You are on page 1of 4

PEMASANGAN INFUS.

Secara umum pemasangan infus tidaklah sembarangan dilakukan. Hal ini sudah menjadi
pertimbangan dokter maupun perawat dalam rencana perawatan dan pengobatan yang akan
dilakukan kepada pasien. Dalam pemasangan infus juga jarum sebagai media tusuk agar
menembus kulit tidak tertinggal dalam pembuluh darah/urat, tetapi pipa karet elastis yang
tertinggal.

Ada beberapa pertimbangan dan tujuan dari pemasangan infus :
pertama; menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Pemberian cairan infus juga merupakan
terapi cairan untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh bila pasien bersangkutan tidak dapat
minum cukup sesuai kebutuhan tubuh selama opnama. Beberapa kondisi pasien yang harus
diberikan cairan infus karena bila tidak diberikan pasien tersebut sudah atau berisiko terjadinya
syok sampai menyebabkan kematian.

kedua; sebagai jalur pemberian obat larutan yang efektif dan mempunyai reaksi cepat.
Berdasarkan pengalaman obat larutan yang diberikan sudah dapat dirasakan reaksinya berkisar 1
- 10 menit setelah pemberian dan bertahan sampai 8 jam. Biasanya masing-masing obat larutan
mempunyai masa kerja dan lama yang bervariasi.

ketiga; jalur pemberian makanan dalam bentuk cair (nutrisi parenteral). Pemberian infus
nutrisi/makanan ini diberikan kepada pasien yang memang tidak mau, tidak dapat, tidak boleh
makan selama menginap di rumah sakit. Ketiga kondisi ini menjadi pertimbangan medis dalam
memberikan nutrisi melalui infus.

keempat; jalur pemberian darah transfusi bila membutuhkan. Jalur pemberian darah melalui
infus cukup beralasan karena darah yang di-infus-kan langsung masuk ke pembuluh darah,
mengalami proses dan berguna di dalam tubuh.
Biasanya pemasangan infus ini dilakukan oleh perawat yang sudah belajar ilmu, terampil dan
berpengalaman. Kalau pemasangan infus ini dilakukan oleh perawat atau dokter praktik (sedang
masa pendidikan) maka pemasangan infus harus didampingi oleh instruktur Klinis senior.
Pemasangan infus dilakukan dengan tingkat kebersihan yang tinggi (steril), hati-hati dan penuh
kesabaran.

Biasanya pemasangan infus ini dilakukan oleh perawat yang sudah belajar ilmu, terampil dan
berpengalaman. Kalau pemasangan infus ini dilakukan oleh perawat atau dokter praktik (sedang
masa pendidikan) maka pemasangan infus harus didampingi oleh instruktur Klinis senior.
Pemasangan infus dilakukan dengan tingkat kebersihan yang tinggi (steril), hati-hati dan penuh
kesabaran.

PERAWATAN DAERAH TUSUKAN INFUS.
Setelah infus sudah diasang tidak berhenti sampai di situ. Infus yang sudah dipasang dalam
kondisi terawat dengan baik dapat bertahan lama. Tangan di mana infus terpasang bukan berarti
tangan tersebut tidak boleh melakukan pergerakan apa-apa, hanya secara hati-hati. Peran perawat
dan keluarga sangat diharapkan dalam menjaga daerah tusukan infus agar tetap paten. Misalnya,
tangan yang terpasang infus diharapkan tidak tertimpa saat tidur. Pasien dan keluarga
melaporkan bila daerah tusukan infus terasa sakit, merah, dan panas.
Perawat harus tanggap terhadap segala perubahan kesehatan yang terjadi pada pasien bila terjadi
demam, apakah itu disebabkan oleh plebitis (infeksi pembuluh darah di mana infus terpasang)
atau disebabkan oleh karena proses penyakit yang dideritanya.
Idealnya perawat aktif dalam memantau daerah tusukan infus setiap 2 jam sekali. Melaporkan
dan mencatat pada rekam medis/status pasien kondisi daerah tusukan infus.

PEMBERIAN OBAT LEWAT INFUS.
Pemberian obat larutan lewat jalur infus dengan cara menyuntikan obat melalui karet persis
dekat dengan daerah tusukan infus secara perlahan dan hati-hati. Juga, selain itu ada obat yang
diberikan dengan cara diteteskan seperti halnya cairan infus dengan beberapa pertimbangan
dampak/efeknya yang tidak diinginkan saat diberikan suntikan langsung melalui karet pipa infus.
Obat yang diberikan melalui jalur infus harus dipantau setelah pemberiannya. Misalkan ada yang
mengalami mual dan muntah setelah pemberian, namun biasanya berlangsung dalam beberapa
saat saja. Biasanya efek yang tidak diinginkan adalah efek alergi obat yang berat.
Penggantian botol cairan infus juga dilakukan secara hai-hati melalui tekhnik steril.

