PROPOSAL SKRIPSI

PENERAPAN METODE SIX SIGMA DALAM PENGENDALIAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAYU LAPIS DI PT.TIRTA MAHAKAM RESOURCES Tbk

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh :

SYARIFAH MUTHMAINNAH 04.45246.00200.06

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2008

1. Judul Skripsi PENERAPAN METODE SIX SIGMA DALAM PENGENDALIAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAYU LAPIS DI PT. TIRTA
UNIVERSITAS MULAWARMAN FAKULTAS TEKNIK PS S1 TEKNIK SIPIL PERTAMBANGAN PS D3 TEKNIK PERTAMBANGAN

LINGKUNGAN  INDUSTRI

PROPOSAL TUGAS SKRIPSI
Nama NIM Peminatan Judul tugas Akhir : Syarifah Muthmainnah : 04.45246.00200.06 : Pengendalian Kualitas Statistik : Penerapan Metode Six Sigma Dalam Pengendalian dan Peningkatan Kualitas Poduk Kayu di PT. Tirta Makakam Resources Tbk Usulan Pembimbing 1 : La Ode Ahmad Safar T., ST, MT Usulan Pembimbing 2 : Juli Nurdiana, ST Dilaksanakan : Semester Genap 2007 / 2008

MAHAKAM RESOURCES Tbk. 2. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan perkembangan zaman merubah cara pandang konsumen dalam memilih sebuah produk yang diinginkan. Kualitas menjadi sangat penting dalam memilih produk disamping faktor harga yang bersaing. Perbaikan dan peningkatan kualitas produk dengan harapan tercapainya tingkat cacat produk mendekati zero defect membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perbaikan kualitas dan perbaikan proses terhadap sistem produksi secara menyeluruh harus dilakukan jika perusahaan ingin menghasilkan produk yang berkualitas baik dalam waktu yang relatif singkat. Suatu perusahaan dikatakan berkualitas bila perusahaan tersebut mempunyai sistem produksi yang baik dengan proses terkendali. Melalui

pengendalian kualitas (quality control) diharapkan bahwa perusahaan dapat meningkatkan efektifitas pengendalian dalam mencegah terjadinya produk cacat (defect prevention), sehingga dapat menekan terjadinya pemborosan dari segi material maupun tenaga kerja yang akhirnya dapat meningkatkan produktifitas. Industri perkayuan sebagai salah satu industri non migas yang mampu menghasilkan devisa negara dalalam bentuk ekspor kayu olahan. Meskipun beberapa tahun terakhir ini terjadi penutupan perusahaan-perusahan yang bergerak dalam bidang perkayuan akibat dari krisis ekonomi dan moneter yang berkepanjangan, pencabutan Hak Pengelolaan Hutan (HPH), kerusakan dan kebakaran hutan yang menyebabkan kekurangan bahan baku, produksi berbiaya tinggi sehingga tidak mampu bersaing dipasaran nasional dan internasional. Namun demikian pemerintah berusaha untuk menjaga dan meningkatkan ekspor nin migas yang merupakan salah satu penghasi devisa negara, dengan berbagai cara mulai dari penghijauan, reboisasi, sampai peninjauan kembali pemberian HPH kepada perusahaan-perusahaan kayu yang berkapabilitas. PT. Tirta Mahakam Resources, Tbk sebagai salah satu industri perkayuan yang berkembang menjadi industri perkayuan terpadu di kalimantan timur berusaha untuk melakukan perbaikan produk dan kualitas secara terus menerus sehingga dapat bertahan. Meminimumkan cacat adalah usaha yang harus dilakukan secara berkesinambungan dalam hal peningkatan kualitas suatu produk. Oleh karena itu, sangat penting bagi PT. Tirta Mahakam untuk menerapkan salah satu metode pengendalian dan peningkatan kualitas yang dapat membantu mengurangi cacat dalam memproduksi kayu lapis. Berkaitan dengan permintaan konsumen, PT. Tirta Mahakam selalu berusaha mempertahankan kepercayaan pelanggan. Hal tersebut dilakukan dengan selalu meningkatkan kualitas produk kayu lapis yang dihasilkan, walaupun pada kenyataannya selalu ada produk yang tidak memenuhi spesifikasi yang diharapakan sehingga terpaksa dilakukan reject atau return. Salah satu metode yang dipakai untuk peningkatan dan pengendalian kualitas ialah Six Sigma. Metode ini merupakan salah satu metode yang akurat yang mampu meminimalkan dan meniadakan cacat (zero defect) pada produk serta mempertahankan dan memaksimalkan kesuksesan di perusahaan. 3. Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini ialah mengenai produksi yang dilakukan oleh PT. Tirta Mahakam dalam menghasilkan produk kayu lapis apakah telah sesuai dengan kualitas yang diinginkan serta metode apa yang dipakai dalam upaya pengendalian kualitas dari produksi kayu lapis. 4. Tujuan Tugas Akhir Tujuan dari diadakannya penelitian ini ialah : a. Menentukan faktor-faktor kritis (CTQ = Critical to Quality) yang berpengaruh pada timbulnya cacat dari produk yang dihasilkan. b. Mengukur kemampuan proses dalam menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi dengan metode Six Sigma. c. Memberikan usulan perbaikan terhadap sistem produksi berdasarkan hasil eksperimen. 1. Ruang Lingkup Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada : a. Bagian yang diteliti mengenai cacat dalam proses produk kayu lapis. b. Produk kayu lapis yang diteliti ialah jenis kayu meranti merah yang memiliki finir 5 lapis (5 ply). c. Tidak membahas biaya kualitas. 1. Tinjauan Pustaka a. Kualitas (Quality) Masalah kualitas adalah masalah yang sangat penting dalam industri, baik industri barang maupun jasa. Kualitas berarti menyangkut kepuasan konsumen, bagaimana agar didapatkan barang atau jasa yang memuaskan konsumen. Untuk itu produksi perlu dikontrol, yang berarti performance dari mesin atau penghasil

