You are on page 1of 11

STERILISASI

A. Pengertian
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen
(menimbulkan penyakit) maupun apatogen / non patogen (tidak menimbulkan penyakit),
baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora
(dalam keadaan statis, tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan
pelindung yang kuat).
Tidak semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang terdapat dalam usus yang
dapat membusukkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh. Mikroba yang patogen
misalnya Salmonella typhosa yang menyebabkan penyakit typus, E. Coli yang menyebabkan
penyakit perut.
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang / benda menjadi steril. Sedangkan
sanitasi adalah suatu proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat.

B. Tujuan Suatu Obat Dibuat Steril
Tujuan obat dibuat steril (seperti obat suntik) karena berhubungan langsung dengan darah
atau cairan tubuh dan jaringan tubuh yang lain dimana pertahanan terhadap zat asing tidak
selengkap yang berada di saluran cerna / gastrointestinal, misalnya hati yang dapat berfungsi
untuk menetralisir / menawarkan racun (detoksikasi=detoksifikasi).
Diharapkan dengan steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak
berlaku relatif steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril.
Sediaan farmasi yang perlu disterilkan adalah obat suntik / injeksi, tablet implant, tablet
hipodermik dan sediaan untuk mata seperti tetes mata / Guttae Ophth, cuci mata / Collyrium
dan salep mata / Oculenta.

C. Cara Sterilisasi Menurut Fl.ed.III
1. Cara A (pemanasan secara basah : otoklaf pada suhu 115
o
-116
o
selama 30 menit)
2. Cara B (dengan penambahan bakterisida)
3. Cara C (dengan penyaring bakteri steril)
4. Cara D (pemanasan kering; Oven pada suhu 150o selama satu jam dengan udara panas)
5. Cara Aseptik
Pemilihan cara sterilisasi, harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut :
1. Stabilitas : sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, struktur bahan obat tidak boleh mengalami
perubahan setelah proses sterilisasi.
2. Efektivitas : cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan hasil maksimal dengan proses
yang sederhana, cepat dan biaya murah.
3. Waktu : lamanya penyeterilan ditentukan oleh bentuk zat, jenis zat, sifat zat dan kecepatan
tercapainya suhu penyeterilan yang merata.

1. Sterilisasi dengan pemanasan secara kering
Ciri-ciri pemanasan kering :
1. Yang dipanaskan adalah udara kering
2. Proses pembunuhan mikroba berdasarkan oksidasi O
2
udara
3. Suhu yang digunakan lebih tinggi, kira-kira 150
o
. Satu gram udara pada suhu 100
o
, jika
didinginkan menjadi 99
o
hanya membebaskan 0,237 kalori.
4. Waktu yang diperlukan lebih lama, antara 1 jam sampai 2 jam, kecuali pemijaran.
5. Digunakan untuk sterilisasi bahan obat / alat yang tahan pemanasan tinggi.

Contoh :
a. Sterilisasi panas kering
Menurut Fl.ed. IV
Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus Oven modern yang dilengkapi udara yang
dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat diterima di dalam bejana sterilisasi
kosong adalah lebih kurang 15
o
, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari
250
o
.
Sterelilisasi kosong adalah lebuh kurang 15, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak
kurang dari 250.
Menurut FI. Edisi III cara D
Pemanasan secara kering ; Oven pada suhu 150 selama satu jam dengan udara panas.
Alat:
Oven yaitu lemari pengering dengan dinding ganda, dilengkapi dengan termometer dan
lubang tempat keluar masuknya udara, dipanaskan dari bawah dengan gas atau listrik.
Bahan / alat yang dapat disterilkan dengan cara kering
Alat-alat dari gelas (gelas kimia, gelas ukur, pipet ukur, erlemeyer, botol-botol, corong),
bahan obat yang tahan pemanasan tinggi (minyak lemak, vaselin).

b. Pemijaran
Memakai api gas dengan nyala api tidak berwarna atau api dari lampu spirtus. Cara ini sangat
sederhana, cepat dan menjamin sterilitas bahan / alat yang disterilkan, sayang penggunaannya
hanya terbatas untuk beberapa alat / bahan saja.
Syarat : seluruh permukaan alat harus berhubungan langsung dengan api selama tidak kurang
dari 20 detik.
Yang dapat disterilkan:
Benda-benda logam (pinset, penjepit, krus), gelas / porselin (sudip, batang pengaduk, kaca
arloji, tabung reaksi, mulut wadah, erlementer, botol). Mortir dan stampler disiram dengan
alkohol mutlak kemudian dibakar. Bahan obat (ZnO, NaCl, Talk)

