear Elementer. Jakarta: Erlangga.
Ayres, Frank. Jr. 1972. Calculus 2 edition, Schum Outline Series: n, Mc. Graw Hill Londo :
Book Company.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Matematika 8. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Matematika 11. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2003. Kurikulum SMA dan MA. Jakarta.
Holiger, Siegbert. Matematika Teknik untuk Kejuruan Logam. Jakarta: Katalis.
Ilman, M. Oetjoep. Gunawan dkk. 1968. Aljabar dan Ilmu Ukur Analitik. a: Jakarta
Widjaya.
Purcell, Edwin J. Varberg Dole. 1999. Kalkulus dan Geometri Analitis. a. Jakarta: Erlangga
Sadler. A.J. 1999. Introductory Calculus Second Edition ily . Australia: Sadler Fami n
Trust.
Sadler, A.J. 1999. Geometry and Trigonometry. Australia: Sadler Family Trust.
Spiegel, Murray R. 1993. Matematika Dasar. Jakarta: Erlangga.