You are on page 1of 21

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH ASPEK HPT

“HAMA GUDANG”


Oleh:
Nama : Mualifah Hana Rusyiana
NIM : 125040200111084
Waktu Praktikum :Senin, 07.30 – 09.10 WIB
Nama Asisten : Devi Kumalasari

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hama adalah hewan atau organisme yang aktivitasnya dapat
menurunkan dan merusak kualitas juga kuantitas produk pertanian. Hama
berdasarkan tempat penyerangannya dibagi menjadi 2 jenis yaitu hama lapang
dan hama gudang/hama pasca panen. Hama lapang adalah hama yang
menyerang produk pertanian pada saat masih di lapang. Hama gudang adalah
hama yang merusak produk pertanian saat berada di gudang atau pada masa
penyimpanan. Menurut (Kertasapoetra, 1991), hama pasca panen merupakan
salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan
produksi. Hasil panen yang disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat
diserang oleh berbagai hama gudang yang dapat merugikan.
Dalam tiap fase produksi pertanian baik pra produksi maupun pasca-
produksi, terjadi gangguan serangga hama yang mengakibatkan penyusutan
hasil pertanian. Khusus pada masa pasca produksi atau pasca panen
penyusutan hasil pertanian, berdasarkan hasil penelitian BULOG, mencapai
15% (Kartasapoerta, 1989).
Sitophilus oryzae dbersifat polifag dapat menyerang berbagai jenis
biji-bijian seperti beras, jagung dan kacang tanah. Selama ini Sitophilus
oryzae secara umum masih dianggap sebagai hama terbatas pada produk
pertanian tertentu(beras).
Callosobruchus maculatus merupakan salah satu hama gudang yang
meyerang pada biji kacang hijau yang disimpan. Dimana kerusakan yang
ditimbulkan mampu menurunkan kualitas,kuantitas serta nilai ekonomis dari
biji kacang hijau tersebut.
1.2 Tujuan
Praktikum Teknologi Produksi Benih Aspek Hama Penyakit Tanaman
(HPT) bertujuan untuk memahami dan menganalisis preferensi Sitophilus
oryza eterhadap beberapa jenis beras serta preferensi populasi Callosobruchus
maculatus pada biji kacang hijau.
1.3. Manfaat
Dari praktikum ini diharapkan dapat memberi masukan dalam upaya
pengendalian dan antisipasi serangan hama Sitophilus oryzae terhadap
beberapa jenis beras serta terhadap kacang hijau.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hama gudang
 Ware house pest insects generally attack the place of storage products
(warehouse). Ware house pests potentially cause yield loss during storage
products.
“Hama gudang pada umumnya serangga yang menyerang produk ditempat
penyimpanan (gudang). Hama gudang berpotensi menyebabkan
kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan.”
(Anonim, 2014
a
)
 Ware house pest is a pest which often attacks the human food ingredients
that have been in storage andt he symptoms caused very harmful.
“Hama gudang merupakan hama yang sering menyerang bahan-bahan
makanan manusia yang sudah dalam penyimpanan dan gejala yang
ditimbulkan sangat merugikan.”
(Bargbinson, 2002).
 Ware house are several insect pests that have the potential as a pest ware
housing.
“Hama gudang adalah beberapa serangga yang berpotensi sebagai hama
pergudangan.”
(Grandos, 2000)
2.2 Kutu Beras (Sitophilus oryzae)
2.2.1 Morfologi
Famili Curculionidae mudah dikenal dengan adanya moncong atau
rostum pada bagian mulut. Pada Sitophilus oryzae betina disamping untuk
menggerek biji pada waktu makan, rostum uga berfungsi untuk membuat
lubang tempat meletakkan telur (Imms, 1960). Seperti halnya
anggota Curculionidae lainnya,Sitophilus oryzae mempunyai lapisan kitin
yang cukup keras. Sifat khas pada Sitophilus oryzae yaitu bila mendapat
gangguan, kumbang ini akan pura-pura mati dengan melipatkan atau menarik
tungkainya dan tidak bergerak (Kalshoven, 1981). Daerah
penyebaran Sitophilus oryzae meliputi hampit di berbagai daerah. Variasi
yang ada dari famili Curculionidae terlihar pada ukuran tubuh, bentuk serta
ukuran rostum. Anggota sub. Famili Rhyncoporinae merupakan kelompok
kumbang moncong yang menyerang butian, atau dikenal dengan istilah
“Billbug”.Sitophilus oryzae sebagai salah satu anggota kumbang ini
merupakan hama potensial pada produk pertanian (Borror, 1992).
Sitophilus oryzae sewaktu masih muda berwarna merah kecoklatan,
sedangkan pada umur yang paling tua berwarna coklat hitam. Pada bagian
elitra terdapat empat bintik hitam. Ukuran tubuh ± 2-3,5 mm (Mangudiharjoo,
1978 dan Kalshoven 1981). Bagian mulut yang memanjang atau rostrum
digunakan untuk merusak biji-bijian yang mempunyai kulit cukup keras
(Rismunandar, 1985). Antena atau sungut berbentuk menyiku dan terdiri dari
delapan ruas (Bejo, 1992). Imago jantan dan betina Sitophilus oryzae dapat
dibedakan dari bentuk moncongnya. Imago jantan mempunyai moncong yang
lebih pendek, lebar, kasar dan mempunyai banyak bintik-bintik. Imago betina
mempunyai moncong yang lebih panjang, ramping, melengkung, mengkilat, dan
halus dengan bintik- bintik yang lebih sedikit. Ukuran tubuh yang jantan relatif
lebih kecil (Willam, 1980).

