You are on page 1of 18

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengelasan merupakan bagian yang penting dalam suatu proses industri, dan kebutuhan
akan pengelasan sangat tinggi oleh karena itu teknologi pengelasan semakin lama semakin
berkembang. Penggunaan teknologi las biasanya dipakai dalam bidang konstruksi, otomotif,
perkapalan, pesawat terbang, dan bidang lainnya.
Pengelasan secara definisi adalah suatu proses penyambungan dua komponen yang
berbahan logam. Sedangkan fungsi dari pengelasan adalah sebagai suatu media atau alat
pemotongan (Yustinus Edward,200!. "elebihan lain dari pengelasan diantaranya biaya
murah, proses relatif lebih cepat, lebih ringan, dan bentuk konstruksi lebih #ariatif. $aktor%
faktor yang men&adi pertimbangan dalam proses pengelasan diantaranya adalah &adwal
pembuatan, proses pembuatan, alat dan bahan yang diperlukan, urutan pelaksanaan, persiapan
pengelasan (pemilihan mesin las, penun&ukan &uru las, pemilihan elektroda, penggunaan &enis
kampuh! ('iryosumarto, 2000!.
(erdasarkan klasifikasi ker&anya proses pengelasannya dapat dibagi dalam tiga kelompok
yaitu pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian. )amun proses pengelasan yang
paling banyak digunakan adalah pengelasan cair dengan busur Shielding Metal Arc Welding
(S*+'! dan gas. Proses ini &uga tergantung dari material yang akan dilas, dimana tidak
semua logam memiliki sifat mampu las yang baik. (ahan yang mempunyai sifat mampu las
yang baik diantaranya adalah ba&a paduan rendah. (a&a ini dapat dilas dengan las busur
elektroda terbungkus, las busur rendam dan las Metal Inert Gas (*,-! ('iryosumarto,
2000!.
*utu pengelasan tergantung dari penger&aan dan proses pengelasan. Secara umum
pengelasan dapat diartikan sebagai suatu ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam
paduan yang dilaksanakan saat logam dalam keadaan cair. .alam proses pengelasan terdapat
berbagai permasalahan yang ter&adi, karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil
pengelasan. (erbagai hal harus diperhitungkan sebelum melakukan pengelasan, untuk
mendapatkan hasil pengelasan yang baik. *enentukan prosedur pengelasan yang benar
adalah langkah yang harus dilakukan agar hasil yang didapatkan akan optimal dan mencegah
ter&adinya cacat.
1.2 Tujuan Praktikum
/u&uan dari diadakannya praktikum ini antara lain sebagai berikut0
1. *engetahui pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap struktur
mikro
2. *engetahui pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap &umlah
layer logam pengisi yang dihasilkan
2. *engetahui pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap nilai
kekerasan
1.3 Rumusan Masalah
Praktikum teknologi pengelasan ini, dilaksanakan untuk men&awab pertanyaan%
pertanyaan sebagai berikut0
1. (agaimanakah pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap struktur
mikro
2. (agaimanakah pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap &umlah
layer logam pengisi yang dihasilkan
3. (agaimanakah pengaruh beda arus listrik selama proses pengelasan terhadap nilai
kekerasan
1. !istematika Penulisan La"#ran
4aporan ini tersusun atas bab, yaitu bab ,, bab ,,, bab ,,,, bab ,5, bab 5, dengan perincian
sebagai berikut0
(ab , adalah pendahuluan, terdapat 3 sub%bab, yaitu0 latar belakang, tu&uan, rumusan
masalah dan sistematika penulisan.
(ab ,, adalah tin&auan pustaka, terdapat 6 sub%bab, yaitu0 pengelasan, pengelasan ba&a
karbon, ba&a karbon rendah, shielded metal arc welding (S*+'!, parameter
pengelasan, siklus termal las, pengu&ian kekerasan, dan metalografi.
(ab ,,, adalah metode percobaan, terdapat sub%bab, yaitu0 standar pengu&ian, alat
dan bahan, langkah%langkah percobaan, diagram alir, gambar percobaan.
(ab ,5 adalah analisa data dan pembahasan, terdapat 2 sub%bab, yaitu0 analisa data,
dan pembahasan.
(ab 5 adalah kesimpulan.
BAB 2
T$N%AUAN PU!TA&A
2.1 Pengelasan
Pengelasan (welding! adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan
atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinu. 4ingkup
penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi sangat luas, meliputi perkapalan, &embatan,
rangka ba&a, be&ana tekan, dan sebagainya.
