You are on page 1of 12

MAKALAH

:
Pasar Modal dan Manajemen keuangan

PENERBITAN SEKURITAS EKUITAS DAN KEWAJIBAN
JANGKA PANJANG








DISUSUN OLEH :
YULIUS RENING
SRIKANDI MATIPPANNA
MASIAS CHRISTY M
SILVY WAHYUNI

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014
1

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Go Public merupakan penawaran saham atau obligasi kepada masyarakat umum
untuk pertama kalinya. Pertama kali berarti bahwa pihak penerbit (emiten) pertama
kalinya melakukan penjualan saham atau obligasi. Perusahaan yang sudah
melakukan penawaran umum berarti perusahaan tersebut sudah merupakan milik
masyarakat pemegang saham dari perusahaan yang bersangkutan.
Kegiatan dalam rangka penawaran umum penjualan saham perdana disebut IPO
(Initial Public Offering). Dalam rangka IPO, ada yang disebut dengan prospektus yaitu
salah satu media informasi yang digunakan untuk penyebaran informasi ke
masyarakat. Menurut UUPM No. 8/1995, “prospektus adalah setiap informasi
tertulis sehubungan dengan penawaran umum dengan tujuan agar pihak lain
membeli efek”.
Perusahaan yang memutuskan untuk menjual sahamnya ke masyarakat memiliki
beberapa konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan di samping manfaat
yang diperoleh. Dengan melakukan penawaran umum berarti perusahaan dituntut
untuk lebih terbuka dan harus mengikuti peraturan-peraturan pasar modal
mengenai kewajiban pelaporan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan
baik pemasukan maupun pengeluaran harus tercatat secara terperinci dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Untuk perusahaan yang go public, tuntutan untuk meningkatkan pertumbuhan
perusahaan akan semakin kuat karena pemilik menginginkan keuntungan yang
semakin meningkat juga sehingga akan berpengaruh terhadap besarnya dividen yang
akan dibagikan. Selain itu, dengan pertumbuhan dan perkembangan yang bagus,
citra perusahaan akan meningkat sehingga harga saham di pasar sekunder juga akan
semakin meningkat.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang penerbitan sekuritas ekuitas, atau lebih
dikenal dengan istilah go public, yaitu proses sebuah perusahaan menjadi
perusahaan terbuka (sahamnya bisa dimiliki oleh publik), beserta produk
derivatifnya. Selain itu, akan dibahas juga mengenai kewajiban (utang) jangka
panjang.


2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Penerbitan Sekuritas Ekuitas
2.1.1 Initial Public Offering
Go Public merupakan penawaran saham atau obligasi kepada masyarakat umum
untuk pertama kalinya. Pertama kali berarti bahwa pihak penerbit (emiten) pertama
kalinya melakukan penjualan saham atau obligasi. Perusahaan yang sudah
melakukan penawaran umum berarti perusahaan tersebut sudah merupakan milik
masyarakat pemegang saham dari perusahaan yang bersangkutan. Kegiatan dalam
rangka penawaran umum penjualan saham perdana disebut IPO (Initial Public
Offering). IPO adalah pasar penawaran perdana dimana harga saham tetap tidak
dikenakan komisi, hanya untuk pembelian saham, pemesanan dilakukan melalui
Agen Penjual dan jangka waktu terbatas.
2.1.1.1 Persiapan go public
Untuk dapat memasarkan saham yang akan dilakukan dalam penawaran umum,
sebelumnya perusahaan harus mengajukan pernyataan pendaftaran go public
kepada Bapepam. Bapepam akan menanggapi pernyataan pendaftaran ini dalam
waktu 45 hari. Jika dalam waktu 45 hari tersebut tidak ada tanggapan yang
disampaikan oleh Bapepam, maka pendaftaran dinyatakan efektif.
UUPM No. 8/1995 pasal 70 menyatakan :
1. Yang dapat melakukan penawaran umum hanyalah emiten yang telah
menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam untuk menawarkan
atau menjual efek kepada masyarakat dan pernyataan pendaftaran tersebut
telah efektif.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi pihak yang
melakukan :
a) penawaran efek yang bersifat utang yang jatuh temponya tidak lebih dari
satu tahun.
b) Penerbitan sertifikat deposito.
c) Penerbitan polis asuransi.
d) Penawaran efek yang diterbitkan dan dijamin pemerintah Indonesia, atau
e) Penawaran efek lain yang ditetapkan oleh Bapepam.




