You are on page 1of 5

Metrologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa


Alat pengukur dengan presisi sampai seperjuta dari 1/3600 derajad
Metrologi (ilmu pengukuran) adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara
pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Metrologi
mencakup tiga hal utama:
1. Penetapan definisi satuan-satuan ukuran yang diterima secara internasional (misalnya
meter)
2. Perwujudan satuan-satuan ukuran berdasarkan metode ilmiah (misalnya perwujudan nilai
meter menggunakan sinar laser)
3. Penetapan rantai ketertelusuran dengan menentukan dan merekam nilai dan akurasi suatu
pengukuran dan menyebarluaskan pengetahuan itu (misalnya hubungan antara nilai ukur
suatu mikrometer ulir di bengkel dan standar panjang di laboratorium standar)
Metrologi dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama dengan tingkat kerumitan dan akurasi yang
berbeda-beda:
1. Metrologi Ilmiah: berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan standar-standar
pengukuran dan pemeliharaannya.
2. Metrologi Industri: bertujuan untuk memastikan bahwa sistem pengukuran dan alat-alat ukur
di industri berfungsi dengan akurasi yang memadai, baik dalam proses persiapan, produksi,
maupun pengujiannya.
3. Metrologi Legal: berkaitan dengan pengukuran yang berdampak pada transaksi ekonomi,
kesehatan, dan keselamatan.
Bidang-bidang Metrologi
Metrologi Ilmiah dibagi oleh BIPM (Bereau International des Poids et Measures), Biro Internasional
Timbangan dan Takaran menjadi 9 bidang teknis:
 massa dan besaran terkait
 kelistrikan
 panjang
 waktu dan frekuensi
 suhu
 radiasi pengion dan radioaktivitas
 fotometri dan radiometri
 akustik
 jumlah zat
Daftar isi
[sembunyikan]
 1 Metrologi di Indonesia
 2 Pentingnya Metrologi
 3 Dampak Metrologi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
 4 Referensi
Metrologi di Indonesia[sunting | sunting sumber]


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai pengelola teknis ilmiah SNSU di Indonesia
Legalitas metrologi di Indonesia berpijak pada Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun
1981 tentang Metrologi Legal (UUML) yang mengatur hal-hal mengenai pembuatan, pengedaran,
penjualan, pemakaian, dan pemeriksaan alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya.
Sesuai dengan amanat UUML tersebut, maka ditetapkanlah Peraturan Pemerintah (PP) No. 2
Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran (SNSU) yang menjabarkan perihal
penetapan, pengurusan, pemeliharaan dan pemakaian SNSU sebagai acuan tertinggi pengukuran
yang berlaku di Indonesia. Selain itu, ditetapkan pula Keppres No. 79 tahun 2001 tentang Komite
Standar Nasional untuk Satuan Ukuran (KSNSU) sebagai penjabaran UUML yang mengharuskan
adanya lembaga yang membina standar nasional. Keppres ini memandatkan bahwa pengelolaan
teknis ilmiah SNSU diserahkan kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Secara tidak
langsung, Keppres ini berisi penunjukkan Lembaga Metrologi Nasional atau National Metrology
Institute (NMI) kepada salah satu unit kerja di LIPI. Dalam hal ini, Pusat Penelitian Kalibrasi,
Instrumentasi, dan Metrologi (Puslit KIM–LIPI) adalah unit organisasi di bawah LIPI yang bidang
kegiatannya paling berkaitan dengan pengelolaan standar nasional. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa Puslit KIM–LIPI merupakan instansi pemerintah yang menjalankan fungsi sebagai
Lembaga Metrologi Nasional atau NMI di Indonesia.
