You are on page 1of 66

PERMUDAAN TEGAKAN

HUTAN
Permudaan (Regenerasi) :

Kegiatan memperbaharui pohon melalui
pembentukan pohon muda secara alamiah atau
secara buatan
Silvikultur adalah :
Suatu proses dimana pohon-pohon di dalam hutan ditebang,
dan diganti dengan pohon baru yang akan menghasilkan
bentuk tegakan baru yang berbeda dengan tegakan
sebelumnya (Matthews, 1989).
Rangkaian kegiatan berencana mengenai pengelolaan hutan
yang meliputi; Penebangan, Peremajaan dan Pemeliharaan
tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu
atau hasil hutan lainnya (Departemen Kehutanan, 1990)
Sistem Silvikultur mengandung tiga ide utama (Matthews,
1989).:
1. Metoda regenerasi individu pohon dalam hutan
2. Bentuk tegakan yang dihasilkan
3. Susunan/komposisi tegakan di dalam hutan secara
keseluruhan dengan melihat pertimbangan pada
silvikulturnya, perlindungannya dan efisiensi
pemanenannya.
METODE-METODE PERMUDAAN
HUTAN
1. Permudaan Alam (Natural regeneration)
2. Permudaan Buatan (Artificial regneration)
Permudaan Secara Alam :
1. Permudaan Alam dari biji
2. Permudaan Alam dari bagian vegetatif
Permudaan Buatan :
1. Penanaman Bibit (planting seedling)
2. Sebar Benih Langsung (direct seeding)
1. Permudaan dari biji :
Apabila permudaan diperoleh dari benih membentuk suatu tanaman
maka disebut tanaman bibit.
Apabila telah tumbuh maka akan membentuk Hutan Tinggi (high
Forest)
Permudaan alami melalui biji tergantung pada :
a. Produksi biji : jumlah dan viabilitas biji, dimana tergantung pada :
spesies, umur pohon, ukuran tajuk, ikllim dan faktor eksternal
lainnya
b. Penyebaran biji : ditentukan oleh agen pembawa biji yaitu angin,
air, burung, mamalia, dan dll
c. Perkecambahan biji : ditentukan oleh faktor internal biji
(permeabilitas terhadap air dan oksigen, perkembangan embrio,
kemampuan berkecambah, ukuran biji dan viabilitas biji
d. Pembentukan bibit : dipengaruhi oleh perkembangan kar, kondisi
tanah (kadar air, aerasi, hara), cahaya, curah hujan, erosi,
gulma, kebakaran, pengembalaan dan kompetisi tanaman
PERMUDAAN SECARA ALAM
2. Permudaan dari bagian vegetatif :
Apabila permudaan diperoleh dari benih membentuk suatu tanaman
maka disebut trubusan (coppice).
Apabila telah tumbuh maka akan membentuk Hutan rendah (Low
Forest)
Permudaan alami melalui coppice dapat dilakukan dengan cara :
a. Seedling coppice : tunas muncul dari pangkal bibit yang telah
dipotong atau yang terkena api
b. Stool coppice : tunah berasal dari stump pohon hidup yaitu
tunas berasal dari kuncup adventif dari pohon yang ditebang
Reproduksi vegetatif dapat diperoleh melalui beberapa cara :
a. Coppice : reproduksi vegetatif dimana pohon, tanaman atau bibit
dari suatu spesies ketika dipotong dekat permukaan tanah
memproduksi tunas.
b. Root sucker : reproduksi vegetatif dimana suatu akar secara
parsial atau keseluruhan dipotong untuk menghasilkan tunas.
c. Stek : reproduksi vegetatif dimana bagian batang, cabang atau
akar ditanam dalam tanah atau medium agar berkembang
menjadi suatu tanaman
CARA PERMUDAAN ALAM
