You are on page 1of 23

LO

1.

OBESITAS Faktor penyebab obesitas :

Setiap orang memang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, penyekat panas, penyerap guncangan, dan lainnya. Namun dalam jumlah berlebihan, timbunan lemak justru akan merugikan metabolisme tubuh. Pengendalian berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan merupakan usaha jangka panjang. Agar aman dan efektif, setiap program penurunan berat badan harus ditujukan untuk pendekatan jangka panjang. Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:

Faktor genetik

Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Namun, anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33 persen terhadap berat badan seseorang.

Faktor lingkungan

Lingkungan yang dimasuk yaitu perilaku/pola hidup seperti apa kualitas dan kuantitas makanan serta bagaimana seseorang beraktivitas. Jika genetik tidak dapat diubah, pola makan

dan aktivitas dapat diubah jika ada kemauan dari seseorang untuk memperbaiki hidupnya.

Faktor psikis

Apa yang ada di dalam pikiran seseorang dapat mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas.

Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari. Kedua pola makan ini biasanya

dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak.

Pada sindroma makan di malam hari, konsekuensinya adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan dan insomnia pada malam hari.

BODY MASS INDEX (BMI) = Indeks Massa Tubuh

Istilah “normal”, “overweight” dan “obese” dapat berbeda-beda, masing-masing negara dan budaya mempunyai kriteria sendiri-sendiri, oleh karena itu, WHO menetapkan suatu pengukuran / klasifikasi obesitas yang tidak bergantung pada bias-bias kebudayaan.

Metoda yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas adalah BMI (Body Mass Index), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis kelamin.

Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:

Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan

Wanita hamil

Orang yang sangat berotot, contohnya atlet

BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya. Seseorang dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30, dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20%.

Klasifikasi BMI Menurut WHO (1998)

Kategori

BMI (kg/m2)

Resiko Comorbiditas

Underweight

< 18.5 kg/m 2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah-masalah klinis lain meningkat)

Batas Normal

  • 18.5 - 24.9 kg/m 2

Rata-rata

Overweight:

> 25

 

Pre-obese

25.0 29.9 kg/m 2

Meningkat

Obese I

  • 30.0 - 34.9kg/m 2

Sedang

Obese II

- 39.9 kg/m 2

  • 35.0 Berbahaya

Obese III

> 40.0 kg/m 2

Sangat Berbahaya

Underweight < 18.5 kg/m Rendah (tetapi resiko terhadap masalah-masalah klinis lain meningkat) Batas Normal 18.5 -

Para ahli sedang memikirkan untuk membuat klasifikasi BMI tersendiri untuk

penduduk Asia. Hasil studi di Singapura memperlihatkan bahwa orang Singapura dengan BMI 27 28 mempunyai lemak tubuh yang sama dengan

orang-orang kulit putih dengan BMI 30. Pada orang India, peningkatan BMI dari

  • 22 menjadi 24 dapat meningkatkan prevalensi DM menjadi 2 kali lipat, dan

prevalensi ini naik menjadi 3 kali lipat pada orang dengan BMI 28.

Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Kategori

BMI (kg/m2)

Risk of Co-morbidities

Underweight

< 18.5 kg/m 2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah- masalah klinis lain meningkat)

Batas Normal

18.5 - 22.9 kg/m 2

Rata rata

Overweight:

> 23

 

At Risk

23.0 24.9 kg/m 2

Meningkat

Obese I

25.0 - 29.9kg/m 2

Sedang

Obese II

> 30.0 kg/m 2

Berbahaya

PENYEBARAN LEMAK

Lingkar Pinggang dan Perbandingan antara lingkar pinggang dengan lingkar pinggul

Mengetahui jumlah total lemak di dalam tubuh adalah hal utama untuk

mengetahui tingkat obesitas dan bahaya kesehatan yang ditimbulkannya, hal lain

yang juga tak kalah penting adalah mengetahui distribusi atau lokasi lemak tersebut.

Lemak yang berada di sekitar perut memberikan resiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan lemak di daerah paha atau bagian tubuh.yang lain. Suatu metoda yang sederhana namun cukup akurat untuk mengetahui hal tersebut adalah lingkar pinggang.

