You are on page 1of 3

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Kulit dapat dengan mudah dilihat dan diraba, hidup
dan menjamin kelangsungan hidup. Kulit manusia tidak bebas hama (steril), kulit
steril hanya didapatkan pada waktu yang sangat singkat setelah lahir. Bahwa kulit
manusia tidak steril mudah dimengerti oleh karena permukaan kulit mengandung
banyak bahan makanan (nutrisi) untuk pertumbuhan organisme, antara lain lemak,
bahan-bahan yang mengandung nitrogen, mineral dan lain-lain yang merupakan
hasil tambahan proses keratinisasi atau yang merupakan hasil apendiks kulit (1).
Pioderma didefinisikan sebagai infeksi bakteri pada kulit yang disebabkan
oleh Staphylococcus, Streptococcus atau oleh keduanya. Penyebab utamanya
adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus B hemolyticus, sedangkan
Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal di kulit dan jarang
menyebabkan infeksi. Faktor predisposisi yang menyebabkan infeksi antara lain,
hygiene yang kurang, menurunnya daya tahan tubuh, ada penyakit kulit lain
menyertai (1,2)
Pioderma diklasifikasikan atas pioderma primer dan pioderma sekunder.
Pioderma primer adalah infeksi yang terjadi pada kulit normal dimana
penyebabnya biasanya satu macam mikroorganisme. Pioderma sekunder adalah
infeksi yang terjadi pada kulit yang telah ada penyakit kulit yang lain. Gambaran


2

klinis nya tak khas dan mengikuti peyakit yang telah ada. Jika penyakit kulit
disertai pioderma sekunder disebut impetigenisata. Tanda impetigenisata adalah
terdapat pus, pustule, bula purule, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran
kelenjar getah bening regional, leukositosis dan dapat pula disertai dengan demam
(1,2).
Salah satu jenis pioderma yang akan dibahas lebih lanjut adalah impetigo.
Impetigo secara klinis didefinisikan sebagai penyakit infeksi menular pada kulit
yang superfisial yaitu hanya menyerang epidermis kulit, yang menyebabkan
terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil berisi nanah (pustula). Terdapat dua jenis
impetigo yaitu impetigo vesikobulosa yang disebabakan oleh Staphyilococcus
aureus dan impetigo krustosa yang disebabkan oleh Streptococcus β hemolitikus
(2).
Berdasarkan uraian diatas, untuk menganalisis lebih dalam dilakukan
sebuah retropektif insidensi impetigo di poli kulit dan kelamin RSUD Ulin
Banjarmasin periode Januari 2012-Desember 2012 berdasarkan usia dan jenis
kelamin.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas memberikan dasar
untuk merumuskan masalah penelitian tersebut, yaitu bagaimana insidensi
impetigo di poli kulit dan kelamin RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-
Desember 2012 berdasarkan usia dan jenis kelamin ?





3

C. Tujuan Penulisan
Tujuan umum untuk mengetahui insidensi impetigo di poli kulit dan
kelamin RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-Desember 2012
berdasarkan usia dan jenis kelamin.
Tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Mengetahui insidensi impetigo berdasarkan usia di poli kulit dan kelamin
RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-Desember 2012
2. Mengetahui insidensi impetigo berdasarkan jenis kelamin di poli kulit dan
kelamin RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-Desember 2012
3. Mengetahui perbedaan insidensi impetigo berdasarkan usia di poli kulit dan
kelamin RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-Desember 2012
4. Mengetahui perbedaan insidensi impetigo berdasarkan jenis kelamin di poli
kulit dan kelamin RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2012-Desember
2012