You are on page 1of 24

18 

 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kajian Pustaka
2.1.1. Teori Peran
Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminology aktor-aktor yang
bermain sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-
harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya
sebagai pengacara, dokter, guru, orangtua, anak, wanita, pria, dan lain sebagainya, diharapkan
agar seorang tersebut berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati
orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter aka ia harus
mengobati orang sakit yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran social, kemudian
sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran.
Pendekatannya dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai
harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-
kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagaian besar warga
masyarakat Negara kita Indonesia akan menjadi murid sekolah ketika berusia lima atau enam
tahun, menjadi peserta pemilu pada usia tujuh belas tahun, bekerja usia dua puluh tahun, dan
pension usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan tahapan usia “age grading:.
Dalam masyarakat kontemporer kehidupan dibagi kedalam empat tahap, yaitu tahapa
kanak-kanak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap tua, dimana setiap tahap mempunyai
bermacam-macam pembagian lagi.
Universitas Sumatera Utara
19 
 
2.1.2. Sosialisasi
Broom (1981) dalam Rohidi (1984) mengungkapkan pemikiran sosialisasi dari dua titik
pandang yaitu masyarakat dan individual (Kamanto Sunarto 1993:27). Sosialisasi menurut sudut
pandang masyarakat adalah proses penanaman atau tranfer individu-individu baru anggota
masyarakat ke dalam pandangan hidup yang terorganisasi dan mengajarkan mereka tradisi-tradisi
budaya masyarakatnya. Dengan kata lain sosialisasi adalah tindakan mengubah kondisi manusia
dari human-animal menjadi human-being untuk menjadi mahluk sosial dan anggota masyarakat
sesuai dengan kebudayaannya. Sedang arti individual, sosialisasi merupakan suatu proses
mengembangkan diri. Melalui interaksi dengan orang lain, seseorang memperoleh identitas,
mengembangkan nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi. Artinya sosialisasi diperlukan sebagai sarana
untuk menumbuhkan kesadaran diri. Bagi individu sosialisasi memiliki fungsi sebagai
pengalihan sosial dan penciptaan kepribadian.
Sosialisasi memiliki fungsi untk mengembangkan komitmen-komitmen dan kapsitas-
kapasitas yang menjadi prasyarat utama bagi penampilan peranan mereka di masa depan.
Komitmen yang perlu dikembangkan ialah mengimplementasikan nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat untuk menampilkan suatu peranan tertentu yang khusus dan spesifik dalam struktur
masyarakat. Kemudian Berger mendefenisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child
learns to be a participant member of society” proses melalui dimana seorang anak belajar
menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Kamanto Sunarto 1993:27).
Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory), karena
dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Berdasarkan
jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua yaitu: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi
sekunder (dalam masyarakat).
Universitas Sumatera Utara
20 
 
2.1.3. Sosialisasi Primer dan Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi primer didefenisikan Peter.L.Berger dan Luckman sebagai sosialisasi pertama
yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).
Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk sekolah.
Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mampu
membedakan dirinya dengan orang lain disekitar keluarganya. Dalam tahap ini, orang-orang
yang terdekat menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi bersama
orang terdekat dengannya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna
kepribadian dan interaksi yang terjadi anatar anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan
sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). (Kamanto Sunarto, 1993:23).
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer
yang memperkenalkan individu kedalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu
bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi
suatu identitas diri yang baru, sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami
pencabutan identitas diri yang lama . (Kamanto Sunarto, 1993:31). 
2.1.4. Proses Sosialisasi
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat
dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan (Prepatory Stage), tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat
seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk
Universitas Sumatera Utara
21 
 
memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan
kegiatan meniru meski tidak sempurna.
2. Tahap meniru (Play Stage), tahap ini ditandai dengan sempurnanya seorang anak
menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai
terbentuk kesadaran tentang nama diri, nama orang tua, dan nama kakak atau abangnya,
dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa
yang diharapkan seorang ibu dari anaknya. Dengan kata lain, kemampuan untuk
menempatkan diri pada posisis orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran
bahwa dunia social manusia berisikan banyak orang mulai terbentuk. Sebagian dari orang
tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan
bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak,
orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti.
3. Tahap siap bertindak (Game Stage) peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan
digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.
Kemampuannya menetapkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga
memungkinkan adanay kemampuan bermain secara bersama-sama. Anak mulai
menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-
temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin
kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya diluar rumah.
Peraturan-peraturan yang berlaku diluar keluarganya secara bertahap juga mulai
dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang
berlaku dikeluarganya.
Universitas Sumatera Utara
22 
 
