You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Statistika kita dihadapkan untuk menarik kesimpulan dan
keputusan dari suatu permasalahan. Kesimpulan yang dibuat, kebenarannya
tidaklah pasti secara absolut, sehingga timbul persoalan bagaimana keyakinan
untuk mempercayai ke-benaran dari kesimpulan tersebut. Untuk hal tersebut
diperlukan suatu teori yang biasa disebut teori peluang atau probabilitas.Dalam
teori ini dibahas, antara lain tentang ketidak pastian dari suatu kejadian atau
peristiwa. Ada tiga lingkungan dalam proses pengambilan keputusan yang telah
dijadikan dalil yakni pasti, ketidakpastian dan risiko. Maka dari itu, dalam
makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang teori peluang probabilitas!
1.2 Rumusan Masalah
".#." Apa pengertian peluang probabilitas! $
".#.# %endekatan apa saja yang digunakan dalam perhitungan peluang$
".#.& Apa saja aturan dasar dalam peristiwa probabilitas$
".#.' Apa itu permutasi dan kombinasi$
1.3 Tujuan
".&." Agar kita mengetahui pengertian dari peluang probabilitas!
".&.# Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam
perhitungan peluang
".&.& Agar mengetahui aturan dasar dalam peristiwa probabilitas
".&.' Untuk mengetahui apa itu permutasi dan kombinasi
11
BAB II
PEMBAHAAN
2.1 Pengert!an Peluang
%eluang probabilitas! adalah derajat atau tingkat kepastian atau keyakinan
dari munculnya hasil percobaan statistik. Suatu probabilitas dilambangkan dengan
%!. Untuk membantu pemahaman konsep dasar probabilitas terlebih dahulu harus
memahami analisis kombinatorial, yaitu analisis bilangan (aktorial, permutasi dan
kombinasi. Secara umum probabilitas dapat dipahami sebagai suatu nilai dari )
s*d " yang mennjukkan seberapa besar terjadinya suatu peristiwa, suatu kejadian
e+ent!.
Adapun hasil output! adalah sekumpulan data yang merupakan seluruh
hasil dari eksprimen. Sedangkan eksprimen sendiri menjelaskan suatu proses yang
dilakukan untuk mendapat hasil-hasil yang diamati lebih jauh.
Sebagai contoh, proses pelemparan dadu untuk mendapatkan hasil adalah
merupakan suatu eksprimen, sedangkan ", #, &, ', ,, - adalah keseluruhan hasil
out comes! yang mungkin terjadi. Kumpulan angka genap #, ', -! atau
kumpulan angka ganjil ", &, ,! adalah kejadian e+ent!.
2.2 Pen"ekatan "alam Perh!tungan Peluang
A. %endekatan Klasik
Apabila suatu peristiwa .+ent! . dapat terjadi sebanyak h dari sejumlah n
kejadian yang mempunyai kemungkinan sama untuk terjadi maka probabilitas
peristiwa . atau %.! dapat dirumuskan /
Misalnya/ bila sekeping koin dilempar sekali, maka secara logika dikatakan
bahwa masing-masing sisi mempunyai peluang yang sama, yaitu ),, karena koin
12
hanya terdiri atas dua sisi masing-masing, dan masing-masing sisi mempunyai
kesempatan yang sama untuk muncul atau dicatat. %A! 0 %1! 0 ),,
1. %endekatan .mpiris
%erumusan perhitungan berdasarkan pendekatan empiris adalah atas dasar
pengertian (rekuensi relati(. %endekatan ini dilakukan karena pendekatan
perhitungan klasik dipandang memiliki beberapa kelemahan. Dalam kenyataan ,
syarat yang ditetapkan jarang dapat dipenuhi.
Suatu peristiwa . mempunyai h kejadian dari serangkaian n kejadian dalam
suatu percobaan, maka peluang . merupakan (rekuensi relati( h/n , dinyatakan
sebagai /
Untuk n mendekati nilai tak terhingga.
2. %endekatan Subjekti(
%ada pendekatan subyekti(, beberapa orang dapat saja memiliki keyakinan
yang berbeda terhadap terjadinya suatu peristiwa, meskipun in(ormasi yang
