You are on page 1of 4

Nutrition aspect of metabolic syndrome

Dr. Dra. Sunarti M.kes. oleh Setiawan AH



Pada dasarnya kejadian penyakit itu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu sebagian kecil
disebabkan oleh genetik, sebagian kecil lainoleh faktor lingkungan(nutrisi, aktivitas fisik,
polutan, maupun faktor lingkungan lain), dan yang paling besar adalah dipengaruhi oleh
interaksi dari kedua penyebab tersebut yaitu genetik dan lingkungan.
Dalam hubungan genetik dan nutrisi ada dua istilah epigenetik dan nutrigenomik. Epigenetik
adalah pada orang yang memiliki genetik yang berbeda diberi nutrisi yang sama maka akan
menghasilkan manifestasi yang berbeda sedangkan nutrigenomik adalah pada orang yang
memiliki genetik yang sama diberi nutrisi yang berbeda maka akan menghasilkan manifestasi
yang berbeda juga. Hal ini menunjukan bahwa genetik dan nutrisi saling berpengaruh. Dan
setiap orang akan memiliki respon yang berbeda.
Sindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa tanda dan gejala (faktor) yang
meningkatkan faktor resiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler.
Tanda dan gejalanya (faktor) mencangkup
Tekanan darah tinggi
Obesitas sentral
Resistensi insulin
Dislipidemia
Hiperglikemia
Kalau beberapa faktor tersebut terjadi bersamaan maka akan meningkatkan terjadinya
penyakit kardiovaskuler dibanding dengan hanya memiliki satu faktor.
Tapi kita lihat juga untuk satu faktor saja banyak sekali penyebab yang mempengaruhinya baik
genetik maupun lingkungan. Kita ambil contoh tekanan darah tinggi/hipertensi. Dari penelitian
terkini ada sekitar 150 gen yang terkait dengan hipertensi. Selain itu juga ada faktor dari luar
misalnya konsumsi natrium, aktivitas fisik, konsumsi asam lemak jenuh. Begitu juga dengan
faktor yang lainnya. Resistensi insulin (90% DM tipe 2) sangat terkait dengan faktor lingkungan.
Faktor makanan untuk waktu sekarang sangat berpengaruh terhadap suatu sindrom metabolik,
karena makanan sekarang mengandung banyak zat yang mempengaruhi aktivitas seluler tubuh.
Misal sirup saja. Bukan hanya aspartam saja yang ditakuti tetapi juga frukotsa yang dibuat
secara pabrik karena dapat menginduksi resistensi insulin. Fruktosa dalam jumlah banyak akan
menginduksi peptida C yang menginduksi resistensi insulin.
Hubungan hipertensi dengan asam folat dan genetik.
Hipertensi dipengaruhi oleh gen MTHFR(metil tetra hidro folat reduktase) dan diet asam folat
(salah satu vitamin yang dibutuhkan tubuh tapi tidak diproduksi. Tubuh hanya bisa mensistesis
niasin dari triptofan sebagai vitamin). MTHFR mengatur folat dari makanan menuju sintesis
DNA atau homocystein remethylation. Aktivitas MTHFR berperan dalam reaksi remetilasi dati
homosistein menjadi metionin.
dari gambar disamping diketahui pengaruh mutasi C677T
pada gen MTHFR terhadap kejadian hipertensi memiliki
OR 1,36 dan defisiensi asam folat memiliki OR 1,40 dimana
keduanya kurang berpengaruh karena dibawah 1,5
terhadap terjadinya hipertensi. Sedang jika keduanya
terjadi secara bersamaan maka akan memiliki OR 2,30
yang menunjukan pengaruhnya cukup besar.




Polimorfisme gen MTHFR yang paling umum adalah C677T (insersi residu valine di residu
alanine). Hal ini menyebabkan stabilitas dan aktivitas dari enzim MTHFR menjadi rendah. Bila
MTHFR rendah, dapat menyebabkan penurunan reaksi remetilasi perubahan homocystein
menjadi metionin, sehingga kadar homosistein meninggi dan menyebabkan hiperhomosistein.
Selain itu kekurangan folat juga menyebabkan homosistein meninggi dalam darah.
Keadaan hiperhomosistein menyebabkan keadaan stress oksidatif, dan radikal bebas
meningkat. Radikal bebas yang ada akan bereaksi dengan Nitrous Oxide (NO), sehingga kadar
NO di sirkulasi menurun. Turunnya kadar NO ini dapat merusak vasodilatasi, sehingga
hypertensi pun terjadi karena pembuluh darah yang berkonstriksi.
gambar disamping menujukan fungsi dari MTHFR
yang dipengaruhi asam folat dan B12 dalam
remetilasi homosistein menjadi metionin. Bila
asupan asam folat kurang maka aktivitas MTHFR
juga berkurang yang menyebabkan
hiperhomosistein. Kenapa yang banyak diteliti
adalah asam folat bukan B12? Karena B12 dapat
diproduksi flora normal dalam tubuh.







