AGAMA DAN KEKUASAAN

Hubungan kekuasaan dan agama pada mulanya penuh dengan selubung mitologi yang menjadi penafsir berbagai peristiwa politik sekaligus sebagai legitimator berbagai langkah penguasa Ketundukan total (disertai perasaan takut) pada kekuasaan seperti ini mengantar pada kondisi di mana kekuasaan menjadi sakral dan suci secara religius. Penguasa dalam konteks ini adalah penghubung antara yang ada di bumi dengan yang ada di langit. Karenanya kekuasaannya menjadi mutlak dan eternal

Dalam masyarakat modern pun kekuasaan tak pernah steril dari pengaruh religiusitas, kendati terus diminimalisir dengan berbagai gerakan sekularisasi Luc de Heucsh (1962): ilmu politik lahir dari sejarah perbandingan agama-agama Menurut filsafat politik Marx hadir dualisme dalam masyarakat bernegara; yang sakral (the sacred) dan yang duniawi (the profane), yang beroposisi satu sama lain

Kesadaran akan keterbatasan kekuatan dalam pengendalian pemerintahan dan kedaulatan pada akhirnya membutuhkan sakralitas kekuasaan demi dua hal

Niscayanya keamanan, kesejahteraan dan kelanggengan kekuasaan Bekerjanya tata aturan secara efektif demi menunjukkan besarnya kekuasaan

Karenanya, agama bisa menjadi perangkat kekuasaan, sebuah jaminan akan legitimasi kekuasaan, satu dari cara-cara yang dipergunakan dalam pertarungan politik

Penggunaan yang sakral bila diarahkan untuk tujuan politik, tampil dalam dua aspek kontradiktif;
 

memperkuat tata aturan sosial yang ada mengabsahkan ambisi dalam merebut kewenangan/kekuasaan

Hubungan yang dibangun antara kekuasaan politik dan yang sakral secara jelas tampil dalam aspek mitologi Menurut Malinowski mitologi adalah piagam sosial sebagai perangkat yang dimanipulasi oleh para pemegang kekuasaan, privelese dan kekayaan Mitos-mitos memiliki fungsi ganda;
 

Menjelaskan tata aturan yang ada dalam pengertianpengertian historis Memberi pembenaran dan basis moral pada tata aturan tersebut

Mitos demikian cocok dengan posisi-posisi dominan dari sekelompok elit yang dapat membantu mereka melanggengkan situasi superioritasnya

MILLENARIANISME

Legitimasi dan basis nilai agama ternyata tidak hanya dimanfaatkan oleh para penguasa, namun para penentang kekuasaan pun menyematkan agama sebagai basis moral gerakan perlawanan mereka Pada beberapa masyarakat tertindas dan masih bersifat arkhaik, ideologi agama adalah basis penting dalam menggerakkan perlawanan mereka dalam bingkai millenarianisme atau messianisme

Gerakan millenarian (ratu adil) mewujud sebagai gerakan keagamaan yang merupakan penolakan terhadap situasi yang ada sembari mengharapkan hadirnya ratu adil yang akan menciptakan masyarakat ideal dan romantis, tiada lagi pertentangan, ketidakadilan dan penderitaan, serta tidak akan ada penyakit dan pencuri Gerakan millenarian demikian mampu membangkitkan daya potensi revolusioner dalam menolak, mencegah atau menghilangkan pengaruh buruk kekuasaan yang ada.

Millenarianisme adalah gerakan yang mencitacitakan diakhirinya ketidakadilan dan dipulihkannya keharmonisan Namun sebelum hal itu terwujud, akan didahului atau ditandai dengan bencana alam, dekadensi moral dan kemelaratan masyarakat Ciri-ciri yang menonjol dari gerakan millenaristis pada hakekatnya adalah persamaan, homogenitas, tak bernama, dan tidak memiliki harta benda Sedang tujuan dari aliran ini adalah melahirkan negara yang sempurna, semua anggota masyarakat berstatus sederajat, kedudukan sosial dihapus, dan kepatuhan mutlak pada pimpinan

Di jawa, gerakan millenarian ini tampak dalam gerakan-gerakan radikalisme agraria yang menurut Sartono Kartodirdjo adalah gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlaku, dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang punya hak istimewa atau yang berkuasa, dimana gerakan ini menarik pengikutnya dari kaum tani Karenanya, radikalisme agraria merupakan bagian dari gerakan ratu adil yang bersifat revolusioner

Kehancuran sistem ekonomi politik tradisional dan terjadinya disintegrasi kebudayaan sering disebut sebagai sebab umum munculnya gerakan ratu adil Seperti dimaklumi, identitas budaya kaum tani terikat secara tidak terpisahkan dengan agama mereka, sehingga mereka akan cenderung mempertahankan identitas tersebut apabila diancam oleh nilai-nilai asing. Oleh karenanya, radikalisme agraria harus pula dianalisis didalam sorotan persaingan untuk memperoleh kese-tiaan kaum tani