You are on page 1of 18

1.

Permainan Benteng

adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing – masing terdiri dari 4 sampai
dengan 8 orang. Masing – masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya
sebuah tiang, batu atau pilar sebagai ‘benteng’.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih ‘benteng’ lawan
dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata
benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan
menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ‘penawan’ dan
yang ‘tertawan’ ditentukan dari waktu terakhir saat si ‘penawan’ atau ‘tertawan’
menyentuh ‘benteng’ mereka masing – masing.
2. Congklak

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di
seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai
biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan
papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji
congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik,
sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau
plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang
saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain
dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain
yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan
meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil
yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa
habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di
sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di
sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti
dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada
di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
3. Dor Tap
Dor Tap merupakan permainan yang mirip dengan Petak Umpet namun dimainkan oleh 2
kelompok. Kelompok yang lebih dulu berhasil menyebut nama lawan yang bersembunyi
dapat diartikan bahwa lawan tersebut terkena tembakan. Permainan berakhir jika salah satu
kelompok sudah habis tertembak.
4. Galah Asin

Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan
daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua
grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang. Inti permainannya adalah
menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik,
dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan
proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang
ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang
dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur.
Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota
grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang
mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha
untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang
sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas
untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai
akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini
sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan
berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.
5. Gasing

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik.
Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa
dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan
untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-
bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing
umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon.
Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
6. Kasti

Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok
ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk
disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena
pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan,
ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang
dikejar dengan suit. Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola
secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil
menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga
tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya
olahraga softball atau baseball.
7. Layang-layang

Permainan layang-layang, juga dikenali dengan nama wau merupakan satu aktivititas
menerbangkan layang-layang tersebut di udara. Pada musim kemarau di Indonesia anak-
anak selalu bermain layang-layang karena anginnya besar.
8. Petak Umpet

Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan
sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan
memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 25, biasanya dia menghadap
tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk
bersembunyi. Setelah hitungan sepuluh, mulailah ia beraksi mencari teman-temannya
tersebut.
Jika ia menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya yang dia temukan
tersebut. Yang seru adalah, ketika ia mencari ia biasanya harus meninggalkan tempatnya
(base?). Tempat tersebut jika disentuh oleh teman lainnya yang bersembunyi maka batallah
semua teman-teman yang ditemukan, artinya ia harus mengulang lagi, di mana-teman-
teman yang sudah ketemu dibebaskan dan akan bersembunyi lagi. Lalu si kucing akan
menghitung dan mencari lagi. Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang
pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.
Ada satu istilah lagi dalam permainan ini, yaitu ‘kebakaran’ yang dimaksud di sini adalah bila
teman kucing yang bersembunyi ketahuan oleh si kucing disebabkan diberitahu oleh teman
kucing yang telah ditemukan lebih dulu dari persembunyiannya.
9. Yo-yo

Yo-yo adalah suatu permainan yang tersusun dari dua cakram berukuran sama (biasanya
terbuat dari plastik, kayu, atau logam) yang dihubungkan dengan suatu sumbu, di mana
tergulung tali yang digunakan. Satu ujung tali terikat pada sumbu, sedangkan satu ujung
lainnya bebas dan biasanya diberi kaitan. Permainan yo-yo adalah salah satu permainan
yang populer di banyak bagian dunia. Walaupun secara umum dianggap permainan anak-
anak, tidak sedikit orang dewasa yang memiliki kemampuan profesional dalam memainkan
yo-yo.
Yo-yo dimainkan dengan dengan mengaitkan ujung bebas tali pada jari tengah, memegang
yo-yo, dan melemparkannya ke bawah dengan gerakan yang mulus. Sewaktu tali terulur
pada sumbu, efek giroskopik akan terjadi, yang memberikan waktu untuk melakukan
beberapa gerakan. Dengan menggerakkan pergelangan tangan, yo-yo dapat dikembalikan
ke tangan pemain, di mana tali akan kembali tergulung dalam celah sumbu
10.Balap Karung