Pengelasan bukan tu&uan utama dari konstruksi, tetapi hanya merupakan sarana untuk
mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. "arena itu rancangan las dan cara pengelasan
harus betul 7 betul memperhatikan dan memperlihatkan kesesuaian antara sifat 7 sifat las
dengan kegunaan konstruksi serta kegunaan disekitarnya. sifat 7 sifat las yang baik meliputi
beberapa faktor yang saling terkait antara lain 0
8enis logam dan komposisi kimianya
Proses las yang digunakan
9ancangan dan pemilihan parameter las
.imensi benda ker&a
Perlakuan panas yang sehubungan dengan persyaratan yang dituntut berdasarkan
spesifikasi
"ondisi lingkungan
/emperatur pada saat pengelasan berlangsung
+da problem serius yang dapat ter&adi &ika faktor 7 faktor yang telah disebutkan diatas
diabaikan atau tidak memenuhi syarat, antara lain0
9etak las
.istorsi
:acat las serta kegagalan 7 kegagalan lain.
(anyak sekali cara pengklasifikasian yang digunakan dalam bidang las. Secara
kon#ensional cara pengklasifikasian berdasarkan benda ker&a dan klasifikasi berdasarkan
energi yang digunakan. "lasifikasi yang pertama membagi las dalam kelompok las cair, las
tekan, las patri dan lain 7 lain. Sedangkan klasifikasi yang kedua membedakan adanya
kelompok seperti las listril, kimia, mekanik, dan lain 7 lain. .ibawah ini klasifikasi dari cara
pengelasan 0
Pengelasan Cair
4as gas
4as busur plasma, dll.
Pengelasan Tekan
4as titik
4as gesek, dll.
Las Busur
Elektroda /erumpan
4as (usur -as
4as m1;
4as busur :<2
Las Busur Gas dan Fluks
4as busur fluks
4as elektroda tertutup, dll.
2.2 Pengelasan Baja &ar'#n
+da dan tidaknya masalah pengelasan pada proses pengelasan ba&a karbon tergantung
dari &enis ba&a karbonnya 0
Baja karbon rendah
/idak menimbulkan masalah, selama tebal kurang dari 1 inci, tidak memerlukan pre
ataupun post heating umumnya electrode mempunyai lo carbon.
Baja karbon !enengah
*emerlukan pre dan post heating atau keduanya. "adang%kadang dipakai kampuh
bekas. =ntuk mengurangi kecepatan pendinginan dan memperkecil retak dengan
adanya !ultiple. Pemilihan electrode lo h"drogen dengan kadar karbon &uga
menengah.
Baja karbon tinggi
Sulit karena cenderung retak akibat difusi hidrogen. Pengelasan busur listrik lebih
kritis dibandingkan dengan gas elding. .ibutuhkan pre dan post heat atau stress
relie#ing atau electrode mutlak lo h"drogen, kadang%kadang untuk kadar karbon
yang tinggi sekali, dipakai electrode e$tra lo carbon untuk menambah ketahanan
terhadap retak las.
2.3 Baja &ar'#n Ren(ah
)am'ar 2.1 %iagra! Fasa untuk Baja &arbon 'endah
(a&a karbon rendah mengandung kurang dari 0, > karbon. "ebanyakan dari produk
ba&a ini berbentuk pelat hasil pembentukan roll dingin dan proses anneal. "andungan
karbonnya yang rendah dan mikrostrukturnya yang terdiri dari fasa ferit dan pearlit
men&adikan ba&a karbon rendah bersifat lunak dan kekuatannya lemah namun keuletan dan
ketangguhannya sangat baik. (a&a karbon rendah kurang responsif terhadap perlakuan panas
untuk mendapatkan mikrostruktur martensit maka dari itu untuk meningkatkan kekuatan dari
ba&a karbon rendah dapat dilakukan dengan proses roll dingin maupun karburisasi. Pada
gambar diatas merupakan diagram fasa $e%$e
2
:. Pada garis berwarna merah menun&ukkan
batas maksimal kandungan karbon pada ba&a karbon rendah yakni 0,2>
2. !hiel(e( Metal Ar* +el(ing ,!MA+-
S*+' merupakan suatu teknik pengelasan dengan menggunakan arus listrik
berbentuk busur arus dan elektroda berselaput. /ipe%tipe lain dari pengelasan dengan busur
arus listrik adalah submerged arc welding S+', gas metal arc welding -*+'%*,-, gas
tungsten arc welding - dan plas!a arc. .idalam pengelasan S*+' ini ter&adi gas
penyelimut ketika elektroda terselaput itu mencair, sehingga dalam proses ini tidak
diperlukan tekanan?pressure gas inert untuk mengusir oksigen atau udara yang dapat
menyebabkan korosi atau gelembung%gelembung didalam hasil las%lasan. Prose pengelasan
ter&adi karena arus listrik yang mengalir diantara elektroda dan bahan las membentuk panas
sehingga dapat mencapai 2000
o
:, sehingga membuat elektroda dan bahan yang akan dilas
mencair. (erdasarkan &enis arus%nya, pengelasan ini lasnya terbagi atas dua &enis yaitu
constant current % arus tetap dan constant #oltage % tegangan tetap, dimanapada setiap
pengelasan busur arus listrik &ika ter&adi busur yang membesar akan menurunkan arus dan
menaikkan tegangan serta pada busur yang memendek akan meningkatkan arus dan
menurunkan tegangan.
