You are on page 1of 36

28/01/10

DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH


IMPLEMENTASI PENGGUNAAN ASBUTON LAWELE
di Kabupaten Parigi Moutong
menggunakan
Parmout Asbuton Mixing Plant
PENAMBANGAN
ASBUTON LAWELE
PENGANGKUTAN KE UNIT
PENGOLAHAN
UNIT PENGOLAHAN
ASPAL BUTON
ASBUTONMIX
SIAP PAKAI
1
Unit UPAB
INTRODUCTION
LATAR BELAKANG
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
2
 Kabupaten Parigi Moutong, sebagai Kabupaten Pemekaran,
menghadapi kendala terbatasnya anggaran penanganan jalan.
 Dalam empat tahun terakhir Kabupaten Parigi Moutong telah
memiliki Unit Penanganan Jalan Sentra Produksi (UPJSP), dan
Unit Penanganan Sungai dan Banjir (UPSB)
 UPJSP merupakan Unit Organisasi Swakelola yang dilengkapi
dengan Peralatan Berat : 1 unit buldozer komatsu D85, 1 unit
excavator Komatsu PC-200, 1 buah Wheel Loader Komatsu
WA150, 1 unit motor grader Komatsu GD511A, 1 Unit Vibrator
Roller BOMAG 1 Unit Tandem Roller Bomag, 8 bh Dump Truck,
dan 1 Unit Trailer, dan 1 bh mobile camp. UPJSP dalam 4 tahun
terakhir telah berhasil membangun 400 km jalan sentra
produksi yang tersebar di 20 kecamatan di wilayah Parigi
Moutong.
 UPSB merupakan Unit Organisasi Swakelola yang dilengkapi
dengan 2 Unit Excavator Komatsu PC-200 Long Arm, 1 buah
Whell Loader WA120, dan 2 buah Dump Truck. UPSB melakukan
penanganan normalisasi sungai, penjegahan banjir, dan
penanganan banjir pasca bencana, diseluruh wilayah Parigi
Moutong


28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI
MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH

INTRODUCTION
LATAR BELAKANG

 Harga minyak dunia yang semakin meningkat, semakin
memicu tingginya harga asphalt minyak, dari tahun ke tahun.
 Pemerintah (Dep. PU) memiliki kebijakan untuk menggalakan
pemanfaatan Asbuton sebagai material pengganti / untuk
mengurangi ketergantungan pada penggunaan asphalt
minyak.
 Implementasi Penggunaan Asbuton dalam banyak hal, sering
mengalami kegagalan, karena belum ditemukaannya metode
pengolahan yang efisien, handal, dan memenuhi standar
kwalitas konstruksi jalan.
 Pengembangan teknologi aplikasi dan pengolahan Asbuton
menjadi produk yang marketable harus terus dilakukan agar
pemanfaatan Asbuton menjadi lebih mudah dan dapat
digunakan secara luas.

28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI
MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
INTRODUCTION
LATAR BELAKANG

 Berdasarkan pengalaman keberhasilan implementasi UPJSP
dan UPSB, pada tahun 2009 Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Parigi Moutong mengembangkan UPAB (Unit
Pengolah Aspal Buton yang diberi nama Parmout Asbuton
Mixing Plan.
 UPAB (Parmout Asbuton Mixing Plan) merupakan mesin
pengolah asbuton Lawele dengan Konsep Aplikasi Asbuton
Lawele dengan GRANULASI LANGSUNG, yang telah berhasil
diimplementasikan pada 15 km jalan kabupaten dengan hasil
baik.
 Parmout Asbuton Mixing Plan merupakan perpaduan Asphalt
Mixing Plant dan Mesin Granulasi Langsung Asbuton, yang
dipadukan dalam 1 unit peralatan pengolah asbuton dengan
sistim Hot Mix.
 Dengan memanfaatkan 5000 ton asbuton Lawele bantuan
Ditjen Bina Marga, saat ini terus dilanjutkan peningkatan
jalan menggunakan Parmout Asbuton Mixing Plan pada ruas2
jalan kabupaten dan desa di wilayah Parigi Moutong.