PENCABUTAN INFUS
Pencabutan infus dapat dilakukan bila infus tidak lagi dibutuhkan dalam proses pengobatan dan
pemulihan. Infus harus segera dicabut bila terjadi plebitis dan penyumbatan sehingga infus tidak
lancar menetes sampai berhenti menetes. Mungkin juga ada beberapa orang setelah dicabut infus
merasa bebas tidak terkekang lagi.

Dengan mengetahui beberapa konsep teori dan pengalaman di atas dapatlah dikatakan bahwa
bila seorang pasien yang terpasang infus akan dilakukan pengobatan dan perawatan yang khusus
terhadap kondisi penyakitnya. Kondisi yang dimaksud dapat berarti sakit parah atau pemasangan
infus itu dilakukan untuk menjaga segala kemungkinan/risiko yang timbul dari proses
penyakitnya yang dapat terjadi kapan saja, sehingga dokter-perawat dapat melakukan terapi
dengan cepat melalui jalur infus.
Mungkin ada dari kita berpikir saat kita atau sanak keluarga kita diinfus, penyakitnya sudah
berat? Bila terjadi kondisi seperti ini diharapkan pasien dan keluarga menanyakan mengenai
kondisi yang terjadi kepada dokter atau perawat.
Dalam hal ini juga baik dokter dan perawat mengambil waktu menjelaskan mengapa dipasang
infus baik dalam keadaan tidak gawat darurat maupun gawat darurat. Melalui komunikasi yang
baik dan efektif ini masyarakat awam memahami proses pelayanan kesehatan dalam setiap
kondisi kesehatan yang dialaminya.
Belajar memahami infus bagi awam merupakan salah satu pemahaman akan sistem pelayanan
yang diberikan oleh dokter-perawat kepada setiap pasien yang membutuhkan terapi dan
perawatan infus baginya.





JENIS CAIRAN INFUS
1. Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+
lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan
osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke
jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas
tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel
“mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi
diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis
diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam
pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan
intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan
Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair
dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat
pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga
tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan
cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya
adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl
0,9%).
3. Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
“menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi
edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya
Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose
5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.

Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya :
1. Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan
(volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan
berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam
fisiologis.
2. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar
dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya
hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah
albumin dan steroid (www.Cairan Infuse Intravena.htm).











LARUTAN INFUS
1. Larutan infus itu itu bermacam-macam ada yang berisi cairan yang mirip dengan
komposisi cairan tubuh seperti infus ringer laktat (RL), infus cairan dan elektrolit (NaCl),
infus gula (Dektrosa 5%) bahkan ada yang berisi makanan lengkap yang diberikan
misalnya untuk pasien yang tidak dapat memperoleh makanan melalui usus. Dalam
larutan infus juga sering ditambahkan obat-obatan untuk pasien tertentu. Manfaat infus
untuk sumber cairan, elektrolit, makanan dan sebagai sarana pemberian obat intra vena.
Dengan diberikan intra vena (melalui vena) sehingga langsung bisa dimanfaatkan oleh
tubuh dan segera berefek. Karena diberikan secara intravena sehingga larutan infus harus
steril (bebas kuman) dan memerlukan proses pembuatan sediaan steril. Boleh tidak
diminum, jawabnya tentu boleh tetapi .... Kalau itu infus-infus dasar seperti RL mirip
dengan air mineral, NaCl mirip dengan larutan garam dapur dan Dektrosa mirip dengan
sirup gula dengan kadar rendah. Akan mubazir karena kalau diminum kan tidak perlu
sediaan steril Sediaan steril tentu harganya jauh lebih mahal daripada sediaan nonsteril
Kalau infus itu berisi obat mungkin kasiat akan hilang karena dirusak oleh asam lambung
atau tidak diabsorpsi oleh usus sehingga tidak berefek untuk pengobatan. Hargailah
pabrik pembuat infus yang sudah dengan bersusah payah menjaga sterilitas obat, isotonis,
isohidris dan seterusnya kok hanya digunakan untuk pamaikan per oral
2. manfaat air infus :
untuk memulihkan dari kekurangan cairan pada pasien membantu untuk memasukan obat
injesi/suntukan pada pasien yang banyak menggunakan obat suntikan Zat yang
dikandung elektrolit tubuh atau cairan pada tubuh kita karena air infus cairan tubuh boleh
saja diminum kalau anda Dehidrasi dan jelas rasanya tidak enak.
3. infus utk pasien ditujukan langsung diserap darah. jadi efek penyembuhan jauh lebih
cepat dibanding lewat pencernaan yang butuh 4-5 jam utk jadi antibodi seperti cairan
infus. Infus tdk boleh diminum langsung karena kalau lewat pencernaan takutnya malah
ditolak tubuh dan dibuang bersama air seni atau feses (BAB).