4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage), pada tahap ini seseorang telah
dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara
luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang
berinteraksi dengannya tetapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari
pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak
dikenalnya secara matang. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah
menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

2.1.5. Agen Sosialisasi
Fuuler dan Jacobs dalam (Kamanto Sunarto 1993:30-35) meengidentifikasikan lima agen
sosialisasi utama yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa dan sekolah. Agen sosialisasi
adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Dalam hal ini yang menjadi
agen sosialisasi adalah orangtua difabel yang bekerja sebagai tukang pijat di Kelurahan Sei
Sikambing D Medan.
2.1.6 Tipe Sosialisasi
Agar sosialisasi dapat berjalan dengan lancar tertib dan berlangsung terus menerus maka
terdapat dua tipe sosialisasi yaitu sosialisasi formal dan sosialisasi informal. Sosialisasi formal
adalah sosialisasi yang terbentuk melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan
masyarakat yang memiliki tugas khusus dalam mensosialisasikan nilai, norma dan peranan-
peranan yang harus dipelajari oleh masyarakat. Artinya adalah sosialisasi formal yang diberikan
oleh guru-guru disekolah.
Universitas Sumatera Utara
23 
 
Sosialisasi informal adalah sosialisasi yang terdapat dalam pergaulan sehari-hari yang
bersifat kekeluargaan. Artinya sosialisasi yang diberikan oleh keluarga seperti dengan diskusi
dan penanaman norma-norma baik yang ada dikeluarga maupun yang ada dimasyarakat. 
(http://sharenexchange.blogspot.com/2010/02/sosialisasi-masyarakat8061.html diakses tanggal
21-02-2011 pukul 09.44)
2.1.7. Pola Sosialisasi
Bronfrenbrenner, Kohn dan Jaeger dalam (Kamanto Sunarto 1993;33) meyebutkan ada
dua pola sosialisasi yaitu pola sosialisasi represif dan pola sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi
represif menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, menekankan pada
penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Dalam hal ini yang dimaksud dari pengertian
tersebut adalah apabila anak melakukan kesalahan pasti akan mendapat yang hukuman atau
ganjaran. Sosialisasi partisipatoris merupakan pola yang didalamnya anak diberi imbalan
manakala berperilaku baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, anak diberi kebebasan,
penekanan diletakkan pada interaksi, komunikasi bersifat lisan, anak menjadi pusat sosialisasi,
keperluan anak dianggap penting.
2.1.8. Peran dan fungsi Keluarga
Keluarga
Keluarga adalah ikatan yang sedikit banyak berlangsung lama antar suami istri, dengan
atau tanpa anak. Sedangkan mnurut Sumner dan Keller merumuskan keluarga sebagaiminiatur
dari organisasi social, meliputi sedikitnya dua generasi dan terbentuk secara khusus melalui
ikatan darah (Gunarsa,1993:230)
Universitas Sumatera Utara
24 
 
Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat.
Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan antara laki-laki dan
perempuan, hubungan ini sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan
anak-anak. Didalam keluarga memiliki sifat-sifat tertentu yang sama, dimana saja dalam satuan
masyarakat.
2.1.8.1. Peran Keluarga
Peranan Keluarga
Struktur dalam keluarga dimulai dari ayah dan ibu, kemudian bertambah dengan adanya
anggota lain yaitu anak. Dengan demikian, terjadi hubungan segitiga antara orangtua-anak, yang
kemudian membentuk suatu hubungan yang berkesinambungan. Peranan keluarga mengasuh
membimbing, melindungi, merawat, mendidik anak, menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu. Orangtua didalam keluarga memiliki peran yang besar dalam menanamkan dasar
kepribadian yang ikut menentukan corak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa
kelak. Peran orangtua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orangtua dan anak dalam
berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan (Khairuddin.1997:34)
2.1.8.2. Fungsi- fungsi
UU No. 10 tahun 1992 PP No. 21 tahun 1994
Secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
a. Fungsi keagamaan
• Membina norma ajaran-ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hdiup seluruh anggota
keluarga
Universitas Sumatera Utara
25 
 