diterima berkaitan dengan peristiwa tersebut adalah sama. 3al tersebut disebabkan
karena setiap orang berpikir dam mempunyai keyakinan yang berbeda terhadap
suatu masalah yang sama.
Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disusun suatu pengertian umum
mengenai probabilitas, yaitu sebagai berikut /
%robabilitas adalah suatu indeks atau nilai yang digunakan untuk menentukan
tingkat terjadinya suatu kejadian yang bersi(at random acak!. 4leh karena
probabilitas merupakan suatu indeks atau nilai maka probabilitas memiliki batas-
batas yaitu mulai dari ) sampai dengan " 5) 6 % .! 6 "7.
13
Artinya /
- 8ika % 0 ) disebut probabilitas kemustahilan artinya kejadian atau peristiwa
tersebut tidak akan terjadi.
- 8ika % 0 ", disebut probabilitas kepastian, artinya kejadian atau peristiwa
tersebut pasti terjadi.
- 8ika ) 9 % 9 ", disebut probabilitas kemungkinan, artinya kejadian atas
peristiwa tersebut dapat atau tidak dapat terjadi.
- 8ika kemungkinan terjadinya peristiwa . disebut % .! maka besarnya
probabilitas bahwa peristiwa . tidak terjadi adalah /
2.3 Aturan Dasar Pr#$a$!l!tas
A. Aturan Penjumlahan
Untuk menerapkan aturan penjumlahan ini, harus dilihat jenis kejadiannya apakah
bersi(at saling meniadakan atau tidak saling meniadakan.
1. %eja"!an al!ng Men!a"akan &
Dua peristiwa atau lebih disebut saling meniadakan jika kedua atau lebih peristiwa
itu tidak dapat terjadi pada saat yang bersamaan. 8ika peristiwa A dan 1 saling
meniadakan, probabilitas terjadinya peristiwa tersebut adalah
%A atau 1! 0 %A! : %1! atau
%A ∪ 1! 0 %A! : %1!
2ontoh /
Sebuah dadu dilemparkan ke atas, peritiwanya adalah
A 0 peristiwa mata dadu ' muncul.
1 0 peristiwa mata dadu lebih kecil dari & muncul.
;entukan probabilitas dari kejadian berikut <
14
- Mata dadu ' atau lebih kecil dari & muncul<
%enyelesaian /
%A! 0 "*-
%1! 0 #*-
%A atau 1! 0 %A! : %1!
0 "*- : #*-
0 ),,
2. %eja"!an T!"ak al!ng Men!a"akan &
Dua peristiwa atau lebih disebut peristiwa tidak saling meniadakan apabila kedua
peristiwa atau lebih tersebut dapat terjadi pada saat yang bersamaan. 8ika dua
peristiwa A dan 1 tidak saling meniadakan, probabilitas terjadinya peristiwa
tersebut adalah
%A atau 1! 0 %A! : %1! = %A dan 1!
%A ∪ 1! 0 %A! : %1! = %A ∩ 1!
8ika & peristiwa A, 1, dan 2 tidak saling meniadakan, probabilitas terjadinya
peristiwa tersebut adalah
%A ∪ 1 ∪ 2! 0 %A! : %1! : %2! = %A ∩ 1! = %A ∩ 2! = %1 ∩ 2! : %A ∩
1 ∩ 2!
2ontoh /
Dua buah dadu dilemparkan bersamaan, apabila /
A 0 peristiwa mata ', '! muncul.
1 0 peristiwa mata lebih kecil dari &, &! muncul.
;entukan probabilitas %A atau 1! <
%enyelesaian /
%A! 0 "*&-
%1! 0 "'*&-
15
%A ∩ 1! 0 )
%A atau 1! 0 %A! : %1! = %A ∩ 1!
0 "*&- : "'*&- = )
0 ),'#
B. Aturan Perkal!an
Dalam konsep probabilitas, aturan perkalian diterapkan secara berbeda menurut
jenis kejadiannya. Ada dua jenis kejadian dalam hal ini, yaitu kejadian tak bebas
dan kejadian bebas.
1. %eja"!an Tak Be$as &
Dua peristiwa atau lebih disebut kejadian tidak bebas apabila peristiwa yang satu
dipengaruhi atau tergantung pada peritiwa lainnya.
%robabilitas peristiwa tidak saling bebas dapat pula dibedakan atas tiga macam,
yaitu yaitu probabilitas bersyarat, gabungan, dan marjinal.
a. Pr#$a$!l!tas Bers'arat &
%robabilitas bersyarat peristiwa tidak saling bebas adalah probabilitas terjadinya
suatu peristiwa dengan syarat peristiwa lain harus terjadi dan peristiwa-peristiwa
tersebut saling mempengaruhi. 8ika peristiwa 1 bersyarat terhadap A, probabilitas
terjadinya periwtiwa tersebut adalah

