You are on page 1of 34

1

ANALISIS PEMETAAN SEKTOR UNGGULAN DAN STRATEGI
PENGEMBANGANNYADI KABUPATEN SUMENEP

SUHERMANTO
Mahasiswa Program Magister Ilmu Ekonomi

Prof. Dr. MARYUNANI, SE., MS
Dr. SASONGKO, SE., MS
Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya


ABSTRACT
This study aims to: 1) determine and map the leading sector, 2) formulating the
development policy of the leading sectors in Sumenep. The analytical tool used in this
study are: Analysis Typology Klassen, Shift Share Analysis (SSA), Analysis of Location
Quotient (LQ) and the Sustainable Livelihood Approach (SLA).
Result Analysis Typology Klassen shows that the agricultural sector is classified
into the prime sector. Shift Share Analysis results show that the sector had an increasing
level of competitiveness is the agricultural sector and construction sector. Location
Quotient Analysis shows the agricultural sector, mining and quarrying sector, as well as
the services sector are a sector basis in Sumenep. The result of the combined analysis of
these three analytical tools indicate that the agricultural sector is the leading sector in
Sumenep. Based on the mapping shows that the leading sector in the region more
productive land in the development of food crops sub-sector with leading commodity is
corn. While in the archipelago are more productive on the development of fisheries sub-
sector with marine fisheries leading commodity. Based on the calculation pentagon
capital index indicates that in the mainland has a weakness in the natural capital and
physical capital, while in the archipelago has a weakness in physical capital and social
capital. Once known the weaknesses that become obstacles in the development of leading
sector, the policy strategy in the development sector leading in Sumenep should pay
attention to weak of the capital.

Keywords : Leading Sector, Klassen Typology, Shift Share, Location Quotient, and
Sustainable Livelihood Approach

ABSTRAK
Klassen Typology menunjukkan bahwa sektor pertanian diklasifikasikan
kedalam Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menentukan dan memetakan sektor unggulan,
2) merumuskan kebijakan pengembangan sektor unggulan di Kabupaten Sumenep. Alat
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Analisis Klassen Typology, Analisis
Shift Share (SSA), Analisis Location Quotient (LQ) dan Sustainable Livelihood Approach
(SLA).
Hasil Analisis sektor prima. Hasil Analisis Shift Share menunjukkan bahwa
sektor yang memiliki tingkat kekompetitifan yang semakin meningkat adalah sektor
pertanian dan sektor bangunan. Analisis Location Quotient menunjukkan sektor
pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor jasa merupakan sektor basis
di Kabupaten Sumenep. Hasil analisis gabungan dari ketiga alat analisis tersebut
2

menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor unggulan di Kabupaten
Sumenep. Berdasarkan pemetaan sektor unggulan menunjukkan bahwa di wilayah
daratan lebih produktif pada pengembangan sub sektor tanaman pangan dengan
komuditi unggulan adalah jagung. Sedangkan di wilayah kepulauan lebih produktif
pada pengembangan sub sektor perikanan dengan perikanan laut sebagai komuditi
unggulan. Berdasarkan hasil perhitungan indeks pentagon capital menunjukkan bahwa
di wilayah daratan mempunyai kelemahan pada modal alam dan modal fisik, sementara
di wilayah kepulauan mempunyai kelemahan pada modal fisik dan modal sosial. Setelah
diketahui kelemahan-kelemahan yang menjadi kendala dalam pengembangan sektor
unggulan, maka strategi kebijakan dalam pengembangan sektor unggulan di Kabupaten
Sumenep harus memperhatikan modal wilayah yang lemah tersebut.

Kata Kunci : Sektor Unggulan, Klassen Typology, Location Quotient, Shift Share, dan
Sustainable Livelihood Approach.

A. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembangunan sebagai suatu proses
multidimensional yang melibatkan
perubahan-perubahan besar dalam
struktur sosial. Perubahan tersebut di
dalamnya juga termasuk percepatan atau
akselerasi ekonomi, pengurangan
ketimpangan Pendapatan, dan
pemberantasan kemiskinan absolut
(Todaro, 1987). Dengan demikian paling
tidak ada tiga komponen dasar atau nilai-
nilai pembangunan yaitu: kebutuhan
hidup, harga diri, dan kebebasan yang
menggambarkan tujuan-tujuan umum
yang diusahakan oleh individu dan
masyarakat. Rumusan konsep ini sesuai
dengan konsep pembangunan manusia
dan masyarakat seutuhnya yang dianut
oleh bangsa Indonesia.
Sejalan dengan konsep
pembangunan nasional, tujuan
pembangunan daerah adalah untuk
meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan rakyat di daerah. Melalui
terpadu, diharapkan pembangunan
daerah dapat berjalan secara efektif dan
efisien menuju tercapainya kemajuan dan
kemandirian daerah. Oleh karena itu
secara mendasar perencanaan
pembangunan pada dasarnya ada tiga
aspek perencanaan yaitu: makro, sektoral,
dan regional yang ketiganya tersusun
dalam satu kesatuan sehingga ibarat
cermin setiap sisi merefleksikan sisi yang
lainnya (Kartasasmita, 1996).
Pentingnya pengenalan dan
pemahaman terhadap potensi yang
dimiliki oleh suatu daerah menyebabkan
banyak peneliti baik dari pihak akademisi
atau pemerintah daerah melakukan
penelitian. Akan tetapi penelitian yang
dilakukan rata-rata hanya berhenti pada
proses inventarisasi potensi saja. Hal ini
dibutuhkan kajian lebih lanjut dalam
upaya pengembangan potensi sehingga
dapat diaplikasikan dalam rangka
meningkatkan nilai tambah dan
mendorong aktivitas perekonomian.
Selain itu, penelitian terkait dengan
identifikasi potensi yang dilakukan di
suatu daerah hasilnya tidak dapat
diterapkan secara umum, karena pada
dasarnya setiap daerah memiliki kekhasan
potensi yang berbeda satu sama yang lain.
Adanya perbedaan potensi dan
corak struktur ekonomi di masing-masing
daerah, maka perencanaan pembangunan
ekonomi suatu daerah pertama-tama
perlu mengenali karakter ekonomi, sosial
dan fisik daerah itu sendiri, termasuk
interaksinya dengan daerah lain. Dengan
3
demikian tidak ada strategi pembangunan
ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk
semua daerah, karena pada dasarnya
tidak ada satu daerahpun yang memiliki
karakteristik yang sama (Kartasasmita,
1997).
Kabupaten Sumenep adalah salah
satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur
tepatnya berada di ujung Pulau Madura.
Secara georafis Kabupaten Sumenep
terdiri dua wilayah, yaitu: wilayah
daratan dan wilayah kepulauan yang
cukup luas dengan 126 pulau. Untuk
mengetahui kondisi ekonomi Kabupaten
Sumenep dapat dilihat pada data Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB)
Kabupaten Sumenep sebagai berikut:

Tabel. 1.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sumenep Tahun 2004 – 2008
Atas Dasar Harga Konstan (Dalam Miliar Rp.)
Sektor Ekonomi
Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 2.304,29 2.361,16 2.433,73 2.513,16 2.577,17
2. Pertambangan & Penggalian 441,00 442,92 471,09 502,75 530,09
3. Industri Pengolahan 115,75 114,29 117,00 120,38 125,84
4. Listrik, Gas & Air Bersih 4,39 4,60 4,81 5,00 5,23
5. Bangunan 81,29 82,92 86,85 90,69 95,45
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 590,56 631,45 676,39 730,37 780,23
7. Pengangkutan & Komunikasi 147,77 151,76 158,86 167,86 176,27
8. Keu. Persewaan, & Jasa Perush. 166,62 175,73 186,95 197,76 211,43
9. Jasa-Jasa 398,60 416,19 431,63 458,98 484,55
Jumlah PDRB 4.250,27 4.381,01 4.567,32 4.786,95 4.986,25
Sumber : BPS Sumenep
Berdasarkan tabel 1.1, menunjukkan
bahwa sektor yang memberikan
kontribusi paling besar adalah sektor
pertanian yaitu mencapai Rp. 2.577,17
miliar pada tahun 2008 atau dengan
tingkat kontribusi rata-rata 53,12 %,
sedangkan pada peringkat kedua adalah
sektor perdagangan, hotel dan restoran
yaitu mencapai Rp. 780,23 miliar pada
tahun 2008 dengan kontribusi rata-rata
14,80 %. Sedangkan sektor listrik, gas dan
air bersih merupakan sektor yang
memberikan kontribusi paling rendah
yaitu sebesar Rp. 5,23 miliar atau dengan
kontribusi rata-rata tahun 2004-2008
sebesar 0,10%.
Dilihat dari pertumbuhan
ekonominya, Kabupaten Sumenep
mempunyai tingkat pertumbuhan secara
rata-rata tahun 2004-2008 sebesar 3,80 %.
Dua sektor yang mempunyai
pertumbuhan yang tinggi adalah sektor
perdagangan, hotel dan restoran dengan
laju pertumbuhan rata-rata sebesar 6,50 %.
Sedangkan sektor mempunyai laju
pertumbuhan rata-rata yang paling
rendah adalah sektor industri
pengelolahan dengan laju pertumbuhan
sebesar 1,94 %.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Sumenep yang relatif rendah dengan laju
pertumbuhan yang masih rendah pula
membawa kepada persoalan yang krusial.
Konsekwensi laju pertumbuhan ekonomi
yang rendah, meskipun Kabupaten
Sumenep mengalami pertumbuhan, akan
membawa perekonomian Sumenep yang
semakin tertinggal. Oleh karena itu, untuk
memperkecil ketimpangan, maka
Pemerintah Kabupaten Sumenep dituntut
untuk menggali dan memanfaatkan secara
optimal seluruh potensi yang dimiliki
4
sehingga mampu memacu pertumbuhan
ekonomi daerah.
Sehubungan dengan persoalan
tersebut, maka studi ini berupaya untuk
memberikan sumbangan pemikiran yang
berupa model pengukuran potensi
ekonomi per sektor. Hal ini dimaksudkan
agar Pemerintah Kabupaten Sumenep
mengetahui potensi ekonomi yang
dimilikinya dengan indikator yang
digunakan adalah PDRB serta dapat
mengetahui pada wilayah mana potensi
tersebut berada. Dengan melakukan
identifikasi terhadap potensi ekonomi
yang dimiliki, maka dapat diketahui
sektor-sektor ekonomi apa saja yang
merupakan sektor unggulan di Kabupaten
Sumenep. Dengan demikian pemerintah
daerah dapat menentukan strategi
pengembangan terhadap sektor unggulan
tersebut, sehingga mampu mendorong
peningkatan nilai tambah dan
menumbuhkan kegiatan ekonomi di
daerah.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui klasifikasi
pertumbuhan sektor perekonomian
Kabupaten Sumenep;
2. Untuk mengetahui perubahan dan
pergeseran sektor perekonomian
Kabupaten Sumenep;
3. Untuk mengetahui sektor-sektor yang
merupakan sektor basis dalam
perekonomian Kabupaten Sumenep;
4. Untuk mengetahui sektor apa saja
yang diidentifikasi sebagai sektor
unggulan dalam perekonomian
Kabupaten Sumenep selama tahun
analisis;
5. Merumuskan strategi pengembangan
sektor unggulan dengan
menggunakan pandekatan Sustaible
Livelihood Approach.
B. KAJIAN PUSTAKA
Pembangunan merupakan jargon
yang tidak asing lagi kita dengar. Ia
dianggap oleh para politisi, teknokrat, dan
pengusaha dibanyak negara sebagai
sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Suatu
keniscayaan ini sering terungkap dari
ungkapan-ungkapan retoris semacam ini:
"Apapun yang terjadi kita harus tetap
melanjutkan kometmen pembangunan",
atau "Seburuk-buruknya pembangunan
masih jauh lebih baik daripada tidak
melaksanakannya sama sekali" (Kuncoro,
2000).
Menurut Koentjaraningrat (2001)
"pembangunan pada pokoknya merupakan
usaha perubahan dan pembangunan dari
suatu keadaan dan kondisi kemasyarakatan
yang dianggap baik". Sedangkan Abimanyu
(2001) menyatakan bahwa: "Pembangunan
adalah suatu usaha atau rangkaian
pertumbuhan dan perubahan yang
berencana dilakukan secara sadar oleh
bangsa". Kemudian Arief (2002)
menyebutkan bahwa pembangunan
sebenamya merupakan suatu proses
perubahan yang direncanakan dan
dikehendaki, setidak-tidaknya
pembangunan pada umumnya merupakan
kehendak masyarakat yang terwujud dalam
keputusan-keputusan yang diambil oleh
pemimpinnya, hal mana kemudian
disusun dalam suatu perencanaan yang
selanjutnya dilaksanakan. Pembangunan
tersebut tidak hanya menyangkut satu
bidang kehidupan saja, tetapi juga berbagai
bidang kehidupan yang saling berkaitan".
Todaro (1987) mengemukakan
bahwa pembangunan ekonomi harus
dipandang sebagai suatu proses multi
dimensional yang mencakup berbagai
perubahan mendasar atas struktur sosial,
sikap-sikap masyarakat institusi-institusi
nasional, disamping tetap mengejar
akselerasi pertumbuhan ekonomi,
penanganan ketimpangan pendapatan,
5
serta pengentasan kemiskinan absolut.
Lebih lanjut Myrdal dalam Kuncoro (2000)
mengartikan pembangunan sebagai
pergerakan keatas dari seluruh sistem
sosial.
Jadi pada hakekatnya,
pembangunan itu harus mencerminkan
total suatu masyarakat atau penyesuaian
sistem sosial secara keseluruhan, tanpa
mengabaikan keragaman kebutuhan dasar
dan keinginan individu atau kelompok-
kelompok sosial yang ada didalamnya
untuk bergerak maju menuju suatu
kondisi kehidupan yang serba lebih baik,
secara material maupun spiritual.
Pembangunan ekonomi daerah
merupakan suatu proses pembentukan
institusi-institusi baru, pembangunan
industri-industri alternatif, perbaikan
kapasitas tenaga kerja yang ada untuk
menghasilkan barang dan jasa yang lebih
baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih
ilmu pengetahuan dan pengembangan
perusahaan-perusahaan baru. Oleh
karuna itu, dalam proses tersebut
dibutuhkan kerjasama antara pemerintah
daerah dan masyarakat secara luas
dalam mengelola sumberdaya-
sumberdaya yang ada. Dengan kata lain
tujuan pembangunan ekonomi daerah
adalah untuk meningkatkan jumlah dan
jenis peluang kerja untuk masyarakat
daerah.
Hadjisaroso(1994) mengemukakan
bahwa pembangunan wilayah
merupakan suatu tindakan membangun
wilayah atau dengan membangun
daerah atau kawasan didalam usaha
menaikkan kesejahteraan hidup
masyarakat. Senada dengan hal tersebut,
Soegijoko dan Kusbiantoro (1997)
menyatakan pembangunan wilayah ialah
usaha keseimbangan pembangunan
dengan membangun wilayah-wilayah
tertentu melalui berbagai kegiatan
sektoral secara terpadu, sehingga dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi
daerah itu secara efektif dan efisien serta
dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya.
Menurut Kartasasmita (1997),
bahwa tidak ada satupun daerah yang
memiliki karakteristik yang sama, baik
potensi ekonomi, sumberdaya
manusia, maupun kelembagaan
masyarakatnya, untuk itu maka
kebijaksanaan yang bersifat nasional
harus luwes (flexible), agar aparat
pemerintahan dibawahnya dapat
mengembangkan dan memodifikasi
kebijaksanaan tersebut sesuai dengan
kondisi masing-masing daerah.
Perbedaan potensi ekonomi daerah ini
dapat diidentifikasi dari salah satu faktor
dasar yang membedakan antara wilayah
yang satu dengan wilayah yang lain.
berdasarkan struktur perekonomian
wilayah dapat diketahui faktor pembeda
dimaksud sehingga dapat diketahui basis
ekonomi wilayah.
Teori basis ekspor murni
dikembangkan pertama kali oleh Tiebout.
Teori ini membagi kegiatan produksi/jenis
pekerjaan yang terdapat di dalam satu
wilayah atas sektor basis dan sektor non
basis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang
bersifat exogenous artinya tidak terikat
pada kondisi internal perekonomian
wilayah dan sekaligus berfungsi
mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan
lainnya. Sedangkan kegiatan non basis
adalah kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat di daerah itu
sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya
tergantung kepada kondisi umum
perekonomian wilayah tersebut. Artinya,
sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas
tumbuh). Pertumbuhannya tergantung
kepada kondisi perekonomian wilayah
secara keseluruhan (Tarigan, 2004).
Teori basis ekonomi mendasarkan
pandangannya bahwa laju pertumbuhan
6
ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh
besarnya peningkatan ekspor dari wilayah
tersebut. Pertumbuhan industri-industri
yang menggunakan sumberdaya lokal,
termasuk tenaga kerja dan bahan baku
untuk diekspor, akan menghasilkan
kekayaan daerah dan penciptaan peluang
kerja (Arsyad, 1999). Asumsi ini
memberikan pengertian bahwa suatu
daerah akan mempunyai sektor potensial
apabila daerah tersebut dapat
memenangkan persaingan pada sektor
yang sama dengan daerah lain sehingga
dapat menghasilkan ekspor wilayah.
Jadi sektor unggulan atau
merupakan sektor yang menjadi tulang
punggung perekonomian daerah karena
mempunyai keuntungan kompetitif
(Competitive Advantage) yang cukup tinggi.
Dalam kontek pembangunan
daerah, sektor basis merupakan potensi
yang dimiliki oleh daerah. Oleh karena itu
idealnya menjadi priotitas dalam
pembangunan di daerah. Implikasi dari
logika tersebut, bila suatu daerah ingin
meningkatkan pertumbuhan ekonominya
maka hendaklah sektor yang mempunyai
keunggulan itu dikembangkan. Dengan
demikian, setiap daerah harus mengkaji
keunggulan sektor-sektor ekonominya
sehingga menjadi spesialis pada sektor
tersebut. Untuk mengetahui potensi
ekonomi daerah, dapat digunakan tiga
pendekatan analisis, yaitu: Analisis
Tipologi Klassen, Analisis Shif-Share, dan
Analisis Location Question.
Pembangunan ekonomi dengan
mengacu pada sektor potensial selain
berdampak pada percepatan
pertumbuhan ekonomi juga akan
berpengaruh pada perubahan mendasar
dalam struktur ekonomi. Pengertian
sektor potensial pada dasarnya dikaitkan
dengan suatu bentuk perbandingan, baik
itu perbandingan berskala internasional,
regional maupun nasional. Pada lingkup
nasional, suatu sektor dapat dikategorikan
sebagai sektor potensial apabila sektor di
wilayah tertentu mampu bersaing dengan
sektor yang sama yang dihasilkan oleh
wilayah lain, baik di pasar nasional
ataupun domestik.
Penentuan sektor unggulan menjadi
hal yang penting sebagai dasar
perencanaan pembangunan daerah sesuai
era otonomi daerah saat ini, di mana
daerah memiliki kesempatan dan
kewenangan untuk membuat kebijakan
yang sesuai dengan potensi daerah demi
mempercepat pembangunan ekonomi
daerah untuk peningkatan kemakmuran
masyarakat.
Jadi untuk mencapai keberhasilan
pembangunan sehingga mampu
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah
yang optimal, maka kebijakan utama yang
perlu dilakukan oleh pemerintah daerah
adalah mengusahakan agar prioritas
pembangunan dilaksanakan sesuai
dengan potensi yang dimiliki oleh daerah
yang bersangkutan. Dengan demikian
pengembangan sektor ekonomi potensial
yang memberikan kontribusi sangat besar
terhadap kemajuan ekonomi daerah
merupakan prioritas kebijakan yang harus
dilaksanakan. Oleh karena itu, pada
prinsipnya analisis tentang potensi yang
dimiliki oleh suatu daerah merupakan hal
yang sangat penting dalam upaya
pengambilan kebijakan terkait dengan
arah dan pelaksanaan pembangunan
daerah tersebut.
6

C. KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN

Gambar 1.
Kerangka Pikir Penelitian









D. METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada
wilayah Kabupaten Sumenep, yang
merupakan salah satu kabupaten di
Pulau Madura Provinsi Jawa Timur.
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif kuantitatif dan
studi ekplorataif. Deskriptif
dimaksudkan untuk menjelaskan objek
studi berdasarkan data dan fakta yang
ada. Penelitian kuantitatif untuk
menghitung tingkat pertumbuhan
ekonomi, kontribusi sektor dalam
perekonomian serta untuk
mengidentifikasi sektor potensial serta
menganalisis kelayakan usaha
pengembangan sektor potensial di
Kabupaten Sumenep. Sedangkan
ekploratif dimaksudkan agar bisa
menggali lebih dalam dari objek yang
diteliti. Sehingga kombinasi keduanya
yaitu deskriptif dan ekploratif dapat
diperoleh hasil penelitian yang baik.

Data
Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh
melalui interview kepada responden
dan observasi lapangan, sedangkan data
sekunder diperoleh dengan teknik
dokumentasi. Data yang digunakan
antara lain:
Strategi Pengembangan
SEKTOR POTENSIAL
Perekonominan Wilayah
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Klasifikasi Pertumbuhan Sektor Perubahan dan Pergeseran Sektor Sektor Basis dan Sektor Non Basis
Wilayah Kepulauan Wilayah Daratan
Modal Manusia Modal Sosial Modal Fisik Modal Keuangan Modal Alam

8

1. Data PDRB Kabupaten Sumenep
dan Propinsi Jawa Timur periode
tahun 2000-2008
2. Data terkait komuditi-komuditi
yang termasuk dalam sektor
unggulan, yang meliputi: jumlah
produksi pertanian, penggunaan
lahan, jumlah produksi perikanan,
dll.
3. Data-data berkaiatan dengan
sumberdaya manusia, seperti: data
kependudukan, tingkat
pendidikan, kentenagakegakerjaan
dll.
4. Data ketersediaan sarana dan
prasaran umum, seperti: panjang
jalan, sarana pendidikan, sarana
kesehatan, dan fasilitas umum
lainnya seperti pasar dan
pelabuhan.
5. Data-data lain yang terkait dengan
penelitian ini.

Metode Analisis
Untuk menjawab tujuan
penelitian yang diajukan, yaitu untuk
memperoleh gambaran dan
pemahaman terkait kondisi
prekonomian daerah, dalam hal ini
untuk menentukan sektor apa yang
diidentifikasi sebagai sektor unggulan
dan untuk melakukan pemetaan serta
merumuskan strategi pengembangan
sektor ekonomi potensial daerah dapat
digunakan metode analisis berikut:

Analisis Tipologi Klassen
Analisis Tipologi Klassen
digunakan untuk mengetahui gambaran
tentang pola dan struktur pertumbuhan
ekonomi masing-masing daerah
(Widodo, 2006). Analisis ini bertujuan
untuk melakukan. Dengan analisis
tipologi klassen ini sektor-sektor dalam
perkonomian dapat diklasifikasi
menjadi 4 kategori, yaitu: 1) Sektor
Prima, 2) Sektor Potensial, 3) Sektor
Berkembang, dan 4) Sektor Terbelakang
merupakan Sektor relatif tertinggal,
Penentuan kategori suatu sektor
terhadap empat kategori tersebut
didasarkan pada laju pertumbuhan
kontribusi sektoralnya dan rata-rata
kontribusi sektoralnya terhadap PDRB,
sebagaimana tabel berikut:
Tabel 2
Matrik Tipologi Klassen
Rata-rata Kontribusi
Rata-rata Laju Sektoral
Pertumbuhan Sektoral
݇
௜௞
≥ ݇
௜௣
݇
௜௞
< ݇
௜௣

ݎ
௜௞
≥ ݎ
௜௣
Sektor Prima Sektor Berkembang
ݎ
௜௞
< ݎ
௜௣
Sektor Potensial Sektor Terbelakang
Keterangan:
݇
௜௞
: Kontribusi rata-rata sektor i di Kabupaten Sumenep
݇
௜௣
: Kontribusi rata-rata sektor i di Propinsi Jawa Timur
ݎ
௜௞
: Laju Pertumbuhan rata-rata sektor i di Kabupaten Sumenep
ݎ
௜௣
: Laju Pertumbuhan rata- rata sektor i di Propinsi Jawa Timur

Analisis Shift-Share
Analisis Shift-Share (SSA) adalah
suatu teknik yang digunakan untuk
menganalisis perubahan struktur ekonomi
daerah relatif terhadap struktur ekonomi
wilayah administratif yang lebih tinggi
sebagai pembanding (Widodo, 2006).
Menurut Widodo (2006) SSA
menggunakan tiga informasi dasar yang
saling berhubungan satu sama lain yaitu:
(1) Pertumbuhan ekonomi referensi
nasional/propinsi (national growth effect),
menunjukkan pengaruh pertumbuhan
ekonomi nasional terhadap daerah. (2)

9

Pergeseran proporsi (propotional shift),
menunjukkan perubahan relatif kinerja
suatu sektor di daerah terhadap sektor
yang sama di propinsi/nasional. (3)
Pergeseran diffrerensial (differential shift),
menunjukkan seberapa jauh daya saing
industri daerah dengan perekonomian
pembanding (propinsi).
Adapun rumus persamaan dari SSA
adalah sebagai berikut (Widodo, 2006):
1. Dampak nyata prtumbuhan ekonomi
kabupaten atau penjumlahan dari
pengaruh pertumbuhan :

࢏࢑
ൌ ࡺ
࢏࢑
൅ ࡹ
࢏࢑
൅ ࡯
࢏࢑

2. Untuk memperoleh pengaruh
pertumbuhan ekonomi referensi
(propinsi) adalah sebagai berikut:
ܰ
௜௞
ൌ ܧ
௜௞
. ݎ


3. Proportional shift dapat diperoleh dari
rumus:
ܯ
௜௞
ൌ ܧ
௜௞
ሺݎ
௜௣
െ ݎ


4. pengaruh keunggulan kompetitif
adalah:
ܥ
௜௞
ൌ ܧ
௜௞
ሺݎ
௜௞
െ ݎ
௜௣

Dimana:
ܦ
௜௞
: Perubahan nyata Pertumbuhan
ekonomi sektor i di Kabupaten
Sumenep
ܰ
௜௞
: Komponen pengaruh pertumbuhan
Propinsi Jawa Timur (provincial share)
ܯ
௜௞
: Komponen pergeseran proporsional
(proposional shift) atau atau bauran
industri (industry mix)
ܥ
௜௞
: Komponen pengaruh keunggulan
kompetitif (differential shift)
ܧ
௜௞
: PDRB sektor i di Kabupaten
Sumenep
ܧ
௜௣
: PDRB sektor i di Propinsi Jawa
Timur
ݎ

: laju perubahan PDRB Propinsi Jawa
Timur
ݎ
௜௣
: laju perubahan PDRB sektor i
Propinsi Jawa Timur
ݎ
௜௞
: laju perubahan PDRB sektor i di
Kabupaten Sumenep
Analisis Location Quotient (LQ)
Location Quotient (LQ) merupakan
perbandingan besarnya peranan suatu
sektor di suatu daerah terhadap peranan
sektor tersebut secara nasional (Tarigan,
2005). Adapun rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut:
ܮܳ ൌ
ܲܦܴܤ
௜௞
∑ܲܦܴܤ


ܲܦܴܤ
௜௣
∑ܲܦܴܤ



Dimana :
ܮܳ : Location Quotient;
ܲܦܴܤ
௜௞
: Nilai output (PDRB) sektor i di
Kabupaten Sumenep;
ܲܦܴܤ
௜௣
: Nilai output (PDRB) sektor i di
Propinsi Jawa Timur;
∑ܲܦܴܤ

: PDRB Total Kabupaten
Sumenep;
∑ܲܦܴܤ

: PDRB Total Propinsi Jawa
Timur.
Dari formulasi di atas, akan dapat
diketahui apakah sektor yang dianalisi
merupakan sektor basis atau non basis,
apabila:
LQ > 1 : berarti sektor tersebut merupakan
sektor basis (ekspor);
LQ = 1 : berarti sektor tersebut merupakan
sektor swasembada;
LQ < 1 : berarti sektor tersebut merupakan
sektor non basis (non ekspor).

