You are on page 1of 20

LAPORAN PRAKTIKUM

GIZI DALAM DAUR KEHIDUPAN
ACARA 1
BAHAN MAKANAN PENUKAR










DISUSUN OLEH :
SHIFT 4 /KELOMPOK 18

NAMA:
1. Rizna Dyan Widyaningrum (12/335453/KU/15259)
2. Tis’a Salma Muthi’ah (12/335460/KU/15263)
3. Maya Nurfitriani Hartono (12/335470/KU/15266)
4. Satwika Arya Pratama (12/335471/KU/15267)
5. Dyah Ayu Kusuma Wardhani (10/302324/KU/14043)

ASISTEN:
1. Nadia Hanun, S.Gz,
2. Nur Solikhah, S.Gz.

PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tinjauan Pustaka

Daftar Bahan Makanan Penukar (BMP) adalah penggolongan bahan makanan
berdasarkan nilai gizi yang setara. Makanan dalam satu golongan mempunyai kandungan
kalori, karbohidrat, protein, maupun lemak yang hampir sama. Tujuan disusunnya daftar ini
adalah untuk mempermudah perencanaan menu yang sehat, seimbang, dan bervariasi
(Waspadji, dkk., 2011).
Dalam daftar tersebut, makanan dikelompokkan ke dalam delapan golongan, yaitu
sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, buah-buahan dan gula, susu,
minyak dan makanan tanpa kalori (Waspadji, dkk., 2011).
Untuk memudahkan penggunaan, bahan makanan dalam daftar ini selain dalam
ukuran gram, juga dinyatakan dengan alat ukuran yang lazim terdapat dalam rumah tangga
(URT). Cara ini terbukti cukup teliti dan praktis dala penyusunan diet (Almatsier, 2007).
Bahan makanan pada tiap golongan dalam jumlah yang sama dinyatakan pada daftar,
bernilai gizi sama, oleh karena itu satu sama lain saling menukar. Untuk singkatnya disebut
dengan istilah 1 satuan penukar (Almatsier, 2007).
Golongan I sumber karbohidrat terdiri dari makanan yang banyak kandungan
karbohidratnya dan biasa digunakan sebagai makanan pokok. Seperti, nasi, mie, tepung
sagu, roti dan singkong. Satu penukar karbohidrat mengandung 175 kalori, 40 gram
karbohidrat, dan 4 gram protein (Waspadji, dkk., 2011).
Golongan II merupakan sumber protein hewani yang biasanya digunakan sebagai
lauk, misal ayam, ikan, udang, bakso dan kepiting. Golongan II dikelompokkan menjadi 3,
yaitu rendah lemak, lemak sedang, dan tinggi lemak. Kelompok rendah lemak terdiri dari
bahan makanan yang mengandung kira-kira 50 kalori, 7 gram protein, dan 2 gram lemak.
Ikan lele, udang, daging ayam tanpa kulit dan kepiting merupakan beberapa contoh dari
kelompok protein hewani rendah lemak. Sedangkan, kelompok lemak sedang mengandung
sekitar 75 kalori, 7 gram protein, dan 5 gram lemak. Contohnya, bakso, daging sapi,
kambing dan telur ayam. Lain halnya dengan kelompok tinggi lemak, satu penukar
mengandung 150 kalori, 7 gram protein, dan 13 gram lemak. Kelompok ini terdiri atas sosis,
telur bebek, belut dan corned beef (Waspadji, dkk., 2011).
3