2.2.2 Klasifikasi
Kumbang Sitophilus oryzae merupakan anggota dari klas insecta.
Dalam klasifikasinya, kedudukan Sitophilus oryzae adalah:
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Ordo: Coleoptera
Sub ordo: Polyphage
Family: Curculionidae
Sub Family: Rhyncoporinae
Genus: Sitophilus
Spesies : Sitophilus oryzae L. (Borror, 1992)
2.2.3 Daur Hidup
Masa hidup Sitophilus oryzae relatif cukup lama. Pada kumbang betina
mampu bertahan selama 36 hari tanpa makanan, sedangkan bila makanan
terpenuhi mencapai tiga atau lima bulan (Kalshoven, 1981). Daur
hidup Sitophilus oryzaeberkisar antara 28-30 hari atau rata-rata 4,5 minggu.
Perkembangbiakan diawali dengan peristiwa kopulasi antara serangga jantan dan
betina. Aktivitas kopulasi relatif lebih lama dibanding serangga pasca panen
lainnya. Aktivitas ini biasanya terjadi pada malam hari. Sitophilus
oryzae mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yaitu
perkembangannya melalui bentuk telur, larva, pupa, dan imago (Mangudiharjo,
1978). Tiap stadium berlangsung pada biji.
Stadium telur. Telur mempunyai bentuk lonjong. Dengan satu kutub yang
lebih kecil dan mempunyai penutup telur. Tiap biji biasanya untuk meletakkan
satu telur, tapi pada biji yang besar dapat mencapai dua atau lebih. Produksi telur
dapat mencapai maksimum 575 butir selama tiga sampai lima bulan
(Kalshoven,1981). Stadium telur berlangsung tiga sampai tujuh hari (Bejo, 1962).
Stadium larva. Larva tidak berkaki (apodus) berwarna putih kekuningan,
bentuk bulay serta aktif bergerak. Stadium larva berlangsung 18 hari dan
mengalami tiga kali instar. Tiap instar diikuti dengan eksdisis (Mangudiharjo,
1978).
Stadium pupa. Larva yang akan berubah menjadi pupa membuat rongga
dalam biji. Pupa berwarna kecoklatan, bentuk seperti keadaan dewasa yang tidak
aktif. Bagian kaki dan moncong masih menyatu. Stadium ini berlangsung 5-7 hari
(Mangudiharjo, 1978 dan Bejo, 1962). Stadium pupa merupakan stadium yang
tidak aktif menggerek biji.
Imago. Perkembangan pupa berlanjut menjadi kumbang dewasa atau
imago. Imago yang baru terbentuk akan tetap berada didalam biji untuk beberapa
waktu. Menurut Sutyoso 1964, Kartasapoerta, 1967) imago yang baru akan
berada dalam biji kira-kira lima hari. Masa imago keluar sampai bertelur disebut
masa pre-oviposisi. Pada masa ini imago mengalami pemantangan seksual dan
melakukan perkawinan. Masa pre-oviposisi ini dipengaruhi oleh suhu,
kelembaban dan media (Kartasapoerta, 1967).
2.2.4 Cara Pengendalian
 Insektisida Botani
Karena diperlukan upaya pengendalian hama secara ramah
lingkungan, seperti pestisida nabati atau biopestisida.
 Ekstrak biji dan daun nimba (Azadirachta indicaL) terdapat 3
golongan penting yaitu : azadirachtin, salanin, dan meliantriol. Ketiga
senyawa tersebut digolongkan ke dalam kelompok tripenoid yang
merupakan bahan pestisida alami, tetapi yang paling efektif adalah
azadirachtin. Mimba tidak membunuh hama secara cepat tetapi
berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, reproduksi, proses
ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual.
 Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae How
(parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai
predator dari larva dan telur hama.
 Penjemuran produk simpanan pada terik matahari merupakan salah
satu cara pengendalian yang baik, karena dengan adanya penjemuran
ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat.
dengan pengaturan tempat penyimpanan.
 melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan. penyimpanan
yang baik yang di tunjang dengan fasilitas penyimpanan lainnya.