Balap karung adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan
Indonesia. Sejumlah peserta diwajibkan memasukkan bagian bawah badannya ke dalam
karung kemudian berlomba sampai ke garis akhir.
Meskipun sering mendapat kritikan karena dianggap memacu semangat persaingan yang
tidak sehat dan sebagai kegiatan hura-hura, balap karung tetap banyak ditemui, seperti juga
lomba panjat pinang, sandal bakiak, dan makan kerupuk.
Olah raga juga bisa berbentuk permainan tim atau individu dan kompetisi yaitu ada yang menang
dan kalah. Jadi permainan adalah salah satu olah raga, tentunya permainan yang memakai gerakan
anggota tubuh (jasmani), ataupun bisa juga rohani yang contohnya catur.
Muncullah istilah olah raga tradisional, yaitu olah raga asli ada di Indonesia dan mungkin setiap
daerah olah raga yang populer dan antara daerah satu dengan yang lain berbeda. Ada olah raga
tradisional yang sudah populer di tingkat nasional tetapi ada juga masih banyak yang dikenal hanya
di daerah asal. Contoh olah raga tradisional yang populer dan mulai mendunia sepak takraw dan
silat. Keberadaan olah raga tradisional bisa semakin lama semakin terdesak dan tersisihkan oleh
jenis olah raga yang lain yang populer di dunia semisal sepak bola, basket, tenis dan sebagainya.
Memang arus globalisasi tidak bisa dihindari, yang terpenting adalah bagaimana olah raga
tradisional itu bisa lestari dan berkembang.
Memang apapun jenisnya, olah raga itu bisa mendatangkan manfaat bagi pelakunya untuk
kesehatan fisik dan mental, termasuk itu jenis olah raga dari dunia (negara) lain. Tetapi pasti ada
keinginan dan nilai lebih ketika mampu hidup sehat dengan berolah raga tetapi juga mampu
melestarikan dan mengembangkan olah raga (permainan) tradisional. Tidak hanya menjadi orang
atau bangsa yang latah dengan mengikuti orang lain yang dianggapnya itu populer, keren atau
modern dan menganggap olah raga tradisional itu kuno.
Beberapa olah raga tradisional yang dikenal secara nasional antara lain:

Betengan (foto: wikipedia)
1. Betengan
Permainan Betengan sesuai dengan namanya berasal dari kata beteng yang berarti Benteng.
Permainan ini boleh dibilang menjadi salah satu dari permainan favorit di masa anak-anak SD, di
sekolahan pun tak jarang dimainkan. Mengutip dari tulisan Ahmad Fikriatif, Betengan adalah
permainan yang menuntut kecepatan dan ketangkasan khususnya dalam berlari. Tak luput pula
unsur strategi yang kental.
Permainan yang berasal dari bahasa Jawa yang di-Indonesiakan ini dilakukan dengan membagi
peserta menjadi dua tim. Masing-masing kelompok kemudian memilih sebuah benteng yang
biasanya disimbolkan dengan tiang atau pilar. Jarak antar benteng satu dengan benteng lain
umumnya tidak terlalu jauh. Misi permainan ini adalah merebut benteng pertahanan lawan. Oleh
karenanya, setiap kelompok juga memiliki tugas untuk mempertahankan bentengnya masing-masing
sekaligus menyerbu benteng lawan.
Jika dicermati betengan tidak hanya sekedar permainan, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai
yang dapat dijadikan acuan dalam bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai itu antara lain: kompetitif,
tolong-menolong, dan sportivitas.
2. Pencak Silat
Pencak Silat yang kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan
internasional, khususnya dipertandingkan dalam SEA Games ini adalah olah raga tradisional
Indonesia. Tetapi di Indonesia sendiri pencak silat masih kalah populer dibandingkan dengan
Taekwondo dan Karate. Sungguh amat disayangkan sekali.
Selain ada aspek budaya, di dalam pencak silat juga ada aspek olah raga, aspek fisik dalam pencak
silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah
bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik
untuk tunggal, ganda atau regu.

