You are on page 1of 27

Biostatistik

Contoh Pembuatan Metode Penelitian Untuk


Menentukan Perhitungan Stastik yang Harus
Digunakan penggunaan uji regresi








ANDRES
PPDGS ORTODONTIK
137160002







UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
MEDAN
2013

KATA PENGANTAR
Pengaruh Sikap Konsumen Tentang Program Corporate Social Responsibility (CSR)
Terhadap Loyalitas Konsumen Pasta Gigi Pepsodent Pada Mahasiswa Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Tujuan penelitian ini adalah untuk adalah untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh sikap konsumen tentang penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR)
terhadap loyalitas konsumen pasta gigi Pepsodent.
Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pengaruh sikap konsumen tentang
penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap loyalitas konsumen pasta
gigi Pepsodent adalah analisis deskriptif dan metode regresi linier berganda.
Populasi pada penelitianini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat
USU program S-1 angkatan 2009-2011 yang berjumlah 447 orang. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 82 orang. Ukuran sampel dalam penelitian ini ditentukan
dengan menggunakan rumus Slovin. Penulis menggunakan metode sampel random sampling,
dengan ketentuan sampel adalah mahasiswa yang menggunakan Pepsodent minimal 3 bulan.
Hasil penelitian dari Uji Signifikan Simultan (Uji F) menunjukkan bahwa variabel sikap
konsumen terhadap penerapan program Corporate Social Responsibility yang terdiri dari
variabel komponen kognitif, komponen afektif, komponen konatif secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen pasta gigi Pepsodent pada mahasiswa
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian dari Uji Parsial
(Uji-t) variabel sikap yang terdiri dari komponen kognitif, komponen afektif, komponen
konatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen pasta gigi Pepsodent
pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Variabel sikap
komponen konatif berpengaruh lebih dominan dibandingkan dengan komponen kognitif,
komponen afektif .