INTRODUCTION
Background : Sejarah pemanfaatan Aspal Buton
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
5
1) Sumber : MvO. H.W. Vonk, Nota Betreffende het zelfbestuurend landschap Boeton, Celebes en
Onderhoorigheden, 1937. Dalam ANRI, Koleksi Microfilm Reel 31, Jakarta. Data tahun 1936-1940
diambil dari Majalah, : “Copra in East Indonesia” in; The Economic Review Vol I No. 4, Departemen of
Economic Affairs, Batavia-Java, tahun 1947, hlm. 122.
2) Petunjuk Bina Marga No. 15/TP/B/1989
3) Buku III Spesifikasi Umum Bina Marga Seksi 6.3 dan Seksi 6.3c

 Jaman Belanda: Produksi dan Pengapalan
sejak tahun 1934 sebanyak 89.000 ton
1)
 Lasbutag Latasbusir
2)
 Superlasbutag dengan asbuton Kabungka
 Campuran beraspal panas dengan asbuton
Lawele
3)
METHOLOGY DATA COLLECTION (2)
Mengenal karakter asbuton (lawel)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
6
 Titik lembek yang tinggi (softening
point), lebih tahan terhadap suhu panas
sehingga memperpanjang umur
konstruksi jalan
 Keras dan kenyal, stabilitas dinamis pada
suhu tinggi, nilai modulus lebih besar,
sifat dasar aspal yang disukai oleh
kendaraan
 Tahan terhadap air karena sifat
alamnya
 Lebih ekonomis karena dapat
mensubtitusi aspal minyak
 Tanpa dilakukan proses
pengolahan/refined yg baik, maka
Asbuton sangat sulit untuk
didistribusikan dan diaplikasikan.
METHOLOGY (DATA COLLECTION 3)
Karakter Aspal Buton LAWELE
 Kadar Bitumen (%) 30.8

 Penetrasi, 25°C; 100gr; 5 detik; 0,1 mm 36

 Titik Lembek, °C 59

 Titik Nyala, °C 198

 Daktilitas; 25°C, cm > 140

 Berat jenis 1.037

 Kelarutasn dalam Trichlor Ethylen;% berat 99.6

 Penurunan Berat (dengan TFOT), % berat 0.31

 Penetrasi setelah penurunan berat, % asli 94

 Daktilitas setelah penurunan berat, cm > 140

 Titik Lembek setelah penurunan berat, °C 62

28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
7
Sifat Bitumen Asbuton Lawele
 Kuat, kokoh dan keras (asphaltene tinggi)

 Lengket dan lentur/fleksibel (maltene/resin tinggi)

 Tahan terhadap perubahan temperatur

 Tahan terhadap perubahan bentuk/deformasi

 Awet/durabilitas tinggi sehingga umur pelayanan
lebih lama
28/01/10 DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
8

INSTALASI UNIT PENGOLAH ASBUTON (UPAB)
PARMOUT ASBUTON MIXING PLANT
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
9
METHOLOGY
Konsep Aplikasi Asbuton Lawele
dengan Granulasi Langsung (UPAB)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
10
 Konsep ini memanfaatkan kandungan bitumen yang tinggi pada asbuton lawele sebagai
binder dalam campuran (substitusi aspal minyak). Methoda ini yang dilakukan Dinas
PU Parigi Moutong.














