You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permasalahan yang sering timbul pada proses pencelupan dengan zat warna
pigmen terletak pada penggunaan zat pengikat dan zat pembasah yang seringkali pada
proses pencelupannya menghasilkan busa yang berlebihan sehingga kain yang
dihasilkan mempunyai ketahanan gosok dan pencucian yang kurang baik, sehingga
diperlukan suatu zat yang dapat memperbaiki kerataan hasil celupan serta ketahanan
gosok dan pencucian kain kapas yang dicelup dengan zat warna pigmen.
Selain membantu mencegah timbulnya busa yang berlebihan dari adanya zat
pembasah pada proses pencelupan, anti busa JD Emulsion yang merupakan emulsi
silikon dalam air juga dapat memperbaiki ketahanan gosokan dan pencucian yang baik.
Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa cara yang ditempuh antara lain:
diusahakan mencari suatu proses yang dapat meningkatkan mutu hasil pencelupan
mengenai ketahanan luntur warna terutama terhadap gosokan basah dan ketahanan
luntur warna terhadap pencucian.
Percobaan dengan variasi konsentrasi zat anti busa JD Emulsion untuk
menentukan konsentrasi yang terbaik pada kain kapas yang dicelup dengan zat warna
pigmen cara rendam-peras-pengeringan agar mempunyai hasil celupan serta
ketahanan terhadap gosokan dan pencucian yag baik.
1.2. Rumusan Masalah1.
. !agaimana cara mencegah timbulnya busa yang berlebihan pada proses
pencelupan dengan menggunakan zat anti busa"
#. !agaimana pengaruh hasil dari penambahan zat anti busa terhadap hasil pencucian
dan pada hasil gosokan terhadap hasil pencelupan kain kapas"
1.3. Kerangka Berpkr
Sebagai zat akti$ permukaan, zat anti busa %& 'mulsion mempunyai
kecenderungan teradsorpsi pada permukaan. (pabila larutan mempunyai teganga
permukaa yang lebih kecil dari pelarut murni karena zat terlarut akan terkonsentrasi
pada permukaan dan terjadi adsorpsi positi$. (dsorpsi negati$ terjadi bila molekul-
molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada permukaan.
1
)at anti busa %& 'mulsion mengandung senyawa silikon yang ber$ungsi sebagai zat
pelemas sehingga timbul pelemasan dan pembentukan lapisan pada permukaan kain
kapas. Pada pemakaian zat anti busa %& 'mulsion, terjadinya penempelan lapisan $ilem
yang menutupi permukaan serat kapas disebabkan adanya tekanan sirkulasi larutan
yang menembus kain kapas. Sirkulasi larutan tersebut mendesak molekul zat anti busa
masuk ke dalam pori-pori serat kapas, sehingga menambah rapat kedudukan zat anti
busa pada kain kapas, akibatnya diperoleh tahan gosok kain kapas yang lebih baik.
1.!. Hp"tess
!erdasarkan judul penelitian, penulis mengemukakan hipotesis dalam penelitian
ini adalah semakin besar konsentrasi zat anti busa *%& 'mulsion+, maka ketahanan
luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan luntur warna terhadap gosokan pada
kain kapas semakin baik.
1.#. $u%uan
Untuk mengetahui cara mencegah timbulnya busa yang berlebihan pada proses
pencelupan dengan menggunakan zat anti busa dan hasil pencelupan pada kain kapas
dalam proses pencucian dan penggosokan.
2
BAB II
$E&RI DA'AR
2.1. 'erat Kapas
Serat kapas merupakan serat alam yang berwarna putih kekuning-kuningan
yang berasal dari tumbuhan berbiji jenis Gossypium yang termasuk kedalam keluarga
Malvaceae. Serat ini dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh $aktor-$aktor alamiah,
sehingga si$at-si$at serat ini bervariasi tergantung dari tempat tumbuhnya.