Seeds Sprouts Suckers Layering
Coppice System
PERMUDAAN BUATAN
1. Penanaman bibit (Planting Seedlings)
Metode regenerasi yang paling disukai
Keberhasilan pertanaman mensyaratkan :
a. Bibit yang sehat dan beradaptasi terhadap iklim dan tempat
tumbuh
b. Bibit yang mendapatkan penanganan, disimpan dan ditanam
dengan benar
c. Tidak ada atau sedikit persaingan dengan vegetasi lainnya
selama awal pertumbuhan
Penyiapan bibit biasanya melalui persemaian
2. Sebar benih langsung (direct seeding)
Penyebaran benih secara langsung di lapangan dengan menggunakan
mesin sebar
Merupakan metode regenerasi yang murah dan efektif untuk
membangun tegakan pohon dan semak pada skala besar
Sekarang ini metode sebar benih langsung cenderung digunakan secara
luas
Percobaan Knight (1993) dan Dalton (unpublished), pada percobaan
pendahuluan mengusulkan bahwa untuk memperbaiki survival bibit
perlu :
a. Merobek tanah untuk memperbaiki penetrasi air dan memecahkan
lapisan keras agar survival tanaman meningkat
b. Menggunakan pisau bertingkat untuk membuang sebagian topsoil
basah dan bedeng bebas gulma
c. Waktu penyebaran menentukan waktu sebar optimum
d. Menggunakan mulsa bitumen and polyvinyl alcohol (PVA) untuk
menstabilkan tanah
e. Mengunakan pupuk untuk mempercepat pertumbuhan bibit
Pada benih yang berukuran kecil, pasir dapat digunakan sebagai media
pembawa benih atau humus (microsite)
Keuntungan metode direct seeding:
1. Mudah dan murah
2. Merupakan alat yang fleksibel untuk menciptakan jarak tanam
yang berbeda
3. Memungkinkan untuk menciptakan tegakan yang sangat rapat
dengan kondisi yang sesuai dengan bentuk pohon dan sifat-sifat
kayu yang diinginkan
4. Mengurangi resiko perubahan bentuk akar dan batang dan
masalah stabilitas bibit
Kerugian metode direct seeding :
1. Kemunculan, survival, dan petumbuhan bibit tidak konsisten
2. Jumlah benih yang disebar meningkat
TEKNIK PERMUDAAN HUTAN
1. Tebang Habis (Clearcutting)
Sistem silvikultur tebang habis digunakan pada tegakan pohon
intoleran naungan. Semua atau sangat banyak pohon hilang
dalam satu kali penebangan. Ukuran, bentuk dan pola
penebangan pada seluruh bentang alam menyerupai pengaruh
gangguan alam yang besar seperti kebakaran..
Areal tebangan dapat ditanami atau ditinggalkan untuk
berregenerasi secara alami dengan spesies-spesies intoleran
naungan. Tegakan pohon individual adalah tegakan seumur.
Spesies-spesies pohon intoleran naungan adalah pohon yang
membutuhkan cahaya penuh tumbuh subur. Spesies ini kadang-
kadang disebut spesies pioner karena yang pertama kali terbentuk
pada tempat-tempat terganggu, terbauka dan dalam jumlah besar,
Tegakan pohon-pohon ini cenderung berumur sama, yang bahwa
semua pohon menjadi terbentuk pada waktu yang sama, biasanya
setelah gangguan utama seperti kebakaran.
Jadi Sistem Silvikultur Tebang Habis adalah :
Menghabiskan seluruh tegakan hutan
Mengurangi kompetisi
Menghasilkan tegakan seumur (even-aged stand)
Menguntungkan secara ekonomi
Metode yang ditolak oleh publik
Memberikan pengaruh tepi

