You are on page 1of 3

Pintu Meraih Sukses Dalam Hidup

Bagikan

09 November 2009 jam 7:57

Semua orang menginginkan agar hidupnya sukses. Mereka ingin
menjadi orang yang dianggap hebat, baik di bidang pendidikan,
ekonomi, status social dan lainnya. Di bidang pendidikan misalnya,
mereka menghendaki agar berhasil meraih jenjang pendidikan
tertinggi dibanding teman-temannya. Di bidang ekonomi, mereka ingin
menjadi kaya, melebihi orang lain. Dan begitu juga dalam status social,
mereka ingin menjadi orang terpandang, sebagai tokoh, orang yang
didengar pendapatnya dan diikuti perilakunya.

Hal serupa juga dicita-citakan oleh mahasiswa. Mereka pada umumnya
ingin mendapatkan indeks prestasi tertinggi, lulus dan diwisuda
dengan tepat waktu. Selesai kuliah, berharap segera mendapatkan
pekerjaan, dihormati orang, dan diposisikan sebagai orang pilihan,
pendapatnya didengarkan dan perilakunya dijadikan acuan banyak
orang. Harapan seperti itu wajar, dan justru jika tidak memiliki cita-cita
seperti itu, malah terasa aneh. Ada orang sebatas cita-cita saja tidak
memilikinya.

Akan tetapi memang anehnya tidak semua orang mau menempatkan
diri pada jalan yang memungkinkannya berhasil meraih cita-cita itu.
Orang sukses di bidang apa saja selalu disebabkan oleh karena yang
bersangkutan berhasil menempatkan diri pada posisi yang tepat. Jalan
menuju sukses harus dilalui bagi orang yang menginginkannya. Tidak
akan mungkin seorang menjadi sukses dalam hidupnya, jika mereka
tidak menampatkan diri pada jalan itu.

Seorang pedagang menjadi sukses, karena mereka berhasil
menyesuaikan diri dengan jalan sukses pada umumnya sebagai
seorang pedagang. Seorang petani sukses karena mereka mengolah
lahan pertaniannya secara tepat. Mereka berhasil mendapatkan lahan
yang subur dan luas, mengolah tanahnya dengan cara yang tepat.
Pintar memilih jenis tanaman, bibit unggul, pemupukan dan bahkan
hingga memasarkan hasil pertaniannya dan seterusnya.
Demikian pula seorang calon mahasiswa, tatkala diterima masuk
perguruan tinggi, mereka ingin sukses, kelak menjadi seorang ahli
sesuai dengan jurusan yang dipilihnya. Cita-citanya berhasil dibangun.
Mereka memiliki imajinasi tentang masa depan yang jelas. Mereka
ingin menjadi sarjana yang hebat, tidak sebagaimana sarjana pada
umumnya. Dengan pilihan itu, maka mereka akan bisa berbuat untuk
kepentingan dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah setiap mahasiswa selalu
mengambil sikap seperti itu. Ternyata dalam kenyataannya tidak
selalu demikian. Biasanya, beberapa minggu mengikuti kegiatan
pendidikan di kampus, mereka berhasil membangun semangat.
Perpustakaan didatangi, buku-buku yang dianggap penting untuk
menunjang belajarnya dibeli, jadwal kegiatan disusun secara rapi, dan
bahkan teman-teman yang dianggap bisa mendorong keberhasilannya
didekati.

Namun ternyata, tidak lama kemudian semangat itu kendor. Kuliah
dijalani hanya sebatas memenuhi tuntutan formal. Mereka masih
datang ke ruang kuliah sebagaimana teman-teman lainnya. Demikian
pula, mereka juga mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh
dosen. Tetapi tugas itu hanya dikerjakan sebatas untuk memenuhi
persyaratan yang ditentukan. Hari ke hari, hidup di kampus seperti itu
dijalani, tetapi semua itu seperti tidak ada lain kecuali hanya sebatas
memenuhi syarat dan rukun hidup di perguruan tinggi. Semangat atau
jiwa belajar segera redup. Sedangkan yang tersisa hanyalah sebatas
datang ke ruang kuliah, mencatat, mengerjakan tugas, mengikuti
ujian, dan akhirnya lulus berhasil mengumpulkan sejumlah sks sebagai
syarat dinyatakan lulus menjadi sarjana.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah mereka itu telah berada pada
jalan menuju sukses yang sebenarnya. Tentu jawabnya tidak
sederhana. Jika yang dimaksud sukses hanya sebatas mendapatkan
ijazah, maka setelah berhasil mengumpulkan sejumlah sks
sebagaimana yang dipersyaratkan, mereka akan diwisuda dan
selembar ijazah yang dicita-citakan akan segera diperoleh.
Selanjutnya, jika kebetulan ada lowongan penerimaan CPNS, ijazah itu
juga bisa digunakan untuk mendaftar dan manakala beruntung lulus,
yang bersangkutan akan menjadi pegawai negeri. Pada batas-batas
seperti ini, mereka sukses. Akan tetapi, apakah hanya sesederhana itu
yang dicita-citakan.

Jika yang dicita-citakan lebih dari itu, yaitu menjadi orang yang
terpandang melebihi orang lain pada umumnya, maka sudah barang
tentu apa yang dijalankan sebagaimana digambarkan di muka masih
kurang mencukupi. Sebagai orang yang terpandang maka harus
membekali diri dalam berbagai halnya melebihi dari lainnya. Jika orang
biasa hanya selalu berpikir untuk dirinya, maka sebagai orang yang
memiliki kelebihan harus berpikir bagi orang lain. Jika orang lain pada
umumya, masih memerlukan dorongan, maka orang berlebih yang
disebut sukses itu justru selalu mendorong orang lain. Seorang yang
sukses, karena kelebihan yang dimilikinya itu harus selalu berposisi
sebagai pemberi. Mereka harus menempatkan diri sebagai inspirator,
motivator, dinamisator, atau kekuatan penggerak bagi lainnya.

Dengan cara itu, mereka bukan lagi menjadi orang biasa atau sebagai
orang pada umumnya. Orang sukses selalu mampu menempatkan diri,
yaitu berada pada jalan atau pintu menuju keberhasilan itu. Posisi itu
diraih, karena mereka berhasil membangun jiwa maju dan dinamis,
dan dilakukan secara istiqomah. Mereka memiliki keberanian dan tekat
untuk meraih cita-citanya itu. Padahal pintu atau jalan itu tidak selalu
mudah dilalui, namun tetap dipilih dan dijalaninya. Bahkan berbagai
rintangan selalu menghadang, tetapi tidak pernah dijauhi.
Bermodalkan keberaniannya itu justru rintangan itu selalu didekati dan
disingkirkannya. Hidup sukses memang ada pintu dan jalannya,
sedangkan siapa saja yang ingin meraihnya , pintu atau jalan itu harus
dilalui. Wallahu a’lam.