Perlu ditekankan bahwa resiko penyakit yang berhubungan dengan lingkar pinggang adalah bervariasi pada populasi dan kelompok etnik yang berbeda. Sebagai contoh, lemak di sekitar perut pada wanita kulit hitam kurang menunjukan hubungan yang kuat dengan resiko penyakit jantung dan diabetes dibandingkan dengan wanita kulit putih. Oleh karena itu, diperlukan nilai maksimum (cut-off points) yang lebih spesifik berdasarkan seks dan populasi.

   

PRIA

WANITA

Pengukuran

 

Resiko

Resiko sangat

Resiko

Resiko sangat

Meningkat

meningkat

Meningkat

meningkat

Lingkar pinggang

> 94cm

> 102cm

> 80cm

> 88cm

Perbandingan lingkar pinggang/lingkar pinggul

0.9

1.0

0.8

0.9

Bentuk Tubuh

Cara lain untuk mengetahui distribusi lemak tubuh adalah dengan cara melihat bentuk tubuh. Terdapat 3 macam bentuk tubuh berdasarkan karakteristik distribusi lemak.

Gynoid (Bentuk Peer)

Lemak disimpan di sekitar pinggul dan bokong

Tipe ini cenderung dimiliki wanita. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena (varicose veins).

Apple Shape (Android)

Gynoid (Bentuk Peer) Lemak disimpan di sekitar pinggul dan bokong Tipe ini cenderung dimiliki wanita. Resiko

Biasanya terdapat pada pria. dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh

darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

Gynoid (Bentuk Peer) Lemak disimpan di sekitar pinggul dan bokong Tipe ini cenderung dimiliki wanita. Resiko

Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pria kurus dengan perut gendut lebih beresiko dibandingkan dengan pria yang lebih gemuk dengan perut lebih kecil.

Ovid (Bentuk Kotak Buah)

Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian

badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang- orang yang gemuk secara genetik

Ovid (Bentuk Kotak Buah) Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid( BMI 27) mengidap paling sedikit satu dari banyak penyakit kronik tersebut dan 27% dari mereka mengidap dua atau lebih penyakit. " id="pdf-obj-7-8" src="pdf-obj-7-8.jpg">

OBESITAS SEBAGAI SUATU PENYAKIT KRONIK

Resiko Ko-morbiditas

Ko-morbiditas

Overweight dan Obesitas erat hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah komplikasi yang dapat terjadi sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Seperti yang telah disebutkan di awal, komorbiditas itu dapat berupa hipertensi, dislipidemia, penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes tipe II, penyakit gallblader, disfungsi pernafasan, gout, osteoarthritis, dan jenis kanker tertentu. Penyakit kronik yang paling sering menyertai obesitas adalah diabetes tipe II, hipertensi, dan hiperkolesterolemia. Data dari NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey) III, 1988 1994, memperlihatkan bahwa dua pertiga pasien obese dan overweight dewasa (BMI 27) mengidap paling sedikit satu dari banyak penyakit kronik tersebut dan 27% dari mereka mengidap dua atau lebih penyakit.

Lebih lanjut, dampak komorboditas pada obesitas ini berkembang seiring dengan peningkatan BB pasien, baik itu resikoBMI . Studi epidemik telah menemukan adanya hubungan linier antara BB dan resiko peningkatan mortalitas dan morbiditas. Kenyataanya, komorbiditas penyakit kronik merupakan suatu resiko yang utama. Obesitas dan Diabets Tipe 2 NHANES III menyebutkan bahwa kurang lebih 12% orang dengan BMI 27 menderita diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling sering ditemui, yaitu sekitar 85% - 90% dari keseluruhan penderita diabetes. Obesitas merupakan faktor resiko utama pada diabetes tipe 2. Sebanyak 80% dari penderita penyakit tersebut menderita obese. “Tingkat prevalensi (untuk diabetes tipe 2) meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan bertambahnya BMI , baik pada wanita maupun pada pria”. " id="pdf-obj-8-2" src="pdf-obj-8-2.jpg">

Lebih lanjut, dampak komorboditas pada obesitas ini berkembang seiring dengan peningkatan BB pasien, baik itu resiko kejadian, prevalensi dan tingkat keparahan, yang secara umum berhubungan langsung dengan BMI. Studi epidemik telah menemukan adanya hubungan linier antara BB dan resiko peningkatan mortalitas dan morbiditas. Kenyataanya, komorbiditas penyakit kronik merupakan suatu resiko yang utama.