Clearcut System















2. Seleksi Pohon-Tunggal
(Single Tree Selection)
Metode panen yang sangat cocok pada tegakan tidak
seumur (uneven-aged stand) apabila regenerasi
spesies toleran naungan yang diinginkan
Menjadi khas untuk spesimen besar dan bernilai dari
overstory yang dihilangkan untuk menciptakan ruang
(gap) dalam tajuk yang mensimulasikan kematian
suatu pohon tua.
Dapat sangat sulit dalam pelaksanaannya pada
tegakan yang rapat dan terjadi kerusakan pada
tegakan sisa (residual stand).
3. Seleksi Kelompok (Group Selection)
Metode regenerasi pada tegakan tidak seumur
(uneven-aged stand) apabila regenerasi spesies
intoleran naungan yang diinginkan
Masih dapat mengakibatkan kerusakan pada tegakan
sisa pada tegakan rapat, karena arah tebangan dapat
meminimalkan kerusakan.
Rimbawan dapat melakukan lintas seleksi pada
kisaran kelas diameter di dalam tegakan dan
mempertahankan kelas diameter dan umur tertentu

Selection System
Group Selection based on openings up to 1.0 ha
(Adreas et al., 2007)
4. Metode Pohon Induk
(Seed-Tree Method)
Metode regenerasi pada tegakan seumur (even-aged
stand), yang menyisakan ruang yang lebar pada pohon
sisa agar menyediakan benih yang seragam lintas areal
panen.
1. 2-12 pohon benih/ha (5-30/ha ) adalah tegakan
tinggal agar mergenerasi hutan.
2. Menahannya hingga regenerasi menjadi terbentuk
pada titik dimana sudah memungkinkan dipanen.
3. Tidak selamanya secara ekonomi dapat berjalan
atau secara biologi ingin memasukkan kembali
tegakan untuk membuang pohon-pohon benih yang
tersisa.
3. Pohon induk yang ditebang juga dapat diperiksa ulang
sebagai tebang habis dengan permudaan alam dan
semua masalah terkait dengan tebang habis
4. Metode ini sangat cocok untuk spesies-spesies
membutuhkan cahaya untuk membentuk biji dan tidak
mudah roboh akibat terpaan angin.
Seed-Tree Method
A slash pine stand, with half the original stand still intact (right side)
and the other half following the seed-tree cut (left side).
Scarification can be done by disking to expose bear mineral soil, as
in this ponderosa pine stand in the Pike National Forest of
Colorado
5. Pohon Pelindung (Shelterwood)
Suatu sistem silvikultur dimana kayu dihilangkan
secara bertahap dalam dua atau lebih penebangan
tergantung pada perkembangan regenerasi.
Tujuan utamanya adalah untuk melindungi dan
perlindungan perkembangan permudaan
Pohon-pohon yang tumbuh vigor dipertahankan untuk
menyediakan perlindungan, sumber benih; peningkatan
diameter cepat dan bernilai serta melindungi kerusakan
tempat tumbuh
Kriteria pohon yang ditinggalkan sebagai pelindung
adalah berukuran besar, pohon dominan, pohon tahan
terpaan angin, spesies dengan sifat-sifat fisik yang
diinginkan.
Metode regerasi dengan menghilangkan pohon
dalam tiga kali seri panen :
1. Tebang persiapan (Preparatory cut)
2. Tebang Pembentukan (Establishment cut)
3. Tebang buang (Removal cut).
Tujuan metode ini adalah membentuk reproduksi
hutan baru dibawah naungan dari pohon sisa.
Tidak seperti metode pohon induk, pohon-pohon
sisa mengubah kondisi lingkungan tumbuhan
bawah (seperti : cahaya, suhu dan kelembaban)
yang mempengaruhi pertumbuhan bibit pohon.
Shelter wood system
Keuntungan :
Penandaan dan penebangan pohon-pohon lebih sederhana dari
pada sistem seleksi
Tanah tidak benar-benar gundul sehingga resiko kerusakan tanah
dan erosi kecil
Pelaksanaan permudaan dilakukan dibawah perlindungan tanaman
lebih tua, sehingga bahaya invasi oleh gulma dan rerumputan kecil
Tanaman muda dilindungi dari faktor lingkungan merugikan seperti
dingin, beku dsb
Untuk permudaan diperoleh dari biji yang didapatkan dari pohon
terseleksi baik , tanaman baru akan superior.
Sistem ini cocok untuk permudaan spesies yang membutuhkan
cahaya dan pembawa naungan.
Pengawasan dan kontrol berbagai kegiatan mudah dilakukan
Dari segi estetika, sistem ini merupakan sistem ini lebih ungu=gul
dari pada sistem tebang habis

Kerugian :
Karena banyak kayu dihilangkan dalam lebih dari satu
kali kegiatan maka menyebabkan banyak kerusakan
pada tanaman muda
Pembawa benih terisolasi sehingga rentan terhadap
kerusakan angin
Setelah pohon benih ditebang, terjadi invasi gulma dan
dapat mempengaruhi tanaman permudaan
Pengendalian gula dan pembersihan dapat dilakukan
pada periode yang lama dan permudaan alami menjadi
sangat mahal