Sepak takraw (foto: bleacherreport)
3. Sepak Takraw
Mengutip dari wikipedia sepak takraw juga merupakan salah satu olah raga asli Indonesia. Pada era
1940-an permainan bola keranjang ini mulai menggunakan jaring dan peraturan angka, serta para
pemain tidak lagi berdiri membentuk lingkaran tetapi dimainkan di lapangan ganda badminton. Dan
pada masa sekarang bola yang digunakan tidak lagi yang terbuat dari rotan tetapi yang terbuat dari
fiber.
Dalam Permainan sepak takraw, dimainkan oleh dua regu (satu regu ada 3 pemain) yang
berhadapan dan dipisahkan oleh jaring (net) pada bagian tengah Lapangan yang berbentuk persegi
empat panjang dan rata seperti dalam permainan badminton. Tangan adalah bagian tubuh yang
tidak boleh tersentuh bola, dan bagian tubuh yang terutama digunakan untuk menyentuh bola
adalah kaki dan kepala. Tujuan dari setiap regu adalah mengembalikan bola sedemikian rupa
sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau menyebabkan lawan membuat pelanggaran.
Tentunya masih banyak lagi olah raga tradisional yang ada di negeri ini. Ada congklak/dakon,
dagongan, gasing, karapan sapi, patok lele dan sebagainya. Itu semua adalah olah raga yang sudah
ada sejak zaman dahulu kala. Olah raga itu hidup di tengah-tengah masyarakat dengan dijiwai
semangat dan sportivitas. Kita tidak bisa membayangkan kalau generasi selanjutnya setelah kita, 10,
20 atau 50 tahun lagi tidak mengetahui dan mengerti olah raga itu. Bukankah itu tidak hanya
sebagai media mendapatkan kebugaran dan kesehatan, lebih dari itu olah raga tradisional dengan
beragam permainannya adalah karakter sebagai identitas bangsa dan pemersatu nusantara.

Sudah saatnya masing-masing daerah menggali dan mengembangkan olah raga tradisionalnya.
Mengutip dari Festival Olahraga Rekreasi Nasional alasanya adalah. Pertama, tentu saja agar olah raga
tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya sebagai warisan kekayaan budaya
bangsa. Jangan sampai warisan tersebut hilang dan musnah.
Kedua, dengan terdokumentasi dan tersosialisasikannya olah raga tradisional tersebut, maka ia akan
dikenal sebagai olah raga yang berasal dari bangsa Indonesia. Hal ini menjadi penting tatkala saat
ini Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu dan Budaya, UNESCO, mulai mendokumentasikan
kebudayaan seluruh negara di dunia sebagai warisan kebudayaan dunia (world heritage).
Ketiga, tentu saja kita boleh berharap bahwa pada suatu hari nanti, beberapa olah raga tradisional
Indonesia akan dipertandingkan di ajang olympiade internasional (Olympic Games). Bukankah semua
jenis olah raga yang dipertandingkan di olympiade saat ini pada awalnya adalah olah raga
tradisional di negara asalnya? Bukan tidak mungkin bila kita serius mengembangkan jenis olah raga
tradisional yang kita miliki dapat dipertandingkan di tingkat nasional bahkan internasional.
Salah satu cara melestarikan dan mengembangkan olah raga tradisional adalah dengan melalui
pendidikan, yaitu misalnya dengan memasukannya di kurikulum pendidikan jasmani dan kesehatan.
Dengan terintegrasi dengan pendidikan formal akan lebih mudah untuk mengenalkan dan
mempopulerkan olah raga tradisional di kalangan pemuda atau remaja. Selain itu bisa juga
melalui event atau kegiatan baik di tingkat daerah atau nasional yang mempertandingkan olah raga-
olah raga tradisional. Tentunya tujuan akhirnya adalah kelestarian budaya dan identitas bangsa.


