1.

1 POSISI KASUS
Dalam pembuatan artikel ini saya mengambil refrensi dari kasus perusahaan PT
Lapindo di Porong sidoarjo, Jawa Timur. Menurut saya artikel ini melanggar kode etik dan
etika profesi dalam kaitannya dengan etika ekonomi dan bisnis. Oleh karena itu dengan
adanya posisi kasus kita dapet mengetahui secara jelas permasalahan yang terjadi.
PT. Lapindo Brantas merupakan penyabab utama meluapnya lumpur panas di
Sidoarjo, akan tetapi pihak Lapindo malah berdalih dan enggan untuk bertanggung jawab.
Jika dilihat dari sisi etika bisnis, apa yang dilakukan oleh PT. Lapindo Berantas jelas telah
melanggar etika dalam berbisnis. Dimana PT. Lapindo Brantas telah melakukan eksploitasi
yang berlebihan dan melakukan kelalaian hingga menyebabkan terjadinya bencana besar
yang mengakibatkan kerusakan parah pada lingkungan dan sosial.
Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan PT. Lapindo membuktikan bahwa PT. Lapindo rela
menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan. Dan keengganan PT. Lapindo
untuk bertanggung jawab membuktikan bahwa PT. Lapindo lebih memilih untuk melindungi
aset-aset mereka daripada melakukan penyelamat dan perbaikan atas kerusakan lingkungan
dan sosial yang mereka timbulkan.
Hal yang dilakukan oleh PT. Lapindo telah melanggar prinsip – prinsip etika yang ada.
Lapindo Brantas Inc. melakukan pengeboran gas melalui perusahaan kontraktor pengeboran
PT. Medici Citra Nusantara yang merupakan perusahaan afiliasi Bakrie Group. Kontrak itu
diperoleh Medici dengan tender dari Lapindo Brantas Inc. senilai US$ 24 juta. Namun dalam
hal perijinannya telah terjadi kesimpang siuran prosedur dimana ada beberapa tingkatan ijin
yang dimiliki oleh lapindo. Hak konsesi eksplorasi Lapindo diberikan oleh pemerintah pusat
dalam hal ini adalah Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP MIGAS), sementara ijin
konsensinya diberikan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur sedangkan ijin kegiatan aktifitas
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sidoarjo yang memberikan
keleluasaan kepada Lapindo untuk melakukan aktivitasnya tanpa sadar bahwa Rencana Tata
Ruang (RUTR) Kabupaten Sidoarjo tidak sesuai dengan rencana eksplorasi dan eksploitasi
tersebut.
Dalam artikel ini saya akan membahas tentang PT Lapindo yang tidak bertanggungjawab dan
melanggar etika ekonomi dan bisnis. Yang mengakibatkan banyak kerusakan, dan merugikan
banyak pihak seperti masyarakat, lembaga pemerintah, serta perekonomian negara.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Manusia berperan paling aktif dalam mengubah tatanan Lingkungan. Manusia bisa
dengan cepat mengubah Lingkungan, namun karena perbuatan manusia pula lah Lingkungan
menjadi berubah bahkan dapat berdampak merusak bagi Lingkungan maupun ekosistem
didalamnya. Hubungan manusia dengan lingkungan tidak dapat dipisahkan, karena manusia
bergantung kepada alam, pun sebaliknya, alam pun membutuhkan campur tangan manusia
untuk dipelihara sehingga tercipta satu bentuk simbiosis.
Dalam hubungan manusia dan alam, terdapat etika – etika yang perlu diperhatikan.
Namun pada kenyataannya manusia masih menyalahi etika dalam mengelola lingkungan.
Seperti halnya bencana Lumpur Lapindo yang terjadi di Porong Sidoarjo pada tahun 2007
silam. PT Lapindo Brantas dianggap melakukan pelanggaran etika dalam eksplorasi dan
eksploitasi minyak bumi dan gas.
Maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam artikel ini adalah :
1. Bagaimana pandangan etika terhadap kasus mengenai eksploitasi lingkungan hidup
yang berlebihan ?
2. Bagaimana etika PT Lapindo Brantas dalam eksploitasi dan eksplorasi migas
khususnya di Porong Sidoarjo ?
3. Apa yang seharusnya dilakukan perusahaan PT Lapindo Brantas agar permasalahan
selesai sesuai dengan etika ekonomi dan bisnis ?







