You are on page 1of 58

KATA PENGANTAR

Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah aktifitas yang paling mulia dan ibadah
yang paling tinggi, dakwah adalah karakteristik yang paling khas bagi para Rasul dan
kepedulian yang paling ditonjolkan oleh para wali dari para hambaNYA yang tulus
ikhlas. Seseorang akan senantiasa mendakwahkan satu fikrah bila Ia telah benar-benar
menguasainya dan berinteraksi dengan segala permasalahannya, seoarang dai akan
selalu hidup dengan dakwahnya dan dakwahnya pun senantiasa hidup bersamanya,
dakwah selalu mengevaluasi dirinya sebagaimana dirinya juga selalu mengevaluasi
kegiatan dakwahnya.

Sesungguhnya Allah telah menghendaki terbukanya jalan dakwah islamiyah di zaman
sekarang ini ke seluruh pelosok negeri, sehingga dakwah menjadi buah bibir dan sumber
pelajaran di setiap negeri.

Dakwah masuk ke seluruh segmen masyarakat yang beraneka ragam, dakwah tidak hanya
terbatas pada orang-orang yang mendapat tugas resmi saja atau kepada orang yang
menyandang predikat sebagai pemipin syiar agama, akan tetapi siapa saja dapat terlibat
dalam dakwah, laki-laki, wanita, anak-anak, remaja, orang dewasa, dan para spesialis
ilmu dan humaniora. Inilah fenomena yang kita dapati di beberapa universitas di dunia
Islam maupun di dunia barat. Akan tetapi kemajuan dakwah islam hingga sekarang ini
masih menyisakan banyak kendala dan hambatan baik internal maupun eksternal.

Di antara hambatan dan kendala adalah : Pertama, sedikitnya jumlah murabbi dan
muwajjihin yang mumpuni bila dikaitkan dengan daya tarik dan tingginya respon.
Tampaknya fenomena ini menjadi permasalahan yang cukup serius dan harus segera
diatasi, karena sebagian besar manusia hidup di lingkungan yang tidak baik yang
bertentangan dengan pembentukan dan pembanguanan jiwa mereka, sementara di sisi
lain banyak dai yang tidak menguasai dalam memainkan peran tarbiyah dan takwin, juga
dalam memberikan pandangan-pandangan terkait dengan beberapa permasalahan pelik.

Kedua, Sebagian dai juga kurang efisien dan efektif dalam menyiapkan program sesuai
dengan level madu dan kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain, bahkan
kekurangan semakin tampak pada aspek-aspek ushul dan kaidah. Menjadi persoalan yang
sangat penting dan mendesak dakwah harus disampaikan dalam persepsi yang utuh dan
menyeluruh dari awal hingga akhir, dibarengi dengan penguasaan menyeluruh dan
mengetahui perioritas-perioritasnya.

Ketiga, Usia produktif yang telah lewat. Sesungguhnya waktu yang dugunakan sebelum
seseorang sampai kepada fase produktif adalah rentang waktu yang panjang, hal itu
diawali dengan sebaran pengetahuan, informasi dan luasnya bahan bacaan dan
pengalaman. Kembali kepada asholah adalah salah satu cara yang dapat membantu
akselerasi ke fase produktif, dan dengan mengetahui kaidah-kaidah yang tepat kita tidak
akan banyak membutuhkan hal-hal yang furu, dan kita bisa mensingkronkan antara
luasnya medan dakwah dan terbatasnya waktu untuk pembentukan (takwin)

Keempat, Gigihnya penentangan terhadap dakwah. Yaitu segala daya upaya yang
beraneka macam dengan peluang-peluangnya yang besar dalam menghambat jalan
dakwah. Musuh-musuh dakwah memiliki pengalaman yang luas dalam menghambat
orang dari jalan Allah. Meskipun pertikaian tajam terjadi antara komunisme dan
kapitalisme, juga anatara eksisitensialisme dan nasionalisme dan faham-faham sesat
lainnya, tetapi mereka dapat duduk satu meja ketika berbicara bagaimana memerang
Islam dan dakwahnya. Upaya tersebut menghadirkan tantangan besar bagi para duat di
mana mereka harus mengetahui langkah-langkah para musuh dan membentengi manusia
dari keburukan mereka dengan pendekatan preventif dan penyembuhan ( !"#$%&' (%)*'
!"#$%&).

Sesungguhnya daya tarik dunia gemerlap (dugem) dan kesibukannya serta ikatan-
ikatannya adalah rintangan di jalan dakwah bagi para dai, karenanya para duat harus
memahami dinamika kehidupan dan orang-orangnya, hendaknya mereka didekati dengan
jiwa kemanusiaan, metode yang menyentuh jiwanya dan bebrbagai sarana yang dapat
membersihkan hatinya. Semoga fenomena yang menarik perhatian tentang kemajuan
dakwah dikalangan ekonomi elit, di mana mereka hidup dalam gemerlap peradaban barat
tetapi mereka menentang pengaruh jahiliyah moderen. Fenomen ini cukup membantu
dalam membentuk imunitas dan daya tahan dalam menghadapi godaan dunia.

Seorang dai juga akan mendapatkan dirinya di hadapan gelombang pemikiran yang
etrus bergerak dengan cepat, dan gelombang itu akan menerjang manusia di mana saja.
Sebagai dai dituntut untuk tegar dan konsisten dalam menghadapinya. Ketegaran dan
konsisitensinya selalu terbangun di atas ilmu dan penguasaan topik permaslahannya.

Beban tersebut di atas dan beban-beban lainnya mendesak kita untuk segera mengalihkan
dakwah dari medan seremonial, emosional, orasi dan verbalisasi ke medan planning,
program, spesialisasi dan fundamentalisasi. Tidaklah aneh bila kebutuhan-kebutuhan
tersebut direalisasikan di era sekarang ini, karena dakwah terus meluas, bercabang dan
banyak fokus, juga pengalaman dan gaya pendekatannya. Perluasan dan bercabangnya
dakwah ini tidak akan efektif kecuali bila hal-hal yang prinsip dan mendasar telah
dipahami dengan baik.

Permasalahan dakwah bukanlah hal yang baru di anatara permasalahan ilmu-ilmu
keislaman lainnya. Umat Islam telah menikmati hadits-hadits Rasulullah SAW baik
melalui jalru riwayah maupun dirayah, sehingga mereka dapati diri mereka
membutuhkan ilmu ushul hadits dan istilah-istilah yang baku di dalamnya. Begitupula
halnya dalam ilmu nahwu, sharaf, aqidah, tafsir, tarikh, fiqih. Sesungguhnya pokok-
pokok ilmu pengetahuan dan kaidah-kaidahnya datang pada periode mutakhir.

Pada masa di mana seluruh ilmu pengetahuan diarahkan kepada asholah dan kaidah ,
maka ilmu dakwah adalah sekumpulan kata-kata yang membekas dan . Ilmu dakwah
bukanlah ilmu dalam pengertian yang sebenarnya, karena sesungguhnya awal
munculnya ilmu pengetahuan bila ada kebutuhan terhadapnya, tidak pernah terjadi
masyarakat Islam menjadi terasing dan aneh, melainkan tetap eksis, mengamalakan nilai-
nilai Islam dan antusias menjalankannya, sebagian besar individunya terus berdakwah
sebagaimana mereka hidup, makan dan minum, ketika daulah Islam mulai surut dan
ikatan iman mulai terlepas, individu muslim mendapatkan dirinya asing di tengah
masyarakat, masyarakat kembali dilanda buta akidah, fikroh dan keteraturan,
sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah pertama. Oleh karena itu sebagian dari
para dai mulai merintis (mentasis) kembali dan memprogram tempat dan wadah untuk
memunculkan kembali kehidupan yang islami dan merajut cita setelah didera putus asa.
Para dai mulai bergerak di timur dan barat, oleh bangsa arab maupun non arab. Para
Ulama mulai belajar dari pengalaman dakwahnya dan menyingkap aspek-aspek positif-
negatifnya. Meskipun nilai-nilai positif telah ditegaskan oleh gerakan dakwah di berbagai
negeri, tetapi tetap membutuhkan penambahan distribusi potensi dan peluang dan
mengerahkan segala upaya dalam proseskonstruksinya. Pendistribusian ini tidak akan
efektif bila tidak disiapkan pribadi-pribadi yang produktif yang akan mengayomi level
(mustawa) di bawahnya. Kemudian hendaknya masing-masing tugas dakwah harus
disiapkan secara khusus dan waktu yang relevan, semua ini tidak akan terealisasi bila
tidak menjalankan metode pengaturan tarbawy (nidzhom tarbawy) dengan perencanaan
yang terarah dan jelas batasannya, disandarkan pada kaidah dan topik universal tanpa
terjebak dalam arus pembahasan mengenai detil dan rincian. Dalam konteks inilah
seorang dai mengajukan ikhtisar yang difokuskan dalam pentarbiyahan, pembentukan,
kepemimpinan, pengorganisasian, perencanaan dan evaluasi.

Kitab ini saya persembahkan kepada seluruh ikhwan sebagai upaya untuk memantapkan
dakwah dan meneguhkan orisinalitasnya, dengan beberapa model kaidah, sebagian
tertuang dalam jabaran persepsi (tashawwurat) dan sebagian lainnya dalam beberapa
pendekatan gaya dan cara (asalib) dan beberapa pendekatan sarana (wasail), dalam buku
ini terdapat beberapa arahan teoritis yang saya kemukakan untuk dipelajari dan dikoreksi,
Insya Allah tulisan ini hanyalah permulaan, bukan akhir segalanya. Allah di balik semua
maksud da tujuan.



Humam Abdurrahim Said




KATA PENGANTAR CET II

Ba,da tahmid dan sholawat. Cetakan terbaru ini dari kitab qawaid dakwah ilallah
mengalami penambahan setelah 15 tahun dari cetakan sebelumnya. Cetakan pertama
memuat 15 kaidah. Cetakan kedua ini merupakan penyempurnaan dengan penambahan
enam kaidah lainnya. Dalam keenam kaidah ini ditekankan tentang perlunya kembali ke
landasan orisinalitas syari dalam beberapa akspek aktifitas keislaman, seperti landasan
orisinalitas untuk sebuah jamaah yang telah banyak menjadi pembicaraan tentang
program, substansi dan karakteristiknya. Dan kaedah in telah menguji sikap kita trhadap
berbagai fitnah terhadap dakwah.

Seperti halnya tambahan dalam cetakan kedua ini telah mencakup dua kaedah pokok
dalam hal pemahaman. Pertama, orisinalisasi pemahaman (!"#$% &'()*), urgensinya,
patokan-patokannya, rukun-rukunnya, pengaruhnya dalam misi keislaman scara umum.
Kedua, diskursus pemahaman yang mendalam dalam menghadapi pemahaman yang
wajib. Juga mencakup dua kaidah utama lainnya tenatang amar maruf Nahi munkar.
Pertama, mengorisinalkan rukun yang mendasar ini bahagian dari rukun-rukun dawah
Islam. Kedua, diskursus tentang sebagian orientasi yang menyimpang dalam memahami
al-Quran, hal ini harus dimunculkan untuk mendorong orientasi pergerakan yang positif
dalam menghadapi pergerakan negatif yang diikuti oleh sbagaian umat Islam.

Sesungguhnya tamabahan pada cetakan yang kedua ini telah mendatangkan nilai
kesungguhan, nilai yang mencerminkan keunggulan hati sebelum keunggulan pena, jika
saya benar maka hal itu dari Allah, jika saya salah maka hal itu berasal dari diri saya
sendiri dan dari syaitan. Aku senantiasa berdo,a kepada Allah agar tidak menghalangiku
dari pemberi wejangan dan nasehat. Segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam.


Dr Humam Abdurrahim Said
Amman, 4 jumadil ula 1419 H
26 Agustus 1998


Kaidah pertama

Dawah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat.

Seorang dai hendaknya mengetahui bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia untuk
tunduk kepada-NYA, sebagaimana firman-NYA :

)
!
"#$ %$& ' (
)
*
!
+
,
-
!
.
)
/
'
0
!
'
12
)
# , 3
!
4
'
+2
$
5
'
6
)
7 ) 8 9
)
:
)
# 56 (

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(QS.Al-dzariyat (51) : 56 ).

Ibadah hanya benar dilakukan bila didasari pengetahuan yang jelas, pengetahuan
yang jelas tidak akan terwujud kecuali mengacu kepad manhaj yang telah digariskan oleh
Allah SWT yang telah mengutus para rasul dan para nabinya. Mereka para Rasul dan
para nabi adalah penyeru (duat) yang menunjukan kepada kebnaran. Demikianlah
kesibukan mereka dalam rangka merealisasikan kehendak Allah yang telah manjadikan
Adam alaihissalam sebagai Khalifah di muka bumi, memutuskan perkara dengan
ketetapan Allah dan melaksanakan segala perintah-NYA. Allah berfirman :

)
!
"
#
$%
&
' # (
&
) * +
# *
,- .
&
/ 0 1
&
23
#
4 .
5
6
&
7
&
"# 8
&
9 # :
#
;
*
'
&
< # =>?
#
+
#
@3
#
A
*
B
&
7
#
C 30 (

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS. Al-baqarah : 30), maka dari
itu tujuan Allah menciptakan manusia agar dirinya sibuk dengan perintah-NYA.

Imam Ar-Razy berkata : Ibadah yang bagaiamanakah yang menjadi sebab diciptakannya
jin dan manusia?. Kami tegaskan : Ibadah yang dimaksud adalah mengagungkan
perintah Allah dan menyayangi ciptaannya. (Tafsir Ar-Razy : 28/453) Kemudia Ar-
Razy berkata : Mengagungkan Allah menuntut konsekwensi keharusan mengikuti
syariat-NYA dan mentaati sabda rasul-NYA, Allah telah memberikan kenikmatan kepada
hamba-hamba-NYA dengan mengutus para Rasul dan menjelaskan berbagai jalan dalam
merealisasikan kedua bentuk ibadah tersebut di atas. Pembagian ini terkait dengan tugas
ibadah adalah pembagian yang mutlak dan menyeluruh.

Dakwah kepada Allah SWT adalah fenomena keagungan Allah SWT yang paling tinggi,
dan seorang dai yang menyerukan kepada fikrah atau sasaran tertentu dengan
mengarahkan segala kesungguhan di jalannya, sesungguhnya hal itu dilakukan agar Ia
dapat memnuhi pencapaian sasaran dan fikrahnya. Barangsiapa yang menyerukan kepada
fikrah maka ia akan dievaluasi atas fikrahnya, sebagaimana fikrahnya juga akan
dievaluasi berkenaan dengan dirinya.

Dalam berdakwah kepada Allah terdapat bukti kasih sayang kepada Hamba-hamba-NYA,
karena seorang dai ingin mengeluarkan manusia dari jurang kehancuran dan perpecahan
di bawah kungkungan penguasa lokal menuju keluasan Islam dan cakrawalanya yang
menyejukan, serta aturannya yang mengarahkan kepada kebahagiaan manusia. Juga
mengeluarkan mereka dari lobang api neraka menuju taman surga.

Inilah dua sasaran ibadah, juga sekaligus menjadi sasaran dakwah, keselamatan ada pada
capaian kedua sasaran tersebut. Para nabi Allah dan rasul-NYA telah berkomitmen
dengan perintah Allah dal berdakwah kepada-NYA dan memelihara tujuan penciptaan-
NYA. Setiap rasul yang mulia selalu berobsesi dalam menyerukan manusia kepada
keselamatan. Al-Quran telah menceritakan tentang pertarungan para nabi dengan
kaumnya, selalu dipastikan bahwa pertarungan itu berakhir dengan kemenangan para
duat dan binasanya kaum penzalim penentang dakwah.

Pada kisah nabi Nuh AS bersama kaumnya berakhir dengan :

!"
#
$%
!
&'
#
( )*+(
,
-! . ! /&
#
-
,
0) %!"
1
2
!
3
1
4
!
5
!
6 ! 7
#
8 ! 9! :
1
;+<%!"
1
=
!
>
!
?
!
6
#
@
1
=
+
A
1
0) B
#
C +D
!
>
!
E 1 /
!
E
!
6
+
F%!"1 G , H!"
!
C
+
F*+(
,
-! I
!
C
!
"#$ % $ &#$ ' $ () *$ ' ) +
,
-
)
.#
$
/ #
!
"
#
$
) ! "#
$
%
!
&
'
(
)
*
'
+, 73 (

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang
bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan
Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.(QS. Yunus (10) : 73)

Dalam kisah Hud AS bersama kaumnya juga berakhir dengan :


!
"#$%&'! ( ) *&+
&
, %
)
'
-
. / 0
&
1 ! 2
&
3
-
4 #5
&
6
&
. 78
#
'
&
.7
&
9 & :;
-
<
)
=7
&
, 7> ?8#$ %&'! ( ) *&+ %&+ # 3
!
.
&
@
&
9%
&
A %
)
1
&
=
&
, ) ! "#
$
% & ' ! ()
&
*& + , -
$
. 58 (

Dan tatkala datang `azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang
beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di
akhirat) dari `azab yang berat.(QS. Hud (11) : 58) Sedangkan dalam kisah Nabi Saleh
AS bersama kaumnya, hasilnya adalah :


!
" # $
%
& ' (
%
)
%
* + ,
!
-
%
.
+
/
%
0 + 1
%
*
!
2 3
#
4
%
* ' 5
!
6 + 7
!
8
%
9 :;
!
<
!
* =,
:
4
!
*=
!
> ! 1-
%
(
#
?=
!
2 3 @ A
%
?3
!
B 3!4+ C # D!E 3!E : 8
+
*
!
F
!
>3
!
G 3
#
6
!
H
!
I
!
"#$ ! %&'
)
!
"#
$
"
%
&
'
() * +
$
,
%
-
'
() 66 (

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang
yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari
kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha
Perkasa (QS. Hud : 66)

Dalam kisah nabi Luth AS dakwahnya berhasil dengan : Para utusan (malaikat) berkata :


!
"
#
$
!
%&'
#
(
&
) & *
&
+
!
,# -
.
(/0 & 1
!
"
2
3
#
4
!
5
!
6 & 7
!
(# 8
&
9
!
6
!
:# ;
&
9
&
< & 7# -
&
/
!
= 0>
?
(
!
@
&
) # 1
&
/ & 7A6
&
B ? ,? ;? B C
.
D
!
=
?
E>
?
/C
&
) 0>
?
/C
&
F ! "!#
!
$
!
%
&
'(
)
*
+
, - .
!
/
!
$
&
0
1
2
&
3
)! "#
$
%
&
'
$
( ) *+ , - ./0
&
1+ 2
&
/
&
3 ) *+ , - ./0
)
4)5& 6
$
7 + 8
&
9 : ;
$
<
+
4)=
&
(>
&
?
&
3 >
&
9 >
&
=),2
$
.
)
9 )@
:
A
$
< 81
!
"( !
"
#
"
$
%
&!" ' !"(
)
*
"
+
"
, !"- . /
)
0
"
1
"
2!
"
, !
3
4
"
*
)! "#$ %
&
'
(
)
!
*+ , -
.
/ & 0
.
)
1
2
(
34
(
-
.
5 4
(
6& +
(
7 ( 8 4(9 & :
(
;
&
)
(
<
(
= 4
(
6
(
7
.
>4
(
/ 82 (

Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan
dapat mengganggu kamu, sebab itu perhilah dengan membawa keluarga dan pengikut-
pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di anataramu yang tertinggal,
kecuali isterimu. Sesungguhnya mereka akan ditimpa adzab yang menimpa mereka
karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah
subuh itu sudah dekat?. Maka tatkala telah datang adzab kami, kami jadikan negeri kaum
Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari
tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (QS. Hud : 81-82).

Kisah dakwah nabi Syuaib berakhir dengan :

!" "#
$
%
&
'
&
( & )*
+
,
-
!"
+
.
&
, & /
&
0
&
1 2
-
3
+
4 5 6
&
% 7 8
&
9
+
: $;
&
<
&
4 "#
$
3
&
4"
&
= & )*
+
,
-
!"
&
1 2>?7 @
&
<
$
A 2&37 @ - B&C 2&C $ 9
7
4
&
0
&
=2
&
D 2
-
%
&
!
&
1 !
"
# $%& '
(
) * +
(
,
(
#
&
-
(
'* . / 0
) ! "#
$
%
$
&'
!
(
)
*
$
+
$
,'
!
-
$
. 94!

Dan tatkala datang adzab kami, kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman
bersamanya dengan rahmat dari kami, dan orang-orang yang dzhalim dibinasakan oleh
suatu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.
(QS. Hud : 94)

Dalam kisah Nabi Musa AS bersama Firaun dan kaumnya berakhir dengan hasil
sebagai beikut :

) ! "#
$
%
$
&'! ( '
!
)
*
+! , -.
/
0'! 1
!
2 '!+
$
3'
!
45
$
6 -./6
7
8! 1
*
9/)
7
0
!
:
$
6
;
9
!
#
*
<- =
$
&
*
9/>'!+
*
?
!
@
*
(
!
:
!
&
*
9/)
*
+
$
A '!+
*
B
!
C!D
*
0'
!
& 136 !"
#
$%& ' & ()
*
+
,
-!
&
. / "
&
0
/
-! %&1
/
2
&
3 / 4
&
5
&
4(

!
"
#
$! %
&
'
(
"!)
!
* +
!
,-
#
. +!/
&
%
!
0+
!
1 2
#
3
(
45 +
!
,
!
1
#
0+! 6
!
7
!
*
#
8& 0
! &
95 ! :
#
0+! ;
!
7 ! <=
>
?
!
@ & A!3 & B>C
!
"#
$
%&
!
'( )
$
* +
$
,
!
- .
!
/ ! 0 .!, ( 12 3
(
4& ! 56-
!
7
2
8
) ! "#
$
%
&
'( )
!
* +#
$
,-! . -
!
/
!
0 $1
$
/ ( #
!
2
!
0 $ "( #! 3( '
&
4 $ 5!6 ( 7
!
* ! "-! . -
!
/ -!, ( '
8
/! 9
!
0 +0$ '
!
:
!
; -
!
<
&
= 137 (

Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut
disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas
itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri
berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji)
untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah
dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka (QS. Al-Araf : 136-
137)

Demikian pula halnya dengan sebuah desa tepi pantai :

!
" # $%
!
&
!
'
(
" %)
*
+
!
,
!
- ! ./
(
&
0
1% 2!3
4
&! 5
!
6
!
7
(
8)9 :1%
(
.! ; ! <4 )
!
=
4
>
!
/ ! ./
(
&
0
1% 2!>4 ?
!
@
4
3
!
6
(
A
(
" %7* B
C
D
*
E 2
!
F %)* :!3 2
0
+
!
,
!
G !"
#
$%& ' %
&
(
)
*
+
,-
)
.
) ! "#
$
%$ &
'
(
!
) 165 (

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami
selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS.
Al-Araf : 165). Ayat-ayat tersebut di atas menguatkan bahwa keselamatan bagi dakwah
kepada Allah, dan inilah janji Allah kepada orang-orang beriman :

) ! "#
$
%
$
& ' (
)
*
'
+,
$
-
'
%
)
. /!%' #
!
0 ! 1 /
2
3
4
!
5 ! 6
$
+
!
7! 8 ,9
)
%
!
&,
!
: ! ";
$
7
<
+,
!
= /!%
!
0) >) ? @A B!%
)
.
<
C
)
D 103 (

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman,
demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.
(QS. Yunus : 103)

Kemenangan orang orang mumin adalah kemenangan para duat ilallah terbukti karena
janji dan keputusan (Allah). Berkata Sayyid Qutub Rahimahullah : Inilah garis yang
telah ditetapkan Allah (sunnatullah) di muka bumi ini, inilah janji untuk para penolong-
NYA. Apabila terkadang perjalanan terasa panjang bagi bagi para duat maka harus
difahami seperti inilah jalannya. Hendaknya para duat tetap yakin kemenenagan dan
pergantian kekuasaan akan menjadi milik orang-orang beriman. Juga hendaknya para
duat jangan tergesa-gesa terhadap janji Allah, hal itu pasti akan terjadi di tengah
perjalanan, Allah tidak akan menipudaya para penolong-NYA, dan tidak akan lemah
untuk menolong mereka dengan kekuatan-NYA dan tidak akan menyerahkan mereka
kepada musuh-musuh-NYA, bahkan allah akan selelau mengajarkan mereka, menambah
pengetahuan mereka dan membekali mereka dalam cobaan dan penderitaan dengan
bekalan perjalanan.




TIDAK ADA RUGINYA BERDAKWAH

Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh
dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan
dakwah meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan, tetapi ia seperti makanan
yang lezat, dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktifis dakwah selalu tetap berada
di jalannya dengan nilai-nilai yang mahal dan berharga, melipur lara dan mendapatkan
kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepantingan dakwah. Mereka
adalah orang yang paling bahagia bila di banding dengan yang lainnya (yang tidak
berdakwah). Adapun akhir dari perjaunagn dakwah adalah kemenangan dan kekekalan,
selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.