 Konsep ini menggunakan Aspal Minyak sebagai bitumen control.
Aspal Minyak
As Bitumen
control
Asbuton Lawele
Finish Goods
HOT MIX
2 step crushing
Mixing fugmill AMP
Weighing
Weighing
High temp. Aggregate
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI
MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH


PENGEMBANGAN
PARMOUT ASBUTON MIXING PLANT

INTRODUCTION
Problem & Kelemahan
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
12
 Dari beberapa contoh aplikasi Asbuton yang telah digelar,
menunjukan bahwa kwalitas Asbuton sangat baik. Namun
kendala umum yang ada sampai dengan saat ini adalah :
1. Kesulitan handling dan distribusi asbuton.
2. Belum ada/terbatasnya produk olahan Asbuton, sehingga Asbuton yang
diaplikasi tidak memiliki kwalitas yang terukur dan tidak mudah digunakan.
3. Teknologi aplikasi yang ada saat ini belum memberikan kemudahan kepada
para pengguna/kontraktor jalan dalam pemanfaatannya.
 Kelemahan dan keterbatasan dari unit UPAB, walaupun
kwalitas Hotmix yang dihasilkan relatif cukup baik :
1. Rendahnya kapasitas produksi yang diakibatkan oleh ; kesulitan feeding
(material Asbuton sangat lengket), mixing time cukup lama, tempertaure
aggregat harus sangat tinggi, rentan terhadap flow jam (terutama di unit
crusher).
2. Ketidak-stabilan kwalitas output hotmix, diakibatkan oleh ; adanya
kandungan impurities Asbuton, perlakuan panas tinggi, segregasi campuran,
dan keterbatasan kemampuan tenaga operator.
 Kelemahan dan keterbatasan di atas harus dieliminir dengan
melakukan pengembangan teknologi secara simultan.
METHODOLOGY DATA COLLECTION (1)
KARAKTER ASPAL BUTON LAWELE
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
13
 Memiliki karakter dengan sifat aspalnya yang lengket pada saat
terkena tekanan dan panas sehingga mengalami kesulitan dalam
penanganan dan distribusinya.
 Aspal buton harus diolah sedemikian hingga menjadi bentuk yang
memiliki sifat tidak mudah menggumpal dan mudah cair pada
waktu dicampurkan di dalam pug mil AMP, sehingga mendapat
kemudahan pada saat didistribusikan dan diimplementasikan.
 Diperlukan pengetahuan khusus untuk membuat campuran hotmix
menggunakan bahan baku aspal buton lawele yang membuat tidak
setiap kontraktor dapat memproduksi campuran hotmix dari bahan
asbuton.
 Diperlukan kesinambungan pasokan bahan baku yang mencukupi
sehingga kebutuhan nasional setelah bahan asbuton lawele dapat
diolah dengan baik tidak terganggu oleh keterbatasan bahan yang
ada.
INTRODUCTION
Objective
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
14
 General objective (tujuan secara umum) :
1. Asbuton harus manjadi komoditi yang menarik, sehingga secara ekonomi
dapat menghemat anggaran negara dan meningkatan pendapatan daerah.
2. Asbuton harus dapat dikemas dan tidak lagi mengalami deformasi phasa
sehingga mudah didistribusikan dan diaplikasikan.
3. Supaya kwalitas supply Asbuton terjaga dan terukur, maka Asbuton harus
dibuat dalam bentuk olahan (refined product).
 Specific objective (tujuan secara khusus) :
1. Maningkatkan kapasitas olah mesin UPAB dengan memperlacar feeding
Asbuton.
2. Mengurangi kandungan impurities untuk meningkatan kwalitas output
hotmix.
3. Membuat varian produk Asbuton yg tidak saja dapat diaplikasi secara
langsung (direct) di mesin UPAB tetapi juga dapat menjadi komoditi
ekonomi.
4. Produk yang dimaksud adalah “Lawele cair berfiller” dan “Lawele granural
(butiran)”
 Pada Unit UPAB harus dibuatkan unit tambahan untuk mengelinasi
kelemahan & keterbatasan, sehingga tujuan dimaksud dapat dicapai.