1.3 ANALISA
Dari Uraian kasus diatas diketahui bahwa kelalaian yang dilakukan PT. Lapindo
Brantas merupakan penyabab utama meluapnya lumpur panas di Sidoarjo, akan tetapi pihak
Lapindo malah enggan untuk bertanggung jawab. Jika dilihat dari sisi etika bisnis, apa yang
dilakukan oleh PT. Lapindo Berantas jelas telah melanggar etika dalam berbisnis. Dimana
PT. Lapindo Brantas telah melakukan eksploitasi yang berlebihan dan melakukan kelalaian
hingga menyebabkan terjadinya bencana besar yang mengakibatkan kerusakan parah pada
lingkungan dan sosial.
Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan PT. Lapindo membuktikan bahwa PT.
Lapindo rela menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan. Dan keengganan PT.
Lapindo untuk bertanggung jawab membuktikan bahwa PT. Lapindo lebih memilih untuk
melindungi aset-aset mereka daripada menyelamatkan dan perbaikan atas kerusakan
lingkungan dan sosial yang mereka timbulkan.
Hal yang dilakukan oleh PT. Lapindo telah melanggar prinsip – prinsip etika yang
ada. Lapindo Brantas Inc. melakukan pengeboran gas melalui perusahaan kontraktor
pengeboran PT. Medici Citra Nusantara yang merupakan perusahaan afiliasi Bakrie Group.
Kontrak itu diperoleh Medici dengan tender dari Lapindo Brantas Inc. senilai US$ 24 juta.
Namun dalam hal perijinannya telah terjadi kesimpang siuran prosedur dimana ada beberapa
tingkatan ijin yang dimiliki oleh lapindo. Hak konsesi eksplorasi Lapindo diberikan oleh
pemerintah pusat dalam hal ini adalah Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP MIGAS),
sementara ijin konsensinya diberikan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur sedangkan ijin
kegiatan aktifitas dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sidoarjo yang
memberikan keleluasaan kepada Lapindo untuk melakukan aktivitasnya tanpa sadar bahwa
Rencana Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Sidoarjo tidak sesuai dengan rencana eksplorasi dan
eksploitasi tersebut.
Dampak dari luapan lumpur yang bersumber dari sumur di Desa Renokenongo,
Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur sejak 29 Mei 2006 ini telah
mengakibatkan timbunan lumpur bercampur gas sebanyak 7 juta meter kubik atau setara
dengan jarak 7.000 kilometer, dan jumlah ini akan terus bertambah bila penanganan terhadap
semburan lumpur tidak secara serius ditangani. Lumpur gas panas Lapindo selain
mengakibatkan kerusakan lingkungan, dengan suhu rata-rata mencapai 60 derajat celcius juga
bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan fisik masyarakat yang tinggal disekitar semburan
lumpur. Rusaknya lingkungan fisik tersebut sudah dirasakan berbagai pihak selama ini antara
lain
1. Lumpuhnya sektor industri di Kabupaten Sidoarjo. Sebagai mana diketahui Sidoarjo
merupakan penyangga Propinsi Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya dalam sektor
industri. Hingga kini sudah 25 sektor usaha tidak dapat beroperasi yang berakibat
hilangnya mata pencaharian ribuan karyawan yang bekerja pada sektor industri
tersebut.
2. Lumpuhnya sektor ekonomi sebagai akibat rusaknya infrastruktur darat seperti
rusaknya jalan, jalan tol dan jalur ekonomi darat lainnya seperti jalur transportasi
kereta api dll.
3. Kerugian di sektor lain seperti pertanian, perikanan darat dll. Sejauh ini sudah
diidentifikasi luas lahan pertanian berupa lahan sawah yang mengalami kerusakan,
menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Soetarto Alimoeso
mengatakan area pertanian di Sidoarjo, Jawa Timur, yang terkena luapan lumpur
Lapindo seluas 417 hektare. Lumpur telah menggenangi duabelas desa di tiga
kecamatan, tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur, menggenangi sarana dan
prasarana publik, Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas
produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja
yang terkena dampak lumpur ini, serta memindah paksakan sebanyak lebih dari 8.200
jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi.
4. Dampak sosial kehidupan masyarakat disekitar seperti sarana tempat tinggal,
pendidikan, kesehatan, sarana air bersih dll. Bahwa efek langsung lumpur panas
menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan iritasi kulit. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa lumpur tersebut juga mengandung bahan karsinogenik yang bila berlebihan
menumpuk dalam tubuh dapat menyebabkan kanker dan akumulasi yang berlebihan
pada anak-anak akan mengakibatkan berkurangnya kecerdasan.
5. Hasil uji laboratorium juga menemukan adanya kandungan Bahan Beracun dan
Berbahaya yaitu kandungan (B3) yang sudah melebihi ambang batas. Hasil uji
kualitas air lumpur Lapindo pada tanggal 5 Juni 2006 oleh Dinas Pekerjaan Umum
Propinsi Jawa Timur, menunjukkan bahwa uji laboratorium dalam air tersebut
terdapat kandungan fenol. Kontak langsung dengan kulit dapat mengakibatkan kulit