2. Sterilisasi dengan pemanasan secara basah
Ciri-ciri pemanasan basah
1. yang dipanaskan adalah air menjadi uap air.
2. proses pembunuhan mikroba berdasarkan koagulasi / penggumpalan zat putih telur dari
mikroba tersebut.
3. waktu yang diperlukan lebih singkat, kira-kira 30 menit.
4. suhu yang diperlukan lebih rendah, maksimal 116 (dalam otoklaf). Satu gram uap air 100
jika mengembun menjadi 100 membebaskan 536 kalori.
5. digunakan pada sediaan injeksi dengan pembawa berair.

Contoh:
a. Sterilisasi uap
Menurut Fl.ed.. IV
Adalah proses sterilisasi thermal yang menggunakan uap jenuh dibawah tekanan selama 15
menit pada suhu 121
o
. Kecuali dinyatakan lain, berlangsung di suatu bejana yang disebut
otoklaf, dan mungkin merupakan uap air beserta krannya, termometer, pengatur tekanan
udara, klep pengaman.

Cara bekerja :
1. Tuangkan air suling secukupnya ke dalam tubuh sterilisator.
2. Taruhlah bahan-bahan yang akan disterilkan di dalam sterilisator
3. Tutup sterilisator, kencangkan setiap dua mur yang letaknya berlawanan secara serentak.
4. Bukalah pengatur klep pengaman. Pasanglah pamanasnya.
5. Bila uap air mulai keluar dengan deras, tutuplah klep pengaman dengan cara mendorong
pengaturnya ke bawah sehingga posisinya mendatar, tekanan di dalam sterilisator akan naik
dan dapat dibaca pada alat pengukur tekanan.
6. Sterilkan bahan-bahan dengna cara mempertahankan tekanan 1 atm selama waktu yang
ditentukan.
7. Pada akhir proses, matikan pemanasan dan tunggulah sampai tekanan kembali nol.
8. Bila alat pengukur tekanan telah menunjukkan angka nol dan suhu telah turun sampai jauh di
bawah 100
o
C, bukalah pengatur klep pengaman dengan cara meluruskannya untuk
mengeluarkan sisa uap yang tertinggal di dalam. Kendurkan mur, lepaskan baut-bautnya,
putar tutupnya dan angkat.
9. Setelah selesai menggunakan sterilisator, buanglah air yang tersisa di dalamnya dan
keringkan baik-baik semua bagiannya.

b. Direbus dalam air mendidih
Lama penyeterilan dihitung sejak air mulai mendidih. Spora tidak dapat mati dengan cara ini.
Penambahan bakterisida (fenol 5 %, lisol 2-3 %) dapat mempersingkat waktu penyeterilan.
Beberapa alat kedokteran dapat disterilkan dengan cara ini.

c. Tyndalisasi / Pasteurisasi
Digunakan pada bahan obat yang tidak tahan pemanasan tinggi dan tidak dapat disaring
dengan penyaring bakteri (emulsi, suspensi)

Caranya :
- Panaskan pada suhu 70
o
-80
o
selama 40-60 menit, untuk mematikan mikroba bentuk
vegetatifnya
- Diamkan pada suhu 30
o
selama 24 jam, untuk membiarkan mikroba bentuk spora berubah
menjadi bentuk vegetatif.
- Ulangi pemanasan selama 3-5 hari berturut-turut.

d. Dengan uap air pada shu 100
o

Alat : Semacam dandang. Alat yang akan disterilkan harus dimasukkan setelah mendidih dan
kelihatan uapnya keluar.
Keuntungan : uap air yang mempunyai daya bakterisida lebih besar jika dibanding dengan
pemanasan kering karena mudah menembus dinding sel mikroba dan akan menggumpalkan
zat putih telurnya.