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Globalisasi ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan informasi
menjadi semakin mudah diakses, dunia ekonomi semakin transparan. Era keterbukaan ini
menempatkan perusahaan semakin di bawah pengawasaan lensa mikroskop yang dapat
dilihat siapa saja, kapan saja, artinya siapapun dapat mengetahui tentang apapun aktifitas
tanggung jawab sosial perusahaan dengan cepat (Susanto, 2007:23).
Perusahaan baik yang skala besar ataupun kecil merupakan bagian dari lingkungan bisnis
global. Setiap perusahaan memiliki hubungan yang kompleks dengan masyarakat,
kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi tertentu. Secara langsung ataupun tidak,
perusahaan terpengaruh dengan isu-isu, kejadian-kejadian sosial maupun tekanan dari
seluruh dunia. Memasuki tahun 1990-an, telah banyak perusahaan yang menyadari arti
penting dari pertanggung jawaban sosial dan memasukan tanggung jawab sosial dalam isu
strategis bisnis mereka, bahkan tidak jarang perusahaan yang memasukkan isu tanggung
jawab sosial kedalam visi dan misi perusahaan.
Bisnis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan salah satu nilai yang membawa
perubahan mendasar yaitu konsep Corporate social responsibility (CSR) atau tanggung
jawab sosial. Tanggung jawab tersebut adalah perusahaan meluaskan perannya lebih dari
sekedar menggunakan sumber-sumber dayanya dan terlibat dalam aktivitas yang
dirancang untuk meningkatkan keuntungan sesuai dengan peraturan yang ada. Ketatnya
persaingan sering menjadi penyebab bagi perusahaan untuk menghalalkan segala cara
untuk menekan biaya serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan yang tinggi.
Perusahaan sering melupakan masalah sosial seperti kesejahteraan karyawan serta
keamanan lingkungan karena alasan untuk mendapatkan seuntungan yang tinggi tersebut.
(Swa, Desember 2005).
Pemerintah menyadari perlunya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
lingkungannya, untuk itu, pemerintah menetapkan dalam Undang-undang No.40 tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74, bahwa Perusahaan berbentuk Perseroan
Terbatas dan beroperasi dalam bidang atau berkaitan dengan sumberdaya alam harus
melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Survei yang dilakukan oleh Business in the Community tahun 2001, terdapat sejumlah
bukti bahwa saat ini semakin banyak perusahaan yang menempatkan masalah-masalah
sosial sebagai inti dari strategi pemasarannya. Survei yang meliputi 400 pemimpin bisnis
dunia memperlihatkan bahwa 70% dari CEO menempatkan tanggung jawab sosial sebagai
isu yang pokok di bisnisnya. Para pemasar pun menunjukkan yang sama 89%, dan
sebanyak 96% para pemimpin bisnis mengakui bahwa kegiatan-kegiatan sosial ternyata
memberikan manfaat timbal balik. Dengan persentasi 69%, sejumlah kalangan elit bisnis
bahkan sangat mempercayai dan memperkirakan bahwa praktek-praktek seperti ini terus
tumbuh dalam tahun-tahun mendatang.(www.wikipedia.com, diakses 27 Maret 2012).
Hasil riset yang dilakukan oleh Roper Search Worldwide dalam Susanto (2007:5), melalui
program pengembangan responden memberi nilai 75% kepada produk dan jasa yang
dipasarkan oleh perusahaan yang memberi kontribusi nyata kepada komunitas. Responden
juga menunjukkan sekitar 66% bahwa mereka siap berganti merek kepada merek
perusahaan yang memiliki citra sosial yang positif yang didapatkan melalui CSR.
Unilever merupakan perusahaan besar yang telah menerapkan Corporate Social
Responsibility selama bertahun-tahun. Unilever telah membuat program CSR dengan baik
dan sistematis. Bahkan telah memasukkan unsur-unsur tanggung jawab sosial dalam visi
dan misi perusahaan. Misi Unilever adalah peningkatan vitalitas hidup. Unilever
memenuhi kebutuhan akan nutrisi, kesehatan dan perawatan pribadi sehari-hari dengan
produk-produk yang membuat para pemakainya merasa nyaman, berpenampilan baik dan
lebih menikmati kehidupan. Pasta gigi pepsodent adalah salah satu merek andalan
Unilever yang sudah lebih dari 30 tahun memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Berikut adalah penghargaan yang pernah diraih oleh pepsodent.
Tabel 1.1
Penghargaan yang diraih
Pepsodent Tahun
Jenis Penghargaan
2006 I ndonesian Customer Loyalty
I ndex (I CLI )
2007 I ndonesian Customer
Satisfaction Award (I CSA)
2009 I ndonesian Best Brand Award
(I BBA)

pada kategori pasta gigi yang menjadi pilihan utama konsumen yang merupakan
penghargaan yang diberikan setiap tahun oleh majalah SWA bekerjasama dengan lembaga
konsultan Mars (www.Unilever.com, September 2008).


Tabel 1.2
Kinerja
Produk
Personal
2008 Pasta
Gigi
Pepsodent Ciptadent Close Up Formula Sensodyne
Harga 7 varian
Rp. 2.435/
75 gr
2 varian
Rp. 1.995/
80 gr
4 varian
Rp. 2.860/
65 gr
4 varian
Rp. 3.855/
120 gr
3 varian
Rp.
10.500/
65 gr
Top of
Mind
Brand (%)
79,2 10,0 5,2 2,7 0,6
Brand
Share (%)
80,1 9,9 5,3 2,6 0,5
Brand
Value (%)
79,3 9,5 6,3 2,7 0,9

Keterangan Tabel 1.2 :
1. Top of Mind Brand adalah merek yang paling diingat.
2. Brand Share adalah merek yang sering digunakan.
3. Brand Value adalah merek yang paling disukai.