Semua SNSU yang diperlihara dan disediakan oleh Puslit KIM–LIPI merupakan standar tertinggi di
Indonesia untuk pengukuran fisika seperti panjang, waktu, massa dan besaran terkait, kelistrikan,
suhu, radiometri dan fotometri, serta akustik dan getaran. Puslit KIM–LIPI tidak memiliki standar
acuan atau Certified Reference Material (CRM) untuk pengukuran kimia dan tidak memelihara
SNSU untuk pengukuran dalam bidang radiasi nuklir karena kedua bidang pengukuran ini tidak
termasuk dalam lingkup kompetensinya.
Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi (Puslit KIM–LIPI) merupakan NMI untuk
pengukuran fisika di Indonesia. Tugas dari NMI adalah mendiseminasikan kemamputelusuran
pengukuran yang diakui secara internasional kepada laboratorium kalibrasi terakreditasi, produsen
CRM terakreditasi, laboratorium rujukan terakreditasi, penyelenggara uji profisiensi teregistrasi dan
laboratorium penguji terakreditasi. Dalam hal ini, Puslit KIM-LIPI selaku NMI mendiseminasikan
ketertelusuran pengukuran fisika kepada laboratorium penguji melalui jaringan laboratorium kalibrasi
terakreditasi. Dengan demikian sistem ketertelusuran nasional di bidang pengukuran fisika sudah
terbangun.
Lain halnya untuk pengujian kimia, sistem ketertelusuran nasional di bidang pengujian kimia belum
terbangun, padahal lebih dari 70% pengujian yang dilakukan di Indonesia adalah pengujian kimia.
Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan yang serius dalam infrastruktur pengujian kimia. Terdapat
beberapa pengecualian misalnya PPOMN dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah
sejak tahun 1990 berperan sebagai laboratorium rujukan tingkat nasional dan produsen CRM di
bidang pengujian obat dan makanan. Selain itu, Balai Besar Pengolahan dan Pengembangan Hasil
Perikanan (BBP2HP)–Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Pusat Sarana Pengendalian
Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL)-Kementrian Lingkungan Hidup juga berperan sebagai
laboratorium rujukan masing-masing untuk produk perikanan dan lingkungan. Pusat Penelitian
Kimia–LIPI baru memperoleh mandat sebagai Pengelola Teknis Ilmiah Standar Nasional untuk
Satuan Ukuran di bidang Metrologi Kimia pada tahun 2007, berdasarkan keputusan Kepala LIPI
nomor 237/M/2007.
Pentingnya Metrologi[sunting | sunting sumber]
Salah satu faktor penting untuk kemajuan suatu negara adalah pertumbuhan ekonominya.
Perdagangan internasional amat diperlukan dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Namun terdapat
penghambat yang besar untuk peningkatan perdagangan antar negara, salah satunya
adalah Technical Barrier to Trade (TBT) atau hambatan teknis perdagangan. Disamping itu
persaingan antar negara yang semakin meningkat dalam era perdagangan bebas sekarang ini
menuntut kualitas yang tinggi bagi produk-produk yang dipasarkan, artinya kualitas yang dapat
diterima oleh pasar yaitu kualitas produk yang memenuhi regulasi dan standar internasional.
Kualitas suatu produk dinyatakan dalam sertifikat pengujian produk tersebut. Disini diperlukan data
yang valid yang berarti hasil uji di negara pengekspor komparabel (tidak berbeda) dengan di negara
pengimpor. Tanpa pengujian yang valid tidak ada jaminan bahwa kualitas produk memenuhi
regulasi/standar internasional dan hal ini dapat menghambat ekspor.
Lemahnya infrastruktur metrologi yang diakui internasional merupakan akar penyebab hambatan
teknis seperti diuraikan diatas, yang juga berarti menghambat perkembangan ekonomi negara.
Dalam hal ini negara-negara berkembang merupakan kelompok yang paling dirugikan oleh adanya
TBT, termasuk diantaranya Indonesia. Dilain pihak, membanjirnya produk manufacturing impor saat
ini sudah mengancam kelangsungan hidup sebagian industri dalam negeri. Hal ini terjadi karena SNI
(Standar Nasional Indonesia) untuk produk terkait belum tersedia, yang artinya infrastruktur
laboratorium pengujian untuk produk tersebut juga belum ada. SNI diperlukan untuk
menangkal/membatasi masuknya produk-produk non standar berkualitas rendah yang merugikan
konsumen, merusak pasaran dan mematikan industri lokal.
