1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demam dengue dan demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk
genus Aedes (terutama A. aegypti dan A. albopictus).

Diperkirakan lebih dari 50 juta kasus infeksi virus Dengue terjadi tiap
tahunnya dengan jumlah rawat inap sebesar 500.000 dan angka kematian lebih dari
20.000 jiwa di dunia. Tahun 2006 di Indonesia didapatkan laporan kasus Dengue
sebesar 106.425 orang dengan tingkat kematian 1,06%.
2
Peningkatan kasus setiap
tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan terjadinya tempat perindukan
bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas, dan
tempat penampung air lainnya).

Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang
merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang
diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut
adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami Dengue Fever sampai penanganannya, serta
pendekatan keluarga terhadap penyakit Dengue Fever.
1.3 Manfaat
Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang Dengue Fever serta
meningkatan pembelajaran terhadap pola pendekatan keluarga terhadap pasien
Dengue Fever.


2

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Anamnesis
Identitas pasien
 Nama : Tn. A
 Usia : 54 Tahun
 Alamat : jl. Joyo Tambak Sari
 Pendidikan : S2
 Pekerjaan : Dosen
 Status : Kawin
 Agama : Islam
 Tanggal Periksa : 3 oktober 2013

Keluhan Utama : Demam
Riwayat Penyakit sekarang : Pasien datang ke UGD RSI hari kamis jam
10.35 wib dengan keluhan Demam Sejak 2 minggu yang lalu, demam naik
turun dan disertai batuk berdahak serta pilek. Selain itu pasien mengeluh
badannya lemas disertai nyeri sendi. Tidak didapatkan tanda-tanda
perdarahan seperti; Perdarah gusi, perdarahan dari hidung, dan perdarahan
saluran cerna. BAB pasien tersebut berwarna kuning kecoklatan dan
konsistensinya lunak, frekuensi buang air besar normal yaitu satu kali sehari,
begitu pula dengan frekuensi BAK pasien normal sekitar 6 kali perhari dan
warnanya tidak terlalu kuning.
Riwayat Pengobatan : Paracetamol dan Antibiotik yang diberikan
adiknya yang bekerja sebagai dokter tapi panasnya timbul lagi.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat MRS : Iya
Riwayat Sakit Serupa : disangkal
Riwayat Diabetes Mellitus : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
3

Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Infeksi TBC : Positif, sejak 30 tahun yang lalu, tapi sudah
sembuh.
Riwayat Alergi Obat : disangkal
Riwayat Alergi Makanan : Ikan laut
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : Iya, Ibu Pasien menderita kencing manis sejak
8 tahun yang lalu dan terkontrol.
Riwayat Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Tumor : disangkal
Riwayat Sakit Serupa : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien berasal dari keluarga menengah, pasien
tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Pasien bekerja sebagai dosen di
salah satu universitas di malang dan memiliki sebuah pesantren yang terdiri
dari 26 santri sedangkan istrinya bekerja sebagai DA’I yang biasanya sering
mengisisi ceramah di luar kota.
Riwayat Gizi: Pola makan pasien sehari 3 kali, yang terdiri dari nasi, sayur,
tahu tempe, ayam, daging sapi kadang-kadang.
2.2 Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : Tampak Lemas, Compos mentis GCS(456)
Vital sign
- TD : 110/80
- Nadi : 80x/menit
- RR : 20x/menit
- Suhu : 36,6
o
C
- BB : 57 kg
- TB : 165 cm
Kulit : Putih, Ptekie (-), ekimosis (-), purpura (-), Rash (-)
4

Kepala : Normocephal, rambut tidak rontok
Mata : : Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Hidung : Epistaksis (-/-)
Telinga : Daun telinga simetris, membran tympani (intak), nyeri
tekan mastoid (-/-), sekret (-/-).
Mulut : Simetris, mulut kering (-), sianosis (-), bibir kering (-),
lidah kotor (-),tepi lidah hiperemis (-), gusi berdarah (-).
Tenggorokan : Tonsil membesar (-/-), pharing hiperemis (-)
Leher : JVP tidak meningkat, pembesaran KGB (-)
Thorax : bentuk normochest, retraksi interkostal (-), retraksi
subkostal (-)
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi
Batas kiri atas : ICS II Linea para sternalis sinistra
Batas kanan atas : ICS II Linea para sternalis dekstra
Batas kiri bawah : ICS V mid clavicula line parasternalis sinistra
Batas kanan bawah: ICS IV linea para sternalis dekstra
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)
Suara tambahan jantung : (-)
Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
Inspeksi : bentuk normal, simetris
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler


5

wheezing ronkhi
- -
-
- -

Dinamis (depan dan belakang)
Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri,irama regular,
otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-), usaha bernafas normal.
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler
wheezing ronki kasar
- -
-
- -

Abdomen :
Inspeksi : datar/sejajar dinding dada, venektasi (-), massa (-), bekas
jahitan (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal, BU normal
Palpasi : nyeri epigastrium (-), hepar dan lien tdk teraba, turgor baik,
massa (-), asites (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Ektremitas
 palmar eritema (-/-)
 Akral Hangat
- -
-
- -
- -
-
- -
+ +
+ +
6


 Odema


2.3 Diagnosis banding
- -
- -
Penyakit Definisi Manifestasi Klinis Pemeriksaan
Penunjang
DHF

penyakit
infeksi yang
disebabkan
oleh virus
dengue
Demam atau riwayat demam
akut, antara 2-7 hari, biasanya
bifasik.
• Terdapat minimal satu dari
manifestasi perdarahan berikut :
- Uji bendung positif.
- Petekie, ekimosis, atau
purpura.
- Perdarahan mukosa (tersering
epistaksis atau perdarahan gusi),
atau perdarahan dari tempat lain.
- Hematemesis atau melena.
• Tanda kebocoran plasma
seperti : efusi pleura, asites
atau hipoproteinemia.

Trombositopenia
(jumlah trombosit
<100.000/ul).
• Terdapat minimal
satu tanda-tanda
plasma leakage
(kebocoran plasma)
sebagai berikut :
- Peningkatan
hematokrit >20%
dibandingkan standar
sesuai dengan umur
dan jenis kelamin.
- Penurunan
hematokrit >20%
setelah mendapat
terapi cairan,
dibandingkan dengan
nilai hematokrit
sebelumnya.


Demam
Typhoid


Penyakit
infeksi
sistemik
bersifat
akut
disebabkan
oleh
Salmonella
typhi.
 Demam 10-14 hari ,
sifatnya meningkat
perlahan-lahan dan
terutama pada sore
hingga malam hari
 Nyeri kepala
 Pusing
 Nyeri otot
 Mual-muntah
 DL: Leukopeni,
Leukositosis,
LED meningkat
 K. Darah:
SGOT/SGPT
meningkat
 Uji widal:
aglutinin O
dan aglutinin
7


2.4 Pemeriksaan penunjang
1. Darah lengkap
- Hemoglobin :14,5 g/dl
- Hematokrit : 42,2%
- Luekosit : 11,24 ribu/ul
- Trombosit : 77 ribu/ul
- Eritrosit : 4,80 juta/ul
- PDW : 18,0 fl
 Obstipasi
 Diare
 Rasa tidak enak di perut
 Batuk
 Epistaksis
 Pem. Fisik: bradikardi,
lidah kotor,
hepatomegali,
splenomegali.
H Positif
leptospirosis Suatu
penyakit
Zoonosis
yang
disebabkan
oleh
mikroorgani
sme
leptospira
interogans
Demam, menggigil, sakit
kepala, meningismus,
anoreksia, mialgia, mual-
muntah, anoreksia, nyeri
abdomen, ikterus,
hepatomegali, ruam kulit,
fotopobi, epistaksis,
perdarahan gusi, uremia,
ikterik, purpura, ptechiae,
conjungriva injection dan
conjungtiva suffusion
 DL:
leukositosis,
leukopeni, LED
meningkat,
proteinuri,
leukosituri
 K. Darah:
billirubin direk
meningkat (jika
ada kerusakan
hepar), ureum
dan kreatinin
meningkat (sdh
ada komplikasi
ke ginjal).
 Kultur Darah
atau CSS
 Serologi: PCR
(polymerase
Chain
Reaction),
Silver strain.
8

