You are on page 1of 7

1

KISTA BARTOLINI
I. PENDAHULUAN
Kista Bartolini adalah satu pembesaran membentuk benjolan berisi
cairan yang membengkak terjadi akibat sumbatan pada salah satu dari
kelenjar Bartolini. Kelenjar bartolini adalah kelenjar kecil yang terletak
pada kedua belah orificium vaginalis – pada labia yang menutupi orificium
vaginalis. Kelenjar ini kecil dan tidak terlihat atau teraba pada owanita
normal.
(1,3,4)


II. INSIDENS DAN EPIDEMIOLOGI
Kista bartolini adalah masalah yang terbanyak ditemukan pada
perempuan usia reproduktif. Frekuensi tersering timbulnya kista terutama
pada umur 20-45 tahun, yang merupakan insidens tertinggi. Berdasarkan
statistik, didapatkan kurang lebih 2% dari wanita terkena kista bartolini.
Ukuran kista bervariasi dari ukuran kecil dengan diameter (0.5-3cm) atau
dapat membesar sehingga 5-10cm.
(1,3,4)


III. ETIOLOGI
Duktus Bartolini adalah sangat mudah terkena infeksi oklusi
disebabkan oleh panjang dan diameternya. Mikroorganisme yang
menginfeksi (biasanya adalah Neisseria gonorrhoaeae dengan infeksi
sekunder dari Streptococci, Staphylocci atau Escherichia coli) menjadi
menjadi ‘kantong’ di sepanjang pasase untuk membentuk abses. Biasanya
terjadi resolusi pada inflamasi tersebut, namun oklusi yang permanen pada
distal duktus telah menyebabkan retensi mukus yang diproduksi oleh
kelenjar bartolini, yang akhirnya membentuk kista.
(1,2,3)


IV. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Kelenjar bartolini (kelenjar vestibuler besar) adalah homolog dari
kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretral) pada lelaki. Saat pubertas,
2

kelenjar ini mulai berfungsi,dengan memberikan kelembapan pada
vestibuler. [3]
Kelenjar bartolini mengembang dari tunas (bud) di dalam epitel
pada vestibuler posterior. Kelenjar ini terletak secara bilateral pada
basallabia minora dan mengalir sepanjang duktus (2- 2.5cm) dan akhirnya
mengisi vestibula pada posisi arah jam 4 dan 8. Kelenjar ini biasanya
mempunyai ukuran sebesar kacang pis dan jarang sekali mencapai 1cm.
Biasanya tidak teraba kecuali adanya infeksi atau kelainan. [3]









Gambar 1 : anatomi kelenjar bartolini
(3)

V. PATOGENESIS
Obstruksi pada duktus utama kelenjar bartolini telah menyebabkan
retensi sekret dan dilatasi kistik (cyst). Obstruksi ini terjadi karena infeksi,
mukus menjadi kental dan penyempitan kongenital pada duktus. Infeksi
sekunder juga menyebabkan formasi abses.
(3,4)


VI. DIAGNOSIS
Sekiranya kista duktus bartolini masih kecil dan belum terjadi
inflamasi, ia biasanya asimptomatis. Namun, kista dikatakan mulai timbul
pabila massa mulai menyebar ke medial introitus posterior di daerah
dimana duktus tersambung ke vestibula. Biasanya penderita sukar
berjalan, duduk, atau berhubungan seksual.
(1,3)

3

Manifestasi klinik yang biasa dikeluhkan penderita seperti nyeri
akut, tenderness, dispareunia. Jaringan sekitarnya (tengah dan daerah
bawah labia minora) terinflamasi dan terjadi udem. Introitus mungkin
terdistorsi, dan massa fluktuan (tidak tetap) biasanya dapat teraba.
(1,2,4)

Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi, kista terdapat di
bagian unilateral (bpaling sering ditemukan), nyeri, fluktuasi dan
terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4 atau 8 pada labium
minus posterior. Pemeriksaan gram dan kultur jaringan dibutuhkan
untuk mengidentifikasikan jenis bakteri penyebab kista dan untuk
mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti
Gonorrhea dan Chlamydia. Untuk kultur diambil swab dari kista atau dari
daerah lain seperti serviks. Contoh dari organisme aerobik adalah
Neisseria gonorrhoeae, staphylococcus ureus, Streptococcus faecalis,
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Clamydia trachomatis.
Sedangkan contoh organisme anaerobik adalah Bacteroides fragilis,
Clostridium perfringens, Peptostreptococcus species dan Fusobacterium
species. Dari hasil ini dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu
diberikan kepada penderita.
(3,4)










Gambar 2 : kista bartolini
(1)