2.3 Kutu Kacang Hijau (Callosobruchus maculatus)
2.3.1 Morfologi
. Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis) mempunyai moncong yang
pendek dan femur tungkai belakang yang membesar. Bentuk tubuh kumbang
dewasa kebanyakan bulat atau lonjong. bentuk tubuhnya bulat telur dengan
bagian kepalanya yang agak runcing. Pada sayap depannya terdapat gambaran
gelap yang menyerupai huruf U dan pronotumnya halus. Warna sayap
depannya coklat kegelapan. Pada kumbang jantan mempunyai ukuran tubuh
2,4 mm - 3 mm sedangkan kumbang betina mempunyai ukuran tubuh 2,76
mm – 3,49 mm.

(Anonim, 2014
b
)
2.3.2 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo :Coleoptera
Family: Bruchidae
Genus :Callosobruchus
Spesies :Callosobruchus mulatus.
(Anonim, 2014
b
)
2.3.3 Daur Hidup
Imago betina dapat menghasilkan telur sampai 700 butir. Telur
berbentuk lonjong agak gelap atau berwarna coklat kegelapan. Panjang telur
0,57 mm, berbentuk cembung pada bagian dorsal, dan rata pada bagian yang
melekat pada biji. Telur diletakkan pada permukaan biji dan direkatkan
dengan semacam perekat.
(Anonim, 2014
b
)
2.3.4 Cara Pengendalian
Pengendalian umumnya dilakukan dengan penggunaan bahan
kimia. Namun cara tersebut menyebabkan pangan yang tersimpan
terkontaminasi dengan residu bahan kimia berbahaya. Oleh sebab itu perlu
pengadaan insektisida alternatif yang lebih aman. Salah satu cara dengan
memanfaatkan ekstrak tumbuhan yang aman dan ramah lingkungan
(Hermawati, 2004).
Insektisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang
berasal dari tumbuhan dan dapat digunakan untuk mengendalikan organisme
pengganggu tumbuhan (OPT). Insektisida nabati berfungsi sebagai penolak,
penarik, antifertilitas (pemandul), racun kontak, racun perut dan aktivitas
lainnya.





BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat
Pada praktikum Teknologi Produksi Benih aspek HPT, melakukan
pengamatan hama pasca panen dan patogen yang berada dalam benih. Pada
praktikum hama gudang dimulai tanggal 21 April 2014, Yang semua itu dilaksanakan
di laboratorium Virologi gedung HPT.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat :
 fial plastik
 kuas gambar
 kain kasa
 lup
 karet gelang
 kertas label.
3.2.2 Bahan:
 Sitophilus oryzae
 beras IR64
 beras jatah raskin
 beras pandan wangi
 kacang hijau
 Callosobruchus maculatus






3.3 Cara Kerja (Diagram alir)
Ambil 2000 butir beras dan kacang hijau untuk tiap jenis beras dan kacang hijau 2
perlakuan, lalu timbang berat awal

Sediakan 5 gelas plastik isi masing-masing dengan 3 jenis beras berbeda, dan 2
untuk tempat kacang hijau

Masukkan 20 Sitophilus oryzae dan 20 Collosbruchus mulatus dan 10
Collosbruchus mulatus ke dalam masing-masing fial plastik yang berisi butir beras
dan kacang hijau