Analisis Sustainable Livelihood Approach
Analisis Sustainable Livelihood
Approach (SLA) ini digunakan untuk
melihat kemampuan modal wilayah
dimasing-masing kecamatan di Kabupaten
Sumenep. Dalam analisis SLA ini
menggunakan indeks dari lima modal
yang dikenal dengan Pentagon Capital,
yang meliputi: modal sumberdaya
manusia, modal sumberdaya alam, modal
fisik, modal sosial, dan modal keuangan.
Dalam penelitian analisis SLA
dilakakukan dengan beberapa tahab.
Pertama melakukan perhitungan indeks
seluruh komponen modal wilayah di
masing-masing kecamatan di kabupaten
Sumenep. Tahapan kedua perhitungan
indeks modal wilayah adalah dengan

10

melakukan pengelompokan seluruh
kecamatan menjadi dua wilayah
berdasarkan kondisi geografis yaitu
wilayah daratan dan wilayah kepulauan.
Tahab yang terakhir adalah menghitung
rata-rata indeks, untuk mendapat indeks
modal di wilayah daratan dan wilayah
kepulauan. Dengan melakukan
pengelompokan, maka dapat dilakukan
komparasi terkait dengan kemampuan
lima modal di dua wilayah tersebut.
Adapun perhitungan formulasi
indeks yang digunakan untuk menghitung
kemampuan modal wilayah masing-
masing wilayah, menurut Kuncoro (2005)
adalah dengan menggabungkan seluruh
indeks kategori dengan menggunakan
formulasi sebagai beriku:
෍ܺ
௜௧

ܺ

ܺ
௠௔௫
ܺ 100
∑ܺ
௜௧
: Indeks gabungan masing-masing
komponen di setiap kecamatan
ܺ

: Jumlah total masing-masing
komponen di setiap kecamatan
ܺ
௠௔௫
: Jumlah tertinggi dari jumlah total
di setiap kategori masing-masing
komponen yang ada disalah satu
kecamatan
Dari formula perhitungan indeks
pada persamaan tersebut akan
menghasilkan skala 0 < ܺ < 100.


E. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Penentuan dan Pemetaan Sektor
Potensial Analisis Tipologi Klassen
Analisis Klassen Tipology digunakan
untuk melakukan klasifikasi terhadap
sektor-sektor ekonomi Kabupaten
Sumenep berdasarkan besarnya kontribusi
dan laju pertumbuhannya. Laju
pertumbuhan ekonomi dan kontribusi
sektor-sektor ekonomi terhadap PDRB di
Kabupaten Sumenep dan Propinsi Jawa
Timur dapat dilihat pada Tabel 5.6 berikut
ini.
Tabel 3
Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor PDRB Kabupaten Sumenep dan Provinsi
Jawa Timur Tahun 2000-2008 (Dalam %)
Sektor Ekonomi
Sumenep Jawa Timur
Rata-Rata
Pertumb.
Rata-Rata
Kontri.
Rata-Rata
Pertumb.
Rata-Rata
Kontri.
1. Pertanian 3,09 53,63 2,68 17,96
2. Pertambangan dan Penggalian 2,37 10,32 5,89 2,02
3. Industri Pengolahan 1,50 2,71 3,51 27,79
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 5,23 0,10 7,00 1,69
5. Bangunan 4,52 1,88 1,82 3,56
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,11 14,38 8,63 28,14
7. Pengangkutan dan Komunikasi 3,69 3,48 6,79 5,60
8. Keu. Persewaan dan Jasa Perusahaan 4,77 3,97 6,95 4,88
9. Jasa-Jasa 3,68 9,53 4,44 8,35
Sumber : BPS Kabupaten Sumenep dan Jawa Timur, data diolah

Selama periode analisis tahun 2000-
2008, sektor pertanian merupakan sektor
yang memiliki kontribusi rata-rata paling
besar terhadap PDRB Kabupaten Sumenep
dengan kontribusi rata-rata sebesar 53,63
%, lalu diikuti sektor perdagangan, hotel
dan restoran dengan kontribusi rata-rata
sebesar 14,38 %. Sedangkan sektor yang
mempunyai rata-rata kontribusi paling
kecil adalah sektor listrik, gas dan air
bersih dengan kontribusi rata-rata selama
tahun analisi sebesar 0,10%.
Berdasarkan laju pertumbuhan
ekonominya, sektor yang memiliki
pertumbuhan rata-rata paling tinggi
adalah sektor listrik, gas dan air bersih
yaitu sebesar 5,23 %, kemudian oleh sektor
perdagangan, hotel dan restoran sebasar

11

5,11 %. Sedangkan sektor yang memiliki
pertumbuhan paling rendah adalah sektor
industri pengolahan dengan tingkat
pertumbuhan rata-rata sebesar 1,09%.
Di Provinsi Jawa Timur sebagai
daerah referensi, sektor-sektor yang
memiliki kontribusi rata-rata paling besar
adalah sektor pergadangan hotel dan
restoran dengan kontribusi rata-rata
selama periode analisis tahun 2000-2008
sebesar 28,14 %, kemudian diikuti oleh
sektor indusri pengolahan dengan
kontribusi rata-rata 27,79 %. Sedangkan
sektor yang menyumbangkan kontribusi
rata-rata paling kecil, yaitu sektor listrik,
gas dan air bersih dengan kontribusi
sebesar 1,69 %.
Berdasarkan laju pertumbuhan
ekonominya, sektor yang memiliki laju
pertumbuhan paling tinggi adalah sektor
perdagangan hotel dan restoran dengan
laju pertumbuhan rata-rata sebesar 8,63 %,
kemudian diikuti sektor listrik, gas dan air
bersih sebesar 7,00 %. Sementara sektor
bangunan mempunyai pertumbuhan
paling rendah dengan laju pertumbuhan
rata-rata sebesar 1,82 %.
Berdasarkan data pada Tabel 5.6,
sektor-sektor dalam PDRB Kabupaten
Sumenep tahun 2000-2008 dapat
diklasifikasikan berdasarkan analisis
Klassen Tipology yang hasilnya ditunjukkan
pada Tabel 5.7 berikut ini.
Tabel 4
Klasifikasi Sektor PDRB Kabupaten Sumenep Tahun 2004-2008
berdasarkan Tipologi Klassen

Cepat Tumbuh
(rik ≥ rip)
Tumbuh Lambat
(rik < rip)
K
o
n
t
r
i
b
u
s
i

B
e
s
a
r






(
k
i
k



k
i
p
)

SEKTOR PRIMA SEKTOR POTENSIAL
K
o
n
t
r
i
b
u
s
i

B
e
s
a
r











(
k
i
k



k
i
p
)
1. Pertanian 1. Pertambangan & Penggalian
2. Jasa-Jasa




K
o
n
t
r
i
b
u
s
i

K
e
c
i
l


(
k
i
k

<

k
i
p
)

SEKTOR BERKEMBANG SEKTOR TERBELAKANG
K
o
n
t
r
i
b
u
s
i

K
e
c
i
l


(
k
i
k

<

k
i
p
)

1. Bangunan 1. Industri Pengolahan
2. Listrik, Gas & Air Bersih
3. Perdag., Hotel & Restoran

4. Pengankutan & Komunikasi
5. Keu. Persewaan, & J. Perush.

Cepat Tumbuh
(rik ≥ rip)
Tumbuh Lambat
(rik < rip)

Sumber : data diolah
Berdasarkan hasil analisis Klassen
Tipology terhadap PDRB Kabupaten
Sumenep tahun 2000-2008 sebagaimana
pada tabel 5.7 dan gambar 5.2, sektor yang
dikategorikan sebagai sektor prima
(Kuadran I) yaitu sektor maju dan tumbuh
pesat adalah sektor pertanian. Sementara
itu, sektor pertambangan dan penggalian
serta sektor jasa-jasa termasuk ke dalam
sektor potensial (kuadran II), yaitu sektor
yang mempunyai kontribusi rata-rata
tinggi namun tertekan. Sektor yang
tergolong ke dalam sektor berkembang
(kuadran III) adalah sektor bangunan,
yaitu sektor yang memiliki pertumbuhan
rata-rata cukup tinggi tetapi memiliki
kontribusi rata-rata kecil.
Hasil analisis menunjukkan bahwa
banyak sektor-sektor di Kabupaten
Sumenep tergolong ke dalam sektor
terbelakang ((kuadran IV), diantaranya:
sektor industri pengolahan, sektor listrik
dan air bersih, sektor perdagangan, hotel
dan restoran, sektor pengangkutan dan

12

kumunikasi, dan sektor keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan.

Shift Share Analysis
Shift Share Analysis (SSA) digunakan
untuk mengetahui proses pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Sumenep dikaitkan
dengan perekonomian daerah yang
menjadi referensi, yaitu Provinsi Jawa
Timur. SSA dalam penelitian ini
menggunakan variabel PDRB untuk
menguraikan pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Sumenep.
Hasil perhitungan analisis shift share
PDRB Kabupaten Sumenep disajikan pada
Tabel 5.8 berikut ini.
Tabel 5
Hasil Perhitungan Shift Share Kabupaten Sumenep Tahun 2000-2008
Sektor Ekonomi
Komponen
Nik Mik Cik Dik
1. Pertanian 120.671,01 -58.867,19 9.459,42 71.263,25
2. Pertambangan dan Penggalian 23.269,94 2.939,41 -15.668,87 10.540,48
3. Industri Pengolahan 6.068,39 -1.998,72 -2.327,13 1.742,54
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 227,84 77,26 -77,03 228,07
5. Bangunan 4.242,86 -2.768,67 2.198,58 3.672,76
6. Perdag., Hotel dan Restoran 32.521,78 21.147,11 -21.895,71 31.773,18
7. Pengankutan dan Komunikasi 7.839,63 2.350,33 -4.649,53 5.540,43
8. Keu. Persewaan, dan Jasa Perush. 8.983,27 2.965,93 -3.752,88 8.196,33
9. Jasa-Jasa 21.484,59 -3.215,10 -3.137,00 15.132,49
Total 225.309,31 0,00 -80.890,33 144.418,98
Sumber : PDRB, dala diolah
Keterangan :
Nik = Provincial Share sektor i di Kabupten Sumenep, Mik = Proportional Shift sektor i di Kabupten
Sumenep, Cik = Differential Shift sektor i di Kabupten Sumenep, Dik = Total Shift-Share sektor i di
Kabupten Sumenep
Berdasarkan data Tabel 5.8
menunjukkan bahwa pengaruh
pertumbuhan ekonomi propinsi terhadap
perekonomian Kabupaten Sumenep
dengan Nik positif pada setiap sektor
dengan total nilai output Rp. 225,309
miliar.
Proportional shift menunjukkan
output yang dihasilkan dari bauran
industri (industry mix) dalam
perekonomian Kabupaten Sumenep
sebagai hasil interaksi antar kegiatan
industri. Sektor yang memiliki dampak
bauran industri yang negatif yang
ditunjukkan dengan nilai Mik negatif yaitu
: sektor pertanian, sektor industri
pengolahan, sektor bangunan dan sektor
jasa. Sedangkan sektor-sektor yang
memiliki dampak bauran indutri yang
positif yang ditunjukkan dengan Mik
positif dalam perekonomian Kabupaten
Sumenep sebanyak lima sektor antara lain:
sektor pertambangan dan penggalian,
sektor listrik, gas dan air bersih, sektor
perdagangan, hotel dan restoran, sektor
pengangkutan dan komonikasi dan sektor
keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan.
Nilai Differential Shift (Cik) sektor
perekonomian Kabupaten Sumenep
selama periode tahun 2000-2008 ada yang
positif dan negatif. Nilai Cik positif,
menunjukkan bahwa sektor tersebut
memiliki tingkat kekompetitifan yang
semakin tinggi Sedangkan nilai Cik negatif,
berarti sektor tersebut memiliki tingkat
kekompetitifan yang semakin menurun.
Sektor dalam perekonomian
Kabupaten Sumenep dengan nilai Cik
positif hanya ada dua sektor, yaitu: sektor
pertanian dengan nilai Cik sebesar 9.459,42,
dan sektor bangunan dengan nilai Cik
sebesar 2.198,58. Kedua sektor tersebut
merupakan sektor yang memiliki tingkat

13

kekompetitifan yang semakin tinggi
dibandingkan dengan sektor yang sama di
tingkat Propinsi Jawa Timur. Sedangkan
tujuh sektor lainnya, yaitu: sektor
pertambangan dan penggalian, industri
pengolahan, listrik dan air minum,
perdagangan, hotel dan restoran,
pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan serta
sektor jasa-jasa memiliki nilai Cik negatif.
Sektor-sektor tersebut mengalami
penurunan kekompetitifan relatif.
Secara keseluruhan, selama
perilode analisi tahun 2000-2008, PDRB
Kabupaten Sumenep mengelami
pertambahan nilai absolut atau mengalami
kenaikan kinerja ekonomi daerah sebesar
Rp. 144,418 milliar. Hal ini dapat dilihat
pada nilai Dik positif pada seluruh sektor
ekonomi di Kabupaten Sumenep.
Selama periode analisis tahun 2000-
2008 PDRB Kabupaten Sumenep memiliki
pertabahan nilai absolut atau mengalami
kenaikan kinerja ekonomi sebesar
Rp.144,418 miliar. Hal ini dapat dilihat
dari nilai Dik yang positif pada seluruh
sektor ekonomi di Kabupaten Sumenep.