- MPV : 8,58 fl
- PCT : 0,1%
Index
- MCV : 0,2%
- MCH : 30,2 PG
- MCHC :34,4%
Differential
- Basofil : 0,2%
- Eosinofil : 4,2%
- Limfosit : 32,2 %
- Monosit : 9,2
- Netrofil : 54,2%
- Large imm Cell: 1,5%
- Atyp Limfosit : 0,1%
Jumlah total sel
- Lymp : 3,62 ribu/ul
- Total basofil : 0.02 ribu/ul
- Total monosit : 1,03 ribu/ul
- Total eosinofil : 0,47ribu/ul
- Total neutrofil : 6,09 ribu/ul
- Total large imm cell : 0.17 ribu/ul
- Total atyp limfosit : 0.77 ribu/ul
2. Serologi- spesimen darah
- Thypi O :Nrgatif
- Thypi H : Negatif
- Parathypi OA : +1/80
- Parathypi OB : Negatif
3. Kimia Darah
- GDS : 119 g/dl
- TG : 234 g/dl
9

- Kolesterol LDL : 85 g/dl
- Asam Urat : 5,,9
- Ureum : 18 g/dl
- Creatinin : 0,7 g/dl
- SGOT : 39 g/dl
- SGPT : 40 g/dl
4. Serologi-spesimen darah
- Ig G : Positif
- Ig M : Positif
2.5 Resume
Pasien datang ke UGD RSI hari kamis jam 10.35 wib dengan keluhan Demam
Sejak 2 minggu yang lalu, demam naik turun dan disertai batuk berdahak serta pilek.
Selain itu pasien mengeluh badannya lemas disertai nyeri sendi. Pada pemeriksaan
fisik Tn.A tampak lemas dan tekanan darah 110/80mmHg. Pada pemeriksaan darah
lengkap didapatkan kadar trombosit menurun sebesar 77 ribu/ul dan peningkatan
leukosit sebesar 11,24 ribu/ul. Selain itu pada pemeriksaan serologi didapatkan Ig G
dan Ig M positif.

2.6 Diagnosa Kerja
Dengue Fever (DF)
2.7 Penatalaksanaan
 Infus RA
57 kg x 50 cc = 2850 cc/24 jam
tetes/menit =

=

=

30 tetes/menit
 Infus RA dengan gelafusal 3:1Infus RA (1500), Gelafusal (500) =
2000cc, sedangkan kebutuhannya 2850 cc, maka kebutuhan cairan kurang 850
cc anjurkan pasien untuk minum air mineral.

10

 Ceftriaxone 2x1 g IV
Indikasi: infeksi serius saluran nafas bawah
Kontraindikasi: Hipersensisitif terhadap sefalosporin
Efek samping: mual, muntah, diare, stomatitis, glositis, sakit kepala, pusing,
reaksi kulit, anemia, granulositopenia, anemia hemolitik, peningkatan
sementara SGOT/SGPT, leukopeni, trombositosis.
 Metylprednisolone 3x1,25mg
Indikasi: pengobatan inflamasi dan kondisi alergi
 Isprinol 3x1
Indikasi: Imunomodulator untuk infeksi virus dan defisiensi simtem imun
Efek samping: peningkatan sementara asam urat dalam urin dan serum. Ruam
kulit atau gatal, rasa lelah, atau lesu dan diare.
 kaplet Anadex 3x1
Komposisi: Paracetamol 500 mg, dextromethorphan HBr15 mg,
chlorpheniramine maleat 1mg, phenylpropanolamine Hcl 15 mg
Indikasi: flu, batuk, demam
Kontraindikasi: hipertiroid, hipertensi, jantug koroner dan nefropati

Tn. A S O A P
4-10-
2013
Tidak ada
keluhan
Pem. Fisik:
 Status
Generalis: dbn
Vital Sign:
 TD: 130/80
 Nadi: 84
 Suhu: 36,5
o
C
 RR: 20x/menit
Pemeriksaan DL
Leukosit ↑ (11,08
ribu), Trombosit ↓(
56 ribu)

 Dx: Dengue Fever




Infus
 RA 30
tetes/menit :
gelafusal2:1
Injeksi
 Ceftriaxone
2x1g IV
Peroral
 Methylprednis
olone 3x1,25
 Kaplet Anadex
3x1
 Tab.Isprinol
3x1

