3

Oleh : Ma'ruf Solihin M. Abu Dzar Dosen: Khaeron Sirin, M.A.

Fak. Syari'ah Al-Ahwal Al-Syakhsiyah VI INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU ALQUR'AN (IPTIQ) 2009
PENDAHULUAN Kelahiran membawa beberapa akibat hukum yaitu timbulnya hak dan kewajiban bagi dirinya dan orang lain yang ada disekitarnya seperti orang tua, kerabat dan masyarakat sekitar. Ketika hidup seseorang bertindak sebagai penanggung jawab hak dan kewajiban, baik selaku pribadi, anggota keluarga, warga Negara dan pemeluk agama yang harus tunduk, taat dan patuh kepada

ketentuan syari’at dalam seluruh kehidupannya. Demikian juga kematian seseorang, akan membawa pengaruh dan akibat hukum terhadap orang-orang yang ditinggalkanya. Misalnya hukum-hukum yang menyangkut harta waris, para ahli waris dan segala sesuatu yang menyangkut harta waris tersebut. Adanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu hukum yang menyangkut bagaimana penyelesaian harta waris. Ilmu ini dikenal dengan ilmu fara’id. Syari’ah Islam mengatur ilmu fara’id ini sedemikian rupa, sehingga nyatalah bahwa syari’ah Islam merupakan produk hukum yang sangat komprehensif. Di dalamnya mengatur masalah-masalah individu (perdata) dan masyarakat pada umumnya (pidana), sehingga pantaslah apabila seorang guru Nasrani (Koptik), Prof. Dr. Sulaiman Marcos, Guru Besar Hukum Perdata Universitas Kairo mengakui bahwa; “Dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, keduaduanya adalah sumber terpenting Syari’ah Islamiyah, terdapat banyak dasar-dasar hukum perdata dan pidana, termasuk di dalamnya hukum-hukum jasmaniah. Ahliahli hukum Islam telah membahas hukum-hukum tersebut dengan luas dan terperinci, dan membagi-bagi penyelesaian hukum, sehingga syari’ah Islam itu telah menjadi suatu pengaturan hukum yang sempurna, menandingi sebaik-baik perundang-undangan, bahkan diantaranya ada yang melebihi perundang-undangan yang paling mutakhir.1 Demikian halnya dengan waris. Para ulama telah membahas secara panjang lebar dan terperinci. Untuk lebih jelanya, makalah ini membahas mengenai ilmu waris tersebut dengan mengkhususkan kepada pembahasan “Penyelesaian warisan orang punah dan Kewarisan kakek bersama saudarasaudara.” Dalam “Penyelesaian warisan orang punah” akan dibahas mengenai ketentuan memberi waris kepada orang yang punah dan beberapa contoh masalah dan penyelesaiannya. Sedangkan dalam “Kewarisan kakek bersama saudara1 Ali Ali Mansur, Syari’at Islam dan Hukum Internasional Umum. Penerjemah Muhammad Zein Hassan (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h.16.

5

saudara” akan dibahas mengenai kakek sahihah, ketentuan hukumnya, membagi waris dengan muqasamah dan cara membaginya. Berikut penjelasan masalahmasalah tersebut.

PEMBAHASAN A.Memberi Waris Kepada Orang Hilang 1.Ketentuan Memberi Waris Kepada Orang Hilang Bila terjadi seseorang tenggelam, terbakar, atau terbunuh bersama-sama antara pewaris dan muwarisnya, kaidah dalam memberikan warisan kepada mereka adalah dengan memperhatikan para korban, mana yang lebih dahulu meninggal. Keadaan mereka memiliki keadaan: a.Diketahui dengan pasti kalau salah seorang dari mereka meninggal belakangan, maka dia berhak untuk mendapat waris dari dia yang meninggal lebih dahulu, dan tidak sebaliknya. b.Diketahui jika mereka seluruhnya meninggal berbarengan, maka mereka tidak akan saling mewarisi satu sama lainnya. c.Tidak diketahui bagaimana mereka meninggal, apakah meninggalnya satu persatu atau berbarengan. Maka mereka tidak saling mewarisi. d.Diketahui jika meninggalnya mereka berurutan, akan tetapi tidak diketahui dengan pasti siapa yang meninggal terakhir diantara mereka, maka dalam keadaan inipun mereka tidak akan saling mewarisi. e.Diketahui siapa yang terakhir meninggal, namun kemudian dilupakan, maka dalam keadaan inipun mereka tidak akan saling mewarisi. Dalam empat keadaan terakhir mereka tidak saling mewarisi, dengan demikian harta dari setiap mereka hanya dibagikan kepada ahli warisnya yang masih hidup saja, tidak dengan mereka yang meninggal berbarengan.1
1 Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijry, Hukum Waris. Penerjemah Team