DAKWAH MUHAMMAD : PERLINDUNGAN BAGI KEMANUSIAAN

Bila diamati beberapa ayat yang menjelaskan tentang pertarungan para nabi dengan
kaumnya, maka dapat disimpulkan bahwasanya mereka seluruhnya dimusnahkan oleh
adzab Allah SWT, sehingga tidak ada lagi tersisa manusia berkeliaran, dan tidak luput
seorangpun dari mereka. Dengan datangnya Nabi Muhammad tidak ada lagi pemusnahan
massal, baik dengan topan, halilintar dan badai. Hal ini merupakan penghormatan bagi
umat ini yang tidak pernah sunyi dari oranng yang berjuang untuk Allah dengan hujjah
yang nyata dan kelompok yang terus eksis di atas perintah Allah (Dakwah), sampai tiba
keputusan-NYA, kelompok tersebut adalah para dai (duat). Lantaran mereka Allah
menetapkan keselamatan bagi umat ini dari kebinasaan secara masal. Akan tetapi ketika
di bumi ini tidak ada lagi golongan mulia disisi Allah (Duat), maka kiamat akan segera
tiba, sebagaimana tertuang dalam beberapa Hadits, Rasulullah SAW bersabda :Tidak
terjadi kiamat kecuali bila seluruh manusia berbuat keburukan. Tidak akan terjadi
kiamat bila measih ada orang yang menyebut Allah Allah, dalam riwayat yang lain,
sampai tidak ada yang berkata lagi di muka bumi ini : Allah Allah. Diwafatkan
orang-orang yang saleh dari generasi pertama hingga generasi berikutnya, seperti buah
kurma dan biji gandum, yang tersisa kemudian hanya yang jelek-jeleknya saja, Allah
tidak terbebani sedikitpun oleh keadaan mereka

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukan bahwa terjadinya kiamat berkaitandengan
hilangnya dawah dan para dainya, saya tidak bermaksud bahwa kaitan ini kaitan sebab
akibat, tetapi yang saya maksud adalah Allah senantiasa menghargai kemanusiaan
dengan dakwah dan para dainya. Sesungguhnya selama dakwah dan para dainya terus
berlan jut, maka tujuan penciptaan di muka bumi ini masih terus berlangsung. Akan
tetapi bila dakwah dan para dainya lenyap maka manusia telah rugi karena alasan
kebaikan keberadaannya di muka bumi ini pun menjadi hilang dan tidak berlaku lagi.
Demikianlah, sesungguhnya manusia berada dia antara dua titik, titik permulaan atau titik
penghabisan. Titik permulaan diisyaratkan dalam firman Allah : dan ketika berkata
Tuhan mu kepada malaikat sesungguhnya aku menjadikan di muka bumi ini seorang
khalifah. Sedangkan titik penghabisan diisyaratkan dalm hadits rasulullah SAW :
Sesungguhnya Allah akan mengirim aroma wewangian dari Yaman yang lebih lembut
dari sutra, tidaklah engkau meninggalkan seseorang padanya keimanan seberat biji sawi,
melainkan engkau telah menangkapnya (menyelamatkannya)

Imama Muslim telah mengeluarkan hadits dari abdurrahman bin Syamasah RA. : Ketika
aku bersama Maslamah bin Makhlad dan bersamanya Abdullah bin Amr bin Ash, berkata
Abdullah : Tidak akan terjadi kiamat kecuali kepada manusia durjana, bahkan merka
lebih durjana dari kaum jahiliyah, doa mereka ditolak oleh Allah. Tiba-tiba datanglah
Uqbah bin Amir, maka berkata maslamah : Hai Uqbah dengarlah apa yang diucapkan
Abdullah. Uqbah menjawab : Dia lebih tahu, sedangkan saya pernah mendengar
rasulullah SAW bersabda : Tidaklah sekelompok dari umatku berperang atas perintah
Allah, mendesak musuh-musuh mereka, tidak membahayakan mereka orang-orang yang
menentang mereka, sampai datangnya kiamat, sementara mereka tetap seperti itu.
Abdullah berkata : kemudian Allah mengirim aroma seperti aroma kasturi, sentuhannya
seperti sentuhan sutra, maka tidaklah engkau tinggalkan seseorang di dalam hatinya
terdapat keimanan seberat biji sawi melainkan engkau menangkapnya, kemudia yang
tersisa hanyalah manusia durjana, karena merekalah terjadi kiamat.

Dapat disimpulkan dari riwayat tersebut di atas satu petunjuk bahwa ada korelasi antara
kelompok orang beriman dengan datangnya kiamat dan datangnya kiamat karena
kedurjanaan manusia, pengertian dari korelasi yang dimaksud adaah semakin dekatnya
kiamat, sebagaimana pendapat Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini. Sedangkan
hadits lain yang menyatakan : Tidaklah sekelompok umatku terus eksis di atas
kebenaran hingga hari kiamat, tidak bertentangan, karena makna hadits mereka
senantias di atas kebenaran, yaitu kebenaran mereka memperoleh aroma kasturi.

Manakala seorang dai telah mencanagkan dirinya untuk berjihad dan mendorong dirinya
untuk berkorban di jalan Allah, dan memasuki satu celah untuk menghadapi musuh-
musuh Islam, maka keahlian seperti itu akan menjadikan dirinya lebih mampu
bermanuver, dan ia dengan idzin Allah akan menang dan selamat, sementara musuhnya
akan hina binasa. Keselamatan yang dimaksud bukanlah keselamatan individu dari
penyakit dan penderitaan, tetapi yang dimaksud adalah keselamatan jama,ah dan fikrah
pada akhir perjuangan. Adapaun di akherat nanti gambaran keselamatan adalah
kenikmatan permanen dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya
terdapat sesuatu di mana mata (ketika di dunia) tidak pernah melihatnya, telinga tidak
pernah mendengarkannya dan tidak pernah terlintas dalam hati siapapun.

KAIDAH KEDUA
(Seseorang mendapat hidayah Allah melalui engkau, maka hal itu lebih baik bagimu dari
seekor unta merah)

Itulah yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib RA
ketika beliau menyerahkan bendera kepadanya pada saat perang Khaibar. Kemudian ali
berkata : Atas dasar apa kita memerangi manusia, kita memeranginya sampai mereka
seperti kita ?. Rasul bersabda : Sabar, sampai engkau memasuki wilayah mereka, lalu
dakwahkan mereka kepada Islam, dan sampaikan kepada mereka kewajiban-
kewajibannya, maka demi Allah seseorang mendapatkan hidayah melalui engkau, hal itu
lebih baik bagimu dari pada seekor unta merah. Kenapa demikian?, karena hidayah
Allah adalah petunjuk, tidakada setelah petunjuk kecuali kesesatan. Ketika Allah
memeberikan petunjuk kepada seurang dai maka Allah akan sediakan orang uang ajan
menerima dakwahnya, karena sesungguhnya nilai-nilai penerimaan dakwah itu sangat
agung dan mulia, kita sebut saja diantaranya :

1. Berdakwah berarti menyelamatkan orang yang mendapat petunjuk dari api neraka,
menlindungi dari panas dan gejolaknya, dijauhkannya seseorang dari api neraka
disamping karunia dari Allah juga disebabkan oleh kesungguhan dai dan
pertolongannya, digantikan yang semula tempatnya kekal di dalam neraka menjadi kekal
di dalam surga, ini adalah perkara yang tidak bisa dibandingkan dengan ketegori
kebaikan apapun, tidak ada yang dapat menyamai tingkatannya, setinggi apapun tingkat
kebaikan dan kedermawanan. Maka seorang dai mempersembahkan surga sebagai
hadiah untuk manusia di sekelilingnya, menenunjuki mereka tempat kebahagiaan, maka
pahala yang seperti apa yang akan dicatat untuk para dai di sisi Rabbnya kecuali pahala
yang kadarnya sesuai dengan keagungan pemberinya.

2. Sesungguhnya setiap gerak dan diamnya orang yang mendapat hidayah, tasbih dan
takbir yang terucap dari keduabelah bibirnya, setiap rakaat dan sujud yang dikerjakannya
dan setiap kebaiakan yang digerakan allah melalui tangannya, itu semua disebabkan oleh
peran dan usaha seorang dai yang telah menunjukan jalan ke arah kebaikan, karenanya
pahala bagi dai seperti pahala orang yang mengerjakannya, sebagaimana sabda Nabi :
Yang menunjuki ke arah kebaikan seperti orang yang mengerjakannya. Juga Nabi
bersabda : Barang siapa yang menerapkan kebiasaan yang baik dalam Islam maka
baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun
pahalanya. Ini dari sisi pahala yang tak ada habisnya, Ia terus bertambah dari hari ke
hari. Sesungguhnya kesungguhan Abu Bakar As-siddiq, Bilal, Ammar, Khadijah, Asma
dan para sahabat dan sahabiyat lainnya, adalah modal yang paling utama dalam
penerimaan manusia terhadap Allah hingga hari kiamat, dan sesungguhnya kesungguhan
Nabi Muhammad SAW adalah titik awal dari setiap kesungguhan yang ditunjukan oleh
setiap muslim, oleh karena itu bagi Rasulullah SAW setelah Allah SWT- segala
kemuliaan di atas kepala setiap orang Islam.

3. Bahwasanya yang memperoleh hidayah melalui tangan seorang dai menjadi mitra
baginya dalam menunaikan misinya, berpadulah kesungguhannya dengan kesungguhna
dainya. Demikianlah dkwah tidak akan bertambah melainkan dengan jalan dakwah itu
Sendiri, dan tidak semakin menjadi kokoh kecuali dengan masuknya unsur-unsur baru
yang mengikutinya. Tidaklah berubah keadaan kaum muslimin dari sembunyi-sembunyi
menuju terang-terangan, kecuali setelah masuknya Umar dan hamzah ke dalam agama
Allah Azza wa jalla.

4. Sesungguhnya wahai para dai, siapa saja yang memperoleh hidayah melelui
keduabelah tanganmu, maka itu berarti sebuah batu bata yang dicopot dari bangunan
jahiliyah lalu diletakkan pada bangunan Islam. Hal ini dari sisi kekufuran dan kesesatan
adalah sebuah kekalahan bagi Syaitan dan para pembantunya, dan kemenangan bagi
Allah dan para penolongnya. Oleh karena setiap kali ada orang yang mendapat hidayah
berkat dakwah, maka runtuhlah satu demi satu pilar-pilar bangunan jahiliyah. Begitulah
problematika jahiliyah di kota Mekkah, setiap pagi menjadi bahan pembicaraan di
kalangan mereka. Orang-orang kafir berbicara tentang kaum yang mengikuti agama baru,
memisahkan diri dan keluar dari masyarakatnya. Sementara kaum muslimin bergembira
dengan semakin banyaknya orang-orang yang mendapat hidayah, seakan-akan saya
membayangkan ad di bangunan kufur berproses setiap hari dan beruntuhan sedikit demi
sedikit sehingga lahan dakwah menjadi lebih terbuka.

KAIDAH KETIGA

Pahala diberikan karena dakwahnya tidak tergantung dengan penerimaannya.

1. Kaidah tersebut menjawab kesalah kaprahan anggapan banyak orang, bahwa
pahala bergantung dengan hasil duniawi yang kasat mata. Bila seperti itu, maka
kebanyakan para Nabi tervonis gagal dalam dakwahnya, sebutan yang tidak
pantas bagi para nabi Allah. Meskipun Nabi Nuh sangat sedikit pengikutnya dari
kalangan orang-orang beriman, tetapi Ia telah mendakwahkan kaumnya dan
menetap bersama mereka 950 tahun lamanya. Sebagaimana firman Allah :


!
" # $%
!
&'
(
)*+
#
,#-
!
.! /
!
0
!
& %
1
2%! 3 ! 45
6
7
8
9! /
:
;
6
< = >!?
!
@ ! A
8
*
!
B
8
,
6
C5
6
&
!
D
6
E
!
F
!
&
6
G
6
2 8 '
!
H I
!
*
6
< % 1 J'
#
K %!?
8
F
!
@8 L
!
B 8 M
!
N
!
*
!
" ! "#
$
%
&
'(
!
)
*
+$,

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir
besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ankabut : 14)

Zahir ayat tersebut menurut Ibnu katsir menerangkan bahwasanya nabi Nuh
tinggal bersama kaumnya dan senantiasa mendakwahkan mereka kepada allah selama
950 tahun. Walaupun Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya cukup lama, tetapi yang
beriman kepadanya hanya sedikit saja. Firman Allah Taala :

! "
#
$
%
&
'
( # )
#
*! +
#
,
#
-
'
"! .#/
!
01
'
"! .
#
2 ! -# 3 4 5
6
7 ! "
'
$ 8
#
9.
'
: ! 5
'
; ! <1 8#/
!
*
6
= 6 >?
@
/
%
AB1
#
>8
#
:
#
- 8#C 6 D
!
$
#
,
#
E8
#
2 1
#
F
'
( G
%
A
#
<
! "#
$
%
&
'
(
)
$
* +,
&
-
&
. & /
&
.0
&
1 2
&
.
&
3 & /
&
.0
&
1 4 /
&
.
&
3 + 5 4 6
&
7
4
80
$
,4 #
&
% & 9 & :
&
;
&
<

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami
berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang
(jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan
terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman
bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Hud : 40)

Bila diperhatikan pengecualian pada ayat ( !"# !"$ ) sehingga tidak dapat dipahami
bahwa jumlah orang berimannya banyak, oleh karenanya Allah memperjelas dengan
ayat berikutnya .( !"#$ %& '() *)+ ,)- )

Begitulah permasalahan dakwah yang dihadapi kebanyakan para Nabi, mereka
nanti akan dkumpulkan pada hari kiamat, sebagian mereka ada yang mempunyai
pengikut satu dua tiga orang saja, sebagian mereka bahkan sama sekali tidak ada
seorangpun orng beriman yang menjadi pengikutnya, Imam tirmidzi mentakhrij dari
jalur Ibnu Abbas Semoga Allah meridhoi keduanya seraya berkata : Tatkala Nabi
diisrakan Nabi melewati beberap Nabi bersamanya pengikut yang banyak, beberapa
Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu
orang pengikutpun. Karena itu Allah telah mengarahakan Rasul-NYA Muhammad SAW
kepada pengertian tersebut di atas, ketika beliau diperintahkan berdakwah dan
menyampaikan risalah, Allah tidak menuntut hasilnya. Allah berfirman :


!
"
#
$ % &' (
%
) % * ' +
#
$ ,
-
.(
#
/
%
0
'
1
#
2' (
%
) % * % 3,%4
'
)
%
5 ' 6
%
7 ,
%
8
%
9 :;< =
%
>' *
%
7 ' +
#
?
%
9
!
"
#
$
!
%
&
'
!
( ) *
!
+ ,
-
.
#
/ ! 0,
!
1
)
2
#
)
34 ,!.
)
5
!
6
!
7 4
!
6
#
8 ,
-
2
#
8
!
9
:
; ! <
!
=
)
>4
! "#
$
%& ' & ()
&
*
+
,
-
+
./ 0 (
-
1
&
2
+
3
-
45
-
6+ 5
&
7
+
8
&
90 6
&
: )
&
;
-
<
!
=&>?@
&
A
+
3$4+ B
-
C
$
D + (
-
E
&
F )
&
4
-
<

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi
mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya
apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira
ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan
tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu
amat ingkar (kepada ni`mat). (QS. Syura : 48)

!"
#
$
%
&
'
()
%
* + ,
+
$
'
()
-
.
#
/
#
0% 1 2 3() 4
+
5 + 6 ' 0
+
7
+
8

maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah)
dengan terang. (QS. An-nahl : 35)

! "# $%& '
(
) ( * +
(
,
(
- !"
#
$
%
&
'
()
%
* + ,
+
$
'
()
-
.
#
/
#
01

. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan
terang." (QS. An-Nur : 54)

Adapun urusan hidayah sepenuhnya ada di tangan Allah. Sebagaimana firman-NYA :


!
"
#
$%
&
'
!
(
)
* # +
)
,
)
-!.
)
/ ! 0%) 1
)
2 # 3
)
4 5
&
6# 7
)
2
)
8
9 8 3
&
:
)
$
)
/ ) ;# <
)
< # =
)
, # 3
)
4 5
&
6# 7)> ) ? ) @
8
A
&
B ! "#
$
%!&' (

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,
tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash : 56)

2. Esensi kaidah ini menjelaskan bahwasanya seorang dai tidak boleh terjadi pada
dirinya putus asa dan stress, akibat penentangan manusia dan ketiadaan respon
mereka. Allah telah mengurangi beban kesulitan Nabi-NYA dan tidak membebani
di luar kemampuannya, Allah berfirman :


!
"#$%& '#$ & (! )
&
* & +
&
,! )
&
-

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk (QS. Al-Baqarah :
272)

!"
#
$!% ! &
!
' ( )*! +
!
, # -
!
. /
0
1# 2
!
,
!
3 ( )*! +
!
, # -
!
. 4 5
0
6(,
!
7
8 7 9
0
:
!
' *
;
<
!
=
!
>
(
?@
!
A
!
'
0
B
0
C
!
D! E ( )F( G (B
!
H ! -I,
(
J # -
!
D
!
'
!
K
!
"
#
$! %
&
' & ( & )* +
!
,&- ! .
! "#$ %!& ' (
!
) *
!
+
,
-
.
/0
,
1 ! 2
!
3
4 3 "
,
5 6 78
!
9
!
:
!
;

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang
buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh
syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan
menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena
kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat. (QS. Fathir : 8)


!
"
#$
!
%
"
&
!
' ( )* +, -
(
. $
(
/
(
0 , +
!
- , .1
(
0 ! "#$ %
$
&
'
(
!
) *
+
(
,
-
.
/' 0
!
1 2
,
3 $ 4!5 ! 6
!
#
'
7
,
8' 0
!
9 ! : ' "! ;' <!5 ! 6
!
#

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan
janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. An-
Nahl : 127)

Ayat-ayat tersebut merupakan hiburan bagi Rasulullah, sebenarnya beliau sudah
sangat berambisi untuk mentransfer kebaikan dan hidayah kepada mereka tetapi
merekalah yang buta dan tuli. Hati yang remah terasa diiris-iris ketika melihat
manusia bertumpukan di dalam api neraka seperti tumpukan kasur, seperti itulah
keadaan rasulullah SAW. Lalu datanglah arahan dari Allah :

!
"
#
$
%
$
&
'
()
'
*
$
+
,
-. .
$
/
$
0
'
1 .2
3
4
'
5 , 63)
,
7
$
- , 8
'
9
,
7
'
:
'
;!
$
<.
$
= >
$
? $ @ $ A
$
B
,
#$C D E
'
F!
$
1 $ A
G
?
$
H
$
?
$
I

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati
sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini
(Al Qur'an). (QS. Al-Kahfi : 6)

Dengan kata lain ayat tersebut menegaskan bahwa : Apakah barangkali kamu
(Ya Muhammad) akan membinasakan dirimu karena putus asa dan ngenaskrena mereka
tidak mau beriman kepada Al-Quran. Imam Qatadah berkata : barangkali kamu ingin
membunuh dirimu karena marah dan sedih terhadap sikap mreka. Sedangkan Mujahid
mengatakan : jangalah engkau putus asa (ya! Muhammad) sampaikan terus risalah Allah,
barang siapa yang mendapat petunjuk maka ha itu untuk dirinya, tapi barang siapa yang
sesat, sesungguhnya kesesatan itu juga akan menimpa dirinya.

Demikianlah tidak menjadi dosa bagi para dai dari umat Muhammad, bila manusia tetap
tidak menginginkan petunjuk dan tidak merespon mereka setelah memaksimalkan
kesungguhan dalam mendakwahkan mereka, karena sesungguhnya Allah tidak
membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

3. Kaidah ini akan mengobati penyakit para dai yang emosional yang hanya
menunggu hasil duniawi yang kasat mata, dan menjadikannya sarat
keberlangsungan di jalan dakwah. Pandangan seperti itu ini hanyalah
kesalahpahaman di satu sisi dan secara jelas menyalahi kaidah-kaidah dakwah
dalam Al-Quran dan sunnah.

Al-Quran telah menegaskan bahwa tidak ada keterkaitan yang harus antara dakwah
dan responnya (Istijabah), terkadang seorang Dai teleh sedemikian antusiasnya,
tetapi disikapi objek dakwah (madu) dengan sikap dingin bahkan melakukan
penentangan. Sesungguhnya Al-Quran menjadikan antara dakwah dan istijabah
adalah tahap yang sangat penting, sebagaimana firman Allah SWT:

! "
#
$%& # '
#
( % )*# +#, - .
#
/
#
01 2
%
3
#
4 *#, % $- 5#,
-
6%7
#
)*
#
8 9:%;
<
=
%
> - ?
#
@
-
6%A
B
,
#
C 9:
!
3
#
D
#
( % E% F! $G9
#
H#I- J#K - F9 9
#
L
<
M N
B
K
#
O
! "#
$
%
$
& ' (
)
*
'
+,
$
- ' .
!
/
'
+,
$
"! 0 1!2) 3
'
4
!
5
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan
mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para
rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki.
Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa. (QS. Yusuf :
110).

!" #$% &'()!% %*+ ,)- ! adalah fase !"#$
%
& '( )*+, !"-./ dan titik fase ini adalah
pertengahan antara dakwah dan fase berikutnya !"#$" %&'!( . Berkata Ibnu Katsir :
Allah mengingatkan bahwa pertolongannya akan diberikan kepada para Rasul-NYA
dari situasi kritis dan penantian kemenangan dari Allah pada saat-saat yang sangat
dibutuhkan. Allah befirman :


!
"
#
$
!
%
#
&'
(
)(*
#
+, -
!
.
#
)
(
/
0
1# %
!
2 # 3
0
. ' # 4
!
1 ! 5 ! 36
0
7
,
&' ( 8
!
9
!
.
#
)
(
/
0
:
#
$
!
6 ;
,
<
!
&
!
=
!
>
,
?
!
@
#
&' '4
(
1
(
5# A!: # B
!
C
#
)
(
+# %
0
-
!
D
#
E
!
C !"
#
$
%
&
'
$
#
(
)
* # +! , -, .$!
)
* # +/
! "#$
%
&'
(
)
%
* +
!
,
%
- ) ! "#
$
%
&
'
$
(
)
&
%* +&, ( -
$
. & /
&
0
$
(
) 1 %* +&, 2&3
&
4 15
&
6
&
4 78
1
9
&
47
&
: & ;#
$
<
(
=7
&
> 1 ?81 @ 214 (

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah
datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat.(QS. Al-Baqarah : 214)

Sesunguhnya Aisyah RA berpendapat bahwa prasangka yang dimaksud pada ayat
tersebut di atas adalah prasangka pengikutnya bukan prasangka Nabi kepada orang-orang
yang didakwahinya. Aisya berpendapat seperti ini ketika Urwah bin Zubair RA berkata
kepadanya bahwa sesungguhnya mereka meyakini kaum mereka telah mendustakan
mereka, jadi itu bukan prasangka. Lalu Aisyah berkata : Ya, sungguh mereka memang
meyakininya, lalu bagaimana dengan sangkaan bahwa mreka telah didustakan? Tanya
Urwah. Aisyah menjawab : Allah tempat berlindung (maaadzallah) para Rasul tidak
akan menyangka demikian kepada Rabb mereka. lalu apa maksud ayat tersebut? tanya
Urwah lagi, Aisyah mengatakan : Yang menyangka seperti itu adalah para pengikutnya
yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan-NYA, lalu mereka diuji dengan
kesengsaraan dalam waktu yang cukup lama, sehingga kemenangan belum kunjung tiba,
sampai para Rasul tidak punya harapan lagi terhadap kaum yang telah mendustakan
mereka, dan mereka para Rasul juga mengira bahwa pengikut-pengikutnya telah
didustakan oleh kaumnya. Pendapat ini didasarkan pada bacaan Aisyah !"#$
%
&, sehingga
subjeknya pengikut bukan para Rasul. Penyampaian ini sesuai dengan kedudukan Rasul
yang mulia. Apabila kita jadikan dhamir itu kembali kepada para Rasul maka sangkaan
mereka waktu itu adalah kaum mereka telah mendustakan mereka. Dan tidak menjadi
masalah bila digabungkan antara kaum yang mendustakan para Rasul dan orang-orang
yang emosional yang berprasngka buruk kepada Allah.

4. Hal tersebut di atas bukan berarti bahwa dai tidak dituntut harus mengerahkan
seluruh kesungguhannya, dan memanfaatkan sarana dan pendekatan yang terbaik,
dan mengenai hal ini akan kami jelaskan dalam kaidah berikutnya.