2.8 Follow Up
11

5-10-
2013
Tidak ada
keluhan

Pem. Fisik:
 Status
Generalis: dbn
Vital Sign
 TD:130/90
mmHg
 Nadi: 78x/menit
 Suhu: 36,6
o
C
 RR: 20x/menit
Pemeriksaan DL
Hb↓(12,8g/dl),
Leukosit ↑(12,87
ribu/ul), Trombosit
↓(51 ribu/ul)


 Dx: Dengue
Fever

 Terapi tetap
 DL Serial

6-10-
2013
Tidak ada
keluhan

Pem. Fisik
Status Generalis:
dbn
Vital Sign
 TD: 150/90
mmHg
 Nadi:
84x/menit
 Suhu: 36,5
o
C
 RR: 20x/menit
Pemeriksaan DL:
Trombosit ↓(54
ribu/ul)

 Dx: DF

Terapi tetap
7-10-
2013
Sakit Kepala Pemerikssaan Fisik
 Status
Generalis: dbn
Vital Sign
 TD: 120/90
mmHg
 Nadi:
88x/menit
 Suhu: 36,5
o
C,
 RR: 20x/menit
Pemeriksaan DL:
Trombosit ↓(60
ribu/ul)

 Dx: DF

 Terapi tetap
 DL serial
8-10-
2013
Tidak ada
keluhan
Pemeriksaan Fisik
 Status
Generalis: dbn
Vital Sign
 Dx: -

 Terapi tetap


12


 TD: 130/100
mmHg
 Nadi:
86x/menit
 Suhu: 36,5
0
C
 RR: 20x/menit
Pemeriksaan DL:
Hb (13,3 g/dl),
Trombosit (73000
/ul), eritrosit (4,46
juta)

13

BAB III
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga :
AlamatLengkap : Jl. Joyo Tambak Sari
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
NO Nama Kedudukan
L/
P
Usia
(Th)
Pendidikan Pekerjaan
Pasien
Klinik
Ket
1. Tn. A
Kepala
keluarga
L 54

S2 Dosen Ya Dengue Fever
2. Ny. H Istri P 49

- DA’I Tidak -
3. Nn. A Anak P 20 SMA Mahasiswa Tidak -
Nn. Z Anak P 18 SMA Mahasiswa Tidak -
3.1 IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA
A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Keluarga terdiri atas penderita (Tn.A, 54 Tahun), bersama dengan
istri (Ny. H, 49 Tahun) dan kedua anaknya, dimana anak pertama adalah
(Nn. A, 20 tahun) dan anak kedua (Nn. Z, 18 tahun). Pasien (Tn.A) adalah
penderita Dengue Fever.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan keluarga di antara Tn.A dan Ny. H serta dengan kedua
anaknya terjalin baik dan sangat harmonis, terbukti dengan adanya
komunikasi antar anggota keluarga, dan hubungan antara anak dan anggota
keluarga yang lain baik dan saling menyayangi.
3. Fungsi Sosial
Keluarga Tn.A sangat menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar,
terbukti dengan istri Tn.A yaitu Ny.H adalah DA’I yang sering mengisi pengajian
14

di lingkungan sekitar dan luar kota. Selain itu Tn. A juga memiliki pesantren
yang berada di satu lingkungan dengan tempat tinggal Tn.A.
Kesimpulan:
Hubungan keluarga Tn.A berjalan baik, semua komunikasi antar
anggota keluarga baik, dengan lingkungan rumah (tetangga) juga baik.
B. FUNGSI FISIOLOGIS
APGAR Terhadap Keluarga Tn.A Ny.H Nn.A Nn.Z

A
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

2

2

2

2

P
Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya

2

2

2

2

G
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru atau
arah hidup yang baru

2

2

2

2

A
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

2

2

2

2

R
Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama

2

2

2

2

10 10 10 10

APGAR score keluarga 10+10+10+10= 40:4 = 10 → Fungsi Fisiologis Baik.
Skoring :
 Hampir selalu : 2 poin
 Kadang – kadang : 1 poin
15

 Hampir tak pernah : 0 poin
C. FUNGSI PATOLOGIS DENGAN ALAT SCREEM
SCREEM
SUMBER PATHOLOGY KET
Social
Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga
dengan saudara. Partisipasi mereka dalam masyarakat
misalnya mengikuti tahlil rutin, pengajian,

_
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini
dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik, banyak tradisi
budaya yang masih diikuti. Menggunakan bahasa Jawa dan
Indonesia, tata krama dan kesopanan


_
Religius

Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga
dalam ketaatannya dalam beribadah.