3. Sterilisasi dengan penambahan zat-zat tertentu

Zat-zat yang ditambahkan dapat berfungsi sebagai :
1. Penyuci hama (desinfektan) :
Suatu zat anti mikroba yang digunakan untuk berbagai peralatan kedokteran / instrumen /
barang / benda dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi pada manusia, dapat
mematikan mikroba patogen, jadi mencegah infeksi (germisida), mematikan bakteri
(bakterisida), mematikan fungi / cendawan / jamur (fungisida).
2. Antiseptika :
Suatu zat anti mikroba yang biasa digunakan secara topikal / lokal pada tubuh manusia; dapat
mencegah pembiakan bakteri.
Bakteriostatika : mencegah pertumbuhan fungi / cendawan / jamur
Zat pengawet : mencegah pertumbuhan bakteri dan cendawan dalam makanan atau minuman.
3. Antibiotik :
Segolongan zat yang dihasilkan oleh cendawan atau bakteri yang dapat menentang /
mematikan cendawan atau bakteri lain.

Contoh :
1. Untuk bahan obat,
Sterilisasi dapat dilakukan dengan penambahan bakterisida, Fl.ed.III (cara B).
Sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam larutan
klorokresol P 0,2 % b/v dalam air untuk injeksi, atau dalam larutan bakterisida yang cocok
dalam air untuk injeksi.
Isikan ke dalam wadah, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih
dari 30 ml, panaskan pada suhu 98
o
sampai 100
o
selama 30 menit. Jika volume dalam tiap
wadah lebih dari 30 ml, waktu sterilisasi diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada
pada suhu 98
o
sampai 100
o
selama 30 menit. Cara ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi
injeksi dosis tunggal secara intravena, injeksi intratekal / intrasisternal / peridural.
2. Untuk alat-alat
Sterilisasi dapat dilakukan menggunakan zat-zat : alkohol-alkohol, kresol, fenol,
formaldehida, garam raksa organik / anorganik, amonium kwartener.
Caranya :
Alat yang disterilkan direndam dalam larutan bakterisida, untuk logam tambahkan zat yang
dapat mencegah perkaratan (Natrium nitrat, Natrium borat). Didihkan selama 20 menit
bersama dengan Natrium karbonat 1-2 % sefirol 1 % fenol 5 %, lisol 2 %.
3. Untuk ruangan
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :
Disemprot dengan larutan bakterisida kemudian didiamkan beberapa waktu. Udara diisap dan
diganti dengan udara yang sudah steril (dilewatkan melalui penyaring udara).
Zat yang digunakan :
- uap formaldehida
- Campuran 1 bagian etilen oksida dan 9 bagian gas karbondioksida (CO
2
) , dapat dipanaskan
hingga suhu 60
o
. Jika hanya etilen oksida saja dengan udara akan mudah terbakar atau
meledak.

4. Sterilisasi dengan cara penyinaran

a. Menurut Fl.ed.IV Sterilisasi dengan radiasi ion
Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi
gamma) dan radiasi berkas elektron. Pada kedua jenis ini, dosis yang menghasilkan derajat
jaminan sterilitas yang diperlukan harus ditetapkan sedemikian rupa hingga dalam rentang
satuan dosis minimum dan maksimum, sifat bahan yang disterilkan dapat diterima.
Walaupun berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 megarad (Mrad) radiasi yang diserap,
tetapi dalam beberapa hal, diinginkan dan dapat diterima penggunaan dosis yang lebih rendah
untuk peralatan, bahan obat dan bentuk sediaan akhir.
Untuk mengukur serapan radiasi dapat menggunakan alat Dosimeter kimia.
Cara ini dilakukan jika bahan yang disterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan
khawatir tentang keamanan etilen oksida. Keunggulan sterilisasi ini adalah raktivitas kimia
rendah, residu rendah yang dapat diukur serta variabel yang dikendalikan lebih sedikit.

b. Dengan sinar ultra violet (u.v)
Pada gelombang 200-2600 Ao dapat membunuh mikroba patogen, spora, virus, jamur, ragi,
bekerja efektif jika langsung menyinari bahan yang disterilkan. Digunakan untuk
mensterilkan ruangan; udara, obat suntik. Pekerja perlu dilindungi dari sinar u.v karena dapat
mempengaruhi kulit dan mata. Perlu kaca mata pelindung.

c. Dengan sinar gamma
Digunakan isotop radio aktif, misalnya cobalt 60

d. Dengan sinar X dan sinar Katoda
Sinar X dan elektron-elektron dengan intensitas tinggi mempunyai sifat dapat mematikan
mikroba.
Yang disterilkan : Penisilin-Na, Stereptomycin sulfat, Hidrolisat protein, Hormon pituitarium