Obesitas dan Diabets Tipe 2

NHANES III menyebutkan bahwa kurang lebih 12% orang dengan BMI 27 menderita diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling sering ditemui, yaitu sekitar 85% - 90% dari keseluruhan penderita diabetes. Obesitas merupakan faktor resiko utama pada diabetes tipe 2. Sebanyak 80% dari penderita penyakit tersebut menderita obese.

“Tingkat prevalensi (untuk diabetes tipe 2) meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan bertambahnya BMI, baik pada wanita maupun pada pria”.

Tingkat resiko juga meningkat seiring dengan peningkatan <a href=BMI pada pasien dewasa (lihat gambar di atas). Contohnya, satu studi pada wanita berusia 30 sampai 50 tahun – usia rentan terkena diabetes tipe 2 - menunjukkan bahwa angka resiko diabetes tipe 2 pada wanita dengan BMI 22 adalah 15.8, untuk BMI 27.0 adalah 28.9, dan untuk BMI 31.0 – 32.9 adalah 40.3. Bandingkan angka-angka tersebut pada wanita dengan BMI 35.0 yang jauh lebih tinggi, yaitu 93 kali, terhadap peningkatan/perkembangan penyakit diabetes tipe 2 ini. Bagi mereka yang mengalami kegemukan di sekitar perut (abdominally obese), salah satu mekanisme yang diduga menjadi predisposisi diabetes tipe 2, adalah terjadinya pelepasan asam-asam lemak bebas secara cepat, yang berasal dari suatu lemak visceral yang membesar. Proses ini menerangkan terjadinya sirkulasi tingkat tinggi dari asam-asam lemak bebas di hati sehingga kemampuan hati untuk mengikat dan mengekstrak insulin dari darah menjadi berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan hiperinsulinemia. Akibat lainnya adalah peningkatan glukoneogenesis - dimana glukosa darah meningkat. Efek kedua dari peningkatan asam-asam lemak bebas adalah menghambat pengambilan glukose oleh sell otot, dengan demikian, walalupun kadar insulin meningkat, namun glukosa darah tetap abnormal tinggi. Hal ini menerangkan suatu resistensi fisiologis terhadap insulin seperti yang terdapat pada diabetes tipe 2. " id="pdf-obj-9-2" src="pdf-obj-9-2.jpg">

Tingkat resiko juga meningkat seiring dengan peningkatan BMI pada pasien dewasa (lihat gambar di atas). Contohnya, satu studi pada wanita berusia 30 sampai 50 tahun usia rentan terkena diabetes tipe 2 - menunjukkan bahwa angka resiko diabetes tipe 2 pada wanita dengan BMI 22 adalah 15.8, untuk BMI 27.0 adalah 28.9, dan untuk BMI 31.0 32.9 adalah 40.3. Bandingkan angka-angka tersebut pada wanita dengan BMI 35.0 yang jauh lebih tinggi, yaitu 93 kali, terhadap peningkatan/perkembangan penyakit diabetes tipe 2 ini.

Bagi mereka yang mengalami kegemukan di sekitar perut (abdominally obese), salah satu mekanisme yang diduga menjadi predisposisi diabetes tipe 2, adalah terjadinya pelepasan asam-asam lemak bebas secara cepat, yang berasal dari suatu lemak visceral yang membesar. Proses ini menerangkan terjadinya sirkulasi tingkat tinggi dari asam-asam lemak bebas di hati sehingga kemampuan hati untuk mengikat dan mengekstrak insulin dari darah menjadi berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan hiperinsulinemia. Akibat lainnya adalah peningkatan glukoneogenesis - dimana glukosa darah meningkat.

Efek kedua dari peningkatan asam-asam lemak bebas adalah menghambat pengambilan glukose oleh sell otot, dengan demikian, walalupun kadar insulin meningkat, namun glukosa darah tetap abnormal tinggi. Hal ini menerangkan suatu resistensi fisiologis terhadap insulin seperti yang terdapat pada diabetes tipe 2.

Keadaan di atas merupakan bagian dari suatu kompleks gangguan metabolisme yang biasa disebut sindrom resisten insulin, atau sindrome X. Pada kasus resistensi insulin, ciri-cirinya adalah hiperglikemia, hipertensi serta perubahan kadar dan komposisi lipoprotein yang meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.