Berdasarkan data yang diperoleh dari majalah SWA tersebut, untuk kategori produk
toiletris, pasta gigi Pepsodent merupakan produk dengan Top of Mind Brand (99,2%),
Brand Share (80,1%), dan Brand Value (79,3%) tertinggi dan sangat jauh diatas produk
pasta gigi terkenal lainnya. Dari sekian banyak merek pasta gigi yang tersedia di pasar,
Pepsodent terbukti mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat Indonesia dan menjadi
pilihan sebagian besar masyarakat. Pepsodent sangat besar di pangsa pasar selama
bertahun-tahun sehingga konsumen jatuh hati pada pepsodent dan setia menggunakan
produk ini.
Meningkatkan kesehatan mulut adalah komitmen Pepsodent untuk masyarakat. Oleh
karena itu, sejak bertahun-tahun tang lalu. Pepsodent telah membuat program-program
pertanggung jawaban sosial untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada
masyarakat tentang arti penting meningkatkan kesehatan mulut. Program-program yang
telah dilakukan oleh Pepsodent antara lain program sekolah Pepsodent dan pemeriksaan
gigi gratis, kampanye Pepsodent untuk menyikat gigi dimalam hari.
Sejak tahun 1990an Pepsodent telah melakukan program sekolah Pepsodent dengan terjun
langsung ke sekolah-sekolah yang hingga tahun 2006 telah menjangkau lebih dari 3,2 juta
anak-anak berusia di bawah 12 tahun di seluruh Indonesia dan jumlah ini terus meningkat.
Program sekolah Pepsodent pada intinya merupakan sebuah kegiatan edukatif bagi siswa
sekolah dasar di Indonesia, mengenai kesehatan organ gigi dan mulut. Program ini dimulai
pada tahun 2001, dilakukan di kota Malang, Semarang, Bandung, dan Surabaya. Kota
Surabaya sendiri dilakukan pada tahun 2002 hingga tahun 2005 ini. Dikota Surabaya ini
dilakukan untuk pertama kalinya di Kecamatan Gubeng dan secara khusus wilayah
Puskesmas Pucang. Hal ini dilakukan oleh pihak penyelenggara atas dasar pertimbangan
keberadaan sekolah dasar favorit di wilayah tersebut.
Awalnya kegiatan pemeriksaan gigi gratis yang dilakukan pepsodent diadakan di Jakarta.
Kegiatan pemeriksaan gigi gratis ini dilakukan di bulan Agustus hingga bulan Desember
2008, dengan target jumlah orang yang ingin dicapai kurang lebih 10.000 orang. Setelah
Jakarta, pemeriksaan gigi dan perawatan gigi gratis juga akan dilakukan di delapan kota di
Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Jember, Situbondo, Malang, Mojokerto,
Jombang, Kediri, dan empat kota di Sumatera, yaitu Medan, Palembang, Lampung, Pekan
Baru. Dengan edukasi mengenai kesehataan gigi dan mulut serta pemeriksaan gigi gratis
meningkatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia agar dapat
menikmati hidup lebih baik.
Survei tentang kebiasaan dan sikap menunjukkan hanya sekitar 34% dari rakyat Indonesia
yang menyikat gigi mereka sebelum tidur. Oleh karena itu, mengapa Pepsodent merasa
perlu menggunakan tema menyikat gigi pada malam hari sehingga kampanye
kesehatannya untuk membuat orang Indonesia menyikat gigi mereka sebelum tidur pada
malam hari sebagai bagian dari kebiasaan mencegah gigi berlubang.
Pepsodent memimpin pasar di kategori pasta gigi dengan pangsa pasar lebih dari 70%. Hal
ini dapat dilihat dari omset penjualan pasta gigi Pepsodent yang terus meningkat. Berikut
ini adalah data omset penjualan Pepsodent :







Tabel 1.3
Jumlah Omset
Penjualan Pasta Gigi
Pepsodent Tahun
Omset Penjualan (dalam
miliar)
2005 1,44
2006 1,72
2007 1,96
2008 2,40