seperti terbakardan gatal-gatal. Fenol bisa berakibat menjadi efek sistemik atau efek
kronis jika fenol masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Efek sistemik fenol bisa
mengakibatkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia),
dan gangguan ginjal. Hal ini menunjukkan bahwa selain dampak kerusakan
lingkungan fisik, lumpur panas tersebut juga mengakibatkan ancaman lain yaitu efek
kesehatan yang sangat merugikan dimasa yang akan datang dan hal ini justru tidak
diketahui oleh masyarakat korban pada umumnya.
Prinsip etika bisnis mengenai keadilan distributif juga dilanggar oleh PT. Lapindo, karena
perusahaan tidak bertindak adil dalam hal persamaan, prinsip penghematan adil, dan keadilan
sosial. PT. Lapindo pun dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap sesama manusia atau
lingkungan, karena menganggap peristiwa tersebut merupakan bencana alam yang kemudian
dijadikan alasan perusahaan untuk lepas tanggung jawab. Dengan segala tindakan yang
dilakukan oleh PT. Lapindo secara otomatis juga berarti telah melanggar etika kebajikan.
Menurut saya praktik ekonomi selama ini cenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan
sering diwarnai praktik-praktik bisnis tidak terpuji. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang
semakin meluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas
sampai ke daerah-daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa di sebagian masyarakat kita telah
terjadi krisis moral dengan menghalalkan segala mecam cara untuk mencapai tujuan, baik
tujuan individu memperkaya diri sendiri maupun tujuan kelompok untuk eksistensi
keberlanjutan kelompok. Terapi ini semua adalah pemahaman, implementasi dan investasi
etika dan nilai-nilai moral bagi para pelaku ekonomi / bisnis dan para elit politik.
Epistemologi Etika Ekonomi
Etika penggunaannya sering dipertukarkan dan disinonimkan, yang sebenarnya
memiliki makna dan arti yang berbeda. Moral dilandasi oleh etika, sehingga orang yang
memiliki moral pasti dilandasi oleh etika. Demikian pula perusahaan yang memiliki etika
ekonomi pasti semua pihak perusahaan memiliki moral yang baik.
Uno (2004) membedakan pengertian etika dengan etiket. Etiket (sopan santun) berasal
dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama
menusia. Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan
cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama. Jika kata etika dikaitkan
dengan kata bisnis akan menjadi Etika Ekonomi.
Kata etik juga berhubungan dengan objek kelakuan manusia di wilayah-wilayah
tertentu, sepert etika kedokteran, etika ekonomi, etika profesional (advokat, akuntan) dan
lain-lain. Disni ditekankan pada etika sebagai objek perilaku manusia dalam bidang bisnis.
Dalam pengertian ini “etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari
perilaku yang diterima masyarakat sebagai ”baik (good) atau buruk (bad)”. Sebenarnya etika
ekonomi dan bisnis di indonesia sudah baik, mungkin pelaksaannya yang kurang baik.
Pentingnya Etika dalam Dunia Ekonomi
Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan
ekonomi dunia semakin membaik. Langkah apa yang harus ditempuh?. Didalam
ekonomi tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang
berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian,
pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang
ekonomi. Tindakan mark up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak
memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir
contoh pengabaian para pengusaha terhadap etika ekonomi. Padahal, jika sebuah perusahaan
menaati etika ekonomi dan bisnis yang ada, maka perusahaan itu akan bertahan lama dan
sukses, dari pada perusahaan yang korupsi dan menghalalkan segala cara, masyarakat tidak
akan percaya lagi bahkan enggan untuk melakukan kerjasama kembali.
Sebagai bagian dari masyarakat, tentu ekonomi tunduk pada norma-norma yang ada
pada masyarakat. Tata hubungan ekonomi dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu
membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama
pelaku ekonomi maupun etika ekonomi terhadap masyarakat dalam hubungan langsung
maupun tidak langsung. Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat
dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat
interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi berbagai negara yang
terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang kini telah berubah. Perubahan dunia itu
menuntut segera dibenahinya etika ekonomi .
Pasalnya, kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari
pertumbuhan serta perkembangan dibidang ekonomi. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-
pihak lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat, ada
pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan main dunia
usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang.