barang atau jasa tersebut harus diperhatikan. Dalam hal ini kualitas itu sendiri menyangkut pekerja, mesin, metode kerja, material, dan lingkungan kerja. Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda , dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti : performansi (performance), keandalan (reliability), mudah dalam penggunaan (easy of use), dan estetika (esthetics). Menurut Vincent dalam bukunya Total Quality Management mendefinisikan kualitas adalah segala sesutu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the nees of sustomers). Menurut Deming, kualitas adalah sebuah segitiga interaksi antara produk, konsumen, konsumen dengan caranya menggunakan produk tersebut, dan pelatihan terhadap konsumen. Definisi tersebut mencakup aspek fungsional, kesesuaian, dan persepsi dari produk oleh konsumen. Perancang produk harus memperhitungkan bagaimana produk akan digunakan walaupun sebenarnya bukan merupakan fungsi sebenarnya dari produk tersebut. The Juran Institute, sebuah lembaga pengembangan kualitas terkemuka yang dimiliki oleh Dr. Joseph M. Juran salah satu guru dalam manajemen kualitas mendefinisikan dua komponen dasar dari kualitas, yaitu : 1. Fitur produk Merupakan karakteristik produk yang membuat produk tersebut menarik bagi konsumen. 2. Kesesuaian atau kemampuan produk dalam memenuhi fitur tersebut. Dapat disebut juga kemampuan produk secara konsisten untuk memberikan on-target performance setiap digunakan, dibawah semua kondisi operasional tanpa ada efek samping. Berdasarkan berbagai macam pendapat mengenai definisi kualitas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan/konsumen. Produk yang terlampau canggih karena tidak mengindahkan kebutuhan konsumen akan ditinggalkan konsumennya walaupun memiliki kualitas tinggi. Oleh karena itu produk yang akan dihasilkan akan berkualitas apabila sesuai dengan keinginan konsumen serta dapat digunakan dengan mudah dan diproduksi dengan cara baik dan benar.