Gatrik, salah satu permainan tradisional yang semakin langka (anonim)
Seberapa populer permainan tradisional saat ini adalah satu pertanyaan
yang mungkin sama-sama ada didalam benak pikiran para pecinta
permainan tradisional. Masih ingat gak sobat-sobat kalau sewaktu kecil
dulu kita sering main gundu sampai lupa waktu ?, atau bahkan main gasing
sampai kepala ikut pusing ?. Menyenangkan bukan ?. Permainan-
permainan tersebut kini sudah mulai langka seiring masuknya pola-pola
hiburan anak yang datang menggusur.
Sempat terpikirkan oleh saya “sepertinya asyik juga ya kalau diadakan
kejuaran nasional permainan tradisional ?”. Mungkin gak sih diadain ?,
mungkin aja kali ya… tapi paling tidak saya ingin menumplekan khayalan-
khayalan tersebut di blog ini dulu.
Olahraga-olahraga modernpun yang sekarang dipertandingkan di
SEA Games maupun olimpiade lahir dari olahraga tradisional.
Kalau coba kita cermati sepertinya permainan tradisional atau olahraga
tradisional tidak kalah menarik dengan olahraga yang umum seperti
sekarang. toh olahraga-olahraga modernpun sebetulnya lahir dari
permainan tradisional diberbagai bangsa. Hanya saja memang telah
mengalami banyak proses yang membakukan permain-permainan tersebut.
Dan mungkin tidak ada salahnya kalau permainan tradisional kita ada yang
dibakukan aturannya supaya bisa pertandingkan atau dilombakan secara
masal.
Biasanya kita sering menyaksikan berbagai macam pertandingan dan
perlombaan permainan tradisional hanya pada saat perayan hari ulang
tahun kemerdekaan negara. Itu pun bisa menjadi sesuatu yang meriah dan
khas, apalagi kalau diadakan sebuah even khusus yang kalau perlu gak
kalah booming dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) ?, kemudian
arahkan semua mata media kesana. Ide seperti ini tentunya memang
bukan lagi sesuatu yang baru, tapi izinkanlah saya untuk mencurahkan
versi saya (yang mungkin sama) disini. (Monggooo…)
Landasan Kegiatan
Sub judulnya udah kayak proposal aja ya ?, gak apa-apalah, siapa tahu
menginspirasi dan ada yang tertarik untuk merealsisasikannya. Amiiin.
Ada 3 hal yang setidaknya mendasari ide mengenai kejuaran nasional
permainan tradisional. Antara lain :
1. Melestarikan kembali permainan rakyat atau permainan tradisional
yang sudah semakin punah dan tidak dikenali oleh generasi bangsa
sendiri.
2. Mengenalkan kepada bangsa sendiri dan bangsa lain, kalau bangsa
Indonesia mempunyai berbagai tradisi hiburan rakyat yang
menyehatkan, mendidik fair play, dan itu lahir dari pemikiran para
leluhur bangsa Indonesia. (Bukti kalau bangsa kita juga kreatif).
3. Menarik wisatawan domestik umumnya dan luar angkasa, eh maaf
maksudnya luar negeri, untuk berkunjung ke Indonesia.
Penhjelasan Landasan Kegiatan
Melestarikan kembali permainan rakyat atau permainan tradisional yang
sudah semakin punah dan tidak dikenali oleh generasi bangsa.
Betul tidak kalau permainan rakyat atau permainan tradisional kita makin
punah ?, harusnya sih sobat-sobat menjawab betul. Kebangetan kalau
menjawab tidak. Terus, apakah kegiatan kejuaran nasional tersebut bisa
konkrit untuk melestarikan permainan tradisional ?