• Menerjemahkan agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari kepada seluruh anggota
keluarga
• Memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari-hari dalam pengalaman dari ajaran
agama
• Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang keagamaan yang
kurang diperolehnya disekolah atau masyarakat
• Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga beragama sebagai fondasi menuju
keluarga kecil bahagia sejahtera
b. Fungsi budaya
• Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan norma-norma dan
budaya masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan
• Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring norma dan budaya
asing yang tidak sesuai
• Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya mencari pemecahan
masalah dari berbagai pengaruh negatif gobalisasi dunia
• Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya dapat berperilaku
yang baik sesuai dengan norma bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan
globalisasi
• Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, dan seimbang dengan budaya
masyarakat atau bangsa untuk menjunjung terwujudnya norma keluarga kecil bahagia
sejahtera
c. Fungsi cinta kasih
Universitas Sumatera Utara
26 
 
• Menumbuhkan kembangkan potensi kasih sayang yang telah ada antara anggota
keluarga kedalam simbol-simbol nyata secara optimal dan terus menerus
• Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar anggota keluarga secara kuantitatif
dan kualitatif
• Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan ukhrowi dalam keluarga
secara serasi, selaras dan seimbang
• Membina rasa, sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan
menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
d. Fungsi perlindungan
• Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang
timbul dari dalam maupun dari luar keluarga
• Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman
dan tantangan yang datang dari luar
• Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju
keluarga kecil bahagia sejahtera
e. Fungsi reproduksi
• Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi
anggota keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya
• Memberikan contoh pengamalan kaidah-kaidah pembentukan keluarga dalam usia,
pendewasaan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental
• Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan dengan waktu
melahirkan, jarak antara 2 anak dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam keluarga
Universitas Sumatera Utara
27 
 
• Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju
keluarga kecil sejahtera
f. Fungsi sosialisasi
• Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana
pendidikan dan sosialisasi anak pertama dan utama
• Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak
saja dapat bermanfaat positif bagi anak, tetapi juga bagi orangtua dalam rangka
perkembangan dan kematangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia sejahtera
g. Fungsi ekonomi
• Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan
keluarga kecil bahagia dan sejahtera
• Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan perhatiannya terhadap
anggota keluarga berjalan secara serasi, selaras dan seimbang
h. Fungsi pelestarian lingkungan
• Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan intern keluarga
• Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan ekstern keluarga
• Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan yang serasi, selaras dan
seimbang antara lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup masyarakat sekitarnya.
http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=704 (diakses tanggal
6 April 2011).



Universitas Sumatera Utara
28 
 
Dari berbagai fungsi di atas ada 3 fungsi pokok keluarga, yaitu :
1. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan,pada anggota
keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan
kebutuhannya.
2. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya
selalu terpelihara sehingga memungkinkan menjadi anak-anak sehat baik fisik, mental,
sosial, dan spiritual.
3. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia
dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
Peranan dan fungsi keluarga sangat luas, dan uraian mengenai ini sangat bergantung dari
sudut orientasi mana dilakukan. Peranan dan fungsi keluarga diantaranya yaitu:
1. Dari sudut biologi, keluarga berfungsi untuk melanjutkan garis keturunan.
2. Dari sudut psikologi perkembangan, keluarga berfungsi untuk mengembangkan seluruh
aspek kepribadian sehingga bayi yang kecil menjadi anak yang besar dan berkembang
dan dikembangkan seluruh kepribadiannya, sehingga tercapai gambaran kepribadian
yang matang, dewasa, dan harmonis.
3. Dari sudut pendidikan, keluarga berfungsi sebagai tempat pendidikan informal, yaitu
tempat dimana anak mengembangkan dan dikembangkan kemampuan-kemampuan dasar
yang dimiliki, sehingga dapat mencapai dan memaksimalkan potensi dan prestasi yang
sesuai dengan kemampuan dasarnya. Dan memperlihatkan perubahan perilaku dalam
berbagai aspek seperti yang diharapkan atau direncanakan kedua orang tuanya.
Universitas Sumatera Utara
29 
 
4. Dari sudut sosiologi, keluarga berfungsi sebagai tempat untuk menanamkan aspek social
agar dapat menjadi anggota masyarakat yang mampu berinteraksi, bergaul, dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pada dasarnya tugas pokok dari keluarga adalah:
a. Pemeliharaan fisik setiap anggota keluarganya
b. Pemeliharan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
c. Pembagian tugas masing-masing anggota keluarga sesuai kedudukan masing-masing.
d. Sosialisasi antar anggota keluarga
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
g. Penempatan anggota keluarga dalam lingkungan masyarakat
h. Membangkitkan semangat dan dorongan para anggotanya
Ciri-ciri Struktur Keluarga Menurut Anderson Carter ciri-ciri struktur keluarga :
1. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan, antara anggota keluarga.
2. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai
keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
3. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya
masing-masing (Goodej,1991:20).