)am'ar 2.2 'angkaian Peralatan untuk Pengelasan SMAW
=ntuk mendapatkan pengelasan yang baik harus 0
menggunakan elektroda yang tepat
&enis arus yang tepat
&enis polaritas yang tepat untuk arus .:
hindari gerakan pengelasan kiri kanan selama mengelas
bentuk busur arus yang pendek, lakukan pengelasan secara mantap dan teratur
la&u pengelasan yang sesuai dengan kecepatan elektroda yang mencair.
*asalah%masalah yang sering timbul pada pengelasan busur arus adalah 0
elektrode membeku ? pengelasan terhenti
bentuk kampuh las yang &elek
busur arus las yang &elek karena mengembang
Selaput elektrode ? fluks umumnya terbuat dari0
serat
kayu?sellulosa
titanium oksida
titanium @ senyawa basa
*n @ $e @ Si
(esi oksida
:a:<2, yang akan membentuk &enis%&enis elektrode berupa type 0 E, 9, E9, E:, E',
(, 9(, 9- dan $.
2.4.1 Keuntungan Pengelasan SMAW
S*+' adalah proses las busur paling sederhana dan paling serba guna. "arena
sederhana dan mudah dalam mengangkut alat%alatnya, membuat proses S*+' ini banyak
dipakai untuk mengelas pipa%pipa refinery hingga pipelines, bahkan untuk mengelas di bawah
laut guna memperbaiki struktur an&ungan lepas pantai. Pengelasan bisa dilakukan pada
berbagai posisi atau lokasi selagi masih bisa di&angkau dengan elektroda. Sambungan%
sambungan dimana pandangan mata terbatas bisa di las dengan cara membengkokkan
elektroda. Proses S*+' digunakan untuk mengelas logam%logam ferrous dan non ferrous,
termasuk carbon steel, low alloy steel, stainless steel, nickel steel, cast iron, dan paduan
tembaga.
2.4.2 Kelemahan Pengelasan SMAW
*eskipun proses las S*+' mempunyai daya guna tinggi, proses ini mempunyai
beberapa kelemahan. "ecepatan pengisiannya lebih rendah dibanding proses semi%otomatis
atau otomatis. Pan&ang elektroda tetap dan pengelasan mesti dihentikan &ika elektroda sudah
habis terbakar. Puntung elektroda yang tersisa terbuang, dan waktu &uga terbuang untuk
mengganti7ganti elektroda. Slag atau terak yang terbentuk di atas lapisan las harus dibuang
terlebih dahulu sebelum lapisan berikutnya didepositkan. 4angkah%langkah ini mengurangi
efisiensi las hingga 0 >.
+sap dan gas yang terbentuk &uga men&adi masalah. <leh karena itu harus tersedia #entilasi
memadai pada pengelasan dalam ruang tertutup. Pandangan mata pada kawah las agak
terhalang oleh slag dan asap yang menutupi endapan logam. .ibutuhkan &uru las sangat
terampil agar dapat menghasilkan pengelasan berkualitas radiography apabila mengelas pipa
atau plat hanya dari arah satu sisi.
2.. Parameter Pengelasan
Penggunaan parameter pengelasan yang tepat dapat menghasilkan mutu sambungan
las yang sesuai dengan spesifikasi, adapun maca%macam parameter pengelasan 0
2.5.1 Arus Pengelasan
+rus pengelasan mempengaruhi pancaran logam cair dalam mengisi kampuh las. Proses
pemindahan logam elektroda ter&adi pada saat u&ung elektroda mencair dan membentuk
butiran%butiran yang terbawa oleh arus busur listrik yang ter&adi. (ila digunakan arus yang
besar maka butiran logam cair yang terbawa men&adi halus. Sebaliknya bila arus yang
digunakan kecil maka butiran logam cair yang terbawa men&adi besar. Aal ini dapat diamati
pada gambar di bawah ini(
Gambar 2.3 Ga!baran Proses Pe!indahan Loga! Cair
.engan penggunaan arus pengelasan yang tinggi, maka &umlah elektron yang
menumbuk logam induk lebih besar. Aal ini akan mengakibatkan panas yang ter&adi semakin
besar pula. .engan demikian, penggunaan arus pengelasan yang besar akan menghasilkan
input panas yang tinggi.