Analisis Location Quotient
Analisis Location Quotient (LQ)
digunakan untuk mengetahui sektor-
sektor ekonomi dalam PDRB yang dapat
digolongkan ke dalam sektor basis atau
non basis. LQ merupakan suatu
perbandingan tentang besarnya peranan
suatu sektor di Kabupaten Sumenep
terhadap besarnya peranan sektor tersebut
di tingkat Provinsi Jawa Timur. Hasil
perhitungan LQ Kabupaten Sumenep
disajikan pada Tabel 5.9 berikut ini.
Tabel 6
Hasil Perhitungan Location Quotient (LQ) Kabupaten Sumenep Tahun 2000-2008
Sektor Ekonomi
Location Quotient
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1. Pertanian 2,67 2,86 2,89 2,96 3,03 3,09 3,11 3,15 3,19
2. Pertambangan dan Penggalian 5,86 4,40 4,76 5,20 5,47 5,16 5,13 5,02 4,92
3. Industri Pengolahan 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,09 0,10 0,10 0,10
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06
5. Bangunan 0,44 0,47 0,49 0,53 0,54 0,55 0,57 0,60 0,62
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,56 0,55 0,52 0,50 0,49 0,50 0,49 0,50 0,50
7. Pengankutan dan Komunikasi 0,66 0,68 0,62 0,61 0,61 0,61 0,61 0,60 0,60
8. Keu. Persewaan, dan Jasa Perush. 0,83 0,82 0,81 0,82 0,81 0,81 0,82 0,81 0,81
9. Jasa-Jasa 1,10 1,13 1,11 1,11 1,13 1,16 1,16 1,18 1,19
Sumber : Data diolah
Hasil perhitungan LQ PDRB
Kabupaten Sumenep selama periode
analisis tahun 2000-2008, maka dapat
teridentifikasikan sektor-sektor basis dan
non basis. Sektor-sektor yang termasuk
dalam sektor basis adalah: sektor
pertanian, sektor pertambangan dan
penggalian, dan sektor jasa-jasa.
Sedangkan enam sektor yang lain, yaitu:
sektor industri pengolahan, sektor
bangunan, sektor perdagangan, hotel dan
restoran, sektor pengangkutan dan
komunikasi dan sektor keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan selama
tahun analisis tergolong dalam sektor non
basis dengan indeks LQ<1.
Sektor yang termasuk dalam sektor
basis dengan indeks LQ paling tinggi
adalah sektor pertambangan dan
penggalian, dengan rata-rata nilai LQ
selama periode analisis sebesar 4,92.
Sektor pertanian adalah sektor basis
dengan rata-rata indeks LQ tertinggi
kedua, yaitu sebesar 3,19. Sedangkan
sektor jasa-jasa juga termasuk dalam
sektor basis dengan indeks LQ rata-rata
sebesar 1,19.



14

Analisis Penentuan Sektor dan sub
Sektor Potensial
Analisis penentuan sektor potensial
merupakan hal yang sangat penting dalam
pembangunan ekonomi daerah. Adanya
perbedaan karakteristik yang dimiliki
daerah baik terkait dengan kondisi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia
lokasi maupun letak geografis wilayah dan
lain-lain menjadi alasan yang sangat kuat
bagi pemerintah daerah untuk mengetahui
dan memahami sektor potensial yang
dimiki.
Hasil gabungan tiga alat analisis,
yaitu analisis klassen tipology, SSA, dan
analisis LQ secara keseluruhan dapat
dilihat dari tabel 5.19 berikut ini.

Tabel 7
Hasil Gabungan Analisis Klassen Tipology, SSA, dan LQ Sektor Ekonomi
Kabupaten Sumenep
Sektor/Sub sektor
Analisis
Klassen
Tipology
SSA
LQ
N M C
1. Pertanian Prima 120.671,01 − + > 1
2. Pertambangan dan Penggalian Potensial 23.269,94 + − > 1
3. Industri Pengolahan Terbelakang 6.068,39 − − < 1
4. Listrik, Gas dan Air Bersih Terbelakang 227,84 + − < 1
5. Bangunan Berkembang 4.242,86 − + < 1
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran Terbelakang 32.521,78 + − < 1
7. Pengangkutan dan Komunikasi Terbelakang 7.839,63 + − < 1
8. Keu. Persewaan dan Jasa Perusahaan Terbelakang 8.983,27 + − < 1
9. Jasa – Jasa Potensial 21.484,59 − − > 1
Sumber : data diolah
Keterangan :
Nik = Nasional Share, Mik = Proportional Shift, Cik = Differential Shift
Berdasarkan analisis Klassen
Typology, sektor pertanian merupakan
satu-satunya sektor yang termasuk dalam
katagori sektor prima, yaitu sektor yang
mempunyai kontribusi dan pertumbuhan
relatif lebih tinggi bandingkan dengan
sektor yang sama di Provinsi Jawa Timur.
Hasil perhitungan SSA, menunjukkan
bahwa Nasional Share (Nik) memliki nilai
positif terbesar dibandingkan dengan
sektor-sektor yang lainnya, yaitu sebesar
120.671,01, artinya pada tingkat
pertumbuhan yang sama dengan propinsi,
sektor pertanian memiliki nilai tambah
sebesar 120.671,01 miliar. Selain itu, sektor
pertanian merupakan sektor yang
memiliki tingkat kekompetitifan yang
semakin meningkat dengan ditunjukkan
nilai Cik yang positif, walaupun sektor ini
termasuk sektor yang memiliki dampak
bauran industri negatif. Namun
berdasarkan hasil perhitungan indeks LQ,
sektor pertanian beserta lima sub sektor
yang ada dalamnya secara keseluruhan
termasuk dalam sektor basis (LQ>1).
Berdasarkan analisis gabungan dari tiga
analisis sebagaimana ditunjukkan tabel
5.19, maka dapat ditentukan bahwa yang
menjadi sektor unggulan di Kabupaten
Sumenep adalah sektor pertanian.
Dilihat dari sub sektor, sektor
pertanian memiliki lima sub sektor yaitu:
sub sektor tanaman pangan, sub sektor
tanaman perkebunan, sub sektor
peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor
kehutanan, dan sub sektor perikanan. Dari
lima sub sektor tersebut, sub sektor
tanaman bahan pangan merupakan sub
sektor yang memiliki kontribusi terbesar
terhadap PDRB Kabupaten Sumenep,
yaitu dengan kontribusi rata-rata sebesar
21,91 %, kemudian diikuti oleh sub sektor
perikanan sebesar 14,25 %.



Rata-rata Kontribusi dan Pertumbuhan Sub Sektor dalam Sektor Pertanian
Tahun 2000
Sumber: PDRB Kabupaten Sumenep Tahun 2000
Berdasarkan laju pertumbuhan,
sub sektor perikanan merupakan sub
sektor yang memiliki laju pertumbuhan
paling tinggi, yaitu dengan laju
pertumbuhan rata-rata selama periode
analisis tahun 2000-2008 sebesar 3,84 %,
kemudian diikuti dengan sub sektor
tanaman pangan sebesar 2,93%.
Tingginya peranan dan
pertumbuhan kedua sub sektor tersebut
kerena tidak lepas dari daya dukung
pertanian, yaitu ketersediaan lahan
pertanian yang cukup luas disetiap
kecamatan dengan luas keseluruhan
adalah 93,184 ha, serta pertani
merupakan matapencaharian utama
masyarakat. Sementara kondisi geografis
Kabupaten Sumenep yang terdiri dari dua
wilayah, yaitu daratan dan kepulauan
dengan luas wilayah kepulauan 946, 53
Km
2
(45,79 % dari luas Kabupaten
Sumenep) yang terdiri dari 126 pu
didalamnya, menjadikan Kabupaten
Sumenep sebagai kabupaten yang
memiliki sumberdaya perikanan laut yang
sangat besar. Berdasarkan uraian diatas,
maka dapat ditentukan yang menjadi sub
sektor unggulan dari sektor pertanian
adalah sub sektor tanaman baha
dan sub sektor perikanan. Berdasarkan
pertimbangan tersebut sub sektor tanaman
pangan dan sub sektor perikanan
merupakan sub sektor potensial di
Kabupaten Sumenep.



c. Peternakan dan Hasil
b. Tanaman Perkebunan
a. Tanaman Bahan Makanan
15
Gambar 2
rata Kontribusi dan Pertumbuhan Sub Sektor dalam Sektor Pertanian
ahun 2000 – 2009 Kabupaten Sumenep (dalam %)
Kabupaten Sumenep Tahun 2000-2008, data diolah
Berdasarkan laju pertumbuhan,
sub sektor perikanan merupakan sub
sektor yang memiliki laju pertumbuhan
paling tinggi, yaitu dengan laju
rata selama periode
2008 sebesar 3,84 %,
kemudian diikuti dengan sub sektor
pangan sebesar 2,93%.
Tingginya peranan dan
pertumbuhan kedua sub sektor tersebut
kerena tidak lepas dari daya dukung
pertanian, yaitu ketersediaan lahan
pertanian yang cukup luas disetiap
kecamatan dengan luas keseluruhan
adalah 93,184 ha, serta pertanian
merupakan matapencaharian utama
masyarakat. Sementara kondisi geografis
Kabupaten Sumenep yang terdiri dari dua
wilayah, yaitu daratan dan kepulauan
dengan luas wilayah kepulauan 946, 53
(45,79 % dari luas Kabupaten
Sumenep) yang terdiri dari 126 pulau
didalamnya, menjadikan Kabupaten
Sumenep sebagai kabupaten yang
memiliki sumberdaya perikanan laut yang
sangat besar. Berdasarkan uraian diatas,
maka dapat ditentukan yang menjadi sub
sektor unggulan dari sektor pertanian
adalah sub sektor tanaman bahan pangan
dan sub sektor perikanan. Berdasarkan
pertimbangan tersebut sub sektor tanaman
pangan dan sub sektor perikanan
merupakan sub sektor potensial di
Analisis Pemetaan Sektor Potensial
Setelah diketahui sektor dan sub
sektor potensial sebagaimana pembahasan
pada sub bab 5.3.5, maka langkah
selanjutnya mengidentifikasi komuditi
komuditi unggulan pada masing
sub sektor potensial, serta melakukan
melakukan pemetaan terkait dengan lokasi
pengembangan komuditi unggulan
tersebut.
Dalam melakukan analisis
penentuan dan pemetaan terhadap
komuditi-komuditi unggulan, maka
indikator yang digunakan adalah: 1)
jumlah produksi komuditi pada masing
masing sub sektor potensial dan 2)
banyaknya rumah tangga yang berusaha
pada masing-masing sub sektor potensial
tersebut.
Tabel 8
Banyaknya Rumah Tangga yang
Berusaha dalam Sub Sektor Tanaman
Bahan Pangan dan Sub Sktor Perikanan
Di Kabupaten SumenepTahun 2008
Wilayah
Sub Sektor
Tanaman
Pangan
Jumlah Daratan 153.643
Rata-rata Daratan 8.536
Jumlah Kepulauan 47.031
Rata-rata Kepulauan 5.226
Jumlah Sumenep 200.674
Sumber:Kecamatan Dalam Angka 2009, data diolah
Berdasarkan data pada tabel 5.20,
dapat diketahui bahwa secara keseluruhan
jumlah rumah tangga yang berusaha
dalam sub sektor tanaman pangan
e. Perikanan
d. Kehutanan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
b. Tanaman Perkebunan
a. Tanaman Bahan Makanan
3.84
1.83
1.83
2.90
2.93
14.25
0.34
2.95
14.19
21.91
Kontribusi Pertumbuhan
rata Kontribusi dan Pertumbuhan Sub Sektor dalam Sektor Pertanian

Analisis Pemetaan Sektor Potensial
Setelah diketahui sektor dan sub
potensial sebagaimana pembahasan
pada sub bab 5.3.5, maka langkah
selanjutnya mengidentifikasi komuditi-
komuditi unggulan pada masing-masing
sub sektor potensial, serta melakukan
melakukan pemetaan terkait dengan lokasi
pengembangan komuditi unggulan
Dalam melakukan analisis
penentuan dan pemetaan terhadap
komuditi unggulan, maka
indikator yang digunakan adalah: 1)
jumlah produksi komuditi pada masing-
masing sub sektor potensial dan 2)
banyaknya rumah tangga yang berusaha
b sektor potensial
Banyaknya Rumah Tangga yang
Berusaha dalam Sub Sektor Tanaman
Bahan Pangan dan Sub Sktor Perikanan
Di Kabupaten SumenepTahun 2008
Sub Sektor
Perikanan
9.811
545
15.664
1.740
25.475
Kecamatan Dalam Angka 2009, data diolah
Berdasarkan data pada tabel 5.20,
dapat diketahui bahwa secara keseluruhan
jumlah rumah tangga yang berusaha
dalam sub sektor tanaman pangan

16

menduduki angka tertinggi yaitu 200.674
rumah tangga, sedangkan sub sektor
perikanan sebanyak 25,475 rumah tangga.
Rumah tangga yang berusaha pada sub
sektor tanaman panagn di wilayah daratan
sebanyak 153.643, atau rata-rata per
kecamatan sebanyak 8.536. sedangkan di
wilayah kelupauan sebanyak 47.031, atau
rata-rata per kecamatan 5.226. hal ini dapat
disimpulkan bahwa di wilayah daratan
jumlah rumah tangga berkerja di sub
sektor tanaman pangan sangat dominan.
Pada sub sektor perikanan, jumlah
rumah tangga yang berusaha di wilayah
daratan sebanyak 9.811, atau rata-rata per
kecamatan sebanyak 545. Sedangkan di
wilayah kepulauan rumah tangga yang
berusaha di sub sektor perikanan
sebanyak 15.664, atau rata-rata 1740, hal
ini dapat dikatankan bahwa masyarakat
kepulauan secara umum banyak
mengantungkan pada sub sektor
perikanan sebagai mata pencahariannya.
Komuditi-komuditi yang dihasilkan
oleh kedua sub sektor potensial
bermacam-macam. Di Kabupaten
Sumenep, komuditi-komuditi yang
dihasilkan oleh sub sektor tanaman bahan
pangan antara lain: padi sawah, padi gogo,
jagung, kedelai, kacang tanah, kacang
hijau, ketela pohon, dan ketela rambat.
Sedangkan pada sub sektor perikanan
komuditi ikan yang dihasilkan antara lain:
perikanan laut, perikanan payau,
perikanan air tawar, dan perikanan
periaran umum.
Untuk mengetahui jumlah produksi
yang dihasilkan oleh masing-masing
komuditi pada sub sektor tanaman bahan
pangan dan sub sektor perikanan, serta
pada wilayah mana komuditi-komuditi
tersebut dihasilkan, disajikan pada tabel
5.21 dan tabel 5.22 berikut ini.
Tabel 9
Produksi Komuditi Sub Sektor Tanaman Bahan Pangan
Kabupaten Sumenep Tahun 2008
Komuditi
Daratan Kepulauan
Jumlah
Sumenep
Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata
Padi Sawah 870.245,00 48.346,94 592.146,40 65.794,04 1.462.391,40
Padi Gogo 110.182,50 6.121,25 17.332,80 1.925,87 127.515,30
Jagung 3.535.405,00 196.411,39 1.109.451,00 123.272,33 4.644.856,00
Kedelai 100.983,00 5.610,17 12.187,00 1.354,11 113.170,00
Kacang Tanah 90.586,00 5.032,56 17.489,00 1.943,22 108.075,00
Kacang Hijau 198.616,00 11.034,22 32.765,00 3.640,56 231.381,00
Ketela Pohon 971.631,00 53.979,50 1.206.089,00 134.009,89 2.177.720,00
Ketela Rambat 5.909,00 328,28 5.191,00 576,78 11.100,00