Golongan III merupakan sumber protein nabati. Golongan ini juga biasa dipakai
sebagai lauk. Satu penukar protein nabati mengandung sekitar 75 kalori, 7 gram karbohidrat,
5 gram protein dan 3 gram lemak. Beberapa contoh dari golongan III adalah kacang hijau,
kacang tanah, tahu, tempe dan oncom. Sayuran dikategorikan dalam golongan IV. Makanan
ini biasa dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral. Satu penukar sayuran
setara dengan 100 gram sayuran atau lebih kurang 1 gelas setelah dimasak dan ditiriskan.
Sayuran dikelompokkan lagi menjadi 3, yaitu sayuran A, B, dan C. Sayuran A memiliki
kandungan kalori yang sedikit sehingga bisa dikonsumsi sekehendak, contohnya selada air,
ketimun, lobak dan tomat. Sementara, satu penukar sayuran B terdapat 25 kalori, 5 gram
karbohidrat, dan 1 gram protein. Contohnya adalah bayam, kacang panjang, sawi, terong
dan wortel. Sedangkan, satu penukar sayuran C mengandung 50 kalori, 10 gram
karbohidrat, dan 3 gram protein. Beberapa contoh sayuran C adalah bayam merah, mlinjo,
dan nangka muda (Waspadji, dkk., 2011).
Buah-buahan dan gula dikelompokkan dalam golongan V. Berat buah-buahan dalam
golongan ini ditimbang tanpa kulit dan biji atau berat bersih dari buah tersebut. Dalam satu
penukar golongan V, terdapat 50 kalori dan 12 gram karbohidrat. Golongan VI terdiri atas
susu dan hasil produknya. Bahan makanan pada golongan ini banyak mengandung protein,
lemak, karbohidrat, vitamin A, niasin, zat kapur dan fosfor. Berdasarkan kandungan
lemaknya, golongan VI dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu susu tanpa lemak, rendah lemak,
dan tinggi lemak. Dalam kelompok susu tanpa lemak, terkandung 75 kalori, 10 gram
karbohidrat dan 7 gram protein. Sedangkan, satu penukar susu lemak sedang terdapat 125
kalori, 10 gram karbohidrat, 7 gram protein, 6 gram lemak. Berebda halnya dengan susu
tinggi lemak, satu penukarnya mengandung 150 kalori, 10 gram karbohidrat, 7 gram protein,
10 gram lemak (Waspadji, dkk., 2011).
Golongan VII terdiri atas sumber minyak dan lemak. Satu penukar mengandung 50
klori dan 5 gram lemak. Menurut jenis kandungan lemaknya, golongan ini dibagi menjadi
lemak jenuh dan tidak jenuh. Golongan VIII terdiri atas makanan kurang dari 20 kalori dan
kurang dari 5 gram karbohidrat. Beberapa bahan makanan golongan ini yang ada ukuran
rumah tangganya (seperti, krim dan wijen) dibatasi konsumsinya maksimal 3 penukar per
hari. Sementara, bahan makanan lainnya, seperti, air mineral, agar-agar, kopi, teh, dapat
dikonsumsi sekehendak (Waspadji, dkk., 2011).
.

4

Bahan Makanan Penukar
Karbohidrat
(gram)
Protein
(gram)
Lemak
(gram)
Kalori
I. Sumber Karbohidrat 40 4 - 175
II. Sumber Protein Hewani
Rendah Lemak - 7 2 50
Lemak Sedang 7 5 75
Tinggi Lemak 7 13 150
III. Sumber Protein Nabati 7 5 3 75
IV. Sayuran
Golongan A - - - -
Golongan B 5 1 - 25
Golongan C 10 3 - 50
V. Buah-buahan dan Gula 12 - - 50
VI. Susu
Tanpa Lemak 10 7 - 75
Rendah Lemak 10 7 6 125
Tinggi Lemak 10 7 10 150
VII. Minyak
Lemak Tidak Jenuh - - 5 50
Lemak Jenuh - - 5 50
VIII. Makanan Tanpa Kalori
(Waspadji dkk, 2011)
Bahan makanan tertentu yang mengandung zat gizi lebih banyak atau kurang diberi
kode. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam merencanakan diet khusus, seperti diet
rendah natrium atau rendah purin. Berikut kode yang tercantum dalam Daftar Bahan
Makanan Penukar:
K+ Tinggi Kalium
Ko+ Tinggi Kolesterol
Na+ Natrium 200 – 400 mg
Na++ Natrium > 400 mg
P- Rendah Protein
Pr+ Purin Sedang
Pr++ Tinggi Purin
S+ Serat 3 – 6 g
S++ Serat > 6 g
Tj+ Sumber Lemak Tidak Jenuh
Tunggal

B. Tujuan Praktikum
Setelah mengikuti praktikum Gizi Dalam Daur Kehidupan, praktikan diharapkan mampu :
1. Mengetahui penggunaan Bahan Makanan Penukar (BMP).
2. Mengetahui golongan-golongan bahan makanan pada Daftar Bahan Makanan Penukar.
3. Mengetahui zat gizi yang terkandung dalam tiap-tiap golongan Bahan Makanan Penukar.
4. Menggunakan Bahan Makanan Penukar dalam menyusun menu.
5

BAB II

ISI

A. HASIL PRAKTIKUM

1. Golongan I. Sumber Karbohidrat
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang tercantum
dalam BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran Bahan
Makanan (cm)
gram URT gram URT
1. Nasi 100 ¾ gls 100 ¾ gls 
2. Roti Tawar 70 3 ptg sdg 64 3 ptg  10 x 11 x 1
3. Roti Putih 70 3 ptg sdg 71 2 ½ ptg  11 x 12,3 x 0,7
4. Krekers 50 5 bh bsr 50 5 ¼ bh  6,5 x 6,5
5. Nasi Tim 200 1 gls 200 1 gls 
6. Mie Kering 200 2 gls 125 1 gls 

2. Golongan II. Sumber Protein Hewani
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran Bahan
Makanan
(cm)
gram URT Gram URT
1. Bakso Besar 170 10 bj 170 6 bj 
2. Bakso Kecil 170 10 bj 141 10 bj 
3. Daging Sapi 35 1 ptg sdg 35 1 ptg
sdg

