0

Undang – Undang
Perdagangan Dari
Kolonialisme ke
Neo Kolonialisme




Maret 2014

1

















































Undang-Undang
Perdagangan
Dari Kolonialisme ke
Neo Kolonialisme


Policy Paper
Maret 2004



Writing Panel :
Gunawan





IHCS
Indonesian Human Rights
Committee
for Social Justice

Jl. Pancoran Barat II No. 38A
Pancoran Jakarta Selatan 12780

Tel : 021 32592007
Fax : 021 791 92 092
Email : ihcs@ihcs.or.id
Web : www.ihcs.or.id








2


I. Pendahuluan

Indonesia akhirnya memiliki Undang-Undang tentang Perdagangan secara menyeluruh.
Selama ini produk hukum yang setara undang-undang di bidang perdagangan adalah
hukum kolonial Belanda Bedrijfsreglementerings Ordonnantie 1934 yang lebih banyak
mengatur peizinan usaha. Draf RUU Perdagangan yang disetujui DPR melalui sidang
paripuna, Selasa (11/2/2014), mengamanatkan beberapa PP, Perpres, dan Permen.
1


Namun meskipun sebelumnya belum memiliki undang-undang tentang perdagangan,
peraturan perundangan terkait perdagangan sudah banyak, baik akibat perjanjian di
WTO (World Trade Organization) maupun yang di atur di beberapa undang-undang.


Tabel
Peraturan Perundang-Undangan yang Memiliki Aturan-Aturan Perdagangan

Undang-Undang Aturan Perdagangan Keterangan
UU No.3/1982
WDP-TDP
 UU ini menetapkan kewajiban bagi
setiap perusahaan untuk
mendaftarkan usahanya
 Menteri di bidang perdagangan
memiliki kewenangan untuk mengatur
penyelenggaraan wajib daftar
Perusahaan

UU No.5/1983
Zona Ekonomi Eksklusif
 Zona Ekonomi eksklusif Indonesia
adalah jalur diluar dan berbatasan
dengan laut wilayah Indonesia
berdasarkan Undang-Undang tentang
Perairan Indonesia meliputi dasar
laut,tanah di bawahnya dan air
diatasnya dengan batas terluar
200(duaratus)Mil Laut Diukur dari
garis Pangkal Laut wilayah Indonesia

UU No.5/1984
Perindustrian
 Perlunya Upaya perlindungan yang
wajar bagi industry dalam negri dalam
menghadapi beberapa hal,termasuk
perdagangan luar negri yang
bertentangan dengan kepentingan
Nasional pada umumnya serta
perkembangan Industri dalam negri
pada khususnya

UU No.45/2009
Perikanan
 Ekspor-Impor Ikan Harus Dilengkapi
sertifikat kesehatan (diatur PP)


1
Mengintip Aturan Pelaksana UU Perdagangan, Ada beberapa hal yang akan diatur melalui PP, Perpres, dan
Permen, http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52fa4c4d0cfe8/mengintip-aturan-pelaksana-
uu-perdagangan
3


 pemerintah dapat membatasi ekspor
bahan baku industry pengolahan ikan
(diatur PP)
 impor kapal perikanan harus disetujui
mentri.
UU No.14/2001
Paten
 Impor atas hasil Produksi yang diberi
paten dilakukan oleh orang selain
pemegang paten tidak merupakan
pelanggaran atas paten yang
bersangkutan
 pemakaian penemuan untuk penjualan
dan penyewaan yang terjadi sebelum
paten diberikan bukan merupakan
pelanggaran
Ada kaitan nya dengan
UU No 7 tahun 1994
tentang Pengesahan
WTO
UU No.1/1987
KADIN
 penyebarluasan informasi mengenai
kebijaksanaan pemerintah di bidang
ekonomi kepada Pengusaha Indonesia
 penyaluran aspirasi dan kepentingan
para pengusaha di bidang
perdagangan,perindustrian,dan jasa
dalam rangka keikutsertaanya dalam
pembangunan di bidang ekonomi
 penyelenggaraan promosi dalam dan
luar negri,analisis statistic,dan pust
informasi usaha

UU No.5/1992
Cagar Budaya
 Larangan ekspor benda cagar
budaya(diatur PP)

UU No.15/2001
Merek
 Merek sebagai pembeda(identitas)bagi
barang dan jasa yang diperdagangkan
 Merek yang tidak terdaftar
mengandung resiko bahwa barang
tersebut bertentangan dengan
kesusilaan dan ketertiban umum
 Merek yang terdaftar akan mendapat
perlindungan hukum
Ada kaitan dengan UU
No 7 Tahun 1994
UU No.36/2009
Kesehatan
 Setiap Makanan dan minuman yang
dikemas wajib diberi tanda atau label
yang berisi : setiap bahan yang
dipakai,komposisi
bahan,tanggal,bulan,tahun
kadaluawarsa
 makanan dan minuman yang tidak
memenuhi ketentuan standard an atau
persyaratan kesehatan dan atau
membahayakan kesehatan dilarang
untuk diedarkan,ditarik dari

4


peredaran,dan disita untuk
dimusnahkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
 Sediaan farmasi dan alat kesehatan
hanya dapat diedarkan setelah
mendapat ijin edar
UU No.8/1995
Pasar Modal
 Pasar Modal adalah kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan
efek,perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkannya,serta
lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan efek
 Pembinaan,pengaturan, dan
pengawasan sehari-hari kegiatan pasar
modal dilakukan oleh Badan
pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
 Bapepam berada dibawah dan
bertanggung jawab kepada menteri