Berilah label untuk masing-masing jenis beras dan kacang hijau

Tutup gelas plastik dengan kain kasa dan ikat dengan karet gelang

Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali sampai dengan 4 kali pengamatan

amati jumlah dan bobot beras dan kacang hijau utuh, jumlah telur hama, jumlah hama

Dokumentasi pengamatan
3.4 Analisa Perlakuan
Siapkan beras IR64, Raskin dan pandan wangi sebanyak 2000 butir serta
siapkan 4000 butir kacang hijau yang terbagi menjadi 2 perlakuan. Selanjutnya
ditimbang berat masing-masing jenis beras dan kacang hijau. Kemudian letakkan
pada gelas plastik (5 gelas plastic) kemudian berikan 20 ekor hama Sithopilus
oryzae pada masing-masing beras dan 10 Collosobruchus mulatus pada perlakuan
pertama dan 20 Collosobruchus mulatus pada kacang hijau sengai perlakuan
kedua. Setelah itu tutup bagian atas gelas plastik dengan kain kasa agar hama
yang berada dalam gelas plastik tetap hidup dan berkembang. Amati seminggu
sekali dalam 4 minggu, lihat perkembangan yang terjadi pada hama Sithopilus
oryzae pada masing-masing beras dan Collosobruchus mulatus pada masing-
masing kacang hijau. Hitung jumlah bobot dan jumlah telur dan hama yang
terdapat pada masing-masing perlakuan dan kemudian dokumentasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil (Berupa tabel dan grafik)
Hasil Pengamatan Berdasarkan Berat Beras
Varietas Berat Beras
Awal
21-04-2014
7 HAS
28-04-2014
14 HAS
05-05-2014
21 HAS
16-5-2014
Beras IR.64 45,5 gr 45,4 gr 45 gr 44,6 gr
Beras Jatah 43,2 gr 43,3 gr 43,1 gr 45,3 gr
Beras Pandan
Wangi
48,1 gr 50,5 gr 47,84 gr 49,7 gr

Hasil Pengamatan Berdasarkan Jumlah Hama Pada Beras

Varietas Jumlah Hama
Awal 7 HAS 14 HAS 21 HSA
Beras IR.64 20 imago 18 hdp ; 2
hlg
18 hdp 15 hdp ; 1 mti ;
2 hlg
Beras Jatah 20 imago 23 hidup 20 hidup,
1 mati, 2
mati
20 hidup
Beras Pandan
Wangi
20 imago 18 hidup,
2 hilang
16 hidup,
2 mati
15 hidup, 2
mati






Hasil Pengamatan Berdasarkan Berat Kacang Hijau
Sampel Berat Beras
Awal 7 HAS 14 HAS 21 HSA
10 hama (A) 130 gr 130,5 gr 131,6 gr 130,8 gr
20 hama (B) 126 gr 127,6 gr 125,7 gr 125,8 gr

Hasil Pengamatan Berdasarkan Jumlah Hama Pada Kacang Hijau

Sampel Jumlah Hama
Awal 7 HAS 14 HAS 21 HSA
10 hama (A) 10 imago Mati
semua
Mati
semua
19 hidup
20 hama (B) 20 imago Mati
semua
Mati
semua
23 hidup

GRAFIK
Grafik Hasil Pengamatan Mingguan Berat Beras












0
7 hari 14 hari
berat
Beras Pandan wangi
Beras Jatah
Beras IR64
21 hari 28 hari
Grafik Hasil Pengamatan Mingguan Jumlah Hama Sitophilus oryzae















GRAFIK
Grafik Hasil Pengamatan Mingguan Berat Kacang Hijau











A
B
berat
21 hari 28 hari 7 hari 14 hari
0
0
7 hari 14 hari
Σ hama
Beras Pandan wangi
Beras Jatah
Beras IR64
21 hari 28 hari