Menurut saya Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi alam seperti
minyak bumi, gas batu bara, dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan potensi yang
sangat melimpah jika sumberdaya tersebut di eksploitasi. namun bukan eksploitasi besar-
besaran yang dimaksudkan tetapi eksploitasi yang berwawasan dengan lingkungan dan sesuai
etika.
Sebaiknya kepada mereka yang berkecimpung dalam dunia industri terutama dalam bidang
pengeksploitasian sumber daya alam agar lebih berhati-hati dalam mengeksploitasi dan
memperhatikan dampak dari eksploitasi dan eksplorasi yang dilakukannya itu. Karena dapat
merugikan diri sendiri, perusahaan, masyarakat, serta negara.
Dari berbagai uraian di atas tentang kasus eksplorasi lingkungan secara berlebihan yang
dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas dapat disimpulkan bahwa :
1. Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan
ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lain.
2. Eksploitasi besar-besaran yang dilakukan PT. Lapindo membuktikan bahwa PT.
Lapindo rela menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan,
3. Kasus Lumpur lapindo ditinjau dari segi etika baik teori deontologi, utilitarisme, serta
keadialan, dinilai sangat tdk beretika karena merugikan masyarakat Porong Sidoarjo.











Sistem Ekonomi Pancasila (SEP)
Gagasan ekonom Prof. Mubyarto (UGM) sekitar tahun 1980-an.
Sebutan SEP sudah dilontarkan sebelumnya oleh Prof. Emil Salim (UI) sekitar tahun 1966
SI LA Emil Salim Mubyarto SumitroDjojohadikusumo
I
Mengenal Etika &
Moral Agama
Roda perekonomian
digerakkan rangsangan
ekonomi, sosial, &
moral
Berupaya senantiasa dekat
dengan Tuhan dengan ibadah
II
Titik berat pada nuansa
manusiawi dalam
menggalang hub.
Ekonomi dlm
perkemb. masyarakat
Ada kehendak kuat dari
masyarakat untuk
mewujudkan
pemerataan sosial
(egalitarian)
Berupaya mengurangi &
memberantas kemiskinan dlm
penataan ekonomi masyarakat
III
Membuka kesempatan
ekonomi secara adil
bagi semua
Nasionalisme menjiwai
setiap kebijakan
ekonomi
Pola kebijakan ekonomi &
cara penyelenggaraannya tdk
menimbulkan kekuatan yg
menggangu persatuan bangsa
IV
Bermuara pada
pelaksanaan demokrasi
ekonomi & politik
Koperasi merupakan
sokoguru perekonomian
& bentuk konkret usaha
bersama
Rakyat berperan &
berpartisipasi aktif dalam
usaha pembangunan
V
Memberi warna
egalitarian &social
equitydlm proses
pembangunan
Imbangan yg tegas
antara perencanaan di
tingkat nasional &
desentralisasi
Pola pembagian hasil produksi
lebih merata antar golongan,
daerah, kota-desa.