-
Economy Ekonomi keluarga ini termasuk perekonomian menengah ke
atas. Pendapatannya sudah mencukupi untuk standard hidup
layak sehari hari.

-
Educatio
n
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini meskipun
belum ada yang sampai pada tahap Perg. Tinggi tetapi masih
peduli terhadap perkembangan ilmu.

-
Medical

Keluarga ini belum menganggap pemeriksaan rutin kesehatan
sebagai kebutuhan, akan tetapi jika merasa sakit, mencari
pelayanan dokter terdekat.

-

Kesimpulan :
Hubungan keluarga Tn.A baik, tingkat ketercukupan ekonomi cukup untuk
kehidupan sehari-hari. Keluarga Tn.A Tidak ada masalah pada aspek budaya, agama,
ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

16

D. POLA INTERAKSI KELUARGA


Keterangan :
Hubungan baik
Hubungan antara anggota keluarga baik

E. GENOGRAM







Keterangan
: laki-laki
: perempuan
: penderita

: tinggal satu rumah


17

3.2 IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN
a. Identifikasi faktor perilaku keluarga
1. Pengetahuan
Keluarga mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang kesehatan.
Menurut pendapat semua anggota keluarga, yang dimaksud kondisi sehat
adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak menderita penyakit sehingga bisa
melakukan aktivitasnya dengan baik (Kesehatan jasmani), sedangkan
kesehatan rohani adalah ketika hati tenang, nafsu tidak serakah, yakin akan
Allah dan kematian.
2. Sikap
Keluarga ini peduli terhadap kesehatan penderita. Pada saat Tn.A terbaring di
rumah sakit, istri senantiasa menjaga di rumah sakit. Anak pasien Nn.A dan
Nn.Z rutin menjenguk ayahnya tiap pagi.
3. Tindakan
Istri pasien mengantarkan Tn.A untuk memeriksakan kesehatannya ke rumah
sakit, dan apabila pasien sakit pasien berkonsultasi ke adiknya yang bekerja
sebagai dokter. Apabila tidak sembuh pasien pergi ke pelayanan kesehatan
terdekat.
b. Identifikasi faktor non perilaku
1. Lingkungan
Rumah yang dihuni keluarga ini cukup baik, tapi Pencahayaan dan ventilasi
kurang. Sumber air keluarga ini berasal dari sumur, kamar mandi dan jamban
sudah ada. Air minum yang digunakan memakai air gallon.
2. Pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, praktek, dokter, apotik, dan lain
sebagainya tergolong dekat dengan rumah keluarga Tn.A, sehingga keluarga
mudah mendapatkan pelayanan medis yang baik dan tepat. Keluarga pasien
18

memperhatikan kesehatan antar keluarganya apabila ada yang sakit langsung
dibawa berobat.
3. Keturunan
Tidak ada faktor penyakit keturunan yang terdapat dalam keluarga Tn.A




Faktor Perilaku
Tindakan: istri
pasien mengantarkan
Tn.A untuk periksa
kesehatannya di RS
Faktor Non Perilaku
Pengetahuan:
keluarga cukup
memahami keadaan
penderita
Keluarga Tn. A
Sikap: keluarga peduli
terhadap keadaan
penderita
Lingkungan : rumah
kurang memenuhi syarat
kesehatan
Keturunan : tidak ada
penyakit keturunan pada
keluarga Tn.A
Pelayanan Kesehatan :
Jika sakit Tn.A ke dokter
praktek / klinik
19

3.3 IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH
Lingkungan Luar Rumah
Rumah ini mempunyai pagar besi, mempunyai halaman depan. Saluran
pembuangan limbah sudah tersalur ke got. Pembuangan sampah di TPA.
Lingkungan Dalam Rumah
Dinding rumah terbuat dari batu bata dan dikeramik, lantai rumah sudah
menggunakan keramik. Rumah ini terdiri dari ruang tamu, 4 kamar tidur, satu dapur,
dan satu kamar mandi. Keluarga ini mempunyai fasilitas MCK keluarga dan fasilitas
air dari sumur. Ventilasi dan pencahayaan kurang.
Denah Rumah