Menurut Garvin, yang dikutip Vincent Gaspersz,menentukan dimensi kualitas barang dapat dilakukan melalui delapan dimensi, sebagai berikut : 1. Performance Hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut. 2. Features Aspek performansi yang berguna untuk menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya. 3. Reliability Hal yang berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan funginya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula. 4. Conformance Hal yang berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan pada keinginan pelanggan. Konfirmasi merefleksikan derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan. 5. Durability Suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran daya tahan atau masa pakai barang. 6. Serviceability Karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi, kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang. 7. Aesthetics Merupakan karakteristik yang bersifat subyektif mengenai nilai-nilai estetika yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi individual. 8. Perceived Quality

Kualitas yang dirasakan bersifat subyektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk seperti : harga diri, moral, dan lain-lain. a. Pengendalian Kualitas (Quality Control) Dengan persaingan yang amat ketat, permasalahannya menjadi bagaimana menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan biaya produksi yang kecil atau harga yang bersaing ini adalah implikasi dari teori produksi. Karena banyak hal yang terkait dalam proses menghasilkan produk dengan kualitas yang baik maka aspek-aspek yang terkait dalam hal kualitas produksi juga semakin rumit. Kualitas produksi akan menyangkut segala aspek organisasi atau hubungan antar bagian dalam organisasi. Begitu juga aspek teknis terhadap hasil produksi untuk mendapatkan kesesuaian dengan standar kualitas yang didefinisiskan. Untuk dapat selalu mempertahankan kualitas yang baik serta konsisiten, diperlukan suatu aktivitas yang disebut pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas secara umum dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang digunakan untuk memelihara atau menjaga level kualitas yang diinginkan dalam suatu produk atau jasa. Pengendalian kualitas juga mempunyai pengertian penggunaan teknik-teknik dan aktivitas-aktivitas dalam upaya mencapai, mempertahankan, dan memperbaiki kualitas dari suatu produk atau jasa. Pengendalian kualitas dapat dibagi menjadi dua, yaitu : a. On-line Quality Control Merupakan pengendalian kualitas pada saat proses produksi sedang berjalan, seperti pendiagnosaan dan penyesuaian proses, pengontrolan proses, dan inspeksi hasil proses. b. Off-line Quality Control Adalah usaha-usaha yang bertujuan mengoptimalkan rancanganproses dan produk sebagai pendukung usaha on-line quality control. Off-line Quality Control ini dilakukan sebelum atau sesudah proses. Menurut J.M. Juran, pengendalian kualitas terdiri atas tiga aspek yang dikenal dengan konsep trilogi kualitas, yaitu : 1. Quality Planning

Pada tahapan ini produsen harus : • • • • Mengidentifikasikan kebutuhan konsumen, baik konsumen internal maupun eksternal Merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen Merancang proses produksi untuk produk tersebut Proses produksi harus sesuai dengan spesifikasi

1. Quality Control Pengendalian kualitas produk pada saat proses produksi. Pada tahapan ini, produsen harus : • • • Mengidentifikasi faktor kritis yang harus dikendalikan berpengaruh pada kualitas Mengembangkan alat dan metode pengukurannnya Mengembangkan standar bagi faktor kritis

1. Quality Improvement Kegiatan ini dilakukan jika ditemui ketidaksesuaian antara kondisi aktual dengan kondisi standar. Metode Six Sigma merupakan tindakan yang berada pada tahapan ini. a. Alat-Alat Pengendalian Kualitas Menurut Edward Deming (Deming, W.E., 1982) penyelesaian masalah pengendalian kualitas yang ada dalam perusahaan bisa dilakukan pendekatan dengan The Seven Magnificient Quality Tools atau 7 alat pengendalian kualitas yang terdiri atas : 1. Flowchart Fokus pada proses dan fungsi-fungsi atribut-atribut sumber daya input, pemasok (suplier) dan konsumen internal.

Mulai kegiatan kegiatan
Tidak

Keputusan
Ya

Mulai

2. Check Sheet Merupakan suatu form yang digunakan untuk menuliskan data yang hendak dicari serta mengecek data, baik data masa lalu maupun pengamatan saat ini. Informasi yang diperoleh dari check sheet merupakan bentuk yang sederhana, yang dirancang untuk memungkinkan penggunanya mencatat data khusus dan dapat diamati mengenai satu atu beberapa variabel.
Tabel Check Sheet Produk Kayu lapis