Dengan demikian, maka hukumnya lebih jelas, yaitu orang yang meninggal kemudian dapat mewarisi orang yang meninggal duluan apabila keduanya termasuk ahli waris . 2 Adapun bila kedua orang saudara mati bersama-sama dan tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal, para ulama berbeda pendapat siapa yang mewarisi kepada yang lain? Dalam hal ini ada dua pendapat: a.Mereka berdua tidak saling mewarisi satu dengan yang lainnya. Yang dapat mewarisi adalah para ahli waris mereka yang masih hidup saja. Jadi harta peninggalan masing-masing dari mereka diberikan kepada ahli waris mereka yang masih ada. Ini merupakan kesepakatan pendapat para imam mazhab, kecuali satu riwayat dari imam Hambali.3 alasannya adalah: 1)sebab-sebab memperoleh waris bagi satu pihak dari pihak lain belum diketahui secara pasti, padahal hak untuk memiliki itu harus dibina atas sesuatu yang meyakinkan. Oeh karena itu, sesuatu yang belum meyakinkan tidak dapat digunakan untuk menetapkan adanya hak milik, sebab tetapnya hak milik tidak dapat terwujud karena adanya syak (belum pasti). 2)Tidak diketahui atau tidak ada jalan untuk mengetahui siapakah diantara keduanya yang mati lebih dahulu dan siapa yang mati kemudian sehingga harus dianggap bahwa keduanya meninggal bersama-sama. b.Mereka berdua dapat saling mewarisi satu sama lain terhadap harta benda yang ada pada mereka, bukan yang mereka warisi dari salah satu pihak. Ini adalah pendapatnya Ali bin Abi Thalib r.a. kemudian diikuti oleh Syuraih dan As-Sya’by. Imam Ahmad bin Hambal sependapat dengan Ali , Atha’, Al-Hasan dan Ibn Laila dengan syarat selama tidak saling mengakui antara ahli waris mereka masing-masing tentang terakhirnya kematian muwaris mereka. Akan tetapi, kalau ahli waris tersebut saling mengakui terakhirnya
Indonesia (Riyad:Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2007), h.27 2 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), h.161 3 Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Dimasyqi’, Fiqih Empat Mazhab (Bandung: Hasyimi, 2004), h.324

7

kematian muwarisnya tanpa bukti atau tanpa bukti, tetapi saling ditolak oleh masing-masing pihak, maka dalam keadaan semacam ini beliau sependapat dengan pendapat mazhab pertama yang bersumber dari Zaid bin Tsabit. 4 2.Beberapa contoh masalah dan

penyelesainnya. Seorang suami dan istri meninggal dunia besama-sama dengan meninggalkan uang masing-masing Rp 40.000.000,00 dan meninggalkan ahli waris masing-masing seorang anak laki-laki. Cara penyelesaiannya adalah: a.Menurut pendapat Zaid Bin Tsabit; 1)Anak laki-laki dari suami menerima Rp 40.000.000,00 secara ashabah 2)Anak laki-laki dari istri menerima Rp 40.000.000,00 secara ashabah juga. Adapun suami tidak mewarisi harta peninggalan si istri dan sebaliknya si istri juga tidak dapat mewarisi harta peninggalan suami. b.Menurut Ali Bin Abi Thalib; 1)Suami mewarisi ¼ fard dari harta peninggalan istri, yaitu: ¼ x Rp 40.000.000,00 = Rp 10.000.000,00 2)Istri mewarisi 1/8 fard dari harta peninggalan suami, yaitu: 1/8 x Rp 40.000.000,00 = Rp 5.000.000,00 Jadi, harta peninggalan suami seluruhnya adalah Rp 40 jt – Rp 5 jt + Rp 10 jt = Rp 45 jt. Sedangkan harta peninggalan istri seluruhnya adalah Rp 40 jt – Rp 10 jt + Rp 5 jt = Rp 35 jt. Dengan demikian, anak laki-laki suami mendapat: Rp 45 jt dan anakanak istri mendapat Rp 35 jt..5
4 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.162 5 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.163