INTRODUCTION
Scope & Limitation
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
15
 Scope (ruang lingkup) :
1. Ruang lingkup project yang harus dilaksanakan meliputi ; improvement,
penambahan unit dan pemanfaatan secara maksimal unit mesin yang sudah
ada.
2. Unit tambahan terdiri dari : modul Semi-Extractor Asbuton, modul
sizing/pelletizing, Storage Asbuton cair & granul, pumping supply system,
Unit pengemas dan pendinginan, Asbuton smelter dan auxiliaries seperti oil
heater & flushing system.
 Limitation (batasan-batasan) :
1. Meningkatan kapasitas AMP, mencapai kapasitas terpasang ±20 TPH.
2. Unit tambahan, terutama produksi Asbuton cair harus memenuhi kebutuhan
feeding sesuai kapasitas terpasang AMP.
3. Target Asbuton cair ; ter-ekstraksi sekitar 50% dari total feeding raw material
asbuton, kandungan filler <20% ,dg ukuran < mesh #200. Kwalitas secara
umum mendekati spesifikasi Asphalt minyak pen 60/70.
4. Target Asbuton granular ; bebas impurities, kandungan bitumen 15~20%,
ukuran butir <5 mm, tidak menggumpal dan tidak merusak kemasan.
INTRODUCTION
Significance (manfaat)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
16
 Manfaat secara khusus :
1. Dapat mengatasi kelemahan yang ada pada unit UPAB terdahulu.
2. Merupakan sarana pengembangan / inovasi teknologi pemanfaatan asbuton
dengan tetap mempertimbangkan sisi efisiensi dan manfaat.
 Manfaat tambahan :
1. Unit tambahan dapat dijadikan alat produksi Asbuton cair dan granular
untuk meningkatkan okupansi alat dan menjadi sarana untuk meningkatakan
pendapatan daerah.
2. Sebagai inkubator pengembangan teknologi pengolaha asbuton.

Pengadaan unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
17
 UNIT TAMBAHAN YG DIBUAT MERUPAKAN KELANJUTAN
DARI IMPLEMENTASI TAHAP-1
 MEMPERBAIKI KINERJA UNIT IMPLEMENTASI TAHAP-1
 TETAP MEMANFAATKAN FUNGSI DARI UNIT EXISTING.
 UNIT IMPLEMENTASI TAHAP-2 DAPAT DIFUNGSIKAN SECARA
KONTINYU SEBAGAI UNIT PRODUKSI ASPHALT CAIR (BLC)
DAN GRANULAR (BLG)
 MERUPAKAN INOVASI TEKNOLOGI BARU UNTUK
MEMPROSES ASBUTAN SECARA LEBIH BAIK.

KEUNGGULAN / KELEBIHAN
METHODOLOGY
INSTALASI TAHAP-II (PENGEMBANGAN)
PENGOLAH ASBUTON (PROSES CAIR DGN SEMI EKSTRAKSI)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
18
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
19
A. ASBUTON PREPARATION UNIT
INSTALLASI TAHAP-1
 Sorted Raw Material Hopper
 Feeder Conveyor
 D/Roll Slicer Crusher
 Screen
 Joint Conveyor
 Anti caking system
 Weighing system

D. AGGREGATE
HOPPER

 4 - Compartments
 Collecting
conveyor
 Asphalt Kettle
 Power pump
 Diesel Fuel Burner
 Electric Hoist

E. SUPPORTING
EQUIPMENT
 Fuel Tank
 Control Room
 Power System:
Diesel
Generator Set

C. MIXING PLANT UNIT

• Aggregate Joint Conveyor
• Aggregate Rotary Dryer
• Aggregate Hot Elevator
• Vibrating Screen
• Aggregate Hot Bin
• Weighing Hopper Scale
• Mixer
• Oil Pre-heater
• Compressor
Complete Plant Tahap-II
Komponen mesin pengolah lengkap
B. ASBUTON SEMI-EXTRACTOR
INSTALASI TAHAP-2
 Extractor Modul.
 Felletizing/sizing Modul.
 Product storage liquid & granul
 Packaging ; filling & bagging
 Asphalt liquid smelter
 Liquid supply & scale
 Oil heater

HOT-MIX
1. LAWELE CAIR BERFILLER (BLC)
2. LAWELE GRANULAR (BLG)
METHODOLOGY
Konsep Processing Asbuton Lawele
Cair dengan methode semi ekstraksi
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
20
 Kandungan bitumen Lawele yang tinggi sebagian dicairkan, sementara sisa padatan
dipertahankan dengan kadar bitumen sekitar 15~20% untuk selanjutnya digranulasi.
Keduanya dapat dikemas dahulu sebelum dimanfaatkan sebagai material perkerasan
jalan.