&alam beberapa hal, serat kapas memiliki beberapa si$at yang tidak ditemukan
pada serat alam lainnya ataupun serat-serat sintetik oleh karena itu sampai sekarang
serat kapas masih banyak digunakan dalam pembuatan bahan tekstil. ,elebihan serat
kapas tersebut antara lain nyaman dipakai.
2.1.1. '(at)s(at 'erat Kapas
2.1.1.1 '(at *ska
-arna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit krem. !eberapa
jenis kapas yang seratnya panjang warnanya lebih krem dibandingkan
dengan kapas Upland dan Sea .sland. -arna kapas akan makin tua setelah
penyimpanan selama #-/ tahun karena pengaruh cuaca yang lama, debu
dan kotoran, warna kapas akan menjadi keabu-abuan dan dengan
tumbuhnya jamur pada kapas sebelum pemetikan, menyebabkan warna
putih kebiru-biruan yang tidak bisa dihilangkan dalam pengelantangan.
,ekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar selulosa
dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. ,ekuatan serat kapas dalam
keadaan basah lebih tinggi dibandingkan dalam keadaan kering.
0ulur serat kapas termasuk tinggi diantara serat selulosa alam, kira-
kira dua kali mulur rami. 0ulur serat kapas berkisar antara 1-23 dengan
rata-rat 43 tergantung dari jenisnya.
Serat kapas mempunyai a$initas yang besar terhadap air dan air
mempunyai pengaruh yang nyata terhadap si$at-si$at kapas. Serat kapas
yang kering bersi$at kasar, rapuh dan kekuatannya rendah. 0oisture regain
serat kapas bervariasi dengan perubahan kelembaban relative dari atmos$ir
disekelilingnya. 0oisture regain serat kapas pada kondisi standar antara 4-
5,/3 sedangkan jenis serat kapas yaitu ,/6-,/7.
3
2.1.1.2. '(at Kma
,arena serat kapas sebagian besar tersusun dari selulosa, maka
si$at-si$at kimia kapas adalah si$at-si$at kimia selulosa. Serat kapas pada
umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan
pemakaian yang normal. !eberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa akan
merusak kapas sehingga kekuatannya menjadi turun. ,erusakan karena
oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa, biasanya terjadi pada
pengelantangan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau
pemanasan yang lama pada suhu diatas 16
8
9.
(sam akan merusak kapas dan membentuk hidroselulosa. (sam kuat
akan menyebabkan kerusakan yang hebat sampai melarutkan. (lkali sedikit
berpengaruh pada kapas, kecuali larutan alkali yang pekat menyebabkan
penggelembungan yang besar pada serat seperti pada proses merserisasi
yang menyebabkan serat menjadi lebih mengkilap dan kekuatannya lebih
tinggi.
Pelarut-pelarut yang biasa digunakan untuk melarutkan kapas ialah
kuproamonium hidroksida dan kuprietilena diamina. ,apas mudah diserang
oleh jamur dan bakteri, terutama pada keadaan lembab dan suhu hangat.
,apas memiliki beberapa si$at istimewa misalnya mudah dicuci, enak
dipakai dan murah sehingga kapas lebih unggul dari serat-serat lain untuk
pemakaian dalam musim panas, pakaian kerja, handuk dan kain : kai n
lapis.
Untuk identi$ikasi kapas dapat dilakukan dengan uji bakar. ,apas
terbakar cepat dengan asap putih dan meninggalkan abu halus, bau seperti
kertas atau daun terbakar. Sewaktu nyala api padam timbul peletikan api
yang berjalan *a$ter glow+. Uji bakar ini tidak dapat membedakan serat
kapas dengan serat selulosa lainnya. Selain itu, kapas dapat diidenti$ikasi
khusus dengan mikroskop.
2.2. +at JD Emulsion
JD Emulsion adalah zat anti busa berupa emulsi silikon dalam air yang berwarna
putih susu. )at ini digunakan untuk mengontrol banyaknya busa yang timbul pada
proses pencelupan.
