You are on page 1of 3

Written on 04/02/2014 AT 12:05 PM by KESMAS

Public Health Home Surveilans Demam Berdarah


Surveilans Demam Berdarah
Filed under PUBLIC HEALTH{NO COMMENTS}
Tinjauan Aspek Lingkungan pada Vektor Demam Berdarah Dengue (DHF)
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti. Tanda-tanda umum demam berdarah antara lain diitandai demam yang bersifat
bifasik selama 2-7 hari dan adanya manifestasi pendarahan. Haemorraghic Fever atau demam
berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah serius kita. Penyakit ini
masih sering menimbulkan KLB, juga kematian.
Demam Berdarah Dengue disebabkan virus yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus
(Arbovirosis) dalam genus Flavivirus. Secara epidemiologi terdapat tiga faktor yang memegang
peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus
dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Selain Eedes aegypti, keberadaan nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dapat
berperan sebagi vector. Pada Aedes dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang ada di kelenjar liur
berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat
ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya.
Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovarian
transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat
masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat
menularkan virus selama hidupnya (infektif).
Di dalam tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic incubation
period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat
terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum
panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
Manusia merupakan pembawa utama virus dengue. Berdasarkan beberapa penelitian,
perbaikan transportasi yang disertai perpindahan orang dan barang yang cepat dari daerah
dengue ke daerah nondengue atau sebaliknya. Kepadatan penduduk dapat mempermudah
transmisi virus dengue karena sifat multiple-bitting dari virus
Aspek Lingkungan Pada Penyebaran Vektor DBD

Sebagian Habitat Aedes Aegipty
Aspek Cuaca dan Iklim
Pola berjangkit infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada
suhu yang panas (28-320C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap
bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama.
Ditengarai, aenyebaran Aedes aegypti di pedesaan akhir-akhir ini sangat terkait dengan
pengembangan sistem penyediaan air bersih pedesaan dan sistem transportasi yang lebih
baik.
Selain itu curah curah hujan lebih dari 200 cm per tahun, menjadikan populasi Aedes aegypti
di perkotaan, semi perkotaan dan pedesaan lebih stabil. Menurut data WHO (2003),
urbanisasi cenderung meningkatkan jumlah habitat yang cocok untuk Aedes agypti. Di
beberapa kota yang banyak pepohonan, Aedes aegypti dan Aedes albopictus hidup
bersamaan, namun pada umumnya Aedes aegypti lebih dominan, tergantung pada keberadaan
dan jenis habitat jentik serta tingkat urbanisasi
Curah hujan dapat menambah jumlah tempat breading places atau dapat pula menghilangkan
tempat perindukan. Curah hujan dapat juga berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban nisbi
udara. Curah hujan 140 mm/minggu dapat menghambat berkembangbiaknya nyamuk. Curah
hujan tinggi juga dimungkinkan menyebabkan hilangnya tempat perindukan vektor karena
terbawa aliran air.
Berdasarkan aspek suhu, walaupun nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, namun
kemampuan proses metabolism nyamuk menurun atau bahkan terhenti bila suhu udara turun
sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu diatas 35C berdampak pada proses fisiologis
nyamuk. Sedangkan suhu optimum rata-rata pertumbuhan nyamuk antara 25C 27C.
Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali pada suhu kurang dari 10C atau lebih dari
40C. Sementara untuk proses pertumbuhan jentik memerlukan suhu antara 25C 30C.
Sementara berdasarkan aspek kelembaban udara, merupakan faktor penting dalam
pertumbuhan nyamuk. Kelembaban optimal yang diperlukan untuk pertumbuhan nyamuk
antara 60% sampai 80%. Jika keadaan suhu udara dan kelembaban yang optimal, umur
nyamuk dapat mencapai satu bulan (umur nyamuk Aedes aegypti betina rata-rata 10 hari).
Fakroe kelembapan secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap umur nyamuk.
Misalnya pada kelembaban tinggi menyebabkan nyamuk cepat payah sehingga dapat
menyebabkan kematian. Sedangkan pada kelembaban kurang dari 60% umur nyamuk akan
menjadi pendek.
Asepek Ketinggian
Menurut WHO (2003), berdasarkan penelitian, aspek ketinggian merupakan faktor penting
yang membatasi penyabaran Aedes aegypti. Misalnya pada dataran rendah (kurang dari 500
meter) tingkat populasi nyamuk dari sedang hingga tinggi, sementara di daerah pegunungan
(lebih dari 500 meter) populasinya rendah. Di negara-negara Asia Tenggara ketinggian 1000
sampai 1500 meter merupakan batas penyebaran Ae.aegypti. Dibelahan dunia lain, nyamuk
tersebut di temukan di daerah yang lebih tinggi seperti di temukan pada ketinggian 2200
meter di Kolumbia
Aspek Kecepatan Angin
Kecepatan angin cecara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kelembaban dan suhu
udara. Juga dapat berpengaruh pada jarak terbang nyamuk. Sebagaimana diketahui, jarak
terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter, dengan jarak terbang maksimal 100 meter. Namun
jarang terbang secara pasiv dapat lebih jauh sehingga berpengaruh pada proses penyebaran
DBD secara kewilayahan.
Aspek Lingkungan Biologi
Menurut Depkes RI (1992), banyak lingkungan biologik yang mendukung terjadinya tempat
perindukan dan perkembangbiakan vektor DBD, misalnya pot tanaman bias, tempat minum
hewan piaraan, perangkap semut dan sebagainya termasuk barang-barang bekas yang
potensial sebagai tempat tergenangnya air. Selain itu dengan banyaknya tanaman hias dan
pekarangan di sekitar rumah juga akan mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan yang
memungkinkan sebagai tempat untuk istirahat nyamuk Aedes aegypti.
Referensi, antara lain: Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue,
WHO & Depkes RI. (2003