2.5.2 Kecepatan Pengelasan
"ecepatan pengelasan berhubungan dengan tersedianya kesempatan bagi logam cair
untuk mengisi kampuh las. "ecepatan pengelasan mempengaruhi &umlah pengisian (deposit!
logam cair. (ila arus dibuat tetap, sedang kecepatan pengelasan dinaikkan, maka &umlah
deposit per satuan pan&ang las akan menurun. "arena itu, bila diperlukan pengelasan yang
cepat, maka arus pengelasan harus dinaikkan. Aal ini dilakukan karena arus yang tinggi
mempunyai kecepatan pengisian yang tinggi.
(ila kecepatan pengelasan terlalu tinggi maka masukan panas per satuan pan&ang las
akan men&adi kecil, sehingga pendinginan akan ber&alan terlalu cepat yang mungkin dapat
memperkeras daerah A+B. (ila kecepatan terlalu rendah maka logam induk akan mengalami
pemanasan yang terlalu lama dan berlebihan, sehingga mungkin ter&adi penembusan yang
berlebihan.
2.5.3 Polaritas Listri
+rus listrik dalam pengelasan S*+' dapat diambil dari sumber +: maupun sumber
.:. +rus .: mempunyai polaritas lurus (straight polarit"! dan polaritas balik (re#erse
polarit"!. +rus +: mempunyai polaritas gabungan lurus dan balik yang digunakan secara
bergantian.
Polaritas 4urus .:
Pada polaritas lurus arus .:, kutub positif dihubungkan dengan logam induk dan
kutub negatif dihubungkan dengan elektroda. .alam polaritas lurus, electron bergerak
dari elektroda dan menumbuk logam induk dengan kecepatan tinggi sehingga dapat
ter&adi penetrasi yang dangkal. "arena pada elektroda tidak ter&adi tumbukan elektron,
maka secara relatif suhu elektroda tidak terlalu tinggi. .engan polaritas lurus dapat
digunakan arus yang besar. 9angkaian polaritas lurus dapat dilihat pada Ga!bar )(*(
Gambar 2.4. %iagra! rangkaian listrik polaritas lurus
Polaritas balik .:
Pada polaritas balik arus .:, kutub positif dihubungkan dengan elektroda dan kutub
negatif dihubungkan dengan logam induk. .alam polaritas balik, elektron bergerak
menu&u logam las sehingga logam las akan kaya elektron. Pada logam induk ter&adi
tumbukan elektron sehingga suhu pada logam induk men&adi lebih tinggi. Penetrasi
pada logam induk men&adi dalam. 9angkaian polaritas balik dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.
Logam
induk
Elektrod
a
-
+
Gambar 2.5. %iagra! rangkaian listrik polaritas balik
Aeat input
Aeat input atau energi per unit length pada proses pengelasan akan
berpengaruh pada microstruktur lasan dan A+B terutama nilai hardness dan impact.
Aeat input yang terlalu tinggi akan menyebabkan hot cracking, dan yang terlalu
rendah akan menyebabkan cold cracking apalagi ditun&ang dengan adanya hydrogen.
Aeat input yang ideal untuk pengelasan bergantung pada banyak faktor, diantaranya
&enis material, ketebalan material, &enis kampuh las, welding proses dll. "adang
%kadang untuk mempercepat proses pengelasan, diberikan heat input yang tinggi.
)amun ada beberapa hal yg harus diperhatikan berkaitan dengan heat input,
diantaranya men&aga preheat dan temperature cooling time. =ntuk menentukan
preheat dan cooling time bisa dilihat dari berbagai standar. Satu parameter yang bagus
untuk menentukan cooling time ini yang disebut /(6?!, artinya waktu yang
dibutuhkan untuk menurunkan temparatur lasan dari 600C:%00 C:, untuk beberapa
&enis steel (fine grained,Duenched and tempered! /(6?! adalah10%2s. 8ika /(6?!
terlalu kecil hardness pada A+B terlalu tinggi (ada nilai maksimum! dan 8ika terlalu
besar impact strength terlalu rendah (ada nilai minimum!. Siklus termal yang ter&adi
selama pengelasan dipengaruhi oleh masukan panas ( heat input ! yang diberikan.
(esarnya masukan panas yang ter&adi pada proses pengelasan tergantung pada faktor%
faktor seperti 0
1. .aya hantar ( heat conducti#it" ! dari logam yang disambung.
2. -eometri seperti tebal logam yang disambung.
2. 8anis sambungan dan bentuk alur.
3. /eknik pengelasan termasuk parameter las yang diterapkan.