UU No.20/2008
UMKM
(Usaha Mikro, Kecil
Menengah)
 Untuk kepentingan penumbuhan
iklim Usaha,Pemerintah dan
pemerintah daerah menetapkan
kebijakan
 Kesempatan berusaha yang salah
satunya melalui penetapan alokasi
waktu berusaha untuk usaha Mikro
dan Kecil di sub sector perdagangan
retail
 Promosi dagang melalui fasilitasi Haki
bagi usaha di dalam negri maupun
ekspor
 Pemberdayaan usaha menengah dalam
pembiayaan dan penjaminan melalui
pengembanganlembaga penjamin
kredit,dan meningkatkan lembaga
penjamin ekspor.
Retail=pedagang eceran
UU.No10/1995
Perubahan No.17/2006
Kepabeanan
 Terhadap barang yang di impor atau
diekspor berlaku segala ketentuan
sebagaimana diatur dalam UU
 Bea masuk pembalasan diatur PP
 bea masuk antidumping diatur dg PP
 bea masuk pembalasan dikenakan
terhadap barang impor yang berasal
dari negara yang memperlakukan
barang ekspor Indonesia secara
Diskriminatif diatur dengan PP

5


UU No.7/1996
Pangan
 Ekspor-impor pangan sudah diatur
dengan PP

UU No.5/1997
Psikotropika
 ekspor-impor psikotropika harus
seizin Menkes

UU No.32/1997
Perdagangan Berjangka
komoditi
 Undang-undang ini mengatur
penyelenggaraan perdagangan
komoditi untuk penyerahan kemudian
berdasarkan kontrak berjangka dan
opsi atas kontrak berjangka.

UU No.5/1999
Larangan Praktek
Monopoli
 Undang-undang ini intinya melarang
berbagai upaya pemusatan kekuatan
ekonomi oleh pelaku usaha sehingga
mereka bisa berkolusi menetapkan
harga di pasar,menetapkan jumlah
barang yang dijual dipasar,melakukan
diferensiasi harga,dan atau menjual
dengan harga yang sedemikian rendah
sehingga mematikan bisnis pelaku
usaha lainya(predatory pricing)

UU No.8/1999-
Perlindungan Konsumen
 Importir barang bertanggung jawab
sebagai pembuat barang yang diimpor
apabila importasi barang tersebut
dilakukan oleh agen atau perwakilan
produsen luar negeri

UU No.37/1999
Hubungan Luar Negeri
 Pendirian badan promosi
perdagangan di luar negeri hanya
dapat dilakukan setelah mendapat
pertimbangan tertulis dari Menlu

UU No. 24/2000
Perjanjian Internasional
 Lembaga negara dan lembaga
pemerintah, yang mempunyai rencana
untuk membuat perjanjian
internasional, harus berkonsultasi dan
berkoordinasi dengan Menlu

UU
No.29/2000Perlindungan
Varietas Tanaman
 Ekspor-impor varietas tanaman yang
dilindungi harus seizin Kantor
Perlindungan Varietas Tanaman
Kementrian Pertanian
Ada kaitannya dengan
UU no 7 tahun 1994
mengenai pengakuan
terhadap WTO
UU No. 36/2000 direvisi
menjadi UU No. 44/207-
Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan
Bebas
 Kawasan Perdagangan bebas dan
pelabuhan bebas merupakan salah
satu bentuk kawasan ekonomi khusus
untuk mengatasi dampak negative
globalisasi ekonomi
 Pemasukan dan pengeluaran barang
ke dan dari Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas ke
Daerah Pabean diberlakukan tata

6


laksana kepabeanan di bidang impor
dan ekspor dan ketentuan di bidang
cukai
 Di dalam Kawasan Perdagangan
Bebas, semua transaksi perdagangan
internasional dilakukan dalam valuta
asing oleh bank yang mendapat izin
sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
UU No.22/2000
Migas
 kegiatan usaha niaga migas (termasuk
ekspor-impor) harus seizin
pemerintah (diatur dengan PP)
 Kontrak kerjasama migas ada
kewajiban pasok kebutuhan dalam
negeri (diatur dengan PP)

UU No.9/2006 Sistem
Resi Gudang
 Aturan perundangan ini mengatur
tentang mekanisme pemanfaatan dan
kekuatan hukum yang dimiliki buku
penyimpanan barang di gudang (resi
gudang) sebagai alat transaksi dan
agunan pada lembaga keuangan

UU No. 25/2007
Penanaman Modal
 Penanaman Modal asing merupakan
bentuk perdagangan jasa mode 3
(commercial presence)
 Berdasarkan UU ini Penanaman
Modal Asing wajib dalam bentuk PT
berdasarkan hukum Indonesia dan
berkedudukan di dalam wilayah
negara Republik Indonesia
 UU ini juga menyatakan adanya
bidang usaha yang terbuka, tertutup
dan terbuka dengan persyaratan
khusus bagi kegiatan penanaman
modal, yang diatur lebih lanjut dalam
Perpres

UU No.30/2007 Energi
 Terkait dengan perdagangan, Undang-
undang ini mengatur bahwa
penetapan harga energi didasarkan
pada nilai ke ekonomian dan
berkeadilan. Unyuk menjamin agar
harga yang ditetapkan berkeadilan
maka pemerintah dan pemerintah
daerah menyediakan dana untuk
mensubsidi harga energy bagi
kelompok masyarakat berpendapatan
rendah

7


UU No.39/2007 Cukai
 Undang-Undang Cukai mengatur jenis
barang perdagangan yang dikenakan
cukai, besarnya tarif cukai untuk baik
untuk barang impor dan local serta
pengecualian-pengecualiannya.