 Konsep ini lebih mengutamakan kwalitas supply material asbuton jadi yg mudah
dikemas dan didistribusikan sehingga mudah aplikasi serta kwalitasnya terukur.
Aspal Minyak
Stimulator
Asbuton Lawele
2 step crushing
THERMAL
EXTRACTOR
Gas - Dikondensasi
Liquid Low Filler
Liquid High Filler
REFLUX
Q-Improvment
GAS-FLARING
PACKAGING
METAL DRUM
Solid, low bitumen
Pelletizing
& Drying
Powdering
& Cooling
Anti-caking agent
PACKAGING
Bagging
DISTRIBUSI
Proses Produksi HotMix (Buton Mix)
Campuran Panas
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
21
Smelter
Asbuton Liquid BLC
Storage tank
Scale &
supply
Agregate (150 -160 ºC)
Aspal Minyak (150 -160 ºC)
Mixing
Hot-Mix
Asbuton Mix
Asbuton Granul BLG
UNIT ASBUTON EKSTRAKSI
Package
barrel
BITUMEN CONTROL ABT. <2%
ABT. >4%, at 150 deg.C
COMPOSITION ABT. ABT. 90%
ABT. >3%,
STD. ASPHALT MIX. PLANT
ASBUTON APPLICATOR PLANT
STIMULATOR SOLVENT
Persyaratan Lawele Granular Asphalt (LGA)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
22
 Kadar Bitumen Asbuton, % 15 - 20

 Sifat-sifat Bitumen LGA :
- Titik lembek, ºC min. 55
- Penetrasi (pada 25 °C, 100 g, 5 detik, 0.1 mm) 40 - 60
- Daktilitas, cm > 100
- Titik nyala, ºC > 200

 Ukuran Granular. mm < 3/8”

 Kadar Air, % Maks. 2

Persyaratan Buton Lawele Cair (BLC)
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
23

No Jenis Pengujian MetodePengujian Persyaratan

1 Penetrasi 25 °C dmm 06.2456.91 60 – 79

2 Titik Lembek, °C 06.2434.91 48 – 58

3 Daktilitas, cm 06.2456.91 > 100

4 Kelarutan, % 06.2456.91 > 99

5 Titik Nyala, °C 06.2456.91 min. 200

6 Berat Jenis, kg/cm3 06.2456.91 min. 1.1

7 Filler size/content - < #200 mesh/20%

8 Water content (max) - 0.5%
Persyaratan Aspal Minyak
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
24

No Jenis Pengujian MetodePengujian
Persyaratan

1 Penetrasi 25 °C dmm 06.2456.91 60 – 79

2 Titik Lembek, °C 06.2434.91 48 – 58

3 Daktilitas, cm 06.2456.91 > 100

4 Kelarutan, % 06.2456.91 > 99

5 Titik Nyala, °C 06.2456.91 min. 200

6 Berat Jenis, kg/cm3 06.2456.91 min. 1.0
Persyaratan Bitumen Campuran/Modifikasi
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
25

No Jenis Pengujian MetodePengujian
Persyaratan

1 Penetrasi 25 °C dmm 06.2456.91 40 – 60

2 Titik Lembek, °C 06.2434.91 min. 55

3 Daktilitas, cm 06.2456.91 > 100

4 Kelarutan, % 06.2456.91 > 99

5 Titik Nyala, °C 06.2456.91 min. 200

6 Berat Jenis, kg/cm3 06.2456.91 min. 1.0
Karakteristik campuran
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
26
Karaketristik Campuran AC-WC