Jenis Defect Core Lap Thick and Thin Press Mark Cacat mata kayu 3. Histogram

Reject IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII III III

Total 5 15 8 3

Keterangan

Histogram berfungsi untuk mengetahui distribusi data yang ada. 4. Diagram Pareto Bertujuan untuk mengidentifikasikan masalah-masalah utama berdasar informasi yang telah didapat agar dapat mengambil keputusan mana yang harus diprioritaskan. Prinsip dasarnya mengatakan bahwa 80% masalah yang timbul pada suatu produk yang dihasilkan disebabkan oleh 20% dari suatu macam karakteristik dalam proses produksi (faktor penyebab). Pareto diagram berisi skala vertikal dan skala horizontal. Skala vertikal berisi frekuensi dan prosentase sedangkan skala horizontal berisi kategori

kejadian atau masalah. Langkah-langkah yang digunakan untuk menyusun diagram pareto ialah : a. Menentukan kategori klasifikasi data, misalnya berdasarkan masalah, penyebab, jenis kecacatan, dan lain-lain. b. Mengumpulkan data dalam jangka waktu tertentu (menggunakan check sheet). c. Menghitung frekuensi tiap kategori dan mengurutkan kategori dari yang mempunyai frekuensi terbesar hingga terkecil. d. Menghitung prosentase kumulatifnya. e. Menggambar diagram dan menemukan masalah utama. 1. Cause and Effect Diagram Diagram sebab akibat yang terkenal dengan istilah diagram tulang ikan (fishbone diagram) diperkenalkan pertama kali oleh seorang pakar kualitas jepang yaitu Prof. Kaoru Ishikawa, Tokyo University. Diagram ini digunakan untuk menganalisa dan menentukan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan dalam menentukan karakteristik kualitas output pekerja. Selain itu juga untuk mencari penyebab-penyebab kecacatan. Dalam fishbone diagram menggunakan enam pola sebab utama timbulnya kecacatan yaitu manusia, mesin dan peralatan, metode kerja, lingkungan kerja, serta material/bahan baku. Material Manusia

Metode 2. Scatter Plot

Mesin

Berfungsi untuk mepelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan karakteristik kualitas dan melihat hubungan antara data dan faktor. 3. Control Chart Merupakan suatu grafik garis dengan nilai tengah dan batas-batas kontrol. Tujuan dari control chart (peta kendali) ialah memonitor suatu proses dan mendeteksi perubahan-perubahan dalam output, mendeteksi keadaan terkendali atau tidak terkendali. Secara garis besar peta kendali terdiri atas dua tipe yaitu peta kendali variabel dan peta kendali atribut. Peta kendali variabel digunakan pada karakteristik kualitas yang dapat diukur, seperti dimensi berat atau volume. Sedangkan peta kendali atribut digunakan dalam mengidentifikasi produk yang tidak sesuai dengan karakteristik kualitas atau cacat. Peta kendali atribut terdiri atas peta kendali untuk bagian tak sesuai (P), ketidaksesuaian (C), dan ketidaksesuaian per unit (U). Dalam penelitian ini menggunakan peta kendali atribut (jenis-P)

4. Peta Kendali-P Peta kendali yang paling serbaguna dan banyak digunakan adalah peta kendali-P. peta kendali ini adalah peta kendali yang menggambarkan produk yang tidak sesuai karena tidak memenuhi spesifikasi dan hanya dapat diterapkan untuk karakteristik mutu atribut. Peta kendali-P dapat diterapkan bila hasil suatu pemerikasaan merupakan penggolongan barang sebagai yang diterima atau yang ditolak. Peta kendali-P merupakan suatu peta yang menunjukkan cacat dari benda kerja karena memilki satu atau lebih kecacatan. Langkah-langkah dan rumus untuk konstruksi peta kendali-P : 1. Mengumpulkan data yang menggambarkan jumlah yang diperikasa (n) dan jumlah produk cacat (D) 2. Probabilitas sebuah produk tidak memenuhi spesifikasi (menjadi produk yang cacat) adalah :

Pi =

Di ni

dimana : Di = jumlah produk cacat dalam populasi ni = total jumlah produk dalam populasi 3. Menghitung rata-rata bagian cacat dengan menggunakan rumus :