UU No.44/2007 PT
 UU mengenai PT merupakan dasar
hukum bagi pelaku usaha untuk
membentuk badan hukum dalam
menjalankan kegiatan usahanya

UU No.9/2008
Penggunaan Bahan
Kimia
 ekspor – impor bahan kimia harus
seizin pemerintah (diatur dengan PP)

UU No.11/2008
Informasi dan Transaksi
Elektronik
 Pemanfaatan Teknologi Informasi
berperan penting penting dalam
perdagangan dan pertumbuhan
perekonomian nasional untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat
 Pelaku usaha yang menawarkan
produk melalui Sistem Elektronik
harus menyediakan informasi yang
lengkap dan benar berkaitan dengan
syarat kontrak, produsen, dan produk
yang ditawarkan
 Terdapat aturan Sertifikasi Keandalan
sebagai bukti bahwa pelaku usaha
yang melakukan perdagangan secara
elektronik layak berusaha setelah
melalui penilaian dan audit dari badan
yang berwenang. Bukti telah dilakukan
Sertifikasi Keandalan ditunjukkan
dengan adanya logo sertifikasi berupa
trust mark pada laman (home page)
pelaku usaha tersebut.

UU 17 / 2012
Perkoperasian

 Koperasi bertujuan meningkatkan
kesejahteraan Anggota pada
khususnya dan masyarakat pada
umumnya, sekaligus sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari tatanan
perekonomian nasional yang
demokratis dan berkeadilan.
 Jenis,Tingkatan dan Usaha
Penguatan dan
dukungan terhadap
perlindungan terhadap
usaha kecil menegah,
(UU UMKM)
UU No.32 / 2009
Tentang Lingkungan
Hidup
 Terdapat aturan mengenai pelaku
usaha dan jenis usaha Yang wajib
AMDAL
Menimbang Bahwa
pembangunan ekonomi
nasional sebagaimana
diamanatkan oleh
Undang-Undang
8


Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945
diselenggarakan
berdasarkan prinsip
pembangunan
berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan

SUMBER Gunawan, BP. Benidikty Sinaga, Priadi, Rachmy Hertanti, Eka Prasetya, Arif
Suherman, Anton Febrianto, Rika Febriani, Husnul Yaqin, Naskah Akademik dan Draft
RUU Perdagangan versi Ormas, Draft Pertama, 26 Juni 2013


Adanya beberapa undang-undang terkait perdagangan menimbulkan tantangan bagi
Undang-Undang Perdagangan untuk melakukan sinkronisasi dalam rangka pembaruan
hukum guna mengatur perdagangan yang melindungi kepentingan nasional dan
golongan ekonomi lemah.

UUD 1945 BAB XIV Pasal 33 menyatakan :

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas Kekeluargaan;
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara;
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Di dalam Penjelasan UUD 1945, yang dimaksudkan di dalam Pasal 33 UUD 1945
adalah:

“Produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-
anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran
orang-perorang. Sebab itu, perekonomian disusun bersama berdasar asas kekeluargaan.”

Berdasarkan mandat Pasal 33 UUD 145, maka pengaturan atas perdagangan harus
berprinsip :
1. Usaha Bersama;
2. Asas Kekeluargaan
3. Hak Menguasai Negara atas cabang-cabang produksi yang penting
bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak;
4. Hak Menguasai Negara atas kekayaan alam
5. Sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Dalam rangka advokasi RUU Perdagangan, IHCS bersama IGJ (Indonesia for Global
Justice), PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) Jakarta, IKAPPI
(Ikatan Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia), dan lain-lain telah membuat serangkaian
diskusi, konferensi pers, menyusun Naskah Akademik, dan lobi ke DPR

9



II. Situasi Perdagangan Indonesia
2


Perkembangan internasional pada akhirnya sangat mempengaruhi hingga level
nasional. Inovasi-inovasi dalam sistem perekonomian mampu membentuk tatanan yang
sistematis dan berlaku secara universal. Kepastian hukum diperlukan dalam
mewujudkan tatanan tersebut sehingga memaksa bagi seluruh pihak yang terlibat agar
dapat tunduk dan patuh pada aturan tersebut. Batas-batas negara dihilangkan,
penyeragaman hukum dilakukan, dan kekuatan ekonomi terbesar yang menjadi
pemenangnya. Namun, saat ini tampaknya pemerintah mulai melupakan sejarah besar
bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan demi kedaulatan bangsa dan negara,
khususnya kedaulatan ekonomi. Dengan demikian masalah utama dalam perdagangan
bebas dapat diidentifikasikan sebagai berikut :


II. A. Penyesuian Kebijakan Nasional

Agenda perdagangan bebas mulai berkembang sejak pembentukan Organisasi
Perdagangan Bebas (World Trade Organization/WTO) pada 1995. Indonesia
merupakan salah anggota yang ikut menandatangani pembentukan WTO dan telah
meratifikasinya melalui Undang-undang No.7 Tahun 1994. Pembentukan WTO didasari
atas sejarah kehancuran ekonomi negara maju setelah Perang Dunia II dengan
mengakhiri rezim proteksionisme yang berkembang sejak awal tahun 1930 dan
mendorong pembukaan pasar dunia seluas-luasnya. WTO mendorong perdagangan
bebas melalui penghapusan berbagai hambatan perdagangan baik dalam bentuk tarif
maupun non-tarif.