Sumber : Kabupaten Dalam Angka 2009, data diolah
Berdasarkan data pada tabel 5.21,
dari seluruh komuditi pada sub sektor
tanaman bahan pangan, komuditi jagung
merupakan komuditi dengan produksi
paling tinggi, yaitu sebesar 4.664.856 ton
dengan luas areal panen 154.830 ha,
kemudian diikuti oleh ketela pohon
sebesar 2.177.720 ton dengan luas panen
16.650 ha, dan ke 3 adalah padi sawah
dengan produksi mencapai 1.462.140 ton
dan luas areal panen 23.436 ha. Sedangkan
komuditi ketela rambat merupakan
komuditi paling dengan produksi paling
kecil yaitu sebesar 11.100 ton dengan luas
panen 185 ha. Kondisi ini sangat beralasan,
jika ditinjau produksi dan luas panen
kalau jagung dijadikan sebagai komuditi
unggulan di Kabupaten Sumenep.
Ditinjau dari aspek wilayah, total
produksi komuditi jagung di wilayah
daratan mencapai 3.533.405 ton, atau rata-

17

rata produksi per kecamatan di wilayah
daratan mencapai 196.411 ton. Sedangkan
di wilayah kepulauan total produksi
jagung mencapai 1.109.451 ton, atau rata-
rata per kecamatan di wilayah kepulauan
mencapai 123.272 ton. Hal ini dapat
disimpulkan, bahwa jagung sebagai
komuditi unggulan lebih produktif di
wilayah daratan dibandingkan di wilayah
kepulauan.
Untuk sub sektor perikanan,
produksi perikanan yang dihasilkan di
Kabupaten Sumenep terdapat empat jenis,
yaitu: perikanan laut, perikanan payau,
perikanan air tawar, dan perikanan
perairan umum.
Tabel 10
Produksi Ikan pada Sub Sektor Perikanan Kabupaten Sumenp Tahun 2009
Wilayah
Perikanan
Laut
Perikanan
Payau
Perikanan
Air Tawar
Perikanan
Perairan
Umum
Jumlah Daratan 26.562,40 605,47 71,83 177,32
Rata-rata Daratan 1.475,69 33,64 3,99 9,85
Jumlah Kepulauan 20.392,90 297,60 0,00 0,00
Rata-rata Kepulauan 2.265,88 33,07 0,00 0,00
Jumlah Sumenep 46.955,30 903,07 71,83 177,32
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Sumenep
Dari tabel 5.22 dapat diketahui
bahwa pada tahun 2009 perikanan laut
menghasilkan produksi yang paling
tinggi, yaitu 4.944,30 ton, kemudian diikuti
oleh perikanan payau dengan produksi
903,07 ton, perikanan peraiaran umum
sebesar 177,32 ton, dan terakhir perikanan
air tawar yaitu sebesar 71,83 ton.
Bersarkan produksi yang dihasilkan maka
dapat ditentukan bahwa pada sub sektor
perikanan, perikanan laut merupkan
komuditi unggulan.
Ditinjau dari aspek wilayah,
produksi perikanan laut di wilayah
daratan secara total memiliki tingkat
produksi yang lebih tinggi, yaitu sebesar
26.562,40 ton, sedangkan diwilayah
kepulauan berada sedikit dibawahnya
yaitu sebesar 20.392,90 ton. Namun kalau
dilihat secara rata-rata, wilayah kepulauan
memiliki produktivitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan wilayah daratan,
yaitu dengan rata-rata produksi per
kecamatan sebesar 2.265,88 ton.
Sedangkan produksi perikanan laut rata-
rata per kecamatan di wilayah daratan
sebesar 1.475,69 ton, atau hampir setengah
dari produksi rata-rata wilayah
kepulauan.
Berdasarkan uraian pembahasan
pada sub bab ini, dapat disimpulkan
bahwa berdasarkan banyaknya rumah
tangga yang berusaha produksi yang
dihasilkan, pada sub sektor pertanian
bahan pangan yang menjadi komuditi
unggulan adalah jagung. Sedangkan sub
sektor perikanan yang menjadi unggulan
adalah perikanan laut. Kemudian
berdasarkan tinjaun wilayah, maka
pengembangan kumoditi jagung lebih
produktif di wilayah daratan, sedangkan
diwilayah kepulauan dispesialisasikan
pada perikanan laut.

Potensi Sustainable Livelihood Approach
Di Kabupaten Sumenep
Untuk mengetahui kemampuan
modal wilayah maka digunakan indeks
dari kelima modal dalam SLA yaitu Modal
Manusia, Modal Alam, Modal Fisik, Modal
Sosial, dan Modal Finansial. Untuk
memperoleh hasil analisis yang mampu
menggambarkan kondisi Kabupaten
Sumenep yang secara georafis terbagi dua
wilayah, maka dalam analisis ini dibagi
dua wilayah, yaitu wilayah daratan dan
wilayah kepulauan.


18

Wilayah Daratan
Hasil perhitungan indeks lima
modal (The Pentagon Capital) di wilayah
daratan Kabupaten Sumenep disajikan
pada tabel 5.39 berikut ini.
Tabel 10
Hasil Perhitungan Indeks Pentagon Capital Di Wilayah Daratan
Kabupaten Sumenep
No Kecamatan
Indeks
Modal
Manusia
Indeks
Modal
Alam
Indeks
Modal
Fisik
Indeks
Modal
Sosial
Indeks
Modal
Keuangan
1 Ambuten 59,16 39,29 26,97 44,18 57,27
2 Batang-batang 52,78 46,96 40,07 45,74 64,03
3 Batuan 52,49 9,93 10,89 22,16 54,19
4 Batuputih 57,81 46,24 34,16 80,70 49,99
5 Bluto 83,63 30,13 37,15 69,57 61,39
6 Dasuk 55,42 40,14 29,69 68,92 57,09
7 Dungkek 54,08 54,09 37,31 47,88 54,32
8 Ganding 59,01 16,56 26,40 49,66 53,39
9 Gapura 67,80 39,30 34,25 57,07 50,65
10 Guluk-guluk 63,59 24,81 27,41 63,61 55,37
11 Kalianget 52,80 23,60 44,52 34,19 49,36
12 Lenteng 77,11 25,92 37,36 83,20 40,98
13 Manding 54,13 18,39 17,99 37,46 63,21
14 Pasongsongan 51,81 61,43 38,74 86,98 56,26
15 Pragaan 69,50 25,95 38,03 79,61 45,12
16 Rubaru 54,70 26,52 40,70 69,28 55,57
17 Saronggi 58,37 37,05 39,79 63,14 52,82
18 Sumenep 66,67 6,65 89,45 52,82 90,50
Indek Wilayah Daratan 60,60 31,83 36,16 58,68 56,20
Sumber : data diolah
Tabel 5.39 menunjukkan bahwa
dari lima modal di wilayah daratan,
indeks modal manusia mempunyai rata-
rata tertinggi yaitu 60,60, kemudian diikuti
oleh indeks modal sosial dengan nilai
indeks rata-rata 58,68. dan indeks modal
finansial dengan nilai 56,20. Untuk melihat
komponen-komponen dalam masing-
masing modal dari lima modal (the
pentagon capital), secara detail dapat dilihat
pada gambar 5.19 dan pebahasan berikut
ini.
Gambar 3
Indeks Pentagon Capital di Wilayah Daratan Kabupaten Sumenep

Sumber : Hasil perhitungan 5 modal wilayah daratan, data diolah
60.60
31.83
36.16
58.68
56.20
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
Modal
Manusia
Modal
Alam
Modal
Fisik
Modal
Sosial
Modal
Keuangan
19

1. Modal Manusia
Secara keceluruhan wilayah
daratan memiliki indeks sebesar
60,60, ini lebih baik daripada wilayah
kepulauan. Tingginya indeks Modal
Manusia di wilayah daratan karena
didukung oleh: 1) IPM di wilayah
daratan yang lebih tinggi, yaitu dari
18 kecamatan daratan, ada 6
kecamatan yang memiliki IPM>7,00
diantaranya: Kecamatan Sumenep,
Batuan, Ganding, Lenteng, Manding
dan Saronggi dengan IPM yang
paling tinggi yaitu sebesar 75, 97
yaitu di Kecamatan Sumenep. 2)
diwilayah daratan tersedia berbagai
sarana pendidikan mulai dari tingkat
TK sampai perguruan tinggi (PT). 3)
dari penyediaan sarana kesehatan di
wilayah daratan memiliki fasilitas
terlengkap termasuk 2 rumah sakit,
yaitu RSUD yang ada di Kecamatan
Kota Sumenep dan RSI di Kecamatan
Kalianget.
Kondisi modal manusia tidak
lepas dari peranan pendidikan diluar
pendidikan formal yang dikelola
pemerintah seperti pondok pesantren
yang cukup dominan. Masyarakat
semenep secara umum memiliki
persepsi bahwa pendidikan dengan
basis agama dianggap lebih baik.
Selain pendidikan, masyarakat
juga memiliki potensi yang dapat
dikembangkan. Potensi tersebut
berupa skill/keahlian dalam bekerja
yaitu skil/keahlian dalam bercocok
tanam dan menangkap ikan (melaut).
Keahlian masyarakat tersebut
diperoleh secara turun-temurun. Hal
ini dikemukakan oleh Pak Arif
sebagai petani jagung di Kecamatan
Dasuk:
“Saya tahu cara bercocok tanam
dari orang tau saya Pak. Orang tua
kan petani juga, beliau punya lahan
sendiri yang cukup luas. Jadi sejak
kecil saya suka bantu-bantu
akhirnya paham bagaiamana cara-
cara bercocok tanam”.
Hal senada juga diungkapkan
oleh Pak Ranin yang bekerja sebagai
nelayan di Kecamatan
Pasongsongan:
“Lulus SD saya langsung melaut
mas ikut orang tua. Awalnya
bingung mau mengerjakan apa
ditambah sering mabuk laut, tapi
lama-kelamaan bisa juga. Dalam
melaut itu, yang penting ada
kemauan untuk belajar dan
berusaha memahami alam Mas,
seperti: mengetahui cuaca, arus air
laut”.
Apa dikemukakan oleh Pak
Ranin dan Pak Arif menunjukkan
bahwa modal manusia di wilayah
daratan cukup baik, selain dari daya
dukung pesantren dalam pendidikan,
masyarakat juga memiliki potensi
berupa skill/keterampilan yang
dimiliki masyarakat dalam hal
bercocok tanam dan melaut. Skill
tersebut telah teruji karena di peroleh
secara alamiah yaitu dari turun-
temurun.
2. Modal Alam
Potensi modal alam di wilayah
daratan bertumpu pada potensi hasil
pertanian, dimana pada sektor
pertanian tanaman pangan selain di
dukung oleh luas lahan pertanian
yang cukup, juga memiliki
produktifitas hasil pertanian yang
lebih tinggi dibandingkan dengan
wilayah kepulauan. Di wilayah
daratan juga memiliki potensi dalam
perikanan, hal ini karena di wilayah
daratan terdapat beberapa kecamatan
pesisir yang memiliki produksi ikan
laut yang cukup tinggi, seperti
Kecamatan Dungkek, Pasongsongan
dan juga Kecamatan Batang-batang.
Namun secara keseluruhan rata-rata
produktivitas perikanan wilayah
daratan masih dibawah wilayah
kepulauan, karena di wilayah daratan
terdapat tujuh kecamatan yang bukan
merupakan kecamatan pesisir
sehingga tidak mempunyai potensi

20

perikanan laut, diantaranya
Kecamatan Rubaru, Manding, Kota
Sumenep, Batuan, Lenteng, Ganding,
dan Kecamatan Guluk-guluk.
Berdasarkan hasil yang dicapai
dalam pengelolaan SDA di wilayah
daratan belum optimal, hal ini
ditunjukkan hasil perhitungan indeks
modal alam, di wilayah daratan
dengan nilai sebesar 31,83. Ini
merupakan satu-satunya nilai indeks
yang lebih rendah dibandingkan
dengan wilayah kepulauan.
Beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya modal alam
di wilayah daratan adalah : sejak
adanya kebijakan pemerintah terkait
penyaluran pupuk bersubsidi melalui
kelompok, petani sering ngemalami
kesulitan untuk mendapatkan pupuk
terutama pada saat musim tanam
tiba, sehingga petani banyak
terlambat tanam karena menunggu
pupuk, atau mereka terpaksa
menanam dengan pupuk yang ada
walaupun tidak sesuai dengan
kebutuhan. Hal ini sebagaimana
disampaikan oleh Pak Mochtar :
“Beberapa tahun belakangan ini
pupuk sulit diperoleh pada saat
dibutuhkan. Pembelian pupuk
harus melalui kelompok dan
jatahnyapun terbatas Mas. Ini yang
menyebabkan saya kadang
terlambat pada saat musim tanam
tiba. Ya Saya berharap jatah pupuk
sesuai dengan kebutuhan Mas,
Kalau perlu pembelian pupuk bebas
seperti dulu saja, sehingga kami
mudah memperoleh dan bisa tanam
tepat waktu”
Kelangkaan pupuk juga
dirasakan Pak H. Pani yang
berprofesi sebagai pedagang besar
berbagai komuditi termasuk jagung
di Kecamatan Manding, seperti
yang Pak H. Pani ungkap :
“Banyaknya petani yang terlambat
menanam pada musim tanam yang
diakibatkan kelangkaaan pupuk,
sehingga hasil produksi tidak
optimal. Dua tahun yang lalu saya
pernah kekurangan stock Jagung
Mas, jagung yang bisanya dikirim
dari beberapa pengepul banyak,
kemarin tidak memenuhi target,
sehingga saya harus mendatangkan
dari Kabupaten Pamekasan.
Makanya saya berharap pemerintah
daerah dapat menyelesaikan
masalah kelangkaan pupuk, baik
terkait ketersediaan jatah sesuai
dengen kebutuhan maupun proses
pendistribusiannya sehingga tidak
mempersulit merugikan petani”.
Masalah kelangkaan pupuk
yang sering terjadi manjadi salah
satu faktor yang menyebabkan
tidak optimalnya produksi hasil
pertanian, yang pada akhirnya
bermuara kepada semakin
rehdahnya pendapatan dan
kesejahteraan petani. Oleh karena
itu petani berharap ada kebijakan
dari pemerintah daerah sehingga
ketersediaan pupuk tercukupi dan
distribusi lancar.
Masalah tidak optimalnya
pemanfaatan sumberdaya alam juga
terjadi pada sektor perikanan. Potensi
perikanan di wilayah daratan cukup
besar karena terdapat beberapa
kecamatan yang merupakan wilayah
pesisir, akan tetapi belum belum
adanya mekanisme pelelangan ikan
yang baik menyebabkan proses
pelelangan ikan memakan waktu
yang cukup lama. Hal ini dungkap
oleh Pak Abdur Rahem:
“Sebenarnya hasil tangkap ikan
diwilayah Sumenep ini sangat
bagus dan ikannyapun ikan
berkelas. Namun proses
pelelangan yang berbelit-belit
antara pedagang dengan
“Pengambe’ (sebutan untuk orang
yang berwenang menjual ikan
dari nelayan)” yang mayoritas
perempuan sehingga ikan dalam
kondisi tidak segar lagi. Ini yang
menyebabkan ikan berkurang
kualitasnya”.