KAIDAH KEEMPAT

Seorang Dai harus sampai pada tingkatan penyampaian yang optimal dan selalu
berusaha memberikan penyampaian yang menyentuh (balagh)

Berdakwah tidak jauh berbeda dengan mempromosikan sautu barang. Kita yakin si
pemilik barang akan menggunaka sarana, gaya dan pendekatan yang paling optimal dan
yang paling luas pengaruhnya demi memenuhi kepuasan publik dengan barangnya.
Bahkan jalan yang ditempuh untuk mengefektifkan promosinya digunakan komentar,
gambar dan hadiah serta sarana-sarana lainnya. Dan Allah telah menjadikan penyampaian
yang menyentuh (balagh) sebagai misi para Rasul dan Nabinya

) ! "#
$
%
!
&
'
()
!
* + ,
+
%
'
()
-
.
$
/
$
0! 1 2 3() 4
+
5 + 6 ' 0
+
7
+
8 35 (

maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah)
dengan terang. (QS. An-nahl : 35)
Allah mensifati !"#$% (penyampaian) dengan !"#$%& (terang)
Juga Allah berfirman :

)!"#$
%
&
'
(
%
)
*!
%
+ ,
'
-' .
'
/
'
)
0
)
1
%
2 3" 4
'
(
'
5 ' 67 8' 9
7
:
'
; ' 1
'
/ <='> 7 8' 9
7
:
'
;
'
/
%
)
0
%
? ' 1!
'
@
%
A ' 68
<
B
C
D
'
#<; ' E;
%
F
)
G3 39!

(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah
Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (QS. Al-Ahzab : 39)

Dan ketika manusia berpaling dari keimanan disitulah ditegaskan bahwa para nabi telah
sampai kepada tingkat penyampaian yang optimal. Allah berfirman :

!
"
#$% & '()*
+
,
-
. & / 0 1
+
2
&
$
&
3
0
4
-
2
&
$
-
5 0 ,
&
6&7
&
3 89:
&
;
&
<
&
$!
&
=
+
;
0
4
-
2
-
>
0
?
&
@0 :
&
A 0 B
&
C
&
$
+
D 0 (
&
E!
&
F
&
G!
&
E
&
3
0
4-H
0
#& I J
"
$
&
(&>
&
K ) ! "#
$
%
$
& 79 (

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku
telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat
kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat".(QS. Al-
Araf : 79)

Kalimat ! "
!
#
!
$ bermakna !"#"$% &'( )*+, -. /#-, sampai atau hampir mengenai sasaran.
Berkata Ibnu Faris : ! "
!
#
!
$ adalah !"# $%&%"' !"#$% , sampai kepada sesuatu, contoh : !"#$,
!"#$ %&' ()*+,% !"#$ , demikianlah penyampaian yang bagus karena kefasihan lisan,
sehingga tepat mengenai sasaran yang diinginkan. Berkat Al-Azhary : Orang Arab
mengatakan untuk satu pemberitaan yang disampaikanoleh seseorang kepada orang lain
Lalu orang itu tidak merespon dan menindaklanjutinya, maka hal ini sikap tersebut
dianggap jelek dengan istilah
!
"
#
$% & ! '() atau !"#$ %
&
!'(), mendengar tapi tak sampai,
atau mendengarkannya tapi tidak sampai mengenai sasaran.

Itulah bukti penggunaan kalimat yang efektif dan menyentuh yang memiliki karakter
!"#$%&'( )*+*,', sampai dan optimal.

1. Tidak mengapa bagi seorang da,i bila terus menerus dalam penyampaian efektif
dan menyentuh, seseungguhnya Allah telah memperingatkan Nabinya untuk
senantiasa melakukan hal itu, sebagaimana firman-NYA :

!
"
#
$
% !&$'
$
()
$
*
+
, $ -
.
/
"
0
$
1 )
$
2
$
3 . 4
$
5
.
6$7
.
8
$
( . 9
+
:
$
% $ ;<1
$
, . =
+
> $ ;. ?
$
(
+
:
$
@
+
A
.
B
!
C )
$
>
.
D
<
0
$
1 ! @E! *" F(G )
$
HIJ
$
C)
$
J
!
"
# " $
%
&
%
'(
"
)*+ ! ,
%
- ! .
/
0
%
12 3
!
4
! "
#
$ # % ) ! "#
$
%
$
&'! (
)
*+
!
, ) -
!
.
)
*+ /
$
0 67 (

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-
Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah : 67)

Berkata Imam Qurtuby : Hal itu adalah pengajaran untuk Nabi dalam mengemban ilmu
pengetahuan untuk umatnya, agar tidak menyembunyikan sedikitpun dari syariat Allah
SWT. Karena bukanlah yang dimaksud dengan penyampaian/ !"#$% itu dengan
pemberitahuan dan pemberitaan, tetapi maksudnya adalah sampai risalah-NYA kepada
manusia.

2. Di antara tuntutan penyampaian adalah kesadaran dai tentang apa yang
disampaikannya, karena tidak ada penyampaian tanpa dibarengi kesadaran,
sebagaiman sabda Nabi SAW :

!"# $ %&' %()* +, -' ./0 %() 1'23 4 5
6
7)8 $29:
4
;<8 29=>38 2,2?+) @A/2(' BCD
E
FG7'F H
6
74 I6J "
!"# $ %&'()*+ ,-./- $ 01*23*/4 5*67 589):;- $ < =*>/4 ?@AB : %23; C2D 0&12( E =F GHI J
"!"#$%& '( )*+, -./01$
) 1 (
.


) ( !"#"$ %&#'() *+ ,-+./0' 12.34 5 / 34 !"#$ %&'( )*+ ,&-./0 1 1 / 84 ! 2 / 1015 !"#$% &'()*+ ,
!"#$%& '() *+ (,-. 1 / 437 ! 3 / 225 ! 4 / 80 ! 82 ! 5 / 183 :!"#$%&' () ("*'#&' +,-./0 1 24 .
Allah telah memberi kenikmatan wajah yang berseri-seri kepada sesorang yang
mendengar sabdaku lalu Ia menyadarinya, menghafalnya dan menyampaikannya, dan
telah dekat orang yang mendalami ilmu kepada yang lebih mendalaminya. Ada tiga hal
yang tidak boleh terhalang dari hati

Seorang muslim : Ikhlas berama karena Allah, menasehati pemimpi-pemimpin kaum
Muslimin, dan komitmen dengan jamaah mereka, karena dakwah senantias membentang
di belakang mereka.

Berkata Al-Khitaby dalam syarah hadits ini : ! "# $%&, artinya Allah mendoakannya
dengan nadharah, yaitu kenikmatan dan wajah yang berseri-seri, nadharah ini
merupakan pengaruh dari penyampaian seorang dai, maka para penyampai dakwah
adalah : !"#$%&' ()*)&' +$,-. !"#$%& '()*+% ,- , pemilik wajah nan cerah di dunia dan di
akhirat.

Al-Khitaby mengambil faidah pelajaran dari hadits ini karena khawatir bagi orang yang
kurang mendalaminya akan menyedehanakan hadits ini, karena itu mana menyadari
dalm hadits tersebut adalah menghafal teksnya dan melaksanaknnya seperti apa yang
disabdakan. Hendaknya seseorang yang mendalaminy harus menguasai makna-makna
hadots yang dapat diambil faidah pelajarannya. Isyarat pada hadits tersebut menyangkut
periwayatannya dan matan atau isinya berupa mengetahuan dan penjelasannya.

3. Penyampaian menuntut perkataan yang berbekas / !"#$%&

Keindahan untaian kata dijelasakan oleh Allah SWT dalm firmann-NYA :


!
"
#
$
%
&
'
( )
!
*
%
+#,
'
- % .
#
/
'
0
%
+#,
%
1
!
2
'
0
%
+#,
%
3' 2 % 4
!
5% 2
'
6
'
*
%
+
!
,
!
78
#
9
#
/ )
!
* :
'
; #
<
=
#
+
'
9 % >
'
? ' @?
!
A
<
-B ' C
!
D
'
-0
#
( )!
"
#$
%
&
'
(
"
) * +
'
,
*
-
%
. 63 !
"
#
"
$(
! "
#
$ %&'
!
(
&
) ! *
&
+
!
" # $
%
&
#
'
(
)
(
*
+
,
#
-
%
. /
(
0
#
'+)
%
1 # 2
+
&
%
3
#
'+)
#
4
(
5
%
3
#
'+)
#
6% 5 # 7
(
8# 5
%
9
%
0
#
'
(
)
(
:$
+
;
+
& /
(
0 <
%
= +
>
?
+
'
%
; # @
%
A % BA
(
C
>
1D % E
(
F
%
13
+
.
)!
"
#$
%
&
'
( 63 (
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka.
Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah
kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. Ann-Nisa : 63)

Hendaknya seorang dai menyampaikan kata-katanya dengn lafadz yang baik dengan
makna yang indah, mencakup !"#$%&' !&()%&' *&+,-&' ./+01%&' 234.1%&' 235.1%& , kata-
kata yang menyenangkan, menakutkan, memperingatkan, mengingatkan, motivasi pahala
dan ancaman siksa. Karena kata-kata bila disampaikan dengan balaghah, akan besar
pengaruhnya menghunjam ke dalam hati, tapi bila kata-katanya terlalu ringkas,
tekanannya lemah dan maknanya kering, tidak akan berpengaruh pada hati sama sekali.

Di dalam kitab Al-Lisan dijelaskan bahwa yang disebut !"#$ %&' : adalah orang yang
memiliki keindahan kata dan kefasihannya, apa yang disampaikannya itulah yang ada
dalam hatinya. Karena itu balaghah bukan berarti menyampaikan kata-kata yang sulit
dimengerti, pendekatan bahasa yang rumit dan jelimet, karena itu seorang dai dalam
menyampaikan dakwahnya harus mengetahui bahasa arab dan gaya bahasanya agar dapat
memberikan penyampaian yang berbekas. Semua itu menuntut kemauan untuk mengkaji
dan menelaah bahsa arab, meliputi ilmu, bacaan, penulisan maupun percakapannya, serta
melihat sastranya . baik puisi dan syairnya, dalam struktur ayat Al-Quran ada yang
maknanya hanya satu pengertian ada juga yang dapat diartikan dengan beberapa makna.
Oleh karena itu para da,i sekarang ini sangat perlu menguasai bahasa arab, dan tidak ada
alasan untuk mengurangi perhatiannya terhadap hal ini.

4. Al-Qur,an menekankan kefasihan dan kelancaran berbicara

Sebagaimana yang telah difirmankan Allah kepada nabi Musa AS. :

)!
"
#$
%
&
"
' ( )
"
*
+
,% -
(
./ 0 ( 1
/
2 ( 34
%
5 27 )!
"
# $ %
&
' (%)*
&
+
$
,
&
-( 28 (

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (QS.
Thaha : 27-28)

Nabi Musa AS telah menyadari bahwa kelancaran berbicara dan kefasihannya
menjadi salah satu sebab membekasnya penyampaian dan kokohnya argumentasi.
Berkata imam Ar-Razy : Ulama berbeda pendapat dalam hal Nabi Musa meminta
agar dilepaskan kekakuan lidahnya dalam beberapa versi. Versi pertama : Agar tidak
mengalami kesalahan fatal dalam menyampaikan risalah, versi kedua : untuk
menghindari agar orang tidak lari, karena kekakuan dalam berbicara akan
menyebabkan audien meremehkan pembicara dan tidak fokus memperhatikan
pembicaraannya. Versi ketiga : meminta kemudahan dalam berbicara, karena
menghadapi Firaun yang arogan dan sombong bisa jadi sangat menyulitkan
pembicaraan, sebab kalau bicara sudah kesulitan sejak awal biasnya akan terus
berlanjut hingga ajhirnya, karena itulah Musa As memohon kepada Allah diberikan
kemudahn dan keringanan dalam berbicara.

Faedah pelajaran yang dapat dipetik dari kaidah tersebut adalah bahwasanya dai
harus membiasakan dirinya berbicara tepat dan benar, kalau ternyata dirinya kaku dan
kelu dalam berbicar bisa meminta bantuan kepada yang lebih fasih dan membantu
kelancaran misi dakwahnya. Hal ini agar dakwahnya sampai kepada kualitas yang
lebih berbekas dan jelas. Inilah pula yang diminta lagi oleh Nabi Musa kepada allah
SWT :

)!
"
#
$
% $ &'( )*$+ 30 )!
"
#
$
%
&
'
"
(
"
) $ *+ ,
$
-.( 31 )!
"
#
$
%
&
' (
"
) *+
$
,
"
#
$
-
&
'
&
.( 32 (

(yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia
sekutu dalam urusanku, (QS. Thaha : 30-32)

)
!
"#$%
&
'( )$* + "
(
, $ -. ( /
(
, 0
&
1
!
2 0
!
3
$
4& 5
(
6$* 7 8 9+ :
!
;
(
0
!
<
(
= $>
+
?
!
@+ ;
(
A
(
B .
8
1.
(
C
!
D 0
&
3
!
= $ E
(
6
+
B
(
,
(
#$F $ "G$ ;.(F 0
!
/
(
,
(
G 34 (

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia
bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya
aku khawatir mereka akan mendustakanku". (QS. Al-Qashash : 34)

Kata-kata ! " #$ %
&
' adalah sebutan untuk apa saja yang dpat dimintakan bantuannya.
Sedangkan Imam Ar-Razy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud
dengan pengertian !"#$%&' bukan berarti bila Nabi Harun cukup mengatakan kepada
nabi Musa : !"#$, engkau benar!, atau orang akan mengatakan : !"#$ %&' ,
benar apa yang dikatakan Musa. Akan tetapi yang dimaksud adalah Nabi Harun
membantu dengan lisannya yang fasih mengemukakan beberapa argumentasi,
menjawab hal-hal rumit dan sulit dimengerti, serta untuk mengcounter apa yang
dikemukakan oleh orang-orang kafir. Inilah yang dimaksud dengan !"#$% & ' yaitu
!"#$%& '(!)*%& pembenaran yang membawa faedah, bukan hanya mengatakan engkau
benar, kalau hanya itu kefasihan nabi harun tidak terlalu dibutuhkan.

5. Di antara yang dapat membantu seorang dai dalam menjelaskan dan
menyampaikan dakwahnya, maka perlu didampingi oleh ikhwah lainnya, karena
karena pendampingan mereka akan menguatkan dirinya dan memberikan rasa tenang
di sisi yang lain. Akan tetapi hal ini diperlukan hanya untuk menghadapi objek
dakwah yang besar, karena bila objek dakwah melihat bahwa sang dai tidak sendiri
tetapi disertai dengan para pendamping dan penolongnya, maka mereka akan
memperhitungkan bahwa dakwah ini begitu besar pengaruhnya di masyarakat, dan
menunjukan begitu kuatnya fikroh yang terdapat dalam dakwah ini.

Allah SWT berfirman :

! "#
$
%
!
&
$
' ! (! )* +! , - )
*
.!/
!
0
!
12
!
3

Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu (QS. Al-Qashash : 35)

Allah juga berfirman melalui lisan Nabi Musa :

)!
"
#$ %
&
' $ (
"
) * + ,-
"
.
&
/ !
"
0 $ 1
&
2 $ 3*
&
/ 29 )!
"
#
$
% $ &'( )*$+( 30 !
"
#
$
%
&
'
"
(
"
) $ *+ ,
$
-.( ) 31 )!
"
#
$
%
&
' (
"
) *+
$
,
"
#
$
-
&
'
&
.( 32 (

dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku,
teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, (QS.
Thaha : 29-32)

Mengenai ayat ini Imam Ar-Razy berkata dalam tafsirnya : Ketahuilah bahwa meminta
pendamping dengan alasan apakah karena seseorang khawatir dengan kelemahan dirinya
untuk melaksanakan tugas dakwah atau semata-mata memenadang bahwa saling tolong
menolong dalam hal agama dan upaya memperjuangkannya, dibarengi dengan cinta yang
ikhlas dan menghilangkan prasangka, adalah keistimewaan yang mulia dalam urusan
dawah kepada Allah. Karena itulah Nabi Isa berkata :


!
"
# $ %&
'
(
)
*
'
+ $ , ) -'* ' ./01
!
%2
'
/
'
-
)
32
'
4&
'
5
!
"
# 6
'
3
!
7 8
!
%&
'
(
)
*
'
+ ) ,
'
9

"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?"
Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah",
(QS. As-Shaf : 14)

Dan Allah juga berfirman kepada Nabi Muhammad :
!""#$%&' (# )*+,' (#- . )+/0

Cukuplah Allah bagimu (Muhammad) dan orang-orang yang mengikutimu. (QS.

5 . Agar supaya seorang dai sampai ke tingkat penyampaian yang berbekas,
hendaknya Ia menggunakan berbagai sarana yang tersedia sesuai maksud dan
tujuan dakwah, inilah yang disebut dengan sarana presentasi dan sarana-sarana
yang membantu lainnya. Seorang dai hendaknya berbicara dengan audien dengan
bantuan gambar, film, peta, skema, power point, out door, kisah, senandung,
makhluk-makhluk Allah dan keajaiban penciptaannya.

Nabi sendiri membutuhkan bantuan sarana presentasi, sebagaimana sabdanya :

!"#$% &#' (#) " : *(+ , (-.#' / !01 , 2-' 34% 3' 51(6"$% 7289 ! !"
#
$% &' ()*+
) 2 (
!" : #$%&
! "#$%& '()* +,* &-./ 0123%& 45 :6#7* 8* 9:;</ !=1>?%& @A?B +C
D
1
E
A
E
F G'HI 'HJ%& 4/
!"#$% &'() *
+
,-.) ! !"#$%& '( :
) 3 (
.

Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar RA, Ia berkata : Kami pernah bersama
Nabi, lalu beliau datang dengan membawa Jammar (yang terdapat di atas pucuk batang
kurma, rasanya manis dan baik untuk dikonsumsi), Lalu Rasul bersabda : Sesungguhnya
di dalam pohon terdapat pohon serupa seperti seorang muslim, kemudian aku berkata :
Apakah itu pohon kurma?, kalau begitu aku adalah orang yang paling muda usia, Nabi
terdiam, kemudian beliau bersabda : Ya, itu adalah pohon kurma. Demikianlah Nabi
bertanya tentang pohon yang menyerupai seorang muslim dan seorang muslim yang men
yerupainya, ketika bertanya, beliau sambil makan jammar. Berkata Ibnu Hajar : Tatkala
Nabi mengemukakan satu pertanyaan sambil memperlihatkan jammar, barulah Ibnu
Umar paham bahwa yang ditanyakan itu adalah tentang pohon kurma.

NABI IBRAHIM AS MENGGUNAKAN SARANA PRESENTASI

Al-Quran menceritakan kepada kita bagaimana Ibrahim AS menggunakan sarana Bantu
presentasi ketika hendak mendakwahkan kaumnya untuk beribadah kepada Allah dan
mengalihkan mereka dari menyembah bintang dan bulan. Allah berfirman :


)
2
( .!"# $%& '(#) *!%+, -. /%01+, 234 56 7. 87
9
:; <+,
)
3
( !"#$%&' ()*+, 1 / 165 ! .!"#$%& '() *
) ! "#
$
%
$
&
'
() * +
$
,
-
. ! /
!
01
!
2
!
3
!
&
!
. 1
4
5
!
%
!
& 678
!
9 )
!
:!;
!
01
!
2 1<=! > ' ?! > @
!
.
!
9 - 3' #
4
%A)
$
B' #
!
% ! C 4 "
!
D 1
4
5
!
%
!
& 76
!
"
!
#
!
$ %
&
'
!
(
!
#
!
)
!
'
!
*
+
,- .
!
$
!
/ %
&
'
!
(
!
#(

!
! " #$%
!
& #$%
!
& '
!
(!)
!
*+
!
, +
-
.
/
0+
!
% #
/
1
/
23 4
!
5
3
6
!
7 3 8
/
9
!
7
!
*+
!
, ) ! "#
$
%& ' (%)
*
+ , -
!
.
,
%) ! "
*
/ ' "!0-
1
2 77
!
"#
!
$
%
&! '
(
)#
!
*
!
+
,
-
.
/01 2
!
3
!
4 #
.
-
!
5
!
6(
) ! "#
$
%
&
'
(
)
$
* +
,
-
&
. / 01
&
'
!
2 3
4
5
&
6
&
7 ( #
!
8+
!
9
!
:+
!
8
(
;
!
<
!
=
!
> +
,
-
!
<
!
= $ '
!
?
(
%
!
> @
!
A!B 342
!
C @
!
A!B 78
!
"
#
$ % &
!
'
(
)% $ * &
!
' "
+
,
#
-(
!
"
#
$
%
$
&' (
$ '
)*
$
+
"
,*
$
-
$
./ 01*
$
2
$
3
$
4 5
"
6
/
7
"
1 ) ! "#
$
%
$
&
'
(
)
*
'
+, ! "
$
- .!/
!
0 .
!
-
!
1 .
2
3 79 (

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah
Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang
tenggelam Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku".
Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak
memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat Kemudian
tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar",
maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan Sesungguhnya aku menghadapkan diriku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang
benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-
Anam : 76 79)

Itulah gaya berdialag dengan objek dakwah secara bertahap, sehingga dapat meruntuhkan
keyakinan dan ideologinya dan mengokohkan argumentasi terhadapnya. Berlindung
kepada Allah bahwa semua itu tidak menggambarkan keyakinan Nabi Ibrahim. B erkata
Ar-Razy dalam tafsirnya : Peristiwa tersebut terjadi karena pengamatan Nabi ibrahim
terhadap kaumnya, hal ini dibuktikan dalam firman Allah :

)
!
"#
$
% & '
!
"#
$
(
&
) & *+,
&
- + .
$
/ 0 12& 3&4 5 6
&
7 8 92
&
:
&
-& ; 0 <
&
= 5 >&4
$
?
$
7 5 @
&
A B
&
% & '
&
"#
$
CD
&
>5 ,
$
/ 2&C2&E5 #&FD
&
1 2&E
0
G + H0 ) & *
5
%
$
F
&
I 83 (

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu
Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anam : 83)

Oleh karena itu Allah mengatakan !"#$ %&' bukan !"#$ %&', Allah maha Tahu bahwa
diskursus yang berlangsung denga kaumnya tersebut, hanya bertujuan untuk mengarahan
dan menunjukan mereka kepada Iman dan Tauhid. Adapun ketika dalam dialog tersebut
Nabi Ibrahim mengatakan !"# $%&, maksudnya menjelaskan kebiasaan pengakuan dan
keyakinan kaumnya, bukan keyakinan dirinya, sama halnya seperti Nabi Musa AS, ketika
berkata kepada Samiri :

)!
"
#$ %&'
(
)
&
*
$
+, -
.
/ 01
2
3
&
#
.
%
$
3&3
&
+
2
)
0
4 01
2
3
&
5 ( 6
&
7
0
3
&
+ !
"
#
.
8!& 9
.
1$ *
&
: & 9 & ;
$
:
&
< =
.
>
2
+, & ?
.
@
&
+
.
A B
&
+
.
A $ 6
0
C
$
',
&
D 97 (

dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan
membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut
(berupa abu yang berserakan) (QS. Thaha : 97)

Sesungguhnya Nabi Musa tidak sedikitpun menjustifikasi keyakinan mereka, tapi
menceritakan pengakuan dan keyakinannya, juga ketika Allah berfirman :


!
"
!
# ) ! "#
$
%$ &
'
(!)
'
*
$
+
'
,
$
- ! ./
0
1
2
34
!
5
0
67! -
!
8
$
9 ! .' /
!
: $ ;#
$
<
!
=
!
>
'
*
0
?/
0
@7!,$/
!
A ' # 62 (

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata: "Dimanakah
sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?" (QS. Al-Qashash : 62)

Sekutu-sekutu yang dimaksud pada ayat tersebut adalah sebatas pengakuan orang-orang
musyrik dan keyakinan mereka, bukan berarti Allah menyatakan adanya sekutu-sekutu
baginya. Deikian pula nabi Ibrahim menghancurkan akidah mereka dalam gambaran
ibadah yang berubah-rubah, setelah itu ditetapkan dan dikukuhkan pada Ibadah kepada
Allah Yang Maha Esa dan Maha Kekal, yang tidak terdapat pada-NYA kekurangan dan
perubahan.