Peningkatan omset yang terjadi pada pasta gigi Pepsodent terjadi karena program
Corporate Social Responsibility yang telah di umumkan melalui media cetak dan
elektronik, sehingga mempermudah konsumen mengetahui informasi seputar program
kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh Pepsodent. Pepsodent juga melakukan
inonasi-inovasi seperti membuat segmentasi pasar terbagi dua yakni dewasa dan anak-
anak dan inovasi kemasan, rasa, bentuk dan ukuran serta telah memenuhi standar
kesehatan karena terdapat label halal pada kemasannya., kampanye website tanya
Pepsodent yang mempermudah konsumen dalam berkonsultasi langsung dengan dokter.
Program Corporate Social Responsibility jika dikembangkan dengan baik akan
menciptakan kesan yang positif terhadap produk. Hal tersebut akan menimbulkan suatu
ikatan emosional antara masyarakat dengan perusahaan akan membuat sebuah merek
menjadi lebih dikenal, diingat, yang sering juga disebut sebagai loyalitas konsumen.
Loyalitas konsumen terbentuk karena adanya keterikatan antara konsumen dengan suatu
produk, dimana konsumen merasa produk tersebut memberikan dampak yang positif dari
penggunaannya, sehingga sering tanpa disadari konsumen tersebut mengajak rekan-
rekannya untuk menggunakan produk tersebut. Loyalitas konsumen dapat dilihat juga dari
penggunaan maupun pembelian yang dilakukan secara berulang-ulang. Loyalitas
konsumen dapat memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana
sikap konsumen tentang penerapan Corporate Social Responsibility terhadap loyalitas
konsumen pasta gigi Pepsodent. Survei penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian Pengaruh
Sikap Konsumen Program Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Loyalitas
Konsumen Pasta Gigi Pepsodent Pada Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh sikap konsumen tentang penerapan
program corporate social responsibility ini terhadap loyalitas konsumen pasta gigi
Pepsodent?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh sikap konsumen tentang penerapan program Corporate Social
Responsibility (CSR) terhadap loyalitas konsumen pasta gigi Pepsodent.

1.3.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan masukan bagi perusahaan tentang penerapan program Corporate Social
Responsibility.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan suatu kempatan bagi peneliti untuk menerapkan materi-materi
perkuliahan yang peneliti dapatkan selama perkuliahan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan referensi dan informasi yang nantinya dapatmemberikan perbandingan
dalam mengadakan penelitian pada bidang yang sama dimasa yang akan datang khususnya
penelitian yang berkaitan dengan penerapan program Corporate Social Responsibility.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory survey, yaitu penyelidikan kausalitas
dengan cara mendasarkan pada pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari
faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebabnya, melalui data tertentu. (Ginting,
2008:56).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jl.
Universitas No. 21 .Penelitian ini di mulai dari bulan Mei 2012 sampai dengan bulan Juni
2012.

3.3 Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini adalah :

3.3.1 Variabel Independent (X) adalah sikap konsumen terdiri dari komponen kognitif
(X1) yaitu kepercayaan, komponen afektif (X2) yaitu perasaan, komponen konatif (X3)
yaitu keinginan untuk melakukan tindakan tertentu.

3.3.2 Variabel Dependent (Y) adalah loyalitas konsumen pasta gigi Pepsodent.


3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan mengenai pengertian teoritis dan pengukuran
variabel sehingga dapat diamati dan diukur. Untuk menjelaskan variabel yang sudah
didefinisikan, maka perlu definisi operasional masing-masing variabel sebagaimana upaya
dalam penelitian, antara lain:
3.4.1 Variabel Bebas (I ndependet variable)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sikap konsumen terhadap penerapan Corporate
Social Responsibility. Sikap konsumen (X) menjelaskan kepercayaan, perasaan dan juga
tindakan konsumen terhadap penerapan program Corporate Social Responsibility yang
dilakukan oleh Pepsodent, yang terdiri dari:
4) Komponen Kognitif (X1), yaitu merupakan kepercayaan konsumen terhadap motivasi
dan kesesuaian program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh pasta
gigi Pepsodent.
5) Komponen Afektif (X2), yaitu gambaran perasaan dan emosi (baik atau buruk, disukai
atau tidak disukai) konsumen terhadap penerapan pada program Corporate Social
Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh pasta gigi Pepsodent.
6) Komponen Konatif (X3), yaitu menggambarkan kecendrungan dari seseorang untuk
melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan penerapan program Corporate Social
Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh pasta gigi Pepsodent.