(esarnya masukan panas per satuan pan&ang las untuk pengelasan busur listrik
diberikan oleh persamaan berikut 0
E / 0.. 12
2
.imana 0
E E Energi atau masukan panas (8oule!
1 E "apasitas ($arrad!
2 E /egangan listrik (5olt!
/idak seluruhnya energi panas yang diberikan itu digunakan untuk
menyambung logam, tetapi sebagian akan hilang ke udara luar. Pada proses
pengelasan masukan panas yang dapat diberikan tergantung pada kerapatan energi
(energi density! dari teknik pengelasan tersebut. Semakin besar kerapatan energinya
maka semakin rendah masukan panas yang diberikan untuk suatu proses pengelasan.
8enis logam dan kerapatan yang diberikan akan menentukan kecepatan pemanasan
( heating rate ! dari logam yang dilas. *asukan panas akan menentukan temperature
tinggi yang ter&adi pada logam las dan berarti mempengaruhi terhadap struktur mikro
serta sambungan las.
2.3 !iklus Thermal Las
Proses pengelasan adalah proses yang melibatkan panas. Panas dapat diperoleh dari
energi listrik, gas dan lain%lain. .engan pemberian panas ini, maka pada logam akan ter&adi
suatu siklus panas yang menun&ukkan perubahan temperatur sebagai fungsi waktu. Siklus
panas ini akan dialami oleh daerah lasan, daerah sekitar lasan dan daerah logam induk. Siklus
panas yang dialami oleh daerah%daerah ini berbeda%beda sesuai dengan &arak daerah tersebut
terhadap sumber panas.
Aal tersebut akan berhubungan dengan temperatur puncak yang dicapai, serta
kecepatan pemanasan dan pendinginan dari masing%masing daerah. .aerah dekat lapisan
logam las akan mengalami temperatur yang tinggi dengan la&u pemanasan dan pendinginan
yang cepat. .aerah yang berada sedikit lebih &auh akan berada pada suatu temperatur puncak
medium dengan la&u pemanasan dan pendinginan yang relatif lebih lambat. .aerah yang &auh
dari lapisan logam las akan mengalami temperatur puncak yang rendah dengan la&u
pemanasan dan pendinginan yang lebih lambat lagi.
.aerah lasan terdiri dari tiga bagian, yaitu logam lasan, daerah pengaruh panas atau
Aeat +ffected Bone (A+B!, serta logam induk. 4ogam las adalah bagian dari logam yang
pada saat pengelasan mengalami pencairan kemudian membeku. .aerah pengaruh panas
(A+B! adalah logam induk yang bersebelahan dengan logam las dan selama proses
pengelasan mengalami siklus thermal pemanasan dan pendinginan yang cepat. 4ogam induk
yang tidak terpengaruh adalah bagian logam dasar dimana panas dan suhu pengelasan tidak
menyebabkan ter&adinya perubahan struktur dan sifat.
.isamping ketiga pembagian daerah utama tersebut, masih ada satu daerah khusus
yang membatasi daerah logam las dengan daerah pengaruh panas yaitu batas las. .alam
gambar di bawah ini dapat dilihat siklus thermal dari beberapa tempat dalam daerah A+B
dengan kondisi pengelasan tetap.
Gambar 2.! Siklus Ter!al dari Suatu Lasan
2.4 Pengujian &ekerasan
"ekerasan (hardness! adalah ketahanan terhadap penetrasi. (erbagai prosedur
digunakan untuk mengukur kekerasan. ,ni tergantung pada bahan, ketebalannya, indentor
yang digunakan, dan beban yang diberikan. ,ndeks kekerasan yang umum digunakan adalah
(ilangan "ekerasan (rinell ((rinell Aardness )umber ? (A)!, dan bilangan 7 bilangan
kekerasan 9ockwell ( 9 ! yang disebut terakhir mempunyai beberapa skala 9c. 9b, 9f dan
seterusnya yang memiliki beban dan indentor yang berbeda 7 beda untuk ba&a yang keras,
kuningan yang lunak, dan logam lembaran yang tipis. 'alaupun kekerasan bukan sifat dasar
dari suatu material, kita akan menganggap data kekerasan sebagai indicator kekuatan yang
bermanfaat. Sebagai contoh untuk ba&a, kekuatan ultimat dalam psi biasanya dianggap
sebesar 00 dikali nilai (A)%nya. "arena kekerasan bias diukur in situ, dan tidak
memerlukan proses pemesinan terhadap benda u&i, nilainya dalam pengendalian kualitas dan
pemeriksaan kiner&a. (5leck, 2003!