5. Sterilisasi dengan penyaring bakteri steril
Menurut Fl edisi IV.
Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan
menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandungnya
dapat dipisahkan secara fisika.
Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau
dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable.
Efektivitas penyaring media atau penyaring subtrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya
adsorpsi bakteri dari matriks dan mekanisme pengayakan.
Penyaring yang melepas serat, terutama yang mengandung asbes harus dihindari
penggunaannya kecuali tidak ada penyaringan alternatif lain yang mungkin bisa digunakan.
Ukuran porositas minimal membran matriks tersebut berkisar 0,2-0,45 m tergantung pada
bakteri apa yang hendak disaring.
Penyaring yang tersedia saat ini adalah selulosa asetat, selulosa nitrat, flourokarbonat,
polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil nilon, potef dan juga membran
logam.

Menurut Fl edisi III. (Cara C)
Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah steril, kemudian
ditutup kedap menurut teknik aseptik.
Keuntungan cara ini :
1. Digunakan untuk bahan obat yang tidak tahan pemanasan tetapi larut dalam air.
2. Dapat dilakukan dengan cepat, terutama untuk pembuatan kecil-kecilan.
3. Semua mikroba hidup atau mati dapat disaring dari larutan, virus jumlahnya dikurangi
4. Penyaring dapat bersifat adsorpsi, sebagian besar virus dapat diadsorpsi.
Kerugian cara ini :
1. Masih diperlukan zat bakterisida
2. Hanya dapat digunakan untuk pembawa berair, tidak dapat digunakan untuk pembawa
minyak
3. Beberapa jenis penyaring dapat mengadsorpsi bahan obat, terutama kalau kadarnya kecil.
4. Beberapa penyaring sukar dicuci : porselin, Keiselguhr
5. Beberapa penyaring bersifat alkalis (Seitz filter) dan penyaring dari asbes melepaskan asbes
ke dalam larutan.
6. Filtrat yang diperoleh belum bebas dari virus.

Cara-cara menyaring :
Ada 2 cara untuk menyaring, yaitu :
1. Dengan tekanan positip : larutan dalam penyaring ditekan dengan tekanan yang lebih besar
dari udara luar.
2. Dengan tekanan negatip : larutan dalam penyaring diisap (penampung divakumkan).
Udara yang dipakai untuk itu harus udara bersih, biasanya digunakan gas nitrogen (N
2
) yang
dialirkan melalui kapas berlemak dalam tabung gelas atau platina yang dipanaskan.

Pembersihan penyaring bakteri :
1. Dengan menyedot air bersih berlawanan dengan cara penyaringan atau larutan HCl panas
lalu dibilas
2. Memasak dalam larutan Na-karbonat 2 % lalu dibilas (protein akan hancur karena pH 8,5)
3. Penyaring bakteri disterilkan dengan cara pemanasan kering, pemijaran, otoklaf atau secara
kimiawi.

6. Sterilisasi dengan gas
Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang dinetralkan dengan gas inert, tetapi
keburukan gas etilen oksida ini adalah sangat mudah terbakar, bersifat mutagenik,
kemungkinan meninggalkan residu toksik di dalam bahan yang disterilkan, terutama yang
mengandung ion klorida.
Pemilihan untuk menggunakan sterilisasi gas ini sebagai alternatif dari sterilisasi termal, jika
bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada sterilisasi uap atau panas
kering.
Proses sterilisasinya berlangsung di dalam bejana bertekanan yang didesain seperti pada
otoklaf dengan modifikasi tertentu. Salah satu keterbatasan utama dari proses sterilisasi
dengan gas etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan gas tersebut untuk berdifusi sampai
ke daerah yang paling dalam dari produk yang disterilkan.

7. Sterilisasi dengan cara aseptik
Teknik Aseptis adalah teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadi cemaran /
kontaminasi dengan mikroba hingga seminimal mungkin dari bahan yang sudah steril.
Digunakan untuk bahan obat yang tidak dapat disterilkan dengan cara pemanasan atau
dengan cara penyaringan.
Proses ini untuk mencegah masuknya mikroba hidup ke dalam komponen steril atau
komponen yang melewati proses antara yang mengakibatkan produk setengah jadi atau
produk ruahan atau komponennya bebas dari mikroba hidup.
Caranya :
Bahan obat : memenuhi syarat p.i, tidak disterilkan
Zat pembawa : disterilkan tersendiri dahulu
Zat pembantu : disterilkan tersendiri
Alat-alat : disterilkan dengan cara yang cocok
Ruang kerja : bersih, bebas debu, dan bebas angin, disterilkan dengan
sinar u.v atau cara lain yang sesuai
Bahan obat, zat pembawa, zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga
terbentuk obat / larutan injeksi dan dimasukkan ke dalam wadah secara aseptik.

