You are on page 1of 7

1) Pembahasan

a) Percobaan Xylitol
Xylitol adalah salah satu jenis gula alkohol yang komposisi
kimianya terdiri dari tiga atau lebih kelompok hidroksil. Selain xylitol,
bentuk gula yang sejenis antara lain sorbitol, manitol dan dulcicol.
Gula alkohol ini memiliki rasa yang sama manisnya degan gula
sukrosa. Gula xylitol ini terbukti memiliki keuntungan mencegah
terjadinya karies karena tidak bersifat kariogenik. Secara fisik xylitol
terlihat berwarnah putih dan tidak memiliki bau khas. Selain itu,
bergantung pada pH larutan Xylitol juga memiliki tingkat kemanisan
1,0-1,2 kali dari kemanisan sukrosa dan memiliki kemanisan yang
paling tinggi diantara jenisnya yang lain (Soesilo dkk., 2005).
Berdasarkan data probandus pada percobaan mengunyah
permen karet xylitol, pH saliva mengalami peningkatan menjadi lebih
basa. Hal tersebut ditunjukkan dengan rata-rata kenaikan pH dari
keadaan normal dengan rata-rata 6,7 menjadi 8,00 setelah diukur
menggunakan pH meter. Menurut Sari (2011) menyatakan bahwa
xylitol yang terkandung dalam permen karet juga memiliki fungsi
untuk menaikkan buffer saliva. Normalnya, pH perhari adalah 6,0-7,0.
Hasil percobaan praktikum ini menunjukkan pH saliva meningkat pada
probandus yang mengunyah permen karet yang mengandung xylitol.
Hal ini disebabkan permen karet yang mengandung xylitol tidak dapat
difermentasikan oleh bakteri yang ada di dalam mulut karena
menaikkan kadar ion bikarbonat yang akan menyebabkan kenaikan
kadar senyawa lain dalam saliva. Sekresi salica dipicu pengunyahan
permen karet yang tidak memiliki sifat lengket terhadap permukaan
gigi. Selain itu, Xylitol hanya memiliki lima gugus karbon yang sangat
sulit difermentasi oleh bakteri yang menyebabkan asam. Oleh karena
itu, kapasitas buffer saliva akan meningkat sehingga pH saliva juga
akan meningkat.
Menurut Soesilo dkk.(2005), Penggunaan permen karet dapat
berguna untuk merangsang sekresi air liur serta meningkatkan
kecepatan sekresi saliva. Pada percobaan pengunyahan permen karet
xylitol yang dilakukan selama 5 menit ini juga menyebabkan
peningkatkan flow rate atau kecepatan aliran saliva. Hal tersebut
terbukti dengan adanya peningkatan volume saliva yang signifikan dari
keadaan normal dengan rata-rata 2,06 ml/5 menit menjadi 8,19
ml/5menit yang disekresikan oleh masing-masing probandus. Selain
itu, dengan adanya stimulasi xylitol juga dapat mempengaruhi
komposisi yaitu akan meningkatkan konsentrasi bikarbonat, fosfat, dan
kalsium. Hal tersebut memungkinkan saliva memiliki viskositas
seromucus.


Gambar ...... Saliva dengan stimulasi xylitol



Gambar ......... pH saliva dengan stimulus xylitol menunjukkan
pH 7,00


2) Percobaan Sukrosa
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan pH saliva antara lain : rata-rata kecepatan aliran saliva,
mikroorganisme rongga mulut, dan kapasitas buffer saliva. Sukrosa
merupakan salah satu jenis gula yang sering dikonsumsi masyarakat
yang secara fisik berbentuk gula putih. Tetapi, sukrosa ini memiliki
kekurangan menyebabkan karies gigi (Soesilo, dkk, 2005).
Berdasarkan beberapa percobaan dengan menggunakan
stimulasi permen karet yang mengandung sukrosa, dihasilkan pH
saliva yang mengalami penurunan cukup, dari pH 7,0 menjadi asam
yaitu 6,0. Rata-Rata pH yang telah diberikan stimulasi sukrosa adalah
7,00 dimana rata-rata probandus tidak mengalami penurunan pH yang
signifikan. Pada percobaan yang tidak mengalami penurunan pH
signifikan dapat dikarenakan oleh beberapa penyebab, salah satunya
karena kandungan gula sukrosa yang memiliki tingkat kemanisan yang
berbeda (Edwin dan Sally, 1992). Kandungan sukrosa dalam permen
karet dapat mempengaruhi pH saliva menjadi turun yang
mempengaruhi kapasitas buffer saliva. Hal tersebut dikarenakan
sintesa ektra sel sukrosa yang lebih cepat daripada gula lainnya
sehingga cepat diubah oleh mikroorganisme dalam rongga mulut
menjadi asam. Hal itulah yang menyebabkan pH saliva menjadi turun
(Soesilo, dkk, 2005).
Pada percobaan dengan stimulasi sukrosa ini, terjadi
peningkatan flow rate-rata tertinggi diantara percobaan lain sebanyak
14 ml/5 menit. Hal tersebut dikarenakan secara tekstur permen karet
sukrosa memiliki konsistensi yang paling keras dibandingkan stimulus
lainnya dalam praktikum ini, sehingga secara mekanis menyebabkan
pengunyahan yang akan merangsang sekrsi saliva lebih banyak. Setiap
individu menghsilkan jumlah sekresi yang berbeda antara satu dengan
yang lain, hal tersebut. Nilai tersebut tergantung dari lamanya waktu
mengunyah dan keadaan probandus sebelum maupun baru saja
beraktifitas Rahayu (2010). Makanan yang memiliki tekstur keras akan
merangsang sekresi saliva yang banyak daripada makanan yang
memiliki tekstur atau konsistensi lembut. Selain tekstur yang
merangsang sekresi saliva, kemanisan permen sukrosa yang lebih
manis dari pada permen karet xylitol juga dapat meningkatkan sekresi
saliva. Oleh karena itu, data probandus menunjukkan tingkat
pertambahan volume yang mengalami kenaikan terbesar (Davies dan
Finlay, 2005).