B. Kewarisan Kakek Bersama Saudara 1. Definisi Kakek Shahih dan Fasid Kakek shahih adalah kakek yang nisbahnya dengan si mayit murni jalur laki-laki, tidak melalui jalur perempuan. Seperti ayahnya ayah (kakek dari ayah) dan seterusnya ke atas. Jika dalam nisbahnya dengan si mayit terdapat sosok perempuan, maka ia disebut kakek fasid. Seperti ayahnya ibu (kakek dari ibu). Demikian juga ayah dari ibunya ayah (ayahnya nenek/ buyut) termasuk kakek fasid. 6 Masalah ini muncul manakala kakek mewarisi bersama-sama dengan beberapa orang saudara laki-laki sekandung, baik bersama saudara sekandung perempuan maupun tidak, apabila mereka tidak mewarisi bersama-sama dengan anak-anak, cucu laki-laki dari garis laki-laki, dan bapak. Demikian pula apabila kakek bersama-sama dengan seorang atau beberpa orang saudara laki-laki sebapak baik bersama saudara perempuan sebapak maupun tidak, apabila tidak ada anak laki-laki, cucu laki-laki dari garis laki-laki, bapak, dan saudara laki-laki sekandung. 7 2. Ketentuan Hukum Baik Al-Qur’an maupun hadist tidak menjelaskan hukum waris kakek yang shahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka sangat takut untuk memberikan fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibn Mas’ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan; “Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakek yang sahih dengan saudara.” Pernyataan serupa juga pernah ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: “Barang siapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka jahanam, maka
6 M. Ali Al-Shabuni, Al-Mawarits fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah. Penerjemah Hamdani Rasyid (Jakarta: Dar Al-Kutub, 2005), h.120 7 Suparman Usman dan Yusuf Somawinata, Fiqih Mawris: Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008), h.133

9

hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang shahih dengan para saudara.” Kekhawatiran dan kehati-hatian mereka dalam masalah ini tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur’an ataupun hadist nabi yang menjelaskanya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi disisi lain, ijtihad ini sangat menghawatirkan mereka, karena jika keliru berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memebrikan hak waris kepada orang yang sebenarnya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hokum tentang hak kepemilikan, mereka sangat takut kalau berlaku zalim dan aniaya. 8 Kelihatannya, perbedaan pendapat tentang hak kakek dan saudara sekiranya sama-sama mewarisi, merupakan perbedaan yang paling luas yang pernah terjadi di masa sahabat. Demikian luasnya perbedaan ini sehingga sementara orang meriwayatkan bahwa Umar pernah membuat seratus keputusan yang berbeda. Sebagian lagi meriwayatkan bahwa Umar pernah berkata: “Orang yang paling dekat (ajra ukum) dengan neraka adalah orang yang paling mudah berfatwa tentang hak saudara dan kakek ketika bersamasama menjadi ahli waris.” Beberapa pendapat sahabat yang dihimpun oleh Ibn Hazm tentang maslah ini: a.Tidak memberikan fatwa. Ibn Hazm menisbahkan pendapat ini kepda Umar, Ali, Ibn Umar, Said ibn Zabir dan kemudian diikuti oleh Qadi Syuraih dan Muhammad Ibn Hasan (menjelang akhir hayatnya) dri kalngan ulama mazhab. Ucapan Umar di atas merupakan selogan yang digunakan untuk menguatkan arah yang dipilih ini. b.Tidak ada aturan pasti yang berlaku umum. Masalah ini diserahkan kepada kebijaksanaan khalifah dengan mempertimbangkan kedaan masing-masing kasus. Pendapat ini dinisbahkan kepada: Zaid Ibn Sabit, Ibn Mas’ud, Umar dan Usman. Ibn Mas’ud pernah ditanya tentang masalah ini. Lalu beliau menjelaskan perbedaan pendapat yang ada dan berkata; “Kami hanya
8 ------------------, Penerjemah A.M. Basalamah (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h.85