SEDIAAN STERIL
Untuk sediaan luar mata, hidung, telinga
Ex. Collyrium, Optraex, HgCl
2
disaring, ditambah 10 %
Etiket mencantumkan masa penggunaan setelah tutup dibuka
Sediaan untuk mata dengan penambahan pengawet : setelah dibuka 7 hari
Tanpa penambahan pengawet : setelah dibuka 1 hari
- jumlah kecil dilebihkan 20 %
- jumlah besar dilebihkan
Pengerjaan dengan teknis aseptik
Sediaan isotonis : NaCl 0,9 % b/v
Mata masih bisa menahan 0, 6 2,0 % b/v
Air mata normal memiliki pH 7,4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air
mata, tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut / rusak / mengendap) pada
pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata didapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air
mata supaya tidak terlalu merangsang mata.
Pada larutan yang digunakan pada mata, terlebih pada mata yang luka, sterilitas merupakan
hal yang paling penting, untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut.
c. Pengawet
Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada
pemakaian pertama. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk
mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah
dibuka pada saat digunakan.
Pengawet yan dianjurkan :
- nipagin dan nipasol
- fenil merkuri nitrat, timerosol
- benzalkonium klorid
- klorbutanol, fenil etil alkohol
Untuk penggunaan pada pembedahan, selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung
antibakteri (bakterisid) karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata.

d. Pengental
Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan
jaringan. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat.
Contoh : metil selulosa, hidroksi propil selulosa, polivinil alcohol.

Cara pembuatan obat tetes mata
a. Obat dilarutkan kedalam salah satu zat pembawa yang mengandung salah satu zat pengawet,
dijernihkan dengan cara penyaringan, masukkan kedalam wadah, tutup wadah dan sterilkan
menggunakan autoklaf pada suhu 115-116
o
C selama 30 menit.
b. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet
dan disterilkan menggunakan bakteri filter masukkan kedalam wadah secara tehnik aseptis
dan tutup rapat.
c. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandugn salah satu zat pengawet,
dijernihkan dengan cara penyaringan, masukkan kedalam wadah, tutup rapat dan sterilkan
dengan penambahan bakterisid, dipanaskan pada suhu 98-100
o
C selama 30 menit.

3. Oculentum (Unguenta Opthalmica / Salep Mata)
Salep mata adalah salep steril yang digunakan pada mata.
Pada pembuatannya bahan obat ditambahkan sebagai larutan steril atau serbuk steril
termikronisasi pada dasar salep steril, hasil akhir dimasukkan secara aseptik ke dalam tube
steril. Bahan obat dan dasar salep disterilkan dengan cara yang cocok. Tube disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 115
o
-116
o
C, selama tidak kurang dari 30 menit.
Sebagai dasar salep sering digunakan dasar salep Oculentum simplex.
Basis salep mata yang lain adalah campuran Carbowax 400 dan Carbowax 4000 sama
banyak.