2.5 Metal#gra6i
*etalografi adalah disiplin ilmu mengenai konstitusi dan struktur dasar (atau
hubungan spasial antara! konstituen dalam logam, paduan dan material (+S* ,nternasional,
2003!. +dapun langkah%langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut 0
(1! Cutting
.alam proses pemotongan harus dicegah kemungkinan deformasi dan panas
yang berlebihan. <leh karena itu setiap proses pemotongan harus diberi pendinginan
yang memadai. Sistem pemotongan sampel berdasarkan media pemotong yang
digunakan meliputi proses pematahan, pengguntingan, penggerga&ian, pemotongan
abrasi, gerga&i kawat, dan E.*. (8uliaptini, 2010!
(2! Mounting
Spesimen yang berukuran kecil atau memiliki bentuk yang tidak beraturan
akan sulit untuk ditangani, khususnya ketika dilakukan pengamplasan dan pemolesan
akhir. =ntuk memudahkan penanganannya, maka spesimen%spesimen tersebut harus
ditempatkan pada suatu media. Pada umumnya mounting menggunakan material
plastik sintetik. *aterialnya dapat berupa resin (castable resin! yang dicampur
dengan hardener, atau bakelit. (8uliaptini, 2010!
(2! Grinding
Pengamplasan dilakukan dengan menggunakan kertas amplas silicon karbit
(Si:!. Pemberian air pada pengamplasan berfungsi sebagai pemindah geram, atau
memperkecil kerusakan akibat panas yang timbul. Aal lain yang harus diperhatikan
adalah ketika melakukan perubahan arah pengamplasan, maka arah yang baru adalah
3 atau F0 terhadap arah sebelumnya. (8uliaptini, 2010! Perubahan arah ini &uga
diikuti dengan kenaikan grade pada amplas yang digunakan.
(3! Polishing
Pemolesan bertu&uan untuk memperoleh permukaan sampel yang halus, bebas
goresan dan mengkilap seperti cermin dan menghilangkan ketidakteraturan sampel
hingga orde 0.01 Gm. (8uliaptini, 2010!
(! +tching
Proses penyerangan atau pengikisan batas butir secara selektif dan terkendali
dengan pencelupan ke dalam larutan pengetsa. Aal ini bertu&uan agar detil struktur
yang akan diamati akan terlihat dengan &elas dan ta&am. (8uliaptini, 2010!
BAB 3
MET7D7L7)$
3.1 !tan(ar Pengujian
Standar pengu&ian yang digunakan dalam praktikum pengelasan adalah +S/* E16
untuk pengu&ian kekerasan, dengan menggunakan skala kekerasan 9ockwell%( (A9(!.
Sedangkan untuk pengu&ian metalografi digunakan +S/* E2.
Gambar 3.1 Standar Pengujian Spesi!en ASTM +,-
3.2 Alat (an Bahan Per*#'aan
.alam praktikum ini, untuk menun&ang &alannya praktikum dibutuhkan alat dan bahan.
+dapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain sebagai berikut0
3.2.1 Alat8alat Per*#'aan
1. Perangkat 4as S*+' 1 set
2. *ikroskop optik 1 set
3. *esin Aardness /est 1 buah
. "ertas amplas grade 160 sampai 2000 1 lembar?grade
;. *esin Polishing 1 set
H. /ang 1 buah
6. Palu 1 buah
F. Sikat (a&a 1 buah
10. /openg? "acamata 4as 1 buah
11. "ikir 1 buah
3.2.2 Bahan8'ahan Per*#'aan
1. (ase *etal (a&a "arbon 9endah 2 buah
(menggunakan groo#e berupa Single (e#el,
dengan dimensi F, cm I 10 cm!
Gambar 3.2 Spesi!en "ang %igunakan pada Praktiku!
2. Elektroda 9(%2; secukupnya
2. 4arutan nital secukupnya
(2 ml A)<
2
ditambah F6 ml alkohol F0>!
3. *etal polish (*erk +utosol! secukupnya
3.3 Pr#se(ur Per*#'aan
.alam praktikum ini, langkah% langkah yang harus dilakukan antara lain adalah
sebagai berikut0
1. *enyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan selama praktikum
2. *erangkai peralatan las, dengan elektroda sebagai kutub negatif dan benda ker&a
sebagai kutub negatif
2. *enyalakan dan mengatur generator las pada arus ; + untuk spesimen 1, dan 6 +
untuk spesimen 2
3. *engelas kedua benda ker&a dengan tra#el speed sebesar 1 cm?s (10 mm?s! hingga
kedua sisi dari base metal tersambung dengan filler dari elektroda
. *embersihkan daerah sambungan pada lasan dari pengotor dan lain sebagainya,
menggunakan sikat ba&a, dilakukan berulang sampai menutup groo#e.
;. *ematikan dan menyimpan kembali peralatan lasan.