megikuti keputusan yang diberikan oleh pemimpin.” Perndapat ini ingin menonjolkan kemaslahatan sesuai dengan kasus yang terjadi. c.Kakek terhijab. Semua warisan menjadi hak saudara dan kakek terhijab. Pendapat ini dinisbahkan kepada Zaid yang menyampaikannya dalam musyawarah yang diadakan Umar. 9 d.Berbagi rata sampai batas tertentu. Kakek akan berbagi rata dengan saudara sampai batas sepertiga belas warisan. Setelah ini bagian kakek tidak boleh lagi dikurangi. Pendapat ini dinisbahkan kepada Abu Musa. Kakek akan berbagi rata sampai batas seperdelapan. Ibn Abbas ketika berada di Bashrah (sebagai gubernur) menyurati Ali, yang sedang menjadi khalifah, tentang kewarisan yang terdiri atas tujuh saudara dan kakek. Ali menjawabnya; “Bagi ratakan anatar mereka tetapi jangan terapkan pada kasusu yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jumlah saudara tersebut adalah enam orang, jadi berbagi rata itu sampai batas sepertujuh. Riwayat ini memberikan kesan bahwa Ibn Abbas tidak mempunyai pendapat sendiri sekiranya terjadi perebutan antara kakek dan saudara. Dengan demikian, beliau menganggap kakek sebagai pengganti ayah hanyalah ketika mewarisi bersama-sama dengan keturunan, dan menjadi ragu-ragu ketika kakek mewarisi bersama-sama dengan saudara. Kakek akan berbagi rata sampai batas seperenam. Pendapat ini dinisbahkan kepada Umar karena ia pernah mengirim surat yang isinya seperti itu kepada gubernur-gubernurnya. e.Saudara terhijab oleh kakek. Dalam pendapat ini kakek betul-betul menjadi ahli waris pengganti ayah. Ibn Hazm menisbahkan pendapat ini kepada Abu Bakar, Umar, Usman, Ali Ibn Mas’ud, Abu Musa, Ibn ‘Abbas, Ibn Zubair, Muaz Ibn Jabal, ‘A’isyah dan beberapa yang lain. Dari kalngan Imam mazahab, pendapat ini diikuti oleh Imam Abu Hanifah,

9 Al Yasa Abu Bakar, Ahli Waris Sepertalian Darah: Kajian perbandingan Terhadap Penalaran Hazairan dan Penalaran Fikih Mazahab (Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), 1998), h.161.

11

Dawud al-Zahiri dn Ibn Hazm sendiri. 10 Ar-Rabi memberitakan kepada kami, ia berkata: “Asy Syafi’I rahimahullah Ta’ala berkata: “Apabila seorang laki-laki meninggal dan ia meninggalkan seorang saudara seayah dan seibu dan seorang kakek, maka Abu Hanifah rahimahullah Ta’ala berkata: “Seluruh hartanya untuk kakek karena ia dalam kedudukan ayah dalam setiap warisan. Demikian juga sampai kepada kami dari Abu Bakar Shiddiq dan dari Abdullah bin Abbas, Aisyah Ummul Mu’minin, Abdullah bin Zubair bahwasannya mereka berkata: “Kakek itu pada kedudukan ayah apabila ia tidak mempunyai ayah. Ibnu Abi Laila berkata tentang kakek dengan perkataan Ali bin Abi Thalib ra : “Saudara mendapat separoh dan kakek mendapat separoh”. Demikian juga Zaid bin Tsabit dan Abdullah dan Ma’ud berkata dalam kedudukan ini. 11 Di Indonesia, Hasbi Ash Shiddieqi memberikan pendapat yang berbeda. Menurut beliau, piliha untuk kakek hanya dua macam saja, yaitu yang paling menguntungkan antara : (a) mengambil saham seperenam sebagai zawi alfurud atau (b) dianggap sekedududkan dan berbagi rata dengan saudara (sebagai ashabah). Mengenai penghijaban saudara seayah, haus diperhatikan sejak awal, keika menentukan saham. Jadi kehadiran saudara seayah tidak akan mengurangi perolehan kakek. Hasbi tidak menyebutkan alas an atau sumber pengambilannya. Namun ada kemungkian dikutip dari undang-undang kewarisan Mesir. 12 Fatchurrahman menyatakannya sebagai pendapat Ali bin Abi Thalib yang tidak diikuti oleh sebuah mazhab pun. 13 3. Membagi waris dengan Muqasamah Muqasamah secara bahasa merupakan bentuk mufa’alah dari kata qismah.
10 Al Yasa, Ahli Waris Sepertalian Darah, h. 163 11 Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’I, Al-Umm. Penerjemah Ismail Yakub, dkk. (Jakarta: CV Faizan, 1992), h. 372 12 Pasal 22 Undang-Undang Mesir no. 77 tahun 1943, memuat aturan yang semakna dengan pendapat ini. Lihat, Sayyid Hasan al-Baggal, Mudawwanat at-Tasyri’at al-Masriyyah, alam al-Kutub, Kairo, 1979, h. 169. 13 Fatchurrahman, Ilmu Waris (Bandung: Al-Ma’arif, 1971),cet.ii h.281