Persyaratan salep mata :
1. Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah
pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila
wadah dibuka pada waktu penggunaan.
2. Bahan obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep berbentuk larutan atau serbuk halus
3. Harus bebas dari partikel kasar dan memenuhi syarat kebocoran dan partikel logam pada uji
salep mata.
4. Wadah harus steril, baik pada waktu pengisian maupun penutupan dan wadah harus tertutup
rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.
Penyimpanan salep mata adalah dalam tube steril dan ditempat sejuk, dan pada etiket harus
tertera Salep mata.
Oculentum Simplex
R/ Cetyl alkohol 2,5
Adeps lanae 6
Vaselini 51,5
Paraffin liq 100
Area pabrik dibagi menjadi 4 zona dimana masing-masing zona memiliki spesifikasi
tertentu. Empat zona tersebut meliputi :
a. Unclassified Area
Area ini merupakan area yang tidak dikendalikan (Unclassified area) tetapi untuk
kepentingan tertentu ada beberapa parameter yang dipantau. Termasuk didalamnya adalah
laboratorium kimia (suhu terkontrol), gudang (suhu terkontrol untuk cold storage dan cool
room), kantor, kantin, ruang ganti dan ruang teknik.
b. Black area
Area ini disebut juga area kelas E. Ruangan ataupun area yang termasuk dalam kelas
ini adalah koridor yang menghubungkan ruang ganti dengan area produksi, area staging
bahan kemas dan ruang kemas sekunder. Setiap karyawan wajib mengenakan sepatu dan
pakaian black area (dengan penutup kepala)
c. Grey area
Area ini disebut juga area kelas D. Ruangan ataupun area yang masuk dalam kelas ini
adalah ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan primer, ruang timbang,
laboratorium mikrobiologi (ruang preparasi, ruang uji potensi dan inkubasi), ruang sampling
di gudang. Setiap karyawan yang masuk ke area ini wajib mengenakan gowning (pakaian
dan sepatu grey). Antara black area dan grey area dibatasi ruang ganti pakaian grey dan
airlock.
d. White area
Area ini disebut juga area kelas C, B dan A (dibawah LAF). Ruangan yang masuk
dalam area ini adalah ruangan yang digunakan untuk penimbangan bahan baku produksi
steril, ruang mixing untuk produksi steril , background ruang filling , laboratorium
mikrobiologi (ruang uji sterilitas). Setiap karyawan yang akan memasuki area ini wajib
mengenakan pakaian antistatik (pakaian dan sepatu yang tidak melepas partikel). Antara grey
area dan white area dipisahkan oleh ruang ganti pakaian white dan airlock.
Airlock berfungsi sebagai ruang penyangga antara 2 ruang dengan kelas kebersihan
yang berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari ruangan dengan kelas kebersihan
lebih rendah ke ruang dengan kelas kebersihan lebih tinggi. Berdasarkan CPOB, ruang
diklasifikasikan menjadi kelas A, B, C, D dan E, dimana setiap kelas memiliki persyaratan
jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban udara dan air change rate.

Pembagian Area dalam CPOB,DIBAGI 4 Area :
1.Daerah Kelas 1
Merupakan Steril Area,mis : Ruangan dibawah LAF(Laminar Air Flow)
2.Daerah Kelas 2
Merupakan White Area,mis : Ruang Proses Sediaan Steril dan Ruang pengisian sediaan steril
3.Daerah Kelas 3 Merupakan Grey Area,mis : Ruang timbang bahan baku,ruang sempling,ruang
pengemasan primer
4.Daerah Kelas 4 Merupakan Black Area,mis : kantor,koridor,laboratorium,gudang,ruang
pengemasan skunder,ruang pembersihan wadah,loker.
Bahan baku adalah semua bahan, baik yang berkhasiat (zat aktif) maupun
tidak berkhasiat (zat nonaktif / eksipien), yang berubah maupun tidak
berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak tidak
semua bahan tersebut masih terdapat didalam produk ruahan (Siregar,
2010). Menurut Dirjen POM (2006), bahan (zat) aktif adalah tiap bahan
atau campuran bahanyang akan digunakan dalam pembuatan sediaan
farmasi dan apabila digunakan dalam pembuatan obat menjadi zat aktif
obat tersebut. Dalam arti lain, bahan (zat) aktif adalah bahan yang
ditujukan untuk menciptakan khasiat farmakologi atau efek langsung lain
dalam diagnosis, penyembuhan, peredaan, pengobatan atau pencegahan
penyakit, atau untuk memengaruhi struktur dan fungsi tubuh.Zat aktif
senyawa kimia murni tunggal jarang diberikan langsung sebagai sediaan
obat. Akan tetapi, sediaan obat yang diformulasikan hampir selalu
diberikan. Sediaan obat ini dapat beragam dari larutan yang relatif
sederhana sampai ke sistem penghantaran sediaan obat yang rumit, dengan
menggunakan zat tambahan atau eksipien dalam formulasi untuk
memberikan fungsi farmasetik yang berbedabeda sesuai dengan tujuan
yang dimaksud (Siregar, 2010).Desain dan formulasi suatu bentuk sediaan
yang tepat mensyaratkan pertimbangan karakteristik fisika, kimia, dan
biologi semua zat aktif dan eksipien yang digunakan dalam pembuatan
suatu produk.