Pola Penebangan:
1. Tebang persiapan (Preparatory cut)
Penebangan dibuat pada sistem Hutan Tinggi, biasanya
mengarah pada rotasi akhir, dengan obyek yang menciptakan
kondisi yang sesuai untuk produksi benih dan permudaan
alami
Menciptakan ruang (gap) dalam tajuk
Menciptakan kondisi yang sesuai pada lantai hutan
2. Tebang Permudaan (Regeneration cut)
Penebangan dibuat dengan suatu tinjauan untuk mengundang
atau membantu permudaan pada sistem pohon pelindung,
yang meliputi : tebang perbenihan (seeding felling), tebang
sekunder (secondary felling) dan tebang akhir (final felling).
1. Tebang Perbenihan : membuka tajuk dari suatu tegakan dewasa
agar menyediakan kondisi untuk mengamankan regenerasi dari
pohon benih yang disisakan untuk tujuan ini. Ini adalah tahap
pertama regenerasi.
2. Tebang sekunder : suatu tebang permudaan yang dilakukan
antara tebang perbenihan dan tebang alhir pada sistem pohon
pelindung agar membuang pelindung secara bertahap dan
memberikan tempat terhadap peningkatan cahaya untuk tanaman
regenerasi. Pembuangan pohon dalam tebang sekunder
tergantung pada perkembangan permudaan dan persyaratan
cahayanya. Ini juga membantu dalam memanipulasi tanaman
campuran
3. Tebang akhir : membuang pohon pelindung dan pohon benih
setelah permudaan terpengaruh oleh pohon pelindung. Tahap
akhir dalam tebang permudaan ketika areal benar-benar telah
terbentuk permudaan.
Tahapan Penebangan Dalam Permudaan Sistem Sheter
Siklus Tahapan Penebangan Dalam Permudaan Sistem Shelter
MACAM-MACAM SISTEM POHON
PELINDUNG (SHELTERWOOD)
1. Uniform shelter wood system (Uniform System):
Tajuk terbuka secara seragam meliputi seluruh ruang-ruang areal
untuk mendapatkan regenerasi yang seragam dibawah
perlindungan pohon tua yang tersisa
2. Strip shelter wood system:
Tebang permudaan dalam bentuk jalur (strip) secara berturut-turut
dari satu sisi ruang (compartemen), terus kearah berlawanan
dengan arah angin. Lebar strip bervariasi menurut kondisi lokasi
3. Group shelter wood system:
Suatu sistem silvikultur yang mana tebang permudaan yang
dilakukan secara seragam ke seluruh kompartemen (ruang), yang
dilakukan dalam kelompok yang terpencar dengan fokus pada
regenerasi dapat diperbesar secara sentrifugal yang pada akhirnya
bergabung dengan lainnya. Kemajuan pertumbuhan merupakan
sumber regenerasi.
4. One cut shelter wood system:
Dalam sistem ini, tebang regenerasi dilakukan dalam satu kali
pelaksanaan. Dipakai hanya jika regenerasi berkembang dengan
baik
5. Indian Irregular shelter wood System:
Sistem silvikultur dimana tanaman dewasa dengan regenerasi
rekalsitran mempunyai jumlah dan perkembangan pertumbuhan
yang pesat dari berbagai umur dan ukuran termasuk ukuran tiang
dan pohon berdiameter 40 cm, yang mana disisakan sebagian
untuk tanaman berikutnya. Tanaman yang diregenerasi dibuka
secara tidak teratur sehingga menhasilkan tegakan tidak seumur.
Sistem ini dilaksanakan pada hutan evergreen di India.
6. Irregular shelter wood system:
Tebang permudaan pada pola sistem kelompok tetapi sebagai
periode regenerasi yang lama, tanaman yang diproduksi adalah
tegakan tidak seumur atau irreguler. Ini adalah gabungan antara
sistem seleksi dan sistem pohon pelindung kelompok/group.
Uniform shelter wood system
(Adreas et al., 2007)
Strip shelter wood system
Group shelter wood system
One cut shelter wood system
Irregular shelter wood system
Perlakuan-perlakuan Lanjutan
(Intermediate Treatments)
1. Terjadi antara periode pembentukan dan pemanenan
tegakan
2. Memperbaiki komposisi spesies, laju pertumbuhan dan
kualitas pohon
3. Dapat atau tidak dapat menghasilkan generasi
4. Perawatan dilakukan bukan untuk menghilangkan
semua spesies yang tidak diinginkan
1. Perlakuan Pembebasan
(Release Treatments)
Pohon-pohon muda
Pohon-pohon yang diinginkan bebas dari pohon
pesaing yang tidak diinginkan
Umumnya menggunakan herbisida
Dilakukan untuk membantu pembentukan tegakan
hutan
Ide ini
memungkinkan
pohon lebih
berkualitas,
lebih banyak
ruang untuk
tajuk, yang
mana
mengubah
pertumbuhan
diameter lebih
cepat
Sesudah
Sebelum
Tampak Atas Tampak Samping
2. Pengendalian Gulma
(Weeding)
Suatu perlakuan yang dilaksanakan selama tegakan pada
tingkat bibit yaitu menghilangkan atau mengurangi
tumbuhan herba atau tumbuhan rumput berkayu sebagai
pesaing