2.1.9. Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh adalah perlakuan orang tua dalam rangka berinteraksi dengan anak untuk
menanamkan pendidikan, memenuhi kebutuhan , melatih sosialisasi, memberikan perlindungan
Universitas Sumatera Utara
30 
 
dalam kehidupan sehari-hari. Kohn (dalam Taty Krisnawaty 1986:46) menyatakan bahwa pola
asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orangtua
meliputi cara orangtua memberikan peraturan-peraturan, hadiah, maupun hukuman, cara
orangtua menunjukkan otoritasnya, dan cara orangtua memberikan perhatian serta tanggapan
terhadap anaknya.
Tipologi gaya pola asuh Baumrind (1971) mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan
orang tua kepada anak-anaknya dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: authoritarian parenting,
authoritative parenting, permissive parenting (William.1991:70)
1. Authoritative Parenting (Pola asuh authoritatif/demokrasi)
Kebanyakan orang tua yang menerapkan pola asuh jenis autoritarian ini lebih memilih
untuk bertindak rasional dan demokrasi terhadap anak-anaknya. Dalam penerapan pola asuh
autoritatif (demokrasi) orang tua lebih banyak memberikan kebebasan kepada anak-anaknya
untuk melakukan apa pun, seperti belajar, beraktivitas, bermain, dan berkreasi mengikuti
keinginan dan kemampuan dari anak-anaknya. Anak-anak bebas bersosialisasi dengan siapa saja
yang ada di sekelilingnya, namun masih berada dibawah pengawasan kedua orangtuanya.
Disisi yang lain orang tua menunjukan sikap tegas dan konsisten dengan membuat
peraturan dirumah, dan menerapkan disiplin, nilai-nilai dan aturan-aturan yang jelas serta tidak
bisa dilanggar. Namun orang tua tetap mau mendengarkan keinginan dan pandangan dan
pendapat dari anak-anaknya. Didalam pola pengasuhan demokrasi ini orang tua juga mendidik
anak-anaknya untuk tidak meminta secara sesuatu berlebihan, dan tetap memikirkan kondisi dan
kesanggupan kedua orangtunya untuk memenuhi permintaan derta keinginannya. Orang tua
bernegosiasi dan menghargai hak anak sehingga ikatan kekeluargaan bagaikan hubungan antar
Universitas Sumatera Utara
31 
 
teman yang lebih erat dan akrab. Secara keseluruhan, pendekatan orang tua terhadap anaknya
tercipta kehangatan dan mesra.
2. Authoritarian Parenting (Pola asuh otoriter)
Orang tua atau keluarga yang menggunakan metode pengasuhan otoriter ini menganggap
bahwa anak adalah hak mutlak yang dimiliki oleh karena itu orang tua cenderung menerapkan
standart mutlak pada anak-anaknya. Orang tua menganggap mereka dapat memperlakukan anak-
anak dengan sesuka hati. Orang tua selalu dianggap paling benar dan anak-anak salah. Orang tua
suka memperlakukan anak secara kasar seperti dengan membentak, berlaku kasar, bahkan tega
untuk memukul anak yang dianggap melenceng dari peraturan yang ada dirumah. Meskipun
awalnya mungkin hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, agar anak-anak tidak berani melawan
kedua orangtuanya. Padahal tanpa disadari orang tua yang menerapkan pola asuh ini, anaknya
tersebut sebenarnya membantah segala aturan dan perintah yang ditetapkan oleh kedua
orangtunya dirumahhnya. Sehingga di masa yang akan datang anak ini akan menentang aturan
dan perintah dengan cara kekerasan juga.