Contoh lain terdapat dalam firman Allah :


!
"
!
" # $
!
% )
!
"#
$
%&
!
'( )
$
! *
$
+
$
,
!
-#
$
. 83 )
!
"#
$
%
&
' ! (
)
%
&
*
$
+ ,-.+
&
/
&
01
&
2
)
3
$
4( 84 ) ! "#$ %$& ' (!) *
!
+,
!
-
.
/
.
- ' 0
!
1
!
#
.
/2
.
3
!
.
4
!
5,
!
1
'
+
.
6( 85
!
"
#
$
%
&'
#
( )
!
*
+
,
%
-
#
.(
) ! "#$ %&
'
(
$
)
'
*
+ ! "#$ , 86 ) ! "#
$
%
!
&'
!
(
)
&* + ,
!
-
$
.
)
/
0
1
2
3
!
4 '
!
%
!
5( 87 )
!
"#$ %
&
'() *
!
+
,
-
.
/
0
1.2
.
/
.
1.'
.
+( 88 ( )
!
"#
$
%
&
' (
)
*
$
+
&
,-
&
%
&
. 89 (
) ! "#
$
%
$
& ' (
)
* )+
'
,! - . ' /
0
1
!
/!2
!
3 90 ) ! "#
$
%
$
&
'
(!) ! *
!
+
!
,-
!
.
!
/
'
0
1
2
1
3
!
2
1
45
!
6 7
!
4
1
8
!
95
!
:
!
/( 91 ) ! "#
$
%
&
'
(
)!* ! +
(
,
$
-
!
. /
!
0 92 (
!
"#
!
$
!
%
!
"
#
$! %
&
' & (
!"
#
$
%
"
&
'(
#
) (*) & +
%
, 93

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika
ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada
bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki
sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu
terhadap Tuhan semesta alam?" Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.
Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya aku sakit".Lalu mereka berpaling daripadanya
dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala
mereka; lalu ia berkata: "Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?"
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya
(dengan kuat). (QS. Asshaffat : 83 91)

Kita juga dapat menyimpilkam bahwasanya Nabi Ibrahim AS telah menggunakan cara,
sehubungan dengan cara mereka yang selalu merawat inap orang yang sakit di samping
berhala dengan harapan mendapat kesembuhan. Lihatlah bagaimana Ibrahim kemudian
menghancurkan patung-patung yang kecil sementara membiarkan sebuah patung besar.
Hali bertujuan agar mereka kembali kepada patung besarnya. Nabi Ibrahim ingin
membuat kesan bahwa yang melakukan penghancuran berhala-berhala lainnya adalah
patung yang paling besar, untuk menguatkan hal itu sengaja Ibrahim AS mengalungkan
kapak di kepalanya, kisah ini tergambar jelas dalam firman Allah :

! "
#
$
%
&
'
(
#
)
!
* +
!
, ! - .!/
!
0
!
1 2 "'3
!
4
!
5
!
6 7
#
8
2
)9
#
:% ;
! %
<9
!
1
#
=9
!
>
!
?2 @)9 A B
!
;
%
&
'
(AC
!
; D
!
C
!
E.
!
F
) ! "#
$
%
$
&'
(
)*+ 56 ) ! "#
$
%
$
& ' (
)
* +,
-
.
!
,
)
/ ' 0
!
1 ! (' 2
!
&
'
3
)
4
!
*5!6 ' 7
!
1 8 0! (9
$
:
!
! ;
$
8
<5!/
!
=( 57 ! " #$
%
&' (
)
*
%
+ !
"
,!
'
-. /
0
1.2
'
3
'
4
'
5
'
6(

!
"# $
%
&
!
'
#
()*
+
,
%
-
%
&
#
()*
%
& ) ! "#$ %
&
' ( )
!
* 58 ) ! "#
$
%
$
&'
(
)&* ! "
$
%
!
& +,
(
-
$
. '!/
$
0
!
1
$
&2
$
3 *
!
4!5
!
6
!
7
!
8 9 "
!
: *;
+
&'
!
<( 59 !"# $ %
&
'
"
( )*
+
,!
"
-(
)
!
"#
$
%&
'
() *
$
+ !,
'
- ! ./
'
0!1
)
"!%! (
!
2
)
3
'
1 4
5
6
'
7 60 ) ! "#$ %
!
&
'
(
!
)
'
*$&
+
,
!
-
!
.
/
01
+
2.3
/
4$5 ' 6
!
7 8
!
, ! 6
/
9
/
: 3;
$
<
'
=
!
> 3;
$
.1
!
?( 61 !"
#
$%
&
'(

!
"!# ! $
%
&
!
'
!
( ! $
%
)
!
*
!
+ )
!
"#
$
%&
'
() *
$
+,
'
- ,'.
$
/
'
0
$
12
$
* & 62 !"
#
$%& ' ( )
*
+
(
,#-"
#
.
&
/ ( 0%
&
1 !
&
2&-
(
,#-# 34
*
5& ' #6
&
7
&
8
&
1 ( 9
&
:
&
;%
&
<(
) ! "#
$
%
&
'
(
)
!
* 63 ) ! "#
$
%
&
'(
)
*'+
$
,
$
-
.
/
!
0
.
,
$
1
)
/
&
2 +#
$
'(
!
3
!
4
.
,
&
5
&
6
$
7
.
/
!
0 8
!
'
&
2 +#$ 9
!
:
!
;
!
4( 64
!
"
#
$
#
%&' (' ) *
+
, + - ./' 0
#
1
'
2
3
"
'
4(

!
"
#
$ ! %& '!( )
!
* ! +
,
-
#
. ! / , 0
!
1
!
2 ) ! "#
$
%
&
'
(
) 65 ! "
!
# $
%
&' (! )
'
*
+
,+ -
!
.
'
/
!
0 ! " $
!
1
2
3
4
2
5#+ 6 ' 7
2
1 ! 5#+ 8+9 ' -!:
!
;
!
<
!
=$
!
>(
)
!
"
#
$ % &# '
(
) 66 ) ! "#
$
%
&
' ( )!* ! +
!
,
!
-
&
.
/
&
"0$ 1 ( 2
&
3 ! "0$ 4$5 ( )!* 6
!
7
&
8
!
0
(
9
$
:
!
8 ; <
$
-( 67 (

Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah
menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang
demikian itu. (56) Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap
berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya (57) Maka Ibrahim membuat
berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-
patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya (58) Mereka berkata:
"Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang zalim. (59) Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang
pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim (60) Mereka berkata:
"(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar
mereka menyaksikan. (61) Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan
ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim? (62) Ibrahim menjawab: "Sebenarnya
patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika
mereka dapat berbicara. (63) Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan
lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri
sendiri). (64) kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya
kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.
(66) Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang
tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada
kamu?. (67)

Cara yabg dugunakan Nabi Ibrahim menyebabkan orang-orang musyrik memvonis diri
mereka sendiri dengan kebodohan, mereka manyatakan kelemahan tuhan-tuhan mereka
dalam melindungi dirinya sendiri, atau mendatangkan kebaikan dan menolak
kemudaratan, apalagi melakukannya untuk yang lain.

6. Untuk sampai pada tingkat pembicaraan yang membekas, harus membalik cara dan
mendiversifikasinya. Pembicaraan yang tidak efektif bila disampaikan secara terbuka,
terkadang menjadi efektif dengan cara rahasia, tidak efektif pada malam hari efektif di
siang hari, tidak tertanam pada hati yabg sibuk mudah membekas pada hati yang rehat,
tidak berpengaruh pada orang yang sehat, terkadang berpengaruh pada orang yang sakit.
Dalam surat Nuh terdapat implementasi yang utuh tentang prinsip-prinsip di atas,
sebagaimana Allah berfirman melalui lisan Nabi Nuh AS :

)! " #$
%
&%'
%
(
"
)* +
%
, -
.
/ * 0
%
1
2
3 * 0% 4% 5 -
6
'
.
7 6 8
%
#
%
9$
%
1 5 )! " #!
$
%
&
'
(
)
&
* +
&
,-$ ./ 0
1
2/31 0
&
4
$
5
1
2
$
6
$
'( 6
!
"#$
%
&
%
'
(
)
!
*%+
(
&
!
"#$
#
, ! -% .% / 0
%
1
2
3
#
4 5
6
7
(
8
%
9(
!
"
#
$
%
&
' $ () )*+ ,
"
#
$
%"' $ ()
"
* )* - ,
"
.
"
/
"
*
$
0+1
"
2!
"
3
&
4 ) $ 5" 6
$
7"' $ ()
"
*
$
0
&
1
&
8)
"
9)
"
: ;
&
<
$
0+1
"
=
&
2!
"
.
"
/ )5
+
>
"
=
"
? )! " # 7
!
"#$
#
% ! &' (' ) *
+
,
-
.
/
"
#
0(
)! " #$
%
&
'
( 8 )! " #!
$
%& '
(
)
&
*+,
$
-
+
. & #
$
%& '
$
/
$
0
&
*+,
$
-
+
1
&
2
$
3 & 4
$
/ 5
6
7
(
)
8
*
+
9( 9 )! " #$
%
&' ( ' )$' * +,
%
-
.
/
0
1
+
2%3
'
# !4+ 5
.
&
0
6'7 0 8!
+
9
0
:
+
;
'
<( 10 (

Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.
(5) maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6) Dan
sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni
mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan
bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan
sangat. (7) Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan
cara terang-terangan, (8) kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan
terang-terangan dan dengan diam-diam, (9) maka aku katakan kepada mereka:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, --sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.
(10) (QS. Nuh 5 10)

Berkata Imam Qurtuby : perkataan Nabi Nuh pada ayat tersebut adalah !"#$%& '( )*%"+,
!"#$%&'"( )*+,- optimalisasi dawah dan kelembutan dalam berdakwah. Ibnu Katsir
berkata : Nabi Nuh memvariasikan dakwahnya agar lebih efektif, beliau
mendakwahkan kaumnya pada malam hari, sehingga terciptanya suasana yang tenang
dan penyimakan yang baik. Juga mendkawahkan mereka di siang hari pada saat sibuk,
pertemuan, percakapan dan ............?. Mereka bersikap menentang ketika didakwahi, tapi
Nabi Nuh tidak meninggalkannya, tetapi terus mendakwahinya, sementara mereka
semakin kuat menenatang sampai mereka meletakkan jari-jari mereka ke telinga mereka
dan menitup wajah dengan baju mereka. Namun Nuh tetap bersuara keras mendakwahi
mereka agar terdengar oleh mereka. Setelah terdengar oleh mereka, lalu Nuh mulai
mendakwahkan mereka secara sembunyi-sembunyi.

Berkata Imam Qurtuby : !"#$% !"# $ , artinya !"#$%&' () !"*+,-, aku datangi mereka ke
rumah-rumah mereka. Ini merupakan wawasan yang baik pada Imam Qurtuby, bahwa
mengkondisikan madu dari banyak orang lebih optimal pengaruhnya di banding
mendakwahkan seseorang di samping orang banyak, sesungguhnya itulah yang
menyulitkan madu, karena biasanya musuh-musuh Islam akan menakut-nakuti
hubungan dakwah yang khusus. Ketika madu tersebut belum mantap fikrahnya, ia akan
cenderung untuk tidak merespon atau menangguhkan penerimaan (berfikir ulang untuk
menerimanya).

6. Juga untuk sampai kepada tingkat penyampaian yang berbekas, maka hendaknya
seorang dai harus berdialog dengan madunya dengan lemah lembut bukan
dengan sikap dan kata-kata yang kasar dan menakutkan. Kelembutan yang
dimaksud adalah kehalusan sikap terhadap madu dan keakraban dengannya,
memilih panggilan yang terbaik untuknya dan pendekatan media yang paling
mengena kepada hatinya. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud kelembutan itu
berarti boleh mengabaikan hukum-hukum syariat, juga bukan untuk membiarkan
para pelaku kebatilan dalam kebatilan mereka, juga bukan untuk mendiamkan
kemunkaran. Karena orang Mumin dalam setiap situasi dan kondisi tidak ada
yang ditakutkan kecuali kepada Allah dan hanya mengharapkan pahala-NYA.

Jika Allah saja menyuruh Nabi Musa As mendakwahkan Firaun dengan lemah
lembut, maka terlebih lagi dakwah kepada yang lainnya harus selalu menjunjung
tinggi syiar kelembutan, !"#$ !% !"#$ %& '()* +,-. , hendaknya kelemahlembutan
senantiasa menjadi syiar setiap langkah dakwah. Firman allah taala :

)!" #
"
$ %&
'
(
)
* " + , -" . , /
)
0 !
"
1
)
* 2
"
3"4
,
56 43 )!" #
$
%
"
& $ '
"
( ) *
+
,
"
-".
"
& )/
+
0
"
1
"
2 3
4
567
"
2
4
8 $ 9
"
: )/
"
2 " 89
)
;
"
<( 44 (

Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (43)
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut". (44)

Kelemah lembutan jauh dari sikap menakutkan dan lebih kuat mentransfer kata-kata
ke dalam hati, sebab banyak para dai menadapatkan kesulitan di jalan dakwah
disebabkan kata-katanya yang menyinggung perasaan madunya. Berdakwah dengan
bijak dan nasehat yang baik akan membuat madu langsung merasa nyaman dengan
dakwah, sebaliknya sikap kasar membuat madu berpaling dari dakwah. Sebagaimana
musuh-musuh Islam menebar kendala di jalan dakwah , tanpa disadari umat islam
juga membuat kendala yang sama di jalan dakwah, masaahnya adalah keburukan
prilaku, kegundahannya, keputusasaannya, kepicikan pandangannya dan kesmpitan
dadanya. Adapaun dai yang sukses adalah yang tidak pernah kehilangan ketepatan
dan keseimbangannya apapun kondisinya.

Berkata Imam Ar-Razy : Ketahuilah bahwasanya dawah kepada aliran dan
pemikiran harus dibangun di atas argumentasi dan pengetahuan, yang dimaksud
dengan menyebutkan argumentasi adalah baik menegaskan aliran atau keyakinan
tersebut ke dalam hati audien, atau maksudnya mengikat lawan bicara dan
menundukannya.

Para dai ilallah senantiasa menupayakan penyampaian kebenaran dan petunjuk
kepada hati setiap makhluk, mereka bukan orang yang ada dalam kantong
pertarungan yang hanya mencari kemenangan dalam mendebat lawan bicara, dan juga
bukan hanya ingin mengukuhkan keunggulan mereka dan berargumentasi.

Imam Ar-Razy cenderung berpendapat bahwa Da,wah dengan bijak dan nasehat yang
baik akan mudah memperoleh pengikut, sedangkan perdebatan yang konstruktif
adalah pilihan terakhir yang ditujukan hanya untuk menegakan argumentasi terhadap
lawan bicara, sebagaimana firman Allah :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

! "
#
$
#
%&' # ()*
#
+ ) ,
-
. & /
#
0! 1
#
$
#
2
-
' 2
-
3
)
45
-
*
!
6&7
!
4
-
85
#
9
#
:
-
;#<
#
0
#
=
!
4>
-
;
#
?
-
"! %
#
@
!
4>
#
:
-
;
#
@
!
A
-
=
!
45
-
* # (B*
#
+
-
CD
-
E
#
F G
#
4
-
. ! "
#
$ % &
#
'
(
)
*
+
#
,
) ! "#
$
%!&' (
)
*
'
+,
$
-
)
.
!
/ ' 0
!
1
!
2)3
!
4
$
5
$
/6
$
7
!
8 ' "! 0 125 (

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. An-Nahl : 125)

Pada prinsipnya ayat tersebut menjelaskan bahwa dawah dibatasi hanya dengan dua
pendekatan ( !"#$%& !'()%&* !)+$%,- . ). Adapun perdebatan tidak masuk dalam kategori
dakwah, tetapi maksudnya bertujuan untuk membela dakwah dengan menekan dan
menundukan lawan bicara. Karena itu Allah tidak berfirman : !"#$%&' (') *+,- .%/ 012
!" #$%&"' ()*+&" (,-./&"' !"# , Allah memisahkan perintah berdakwah dengan perintah
berdebat, hal ini menegaskan bahwa dawah dan debat adalah dua hal berbeda,
perdebatan memiliki tujuannya sendiri.


KAIDAH KELIMA
DAI HARUS MEMPERSEMBAHKAN SEMANGAT

KEMANUSIANNYA
DAI SENANTIAS MENCARI PERTOLONGAN RABBANI

Allah yang Maha Agung menhendaki agar dakwah dilakukan dengan seluruh sarana
kemanusiaan (SDM), seorang dai harus mampu mencari berbagai celah demi
kepentingan dakwahnya. Rasulullah SAW menyambung malamnya dengan siangnya
untuk mencari berbagai celah dengan mengunakan pendekatan yang sesuai dengan
jamannya. Oleh karenanya Rasulullah SAW tidak selalu berkata : Hal ini telah
diwahyukan kepadaku, tetapi terkadang beliau berkata : aku punya cara dan ide lain.
Kita akan banyak dapati dalam sirahnya implementasi yang luas terhadap prinsip
tersebut. Pada saat perang uhud sebagian sahabat berbeda pendapat dengan Nabi (dalam
hal taktis dan strategi perang), walaupun Nabi berada di tengah-tengah mereka dan
wahyu turun kepada beliau.

Firman Allah !"#$% &'
(
!)*+ , -./0 & , bahwa Allah tidak membebani seseorang
di luar kemampuannya (QS.Al-Baqarah : 286), adalah penjelasan yang menguatkan
prinsip tersebut, pembebanan adalah perkara yang menyulitkan dan pembebanan di sini
tergantung dengan kemampuan. Imam Qurtuby berkata : Allah menggariskan bahwa
Dia tidak akan membenai hambanya - sejak ayat ini diturunkan - dengan amalan-amalan
hati atau anggota badan, sesuai dengan kemampuan orang tersebut. Dengan demikian
umat Islam terangkat kesulitannya, artinya Allah tidak membebani apa-apa yang ter lintas
dalam perasaan dan tercetus dalam hati .

PEMAHAMAN KELIRU

Banyak orang sekarang ini memahami ayat ini, dengan mengatakan bahwa kemampuan
yang dimaksud dalam ayat ini adalah batasan minimal kemampuan seseorang, oleh
karena itu kemampuan dapr berubah-rubah tergantung dengan motivasi, ada orang yang
tidak mampu ............................???????????????????????????????????

PARA SAHABAT KOMITMEN DENGAN KAPASITAS KEMAMPUAN

Manakala kita membaca sirah sahabat semoga Allah merdhoi mereka, kita dapati
kebanyakan mereka wafat di luar negeri. Abu Ayub Al-Anshari wafat di benteng
konstantinopel, Ummu Haram binti Milhan berakhir hidupny di pulau Qobros (Yunani),
Uqbah bin Amir meninggal di Mesir, Bilal dimakamkan di Syria. Demikianlah mereka
mengembara ke pelosok negeri untuk meninggikan panji Islam, dan mengerahkan sesuatu
yang mahal dan berharga di jalan dakwahnya. Beginilah semestinya memahami ayat :.
!"#$% &'
(
!)*+ , -./0 &.

Pada perang Uhud para sahabat tetap memenuhi seruan Allah untuk mengejar orang-
orang musyrik. Usaid bin Hudhair RA berkata : !"#$%"& ' ()*+&
,
*-.$, Ia langsung
menyiapkan senjatanya, padahal Ia baru saja akan mengobati tujuh buah laka yang
bersarang pada tubuhnya. Bahkan dalam peperangan Hamra Al asad, empat puluh
orang sahabat masih tetap keluar ikut berperang meski mereka masih dalam keadaan
terluka, diantaranya adalah Thufail bin Numan dengan 13 luka di tubuhnya dan kharrasy
bin As-Simmah dengan 10 luka di tubuhnya. Semua menunjukan bahwa :

!" #$% &'()* +,-./01 &21341 567 .89:17 ;*)<=01 >?@$A )" ?BC01 D" EFGH +AIJ01 &21341"
".!"#$"%&'() *+",-.( /-0)

Kemauan yang kuat akan mengerahkan seluruh kesungguhan walau menghadapi banyak
kesulitan penderitaan, sebaliknya kemauan yang lemah menjadi tak berdaya meskipun
sarana dan waktu tersedia

Karena itulah Allah menyebutkan sikap mereka dalam Al-Quran :

! " #
$
%
&
'!
$
(
"
)*+
"
,
-
. !#
*
,
$
/" 0
$
1 $ 23
-
4
&
5
-
6 * 7" 8
$
%
"
6!
*
)*+
$
9:
$
;
$
1 :
$
.
-
<" =
$
9 " 2
-
.
-
>#* ?& 86!
$
(
-
&
-
@ !#*9:
$
A$B " ?! $ 23
-
4
&
6! )
!
"#
$
%& ' ! ( ) *
&
+ 172 (

) Yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka
mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di
antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (QS. Ali-Imron : 172)

KEMAMPUAN DAN KEINGINAN

Patut disebutkan bahwa kemampuan dalam berdakwah dan berjihad adalah dorongan
kehendak jiwa, dan mlaksanakan realisasinya atas izin Allah, bila dorongan itu tidak ada
pada diri seseorang, maka Ia menjadi tak berdaya. Karena itu Nabi mengajarkan kita
untuk berdoa :
!"#$%&' ($)%& (* +, -./0' !"12%&' 3)4%& (* +, -./0' 536%&' 78%& (* +, -./0 9:; 78<%& "
!"#$%& $'() *+,%& -./0 *1 23 4567) "

Juga Rasulullah bersabda :

!"#$% &' ()* +,-. /,01 23 456 70"89. :';<9. :' = (9> ?-@6 ,01 ABC9. :';<)9 "
"!"#$ %& '() *#+,-&

Mumin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mumin yang
lemah, segala sesuatunya lebih baik, tamakalah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu
dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya (HR.
Muslim)

Sesungguhnya perasaan tak berdaya dan tidak adanya kemampuan yang selalu diucapkan
berulang kali oleh para daI atau barangkalai mereka berkata seperti itu hanya dari sisi
tawadhu saja hanya akan meredupkan kekuatan Islam dan lambatnya laju kendaraan
dakwah ini. Dan bila seoarang daI tidak berani membangun dakwahnya tanpa ada
perasaan takut bahwa hal itu akan menghancurkan dakwahnya, serta tidak tahan
menghadap kritikan, maka Ia tidak akan pernah maju dan tidak akan sampai pada
kemampuan memberikan arahan (taujih) dan perubahan (taghyir)

BATAS-BATAS KEMAMPUAN KAPASITASNYA

Terkadang ada orang yang bertanya : Apakah batasan kemampuan itu?
Jawabannya terkandung dalam beberapa fitman Allah berikut :

!"
!
# $%
&
'
!
($
!
) ! *+
,
-
.
/$
!
#
!
"#$
%
& '
(
)
*
%
+ % ,-
#
.
/
0 ! 1
#
2
!
&3
#
"#4 % 5
/
6
%
&7
#
8 37# 9
%
:%;
%
7 3 ! 7
%
73
%
< % =>
/
?
@
&3
%
7
/
@
A
/
BC
/
D
%
E F
/
G 37# H%4'
%
I
%
7 37# 9
%
I'
)
!
"#
$
%& ' ! (
)
*
$
+
&
,
!
-
&
%
$
.
)
/
&
0 74 (

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-
orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang
muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh
ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia. (QS. Al-Anfal : 74)


!
"#
!
$
%
& '
!
( )*+ ,%-.
%
/
%
* )*+ 0
%
/.%-
%
* )1
+
2
%
3)
%
4 % 56
!
7
8
9)
!
"!# $ %
&
'
$
()
!
*
$
)
&
+
, $ -
.
/
&
0
1
2
$
3
$
4$ 5
!
"
$
6. 0
$
*
.
"
&
7
&
8
!
9
.
:
$
*
$
)
.
"
&
7
&
(;
$
<
.
=
$
>
&
?
&
+
,
) ! "#
$
%
&
'(
!
)
*
+, 20 (

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda
dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang
mendapat kemenangan. (QS. At-Taubah : 20)


!
"
#
$
%
&
%
'
#
(
)
*
)
+,
%
-
#
.
%
/
)
0 ,'! 1%23
%
4
%
' ,-!03%5 # 6
%
7
#
(
%
+
8
(
!
9
)
:
)
+-! ;
%
<
%
'
)
8
=3
)
0 ,-
!
>
%
.,
%
? % @7
)
A
8
+, % B-
!
>
)
. # C
!
D
#
+, 3
%
D
8
$
)
E ! "
#
$
!
%&
'
(
#
)
*
#
+,
#
-
!
. /
#
0
1
2
#
3
#
4
) ! "#
$
%
&
'( ) *+,
$
-$. 15 (

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-
Hujurat : 15)

)
!
"#
$
%
&
' ! ()
&
*& + , -
$
.
,
"
/
0#
$
1
,
2
/
3 ! 4
&
56
&
1
$
3 7
&
8 & +
,
"
/
0
9
%/ :
&
' , ;&< )=
/
2
&
.)
&
> & -?
$
*
@
%) 6
&
A9?
&
'6
&
? 10 ! "#$ %
&
'(
!
)
$
*
!
#
&
+
&
,-$ .
!
/
!
#
&
0
1(
&
2 ! "-
$
3
&
4 5 6
$
*(
) ! "#
$
%
!
& ' (!)
'
*
$
+
'
,
$
- ' "
.
/
'
*
$
0
!
1 2 3' 4 ! 5
'
*
$
0
.
1
!
6
'
*
$
0
.
7
$
8
'
9
!
:
!
;
'
*
$
0
.
1<
!
#
'
=
!
>
.
?
.
@
A
.
B4
.
C
!
D E
.
F 11 (

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?(10) (yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya (11),


!
"
#
$ ! %
&
'
!
(
#
)
*
+ , -! . * /
!
(
#
)
&
+
*
0
&
1
2
&
3.
&
4
*
5 6
&
7
!
(
#
)
&
8
#
9
!
:
*
;
*
<
!
(
#
)
&
+=
*
>
!
?
*
@
&
A =<# B
&
CD
*
E
*
<
F
GD
*
H
&
I
*
< D
F
7D
*
9
&
/ =<# -
&
9
!
:= ) ! "#
$
%
!
& ' (!)
'
*
$
+ 41!