20

3.4 DAFTAR MASALAH
A. Masalah Medis
Dengue Fever
B. Masalah Non Medis:
1. Pasien terlalu sibuk dengan kegiatannya sehari –hari selain bekerja sebagai
dosen, pasien juga mengurusi pesantrennya yang terdiri dari 26 santri, sehingga
Tn.A kurang istrirahat.
2.Ventilasi rumah pasien kurang
C. Diagram Permasalahan Pasien




21

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 DENGUE FEVER
4.1.1 Definisi Dengue Fever
Demam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit disebabkan
oleh infeksi virus dengue, yang termasuk dalam flavivirus, keluarga flaviridae.
Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat
rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. Terdapat empat serotype virus yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam
dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia
dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara
serotype dengue dengan flavivirus lain seperti yellow fever, japanese enchepalitis
dan West Nile virus. Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada
hewan mamalia seperti tikus, kelinci, anjing, kelelawar dan primata.
4.1.2 Penyebab Dengue Fever
Dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue adalah
suatu arbovirus yang termasuk ke dalam genus Flavivirus. Virus dengue terdiri
dari 4 serotipe yaitu:
1. Dengue 1 (DEN-1), diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.
2. Dengue 2 (DEN-2), diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.
3. Dengue 3 (DEN-3), diisolasi oleh Sather.
4. Dengue 4 (DEN-4), diisolasi oleh Sather.
22

Keempat serotipe ini bisa menyebabkan penyakit yang berat dan fatal.
Infeksi oleh salah satu dari keempat serotipe tersebut tidak menimbulkan
kekebalan protektif silang, artinya jika seseorang pernah terinfeksi oleh DEN 1,
maka di kemudian hari mungkin saja orang tersebut akan terinfeksi oleh serotipe
lainnya, sehingga orang-orang yang tinggal di daerah endemis dengue, bisa
menderita keempat jenis infeksi dengue.
Survei epidemiologi pada hewan ternak didapatkan antibodi terhadap
virus dengue pada hewan kuda, sapi dan babi. Penelitian pada artropoda
menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk Aedes (Stegomya) dan
Toxorhynchites.
4.1.3 Karakteristik Virus Dengue
Dengue merupakan penyakit tropis dan virus penyebabnya bertahan dalam
suatu siklus yang melibatkan manusia dan Aedes aegypti. Aedes aegypti adalah
sejenis nyamuk rumah yang lebih senang menggigit manusia di siang hari.
Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina, yang lebih menyukai untuk
menyimpan telurnya di dalam wadah yang berisi air bersih dan terletak di sekitar
habitat manusia.
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor
pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan
Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan
menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah
menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa
inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat
mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.
23

Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke
keturunannya melalui telur (transovarial).
Virus dengue dapat menyebabkan manifestasi klinis yang bermacam-
macam dari asimtomatik sampai fatal. Demam dengue atau dengue fever (DF)
merupakan manifestasi klinis yang ringan, sedang DBD atau dengue hemorrhagic
fever / dengue shock syndrome (DHF/DSS) merupakan manifestasi klinik yang
berat
Beberapa faktor resiko yang berperan dalam berkembangnya demam
dengue menjadi DHF adalah:
 Jenis dan serotipe virus (DHF bisa terjadi pada infeksi primer oleh virus
serotipe tertentu)
 Adanya antibodi anti-dengue akibat infeksi sebelumnya atau akibat
berpindahnya antibodi dari ibu ke janin yang dikandungnya
 Faktor genetik (misalnya faktor ras tampaknya berperan karena berdasarkan
data, di Kuba DHF lebih banyak ditemukan pada orang kulit putih)
 Usia (di Asia Tenggara, DHF lebih banyak menyerang anak-anak, sedangkan
di Amerika DHF bisa menyerang semua kelompok umur)
 Resiko yang lebih tinggi pada infeksi sekunder
 Resiko yang lebih tinggi dari lokasi dimana lebih dari 2 serotipe virus beredar
secara bersamaan pada kadar yang tinggi (transmisi hiperendemik)
4.1.4 Patogenesis
Dua teori yang banyak dianut dalam menjelaskan patogenesis infeksi
dengue adalah hipotesis infeksi sekunder (secondary heterologousinfection
theory) dan hipotesis immune enhancement. Pertama, menurut hipotesis infeksi
24