1 1

Tuqasimuni dan uqasimuka adalah bentuk kata kerja yang menunjukan adanya kerja sama (al-musyarakah) anatara dua orang atau lebih, seperti kata qatala, khaashama dan dharaba. Yang dimaksud kata muqasamah adalah perbuatan saling bekerja sama dalam hal pembagian. Muqasamah menurut istilah ulama ahli ilmu waris adalah kerja sama atau persekutuan anatara saudara laki-laki atau perempuan, baik saduara kandung maupun seayah, dan kakek berkaitan dengan harta warisan. Dalam pembagian warisan antara kakek dan saudara si mayit, kakek diperlakukan seperti saudara laki-laki dan bagian yang diterima kakek sama dengan dua bagian saudara perempuan. 14 Muqasamah artinya menganggap kakek sebagai saudara laki-laki sekandung dan memperoleh bagian sebagaimana halnya saudra laki-laki kandung dan memperoleh bagian dua kali lipat jika mewarisi bersama saudara perempuan. a.pembagian muqasamah lebih baik bagi kakek dari lima hal, yaitu: 1)kakek dengan saudara perempuan sekandung. 2)Kakek dengan dua orang saudara perempuan sekandung. 3)Kakek dengan tiga orang saudara sekandung. 4)Kakek dengan saudara laki-laki sekandung. 5)Kakek dengan saudara laki-laki dan perempuan sekandung. b.kakek mendapat bagian yang sama antara muqasamah dan sepertiga dalam tiga keadaan, yaitu: 1)kakek dengan dua saudara laki-laki sekandung. 2)Kakek dengan empat saudara perempuan sekandung. 3)Kakek dengan saudara laki-laki sekandung dan dua orang perempuan sekandung. c.pembagian sepertiga harta lebih baik bagi kakek jika dalam keadaan sbb; 1)kakek dengan tiga saudara laki-laki atau lebih. 2)Kakek dengan lima saudara perempuan atau lebih.
14 Muhammad Thaha Abul Ela Khalifah, Pembagian Warisan Berdasarkan Syari’at Islam. Penerjemah Tim Kuwais Media Kreasindo (Solo: Tiga Serangkai, 2007), h. 233

13

3)Kakek dengan dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan atau lebih. 15 4. Cara membagi waris dengan muqasamah a. Pendapat Zaid bin Tsabit r.a. harta kakek bersama saudara-saudara dalam dua keadaan, yaitu. 1)Jika kakek hanya mewarisi bersama dengan saudara-saudara atau saudarisaudari, baik sekandung maupun seayah saja, kakek mendapat bagian yang lebih baik diantara dua jalan: a)Muqasamah, seolah-olah dia tergolong saudara b)Menerima sepertiga seluruh harat pembagian. Contoh; 1.1seorang meninggal, ahli warisnya terdiri atas kakek dan saudara. Harta peninggalanya Rp 6.000.000,00. bagian masing-masing adalah cara muqasamah, Ahli Waris Kakek Saudara Fard Muqasamah Muqasamah Asal Masalah (2) Sahamnya=1 Sahamnya=1 Penerimaannya ½ x Rp 6.000.000, = Rp 3 jt ½ x Rp 6.000.000, = Rp 3 jt

1/3 Peninggalan; Ahli Waris Kakek Fard 1/3 Asal Masalah (3) Penerimaannya

Sahamnya= 1/3 x 1/3 x Rp 6.000.000, = Rp 3 =1 Rp 2.000.000 3-1=2 2/3 Rp 6 jt = Rp 4 jt