5,5 x 4,5 x 1
4. Daging
Ayam Kulit
40 1 ptg sdg 49 1 ptg
sdg


5. Ikan Tuna 40 1 ptg sdg 40 1 ptg
sdg

3,7 x 3 x 3
6. Telur Ayam
Mentah
Besar

50 g 1 btr 66 g 1 btr
bsr


6

7 Telur Ayam
Besar Kukus
56 g 1 btr
bsr


8. Telur Ayam
Mentah
Sedang
59 g 1 btr
sdg

9. Telur Ayam
Sedang
Rebus
52 g 1 btr
sdg

10
.
Udang 35 g 5 ekor sdg 35 g 8 ekor



3. Golongan III. Sumber Protein Nabati
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam
BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran
Bahan
Makanan
(cm)
gram URT gram URT
1. Tempe Balok 50 2 ptg sdg 50 1 ptg bsr/
2 ptg sdg

9,4 x 3,5 x
2,2
2. Tempe Daun 50 2 ptg sdg 49 2 ptg sdg 
3. Kacang Hijau 20 2 sdm 20 2 sdm 
4. Tahu 100 1 ptg bsr 95 1 ptg bsr 
5. Kacang Merah 20 2 sdm 20 2 sdm 


4. Golongan IV. Sayuran
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam
BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran
Bahan
Makanan
(cm)
gram URT gram URT
1. Kembang Kol 100 1 gls 100 1 gls 
2. Jagung Muda 100 1 gls 100 ¾ gls 
3. Wortel 100 1 gls 94 1 gls 
7

4. Buncis 100 1 gls 96 1 gls 
5. Kangkung 100 1 gls 123 1 gls 

5. Golongan V. Buah dan Gula
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam
BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan

Ukuran
Bahan
Makanan
(cm)
Gram URT gram URT
1. Apel 85 ½ bh 85 ½ bh 
2. Gula Pasir 13 1 sdm 13 1 sdm 
3. Jambu Biji 100 1 bh 100 ½ bh 
4. Pisang 150 1 bh 100 1 bh 
5. Pepaya 190 1 ptg bsr 190 1 ptg bsr  14 x 7 x 2

6. Golongan VI. Susu
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam
BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran Bahan
Makanan
(cm)
Gram URT gram URT
1. Susu Cair 200 1 gls 200 1 gls 
2. Susu Bubuk
Whole
30 6 sdm 30 6 sdm


3. Susu Bubuk
Skim
20 4 sdm 20 4 sdm


4. Keju 35 1 ptg kcl 35 1 ptg kcl  4,5 x 2,5 x 2,5
5. Yoghurt 200 1 gls 200 1 gls 







8

7. Golongan VII. Minyak
No
Bahan
Makanan
Jumlah yang
tercantum dalam BMP
Jumlah yang
diamati
Keterangan
Ukuran Bahan
Makanan
(cm)
gram URT Gram URT
1. Santan 40 g ⅓ gls 15 g 2 sdm 
2. Kelapa 15 g 1 ptg kcl 15 g 1 ptg kcl 
3. Kelapa Parut 15 g 2½ sdm 15 g 2 sdm 
4. Minyak
Goreng
5 g 1 sdt 3 g 1 sdt


5. Mentega 15 g 1 sdm 15 g 1 sdm 
6 Mayonaise 20 g 2 sdm 20 g 2 sdm 

B. PEMBAHASAN

1. Golongan I
Setiap satu penukar dalam golongan sumber karbohidrat memiliki energi sebesar
175 kkal, karbohidrat 40 g, dan protein 4 gram. Karena keterbatasan waktu, tidak semua
bahan makanan penukar diuji dalam praktikum kami. Bahan makanan yang diuji ada
enam macam yakni, nasi, roti tawar, roti putih, krekers, nasi tim, dan mie basah.
a. Nasi
Menurut BMP, ¾ gelas beras jika dimasak akan setara dengan 100 gram nasi.
Dengan cara yang sama, menggunakan gelas belimbing, kami mengukur ¾ gelas
beras, kemudian dimasak dan diperoleh hasil yang sama yakni 100 gram nasi. Dengan
demikian, terdapat kesesuaian antara hasil praktikum dengan data pada BMP.
b. Roti tawar
Menurut BMP, satu penukar roti tawar berjumlah 3 ptg sdg dengan berat 70
gram. Sedangkan dari hasil praktikum diperoleh 3 ptg roti tawar beratnya 70 gram.
Menurut kami, terdapat ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan data pada BMP.
Saat praktikum kami menggunakan roti tawar dengan satu ukuran roti tawar sebesar 10
x 11 x 1, yang jika diamati bukan termasuk ukuran sedang, karena ukuran tersebut
adalah ukuran standar roti tawar.
9


