You are on page 1of 3

Rheumatic Fever

Definisi
Lilly : “kondisi dimana terjadinya suatu inflamasi dan utamanya biasa terjadi pada jantung,
kulit, dan jaringan ikat yang biasa terjadi akibat dari komplikasi dari infeksi saluran nafas
yang disebabkan bakteri steptococcus dan umumnya terjadi pada anak-anak dan awal
dewasa

Epidemiologi
Lily : 3 % Acute Streptrococcal Pharyngitis berkembang menjadi acute rheumatic fever
setelah 2 – 3 minggu setelah infeksi tenggorokan.
Robin : Kasus ini biasa terjadi pada negara berkembang, penduduk padat, ekonomi rendah,
dan diestimasikan menjangkit 15 juta jiwa di seluruh dunia.
Prevalensi 0,3 – 0,8 per 1000 anak sekolah berumur 5 – 15 thn

Etiologi
Infeksi saluran nafas, umumnya infeksi staphylococcus, GAS, GBS

Faktor Mempengaruhi
Umur
Jenis kelamin
Tingkat Kebersihan
Sosioekonomi keluarga
Tingkat pendidikan orang tua
Lamanya sakit
Pendidikan tentang penyakit tersebut
Lingkungan

Diagnosis
1. Riwayat sakit : riwayat sakit saluran pernafasan, umunya oleh bakteri streptococcus
2. Sign & Symptom
a. Menggigil
b. Demam
c. Lemah
d. Migratory arthralgia, sakit pada beberapa sendi seperti sakit berpindah dari satu ke
yang lain
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis penyakit RF ini.
Histophatologi :
Makroskopis : temuan pada katup jantung terlihat adanya vegetasi (verrucae) dan mulai
terdapat adanya penebalan dari jaringan sekitar katup, contoh : cordae tendineae
Mikroskopis : terdapat adanya Aschoff body, yaitu sebuah daerah terdapat focal fibrinoid
necrosis yang dikelilingi oleh sel-sel inflamasi (limfosit T, sel plasma, makrofag) yang
nantinya akan membentuk jaringan parut.

Terdapat pula metode diagnosis cardinal symptom dan manesfestasi klinis untuk
mendiagnosis penyakit ini yaitu dengan Jones criteria :
1. Major criteria
Carditis
Polyarthritis
Sydenham chorea
Erythema marginatum
Subcutaneous nodule
2. Minor criteria
Migratory arthralgia
Demam
Meningkatnya reaktan saat fase akut (ESR, leukosit)
Terjadi perpanjangan interval PR pada EKG
3. Evidence of streptococcal infection
Adanya antistreptolysin O antibodies
Kultrus positif untuk sreptococcus group A (GAS)

Differential Diagnosis

Treatment
Proses pengobatan pada penderita ARF, dibutuhkan adanya 2 pendekatan :
1. Pengobatan terhadap infeksi streptococcus
2. Pengobatan manifestasi klinis yang terjadi

Seluruh pasien ARF harus dilakukan penanganan dalam membunuh agen infeksi bakteri
streptococcus. Pengobatan konvensional dilakukan segera selama 10 hari dengan
pemberian penicillin V (500 mg 2x/hari) atau erythromycin (250 mg 4x/hari) untuk yang
menderita alergi penicillin. Banyak pula yang memilih benzhatine penicillin G (single
intramuscular injection 1,2 jt unit) untuk mengobati perkiraan adanya infeksi streptococcus;
hal ini juga berguna untuk sebagai dosis pertama untuk prophylaxis sekunder untuk
pencegahan rekolonisasi saluran nafas atas di kedepannya. AHA dan WHO
merekomendasikan untuk injeksi 1,2 jt unit intramuskular setiap 4 minggu atau penicillin V
(250 mg 2x/hari) atau oral sulfadiazine (1.0 g perhari).
Terapi untuk manifestasi dari RF dilihat dari status klinis pasien. Untuk pasien dewasa yang
menderita arthritis dapat diberikan salicylate 2 g 4x/hari selama 4 – 6 minggu, dan tak lupa
dosis mulai dikurangi dilihat dari perkembangan pasien. Dan dapat pula diberikan prednison
pada kasus yang parah (30 mg 4x hari)



Komplikasi & Prognosis
40 % penderita penyakit RHD akan berkembang menjadi mitral stenosis. Tambahan 25%
dapat berkembang menjadi aortic stenosis atau regurgitasi tergantung dari keabnormalan
mitral valvenya. Selain itu dapat terjadi berkembang menjadi endocarditis, periocarditis,
ataupun heart failure.
Prognosis semakin baik bila penanganan terhadap infeksi streptococcus diawal lebih dini.
Dan kepatuhan pasien untuk menjalani pengobatan. Survival rate mencapai usia 20 thn 82%
dan mencapai 45 thn 96 %.