3

Sedangkan pasal 74 berbunyi :
1. Pernyataan pendaftaran menjadi efektif pada hari ke-45 sejak diterimanya
pernyataan pendaftaran secara lengkap atau pada tanggal yang lebih awal jika
dinyatakan efektif oleh Bapepam.
2. Dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam dapat
meminta perubahan dan atau tambahan informasi dari emiten atau perusahaan
publik.

Selama pengajuan pernyataan pendaftaran go public ke Bapepam, perusahaan dapat
melakukan pemasaran atau public expose kepada masyarakat. Dalam public expose
ini, perusahaan mengundang calon investor yang dianggap potensial. Perusahaan
perlu menjelaskan tentang pertumbuhan perusahaan, prospek ke depan, serta hal-
hal lain yang berhubungan dengan perusahaan yang pada intinya berusaha menarik
masyarakat untuk bersedia menanamkan modalnya.

Syarat-syarat bagi perusahaan yang akan melakukan go public :
a) Emiten berkedudukan di Indonesia.
b) Pemegang saham minimal 300 orang.
c) modal disetor penuh sekurang-kurangnya tiga miliar rupiah.
d) Setelah diaudit, selama dua tahun berturut-turut memperoleh laba.
e) Laporan keuangan telah telah diperiksa akuntan public untuk dua tahun terakhir
berturut-turut dengan pernyataan wajar tanpa pengecualian untuk tahun
terakhir.
f) Untuk perbankan harus memenuhi kriteria sebagai bank sehat dan memenuhi
kecukupan modal sesuai ketentuan Bank Indonesia.

Registrasi di BAPEPAM
Setelah semua dokumen masuk ke BAPEPAM, maka BAPEPAM melakukan sebagai
berikut:
1. Menerima pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung dari
perusahaan yang akan going public dan dari underwriter.
2. Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK
3. Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan.
4. Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal
utama, yaitu kelengkapan dokumen, kebenaran dan kejelasan informasi dan
pengungkapan (disclosure) tentang aspek-aspek legalitas, akuntansi, keuangan
dan manajemen. Jika selama 30 hari BAPEPAM tidak memberi jawaban, maka
pernyataan registrasi otomatis efektif.


4

Pencatatan di Bursa
Setelah BAPEPAM-LK mendeklarasikan keefektifan dari pernyataan registrasi,
selanjutnya underwriter dapat menjual saham perdana tersebut di pasar
primer. Setelah penawaran perdana selesai, emiten (perusahaan yang going public)
dapat melakukan proses-proses berikut ini untuk mencantumkan sahamnya di pasar
sekunder (bursa).
1. Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI
untuk permintaan mencantumkan sahamnya di bursa efek.
2. BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.
3. Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya.
4. Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman (listing fee). Biaya
jasa pencantuman terdiri dari dua macam, yaitu biaya jasa pencantuman awal
(initial listing fee) dan biaya jasa pencantuman tahunan (annual listing
fee). Untuk initial listing fee ditentukan sebesar minimum Rp 10 juta dan
maksimum Rp 150 juta (jika ada tambahan listing berikutnya dibebankan biaya
tambahan sebesar minimum sebesar Rp 1 juta untuk setiap kelipatan Rp 1 milyar
dari kapitalisasi pasarnya dengan minimum Rp 10 juta dan maksimum sebesar
Rp 150 Juta). Untuk annual listing fee ditentukan sebesar Rp 500.000,- untuk
setiap Rp 1 milyar dari nominal sahamnya, minimum Rp 5 juta dan maksimum
Rp 100 juta.
5. BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari saham ini.
6. Saham yang sudah tercantum ini sudah siap untuk diperdagangkan.
2.1.2 Secondary Public Offering
Tahap secondary market adalah masa pencatatan saham di bursa Efek dan sekaligus
saham tersebut di perdagangkan. Pada masa ini para pemilik saham yang telah
membeli saham di pasar perdana dapat memperjualbelikan sahamnya dengan
mekanisme perdagangan yang berlaku di Bursa Efek. Pemilik saham atau pemodal
dapat melakukan jual ataupun beli atas saham yang dimilikinya melalui perusahaan
efek yang bergerak sebagai perantara pedagang efek atau pialang saham. Pada
secondary market ini menjadi menarik karena saham perusahaan yang dijual oleh
emiten tersebut akan diuji apakah saham ini memiliki prospek atau kinerja bagus
atau tidak. Suatu saham yang memiliki kinerja baik, maka harga sahamnya akan
memiliki kecenderungan naik karena diminati oleh pemodal. Sebaliknya, saham
kurang baik, akan memiliki kecenderungan harga menurun.
2.1.3 Rights (Sertifikat Bukti Right)
Right dapat didefinisikan sebagai efek yang memberikan hak kepada pemegang
saham lama untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan oleh emiten pada
proporsi dan harga tertentu. Hak dalam right sering disebut sebagai preemptive
5

right, yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang
saham lama di suatu perusahaan sehubungan dengan pengeluaran saham baru.
Biasanya right muncul ketika emiten melakukan penawaran saham kedua (second
issue).
Dampak jika pemegang saham tidak menggunakan preemptive right adalah :
a) Dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak
menggunakan haknya).
b) Mengurangi ROI (Return on Investment) dengan bertambahnya saha beredar.
c) Mengecilnya DPS (Dividend Per Share) karena harus dibagikan kepada pemegang
saham.

Harga saham yang ditentukan dalam right untuk membeli saham baru dengan
proporsi sesuai ketentuan, harganya ditentukan sama dengan atau di atas nilai
nominal saham tapi nilai nominal saham tetap di bawah harga pasar. Harga
penebusan saham baru ini disebut dengan exercise price atau subscription price.

Dalam kaitannya dengan right, ada istilah right issue, yang didefinisikan sebagai
kegiatan penawaran umum terbatas kepada pemegang saham lama dalam rangka
penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu.

Untuk penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu dibutuhkan persetujuan dari
pemegang saham mayoritas. Right issue ini pun harus mendapatkan persetujuan
efektif dari Bapepam.

2.1.4 Warrants
Waran adalah hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan
pada waktu yang telah ditetapkan pula. Waran biasanya melekat sebagai daya tarik
(swetener) pada penawaran umum saham perdana (IPO) ataupun obligasi. Biasanya
harga pelaksanaan lebih rendah dari pada harga pasar saham. Setelah saham
ataupun obligasi tersebut tercatat di bursa, waran dapat diperdagangkan secara
terpisah. Periode perdagangan waran sekitar 3 - 5 tahun. Waran merupakan suatu
pilihan (option), di mana pemilik waran mepunyai pilihan untuk menukarkan atau
tidak warannya pada saat jatuh tempo. Pemilik waran dapat menukarkan waran
yang dimilikinya 6 bulan setelah waran tersebut diterbitkan oleh emiten. Harga
waran itu sendiri berfluktuasi selama periode perdagangan di pasar sekunder.


6

Untuk menghitung harga suatu waran digunakan rumus berikut :
Pw = Ps – Pe
Pw = harga/nilai fundamental suatu waran
Ps = harga pasar yang berlaku pada saham biasa yang terkait dengan
waran.
Pe = exersice price waran untuk penebusan saham.

Proses penebusan waran akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham yang
diterbitkan, sehingga akan terjadi dilusi persentase kepemilikan saham. Harga
teoritis saham setelah redemption waran dapat dihitung sebagai berikut :
Ps = Ss.Pc + W
R
. P
E

S + W
R
Ps = harga teoritis saham yang baru sesudah redemption waran
Ss = jumlah saham sebelum terjadinya redemption waran
Pc = harga penutupan yang tersedia pada saat terjadinya redemption
waran
PE = exercise price waran
WR = banyaknya saham biasa yang ditebus dengan waran

2.2. Kewajiban Jangka Panjang
Terdapat banyak dimensi lain dari kewajiban (utang) jangka panjang, termasuk hal-
hal seperti jaminan, karakteristik penebusan kembali (call), dana pelunasan (sinking
fund), peringkat, dan perjanjian perlindungan (protective covenant). Karakterisik-
karakterisitik tersebut dirinci di dalam perjanjian obligasi (indenture).
Indenture adalah suatu perjanjian tertulis antara perusahaan (peminjam) dengan
krediturnya. Kadang-kadang disebut juga sebagai perjanjian dengan wali amanat
(deed of trust). Biasanya, suatu pengawas keuangan (trustee) misalnya sebuah bank,
ditunjuk oleh perusahaan untuk mewakili para pemegang obligasi. Perusahaan
pengawas harus :
(1) memastikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian telah dipatuhi.
(2) Mengelola dana pelunasan
(3) Mewakili pemegang obligasi dalam kegagalan pembayaran yakni jika perusahaan
gagal bayar.