Grafik Hasil Pengamatan Mingguan Jumlah Hama Callosobruchus maculatus













4.2 Pembahasan Praktikum (dibandingkan dengan literatur)
Berdasarkan hasil praktikum yan telah dilakukan pada berat beras jenis IR64
semakin mengalami penurunan. Begitu pula dengan jumlah hama yang ada pada
beras IR64 yang awalnya 20 imago dan setelah minggu ketiga pengamatan hanya
terdapat 18 imago. Sedangkan berat beras varietas pandan wangi dan jatah raskin
tidaklah stabil dimana pada jenis beras jatah raskin pada pengamatan minggu
pertama beratnya mengalami kenaikan dan pada minggu selanjutnya mengalami
penurunan.Sedangkan jumlah kutu beras pada beras jatah jumlahnya masih tetap
20 imago sedangkan pada beras pandan wangi hanya tertinggal 15 iamgo.
Berkuranganya jumlah kutu ini dakrenakan adanya kutu yang mati dan juga da
yang hilang.
Sedangkan pada kacang hijau baik itu perlakuan 10 Collosobruchus mulatus
ataupun 20 Collosobruchus mulatus menunjukkan bahwa berat dari kacang hijau
tersut tidaklah stabil dimana jumlah berat tersebut nak dan turun. Sedangkan
A
Σ hama
B
21 hari 28 hari 7 hari 14 hari
0
jumlah Collosobruchus mulatus mengalami kenaikan, Dimana pada perlakuan 10
Collosobruchus mulatus yang awalnya pada pengamtan minggu pertama dan
minggu kedua Collosobruchus mulatus mati semua kemudian pada pengamatan
minggu ketiga didapatkan adanya Collosobruchus mulatus yang berjumlah 19
imago. Begitu pula pada kacang hijau yang Collosobruchus mulatus berkutu 20
pada pengamatan minngu pertama dan kedua mati kemudian pada pengamatan
minggu ketiga terdapat kutu Collosobruchus mulatus sebanyak 23 imago.
Adanya penurunan jumlah berat beras dan jumlah kacang hijau hal ini di
karenakan tempat penyimpananya tersebut. Berdasarkan jurnal (Hasbi,2012),
Penyimpanan merupakan tindakan untuk mempertahankan gabah/beras agar tetap
dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu. Kesalahan dalam melakukan
penyimpanan gabah/beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya
jamur, dan serangan serangga, binatang mengerat dan kutu beras yang dapat
menurunkan mutu gabah/beras.
Penurunan jumlah kutu dikarenakan factor makanan dan kualitas makanan ,
factor kelembaban, suhu serta intensitas cahaya dan factor kadar air. Menurut
(Kartasapoetra, 1991) Ketidak cocokan makanan dapat timbul karena kurangnya
kandungan unsur yang diperlukan, rendahnya kadar air dalam kandungan
makanan, permukaan material yang keras dan bentuk materialnya. Bila makanan
tidak cocok bagi hama dengan sendirinya populasi hama tidak akan dapat
berkembang sebagaimana biasanya. Kemudian, pengaruh kelembaban terhadap
perkembangan kutu beras tersebut berbeda untuk setiap stadium. Hasil percobaan
Hutomo (1972) menunjukan bahwa pada kelembaban antara 30 – 70%,
persentase kematian telur, larva dan serangga dewasa makin tinggi dengan makin
rendahnya kelembapan.
Intensitas Cahaya. Pengaruh cahaya (kondisi gelap dan terang)
sangatberpengaruh basar terhadap tingkah laku serangga dalam memilih
makanan, dan reproduksi (kopulasi dan penelusuran) (Weston and Hoffman,
1991; Weston and Hoffman, 1992).Suhu merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi besarnya populasi serangga hama di tempat penyimpanan.
Serangga termasuk golongan binatang yang bersifat heterotermis, oleh karena itu
serangga tidak dapat mengatur suhu badannya sendiri, sehingga suhu badannya
mengikuti naik turunnya suhu lingkungannya. kebanyakan serangga gudang di
daerah tropik kisaran suhu optimumnya adalah sekitar 25-35º C. Di bawah 20º C,
biasanya laju pertumbuhan populasi sangat berkurang (Nyoman, 2005).
Kualitas makanan sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan
seranggahama. Pada kondisi makanan yang berkondisi baik dengan jumlah yang
cukup dan cocok bagi sistem pencernaan serangga hama akan menunjang
perkembanganpopulasi, sebaliknya makanan yang berlimpah dengan gizi jelek
dan tidak cocok akan menekan perkembangan populasi serangga (Andrewartha
dan Birch, 1954). Kondisi kadar air bahan produk pertanian sangat berpengaruh
pada intensitaskerusakan yang sangat mudah. Hasil penelitian Kalshoven (1981)
disimpulkan bahwa perkembangan populasi kumbang bubuk sangat cepat jika
kadar air bahansimpan lebih dari 15%, sebaliknya bila kadar air bahan diturunkan
maka mortalitas serangga besar sehingga perkembangan populasi terhambat