c. Roti putih
Sama halnya dengan roti tawar, dalam BMP tertulis 3 ptg sdg roti putih beratnya
70 gram. Sedangkan pada praktikum diperoleh hasil yang kurang sesuai, yakni dengan
berat 71 gram setara dengan 21/2 potong roti putih. Pada praktikum kami, sampel roti
putih yang digunakan adalah merek Borobudur, dengan ukuran satu ptongnya sebesar
11 x 12,3 x 0,7. Perbedaan hasil ini kemungkinan disebabkan beberapa hal seperti
perbedaan sampel yang diuji (beda merek) sehingga ukuran roti tawarnya pun berbeda,
kandungannya berbeda, kualitas bahan dasarnya berbeda sehingga mempengaruhi
beratnya.
d. Krekers
Menurut BMP, 5 biji besar krekers stara dengan berat 50 gram. Sedangkan pada
praktikum kami diperoleh hasil pengukuran seberat 50 gram dengan jumlah krekers
51/4 biji bsar. Ukuran satu krekers adalah 6,5 x 6,5. Terdapat perbedaan antara hasil
praktikum dengan BMP, hal ini dimungkinkan disebabkan oleh sampel yang digunakan
pada praktikum dengan yang digunakan pada BMP berbeda, sampel pada praktikum
kami menggunakan merek, yang juga ditaburi gula di setiap krekersnya. Bisa dipastikan
terdapat perbedaan kalori pula antara hasil BMP dengan praktikum jika sampel BMP
krekers tanpa gula.
e. Nasi tim
Pada pengukuran dengan sampel nasi tim, mula – mula beras sebanyak dua
satuan penukar dimasak dengan perbandingan air : beras 1:4 sampai 1:6. Selanjutnya
nasi tim ditimbang, dan diperoleh hasil sebesar 200 gram. Selanjutnya, nasi tim
tersebut dimasukkan dalam gelas, dan ternyata terisi penuh satu gelas. Menurut BMP,
1 gelas nasi tim memiliki berat 200 gram. Dengan demikian, terdapat kesesuaian
antara hasil praktikum dengan BMP.
f. Mie basah
Menurut BMP, mie basah dengan ukuran 2 gelas beratnya 200 gram. Sedangkan,
menurut hasil praktikum 1 gelas mie basah beratnya 125 gram. Sehingga terdapat
ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan BMP. Hal ini mungkin disebabkan
sampel mie basah yang digunakan saat praktikum berbeda dengan yang digunakan
untuk BMP, selain itu perlakuan sampel pada praktikum kami menggunakan mie kering
yang direbus terlebih dahulu.
10

2. Golongan II
Golongan II dalam Bahan Makanan Penukar atau BMP dibagi dalam 3
spesifikasi. Golongan tersebut adalah golongan rendah lemak yang memiliki 1 satuan
penukarnya mengandung 50kkal; 7 gram protein; 2 gram lemak. Dalam praktikum kami
tidak mengambil sampel dari spesifikasi ini. Kedua adalah lemak sedang. Spesifikasi ini
memiliki 1 satuan penukar yang mengandung 75 kkal; 7 gram protein, 5 gram lemak.
Dalam praktikum kali ini sampel yang digunakan adalah bakso, daging sapi, telur ayam,
dan udang. Terakhir adalah spesifikasi tinggi lemak. Golongan II protein hewani tinggi
lemak memiliki 1 satuan penukar yaitu 150 kkal; 7 gran protein; 136 gram lemak. Ayam
dengan kulit adalah sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini
a. Bakso Besar
Menurut data BMP, tertulis 170 gram setara dengan 10 biji bakso besar. Namun,
dari hasil pengamatan didapatkan bahwa 170 gram setara dengan 6 biji bakso besar.
Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan BMP, karena jenis
bakso yang digunakan saat praktikum dengan jenis bakso yang digunakan saat
pengukuran BMP berbeda. Selain itu, ukuran besar yang dimaksud dalam BMP tidak
sama dengan ukuran besar yang digunakan sebagai sampel praktikum.
b. Bakso Kecil
Menurut data BMP, tertulis170 gram setara dengan 10 biji bakso. Namun, dari
hasil pengamatan 10 biji bakso kecil setara dengan 141 gram. Hal ini menunjukkan
ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan BMP, karena jenis bakso yang
digunakan saat praktikum dengan jenis bakso yang digunakan saat pengukuran BMP
berbeda. Bakso yang digunakan saat praktikum sedikit lebih berat dibandingkan dengan
bakso yang digunakan sebagai standar BMP. Selain itu, perbedaan kandungan bakso
juga dapat memperngaruhi berat bakso.
c. Daging Sapi
Daging sapi, dalam BMP tertulis 1 potong sedang daging sapi memiliki berat 35
gram. Dari hasil pengamatan di dapatkan bahwa 35 gram daging sapi berasal dari 1
potong sedang daging ini. Artinya terdapat kesesuaian antara data yang tertera pada
BMP dan hasil pengamatan terkait daging sapi.
d. Daging Ayam Kulit
Satu-satunya yang berasal dari golongan II protein hewani tinggi lemak dalam
sampel praktikum kali ini yaitu daging atam kulit. Menurut BMP, tertulis 40 gram daging
11