3.4.2 Variabel Terikat (Dependent variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena
adanya variabel bebas (Sugiyono, 2006:33). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini
adalah loyalitas konsumen terhadap pasta gigi Pepsodent, setelah perusahaan merupakan
kegiatan Corporate Social Responsibility. Variabel loyalitas konsumen (Y) merupakan
perilaku konsumen sebagai yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli,
menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan
akan memuaskan kebutuhan mereka.
Loyalitas konsumen (Y) yaitu tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat
dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk
proses dalam pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan
tindakan tersebut.


gambar 3.1
Operasionalisasi Variabel

3.5 Skala Pengukuran Variabel
Pada proses pengolahan data, untuk menghitung masing-masing variabel digunakan Skala
Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi yang dijabarkan menjadi
indikator variabel dan dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun beberapa instrumen
dengan menghadapkan responden terhadap pernyataan yang diajukan. Dalam melakukan
penelitian terhadap variabel-variabel yang akan diuji, pada setiap jawaban akan diberi skor
yang dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini :
Tabel 3.2
Instrumen Skala
Likert Keterangan
Skor
Sangat Setuju (SS) 5
Setuju (S) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju
(STS)
1

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian

3.6.1 Populasi

Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2006:72). Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa
Fakultas Kesehatan Masyarakat USU program S-1 angkatan 2009-2011 yang berjumlah
447 orang.







Tabel 3.3
Jumlah Mahasiswa FKM USU
Program S-1
Angkatan 2009 -
2011 Angkatan
Jumlah
Mahasiswa
Tahun 2009 150 orang
Tahun 2010 163 orang
Tahun 2011 134 orang
Jumlah 447 orang

3.6.2 Sampel
Sampel adalah suatu bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
(Sugiyono, 2008:116). Dalam pengambilan sampel peneliti menggunakan metode sampel
random sampling, yaitu teknik penentuan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Pada penelitian ini sampel
yang digunakan adalah mahasiswa yang dijadikan sampel penelitian adalah mahasiswa
yang menggunakan Pepsodent minimal tiga (3) bulan. Menentukan ukuran sampel pada
penelitian ini, penulis menggunakan rumus Slovin (Ginting, 2008:132) yaitu:

3.7 Jenis Data
Dalam penelitian yang dilakukan, penulis menggunakan dua jenis data, yaitu :

1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui
wawancara dan pengamatan langsung terhadap sumber yang diteliti.

2. Data Sekunder
Data Sekunder merupakan data yang diperoleh melalui dokumentasi, literatur buku-buku
ilmiah, jurnal-jurnal ilmiah, dan internet yang berkaitan dan mendukung penelitian ini.
3.8 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:

1. Angket (Kuisioner)
Metode yang digunakan angket atau kuisioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan
memberikan dan menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan
mereka dapat memberikan respon atas nama daftar pertanyaan tersebut.

2. Wawancara
Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara langsung dengan
responden secara sistematis sesuai dengan tujuan penelitian.

3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mengadakan pencatatan langsung terhadap dokumen atau arsip yang
berhubungan dengan masalah yang diteliti.

3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk menguji apakah suatu kuesioner layak
dijadikan sebagai instrument penelitian. Validitas menunjukkan seberapa nyata suatu
pengujian mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas berhubungan dengan
ketepatan alat ukur melakukan tugasnya untuk mencapai sasarannya. Adapun tempat
untuk menguji validitas dan reliabilitas tersebut adalah di Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara dengan responden sebanyak 30 orang mahasiswa diluar
sampel penelitian, untuk uji validitas dan reliabilitas menggunakan alat bantu SPSS.

3.9.1 Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang diukur
(Ginting, 2007:172). Pengujian validitas dilakukan kepada 30 responden diluar sampel,
dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika r hitung > r tabel, maka pertanyaan dinyatakan valid.
2. Jika r hitung < r tabel, maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.