Lembaga Metrologi Nasional, NMI yang kompeten sangat dibutuhkan sebagai landasan
terbentuknya infrastruktur metrologi nasional yang kuat dan kokoh. Dengan adanya infrastruktur
metrologi yang kuat dan kokoh, maka masalah-masalah nasional yang bermuara dari tidak
akuratnya data hasil pengujian dapat diatasi. Selain itu, segala hambatan perdagangan (TBT) dapat
ditanggulangi sehingga akan meningkatkan perekonomian nasional.
Dampak Metrologi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi[sunting | sunting
sumber]


GDP real growth rates, 1990–1998 and 1990–2006, in selected countries.
Proyek MetroTrade telah membuktikan beberapa kasus dimana penerapan metrologi yang tepat
dapat memecahkan permasalahan perdagangan yang ada dan mencegah timbulnya masalah
perdagangan karena hambatan teknis perdagangan. Satu contoh yang menarik adalah perbedaan
regulasi dan persyaratan antara ASTM (American Society for Testing and Materials) dan ISO
(International Organization for Standardization) tidak memberikan pengaruh pada perdagangan
antara dua negara yang mengaplikasikan metoda tersebut karena hasil pengukuran dari kedua
negara tersebut menunjukkan hasil yang sama, sebab masing-masing negara telah menerapkan
metrologi dengan benar.
NMI Jerman atau yang dikenal dengan nama PTB (Physikalish-Technische Bundesanstal) telah
melakukan penelitian untuk melihat dampak langsung hasil pengukuran laboratorium terhadap
ekonomi Jerman. Didapatkan bahwa pada impor gas alam pada tahun 1998, kesalahan sebesar
10% dari hasil pengukuran laboratorium (dengan menggunakan alat kromatografi gas) akan
memberikan kesalahan jumlah gas alam sebesar 1% dan hal tersebut setara dengan kesalahan
0,1% dari energi yang dihasilkan. Bila harga gas alam adalah 20 miliar DM pertahunnya, maka
kesalahan 0,1% ini akan dapat memberikan perbedaan harga sebesar 20 juta DM. Dari penelitian ini
juga didapatkan data bahwa pada tahun 1994 duplikasi pengujian yang harus dilakukan karena
adanya masalah TBT telah merugikan negara sebesar 3 miliar DM, yang berarti sama dengan 0,1%
dari jumlah GNP (Gross National Product) Jerman.
NMI Korea Selatan yang dikenal dengan nama KRISS (Korean Research Institute of Standards and
Sciences) melaporkan bahwa penerapan metrologi dengan benar di Korea Selatan pada tahun 2003
telah memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sebesar 8,1 miliar USD
dengan persen BCR (Benefit to Cost Ratio) sebesar 12,76%.
Beberapa studi yang dilakukan terpisah di beberapa NMI seperti Amerika
Serikat (NIST), Inggris (NPL), dan Canada (NRC), semuanya menunjukkan bahwa modal yang
dihabiskan pemerintah dari negara-negara tersebut untuk membangun NMI ternyata telah
memberikan hasil yang jauh lebih tinggi, atau dapat dikatakan bahwa keuntungan secara ekonomi
adalah jauh melebihi modal. Bahkan untuk Uni Eropa, studi terpisah menunjukkan BCR sebesar 3:1
hanya untuk kegiatan pengukuran saja, di mana setiap 1 Eu yang diinvestasikan akan menghasilkan
3 Eu. Keuntungan di bidang sosial seperti kesehatan dan lingkungan masih belum diperhitungkan.
Dari beberapa contoh yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengukuran
atau metrologi dengan benar akan memberikan dampak yang nyata pada pertumbuhan ekonomi
suatu negara.