3. Pembebasan (Cleaning)
Pembebasan sapling terpilih dari pesaing oleh pohon-
pohon yang mempunyai tajuk rindang pada umur yang
sebanding.
Perlakuan cocok pada pohon-pohon dari spesies yang
diharapkan dengan batang berkualitas
4. Tebang Pembebasan
(Liberation Cutting)
Suatu perlakuan dengan membebaskan bibit pohon
atau sapling dengan cara membuang pohon-pohon
yang lebih tua yang terlalu tinggi (overtopping)
5. Tebang Pemeliharaan
(Improvement Cuts)
Membuang pohon-pohon yang jelek bentuknya,
terserang penyakit dan cacat
Biasanya dilakukan pada tegakan yang lebih tua
dengan perlakuan pembebasan
Perlu untuk membiarkan beberapa pohon liar
Pohon-pohon sisa biasanya akan tumbuh lebih baik
6. Penjarangan (Thinnings)
Dilakukan untuk mengurangi kerapatan tegakan
Membuang spesies sama dari pohon tinggal
Tidak selamanya meningkatkan produksi kayu
Pohon-pohon sasa mendapatkan lebih banyak
cahaya, air dan unsur hara.
Mendapatkan beberapa hasil dari hutan
Tipe-tipe penjarangan :
1) Penjarangan rendah (Low Thinning) : Penjarangan
dari bawah, membuang pohon-pohon dari kelas
tajuk lebih rendah atau tengah, biasanya pohon-
pohon intermediat atan tertekan.
2) Penjarangan Tinggi (high Thinning) : menciptakan
ruang (gap) dalam tajuk yang memungkinkan
pohon tinggal (dibiarkan) untuk tumbuh besar,
membuang pohon intermedia atau kodominan,
pohon tertekan juga dapat dibuang
3) Penjarangan mekanis (Mechanical thinning) :
pohon-pohon dibuang dalam bentuk baris atau
strips tanpa memperhatikan kelas pertumbuhan
7. Pemupukan (Fertilization)
Dapat secara nyata meningkatkan hasil
Biasanya bermafaat jika diketahui jelas adanya
defisiensi unsur hara
Biasanya hanya respon sementara terhadap
peningkatan produktivitas

Perlakuan-Pemupukan
8. Pemangkasan (Pruning)
Membuang cabang-cabang yang lebih rendah
Menghasilkan kayu yang bebas mata kayu
Log lebih bernilai
Membutuhkan banyak waktu dan mahal
Perlu dilakukan beberapa kali

Teknik Pemangkasan Yang Benar
Pemangkasan (Pruning)
Pemangkasan (Pruning)
9. Pembakaran (Burning)
Pembakaran secara berkala dapat mengurangi
kompetisi oleh gulma yang tidak diinginkan di sebagian
tempat
Umumnya bertujuan untuk :
1. Mengurangi hutan untuk kayu bakar
2. Mengontrol vegetasi kompetitor
3. Persiapan bedeng semai
4. Memelihara suatu tingatan suksesi
5. Memelihara habitat untuk spesies satwaliar tertentu
Pembakaran
10. Tebang Penyelamatan (Salvage
Cuts)
Membuang pohon yang lemah akibat
kebakaran atau serangan serangga
Membuang pohon-pohon saat kayu masih
berharga
Biasanya tanpa batasan ukuran pohon
I. Tebang Bahaya (Hazard Cuts)
Membuang pohon-pohon yang berpotensi
menimbulkan kerusakan barang-barang atau tempat
tinggal
Menghalangi jalan, areal publik dan pemukiman
Berharga bagi pemilik lahan
Mungkin memerlukan peralatan dan penanganan
khusus
J. Tebang Selektif (Selective Cutting)
Menyeleksi pohon-pohon tertentu untuk ditebang
Mempertahankan suatu tegakan pada berbagai
umur pohon
Menyediakan untuk pemanenan setiap 15 20
tahun
Lebih diterima oleh publik

1. Selective cutting:
Individu pohon yang akan ditebang ditandai
Biasanya pohon yang lebih kecil dan jelek.
Kadang-kadang pohon dari spesies spesifik
2. Shelterwood cutting:
Pohon yang tidak diinginkan atau mati
Daun-daun lambat dewasa.
3. Seed- tree cutting:
Membuang semua pohon kecuali pohon untuk
benih (pohon dewasa dengan sifat genetik baik)
untuk regenerasi hutan.
K. Pencadangan (Re-stocking)
1. Pembiakan secara vegetatif :
a. Penumbuhan tunas pada pucuk dorman dari
batang
b. Hanya spesies tertentu yang bertunas
c. Pada awalnya tumbuh cepat karena akar
d. Dapat dibuat Stek dan dipindahkan
e. Sumber makanan yang baik untuk satwaliar
L. Tebang Pemeliharaan
(Sanitation Cutting)
Membuang pohon-pohon rusak atau terserang
penyakit


M. Tebang Penyelamatan
(Salvage Cutting)