sekunder yang diajukan oleh Suvatte, 1977, sebagai akibat infeksi sekunder oleh
tipe virus dengue yang berbeda, respon antibodi anamnestik pasien akan terpicu,
menyebabkan proliferasi dan transformasi limfosit dan menghasilkan titer tinggi
IgG antidengue. Karena bertempat di limfosit, proliferasi limfosit juga
menyebabkan tingginya angka replikasi virus dengue. Hal ini mengakibatkan
terbentuknya kompleks virus-antibodi yang selanjutnya mengaktivasi sistem
komplemen. Pelepasan C3a dan C5a menyebabkan peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah dan merembesnya cairan ke ekstravaskular. Hal ini
terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium dan
terdapatnya cairan dalam rongga serosa. Patogenesis terjadinya syok berdasarkan
hipotesis the secondary heterologous infection dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.
Demam dengue adalah suatu penyakit virus akut yang ditandai oleh:
 demam (seringkali muncul secara tiba-tiba)
 sakit kepala hebat (seringkali digambarkan sebagai sakit di belakang mata)
 mialgia (nyeri otot) dan atralgia (nyeri persendian) - mual dan muntah
 ruam kulit yang mungkin muncul pada stadium penyakit yang berlainan
dan bisa berupa makulopapuler, peteki maupun eritema
 manifestasi perdarahan.
Penderita juga mungkin mengeluhkan gejala lainnya, seperti gatal-gatal
dan gangguan pengecapan (terutama lidah terasa seperti logam). Beberapa kasus
infeksi dengue akut mungkin disertai dengan tanda dan gejala ensefalitik atau
ensefalopatik, seperti: penurunan kesadaran (berupa letargi, linglung dan koma),
kejang, kaku kuduk, kelumpuhan
25

Beberapa dari kasus tersebut kemudian diikuti dengan timbulnya DHF.
Manifestasi perdarahan pada dengue sebanyak sepertiga penderita mungkin akan
mengalami manifestasi perdarahan, yang biasanya bersifat ringan. Pada beberapa
kasus, perdarahan tampak jelas dan cukup berat sehingga menyebabkan syok
akibat kekurangan darah Manifestasi perdarahan tersebut antara lain: perdarahan
kulit (peteki, purpura, ekimosis),perdarahan gusi, hidung, perdarahan saluran
pencernaan (hematemesis, melena, hematokezia), hematuria, dan bertambahnya
perdarahan menstruasi.
4.1.5 Penatalaksanaan
Pada dasarnya terapi DF adalah bersifat suportif dan simtomatis.
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran
plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.
Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah
pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris.
Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada
trombositopenia yang berat) dan pemberian makanan dengan kandungan gizi
yang cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi
saluran cerna. Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa
parasetamol, serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia.
Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari
karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas
(lambung/duodenum).

26

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Dasar penegakan diagnosis Dengue Fever
Demam akut 2-7 hari bifasik Dengan ≥ 2 gejala dibawah
 Nyeri kepala
 Nyeri retro –orbital
 Myalgia dan arthralgia
 Rash
 Manifestasi perdarahan
 Trombositoopeni (150.000/ul)
 Leukopenia (WBC<5000)
 Peningkatan hematokrit (5-10%)
 Ig G dan Ig M positif
5.2 Dasar Rencana Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan
cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang
perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan
intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan baik, diperlukan dokter
danperawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, cairan kristaloid dan
koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Diagnosis dini dan
memberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal
yang penting untuk mengurangi angka kematian. Di pihak lain, perjalanan penyakit
DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak
baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong. Kunci keberhasilan
tatalaksana DBD/SSD terletak pada ketrampilan para dokter untuk dapat mengatasi
masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase kritis, fase syok)
27

dengan baik.