Indenture obligasi adalah dokumen legal yang biasanya memuat persyaratan-
persyaratan berikut :
1. persyaratan dasar obligasi
2. jumlah total emisi obligasi
7

3. uraian tentang harta yang digunakan sebagai jaminan
4. kesepakatan pelunasan
5. rincian perjanjian perlindungan

2.2.1 Protective Covenants
Protective covenant adalah bagian dari indenture atau perjanjian pinjaman yang
membatasi tindakan-tindakan tertentu yang mungkin akan diambil oleh perusahaan
selama jangka waktu pinjaman. Protective covenant dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
1. Positif covenant
Positif covenant adalah jenis janji “Anda dilarang”. Janji ini membatasi atau
melarang tindakan-tindakan yang mungkin diambil oleh perusahaan. Berikut
adalah contoh umum di antaranya :
a) Perusahaan harus membatasi jumlah dividen yang dibayarkan menurut suatu
rumus tertentu.
b) Perusahaan tidak dapat menjaminkan asetnya kepada pemberi pinjaman lain.
c) Perusahaan tidak dapat bergabung dengan perusahaan lain.
d) Perusahaan tidak dapat menjual atau menyewakan semua asset utama tanpa
persetujuan dari pemberi pinjaman.
e) Perusahaan tidak dapat menerbitkan utang jangka panjang tambahan.

2. Negatif covenant
Negatif covenant adalah jenis perjanjian “Anda harus”. Janji ini menyebutkan satu
tindakan yang oleh perusahaan disetujui untuk diambil atau suatu persyaratan
yang harus dipatuhi oleh perusahaan. Berikut beberapa contohnya :
a) Perusahaan harus menjaga modal kerjanya pada atau di atas suatu tingkat
minimum yang telah ditentukan.
b) Perusahaan harus memberikan laporan keuangan yang telah diaudit kepada
pemberi pinjaman secara berkala.
c) Perusahaan harus menjaga semua agunan atau jaminan dalam kondisi yang
baik.

Beberapa contoh di atas hanya sebagian daftar covenant. Suatu indenture tertentu
mungkin memiliki banyak janji yang berbeda.
2.2.2. Sinking Fund
Obligasi dapat dilunasi saat jatuh tempo, di mana saat itu pemegang obligasi akan
menerima nilai nominal, atau yang dinyatakan dari obligasi. Obligasi juga bisa
8

dilunasi sebagian atau secara keseluruhan sebelum jatuh tempo. Pelunasan sebelum
jatuh tempo lebih umum terjadi dan sering kali ditangani melalui dana pelunasan.
Dana pelunasan (sinking fund) adalah suatu rekening yang dikelola oleh pengawas
obligasi dengan tujuan untuk melunasi obligasi. Perusahaan melakukan pembayaran
tahunan kepada pengawas, yang selanjutnya akan menggunakan dana tersebut
untuk melunasi sebagian utang. Pengawas melakukan ini dengan membeli sebagian
obligasi di pasar atau menebus sebagian obligasi yang beredar.
Sinking fund juga didefinisikan sebagai penyisihan sejumlah dana oleh emiten secara
teratur untuk melunasi obligasi atau utang jangka panjangnya. Sinking fund didesain
untuk melindungi investor dengan memastikan bahwa emiten memperhatikan
kepentingan para pemodal.

2.2.3. Call Provision
Ketentuan penarikan (call provision/call feature), merupakan hak perusahaan
sebagai penerbit untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya.
Ketentuan penarikan tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus
membayar kepada investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebih besar dari
pada nilai pari (nominal) obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan
tersebut disebut sebagai premi penarikan/call premium.
Ketentuan penarikan sering kali tidak dioperasikan selama paruh pertama umur
suatu obligasi. Hal ini membuat para pemegang obligasi tidak perlu
mengkhawatirkan ketentuan penebusan dalam tahun-tahun pertama obligasi.
Contohnya, sebuah perusahaan mungkin melarang obligasinya ditebus selama 10
tahun pertama. Ini disebut ketentuan penebusan yang ditangguhkan (deffered call
provision). Selama periode pelarangan ini, obligasi tersebut dikatakan diproteksi dari
penebusan (call protected).
Dalam beberapa tahun terakhir, ada satu jenis ketentuan penebusan baru yang
disebut penebusan “make-whole”, dengan karakteristik penebusan ini pemegang
obligasi akan menerima kurang lebih nilai obligasi jika obligasi tersebut ditebus.
Karena pemegang obligasi tidak mengalami kerugian jika terjadi penebusan maka
dikatakan sebagai “made whole” atau “impas”.
2.2.4. Bond Refunding
Bond refunding berarti menggantikan seluruh atau sebagian bonds (obligasi) yang
diterbitkan.
Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal (market
rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan
mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat
9