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan
berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui. (QS. At-Taubah : 41)

Maksud dari firman Allah :
!
"#$%&
!
#'#() *&+(,*, sama saja apakah kalian dalam keadaaan
ringan untuk pergi berjihad atau dalam keadaan berat. Keadaan ini mengandung beberapa
pengertian. Pertama : ringan, karena bersemangat untuk keluar berjihad, berat, karena
mrasa sulit untuk berangkat. Kedua : ringan, karena sedikit sedikit keluarga yang
ditinggalkan, berat, karena banyaknya keluarga yang ditinggalkan. Ketiga : ringan,
persenjataan yang dibawa, sebaliknya berat, karena beratnya persenjataan yang dibawa.
Keempat : ringan, karena berkendaraan. Berat, karena berjalan kaki. Kelima : ringan,
karena masih muda. Berat, karena telah uzur usia. Keenam : ringan, karena bobot badan
yang kurus. Berat, karena kelebihan bobot berat badan. Ketujuh : ringan, karena sehat
dan fit. Berat, karena sakit atau kurang enak badan.

Dari paparan yang telah disebutkan di atas, seuruhnya tercakup, karena sifat tersebut
(ringan atau berat) meliputi berbagai aspek. Sesungguhnya kebanyakan para sahabat dan
tabiin memahami ayat ini dengan penegertian yang mutlak (apa saja yang menjadikan
seseorang ringan atau berat). Mujahid berkata : Sesungguhnya abu Ayub turut
menyaksikan peperangan Badar bersama Rasulullah SAW, dan beliau belum pernah
absen dari pepperangan. Ia berkata : Allah telah berfirman :
!
"#$%&
!
#'#() *&+(,*, maka itu
artinya aku dapati diriku dalam keadaan ringan atau berat. Dari Shofwan bin Amr, Ia
berkata : Ketika aku menjadi gubernur Homs (Syria), aku menjumpai seorang Bapak tua
warga Syria yang telah turun kedua alisnya, Ia berada di atas kendaraannya bersiap-siap
hendak ikut berperang. Lalu aku berkata kepadnya : ! "#$ %&'() *+, -.$ /0 Wahai
pamanda, engkau didimaklumi oleh Allah (untuk tidak ikut berperang). Seraya
mengangkat kedua alisnya, Bapak tua tersebut berkata : !
"
#$%&'
"
$($)* + $,-)./01 !2*3 451 $6
.!"#$% & '()* +, -. /* Hai nak, Allah telah menyuruh kita keluar baik dalm keadaan
ringan maupun berat, ketahuilah sesungguhnya Allah selalu menguji orang yang
dicintainya.

Diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhry : Suatu ketika Said bin Al-Musayyib RA keluar
untuk berperang, sedangkan salah satu matanya tidak dapat melihat. Lalu Ia berkata :
Allah menminta kita untuk keluar berperang, baik terasa ringan atau berat, !"#$ %&'
.!"#$%& '()*+ ,-&./%&
0
1234 -"56%& 78jika aku tak berdaya untuk berjihad, maka berarti
aku telah memperbanyak pasukan musuh dan aku hanya menjaga harta bendaku.. Juga
ketika Al-Miqdad bin Al-Aswad ketika dikatakan kepadanya pada saat beliau hendak
berperang : !"#$% &'( engkau dimaklumi. Lalu Ia berkata : :!"#$% !&'( )* +,-./ 0 1234
}
!
"#$%&
!
#'#() *&+(,*{
) 4 (
.

D

DAKWAH ADALAH MANUVER DI JALAN ALLAH
! "#$% &' ()*
+
, (-./01

Adapun maneuver di jalan Allah, tidak hanya berperang, tetapi lenih luas dan umum dari
itu. Dakwah dengan segala bentuknya adalah bentuk maneuver di jalan Allah. Oleh
karena itu dalam surat At-taubah disebutkan :

!"
!
#
$
%
&
'
!
(
$
)*
!
+
,
-./
,
0
$
1 2 '
!
3 , 4
$
5 6 7
.
8 , 9
$
1
!
4
!
(!: ! ; , <
!
=
!
5
>
'
?
5*! 8 @A. 4
$
(
,
0
!
#
$
% ! B<
.
0
$
1 , C
.
D
,
%@ ! B*! 8 *
!
1
!
A
!
"#$
%
& ! '
%
( )*# +
,
-
!
.#/
,
0
%
*
,
123 40) 5
,
6 )'#$
7
8
%
9
) ! "#$ %
!
& ' (
!
)
'
*$+
,
-
!
.
!
/
'
*
0
+' 1
!
/
0
2 34$ .
!
5
!
% 3
!
6
0
2 122 (

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya. (QS. At-Taubah : 122)

Imam Ar-Razy berkata : Kewajiban berdakwah bagi para sahabat terbagi menjadi dua
golongan, satu golongan keluar untuk berperang, golongan lainnya tetap tinggal bersama
Rasulullah SAW. Golongan yang berperang mewakili golongan yang tidak ikut serta.
Yang tidak ikut serta mewakili yang berperang dalam hal mendalami ilmu pengetahuan
(tafaqquh). Dengan cara inilah urusan agama dapat terselesaikan secara sempurna.

Bila kita analisa ada dua keterkaitan yang erat pada ayat tersebut, keterkaitan anata
maneuver tafaqquh (dirasah) dan manuver indzar (dakwah). Karena itu seorang Muslim
dituntut untuk memaksimalkan ksungguhannya dan ditanya tentang beban kemampuan
dirinya untuk membela agama Islam dengan bentuk jihad yang beraneka macam.
Diawali dengan dawah penuh hikmah dan nasihat yang baik Apabila Islam tidak
menuntut sesuatu yang berbahaya dengan mengedepankan apa yang bias

Seorang mumin menyadari bahwa setiap kesungguhan yang dikerahkan di bidang
ketaqwaan, adalah kesungguhan yang disesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan
manusiawinya yang lemah dan tidak akan sampai pada derajat dan tingkatan yang sesuai
dengan keagungan Allah SWT. Karena itu para mufassirin berpendapat bahwa firman
Allah : !"#$" %& ' ()$"( bertaqwalah engkau kepada Allah dengan sebenar-benarnya
taqwa (QS. Ali-Imron : 102), dihapus (mansukh) dengan ayat : !"#$"%& '( ) &*+,'- ,
bertaqwalah kepada Allah semampu kalian. Hal ini didasari oleh keterangan dalam
asbabunnuzul, bahwasanya tatkala ayat pertama tadi turun kaum muslimin merasa

)
4
( !"#$%# $&'() 16 / 70 .
keberatan, karena sebenar-benarnya taqwa berate tidak boleh bermaksiat sekejap
matapun, harus selalu bersyukur, tidak boleh kufur, harus selalu diingat, tidak boleh lupa.
Tiada seorang hambapun mampu melakukannya.

Bila tidak sependapat bahwa ayat tersebut mansukh, maka harus dikatakan wallahu
alam- ada dua kapasitas ketaqwaan, kapasitas yang hanya pantas ubtuk Allah SWT dan
kapasitas ketaqwaan yang sesuai dengan kemampuan seorang hamba. Kapasitas yang
sesuai dengan kemampuan seseorang adalah kapasitas individu yang berbeda dengan
individu lainnya, dan berbeda pada satu kondisi dengan kondisi lainnya. Seyogyanya
seorang mumin harus senantiasa berada diantara dua kapasitas tersebut, berusaha
mengarah kepada keagungan Allah SWT, karena itu hari esok seorang mumin harus
lebih baik dari hari ini dan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Juga hendaknya
seorang Mumin harus meningkatkan level ketaqwaannya bersamaan dengan
bertambahnya pengetahuan, atau dengan kenikmatan yang diperolehnya atau dengan
bertambahnya usia.

Bila seorang memahami dengan baik hal tersebut di atas, pasti dirinya akan merasa takut
jika belum mengerahkan kemampuan sesuai yang dituntut kepadanya dan semakin
berhati-hati dalam melaksanakannya. Seorang Mumin yang paham akan hal ini selalu
tidak puas dan rido dengn amalnya, juga dengan kesungguhna yang telah dikerahkannya,
khawatir telah mengabaikan tuntutan yang diminta dari seorang Mu,min. Itulah keadaan
orang-orang yang beriman, sebagimana yng telah disbutkan sifatnya oleh Allah SWT
dalam firman-NYA :

) ! "#
$
%
&
'
(
)
$
*
(
+
&
,-.
!
/
&
0
!
1
(
)! 2 ( 3
&
*
(
+$4 ! 35
&
6
7
89 7 "
&
: 57 ) ! "#
$
%
&
' ( )$*
(
+
&
,-.
!
/
&
01
!
*2
&
.
(
+$3 ! 4*
&
5
6
78
!
9( 58 ! "
#
$
%
&'(
!
)
%
(
#
$*+ ! ,-
%
.
/
01
!
2(
) ! "#
$
%
&
'
(
)$* 59
!
"
#
$%
&
'( ) ! "#$ %
&
'(
!
)
*
+
&
,-.
!
) /
!
0
&
1
*
+$,
2
3
!
4
5
6
!
7
&
'
!
8
*
+$,$.#
$
7
$
9
!
8 ( * #!:(
!
; <
!
= ! "#
$
: * >$? ! @? 60 !
"
# $ %&' (
"
)*
$
+', $ -
"
.
$
/0
'
1(
) ! "#
$
%
&
'(
!
) (
!
*
!
+
,
-$.
!
/
&
01
!
2, 3 ! 4
,
+1 61 ! "
#
$%&
!
' ( )
!
*
#
+,
-
. % )
-
/
#
0
!
1 2 3,!4
-
5 ,!0# 1! 6
!
+
!
' ,
!
7
!
8# 9% '
:
"
-
; ,< =
#
>!? % @
(
A! B
%
? ! "
!
'(

!
"
#
$%& ) ! "#
$
% 62 (


Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,
(57) Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, (58) Dan orang-
orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), (59) Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,
(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,
(60) mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-
orang yang segera memperolehnya. (61) Kami tiada membebani seseorang melainkan
menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan
kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (62) (QS. Al-Muminun : 57 62).

KEHATI-HATIAN DAN RASA TAKUT

Sifat otang-orang Mumin telah disebutkan pada ayat tersebut di atas, diantaranya adalah
!"#$%& '()*+% kehati-hatian dan rasa takut, kehati-hatian mencakup kekahawatiran
bersamaan dengan semakin lemah dan tak berdaya. Imam Ar-Razy berkata : Di anatara
mereka ada yang cenderung mengartkan Isyfaq dari presfektif pengaruhnya, yaitu :
!"#$%& '( )&*+%&, ketaatan yang qontinyu, dan mana ayat tersebut menjadi : !" #$ !%&'(
!"#$% &' ()*+,- ./01 2345 , orang-orang yang taat secara qontinyu karena takut kepada
Tuhan mereka, dan berobsesi mencapai keridhaannya. Jelasnya bahwa bila seseorang
sampai pada perasaan takut yang membawanya pada sikap kehati-hatian. Kesempurnaan
rasa takut adalah puncak ketakutan akan murka Allah dan adzab akhirat, sehingga Ia
selalu menghindari maksiat. Maka barangsiapa yang memiliki kesempurnaan rasa takut
kepada Allah. Ia akan memenuhi perintah Allah unuk berdakwah, menjalankan
perintahnya dan menjauhi larangannya Sedangkan keadaan mereka yang memberikan
apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, maksudnya adalah komitmen
menyampaikan setiap kebenaran. Oleh karena itu barangsiapa yang beribadah dan Ia
marasa takut dari sikap lalai dan salah, disebabkan oleh kekurangan atau yang lainnya,
maka demi rasa takut tersebut, Ia akan bersungguh-sungguh menunaikan ibadahnya.

Rasa takut terhadap kekuarangan yang menyebabkan seseorang mengerahkan
kesungguhannya dalam bertaqwa, adalah level para Shiddiqin (orang yang konsisten).
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan bahwa sebab rsa takut itu muncul karena mereka
akan kembali kepada Allah SWT. Beruntunglah orang yang memiliki sifat luhur sperti
itu, dan menjadikan jiwa mereka bersih dari riya dan sumah (ingin dilihat dan didengar
orang) serta mengarahkan keinginan-keinginan kepada optimalisasi amal.

Setelah arahan tersebut diatas mendorong peningkatan kapasitas dan kapabilitas
seseorang, maka Ia dapat berhujjah : !"#$% &'
(
!)*+ ,-.+ &% , dan tampaklah keterpaduan
antara seseorang yang memberikan tanggung jawab sesuai denagn kemampuan dan Allah
yang senantiasa mengtahui hakekat kemampuan yang diawasi dan dihisabnya. Sampainya
seorang dai ke tingkat rasa takut dan hati-hati akan samapi pada kebenaran dan
ketepatan dalam menentukan batas kemampuan.

KAIDAH KEENAM
DAI ADALAH CERMIN BAGI DAWAHNYA
DAN CONTOH TELADAN

Seorang Dai tidak akan terpisah dari dawahnya, korelasi antara dai dan dawahnya
selalu melekat dalam pikiran ummat. Dai sendiri adalah bukti bagi dawahnya, bukti
itulah yang dapat mempengaruhi orang untuk menerima dakwah, bahkan menyebabkan
mereka menolak dan menentangnya. Sedangkan orang-orang yang berinteraksi dengan
nilai-nilai prinsip keislaman secara langsung (praktis) sangatlah sedikit di setiap zaman
dan tempat, tetapi kebanyakan orang hanya berinteraksi dengan prinsip yang hanya
menjadi slogan semata. Semakin besar nilai sebuah prinsip maka semakin kuat komitmen
seorang dai kepadanya. Untuk sampai kepada komitmen yang kuat lebih sulit, dan
penderitaan dalam menunaikan kewajiban dan memikul beban, hal ini meyebabkan
kesungguhan mencapai tingkat komitmen tersebut menjadi satu kontinyuitas yang tak
boleh berhenti (futur) dan keberlangsungan yang tak boleh terputus.

Ketika sang Dai jauh dari komitmen kewajiban keislamannya, maka hal itu menjadi
bencana yang akan memalingkan banyak orang karena akhlaknya dari agama Allah, dan
membegal orang di tengah jalan, maka pantaslah kalau dai seperti itu disebut pembegal
(!"#$%& '()* ), bahkan lebih buruk dari itu. Oleh karena itu setiap dai hendaknya selalu
berdoa :

) ! "#
$
%
$
&'
(
)&*
$
+ , -
!
.
,
/
$
&
0
1!2
,
3
$
4 '!2
,
/
!
5 , 6!7 ! 8 '!2(9
!
: 85 ( ! "
Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim
(QS. Yunus : 85)

Imam Ar-Razy menafsirkan ayat ini : Ya Tuhan kami, janganlah engkau berikan peluang
kepada mereka untuk menggiring kami dengan zalim dan paksaan, agar kami berpaling
dari agama yang haq yang telah kami terima (dengan baik). Demikianlah ornag-orang
kafir ketika berkuasa atas umat Islam, maka kekuasaan mereka seolah-olah berad di atas
kebenaran dan umat Islam di atas kebatilan. Maka kekuasaan mereka terhadap umat
Islam dan penindasan mereka terhadap orang-orang beriman adalah bencana yang akan
memalingkan mereka dari keimanannya. Begitupula seorang dai yang akhlaknya
menyalahi nilai-nilai Islam, maka akhlaknya yang buruk itu dapat memalingkan umatnya
dari keimanan.

CONTOH KONSISTEN

Para sahabat Nabi adalah contoh konsisten dalam dakwah dan keislaman mereka. Hasan
Al-Bashry mengomentari sifat mereka bahwa : tampak pada diri mereka tanda-tanda
kebaikan dalam aura, ciri, petunjuk, kebenaran, bersahaja dalam tampilan pakaian,
tawadu ketika berjalan, kata-kata dibarengi dengan perbuatan, makan minum dari rizki
yang baik, ketundukan mereka dalam taat kepada Allah, senantiasa mengusung
kebenaran baik terkait dngan hal-hal yang mereka sukai atuapun tidak, memancarkan
kebenaran dari diri mereka sendiri, haus kerongkongan mereka, lelah jasad mereka,
berlapang dada terhadap amarah makhluk demi mengharapkan ridho Allah, sibuk lisan
mereka deng dzikir, mereka korbankan darah mereka jika diperlukan, mereka korbankan
harta mereka jika dibutuhkan, akhlak mereka baik dan ..............

Para sahabat telah mempersembahkan agama ini dalam gamabaran yang membimbing
dan membina manusia, mereka tegar menghadapi ujian dan cobaan, ..................................
Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy pernah menjadi tawanan Romawi, lalu Raja Romawi
berkata kepadanya : Engkau akan bebas bila engkau bersedia bergabung denganku,
tetapi Abdullah menolaknya. Lalu Ia disalib dan dieksekusi dengan lemparan anak panah
tetapi Ia tidak takut sedikitpun, kemudian diturunkan dari tiang salib, Raja menyuruh
disediakan air tungku dan dimasak hingga mendidih, lalu Ia dimasukan kedalamnya,
hingga terkelupas kulitnya, setelah itu diangkatnya lagi, dan masih ditawarkan kepadanya
untuk bebas, tetapi Abdullah malah menangis. Sang Raja kaget dan bertanya kepadanya ;
Kenapa engkau menangis?, Iapun menjawab : Aku berharap memiliki seratus nyawa,
yang ditimpakan seperti ini di jalan Allah. Raja sangat terkejut mendengarkan
jawabannya.
Ketika penduduk negeri mnyaksikan konsistensi para sahabat Nabi, ketegaran mereka di
atas akidahnya dan pelaksanaan mereka terhadap aturan agama mereka, maka merekapun
akhirnya memeluk Islam. Ibnu Qayyim Al-Jauzy berkata : Tatkala kaum Nasrani
melihat prilaku sahabat, kebanyakan mereka kemudian beriman karena pilihan dan
kerelaan sendiri, lalu mereka berkomentar : Mereka lebih utama dari para sahabat Nabi
Isa AS. Kemudian Ibnu Qoyyim melanjutkan komentarnya : Sungguh, kami kami telah
berdakwah kepada kebanyakan ahlul kitab, lalu mereka mengatakan bahwa apa yang
menghalkangi mereka masuk islam adalah perilaku orang-orang yang menisbahkan
dirinya kepada Islam. Komentar Ibnu Qayyim ini terjadi pada abad delapan hijriyah,
bagaiman jadinya bila beliau hidup di abad kita sekarang ini, di mana banyak orang Isalm
yang menghadirkan gambaran yang paradoks dengan ajaran agamanya sendiri.

Da,i bisa baik di mata umatnya bisa juga buruk. Apabila sang Dai dikenal dengan
keistiqomahannya dan kewaroannya, maka kata-katanya akan sampai ke lubuk hati
umatnya, dan mempengaruhi orang menjadi mudah menerima dakwah. Tetapi bila Dai
kering komitmen dan integritasnya, maka perkataannya akan lewat begitu saja seperti
anak panah yang melenceng tidak mengenai sasaran.

KEBAIKAN PERKATAAN ADA PADA REALISASINYA

Imam Mawardy berkata dalam kitab Adabuddunya waddin mengutip perkataan Ali bin
Abi Thalib : Sesungguhnya sia-sianya manusia menuntut Ilmu, ketika mereka sedikit
menagmbil manfaat dari ilmu yang diamalkannya, karena kebaikan perkataan ada pada
realisasinya, kebenaran ada pada kata-katanya dan kebaikan ilmu ada pada yang
membawanya. Orang bijak berkata : Ilmu menyerukan amal, bila di.......................

Berkata sebagian ulama : Sempurnanya Ilmu dengn amal, sempurnanya amal
keihlasannya, jika kredibilitas dai buruk di hadapan audiennya, maka perkataannya akan
menggantung dan ngambang, diterima tidak ditolak juga tidak, sehingga mereka patut
mempertanyakannya, tetapi bila audien mengetahui kredibilitas dainya, maka apa yang
disampaikannya akan diterima dan berpengaruh, bila tidak, maka audien yang kurang
dapt menangkap dan mengambil pelajaran (ibroh).

Dan kehidupan seorang Dai baik khassah (halaqah) maupun ammah (syabiyah) adalah
pusat perhatian, mata manusia terhadapnya seperti kaca pembesar, sebelum dia menuntut
manusia meninggalkan gibah maka dia harus menahan diri dari berbuat gibah dan
menuduh tanpa alasan dan menjaga kehidupannya baik yang bersifat khusus maupun
umum dari hal-hal yang dapat menodainya.


KAIDAH KETUJUH
BICARALAH KEPADA MANUSIA SESUAI KEMAPUAN AKAL MEREKA
!"#$%& '() *+& ,-.#/ /$01-2

Dawah harus dibangun di atas dasar kebijaksanaan dan nasehat yang baik, kebijkasanaan
yang dimaksud sesuai dengan forum dakwahnya dan tingkatan dan level audiennya. Dai
yang bijaksana tidak akan mengatakan setiap yang telah diketahuinya kepada setiap
orang yang telah mengetahuinya. Ia selalu berinteraksi dengan akalanya sesuai
kemampuan audiennya bukan kemapuan dirinya sendiri, tidak akan membebani mereka
di luar kemampuannya. Oleh karena itu Ibnu Abbas RA. Memahami ayat : !"#"$ %&'(
!""#$%& artinya jadilah kalian orang-orang lembut dan pandai. Imam Bukhari berkata :
Orang-orang Rabbani adalah mereka yang mentarbiyah manusia dari pengetahuan yang
kecil sebelum yang besar. Mulai dari pengetahuan yang kecil adalah mengembalikannya
kepada hal yang dapat menjaga akal pikiran agar tidak lari dari dawah. Ibnu Hajar
berkata : Yang dimaksud dengan pengetahuan yang kecil adalah permasalahan
mendasar, sedangkan pengetahuan besar adalah permasalahan detil. Hal ini dikuatkan
dengan beberapa hadits berikut :

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ibnu Zubair berkata kepada Al-Aswad : Aisyah
banyak memberi isyarat kepadamu, apa yang telah disampaikan kepadamu tentang
kabah?. Ia berkata : Aisyah berkata kepadaku : bersabda nabi SAW : Hai Aisyah,
kalau bukan karena kaummu baru saja beriman, sungguh aku akan membongkar ka,bah,
aku jadikan dua buah pintu, pintu masuk dan pintu keluar.

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata : pelajaran dari hadits tersebut adalah meninggalkan
maslahat demi mengamankan situasi dalam kerusakan. Ali bin abi Thalib berkata :
Bicaralah kepada manusia apa tentang apa yang mereka ketahui, apakah engkau ingin
Allah dan Rasulnya didustakan?

Dikeluarkan oleh imam Bukhari bahwasanya Nabi bersdabda : Hai Muadz bin Jabal,
labbaika wa sadaikan Rasulallah. Hai Muadz bin Jabal, labbaika wa sadaikan
Rasulallah.( 3X) beliau bersabda : Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah dan Muhammad utusan Allah dari lubuk hatinya melainkan Allah haramkan
dirinya dari api neraka. Lalu Muadz bertanya : : Ya Rasulallah, apa boleh saya sampaikan
hal ini kepada manusia agar mereka gembira dengan berita ini? Rasul bersabda : Tidak
boleh kalau khawatir mereka menganggap remeh. Tetapi Muadz tetap
menyampaikannya menjelang wafatnya, karena takut berdosa (kalau tidak disampaikan
hadits itu akan terputus). Karenanya hadits tersebut bila didengar begitu saja oleh
manusia akan mengakibatkan pemahaman yang salah, yaitu mengabaikan amal dan
cukup hanya mengikrarkan saja

Terkait dengan pokok permasalahan ini, manusia terbagi menjadi beberapa golongan :

Golongan pertama : golongan awam, bukan pelajar, berinteraksi dengan mereka dan
mendakwahkan mereka adalah sasaran yang sulit. Kondisi mereka seperti kondisi orang
yang baru mulai belajar membaca dan menulis. Sesuatu yang sulit dan mengikat dapat
memalingkan mereka dari dakwah, mereka tidak perlu diberikan permasalahan yang sulit
dan pembahsan yang detil, argumentasi yang kaku, dan aturan yang rumit. Golongan
seperti ini memmerlukan kekhususan dalam seni berdakwah dan menyampaikan materi
kepada mereka. Pada umumnya mereka bersandar pada hal-hal yang empiris lebih
dominan ketimbang pada hal-hal yang abstrak. Kebutuhan mereka yang khas dan kondisi
kehidupan mereka yang yang menjadi sarana paling dekat ke hati mereka. Perumpamaan
yang diambil dari lingkungannya yang khas adalah perumpamaan yang mudah dipahami.
Dan mereka mudah disntuh perasaannya ketimbang akalnya. Hal-hal yang
menyenangkan dan yang menakutkan (!"#$%&'( !")$%&') lebih membekas bagi diri
mereka, dan metode naratif lebih menarik perhatian mereka dalam menerima materi kisah
slafussaleh, peristiwa-peristiwa dalam sirah ketimbang metode analisis.

Golongan kedua : Kalangan pelajar alumni perguruan tinggi, atau siapa saja yang setara
level progres pengetahuannya, mereka mengkaji analisa, kongklusi, substansi dan
argumentasi yang melemahkan. Ketika menyemoaikan materi di hadapan mereka perlu
mempertimbangkan tingkat pengetahuan mereka. Siapa yang biasa berbicara di kalangan
awa, terkadang tidak mampu berbicara di kalangan khusus (terpelajar). Apabila yang
memberi materi kepada mereka seseorang yang tingkat pengetahuannya lebih rendah,
maka hal itu akan menimbulkan fitnah terhadap mereka.

Golongan ketiga : Kalangan spesialis keilmuan. Setiap spesialisasi memiliki mushtalahat
(konsep dasar) dan sarana-sarananya, maka barang siapa yang mengenali nuansa
keilmuan yang khas tersebut, maka ia akan mampu memberikan arahan kepadanya , dan
membuat mereka melihat bukti-buktinya dari apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Maka seorang Dai yang berada di antara para pengacara, membutuhkan pengetahuan
tentang perangkat hukum dan perundang-undangan, baik yang positif maupun yang
negatifnya, yang berhubungan dengan para dokter, perlu mengetahui aspek-aspek yang
dapat membungkam mereka tentang keagungan Allah dan kuasanya dalam menciptakan
manusia dan fungsi-fungsi anggota tubuhnya. Akan tetapi jika Dai berhadapan dengan
spesialis yang sarat dengan penguasaan ilmu syariah, maka kemungkinan mereka
menolak sangat besar, karena itu Ia harus membekali dirinya dengan wawasan (tsaqafah)
dan meningkatkan kualitas pengetahuannya. Oleh karena itu seorang dai yang ditigaskan
berdakwah kepada kalangan spesialis tertentu, maka Ia patut mempelajari dahulu hala-
hala yang terkait dengan spesialisasinya, dan menambah aspek pengetahuan yang
behubungan dangan hal tersebut.

KAIDAH KEDELAPAN
UJIAN MERUPAKAN SUNNATULLAH
SEBAGAI JALAN MENGAPLIKASIKAN DAKWAH DAN
MEMBENTUK JIWA KONSISTEN DENGAN AKIDAH

Manakala aktifitas itu sulit, detil dan menuntut komitmen tinggi, maka seseorang
membutuhkan kesungguhna yang lebih besar dalam mempersiapkan dan melatih driri,
agar selalu siap menghadapi aktifitas tersebut, karena aktifitas mengakan agama allah
bersifat kontinyu, diversifikstif dan luas. Stressingnya tidak terbatas pada pola tertentu,
tetapi juga membutuhkan substansi dan cakupannya, oleh karenanya tanggung jawab
seorang aktifis dakwah akan bertambah hari demi hari, dan tanggung jawabnya setelah
kemenangan fikrahnya menjadi lebih besar dari sebelumnya.

Karena itulah Allah menghendak untuk menundukan para dai pada berbagai pengalaman
yang menyulitkan. Sebuah jamaah tidak akan mencapai sasaran kecuali bila telah
melewati ujian dan cobaan.

Dari beberapa ayat Quran dan Hadits kita dpata menjelaskan tentang peran dan nilai
ujian dan cobaan. Dari Abu Hurairah RA. Berkata : Rasulullah SAW bersabda :

!"#$ %&'(#)* !"+, .-./)* 0/123 4+5#)* 6*73 8, 90:1#; <3=)* 6*7; 8 >?7)* !"#$ 4+5#)* !"+ "
"!"#$%
&
' ($) *$+' , -./0 1234

Perumpamaan mu,min seperti pohon yang selalu dicondongkan oleh angin, mu,min
senantias ditimpakan ujian, sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon
gandum, tidak pernah tinggi sampai akhirnya dipanen. (HR. Muslim)

Hadits tersebut mengungkapkan tentang peran ujian yang konstruktif bagi jamaah
muslim. Jika pohon selalu bergoyang, maka akan memperoleh kekokohan di hadapan
badai dan angin kencang, sementara tanaman gandum lebih lemah karena tidak digerakan
oleh angin. Begitu pula hendaknya para Dai harus tahan memikul beban menghadapi
kesulitan karena banyaknya ujian yang menimpa.

Ujian berjalan dia tas seleksi unusur-unsur yang kuat dan baik, tidaka ada yang sanggup
beramal kecuali seseorang yang dapat memikul beban, Ia terus berdakwah dan merasakan
kemantapan di jalannya karena kemantapan iman dalam hatinya. Barang siapa yang
mengharapkan keridoan Allah dan hari akherat, karena sesungguhnya seseorang apabila
mengetahui bahwa hutangnya lebih banyak dari pendapatannya, maka ia akan memilih
hutangnya, kecuali bila ia rela dengan kehidupan akherat seagai ganti dari kehidupan
dunia.

Ujian menyingkap kebenaran orang-orang yang konsisiten dan afiliasi keimanan mereka,
sebagaimana terkandung dalam surat Ali Imron yang menggambarkan musibah kaum
muslimin pada perang uhud. Allah berfirman :


!
"
#
$
%
&'! (
#
)
#
*+,-
! .
/' ! 0
.
1
%
2
!
& #3
#
1
.
4
%
5 6 7 . 8
!
9
!
* . :
!
;
.
$' , <
!
5 . (
!
;
!
= 6 7 . 8
!
9
.
>
#
?. @
!
@
.
A
!
- . B
%
C
!
"
#
$
%
&
!
'
!
( )*
+
,
!
-)
!
. ! /'
#
"
%
0) +
%
1
!
2
!
3 4 5
!
6
#
0
!
(
#
78
%
,0) ! /4 6
!
9 8
) ! "#
$
%
$
&'
(
)&* + ,
$
-./ ! 0 .
(
1
!
2
!
3*! 4
!
5
.
6
7
8
.
9
7
:
$
; 140 ) ! "#
$
%
$
&'! (
)
*+ ! ,
!
-
)
.
!
#
!
/ +0
1
2
!
3+
!
4 ! "#
$
5
6
*+ 1
6
7
!
89 -
!
.1:
$
*
!
/( 141 (

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun
(pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya
Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya
sebagian kamudijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-
orang yang zalim,( 140) dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari
dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (141). (QS. Ali Imron)

Imam Ar-Razy menjelaskan dalam tafsirnya : Ketahuilah bahwa bukanlah yang
dimaksud mudawalah bahwa Allah membela dan menenangkan orang-orsang kafir, k
karena pertolongan Allah adalah pemberian yang mulia dan penghormatan yang agung,
maka tidak pantas hal itu diberikan kepada orang-orang kafir. Tetapi yang dimaksud
mudawalah di sini adalah bahwa terkadang Allah menguatkan penderitaan terhadap orang
kafir dan melimpahkan kesenangan kepada orang mu,min. Hal ini dapt ditinjau daru
beberapa hal :

Pertama : Bahwasanya seandainya Allah menegaskan kekalahan untuk orang-orangh
kafir di setiap saat, dan menghilangkannya dari orang-orang beriman di setiap saat, maka
hal itu akan menghasilkan pentingnya pengetahuan dan keasadarna bahwa keimanan
adalah haq dan selainnya batil. Seandainya demikian, maka tidak berlaku beban, pahala
dan dosa, oleh karena itu terkadang Allah meliputi kekalahan kepada orang-orang
beriman dan sebaliknya kepada orang-orang kafir.,

Kedua : Bahwasanya Seorang Mumin terkadang mendatangi sebagian temapat maksiat,
sehingga Allah menegaskan kekalahan dan penderitaan kepadanya di dunia, utnuk
mendidiknya.

Ketiga : Ujian akan semakin memperdalam kecenderungan antara mumin dan kafir,
maka kemungkinan pertemuan diantara keduanya tidak akan terwujud, karena orang-
orang kafir secara terus menerus membuat orang-orang beriman menderita, dan mereka
melakukan mobilisasi penghancuran akidah dan para pembelanya. Pertarungan ini akan
berjalan terus, tidak akan berhenti kecuali mereka tunduk kepada hukum Islam.
Meskipun mereka beresikap lembut kepada orang-orang beriman, dan bersikap toleran
terhadap kaum mu,min dengan memebrikan kebebasan kepada mereka berdakwah, maka
orang-orang yang lemah imannya berkata : Orang kafir tidaklah seburuk yang
dibayangkan! . Berkenaan dengan hal ini Al-Quran menjelaskan sikap dan prinsip
mendasar :


!
"#$
%
& ' (
)
*
+
,' - % . ' (
)
*
'
/
!
"' -
%
0 % 1
%
2
3
4%5!6 ' 7
%
8 % (-
)
9
)
,
'
:
!
;
'
<= % >
%
?
)
@A%B
)
"
'
<=
)
C' D
%
8 ' (
)
* =?! ,
%
E% 9 % (6
)
F
3
<= G H
%
I
%
6 A
%
* ! "#$
%
&
#
' (
)
*
#
+
%
,
)
!
"#
!
$
%
&
'
()
!
*' +
%
,
'
() -
.
/ .
0
1
%
- . 23% 4
%
5 ' 6
%
7
!
8
!
9
%
: ' ;
%
<
!
= 105 (

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada
menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya
(kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Baqarah : 105)

Juga Allah berfirman :

!"# $%
&
'&( ) *!
+
,
+
- ) .
#
/
+
01
+
2 ) 3& $ ) .
#
456 2# 7&1 8
9
( & : ) .
#
/&;"
#
<
+
=%&>#1 & ,"
#
?! & @&1 & A
&
5

. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan
kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.

Keempat : Ujian dapat mengikat di antara prang-orang beriman dengan ikatan pikiran dan
perasaan, jadi ujian dapat mengantarkan mu,min pada hakekat konstruksi keislaman yang
solid, ujian membuat bangunan islam menjadi kuat dan kokoh. Sesungguhnya mereka
yang ditimpa ujian karena keimanan mereka, mereka sedang menaruh shama dengan
sesuatu yang paling mulia yang mereka milkiki, jiwa, harta, keluarga, dan negara.
Adapaun ujian dapat mewujudkan ikatan perasaan (solidaritas), karena penderitaan
selama ujian akan selalu mengarahkan pada realisasi kebersamaan dan tolong menolong,
terkadang seseorang lupa orang lain bersamanya dalam keadaan senang, tetapi tidak akan
lupa kebersamaan orang lain dalam derita dan kesengsaraan.

Kelima : Ujian menunjukan bukti yang kuat terhadap konsekwensi dakwah. Berangkat
dari hal inilah banyak manusia menerima dakwah ketika mereka melihat ketegaran para
aktifisnya dan keteguhan mereka dalam memikul beban ujian. Tahan dalam menghadapi
ujian adalah bukti yang ditunjukan di depan manusia. Habib bin Adi RA. Berkata :


!
"#$%& '()* +,- ./"0* 1%/2
!"#$% & !' ()* +,- ./ 01"

Aku tidak perduli ketika aku terbunuh dalam keadaan muslim
Pada sisi yang mana di jalan Allah tempatku terbujur

Imam Ar-Razy berkata : Sebagaiman diketahui bahwa para pengikut belia mereka tahu
pemimpinnya dalam menadapat ujian yang pelik karena membela perjuangan, dan
mereka meliaht pemimpinnya konsisten dengan perjuangannya, mak hal itu akan lebih
mengokohkan para pengikutnya ketimbang ketika mereka melihat pemimpinnya dalam
keadaan bersenang-senang, tidak ada beban ujian yang di hadapinya dalam
perjuangannya.

Keenam : Apabila seorang mumin tahu bahwasanya ia akan diuji, maka ia akan selalu
waspada dan takut kepada Allah SWT, hal ini akan mengantarkannya pada optimalisasi
amal dan berkeinginan kuata untuk memenuhi syarat-syarat kemenanagan, serta
menjauhkan dirinya darai sebab-sebab kehancuran , berupa maksiat, kelemahan dan sikap
pasrah dan menyerah.

Ketujuh : Ujian dapat mewujudkan keikhlasan pada hati seorang mumin. Imam Ar-
Razy berkata : sesungguhnya keikhlasan manusia dalam keadaan menderita dan
kembalinya seseorang kepada Allah akan lebih besar keikhlasannya dibanding dalam
keadaan kesenangan dunia. Allah telah menegaskan sunnah ini terhadap orang-orang
beriman, sebagaimana firman-NYA :





) 155 (


) 156 (

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"
(QS. Al-Baqarah : 155 156)


KAIDAH KESEMBILAN
LAHAN DAKWAH LUAS HENDAKNYA
DAI MEMILIH UNTUK DAKWAHNYA

Ketika dakwah baru memasuki masa perintisan dan pembentukan, maka kesungguhna
yang dikerahkan sesuai dengan proporsinya, jadi seorang dai harus memperhatikan
prinsip memlih untuk dakwahnya. Mulai dari yang dekat sebelum yang jauh.
Ssungguhnya seorang dai tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk mendakwahkan
siapapun, apalagi tidak jelas sasarannya, sementara pada saat yang sama, orang dekat,
tetangga di sekitar tempat tinggal dan lingkungan pekerjaan juga membutuhkan
dakwahnya, dan Ia telah mengenali mereka dengan baik, tidak perlu lagi informasi
tentang mereka, dan mereka juga telah mengenalnya dengan baik, sehingga tidak perlu
lagi pendekatan awal. Justru mereka akan mencelanya karena mereka merasa
diremehkan, sementara ia pergi mendakwahi orang-orang yang jauh, sedangkan sehari-
hari Ia hidup bersama mereka. Mata mereka selalu mengawasi baik buruknya dan
menjadi saksi atas kesenangan dan kesusahannya, Ia kelak akan mempertanggung
jwabkan mereka di hadapan Allah. Sesungguhnya Nabi telah mengambil tindakan
terhadap kaumnya bahwasanya mereka tidak memahami tetangganya dan tidak
mengejarkannya, sehingga mereka terancam oleh sangsi (uqubat) dan mereka di biarkan
selama satu tahun untuk melaksanakan tugas tersebut.

Ketika rasulullah SAW mulai berdakwah, Allah memerintahkan kepadanya untuk
mendakwahi keluarganya yang terdekat :


!
"
#
$
! #
%& ! '!(
!
")
*
+! , # -
*
.
#
/
!
0
!
1 ) ! "#
$
% 214 ! "(

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS. As-syuara : 214)
Imam Ar-Razy berkata : Kemudian Allah memerintahkannya untuk mendakwahi yang
lebih dekat, karena bila dawah intensif kepada diri sendiri, setelah itu kepada kalangan
terdekat, maka seorang dai tidak mudah dianiaya, dan perkataannya lebih bermanfaat
dan ucapannya lebih mantap. Imam Bukhari mengeluarkan dalam sahihnya, dari ibnu
Abbas RA, berkata : Tatkala turun !"#$%&' ()$"*+ ,-./0 Nabi naik ke atas bukit Sofa
seraya berseru : Wahai Bani Fahr!, wahai Bani Ady!,, sehingga merekapun
berkumpul, bahkan yang tidak bisa datang mengutus seseorang untuk melihat ada apa
sebenarnya. Turut hadir pula Abu Lahab dan pemuka-pemuka Quraisy. Lalu Nabi berkata
: Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beritahu kalian bahwa pasukan berkuada
di sebuah lembah akan menyerang kalian, apakah kalian membenarkanku. Mereka
berkata : Ya, setahu kami engkau tidak pernah berdusta. Nabi berkata : maka
sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan terhadap kalian, di hadapanku ada adzab
yang pedih.

Dalam riwayat imam Bukhari yang lain dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW
bersabda : Wahai orang-orang Quraisy!, jagalah diri kalian, aku tidak dapat membelamu
sedikitpun di sisi Allah, wahai Abbas bin Abdul Muttalib aku tidak dapat membelamu
sedikitpun di sisi Allah, Wahai Safiyah bibi Rasulullah aku tidak dapat membelamu
sedikitpun di sisi Allah, Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah apa yang kau mau
dari hartaku, aku tidak dapat membelamu sedikitpun di sisi Allah.

Ibnu Hajar berkata : Rahasia perintah mendakwahi kerabat adalah bahwasanya bila
dakwah sampai kepada mereka, maka mereka akan menyampaikannya kepada yang lain,
tapi jika tidak, maka kalangan jauh akan menjadikannya alasan untuk menolak.

Hendaklah mulai dari kalangan orang-orang kecil sebelum yang besar, karena mereka
tidak sulit diarahkan kepada fikrah dan perilaku tertentu, interaksi dengan mereka lebih
Mudah ketimbanga dengan orang-orang besar, yang cenderung memilih jalannya sendiri,
banyak keterikatannya dengan tanggung jawabnya, mengukuhkan dirinya menjadi pusat
masyarakat (publik figur) atau pendapatan duniawu yang dikhawatirkannya. Sedangkan
kalanagn orang-orang kecil langsung dapat menerima dakwah, mudah diwarnai dan
dibentuk, seorang daI tidak memerlukan waktu banyak untuk membersihkan jiwanya
dari kotoran dan kebiasaan jahiliyah, lalu menhiasinya dan mengisinya dengan
keutamaan dan kebiasaan islami. Kalangan kecil adalah mereka yang dahulu menjadi
pengikut Rasulullah SAW. Dalam kisah Nabi Musa AS, Allah berfirman :


!
" # $
!
%
&
'
(
)*+&,
!
-
(
.
&
/ ( $
&
0
(
)
!
+
!
1
&
2
&
3
&
' & $ ( 4& 5 ( 6
!
" ( 7
!
3 8 9 ( 4& : ;
&
2 & 5
!
<
!
3 ( 4
&
= ( 7
!
3
>
?#/ @ A
*
B
#
C
!
% ;
&
D4
*
E
!
F & 7
&
3G
&
H I
&
E
&
" !
"
#
$
%&
'
(
'
) ' * + ,' - + .
) ! "#
$
%
$
&' (
)
*
'
+, ! "
$
*
!
+ )-
.
/
$
0
!
1
$
2 ' 3
! '
4, 83 !(

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya
(Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa
mereka. Sesungguhnya Fir`aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (QS. Yunus : 83)

Namun bukan berarti kalangan orang-orang besar diabaikan, tetapi yang dimaksud adalah
bahwa kalangan orang-orang kecil lebih cepat menerima, karena walaupun mereka
kalangan orang-orang kecil (muda), tetapi calon pemimpin di kemudian hari, dan kalangan
orang-orang muda adalah masa depan bagi umat.

Juga hendaknya mulai dari orang-orang yang tawaddu sebelum mendakwahi orang yang
sombong. Karena ketawadduan menunjukan kemungkinan kebenaran dapat diterima,
sementara orang yang sombong menyepelekan kebenaran dan memandang manusia sebelah
mata. Oleh karena itu kita dapati pengikut-pengikut para rasul berasal dari golongan orang-
orang yang bersyukur dan tawaddu, atau fakir yang sabar dan lemah. Kesungguhan
bersama golongan ini kebanyakan dapat menuai buahnya. Sekali lagi hal ini bukan berarti
menafikan golongan objek dakwah yang lain.

Sesungguhnya mendapatkan lahan dakwah yang baru, dekat, mudah dan memugkinkan,
akan membantu untuk mendapatkan yang jauh dan sulit, karena penyebaran yang luas
akan memberikan darah segara, dinamika dan potensi yang digunakan untuk sampai
kepada lahan dakwah yang jauh.

Mulai dari yang berwawasan sebelum yang awam, mengingat peran penting mereka di
tengah masyarakat, di sisi lain mereka lebih mampu untuk menilai pandangan dan memilih
fikrah. Barang siapa yang memilih fikrah karena kesadaran, kemungkinan besar akan kuat
komitmennya.

Mulai dari yang belum berafiliasi sebelum yang sudah berafiliasi, karena mereka yang
belum berafiliasi masih netral posisinya di antara berbagai aliran dan organisasi, sedangkan
mereka yang sudah berafiliasi telah memliki posisi tertentu, upaya untuk dapat
memindahkan afiliasinya membuthkan kesungguhan yang berlipat ganda, hal itu karena
bila mereka dapat merubah afiliasinya, maka menjadi sumber daya yang potensial karena
pengalamannya yang luas dan kesiapan yang memadai, akan tetapi hal yang seperti ini
sedikit.

Mulai dari temen sekerja sebelum yang lainnya, karena teman-teman sekerja memiliki
solidaritas yang kuat di antara mereka, kesempat berdialog di antara mereka selalu tersedia
dan simpul-simpul kebersamaan banyak peluangnya. Seorang Dokter lebih efektif
mendakwahkan rekan kerja seprofesinya ketimbang mendakwahi kalangan insinyur,
pengacara mendakwahi pengacara. Manakala Dai memliki kelbihan dengan kebersihan
akhlaknya ini relalitas dan menjauhi jiwa ambisius duniawi, maka Ia akan piawai
berkomunikasi dengan teman-temannya dan mempengaruhi mereka.

Semestinya pilihan itu harus sesuai dengan fase yang dilalui oleh dakwah, terkadang
fasenya fase rekrutmen dan perluasan penyebaran, bisa juga fesenya fase aktifitas terbatas,
tarbawy, ekonomi, sosial dan politik. Setiap fase memiliki tuntutannya masing-masing dan
pilihan itu sesuai dengn tuntutan. Dari sinilah kita memahami doa Rasulullah SAW :

!"#$%& '( )*+( ,- ./0 1(2( 345%6 '570)%& '89: ;<2( =>?@&
A
BC- D/7%&

Ya Allah! Muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling engkau cintai,
Abu Jahal atau Umar bin Khattab

Berkenaan dengan suasana fase dakwah yang tengah berlangsung di Mekkah, dawah
tersebar di antara kaum dhuafa dan fuqara, kemudian fase brikutnya adalah fase terbuka.
Pada fase inilah kepribadian seperti Umar bin Khattab dibutuhkan, inilah yang terjadi pada
saat umar masuk islam, sehingga dakwah mulai memasuki fase baru, yaitu fase dakwah
terbuka setelah fase rahasia.

Ketika Mushab bin Umair RA bernagkat ke Madinah, Usaid bin Hudair yang masih
musyrik menemuinya, lalu ia berkata kepada Musab dan Asad bin Zararah : Apa yang
kalian datangkan kepada kami?, kalian membodohi kaum dhuafa kami?. Sebelumnya
Asad berbisik kepada Musab : Ini adalah pemuka kaum, ia datang kepadamu,
yakinkanlah dia akan Allah. Maka Musab pun mendakwahkannya kepada Allah dan
memperdengarkannya beberapa ayat al-Quran. Kemudian Usaid berkata : Alangkah
bagus dan indahnya perkataan ini, apa yang anda lakukan jika anda masuk ke dalam agama
ini?. Keduanya menjawab : engkau mandi hingga bersuh dan bersuhkan bajumu, kemudian
engkau memberikan kesaksian yang benar, lalu engkau shalat. Maka Iapun mandi dan
membersihkan bajunya, lalu bersyahadat dan shalat dua rakaat. Kemudian Ia berkata :
Sesungguhnya di belakangku ada seorang tokoh jika Ia jadi pengikut kalian tak ada
seorangpun dari kaumnya yang tidak mengikutinya, saya akan datangkan orang itu
sekarang.

Ia adalah Saad bin Muadz. Iapun datang menemui Musab dan Asad, lalu Asad berbisik
kepada Musab seperti yang telah dilakukan sebelumnya, tatkala Musab menyampaikan
kepadanya tentang Islam, Iapun masuk Islam. Kemudian ia pergi menemui kaumnya Bani
Abdil Asyhal lalu berkata : Apa yang kalian ketahui tentang diriku pada kalian?, Mereka
berkata : pemimpin kami, yang paling bagus pandangannya dan yang paling dipercaya
kepemimpinannya. Lalu saad berkata :

!"#$%&' ()& *#+,-. /01 2*%1
3
456 789):;' 78")<= 2>? @AB

Sessungguhnya aku haramkan laki-laki dan wanita kalian bicara kepadaku sehingga
kalian beriman kepada Allah dan Rasul-NYA.