Penyebaran kuesioner khusus dalam uji validitas dan reabilitas diberikan kepada 30
responden diluar dari responden penelitian. Nilai r tabel dengan ketentuan df = N-4, dalam
hal ini N adalah jumlah responden = 30 dan tingkat signifikasi sebesar 5 % maka nilai r
tabel yang diperoleh = 0,37, tetapi menurut Situmorang,dkk,
(2008:36) bila harga korelasi positif dan r > = 0.3 maka butir instrument tersebut
dinyatakan valid atau memiliki validitas konstruk yang baik.
Tabel 3.4

Uji Validitas Pertama:
Scale Mean if Item
Deleted
Scale
Variance if
Item
Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Cronbach's
Alpha if
Item
Deleted
VAR00001 59.3333 37.333 .580 .863
VAR00002 59.1333 38.326 .470 .868
VAR00003 59.1000 36.231 .710 .858
VAR00004 58.9333 38.616 .379 .872
VAR00005 59.0333 37.826 .606 .863
VAR00006 59.1000 41.334 .116 .880
VAR00007 59.5333 40.533 .157 .881
VAR00008 59.3667 39.413 .348 .872
VAR00009 59.3000 39.114 .454 .868
VAR00010 59.5333 38.602 .453 .868
VAR00011 59.2667 37.375 .500 .867
VAR00012 58.9333 37.030 .619 .862
VAR00013 59.4333 36.944 .677 .860
VAR00014 59.3667 38.171 .467 .868
VAR00015 59.7000 35.941 .633 .860
VAR00016 59.3000 36.631 .625 .861
VAR00017 59.1000 35.886 .755 .856

Hasil pengolahan data pada Tabel 3.4 dapat dilihat VAR0001 sampai dengan
VAR00017 merupakan pernyataan yang berkaitan dengan variabel penelitian
yaitu pernyataan 1 sampai dengan pernyataan 17. Pada VAR0006 dan VAR0007
tidak valid karena corrected item total correlation lebih kecil dari nilai rtabel
untuk 30 sampel yaitu 0,3, maka VAR0006 dan VAR0007 harus dieliminasi, lalu
dilakukan pengujian kembali, dapat dilihat pada Tabel 3.4
Tabel 3.5

Uji Validitas Kedua:
Scale Mean if Item Deleted
Scale
Variance if
Item
Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Cronbach's
Alpha if
Item
Deleted
VAR00001 52.0333 34.171 .630 .880
VAR00002 51.8333 35.454 .475 .886
VAR00003 51.8000 33.338 .729 .875
VAR00004 51.6333 35.895 .363 .891
VAR00005 51.7333 34.754 .646 .880
VAR00008 52.0667 36.616 .337 .891
VAR00009 52.0000 36.414 .429 .887
VAR00010 52.2333 35.771 .451 .887
VAR00011 51.9667 34.654 .490 .886
VAR00012 51.6333 34.171 .630 .880
VAR00013 52.1333 34.464 .634 .880
VAR00014 52.0667 35.099 .499 .885
VAR00015 52.4000 33.490 .598 .881
VAR00016 52.0000 33.448 .679 .877
VAR00017 51.8000 32.993 .777 .873

Setelah dilakukan pengujian validitas kembali telihat pada Tabel 3.5, seluruh
pernyataan telah valid yaitu nilai corrected item total correlation seluruhnya telah
bernilai lebih besar atau sama dengan 0,3.

3.9.2 Uji Reliabilitas

Menurut Trihendradi (2011:211), pengujian dilakukan dengan menggunakan
program SPSS, butiran pertanyaan valid dalam uji validitas ditentukan
reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut: pertanyaan dinyatakan reliable jika
memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0,6
Tabel 3.6

Reliability
Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
Cronbach's
Alpha
N of Items
.890 15

Pada 15 pernyataan dengan tingkat signifikansi 5% diketahui bahwa Cronbach
Alpha adalah sebesar 0, 890. Ini berarti 0, 890 > 0,6 sehingga dapat dinyatakan
bahwa kuesioner tersebut telah realibel dan dapat disebarkan kepada responden
untuk dapat dijadikan sebagai instrument penelitian ini.