( )
( )
( ) A %
A 1 %
1*A %

=
%1*A! dibaca probabilitas terjadinya 1 dengan syarat peristiwa A terjadi.
2ontoh /
Sebuah kotak berisikan "" bola dengan rincian /
, buah bola putih bertanda :
" buah bola putih bertanda =
& buah bola kuning bertanda :
# buah bola kuning bertanda =
16
Seseorang mengambil sebuah bola kuning dari kotak
- 1erapa probabilitas bola itu bertanda :$
%enyelesaian /
Misalkan / A 0 bola kuning
1
:
0 bola bertanda positi(
1
-
0 bola bertanda negati(.
%A! 0 ,*""
%1
:
∩ A! 0 &*""
( )
( ) A %
A 1 %
*A! %1

=
+
+
( )
,
&
""
,
""
&
* = =
+
A B P
$. Pr#$a$!l!tas (a$ungan &
%robabilitas gabungan peritiwa tidak saling bebas adalah probabilitas terjadinya
dua atau lebih peristiwa secara berurutanbersamaan! dan peristiwa-peristiwa itu
saling mempengaruhi.
8ika dua peristiwa A dan 1 gubungan, probabilitas terjadinya peristiwa tersebut
adalah
%A dan 1! 0 %A ∩ 1! 0 %A! > %1*A!
8ika tiga buah peristiwa A, 1, dan 2 gabungan, probabilitas terjadinya peristiwa
tersebut adalah
%A ∩ 1 ∩ 2! 0 %A! > %1*A! > %2*A ∩ 1!
17
2ontoh /
Dari satu set kartu bridge berturut-turut diambil kartu itu sebanyak # kali secara
acak. 3itunglah probabilitasnya kartu king A! pada pengambilan pertama dan
as1! pada pengambilan kedua, jika kartu pada pengambilan pertama tidak
dikembalikan <
%enyelesaian /
A! 0 pengambilan pertama keluar kartu king.
%A! 0 '*,#
1*A! 0 pengambilan kedua keluar kartu as
%1*A! 0 '*,"
%A ∩ 1! 0 %A! > %1*A!
0 '*,# > '*,"
0 ),))-
). Pr#$a$!l!tas Marj!nal &
%robabilitas marjinal peristiwa tidak saling bebas adalah probabilitas terjadinya
suatu peristiwa yang tidak memiliki hubungan dengan terjadinya peristiwa lain
dan peristiwa tersebut saling mempengaruhi. 8ika dua peristiwa A adalah marjinal,
probabilitas terjadinya peristiwa A tersebut adalah
%A! 0 Σ%1 ∩ A!
0 Σ%A
i
! > %1*A
i
!, i 0 ", #, &, ?..
2ontoh /
Sebuah kotak berisikan "" bola dengan rincian /
, buah bola putih bertanda :
" buah bola putih bertanda =
& buah bola kuning bertanda :
# buah bola kuning bertanda =
18
;entukan probabilitas memperoleh sebuah bola putih <
%enyelesaiana /
Misalkan / A 0 bola putih
1
:
0 bola bertanda positi(
1
-
0 bola bertanda negati(
%1
:
∩ A! 0 ,*""
%1
-
∩ A! 0 "*""
%A! 0 %1
:
∩ A! : %1
-
∩ A!
0 ,*"" : "*""
0 -*""
2. %eja"!an Be$as &
Dua kejadian atau lebih dikatakan merupakan kejadian bebas apabila terjadinya
kejadian tersebut tidak saling mempengaruhi. Dua kejadian A dan 1 dikatakan
bebas, kalau kejadian A tidak mempengaruhi 1 atau sebaliknya. 8ika A dan 1
merupakan kejadian bebas, maka /
%A*1! 0 %A! dan %1*A! 0 %1!
%A ∩ 1! 0 %A! %1! 0 %1! %A!
2ontoh /
Satu mata uang logam @p. ,) dilemparkan ke atas sebanyak dua kali. 8ika A
"
adalah lemparan pertama yang mendapat gambar burung1!, dan A
#
adalah
lemparan kedua yang mendapatkan gambar burung1!, berapakah %A
"
∩ A
#
!<
%enyelesaian /
Karena pada pelemparan pertama hasilnya tidak mempengaruhi pelemparan kedua
dan %A
"
! 0 %1! 0 ),, dan %A
#
! 0 %1! 0 ),,, maka %A
"
∩ A
#
! 0 %A
"
! %A
#
! 0
%1! %1! 0 ),, > ),, 0 ),#,.
19
Rumus Bayes :
8ika dalam suatu ruang sampel S! terdapat beberapa peristiwa saling lepas, yaitu
A
"
, A
#
, A
&
, ?., A
n
yang memiliki probabilitas tidak sama dengan nol dan bila ada
peritiwa lain misalkan A! yang mungkin dapat terjadi pada peristiwa-peristiwa
A
"
, A
#
, A
&
, ?., A
n
maka probabilitas terjadinya peristiwa-peristiwa A
"
, A
#
, A
&
,
?., A
n
dengan diketahui peristiwa A tersebut adalah
( )
( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
,... ' , & , # , "
! * ...... * *
! *
*
# # " "
=
+ + +
=
i
A X P A P A X A P A X P A P
A X P A P
X A P
n n
i i
i
2ontoh /
;iga kotak masing-masing memiliki dua laci. Didalam laci-laci tersebut terdapat
sebuah bola. Didalam kotak B terdapat bola emas, dalam kotak BB terdapat bola
perak, dan dalam kotak BBB terdapat bola emas dan perak. 8ika diambil sebuah
kotak dan isinya bola emas, berapa probabilitas bahwa laci lain berisi bola perak$
%enyelesaian /
Misalkan / A
"
peristiwa terambil kotak B
A
#
peristiwa terambil kotak BB
A
&
peristiwa terambil kotak BBB
A peristiwa laci yang dibuka berisi bola emas
Kotak yang memenuhi pertanyaan adalah kotak BBB %A
&
*A!!.
%A
"
! 0 "*& %A*A
"
! 0 "
%A
#
! 0 "*& %A*A
#
! 0 )
%A
&
! 0 "*& %A*A
&
! 0 C
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
& & # # " "
& &
&
* . * . * .
* .
*
A X P A P A X P A P A X P A P
A X P A P
X A P
+ +
=
20
0
( ) ( )
&
"
#
"
&
"
)
&
"
"
&
"
#
"
&
"
=












+ 





+ 

















2.* Permutas! "an %#m$!nas!
%embicaraan mengenai permutasi dan kombinasi selalu berkaitan dengan prinsip
dasar membilang dan (aktorial.
1. Pr!ns!+ Dasar Mem$!lang &
8ika kejadian pertama dapat terjadi dalam n
"
cara, kejadian kedua dalam n
#
cara,
demikian seterusnnya, sampai kejadian k dalam n
k
cara, maka keseluruhan
kejadian dapat terjadi dalam /
n
"
> n
#
> ?> n
k
cara
2ontoh /
Seorang pengusaha ingin bepergian dari 8akarta ke Ujungpandang melalui
Surabaya. 8ika 8akarta = Surabaya dapat dilalui dengan tiga cara dan Surabaya =
Ujungpandang dapat dilalui dengan dua cara, ada berapa cara pengusaha tersebut
dapat tiba di Ujungpandang melalui Surabaya$
%enyelesaian /
misalkan / dari 8akarta ke Surabaya n
"
! 0 & cara.
Dari Surabaya ke Ujungpandang n
#
! 0 # cara.
2ara pengusaha tersebut dapat tiba di Ujungpandang melalui Surabaya adalah /
n
"
> n
#
0 & > # 0 - cara.
2. ,akt#r!al &
21
Daktorial adalah perkalian semua bilangan bulat positi( bilangan asli! terurut
mulai dari bilangan " sampai dengan bilangan bersangkutan atau sebaliknya.
Daktorial dilambangkan/ E<F.
8ika / n 0 ",#, ?., maka /
n< 0 nn = "!n = #! ?.> # > "
0 nn ="!<
2ontoh /
;entukan nilai (actorial dari bilangan berikut
a. ,<
b. &< A #<
c. -<*'<
%enyelesaian /
a. ,< 0 , > ' > & > # > " 0 "#)
b. &< A #< 0 & > # > " > # > " 0 "#
c.
&)
" # & '
" # & ' , -
< '
< -
= =
x x x
x x x x x
Permutasi :
1. Pengert!an Permutas! &
%ermutasi adalah suatu penyusunan atau pengaturan beberapa objek ke dalam
suatu urutan tertentu.
2ontoh /
Ada & objek, yaitu A12. %engaturan objek-objek tersebut ialah A12, A21, 12A,
1A2, 2A1, 21A yang disebut permutasi. 8adi, permutasi & objek menghasilkan
enam pengaturan dengan cara yang berbeda.
2. Rumus-rumus Permutas! &
22
a. %ermutasi dari m objek seluruhnya tanpa pengembalian / m%m 0 m<
2ontoh /
%ada suatu tempat terdapat ' buku matematika yang berbeda. 1uku itu akan
disusun pada sebuah rak buku. 1erapa cara susunan yang mungkin dari buku-
buku matematika dapat disusun.
%enyelesaian /
1uku-buku matematika dapat disusun dalam /
'%' 0 '< 0 ' > & > # > " 0 #' cara.
b. %ermutasi sebanyak > dari m objek tanpa pengembalian /