Kemudian Musab dan Asad pun berkomentar : Demi Allah tidak ada rumah di
perkampungan Bani Abdil Asyhal baik laki-laki maupun wanitanya, melainkan telah
berubah statusnya menjadi muslim dan muslimah. Dari peristiwa ini kita dapat
mengambil pelajaran penting, bahwa dakwah yang ditujukan kepada sebagian pusat
kekuatan masyarakat (simpul massa) memberikan kontribusi bagi akselerasi proses
Perubahan (amaliyyatutthagyir). Terkadang tokoh masyarakat juga dapat banyak
memberikan perubaha pada proses bergaining bagi kemaslahatan dakwah. Kita juga
dapat mengambil pelajaran seraya mempertimbangkan fase dakwahnya.

KAIDAH KESEPULUH
WAKTU ADALAH SALAH SATU UNSUR DAKWAH YANG EFEKTIF
Banyak Dai merasa putus asa ketika berdakwah, mereka menggunakan sekian banyak
argumentasi dan dalil, akan tetapi mereka tidak mendapatkan sambutan yang besar dari
objek dawah. Perasaan putus asa itu muncul akibat hilangnya salah satu unsur penting
dalam proses dakwah, yaitu waktu. Hal yang harus kita sadari adalah bahwa kita
berinteraksi dengan realitas individu yang tidak Islami, yang dibentuk dengan berbagi
faktor yang banyak, faktor dominannya adalah pengaruh materialisme destruktif, yang
telah merasuk ke setiap individu. Seorang Dai selalu berinteraksi dengan pribadi buruk
di bawah kebobrokan pemikiran dan moral, hal ini biasanya menjadi penghalang bagi
dai untuk berkumunikasi dengan madunya, atau dengan kata lain Dai berada di satu
alam sedangkan madu berada di alam yang lain, di antara keduanya terjadi kesenjangan
nilai. Karena itu terjadinya respon yang cepat yang bukan yang tidak proporsional dan
wajar, bertentangan tabiat segala sesuatu.

Sesungguhnya kata-kata yang diucapkan oleh sang Dai tidak akan sia-sia, pasti merasuk
ke dalam pikiran madu dan akalnya kelak akan memilih dan menjadi akumulasi
pengalaman yang baik. Sesungguhnya pengaruh kata-kata yang diucapkan beberapa
tahun sebelumnya akan membuahkan sikap yang membuatnya kembali mengenang
pengalamannya, kemudian apa yang diucapkan sang dai akan didapati oleh dai yang
lain setelah beberapa tahun berikut. Seringkali terjadi ketika kita berbicar dengan
seseorang lalu Ia berkata : Ini adalah seseuatu yang pernah saya dengar dari fulan

Sesungguhnya memilih waktu dalam berdakwah adalah masalah tujuan kepentingan, ada
waktu di mana seseorang sedang menyendiri, sehingga tidak siap menerima pemikiran.
Bahwasanya dakwah akan berpengaruh dalam suasan dan kondisi yang kondusif baik
pada Dai maupun Madunya, oleh karena itu hendaknya Dai memilih waktu yang
paling cocok dengan kendala dan hambatan yang minim. Ibnu Masud RA berkata :
Rasulullah pernah beberapa saan tidak memberi nasehat, karena khawatir kami merasa
bosan. Dai tidak boleh terlalu lama mengajarkan madunya, sehingga membuatnya
gelisah dan bosan. Memberi materi dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan membuat
madu marasa rindu ingin menyempurnakan pelajaran dan bahkan menginginkan
tambahan. Sikap emosional terhadap madu akan berdampak buruk, apakah Ia menolak
atau menerima, keduanya berbahaya bila terjadi sebelum waktunya. Madu bersikap
menerima atau menolak lebih dominan karena paksaan bukan pilihan.

Ketika madu menyatakan menolak, sesungguhnya Ia tergesa-gesa mengambil sikap,
sebelum menerima gambaran dakwah secara utuh, penolakannya adalah sikapnya
terhadap dakwah, dan tidak mudah untuk merubah sikapnya, karena biasanya seseorang
kukuh dengan pendiriannya. Hal ini disebabkan oleh Dai yang terburu-buru memetik
buah sebelum tiba masa panennya.

Sebaliknya madu yang terlalu cepat menerima, tidak lama setelah itu akan mendapati
dirinya tidak mampu memikul beban dan kewajiban yang tidak pernah diperhitungkan
sebelumnya, padahal bila saja Ia menunggu sebentar, ia tidak kan buru-buru mengambil
sikap tersebut, sehingga menjadi jelas mana sikap yang normal mana yang prematur,
munculnya sifat dusta dan munafik karena faktor tergesa-gesa (Istijal). Seandainya
dibuka terlebih dahulu kesempatan berfikir dan merenung, pasti Ia akan mengambil
sikap yang mendasar dan orisinil. Jalan yang terbaik adalah janganlah kita emosional
dalm mengeluarkan pernyataan, akan tetapi kita meminta kepada madu agar tidak terlalu
cepat mengambil sikap, seraya berterus terang kepadanya tentang tantangan dan
konsekwensi menerima dakwah secara positif dan realistis.

Sesungguhnya waktu merupakan unsur yang dapat meringankan intensitas dai dan
mengantisipasi sikap putus asa yang terkadang menimpa mereka, juga membuka pintu
cita-cita, yang demikian itu bila mereka benar-benar memahami peran waktu,
sebagaimana seorang dokter tidak berkata kepada pasiennya bahwa anda akan sembuh
seketika, tetapi Ia akan berkata anda akan sembuh beberapa hari lagi.


KAIDAH KESEBELAS
DAWAH ADALAH SENI DAN KEPEMIMPINAN
DI ATAS PERENCANAAN DAN EVALUASI

Banyak para Dai yang mengira bahwa dakwah cukup dibangun dengan ucapan yang
baik di setiap tempat dan waktu, dan berjalan secara paralel pada setiap dai meskipun
momen dan peluangnya berbeda. Tidak diragukan lagi bahwa Allah SWT
mengkaruniakan kemampuan tablig kepada sebagian dai, sehingga mereka bisa menarik
perhatian dan mudah diterima oleh audien. Sementara sebagian mereka tidak memiliki
kemampuan bicara dengan segala tata cara dan gayanya.Keduanya membutuhkan prinsip-
prinsip dakwah, gaya pendekatan dan pelatihan. Karena itu dakwah adalah seni yang
terus menerus diekspresikan, kaidah dan pendekatan yang terus dikembangkan dan
sarana-sarana yang efektif sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman moderen.

Perencanaan yang matang akan mengarakan dakwah kepada pendekatan seni yang
efektif. Perencanaan merupakan gambaran teoritis untuk menjalankan dakwah, ketika
perencanaan telah sempurna dan segala unsurnya telah terkuasai dengan baik, maka hal
itu dapat mengantarkan pada hasil yang riil dengan pertolongan Allah.

Sebagaimana diketahui bahwa ada beberapa aneka macam perencanaan, seperti
perencanaan ekonomi, politik dan pendidikan, maka para dai fokusnya diarahkan pada
perencanaan dakwah. Perencanaan yang baik kepalanya ada pada pencapaian target dan
sasaran, tubuhnya ada pada sarana-sarana. Kedekatan antara sarana dan sasaran
ditentukan oleh gaya pendekatan, bahan bakunya adalah SDM, Materi dan moralitas,
supervisornya evaluasi dan penilaian, buahnya adalah tercapainya sasaran yang kongkrit
dan kasat mata.

Sasaran adalah tujuan di balik aktifitas, yang muncul ketika menjawab sebuah pertanyaan
yang diajukan oleh sang Dai itus endiri. Mengapa saya berdakwah?, Apa yang saya
inginkan dari dakwah ini?. Jawaban atas pertanyaan ini adalah titik tolak segala aktifitas,
di atas kejelasan jwaban inilah akan menentukan kesungguhan yang dituntut, waktu yang
cukup, sarana, pendekatan dan realitas lapangan. Biasanya perbedaan para Dai dalm
menjawab pertanyaan di atas, menyebabkan mereka berbeda dalam pengorganisasiann
dan afiliasinya.
Ada dua macam sasaran :

Pertama : Sasaran Makro (besar), yaitu hasil yang pokok.
Kedua : Sasaran-sasaran yang terkait dengan waktu yang terbatas dan peluang-peluang
tertentu atau individu tertentu atau diusahakan untuk merealisasikan sarana dan
memperbanyaknya. Sasaran-sasaran ini sebagian

Dai pertama berkata : Aku berdakwah untuk kebersihan jiwa, sebagaiana Allah
Berfirman :

)!"#!
$
%" & ' (
"
)
"
*
"
+
'
,
"
- ' .
"
/ 9 )!"#!$ %" & ' (
"
)
"
*! " + ' ,
"
-
"
.( 10 (

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu , dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya (QS. As-Syams : 9-10)

Untuk sampai kepada sasaran ini hendaknya kita merekrut para madu dan kita terapkan
kepada mereka aturan yang dibangun diatas anjuranianjuran moral, wirid dan dzikir.
Seyogyanya seluruh perhatian arahkan kepada sasaran ini.

Dai kedua berkata : Sasaran dawah adalah membantu fakir miskin dan memperlakukan
mereka dengan perlakuan yang baik. Allah berfirman :

)
!
"
!
#
!
$ %
&
'
(
)
*
+! +
!
,
!
$ -
!
. 42 ) ! "#
$
%
!
&
'
(
)
*+ ! "
,
- ' .!/
)
0
!
* +1
'
*2
!
3( 43 ) ! "#
$
%& '
$
(
&
)*
+
,
$
-
&
.
+
/ + 0!/
&
,
!
)
!
1( 44 (

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami
dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula)
memberi makan orang miskin (QS. Al-Muddatsir : 42-44)

Untuk merealisasikan sasaran ini, harus terlebih dahulu mendakwahkan kelangan yang
gemar menebar kebajikan, brsedekan dan menunaikan zakat, serta menumbuhkan
organisasi kebajikan ( !"#$%&'( !"#$%&' ) sebgai sarana terbaik untuk merealisasikan
sasaran ini.

Dai ketiga berkata : Sasaran dakwah adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah
ilmiyah yang masih diertentangkan, mengumpulkan hadits-hadits sahih. Untuk
merealisasikan sasaran ini harus diselenggarakan halagah-halaqah ilmiah dan mendirikan
sekolah-sekolah dan yayasan-yayasan khusus, serta menerbitkan buku-buku.

Dai keempat berkata : Sasaran dakwah adalah agar umat Islam dapat mencapai level
tertinggi dalam hal kesadaran politik yang dapat menyingkap program musush-musuh
dakwah dengan segala sarana yang mereka pergunakan. Untuk merealisasikan sasaran
ini, hendaknya didirikan studi khusus dan intensif, meneliti apa yang mereka katakan dan
sebarkan tentang Islam.

Berangkat dari sasaran-sasaran tersebut di atas kita dapati sebagian Dai ridho dan merasa
cukup dengan sasaran-sasaran yang lebih kecil dari itu, seakan akan hal itu menjadi
sasaran yang besar dan menyeluruh, padahal hanya sebuah kerikil kecil di tengah
perjalanan dakwah, atau sebagian Dai hanya fokos pada orang tertentu yang dianggap
sebagi penyebab utama munculnya permasalahan dan prblematika umat Islam.

Meskipun sasaran-sasaran tersebut penting, tetapi ada pertanyaan yang tersisa : Apakah
ada sasaran lain yang lebih besar dan menyeluruh?. Sesungguhnya penglihatan sekilas
terhadap berbagai tingkatan sasaran membuat kita berkata : Sasaran menyeluruh lebbih
didahulukan dari pada sasaran sektoral, sasaran yang mencakup seluruh masyarakat lebih
didahulukan dari pada sasaran individu atau kelompok, sasaran yang kontinyu
didahulukan ketimbang sasaran yang temporal, sasaran yang memungkinkan lebih
dikedepankan ketimbang sasaran yang absurd (tidak mungkin), sasasran maksimal lebih
diutamakan dari pada sasaran minimal. Berangkat dari penjelasan tersebut diatas,
dimungkinkan untuk merumuskan sebuah sasaran makro sebagai berikut : Sasaran yang
integral, maksimal, memungkinkan, kontinyu yang mencakup seluruh lapisan
masyarakat.


IBADAH KEPADA ALLAH
TUJUAN PALING UTAMA

Tidak diragukan lagi oleh seorang Dai bahwa tujuan yang paling luhur dan mulia adalah
apa yang telah ditetapkan Allah sebagai tujuan setiap manusia dan makhluk lainnya, yaitu
tujuan ibadah, sebagaimana firman Allah :

)
!
"#$ %$& ' (
)
*
!
+
,
-
!
.
)
/
'
0
!
'
12
)
# , 3
!
4
'
+2
$
5
'
6
)
7 ) 8 9
)
:
)
# 56 !(

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku
(QS. Adz-dzariyat : 56)

Ummat Islam telah mengusung sasaran ini, untuk itu mereka mengembara di tengah
gurun sahara dan mendatangi para penguasa tiran, sebagaiman yang dikatakan oleh Ribi
bin amir di hadapan Kaisar Persia :

!"# $%& '()*+, -./ 012 34567, 89: $%& '; <64=/ 012 64=>1, ?64=/ $% 64=>1, @ABC1 4CD:
!"#$%& '()*+% ,-. /+0 '()*+% .

Kami datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama kepada
penghambaan kepada Allah semata, dari penyimpangan agama-agama kepada keadilan
Islam, dari sempitnya dunia menuju keluasan dunia-akhirat

IBADAH ADALAH
TUJUAN INDIVIDU, JAMA,AH DAN DAULAH

Berkenaan dengan tujuan tersebut di atas maka tujuan Jamaah muslimah, pribadi muslim
dan daulah islamiyah adalah merealisasikan abadah kepada Allah. Tujuan khususnya
bersifat, sektoral, lokal dan situasional, atau khusus dan terbatas. Aktifitas harian,
pekanan, bulanan, tahunan, masing-masing memiliki tujuan yang khusus. Aktifitas di
desa, kota, keluarga, lingkungan pekerja, pelajar dan wanita , masing-masing memiliki
sasarannya yang khusus pula. Masing-masing dapat membentuk satu unit masyarakat
yang dapat direalisasikan sesuia dengan sasaran khususnya.

SARANA

Dari sekian banyak saran ada yang bersifat langsung dan ada yang tidak langsung, setiap
sasaran yang bersifat sektoral memerlukuan sarana khusus. Bila kita mengatakan
bahwasanya ibadah dapat dilaksanakan oleh hamba yang kuat dan kokoh akalnya,
jiwanya dan jasadnya. Maka sesungguhnya sarana-sarana yang khusus itu banyak terkait
dengan sasaran-sasaran yang ada. Peluang dan informasi sangat mempengaruhi sarana
yang digunakan. Berbagai sarana digunakan dengan bentuk dan gaya yang beraneka
macam, gaya yang bagus akan memberikan potensi sarana yang lebih besar, memilih
gaya pendekatan yang sesuai merupakan faktor besar penyebab keberhasilan aktifitas.
Di antara gaya pendekatan adalah kelembutan dan ketegasan, berita gembira dan
peringatan, banyak dan sedikit, rahsia dan terbuka, individu dan kolektif, historis dan
karakter, logika dan perasaan, penderitaan dan cita-cita, pengambilan dan pemberian.

PENGUMPULAN DATA :
DASAR PERENCANAAN

Ketika perencanaan menjadi sebuah gambaran aktifitas pada waktu dan tempat tertentu,
juga dengan orang-orang tertentu, maka harus ada pengumpulan data lingkungan, baik
ekonomi, sosial, politik, situasional, karakter dan pemikiran, juga harus mengetahui
simpul-simpul kekuatan yang kuat dan yang lemah, disamping mengenali hambatan dan
peluang. Dengan begitu dakwah akan terbangun di atas argumentasi yang jelas. Firman
Allah :

! "
#
$ %!&
!
' %
!
$
!
(
#
)
* ! +%
!
,- ./ 0
!
( 1
#
2
!
3
!
.
)
45
#
"
!
$
!
( %!&
!
' 6 7
!
89
#
:
!
; <
!
= ! >
#
)
* <
!
?
#
@ A/ >- B
!
' 1
#
=9
#
.
!
0
#
C
#
D!E - F
/
G
) ! "#
$
%
$
&
'
(
)
*
'
+, 108 (

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk
orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf : 108)

WAKTU ADALAH UNSUR EFEKTIF
DALAM PERENCANAAN

Waktu merupakan unsur efektif dalam perencanaan yang akan menetukan sejauh mana
keberhasilan dan kegagalannya, perencanaan yang hanya membutuhkan waktu sehari
tidak perlu memakan waktu satu bulan, atau bila waktu yang dibutuhkan satu bulan tidak
boleh didesak penyelesaiannya dalam satu hari atau satu minggu. Evaluasi dan penilaian
setelah masa jadwal perencenaan berakhir, akan membantu apakah satu program menjadi
aplkatif atau tidak, sulit atau mudah, evaluasi dapat mempercepat pencapaian sasaran
atau menundanya, dan memutuskan efektif dan tidak efektifnya sarana yang digunakan,
juga mengungkap cocok dan tidak cocoknya gaya pendekatan.

PENGAWASAN MELEKAT

Evaluasi adalah pengawasan melekat, pendengaran yang sensitif dan tangan yang
mengukuhkan. Perencanaan yang kuat (muluk) terkadang gagal tanpa eevaluasi, tapi
perencanaan yang lemah (biasa-biasa saja) bisa berhasi dengan evaluasi yang kontinyu.
Bila unsur-unsur tersebut tepenuhi maka akan terwujud perencenaan yang ilmiah dan
mumpuni, kemudian diserahkan implementasinya kepada unsur-unsur SDM yang terlatih
dan terorganisir. Untuk menyiapkan para pelaksana di lapangan, maka penting bagi Dai
di zaman sekarang ini membekali dirinya dengan wawasan dan ilmu pengetahuan yang
banyak, seperti ilmu administrasi, ilmu komunikasi massa, ilmui bahasa dan sastra, Ilmu
jiwa dan pendidikan dan lains sebagainya yang dapat membantu Dai
mengimplementasikan rencananya.

Dai yang sukses adalah yang sigap, respon dan mampu bermain dalam segala situsi dan
kondisi. Sebelum dihadapkan oleh posisi-posisi yang menyulitkan, maka sesungguhnya
Ia selalu menagntisipasinya dan menganalisanya sambil berupaya mencari jalan keluar.

KAIDAH KEDUABELAS
DAKWAH ADALAH POTRET JIHAD
MELIBATKAN PERTARUNGAN UNTUK
MENCAPAI SASARAN DAN HASILNYA

Penegertian Jihad hendaknya mengacu kepada pengertian yang dipahami oleh para
sahabat dan Tabiin, dan kepada apa yang tertuang dalam Al-Quran dan sunnah.
Sebagian Dai memaknai jihad dengan perang, tidak ada jihad kecuali dengan perang.
Dampak pemahaman seperti itu menjadi fenomena di beberapa dunia Islam, di mana
kaum muslimin menghedaki perang, meskipun belum tiba waktunya dan belum optimal
persiapannya, mereka merasa sangat berdosa bila tidak melakukan peperangan.

Pemahaman jihad seperti itu perlu diluruskan dengan kembali kepada pengerian jihad
secara syai, karena mengembalikan makna jihad secara syari sangat penting untuk
menghindari sikap ekstrem dan penyimpangan. Dalam kitab Allisan disebutkan bahwa
jihad adalah :

!"# $% &'( )* +(,-./$ 01'./ 2# ,* 3/4561/$ +7.,89./ ':$ ;</=>?/ +@A,B*

Memerangi musuh dengan mengoptimalkan dan mengerahkan seluruh kemampuan dan
potensi dalam berkata dan bertindak.

Berangakat ri penjelasan umum tentang jihad dari sunnah Rasul, kami sertakan perkataan
Ibnu Qayyim Al- Jauzy bahwa Rasulullah SAW berada di puncak jihad tertinggi, beliau
menguasai seluruh aspek-aspeknya, dan berjuang d jalan Allah dengan perjuangan yang
sungguh-sungguh, dengan hati dan perasaan, dakwah dan penjelasan, pedang dan lisan.
Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya : Allah memerintahkan Rasulnya berjihad
ketika baru saja diutusnya, sebagaimana firman Allah :

)! " #$
%
&'( ) *
'
$ + #
'
, - .
/
0 1
%
2 3'4
+
5
'
6
'
7
'
8 3'4
+
9
%
: + ;
'
8
'
< 51 )! " #$
%
&' ( !" )*
'
+
%
,
%
-
%
.
/
012/ 3
%
2*
'
,
'
4 ' 56
%
#
%
7*' 8
/
9!
%
:
%
;
1
< ' =
'
7( 52 (

Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri
seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang
kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.(QS.
Al-Furqan : 51-52)

Ayat tersebut di atas adalah ayat Makiyah, perintah berjihad pada ayat tersebut adalah
dengan argumentasi (hujjah), penjelasan, dan menyampaikan ayat Al-Quran, begitu pula
berjihad terhadap orang-orang Munafik terbatas pada penyampaian argumentasi, Allah
berfirman :

! "#
$
%
&
'
(
)*
&
+
(
,
$
-
&
.
!
/
0
1
&
2
&
3
(
/!4*
&
.
(
5
&
6
&
.
(
/
$
2( #
&
7 & 8
(
9
!
7
(
:*
&
. & ;#
$
<
$
=>&1
!
'
(
)*
&
.
&
?>
0
@
!
A
(
)*
$
B
$
4>
&
3
C
D
$
E
0
1)* >
&
2CF
&
G>
&
F ) 73 (

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah
tempat kembali yang seburuk-buruknya (QS. At-Taubah : 73, At-tahrim : 9)

Jihad melawan orang-orang Munafik lebih sulit dari jihad terhadap orang-orang kafir,
karena jihad kaum munafik adalah jihad khusus yang diwarisi oleh para Rasul, yang
berkiprah mendakwahi orang munafik hanya segelintir orang di dunia ini. Dan mereka
yang terlibat dan membantu dalam mendakwahkan kaum munafik, meskipun sedikit
jumlahnya tetapi paling besar potensinya di sisi Allah, karena jihad yang afdol adalah
mengatakan yang benar bersamaan dengan kerasnya penntangan, dan khawatir dengan
sikapnya yang menyakitkan. Rasulullah SAW paling banyak mengalami hal ini dan
paling sempurna jihadnya dalam hal ini. Berjihad kepada orang lain (kafir) adalah bagian
(cabang) dari berjihad kepada diri sendiri.(Munafik). Rasulullah SAW bersabda :

"!"# $ %&' () *+, -) *.(&/012 $ 314 56 !78' 9,(. -) 9,(+/01 ":

Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri di jalan Allah dan Muhajir
adalah yang menghindari apa yang dilarang oleh Allah SWT

Dengan demikian jihad melawan diri sendiri (Munafik) lebih diutamakan ketimbang
berjihad kepada musuh di luar (kafir).

SASARAN JIHAD

Kesimpulannya adalah bahwa jihad itu mengerahkan segala potensi dan kemampuan
untuk memerangi musuh internal dan eksternal, sasarannya bukanlah menghakimi
musuh, tetapi menyelesaikan sebab-sebab permusuhan dan pertentangan. Kekeufuran
adalah salah satu sebab permusuhan antara Mumin dan Kafir, bila penyebabnya dapat
diatasi dan si kafir masuk Islam, maka lenyaplah permusuhan, sbagaimana Nifak menjadi
penyebab perselisihan antara Mu,min dan Munafik, bila penyakit nifaknya hilang meka
dengan sendirinya permusuhan akan berhenti.

Sikap berperang dalam Islam terdiri dari :
1. Membiarkan orang kafir memerangi Islam
2. Membayar jizyah dan membiarkannya di negeri Islam, seraya tunduk kepada
buidaya dan aturn-aturannya.
3. Mereka diperangi dan dijatuhi hukuman atas kekufurannya

DAWAH ADALAH SARANA UTAMA UNTUK MERAIH PEMBELA

bahwasanya dakwah didahulukan atas yang lainnya, Ia adalah sarana
utama untuk merekrut penolong dan untuk mengalihkan orang kafir menjadi mumin, dan
sasarana dakwah tetap satu baik dengan lisam maupun tangan (kekuasaan). Pada
dasarnya dawah adalah membentuk masyarakat muslim dengan mengajak individu-
individu untuk masuk ke dalam Islam, sehinga mereka komitmen dengan akidah dan
syariah.

Berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasehat yang baik akan menambah jumlah
pembela Islam setiap harinya, setiap kali seseorang menerima dakwah, maka gugurlah
satu komponen jahiliyah, sebagaimana kejahiliyahan di kota Mekkah, setiap hari
terdengar berita berpindahnya laki-laki dan wanita dari kemusyrikan menuju Iman dan
dari tentara syaitan menjadi tentara Allah Yang Maha Rahman.

