You are on page 1of 3

KEPEMIMPINAN DAN TRANSFORMASI

*
Oleh Djamaludin Ancok

Peran seorang pemimpin sangat menentukan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup
sebuah perusahaan. Dalam buku the Living Company, Arie De Geuss bercerita tentang
banyaknya perusahaan yang mati karena dikelola oleh pemimpin yang tidak memiliki
pandangan ke depan. Di saat kinerja perusahaan mulai memburuk dan perusahaan merugi
diperlukan seorang pemimpin yang mampu menyelamatkannya. Dalam kondisi demikian
seorang pemimpin harus melakukan langkah nyata demi memperbaiki angka kinerja
perusahaan. Pada umumnya pemimpin akan berorientasi jangka pendek demi
menyelamatkan perusahaan yang sedang berdarah (bleeding). Pemimpin biasanya akan
bergaya transaksional dengan membuat berbagai kriteria unjuk kinerja (key performance
indicator) yang harus dicapai karyawan. Karyawan yang tidak mencapai target KPI akan
dipindahkan atau diberhentikan. Suasana kerja akan sangat tidak mengenakkan karena
masing-masing karyawan akan menekan bawahannya agar mencapai target kerja unit
yang ditetapkan. Di sini terjadi proses seperti orang menginjak pedal gas mobil supaya
berlari cepat. Pimpinan mulai dari lini paling atas sampai ke lini yang paling bawah
sama-sama menginjak pedal gas ke bawah, seperti sebuah mata rantai sampai yang paling
bawah akan keplenyet (terperas) kemampuannya. Dalam kondisi perusahaan yang
memang kinerjanya sedang bermasalah hal seperti ini dianggap sebagai sebuah pilihan
yang harus dilaksanakan. Tetapi apabila kebiasaan ini terus dilaksanakan di saat
perusahaaan dalam kondisi sangat baik kinerjanya maka ada kemungkinan perusahaan ini
akan menuai petaka. Menurut Bass seorang ahli kepemimpinan, suasana kerja yang
transaksional ini tanpa diimbangi oleh suasana kerja transformasional akan membuat
karyawan menderita lahir dan bathin. Kehidupan di perusahaan akan seperti robot yang
karyawannya terus menerus dikejar oleh target dan dead-line..Menurut pandangan John
Naisbitt dalam buku mutakhirnya Mindset, karyawan akan tidak bahagia, they die before
they have to die. Karyawan akan hilang komitmen untuk berbuat yang terbaik bagi
perusahaan. Bila ada pilihan lain, sangat besar kemungkinan karyawan yang baik akan
meninggalkan perusahaan.