Gambar .Saliva dengan stimulus sukrosa yang diukur menggunakan gelas
ukur




Gambar ..... pH saliva dengan stimulus sukrosa

3) Percobaan Stimulasi Buah (Mencium Aroma Asam pada Jeruk)
Menurut Whiterspoon (1984) menjelaskan bahwa, sekresi saliva
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: faktor mekanis, faktor
kimiawi, faktor neuronal, faktor psikis, dan obat. Faktor mekanis
meliputi pengunyahan dimana akan merangsang sekresi saliva. Faktor
kimiawi disebabkan karena adanya rangsangan rasa dari makanan,
yang berupa asam, manis, pahit, dan pedas. Faktor neuronal meliputi
keadaan saat seseorang membayangkan atau melihat, atau mendengar
suatu makanan dimana kana mensekresi saliva. Faktor psikis meliputi
saat seseorang mengalami stress atau pengaruh emosional dimana
saliva mengalami penurunan. Selain itu, faktor obat-obatan juga
mempengaruhi saliva mengalami penurunan.
Berdasarkan data probandus yang menggunakan stimulasi
mencium buah segar yang memiliki aroma masam. Menurut Sherwood
(2001) proses sekresi saliva karena rangsangan aroma ini terjadi
melalui reflex terkondisi, yang mana rangsangan aroma makanan
tertentu akan membuat reseptor sensori di rongga hidung menjadi
aktif, yang akan mengaktifkan impuls eferen. Impuls tersebut akan
menuju medulla otak. Kemudian Medulla akan mengirimkan impuls
eferen melalui saraf parasimpatik menuju ke kelenjar saliva. Oleh
karena itu, kelenjar saliva akan mengalami kontraksi yang akan
menyebabka saliva dapat keluar ke rongga mulut melalui duktus
saliva. Dari hasil praktikum aliran saliva maksimal dicapai oleh
stimulasi asam memiliki volume yang terkecil diantara data probandus
yang lain dan pH yang mengalami penurunan. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa makanan atau rangsangan yang mengandung
asam terbukti menurunkan level pH. Saat nilai pH turun, muco-protein
akan didenaturasi dan fungsi lubrikasi hilang. Sebaliknya, bahan
pemanis memiliki kemampuan untuk meningkatkan aliran saliva dan
dapat meningkatkan pH saliva (Pratiwi dkk, 2001).


Gambar ...... Saliva dengan stimulus buah segar

Gambar 4.A.3.e.3 pH saliva dengan stimulus buah segar





Soesilo, D., Santoso, R.E., Diyatri, I., 2005, Peranan Sorbitol dalam
Mempertahankan Kestabilan pH Saliva pada Proses Pencegahan Karies’,
Majalah Kedokteran Gigi Dental Journal, 38(1), 25.
Sari, 2002 (udah ada di rosita) hehe :*
Edwin dan Sally 1992 (udah di rosita)
Pratiwi., T. Sutadi, H., Mangundjaja, S., Apriati, Y. 2001, Pengaruh Sorbitol
dalam Permen Terhadap Populasi Streptococcus Mutans dalam Saliva
Majalah Kedokteran Gigi Dental Journal; 34: 130–134
Rahayu, Fitri, S, Handajani, Juni. 2010, Mengonsumsi Minuman Beralkohol
Dapat Menurunkan Derajat Keasaman dan Volume Saliva, Dentika Dental
Journal , vol 15(1):15-19.