Saudara

asabah

1.2seorang meninggal dunia dengan ahli waris terdiri atas kakek dan 2 orang saudara. Harta peninggalannya sebidang tanah seluas 18 ha. Bagian masing-masing adalah;
15 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.171.

dengan muqasamah; Ahli Waris Kakek 2 sdr. Fard muqasamah muqasamah Asal Masalah (3) Sahamnya=1/3 Sahamnya= 2/3 Penerimaannya 1/3 x 18 ha = 6 ha 2/3 x 18 ha = 12 ha

Dengan 1/3 bagian; Ahli Waris Kakek 2 sdr. Fard 1/3 ashabah Asal Masalah (3) Penerimaannya

Sahamnya= 1/3 x 1/3 x 18 ha = 6 ha 3= 1 Sahamnya= 3-1=2 2/3 x 18 ha = 12 ha

b. Pendapat Ali bin Abi Thalib r.a. 1) bila kakek bersama dengan saudara-saudara atau saudari-saudari sekandung atau seayah, kakek membagi sama (muqasamah) bersama mereka dengan menempatkan dirinya seolah-olah sebagai saudara kandung jika kebetulan bersama saudara kandung atau sebagai saudara seayah jika bersama-sama dengan saudara-saudara seayah. Cara mempusakainya dengan jalan ashabah, yaitu laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat bagian perempuan bila keadaannya bersama saudara. Hal ini dijalankan selagi muqasamah it lebih baik bagi kakek daripada ia menerima fard 1/6, atau sekurang-kurangnya memiliki penerimaan yang sama besar diantara keduanya. 16 Apabila dengan cara muqasamah, penerimaannya lebih kecil daripada menerima 1/6 hata peninggalan, memberikan fard 1/6 harta lebih baik daripada bermuqasamah. Jadi, sekiranya dengan jalan ini lebih menguntungkan, ia harus diberikan secara fard 1/6 harta peninggalan dan sisanya yang 5/6 diberika ekepada saudara-saudari dengan jalan ashabah. Contoh;
16 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.179

15

1.1muqasamah lebih baik daripada menerima fard 1/6 harta peninggalan; seorang meninggalkan ahli waris yang terdiri atas; kakek dan saudara, atau kakek dan 2 saudara, atau kakek dan 3 saudara, atau kakek dan 4 saudara. Dalam contoh kasus tersebut, kakek akan mendapat ½, 1/3, ¼, atau 1/5 harta peninggalan. 1.2muqasamah sama dengan menerima fard 1/6 harat peniggalan; seorang meniggalkan ahli waris yang tediri atas; kakek dan 5 saudara, atau kakek, saudara dan 8 saudara. Karena dalam contoh pertama, jumlah yang menerima waris 6 orang sehingga kakek mendapat 1/6 harta peninggalan, dan dalam contoh berikutnya jumlah penerima waris ada 12 sehingga kakek 2/12 (1/6) harta peninggalan, maka dengan jalan kakek bermuqasamah dengan saudarasaudara maupun dengan jalan menerima fard 1/6, hasil yang diperolehnya adalah sama. 1.3muqasamah lebih kecil penerimaannya daripada menerima fard 1/6 harta peninggalan: yaitu apabila kakek mewarisi bersama-sama dengan 6 orang saduara atau lebih. Kalau didahulukan muqasamah, kakek hanya menerima 1/7 harta peninggalan atau lebih kecil lagi, sedangka kalau dieri fard 1/6 harat peninggalan, ia kan menerima 1/6 nya. Penerimaan fard 1/6 ini lebih menguntungkan baginya daripada muqasamah. Oleh karena itu, ia harus diberikan 1/6 secara fard. 2)bila kakek besama-sama dengan saudari-saudari munfariddah
17