Anak-anak yang dididik dengan pola asuh ini kebanyakan menuruti orangtuanya bukan
karena rasa hormat, tetapi karena rasa takut akan hukuman yang akan diberikan kepadanya
seandainya tidak menuruti, maka biasanya anak akan berdiam diri dan tidak berani untuk
berinisiatif dalam melakukan sesuatu. Komunikasi yang tecipta diantara orang tua dan anak lebih
bersifat satu arah dimana segalanya ditentukan oleh orang tua tanpa mendengarkan dan
mempertimbangkan pendapat, pikiran dan perasaan anak. Orang tua dengan pola pengasuhan
seperti ini cenderung menjaga jarak dengan anaknya, dan jarang untuk mengajak anak berdiskusi
tentang hal apa pun. Biasanya orang tua berbicara kasar kepada anak meskipun ingin meminta
Universitas Sumatera Utara
32 
 
bantuan dari anaknya. Tidak ada keramahan dan kelembutan dalam berkomunikasi diantara
anggota keluarga. Anak akan menghindar dan menjauh dari orang tuanya ketika harus bertemu
didalam suatu kondisi atau suatu ruang, karena anak merasa kaku dan takut bertemu
orangtuanya.
Kebanyakan anak yang diasuh dengan pola pengasuuhan otoriter ini cenderung menarik
diri secara social, kurang percaya diri, dan berkata dan bertingkah laku kasar. Pola pengasuhan
ini sering kali menjadi pola pengasuhan warisanyang secara berulang-ulang diberikan kepada
generasi keluarga berikutnya. Karena seseorang cenderung akan menerapkan pola asuh yang
sama dirasakannya sebelumnya kepada keturunan berikutnya.

3. Permisive Parenting Style (Pola asuh permisif)
Pola asuh permisif menekankan ekspresi diri dan self regulation anak. Orangtua yang
permisif membuat beberapa peraturan dan mengijinkan anak-anaknya untuk memonitor kegiatan
mereka sebanyak mungkin. Ketika mereka membuat peraturan biasanya mereka menjelaskan
terlebih dahulu, orangtua berdiskusi dahulu dengan anak dan orang tua tidak mau menghukum
anak jika melakukan pelanggaran. Maccoby dan Martin (1983) menambahkan tipologi ini karena
adanya tingkat tuntutan orangtua dan tanggapan yang ada. Dengan demikian pola asuh permisif
terbagi dua jenis yaitu:
a. Pola asuh penyabar
b. Dan pola asuh penelantar



Universitas Sumatera Utara
33 
 
a. Pola asuh penyabar
Pola asuh jenis ini bertolak belakang atau kebalikan dari pola pengasuhan otoriter. Orang
tua yang mendidik anak dengan cara ini justru memprioritaskan kebutuhan dan kepentingan
anak-anak di posisi yang paling utama. Semua haapan dan keinginan anak dipenuhi tanpa
bertanya apa alasan, dan tujuan anak menginginkan kemauannya dipenuhi. Selain itu orang tua
juga tidak memikirkan apakah dengan memenuhi dan menuruti segala keinginan si anak tersebut
akann member manfaat yang baik untuk si anak. Orang tua lebih suka anaknya memperoleh
sesuatu dngan cara yang mudah tanpa perlu mempersulit diri si anak.
Didalam pola asuh ini, kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya
terlalu berlebihan sehingga akan mencapai suatu tahap dimana orang tua tidak akan tega untuk
menegur, atau mengajar anak dengan keras ketika si anak melakukan kesalahan. Karena takut
anaknya menjadi sakit hati, sedih, kecewa, nakal, dan memberontak. Didalam pola pengasuhan
ini orang tua cenderung bersikap sangat melindungi anak dalam kondisi apa pun, meskipun si
anak sebenarnya didalam kondisi yang salah. Bagi orang tua, anak mereka selalu berada pada
kondisi yang benar walaupunsebenarnya si anak melakukan kesalahan, sehingga mengakibatkan
anak tidak disiplin dan melakukan segala sesuatu dengan sesuka hati.
Orang tua ttidak pernah berfikir bahwa anak yang diperlakukan seperti itu suatu saat
nanti akan cenderung menjadi implusive (memerlukan dorongan dari orang lain), akan bersifat
manja, kurang mandiri, egois dan mau menang sendiri, tidak percaya diri, sombong, dan lain-
lain. Dari segi hubungan dengan dunia luar selain lingkungan keluarga, kebanyakan anak yang
datang dari latar belakang dengan pola pengasuhan penyabar menjadi anak yang kurang matang
secara sosial. Mereka tidak mau memikirkan perasaan dan hati orang lain karena hanya menuntut
pemahaman dan pengertian dari orang lain terhadap diri mereka. Hal yang paling utama, mereka
Universitas Sumatera Utara
34 
 