YANG TELAH HILANG KARENA GAZWUL FIKRI
KITA KEMBALIKAN LAGI MELALUI JALAN DAKWAH

Sesungguhnya Gazwul Fikri yang telah menghancurkan negeri-negeru Muslim telah
membuat sebagian besar anak negeri terpedaya dan berjatuhan anak negeri
bergelimpangan dalam front pemikiran. Kerugian yang kita alami akibat perang
pemikiran lebih banyak dari perang fisik, dan apa yang dapat kita kembalikan melalui
jalan pemikiran (Nasyrul Fikrah) lebih banyak dari pada jalan peperangan fisik. Pada
masa sekarang ini peperangan terjadi antara dua komunitas, kumunitas mumin dan
momunitas kafir, penyebabnya adalah karena orang-orang kafir menghalangi jalan
dakwah. Sesungguhnya dakwah melalui dialog dan nasehat akan tetap berlangsung di
tengah-tengah masyarakat, karena beberap individu mengasingkan diri dari masyarakat
ini dan masyarakat lainnya. Sedangkan masyarakat terbagi menjadi dua kelompok yang
saling bertikai, sesungguhnya dakwah diawali dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan
diakhiri dengan pesan-pesan yang tenang dan menyenangkan. Ketika itu banyak DaI
yang lari dari masyarakatnya, lebih senang berada di balik gunung dan di kedalaman gua.
Lari dari masyarkat dan mengisolasi diri adalah cara yang menunjukan sempitnya
pemikiran dan tidak memahami skala prioritas dakwah, juga menunjukan keputus
asaannya terhadap masyarakat, dan gagalnya DaI dalm melakukan perbaikan. Musuh-
musuh Islam menghendaki para Da,I menempuh jalur ini, pemikiran seperti ini lebih
berbahaya dari musuh-musuh dakwah itu sendiri.


SIKAP NABI TERHADAP ISOLASI (UZLAH)

Ketika Rasulullah dibolkade di perkampungan Abi Talib hingga maklumat bolkade
musnah dimakan rayap, maka beliau dan para sahabatpun kembali ke masyarakatnya di
kota Mekkah, mengahdapi mereka kemabali dengan hujjah, nasehat dan kalimat yang
baik. Dengan demikian beliau menolak sikap isolasi, beliau tidak memnagnggap bahwa
para sahabat yang daisingkan akibat blokade bukanlah kemerdekaan yang berkah bagi
harakah Islam, karena Islam menetapkan dakwah melalui dua jalan :

Jalan pertama, dakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik, ketika ummat Islam
minoritas di tengah- tengah masyarakat. Jalan kedua, Dakwah dengan segala sarananya
termasuk peperangan pada saat umat Islam menjadi sebab-sebab perubahan kehidupan,
baik dilihat dari aspek strategi, populasi dan ekonomi.

PEMAHAMAN AHLI TAFSIR TERHADAP FIKRAH INI

Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan firman Allah SWT :


!
" ! #
!
$
%
&
'
( )
*
+
!
"
!
, !-)! (
*
./0 01
'
20
!
3
!
4 !- ! 5* 6/0 01
'
+7
%
8
!
9
!
4
:
;
'
<
!
=
%
>: =
!
9 01
?
@
'
(
:
;'A
!
/
!
B7
%
8 ! C=
%
D
*
/0 E
!
/
%
F
!
G!2
:
;
!
/
!
9 ! "#
$
%
&
' (
&
)
$
* + ,-&.
$
/
0
1(
+
2
$
30 4

!
"
#
$! % & '! (
!
) # *
!
)
+
&
,
+
-
!
"
#
$! .! /
!
01
&
234 ! 5# 6! $
#
.
!
7
#
89:
#
2
+
;
!
" ) 77 (

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah
diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan
munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih
sangat dari itu takutnya. (QS. An-Nisa : 77)

Orang-orang beriman pada awal keislaman mereka di kota Mekkah diperintahkan untuk
menunaikan shalat dan zakat, mereka juga diperintahkan untuk menyantuni kaum fakir
mereka, dan berlapang dada serta memaafkan orang-orang musyrik seraya terus bersabar
menghadapi mereka. Mereka adalah orang-orang yang mudah terbakar semangatnya,
mereka sangat menginginkan seandainya mereka diperintahkan untuk berperang mereka
akan terbebas dari musuh-musuh mereka. Tetapi waktu itu tidak mememungkinkan untuk
memerangi mereka, karena jumlah umat Islam masih sedikit, sementara jumlah orang
kafir masih dominan, dan juga karena keberadaan mereka di tanah haram.

ANALISIS

Ibnu Katsir menghindari penggunaan kekuatan ketika jumlah personil masih sedikit, yang
diasumsikan tidak akan mengalahkan musuh. Hal ini bertentangan dengan pemahaman
yang keliru, bahwa jumlah personil dan logistik tidak menjadi patokan yang mutlak,
seratus orang yang sabar akan mengalahkan seribu orang, sebagimana dijelaskan dalam
Al-Quran :

! "#$#%&
'
( )*+,
'
-
!
.
#
/ # 01+ 2
'
3&
#
4 # 01+ 2
!
5
'
6
!
7
+
8
!
9
'
( ! :
+
8
#
/ ! 0
'
;
'
<&#$
'
=
!
>) ?
#
- # 6 # :"
'
9
'
( ! @
+
A
!
>)
'
B C 2
#
D
E
F
'
,
G
9>) &
#
HE/
#
I&
#
/
!
"
#
$
!
%
&
' ! (
#
$
)
* ! +
&
,
)
-
&
(

!
"#$%
&
' ) ! "#$%
!
&
'
(
!
) ! *
+
, ' #
!
-
'
.$%
/
0
!
1
2
3 45$ 6
!
(! 7 ! 8)
2
9
/
:4 ! 8
2
; <
=
(
'
:
!
> 4#$?
2
@
'
A
!
) 65 ! "
#
$
%
& '
(
) ! *
%
+
!
,
-
./
#
& 0 "
%
1
%
,
#
2 % 3
%
4
!
,
-
.
!
5% 3 -
0
6 % 7
0
) % 8 % "
!
9:(

!
"
#
$
!
% &'()
*
+
#
,
!
- . /
#
$
!
%
#
0
(
1
#
2
*
3 # 4
(
1
!
- # 5
*
6
!
7
*
4# 8!9!:;
*
3 &'()
*
+
#
,
!
-
.
<
!
=
*
>;
!
?
.
@!:;
*
3
#
0
(
1
#
2
*
3 # 4
(
1
!
- ) ! "#
$
%
$
&' ( )*+
!
,
!
- .
(
/
!
0
$
(
/
$
1
2
3
$
4
$
&
$
"2 5 66 (

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh
orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang
musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan
seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak
mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa
padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya
mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang
sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan
Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal : 65 -66)

Ibnu katsir berkata : Dari Ibnu Abbas RA, tatkala turun ayat !"#$%& !"#'( )*+, -*. !/
!"#$%& '()*+,, ini berlaku untuk umat islam terdahulu, di mana Allah mewajibkan mereka
untuk tidak meninggalkan barisan, kemudian mereka diringankan dari hal itu dengan ayat
!"#$ % &'( )*+. Ibnu katsir berkata : Allah meringankan mereka dalam hal personil
dan logistik, dan mengurangi standar kesabaran sesuai dengan kadar yang dapat
meringankan mereka. Imam Bukhary meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA : Ketika turun
ayat ini umat Islam merasa berat, duapiluh orang harus menghadapi seratus musuh,
seratus menghadapi seribu, maka dari itu Allah meringankan mereka dengan menasakh
ayat tersebut dengan ayat lain. Karenanya jika umat Islam jumlahnya separuh dari
musuhnya mereka tidak akan lari dari mengahdapi para musuh, tetapi bila kurang dari itu
tidak wajib bagi umat Islam memerangi musuhnya, sehingga boleh menghindari konatk
fisik dengan mereka untuk sementara waktu.

Imam Ar-Razy berkata : Yang dibebankan berperang sesuai dengan ketetapan
hukum padaa ayat tersebut adalah setiap Muslim yang balig dan mukallaf, Ia harus
menghadapi orang-orang musyrik, sehingga menyerah menjadi haram selama senjata
masih disandang, bila tidak ada senjata maka dia boleh

Ada perbedaan besar antara keinginan dalam mencantumkan sikap-sikap kepahlawanan,
keinginan dalam merealisasikan sasaran, mengantarkan umat Islam ke sisi keselamatan,
dan mengeluarkan mereka dari penderitaan.

Adapun mengenai analisa Ibnu Katsir bahwa para sahabat Nabi ketika di Mekkah tidak
mengangkat senjata karena mereka berada di tanah haram, adalah bukti kecerdasan dan
kebijaksanaannya dalam menganalisa. Bila mereka menggunakan bahasa kekuatan maka
yang akan mengalami dampak kehancuran adalah negerinya sendiri. Seorang muslim
dikenal dengan kebaikan dan sikap memperbaiki, menumbuhkan, membersihkan dan
menyambung tali kasih sayang, meskipun para musuh memutuskan hubungan dengannya
dan menyakitinya.

Surat Al-Fath menegaskan hal tersebut bahwa keberadaan sebagian orang Mumin yang
menyembunyikan keimanannya di tengah masyarakat Mekkah adalah salah satu sebab
tidak diperintahkannya berperang, sebagaimana firman Allah :

!
"
#
$
%
&
'
(
)$*+
$
,
&
-&. ( /
&
0
(
)$*+
$
1
&
2 ( 3&.
(
)
&
4
5
67&8
"
9 ( :
$
9 5 ;7
&
<
"
=
&
> & /+
$
8
"
9 ( :
$
9 5 ?7
&
@
"
A & B( +
&
4
&
> !
"
#
$
%
&
'( )!*
&
+
,
-
(
.
&
/
&
0( *$ 1
&
2
3
4 " 0
$
5
$
6
(
-!7
(
8
&
6
(
-
!
9
$
:
)!
"
#$
%
&
'
( !")*
'
+' ,
-
./0
-
1
%
2 *3/ 4
'
5' 6 ' 78
%
+
9
&* !'1- )
9
+
'
:
'
& *;
/
<98 ' ='> - ;
'
& / ?!' @
'
8 - 7
'
2
%
A
%
B
'
# - C
'
D E
%
F 25 (

. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu'min dan perempuan-perempuan yang
mu'min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang
menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan
menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang
dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur,
tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang
pedih.(QS. Al-Fath : 25)

Imam Qurtuby berkata dalam tafsirnya : yang dimaksud adalah orang-orang Mumin
yang lemah yang berada di tengah-tengah orang kafir di kota Mekkah, mereka masih
menyembunyikan keimanannya, sehingga jika kalian memerangi orang-orang kafir,
khawatir orang-orang Mumin yang lemah tersebut dan masih menyembunyiak
keimanannya ikut terkena sasaran. Lalu orang-orang Musyrik akan berkomentar :
Mereka telah memerangi sesama ummatnya sendiri, kalau saja orang-orang Mumin
tidak berada di tengah-tengah orang-orang kafir pastilah mereka telah dimusnahkan,
tetapi Allah menahan orang-orang beriman dari orang-orang kafir. Dalam hal ini Ibnu
Katsir juga berkata : Seandainya di antara orang-orang kafir terdapat orang-orang yang
masih menyembunyikan keimanannya dan menyamar di tengah-tengah mereka, pastilah
kami (Allah) akan menjadikan kalian (Umat Islam) berkuas atas mereka dan memerangi
mereka, tetapi diantara mereka terdapat laki-laki dan wanita beriman yang kalian tidak
ketahui pada saat terjadinya peperangan.


Kesimpulannya adalah tidak mengapa berdakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik
pada saat orang shaleh dan umat Islam masih bercampur baur dengan yang lainnya,
karena penggunaan bahsa kekuatan dalam keadaan seprti itu akan menimbulkan dampak
negatif bagi dawah dan para dainya, hal ini disebabkan oleh :

- Penetangan berbagai kelompok masarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan
dan teror, dan semakin banyak orang yang berlepas diri dari dakwah.
- Dawan dengan cara hikmah dan nasehat yang baik akan terhapus, tidak ada
lagi sarana untuk saling memahami kecuali bahasa kekuatan.
- Para Dai meninggalkan tempat-tempat dakwah potensial beralih ke gua,
lorong dan tempat-tempat terpencil.
- Akan semakin asing pemikiran-pemikiran yang melazimkan pendidikan
masyarakat dan pengarahannya.
- Islam dihadapkan oleh jargon dan slogan perlawanan dan anggapan para
tokohnya bahwa mereka tidak paham kecuali bahasa kekuatan dan kekerasan.
- Merugikan dakwah, karena para dai yang telah tiada sulit untuk dicari
gantinya.
- Mencegah banyak orang yang akan bergabung dengan dakwah, karena mereka
memahami bahwa dakwah tidak memiliki sasaran yang jauh dan mendalam
untuk mengarahkan masarakat dapat menerima Islam. Tetapi yang ada seolah-
olah bahwa yang diinginkan oleh seorang Muslim hanyalah mati di jalan
Allah, Ia tidak memiliki garis program yang jelas dan tegas dalam mengambil
sikap terhadap berbagai fitnah yang menimpa anak-anak, kerabat dan
tetangganya. Ketika seorang Muslim tidak meletakan dalam perhitungannya
perbandingan kekuatan dengan kekuatan musuh-musuhnya, maka Ia akan
mengupayakan perjuangannya untuk Islam dengan cara bunuh diri, meskipun
hali itu di jalan Allah!!.

CATATAN :

Ada pencampuradukan antara tabiat jamaah dan tabiat masyarakat, orang-orang ada yang
meminta kepada jamaah sebgaiman yang mereka tuntut dari masyarakat, mereka lakukan
itu karena mereka menganggap bahwa jamaah identik dengan masyarakat. Yang benar
adalah bahwa jamaah itu kumpulan individu-individu yang salang bertema di atas fikrah
dan loyalitas tertentu, serta garis kebijakan (khittah) tertentu, dan mereka memliki
struktur dan kepemimpinan. Merekanmnyebar di tengah-tengah kelompok masyarakat,
dengan jumlah yang tidak mayoritas, juga tidak memliki kekuatan yang efektif dalam
menyiapkan sebuah tatanan masyarkat berikut institusinya. Gambaran umat Islam di kota
Mekkah sebelum hijrah adalah contoh dari keberadaan sebuah jamaah.

Sedangkan masyarakat adalah komunitas manusia yang terikat kepada aturan dan tunduk
kepada penguasa, komunitas ini telah memiliki lembaga dan wadahnya yang
eksisitensinya tidak dapat ditentang oleh siapapun, komunitas ini bekerja sesuai denga
nilai-nilai yang telah disepakati bersama. Masyarakat di kota Madinah setelah Hijrah
adalah contoh kongkrit dari salah satu bentuk masyarakat.
KESIMPULAN :

Jadi jelasnya seyogyanya kita membedakan antara satu bentuk masyarakat yang dihadapi
dengan bentuk masyarakat lainnya, karena masyarakat adalah satu komponen yang
sempurna dan wadah yang telah efektif dan dinamis, tidak dapat dihentikan oleh
kontribusi dan perkembangan. Di tengah-tengah masyarakat terdapat lembaga-lembaga
pendidikan yang sedang berjalan, dan lembaga-lembaga ekonomi yang tengah
berproduksi., serta program-program tarbiyah yang sedang berjalan. Sementara Pada saat
jamaah berada dalam kancah peperangan, program pendidikan, ekonomi, aktifitasnya dan
seluruh sarana-sarananya akan berhenti beroperasi, yang pada akhirnya keberadaannya
akan dieliminasi dan disingkirkan, di sisi lain individu masyarakat tidak merasakan
kerugian apa-apa.

NABI : ANTAR JAMAAH DAN MASYARAKAT

Komitmen dengan prinsip tersebut di atas, Rasulullah tidak setuju ketika sebagian
sahabat Anshar pada saat perjanjian Aqabah meminta izin untuk menyerang orang-orang
Mina. Mereka bersikap seperti itu setelah mereka menyatakan baiat untuk memerangi
baik orang kulit merah atau kulit hitam. Menanggapi permintaan mereka Rasulullah
hanya berkata : !"#$ %&'( )" kita belum diperintahkan untuk itu. Setelah itu merekapun
pulang dan kembali ke Madinah.

Kalau sasaran dakwah hanya pelampiasan balas dendam kepada tokoh-tokoh Musyrik,
Rasulullah pasti langsung memerintahkan para pengikutnya untuk memerangi mereka,
atau bila hanya ingin mengantarkan umat Islam ke tingkatan syahid, pasti mereka akan
langsung bangkit berperang setelah baiat. Sikap seperti itu adalah tindakan yang tidak
sejalan dengan sasaran dan kemaslahatan yang dilindungi oleh agama.

Begitulah keadaan di kota Madinah, karena penduduk Madinah tidak masuk Islam
seluruhnya dalam waktu yang bersamaan, tetapi masih tersisa beberapa kelompok orang
Munafik yang selalu berbuat onar dan melakukan konspirasi terhadap umat Islam.
Rasulullah SAW menggantikan perang fisik dengan perang dakwah (propaganda),
diskursus dan debat kondusif.

Mengambil pertimbangan dalam menghadapi desakan realitas :
Tidak diragukan lagi, bahwasanya realitas kaum muslimin memiliki pengaruh yang besar
terhadap pemikiran dan rutinitas mereka, terkadang realitas tersebut menekan sampai ke
tingkat di mana seorang Muslim kehilangan kemampuannya dalam mempersepsi manhaj
yang digariskan. Lalu ia bertanya-tanya : Sampai kapan kita berada di bawah himpitan
penderitaan?, Apakah tidak ada lagi dalam keadaan seperti ini, kecuali hanya sabar dan
terus bersabar! Ketika itulah kaum militan akan menyambut pertanyaan tersebut di ats
dengan sikap frontal dan pelampiasan dendam, walupun dengan mengatasnamakan
dakwah. Al-Quran mengingatkan kita pemikiran yang menipu dan menjelaskan bahwa
kebanyakan orang yang terlampau semangat dan emosional adalah mereka yang ditimpa
oleh gejolak tekad yang tidak pada tempatnya.

Dari sisnilah arti sebuah keberanian pada fase dakwah di kota Mekkah adalah dengan
menahan tanga dan meredam gejolak jiwa, hal ini bukan berarti takut atau pengecut.
Keberanian pada fase dakwah di Madinah adalah peperangan dan melawan musuh. Siapa
saja yang tidak pandai mengelola keberaniannya di kota Mekkah dengan menahan
tangannya dan meredanm emosinya, maka Ia akan bimbang dan melemah tekadnya
ketika diminta menghadapi orang-orang kafir di medan pertempuran. Bertahan di atas
penderitaan dan luka bersmaan dengan ajakan pelampiasan dendam adalah nilai
keberanian. Sesungguhnya jiwa yang diarahkan untuk membenci kedzhaliman dan
mencintai dendam dan mengarahkannya untuk bersabar demi menjaga kemaslahatan
jama,ah yang baru tumbuh, memerlukan kesungguhandan kesabaran. Nilai jihad adalh
kemenangan dalam menguasai diri bukan memenangkan diri sendiri :


!
" ! #
!
$
%
&
'
( )
*
+
!
"
!
, !-)! (
*
./0 01
'
20
!
3
!
4 !- ! 5* 6/0 01
'
+7
%
8
!
9
!
4
:
;
'
<
!
=
%
>: =
!
9 01
?
@
'
(
:
;'A
!
/
!
B7
%
8 ! C=
%
D
*
/0 E
!
/
%
F
!
G!2
:
;
!
/
!
9 ! "#
$
%
&
' (
&
)
$
* + ,-&.
$
/
0
1(
+
2
$
30 4
!"! #
!
$
%
& '!()*
!
+ ,-
.
&'
!
/
!
0
1
2
!
3
4
5! 6 ) 7! 8
!
9 4 0
!
9
%
)
:
%
2
!
3
4
5! ;! #
!
<'
)
(&, ! = 4 -! 5
4
;
!
>
4
$.?
4
(
%
@
!
"
#
$
#
% &
#
'
(
) *#+#, - .
/
0
#
% # 1 - 2
#
'
#
3*#4
(
5
-
'6 *#+- 7
#
8 # 9 # :- ;
)
!
"#
$
%
&
' & ()
*
+
&
,
-
.
*
/ & 0
&
1 2
&
3
4
/5
$
6
&
+
$
7 8 9- # & :
*
;
&
9
$
:
-
<5
&
1 8 =#
$
,
&
> ?
&
#
-
@A B75 * C?&%
&
D - =
*
> E FG
$
9
&
> 77 (

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah
diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan
munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih
sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan
berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang)
kepada kami beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar
dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya
sedikitpun. (QS. An-Nisa : 77)

Sayyid Qutub Rahimahullah berkata : Allah SWT heran dengan sikap orang-orang yang
saling mendorong kepada semnagt berperang dan bersikap emosional di kota mekkah, di
mana mereka mendapat penderitaan, tekanan dan fitnah dari orang-orang Musyrik.
Padahal Allah belum mengizinkan mereka untuk berperang dengan segala hikmah yang
dikehendaki oleh Allah SWT. Tetapi ketika sampai pada waktu yang telah ditentukan
oleh Allah SWT, diwajibkan atas mereka berperang dan situasinya kondusif untuk itu,
namun sebagian mereka sangat ngeri dan takut

Beliau juga berkata : Sesungguhnya orang yang paling bersemangat, paling miltan dan
emosional, biasanya menjadi orang yang paling lemah dan penakut ketika Ia menghadapi
kesulitan dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Bahkan hal ini terkadang telah menjadi
kaidah, karena semangat dan militansi yang berlebihan biasanya muncul dari kurangnya
perhitungan terhadap realitas beban yang dipikul, bukan dari keberanian dan
ketegarannya menerima resiko. Ketegaran yang kurang dalam memnghadapi situasi yang
sulit dan penuh penderitaan akan mempengaruhi berkurangnya pembelaan dan etos
perjuangan dan pemenangan dengan segala bentuknya. Karena itu ketika mereka
menghadapi beban yang sesungguhnya yang lebih berat dari yang mereka perkirakan dan
lebih sulit dari yang mereka bayangkan, maka merekapun menjadi barisan pertama yang
mundur teratur karena takut dan ngeri. Pada saat yang sama mereka yang teguh pendirian
dan siap menanggung penderitaan tetap konsisiten dan istiqomah dan mempersiapkan
segala sesuatunya bila diperlukan.

KEWJIBAN PARA MUWAJJIH DAN MUFAKKIR

Terkadang gelombang militansi yang belebihan ikut mempengaruhi barisan para
murabby, muwajjih dan pemikir, sehingga mereka kehilangan kendali dan kontrol
kepemimpinan. Ini adalah keberlangsunagn yang sanagat berbahahaya, sebagaiman
berbahayanya keberlangsungan ahli maksiat dalam kemaksiatannya, maka
keberlangsungan orang-orang yang emosional dan keluar dari garis dakwah yang
kondusif adalah lebih berbahaya lagi. Para Muwajjih yang telah diberikan bashirah dan
makrifah oleh Allah SWT, tetapi mereka terpengaruh oleh emisionalitas pengikutnya
adalah muwajjih yang lemah dan tak berdaya, dan mereka yang paling bertanggung
jawab terhadap dampak emosionalitas ketimbang para pengikutnya.

SOLUSI YANG BENAR

Sesungguhnya tekanan realitas semestinya tidak menggiring pada solusi yang salah,
meskipun untuk sampai pada solusi yang benar harus menunggu waktu yang cukup lama,
Ini yang benar, waktu yang panjang tidak akan menghilangkan makna dan nilai sebuah
kebenaran, sedangkan waktu yang singkat tidak akan menjernihkan kesalahan.

Sesungguhnya solusi yang benar adalah dakwah dengan penuh ketabahan dan kesabaran
dalam menempuh perjalanan yang jauh, berinteraksi di tengah masyarakat dan mencari
faktor-faktor kekuatan dari setiap masyarakat dan mengerahkan kemampuan yang
realitasnya lebih banyak untuk menerima dakwah, yaitu kesungguhan yang tak kenal
jenuh dan lelah, ketika itu fondasi yang kokoh akan berdiri, yang dimulai darinya solusi
yang komprehensif.

Sebelum itu, hingga umat Islam sampai kepada tahapan itu , sesungguhnya akan
membayar harga yang mahal bagi sebuah pengorbanan dan darah, tetapi akan
mendapatkan dengan pertolongan Allah buah kesungguhan mereka, selain jalan ini
mereka juga akan membayar harga yang berlipat ganda bersamaan dengan jauhnya
sasaran.

Ketika masyarakat menerima bahwa Islam adalah aturan dan syariat, hal itu dilihat dari
fokus kekuatannya bila masyaraktnya adalah masyrakat yang Islami, pada saat itulah
terbentuk basisi kekuatan yan mampu memikul beban perang, dan pada saat itu
masyarakat mampu mengoptimalkan seluruh potensinya