H. *emotong spesimen agar dimensinya sesuai dengan standar pengu&ian metalografi
dan hardness test
6. Permukaan spesimen di grinding menggunakan amplas dari 160 sampai grade 2000
(kertas gosok!
F. Spesimen di polish dengan metal polish(autosol
10. Spesimen di etsa menggunakan larutan nital
11. Spesimen di u&i metalografi dengan mengamati struktur mikro daerah logam induk,
A+B, dan logam lasan
12. *engambil data gambar struktur mikro untuk diamati lebih lan&ut
12. *ematikan komputer dan mematikan mikroskop optik.
13. Spesimen di u&i kekerasan sebanyak 2 kali pada setiap tempat menggunakan skala
9ockwell (
1. *encatat nilai kekerasan 9ockwell ( pada specimen
1;. +nalisa data dan Pembahasan
1H. Penarikan "esimpulan
3. Diagram Alir Per*#'aan
Gambar 3.2 %iagra! Alir Percobaan
BAB
ANAL$!A DATA DAN PEMBAHA!AN
Proses pengelasan pada praktikum ini menggunakan 2 buah spesimen, dengan groo#e
berbentuk single be#el dan #ariasi berupa besar arus. Pengelasan pada praktikum dilakukan
dengan prosedur sebagai berikut0
"abel 4.1 Para!eter "ang %igunakan pada Praktiku!
Parameter !"esimen 1 !"esimen 2
8enis Pengelasan S*+' S*+'
+rus 4istrik ; + 6 +
/egangan 4istrik 220 5 220 5
/ra#el Speed 10 mm?sec 10 mm?sec
Elektroda 9(%2; 9(%2;
.iameter Elektroda 2,2 mm 2,2 mm
-roo#e Single (e#el Single (e#el
.imensi Pan&ang0 100 mm
4ebar0 F mm
/ebal0 F mm
Pan&ang0 100 mm
4ebar0 F mm
/ebal0 F mm
8enis +rus .irect :urrent (.:! .irect :urrent (.:!
8enis 9angkaian .:EP (.:9P! .:EP (.:9P!
/ipe Sambungan
.irect (utt .irect (utt
/eknik Pengelasan Stringers Stringers
Posisi Pengelasan $lat $lat
8enis *aterial (ase *etal 4ow :arbon Steel 4ow :arbon Steel
.1 Analisa Data (an Pem'ahasan %umlah La9er 9ang Ter'entuk
Pada praktikum ini, dari prosedur yang tersebut diperoleh data praktikum berupa &umlah layer
yang dibutuhkan untuk menutup groo#e, sebagai berikut0

"abel 4.2 .asil Praktiku! Berupa La"er "ang Terbentuk
!"esimen 1 2
%umlah La9er 9ang
Ter'entuk
1
2
F
Aasil praktikum yang seperti demikian tersebut dapat ter&adi karena panas yang
ter&adi pada spesimen 2 lebih besar dari pada spesimen 1. Aal tersebut dapat ter&adi karena
arus yang digunakan pada pengelasan spesimen 2 lebih besar daripada spesimen 1,
sebagaimana ditun&ukkan pada persamaan berikut0
H/ ,E.i-:;
.i mana0 A adalah panas yang ter&adi selama pengelasan (8?mm!
E adalah tegangan listrik yang ter&adi selama proses pengelasan (5!
, adalah arus listrik yang digunakan pada saat proses pengelasan (+!
5 adalah kecepatan pergerakan elektroda pada saat pengelasan (mm?s!
.ari persamaan di atas didapatkan bahwa panas yang ter&adi pada spesimen 1 selama proses
pengelasan, dengan menggunakan tegangan (E! sebesar 220 5, arus listrik (i! ; +, dan
tra#el speed (#! 10 mm?s adalah sebagai berikut0
H/ ,220.3.-:10/ 130 %:mm
Sedangkan panas yang ter&adi pada spesimen 2 selama proses pengelasan, dengan
menggunakan tegangan (E! sebesar 220 5, arus listrik (i! 6 +, dan tra#el speed (#! 10 mm?s
adalah sebagai berikut0
H/ ,220.5.-:10/ 1540 %:mm
.ari dua perhitungan di atas didapatkan bahwa panas yang ter&adi pada saat
pengelasan besarnya berbanding lurus dengan arus yang digunakan pada saat proses
pengelasan. .ari pehitungan di atas, dapat kita ketahui bahwa panas yang dialami oleh
spesimen 2 lebih besar daripada spesimen 1. "arena panas yang dialami oleh spesimen 2
lebih besar daripada spesimen 1, maka pada spesimen 2, deposit elektroda yang ter&adi pada
proses pengelasan lebih besar dibandingkan pada spesimen 1. +kibatnya, untuk setiap
layernya, akan lebih banyak elektroda yang meleleh. Semakin banyaknya elektroda yang
meleleh tersebut, mengakibatkan &umlah layer yang semakin sedikit untuk mengisi groo#e
pada benda ker&a tersebut. <leh karena itu, &umlah layer yang dibutuhkan untuk mengisi
groo#e pada spesimen 2 (F layer!, lebih sedikit dibandingkan dengan spesimen 1 (12 layer!.