harus menjadi yang pertama dalam segala-segalanya dengan kata lain selalu tidak
memperdulikan orang lain.
Walaupun anak yang dididik dengan pola asuh ini kebanyakan akan cenderung menjadi
implusive (memerlukan dorongan dari orang lain), manja, kurang mandiri, egois, mau menang
sendiri, kurang percaya diri, sombong, dan masih banyak sisi negative yang timbul akibat pola
asuh ini, namun pada kenyataannya banyak juga anak yang menjadi agresif, tidak patuh, dan
menentang kedua orang tuanya. Hal ini dikarenakan orang tua tidak mau menegur, memarahi,
ketika anak melakukan kesalahan atau tidak disiplin. Biasanya hal sperti mulai kelihatan apabila
orang tua sudah mulai bertindak tegas, dan membatasi anak.

b. Pola asuh penelantar
Anak yang diasuh dengan pola ini adalah anak yang kurang mendapatkan kasih sayang
dan perhatian dari oaring tuanya. Orang ttua selalu sibuk bekerja, sehingga lupa atas tanggung
jawabnya sebagai ayah atau ibu yang merupakan sosok yang paling penting dalam
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mental, fisik, dan psikologis anak. Orang tua
banyak menghabiskan waktu hanya untuk kepentingan pribadinya, seperti bekerja, berbincang-
bincang dengan teman, arisan, belanja, dan lain-lain. Terkdang orang tua yang menganut pola
asuh ini akan memberikan uang yang bayak kepada anak agar anak tidak merasa kesepian. Anak
dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan cara dan kemampuannya sendiri. Dan terkadang di
tambah dengan pengalaman-pengalaman yang dilihat dan dirasakan anak dilingkungan
sekitarnya tanpa mendapat tuntunan dari kedua orang tuanya. Selain itu tidak jarang juga
ditemukan anak yang diterlantarkan oleh orang tuanya ini mendapatkan pendidikan akademik
dan pendidikan agama yang menunjang kehidupannya di masa yang akan datang.
Universitas Sumatera Utara
35 
 
Terdapat berbagai macam alasan yang menyebabkan orang tua tega menerapkan pola
asuh penelantar ini. Dan salah satu alasannya adalah anak yang ditolak kehadirannya didalam
keluarga. Banyak kasus yang terjadi di dalam kehidupan nyata diaman orang tua yang menolak
kehadiran anaknya tersebut karena anak adopsi, anak tiri, akan dari hasil perselingkuhan, dan
anak yang kurang sempurna, seperti anak cacat fisik, cacat mental, dan cacat psikis. Anak yang
tidak mampu uuntuk hidup sendiri dibiarkan terlantar tanpa diperhatikan. Orang tua menganggap
bahwa memiliki anak dalam kondisi seperti itu malah memberikan kesusahan dan hanya akan
menambah beban dalam hidup mereka.
Selain itu, yang menjadi factor pendukung seseorang menjadi orang tua mengasuh
dengan pola ini yaitu factor kemiskinan. Mereka masih belum mampu untuk melakukan
pekerjaan lain atau tidak bisa mendapsatkan pekerjaan yang lebih baik karena tidak memiliki
pendidikan. Pola asuh penelantar merupakan pola asuh yang beresiko paling tinggi menyebabkan
penyimpakan kepribadian dan perilaku anti social.
2.2. Difabel dan Tunanetra
Istilah difabel merupakan pengindonesiaan dari kependekan istilah different abilities
people (orang dengan kemampuan yang berbeda). Dengan istilah difabel, masyarakat diajak
untuk merekonstruksi nilai-nilai sebelumnya, yang semula memandang kondisi cacat atau tidak
normal sebagai kekurangan atau ketidakmampuan menjadi pemahaman terhadap difabel sebagai
manusia dengan kondisi fisik berbeda yang mampu melakukan aktivitas dengan cara dan
pencapaian yang berbeda pula.
Istilah difabel pertama kali dicetuskan oleh beberapa aktivis di Yogyakarta yang salah
satunya adalah almarhum Dr. Mansour Fakih pada awal tahun 1997 (Ambulangsih, 2007; 45) .
Istilah ini merupakan salah satu upaya untuk merekontruksi pandangan, pemahaman, dan
Universitas Sumatera Utara
36 
 