Pasien DD dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat. Pada fase demam pasien
dianjurkan
• Tirah baring, selama masih demam.
• Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan.
• Untuk menurunkan suhu menjadi < 39°C, dianjurkan pemberian parasetamol.
Asetosal/salisilat tidak dianjurkan (indikasi kontra) oleh karena dapat meyebabkan
gastritis, perdarahan, atau asidosis.
• Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping
air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari.
• Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalesen. Pada
pasien DD, saat suhu turun pada umumnya merupakan tanda penyembuhan.
Meskipun demikian semua pasien harus diobservasi terhadap komplikasi yang dapat
terjadi selama 2 hari setelah suhu turun. Hal ini disebabkan oleh karena kemungkinan
kita sulit membedakan antara DD dan DBD pada fase demam. Perbedaan akan
tampak jelas saat suhu turun, yaitu pada DD akan terjadi penyembuhan sedangkan
pada DBD terdapat tanda awal kegagalan sirkulasi (syok). Komplikasi perdarahan
dapat terjadi pada DD tanpa disertai gejala syok. Oleh karena itu, orang tua atau
pasien dinasehati bila terasa nyeri perut hebat, buang air besar hitam, atau terdapat
perdarahan kulit serta mukosa seperti mimisan, perdarahan gusi, apalagi bila disertai
berkeringat dingin, hal tersebut merupakan tanda kegawatan, sehingga harus segera
dibawa segera ke rumah sakit.
1. Terapai Resusitasi Cairan
Prinsipnya: apabila terjadi kebocoran plasma, maka berikan plasma darah.
Apabila tidak tersedia, maka bisa diberikan koloid (Albumin, gelatin, dextran,
HES, dan PPL). Dan jika koloid tidak tersedia bisa diberikan kristaloid (Ringer
Laktat, Ringer Asetat, Dan Normal Saline)

28

 RA (Ringer Asering) lebih dianjurkan dibandingkan Ringer Laktat.
Ringer asering dapat digunakan pada keadaan dehidrasi (syok hipovolemik
dan asidosis), gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok
hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi: Setiap liter ringer asering mengandung:
Na 130 mEq
K 4 mEq
Cl 109 mEq
Ca 3 mEq
Asetat (garam) 28 mEq
5.3 Rencana Pemeriksaan Penunjang
1. DL
2. Rumple leed test/uji torniquet
3. Serologi Ig G dan Ig M
 IgM: terdeksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3,
menghilang setelah 60-90 hari.
 IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada
infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke-2
4. Protein serum(Albumin dan Globulin)Hipoproteinemia
5. Faal Hepar (SGOT/SGPT)
6. Fungsi Ginjal (Ureum dan Kreatinin)
7. RT-PCR (Reserve Transcriptase Polymerase Chain Reaction)
8. Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan

29


VI
PENUTUP
Kesimpulan Holistik
1. Segi biologis
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
didapatkan hasil bahwa Tn.A, 54 tahun adalah penderita Dengue Fever.
2. Segi Psikologis
Tn.A memiliki APGAR score yang cukup baik. Hubungan antara anggota
keluarga cukup baik. Penuh dengan kasih sayang, perhatian dan
komunikasi.
3. Segi Sosial
Hubungan pasien dengan lingkungan sekitar sangat baik.
IV.2. SARAN
1. Pasien disarankan untuk menjaga pola makan, mengkonsumsi makanan
rendah serat, mengurangi aktifitas diluar ruangan, lebih banyak istirahat untuk
memulihkan kondisi, tidak terlalu stress, dan menjaga kebersihan diri maupun
lingkungan sekitar.
2. Menjelaskan kepada pasien dalam pencegahan penyakit Dengue Fever seperti;
Menggunakan prinsip 3 M yaitu menguras kamar mandi, menutup tempat
penampungan air, dan mengubur benda-benda bekas, atau dengan
memberikan serbuk abate pada kamar mandi agar tidak menjadi sarang jentik
nyamuk, melakukan penyemprotan kamar dengan obat nyamuk atau
30

menggunakan lotion anti nyamuk pada siang hari, serta selalu menjaga
kerapian ruangan agar tidak menjadi sarang nyamuk.
31

DAFTAR PUSTAKA
Staf pengajar FK UI. Infeksi Virus: Dengue. 2005. Buku Kuliah Ilmu Penyakit
Dalam Jilid 3. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UI; hlm 1709-1713.

Rizal, dkk. Kebocoran Plasma pada Demam Berdarah Dengue. CDK 183/Vol.38
no.2/Maret - April 2011. RS Dr. Oen Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia

Pohan, Herdiman. dan Khie Chen. Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam
Berdarah Dengue. 2009. Medicinus: Medical Journal of Pharmaceutical
Development and Medical Application; Vol.22 No.1; hlm 3-7.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.