Hipertensi dan Obesitas

"Obesitas merupakan suatu faktor utama (bersifat fleksibel ) yang mempengaruhi tekanan darah dan juga perkembangan hipertensi. Kurang lebih 46% pasien dengan BMI 27 adalah penderita hipertensi. Framingham Studi telah menemukan bahwa peningkatan 15% BB dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 18%. Dibandingkan dengan mereka yang mempunyai BB normal, orang yang overweight dengan kelebihan BB sebesar 20% mempunyai resiko delapan kali lipat lebih besar terhadap hipertensi.

Keadaan di atas merupakan bagian dari suatu kompleks gangguan metabolisme yang biasa disebut sindrom resisten insulin,BMI 27 adalah penderita hipertensi. Framingham Studi telah menemukan bahwa peningkatan 15% BB dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 18%. Dibandingkan dengan mereka yang mempunyai BB normal, orang yang overweight dengan kelebihan BB sebesar 20% mempunyai resiko delapan kali lipat lebih besar terhadap hipertensi. Hiperkolesterolemia dan Obesitas Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas. Kurang lebih 38% pasien dengan BMI 27 adalah penderita hiperkolesterolemia. Pada kondisi ini , perbandingan antara HDL (High Density Lipoprotein) dengan LDL (low Density Lipoprotein) cenderung menurun " id="pdf-obj-10-12" src="pdf-obj-10-12.jpg">

Hiperkolesterolemia dan Obesitas

Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas. Kurang lebih 38% pasien dengan BMI 27 adalah penderita hiperkolesterolemia. Pada kondisi ini , perbandingan antara HDL (High Density Lipoprotein) dengan LDL (low Density Lipoprotein) cenderung menurun

(dimana kadar trigliserida secara umum meningkat) sehingga memperbesar resiko Atherogenesis.

Framingham Studi memperlihatkan bahwa untuk setiap 10% kenaikan BB terjadi peningkatan plasma kolesterol sebesar 12 mg/dL.

Dari data NHANES II juga ditemukan bahwa resiko hiperkolesterolemia (serum kolesterol 250 mg/dL) pada orang Amerika yang overweight adalah 1.5 kali lebih besar dibandingkan pada individu normal usia 20 sampai 75 tahun.

(dimana kadar trigliserida secara umum meningkat) sehingga memperbesar resiko Atherogenesis. Framingham Studi memperlihatkan bahwa untuk setiapBMI di atas 21, sehingga penyakit ini sebetulnya dapat dicegah. Stroke : Overweight merupakan faktor resiko utama terhadap stroke. Kegemukan  (terutama di sekitar perut/abdomen) dapat meningkatkan resiko stroke (kondisi ini tidak tergantung besarnya BMI ) . Penyakit Kantung Empedu : Orang obese cenderung lebih mudah terkena batu empedu. " id="pdf-obj-11-8" src="pdf-obj-11-8.jpg">

Komorbiditas-komorbiditas lain:

Penyakit Jantung Koroner (PKH): Kurang lebih sebanyak 40% kejadian CHD

terjadi pada seseorang dengan BMI di atas 21, sehingga penyakit ini sebetulnya dapat dicegah. Stroke: Overweight merupakan faktor resiko utama terhadap stroke. Kegemukan

(terutama di sekitar perut/abdomen) dapat meningkatkan resiko stroke (kondisi ini tidak tergantung besarnya BMI). Penyakit Kantung Empedu: Orang obese cenderung lebih mudah terkena batu empedu.

Osteoarthritis (OA): Overweight berhubungan dengan OA pada sendi tangan dan

lutut. Bagaimanapun, keterbatasan kemampuan berolah raga pada pasien OA juga dapat peranan terhadap timbulnya overweight. Kanker: Obesitas dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit kanker tertentu.

Suatu studi yang dilakukan oleh American Cancer Society menjelaskan bahwa kematian yang diakibatkan oleh kanker prostat dan rektal-colon (colorectal) meningkat pada laki-laki obese, sedangkan kanker endometrium, uterus, mulut rahim (cervix), dan indung telur (ovarium) meningkat pada wanita obese. Dibandingkan wanita dengan berat normal pada masa post-menousal, wanita obese mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara. Kelainan (gangguan) lain: Obesitas juga berhubungan dengan varieses vena, beberapa gangguan hormonal dan infertilitas.

2. ANTROPOMETRI

Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara pengukuran yang paling sering digunakan, karena:

  • 1. alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lengan atas, alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah.