persepsi masyarakat umum pada nilai-nilai sebelumnya yang memandang seorang difabel adalah
seseorang yang tidak normal, memiliki kecacatan sebagai sebuah kekurangan dan
ketidakmampuan. Pemakaian kata difabel dapat dimaksudkan sebagai kata eufemisme, yaitu
penggunaan kata yang memperhalus kata atau istilah yang digunakan sebelumnya. Tetapi secara
luas Istilah difabel digunakan sebagai salah satu usaha untuk merubah persepsi dan pemahaman
masyarakat bahwa setiap manusia diciptakan berbeda dan seorang difabel hanyalah sebagai
seseorang yang memiliki perbedaan kondisi fisik dan dia mampu melakukan segala aktivitas
dengan cara dan pencapaian yang berbeda. Pemakaian istilah difabel memiliki nilai lebih
humanis dan sebagai suatu usaha untuk menghilangkan kekuatan ruang yang memiliki hubungan
tidak adil/diskriminasi serta mendorong eksistensi dan peran difabel dalam lingkungan mereka
(Priyadi 2006; 23).
Dengan pemahaman baru itu masyarakat diharapkan tidak lagi memandang para difabel
sebagai manusia yang hanya memiliki kekurangan dan ketidakmampuan. Sebaliknya, para
difabel, sebagaimana layaknya manusia umumnya, juga memiliki potensi dan sikap positif
terhadap lingkungannya. Difabel terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa, dan lain-lain.
Tunanetra dari segi etimologi bahasa. “tuna” artinya “rusak” “netra” artinya “mata” atau
dapat disimpulkan mata yang rusak. Sehingga tunanetra dapat disimpulkan yakni tidak
berfungsinya indera penglihatan secara normal. Tunanetra termasuk kedalam bagian dari difabel.
Karena tunanetra adalah suatu keadaan cacat fisik yang dapat digantikan dengan indera lain,
seperti indera peraba, dan indera perasa. Berdasarkan Organisasi Badan Kesehatan Dunia WHO
merillis data bahwa setidaknya ada 40 – 45 juta penderita kebutaan (cacat netra)gangguan
penglihatan. Pertahunnya tak kurang dari 7 juta orang mengalami kebutaan atau permenitnya
Universitas Sumatera Utara
37 
 
terdapat satu pentuduk bumi menjadi buta dan perorang mengalami kebutaan perduabelas menit
dan ironisnya, lagi-lagi wilayah dan negara miskinlah yang kebanyakan penduduknya
mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, yaitu sekitar 90%.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Sosial, jumlah penyandang cacat tuna netra
tahun 2009 adalah sebanyak 3.474.035 orang, Sedangkan dari data Kemenakertrans tahun 2009,
jumlah tenaga kerja penyandang cacat tunanetra yang bekerja sebanyak 2.137.923 orang.
(http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=704 (diakses tanggal 6
April 2011).
2.2.1. Klasifikasi Tunanetra
Menurut Depdiknas kelasifikasi tunanetra secara garis besar dibagi lima yaitu:
A. Berdasarkan tingkat kebutaannya yaitu:
1. Dikatakan buta total jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar.
Kebutaan total memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain:
- Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari 1 meter.
- Ketajaman penglihatan 20/200 kali yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda
pada jarak 20 kaki.
- Bidang penglihatnya tidak lebih luas dari 20 meter.
2. Dikatakan Low Vision bila masih mampu menerima rangsa cahaya dari luar. Berdasarkan
definisi World Health Organization (WHO),seseorang dikatakan low vision apabila:
- Memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan,
misalnya operasi atau koreksi refleksi standar (kacamata atau lensa).
Universitas Sumatera Utara
38 
 
http://bamperxii.com/2008/11/penegertian-tuna-netra.html (diakses tanggal 7 April
2011 pada pukul 12.10 WIB)
B. Berdasarkan waktu terjadinya kebutaan:
1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir yakni yang mereka asma sekali tidak memiliki
pengalaman penglihatan.
2. Tunanetra setelah lahir atau pas usia kecil yakni mereka telah memiliki kesan-kesan serta
pengalaman visual tetapi belum kuat da mudah terlupakan.
3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja mereka telah memiliki kesan-kesan
visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap peroses perkembangan
pribadi.
4. Tunanetra pada usia dewasa pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran
mampu melakukan latihan-latiha penyesuaian diri.
5. Tunanera dalam usia lanjut, sebagian besar sudah sulit untuk mengikuti latihan-latihan
kecerdasan kinestetik yang berpengaruh terhadap gerak motorik seseorang penyandang
(http://id.wikipedia.org/wiki/Anaka_berkebutuhan_khusus diakses tanggal 1 April 2011
pada pukul 11.12 WIB)
C. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan
1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision);yakni mereka yang memiliki hambatan
dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti perogram-program
pendidikan dan pampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang mengunakan fungsi
penglihatan.
Universitas Sumatera Utara
39 
 