Jadi intinya, walaupun seseorang memiliki kelainan genetik selama kita bisa mengendalikan
faktor lingkungan terutama pola hidup dan nutrisi maka penyakit itu tidak akan muncul.
Fruktose

Selanjutnya kita bahas tentang fruktosa sebagai pemain yang berpengaruh dalam resistensi
insulin. Dari grafik diatas, fruktosa berpengaruh pada lipid yaitu meningkatkan lipolisis yang
menjadikan TG darah meningkat dan tertimbun di hepar yang menyebab resistensi insulin.
Sebenarnya insulin cukup, gulanya cukup tapi terjadi penurunan sensitivitas reseptor insulin
sehingga gula tidak bisa masuk atau bisa juga karena transporternya GLUT4 tidak mau
translokasi ke permukaan membran. Selanjutnya sel lapar walaupun dalam darah banyak,
sehingga melakukan glukoneogenesis dan glikogenolisis. Selain berpengaruh kepada insulin
fruktosa juga berpengaruh kepada leptin dan insulin prodominan.
TG dan HDL digunakan untuk mengetahui indeks aterogenik dengan rumus TG/HDL. Dari
gambar diatas TG membuat VLDL dan LDL tinggi sehingga terjadi penimbunan lemak dan
terjadi perlemakan hepar.
Dari gambar kedua stress oksidative terjadi karena ketidakseimbangan antara oksidan dengan
antioksidan. Yang nantinya akan mempengaruhi metabolisme tubuh baik dari perubahan DNA
sampai protein dan enzim. Sehingga hal ini juga berpengaruh dalam proses sindrom metabolik.
Sehingga anti oksidan ini sangat penting. Oleh karena itu kita perlu mengkonsumsi sayur dan
buah yang berwarna ungu (kulit manggi, ubi jalar ungu) tetapi ingat pada orang DM harus
dengan indeks glikemi yang rendah. Dibawah ini adalah contoh antioksidan yang penting dalam
proses sindrome metabolik yaitu Cianida 3 Glukose (C3G)

C3G berperan menigkatkan AMPK salah satu enzim kinase yang mengawali aktivasi dengan
phosphorilasi sehingga meningkatkan GLUT4 dalam sel yang translokasi ke membran sehingga
berikatan dengan glukosa secara pasif terfasilitasi. Selanjutnya Glukosa dalam darah rendah dan
menurunkan RBP4 yang berpengaruh pada otot dan Liver menekan glukoneogenesis sehingga
serum glukosa rendah dan sensitivitas insulin tinggi.
Salah satu contoh vitamin sebagai antioksidan adalah vitamin E. Vitamin E merupakan
antioxidant larut lemak yang paling penting. Vitamin E adalah nama umum untuk dua kelas
molekul (tocopherol dan tocotrienol) yang memiliki aktivitas vitamin E dalam nutrisi.
Pada level transkripsional, Vitamin E berperan dalam memodulasi:
Ekspresi Hepatic a-Tocopherol Transfer Protein.
Ekspresi gen kolagenase.
Alpha Tropomyosine Gene.
Pada penelitian, vitamin E dalam sel yang sudah dikultur ternyata dapat menginhibisi faktor-
faktor yang dapat mengakibatkan artherosclerosis, seperti inflamasi, adesi sel, agregasi platelet,
dan proliferasi otot polos.
Konsumsi asam lemak jenuh (misal pada sate/daging merah) menginduksi kenaikan berat
badan, resistensi insulin, hiperlipidemia baik di manusia maupun hewan yang menyebabkan
atherosklerosis. Sebaliknya kalau kita konsumsi asam lemak tidak jenuh efeknya adalah
menghambat beberapa enzim yang berkeja pada sintesis asam lemak sehingga tidak
menimbulkan obese dan inflamasi.
Obese terkait 600 gen dalam tubuh. 90% lebih mutasi tidak akan mempengaruhi kita karena
efeknya tergantung dimana mutasi itu terjadi. Kalau mutasi itu terletak pada gen yang
mengkode asam amino ditempat yang mempunyai fungsional misalnya enzim disisi katalitik
biasanya berpengaruh tinggi dibanding pada sisi lain. Jadi walaupun ada 600 gen tu tidak akan
mempengaruhi obese secara langsung.

asam lemak tidak jenuh ganda akan mempengaruhi metabolisme lemak terutama kolesterol
faktor transkripsinya. Atau bisa menghambat enzim glukokinase atau glukosa 6 phosphate
dehidrogenase.
Nah bagaimana kita mengatasi sindrome metabolik, misal dengan mengkonsumsi protein,
karbohidrat dengan indeks glikemi rendah, dan asam lemak omega 3.

Yang cukup lebih baik dari yang kerurangan atau berlebihan.