4

VII. DIANGNOSIS BANDING
Antara diagnosa banding termasuk lesi kistik dan solid pada vulva,
seperti kista inklusi epidermal (epidermal inclusion cyst), Skene’s duct
cyst, hidradenoma papiliferum, dan lipoma. Disebabkan oleh kelenjar
bartolini biasanya mengkerut (shrink) pada usia menopause, pertumbuhan
vulvar pada wanita pascamenopause harus dievaluasi sekiranya terjadinya
keganasan, terutama jika massa yang teraba berbatas irreguler, noduler,
dan persisten. [3]

VIII. PENATALAKSANAAN
Pengobatan bagi kista duktus Bartolini tergantung pada
simptomnya. Kista asimptomatis tidak memerlukan pengobatan, tetapi
kista simptomatis memerlukan insisi dan drainage tetapi biasanya terjadi
rekurensi. Maka, pengobatan terbaik yaitu drainage yang definit untuk
kista bartolini adalah word cateter dan marsupialisasi.
(2,3,4)

Word cateter biasanya dilakukan untuk terapi kista bartolini dan
abses bartolini. Panjang kateter getah ini mempunyai ukuran sekitar 1 inch
dan ukuran diameter nomor 10 kateter French Foley. Bujung balon pada
kateter ini dapat mengisi saline sekitar 3ml. Setelah persediaan yang steril
dan administrasi anestesi lokal dilakukan, dinding kista ditarik dengan
menggunakan forsep kecil dan pisau bedah digunakan untuk membuat
insisi ukuran 5mm kedalam kista. Insisi dilakukan diantara introitus
externa dengan cincin hiamen pada daerah orifisium duktusnya. Setelah
insisi dilakukan, word catether dimasukkan, ujung balon diisi 2-3ml cairan
salin. Balon ini dibiarkan menetap di dalam kavitas kista. Ujung kateter
yang satunya diletakkan di dalam vagina.
(3)

Teknik marsupialisasi ini dilakukan pada penderita kista bartolini
tetapi merupakan kontraindikasi pada abses bartolini. Setelah persediaan
steril dan administrasi anestasi lokal dilakukan, dinding kista ditarik dan
dibuka dengan menggunakan dua hemostat kecil. Insisi vertikal dilakukan
pada vestibula diatas tengah kista dan di luar cincin hiamen. Insisi
5

dilakukan dalam ukuran sekitar 1.5-3 cm, tergantung ukuran kista. Setelah
insisi vertikal, kavitas kista juga diirigasi dengan cairan salin dan isi
kandung kista dikeluarkan. Cairan dalam kista tadi juga dapat diambil
untuk pemeriksaan kultur. Sutura yang dapat terserap seperti Polysorb atau
Vicryl digunakan untuk menjahit kembali dinding kista dengan jahitan
kontiniu ke lateral introitus dan mukosa vagina.
(2,3,5)
Infeksi pada kelenjar bartolini memerlukan pengobatan antibiotika
broad spectrum. Antibiotik yang biasa dipakai adalah Ceftriaxone ( broad
spectrum dan N gonorrhea), Ciprofloxacin (broad spectrum), Doxycyline (
C trachomatis) dan Azithromycin ( C trachomatis). Obat anestesi lokal
yang biasa digunakan adalah Lidocaine dan Bupivicaine.
(5)










Gambar 3: teknik marsupislisasi pada kista bartolini
(1)


IX. PROGNOSIS
Dengan teknik marsupialisasi, prognosis baik. Pengobatan lainnya
bisa menyebabkan infeksi berulang dan dilatasi kistik mungkin dapat
terjadi.
(2)




6

DAFTAR PUSTAKA
i. Grimshaw A. Bartholin cyst, In: Obstetric-Gynaecology
Women’s Healthcare.
ii. Pernoll M.L. Other vulvovaginal Infections. In: Benson &
Pernoll’s handbook of Obstetrics & Gynecology, 10th ed.,
p.579-80
iii. Omole F., Simmons B.J, Hacker Y., Management of
Bartholin’s Duct Cyst and Gland Abscess, AFP 68:1 p 135-
40
iv. De Charney A.H, Nathan L, Goodwin T.P., Laufer N.,
Benign Disorders of the Vula and Vagina. In: Current
diagnosis & treatment Obstetrics & gynecology 10th ed.,
p26
v. Perry T.F., Bartholin Gland Marsupialization. Chelmow D
(editor) In: AMA Medscape References 2011











7

BAGIAN KULIT KELAMIN REFERAT
FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2013
UNIVERSITAS HASANUDDIN




KISTA BARTOLINI


DISUSUN OLEH :
Nur Ikhwaini binti Ismail
C111 09 851
PEMBIMBING :
dr. Asrawati S




DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN KULIT KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013