21

Pada saat musim tangkap tiba,
hasil tangkap ikan sangat banyak
sehingga belum adanya mekanisme
pelelangan ikan yang baik sangat
dirasa sangat merugikan nelayan.
Proses transaksi yang sangat lama di
pinggir pantai menyebabkan nilai
ekonomis ikan menurun sehingga
merugikan baik nelayan maupun
pedagang.
3. Modal Fisik
Kondisi modal fisik di wilayah
daratan relatif lebih baik dibanding
dengan kepulaun. Hal ini dapat
dilihat dari infrastruktur jalan dengan
kondisi baik dan ketersediaan sarana
transporasi umum. Di wilayah
daratan telah memiliki dua akses
jalan menuju kabupaten lain dengan
armada angkut bis antar kota.
Sementara ditinjau dari ketersediatan
alat transportasi umum, wilayah
daratan memiliki alat tarnsportasi
darat bermotor paling lengkap mulai
dari sepeda motor, mini bus, pick up
dan truk. Namun alat transportasi
yang terbanyak adalah sepeda motor
dengan jumlah 41.714 unit sepeda
motor, hal ini di karenakan sepeda
motor telah menjadi alat transportasi
massal, karena harganya yang relatif
terjangkau. Di wilayah daratan
terdapat pasar yang dikelola DPPKA
yaitu sebanyak 36 pasar, dan 6
diantaranya terletak di Kecamatan
Kota Sumenep. Di wilayah daratan
memiliki beberapa pelabuhan rakyat
dan pelabuhan penyebrangan induk
yaitu Pelabuhan Kalianget.
Secara umum modal fisik di
wilayah daratan lebih baik dari pada
wilayah kepulauan, akan tetapi
terkait dengan pengembangan
potensi wilayah modal fisik wilayah
daratan mempunyai indeks 36,16,
artinya kondisi fiisik masih banyak
yang perlu dibenahi guna
mendukung optimalisasi
pegembangan potensi wilayah. Pada
sektor perikanan sarana pendukung
belum memadai, hal ini sebagaiman
disampaikan oleh Pak Abdur Rahem:
“... rendahnya kwalitas juga ikan
disebabkan karena sarana
pendukung yang kurang memadai,
seperti es sering kekurangan Mas,
ditambah lagi di Pasongsongan ini
tidak ada cold storage yang bisa
menampung dan menjaga kwalitas
ikan, sehingga pada musim tangkap
hasil ikan melimpah ikan hanya
dikeringkan atau masuk ke
tepungan sehingga harga ikan
murah ...”
Kondisi seperti yang
disampaikan oleh Pak Abdur Rahem
terjadi setiap tahun pada saat musim
tangkap tiba. Ikan laut hasil tangkap
yang sebenarnya mempunyai nilai
ekonomi tinggi menjadi rendah
kerena belum sarana yang memadai.
4. Modal Sosial
Secara keseluruhan modal
sosial di wilayah daratan lebih baik
dibanding dengan wilayah
kepulauan, dengan angka indeks
58,68. Kondisi ini didukung oleh
keadaan riil masyarakat yang relatif
homogen. Homogen dalam hal ini
adalah bahwa wilayah daratan dihuni
oleh penduduk yang hampir
dominan merupakan asli Suku
Madura. Selain itu, masyarakatnya
secara mayoritas memiliki kayakinan
yang sama yaitu memeluk agama
Islam. Proses keberagamaan dan
kehidupan kolektivitas masyarakat
Sumenep yang kuat ini tercermin
pada banyak sarana peribadatan yang
dimiliki dan semangat gotong royong
masyarakat dalam perayaan hari-hari
besar keagamaan.
5. Modal Keuangan
Kondisi modal keuangan
wilayah daratan telatif sama dengan
wilayah kepulaun. Namun secara
keseluruhan modal keuangan
wilayah daratan lebih baik
dibandingkan wilayah kepulauan

22

karena di wilayah daratan memiliki
tingkat daya beli yang lebih besar, hal
ini tercermin dari pengeluaran
perkapita per bulan secara rata-rata
yang lebih tinggi yaitu sekitar Rp.
210.747,70, sedangkan kecamatan
dengan pengeluaran perkapita per
bulan paling tinggi adalah Kecamatan
Sumenep yaitu sebesar Rp. 331.510,81.
Tingginya tingkat daya beli
masyarakat di wilayah daratan
karena didukung oleh ketersediaan
barang-barang kebutuhan masyarakat
dan harganya relatif stabil. Selain itu
diwilayah daratan akses masyarakat
terhadap kebutuhan modal melalui
lembaga keuangan bank maupun non
bank relatif lebih mudah.
Wilayah Kepulauan
Hasil perhitungan indeks lima
modal (The Pentagon Capital) wilayah
daratan Kabupaten Sumenep dapat dilihat
sebagai berikut:
Tabel 11
Hasil Perhitungan Indeks Pentagon Capital Di Wilayah Kepulauan
Kabupaten Sumenep
No Kecamatan
Indeks
Modal
Manusia
Indeks
Modal
Alam
Indeks
Modal
Fisik
Indeks
Modal
Sosial
Indeks
Modal
Keuangan
1 Arjasa 60,63 80,45 30,02 65,27 66,90
2 Gayam 47,49 42,03 28,33 46,70 52,40
3 Giligenting 42,58 18,40 21,94 38,96 52,89
4 Kangayan 55,52 38,83 20,93 25,93 49,09
5 Masalembu 46,82 42,56 16,51 16,23 37,34
6 Nonggunong 43,68 34,83 14,05 31,43 41,89
7 Raas 48,38 31,63 27,21 38,58 43,35
8 Sapekan 58,85 47,97 27,45 26,96 61,28
9 Talango 48,18 27,89 21,71 47,01 43,64
Indek Wilayah Kepulauan 50,24 40,51 23,13 40,51 49,86
Sumber : data diolah
Dari tabel 5.40, dapat dilihat
bahwa dari lima modal di wilayah
kepulauan, indeks modal manusia
mempunyai rata-rata teringgi yaitu
50,24. Sedangkan terendah adalah
indeks fisik yaitu sebesar 23,13. Untuk
melihat komponen-komponen dalam
masing-masing modal dari lima modal
(the pentagon capital), dapat dilihat pada
gambar 5.20 dan pembahasan berikut
ini.
Gambar 4
Indeks Pentagon Capital di Wilayah Kepulauan Kabupaten Sumenep

Sumber : Hasil perhitungan 5 modal wilayah kepulauan, data diolah
50.24
40.51
23.13
37.45
49.86
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
Modal
Manusia
Modal
Alam
Modal
Fisik
Modal
Sosial
Modal
Keuangan

23


1. Modal Manusia
Indeks modal manusia di
wilayah kepulaun sebesar 50,24.
Secara umum di wilayah kepulauan
telah tersedia sarana kebutuhan dasar
masyarakat, seperti sarana
pendidikan, dari TK sampai dengan
tingkat SMP diseluruh kecamatan
kepulauan telah tersedia. Akan tetapi
pada pendidikan tingkat SMA tidak
karena tidak semua kecamatan
kepulauan tersedia, yaitu dari 9
kecamatan kepulauan hanya empat
kecamatan yang terdapat SMA
Negeri, yaitu Kecamatan Masalembu,
Sapeken, Arjasa dan Gayam.
Sedangkan pada kecamatan yang lain
masyarakat yang ingin melanjutkan
ke tingkat SMA maka akan pindah ke
kecamatan yang terdapat SMAN, atau
akan masuk ke sekolah swasta/MA.
Akan tetapi terdapat satu kecamatan
kepulauan yang tidak terdapat
pendidikan pada jenjang SMA.
Sarana kesehatan di wilayah
kepulauan cukup memadai, dimana
diseluruh kecamatan terdapat
pelayanan kesehatan dasar antara lain
: Puskesmas, Puskesmas pembantu,
Polindes dan Posyandu.
2. Modal Alam
Berdasarkan perhitungan
indeks modal alam, wilayah
kepulauan memiliki angka 40,51. Di
wilayah kepulauan memiliki SDA
yang cukup besar baik potensi hasil
pertanian terutama potensi
perikanan.
Ditinjau dari potensi pada
sektor pertanian ini, ada dua
kecamatan di wilayah kepulauan
dengan lahan petanian terluas di
Kabupaten Sumenep, yaitu
Kecamatan Arjasa dengan luas lahan
pertanian 15.793 ha, dan Kecamatan
Kangayan dengan luas lahan 11.161
ha. Sedangkan kecamatan lain dengan
lahan terluas ketiga di wilayah
kepulauan adalah Kecamatan Gayam
dengan luas lahan 8.274 ha.
Dari produksi pertanian di
wilayah kepulauan terdapat beberapa
komuditi yang cukup berkembang,
diantaranya : padi sawah, jagung dan
ketela pohon. Kecamatan dengan
produksi padi sawah dan ketela
pohon tertinggi di Kabupaten
Sumenep adalah Kecamatan Arjasa
dengan produksi padi sawah pada
tahun 2008 sebesar 411.314 ton dan
ketela pohon sebesar 736.276 ton.
Berdasarkan potensi perikanan,
sebagai wilayah kepulauan seluruh
kecamatan memiliki potensi
perikanan laut cukup besar dengan
produksi keseluruhan pada tahun
2008 sebesar 20.392,90 ton. Sedangkan
perikanan payau sebesar 297,60 ton.
3. Modal Fisik
Kondisi modal fisik di wilayah
kepulauan memilki indeks yang
paling rendah, yaitu 23,13. Kenyataan
ini merupakan pekerjaan rumah besar
bagi Pemerintah Kabupaten
Sumenep. Ditinjau infrastruktur jalan
dengan kondisi baik dan ketersediaan
sarana transporasi umum dan fasilitas
umum lainnya masih sangat minim.
Di wilayah kepulauan,
kecamatan yang terdapat pasar yang
dikelola pemerintah hanya ada di
kecamatan tarlango, yaitu UPT. Pasar
Talango, sedangkan delapan
kecamatan lainnya masih belum
tersedia. Begitu juga terkait dengan
TPI, walaupun wilayah kepulauan
memiliki potensi perikanan yang
sangat besar namun belum ada
satupun kecamatan yang memiliki
sarana TPI tersebut. Sehingga tidak
heran kalau banyak nelayan di
kepulauan lebih suka melakukan
transaksi/menjual hasil ikan
tangkapnya di tengah lautan kepada
pedagang-pedagang dari luar
Sumenep seperti dari Bali, Banyuangi,

24

pekalongan dan beberapa pedagan
besar dari Jawa. Kondisi ini diungkap
oleh Pak Sahiruddin:
“Dikepulauan kebanyakan hasil
ikan tangkap di jual kepada
pedagang-pedagang besar dari luar
di tengah laut, karena disini tidak
ada pangkalan pendaratan ikan dan
TPI yang memadai Pak. Jadi lebih
baik dijual ditengah laut selain
hemat BBM, kalau di bawa pulang
disana terkadang harganya sangat
murah atau bahkan kalau lagi
musim tidak laku”.
Ungkapan yang sama
dilontarkan oleh Pak Busri Nelayan
Kecamatan Masalembu :
“Masalah utama nelayan adalah
harga ikan yang naik turun dan
bahkan cendrung murah. Karena
disini pasarnya hanya sama
masyarakat disini untuk dimakan
dan para pemindang rumahan,
padahal hasil tangkap yang
dihasilkan sangat banyak. Jadi lebih
baik dijual kepada pedagang dari
luar, karena selain harganya
lumayan juga langsung merima
uang”.
Kebijakan yang perlu
dilakukan, menanggapi
permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh masyarakat
sebagaimana diungkapkan oleh Pak
Sahiruddin dan Pak Busri adalah
meningkatkan dan mempercepat
infrstruktur di wilayah kepulauan
4. Modal Sosial
Indeks modal sosial di wilayah
kepulauan masih dibawah wilayah
daratan, yaitu dengan angka indeks
40,51, namun secara keseluruhan
kondisi masyarakat kepulauan sama
dengan sumenep daratan. Namun
masyarakat wilayah kepulauan lebih
haterogen, yaitu di wilayah
kepulauan terdiri dari berbagai suku,
yaitu: suku Madura, Jawa, Bugis,
Mandar, dan Suku Bajoe.
Keberadaan kelompok-
kelompok di wilayah kepulauan
belum berjalan sebagaimana
mestinya. Kondisi ini sesuai apa yang
dikatakan oleh Pak Saedi:
“Kelompok nelayan disini ada
Mas, namun masyarakat nelayan
disini aktif dalam kelompok,
hanya jika ada nelayan dari luar
yang masuk kewilayah sini tanpa
ijin. Karena di khawatirkan akan
menguras sumberdaya ikan.
Selain itu tidak ada aktifitas”.
Tidak optimalnya fungsi kelompok
juga disebabkan kurangnya
kesadaran dari masyarakat, hal ini
sebagaimana komentar Pak Busri:
“Buat apa kelompok-kelompokan
Mas, tidak menghasilakn apa-apa
Mas, hanya buang-buang waktu
lebih baik kerja …”
Kendala lain dalam modal
sosial yang dihadapi masyarakat
kepulauan adalah pola fikir
masyarakat yang sering
menggunakan jalan pintas dimana
masih banyak masyarakat untuk
mendapatkan hasil tangkapan yang
banyak dengan menggunakan cara
yang dilarang seperti potassium dan
bom. Kondisi ini menjadi
keprihatinan Pak Sahiruddin,
sebagaimana beliau ungkapkan:
“Nelayan disini banyak yang
berfikir sempit Mas, mereka
menggunakan potassium dan bom
untuk mendapat ikan yang
banyak dengan mudah. Padahal
dampaknya banyak ikan kecil-
kecil juga ikut mati, kan eman-
eman (sayang)….”
Permasalahan penggunaan
potassium dan bom merupakan hal
yang lama terjadi dan sulit untuk
diberantas. Kondisi ini disebabkan
oleh belum adanya kesadaran
masyarakat untuk melestarikan
lingkungan, hal sabagaimana Pak
Sahiruddin sampaikan :
“….. Walaupun beberapa dari ada
yang ditangkap oleh aparat
karena tertangkap tangan, namun
tidak reja Mas, karena mungkin