bunganya tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih
rendah. Dalam hal ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan
perusahaan perlu melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari
ekspektasi tingkat suku bunga di masa mendatang.

Adanya penarikan kembali inilah biasanya yang menyebabkan obligasi yang
mengandung ketentuan call provision diterbitkan dengan tingkat bunga yang lebih
tinggi dibandingkan dengan obligasi tanpa call provision. Investor lebih memilih
obligasi dengan situasi dimana perusahaan tidak membeli kembali obligasinya
sebelum jatuh tempo, sebab investor cenderung ingin memiliki obligasi dengan
bunga tinggi dibanding obligasi dengan bunga rendah.

Keputusan pendanaan ulang (refunding) menyangkut dua pertanyaan yang berbeda,
yaitu :
(1) apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada
periode berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan
(2) jika bond refunding saat ini menguntungkan, apakah tidak lebih
baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang ditangguhkan dulu untuk
sementara?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada prinsipnya perusahaan menganalisis
sama halnya pada saat mengkaji tentang penganggaran barang modal (capital
budgeting). Dengan melakukan bond refunding artinya terdapat arus kas keluar.
Biaya atas pendanaan ulang (sama halnya dengan pengeluaran investasi, karena
perusahaan mengeluarkan dana untuk membeli kembali obligasi) yang terdiri atas:
a) Premi penarikan (call premium) yang dibayarkan pada pemegang obligasi yang
ditarik.
b) Biaya penjualan obligasi baru.
c) Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-sama
beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual lebih
dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan
ada/tersedia dana untuk membayar pokok pinjaman dari obligasi lama.
Seluruh pengeluaran kas tersebut dibandingkan dengan arus kas masuk, yang dalam
hal ini berupa penghematan biaya atas ditariknya obligasi lama. Penghematan dapat
terjadi karena ada selisih beban bunga antara obligasi lama dan obligasi baru, serta
amortisasi atas biaya-biaya terkait dengan kedua obligasi tersebut. Penghematan
biaya diperhitungkan setelah pajak. Penghematan biaya yang terjadi setiap tahun
(karena biaya bunga dibayarkan tiap tahun) kemudian dipresent value-kan dengan
menggunakan tingkat bunga obligasi baru sebagai discount factor. Perusahaan lebih
baik melakukan pendanaan ulang obligasi jika nilai sekarang (present value) dari
penghematan melebihi biaya pendanaan ulang.

10

BAB III
PENUTUP
3. KESIMPULAN
Perusahaan yang sehat pasti akan terus berkembang. Sebuah perusahaan
memiliki beberapa alternatif saat membutuhkan tambahan modal untuk
pengembangan usahanya. Penerbitan obligasi, surat utang, dan penjualan saham
adalah alternatif-alternatif yang sering diambil.
Pasar saham bisa dibedakan menjadi Pasar Perdana dan Pasar
Sekunder. Pada saat IPO yang terjadi adalah Pasar Perdana. Sebuah perusahaan
yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering
(IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan
melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Investor bisa melakukan pembelian
dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Pada umumnya,
jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan. Hal
ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar
sehingga dilakukan penjatahan.
Pada saat IPO, perusahaan bisa juga memberikan ’pemanis’ untuk lebih
menarik minat investor dengan menambahkan produk derivatif yaitu
warrant. Setelah perusahaan menjadi perusahaan terbuka, tidak jarang pula
perusahaan melakukan penjualan saham lagi melalui mekanisme Second Public
Offering atau dengan Right Issue.









11


DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/59601724/Makalah-Presentasi-Pasar-Modal
http://rinaldy-tuhumury.blogspot.com/2012/07/penerbitan-sekuritas-ekuitas-
kewajiban.html