Untuk melaksanakan agenda perdagangan bebas, WTO mengaturnya dengan
pembuatan berbagai perjanjian yang mengikat secara hukum seluruh anggotanya dan
memiliki sanksi hukum yang tegas. Perjanjian-perjanjian yang diatur di dalam WTO
adalah Perjanjian Umum Tentang Perdagangan Barang dan Tarif (General Agreement
on Tariff and Trade/GATT), Perjanjian Umum tentang Perdagangan Jasa (General
Agreement on Trade in Services/GATS), Perjanjian tentang Perlindungan Hak
Kekayaan Intelektual (Trade Related Aspect on Intellectual Property Rigths/TRIPS),
dan Perjanjian terkait Aspek Investasi (Trade Related Aspects on Investment
Measures/TRIMS).

Keharusan harmonisasi kebijakan nasional dengan perjanjian-perjanjian WTO menjadi
hal yang utama. Karena dengan begitu pelaksanaan liberalisasi perdagangan di level
nasional memiliki kepastian hukum. Ketentuan Trade policy review yang dilakukan

2
Diambil dari Gunawan, BP. Benidikty Sinaga, Priadi, Rachmy Hertanti, Eka Prasetya, Arif
Suherman, Anton Febrianto, Rika Febriani, Husnul Yaqin, Naskah Akademik dan Draft RUU
Perdagangan versi Ormas, Draft Pertama, 26 Juni 2013


10


terhadap seluruh anggota WTO semakin menguatkan keyakinan bahwa penyusunan
kebijakan nasional tidak lagi dilandasi atas pengutamaan kepentingan nasional.

Regulasi nasional yang bertentangan dengan prinsip-prinsip WTO dianggap sebagai
hambatan dalam perdagangan dan dapat digugat ke Disputes Settlement Body (DSB)
oleh negara anggota WTO yang merasa dirugikan dari penerapan regulasi nasional
disebuah negara.

Adapun yang menjadi prinsip-prinsip umum WTO adalah: (1). Anti-Diskriminasi.
Terwujud dalam ketentuan pelarangan atas Most-Favoured Nation (MFN) atau tidak
boleh memberikan perlakuan yang berbeda bagi seluruh negara anggota WTO, dan,
pelarangan atas National Treatment atau perlakuan yang berbeda bagi produk lokal
dan impor atau perusahaan asing dengan perusahaan lokal. (2). Pembukaan Pasar.
Dilakukan melalui penghapusan tarif bea masuk dan penghapusan hambatan non-tarif
yang mendistorsi pasar. Misalnya subsidi pemerintah untuk mendorong daya saing
industri nasional. (3). Transparasi. Negara anggota harus bersikap terbuka terhadap
berbagai kebijakan perdagangannya sehingga menutup celah untuk melakukan proteksi
yang dianggap tidak perlu. Oleh karena itu seluruh regulasi yang dibuat pemerintah
harus dilaporkan ke WTO.

Prinsip-prinsip dasar ini yang pada akhirnya membatasi peran negara untuk
memperkuat fondasi ekonomi nasional dan melepaskan roda ekonomi kepada
mekanisme pasar. Misalnya saja, negara dilarang memberikan subsidi yang mendistorsi
pasar dan dianggap telah melanggar prinsip anti-diskriminasi. Padahal untuk
membangun industri nasional perlu dukungan besar dari negara. Indonesia butuh
industri nasional bukan industri yang notabene didominasi oleh kepemilikan saham
asing. Begitu juga untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat indonesia yang mayoritas
bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka perlu dukungan besar dari Pemerintah
untuk meningkatkan produksi dan kepastian harga jual. Namun hal tersebut dianggap
melanggar prinsip anti-diskriminasi dan melakukan proteksi. Hal inilah yang akhirnya
Indonesia telah kehilangan kedaulatan ekonominya yang berdiri diatas kepentingan
kesejahteraan rakyat.

Persaingan bebas tanpa kontrol negara merupakan tujuan dari WTO sebagai lembaga
yang berdiri diatas kepentingan perusahaan multinasional (MNCs) yang berdomisili di
negara-negara industri. Kontrol MNCs terhadap lembaga-lembaga multilateral begitu
kuat. Aturan liberalisasi perdagangan yang ada di dalam WTO sebagian besar adalah
kepentingan MNCs dalam melakukan ekspansi pasar dan eksploitasi terhadap sumber
daya alam untuk mengeruk keuntungan yang lebih besar lagi bagi MNCs.

Namun, desakan perdagangan bebas semakin massif seiring dengan pembentukan
integrasi ekonomi di kawasan ASEAN yang bernama ASEAN Economic Community
(AEC) dan akan berlaku tahun 2015. ASEAN juga telah memiliki FTA dengan 6 negara
mitra ekonominya yaitu Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, dan Australia-Selandia
Baru. Kerjasama tersebut secara otomatis mendorong Indonesia untuk menjalin
kerjasama secara bilateral dengan keenam negara mitra ekonomi ASEAN. Begitu juga
dengan perundingan perdagangan bebas dengan negara-negara Eropa dan Uni Eropa.
11


Komitmen perjanjian perdagangan bebas secara regional dan bilateral juga terhitung
lebih tinggi jika dibandingkan dengan WTO, dimana penerapan tarif untuk seluruh
produk telah mencapai 0%.