Oke sobat, saya sih gak bisa jamin akan konkrit, semuanya tergantung
proses dan campaign nya juga. Kalau dibuat semenggema mungkin saya
rasa bisa. Contohnya begini, ketika rame-rame piala dunia, lapangan bola
menjamur dan demam bola mewabah dimana-mana. Kemudian ada lagi
ketika menjelang digelar Piala Thomas & Uber, banyak dipelosok RT yang
menghidupkan kembali lapangan bulu tangkisnya. Bukan tidak mungkin
dong ketika akan digelar kejuaran nasional permainan tradisional dan
masing-masing daerah melakukan seleksi untuk para pemainnya, virus
permainan tradisionalpun bisa mewabah diseantero nusantara. Dan itu
sepertinya itu asli sangat unik sobat.
Mengenalkan kepada bangsa sendiri dan bangsa lain, kalau bangsa
Indonesia mempunyai berbagai tradisi hiburan rakyat yang menyehatkan,
mendidik fair play, dan itu lahir dari pemikiran para leluhur bangsa
Indonesia. (Bukti kalau bangsa kita juga kreatif).
Percaya gak percaya, permainan tradisional adalah salah satu bukti kalau
bangsa kita juga kreatif. Dan percaya gak percaya juga kalau sejak dari
puluhan tahun lalu ditanah air kita banyak permainan yang mendidik kita
sedari kecil untuk berkompetisi secara sehat alias fair play.
Dengan mempopulerkan kembali permainan tradisional di negeri kita, kita
bisa menunjukan kepada dunia kalau bangsa kita itu unik dan ber-SDM
kreatif. Kreatifitas yang lahir dari bangsa lain saja bisa kita kampanyekan,
masa yang lahir dari bangsa sendiri kita abaikan ?.
Menarik wisatawan domestik umumnya dan luar negeri khususnya untuk
berkunjung ke Indonesia.
Mungkin gak sih wisatawan luar negeri bisa tertarik ?. Okey sobat,
sekarang coba kita jawab dulu, apa yang membuat wisatawan asing mau
datang ke Indonesia ?, karena beda bukan ?, karena unik, karena punya
sesuatu yang original. Banyak wisatawan luar yang lebih tertarik dengan
bagian Indonesia yang kental akan tradisionalnya, mereka tidak begitu
tertarik dengan sesuatu yang modern karena sesuatu yang modern itu di
negara merekapun ada.
Para turis akan mendatangi suatu negara atau daerah yang menurut
mereka ada sesuatu yang unik dan menarik, dan itu tidak ditemukan di
negaranya. Jadi, saya berasumsi kalau wisatawan sangat bisa tertarik.
Para wisatawan asing mungkin kurang begitu tertarik dengan perhelatan
PON, karena pertandingan-pertandingan serupa sudah tidak asing lagi
negara mereka sendiri, tapi sepertinya akan beda dengan kompetisi
permainan-permainan tradisional.
Congklak atau conkak (di Sumatera) adalah salah satu permainan
tradisional yang bisa memakan waktu lebih dari 3 jam.
Siapa Yang Jadi Penyelenggaranya
Kalau penyelenggara sih saya kira bisa swasta, BUMN/BUMD atau
pemerintah. Tapi kalau mana yang seharusnya lebih aktif tentunya saya
lebih condong ke pemerintah. Paling tidak dari pemerintah ada tiga
kementerian yang bisa memasukan ini sebagai agenda bersamanya
bekerjasama dengan pihak-pihak lain baik sebagai partner maupun
sponshorship. Tiga kementerian tersebut yaitu :
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
3. Kementerian Pemuda dan Olahraga
Persoalan Perbedaan Tradisi Permainan Rakyat
Diantara sobat-sobat mungkin ada yang berpikiran “Gak mungkin lah mas