P=Σ

Di ni

4. Menghitung batas kendali dengan menggunakan rumus :
UCL = p + 3 p(1 - p) n

Batas Tengah =
P

LCL = p - 3

p(1 - p) n

Dimana : UCL = upper control limit (batas kontrol atas) LCL = lower control limit (batas kontrol bawah) a. Six Sigma General Electric (GE) sebagai salah satu perusahaan yang sukses menerapkan six sigma menyatakan, “Six Sigma merupakan proses siiplin tinggi yang membantu kita mengembangkan dan menghantarkan produk mendekati sempurna. Ide sentral di belakang Six Sigma jika anda dapat mengukur berapa banyak cacat yang Anda miliki dalam suatu proses, Anda secara sistematis dapat mengatasi bagaimana menekan dan menempatkan diri Anda dekat dengan Zero defect. Six Sigma telah mengubah DNA GE, mengubah cara kerja GE, dalam setiap tindakan pada setiap produk GE”.

Menurut Vincent Gaspersz, Six Sigma ialah metode terstruktur dan berdasarkan fakta (fact based) yang merupakan penerapan metode stattistik untuk proses bisnis dalam meningkatkan efesiensi operasional yang berakibat pada peningkatan value (nilai) suatu organisasi. Six Sigma didasarkan pada pengukuran untuk mengurangi variasi atau inkonsistensi dari suatu sistem bisnis dalam perusahaan. Elemen umpan balik eksternal adalah pihak-pihak yang memberitahu perusahaan bahwa perusahaan telah memenuhi tujuannya dan perusahaan masih berada di jalurnya. Elemen ini mencakup profit, kepuasan pelanggan, dan berbagai sumber lainnya. Six Sigma bukan semata-mata merupakan inisiatif kualitas. Six Sigma merupakan inisiatif bisnis untuk mendapatkan dan menghilangkan penyebab kesalahan atau cacat pada output proses bisnis yang penting dimata pelanggan. Six Sigma dapat dijelaskan dalam dua perspektif yaitu : 1. Perspektif Statistik Menurut perspektif ini, proses Six Sigma adalah proses yang hanya menghasilkan 3,4 DPMO (defect per million opportunity). DPMO ialah ukuran kegagalan dalam program peningkatan kualitas Six Sigma yang menunjukan kegagalan per sejuta kesempatan. DPMO tidak hanya sekedar cacat saja, namun merupakan rasio cacat dibandingkan dengan peluang jumlah kemungkinan cacat yang terjadi. 2. Perspektif Metodologi Six Sigma merupakan pendekatan menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui fase DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). DMAIC merupakan jantung analisis Six Sigma yang menjamin voice of customer berjalan dalam keseluruhan proses sehingga produk yang dihasilkan memuaskan keinginan pelanggan.

Voice of the Customer

define

measure

analyze

improve control

Institutionalization

• Define adalah fase menentukan masalah, menetapkan persyaratanpersyaratan pelanggan, dan membangun tim. • Measure adalah fase mengukur tingkat kecacatan pelanggan. • Analyze adalah fase menganalisis sebab-sebab masalah pada proses. • Improve adalah fase meningkatkan proses dan menghilangkan sebabsebab cacat. • Control adalah fase mengontrol kinerja proses dan menjamin cacat tidak muncul. Terdapat enam aspek kunci yang perlu diperhatikan dalam aplikasi konsep Six Sigma, yaitu : 1. Identifikasi karakteristik produk yang memuaskan pelanggan (sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan). 2. Mengklasifikasikan semua karakteristik kualitas sebagai CTQ (Critical To Quality) . 3. Menentukan apakah setiap CTQ itu dapat dikendalikan melalui pengendalian material, mesin, proses-proses kerja, dan lain-lain. 4. Menetukan batas maksimum toleransi untuk setiap CTQ sesuai yang diinginkan pelanggan (menentukan nilai USL dan LSL dari setiap CTQ). 5. Menentukan maksimum variasi proses atau nilai maksimum standar deviasi untuk setiap CTQ. 6. Mengubah desain produk dan proses sedemikian rupa agar mampu mencapai target Six Sigma.