4.3 Pembahasan Soal
1. Dari grafik pengamatan saudara, apakah ada penambahan populasi Sitophilus
oryzae pada ketiga jenis beras? mengapa demikian? Apakah variable tersebut
sudah menunjukkan bahwa varietas tertentu yang disukai oleh Sitophilus
oryzae?
2. Dari ketiga jenis beras, manakah yang memiliki kualitas bagus, sehingga
disukai oleh Sitophilus oryzae? Apakah kualitas pada beras mempengaruhi
preferensi Sitophilus oryzae? Jelaskan Alasannya? Bagaimana kualitas
(kondisi) ketiga jenis beras setelah akhir pengamatan? dari ketiga jenis beras
tersebut beras IR 64 memiliki kualitas beras yang baik, akan tetapi jumlah
berat nya tidak terlalu rendah. Dari ketiga jenis beras tersebut beras jatah
merupakan beras yag disukai oleh hama Sitophilus oryzae. Tidak juga. Karena
hama Sitophilus oryzae itu akan muncul bila kondisi lingkungannya
mendukung serta adanya asupan gizi untuk kehidupannya. Semisal
kualitasnya baik, tetapi jika disimpan di kelembaban yang relative sedang
yaitu sekitar 50% maka hama tersebut dapat berkembang biak sehingga aka
menyebabkan mutu dari beras tersebut menjadi buruk. Dari ketiga jenis beras
tersebut, di akhir pengamatan beras jatah merupakan beras yang paling rendah
berat berasnya.Sedangkan beras IR64 memiliki berat beras yang paling tinggi
diantara ketiga jenis beras tersebut.
3. Berdasarkan hasil pengamatan Callosobruchus maculatus bagaimana
hubungannya jumlah populasi hama terhadap penurunan kualitas benih
kacang hijau? Jelaskan pula faktor apa saja yang mempengaruhinya!




DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014
b
. Morfologi Collosobruchus muculatus. (online).
http://rhetnozsahri.blogspot.com/2013/05/hama-gudang_18.html.
diakses pada tanggal 27 April 2014.
Andrewartha,H.G., and L.C.Birch. 1954. The distribution and abundance of animals.
The University of Chicago Press.Chicago.
Bejo, A.Y. 1991. Pengaruh Kadar Air Dan Kerusakan Awal Biji Pada Jagung
Terhadao Laju Infestasi Kumbang Bubuk. Balai penelitian Tanaman Pangan,
Malang.
Borror, D. J., C. A. Triplehorn & N. F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Ed. 6. Penerjemah: S. Partosoedjono. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Hasbi, 2012.Perbaikan Teknologi Pascapanen Padi di Lahan Suboptimal.ISSN: 2252-6188
(Print), ISSN: 2302-3015 (Online). Vol. 1, No.2: 186-196, Oktober 2012
Hermawati, Darsih. 2004. Pengujian aktivitas biologi campuran ekstrak tumbuhan
terhadap Callosobronchus sp. (Coleoptera : Bruchidae).Skripsi. IPB. Bogor
Kalshoven, 1981. Providing Agricultural Services in Rice Farming Areas: Malaysian
and Surinam Experiences. Agricultural University.
Kartasapoetra. 1967. Hama Hasil Tanaman Pangan Dalam Gudang. Jakarta: Bina
Aksara.
Kartasapoetra, A.G., 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang, Rineka Cipta.
Jakarta
Mangudiharjo, S. 1978. Hama-Hama Pertanian Di Indonesia III (Pada Bahan Dalam
Simpanan). Yayasam Pembina Fak. Pertanian UGM. Yogyakarta.
Pujawan.I Nyoman. 2005. Supply Chain Management. Suarabaya: Penerbit Guna
Widya
Rismunandar, 1986. Hama Hasil Tanaman Pangan dan Pembasminya. Penerbit Sinar
Baru, Jakarta.
Suyono dan Sukarno, 1985. Preferensi Kumbang C. analis F. Pada Beberapa Jenis
Kacang-Kacangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
Weston,P.A and S.A.Hoffman.1991. Humadity and tactile Responces oif Sitophilus
sp (coleoptera:curculonidae). Environ. Entomol.20:1433-1437.
William. J.O.1990. Influence Of Mechanical Damage And Respected Infestation Of
Sorghum On Its Resistence To S. oryzae L., J. Stor. Prod. Res 16(2).