, kakek

mendapat sisa setelah para ashabul furud (saudari-saudari) mengambil fard mereka dengan syarat, mempusakai dengan ashabah tidak menyebabkan penerimaannya lebih kecil daripada menerima 1/6 secara fard. Bila hal ini terjadi ia harus diberikan bagian 1/6 harta peninggalan secara fard dan sisanya diberikan kepada saudari-saudari. Dalam keadaan demikian, kakek tidak dianggap sebagai saudara laki-laki untuk bermuqasamah dengan
17 saudari-saudari yang tidak berdampingan dengan laki-laki pengashabah bil ghair (saudara laki-laki), atau tidak berdampingan dengan perempuan pengashabah ma’al ghair (anak perempuan)

mereka. Contoh; a)Penerimaan secara ashabah lebih besar daripada secara fard 1/6 Seorang meninggal, ahli warisnya terdiri atas kakek, saudari sekandung, dan saudara seayah. Harta peniggalannya Rp 12.000.000,00. bagian masing-masingnya adalah; Dengan jalan Ashabah Ahli Waris Saudara kandung Saudari Seayah Kakek Fard ½ 1/6 Ashabah bi nafsi Asal Masalah (6) Penerimaannya

Saham = ½ x 6 = 3/6 x Rp 12 jt = Rp 6 jt 3 Saham = 1/6 x 6 = 1/6 x Rp 12 jt = Rp 2 jt 1 6-4 = 2 2/6 Rp 12 jt = Rp 4 jt

Jika dengan jalan diberi 1/6 secara fard, ia akan menerima: 1/6 x Rp 12 jt = Rp 2 jt 3)bila kakek disamping bersama dengan saudara-saudara maupun saudarisaudari kandung atau seayah bersama dengan ashabul furud selain anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, maka setelah ashabul furud diambil fardnya, kakek bermuqasamah dengan saudara-saudara atau saudari-saudari, dengan ketentuan bila muqasamah lebih baik baginya daripada Contoh: Seorang meninggal, ahli warisnya terdiri atas suami, kakek dan saudra kandung. Harta peninggalannya sejumlah Rp 24 jt. Bagian masing-masingnya adalah: Dengan jalan muqasamah: menerima 1/6 secara fard. Apabila muqasamah tidak menguntungkan baginya, ia harus diberi 1/6 secara fard. 18

18 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.182

17

Ahli Waris suami Kakek Sdr Kandng

Fard 1/2 muqasamah muqasamah

Asal Masalah (6)

Penerimaannya

Sahamnya=1/2x2=1 1/2xRp 24 jt= Rp 12 jt 1 1 1/2x Rp 12 jt= Rp 6 jt 1/2x Rp 12 jt= Rp 6 jt

Dengan jalan 1/6 fard; 19 Ahli Waris suami Kakek Sdr Kandng Fard 1/2 1/6 asabah Asal Masalah (6) Penerimaannya

Sahamnya=1/2x2=1 1/2xRp 24 jt= Rp 12 jt Sahamnya=1/6x6=1 1/6x Rp24jt=Rp 4jt 6-4=2 2/8 x Rp 24 jt = Rp 8 jt

4) Bila kakek disamping bersama-sama dengan saudara-saudara maupun saudari-saudari juga bersama dengan far’u waris muannas, seperti anak perempuan dan ccu perempuan dari anak laki-laki, maka far’u waris menerima sesuai dengan fard-fardnya. Kakek mendapat 1/6 secara fard dan sisanya untuk saudara-saudara atau saudari-saudari secara ushubah. Dalam keadaan bersama-sama dengan anak-anak perempuan, selamanya kakek berkedudukan sebagai ashabul furud. Ia tidak dapat berfungsi sebagai ashabul furud dan ashabah. Apabila ia berfungsi sebagai ashabah dalam keadaan bersama-sama dengan far’u waris, kedudukannya sama dengan ayah, yaitu ashabul furud dan ashabah. Kalau hal ini dibenarkan, ia akan megambil sisa setelah diambil fard anak-anak perempuan dan dia sendiri dengan menggunakan hak ashabahnya. Akibatnya saudari-saudari tidak mendapatkan sisa sedikitpun. Oleh karena itu, dalam keadaan semacam ini, kakek ditetapkan sebagai ashabul furud saja.
19 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.186