2. Tunanetra setengah berat (partially sighted);yakni mereka yang kehilagan sebagian daya
penglihat,hanya menggunakan kaca pembesar.mereka mampu mengikuti pendidikan
biasa atau mampu membaca tulisan yang ercatak tebal.
3. Tunanetra berat (totally blind);yakni mereka yang sama ssekali tidak dapat melihat.
D. Berdasarkan pemeriksaan klinis
1. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki
bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
2. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki
bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
E. Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata:
1. Mayopia : adalah penglihatan jarak dekat, bayak yang tidak tetfokuds dan jatuh di
belakang retina.penglihata akan terlihat jelas kalau objek didekatka. Untuk membantu
peroses penglihatan pada penderita mayopi digunakan kacamata koreksi dengan lensa
negatif.
2. Hyperopia : adalah penglihatan jarak jauh,banyak yang tidak terfokus da jatuh didepa
retina. Penglihatan akan terlihat jelas jika objek dijauhkan. Untuk menbantu peroses
pemulihan pada penderita heyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa posotif.
3. Astigmatisme : adalah penyimpanan atau peglihatan kabur yang disebabkan karna
kerusakan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga banyak
benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina.

Universitas Sumatera Utara
40 
 
2.2.2 Faktor Penyebab Tunanetra
Ada dua faktor penyebab seseorang menderita tunanetra yaitu:
1. Faktor endogen, ialah faktor dari dalam kandungan atau dapat dikatakan faktor genetic.
Misalnya perkawinan antar sesama tunanetra, atau memiliki nenek moyang yang
penyandang tunanetra.
2. Faktor eksogen atau faktor luar seperti:
a. Penyakit atau virus rubella yang menjadikan seseorang menjadi sakit campak, yang
lama kelamaan akan mengganggu saraf penglihatan dan bias menghilangkan fungsi
penglihatan secara permanen. Ada juga dikarrenakan oleh kuman syphilis, yang
mengakibatkan kerapuhan pada lensa mata yang mengakibatkan pandangan mata keruh.

c. Kecelakaan yaitu kecelakaan fisik akibat tabrakan yang berakibatkan langsung
merusak saraf mata. Ada juga yang diakibatkan oleh radiasi ultra violet atau gas
beracun yang dapat menybabkan seseorang kehilangan fungsi mata untuk melihat
Error!  Hyperlink  reference  not  valid..com (diakses tanggal 11 april 2011 pada pukul
10.15)




Universitas Sumatera Utara
41 
 
2.3. Defenis Konsep
Penelitian ini mengenai interaksi sosial pada keluarga pasangan tuna netra ditujukan
untuk mengetahui bagaimana cara interaksi yang dilakukan keluarga yang kedua orangtuanya
adalah penyandang cacat tunanetra. Maka agar penelitian ini tetap terfokus dan tidak
menimbulkan penafsiran ganda, maka digunakan beberapa defenisi konsep sebagai berikut:
1. Keluarga : Keluarga adalah sekelompok orang yang kedua orangtuanya adalah
penyandang cacat tunanetra dan memiliki anak yang normal yang terikat oleh tali
perkawinan.
2. Anak : Keturunan yang normal dari orang tua yang difabel yang bekerja sebagai
tukang pijat. Yang berusia 0-30 tahun.
3. Pola asuh : kegiatan orangtua mengasuh, mendidik, membimbing, mendisiplinkan dan
melindungi anak sampai pada masa kedewasaan sesuai dengan norma yang ada didalam
masyarakat.
4. Orangtua Difabel : Orangtua adalah penyandang cacat tunanetra yang memiliki
kerusakan pada indera penglihatan (mata) yang mengakibatkan tidak berfungsi secara
baik indera penglihatan atau buta.
5. Panti pijat : Panti pijat adalah tempat yang digunakan oleh penyandang cacat tunanetra
dalam memberikan pelayanan pijat.
6. Lingkungan kelurahan Sei sikambing D Medan : adalah lingkungan tempat tinggal
sekaligus tempat praktek pijat keluarga yang kedua orangtuanya difabel atau penyandang
cacat tunanetra.

Universitas Sumatera Utara