.2 Analisa Data (an Pem'ahasan Metal#gra6i
Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan struktur mikro pada spesimen.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan standar pengu&ian +S/* E2. Sebelum
pengamatan, spesimen di preparasi terlebih dahulu dengan di grinding dengan kertas gosok
(amplas! secara bertingkat, mulai dari grade 60 sampai dengan grade 2000. Setelah grinding,
spesimen di poles menggunakan mesin polishing, dengan bantuan metal polish hingga
berkilau dan dipastikan tidak ada lagi goresan pada permukaan spesimen. 4angkah
selan&utnya, dilakukan pengetsaan terhadap spesimen. Spesimen di etsa menggunakan larutan
nital, yang dibuat dari 2> larutan A)<2 dan F6> larutan alkohol. Pengetsaan tersebut
dilakukan dengan tu&uan agar batas% batas butir pada struktur mikro spesimen dapat terkorosi,
sehingga struktur mikro dapat di amati dengan &elas. Setelah pengetsaan, spesimen diamati
struktur mikronya menggunakan mikroskop optik. .ari metalografi praktikum yang
dilakukan, didapatkan struktur mikro sebagai berikut0
"abel 4.4 Perbandingan Struktur Mikro &edua Spesi!en
Daerah !truktur Mikr# !"esimen 1 !truktur Mikr# !"esimen 2
Base Metal
.A/
Weld Metal
.3 Analisa Data (an Pem'ahasan Pengujian &ekerasan
Pada praktikum ini, &uga dilakukan pengu&ian kekerasan. Pengu&ian kekerasan ini
dimaksudkan untuk mengamati perubahan sifat mekanik yang ter&adi pada setiap daerah
benda ker&a. Pengu&ian tersebut dilakukan menggunakan standar pengu&ian +S/* E16.
Pengu&ian dilakukan menggunakan skala kekerasan Aardness 9ockwell ( (A9(!, dengan
menggunakan indentor berbentuk bola dan pembebanan sebesar 100 kgf. Sebelum pengu&ian
dilakukan, spesimen dipreparasi terlebih dahulu dengan memastikan permukaan spesimen
yang hendak di u&i kekerasan rata dan tidak bergelombang. Setelah dipreparasi, spesimen di
u&i kekerasan dengan mesin u&i kekerasan. .ari hasil pengu&ian kekerasan diperoleh data
sebagai berikut0
"abel 4.3 .asil Pengujian &ekerasan pada Praktiku!
Daerah !PE!$MEN 1 !PE!$MEN 2
Nilai &ekerasan ,HRB- Nilai &ekerasan ,HRB-
Titik 1 Titik 2 Titik 3 Rata8rata Titik 1 Titik 2 Titik 3 Rata8 rata
(ase
*etal
3; 2 3 1,0H 31 31, 3 32,
A+B ;;, H3 ;; ;6,62 3F 1, 3F 3F,6
'eld
*etal
H, ; F H,36 3 0 2

+pabila digambarkan dalam bentuk grafik, distribusi kekerasan pada spesimen 1
adalah sebagai berikut0
Gambar 4.1 Gra0ik %istribusi &ekerasan pada Spesi!en ,
+pabila digambarkan dalam bentuk grafik, distribusi kekerasan pada spesimen 2
adalah sebagai berikut0
Gambar 4.2 Gra0ik %istribusi &ekerasan pada Spesi!en )
"etika dibandingkan dengan bentuk grafik, distribusi kekerasan pada kedua spesimen
adalah sebagai berikut0
Gambar 4.3 Gra0ik Perbandingan %istribusi &ekerasan pada &edua Spesi!en
. Analisa Data (an Pem'ahasan Makr# Etsa
Pengu&ian makroetsa dilakukan dengan mengamati spesimen tanpa bantuan
mikroskop optik, atau dengan mata telan&ang. Pengamatan yang dilakukan adalah
pengamatan pada morfologi spesimen, misalnya perbedaan warna setelah pengetsaan,
porositas yang ter&adi pada bagian weld metal, atau bentuk benda ker&a yang berubah.
Perbedaan tersebut kemudian di foto. +dapun hasil makro etsa untuk spesimen 1 adalah
sebagai berikut0
+el( Metal
HA<
Base Metal
P#r#sitas