25

mereka tidak punya kesadaran,
jadi sulit dihentikan…..”.
Berdasarkan penelusuran lebih
lanjut, sulitnya menghentikan
potassium dan bom ikan karena
praktek itu telah dilakukan sejak
lama, kemudian didukung oleh
kemampuan dalam merakit bom.
Oleh karena itu selain tindakan yang
selama ini dilakukan oleh aparat,
untuk mengeleminir praktek-praktek
tersebut maka dapat dilakukan
dengan pendekatan yang lebih
humanis seperti, penyuluhan akan
kesadaran menjaga lingkungan serta
pembinaan mental atau moral melalui
tokoh agama melalui siraman rohani.
5. Modal Keuangan
Kondisi modal keuangan
wilayah kepulauan telatif sama
dengan wilayah daratan. Namun
ditinjau dari komponen pengeluaran
perkapita per bulan masyarakat, di
wilayah kepulauan lebih rendah
dibadingkan dengan wilayah
daeratan, yaitu dengan pengeluaran
perkapita per bulan rata-rata Rp.
204.416,06. Dua kecamatan dengan
pengeluaran perkapita per bulan
paling rendah adalah Kecamatan
Raas dan Kecamatan Talango, yaitu
dengan pengeluaran perkapita per
bulan masing-masing Rp. 177.546,45
dan Rp. 188.380,16. Rendahnya daya
beli masyarakat diwilayah kepulauan
selain faktor pendapatan yang
diterima, juga dipengaruhi oleh
mahalanya barang-barang kebutuhan
hidup.

Strategi Pengembangan Sektor Unggulan
Kaitannya dengan Potensi Lima Modal
(Pentagon Capital) Sustainable
Livelihood Approach
Pelaksanaan otonomi daerah
merupakan pemberian kewenangan dan
keleluasaan kepada daerah
kabupaten/kota dalam mengurus
kepentingan masyarakat sesuai dengan
kondisi, potensi dan keanekaragaman
wilayahnya. Artinya kebijakan
pembangunan yang diambil idealnya
didasari oleh potensi dan cirikhas yang
dimiliki daerah. Karena itu masyarakat
sebagai pelaku dan sekaligus tujuan
pembangunan sudah waktunya diberi
porsi peranan yang lebih besar.
Masyarakat dengan segala aktivitasnya
bersama alam disekitarnya dengan ciri
khas yang dimiliki diharapkan munculnya
kearifan lokal. Sehingga pengembangan
ekonomi wilayah dapat berjalan secara
efektif dan efisian, berkelanjutan, dan
tetap mempertahankan tradisi lokal yang
merupakan identitas masyarakat daerah.
Pemahaman akan potensi daerah
yang dapat dikembangkan serta
teridentifikasinya berbagai permasalahan
yang dihadapi oleh masyarakat daerah
dalam pengembangan potensi, maka
diharapkan kebijakan yang diambil benar-
benar mampu memberikan solusi,
sehingga ke depan diharapkan tercapai
kondisi sebagai berikut:
1. Optimalisasi pengelolaan dan
pemanfaatan potensi/sumberdaya
yang dimiliki daerah;
2. Pengembangan ekonomi daerah yang
diiringi perbaikan tingkat
kesejahteraan masyarakat di daerah.

Strategi Pengembangan di Wilayah
Daratan
Pengembangan wilayah bukan
hanya menjadi milik pemerintah, akan
tetapi masyarakat merupakan entitas yang
tidak dapat dipisahkan dalam proses
pembangunan. Mereka bukan hanya objek
tetapi juga subyek dalam pembangunan.
Karena merekalah yang menjalani
berbagai aktivitas ekonomi dan
berinteraksi dengan alam sekitarnya, maka
masyarakat seharusnya menjadi pusat
dalam proses pembangunan.

26

Berdasarkan hasil interview
mendalam dan kajian dalam penelitian
ditemukan beberapa kendala yang dapat
menghalagi proses pengembangan
ekonomi masyarakat di wilayah daratan.
Kendala-kendala tersebut antara lain:
1. Kesulitan petani untuk mendapatkan
pupuk terutama pada saat musim
tanam tiba, sehingga banyak petani
sering mengalami keterlambatan
menanam atau terpaksa menanam
dengan konsidi kekurangan pupuk.
Hal ini menyebabkan hasil produksi
menurun.
2. Menurunya nilai ekonomis ikan yang
disebabkan tidak berfungsinya TPI
yang ada sehingga mekanisme
pelelangan ikan terlalu lama (tidak
efektif).
3. Sarana dan prasarana penunjang
yang belum memadai, seperti pabrik
es yang dapat memenuhi kebutuhan
pada saat musim tangkap dan belum
adanya cold storage yang dapat
menyimpan ikan.
Meskipun terdapat kendala-
kendala yang menghambat, di wilayah
daratan masih memiliki potensi yang
dapat dikembangkan. Potensi-potensi
tersebut antara lain:
1. Ketrampilan/skill yang dimiliki
masyarakat dalam bercocok tanam
dan melaut (menangkap ikan).
2. Sumberdaya di bidang pertanian dan
perikanan tangkap.
3. Akses jalan dalam kondisi baik dan
sarana transportasi yang memadai.
Berdasarkan temuan-temuan dalam
penelitian ini, maka strategi dalam
pengembangan wilayah daratan adalah
sebagai berikut:
1. Peningkatan produksi pertanian
melalui program/kegiatan
monetoring dan pengawasan
terhadap ketersediaan dan distribusi
pupuk.
2. Pengembangan sarana dan prasarana
perikanan melalui program/kegiatan:
1) Optimalisasi fungsi TPI yang
mampu menciptakan meknisme
pelelangan ikan yang efektif;
2) Pembangunan dan
pengembangan sarana dan
prasarana pendukung yang
memadai, diantaranya pabrik es
dan pembangunan rumah ikan
(cool storage).
Setelah diketahui kendala, potensi
dan strategi pengembangan, berdasarkan
data hasil analisis kuantitatif dan hasil
analisis kualitatif (obsevasi dan interview)
maka dapat dibuat model pengembangan
sektor potensial di wilayah daratan
sebagai berikut :

27

Gambar 5
Model Strategi Pengembangan di Wilayah Daratan















KONTEK
KERENTANAN

1. Kesulitan petani
mendapatkan
pupuk pada saat
musim tanam
tiba.
2. Menurunnya nilai
ekonomis ikan
yang disebabkan
mekanisme
pelelangan ikan
terlalu lama.
3. Sarana dan
prasarana
penunjang yang
belum memadai.
STRATEGI
PENEMBANGAN

1. Monetoring
dan
pengawasan
terhadap
ketersediaan
dan distribusi
pupuk.
2. Optimalisasi
fungsi TPI yang
mampu
menciptakan
meknisme
pelelangan ikan
yang efektif
3. Pengembangan
pabrik es dan
pembangunan
rumah ikan
(cold storage).
HASIL-HASIL
MATA
PENCAHARIAN

1. Optimalisasi
pengelolaan
potensi
2. Peningkatan
kesejahteraan
masyarakat
STRUKTUR
TRANSFORMASI

1. Skill masyarakat
dalam bercocok
tanam dan
melaut
2. Sumberdaya
pertanian dan
prikanan
3. Akses jalan
dalam kondisi
baik dan sarana
transportasi
yang memadai

28

Strategi Pengembangan di Wilayah
Kepulauan
Wilayah kepulauan Kabupaten
Sumenep secara geografis tersebar di Laut
Jawa. Potensi sumberdaya laut yang besar,
namun dengan masyarakat yang
heterogen (multi etnis) menjadi tantangan
tersendiri. Berdasarkan hasil penelusuran
dan kajian dalam penelitian ditemukan
beberapa kendala yang menghalangi
proses pengembangan ekonomi di wilayah
kepulauan. Kendala-kendala tersebut
antara lain:
1. Banyak transaksi ikan yang dilakukan
di tengah laut yang disebabkan belum
tersedianya infrastruktur perikanan
yang memadai, seperti: pelabuhan
pendaratan ikan (PPI), tempat
pelelangan ikan (TPI) dan sarana
pendukung lainnya seperti jaringan
listrik, air bersih, pabrik es dan cool
storage.
2. Penggunaan potassium dan bom ikan
yang sangat membahayakan
lingkungan dan ekosistem laut.
3. Belum adanya kesadaran dan
kemampuan masyarakat dalam hidup
berorganisasi/berkelompok.
Selain kendala-kendala yang dapat
menghambat, di wilayah daratan terdapat
potensi yang dapat dikembangkan.
Potensi-potensi tersebut antara lain:
1. Ketrampilan/skill yang dimiliki
masyarakat untuk bercocok tanam
dan menangkap ikan.
2. Sumberdaya bidang perikanan
tangkap yang cukup besar.
Adapun kebijakan pengembangan
perikanan laut di wilayah kepulauan
adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan infrastruktur
perikanan malalui program/kegiatan
pembangunan pelabuhan pendaratan
perikanan yang lokasinya disesuaikan
dengan lokasi penangkapan ikan
(Fishing Ground), dan pusat-pusat
kegiatan perikanan. Adapun alternatif
rencana lokasi pengembangan
pelabuhan perikanan yang bisa
dipertimbangkan antara lain:
pelabuhan rakyat kalikatak di
kecamatan Arjasa, pelabuhan rakyat
kanganyan dan saobi di Kecamatan
Kangayan dan pelabuhan rakyat
sapeken, tanjung kiaok dan
pekabuhan rakyat paliat di
Kecamatan Sapeken.
2. Pengembangan sarana dan prasarana
perikanan melalui program/kegiatan:
1) Pembangunan TPI dengan
meknisme pelelangan ikan yang
efektif serta yang mampu
mewadahi para pedagang
terutama pedagang dari luar
daerah;
2) Pembangunan dan
pengembangan sarana dan
prasarana pendukung yang
memadai, diantaranya jaringan
listrik, air bersih, pabrik es dan
pembangunan rumah ikan (cool
storage).
3. Peningkatan kesadaran dalam
menjaga kelestarian alam dan hidup
berorganisasi melalui
program/kegiatan:
1) Penyuluhan dan pembinaan
mental/moral dengan melibatkan
tokoh agama yang bertujuan
untuk menanamkan kesadaran
akan pentingnya menjaga
kelestarian alam.
2) Sosialisasi akan pentingnya
keberadaan kelompok-kelompok
nelayan sebagai media yang
efektif dalam proses pembinaan
oleh pemerintah, serta sebagai
tempat pembelajaran dan
transformasi informasi dan
teknologi perikanan bagi
masyarakat nelayan.
Berdasarkan data hasil analisis
kuantitatif dan hasil analisis kualitatif
(obsevasi dan interview) maka dapat dibuat
model pengembangan sektor potensial di
wilayah kepulauan sebagai berikut:

29

Gambar 6
Model Strategi Pengembangan di Wilayah Kepulauan



























KONTEK
KERENTANAN

1. Terjadinya
trasaksi ikan di
tengah laut yang
disebabkan
Sarana dan
prasarana yang
belum mamadai
2. Penggunaan
potassium dan
bom dalam
menangkap ikan
3. Kesadaran dan
kemampuan
berorganisasi
rendah
STRATEGI
PENEMBANGAN

1. Pembangunan
pelabuhan dan
pendaratan ikan.
2. Pembangunan
sarana pendukung
: TPI, jaringan
listrik, air bersih,
pabrik es dan cold
storage.
3. Penyuluhan dan
Pembinaan
Mental/moral akan
pentingnya
kelestarian alam
4. Melakukan
sosialisasi dan
pembinaan
terhadap
kelompok-
kelompok kerja
HASIL-HASIL
MATA
PENCAHARIAN