. Si$at umum JD Emulsion
• ;ipe : 'mulsi silikon
• !entuk $isik : cairan berwarna putih susu
4
• p< : 4
• pelarut yang cocok : air
• kekentalan *9PS+ : #,/66 9PS
• komposisi : zat akti$ permukaan yang besi$at nonionik-anionik
#. Si$at khusus JD Emulsion
• )at anti busa JD Emulsion terus menerus mengontrol jumlah busa dalam larutan
pencelupan
• Stabil pada kondisi ph dan suhu yang jarak antaranya jauh, ditunjukan oleh
gra$ik pencelupan yang konstan dalam berbagai konsentrasi dalam JD Emulsion
yang digunakan
• 0udah didispersikan, sehingga pada saat proses pencucian bahan tekstil bersih
dari endapan zat anti busa tersebut
• )at anti busa JD Emulsion akan membeku pada suhu dibawah 6
o
9 *2#
o
=+. %ika
membeku, cukup dipanaskan dengan suhu 5-#>
o
9 *7/-5/
o
=+ dan diaduk hingga
homogen
2. Penggunaan
)at anti busa %& 'mulsion digunakan untuk mengontrol busa dengan cara
memasukan langsung ke dalam larutan yang mengandung busa. Untuk
memudahkan pengontrolan dianjurkan konsentrasi %& 'mulsion yang digunakan
adalah mulai 66 ppm untuk busa yang bersi$at anionik kuat atau didasarkan pada
banyaknya busa yang ada. Pada umumnya cara yang paling mudah untuk
mengontrol banyaknya busa adalah ditambahkan pada saat busa akan menjadi
masalah.
Untuk busa yang bersi$at nonionik lemah maka anti busa %& 'mulsion
bekerja pada kosentrasi #6 ppm, sedangkan untuk busa yang bersi$at nonionik kuat
anti busa %& 'mulsion bekerja pada konsentrasi #/ ppm.
,etepatan anti busa merupakan penilaian terhadap pengadukan untuk
mengetahui banyaknya anti busa sebagai $ungsinya sebagai zat akti$ permukaan
yang dipecahkan oleh aksi pengaduk !urrel -rist. Pengadukan dihentikan dengan
bermacam-macam selang waktu selama pengujian dan waktu gagal dicatat. -aktu
gagal adalah massa yang diperlukan tingginya busa untuk turun hingga 6,/ cm di
atas kebanyakan hasil uji permukaan.
5
1. 0ekanisme
!usa timbul karena adanya udara yang terperangkap dalam jaringan 2
dimensi yang dihasilkan oleh zat akti$ permukaan, sehingga dapat menghalangi
menempelnya zat warna pada permukaan kain kapas.
0olekul zat akti$ permukaan terdiri dari # gugus penting yaitu gugus lio$il
*menarik pelarut+ dan gugus hidro$ob *menolak pelarut+. &alam media air sebagai
pelarut gugus lio$il disebut gugus hidro$ob dan gugus lio$ob disebut hidro$il. ?ugus
hidro$ob biasanya terdiri dari rantai ali$atik atau aromatik, atau gugus aril alkil yang
biasanya teridiri dari paling sedikit 6 atom karbon.
?ugus hidro$ob memberikan si$at-si$at tertentu yang baik seperti pegangan
yang lembut dan lemas. Sedangkan gugus hidro$il lebih banyak menentukan si$at-
si$at kimia $isika zat akti$ permukaan dari gugus hidro$ob.
&alam air zat anti busa %& 'mulsion merupakan larutan koloid, bagian hidro$il
dari partikel koloid menghadap ke air sedangkan bagian yang hidro$ob menghadap
ke udara atau $asa minyak. Pada konsentrasi tinggi partikel koloid akan menggumpal
membentuk suatu agregat yang disebut misel ada # macam misel yaitu misel s$erik
dan misel lamelar.
Sebagai zat akti$ permukaan, zat anti busa %& 'mulsion mempunyai
kecenderungan teradsorpsi pada permukaan. (pabila larutan mempunyai teganga
permukaa yang lebih kecil dari pelarut murni karena zat terlarut akan terkonsentrasi
pada permukaan dan terjadi adsorpsi positi$. (dsorpsi negati$ terjadi bila molekul-
molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada permukaan.