ayam kulit setara dengan 1 potong sedang. Namun, dari hasil pengamatan dari potongan
paha bawah ayam ukuran sedang yang telah dihilangkan tulang, sehingga didapatkan
karkas nya memiliki berat 49 gram. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara hasil
praktikum dengan BMP, karena jenis daging ayam kulit yang digunakan saat praktikum
dengan jenis daging ayam kulit yang digunakan saat pengukuran BMP berbeda. Selain
itu disebabkan karena ukuran bahan makanan ayam yang berbeda-beda.
e. Ikan Tuna
Menurut BMP, tertulis 40 gram ikan tuna setara dengan 1 potong sedang. Hal ini
sesuai dengan hasil pengamatan pada praktikum yang menunjukkan 1 potong sedang
ikan tuna memiliki berat 40 gram pula. Artinya, terdapat kesesuaian antara data yang
tertera pada BMP dan hasil pengamatan terkait ikan.
f. Telur Ayam
Dalam BMP, tertilus 50 gram telur ayam setara dengan 1 butir telur. Dari hasil
pengamatan praktikum didapatkan hasil yang berbeda. 1 butir telur memiliki berat 59
gram. Hal ini tidak sesuai dengan BMP karena telur ayam yang diujikan ukurannya lebih
besar.
g. Udang
Untuk jenis seafood yang dipakai dalam sampel kali ini adalah udang. Dalam
BMP, tertulis 35 gram udang setara dengan 5 ekor sedang udang. Pada pengatamatan
didapatkan 35 gram udang dihasilkan dari penimbangan 8 ekor udang dengan ukuran
yang berbeda-beda pula. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara hasil praktikum
dengan BMP, karena jenis udang yang digunakan saat praktikum dengan jenis udang
yang digunakan saat pengukuran BMP berbeda. Selain itu disebabkan karena ukuran
bahan makanan udang yang berbeda-beda.

3. Golongan III
Setiap satu penukar dalam golongan sumber protein nabati memiliki energi
sebesar 75 kkal, protein 5 gram, lemak 3 gram, dan karbohidrat 7 gram. Bahan makanan
yang diuji ada lima macam yakni, tempe balok, tempe daun, kacang hijau, tahu, dan
kacang merah.



12

a. Tempe Balok
Tempe yang berbentuk balok ini ditimbang sebesar 50 gram setara dengan 2
potong sedang. Hal ini sudah sesuai dengan BMP, yakni 2 potong sedang memiliki berat
50 gram.
b. Tempe Daun
Tempe daun yang berbentuk segitiga ini apabila ditimbang 2 potong sedang
memiliki berat 49 gram. Berat ini sedikit ada perbedaan dengan yang terdapat di BMP,
namun selisih 1 gram ini masih dalam batas toleransi.
c. Kacang Hijau
Kacang hijau sebanyak 2 sendok makan memiliki berat 20 gram. Hal ini sudah
sesuai dengan BMP.
d. Tahu
Satu potong besar tahu yang tersedia ditimbang memiliki berat sebesar 95 gram.
Sedangkan di BMP seharusnya 1 potong besar tahu memiliki berat 100 gram. Hal ini
mungkin dikarenakan perbedaan besar tahu, karena setiap potong tahu tidak sama
ukurannya. Bahkan pada praktikum ini menimbang semua tahu dalam satu kemasan
ternyata memiliki berat yang berbeda-beda.
e. Kacang Merah
Kacang merah yang ditimbang dari 2 sendok makan setara dengan 20 gram. Hal
ini sudah sesuai dengan yang terdapat pada BMP. Meskipun begitu, perbedaan yang
mungkin terjadi bisa disebabkan sendok yang digunakan tidak sama. Setiap sendok
memiliki cekung yang berbeda-beda, sehingga volume yang ditampungnya akan berbeda-
beda pula.

4. Golongan IV
Sayuran dikelompokkan lagi menjadi 3, yaitu sayuran A, B, dan C. Sayuran A
memiliki kandungan kalori yang sedikit. Sementara, satu penukar sayuran B terdapat 25
kalori, 5 gram karbohidrat, dan 1 gram protein. Sedangkan, satu penukar sayuran C
mengandung 50 kalori, 10 gram karbohidrat, dan 3 gram protein.Bahan makanan yang diuji
ada lima macam yakni, kembang kol, jagung muda, wortel, buncis, dan kangkung.
a. Kembang Kol
Kembang kol yang telah dipotong-potong dan direbus ditimbang 100 gram setara
dengan 1 gelas belimbing. Hal ini sudah sesuai dengan BMP.
13

b. Jagung Muda
Jagung muda dipotong-potong dan direbus. Setelah ditimbang berat jagung muda
adalah 100 gram. Namun setelah dimasukkan dalam gelas hanya memenuhi ¾ gelas.
Hal ini berbeda dengan yang tertera di BMP, yakni satu gelas sayuran memiliki berat 100
gram.
c. Wortel
Wortel yang telah dibersihkan dan ditimbang tepat 100 gram. Kemudian dipotong-
potong dan direbus. Setelah ditimbang ternyata menyusut menjadi 94 gram dan
dimasukkan dalam gelas memenuhi 1 gelas. Hal ini terdapat perbedaan dengan BM
yang seharusnya 1 gelas memiliki berat 100 gram. Namun masih dalam batas toleransi
karena perbedaannya tidak lebih dari 10 gram.
d. Buncis
Buncis yang telah dipotong-potong dan direbus setelah ditimbang hanya memiliki
berat 96 gram dan memenuhi 1 gelas. Hal ini sedikit berbeda dengan yang tertera di
BMP bahwa sayur 1 gelas memiliki berat 100 gram.
e. Kangkung
Kangkung yang telah dipotong-potong dan direbus kemudian ditimbang memiliki
berat 123 gram setara dengan 1 gelas penuh. Perbedaan dengan yang tertera di BMP
cukup jauh, yakni selisih 23 gram. Hal ini mungkin disebabkan karena kangkung
memenuhi seluruh ruang gelas dan hanya sedikit menyisakan ruang, sehingga dalam
satu gelas lebih padat dibanding sayuran lainnya. Seharusnya dalam 1 gelas sayuran
setara dengan berat 100 gram.

5. Golongan V
Setiap satu penukar dalam golongan buah dan gula memiliki energi sebesar 50
kkal dan karbohidrat 12 g. Karena keterbatasan waktu, tidak semua bahan makanan
penukar diuji dalam praktikum kami. Bahan makanan yang diuji ada lima macam yakni,
apel, gula pasir, jambu biji, pisang, dan papaya.
a. Apel
Menurut BMP, 85 gram apel setara dengan ½ buah. Kemudian, dari hasil
praktikum diperoleh hasil yang sama yakni ½ buah apel memiliki berat 85 gram.
Sehingga terdapat kesesuaian antara hasil praktikum dengan BMP.

14

b. Gula Pasir
Menurut BMP, 1 sdm gula pasir memiliki berat sebesar 13 gram. Sama halnya
dengan hasil praktikum, kami mengukur bahwa 13 gram gula pasir setara dengan 1 sdm.
Hal yang perlu diperhatikan adalah dari hasil praktikum, 13 gram gula pasir tersebut
setara dengan 1 sdm peres. Dengan demikian, terdapat kesesuaian antara hasil
praktikum dengan BMP, jika pengukuran dalam 1 sdm sama – sama peres dan
menggunakan sendok yang hampir sama. Dapat dipastikan terdapat perbedaan jika
ukuran 1 sdm dalam bentuk munjung, dan atau menggunakan sendok yang berbeda
jenis (terlalu cekung ke bawah, telalu leper, dan sebagainya).
c. Jambu biji
Menurut BMP, 1 buah besar jambu biji memiliki berat sebesar 100 gram.
Sedangkan dari hasil pengukuran, 100 gram jambu biji setara dengan ½ buah. Terdapat
perbedaan yang cukup berarti pada pengamatan ini.
d. Pisang
Menurut BMP, 1 potong sedang pisang memiliki berat sebesar 150 gram.
Kemudian saat praktikum,sampel yang kami uji adalah pisang ambon, mula – mula
mengupas dan menimbang pisang dengan untuh, diperoleh hasil 1 potong sedang
pisang beratnya 100 gram. Dengan demikian terdapat ketidaksesuaian antara hasil
praktikum dengan BMP, yang kemungkinan terjadi karena jenis sampel yang digunakan
berbeda, kalibrasi alat timbang yang digunakan, dan ketelitian praktikan dalam
pengukuran.
e. Pepaya
Menurut BMP, 1 potong sedang papaya memiliki berat 190 gram. Saat praktikum,
kami menimbang 190 gram papaya dan kurang lebih terukur 1 potong sedang.
Sehingga, terdapat kesesuaian antara hasil praktikum dengan BMP.

6. Golongan VI
1 satuan penukar mengandung 110 kkal, 7 gram protein, 7 gram lemak, 7 gram karbohidrat.
a. Susu cair
Dalam BMP, tertulis 200 gram susu cair setara dengan 1 gelas susu cair. Saat
praktikum didapatkan hasil 200 gram susu cair setara dengan ⅔ gelas 300 ml. Hal ini
menunjukkan kesesuaian antara hasil praktikum dengan BMP, karena 1 gelas belimbing
itu mempunyai volume 200 ml setara dengan ⅔ gelas 300 ml.
15

b. Susu bubuk whole
Susu bubuk whole 30 gram setara dengan 6 sendok makan berdasarkan BMP.
Dari hasil pengamatan saat praktikum di dapatkan bahwa 6 sendok makan susu bubuk
whole setara dengan 30 gram. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara data
dalam BMP dengan hasil pengamatan. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah 6
sendok makan yang digunakan untuk mengukur tiap-tiap sendoknya harus mengambil
susu bubuk dalam kondisi munjung atau penuh. Dengan perlakuan yang seperti ini maka
dapat didapatkan hasil yang sesuai dengan BMP susu bubuk whole.
c. Susu bubuk skim
Menurut data BMP, 20 gram susu bubuk skim dapat diperoleh dari 4 sendok
makan susu bubuk skim. Dalam pengamatan saat praktikum, 4 sendok makan susu
bubuk skim setara dengan 20 gram susu bubuk sim. Hal ini menunjukkan adanya
kesesuaian antara data dalam BMP dengan hasil pengamatan. Namun yang perlu
diperhatikan di sini adalah 4 sendok makan yang digunakan untuk mengukur, tiap-tiap
sendoknya harus mengambil susu bubuk dalam kondisi peres atau tidak munjung atau
penuh. Dengan perlakuan yang seperti ini maka dapat didapatkan hasil yang sesuai
dengan BMP susu bubuk skim.
d. Keju
Dalam BMP tertera bahwa 35 gram keju setara dengan 1 potong kecil keju. Dari
hasil pengamatan saat praktikum didapatkan 35 gram eju setara dengan 1 potong kecil
keju. Satu potong kecil keju yang digunakan untuk mendapat 35 gram keju memiliki
ukuran 4,5 x 2,5 x 2,5 dalam satuan cm.
e. Yogurt
Satu porsi yoghurt menurut BMP yakni setara dengan 1 gelas atau 200 gram.
Dalam praktikum ditimbang 1 cangkir yoghurt setara dengan 200 gram. Hal ini
menandakan sesuai dengan BMP.

7. Golongan VII
Bahan makanan golongan VII ini hampir seluruhnya terdiri dari lemak. 1 satuan
penukar minyak mengandung 50 kkal dan 5 gram lemak. Menurut kandungan asam lemaknya,
minyak dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu lemak tidak jenuh dan lemak jenuh. Bahan praktikum
untuk golongan VII antara lain : santan, kelapa, kelapa parut, minyak goreng, mentega, dan
16

mayonaise. Dari bahan praktikum tersebut yang termasuk lemak tidak jenuh adalah mayonaise.
Sedangkan santan, kelapa, kelapa parut, minyak goreng dan mentega termasuk lemak jenuh.
a. Santan
Santan yang digunakan dalam praktikum adalah santan instan kemasan dengan
merk Cocomas. Kandungan energi per penyajian yang tercantum dalam nutrition fact
adalah 35 kkal untuk 15 ml. Jadi untuk mendapatkan energi 50 kkal dari santan cocomas
didapatkan dengan cara =

x 15 ml = 21,4 ml. Santan yang tertulis dalam BMP yaitu 40
gram setara dengan 1/3 gelas belimbing. Namun, pada saat praktikum volume santan tidak
mencukupi 40 gram sehingga pengukurannya memakai sendok makan dan didapatkan
hasil 15 gram setara dengan 2 sdm . Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang didapat pada
saat praktikum sesuai dengan BMP.
b. kelapa
Untuk mendapatkan kelapa sesuai BMP dilakukan dengan memotong kelapa
kemudian menimbangnya sampai didapatkan berat 15 gram yang selanjutnya diamati
ukurannya. Dari hasil tersebut didapatkan bahwa 15 gram kelapa setara dengan 1 potong
kecil. Hal ini sesuai dengan BMP, yakni kelapa sebesar 15 gram adalah 1 potong kecil.
c. Kelapa Parut
Pengukuran kelapa parut dilakukan dengan memarut 50 gram kelapa kemudian
menimbang sebanyak 15 gr parutan kelapa tersebut dan diaplikasikan kedalam ukuran
sendok makan. Dari hasil praktikum didapatkan bahwa 15 gram kelapa parut setara dengan
2 sdm. Hal ini menunjukkan kurang sesuai dengan URT yang tercantum dalam BMP, yaitu
15 gram kelapa parut setara dengan 2 ½ sdm. Perbedaan hasil tersebut dimungkinkan
karena ukuran sendok yang berbeda pada saat praktikum dan pada saat penentuan URT
(Handayati, 2008).
d. Minyak goreng
Minyak goreng sebanyak 5 gram menurut BMP setara dengan 1 sendok teh.
Sedangkan, pada saat praktikum yang telah dilakukan menunjukkan data bahwa 1 sendok
teh minyak goreng setara dengan 3 gram. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara data
praktikum dengan data pada BMP. Perbedaan hasil tersebut mungkin dikarenakan proses
penyendokan, ukuran sendok,dan tingkat kekentalan minyak yang berbeda pada saat
penentuan URT dan praktikum (Handayati, 2008).

17

e. Mentega
Bahan makanan penukar selanjutnya, yaitu mentega. Pada saat praktikum dilakukan
pengukuran dengan menimbang 15 gram mentega kemudian diaplikasikan ke dalam
sendok makan dan diamati. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa satu porsi
mentega sebesar 15 gram setara dengan 1 sendok makan. Ukuran ini sudah sesuai
dengan BMP, di mana satu porsi mentega setara dengan 1 sendok makan atau 15 gram.
f. Mayonaise
Bahan terakhir praktikum untuk golongan VII adalah mayonaise. Cara
pengukurannya yaitu dengan menimbang 20 gram mayonaise kemudian diaplikasikan ke
dalam sendok makan dan diamati. Dalam praktikum didapatkan data yang sesuai dengan
BMP, yakni 20 gram mayonaise setara dengan 1 sendok makan.