Pembukaan pasar dalam agenda perdagangan bebas telah membuka arus investasi
asing masuk ke Indonesia yang akhirnya mendominasi penguasaannya atas investasi
lokal. Dominasi ini kemudian berujung pada penguasaan terhadap sumber-sumber
daya strategis bagi kehidupan rakyat seperti, air, tanah, dan energi. Perampasan lahan
pertanian, kapitalisasi sumber mata air, pengerukan bahan tambang, minyak, dan gas
sebagai sumber energi yang telah berdampak buruk pada ekosistem kehidupan
merupakan praktek-praktek MNCs yang telah melanggar Hak Asasi Manusia.
Pengambil-alihan sumber-sumber daya strategis ini ketangan perusahaan MNCs telah
menghilangkan sumber penghidupan rakyat dan mendorongnya pada jurang
kemiskinan yang semakin dalam.


II. B. Pelanggaran Hak Konstitusional dan HAM Warga Negara

Konstitusi telah mengatur tentang perlindungan atas hak-hak ekonomi rakyat
Indonesia yang wajib dipenuhi oleh Negara. Peran negara adalah memastikan
pemenuhan hak-hak ekonomi rakyat dengan menyusun kebijakan perekonomian yang
berlandaskan pada kepentingan nasional.

Pasal 28 H Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 menyebutkan :
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya
secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh
diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.

Kebijakan ekonomi Indonesia yang diadopsi dari perjanjian-perjanjian perdagangan
bebas memberikan pengaruh besar terhadap pemenuhan hak-hak ekonomi rakyat
Indonesia. Pembukaan pasar melalui liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi,
dan tenaga kerja telah menghilangkan peran negara yang bertanggung jawab untuk
memenuhi hak-hak ekonomi rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari fakta-fakta
berikut:

(1) Di sektor pangan terjadi peningkatan nilai impor yang sangat signifikan yaitu
senilai US$ 8,4 Triliyun pada 2009, dan pada 2012 telah mencapai US$ 17,2
Triliyun. Hal ini semakin menguatkan bahwa pangan Indonesia hari ini sangat
bergantung pada produk impor. Hal ini berdampak terhadap kesejahteraan petani
dan nelayan lokal yang produknya harus kalah bersaing dengan produk impor
yang harganya jauh lebih murah. Petani bawang di Indonesia berpotensi
12


mengalami kerugian sebesar Rp.14,8 Triliun atau setara dengan 1,04 juta ton
akibat Serangan impor pangan Bawang. Petani cabai juga berpotensi mengalami
kerugian sebesar Rp.26,6 Triliun atau setara 1,3 juta ton.

(2) Bahwa dengan ditandatanganinya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)
pada tahun 2007 telah menjadi dasar dari terjalinnya kerjasama ekonomi Indonesia-
China Free Trade Agreement. Kerjasama ini kemudian telah menghancurkan industri
lokal Indonesia akibat kalah bersaing dengan produk impor asal China, khususnya
produk paku kawat yang mencapai hingga 91,46% pada tahun 2008. Pada tahun
yang sama tercatat sebanyak 17 perusahaan paku kawat lokal telah bangkrut dan
berdampak pada pemutusan hubungan kerja terhadap 1700 orang karyawan.

(3) Pengambil-alihan penguasaan sumber-sumber kekayaan alam yang strategis bagi
kehidupan publik oleh perusahaan multinasionalseperti air, tanah, energi, dan
informasi teknologi, telah berdampak pada hilangnya akses masyarakat terhadap
sumber-sumber penghidupan utamanya. Sehingga menjadi penyumbang angka
pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Bisa terlihat dari penurunan angka
penyerapan tenaga kerja disektor pertanian yaitu pada 2009 penyerapan masih
sebesar 38,36 juta orang, namun pada 2011 terjadi penurunan menjadi hanya 36,54
juta orang.

(4) Integrasi ekonomi ASEAN telah menuntut dukungan pemerintah Indonesia
dengan berbagai kemudahan berusaha bagi investasi dengan pembangunan
kawasan ekonomi khusus (KEK) dan ketersediaan tenaga kerja produktif dan
murah. Upah buruh Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan Thailand
dan Filipina yaitu sebesar US$161. Thailand dan Filipina sendiri memiliki nilai
upah sebesar US$283/bulan dan US$318/bulan. Terlebih pada kuartal 2013 upah
buruh mengalami penurunan nilai riilnya sebesar 3,72% sehingga berdampak pada
rendahnya kualitas kesejahteraan buruh.

(5) Tidak adanya pembedaan perlakuan antara golongan industri besar dan kecil
berdampak pada hilangnya pendapatan akibat pembukaan pasar dan kalah
bersaing dengan produk tekstil impor. Pengusaha industri konveksi pakaian rajut
di daerah Binong Jati, Bandung, mengalami penurunan omset sebesar 1-2 juta ton
benar rajut per hari dan menyebabkan pemutusan hubungan kerja terhadap 90%
karyawannya.

Fakta-fakta diatas menjadi sebagian kecil bukti nyata hilangnya hak-hak ekonomi
rakyat akibat praktek perdagangan bebas yang dijalankan oleh Pemerintah Indonesia.
Dampak buruk yang ditimbulkannya telah mengakibatkan kemiskinan. Negara tidak
mampu memenuhi tanggung jawabnya akibat terbelenggu oleh komitmen yang
diikatkan ke dalam perjanjian-perjanjian perdagangan bebas. Negara telah kehilangan
kedaulatan dan perannya sebagai pelindung hak-hak ekonomi rakyat.