)at anti busa %& 'mulsion mengandung senyawa silikon yang ber$ungsi sebagai zat
pelemas sehingga timbul pelemasan dan pembentukan lapisan pada permukaan
kain kapas. 0ekanisme pelepasan adalah memberikan lapisan minyak atau minyak
yang hidro$ob membentuk sebuah lapisan tipis pada bahan yang dapat
mengakibatkan pengecilan gesekan antara elemen bahan yang berdampingan,
sehingga bahan menjadi lebih lemas dan lembut lapisan lemak yang terbentuk
dihasilkan oleh adsorpsi pelemas pada permukaan serat kapas. (dsorpsi pelemas
dari larutan ke permukaan serat kapas dapat merupakan gabungan mekanisme
adsorpsi ikatan hidrogen dan gaya-gaya @an der -aals.
)at anti busa %& 'mulsion yang bersi$at akti$ permukaan sebagai koloid
dalam air akan larut karena gugus polar membentuk ikatan hidrogen dengan molekul
air, sehingga dalam air terjadi lapisan dari molekul zat anti busa %& 'mulsion yang
mengandung senyawa silikon, dengan gugus hidrokarbon yang nonpolar menghadap
ke dalam $ilem sedangkan gugus polar menghadap ke air.
6
?abungan gaya-gaya yang ditimbulkan oleh si$at dan dtruktur zat anti busa
%& 'mulsion yang mengandung senyawa silikon dengan serat kapas akan
mendorong keluar dari lingkungan pelarut air dan kemudian teradsorpsi pada
permukaan serat, sehingga gugus hidro$il zat anti busa %& 'mulsion tertarik masuk
oleh gugus hidro$il serat, sedangkan gugus hidro$obnya tertinggal pada permukaan
serat. ?ugus hidro$ob pada permukaan ini akan memenuhi prinsip agregasi rantai
membentuk kelompok dengan gugus hidro$ob lainnya ke arah panjang horizontal
berupa $ilem yang menutupi permukaan.
Pada pemakaian zat anti busa %& 'mulsion, terjadinya penempelan lapisan
$ilem yang menutupi permukaan serat kapas disebabkan adanya tekanan sirkulasi
larutan yang menembus kain kapas. Sirkulasi larutan tersebut mendesak molekul zat
anti busa masuk ke dalam pori-pori serat kapas, sehingga menambah rapat
kedudukan zat anti busa pada kain kapas, akibatnya diperoleh tahan gosok kain
kapas yang lebih baik.
BAB III
7
ME$&DA
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan zat pembentuk
lapisan*%& 'mulsion+ terhadap ketahanan gosokan dan pencucian pada proses pencelupan
kain kapas menggunakan zat warna pigmen cara rendam-peras-panggang.