  • 2. pengukuran dapat dilakukan berulang dengan mudah dan objektif

  • 3. pengukuran dapat dilakukan oleh petugas yang telah terlatih tidak perlu tenaga khusus profesional

  • 4. biaya relatif murah

  • 5. hasil dapat disimpulkan, karena mempunyai ambang batas dan buku rujukan yang sudah pasti

  • 6. prosedur sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar

  • 7. dapat mendeteksi keadaan status gizi masa lampau

  • 8. dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk

  • 9. parameter yang digunakan antar lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada dan jaringan lemak

Alat

yang biasa digunakan untuk mengukur

berat badan

adalah dacin dengan

kemampuan

20 25 kg. Ada 9 tahap penimbangan yang dikenal sebagai petunjuk penimbangan balita yaitu:

  • 1. Gantungkan dacin pada dahan pohon, palang pintu atau penyangga kaki tiga

  • 2. Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat. Tarik batang dacin ke bawah kuat- kuat

  • 3. Sebelum dipakai letakkan bandul geser pada angka 0 (nol). Batang dacin dikaitkan pada tali pengaman

  • 4. Pasanglah celana timbang, kotak timbang atau sarung timbang yang kosong pada dacin

  • 5. Seimbangkan dacin yang sudah dibebani selana timbang, kotak timbang atau sarung timbangan dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastik

  • 6. Anak ditimbang dan seimbangkan dacin

  • 7. Tentukan berat badan anak dengan membaca angka di ujung bandul geser

  • 8. Catat hasil penimbangan di atas dengan secarik kertas

  • 9. Geserlah bandul ke angka nol, letakkan batang dacin dalam tali pengaman, setelah itu bayi atau anak dapat diturunkan.

Dalam menimbang bayi perlu diperhatikan antara lain:

  • 1. pakaian dibuat seminim mungkin, sepatu, baju/pakaian yang cukup tebal harus dilepas

  • 2. balita di masukkan ke dalam kantung timbang dan bayi bila tidak ada alat timbangan yang sudah ada, dapat ditidurkan dalam kain sarung

  • 3. geserlah anak timbangan sampai tercapai keadaan seimbang, kedua ujung jaum terdapat pada satu titik

  • 4. lihatlah angka pada skala batang dacin yang menunjukkan berat badan bayi.

Gambar 10. Penimbangan Anak Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat
Gambar 10. Penimbangan Anak Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat
Gambar 10. Penimbangan Anak Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat

Gambar 10. Penimbangan Anak

Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standart) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak tersebut dikatakan memiliki gizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh dibawah standar dikatakan gizi buruk. Namun perhitungan berat badan menurut panjang badan lebih memberi arti klinis.

Diagnosis kurang gizi selain ditegakkan melalui pemeriksaan antropometri (penghitungan berat badan menurut umur/panjang badan) dapat pula melalui temuan klinis. Keadaan klinis gizi buruk dapat dibagi menjadi kondisi marasmus, kwasiorkhor dan bentuk campuran (marasmus kwasiorkhor).

Parameter yang dianjurkan oleh WHO untuk diukur pada survei gizi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Parameter yang Dianjurkan WHO untuk diukur dalam Survei Gizi

Dikutip dari ”Measuring Change in Nutritional Status: Guidelines for Assessing The Nutritional Impact of Supplementary Feeding Programmes fos Vulnerable Groups”, WHO 1993

Usia

Pengamatan di Lapangan

Pengamatan Lebih Rinci

0 1 tahun

Berat dan panjang badan.

Panjang batang badan, lingkar kepala dan dada, diameter krista iliaka, lipat kulit dada, triseps dan sub-skapula.

1 5 tahun

Berat dan panjang badan

Panjang batang badan (2 tahun), tinggi duduk

 

(sampai 2 tahun), tinggi badan ( di atas 2 tahun), lipat kulit biseps dan triseps, lingkar lengan.

(di atas 2 tahun), lingkar kepala dan dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada dan sub-skapula, lingkar betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.

5 20 tahun

Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps.

Tinggi duduk, diameter bikristal, diameter biakromial, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis, rontgen postero-anterior tangan dan kaki.

> 20 tahun

Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps.

Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis.

  • 1. A. Prinsip Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Pengertian dari sudut pandang gizi, Jellife (1966) mengungkapkan bahwa:

“Nutritional anthropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition”.

Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

  • 1. B. Metode Umum Antropometri

Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan. Metode pengukuran untuk pertumbuhan linear adalah dengan menggunakan tinggi badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Sedangkan massa jaringan dengan menggunakan metode berat badan, LILA, dan tebal lemak bawah kulit. Penilaian pertumbuhan merupakan

komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan.

Dari sudut pandang antropometri, pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa jaringan memiliki arti yang berbeda. Pertumbuhan linear menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat lampau dan pertumbuhan massa jaringan menggambarkan status gizi yang dihubungakn pada saat sekarang atau saat pengukuran.

  • 1. Pertumbuhan Linear

Bentuk dari ukuran linear adalah ukuran yang berhubungan dengan panjang. Contoh ukuran linear adalah panjang badan, lingkar dada, dan lingkar kepala. Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau. Ukuran linear yang paling sering digunakan adalah tinggi atau panjang badan.

  • 1. Pertumbuhan Massa Jaringan

Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa jaringan adalah berat badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang paling sering digunakan adalah berat badan.

Tabel 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan (sumber: Jellife DB, 1989. Community Nutritional Assessment. Oxford University Press, hlm. 57).

 

Faktor

Contoh

I

Internal

 
 
  • a. Genetik

  • - Individu (keluarga)

   
  • - Ras/lingkungan intrauterin (ketidakcukupan plasenta)

 
  • b. Obstetrik

  • - BBLR

   
  • - Lahir kembar

 
  • c. Seks

  • - Laki-laki lebih panjang dan lebih berat

II

Eksternal

 
 
  • a. Gizi

  • - Fetus (diet maternal; protein, energi dan iodium)

   
  • - Bayi (ASI dan susu botol)

   
  • - Anak (protein, energi, iodium, zink, vitamin D dan asam folat)

 
  • b. Obat-obatan

  • - Alkohol, tembakau dan kecanduan obat-obat lainnya

   
  • - Altitude

 
  • c. Lingkungan

  • - Iklim

   
  • - Daerah kumuh

 
  • d. Penyakit

 
 
  • 1. Endokrin

  • - Hormon pertumbuhan (hipofisis)

 
  • 2. Infeksi

  • - Bakteri akut dan kronis, virus dan cacing

 
  • 3. Kongetinal

  • - Anemia sel sabit, kelainan metabolis sejak lahir

 
  • 4. Penyakit kronis

  • - Kanker, malabsorpsi usus halus, jantung, ginjal dan hati

 
  • 5. Psikologis

  • - Kemunduran mental/emosi

  • 1. C. Kegunaan Antropometri

Penggunaan antropometri sebagai alat ukur status gizi semakin luas digunakan dalam program-program gizi antara lain:

  • 1. Kualitas sumber daya manusia.

  • 2. Penilaian status gizi.

  • 3. Pemantauan pertumbuhan anak.

  • 4. Survei nasional vitamin A.

  • 5. Survei sosial ekonomi nasional.

  • 6. Pemantauan status gizi.

  • 7. Pengukuran tinggi badan anak baru masuk sekolah.

  • 8. Kegiatan penapisan.

  • 9. Kegiatan di klinik.

  • 10. Swa uji risiko KEK.

12.

Pemantauan status gizi orang dewasa.

Kegunaan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  • 1. Metode ini relatif mudah dilakukan.

  • 2. Non-invasive dan tidak membahayakan.

  • 3. Pada beberapa situasi, sebagian besar dapat dikerjakan dengan mudah (terutama untuk mengevaluasi hasil intervensi yang dirancang untuk meningkatkan faktor status gizi, kesehatan, ekonomi dan lingkungan).

  • 4. Salah satu indikator yang baik untuk kesejahteraan manusia dan digunakan untuk memonitor dua masalah gizi utama yaitu kurang energi protein (KEP) dan obesitas.

  • 5. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.

  • 6. Metode antropometri gizi dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

  • 7. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.

Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:

  • 1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah.

  • 2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Contohnya, apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita, maka dapat dilakukan pengukuran kembali tanpa harus persiapan alat yang rumit. Berbeda dengan pengukuran status gizi dengan metode biokimia, apabila terjadi kesalahan maka harus mempersiapkan alat dan bahan terlebih dahulu yang relatif mahal dan rumit.

  • 3. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.

  • 4. Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya.

  • 5. Hasilnya mudah disimpulkan, karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.

6.

Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara ilmiah.