Dalam menciptakan etika ekonomi, seharusnya perusahaan PT Lapindo harus memperhatikan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Pengendalian Diri
Artinya, PT Lapindo mampu mengendalikan diri untuk tidak memperoleh apapun dari
siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan
keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan menggunakan
keuntungan tersebut. Walau keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis,
tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika
bisnis yang "etik".

2. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility)
Pelaku ekonomi disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam
bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi.
Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya,
terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll. Apalagi
kerusakan alam yang ditimbulkan PT lapindo sangatlah kompleks, seharusnya pihak
perusahaan mengganti dan memperbaiki kerusakan yang ada.

3. Menerapkan Konsep “Pembangunan Berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu
memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis
dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin
tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang
merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar. Pengeboran besar – besaran
yang dilakukan PT Lapindo merupakan eksploitasi yang berlebihan, perusahaan harusnya
memikirkan masa depan anak cucu bangsa, bukan malah menghabiskan sumber daya alam
bahkan sampai mengakibatkan bencana.

4. Menghindari Sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi
lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang
dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara. Jika
pihak perusahaan bisa menghindari 5k dengan tidak melibatkan pemerintah dalam
penggantian kerusakan yang dialami masyarakat sidoarjo, maka perekonomian bangsa akan
lebih baik. Jadi apa yang dilakukan perusahaan sudah melanggar etika, dengan melimpahkan
sebagian kesalahan pada pemerintah dan lari dari masalah yang mreka perbuat. Akibatnya
perekonomian negara menurun.


5. Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap
orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya
semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun
pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas
semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu. PT lapindo harusnya konsekuen
dan konsisten dengan apa yang sudah mereka lakukan, dan harus ada itikat baik untuk tidak
melanggar etika profesi dan kode etik yang berlaku.

6. Memelihara Kesepakatan
PT Lapindo harus dapat Memelihara kesepakatan atau menumbuh kembangkan Kesadaran
dan rasa Memiliki terhadap apa yang telah disepakati adalah salah satu usaha menciptakan
etika bisnis. Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu
ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.


DAFTAR PUSTAKA

http://pelangianggita.blogspot.com/2012/01/contoh-pelanggaran-kasus-kode-etik.html
http://adityacrosmogear.blogspot.com/2013/10/artikel-kasus-pelanggaran-etika-bisnis.html
http://adey-am20.blogspot.com/2010/11/contoh-kasus-ptikpp-dinilai-melanggar.html
http://marsellabenifa16.blogspot.com/2013/11/contoh-kasus-pelanggaran-etika-bisnis.html
http://kesmasuh.blogspot.com/2013/05/makalah-etika-bisnis-kasus-pt-lapindo.html
http://restieokti.blogspot.com/2012/10/kasus-lapindo-sebagai-suatu-bisnis-tak_26.html