Tumbukan 2 x 75

Stabilitas Min. 1000

Rongga terisi aspal Min. 65

Rongga dalam campuran 3.5 – 5.5

Rongga dalaml agregat 15

Kelelehan (flow) Min. 3

Marshall Quotient Min. 300


Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
27

EXTRACTOR MODUL

1. Feeding capacity : abt. 1 TPH
2. Process methode : Thermal Extractor type
3. Dimension : 20000W x 4000L x 2300H
4. Unit weight : 6 tons.
5. Total reactor Volume : abt. 1600 ltr.
6. Reaction temp. : ~ 300 deg.C.
7. Fueling consumption : max. 12 GPH (45 ltr/H).
8. Power Requirement : 20 kW.
9. Liquid Product output : abt. 50% fr. Total feeding w/ 20%
filler.
10. Solid Product output : abt. 48% fr. Total feeding w/ 15~20%
bitumen.
11. Condesate output : abt. 2 %.

Total unit : 1 set.
GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
28

FELLETIZING / SIZING MODUL

1. Feeding capacity : abt. 0.8 TPH
2. Process Methode.1 : Underwater pelletizing for sizing /
granuling.
3. Process Methode.2 : Rotary mill for Anticaking powdering
methode.
4. Dimension : 20000W x 4000L x 2300H
5. Unit weight : 5 tons.
6. Power Req. : 40 kW.

7. Size Product output : abt. <5.0 mm. W/ < 5% water
content
8. Temp. Product output : abt. 90 deg.C

Total unit : 1 set



GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
29

STORAGE TANK

1. Storage capacity : abt. 10,000 ltr
2. Heating system : Oil heater heating coil.
3. Insullation : Rockwool D.100 w/ alumunium
metal jacket.
4. Aggitator : double blade, rot. 75 rpm – 4 KW
5. Dimension : Dia. 1900 x 4500H
6. Unit weight : 5 tons.
7. Power Requirement : 10 kW.
8. Temperatur appl. : abt. 150 deg.C

Total unit : 2 set



GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
30

LIQUID (BLC) SUPPLY SYSTEM

1. Pumping capacity : abt. 100 ltr/min
2. Pump type : Hi-Temperature Centrifugal pump
10 HP
3. Weighing scale : Volumetrical scale type.
4. Heating system : Oil heater pipe jacketing.
5. Insullation : Rockwool D.100 w/ alumunium
metal jacket.
6. Power Requirement : 15 kW.
7. Additional equipment : Asphalt Barrel smelter coil, Qty = 4
ports.

Total unit : 1 set.



GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
31

AUXILIARIES UNIT

1. Oil Heater : Cap. 500 ltr. = 1 unit.
2. Hoisting system : Electric hoist & guntry = 1 lot.
3. Barrel cooling pond : Concrete pond & water pump = 1 lot.


GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
32

CONVEYING SYSTEM

1. Conveying capacity : abt. 5 TPH
2. Conveyor type : Plate belt conveyor.
3. Belt type : Fabric rubber belt, 3 ply, 350 wide.
4. Application : for feeding section, & granul output.
5. Frame : Mild steel frame.
6. Drive motor : Worm reducing geared, 3 phase,
380 VAC
7. Power Req. : 2 x 5 kW.
8. Total conveying lenght : abt. 27 mtr

Total unit : 1 set. (2 conveyor)



GENERAL SPECIFICATION
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
33
Process schematic diagram
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
34
Overview design drawing (Lay-out)
Spesifikasi unit tambahan Tahap-II
Unit Asbuton Semi-Ekstraktor
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
35
Overview design drawing (side view)
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG
28/01/10
DINAS PEKERJAAN UMUM KAB. PARIGI MOUTONG PROPINSI SULAWESI TENGAH
36
TERIMA KASIH ATAS
PERHATIAN ANDA PADA
PRESENTASI INI

MUDAH-MUDAHAN
BERMANFAAT

SAMPAI JUMPA