  • 1. D. Kelebihan Antropometri

Kelebihan pengukuran status gizi dengan metode antropometri adalah sebagai berikut:

  • 1. Prosedurnya sederhana, aman, non-invasive dan metode yang digunakan jelas.

Pengukuran antropometri dapat digunakan tidak hanya pada pasien individu tapi juga dapat mencakup dalam jumlah yang banyak.

Contoh : pengukuran TB dan BB pada balita.

  • 1. Metode antropometri menghasilkan ketepatan dan keakuratan dengan penggunaan tehnik yang standar.

  • 1. Peralatannya tidak mahal dan terjangkau.

Peralatannya bersifat mudah dipindahkan (mudah dibawa), tidak mudah rusak, dan mudah untuk membuat atau membelinya. Memang ada alat antropometri yang mahal dan harus diimpor dari luar negeri, tetapi penggunaan alat itu hanya tertentu saja seperti Skin Fold Caliper” untuk mengukur tebal lemak bawah kulit.

Contoh : penggunaan dacin dapat digunakan dengan mudah oleh kader dan merupakan alat pengukuran berat badan yang dapat dibuat sendiri dan tidak mahal untuk membelinya.

  • 1. Mudah digunakan dan relatif tidak membutuhkan tenaga ahli (unskilled personnel).

Orang yang tidak memiliki ketrampilan dapat menggunakan sesuai prosedur pengukuran dan cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri. Kader gizi (posyandu) tidak perlu seorang ahli, tetapi dengan pelatihan singkat ia dapat melaksanakan kegiatannya secara rutin.

Contoh : pengukuran BB dengan timbangan injak.

Informasi berkaitan dengan riwayat panjang keadaan gizi dan kesulitan untuk mendapatkannya dengan kesamaan kepercayaan jika menggunakan tehnik yang lainnya. Pengukuran antropometri menggambarkan keadaan gizi pada masa lampau dan jangka waktu yang lama. Pengukurannya juga dapat dilakukan berulang-ulang oleh satu atau lebih pengukur jika terjadi kesalahan dalam pengukuran.

Contoh : pengukuran TB, lingkar dada, dan lingkar kepala.

  • 1. Pengukuran status gizi.

Dapat mengidentifikasi overnutrition dan undernutrition (mild, moderate and severe state of malnutrition), karena sudah ada ambang batas yang jelas.

Contoh : dengan pengukuran TB dan BB dapat digunakan sebagai parameter pengukuran status gizi.

  • 1. Perubahan status gizi dapat diamati.

Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya., fenomena tersebut dikenal sebagai trend umum dari antropometri.

Contoh : dengan pengukuran LILA seorang ibu hamil yang diketahui KEK akan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR.

  • 1. Digunakan sebagai tes skrinning.

Pengukuran antropometri digunakan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki risiko tinggi menderita undernutrition atau overnutrition.

Contoh : pengukuran BB dan TB.

  • 1. E. Kelemahan Antropometri

Metode penentuan status gizi secara antropometri, memiliki kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut:

Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat (hari atau minggu). Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zink dan Fe.

  • 1. Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.

  • 2. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.

  • 3. Kesalahan ini terjadi karena:

  • 4. a. Pengukuran.

  • 5. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.

b.

  • 6. Analisis dan asumsi yang keliru.

c.

  • 1. Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:

  • 2. Latihan petugas yang tidak cukup.

a.

  • 3. Kesalahan alat atau alat yang tidak ditera.

b.

  • 4. Kesulitan pengukuran.

c.

  • F. Kesalahan Dalam Antropometri

Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Ada 3 penyebab utama kesalahan yang signifikan yaitu:

  • 1. Kesalahan pengukuran.

  • 2. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.

  • 3. Analisis dan asumsi yang keliru.

Sedangkan kesalahan lainnya yang umum terjadi dalam pengukuran antropometri antara lain:

  • 1. a.

Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi

orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit harus

menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna. Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau sepatu.

  • 2. b.

Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin

belum dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.

3.

c.

Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat

badan adalah dacin dengan kapasitas 20-25 kg dan ketelitian 0,1 kg. Untuk mengukur

panjang badan, alat pengukur panjang badan berkapasitas 110 cm dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan mikrotoa berkapasitas 200 cm dengan

ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita LLA yang berkapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.

  • 4. d.

Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur. Kesalahan ini dapat terjadi

karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan yang

memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering disebut Measurement Error.