Dalam kondisi perusahaan sudah baik setelah turn –around, seorang pemimpin perlu
mengkombinasi gaya kepemimpinannya ke arah transformasional. Menurut Bass ada
empat ciri kepemimpinan transformasional: inspiring motivation, individual
consideration, intellectual stimulation, dan idealized influence. Sang pemimpin selain
bersifat visioner dalam melihat tantangan ke depan dia juga harus membangun budaya
perusahaan yang menumbuhkan three-M (Meaning, Membership, Mastery) menurut
pandangan Rosabeth Moss Kanter dari Harvard Business School. Seorang pemimpin
harus mampu menumbuhkan perasaan bermakna (Meaning) dalam bekerja. Bekerja
bukan soal mencari uang saja tapi ada hal yang lebih mulia di balik itu. Sebagai contoh
karyawan di perusahaan listrik harus memahami bahwa pekerjaan mereka amat mulia.
Betapa susahnya hidup manusia kalau listrik mati di saat berada di dalam elevator di
lantai 25 sebuah gedung perkantoran. Orang mengalami sesak nafas, gelap dan ketakutan.
Contoh lainnya betapa mengerikannya di saat seorang sedang operasi jantung di rumah
sakit, tiba-tiba listrik mati di saat jantung sedang dioperasi . Pemimpin berkewajiban
untuk menginspirasi karyawan dengan inspiring motivation untuk menghayati betapa
besarnya kontribusi perusahaan bagi kepentingan ummat manusia. Selain itu pemimpin
perlu memanusiakan manusia. Dia memperlakukan karyawan sebagai anggota
perusahaan yang terhormat (Membership), bukan hanya sebagai pekerja yang dibayar
upahnya karena dia sudah menyelesaikan tugas. Dia sangat peduli dengan karyawannya
(individual consideration). Tapi dalam kenyataan sangat sering seorang pemimpin
bergaya seperti seorang boss yang berkuasa yang tidak menghormati peranan karyawan
yang berada di strata bawah. Bicaranya ketus, suka marah-marah pada bawahannya, dan
tidak mengapresiasi hasil kerja bawahannya. Padahal sukses seorang pemimpin sangat
ditentukan oleh sukses kerja bawahannya. Di banyak perusahaan BUMN yang pernah
saya teliti, kami memasukkan dua pertanyaan dalam survei budaya perusahaan.
Pertanyaan pertama:”Pernahkah anda dipuji pimpinan anda kalau anda bekerja dengan
baik”. Pertanyaan kedua: ”Pernahkah anda dimarahi pimpinan kalau anda bekerja kurang
baik”. Untuk pertanyaan pertama hampir semua karyawan menjawab ”tidak pernah”.
Sedangkan untuk pertanyaan kedua hampir semuanya menjawab ”pernah”. Waktu kami
wawancara kenapa kok demikian? Jawaban sang pemimpin. ”Adalah tugas karyawan
untuk bekerja dengan baik, mereka diupah untuk bekerja dengan baik. Jadi tidak perlu
saya puji karena memang sudah tugas, tapi kalau mereka bekerja tidak baik itu tugas
kami untuk menegurnya.” Betapa menderitanya kita kerja kalo pimpinan seperti ini.

Selanjutnya karyawan yang baik dan ingin maju selalu ingin menambah pengetahuannya
(Mastery). Seorang pemimpin adalah seorang yang merangsang karyawannnya untuk
terus berfikir untuk memperbaiki cara kerja (intellectual stimulation). Dia bertugas untuk
mengembangkan modal intelektual agar perusahan memiliki human capital yang baik
sebagai dasar inovasi perusahaan. Selanjutnya pemimpin perlu menjadi contoh teladan
(idealized influence) bagi pengikutnya. Setiap pemimpin mulai dari pimpinan puncak
sampai ke pemimpin di lini yang paling bawah harus menjadi motor pembelajaran agar
perusahaannya menjadi organisasi pembelajar (learning organization). Dalam dunia
bisnis yang berbasis pengetahuan, hanya perusahaan yang bisa mengelola pengetahuanlah
yang akan sukses. Bila setiap karyawan dalam perusahaan bisa menjadi sumur
pengetahuan, maka perusahaan ini akan kaya dengan inovasi. Itulah sebabnya mengapa
budaya luhur Indonesia selalu mengingatkan pentingnya saling peduli dan saling belajar
melalui silih asih, silih asah, silih asuh.

Tidak semua pemimpin bisa melaksanakan kedua gaya kepemimpinan ini dalam sebuah
proses transformasi perusahaan. Ada berbagai sebab yang membuat mereka tidak mau.
Pertama adalah tipe kepribadian sang pemimpin yang ingin menonjolkan diri dan hanya
merasa hebat apabila memerintah orang lain. Pemimpin tipe ini akan mengatur perubahan
dengan tidak mengajak banyak orang. Transformasi akan menjadi one-man show.
Akibatnya begitu sang pemimpin berhenti sebagai pimpinan, perusahaan kembali ke pola
lama, karena tidak ada perubahan budaya yang melibatkan banyak orang. Penyebab
lainnya adalah pemimpin tidak mempunyai cukup waktu untuk merubah gaya
kepemimpinannya, karena masa jabatan yang terbatas. Khususnya transformasi di
BUMN akan sangat sulit karena keberlangsungan kepemimpinan seseorang di
perusahaan tergantung selera para politisi. Oleh karena itu sangat perlu para politisi
mengutamakan kepentingan perusahaan negara daripada kepentingan politik mereka.agar
para politisi melaksanakan amanah Undang Undang Dasar 45 pasal 33, Cabang-cabang
produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan dipergunakan sebesar-
besarnya untuk kemakmuran rakyat"