3.1. Bahan ,ang -gunakan
!ahan yang digunakan adalah kain kapas dengan konstruksi kain sebagai berikut :
. (nyaman : keper
#. Aomor benang lusi : Ae 4
2. Aomor benang pakan : Ae 4
1. ;etal lusi : /6 hlBcm
/. ;etal pakan : 1 hlBcm
7. !erat kainBm
#
: 277,76 grBm
#
4. Cebar kain : /6 cm
5. %enis kain : #/6
3.2. Peralatan -an .at).at ,ang -gunakan
3.2.1. Peralatan
• Aeraca analitis
• Piala gelas
• Pengaduk
• ?elas ukur
• ;ermometer
• 0esin padder mini
• Stenter mini
• 8ven
• ?unting
• Spectro$lash /66
3.2.2. +at).at kma
Desep pencelupan
• )at warna pigmen : /6 gBC
• !inder : /6 gBC
• (nti migrasi S, : /6 gBC
8
• %& 'mulsion : 6,2,1,/,7,4 gBC
• 0eicerin E-#66 : / gBC
• Pengeringan : 66
o
9, selama # menit
• Pemanggangan : 46
o
9 selama # menit
3.3. Dagram alr
,ain kapas siap dicelup
BAB I/
9
Pencelupan dengan zat warna pigmen dengan
variasi zat pengontrol busa *%& 'milsion+:
-)at warna pigmen : /6 grBl
-)at pengikat : /6 grBl
-(nti migrasi S, : /6 grBl
-%& 'mulsion : 6,2,1,/,7,4 gBl
-0eicerin E-#66 : / grBl
Pengeringan pada suhu 66
&
9, selama #
menit
Pemanggangan dengan variasi suhu 4689,
selama # menit
Pengujian dan pengevaluasian :
-,etuaan warna
-,etahanan gosok basah dan kering
-,etahanan luntur warna terhadap pencucian
HA'IL PENELI$IAN
a. Hasl Pengu%an Ketahan Luntur 0arna terha-ap Pen1u1an pa-a Pen1elupan
Kan Kapas Menggunakan +at 0arna Pgmen -engan Penam2ahan +at ant
Busa 3D Emuls"n
K"nsentras
3D
Emuls"n
4g5l6
P"l,m" 7ell"8 9 3 P"l,m" Re- R P"l,m" Blue *9NN
Nla
Peru2ahan
0arna
Nla
Pen"-aan
8arna
Nla
Peru2ahan
0arna
Nla
Pen"-aan
8arna
Nla
Peru2ahan
0arna
Nla
Pen"-aan
8arna
: 3)! ! ! ! ! !
3 ! !)# ! !)# ! !)#
! ! # !)# # !)# #
# !)# # !)# # !)# #
; !)# # !)# # !)# #
< !)# # !)# # !)# #
2. Hasl Pengu%an Ketahan Luntur 0arna terha-ap 9"s"kan pa-a Pen1elupan
Kan Kapas Menggunakan +at 0arna Pgmen -engan Penam2ahan +at ant
Busa 3D Emuls"n
K"nsentras
3D
Emuls"n
4g5l6
P"l,m" 7ell"8 9 3 P"l,m" Re- R P"l,m" Blue *9NN
Nla Pen"-aan Nla Pen"-aan Nla Pen"-aan
9"s"kan
Basah
9"s"kan
Kerng
9"s"kan
Basah
9"s"kan
Kerng
9"s"kan
Basah
9"s"kan
Kerng
: 3 3 3 3)! 3 3)!
3 3 3)! 3 3)! 3 3)!
! 3)! 3)! 3)! ! 3)! !
# 3)! 3)! ! ! 3)! !
; # !)# ! !)# ! !)#
< # !)# ! !)# ! !)#
BAB /
PENU$UP
#.1. Kesmpulan
10
&ari hasil penelitian, dengan penambahan zat anti busa *%& 'mulsion+
dengan variasi konsentrasi yang berbeda, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
. Semakin besar konsentrasi zat anti busa JD Emulsion atau penamabahan zat
anti busa JD Emulsion, maka ketahanan luntur warna terhadap saat proses
pencucian semakin baik.
#. Semakin besar konsentrasi zat anti busa JD Emulsion atau penamabahan zat
anti busa JD Emulsion, dapat memperbaiki ketahana luntur warna terhadap
pencucian, terutama pada saat proses penggosokan basah.
#.2. 'aran
!erdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggunakan zat anti busa
*JD Emulsion+ dengan konsentrasi 7 gBl,maka dengan penambahan konsentrasi zat
anti busa *JD Emulsion+ tersebut pada pencelupan zat warna pigmen pada kain
kapas dapat memperbaiki ketahanan luntur warna pada saat proses pencucian dan
proses penggosokan basah.
DA*$AR PU'$AKA
• Aoor$adhillah, .ndra. >>5. Pengaruh Penggunaan Zat Anti Busa (JD Emulsion)
11
terhadap Ketahanan untur !arna terhadap Proses Pencucian dan Goso""an
pada Kain Kapas. !andung: Sekolah ;inggi ;eknologi ;ekstil.
12