Hancurnya perekonomian Indonesia dan tidak matangnya industri nasional akibat
perdagangan bebas akan semakin menghilangkan kemandirian ekonomi Indonesia.
Penguasaan atas kekayaan alam Indonesia yang saat ini tidak lagi jatuh ke tangan
13


negara untuk dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat akan melanggengkan
penjajahan ekonomi.

Apalagi pelaksanaan AEC tahun 2015 yang menekankan pada konsep pasar tunggal dan
basis produksi akan hanya menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang tereksploitasi.
Pembukaan pasar yang terintegrasi secara kawasan di ASEAN hanya akan memaksa
Indonesia menjadi pasar dan pengekspor sumber bahan mentah tanpa bisa menjadi
tuan di negaranya sendiri.

Saat ini, Indonesia butuh kedaulatan ekonomi yang dilandasi oleh pasal 33 Undang-
undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Menghubungkan antara industri hulu
dan industri hilir dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat indonesia tanpa harus
bergantung pada produk impor. Perlu disusun kebijakan yang menekankan pada
kemandirian ekonomi Indonesia.


II. C. Hilangnya Kedaulatan Negara

WTO merupakan lembaga yang memiliki sistem penyelesaian sengketa sehingga
memberikan kepastian hukum bagi pelaksanaan aturan perdagangan bebas yang telah
disepakati oleh angota-anggotanya. Hal ini memaksa Indonesia untuk tunduk dan
patuh terhadap WTO sehingga menghilangkan kedaulatan negara dalam menentukan
kebijakan sendiri bagi perlindungan kepentingan nasional.

Baru-baru ini, Indonesia menghadapi gugatan di WTO terkait kebijakan pembatasan
impor daging dan hortikultura. Kebijakan tersebut dianggap telah bertentangan dengan
GATT, perjanjian pertanian dan Perjanjian Perizinan Impor. Pemerintah Indonesia
dituduh telah melakukan hambatan dalam perdagangan yang merugikan negara lain.
Pilihannya hanya merubah kebijakannya atau menghadapi gugatan di WTO dengan
potensi Indonesia membayar kerugian yang diderita negara-negara yang merasa
dirugikan atas penerapan kebijakan pembatasan impor daging dan hortikulturan oleh
Indonesia.

Hal lainnya adalah produk biodiesel Indonesia yang dikenakan bea-dumping oleh Uni
Eropa. Aturan WTO melarang tindakan dumping yang bisa merugikan negara lain dan
bagi negara yang dirugikan bisa mengenakan ba-dumping dan melakukan pemeriksaan
terhadap dugaan adanya dumping. Namun, jika tidak terbukti adanya dumping maka
negara yang diduga dumping berhak meminta ganti rugi atas bea-dumping yang
dikenakan sebelumnya.

Sulitnya Indonesia melakukan perlindungan terhadap kepentingan nasional dihadapan
WTO berbanding terbalik dengan perilaku negara-negara maju yang dengan lihai
melindungi kepentingannya melalui strategi penyusunan kebijakan nasionalnya yang
efektif. Dalam WTO berlaku beberapa pengecualian yang dapat diterapkan tanpa harus
tunduk dan patuh terhadap aturan WTO. Skema perlakuan khusus dan berbeda bagi
negara berkembang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah. Ataupun
pengecualian umum untuk melindungi kesehatan warga negara dan dalam rangka
14


stabilitas nasional bisa digunakan pemerintah untuk melindungi kepentingan nasional.
Namun, nampaknya Pemerintah Indonesia masih belum mampu menyusun strategi
yang tepat untuk itu.

Bab tentang investasi di dalam Perjanjian WTO ataupun ASEAN telah memaksa
Indonesia untuk kembali mengadopsi hukum investasi yang tidak berpihak pada
kepentingan nasional sebagaimana yang dituangkan ke dalam Bilateral Investment
Treaties (BITs). Indonesia juga diharuskan untuk menjadi anggota MIGA (Multilateral
Investment Guarantee Agency) dan ICSID (International Centre for Settlement of
Investment Disputes) yang merupakan bagian dari The World Bank Group) terkait
dengan mekanisme penyelesaian sengketa di bidang investasi. Ketentuan-ketentuan ini
tak lain institusi yang memberikan jaminan bagi perusahaan multinasional ketika
menanamkan investasi di Indonesia.

Benar saja, pada 1998 terjadi penanaman investasi asing oleh Enron, perusahaan asal
Amerika Serikat yang bergerak di sektor energi, untuk pembangunan PLTU di
Pasuruan. Namun kemudian, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Keppres no.5/1998
yang kemudian membatalkan beberapa proyek termasuk PLTU Pasuruan dan telah
dianggap melakukan pembatalan kontrak (Breach of Contract) sesuai dengan aturan
MIGA. Atas kekalahannya, maka Indonesia diharuskan membayar kepada MIGA
sebesar US$ 15 Juta untuk mengganti kerugian yang diderita oleh Enron.

Pada Juni 2012, Indonesia juga sedang menghadapi gugatan Churcil Mining,
perusahaan tambang asal Inggris, di ICSID atas kerugian yang dihadapinya terkait
pembatalan konsesi tambang oleh Pemerintah Daerah Kutai, Kalimantan Timur.
Pemerintah Indonesia digugat untuk membayar kerugian Churcil sebesar US$ 2
Triliyun.