( )
( ) x m
x m
m
mPx ≥

=
<
<
2ontoh /
Dari empat calon pimpinan sebuah perusahaan, misalkan A, 1, 2, D hendak
dipilih seorang ketua, seorang sekretaris, dan seorang bendahara.
1erapa cara keempat calon tersebut dipilih$
%enyelesaian/
m 0 ' dan > 0 &
'%& 0
( )
#'
"
" # & '
< & '
< '
= =

x x x

c. %ermutasi dari m objek dengan pengembalian /
m%> 0 m
>
> 6 m dan bilangan bulat positi(
2ontoh /
23
;entukan permutasi dari A12 sebanyak # unsur dengan pengembalian unsure
yang terpilih<
%enyelesaian /
M 0 & dan > 0 #
&%# 0 &
#
0 G
yaitu / AA, A1, A2, 11, 1A, 12, 22, 2A, 21
d. %ermutasi daaari m objek yang sama /
m<
m%m
"
, m
#,
m
&
, ? 0 -----------------------
m
"
< . m
#
< . m
&
< ?.
Dengan m
"
: m
#
: m
&
: ?.0 m
2ontoh /
;entukan permutasi dari kata E;AMA;F
%enyelesaian /
M 0 ,, m
"
0 #, m
#
0 #, m
&
0 "
,< , > ' > & > # > "
,%#, #, " 0 --------------- 0 -------------------- 0 &)
#< . #< . "< # > " > # > " > "
Kombinasi :
1. Pengert!an %#m$!nas! &
Kombinasi adalah suatu penyusunan beberapa objek tanpa memperhatikan urutan
objek tersebut.
24
2ontoh /
Ada ' objek, yaitu / A, 1, 2, D. Kombinasi & dari objek itu adalah A12, A1D,
A2D, 12D. Setiap kelompok hanya dibedakan berdasarkan objek yang
diikutsertakan, bukan urutannya. 4leh karena itu /
A12 0 A21 0 1A2 0 12A 0 2A1 0 21A
A1D 0 AD1 0 1AD 0 1DA 0 DA1 0 D1A
A2D 0 2AD 0 AD2 0 2DA 0 DA2 0 D2A
12D 0 1D2 0 21D 0 2D1 0 D12 0 D21
2. Rumus-rumus %#m$!nas! &
a. Kombinasi > dari m objek yang berbeda /
m<
m2> 0 -------------- H m ≥ >
m = >!<.><
2ontoh /
Dari , pemain bulu tangkis, yaitu A, 1, 2, D, dan . hendak dipilih dua orang
untuk pemain ganda. 1erapa banyak pemain ganda yang mungkin terbentuk$
%enyelesaian /
M 0 , dan > 0 #
,<
,2# 0 ---------------- 0 ")
, = #!< . #<
25
BAB III
PENUTUP
3.1 %es!m+ulan
Dari penjelasan dalam makalah di atas, dapat disimpulkan bahwa
mempelajari probabilitas memberikan kita banyak man(aat. Man(aat probabilitas
dalam kehidupan sehari-hari adalah membantu kita dalam mengambil suatu
keputusan, serta meramalkan kejadian yang mungkin terjadi. 8ika kita tinjau pada
saat kita melakukan penelitian, probabilitas memiliki beberapa (ungsi antara lain /
". Membantu peneliti dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat.
%engambilan keputusan yang lebih tepat dimagsudkan tidak ada keputusan
yang sudah pasti karena kehidupanmendatang tidak ada yang pasti kita ketahui
dari sekarang, karena in(ormasi yang didapat tidaklah sempurna.
#. Dengan teori probabilitas kita dapat menarik kesimpulan secara tepat atas
hipotesis yang terkait tentang karakteristik populasi. Menarik kesimpulan
secara tepat atas hipotesis perkiraan sementara yang belum teruji
kebenarannya! yang terkait tentang karakteristik populasi pada situssi ini kita
hanya mengambil atau menarik kesimpulan dari hipotesis bukan berarti
kejadian yang akan datang kita sudah ketehaui apa yang akan tertjadi.
&. Mengukur derajat ketidakpastian dari analisis sampel hasil penelitian dari
suatu populasi.
26