bisa dijadikan kejuaran nasional, tiap daerah kan punya permainan
tradisionalnya sendiri-sendiri”. Lagi-lagi sebelum saya menjawab
pertanyaan tersebut saya ingin mengajak kita semua untuk berkaca pada
even olahraga semisal olimpiade. Kita semua tahu kan, kalau setiap
negara itu mempunyai seni bela diri masing-masing, tapi ada Karate dari
Jepang atau bahkan Taekwondo dari Korea yang dipertandingkan, dan
mungkin suatu saatpun Pencak Silat dari Indonesia bisa dipertandingkan.
Itu adalah persoalan akomodir, kebakuan, popularitas, dan tuan rumah.
Mungkin kita bisa menggunakan sisi akomodir dan kebakuan serta
mengabaikan sisi tuan rumah. Beberapa permainan tradisional dari tiap-
tiap daerah kita akomodir, yang paling populer itu bisa menjadi prioritas
yang akan dipertandingkan atau diperlombakan, kemudian disusun aturan
baku yang akan menjadi acuan peraturan bermain. Prosesnya memang
tidak bisa singkat, tapi kalau tidak pernah dimulai maka tidak akan pernah
ada proses yang berjalan dan selesai.
Tiongkok adalah suatu negara yang mempunyai 56 etnis. Dalam proses perkembangan sejarah
yang panjang, rakyat semua etnis bersama-sama telah menciptakan peradaban Tiongkok yang
beraneka ragam. Olahraga tradisional etnis minoritas adalah salah satu di antaranya.
Etnis Mongol yang bermukim di padang rumput Tiongkok utara sejak dahulu kala hidup berpindah-
pindah mengikuti sumber air dan rumput. Dalam kondisi alam yang berat, mereka telah
menguasai keterampilan menunggang kuda, gulat dan memanah.
Dalam Pekan Olah Raga Tradisional Etnis-etnis Minoritas Nasional ke-7 yang berlangsusng baru-
baru ini, wartawan sempat bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah Olah Raga Amatir Kota Silinhot
Daerah Otonom Mongolia Dalam bernama Chaganzana. Ia adalah bekas pegulat yang pernah
beberapa kali memperoleh hadiah tingkat nasional. Chaganzana mengatakan,Gulat ala Mongol
sudah bersejarah lama dan populer di kalangan warga Mongol sejak abad ke-13. Konon pada
waktu itu sengketa diselesaikan dengan adu gulat. Dan setiap ada upacara hajatan besar yang
dinamakan Nadam, selalu diadakan pertandingan gulat. Kini, gulat sudah menjadi nomor olah raga
massal yang digemari para penggembala etnis Mongol.
Dalam pertandingan gulat, pegulat harus mengenakan pakaian gulat yang terbuat dari kulit sapi
atau kain terpal, memakai pita dari kain warna warni di leher, gaun dari sutera berwarna merah,
biru dan kuning, celana gulat berwarna putih yang dihiasi sulaman bermotif binatang dan bunga
serta mengenakan sepatu lars Mongol. Pegulat dalam pertandingan boleh menubruk, menarik,
mendorong dan menjegal, tapi tidak boleh memeluk kaki lawan. Yang jatuh lebih dulu atau bagian
lain di atas lutut lebih dulu menyentuh lantai dianggap kalah.
Selain gulat dan pacuan kuda, memanah adalah nomor olah raga yang digemari etnis Mongol.
Dulu, anak panah diarahkan ke sasaran terbuat dari kulit yang terletak agak jauh. Kini,
pertandingan panahan mengadakan nomor beregu dan perseorangan. Pemanah melepaskan anah
panah dengan posisi berdiri ke target sejauh beberapa meter, yang mendapat poin lebih banyak
dinyatakan sebagai pemenang.
1. Gasing