Contoh: Seorang meninggal dengan ahli waris terdiri atas ibu dan anak perempuan, kakek dan 3 saudara sekandung. Harta peninggalannya Rp 36 jt. Bagian masing-masing adalah: Ahli Waris Ibu Anak Pr. Kakek 3 Sdr kandg Fard 1/6 1/2 1/6 Asabah bil ghair Asal Masalah (6) 1/6 x 6 = 1 ½x6=3 1/6 x 6 = 1 6-5 = 1 Penerimaannya 1/6 x 36 jt = 6 jt 3/6 x 36 jt = 18 jt 1/6 x 36 jt = 6 jt 1/6 x 36 jt = 6 jt

d.Abdullah bin Mas’ud r.a. Beliau berpendirian sama dengan pendirian Zaid bin Tsabit. Hanya dalam keadaan kakek bersama-sama dengan saudari-saudari mufariddah, ia sependapat dengan Ali bin Abi Thalib, yaitu kakek mewarisi sisa atas dasar sebagai ashabah setelah saudarai-saudarai dan para ashabah furud yang lain mengambil fardnya masing-masing. Menurut Ali r.a. bagian kakek tidak boleh dikurangi dari 1/6 harta peninggalan, sedangkan menurut Ibn Mas’ud r.a., bagian kakek itu tidak boleh kurang dari 1/3 harta peninggalan. Dengan demikian, jika kakek dalam bermuqasamah akan menerima bagian kurang dari 1/3 harta peninggalan, ia harus diberi 1/3 harta peninggalan. Ini didasarkan pada analogi bahwa bagian kakek yang bersama-sama dengan anak-anak perempuan saja tidak kurang dari 1/3 harta peninggalan, apalagi bila ia bersama-sama dengan saudarisaudari pewaris, sebab hubungan nasab si anak dengan leluhurnya lebih kuat daripada hubungan nasab saudara dengan saudaranya. 20 KESIMPULAN Perbedaan pendapat diantara para ulama dalam permasalahan tersebut di
20 Dian Khairul Umam, Fiqih Mawaris, h.188

19

atas merupakan refleksi kekhawatiran mereka terhadap makna sesungguhnya dari keterangan yang ada dalam al-Qur’an dan Al-Sunnah, naum pada akhirnya mereka tetap berhati-hati dalam memutuskan ijtihad mereka yang tercermin dalam putusannya yang lebih mengutamakan keadilan dan kemaslahatan bersama.

DAFTAR PUSTAKA Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul. Maram. Penerjemah Muh. Syafi’I Sukandi. Bandung: PT Al-Ma’arif, 1961. Bakar, Al Yasa Abu. Ahli Waris Sepertalian Darah: Kajian perbandingan Terhadap Penalaran Hazairan dan Penalaran Fikih Mazahab. Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), 1998. Fatchurrahman. Ilmu Waris. Bandung: Al-Ma’arif, 1971. cet.ii Ibnu Rusyd, Abu Wahid Muhammad bin Achamd bin Muhammad. Bidayatul Mujtahid. Penerjemah Imam Gazali Said, Achmad Zaidun. Jakarta: Pustaka Amani, 2007. Khalifa, Muhammad Thaha Abul Ela. Pembagian Warisan Berdasarkan Syari’at Islam. Penerjemah Tim Kuwais Media Kreasindo. Solo: Tiga Serangkai, 2007. Mansur, Ali Ali. Syari’ah Islam dan Hukum Internasional Umum. Penerjemah Mumammad zein Hassan. Jakarta: Bulan Bintang, 1973. Muhammad bin Abdurrahman Al-Dimasyqi, Al-Allamah. Fiqih Empat Mazhab. Penerjemah Abdullah Zaki Alkaf. Bandung: Hasyimi, 2004. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam. Jakarta: Jayamurni, 1959. Sabiq, Sayyid. Fikih Sunnah. Penerjemah Kamaluddin A. Marzuki. Bandung: AlMa’arif, 1996. Al-Shabuni, M. Ali. Al-Mawarits fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah. Penerjemah

Hamdani Rasyid. Jakarta: Dar Al-Kutub, 2005. Al-Syafi’I, Abi ‘Abdillah Muhammad Ibn Idris. Al-Umm. Penerjemah Ismail Yakub, dkk. Jakarta: CV Faizan, 1992. Al-Tuwaijry, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah. Hukum Waris. Penerjemah Team Indonesia. Riyad: Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2007 Umam, Dian Khairul. Fiqih Mawaris. Bandung: CV Pustaka Setia, 1999. Usman, Suparman dan Somawinata, Yusuf. Fiqih Mawris: Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008. ------------------, Penerjemah A.M. Basalamah. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

21

Related Interests