Dari dua contoh kasus diatas, terbukti bahwa dalam perjanjian perdagangan bebas
kekuatan perusahaan multinasional lebih tinggi dibandingkan kedaulatan negara dalam
menetapkan kebijakan ekonominya bagi kepentingan nasional.

Apabila negara tidak berdaya menghadapi berbagai gugatan sebagai konsekuensi dari
penerapan perjanjian perdagangan bebas di Indonesia, maka akan lebih tragis ketika
dampak buruk yang ditimbulkan perjanjian perdagangan bebas terhadap kehidupan
masyarakat Indonesia, khususnya petani, nelayan, UMKM, dan buruh. Apalagi tidak
ada mekanisme bagi petani, nelayan, UMKM, dan buruh untuk melakukan gugatan atau
protes terhadap pelanggaran oleh negara lain ataupun perusahaan multinasional atas
kerugian yang dideritanya. Hukum Indonesia pun belum mampu menjawab persoalan
ini ketika negara tidak melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak ekonomi
rakyat sebagaimana yang diamanatkan dalam Konstitusi.

Dari penjabaran di atas, maka dalam menghadapi bahaya perdagangan bebas di
Indonesia, perlu kiranya disusun kebijakan yang komprehensif sehingga mampu
memberikan perlindungan bagi kepentingan nasional guna mewujudkan kesejahteraan
bagi seluruh rakyat Indonesia.

15




III. Kritik Terhadap Undang-Undang Perdagangan


III. A. Pengabaian Rakyat Produsen dan Rakyat Konsumen

Di dalam Pasal 1 (1) Undang-Undang Perdagangan menyatakan : “Perdagangan adalah
keseluruhan tatanan kegiatan yang terkait dengan transaksi barang dan/atau jasa yang
dilakukan oleh Pelaku Usaha, baik secara langsung atau tidak langsung di dalam negeri
maupun yang melampaui batas wilayah negara, dengan tujuan pengalihan hak atas
barang dan/atau jasa untuk memperoleh imbalan atau kompensasi.”

Dari pasal tersebut terlihat bahwa pelaku perdagangan adalah pelaku usaha, di dalam
Pasal 1 (6) Undang-Undang Perdagangan dijelaskan, “Pelaku Usaha adalah setiap orang
perseorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan
badan hukum, yang didirikan dan berkedudukan serta melakukan kegiatan usaha dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Jika yang diatur hanya pelaku usaha, lalu di mana posisi produsen yang tidak masuk
pelaku usaha. Studi kasus pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan, masing-masing produsen pangan, yaitu petani, nelayan, peembudidaya ikan,
dan pelaku usaha memiliki definisi yang berbeda-beda.

Konsekuensinya adalah, ketika terjadi impor yang merugikan petani, tidak ada
mekanisme hukumnya, tetapi jika pelaku usaha memiliki mekanisme sendiri, yaitu
Safeguard (Tindakan Pengamanan Perdagangan).

Pengaturan atas Tindakan Pengamanan Perdagangan mengacu kepada Peraturan
Pemerintah No. 34 Tahun 2001 tentang Tindakan Antidumping, Tindakan Anti Imbalan
dan Tindakan Pengamanan Perdagangan, yang merupakan turunan dari Undang-
Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Persetujuan Organisasi Perdagangan Dunia dan
Undang-Undang No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, serta tidak merujuk kepada
Undang-Undang No 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Peraturan Pemerintah tersebut
kemudian diturunkan dalam Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang
Tindak Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor.
3


Kini materi di dalam Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2001 tentang Tindakan
Antidumping, Tindakan Anti Imbalan dan Tindakan Pengamanan dimasukan di dalam
Undang-Undang tentang Perdagangan.


3
Gunawan UMKM Pangan Harus Dilindungi dari Kisruh Perdagangan Terigu, Sinar Harapan, 30
November 2012

16


Memang sudah ada produk hukum yang mengatur konsumen, yaitu Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, akan tetapi bagaimana jika terkait dengan hak-hak warga
negara, misalnya akses kepada barang-barang kebutuhan pokok


III.B. Neo Kolonialisme

Undang-Undang Perdagangan dimaksudkan untuk menggantikan hukum di bidang
perdagangan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, yaitu Bedrijfsreglementerings
Ordonnantie.

Tetapi maksud hati hendak mengganti hendak mencabut produk hukum kolonial,
ternyata produk hukum neo kolonial yang didapat seperti dalam kasus Tindakan
Pengamanan Perdagangan yang merupakan turunan WTO yang diperkuat lewat
undang-undang, yang tadinya hanya diatur lewat peraturan pemerintah.

Pengesahan perjanjian perdagangan internasional disahkan lewat undang-undang.
Kemudian Undang-Undang Perdagangan mengatur terkait ekspor dan impor diatur
lewat Peraturan Pemerintah, sedangkan yang akan diatur melalui Perpres adalah : 1.
Pembangunan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas pengelolaan pasar rakyat; 2.
Pengaturan perizinan, tata ruang, dan zonasi terhadap pasar rakyat, pusat perbelanjaan,
toko swalayan, dan perkulakan; 3. Penataan, pembinaan, dan pengembangan pasar
lelang komoditas; 4. Pengendalian ketersediaan barang kebutuhan pokok dan barang
penting; 5. Penyimpanan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting; 6. Barang
yang diperdagangkan yang terkait dengan kemanan, keselamatan, kesehatan, dan
lingkungan hidup; 7. Pendaftaran barang serta penghentian kegiatan perdagangan
barang dan penarikan barang yang terkait dengan keamanan, keselamatan, kesehatan,
dan lingkungan hidup; 8. Barang dan/atau jasa yang dilarang atau dibatasi
perdagangannya; 9. Pemberdayaan koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah di
sektor perdagangan; 10. Pelaksanaan kampanye pencitraan Indonesia dalam rangka
prmosi dagang untuk memperkenalkan barang dan/atau jasa di dalam dan di luar
negeri; 11. Pembentukan tim perunding yang bertugas mempersiapkan dan melakukan
perundingan; 12. Tata cara pemberian preferensi kepada negara kurang berkembang;
13. Komite Perdagangan Nasional; 14. Perdagangan barang dalam pengawasan
pemerintah.