1. Optimalisasi
pengelolaan
potensi
2. Peningkatan
kesejahteraan
masyarakat
STRUKTUR
TRANSFORMASI

1. Skill masyarakat
dalam bercocok
tanam dan
melaut
2. Sumberdaya
prikanan laut
yang cukup
besar

30

F. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang
telah diuraikan, maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Hasil klasifikasi sektor ekonomi
dengan menggunakan analisis Klassen
Typology selama periode analisis
tahun 2000-2008 menunjukkan bahwa
sektor pertanian termasuk dalam
klasifikasi sektor prima
2. Hasil analisis Shift Share selama
periode analisis tahun 2000-2008
menunjukkan bahwa nilai tambah
absolut PDRB Kabupaten Sumenep
sebesar Rp.144,418 miliar.
Berdasarkan Proportional Shift, sektor
ekonomi yang memiliki dampak
bauran industri positif (nilai Mik
positif), yaitu sektor pertambangan
dan penggalian, sektor listrik, gas dan
air bersih, sektor perdagangan, hotel
dan restoran, sektor pengangkutan
dan komunikasi dan sektor
keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan. Berdasarkan Differential
shift dua sektor ekonomi yang
memiliki keunggulan kekompetitifan
yang semakin meningkat yaitu sektor
pertanian dan sektor bangunan yang
ditunjukkan oleh nilai Cik positif.
Sedangkan pengaruh pertumbuhan
ekonomi Propinsi Jawa Timur
terhadap perekonomian Kabupaten
Sumenp menunjukkan nilai Nik positif
pada setiap sektor ekonomi dengan
total nilai output Rp. 222,309 miliar.
3. Berdasarkan hasil perhitungan
Location Quotient, diketauhi di
Kabupaten Sumenep selama periode
analisis tahun 2000–2008 dari 9
(Sembilan) sektor ekonomi sektor
terdapat 3 (tiga) sektor yang
merupakan sektor basis (LQ>1), yaitu:
sektor pertanian, sektor
pertambangan dan penggalian dan
sektor jasa.
4. Berdasarkan analisis gabuangan
dengan menggukan ketiga alat
analisis menunjukkan bahwa sektor
yang merupakan sektor unggulan
dengan kriteria tergolong ke dalam
sektor prima, memiliki tingkat
kekompetitifan yang semakin
meningkat dan merupakan sektor
basis, yaitu sektor pertanian.
Sementara hasil analisis pemetaan
sektor unggulan, diketahui bahwa
sub sektor unggulan dalam sektor
pertanian adalah sub sektor tanaman
pangan dan sub sektor perikanan.
Sedangkan ditinjau dari aspek
kewilayahan, maka dapat
disimpulkan bahwa wilayah daratan
mempunyai potensi sub sektor
tanaman pangan dengan kumuditi
unggulan jagung. Sementara di
wilayah kepulauan memiliki potensi
pada sub sektor perikanan dengan
perikanan laut sebagai unggulan.
5. Hasil analisis kemampuan modal
wilayah dengan menggunakan
Sustainable Livelihood Aprroach,
berdasarkan indeks lima modal
secara umum di wilayah daratan
yang menjadi kendala yang dalapat
menghambat pengembangan
ekonomi wilayah adalah modal alam
dan modal fisik. Sementara di
wilayah kepulauan yang menjadi
penghambat adalah modal fisik dan
modal sosial. Adapun kendala-
kendala tersebut adalah sebagai
berikut:
Wilayah daratan:
4. Kesulitan petani untuk
mendapatkan pupuk
terutama pada saat musim
tanam tiba, sehingga banyak
petani sering mengalami
keterlambatan menanam atau
terpaksa menanam dengan

31

konsidi kekurangan pupuk.
Hal ini menyebabkan hasil
produksi menurun.
5. Menurunya nilai ekonomis
ikan yang disebabkan tidak
berfungsinya TPI yang ada
sehingga mekanisme
pelelangan ikan terlalu lama
(tidak efektif).
6. Sarana dan prasarana
penunjang yang belum
memadai, seperti pabrik es
yang dapat memenuhi
kebutuhan pada saat musim
tangkap dan belum adanya
cold storage yang dapat
menyimpan ikan.
Wilayah kepulauan:
4. Banyak transaksi ikan yang
dilakukan di tengah laut
yang disebabkan belum
tersedianya infrastruktur
perikanan yang memadai,
seperti: pelabuhan pangkalan
ikan (PPI), tempat pelelangan
ikan (TPI) dan sarana
pendukung lainnya seperti
jaringan listrik, air bersih,
pabrik es dan cool storage.
5. Penggunaan potassium dan
bom ikan yang sangat
membahayakan lingkungan
dan ekosistem laut.
6. Belum adanya kesadaran dan
kemampuan masyarakat
dalam hidup
berorganisasi/berkelompok.

Saran-saran
Berdasarkan hasil pembahasan di
atas, maka dapat disarankan beberapa hal
sebagai berikut:
Wilayah daratan
3. Peningkatan produksi pertanian
melalui program/kegiatan
monetoring dan pengawasan
terhadap ketersediaan dan
distribusi pupuk.
4. Pengembangan sarana dan
prasarana perikanan melalui
program/kegiatan:
3) Optimalisasi fungsi TPI yang
mampu menciptakan
meknisme pelelangan ikan
yang efektif.
4) Pembangunan dan
pengembangan sarana dan
prasarana pendukung yang
memadai, diantaranya
pabrik es dan pembangunan
rumah ikan (cool storage).
Wilayah kepulauan
4. Pembangunan infrastruktur
perikanan malalui
program/kegiatan pembangunan
pelabuhan pendaratan perikanan
yang lokasinya disesuaikan
dengan lokasi penangkapan ikan
(Fishing Ground), dan pusat-pusat
kegiatan perikanan. Adapun
alternatif rencana lokasi
pengembangan pelabuhan
perikanan yang bisa
dipertimbangkan antara lain:
pelabuhan rakyat kalikatak di
kecamatan Arjasa, pelabuhan
rakyat kanganyan dan saobi di
Kecamatan Kangayan dan
pelabuhan rakyat sapeken,
tanjung kiaok dan pekabuhan
rakyat paliat di Kecamatan
Sapeken.
5. Pengembangan sarana dan
prasarana perikanan melalui
program/kegiatan:
3) Pembangunan TPI dengan
meknisme pelelangan ikan
yang efektif serta yang
mampu mewadahi para
pedagang terutama
pedagang dari luar daerah.
4) Pembangunan dan
pengembangan sarana dan

32

prasarana pendukung yang
memadai, diantaranya
jaringan listrik, air bersih,
pabrik es dan pembangunan
rumah ikan (cool storage).
6. Peningkatan kesadaran dalam
menjaga kelestarian alam dan
hidup berorganisasi melalui
program:
3) Penyuluhan dan pembinaan
mental/moral dengan
melibatkan tokoh agama
yang bertujuan untuk
menanamkan kesadaran
akan pentingnya menjaga
kelestarian alam.
4) Sosialisasi akan pentingnya
keberadaan kelompok-
kelompok nelayan sebagai
media yang efektif dalam
proses pembinaan oleh
pemerintah, serta sebagai
tempat pembelajaran dan
transformasi informasi dan
teknologi perikanan bagi
masyarakat nelayan.



DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, A. 2001. Pembangunan Ekonomi dan
Pemberdayaan Rakyat, Edisi Pertama. BPFE
UGM. Yogyakarta.
Arief, S. dan Djaenuri. 2002. Dari Prestasi
Pembangunan Sampai Ekonomi Politik, UI-
Press. Jakarta.
Ariff, Mohamed dan Hal Hill. 1988.
Industrialisasi di ASEAN, Penerbit LP3ES.
Jakarta.
Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian, Suatu
Pendekatan Praktek, PT. Reneka Cipta.
Jakarta.
Arsyad, Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan,
Edisi Keempat. Bagian Penerbitan STIE
YKPN. Yogyakarta.
_____________ . 1999. Pengantar Perencanaan
dan Pembangunan Ekonomi Daerah, Edisi
Pertama. BPFE. Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik, 2008. Kabupaten
Sumenep Dalam Angka 2008. BPS
Kabupaten Sumenep.
_____________ . 2009. Kabupaten Sumenep
Dalam Angka 2009. BPS Kabupaten
Sumenep.
_____________ . PDRB Jatim: BPS Jawa Timur.
http://jatim.bps.go.id/wp-
content/uploads/images/12.1%20-
%2012.7.pdf.
Balley, Stephen J. 1995. Public Sector Economic:
Theory, Policy and Practice, MacMillan
Press Ltd. London.
Boediono, 1981. Teori Pertumbuhan Ekonomi,
Seri Sinopsis. Edisi Pertama. Pengantar
Ilmu Ekonomi No. 4. BPFE. Yogyakarta.
Conyers and Hill. 1990. An Introduction to
Development Planning in The Third World,
Brisbane Toronto Singapore.
Department for International Development.
“Sustainable Livelihoods Guidance Sheets”,
No. 1. London: DFID, 1999a.
[http://www.eldis.org/vfile/upload/1/doc
ument/0901/section1.pdf]
Department for International Development.
“Sustainable Livelihoods Guidance Sheets”,
No. 2. London: DFID, 1999b.
[http://www.eldis.org/vfile/upload/1/doc
ument/0901/section1.pdf]
Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan
Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi
Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan,
LP3ES. Jakarta.
Glasson, John. 1990. Pengantar Perencanaan
Regional, Terjemahan Paul Sitohang.
Lembaga Penerbit FE-UI. Jakarta.
Hadisaroso, P. 1994. Konsep Dasar
Pengembangan Wilayah di Indonesia No. 8
Agustus.
Harini, R., Giyarsih, S. R., dan Budiani S. R.
2005, Analisis Sektor Unggulan Dalam
Penyerapan Tenaga Kerja Didaerah
Istimewa Yogyakarta, Majalah Geografi
Indonesia Vol 19 No. 1:1–20.

33

Jhingan, M. L., 2002. Ekonomi Pembangunan dan
Perencanaan, PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Kadariah. 1981. Ekonomi Perencanaan, Lembaga
Penerbit fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta.
Kartasasmita, Ginanjar. 1996. Pembangunan
Untuk Rakyat: Mamadukan Pertumbuhan
dan Pemerataan, Cetakan I. PT. Pustaka
CIDESINDO. Jakarta.
_____________ . 2007. Administrasi
Pembangunan, Perkembangan Pemikiran dan
Praktiknya di Indonesia, LPE3ES. Jakarta.
Koentjaraningrat. 2001. Rintangan-Rintangan
Mental Dalam Pembangunan Ekonomi
Indonesia, LIPI-PT Pamator. Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2000. Ekonomi
Pembangunan: Teori, Masalah, dan
Kebijakan, Edisi Pertama. Cetakan Kedua.
UPP AMP YKPN. Yogyakarta.
Kuntjoro-Jakti, Dorodjatun. 1995. Perancanaan
Ekonomi Nasional Menghadapi Tantangan
Globalisasi. Dalam Alumni FE-UI dan
Tantangan Masa Depan, Penerbit PT.
Gramedia. Jakarta.
Mardiasmo. 2002. Otonomi & Manajemen
Keuangan Daerah, Andi Offset.
Yogyakarta.
Maskur, Abdullah. 2008. Analisis Penentuan
Sektor Prioritas Prop. Riau di Era Otonomi
Daerah, Tesis. IPB. Bogor.
Parmawati, Rita. 2009. Strategi Penanggulangan
Kemiskinan Dengan Pendekatan Sustaunable
Livelihood Approach (SLA) Di Propinsi Jawa
Timur, Tesis. FE-UB. Malang
Pudjosumarto, Mulyadi. 1991. Evaluasi Proyek,
Liberty. Yogyakarta
Purwanti, Putu Ayu Pramitha. 2009. Analisis
Kesempatan Kerja Sektoral di Kabupaten
Bangli dengan Pendekatan Pertumbuhan
Berbasis Ekspor. PIRAMIDA. Vol V No.1.
ISSN:1907–3275.
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/5%20putu%2
0ayu.pdf
Rachbini, Didik J. 2001. Pembangunan Ekonomi
& Sumber Daya Manusia, Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Rahman. 2008. Analisis Ekonomi Basis dan
Kebijakan Pengembangan Potensi Unggulan
Daerah di Kabupaten Kampar, Tesis. FE-UB.
Malang
Richardcon. Harry W. 1977. Dasar-Dasar Ilmu
Regional, terjemahan oleh Paul Sitohang.
LPFEUI. Jakarta.
Saharuddin, Syahrul. 2006. Analisis Ekonomi
Regional Sulawesi Selatan, Jurnal Analisis,
Maret 2006, Vol 3 No, 1:11-24, ISSN 0852–
6144.
Shen, Fujun, 2009. Tourism and the Sustainable
Livelihoods Approach: Application within the
Chinese context, Thesis. Lincoln University.
http://researcharchive.lincoln.ac.nz/dspac
e/handle/10182/1403/.../Shen_PhD.pdf
Sjafrizal. 1997, Pertumbuhan Ekonomi dan
Ketimpangan Regional Wilayah
Indonesia Bagian Barat, Prisma LP3ES, No
3 Tahun XXVI:27–38.
Soegijoko, S.B.T. dan B.S. Kusbiantoro. 1997.
Bunga Rampai Perencanaan Pembangunan
Indonesia, Gravindo. Jakarta.
Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan:
Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan,
Kencana. Jakarta.
Sumodiningrat, G. 1996. Pembangunan Daerah
dan Pemberdayaan Masyarakat, Bina Rena
Pariwara. Jakarta.
Suryana, A. Sudrajat, Indra Syamsi, dan Rudi
Mulyono. 2005. Negeriku Begini Bangsaku
Begitu: Percikan Pandangan Tryana Sjam’un,
Cetakan Pertama. Khatana, Pustaka
LP3ES Indionesia. Jakarta.
Suryawardana, M. I. 2006. Analisis Keterkaitan
Sektor Unggulan dan Alokasi Anggaran
untuk Penguatan Kinerja Pembangunan
Daerah di Provinsi Jawa Timur. Tesis
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Susanti, Hera. dkk. 1995. Indikator-indikator
Makroekonomi, Lembaga Penerbit FE-UI.
Jakarta.
Tambunan, Tulus T. H, 2001. Transformasi
Ekonomi di Indonesia: Teori & Penemuan
Empiris, Salemba Empat Jakarta.
Tarigan. Robinson. 2005. Ekonomi Regional: Teori
dan Aplikasi, Edisi Revisi. Penerbit Bumi
Aksara. Jakarta.

34

Todaro. Michael P. 1987. Pembangunan Ekonomi
di Dunia Ketiga, Edisi ketiga. Jilid 2.
Penerbit Erlangga. Jakarta.
UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah yang telah direvisi
dengan UU Nomor 32 Tahun 2004.
UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah yang telah
direvisi dengan UU Nomor 33 Tahun
2004.
Widodo, Suseno T. 1990. Indikator Ekonomi:
Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia,
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Widodo, Tri. 2006. Perencanaan Pembangunan:
Aplikasi Komputer (Era Otonomi Daerah),
UPP STIM YKPN. Yogyakarta
Wijaya, Faried. 1999. Seri Pengantar Ekonomika:
Ekonomika Makro, Edisi Ketiga, BPFE,
Yogyakarta.
Yusup, M. 1999. Model Rasio Pertumbuhan
(MRP) sebagai Salah Satu Alat Analisis
Alternatif Dalam Perencanaan Wilayah
dan Kota, Aplikasi Model: Bangka
Belitung, Ekonomi dan Keuangan Indonesia,
Vol. XLVII, No. 2, 219–233.