7. Metodologi Tahapan-tahapan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut :

Studi Pendahuluan

Tahap Persiapan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan Data

Identifikasi Masalah Perumusan masalah pada bagian Quality Control PT. Tirta Mahakam

Studi Literatur

Batasan Masalah Tujuan penelitian
Identifikasi Data Yang Dibutuhkan Data Primer Data hasil wawancara dan survey di perusahaan Data Sekunder Data alur produksi kayu lapis, tingkat produksi kayu lapis,dan data produksi kayu lapis yang tidak sesuai/cacat selama 2008

Penentuan penyebab umum terjadinya cacat

Penentuan CTQ kunci dalam proses produksi (dengan fishbone diagram dan AHP)

Measure

T
Validasi

Y
Pengukuran produk kayu lapis yang cacat

Menentukan kapabilitas proses untuk mengetahui tingkat performansi proses produksi kayu lapis

Membuat peta kontrol (Peta-P)

In-control

T

Buang data diluar kontrol

Y
Membuat diagram pareto untuk menentukan CTQ paling potensial

Analize

A A
Menentukan stasiun kerja kritis tempat terjadinya cacat

Pengujian CTQ penyebab timbulnya cacat pada kayu lapis

Penyusunan rancangan eksperimen (DoE)

Penentuan setting level faktor

Improve

Pelaksanaan eksperimen

Control

Analisis dan interprestasi hasil eksperimen

Pelaksanaan produksi dengan kondisi setting optimal

Control

8. Relevansi Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi peneliti tetapi juga bagi pihak perusahaan dimana penelitian dilaksanakan. Adapun manfaat yang dapat diperoleh ialah : a. Memberikan alternatif agar terbentuk proses produksi yang lancar dan dapat mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas, sehingga dapat menghindari dan mengurangi cacat dari produk yang dihasilkan serta berkualitas tinggi. b. Memberikan masukan kepada perusahaan mengenai pengendalian kualitas dengan metode Six Sigma. 1. Jadwal kegiatan

Tahap Analisis Data Kesimpul an

Dari hasil pengolahan data kemudian dianalisa mengenai penyebab utama yang mengakibatkan terjadinya cacat pada produk kayu lapis

Disimpulkan hasil yang didapat dari analisis data dan memberikan saran

Penelitian dilaksanakan di bagian Quality Control PT. Tirta Mahakam Resources. Untuk menyelesaikan penelitian ini diperkirakan akan membutuhkan waktu kurang lebih 6 (enam) bulan terhitung sejak persiapan penyusunan proposal penelitian. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:
Bulan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Februari Kegiatan
Persiapan Penyusunan proposal Penyerahan proposal Seminar proposal Pengumpulan data Pengolahan data Asistensi dengan dosen pembimbing Seminar hasil Persiapan pendadaran Pendadaran

Maret

April

Mei

Juni

Juli

2. Daftar Pustaka B.N. Marbun dan Eko Henryanto. 1985. Pengendalian Mutu Terpadu. Pustaka Binaman Pressindo : Jakarta. Gaspersz, Vincent. 2001. Total Quality Management. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Hendradi, C.Tri. 2006. Statistik SIX SIGMA dengan Minitab (Panduan Cerdas Inisiatif Kualitas). Andi :Yogyakarta. Montgomery, Douglas C. 1990. Pengantar Pengendalian Kualitas Statistik. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta.

Samarinda, 27 Maret 2008 Ketua Program Studi, Yang mengusulkan,

La ode A. Safar T., ST.MT. NIP. 132.262.275

Syarifah Muthmainnah NIM : 04.45246.00200.06

Tabel Konversi DPMO ke Nilai Six Sigma Nilai Six Sigma 0 0.125 0.25 0.375 0.5 0.625 0.75 0.875 1 1.125 1.25 1.375 1.5 1.625 1.75 1.875 2 DPMO 933200 915450 894400 869700 841300 809200 773400 734050 691500 645650 598750 549750 500000 450250 401300 354350 308500 Nilai Six Sigma 2.125 2.25 2.375 2.5 2.625 2.75 2.875 3 3.125 3.25 3.375 3.5 3.625 3.75 3.875 4 4.125 DPMO 265950 226600 190800 158700 130300 105600 84550 66800 52100 40100 30400 22700 16800 12200 8800 6200 4350 Nilai Six Sigma 4.25 4.375 4.5 4.625 4.75 4.875 5 5.125 5.25 5.375 5.5 5.625 5.75 5.875 6 DPMO 3000 2050 1300 900 600 400 230 180 130 80 30 23.35 16.7 10.05 3.4

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.