Dari struktur peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka terlihat kedudukan
perjanjian internasional dan ekspor impor lebih tinggi dibandingan perlindungan dan
pemberdayaan pelaku usaha skala kecil dan produsen pangan skala kecil, kepentingan
pemerintah dan perlindungan dari negara, padahal perjanjian perdagangan
internasional dan kebijakan impor menimbulkan dampak buruk bagi pelaku usaha
skala kecil dan produsen pangan skala kecil.


III. Tanpa Affirmative Action


17


Pasal 2 (1) Undang-Undang Perdagangan menyebutkan : Perdagangan diselenggarakan
berdasarkan asas:

a. adil dan sehat.
b. kepastian hukum.
c. pemberian kesempatan yang sama bagi seluruh pelaku usaha.
d. pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah.
e. perlakuan yang sama terhadap produk yang beredar di pasar dalam negeri.
f. kesederhanaan dan transparansi.
g. akuntabilitas.

Sekilas asas-asas terebut baik, akan tetapi mengandung kontradiksi antara asas
pemberian kesempatan yang sama bagi seluruh pelaku usaha dan asas perlakuan yang
sama terhadap produk yang beredar di pasar dalam negeri, dengan asas pemberdayaan
Usaha Mikro Kecil Menengah.

Bahwa perlakuan yang sama terhadap sesuatu yang berbeda adalah bagian dari praktek
diskriminasi, sehingga tidak mungkin membuat perlakuan yang sama antara pelaku
usaha skala besar dengan UMKM dan perlakukan yang sama antara produk dalam
negeri dengan produk impor.

Dalam rangka pemberdayaan dan perlindungan UMKM serta melindungi kepentingan
nasional diperlukan kebijakan Affirmative Action.

Perlakuan yang sama merupakan kerangka berpikir awal yang mengakibatkan
konsekuensi berikutnya yang mengalir dalam keseluruhan norma dalam Rancangan
Undang-Undang Perdagangan, dengan mana pedagang besar dan big capital yang
melakukan praktek perdagangan di Indonesia memiliki hak yang sama dengan
pedagang kecil, petani, nelayan, dan kaum perempuan yang lemah dalam capital.
Perlakuan yang sama dalam realitas akan dimaknai sebagai keadilan, jika di
implementasikan dalam satu formula bahwa yang sama akan diperlakukan sama,
sedang yang tidak sama diperlakukan tidak sama. Memperlakukan yang tidak sama
secara sama, akan melahirkan ketidakadilan, yang secara jelas bertentangan dengan
konstitusi. Bahwa Affirmative Action dalam rangka melindungi kepentingan Nasional
dan Perlindungan Golongan Ekonomi Lemah. Dengan adanya kepentingan nasional
dan perlindungan ekonoomi lemah maka diperlukan adanya perlindungan Negara dan
usaha bersama guna melindungi tujuan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat.
4



IV. Kesimpulan

Undang-Undang Perdagangan berpotensi tumpang tindih dengan peraturan
perundangan lainya yang di dalamnya mengatur perdagangan. Dan Undang-Undang

4
Gunawan, BP. Benidikty Sinaga, Priadi, Rachmy Hertanti, Eka Prasetya, Arif Suherman, Anton
Febrianto, Rika Febriani, Husnul Yaqin, Naskah Akademik dan Draft RUU Perdagangan versi Ormas,
Draft Pertama, 26 Juni 2013
18


Perdagangan berpotensi tidak mampu menyiapkan negara dan rakyat Indonesia dalam
menghadapi pasar bebas baik di level internasional, regional dan antar negara.


Daftar Pustaka

Artikel

Gunawan UMKM Pangan Harus Dilindungi dari Kisruh Perdagangan Terigu, Sinar
Harapan, 30 November 2012

Peraturan Perundang-Undangan

Bedrijfsreglementerings Ordonnantie 1934 (Staatsblad 1938 Nomor 86)

Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Persetujuan Organisasi Perdagangan Dunia

Undang No 7 Tahun 1996 tentang Pangan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Undang-Undang No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan

Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2001 tentang Tindakan Antidumping, Tindakan
Anti Imbalan dan Tindakan Pengamanan Perdagangan

Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang Tindak Pengamanan Industri
Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor


Dokumen

RUU Perdagangan

Gunawan, BP. Benidikty Sinaga, Priadi, Rachmy Hertanti, Eka Prasetya, Arif
Suherman, Anton Febrianto, Rika Febriani, Husnul Yaqin, Naskah Akademik
dan Draft RUU Perdagangan versi Ormas, Draft Pertama, 26 Juni 2013


Media Massa

Mengintip Aturan Pelaksana UU Perdagangan, Ada beberapa hal yang akan diatur
melalui PP, Perpres, dan Permen,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52fa4c4d0cfe8/mengintip-aturan-
pelaksana-uu-perdagangan