You are on page 1of 12

IRIGASI KENDI

(PITCHER IRRIGATION)
Disusun Oleh:
Andreas R. Pinontoan
Christianto Pisu
Lahan kering di Indonesia memiliki luas sekitar 116,91 juta hektar, di
mana sekitar 22,40 juta hektar lahan kering potensial terdapat
di Pulau Kalimantan dan memiliki potensi yang besar untuk
dikembangkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan maupun
lahan perkebunan karena mempunyai relief dari datar hingga
bergelombang (Hidayat dkk., 2000; Kurnia dan Mutik, 2000).
Apabila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan dan
mempertahankan produktivitas lahan, baik kesuburan fisik, kimia
maupun biologi akan berdampak lanjutan terhadap degradasi tanah.
Meningkatnya kebutuhan air di bidang pertanian dan di bidang-
bidang lainnya serta potensi air terus menurun seperti yang dilansir
oleh Gubernur Lemhanas pada seminar nasional pemantapan
gerakan hemat air tahun 1996 (Effendi, 1996), berarti dituntut suatu
usaha untuk pemanfaatan air di bidang pertanian secara hemat dan
efisien. Untuk itu perlu dicari suatu sistem irigasi yang dapat
menghemat air, karena sistem irigasi yang ada sekarang seperti sistem
irigasi penggenangan dan irigasi sistem alur yang boros karena
terjadinya aliran permukaan, evaporasi dan perkolasi, sistem irigasi
curah (sprinkler) dan irigasi tetes (drip) yang memerlukan peralatan
yang relatif mahal dan air relatif banyak.
Pendahuluan
Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah
lahan kering dan ancaman kekeringan yang melanda beberapa
wilayah di dunia setiap tahun. Sistem irigasi bahan gerabah (Kendi,
Pipa gerabah) telah banyak dikembangkan untuk meningkatkan
efisiensi pemakaian air, yaitu antara lain:
 Irigasi Kendi pada tanaman melon di India(Mondal,1974)
 Irigasi Kendi pada tanaman hortikultura di Jerman (Stein, 1997).
 Irigasi Kendi dan Irigasi pipa tanah liat bawah permukaan pada
tanaman jagung, tomat, dan okra di Zimbabwe (Batchelor et al.,
1996)

Pembahasan
Di indonesia sendiri Irigasi kendi sudah dikembangkan
oleh :
 Setiawan et al (1998) telah mengembangkan sistem
irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996.
 Irigasi pipa Gerabah bawah permukaan (Hermantoro,
2000)
 Inovasi-inovasi cerdas” pada 24 November 2010.
Irigasi Kendi terbuat dari Lumpur Lapindo (Budi Indra
Setiawan )

Pembahasan
Sistem Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation) ini menggunakan teknik
kondensasi dengan cara air diberikan langsung pada zona
perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di sekitar zona
pembasahan.
Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara
mengatur melalui sifat porositas kendi.
Sistem Irigasi Kendi
Mondal (1974) dan Stein (1990) memasukkan sistem
irigasi kendi ke dalam sistem irigasi bawah permukaan.
Selanjutnya Stein (1990) menggolongkannya lagi ke
dalam irigasi lokal (Local Irrigation), karena rembesan
air irigasi terjadi secara lambat dengan volume yang
rendah (kecil) pada zona perakaran tanaman, sehingga
hanya sebagian tanah yang terbasahi, maka sistem
irigasi ini mampu mengurangi evaporasi dan perkolasi
(Modal, 1978).

Sistem Irigasi Kendi
Adapun juga Penelitian irigasi hemat air dengan menggunakan
campuran tanah liat, pasir, dan serbuk gergaji sebagai emiter
irigasi yang berbentuk kendi telah dilakukan oleh Setiawan dan
Edwar (1997), Setiawan (1998), Edwar (2000), Idrus, Suprapto, dan
Maulana (2004), dan Idrus dkk.(2005).
 Ukuran emiter kendi yang dibuat oleh Setiawan dan Edwar
(1997), Setiawan (1998), Edwar (2000) yaitu tinggi ± 28 cm,
tinggi badan ± 14 cm, diameter badan ± 14 cm, dan diameter
leher kendi ± 7 cm.
 Sedangkan ukuran emiter kendi yang dibuat oleh Idrus dkk.
(2004) dan Idrus dkk. (2005) yaitu diameter kendi 5 cm,
tinggi badan kendi 6 cm, tingi leher kendi 2 cm, dan tebal
dinding kendi ± 0,5 cm.

 Setiawan (1998) mengemukakan bahwa laju rembesan pada
kendi dengan campuran bahan tanah liat 60%, pasir 20%, dan
serbuk gergaji 20% diperoleh hasil rata-rata 0,088339 cm/jam
atau rata-rata kumulatif rembesan 54,98 cm3/jam atau 1,28
l/hari. Jarak radial dan vertikal pembasahan dari dinding
kendi dapat mencapai 25 cm dan 40 cm secara berturut-
turut.


 Idrus dkk (2004) melaporkan bahwa kendi dengan
persentase campuran bahan 70% tanah liat, 15% pasir,
dan 15% serbuk gergaji memberikan produktivitas air
tanaman tomat yang tertinggi yaitu 41,21 kg produksi/
m3 air irigasi dibandingkan dengan persentase
campuran bahan lainnya yang hanya berkisar 10,49—
15,52 kg produksi/ m3 air irigasi, dan memberikan
penghematan air sebesar 75% dibandingkan dengan
penyiraman secara manual.
 Pemberian air tanaman semangka dengan
menggunakan kendi irigasi dengan komposisi bahan
tanah liat 55%, pasir 22,5%, dan serbuk gergaji 22,5%
diperoleh hasil buah semangka rata-rata 5,93 kg per
tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan
komposisi bahan lainnya yang rata-rata hanya 3,51—
4,40 kg per tanaman (Idrus, dkk.,2005).

Adapun percobaan penelitian yang dilakukan oleh Hermantoro
(Agroteknose, Vol V, No 1 Th 2011) Irigasi Kendi pada Lahan Kering
Studi Kasus Untuk Tanaman Lada didapatkan pola perembesan air
yang terjadi pada gambar.

 Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation) dapat mengatasi
masalah kekeringan atau krisis air dengan
penggunaan air yang sangat efisien dan efektif.
 Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation) dapat menghemat
75% air dari pada penyiraman manual.
 Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation) adalah teknik irigasi
paling termurah dibandingkan dengan irigasi tetes
(drip Irrigation) dan Irigasi Curah (Sprinkler)
Kesimpulan