3.10 Teknik Analisis
3.10.1 Metode Analisis Deskriptif
Metode ini merupakan suatu metode analisis dimana data yang dikumpulkan
mula-mula disusun, diklasifikasikan dan dianalisis sehingga akan memberikan
gambaran yang jelas mengenai perusahaan dan masalah yang sedang diteliti.
3.10.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik terdiri dari atas uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji
multikolinieritas:
1. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data
mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk
loncenga dan distribusi data tersebut tidak melenceng ke kiri ke kanan. Uji
normalitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kolmogorov Smirnov.
Dengan menggunakan tingkat signifikan 5% (0,05) maka jika nilai Asymp Sig (2-
tailed) diatas nilai signifikan 5% artinya variabel residual berdistribusi normal
(Situmorang, 2008:55)
2. Uji Heteroskedastisitas
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika variabel
independent signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependent, maka
ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Jika probabilitas signifikannya diatas
tingkat kepercayaan 5% dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengarah
adanya heteroskedastisitas.
3. Uji Multikolinieritas
Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas. Jika terdapat kolerasi antara variabel bebas maka
dapat dikatakan terdapat masalah multikolinieritas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel bebas. Uji multikolinieritas
menggunakan kriteria Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan:
1) Bila VIF > 5 terdapat masalah multikolinieritas yang serius.

2) Bila VIF < 5 tidak terdapat masalah multikolinieritas yang serius.

3.10.3 Metode Analisis Statistik
3.10.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Metode Analisis Linier berganda berfungsi untuk mengetahui pengaruh/hubungan
variabel bebas dengan variabel terikat, formulasi yang digunakan adalah
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+e
Keterangan:
Y = Loyalitas konsumen terhadap pasta gigi Pepsodent
a = Konstanta
b1,b3 = Koefisien regresi
X1 = Komponen kognitif
1) X2 = Komponen afektif
X3 = Kompnen konatif
e = Standar error
Alasan digunakan metode analisis regresi linier berganda adalah teknik analisis ini
dapat memberikan informasi mengenai besarnya pengaruh variabel bebas
(loyalitas konsumen) terhadap variabel terikat (komponen kognitif, komponen
afektif, komponen konatif).

3.10.3.2 Pengujian Hipotesis
Adapun pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Uji secara serempak/Simultan (Uji - F)
Uji F dilakukan untuk melihat secara bersam-sama apakah ada pengaruh
signifikan dari variabel bebas (X1, X2, X3) terdapat variabel terikat (Y). Model
hipotesis yang digunakan dalam uji F statistik ini adalah:
H0 : bi = 0, artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh secara
signifikan terdapat variabel bebas.
Ha : bi 0, artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan
terhadap variabel terikat.
Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel dengan tingkat kesalahan ()
= 5%. Kriteria uji digunakan:
H0 diterima bila Fhitung < Ftabel dan nilai signifikannya
Fhitung > tingkat kesalahan ().
Ha diterima bila Fhitung > Ftabel dan nilai signifikannya
Fhitung < tingkat kesalahan ().
2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Uji t dimaksudkan untuk melihat secara parsial apakah ada pengaruh yang positif
dan signifikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Bentuk pengujiannya yaitu:
Ho : b1, b2, b3 = 0 (variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh positif dan
signifikan terhadap variabel terikat).
Ha : b1, b2, b3 0 (variabel bebas secara parsial berpengaruh positif dan
signifikan terhadap variabel terikat).
Pada penelitian ini nilai Thitung akan dibandingkan dengan nilai Ttabel pada
tingkat signifikan () = 5%
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
Ho diterima bila Thitung < Ttabel dan nilai signifikan Thitung > tingkat kesalahan
().
Ha diterima bila Thitung > Ttabel dan nilai signifikan Thitung < tingkat kesalahan
().
3. Pengujian Koefisien Determinan (R2)
Determinan digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat. Koefisien determinan (R2) berkisar antara 0 (nol)
sampai dengan 1 (satu), (0 R2 1). Hal ini berarti bila R2 = 0, menunjukkan
tidak adanya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, dan bila R2
mendekati 1, menunjukkan semakin kuatnya pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat.