You are on page 1of 4

Tanaman Sawo

(Achras zapota)












Buah sawo manila
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Ericales
Famili: Sapotaceae
Genus: Manilkara
SPESIES: M. ZAPOTA
NAMA BINOMIAL MANI LKARA ZAPOTA
(L. ) P. ROYEN SINONIM ACHRAS ZAPOTA L






HABITAT
Pohon, berkayu, tumbuh menahun, tumbuh hingga setinggi 30-40 m.
Tanaman sawo mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru, dari dataran rendah
hingga dataran tinggi. Namun, daerah yang disenangi adalah dataran rendah hingga ketinggian
700 m dpl. Tipe tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir yang mengandung banyak ba-
han organik dengan pH antara 5,5-7. Curah hujan yang sesuai 1.500-2.500 mm per tahun (berik-
lim basah). Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan dengan lima bulan musim kemarau. Pera-
karannya cukup kuat sehingga tanaman sawo baik untuk daerah yang rawan erosi. Tanaman ini
mampu tumbuh di tempat yang ternaungi maupun terbuka sehingga sering ditanam di lahan ru-
mah.
Ciri-ciri Buah Sawo
1. Batang (Caulis)
Keras, berkayu, bulat, bercabang, coklat kotor, pada pohon yang sudah tua terdapat banyak
lentisel
2. Daun (Folium)
Tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 3-14 cm, lebar 3-5 cm.
tangkai panjang ± 1,5 cm, hijau mengkilat.
3. Bunga (Flos)
Majemuk, di ketiak daun, menggantung, berkelamin dua, karangan bunga tiga sampai dela-
pan, daun kelopak bulat, benang sari enam, putik menjulang ke luar, mahkota bentuk tabung,
bertajuk, kuning muda.
4. Akar (Radix)
Tunggang, coklat, perakarannya cukup kuat
5. Buah (Fructus)
Buahnya berbentuk lonjong atau bulat telur dengan diameter sekitar 6-7 cm dan panjang 10
cm. Kulit buah yang masih muda berwarna cokelat tua, kasar dan tipis, sedangkan yang tua
berubah menjadi cokelat muda dan halus. Daging buah tebal, berair, berwarna cokelat muda
atau cokelat kemerahan. Buah yang masih muda
bergetah dan rasanya sepat, sedangkan buah yang matang rasanya manis tidak sepat dan tidak
bergetah.
Buah berasal dari bakal buah. Bunga hanya memiliki satu bakal buah saja. Dalam satu
buah terdapat 3-5 biji. Biasanya biji-biji ini berwarna hitam. Dinding buah (pericarpium) tebal
berdaging dan dapat dibedakan lapisan-lapisannya, yaitu kulit luar (epicarpium), lapisan pal-
ing luar berwarna coklat, tipis, kasar, kaku seperti kulit; dan kulit tengah (mesocarpium), tebal
berdaging, bisa dimakan, berair, berwarna coklat muda sampai coklat kemerahan;. Jika sudah
masak buah tidak pecah. Biji-biji terletak bebas dalam mesocarpium. Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa buah Achras zapota merupakan buah sejati, tunggal, berdaging dan buni
Gambar Kanan : penampang melintang buah Achras zapota
Kiri : penampang membujur buah Achras zapota
Biji (Semen)
Biji berbentuk bulat telur, pipih, keras, berwarna hitam atau coklat dan ada sebagian yang ber-
warna putih.
Kulit biji (spermodermis) memiliki dua lapisan, yaitu kulit luar (testa), berwarna hitam atau
coklat, mengkilat, kaku; dan kulit dalam (tegmen), selaput berwarna putih, tipis. Terdapat pusar
biji (hilus) yang berwarna putih. Inti biji terdiri atas lembaga (embrio) dan putih lembaga (albu-
men).
Daun lembaga (cotyledo) sebagai tempat menimbun makanan berwarna putih, berjumlah
dua, berbentuk cembung pada salah satu sisi dan rata pada sisi lainnya, kedua cotyledo tersebut
duduk pada sisi yang berhadapan. Karena memiliki cotyledo dua buah maka sawo dimasukkan
ke dalam kelas Dicotyledonae (biji berkeping dua/berbelah). Sedangkan akar lembaga atau calon
akar (radicula) yang kemudian akan tumbuh terus merupakan akar tunggang. Akar lembaga ini
ujungnya menghadap ke arah liang biji, dan pada perkecambahan biji, akar itu akan tumbuh me-
nembus kulit biji dan akan keluar melalui liang tadi. Akar lembaga ini terletak di antara ke dua
daun lembaga juga berwarna putih, berbentuk bulat di ujungnya dan pipih di pangkalnya.
MANFAAT TANAMAN
Karena mengandung tannin, buah sawo yang muda bisa direbus dan airnya dimnum untuk
menghentikan diare. Juga bisa untuk membantu mengatasi gangguan pada paru.
Air seduhan daun sawo yang sudah agak tua atau semacam teh diminum untuk mengobati batuk,
demam, diare, dan disentri. Biji yang sudah dihancurkan memiliki sifat diuretik (peluruh kenc-
ing) serta bisa membantu menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kemih. Ekstrak biji ini di
kawasan Yucatan dipakai sebagai penenang atau obat tidur.Bijinya juga bisa dilumatkan dan di-
oleskan untuk mengatasi gigitan atau sengatan binatang berbisa. Getah buah dan daun Achras
zapota berkhasiat sebagai obat mencret, di samping itu getahnya dapat digunakan untuk campu-
ran gula-gula.Untuk obat mencret dipakai lebih kurang 15 teles getah buah muda Achras zapota,
diseduh dengan ½ gelas air matang panas. Hasil seduhan diminum sekaligus.
Kandungan zat aktif:
Gula, asam askorbat, karbohidrat, serat.
Biji sawo mengandung saponin yang bisa menyebabkan sakit perut.
Daun dan batang Achras zapota mengandung falvonoida, di samping itu daun juga mengandung
saponin dan batangnya juga mengandung tanin.

SYARAT PETUMBUHAN
Tanaman sawo mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru, dari dataran ren-
dah hingga dataran tinggi. Namun, daerah yang disenangi adalah dataran rendah hingga keting-
gian 700 m dpl. Tipe tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir yang mengandung banyak
bahan organik dengan pH antara 5,5-7. Curah hujan yang sesuai 1.500-2.500 mm per tahun (be-
riklim basah). Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan dengan lima bulan musim kemarau. Pe-
rakarannya cukup kuat sehingga tanaman sawo baik untuk daerah yang rawan erosi. Tanaman ini
mampu tumbuh di tempat yang ternaungi maupun terbuka sehingga sering ditanam di lahan ru-
mah.
Iklim
Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai kering. Curah
hujan yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan 2 bulan kering atau 9
bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah
dengan 7 bulan kering atau membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun.
Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari namun toleran
terhadap keadaan teduh (naungan). Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu an-
tara 22-32 derajat
Media Tanam
Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir (latosol)
yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. Tetapi hampir semua jenis
tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol
(daerah vulkan), alluvial loams (daerah aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).
Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo adalah an-
tara 6–7. Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu antara 50
cm sampai 200 cm.
Ketinggian Tempat
Tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai dengan ke-
tinggian 1.200 m dpl. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga tanaman sawo dapat ber-
kembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 700
m dpl.
VARIETAS
Berdasarkan bentuk buahnya, sawo budidaya dibedakan atas dua jenis, yaitu:
a. Sawo Manila
Buah sawo manila berbentuk lonjong, daging buahnya tebal, banyak mengandung air dan ra-
sanya manis. Termasuk dalam kelompok sawo manila antara lain adalah: sawo kulon, sawo be-
tawi, sawo karat, sawo malaysia, sawo maja dan sawo alkesa.
b. Sawo Apel
Sawo apel dicirikan oleh buahnya yang berbentuk bulat atau bulat telur mirip buah apel, beruku-
ran kecil sampai agak besar, dan bergetah banyak. Termasuk dalam kelompok sawo apel adalah:
sawo apel kelapa, sawo apel lilin dan sawo Duren
Kerabat dekat sawo liar antara lain: sawo kecik dan sawo tanjung. Sawo kecik atau sawo
jawa (Manilkara kauki L. Dubard.) Sawo kecik dimanfaatkan sebagai tanaman hias atau tanaman
peneduh halaman. Tinggi pohon mencapai 15 – 20 meter, merimbun dan tahan kekeringan. Kayu
pohonnya sangat bagus untuk dibuat ukiran dan harganya mahal. Sawo tanjung (Minusops
elingi) memiliki buah kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, jarang dimakan, sering digu-
nakan sebagai tanaman hias, atau tanaman pelindung di pinggir-pinggir jalan.
DAFTAR PUSTAKA
 Pracaya. 1991.Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta : PT. Penebar Swadaya
 Soerianegara, I. dan RHMJ. Lemmens (eds.). 2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara
5(1): Pohon penghasil kayu perdagangan yang utama. PROSEA – Balai Pustaka. Ja-
karta. ISBN 979-666-308-2.
 Verheij. E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumberdaya Nabati Asia Tenggara 2 :
Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA- Gramedia.