Permainan gasing hampir terdapat di seluruh wilayah di Indonesia. Permainan ini biasanya
dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7-17 tahun, bisa dilakukan perorangan maupun beregu.
Gasing biasanya terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa dengan bagian yang lancip di
bagian bawahnya. Permainan ini bersifat kompetitif, mengadu ketangkasan dan keterampilan
dalam memutar gasing.


2. Congklak

Permainan congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya
perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastik berbentuk mirip perahu dengan
panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk.
Diantar keduanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya berdiameter kira-kira 5 cm.
Setiap deret berjumlah 7 buah lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut diisi dengan kerang atau
biji-bijian sebanyak 7 buah.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita
kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk
milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan, jika biji terakhir jatuh di
lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi
lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong.
Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan
permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis
dikumpulkan. Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang
induk miliknya. Permainan ini merupakan sarana untuk mengatur strategi dan kecermatan.


3. Batok Kelapa

Pada permainan batok kelapa alat yang dipergunakan adalah dua buah batok kelapa yang dibagi
dua sehingga berbentuk setengah bola. Pada bagian tengahnya dilubangi dan dipasangi tali yang
menghubungkan antara satu batok dengan batok lainnya sepanjang kira kira 1,5 - 2 meter.
Permainannya adalah berlomba secepat mungkin berjalan menggunakan batok kelapa tadi dari
satu sisi lapangan ke sisi lapangan lainnya. Orang yang paling cepat ia lah yang menjadi
pemenangnya.


4. Egrang

Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana
asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti : sebagian
wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang
dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang
berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang
berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di
Kalimantan Selatan disebut batungkau.

Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50cm dari
bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20cm. Cara
memainkannya adalah dengan berlomba berjalan menggunakan egrang tersebut dari satu sisi
lapangan ke sisi lainnya. Orang yang paling cepat dan tidak terjatuh dialah pemenangnya.


5. Benteng/bentengan/pal-palan/pris-prisan

permainan terdiri dari 2 kelompok, inti dari permainan ini adalah banyak2an siapa yang berhasil
menduduki benteng lawan ( dengan simbolnya menyentuh benteng lawan ). Setiap team akan
menjaga bentengnya benteng ( bentuk dan bendanya terserah, biasanya tiang listrik, pohon,
tembok, dll ) sekaligus menyerang benteng lawan. Setiap penyerang yang sudah jauh
meninggalkan bentengnya, akan bisa ditangkap oleh penjaga, dan jika tertangkap penyerang akan
menjadi tawanan. Dan harus di selamatkan oleh kawannya untuk bisa bermain lagi. kelompok
yang berhasil lebih banyak mendudukin benteng lawan, itu lah yang menang.


6. Petak Umpet

Petak Umpet adalah permainan rakyat tradisional umum di Seluruh pelosok Indonesia dari Sabang
sampai Merauke sejak dulu kala. Siapa saja boleh ikut, tetapi biasanya peserta permainan antara
lima sampai sepuluh orang, karena bersifat mencari kawan yang bersembunyi, maka tidak terlalu
banyak yang menjadi bagian dari permainan ini. Dari seluruh pemain akan bermain hompipa
sampai habis dan tinggal dua orang saja. Setelah tinggal dua orang, maka masing masing
melakukan suit dan yang kalah menjadi si pencari teman teman yang bersembunyi. Si pencari
menutup mata atau menempel pada salah satu media (tembok,pohon,tiang,dll) sebagai sarana
bentengnya. Di hitung satu sampai sepuluh, maka semua anggota harus berlari mencari
persembunyiannya, setelah hitungan ke sepuluh maka si pencari teman mulai mencari teman yang
bersembunyi sampai menemukan total anggota yang bersembunyi.


7. Uler Naga

Permainan berkelompok yang dimainkan oleh minimal 4-5 orang, 2 orang sebagai pembuat
gerbang (kiri-kanan), yang lainnya netral berbaris melingkar membentuk angka 8 melewati
gerbang yang di buat. Anak yang tepat berada di tengah-tengah gerbang pada saat lagu berakhir
akan di tutup dan di berikan pilihan rahasia untuk bergabung dengan kelompok gerbang kiri atau
gerbang kanan. Siapa yang pengikutnya paling banyak dia lah yang menang, dan yang kalah
harus menangkap orang yang paling belakang dari lawannya.


8. Boy-boyan

Permainan tradisonal dengan total lima sampai sepuluh orang. Model permainannya yaitu
menyusun lempengan batu, biasanya diambil dari pecahan genting atau pocelen yang berukuran
relatif kecil. Bolanya bervariasi, biasanya terbuat dari buntalan kertas yang dilapisi plastik, empuk
dan tidak keras, sehingga tidak melukai. Satu orang sebagai penjaga lempengan, yang lainnya
kemudian bergantian melempar tumpukan lempengan itu dengan bola sampai roboh semua.
Setelah roboh maka penjaga harus mengambil bola dan melemparkannya ke anggauta lain yang
melempar bola sebelumnya. Yang terkena lemparan bola yang gatian menjadi penjaga
lempengannya.