18

PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Bahan Makanan Penukar (BMP) berfungsi antara lain untuk mengembangkan suatu
cara penyuluhan perencanaan makan yang memungkinkan penggunaan bahan
makanan yang lebih variasi, memudahkan pemilihan alternatif bahan makanan dalam
penyusunan diet khusus karena alasan penyakit, alergi, maupun pantangan, serta
mengembangkan suatu cara dalam menyiasati kelangkaan bahan makanan tertentu.
2. Bahan makanan penukar (BMP) terdiri dari delapan golongan, yaitu :
a. Golongan I Sumber Karbohidrat
b. Golongan II Sumber Protein Hewani
c. Golongan II Sumber Proten Nabati
d. Golongan IV Sayuran
e. Golongan V Buah dan Gula
f. Golongan VI Susu
g. Golongan VII Minyak
h. Golongan VII Makanan Tanpa Kalori
3. Kandungan gizi dalam bahan makanan penukar
Bahan makanan Kandungan nutrisi
Golongan

Energi
(kkal)
Protein
(gr)
Lemak
(gr)
Karbohidrat
(gr)
Golongan I
Sumber
Karbohidrat
- 175 4 - 40
Golongan II
Sumber Protein
Hewani
Rendah lemak 50 7 2 -
Lemak sedang 75 7 5 -
Tinggi lemak 150 7 13 -
Golongan III
Sumber Protein
Nabati
- 75 5 3 7
Golongan IV
Sayuran
Sayuran A
Sayuran B
Sayuran C
-
25
50
-
1
3
-
-
-
-
5
10
Golongan VI
Susu
Susu tanpa lemak 75 7 - 10
Susu rendah
lemak
125 7 6 10
Susu tinggi lemak 150 7 10 10
Golongan VII
Minyak
-

50 - 5 -
Golongan VIII
Makanan Tanpa
Kalori
- - - - -

19

4. Bahan makanan yang telah dipraktikumkan dibagi menjadi 7 golongan, yakni nasi, roti
tawar, roti putih, krekers, nasi tim dan mie kering tergolong bahan makanan dengan
dominan sumber karbohidrat. Bakso, daging sapi, daging ayam, telur ayam, ikan tuna,
dan udang termasuk golongan II (sumber protein hewani). Tempe, tahu, kacang hijau,
dan kacang merah tergolong sumber protein nabati. Protein dibutuhkan antara lain
dalam meregenerasi sel-sel yang rusak serta berperan penting dalam proses
pertumbuhan. Golongan IV (sayuran) meliputi wortel, jagung muda, buncis, kembang
kol, dan kangkung. Pepaya, apel, pisang, jambu biji dan gula pasir masuk dalam
golongan VII buah dan gula. Susu cair, susu bubuk whole, susu bubuk skim, dan
yoghurt termasuk golongan VI (susu). Sayuran, buah, dan susu merupakan sumber
vitamin mineral yang antara lain berfungsi untuk menjaga homeostasis dan
metabolisme tubuh. Golongan VII (minyak) meliputi minyak goreng, santan, kelapa,
kelapa parut, mentega, dan mayonaise. Bahan makanan yang termasuk golongan ini
memiliki kandungan gizi yang dominannya adalah lemak.

B. Saran
Alangkah lebih baik, daftar Bahan Makanan Penukar milik Departemen
Kesehatan ini mencantumkan setiap merek dari setiap sampel yang diuji. Menurut kami,
hal ini bisa meminimalisir terjadinya ketidaksesuaian dalam praktikum dengan BMP.
Selain itu, variasi alat yang digunakan untuk mengukur suatu bahan makanan tolong
disesuaikan dengan yang lebih sering digunakan. Sebagi contoh sayuran, bukankah
akan lebih mudah terdapat catatan 1 gelas setara dengan berapa sendok sayur. Untuk
nasi, 1 gelas setara dengan berapa centong. Kemudian, ukuran bentuk seperti peres
atau munjung pun akan lebih baik jika ditulis. Terakhir, pembaruan pada daftar Bahan
Makanan Penukar setiap berapa tahun sekali semisal, akan sangat kami hargai, karena
berkaitan pula dengan kualitas bahan makanan yang setiap tahun bisa berubah
tergantung kondisi lingkungan (tanah, air, udara, dan sebagainya).




20

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2007. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Handayati, S. P et al. (2008). Konversi Satuan Ukuran Rumah Tangga kedalam Satuan Berat
(Gr Jurnal Gizi dan Pangan. Volume 3(1) 2008. ISSN: 1978-1059.
Waspadji, Sarwono dkk. 2011. Daftar Bahan Makanan Penukar Edisi Ketiga (Awam). Jakarta:
Badan Penerbit FK UI.